Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

batik-suminar-mangga-2Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan; melatih dan membina para pembatik, mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional, mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan

  • melatih dan membina para pembatik,
  • mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional,
  • mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

MASJID AULIYA’ SETONO GEDONG, Kota Kediri

Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur

masjid-setono-gedong-nPada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524  atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Monumen peringatan tersebut berupa sebuah inskripsi tertulis menggunakan huruf arab yang terpahat pada Makam Syeh Wasil Syamsudin, isinya adalah:

”Ini makam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi Allah-semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)…….Al-Baharajni(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari…………….Sembilan ratus(?)dua puluh(?)…….hijrah nabi…….” [(?)……., tanda tidak terbaca].

Terjemahan inskripsi makam Syeh Wasil Syamsudin adalah petunjuk tentang masuknya Islam di wilayah Kediri melalui seorang tokoh yang digambarkan seperti matahari. Pembacaan angka tahun pada isi inskripsi kurang jelas, maka untuk menentukannya dengan patokan antara 920-929 Hijriah. Apabila dijadikan masehi menjadi 1514 – 1523 M. Jadi itulah yang dapat digunakan sebagai patokan penentuan tahun diresmikannya inskripsi pada makam Syeh Wasil Syamsudin tersebut.

Pada perkembangan Islam di Kediri, hal-hal berkaitan dengan Agama Hindu maupun Budha semuanya dihancurkan karena dianggap musyrik yang akan membawa dampak pada kekafiran. Pengrusakan candi pada Situs Setono Gedong beserta isinya karena adanya faktor politik dari ekspansi Kerajaan Demak ke Ibukota Majapahit yang berada di Kediri pada dua puluh tahun pertama abad XVI.

Pengrusakan pada situs Setono Gedong terjadi lagi pada tahun 1815 M. [laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di Nusantara/dibukukan th. 1817 berjudul ”History of Java.” , pada hlm. 380 menyebut Informasi tentang Setono Gedong yang berisi:

(“Disekitar Ibukota Kediri kaya akan benda-benda kuno dalam berbagai bentuk, tetapi yang ditemukan di sana masih dalam keadan yang baik daripada yang ditemukan di tempat lain, dengan biaya yang besar dan tenaga yang dikerahkan untuk membongkar bangunan dan untuk memotong patung yang ada di sana. Pada semua bagian situs di bangunan utama itu dapat saya temukan fragmen-fragmen yang tertutup pahatan relief, recha-recha yang rusak dan umumnya dipahat di atas batu yang dipotong membujur, dikerjakan saat membangun candi-candi, di samping bagian dasar yang sangat luas dari batu bata kemudian dinding bangunannya. Lebih jauh saya menduga dari keteraturan dan keelaganan bahan-bahan yang digunakan bahwa bahan dan bangunan yang dibangun hampir di seluruh bangunan ini di bongkar oleh penganut Mohamet pada periode perkembangan ajaran tersebut. Candi ini disebut Astana Gedong, tetapi tidak ada penduduk yang memberikan informasi saat pembangunan bangunan ini, seperti hanya asal ajaran Mohamet, saya hanya mempunyai sedikit pandangan mengenai hal itu untuk menghindari ketidaksesuaian gerakan dengan penduduk setempat yang ditunjukkan sebagai pendekata dari ketaatan mereka, dan hal ini merupakan keadaan yang sangat sesuai bagi orang penjajah yang bebas untuk bergerak tanpa adanya gangguan. Semua benda-benda kuno ini tidak diragukan lagi berasal pada periode sebelum munculnya agama Mohamet, atau dari apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai wong kuno, kapir atau buda.”)]

Dari sumber Raffles tersebut, disimpulkan adanya pengerusakan kedua ditahun 1815, dua puluh tahun pertama abad XVI setelah ekspansi Demak. Raffles menyebut bangunan situs Setono Gedong adalah candi, karena terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, terdapat fragmen-fragmen relief, terdapat  arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur.

Pada ekspansi Demak pengerusakan pada situs Setono Gedong tidak begitu parah, hanya menimbun ke dalam tanah artefak-artefak masa Hindu-Budha tersebut. Namun pengerusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah, karena Raffles menyebutkan adanya pengerahan biaya dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs Astana (Setono) Gedong oleh Penganut Mohamet (sebutan penganut ajaran Nabi Muhammad yaitu Umat Islam).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Arsitektur Masjid Setono Gedong,

Gaya Masjid Setono Gedong dilihat dari luar tampak mirip dengan bangunan Klenteng (kuil cina), karena atapnya berbentuk seperti pagoda dan pintu masuknya seperti pintu masuk Kuil Cina.  Pembangunan masjid tidak hanya menggunakan arsitektur  tipe Jawa saja, melainkan berbentuk perpaduan budaya dari bangsa Tionghoa dan masyarakat Setono Gedong. bentuk bangunan utama, yaitu bangunan masjid berarsitektur cina dan bangunan pendopo beratap tumpang tingkat tiga dan dipuncaknya terdapat mustaka yang merupakan ciri khas bangunan jawa, sekarang berada di belakang Masjid Setono Gedong.

Areal Masjid terbagi manjadi tiga bagian semakin ke belakang semakin suci, hal itu merupakan hasil akulturasi dari pembuatan candi yang mengandung makna kaki, lereng, dan puncak gunung, karena umat Hindu Jawa dalam membuat seni bangun berlandaskan pada bentuk Gunung.  Begitu pula dengan Masjid Setono Gedong yang juga memiliki tiga pembagian,  bangunan pertama adalah masjid Induk, kedua adalah pendopo yang dibangun di atas reruntuhan Candi. Bangunan akhir adalah Makam Syeh Wasil Syamsudin. Baik hiasan masjid maupun makam memiliki fungsi ganda, sebagai fungsi teknis juga sebagai fungsi dekoratif. Sebagai fungsi teknis, hiasan pada masjid atau makam berkaitan dengan kegunaan praktis atau sebagai teknis bangunan. Sedangkan fungsi dekoratif, pada dinding masjid atau makam digunakan untuk memperindah bangunan. Selain itu juga untuk menyimpan pesan dan sebagai media untuk memenuhi tujuan religi-magis. Misalnya ukir-ukiran teratai, daun-daunan, dan lain-lain.

Pintu gerbang menuju Masjid Setono Gedong dibuat pada tahun 2002 dengan gaya kombinasi antara seni tradional dan modern. Gaya tradisional tampak pada hiasan yang memakai motif daun-daunan berjumlah tiga serta atasnya ditambah dengan modif bunga matahari pada masing-masing bagian sisi kanan dan kiri gapura. Pada bagian atas gapura terdapat arca Garudeya (Garuda) membawa sebuah kendi, dan di atas bagian belakang kepalanya juga di tambah relief berupa kepala rajawali. Gapura luar ini mengadopsi sebagian dari ukir-ukiran maupun relief kuno yang terdapat pada masjid-makam Syeh Wasil Syamsudin.

Garuda (Garudeya) memiliki arti pengorbanan, kendi disamakan guci amertha yang dimaknai sebagai lambang kesucian. Kesimpulan lambang Garuda(Garudeya) adalah sifat dari Syeh Wasil Syamsudin yang dalam mitosnya beliau penuh pengorbanan dan semangat dalam menyebarkan Agama Islam yang dianggap suci oleh penganutnya. Bentuk bunga matahari pada bagian sisi depan gapura meambangkan penerangan dan ketangguhan. Hal ini didukung dari arti kata ”Syamsudin” pada nama Penyebar Islam pertama di Kediri tersebut, yang berasal dari kata “Syam” dalam bahasa arab berarti matahari.

Pintu gerbang masjid yang disebut gapura, disamakan dengan kata “ghafur” artinya yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun. Hal ini dimaknai bahwa Gapura masjid sebagai pintu untuk menuju ketempat pertobatan bagi setiap manusia yang telah menyadari akan dosa-dosanya. Karena Allah SWT dalam salah satu nama-nama sucinya (Asma’ul Husnah) disebutkan sebagai Al-Ghaffar yang berarti Maha Pengampun.

Pintu masuk area masjid memiliki bentuk dan gaya modern, unsur tradisionalnya,  pada bagian atas pintu dibuat cekung di tengah menyerupai bentuk batu nisan makam kaum perempuan. Serambi masjid setono gedong cukup luas, tiang-tiang penyangganya masing-masing dihiasi tulisan lafal “Allah” di bagian ujungnya. Di tembok serambi atau di atas pintu masuk ruang utama masjid terdapat ukiran-ukiran menggunakan huruf arab yang membentang dari selatan hingga utara serambi, tulisan arab berupa aya-ayat suci Al-Qur’an ukiran didinding serambi masjid terebut tidak hanya dibuat sebagai hiasan saja tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengganggu manusia untuk beribadah.

Dua kentongan terdapat dipojok timur laut serambi, satu berposisi vertikal berlandaskan kayu menyilang dan satu kentongan lagi digantung berjajar dengan bedug, pada kentongan terdapat ukiran tanggal dibuatnya yaitu 17 April 1986.

History of Java; th. 1817

MASJID AULIYA’ SETONO GEDONG, Kota Kediri

Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur

masjid-setono-gedong-nPada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524  atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Monumen peringatan tersebut berupa sebuah inskripsi tertulis menggunakan huruf arab yang terpahat pada Makam Syeh Wasil Syamsudin, isinya adalah:

”Ini makam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi Allah-semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)…….Al-Baharajni(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari…………….Sembilan ratus(?)dua puluh(?)…….hijrah nabi…….” [(?)……., tanda tidak terbaca].

Terjemahan inskripsi makam Syeh Wasil Syamsudin adalah petunjuk tentang masuknya Islam di wilayah Kediri melalui seorang tokoh yang digambarkan seperti matahari. Pembacaan angka tahun pada isi inskripsi kurang jelas, maka untuk menentukannya dengan patokan antara 920-929 Hijriah. Apabila dijadikan masehi menjadi 1514 – 1523 M. Jadi itulah yang dapat digunakan sebagai patokan penentuan tahun diresmikannya inskripsi pada makam Syeh Wasil Syamsudin tersebut.

Pada perkembangan Islam di Kediri, hal-hal berkaitan dengan Agama Hindu maupun Budha semuanya dihancurkan karena dianggap musyrik yang akan membawa dampak pada kekafiran. Pengrusakan candi pada Situs Setono Gedong beserta isinya karena adanya faktor politik dari ekspansi Kerajaan Demak ke Ibukota Majapahit yang berada di Kediri pada dua puluh tahun pertama abad XVI.

Pengrusakan pada situs Setono Gedong terjadi lagi pada tahun 1815 M. [laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di Nusantara/dibukukan th. 1817 berjudul ”History of Java.” , pada hlm. 380 menyebut Informasi tentang Setono Gedong yang berisi:

(“Disekitar Ibukota Kediri kaya akan benda-benda kuno dalam berbagai bentuk, tetapi yang ditemukan di sana masih dalam keadan yang baik daripada yang ditemukan di tempat lain, dengan biaya yang besar dan tenaga yang dikerahkan untuk membongkar bangunan dan untuk memotong patung yang ada di sana. Pada semua bagian situs di bangunan utama itu dapat saya temukan fragmen-fragmen yang tertutup pahatan relief, recha-recha yang rusak dan umumnya dipahat di atas batu yang dipotong membujur, dikerjakan saat membangun candi-candi, di samping bagian dasar yang sangat luas dari batu bata kemudian dinding bangunannya. Lebih jauh saya menduga dari keteraturan dan keelaganan bahan-bahan yang digunakan bahwa bahan dan bangunan yang dibangun hampir di seluruh bangunan ini di bongkar oleh penganut Mohamet pada periode perkembangan ajaran tersebut. Candi ini disebut Astana Gedong, tetapi tidak ada penduduk yang memberikan informasi saat pembangunan bangunan ini, seperti hanya asal ajaran Mohamet, saya hanya mempunyai sedikit pandangan mengenai hal itu untuk menghindari ketidaksesuaian gerakan dengan penduduk setempat yang ditunjukkan sebagai pendekata dari ketaatan mereka, dan hal ini merupakan keadaan yang sangat sesuai bagi orang penjajah yang bebas untuk bergerak tanpa adanya gangguan. Semua benda-benda kuno ini tidak diragukan lagi berasal pada periode sebelum munculnya agama Mohamet, atau dari apa yang oleh penduduk setempat disebut sebagai wong kuno, kapir atau buda.”)]

Dari sumber Raffles tersebut, disimpulkan adanya pengerusakan kedua ditahun 1815, dua puluh tahun pertama abad XVI setelah ekspansi Demak. Raffles menyebut bangunan situs Setono Gedong adalah candi, karena terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, terdapat fragmen-fragmen relief, terdapat  arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur.

Pada ekspansi Demak pengerusakan pada situs Setono Gedong tidak begitu parah, hanya menimbun ke dalam tanah artefak-artefak masa Hindu-Budha tersebut. Namun pengerusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah, karena Raffles menyebutkan adanya pengerahan biaya dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs Astana (Setono) Gedong oleh Penganut Mohamet (sebutan penganut ajaran Nabi Muhammad yaitu Umat Islam).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Arsitektur Masjid Setono Gedong,

Gaya Masjid Setono Gedong dilihat dari luar tampak mirip dengan bangunan Klenteng (kuil cina), karena atapnya berbentuk seperti pagoda dan pintu masuknya seperti pintu masuk Kuil Cina.  Pembangunan masjid tidak hanya menggunakan arsitektur  tipe Jawa saja, melainkan berbentuk perpaduan budaya dari bangsa Tionghoa dan masyarakat Setono Gedong. bentuk bangunan utama, yaitu bangunan masjid berarsitektur cina dan bangunan pendopo beratap tumpang tingkat tiga dan dipuncaknya terdapat mustaka yang merupakan ciri khas bangunan jawa, sekarang berada di belakang Masjid Setono Gedong.

Areal Masjid terbagi manjadi tiga bagian semakin ke belakang semakin suci, hal itu merupakan hasil akulturasi dari pembuatan candi yang mengandung makna kaki, lereng, dan puncak gunung, karena umat Hindu Jawa dalam membuat seni bangun berlandaskan pada bentuk Gunung.  Begitu pula dengan Masjid Setono Gedong yang juga memiliki tiga pembagian,  bangunan pertama adalah masjid Induk, kedua adalah pendopo yang dibangun di atas reruntuhan Candi. Bangunan akhir adalah Makam Syeh Wasil Syamsudin. Baik hiasan masjid maupun makam memiliki fungsi ganda, sebagai fungsi teknis juga sebagai fungsi dekoratif. Sebagai fungsi teknis, hiasan pada masjid atau makam berkaitan dengan kegunaan praktis atau sebagai teknis bangunan. Sedangkan fungsi dekoratif, pada dinding masjid atau makam digunakan untuk memperindah bangunan. Selain itu juga untuk menyimpan pesan dan sebagai media untuk memenuhi tujuan religi-magis. Misalnya ukir-ukiran teratai, daun-daunan, dan lain-lain.

Pintu gerbang menuju Masjid Setono Gedong dibuat pada tahun 2002 dengan gaya kombinasi antara seni tradional dan modern. Gaya tradisional tampak pada hiasan yang memakai motif daun-daunan berjumlah tiga serta atasnya ditambah dengan modif bunga matahari pada masing-masing bagian sisi kanan dan kiri gapura. Pada bagian atas gapura terdapat arca Garudeya (Garuda) membawa sebuah kendi, dan di atas bagian belakang kepalanya juga di tambah relief berupa kepala rajawali. Gapura luar ini mengadopsi sebagian dari ukir-ukiran maupun relief kuno yang terdapat pada masjid-makam Syeh Wasil Syamsudin.

Garuda (Garudeya) memiliki arti pengorbanan, kendi disamakan guci amertha yang dimaknai sebagai lambang kesucian. Kesimpulan lambang Garuda(Garudeya) adalah sifat dari Syeh Wasil Syamsudin yang dalam mitosnya beliau penuh pengorbanan dan semangat dalam menyebarkan Agama Islam yang dianggap suci oleh penganutnya. Bentuk bunga matahari pada bagian sisi depan gapura meambangkan penerangan dan ketangguhan. Hal ini didukung dari arti kata ”Syamsudin” pada nama Penyebar Islam pertama di Kediri tersebut, yang berasal dari kata “Syam” dalam bahasa arab berarti matahari.

Pintu gerbang masjid yang disebut gapura, disamakan dengan kata “ghafur” artinya yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun. Hal ini dimaknai bahwa Gapura masjid sebagai pintu untuk menuju ketempat pertobatan bagi setiap manusia yang telah menyadari akan dosa-dosanya. Karena Allah SWT dalam salah satu nama-nama sucinya (Asma’ul Husnah) disebutkan sebagai Al-Ghaffar yang berarti Maha Pengampun.

Pintu masuk area masjid memiliki bentuk dan gaya modern, unsur tradisionalnya,  pada bagian atas pintu dibuat cekung di tengah menyerupai bentuk batu nisan makam kaum perempuan. Serambi masjid setono gedong cukup luas, tiang-tiang penyangganya masing-masing dihiasi tulisan lafal “Allah” di bagian ujungnya. Di tembok serambi atau di atas pintu masuk ruang utama masjid terdapat ukiran-ukiran menggunakan huruf arab yang membentang dari selatan hingga utara serambi, tulisan arab berupa aya-ayat suci Al-Qur’an ukiran didinding serambi masjid terebut tidak hanya dibuat sebagai hiasan saja tetapi juga dipercaya dapat mengusir roh jahat yang mengganggu manusia untuk beribadah.

Dua kentongan terdapat dipojok timur laut serambi, satu berposisi vertikal berlandaskan kayu menyilang dan satu kentongan lagi digantung berjajar dengan bedug, pada kentongan terdapat ukiran tanggal dibuatnya yaitu 17 April 1986.

History of Java; th. 1817

Dewi Kilisuci Dan Kesunyian Selomangleng

Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana, maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan menjadi dua.Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan.

Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. Sedangkan Dhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.

Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya juga  menyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. Dimana disalah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yang tinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangat minus.

Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh-lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi. Dan kerajaan itu adalah Jenggala.

 “Dari Bali ke Kahuripan”
Bicara tentang sejarah jawa feodal, kita tidak bisa meninggalkan Airlangga. Walaupun ia tidak berasal dari Jawa, Airlangga mempunyai peran besar dalam menentukan arah kisaran sejarah Jawa Timur paska kerajaan Kahuripan.

Airlangga adalah putra Raja Bali, Udayana dari pemaisuri Mahendratta. Ibu Airlangga ini masih adik kandung dari Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama, Raja Medang Kamulan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang berjalur keturunan Dinasti Isyana dari jaman Mataram Hindu (silsilah terlampir). Pada umur 17 tahun, Airlangga datang ke Mendang Kamulan untuk menikahi kedua putri Sri Darmawangsa Teguh yang bernama Sri dan Laksmi.

Pada waktu pesta penikahan ketiga anak raja ini terjadi sebuah peristiwa yang membuat Airlangga muda merubah jalan hidupnya. Barangkali hanya Sri Dharmawangsa Teguh, raja Jawa yang berani menyerang Sriwijaya. Padahal, Sriwijaya yang bercorak Budha itu sedang mengalami jaman keemasannya oleh bandar dagang dan ketinggian filsafatnya. Bisa ditebak jika serangan dari Jawa itu kemudian mengalami kegagalan.

Namun itu tidak mengurungkan Sriwijaya untuk menghukum Medang Kamulan dengan menggunakan kerajaan Wura-wuri (Ponorogo) sekutunya di Jawa. Serbuan dari kerajaan Wura-wuri itu terjadi tepat di malam pesta pernikahan Airlangga dengan kedua Putri Dharmawangsa.

Peristiwa tragis yang kemudian disebut Pralaya (Malapetaka) di Kraton Medang itu menewaskan Sri Dharmawangsa Teguh berikut pemaisuri, patih dan menterimenterinya. Menurut batu Calcutta, seluruh Jawa bagaikan satu lautan yang dimusnahkan oleh raja Wura-wuri.

Tapi ada yang lolos dari kehancuran, yaitu Airlangga beserta kedua istri dan sedikit pengawalnya yang melarikan diri ke Gunung Prawito (Penanggungan). Di sana, Airlangga bersembunyi dan mengatur kekuatan untuk merebut kembali kerajaan mertuanya.

Pada tahun 1019, Airlangga yang dinobatkan oleh para pendeta Budha, Siwa dan Brahmana, menggantikan Dharmawangsa, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Ia memerintah dengan daerah hanya kecil saja karena kerajaan Dharmawangsa sudah hancur, menjadi terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Sejak tahun 1028 Airlangga mulai merebut kembali daerahdaerah saat pemerintahan Dharmawangsa, yang bisa jadi juga ada hubungannya dengan kelemahan Sriwijaya yang baru saja diserang dari Colamandala (1023 dan 1030). Raja-raja yang ditaklukkan itu adalah Bhismaprabhawa (1028-1029), Wijaya dari Wengker (1030), Adhamapanuda (1031), raja Wengker (1035), Wurawari (1032) dan seorang seperti raksasa raja perempuan (1032). Peperangan Airlangga melawan Sang Ratu ini melahirkan legenda Calon Arang di Bali.

Kemakmuran dan ketentraman pemerintahan Airlangga (ia dibantu oleh Narottama/rakryan Kanuruhan dan Niti/rakryan Kuningan) yang ibukotanya pada tahun 1031 di Wotan Mas dipindahkan ke Kahuripan di tahun 1031, kraton dari kerajaan ini diperkirakan berada di desa Wotan Mas, wilayah Ngoro kabupaten Pasuruan, atau sekarang lebih dikenal dengan nama situs Kuto Girang.

Pemerintahan Airlangga diikuti dengan suburnya seni sastra, yang antara lain: kitab Arjuna Wiwaha karangan mpu Kanwa tahun 1030 M yang berisi cerita perkawinan Arjuna dengan para bidadari hadiah para dewa atas jerih payahnya mengalahkan para raksasa yang menyerang kayangan (kiasan asil usaha Airlangga sendiri yang merupakan persembahan penulis kepada raja). Ini juga pertama kali keterangan wayang dijumpai, walau sebetulnya sudah ada sebelum Airlangga.

 “Kahuripan Terbelah”
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. Keduanya adalah putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamg ditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa.

Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana. Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan untuk dipimpin kedua putranya. Sebelum Keputusan ini di ambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.

Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putraAirlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). Saran Mpu Bharada di terima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. Merasa menemukan jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.

Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. Di Kahuripan bagian Utara berdiri kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri Jaya Warsa.

Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai “Demikian lah sejarah Jawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah JenggalaNata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktu bumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.

Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmuTantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito (penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dan kemana-mana selalu jalan kaki.

Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagian kerajaan itu sebagai berikut: Beliau menyanggupi permintaan Raja untuk membelah kerajaan.  Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang dibawanya terbang ke langit.

Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di taruh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam, marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.

Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan.
Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis:
Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi;dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti dibelahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegak dan berjaya dalam memimpin Negara.

Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. Dua kerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta). Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.

Di Gunung Penanggungan Airlangga dikenal sebagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia dimemakai nama Begawan Mintaraga. Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebuah ungkapan yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menyelamatkan Sintha dalam epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049M) Airlangga wafat. Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. Arca itu di sebut Garudamukha.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.

Jaranan, Kota Kediri, Jawa Timur

Nadzar Nanggap Jaranan Akhirnya Sukses Dalam Bisnis

Jaranan di daerah Kediri ternyata tak hanya sebatas sebagai seni pertunjukan. Lebih dari itu, masyarakat di sana banyak yang percaya jika nadzar nanggap jaranan akan membuat usaha menjadi lancar dan meraih kesuksesan.

JARANAN 1Suatu saat, seorang warga yang tinggal di Perak, Jombang, mengaku heran dengan temannya yang asal Kediri. Teman itu mengajaknya mendatangi rumah seorang pawang jara­nan yang ada di Kelurahan Kampungdalem, Kota Kediri. Tujuannya bukan untuk or­der nanggap jaranan, melainkan berkeluh kesah soal permasalahan usaha toko berasnya yang mengalami sepi pembeli. Di akhir obrolan, pawang jaranan yang dianggap memiliki kelebihan supranatural itu menyanggupinya untuk membantu dengan caranya. Tapi, syaratnya nanti jika usahanya itu telah sukses, sang teman harus nanggap jaranan yang di bawah kepemimpinannya.

Selang sekitar sebulan setelah peristiwa kedatangannya pada pawang jara­nan itu, usaha sang teman kembali bergairah. Toko be­rasnya ramai pembeli dan pesanannya cukup banyak dengan pengambilan dalam jumlah besar. Dan, setelah dirasa uangnya sudah mencukupi, ia pun mendatangkan seni jaranan atau kuda lumping yang asal Kelurahan Kampungdalem, Kediri, untuk pentas di rumahnya.
Acara pentas jaranan berlangsung meriah. Banyak penduduk yang ikut menyaksikan kesenian yang termarjinalkan ini. Dan, teman yang punya hajat itu tersenyum penuh kegembiraan sebab telah memenuhi janji nadzarnya. “Fenomena itu banyak sekali terjadi di Kediri. Bahkan, sekarang orang-orang di daerah Jombang yang wilayahnya berdekatan dengan Kediri, banyak yang ikut-ikutan melakukannya,” ucap teman itu kepada LI­BERTY belum lama ini.

JARANAN  2

Arief Syaifuddin Huda, pemerhati budaya, yang ting­gal di Jombang mengatakan bahwa tidak aneh jika seseorang mendatangi pawang jaranan untuk meminta bantuan atau sekedar konsultasi mengenai permasalahannya sebab seorang pawang jaranan biasanya memang mempunyai kelebihan khusus dalam hal supranatural. Bahkan, tidak sedikit dari para pawang jaranan ini, yang pekerjaan sampingannya adalah sebagai dukun atau orang pintar yang sering didatangi orang untuk berbagai tujuan.
Sedang nanggap jaranan, menurut Arief Syaifuddin Huda, bisa pula memiliki dua makna, yakni sebagai ajang promosi yang dilakukan sang pawang jaranan agar kesenian yang dipimpinnya lebih dikenal orang. Namun, bagi sebagian orang ada juga yang beranggapan bahwa jaranan adalah seni yang sakral, yang memang sering dijadikan media untuk bernadzar agar segala keinginan mudah terkabulkan.

Seperti diketahui banyak orang, jaranan merupakan salah satu tarian tradisional khas Kediri. Selain sebagai hiburan, seni jaranan juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, jaranan memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Kesenian ja­ranan asli Kediri, biasa diiringi dengan berbagai alat musik, seperti gamelan, gong, kendang, kenong. Sedangkan, dilihat dari tariannya, ada 2 macam tarian yang digunakan, yaitu tarian pegon atau jawa, dan tarian senterewe yakni gabungan antara tarian jawa dengan tarian kreasi baru.
JARANAN 4Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke Kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup.

Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kera­jaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Ban­tarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Ban­tarangin, hanya bisa meme­nuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan de­ngan kuda lumping, alat mu­sik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasu­kan, yang kini digambarkan sebagai Reog Ponorogo.

JARANAN 3

Di perjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponoro­go yang marah, membabat macan putih yang ditunggangi patih Kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepa­la manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan Reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggam­barkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut di dalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pa­sukan juga dihadang berba­gai hal, seperti naga, dan hewan liar lainnya. 

PERTARUHAN NYAWA
JARANAN 6Sanjoyo Putro, demikian nama kelompok kesenian yang saat ini dipimpin Mariyani. Kelompok ini sendiri berdiri sejak 1990 dan merupakan reinkarnasi dari kelompok Samboyo Putro yang berdiri pada sekitar 1977. Sebelumnya kelompok Samboyo Putro adalah kelompok kesenian jaranan yang paling terkenal di wilayah Kediri. Namun karena sang pendiri yang juga sekaligus pemimpin kelompok ini meninggal, akhirnya ke­lompok ini mulai vakum. Adalah Sarpan orang yang kemudian merintis kembali berjalannya keseni­an ini. Para anggota kelom­pok ini pun dikumpulkan dan kemudian mereka memproklamasikan berdirinya San­joyo Putro. Berbagai perlengkapan yang dibutuhkan dalam kesenian ini pun ke­mudian mulai dibeli, sedang­kan perlengkapan yang lama tetap dibiarkan di rumah pemilik lamanya di wilayah Gambiran, Kediri.

Dan seolah kembali menemukan masa-masa kejayaannya bersama Samboyo Putro, undangan untuk tampil datang silih berganti ke alamat Sanjoyo Putro. Sampai-sampai para anggotanya merasa kewalahan un­tuk mengatur jadwal tampil. “Sanjoyo Putro ini berbeda dengan kelompok yang lain. Atraksi yang ditampilkan terus, terang saja lebih menarik. Terutama pada saat ndadi (kesurupan/trance, Red). Pada saat itu anak-anak akan melakukan berba­gai atraksi yang membuat jantung berdebar-debar,” ungkap Mariyani.

JARANAN 5

Atraksi dalam kondisi trance memang menjadi atraksi unggulan dari kese­nian jaranan. Karena dalam atraksi ini para anggota ke­lompok kesenian tersebut akan bisa melakukan berba­gai hal yang berada di luar nalar. Kita akan bisa melihat bagaimana para anggota ke­lompok ini bisa mengunyah pecahan kaca seperti me­ngunyah kerupuk. Atau bah­kan ada pula yang terkadang mampu memanjat pohon dengan mudah seperti seekor monyet dan kemudian melompat ke bawah tanpa mengalami cedera sedikit pun.

Dan menurut Mariyani, atraksi-atraksi seperti inilah yang menjadi andalan ke­lompok kesenian yang dipimpinnya. Karena itulah dia mengatakan bahwa tiap kali Sanjoyo Putro tampil, para penonton akan berjubel memenuhi lapangan untuk menyaksikan dari awal sampai akhir.

Hal ini pula yang menyebabkan Kastur, almarhum suaminya bersedia untuk meneruskan tongkat kepemimpinan kelompok ini saat Sarpan melepaskannya pada tahun 2000 yang lalu. Kastur sendiri sebenarnya bukanlah bagian dari anggota kelom­pok kesenian ini. Namun dia telah terlanjur jatuh cinta dengan penampilan kelom­pok ini. Sehingga hampir kemanapun Sanjoyo Putro tampil, dirinya pasti akan hadir untuk menyaksikan.

 HARI NAHAS
JARANAN 7Namun sayangnya takdir berkehendak lain. Setelah li­ma tahun dia memimpin kelompok ini, Tuhan keburu memanggilnya. Dia meninggal saat dalam perjalanan menuju ke lokasi dimana Sanjoyo Putro akan tampil. Jalanan yang rusak membuat sepeda motor yang ditumpanginya bersama salah satu anak buahnya berjalan tanpa kendali hingga membuatnya terpental jatuh dan akhirnya tewas.

Kontan saja kabar kematian sang pemimpin ini membuat Mariyani dan anak buahnya yang sudah berada di lokasi tanggapan terkejut bagai disambar petir. Sehingga tanggapan yang sedianya diadakan untuk ri­tual bersih desa tersebut dibatalkan. Dan untunglah warga desa yang memiliki hajat dan mengundangnya mau mengerti. Kepergian Kastur nyaris membuat para anggota San­joyo Putro kehilangan ken­dali. Mereka hampir mirip anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini karena bagaimanapun, selain untuk melestarikan tradisi, bermain jaranan merupakan salah satu mata pencaharian sampingan bagi para anggota yang umumnya bekerja sebagai buruh tani ini. Karenanya mereka khawatir kalau-kalau kelompok ini nantinya akan mati seiring dengan meninggalnya sang pemimpin. Yang berarti bahwa mereka juga akan kehilangan tambahan penghasilan.

Tapi untunglah Mariyani terbilang sosok yang teguh memegang sumpah dan janji. Meski sebelumnya dia me­rasa agak ragu dengan kemampuannya dalam memim­pin kelompok ini, namun akhirnya dia bertekad bahwa dia memang harus menjalankan amanah sang suami un­tuk terus mempertahankan kelompok ini sampai akhir hayatnya. Berbagai tempat pun ia datangi untuk sekedar menawarkan jasa hiburan kesenian kelompok ini. Hasilnya pun cukup menggembirakan, hampir tiap bulan tanggapan datang ke kelompoknya.

“Jauh dekat gak masalah yang penting kelompok ini tetap bisa hidup. Karena kalau tidak, bukan tidak mungkin anak buah kami tidak bisa makan. Sebab kelompok ini bisa dikatakan salah satu sumber penghasilan mereka, selain bekerja di sawah,” tuturnya.

Namun demikian, kisah kepergian sang suami menghadap Sang Pencipta cukup memberikan pelajaran berharga baginya untuk tidak sembarangan dalam menerima order tanggapan. Dalam kelompok jaranan seperti Sanjoyo Putro memang seringkali ada satu hari yang dianggap keramat dan pada saat itu dia tidak diperbolehkan untuk tampil. Dan di kelompok Sanjoyo Putro ha­ri itu adalah hari Jumat Legi.

“Jumat Legi adalah hari di mana kita waktunya memberi makan dan yang yang menunggui perlengkapan. Biasanya pada saat itu, selain dimandikan dengan air kembang, di da­lam kamar penyimpanan akan disediakan kembang serta kemenyan,” terang Mariyani sambil menunjukkan tempat pembakaran yang terletak tepat di bawah gamelan yang berada di sa­lah satu kamar di rumahnya.

Dan pelanggaran terhadap pantangan ini berarti malapetaka. Hal inilah yang kemungkinan terjadi pada almarbum suaminya. Karena saat itu memang bertepatan dengan hari Jumat Legi, yang berarti harusnya kelompok ini tidak boleh tampil. Dan bila dipaksakan untuk tam­pil, maka bukan tidak mungkin para danyang itu akan memangsa sendiri para an­gota kelompok itu. Hal ini pula yang konon terjadi pada beberapa pemimpin kelompok ini sebelumnya, hingga akhirnya kelompok ini terus berganti pemimpin. Hanya saja peristiwa yang dialami berbeda-beda dan tidak semuanya meninggal karena kecelakaan.

MELOBI DANYANG
Keberadaan danyang penunggu perlengkapan jaranan memang bukan hal yang aneh bagi komunitas pemain jaranan. Sebab ke­beradaan mereka memang tidak bisa lepas dari peran para mahluk penunggu ini. Dalam kondisi tertentu seperti saat ndadi (trance), jelas kehadiran makhluk itu sangat diharapkan untuk memberikan kekuatan lebih pada para pemain. Sehingga mereka bisa melakukan berbagai atraksi yang luar biasa dan terkadang tidak masuk akal.

Karena itulah sebuah jamuan istimewa harus senantiasa diberikan menjelang mereka tampil, serta pada saat-saat tertentu, seperti pada malam Jumat Legi di kelompok Sanjoyo Putro. Hal ini perlu dilakukan agar bisa terjadi kerja sama yang saling menguntungkan di antara para anggota kelompok dengan para makhluk penung­gu tersebut. Dan sesaji itu adalah bagian dari lobi untuk mendapatkan dukungan da­lam kerja sama itu.

Maka dari itulah, para anggota kelompok ini tidak boleh memberikan sesaji yang asal-asalan kepada para makhluk penunggu itu. Sebab saat si makhluk itu tidak suka, bukan tidak mungkin justru malapetaka yang akan dihadapi. Hal ini seperti yang diceritakan Mariyani yang mengatakan bahwa ru­mahnya nyaris habis terbakar hanya karena salah memilih kemenyan untuk sesaji.

“Awalnya guling anak saya yang terbakar lalu coba dibawa ke dapur untuk dimatikan. Tapi anehnya bukannya mati tapi apinya justru semakin besar dan membakar sebagian dapur saya. Untunglah apinya kemudian bisa dipadamkan. Semula saya tidak menyangka kalau semua ini ada kaitannya dengan sesaji yang saya berikan. Saya menganggapnya sebagai kecelakaan saja. Saya baru sadar setelah kemudian tertidur dan bermimpi didatangi barong yang terbang berkeliling di atas kepala saya sambil bersiap untuk memangsa saya. Barulah saat itu saya sadar kalau memang menyan yang saya berikan saya ganti. Sejak dulu sesajinya selalu pakai menyan madu, tapi karena saat itu sedang tidak ada, akhirnya saya belikan menyan Arab yang harganya memang lebih murah,” kenang Mariyani.

Sejak saat itu Mariyani tidak lagi berani bermain-main dengan sang penunggu itu. Dirinya semakin menyadari pentingnya arti kerja sama dengan sang danyang. Sebab bagaimanapun selama ini dirinya telah diuntungkan secara ekonomi oleh keber­adaan makhluk-makhluk itu, melalui banyaknya undangan tanggapan yang mampir ke kelompoknya. Dan balas budi berupa sesaji yang terbaik memang layak diberikan, agar kerja sama itu bisa selalu langgeng, yang berarti nama besar Sanjoyo Putro juga pasti akan tetap berkibar. RUD-K/@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY, 11-20 APRIL 2012.

Pramono Anung, Kota Kediri

Pramono Anung.11 Juni 1963, lahir Pramono Anung Wibowo di Kediri, Jawa Timur, Indeonesia. Terlahir dari pasangan R. Kasbe Prajitna dan Sumarni. Merupakan anak ke-3 dari 7 bersaudara.

Tahun 1976, lulus dari Sekolah Dasar (SD) Pawiyatan Daha Kediri.

Tahun 1976-1979, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pawiyatan Daha – Kediri.

Tahun 1979-1982, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kediri.

Tahun 1982-1988, Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Tahun 1985-1986, Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang ITB, Bandung.

Tahun 1986-1987, Ketua Forum Komunikasi Himpunan Jurusan Dewan Mahasiswa ITB.

Tahun 1988-1996, Direktur PT. Tanito Harum, Jakarta.

Tahun 1988-1996, Direktur PT. Vietmindo Energitama, Vietnam.

Tahun 1990-1992, Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ir. H. Pramono Anung Wibowo MM menikah dengan Endang Nugrahani, S.E., Ak., dan dikaruniai dua anak, yaitu: Hanindhito Himawan Pramono yang lahir pada 31 Juli 1992 dan Hanifa Fadhila Pramono yang lahir pada 5 Februari 1998.

Tahun1996-1999, Komisaris PT. Yudhistira Haka Perkasa, Jakarta merangkap Komisaris PT. Mandira (Mandiri Hana Persada), Jakarta dan Komisaris PT. Yudhistira Hana Perkasa, Jakarta.

Tahun 1998-2000, Ketua Perhapi, Jakarta,  serta manjabat  Anggota DPP PDIP, Jakarta.

Tahun 1999, dilibatkan dalam tim khusus yang merancang pertemuan Ciganjur Dua. Pertemuan yang  melibatkan Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Megawati Soekarnoputri.

Tahun 2000-2005, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Jakarta.

Tahun 2005-2010, Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Jakarta.

Tahun 2008, terpilih sebagai tokoh pemimpin muda berpengaruh  versi majalah Biografi Politik. Banyak yang mengatakan  penghargaan ini akan mendongkrak popularitas Pramono untuk maju sebagai capres 2009. Namun Pramono justru tak mau bermimpi.

Tahun 2009-2014, Pramono Anung menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi PDIP.

Tahun 2010-2013, Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Jumat, 11 Januari 2013, Pramono Anung Wibowo resmi menyandang gelar doktor ilmu komunikasi. “Berdasarkan nilai ujian disertasi dan sidang doktor, kami nyatakan promovendus lulus dengan cumlaude,” kata Rektor Universitas Padjadjaran, Ganjar Kurnia. “Komunikasi Politik dan Interpretasi para Anggota DPR Kepada Konstituen Mereka.” Judul disertasinya ini berdasarkan penelitian atas 21 anggota DPR terkait motivasi dan komunikasi politik dalam Pemilu 2009. berhasil dipertahankan. 

Keanggotaan Sekarang
Anggota BP MPR RI
Anggota Fraksi PDIP DPR RI
Anggota Fraksi PDIP MPR RI
Anggota Komisi VIII (Iptek dan Lingkungan) DPR RI
Anggota Panitia Ad Hoc II (Non GBHN) MPR RI
Anggota Pansus Migas DPR RI
Ketua Sub Komisi Energi dan Sumber Daya Mineral DPR RI=S1Wh0T0=

Sumber :
http://www.tempo.co.id/hg/narasi/2004/05/25/nrs,20040525-09,id.html

Dharmawangsa

Kelanjutan kisah terdahulu, ternyata banyak raja-raja taklukan yang tidak bersedia mengakui kedaulatan Galuh Watu sebagai penerus syah kerajaan Mataram, yang telah musnah karena lahar Merapi. Oleh sebab itu raja Galuh Watu Shri Makutthawangsawardhana berkehendak akan menyatukan kembali para raja yang ingin terlepas dari kekuasaan Mataram Galuh Watu.

Sehubungan dengan itu, maka lamaran Shri Warmadewa raja Singhadwala dari Bali, yang ingin menikahkan putranya yang bernama Udhayana dengan putri Shri Maku tbawangsawardhana yang bernama Mahendradatta, diterima dengan senang hati.

Segeralah dilaksanakan upacara pernikahan atas kedua putra-putri raja tersebut. Watu selesai, temanten berdua diboyong ke keraton Singhadwala untuk dinobatkan sebagai raja di Bali. Shri baginda Makuthawangsawardhana sangat gembira mendengar bahwa putrinya telah dinobatkan sehagai raja di Singhadwala. Terasa agak longgar bebannya, sebab dapat dipastikan bahwa para raja di daerah timur tidak akan berusaha lepas dari kekuasaan Galuh Watu Mataram.

Mahendradbata – Udhayana, yang bernama Shri Erlangga. Pada waktu yang telah direncanakan, dilangsungkanlah pernikahan agung antara Shri Ishana Dharmapadni dengan Erlangga.Ternyata berlangsungnya pernikahan agung tersebut diterima dengan sakit hati oleh Shri Haji Wura Wari raja taklukan dari negeri Wura Wari Bang. Shri Haji W ura Wari merasa terhalangi maksudnya untuk mempersunting sekar kedaton. Hal itu berarti pula bahwa cita- citanya untuk menduduki singgasana Galuh Watudikelak kemudian hari juga gagal.

Oleh sebab itu. saat berlangsungnya pernikahan adalah saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya. Lebih-lebih banyak para andalan yang ditugaskan ke negeri seberang lautan, maka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu Shri Haji Wura Wuri dengan pasukannya menggempur kerajaan Mataram Galuh Watu. Shri Darmawangsa yang sama sekali tidak menduga datangnya musuh dari Wura Wuri, tidak siap menghadapi serangan yang demikian tiba-tiba. Pada akhirnya, karena jumlah pasukan penyerang jauh lebih banyak dibanding jumlah para pengawal istana, Shri Dharmawangsa pun gugur di medan laga.

Keraton Mataram Galuh Watu dibakar, sejauh mata memandang yang nampak adalah lautan api yang mengganas mengerikan memusnahkan segala tatanan kehidupan yang diatas bumi Galuh Watu. Hanya putra menantu raja Shri Erlangga dengan istrinya berhasil lolos dari kasatrian, masuk hutan belantara diiringi oleh seorang senopati kepercayaan yang bernama Mpu Narotama.

Demikianlah kisahnya apabila dirumuskan dalam untaian lagu dan tetembangan, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Asmaradana.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: RM. Budi Udjianto, HN. Banjaran Kadiri, Kediri: Pemerintah Kota Kediri, 2008

 

Reog Kedhiri

Istilah “reog” untuk pertunjuKan rakyat sejenis dengan Reog Panaraga, di daerah Kendhiri sekarang sudah jarang terdengar. Sebutan , “Jaranan” lebih populer. Mungkin bagi masyarakat Kedhiri dan sekitar, “reog” memberikan asosiasi pikiran kepada garnbaran Singabarong Dhadhakmerak di Panaraga, yang dalam pertunjukan mereka tidak ada. Atau karena kenyataan, ballwa pertunjukan mereka sekarang sudah jarang tersajikan secara lengkap dan hanya menampilkan jaranannya saja dengan tokoh gendruwonya yang berfungsi sebagai dhagelan (lawakan). Narnun demikian, sebutan “reog” pada awal mulanya memang dipakai. Sarna dengan rekan-rekannya di Tulungagung dan Panaraga, (yang akhirini dengan versi Mirah), Reog Kedhiri menggunakan Panji sebagai tema pertunjukannya, hanya mengarnbil episoda yang lain.

Reog Kedhiri dalarn bentuknya yang asli sudahjarang kita saksikan, atau mungkin sudah tidak ada lagi. Yang tinggal kini adalah kepingankepingan yang sudah cam pur aduk. Penyajian sebagai komposisi tari (Reog Kedhiri pada hakikatnya memang komposisi tari) – ‘yang utuh, lengkap, dan urut sukar dapat kita temukan. Kita merasa sayang, tetapi kita tidak dapat menyesalkan, karena Reog Kedhiri, berbeda dengan Reog Tulungagung, menonjol sekaIi sifat kerakyatannya. Reog Kedhiri memang kesenian rakyat, sederhana, spontan, kadangkala kasar, asing dengan kaidah-kaidah yang seringkita istilahkan “sophisticated” seperti pada kesenian cabang atas.

Untuk memperoleh garnbaran yang lebih konkrit bagaiJnana Reog Kedhiri seperti  aslinya, atau yang mendekati bentuk aslinya, kita muatkan di sini maian Dr. Th. Pigeaud mengenai tulisan Martaatmadja sebagaimana yang dimuat dalam ”’Pusaka Djawi” V, 1926. Angka tahun 1926 kiranya cukup kontras untuk diperbandingkan dengan tahun 1979 sekarang ini, karena jarak waktu setengah abad lebih akan memperlihatkan perbedaan yang cukup berarti. Terjemahan u’raian Pigeaud tersebut lebih kurang sebagai berikut:

Dibandingkan dengan Reog Panaraga, garapan Reog Kedhiri lebih kasar. Dalam permainan kedhokan ini ditampilkan barongan, tanpa mahkota bulu merak, moncongnya panjang, yang oleh pemerannya dapat dibuka dan dikatupkan sehingga menimbulkan bunyi “plok-plok-plok” (Sekarang dinamakan barongan “cepaplok”, S.Tm.).

Anak-anak sering menggodanya dengan ejekan dalam bahasa Jawa: “kecerit, kecerit, bolmu kejepit!”, yang artinya: “mencret, mencret, duburmu terjepit!”. Agaknya diasosiasikan dengan orang sakit mencret. Kalau barongan itu marah dan mengejar anak-anak itu, maka larilah mereka tunggang langgang. Mungkin karena ejekan terse but, barongan itu sering dipanggil “cerit” atau ” pacerit” (Pak Cerit? S.Tm.). Demikian tutur salah seorang Jawa.

Pemain kedhokan kedua yalah Dhampuawang, mengenakan topeng berwarna merah dengan hidung yang panjang. Ia hanya bersenjatakan sebuah cemethi. Pengganti dua raksasa dalam pertunjukan Reog Panaraga, di sini hanya ditampilkan satu tokoh, mengenakan pakaian terbuat dari bagor dan topeng seperti Jaka Bluwo at au Jaka Bodho. Ia bersenjatakan pedang kayu. Di Kedhiri tokoh ini disebut Jaka Lodra. menurut tuan Martaatmadja nama itu dikaitkan dengan “ludrug” . Maka anak-anak pun mengejeknya dengan panggilan: Ludrug. Ludrug atau Badhut. Atau Badhut.

Oleh tuan Martaatmadja juga dipaparkan ten tang pertunjukan kedhokan yang lebih luas. dengan adegan-adegan yang sarna seperti di atas. Setelah adegan beberapa jaranan (= pemain kuda kepang) “ndadi” (intrance, extase). rnaka mereka pun bertarung melawan barongan. Jaranan kalah. Muncullah Dhampuawang. berperang melawan barongan. Di sini diselipkan adegan Dhampuawang melepaskan lelah, ditunggui oleh isteriisterinya. Dalam adegan ini diperdengarkan lagu-Iagu, yang diuraikan oleh tuan Martaatmadja secara terperinci.

Selanjutnya menyusul adegan Gunungsari dan Regol Patrajaya. Menarik sekali apa yang diuraikan oleh tuan Martaatmadja yalah. Bahwa Gunungsari. atau yang sering disebut juga Mlayakusuma. oleh orang-orang Kedhiri dianggap sebagai pepundhen. artinya dipuja sebagaimana kebiasaan adat di daerah terse but. Suatu contoh lagi ten tang kecenderungan masyarakat daerah untuk memuja tokoh-tokoh mitologi, yang barangkali be rsumber dari alam kepercayaan animistik.

Akhirnya rrienyusul adegan Penthul dan Tembem. Apa peranan laka Lodra sebenarnya, tuan Martaatmadja tidak menyebutkan. Kita perkirakan, bahwa Jaka Lodra ini akan merampungkan peperangannya teni.khir melawan barongan. Demikianlah kurang lebih pertunjukan Reog Kedhiri pada sekitar tahun 1926 sebagaimana dilukiskan oleh Martaatmadja yang dicatat oleh Pigeaud . Kadar bandingan, berikut ini sebuah pertunjukan sejenis di desa Wanasari, kecamatan Pagu , kabupaten Kedhiri, yang kami sakslkan pada tanggal 8 Januari 1979.

Mula-mula tampil dua_ orang penari kuda lumping (Jaranan). Mereka bersenjatakan sebuah cambuk. Beberapa saat mereka menari dengan gaya masing-masing ditingi<ah oleh bunyi gamelan yang ditabuh dengan irama lamban.

Menyusul adegan Celengan (celeng = rusa). Irama tctabuhan dipercepat. Celcngan menyerang laranan , terjadi peperangan satu lawan dua. Dalam pada itu muncul pula barongan cepaplok, yang melukiskan seekor Nagaraja (raja ular), bertarung dengan tokoh gendruwon, berhidung panjang, sepasang mata melotot, kumis dan rambutnya panjang. Ia bersenjatakan cambuk pula. Sekali pandang segera dapat kita kenali sebagai Bujanggan{)ng dalam Reog Panaraga, at au Dhampuawang dalam Reog Kedhiri tahun 1926 tersebllt di atas, tetapi di sini topengnya berwarna hitam, bukan merah.

Penampilannya dibatengi oleh peran perempuan, (pemerannya laki-Iaki berbusana perempuan mengenakan gaun), topengnya berwarna merah, anehnya tidak dipasang menutupi mukanya, melainkan clicangking saja. Kehaclirannya mengingatkan kita kepada tokoh isteri Dhampuawang, walaupun adegan romans Dhampuawang bersama isterinya sewaktu mengaso melepaskari lelah sehabis berperang melawan barongan tidak sempat ditampilkan.

Dalam adegan yang sekarang, digambarkan peperangan antara Jaranan dan Dhampuawang di satu pihak, dan di pihak lawan Cclengan dan Cepaplok. Bertubi-tubi lecutan cambuk ditimpakan ke tubuh Celengan oleh prajurit Jaranan, dan ke tubuh Cepaplok oleh Dhampuawang, demikian kcrasnya hingga penonton ngeri melihatnya.

Unik di sini peranan tokoh perempuan yang tidak berperan apa-apa, kecuali berjalan kian kemari sembari berlenggat-lenggot . Tetapi setelah diamati benar-benar, mengagumkan juga fantasi mereka. Karcna scmpitnya waktu yang tersedia, mereka memadatkan pertunjukan mereka dengan menyatukan adegan peperangan kedua kelompok itu (kelompok Jaranan melawan Celengan, dan kelompok Dhampuawang melawan Cepaplok, dan tidak saling berganti lawan)  dalam satu arena yang tidak terlalu luas. Dalam hal demikialln tokoh perempuan ternyata mengambil peranan aktif namun netral sebagai batas pemisah arena.

Sudah barang tentu batas itu berpindah-pindah mengikuti gerakan yang saling berperang. Itulah sebabnya topeng tidak dikenakan pada mukanya, pertama: untuk memberi kesan netralitasnya; kedua: sekaligus menyatakan kehadirannya sebagai isteri Dhampuawang; dan ketiga: tanpa topeng dimukanya ia leluasa mengamati arena. Andaikata waktunya ada, niscaya adegan peperangan kedua kelompok itu dilakukan secara terpisah.

Setelah pihak Celengan dan Cepaplok dikalahkan, maka selesailah pertunjukan. Adegan-adegan lain seperti penampilan Jaka Lodra, Gunungsari, Patrajaya, dan lainnya tidak ada, atau memang tidak sempat diadakan. Ternyata tidak terdapat adanya perubahan mendasar antara pertunjukan Reog Kedhiri tahun 1926 dan 1979, kecuali hanya yang menyangkut kostum dan garapan saja . Tetapi rakyat sebenarnya tidak pernah mengenal apa yang disebut Hgarapan” di bidang kesenian itu. Mereka menerima warisan dari leluhur mereka turun-temurun. Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh moyang mereka , sepanjang keadaan mengijinkan.

Judi kalau ada perubahan, hanyalall perubahan materiil sesuai dengan keadaan jaman dan kemamplfan daya beli. Atau kalau pun ada perubahan yang pokok, itu terjadi secara tidak sengaja karen a kekurangan pengetahuan atau pengaruh-pengaruh dari Iuar yang tidak mereka sadari. Namun, apa yang mereka lakukan sekarang, lepas dari segal a kekllrangannya, mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan dari apa yang mereka lakukan itu, kita masih cukup mengenali kembali apa yang telah disajikan oleh moyang mereka pada tahun 1926. Dan mengingat jarak waktu pemisah yang setengah abad lebih itu, tanpa ada perubahan fundamental, kiranya dapat kita terima dengan hati ringan , bahwa demikian itulah kurang lebih bentuk dan karakter Reog Kedhiri aslinya dulu. Busana, kecuali yang dikenakan oleh pelaku perempuan, pada dasarnya sama semua: udheng (ikat kepala), kaos oblong, celana berseret panjang sampai lutut , kain batik panjang yang dililitkan ke pinggang dengan ujungnya menjurai ke bawah di bagian depan. Ikat pinggangnya setagen dirangkapi dengan sam pur sebagai hiasan . Secarik syal melilit di leher semacam dasi.

Yang membedakan peranan mereka satu sama lain yalah atribut peranan mereka. Yang Jaranan menunggangi kuda kepang, dengan gerak tari meniru-niru gerakan prajurit penunggang kuda dan gerakan kudanya itu sendiri. Sebentar-sebentar melecutkan cambuknya, jumedher suaranya mengatasi keriuhan suara tetabuhan yang mengiringi. Pelaku Celengan membawa sebuah gambar celeng-celengan ‘ tanpa kaki, disengkelit atau diacungkan ke depan menurut ulah tari menirukan gerakan seekor celeng: njrunthul, nyronggot, dan sebagainya.

Peran Dhapuawang menggunakan topeng, seperti dilukiskan di muka, warna hitam, mata melotot, hidung panjang, ditambah dengan kumis dan rambut panjang. Gerak jogedannya lucu, tetapi juga bisa marah, lalu melecutkan cambuknya ke tubuh barongan. Adapun barongannya, sang Nagaraja, moncongnya panjang, dapat membuka dan mengatup dengan mengeluarkan bunyi “plok-plok-plok” dan ekornya terbuat dari kain berbentuk segi tiga yang memanjang ke belakang, dilukisi bersisik, atau kadang-kadang juga polos saja. Biasanya pada ujung ekornya ada orang yang memegangi. Hiasan kepala naga itu semacam jamang (mahkota) terbuat dari kulit kerbau, bertatahkan hiasan warna-warni. Karena . pemeran barongan praktis tersembunyi di balik kedhoknya dari kepala sampai badannya, ia tidak perlu memakai  udheng, kain batik, dan sebagainya.

Cukup dengan celana yang berseret itu dan kaos oblong. Peranan. perempuan sudah disebutkan mengenakan gaun (rok) panjang sampai di bawah lutut, sebuah syal di leher, sedang topengnya yang berwajah ‘ manusia. biasa berwarna putih hanya dicangking saja. Tentang busana ‘ini ada yang membedakan mereka dengan rekanrekan mereka di Tulungagung dan Panaraga. Mereka tidak mengenakan kaos kaki, gongseng, sum ping dan kacamata. Musik pengiringnya sarna dengan yang di Panaraga: sebuah kendhang, sebuah thempling atau ketipung yang dipukul dengan sebuah tongkat lentur, sebuah kenong, ·sebuah kempul, sebum selompret  dan dua buah angklung. Satu hal yang patut dicatat di sini yalah, bahwa selompret yang sekarang berfungsi sebagai “pamurba'” lagu. Sekaligus pembawa lagu (mel odie drager), jadi dengan demikian merupakan unsur yang tidak dapat ditinggalkan dalam iringan tetabuhan reog.

justeru tidak digunakan dalam pertunjukan Reog Kedhiri sekitar 1926. Sebagai gantinya

digunakan tiga buah angklung, sehingga melodi yang keJuar diungkapkan oleh Martaatmadja dengan deretan suku kat a menirukan bunyi “kilkil’pak, kil·kil-nong”. dan seterusnya, dalam irama cepat atau lambat menu rut keperluan. Sekarang, setelah ada , selompret, maka variasi melodi diperkaya dengan lagu-lagu populer, sarna seperti di Tuhmgagung dan Panaraga (Angleng, Loro-loro, Gandariya, dan lain-lain) .

Kini tentang identifikasi peranan. Di muka telah disebutkan, bahwa pertunjukan Reog Kedhiri bertemakan cerita Panji. Pada pertampilan penari Celengan segera dapat kita kenali tokoh Patih Puthut Jenggalalana yang mengikuti pasanggiri mencari Candrakirana dan Panji Asmarabangun yang menghilang dari kraton (Bab IV: 1.4.), atau kawula prajurit binatang anak buah Prabu Rahwanaraja. Dalam Reog Kedhiri 1926 adegan Celengan tidak disebutkan.

Prajurit Jaranan jelas· menggambarkan pasukan berkuda kerajaan Jenggala(manik). Dalam Reog Panaraga adalah pasukan berkuda Bantarangin, anak buah Prabu Kelana Sewandana. Dhampuawang (berikut isterinya) sukar diidentifikasikan. Tokoh legendarik ini terlalu banyak tersebar di mana-mana, tidak hanya di kalangan pertunjukan Reog Kedhiri saja. Ada yang menapsirkan suatu verbastering dari kata “dang puhawang” yang berarti “sang nakhoda” (kapten kapal), dan ini dihubungkan pula dengan Cheng Ho, seorang laksamana Kaisar Tiongkok yang memimpin perutusan muhibah ke Jawa pada permulaan jaman Islam.

Lain lagi menapsirkan suatu verbastering nama Sam Po Ong, berubah menjadi Sam Po Wang, dan oleh lafal Jawa disebut Dhampuawang (Dhampoawang). Nama Sam Po Ong ini rupa.rupanya sangat terkenal atau populer di katangan masyarakat Kedhiri, sebab di Gua Selamangleng, di kaki gunung Klothok Kedhiri, terdapat sebuah patung Amitabha (= Dhyani-Buddha dalam sikap samadi, yang oleh Juru Kunci yang menjaga gua tersebut identifikasikan dengan Sam Po Ong.

Kenyataannya sekarang tempat itu pad a tiap kesempatan banyak dikunjungi oleh masyarakat Cina yang “nepi” atau “ngalap berkah”, agar terpenuhi segala keinginan duniawinya. Mengingat Gua Selamangleng menurut tutur tradisi adalah pertapaan Dewi Kilisuci, tokoh penting dalam siklus Panji, maka di sini pasti ada kaitannya antara Dhampuawang dan panji. Namun apa peranan Dhampuawang dalam siklus Panji itu sebenarnya, tetap merupakan teka-teki.

Jaka Lodra,adalah anak seorang bujangga sakti bernama Buta Locaya, karena sumpah ayahnya beralih rupa menjadi manusia berkepala kerbau. Kemudian ia menjadi raja Bandarangin (bukan Bantarangin), bernama Prabu Lembusura, yang melamar Ratu Kilisuci. Akhirnya Lembusura ini tewas oleh tangan adiknya sendiri, Jathasura.

Tetapi dalam pertunjukan Reog Kedhiri 1926 peran Jaka Lodra tidak jelas. Melihat topengnya, Jaka Bluwo? Kalau benar ia Jaka Bluwo , maka pastilah ia Panji Asmarabangun, sebab dalam kisah Panji versi lain lagi, jaka Bluwo adalah metamorfosa (perubahan rupa) Panji Asmarabangun yang hilang itu. Ini masuk akal, sebab Pigeaud pun memperkirakan jaka Lodra tampil pada adegan·terakhir untuk berperang melawan barongan Cepaplok. Adegan perang terakhir ini dalam pertunjukan wayiUlg disebut “perang brubuh” atau ” brubuhan” , yang tampil pasti tokoh-tokoh utamanya dalam lakon. Karena lawan Panji yang sudah klasik adalah Kelana Sewandana, maka Cepaplok adalah metamorfosa Kelana Sewandana.

Tetapi Cepaplok yang menggambarkan seekor ular Naga itu, adalah Puthut lenggalalana sebelum ia mengubah dirinya menjadi seekor celeng. Di sini mungkin sekali peranan tertukar, hal yang lajim terjadi dalam kisah tutur. Ular Naga Cepaplok adalah metamorfosa Patih Tamengdita dari Bandarangin, patihnya Kelana Sewandana. Kalau demikian halnya, maka adegan perang terakhir (brubuhan) seperti yang diperkirakan Pigeaud itu, jalannya sebagai berikut: Jaka Lodra (= Jaka Bluwo) berperang melawan Naga Cepaplok. Naga Cepaplok mati, berubah kembali pada wujud aslinya: Patih Tamengdita. Kelana Sewandana, rajanya, marah, lalu menyerang Jaka Lodra.  Karena. kesaktian sang Kelana, Jaka Lodra settelah dihajar habis-habisan, pulih kembali pada wujud asal menjadi Panji Asmarabangun. Sang Panji marah sekali dan melawan lagi.

Akhirnya Kelana Sewandana tertumpas. Begitulah akhir pertunjukan Reog Kedhiri 1926 itu kira-kira. Tetapi ini lalu menjadi versi lain karena matinya, Patih Tamengdita bukan oleh Panji Asmarabangun, melainkan oleh Kleting Kuning alias Candrakirana dengan pusaka “sada lanang”-nya itu. Tampilnya Gunungsari dengan kedua panakawannya Regol dan Patrajaya sudah jelas, untuk mencari kakaknya Panji Asmarabangun. Tetapi penampilannya tentu dalam adegan mendahului adegan brubuhan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 115-124

Raden Pulunggana.

“Mak inang, apakah sudah ada berita tentang kakanda R. Jaka Bandung.” dewi Sekar-kemuning bertanya.
“Belum, tuan pu teri.” sahu t inang.
“Apakah kakanda Jaka Bandung mati tenggelam di telaga,.
bibi. Aku menyesal sekali, menyuruhnya masuk ke dalam telaga. Ia begitu sakti, bibi. Kukira tak akan berbahaya”, dewi Sekarkemuning terputus-putus katanya, air matanya jatuh satu-satu, teringat akan suaminya yang hilang tak tentu rimbanya. Sudah lama hatinya berbalik ingat akan pengorbanan suaminya terhadap dirinya. Lambat tapi pasti, kasihnya tumbuh, mendalam dan mendalam . . . ..
“Sudahlah tuan puteri. Sabarlah! Tiada gunanya menyesali diri sendiri. R. J aka sangat sakti, mustahil mati tenggelam di air telaga. Barangkali beliau sedang pulang ke gunung. Atau mungkin beliau sudah pulang kemari.” kata inang menghibur hati tuannya.

Memang benar juga kata inang itu. Sudah sejak tadi R. Pulunggana hadir dan mendengarkan percakapan isterinya dengan inangnya, tetapi ia masih siluman. Sekarang ia telah tahu bahwa isterinya telah mengharapkan kedatangannya. Dengan perlahan—lahan ia menampakkan dirinya di hadapan dewi Sekar-kemuning. Inang dan tuannya terkejut juga melihat perwujudan itu, seorang satria yang sangat tampan; bagaikan dewa Kama.

Dewi Sekar-kemuning segera menyembah dan bertanya: “Wahai Tuanku. Dewakah atau manusiakah tuanku ini dan siapakah nama Tuanku ini?”
“Dewi perhatikanlah benar-benar. Akulah suamimu yang hilang ditelan telaga”, R. Pulunggana menjawab. Dewi Sekarkemuning mengangkat kepalanya, memperhatikan wajah tamunya. Lambat laun ingatannya tentang rupa suaminya kern bali. Ia bersujud di kaki suaminya sambil meratap:
“Ah kakanda, ke mana sajakah selama ini?”

R. Jaka menarik tangan isterinya dan diajaknya duduk di kursi panjang. Dengan kata-kata penuh hiburan ia berceritera kepada isterinya ten tang segala pengalamannya.”
“Sekarang kanda bernarna Pulunggana, dinda”, kat a R. Jaka. Demikianlah suami-isteri itu menuturkan pengalaman-pengalamannya disela cumbu-rayu dan canda ria.

Kebetulan Prabu Brawijaya malam itu memimpin sendiri perondaan di sekitar istana. Hal itu diketahui juga oleh R. Pulunggana. Oleh karena itu R. Pulunggana keluar dari kamar isterinya dan untuk menyambut Sri Baginda. Tetapi melihat bayangan orang di taman, tiaginda telah curiga. Dikiranya pencuri, maka tidak ayal lagi, baginda menyerang dengan beruntun . R.Pulunggana me loncat-loncat menghindari serangan, sambil berseru supaya Baginda berhenti menyerang. Tapi Prabu Brawijaya menjadi lebih murka. Akhimya ditariknya kerisnya yang bernama Kyai Jangkung Pacar yang sangat ampuh. Ujungnya menyalanyala. R. Pulunggana melihat keris pusaka yang bercahaya itu berpikir, bahwa belum waktunya untuk menghadap- baginda, lalu menghilang.

Keesokan harinya Sri Haginda memanggil Patih Gajahmada dan memerintahkan memperkuat penjagaan istana. Tetapi betapa pun kuatnya penjagaan, R. Pulunggana dapat saja keluar masuk istana dengan leluasa. Hal itu sangat menjengkelkan hati sri baginda, sehingga Baginda memerintahkan mengadakan sayembara: “Barang siapa dapat menangkap pencuri di istana akan diangkat menjadi hulubalang raja.” Di samping itu Gajah Mada diperintahkan untuk mencari orang yang sakti-sakti.

Diceritakan, bahwa ada sepasang suami-isteri brahmana yang datang dari tanah Hindu di daerah Majapahit. Brahmani, isteri Brahmana itu melahirkan seorang anak laki-laki di dalam hutan. Karena mereka masih harus berjalan jauh, ditinggalkanlah anak itu di bawah pohon enau, agar supaya ditemu orang. Benarlah harapan itu. Setelah kedua brahmana itu pergi, datanglah orang yang hendak menyadap enau itu. Alangkah senang hatinya mendapat anak itu. Lupalah ia akan maksudnya menyadap itu, ia lari pulang untuk memperlihatkan anak yang didapatnya itu kepada isterinya. Kebahagiaan isterinya tak dapat dilukiskan. Setelah besar anak itu ternyata sangat bodoh, sehingga teman-temannya menamakannya Jaka Bodo (Si Tolol) dan nama itulah yang laku. Nama mentereng yang diberikan oleh orang tuanya terlupa sama sekali. Bahkan Jaka Bodo pun lupa, bahwa ia mempunyai nama lain. Pada suatu hari Jaka Bodo terpisah dari teman-temapnya. Tiba-tiba datanglah seorang brahmana (ayahnya yang sebetulnya) dan Jaka Bodo dibelah dadanya dan diisi dengan segal a ilmu pengetahuan dan ilmu kesaktian. Setelah selesai brahmana itu berkata:

“Jaka Bodo, sebenarnya kamu itu anakku. Tapi baiklah, kau tetap merasa sebagai anak penyadap itu. Bila datang orang dari kerajaan Majapahit yang mencari orang sakti untuk menangkap pencuri, sanggupilah itu. Itulah jalan hidupmu menjadi mulia.” Setelah meninggalkan pesan itu, brahmana itu gaib. Sampai di rumah Jaka Bodo menceriterakan segala pengalamannya kepada ibunya. Ibunya menjawab: ,

“Kamu itu bermimpi. Mana ada orang Majapahit sampai di sini? Dan andaikata benar ada orang itu, bagaimana kamu akan menangkap pencuri di istana itu. Ketahuilah, kebiasaan seorang raja kalau dikecewakan akan ,marah, lalu membunuh. ,Sudahlah anakku, buanglah pikiran itu. Ibumu masih cukup kasih padamu dan tak mau kehilangan.”

Tetapi suaminya tak setuju dengan pendapatnya itu:” 0, Nini . Jangan memandang ringan kepada Jaka Bodo. Ingatlah bahwa manusia itu hanyalah seperti wayang, dewalah yang berkuasa yang mampu membuat untung rugi, menang dan kalah.”

Belum habis ia berkata-kata, terdengarlah orang datang. Penyadap itu menyilakan tamu itu masuk, lalu duduklah mereka di balai-balai di rumah itu. Tamu itu berkata: “Kaki penyadap, . saya datang dari Majapahit dan karena kemalaman, perbolehkan saya bermalam di rumahmu ini.” Penyadap itu menjawab: “Majapahit? Alangkah bahagianya hamba ini, bagai mendapat durian runtuh. Sudah barang tentu hamba senang sekali tuanku berkenan tinggal di rumah buruk hamba ini. Bolehkah hamba tahu, apakah yang membawa tuanku bepergian sejauh ini?”

Patih Gajah Mada: “Ketahuilah, bahwa sebenarnya saya ini Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Saya pergi sejauh ini untuk mencari orang yang sanggup menangkap maling sakti yang mengganggu ketentraman istana.” , Jaka Bodo: “Kalau itu yang tuanku cari, hamba pun sanggup menangkap pencuri itu.”

Alangkah terkejutnya Patih Gajah Mada mendengar kat akata Jaka Bodo itu. Setelah diterangkannya segala sesuatu yang bersangkutan dengan pencuri itu dan Jaka Bodo masih tetap sanggup, diputuskanlah untuk berangkat ke Majapahit keesokanharinya.

Tidaklah diceriterakan’ perjalanan mereka. Setelah tiba di kota kerajaan, Patih Gajah Mada dengan Jaka Bodo langsung menghadap Sri Baginda. Walaupun raja sangat heran, karena patih hanya membawa seorang anak, Baginda masih mau memberi kesempatan dan Jaka Bodo mendapat pengawal. Jaka Bodo tak mau dibantu, tetapi ia mengatur tempat-tempat penjagaan, sehingga seluruh daerah istana itu dapat diawasi dengan sempurna. Pada malam pertama Jaka Bodo dapat bertanding dengan R. Pulunggana, tetapi tak dapat menangkapnya. Tetapi Jaka Bodo melihat, bahwa pencuri sakti itu dapat menghilang setelah dapat minum air.

Keesokan harinya ia mahan kepada Sri Baginda untuk membuang air dari daerah seluruh istana. Hal itu segera dilaksanakan, sehingga menjelang matahari terbenam, di istana dan daerah sekitarnya tak terdapat setetes air pun.

Pada malam kedua itu pun Jaka Bodo dapat rnendesak dan memburu-buru R. Pulunggana. Setelah beberapa lama berternpur R. Pulunggana rnerasa haus, tetapi ke rnanapun ia rnencari air tak didapatnya setetes pun. Akhimya dengan khawatir ia masuk ke dalarn karnar dewi Sekar-kernuning. Jaka Bodo tak berani mengejar . Ia kembali menghadap Sri Baginda untuk melaporkan bahwa pencuri bersembunyi di kamar tuan puteri Sekar-kemuning . Ia menganjurkan agar Sri Baginda menyuruh puteri menangkap pencuri itu.

Prabu Brawijaya segera menyuruh inang memanggil dewi Sekar-kemuning untuk menghadap Baginda . Setelah menghadap, Baginda berti tah :

“Wahai, Nini puteri. Menurut laporan Jaka Bodo, hanya Nini puterilah yang dapat menangkap pencuri sakti itu. Kini ia . bersembunyi di kamar Nini puteri.”

Dewi Sekar-kemuning hanya menjawab: “Daulat Tuanku. Titah ayahanda hamba junjung.” Karena ia dipesan oleh suaminya, Dewi Sekar-kemuning segera kembali ke kamamya dan bertemu dengan R .Pulunggana, katanya:
“Ayahanda menyuruh adinda menangkap kakan.da. Oh, kanda apakah yang akan terjadi?”
R.Pulungana membujuk-bujuk isterinya:
“Wahai Adinda, pujaan Kakanda . Dewi janganlah ragu-ragu. Sekarang ikatlah tang an Kakanda dengan cindei sutera yang Adinda pakai itu dan bawalah Kakanda menghadap Baginda.” Demikanlah R. Pulunggana dibawa menghadap Baginda. Setelah sampai, Baginda berkata :
“Nini puteri. Katakanlah kepadanya, bahwa aku minta hidup .matinya.
” Dewi Sekar-kemuning tak dapat menjawab dengan terang. Di sela-sela air matanya, ia berkata.
“Ayahanda, bila dia mati, hamba pun mati.
” Belum sampai Baginda menjawab, R.Pulunggana menyela:
“Wahai Tuanku. Hamba menyerahkan mati dan hidup hamba. Hanya hamba ingin tahu, senjata apakah yang akan dipergunakan untuk mernbunuh hamba . Bila masih “sisa grenda” hamba tidak akan takut.”
“Mengapa begitu? Siapakah kau ini?” kata maharaja Brawijaya dengan sabar . Baginda terharu oleh kejujuran dan keuletan hati pencuri sakti itu.
“Hamba bemama R. Pulunggana. Hamba tak lut akan senjata tajam, karen a hamba sebenarnya R. Jaka Bandung yang pernah mengabdi kepada Tuanku.”

Baginda terkejut: 0, 0, ngger!” Kepada Dewi Sekar-kemuning Baginda berkata: “Nini puteri. Bukalah ikatan suamimu itu Nini. Dia itu suamimu, Nini.”
Beberapa lama kemudian patih Gajah Mada menghadap bersama Jaka Bodo. Baginda berkata:
“Wahai patih Gajah Mada. Dengarkanlah titah. Pertama: R. Bandung atau R. Pulunggana kuangkat jadi panglima angkatan perang Majapahit dengan gelar R. Panular. Jaka Bodo kuangkat jadi patih dalam, bergelar Adipati. Kerjakanlah! ”
Patih Gajah Mada menjawab: “Daulat Tuanku! Titah Tuanku patih junjung.” ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram