Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Musik pengiring Kesenian glipang

Kesenian glipang, kesenian asli tradisi Probolinggi ini kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal. Secara umum bisa dikatakan sebagai berikut, ciri-ciri dari penyajian keseni­an glipang. Pada pola penyajian keseni­an memiliki struktur tertentu dan tema tertentu, serta lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan agama Islam.

Alat-alat nusik yang digunakan terdiri dari sebuah Jedhor, dua buah ketipung besar (lake’an dan bhine’an), tiga sampai lima terbang/kecrek. Pola permainan musik merupakan ansamble dari jedhor, terbang / kecrek dan vokal.

Bahasa yang digunakan dalam vokal/dialog adalah bahasa arab, Jawa dan Madura, unsur gerak kreativitas pribadi dari unsur – unsur gerak pencak silat. Tokoh-tokoh pelaku sesuai dengan lakon yang dibawakan.

 Alat musik yang digunakan.

Alat musik/karawitan glipang terdiri dari :

–     Dua buah ketipung besar.

Terdiri atas lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling mengisi), ketipung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan tekanan-tekanan gerak.

–     Satu buah Jidhor.

memberikan tekanan-tekanan tertentu untuk semelehnya (konstan-nya) irama.

–    Tiga buah sampai lima buah terbang/keorek.

mengisi laga dengan cara memberikan suara diantara degupan.

Lagu-lagu yang dibawakan

–     Lagu Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprah glipang.

–    Pantun berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Hari Jadi Kota Probolinggo

TANGGAL 4 SEPTEMBER 1359 SEBAGAI HARI JADI KOTA PROBOLINGGO

1. Pokok-pokok Pikiran / Hal-hal yang Menjadi Dasar/ Melatarbelakangi

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOa. Berdirinya / pembentukan Gemente ( Kota Probolinggo pada tanggal 1 Juli 1918 yang ditetapkan sebagai hari   lahinya Pemerintah Kota Probolinggo dan telah diperingati oleh pemerintah dan masyarakat, Hari Jadi Kota Probolinggo Kota Probolinggo pada kira-kira tahun ’60-80’an merupakan produk / bentukan Pemenntah Kolonial Hindia Belanda.

b. Himbauan Pemerintah Kotapraja Probolinggo yang disampaikan oleh Walikota Probolinggo dalam sidang pleno DPRD Kotapraja Probolinggo dan usul inisiatif DPRD Kotapraja untuk mencari dan menetapkan hari jadi Kota Probolingo yang tidak berbau Kolonial Belanda dan yang lebih bersifat nasionalis, mempunyai nilai heroic ( kepahlawanan ) serta digali dari sejarah bangsa sendiri yang berkepribadian .

2. Penetapan Tanggal 4 September 1359 sebagai Hari jadi Kota Probolinggo

a. Perjalanan Keliling ( Inspeksi ) Prabu Hayam Wuruk

Perjalanan keliling Prabu hayam wuruk ini dicatat dan ditulis oleh Pujangga Kerajaan yang terkenal, yaitu Prapanca. Perjalanan keliling daerah kita baca dalam pupuh 17/4 bahwa Prabu Hayam Wuruk

setelah berakhir musim dingin (maksudnya ialah musim hujan ). Sering mengadakan perjalanan keliling untuk mengunjungi daerah yang dekat-dekat seperti : Jalagiri, Blitar, Polaman, Daha dan sebagainya, yang sering dikunjungi ialah desa

Perdikan Jalagiri yang terletak tidak jauh dari sebelah Timur Majapahit , serta Wewe Pikatan di Candi Lima , dengan kaki saja . Jika tidak kesitu . maka beliau suka berkunjung ke Palah untuk berziarah ke Candi Siwa. Perjalanan itu lalu diteruskan ke Blitar, Jimur Silaahrit, Polaman. Daha Janggalah.

Selanjutnya Prapanca mencatat perjalanan keliling Prabu Hayam Wuruk, diiringi oleh segenap pembesar pemerintah pusat pada tahun Saka 1275 (Masehi) ke Panjang ; tahun Saka 1276 (Masehi 1357) ke Pantai Selatan, mene robos hutan terus ke Lodaya, Teto dan Sideman: tahun Saka 1281 (Masehi ‘ 1   1359). Pada bulan badra (Agustus – September) ke Lumajang. Mengenai perjalanan yang terakhir ini , Prapanca

memberikan uraian yang panjang lebar, sehingga kita dapat mengetahui desa – desa dan daerah – daerah inana yang dikunjungi dalam peijalanan itu . Ternyata perhatian Prabu Hayam Wuruk besar sekali terhadap desa-desa dan bangunan suci juga kita ketahui pula betapa Prabu Hayam Wuruk disambut oleh para penghuni desa dan asrama yang didatanginya

Peijalanan keliling itu dimaksudkan untuk mnyaksikan sendiri keadaan kehidupan rakyat kecil di desa-desa di wilayah Negara Majapahit. sekaligus juga menyaksikan pelaksanaan amanat beliau sendiri dan petunjuk para petugas pemerintah pusat Demikianlah beliau tidak puas dengan laporan saja. Beliau ingin menyaksikan keadaan rakyat di Desa-desa yang sulit dikunjungi orang sekalipun.

Dalam pupuh HO/4 dinyatakan dengan tegas maksud perjalanan keliling daerah , yang dilakukan oleh Sri Nata Hayam Wuruk. Maksudnya ialah supaya musnah semua duijana di muka wi lay all kerajaan Mojopahit, yang diperintah Sri Nata, itulah sebabnya maja semua desa ditelusuri. dikunjungi, diteliti, sanipai desa-desa yang letaknya ditepi pantai laut sekalipun

Kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Prapanca sebenarnya bernama Decawamana, yang terutama menceri takan waktu Sang Prabu mengunjungi daerah- daerah dan pedesaan-pedesaan. Sri Nata sangat menaruh perhatian terhadap kehidupan di pedesaan. Peijalanan keliling dimaksudkan agar Sang Prabu dapat melihat sendiri bagaimana kehidupan ” wong cilik ” di desa-desa sekaligus apakah perintah-perintah yang ia telah berikan dalam pengarahan sudah dikerjakan oleh pejabat-pejabat eselon bawahan . Selain daerah-daerah dan desa-desa yang mendapat perhatian dari Sang Prabu , juga ia berziarah ke bangunan suci dan kalau tardapat kerusakan – kerusakan pada bangunan tersebut , segera diperintahkan untuk memperbaiki.

b. R. Ng Yosodipura, Pujangga Surakarta Hadiningrat, menuliskan:

Prabu Hayam Wuruk sajroning an Jong lelono anjajah praja ing tanggap warsa 1359, tahun candra nalungsure ing jurang terpis, tumekeng perenging wuki Temenggungan tumuju ing argo Tengger ing Mada Karipura. Tumurun ing tepising wonodrikang banger ambeting warih, sang prabu manages ing ngarsaning Dewa , denyo nerusake lampah marang Sukodon ning wuwus nyuwon nugroho supoyo tansah pinanjungan ing Hyang Widi bisa tansah kaleksanaan ing sediyo. Kang dadi ubayane ing wuri utusan pawongan ing Wono Banger babat Wono dung mrih saranan ing rejaning projo ing wuri. Kasigek caritaning lampah, Sang Prabu sank Punggowo cantang balung kinen angungak ing projo sadeng sawusnyo prang pupuh. Dening Sang Prabu wus kinaryo penggalihan ing sumangso kelampahan kang katur babat wono gung arso pinaringan aprasanti dadio tungguling projo anyar asesilih akuwu kadipaten Sukodono Lumajang, Prasetianing sang noto ing tepising wonodri katiti ing mongso wanci purnomo angglewang ( lingsir ), respati arinipun. Sangnoto Rejosonegoro andon lelono ing brang wetan tumekeng manguni blambangan lan saindenging brang wetan.

Artinva :

Prabu Hayam Wuruk selama berkelana keliling negara pada tahun 1359 , tahun candra nalungsure ing jurang terpis ( 1359 ) tiba di lereng gunung Tumenggungan dan menuju ke gunung Tengger di Madakaripura. Menunin di tepi / batas hutan yang sungainya berbau busuk. Sang Prabu memohon kepada Dewa , dapatnya meneruskan peijalanan ke Sukodono. Dalam kata-katanya memohon anugerah agar selalu dalam lindungan Hyang Widi, agar dapat terlaksana dalam kenyataan. Yang menjadi upaya / kehendak pada kemudian beliau menyuruh Punggawa di Wan a Bangera agar membuka hutan lebat supaya menjadi daerah yang makmur di kemudian hari.

Tersebutlah jalannya cerita, Sang Prabu beserta pasukan tentaranya disuruh meninjau daerah Sadeng sesudah Perang Pupuh. Oleh Sang Prabu sudah direncanakan pada waktu melewati hutan lebat yang baru dibuka berkenan menganugerahi jabatan agar menjadi pimpinan / pemuka daerah yang  baru bergelar Akuwu dalam Kadipaten Sukodono Lumajang. Janji Sang Nata di tepi hutan tercatat pada bulan Purnama condong, hari Kamis, Sang Nata Rejosonegoro bekelana di daerah Timur sampai menjumpai Blambangan dan pelosok daerah Timur. Perintah Prabu Hayam Wuruk untuk membuka hutan Banger ( babat alas Banger ) tersebut diperhitungkan dan ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

a. Baremi, Banger, Borang

Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama dengan jelas menyebut nama- nama desa ( daerah ): ” Borang, Banger, Bremi”. Nama – nama desa tersebut dituliskan pada Pupuh XXI/1 dan XXXIV/4. Desa Baremi merupakan pedukuhan di Kelurahan Sukabumi Kota Probolinggo . Borang, sekarang bernama Kelurahan Wiroborang sebagai paduan antara Wirojayan dan Borang. Desa Banger yang terletak diantara Bremi dan Borang, sekarang merupakan pusat Kota Probolinggo. Sedangkan nama Banger sekarang masih dipakai untuk menyebutkan nama sungai yang mengalir ditengah-tengah Kota probolinggo. Sungai dengan aliran kecil , merupakan saluran pembuangan dan berbau busuk. Tetapi kira-kira sekitar tahun 1900 sungai ini masih lebar, airnya jernih. Banyak perahu-perahu dagang dan Madura dapat masuk berlabuh di pusat perdagangan, di Jalan Siaman . Dahulu tempat ini merupakan sebuah teluk , yang disebut ” tambak pasir Kira-kira tahun 1928 sebagian dan sungai ini ditimbun ( diurug ) dijadikan jalan, yang sekarang sebagian menjadi Jalan Siaman dan Jalan KH. Abd Ajiz. Ada sementara orang berpendapat bahwa nama Banger ini diberikan / untuk memberi nama sungai yang aimya berbau banger / amis karena bau darah Minak Jinggo yang dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan.

Jika yang dimaksud Menak Jinggo Damarwulan ialah Bre Wirabumi dengan Raden Gajah yang peperangan nya terjadi pada tahun 1401 – 1406 ( Perang Paregreg ), maka anggapan tersebut tidak benar.

Perang Paregreg teijadi pada tahun 1401-1406, sedangkan Prapanca menyebut nama Banger dalam Buku Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 dan nama Banger sudah ada pada tahun 1359 Masehi. Jika bau Bangei’ itu disebabkan karena bau darah dan mayat-mayat yang terjadi akibat peperangan antara Majapahit dengan Lumajang “Pemberontakan Nambi, Ariya Wiraaja” pada tahun 1316 Masehi, ini masuk akal, karena terjadinya sebelum perjalanan keliling ke Lumajang.

F. TANGGAL 1 JULI 1918 DAN 4 SEPTEMBER 1359

  • Tanggal 1 Juli 1918 sebagai hari jadi Pemerintah kota Probolinggo, karena pada tanggal 1 Juli 1918 Pemerintah kolonial Belanda membentuk Gemeente (kota) Probolinggo, di bawah Kabupaten Probolinggo.
  • Tangggal 4 September 1359 sebagai hari jadi Kota Probolinggo, karena pada tanggal 4 September 1359, Prabu Hayam wuruk memerintahkan untuk membuka (babat) alas Banger untuk dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Pemerintahan di Banger semula berada di bawah Akuwu di Sukodono, kemudian menjadi Pakuwon, Kadipaten, Kabupaten dan Kota Probolinggo.
  • Tanggal 1 Juli 1918: Hari jadi Pemerintah Gemeente / Kota Probolinggo mulai adanya Pemerintah Kota Tanggal 4 September 1359 : hari jadi kota Probolinggo terbentuk, adanya wilayah / daerah Kota Banger, cikal bakal Probolinggo. 

Banger akhirnya menjadi kabupaten Probolinggo dengan Probolinggo ASRINYA dan Kota Probolinggo dengan Probolinggo BESTARINYA. Sebagai Bupati Probolinggo yang pertama ialah Kyai djojolelono dan yang terakhir (2004) ialah pasangan H. Hasan Aminuddin SH, dan H. Hapur Abdul Gafur. Sebagai Walikota Probolinggo yang pertama ialah Tn. Meyer dan yang terakhir (2004) ialah pasangan H. M. Buchori, SH dan Drs. H. Koentjoro Soehadi, Md, BA, M.Sc.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004

Pemerintah Kota Probolinggo Diawal Indonesia Merdeka

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO DIAWAL INDONESIA MERDEKA

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPemerintah penjajah / Hindia Belanda setelah kekuasaannya di Indonesia diganti oleh pemerintah / penjajah Jepang dan kemudian Indonesia menjadi Negara Merdeka, berambisi kembali untuk tetap menguasai / menjajah Indonesia. Tanggal 21 juli 1947 Kota Probolinggo diduduki oleh tentara kolonial Belanda . Diangkatlah seorang Asisten Residen Bayangan dan sebagian Bergemester diangkat ex Walikota RI. Pada masa Pemerintahan Raden Soejoed Alip, Bupati Probolinggo ke 21 , Kabupaten Probolinggo pada pertengahan bulan Pebruari 1948 dibagi menjadi 2 (dua) , yaitu Kabupaten Kiaksaan dan Kabupaten Probolinggo (berdasarkan Staatsblad No. 201 ). Gementee Probolinggo dihapus dan disatukan dengan Kabupaten Probolinggo (berdasarkan statsblad 1948 No. 306).

Pemerintah Kota (Kotapraja) Probolinggo dibentuk kembali pada tanggal 20 maret 1950 dengan mengangkat R. Gatot sebagai Walikota Kotapraja Probolinggo. Pembentukan kota kecil Probolingo berdasarkan UU No. 17 Tahun 1950, tanggal 15 juli 1950 sesuai dengan UU No. 22 / 1948 mempunyai hak megurus rumah tangganya sendiri (Otonom) termasuk mempunyai lembaga legislatif ( DPRD ). Perkembangan pemerintahan Kota Probolinggo selanjutnya, sesuai dengan UU/ Peraturan yang berlaku, yaitu antara lain :

  • Undang-undang No. 18 tahun 1965 tentang
  • Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. S Undang-undang no. 5 tahun 1974 tentang
  • Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. S Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

Gemente ( Kota ) Probolinggo

GEMENTE ( KOTA ) PROBOLINGGO

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPada masa Pemerintahan Raden Adipati Ario Nitinegoro, Bupati Probolinggo ke 17, Pemerintahan Hindia Belanda membentuk ” Gementee Probolinggo(Kota Probolinggo) pada tanggal 1 Juli 1918 ( Berdasarkan Stbl 322-1918 ). Tanggal 1 Juli 1918 kemudian dijadikan sebagai hari jadinya Pemerintah Kota Probolinggo.

Bersamaan dengan HUT.Bhayangkara, tanggal 1 Juli oleh Pemerintah Kotamadya Probolinggo telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi / HUT Pemerintah Kota Probolinggo. Tahun 1926 Gementee diubah menjadi Stads Gementee berdasarkan Stbl 365 Tahun 1926.

Gementee Probolinggo selanjutnya menjadi Kota Probolinggo berdasarkan Ordonansi pembentukan Kota ( Stbl. 1928 No. 500 ). Sejak tahun 1918 Gementee Probolinggo dipegang/dijabat oleh seorang Asisten Residen ( di bawah Keresidenan Pasuruan ). Baru pada 1928 diangkat seorang Burgemeester (Walikota) sebagai Kepala Daerah yang berkuasa penuh. Pada tahun 1929 Probolinggo pernah menjadi Ibukota Karesidenan Probolinggo.

Burgemeester (Walikota) Probolinggo pertama ialah Tn. Meyer. Tahun 1935 pangkat Burgemeester untuk Stadsgemeente Probo linggo dihapus dan sebagai pejabat diangkat Asisten Residen yang berkedudukan di Probolinggo (1935-1942) yaitu LA. de Graaf dan diganti oleh LNoe.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004

Probolinggo Menjadi Tanah Partikelir

PROBOLINGGO MENJADI TANAH PARTIKELIR

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPada masa pemerintahan / kekuasaan Gubenur Jenderal Meester Herman William Daendets, yang terkenal dengan pemerintahan tangan besinya, mengadakan perubahan-perubahan dalam pemerintahan.

Juga banyak menjual tan ah negara kepada bangsa asing. Tanah Probolinggo (termasuk Kraksan dan Lumajang ) dijual kepada Mayor Cina Han Kek Koo ( Han Tik Hoo, han Tik Ko, Han Tek Kok).

Han Kek Koo Kemudian menjadi Bupati Probolinggo ke 5 yang bergelar “Babah Tumenggung”. Pusat Pemerintahan (Kabupaten) dipindahkan di sebelah Selatan Alun- alun, seperti keadaan sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004.

Banger Dan Probolinggo,Kota Probolinggo

Sekilas Harijadi Kota Probolinggo, Tanggal 4 September 1359

Banger Dan Probolinggo

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPada zaman pemerintahan Prabu Radjasanagara ( Sri Nata Hayam Wuruk ) Raja Majapahit yang ke IV (1350 – 1389), Probolinggo dikenal dengan nama “Banger”, naina sungai yang mengalir ditengah daerah Banger ini. Banger merupakan pedukuhan kecil dib^wah pemerintahan Akuwu di Sukodono. Nama Banger dikenal dari buku Negarakertagama yang ditulis oleh Pujangga Kerajaan Majapahit yang terkenal, yaitu Prapanca.

Sejalan dengan perkembangan politik kenegaraan / kekuasaan di zaman Kerajaan Majapahit, pemerintahan di Banger juga mengalami perubahan – perubahan / perkem – bangan seirama dengan perkembangan zaman. Semula merupakan pedukuhan kecil di muara kali Banger, kemudian berkembang menjadi Pakuwon yang dipimpin oleh seorang Akuwu, dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Pada saat Bre Wirabumi ( Minakjinggo ), Raja Blambangan berkuasa, Banger yang merupakan perbatasan antara Majapahit dan Blambangan, dikuasai pula oleh Bre Wirabumi Bahkan Banger menjadi kancah perang saudara antara Bre Wirabumi ( Blambangan ) dengan Prabu Wikramawardhana ( Majapahit ) yang dikenal dengan “Perang Paregreg”.

Pada masa Pemerintahan VOC, setelah kompeni dapat meredakan Mataram, dalam peijanjian yang dipaksakan kepada Sunan Pakubuwono II di Mataram, seluruh daerah di sebelah Timur Pasuruan (termasuk Banger) diserahkan kepada VOC tahun 1743. Untuk memimpin pemerintahan di Banger, pada tahun 1746 VCX? mengangkat Kyai Djojoietono sebagai Bupati Pertama di Banger, dengan gelar Tumenggung. Kabupatennya terletak di Desa Kebonsari Kulon. Kyai Djojolelono adalah putera Kyai Boen Djolodrijo (Kiem Boen), Patih Pasuruan. Patihnya Bupati Pasuruan Tumenggung Wironagoro (Untung Suropati). Kompeni (VOC) terkenal dengan politik adu dombanya. Kyai Djojolelono dipengaruhi , diadu untuk menangkap / membunuh Panembahan Semeru, Patih Tengger, keturunan Untung Suropati yang turut memusuhi kompeni.

Panembahan Semeru akhirnya terbunuh oleh Kyai Djojolelono. Setelah menyadari kekhilafannya, terpengaruh oleh politik adu domba kompeni, Kyai Djojolelono menyesali tindakannya. Kyai Djojolelono mewarisi darah ayahnya dalam menentang/melawan kompeni. Sebagai tanda sikap permusuhanya tersebut, Kyai Djojolelono kemudian menyingkir, meninggalkan istana dan jabatannya sebagai Bupati Banger pada tahun 1768, terus mengembara / lelono.

Sebagai pengganti Kyai Djojolelono, kompeni mengangkat Raden Tumenggung Djojonegoro, putra Raden Tumenggung Tjondronegoro, Bupati Surabaya ke 10 sebpgai Bupati Banger kedua. Rumah Kabupatennya dipindahkan ke Benteng Lama . Kompeni tetap kompeni, bukan kompeni kalau tidak adu domba.

Karena politik adu domba kompeni, Kyai Djojolelono yang tetap memusuhi kompeni ditangkap oleh Tumenggung Djojonegoro. Setelah wafat, Kyai Djojolelono dimakamkan di pasarean ” Sentono yang oleh masyarakat dianggap sebagai makam keramat Dibawah pimpinan Tumenggung Djojonegoro, daerah Banger tampak makin makmur, penduduk tambah banyak. Beliau juga mendirikan Masjid Jami’ (Tahun 1770). Karena sangat dise nangi masyarakat , beliu mendapat sebutan ” Kanjeng Djimat “ Pada Tahun 1770 nama Banger oleh Tumenggung Djojongoro ( Kanjeng Djimat) diubah menjadi ” Probolinggo ” ( Probo : sinar. linggo: tugu, badan, tan da peringatan, tongkat). Probolinggo : sinar yang berbentuk tugu, gada, tongkat ( mungkin yang dimaksud adalah meteor/ bintang jatuh ). Setelah wafat Kanjeng Djimat dimakamkan di pasarean belakang Masjid Jami’.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004