Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

Legenda Makam Sunan Drajat

Makam Sunan Drajat terletak di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan tepatnya di desa Drajat jalur pantai utara masuk ke selatan kira-kira 300 meter dari jalan raya Daendeles. Lokasi Makam Sunan Drajat berada diperbukitan yang tidak begitu tinggi, berbentuk Cungkup dari kayu jati berukir dan tempat paseban dilengkapi dengan gapura paduraksa, masjid, musium, lahan parkir, serta tempat-tempat penjualan sovenir. Makam Sunan Drajat ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Indonesia Tempat ini tidak pernah sepi, lebih-lebih jika pada hari libur dan hari Besar Islam. Meskipun Sunan Drajat sebagai salah satu Wali Songo dan dipercaya sebagai salah satu tokoh yang benar-benar nyata, tetapi rakyat setempat mempunyai cerita lisan yang cukup menarik untuk diungkapkan karena mempunyai fungsi penting dalam promosi wisata Cerita lisan yang akan dikutipkan berasal dari berbagai sumber misalnya dari informan pangkal, informan utama, maupun informan penunjang. Di samping itu cerita juga diambilkan dari catatan para informan yang sudah disimpan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah.
Sebelum menjadi Wali dan diangkat sebagai Sunan, Sunan Drajat bernama Raden Qosim, Raden Masih Maurat, Raden Syarifuddin, atau Raden Hasim, tetapi lebih dikenal dengan panggilan Raden Qosim. Raden Qosim putia Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Retno Ayu Manila adik Tumenggung Wilwatikto putra Haryo Tejo Bupati Tuban diperkirakan lahir pada tahun 1445 M di Ampel Surabaya Ketika berusia 6 tahun Raden Qosim sudah pandai menulis dan membaca Al-Quran di bawah bimbingan ayahnya Setelah Raden Qosim menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Ampel, ia menunaikan ibadah haji ke Makkah sambil memperdalam ilmu agama Islam di Saudi Arab i a untuk bekal tambahan pengetahuan nantinya Sepuluh tahun kemudian Raden Qosim pulang ke tanah Jawa untuk melaksanakan tugas sucinya seperti yang dipesankan oleh ayahnya
Ketika Raden Qosim hendak meneruskan dakwalmya dan menumpang sebuah perahu nelayan yang mencari ikan di perairan Surabaya-Tuban, perahu yang ditumpangi itu menabrak karang hingga hancur. Pada saat itu muncullah seekor ikan hiu untuk menolongnya Raden Qosim disuruh menumpang di punggung hiu dan hiu itu mengantarnya sampai ke darat. Sampailah Raden Qosim di desa Jelag. Di tempat ini Raden Qosim mulai dakwah dengan membangun Musholla sebagai tempat ibadah dan sentral kegiatan dakwah Islamiyah. Para santri pengikutnya kemudian membuka daerah baru sebagai tempat pemukiman. Santri yang hadir tidak hanya dari tanah Jawa saja, tetapi juga dari sabrang antara lain dari Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Akhirnya desa Jelag ini terkenal sampai di luar Jawa selanjutnya kampung baru ini diberi nama Banjar karena yang berdatangan kebanyakan pedagang dari Banjarmasin. Kemudian kampung baru itu disebut kampung Banjar Anyar (1476 M).
Raden Qosim bersama 17 santrinya yang berasal dari Banjarmasin itu melanjutkan dakwahnya ke daerah lain. Selama dalam perjalanan dakwahnya Raden Qosim juga membuka daerah baru dan berhasil menaikkan martabat masyarakat, baik berupa ekonomi, derajat, maupun ilmu pengetahuan, akhirnya terbentuklah masyarakat yang bermartabat tinggi dari pada semula Untuk itu patutlah Raden Qosim dijuluki Mbah Drajai kemudian lebih terkenal dengan sebutan Sunan Drajat. Daerah pemukiman itu disebut Drajai sampai sekarang dan menjadi nama desa di wilayah kecamatan Paciran (1480 M). Setelah kewalian Raden Qosim di sahkan oleh para wali, maka Raden Qosim mengajukan izin pengesahan tempat padepokan, pesantren, dan masjid kepada penguasa Raja Demak pertama Raden Fatali. Raja Demak kemudian menghadiahkan tanah seluas 61 ha kepada Raden Qosim untuk kesejahteraan keluarga dan santrinya Raden Qosim beristrikan putri Adipati Kediri Smyo Adi logo yang bernama Refno Ayu Condro Sekai-. Dari perkawinannya dengan putri Kediri ini Raden Qosim dikainniai tiga orang putra yang masing-masing diberi nama Raden Azrif, Raden lshaq, dan Raden Shiddig
Di masa hidupnya Sunan Drajai terkenal sebagai salah seorang wali yang berjiwa sosial dan mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi. Hal yang dilakukannya misalnya menyantuni anak yatim piatu, memberi makan kepada fakir miskin yang sengsara penghidupannya, memberi perlindungan bagi orang yang tidak berdaya Ajaran Sunan Drajat ini telah melekat pada masyarakat Lamongan yang terdiri dari empat ungkapan.
1. Menehono teken marang wong kang wulo.
2. Menehono mangan marang wong kang luwe.
3. Menehono ngiyup marang wong kang kodanan
4. Menehono busono marang wong kang mudo.

Jika dibahasaindonesiakan seperti berikut..
1. Berilah tongkat kepada orang yang buta.
2. Berilah makan kepada orang yang kelaparan.
3. Berilah berteduh kepada orang yang kehujanan.
4. Berilah pakaian kepada orang yang telanjang.

Ajaran Sunan Drajat semacam itu menipakan ajaran yang berkaitan dengan mata rantai kehidupan seseorang. Sebab pendidikan, penghidupan, tempat tinggal, dan pakaian adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Raden Qosim juga menyarankan kepada para santrinya agar semua kehidupan ini dilandasi dengan ke Taqwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa dan ditandaskan pula setiap manusia agar menjaga perut karena perut merupakan unsur badaniyah yang menjadikan pikiran bersih dan jernih. Metode dakwah Sunan Drajat melalui pendekatan kepada masyarakat misalnya dengan menanamkan rasa disiplin, rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan, dan juga rasa saling menghargai terhadap sesama sehingga dalam mengambil keputusan dapat dengan jalan kebijaksanaan. Ajaran Raden Qosim tentang kebijaksanaan dalam mengambil keputusan seperti yang digariskan dalam surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi sebagai berikut. Suruhlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat yang baik dan bertukar pikiranlah dengan cara yang baik, sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalannya dan Dia lali yang Maha mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.
Dengan kalimat pembukaan mengajak ke jalan Allah hikmahnya akan mendapat petunjuk yang baik bagi rokhani maupun jasmani. Mengajak ke jalan Allah juga merupakan pegangan hidup yang mantap dan kokoh sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesalan dan kekerasan yang berunsur negatif Nasehat yang baik merupakan etika dalam budaya dan pergaulan yang beradab serta tukar pikiran merupakan kecenderungan untuk mengambil jalan tengah yang seadil-adilnya agar tidak merugikan orang lain. Berdasarkan ayat itu pula Sunan Drajat mengembangkan Islam tidak dengan jalan kekerasan melainkan dengan tutur kata yang sopan, ramal) tam ah sehingga dengan mudah dapat memberikan pengertian kepada pengikutnya. Rasa toleransi dan menghormati antar sesama umat sangat dijaga sehingga banyak umat Hindu dan Budha yang masuk agama Islam.
Di lain pihak. Sunan Drajat juga sebagai seorang seniman, maka dibuatlah seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang, gender, saron, peking, dan gambang. Sunan Drajat juga mencipta gending pangkur sebagai sabagai satu alat untuk memberikan penerangan serta ajaran-ajaran Islam. Dengan gending itu pula dibawakan ayat-ayat suci Al-Quran serta Sunnah Rosul sehingga Islam diterima oleh pengikutnya dengan aman dan damai. Kini peninggalan seperangkat gamelan yang bernama Singomengkok itu disimpan di musium Sunan Drajat di kompleks pemakaman Sunan Drajat. (Informan R. Subaktiaji)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Dra. Purwantini, M.Hum. [dkk], Penelitian: Folklor Rakyat: Sarana Penyebarluasan Tempat-Tempat Wisata Kabupaten Lamongan: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 20-24 (CLp-D13/2002-232)

Makam Sunan Sendang Duwur (3)

Penyebaran Agama Islam di Paciran

USAI berkunjungnya Sunan Drajat ke pesanggrahan R. Nur Rahmat, banyak perubahan besar dalam perkembangan ajaran Agama Islam di wilayah pantura, khususnya paciran. Berkat jalinan akrab dan perjuangan antar dua tokoh ini, hingga kini bukti-buti itu bisa dipertanggungjawabkan.bahkan boleh dikatakan ajaran Islam kian berkembang pesat. Bisa dibilang, hampir seluruh pantura Lamongan mayoritas memeluk agama Islam.

Pernah dikatakan KH Abdul Ghofur, Pimpinan Ponpes Sunan Drajat, umat Islam terbesar di  lndonesia ini Letaknya di Paciran. Bagaimana tidak Islam terbesar di Indonesia itu ada di Jawa Timur. Sedang terbesar di Jawa Timur itu adalah Paciran, ” katanya Landasan KH Abdul Ghofur, yang masih . tercatat ahli waris Sunan Drajat ini, bahwa Paciran yang hanya sebuah kecamatan, tapi banyak berjejer pondok pesantren ataupun tempat-tempat pendidikan Islam lainnya. Mulai dari tingkat kanak- kanak  hingga perguruan tinggi.

Data Agustus1993 menyebutkan, dari jumlah penduduk 71.754 orang, hanya 39 orang yang non Islam. Terdapat 49 masjid, 203 mushola, 58 Madrasyah Ibtidaiyah, 24 Tsanamiyah, 8 Aliyah, 2 Perguruan Tinggi Islam dan 8 pondok pesantren.

Kemashuran serta kejayaan Islam di Paciran pada masa kedua sunan saat itu, menurut cerita KH. Abdul Ghofur tidak lepas dari pemikiran Sunan Drajat. Dikatakan, bahwa untuk megembangkan Islam di Paciran saat itu harus diatur strategi adanya peridirian-pendirian tempat-tempat ibadah.

Sesuai “petunjuk” yang diperoleh Sunan Drajat, salah satunya harus menempati sudut-sudut wilayah. Tepatnya, di Desa Sendang, dimana Sunan Sendang Duwur bermukim. Memang sebuah masjid akhirnya berdiri.

Kisah pendiriannya, Ali Qosyim, juru kunci makam Sunan Sendang Duwur menceritakan, sejak R. Nur Rahmat duberi gelar dengan sebutan Sunan Sendang oleh Sunan Drajat untuk mendirikan sebuah masjid di Desa  Sendang. Sunan Sendang Duwur diperitahn pergi ke Mantingan untuk membeli langgar milik Mbok Rondo Mantingan.

Saat itu juga Sunan Sendang Duwur berangkat menuju Mantingan,  Namun gagal, ketika tiba di Mantingan ia diabaikan oleh Mbok Rondo Mantingan tanpa tegur sapa. Meski dengan penuh kesabaran menuuggu dan akhirnya memang ditemui olen Mbok Rondo Mantingan, tapi dikatakan bahwa langgarnya tidak dijual kepada siapapun. Dengan hati sedih, Sunan Sendang Duwur pulang dengan tangan hampa.

Sepulang dari kegagalan itu akhirnya Sunan Sendang Duwur sering bersemedi. Di salah satu semedinya di puncak Gunung Pamerangan, ia merasa didatangi dan dibangunkan Sunan Kalijogo. “ Sunan Sendang Duwur diperintah oleh sunan Kalijogo untuk kembali lagi ke Mantingan,” tutur ali Qosyim. (imron r)

 

Makam Sunan Sendang Duwur (2)

Mendapat Gelar dari Sunan Drajat

SUNAN Sendang Duwur, nama kecilnya adalah R Nur Rahmat. Dalam sejarah tertulis, dilahirkan pad a tahun 1442 tahun Saka atau 920 Hijriah. Bertepatan tah,un 1520  Masehi, dari pasangan Abdul Qohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari negeri Bagdad (Iraq) dengan Dewi Sukarsih, putri Tumenggung Joyo Sasmitro. YakniTumenggung Sedayu saat itu. Menurut Ali Qosyim, juru kunci makam, berdasar sejarah turun-temurun yang diketahuinya, Abdul Qobar sendiri adalah anak yang kurang taat kepada orang tuanya. Ia diusik dari rumah. Lalu pergi tanpa arah dan berlayar menggunakan perabu, terdampar di pelabuban Sedayu.

Saat itu bertepatan waktu Ashar. Kebetulan, Tumenggung Joyo Sasrnitro sedang menikmati keindahan pantai. Setelah ditanya berbagai hal, akhirnya diajak pulang. Karena ketertarikannya, menilai Abdul Qohar bertingkah laku bajk dan berakhlaq mulia ketika mengabdi-karena ketika dalam pengembaraannya akhirnya tobat akhirnya Tumenggung Joyo Sasmitro mengawinkannya dengan putrinya  yang bernama Dewi Sukarsib. Kejayaan suatu kekuasaan masa itu jarang yang abadi.

Seperti juga balnya Tumenggung Sedayu. Wafatnya Tumenggung Joyo  Sasrnitro karena dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Yakni Indro Suwarno, seorang putra Sultan Sambas (Kalimantan). “Gara-garanya Indro Suwarno ditolak pinangannya, untuk memperisti putri Tumenggung Sedayu bemama Dewi Turon Tangis,” tutur Ali Qosim. Sering, balas dendam adalah kebiasaan yang berlaku padazaman itu. Ujung cerita, Ali Qosim menyingkat ceritanya, juga melibatkan Ronggolawe, putra

Tumenggung Tuban, yang terbilang masih saudara Tumenggung Joyo Sasmitro. Indro Suwarno berhasil dibunuh Ronggolawe. Balas dendam terus berlanjut. Tumenggung Sedayu yang akhirnya dikuasai Ronggolawe tak luput dengan gejolak yang akhirnya menjadi porak poranda. Ronggolawe kembali ke Tuban, sedang  Abdul  Qohar wafat. Saat terjadi gejolak itulah akhirnya R Nur Rahmat diboyong ibunya ke Dukuh Tunon, Sendang Agung. Di tempat baru inilah, selain dididik bertani, R Nur Rahmat menekuni ajaran Islam, juga ilmu pemerintahan. Waktu terus berjalan. Karena dipandang sudah dewasa dan mempunyai ilmu yang bisa diamalkan, akhirnya R Nur Rahmat ditinggalkan ibunya kembali ke Desa Sedayu, dimana desa tersebut sebagai tempat,  ibunya wafat.

R. Nur Rahmat kian terkenal. Selain santrinya makin banyak, ia juga dikenal bukan saja sebagai ahli pertanian, tapi juga kesaktiannya. Berita tentang itu akhirnya terdengar oleh Sunan Drajat, yang akhirnya menggugah niatnya untuk menemuinya. Selain ingin bersilaturahmi, Sunan Drajat sebenarnya juga ingin membuktikan berita tentang doyo linuwih R. Nur Rahmat. ” Saat berkunjung itu, meski sepertinya dilakukan timpa kesengajaan, sering terjadi adu kesaktian antara keduanya,” tutur Ali Qosyim, melanjutkan ceritanya.

Seperti ketika tiba ke Dukuh Tunon, Sunan Drajat yang saat itu merasa kehausan, meminta diambilkan legen. Karena Ki Abdul Wahab, abdinya, sedang sibuk dengan keperluannya, akhimya Sunan Drajat minta izin untuk mengambil sendiri. Lantas Sunan Drajat memilih pohon siwalan yang besar dan ban yak buahnya. Lalu ditepuknya tiga kali, seketika itu juga buah siwalan · berjatuhan semua tanpa tersisa. Melihat itu, Sunan Drajat ditegur R Nur Rahmat. Alasannya, dengan cara itu anak cucu nantinya tidak akan kebagian.

Kemudian R Nur Rahmat memilih pohon yang sarna besarnya. Lantas di usapnya tiga kali juga, atas izin Allah, pohon siwalan itu bisa melengkung ke hadapan Sunan Drajat. Lalu Sunan Drajat dipersilahkan untuk mengambil sendiri mana yang diinginkan. Legen atau buah siwalannya. Tidak itu saja. Kesaktian R Nur Rahmat terlihat ketika mengantar Sunan Drajat pulang. Ketika di tengah perjalanan, antara Desa Sendang dan Drajat, Sunan Drajat mengajak istirahat. Saat istirahat itu, Sunan Drajat melihat tanaman wilus (ubi-ubian) dan ingin memakannya. Beberapa abdinya dipenrintahkan mencabut dan memasaknya. Karena umbinya besar diperintahkan oleh Sunan Drajat untuk tidak semua. Yang separo biar dibawa pulang.  Abdi Sunan Drajat sibuk mempersiapkan apa yang dikehendaki sesuhunannya. Melihat itu lagi-lagi  R Nur Rahmat minta izin untuk memberikan pertolongannya, yang sebelumnya mengatakan apa yang dilakukan para abdi  itu terlalu lama. Apalagi untuk membuat api saat ia harus menggesek-gesek batu. Akhirnya setelah diizinkan,wilus yang sudah dicabut itu dikembalikan oleh R Nur Rahmat ke tempat semula, tapi tidak berapa lama kemudian dicabutnya kembali. Suatu kejadian yang luar  biasa. Wilus keluar sudah dalam keadaan masak separo dan mentah separo, sesuai apa yang diharapkan Sunan Drajat.

Melihat hal itu, Sunan Drajat menjadi kagum sehingga nafasnya terengah. Saat itu juga Sunan Drajat mengakui dan mengatakan dengan jujur, bahwa R. Nur Rahmat, meski usianya jauh lebih muda darinya, adalah seorang pemuda yang sangat pandai.  Sunan Drajat mengatakan,  “meskipun usia saya lebih tua. tapi kepandaianku, masih lebih muda dibanding kepandaiamnu,” tutur Ali Qosyim, menirukan cerita yang didapatnya. Sejak saat itu jugalah, akhirnya Sunan Drajat memberikan gelar kepada R Nur Rahmat menjadi Sunan Sendang. Akhirnya menjadi Sunan Sendang Duwur, karena tempatnya di duwur ( tinggi). (imron rosidi)

 

 

Sampah yang Menghasilkan Rupiah

Dari sampah menghasilkan milyaran rupiah
Semua orang boleh mencibir atau membuang muka bila melihat tumpukan sampah, baik itu sampah tempurung kelapa atau batok kelapa, pelepah pisang maupun eceng godok

Mereka memang tidak tahu gunanya untuk apa dan mau diapakan sampah- sampah tersebut, sebab menurut mereka sampah–sampah itu adalah pembawa mala pelata yang menyebabkan banjir dimana-mana dan sampah selalu dikonotasikan sebagai biang keladi dari segala macam penyakit.

Tetapi tidak demikian dengan pasangan muda yakni Bapak Dody Arimawanto dan Vallis yang tinggal di Jl. Sunan Kali Jogo 120 Lamongan ini, mereka menganggap bahwa sampah bisa menjadi sumber inspirasi yang dapat mendatangkan uang. Yaitu dengan untuk menciptakan suatu karya dan kreativitas pasti sampah-sampah tersebut menghasilkan uang. Sebab, sampah yang tadinya tidak berguna dan tidak bermanfaat, dengan diolah dan disulap menjadi barang-barang yang digandrungi banyak orang serta membawa berkah yang berlipat ganda, bagi yang mau mengolah atau memanfaatkannya.

Buktinya, setelah lulus kuliah dari Fakultas Sosial jurusan Administrasi Niaga Universitas Brawijaya Malang tahun 2002, pria yang telah menikah dengan wanita cantik sealumni ini langsung tertarik untuk menggelutinya. Dari sampah-sampah itu disulap menjadi berbagai macam kerajinan tangan seperti: tas, sepatu dan sepatu sandal baik yang biasa mapun yang dihiasi bordir. Tapi semuanya dengan bahan dasar dari sampah atau limbah, batok kelapa, pelepah pisang, eceng gondong dan karung goni.

Berawal dengan modal Rp 5.000.000 bapak dua anak hasil dari pernikahannya dengan Ibu Vallis ini memberanikan diri untuk memulai usahanya. Dengan modal satu keyakinan dan tekat yang kuat bahwa usaha yang akan digeluti dengan menggunakan bahan dasar sampah ini pasti akan berhasil. Yang penting, satu mau bekerja keras pantang menyerah dan selalu berani mencoba serta bersaing untuk maju.

Dan yang tidak kalah penting lagi adalah selalu berfikir positif, bahwa setiap usaha pasti ada jalan dan jalan itu pasti membawa keberhasilan dan kesuksesan. Ternyata benar adanya, menurut Dody, dengan modal sebesar lima juta rupiah tidak mungkin bisa memproduksi sendiri, karena uang yang hanya lima juta pasti tidak cukup waktu membeli bahan dan peralatan serta ongkos produksi yang dibutuhkan. Apalagi, membuat satu kerajinan tas atau sepatu yang bisa dijual pasti membutuhkan ketrampilan khusus/skill. Jadi, dengan modal tersebut pertama-tama yang dilakukannya adalah mengambil barang yang sudah jadi dari orang lain untuk dijual lagi, dengan harapan modal yang mereka miliki itu dapat cepat berputar dan berkembang.

Saat mengambil barang dari orang lain, saya dan istri istilahnya kita berenang sambil minum air. Karena saat kami mengambil barang untuk dijual, waktu itu kami gunakan untuk belajar secara gratis yaitu mempelajari bagaimana caranya membuat tas atau sepatu dan sandal secara langsung.

Dimulai dari menganyam, mewarnai sampai menjadi tas atau yang lain. Begitu kami berdua tahu cara dan seluk beluk bagaimana cara memproduksi tas, sepatu dan sandal sepatu.

Maka kami berdua berkeinginan untuk memproduksi sendiri, dengan alasan tabungan/modal yang kami miliki sudah bertambah dan kami juga mengetahui bagaimana permintaan di luar/pasar. Rata-rata, mereka selalu menuntut harus ada model baru dan permintaannya pun terus bertambah, maka kami bertekat memprodiksi sendiri.

Dengan niat merubah nasib, maka kami memproduksi sendiri dengan dibantu tenaga kerja sebanyak enam orang pada tahun 2004. Dalam waktu, tidak berselang terlalu lama tepatnya pada tahun 2007 lalu kerajian tas dan sepatu serta sepatu sandal dengan bahan dasar sampah milik Dody dan vallis yang diberi nama R and D Handycraft ini mendapatkan satu penghargaan sebagai Predikat Pengusaha Muda Terbaik I dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sekaligus piagam dan uang tunai senilai lima juta rupiah.

Penghargaan, piagam dan uang senilai Rp 5 juta. Penghargaan dan uang itu diberikan, kepada Dody karena R and D atau Dody dan Vallis Handycraft dinilai telah berhasil berkreasi dan menumbuh kembangkan Usaha Kecil dan Menegah yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar serta ikut mengurangi pengangguran.

“Berangkat dengan modal keyakinan dan ulet serta terus mau ber-inovasi, maka usaha yang kami tekuni ini bisa berkembang pesat bagaikan jamur di musim kemarau,” terang Dody pada tim Prasetya.

Menurut Dody, usaha yang ditekuni ini tidak serta merta bisa berkembang dengan sendirinya, karena perkembangan usahanya  ini juga adanya campur tangan pemerintah. Baik itu Pemda Lamongan maupun pemprov. Jatim. Karena selama ini, kami sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan pemkab. Lamongan maupun Pemprov. Jatim, tujuannya satu yaitu untuk meningkatkan mutu produksi dan juga standart kemasan serta bagaimana cara pemasarannya.

Selain mengikuti pelatihan-pelatihan, lanjut Dody, agar usaha bisa berkembang dengan baik sesuai dengan harapan, maka pengusaha dituntut harus ulet dan ramah serta mau membuka hubungan jejaring sesama pengusaha atau dengan orang lain.

R and D sejak resmi memproduksi sendiri tahun 2004 yang lalu, maka saat itu juga kami mulai menjalin hubungan kerjasama dengan sesama pengusaha. Baik itu pengusaha kerajinan tas, sepatu dan sandal sepatu baik yang ada di Indonesia (Surabaya, Jakarta, Bali, Jogyakarta, Semarang, Kalimantan, Medan, Bandung, Makasar dan bahkan Aceh serta NTB) maupun dengan pengusaha yang ada di luar negeri.

Tujuannya satu yaitu untuk memasarkan hasil kerajinan tangan yang unik, manis, cantik dan elegan,walaupun dengan bahan dasar sampah. Buktinya banyak orang yang menyukai dan rata-rata mereka tidak mempermasalahkan dari bahan apa tas- tas itu dibuat. Mereka hanya tahu kalau bahan dari batok, pelepah pisang, eceng gondok.

Mereka tidak menyangka kalau semua bahan tersebut adalah sampah yang telah disulap menjadi tas dan sepatu yang cantik. Sehingga barang-barang itu sangat digandrungi dan diminati banyak orang sampai ke manca negara. Mereka sangat senang dan menyukai tas-tas dari bahan dasar tersebut di atas alasannya karena bentuk, kreativitas dan perpaduan wama serta modifikasinya sangat cocok dan manis dan selalu up to date tidak ketinggalan mode. Sehingga siapa pun yang melihat dan memakai pasti langsung jatuh hati. Ditambah lagi dengan harganya yang tidak terlalu mahal dan sangat terjangkau bagi siapa saja untuk memilikinya.

Harga Tas dari Batok Kelap Pelepah Pisang dan Enceng Gondok
Untuk ukuran tas cantik dari batok kelapa, pelepah pisang dan enceng gondok serta goni, harganya rata-rata mulai dari yang ukuran kecil (S), Medium (M) dan ukuran Besar (L) bedanya tidak terlalu besar. Sebagai harga eceran tas ukuran kecil Rp 60 ribu, ukuran Medium Rp 75 ribu–Rp 80 ribu dan untuk tas ukuran besar Rp 100 ribu, Tapi lain lagi harganya, kalau membeli barang/tas secara partai atau grosir tentu harganya juga beda dan lebih murah, karena mereka para pembeli juga ingin mendapatkan keuntungan. Jadi, kami mematok harga sebesar Rp 30-Rp 35 ribu untuk tas yang ukuran kecil (Small) dan Rp 40 ribu-Rp 45 ribu untuk yang Medium serta seharga Rp 50 ribu-70 ribu untuk yang ukuran besar.

Sementara harga eceran sepatu harganya dipatok sama, tidak berbeda atau tidak dilihat ukuran baik yang ukuran kecil (35) maupun ukuran besar (40) yaitu rata-rata Rp 25 ribu per pasang, Rata-rata sepatu dibuat dari bahan goni dan diberi hiasan border diatas depan atau disamping kiri-kanannya. Sedang kalau membeli sepatu secara grosir, maka harga yang dipatok hanya Rp 18 ribu per pasang.

R and 0 handycraft meniru falsafah yang digunakan pengusaha dari china, mengatakan dalam mengembangkan usaha tidak perlu mengambil untung terlalu besar, kalau tidak bisa produksi banyak, lebih baik mengambil untung 100 rupiah, tetapi bisa menjual 1000 bahkan 1,000,000 barang, otomatis produksi barangnya pun akan lebih banyak dan uang yang berputar akan lebih besar. Jadi, usaha kami disini tidak mengambil untung besar yang penting barang kami terus habis dan uang pun terus berputar. Sehingga usaha yang kami geluti akan cepat berkembang dan bertambah besar.

Walaupun R and D handycraft adalah usaha yang menempati rumah tinggal dan sekaligus dijadikan showroom serta tempat produksi tas, sepatu dan sepatu sandal. Saat ini telah berkembang, hal ini dapat dilihat dari tambahnya jumlah karyawan sebanyak 60 orang dan bisa memproduksi sepatu per bulannya sebanyak 4.000-10.000 pasang lebih dan tas sebanyak 13.500 tas – 18.OOO tas lebih mulai dari ukuran kecil, sedang dan besar. Sebab, setiap orang/per-minggunya minim harus bisa menyelesaikan 100 tas. Sedang biaya yang dibutuhkan secara keseluruhan, mulai dari menganyam, memberi warna, mengukir dan juga memberi warna atau yang lain sampai selesai menjadi tas, maka rata-rata per tasnya menghabiskan biaya sekitar Rp 27.000 – Rp 30.000,.

Pasarnya Telah Mendunia
Walaupun awalnya hanya dengan modal lima juta rupiah, akhirnya tas dan sepatu serta sepatu sandal yang berbahan dasar sampah (batok kelapa, pelepah pisang dan eceng gondok ataupun  goni) keberadaannya telah diakui dtmia. Ini terbukti, tiap bulan R and D handycraft mampu menjual hasil kerajinannya ini tidak hanya di dalam negeri saja, akan tetapi mampu menembus pasar global dengan mengeksport ke Arab Saudi, Dubai, Hongkong, Singapore, Columbia, Jepang dan Jamika serta Negara Timur tengah lainnya, rata-rata tiap bulannya mencapai Rp 750 juta lebih.

Rata-rata tiap bulannya, R and D Handycraft 2-3 kali dalam sebulan mengirim barang-barang berupa tas dari berbagai ukuran ke arab Saudi masing-masing sebanyak 1 container dan juga ke Dubay atau ke Yaman. Setiap container senilai Rp 250 juta – Rp 350 juta. Sedang untuk Negara yang lain, seperti Hongkong, Amerika atau yang pengirimannya berkala berdasarkan permintaan.

Sementara kerajinan sepatu produksi Rand D handycraft Lamongan ini, pasarnya menjadi langganan bagi Hongkong dan Jamaika minim sekali ngirim 500 – 1000 pasang sepatu. Selain laku dan ramai di pasaran luar negeri, tas dan sepatu hasil kerajian R and D handycraft Lamongan ini juga telah kesohor dan terkenal sudah hampir di seluruh kota di Indonesia. Seperti di Surabaya, Semarang, Jogyakarta, Jakarta, Medang, Kalimantan, Sumatra, Makasar, NTB, Bali dan sampai ke Papua. Dengan transaksi penjualan tidak kurang dari Rp 250 juta hingga Rp 300 juta lebih/per bulan.

Peran Pemerintah sebelum ke sentra industri kecil kerajinan Tas dan Sepatu di Jl. Sunan Kalijogo 120 Lomongan, Tim Prasetya lebih dulu datang ke Kantor Koperindag Lamongan unhlk berwawancara dengan Kepala Dinas Koperindag Lamongan bapak Mursyid, Msi, tentang bagaimana peran pemerintah terhadap industri kerajinan tas dan sepatu di Lamongan. Apa saja yang telah dilakukan dan sampai sejauh mana. Menurut Pak Mursyid, pemerintah selama ini sangat kooperatif dan berperan aktif dalam membantu bagaimana UKM atau kerajinan/industri kecil di Lamongan bisa berkembang dengan baik.

Sebagai contoh, lanjut Mursyid, pemerintah berupaya terus bagaimana industri kecil itu bisa berkembang dan berinovasi dengan model-model baru serta mengemas dengan baik. Maka Pemkab. Lamongan sharing dengan Pemprov. mengadakan pelatihan untuk industri kecil di Lamongan secara gratis dan pemerintah juga membantu masalah modal guna memperlanear dan mengembangkan usahanya pemerintah juga membantu permodalan melalui bank Jatim dengan bunga 6% per tahun berapa dana yang dibutuhkan.

Disamping itu, untuk pemasaran hasil-hasil kerajinan pemerintah juga telah menyediakan tiga showroom yang bisa digunakan untuk menggelar dan dijadikan tempat untuk menjual barang dagangannya tanpa sewa peserpun alias gratis. Yaitu di DBL, Surabaya dan di Jakarta serta pemerintah selalu mengikut sertakan para pengrajin setiap ada pameran. Baik itu yang diadakan di Surabaya, Jakarta dan luar negeri. Jadi, selama ini peran-peran pemerintah terhadap dengan keberadaan industri atau UKM sangat baik dan maksimal.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume III, No. 28, April 2011

Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sendang Duwur, Lamongan

-1999-
Masjid Sendang Duwur terletak di jalan R. Nur Rahmat Sunan Sendang, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Masjid berbatasan dengan rumah penduduk di sebelah timur, di sebelah barat dan utara berbatasan dengan kompleks makam kuno dan di sebelah selatan dengan pemakaman umum.

Deskripsi Bangunan
Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 23 x 16 m dengan arah hadap ke timur. Bangunan terbuat dari batu bata dan kayu. Ruang utama masjid berukuran 16 x 16 m, yang dibatasi oleh empat dinding dari tembpk. Pintu utama terletak ditengah-tengah dinding timur, memiliki dua daun pintu. Pada daun pintu terdapat hiasan bingkai cermin yang diukir dan dicat wama merah, emas, biru dan hijau. Bagian atas pintu terdapat hiasan terawangan berbentuk sulur-suluran, bunga teratai dan mahkota yang dicat wama merah, emas, biru dan hijau. Pintu timur memiliki hiasan terawangan berbentuk ukir-ukiran kayu berupa sulur-suluran dan bunga pada bagian atasnya, tetapi ukir-ukiran ini tidak dicat. Pada kusen bagian atasnya terdapat hiasan pelipit. Jendela ruang utama ada sepuluh buah terbuat dari kayu jati yang dicat hijau, masing-masing berukuran 2 x 3 m dan mempunyai dua daun jendela. Ruang utama memiliki 17 buah tiang yaitu sebuah tiang ditengah-tengah, dan empat tiang masing-masing di utara, timur, selatan dan barat. Di dalam ruang utama terdapat mihrab, mimbar dan maksurah. Mihrab terletak di dinding dan diapit dua pasang pilaster yang masing-masing sisinya dihiasi dengan tegel keramik. Pilaster bagian luar bersusun dua, sedangkan bagian dalam bersusun tiga. Antara pilaster bagian luar dengan bagian dalam terdapat hiasan bingkai cermin yang ditengahnya dihias motif geometris. Mimbar memiliki tiga anak tangga. Pada ujung anak tangga terdapat tempat duduk dari semen. Tubuh mimbar didukung empat buah pilaster yang pada bagian sudut-sudutnya ditempeli tegel keramik. Atap mimbar berbentuk rata yang ditempeli tegel keramik. Bagian puncaknya terdapat kubah.

Serambi masjid terdapat pada keempat sisi ruang utama yaitu: serambi timur, utara, barat, dan selatan. Seluruh permukaan lantai serambi dilapis tegel teraso. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat. Pada puncak tiang terdapat hiasan pelipit rata. Antara tiang dihubungkan lengkung penopang atap serambi. Di dalam serambi yaitu di serambi timur terdapat satu buah bedug yang disanggah oleh rangka kayu. Pada serambi terdapat candrasengkala pada sebuah papan kayu yang berbunyi: gurhaning sarira tirta hayu (1483 S=1561 M).

Di dalam sebelah utara masjid Sendang Duwur terdapat makam-makam dan gapura. Gapura seluruhnya ada lima buah yaitu empat gapura bentar dan sebuah gapura paduraksa yang menarik berbentuk sayap yang sedang mengembang. Selain itu pada bagian atas gapura ini terdapat relief gunungan, kepala kala yang bentuknya disamarkan, tumbuh-tumbuhan serta motif sulur-suluran.

Latar Sejarah
Masjid Sendang Duwur merupakan peninggalan Islam yang banyak mendapat pengaruh kebudayaan Hindu akhir, hal ini tampak pada pola hias gunungan dan kala. Masjid diperkirakan didirikan pada abad 16 berdasarkan candra sengkala yang berbunyi: gurhaning sarira tirta hayu (1483 S = 1561 M). Pendiriannya adalah Sundan Sendang atau Sunan Rahmat. Beliau adalah salah seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur.

Tahun 1920 Masjid Sendang Duwur diperbaiki, tahun 1938-1940 perbaikan makam. Tahun 1989-1990 dipugar secara keseluruhan oleh Proyek Pelestarian Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.183-184, Deposit : CB-D13/1999-339.

Soto Lamongan Rajanya Soto

-2007-
Memasuki Kabupaten Lamongan dari arah timur tepatnya melalui Jalan Raya Surabaya-Jakarta anda akan disambut oleh lengkungan gerbang yang melintang dengan tulisan Lamongan Kota Soto. Tulisan yang bertengger di gerbang ini mewakili suara masyarakat Lamongan yang ingin memberitahukan pada setiap pengunjung bahwa Lamongan mempunyai soto yang sedap dan segar, khas dengan taburan poya. Sebuah awal wisata yang menarik hingga membuat penasaran untuk mencicipinya dan membuktikan label Lamongan itu.

Soto Lamongan berbeda dengan soto yang lain. S0to ini satu-satunya soto yang menggunakan poya, sebuah kelengkapan soto yang menjadi pencirinya. Makanan berkuah yang termasuk kategori soto ayam ini menggunakan daging ayam kampung yang terlebih dulu dimasak dengan bumbu. Kuah soto Lamongan pada mulanya termasuk kuah bening, namun pada perkembangannya ada percampuran dengan kuah Soto Surabaya yang ditambahkan bandeng sebagai bumbu kuah sehingga kuah menjadi keruh. Soto Lamongan memang khas, rasanya segar dan enak sehingga hampir di seluruh kota di Jawa dijual soto Lamongan. Jadi tepatlah jika rajanya soto adalah soto Lamongan.

Asal-usul penggunaan poya tidak diketahui secara pasti, namun poya dibuat dari kerupuk udang, udang, dan bawang yang semua digoreng terlebih dulu kemudian dihaluskan. Cara menghaluskan bahan ini adalah dengan ditumbuk secara manual dan tidak  boleh digiling karena akan menciptakan cita rasa yang berbeda.

Sajian soto Lamongan dari atas tampak taburan poya yang sedikit merah kecoklatan. Mencoba mencicipi poya sendiri terasa sangat gurih dengan aroma udang dan bawang yang khas. Biasanya orang menggunakan poya satu sendok saja untuk setiap mangkuk soto, namun adapula yang menambahkan dalam jumlah yang cukup banyak hingga kuah menjadi kental dan gurih.

Soto Lamongan dilengkapi dengan telur (telur rebus atau uretan-telur). Kuahnya yang berwarna agak kuning dipadukan dengan hijaunya seledri dan daun bawang (bawang pre) membuat kombinasi warna yang menarik. Mie soon tampak berada paling bawah dalam mangkuk dan telah menjadi empuk oleh panasnya kuah. Sepiring nasi putih menyertai soto Lamongan untuk sebuah porsi soto nasi pisah. Sedangkan untuk nasi soto (campur), nasi akan ditata pada posisi dibawah baru bahan yang lainnya di atasnya. Bahan penyedap yang lain seperti jeruk nipis ditambahkan untuk memberikan rasa asam. Saat akan menyantapnya, campur terlebih dulu agar poya, air jeruk, dan sambal menyatu dalam kuah.

Gurih, segar sedikit masam, dan pedas dengan aroma khas soto yang menawan inilah komentar pertama ketika mulai menikmati soto Lamongan. Bumbu kuah inilah kuncinya hingga soto terasa lezat dan lebih lengkap dari soto lainnya karena terbuat dari bumbu yang terdiri dari bumbu ketumbar, jinten, sere, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, mrica, garam, dan kemiri, dengan pelengkap bawang goreng. Rasa pedas diperoleh dari jahe dan lada yang berada dalam bumbu serta sambal yang ditambahkan ketika akan menyantapnya. Dengan perasan jeruk nipis yang membuat soto terasa sedikit asam justru membuat lebih menyegarkan, berinteraksi dengan minyak-minyak yang terlihat menyendiri di kuah sehingga menimbulkan rasa perpaduan gurihnya minyak dan segarnya jeruk. Daging ayam terasa empuk dan gurih karena sebelumnya telah direbus dalam bumbu kunyit, jinten, jahe, bawang merah dan daun jeruk. Kelezatan soto Lamongan ini akan membuat anda setuju dengan sebutan “Soto Lamongan Rajanya Soto”.

Santapan segar Soto Lamongan ini mempunyai gizi yang cukup lengkap karena terbuat dari bahan-bahan yang mengandung zat gizi yang bermacam-macam. Karbohidrat dapat anda peroleh dari nasi dan mie soon. Protein, lemak, vitamin dan beberapa mineral ada dalam daging ayam dan bandeng. Sayur-sayuran hijau juga mengandung vitamin dan mineral yang penting. Apalagi untuk soto Lamongan yang lengkap dengan uretan telur dan hati ayam. Jadi kenapa anda masih ragu untuk menjadikan soto Lamongan dalam menu makan anda??

Tempat makan yang menjual soto Lamongan ini umumnya buka ketika waktu makan pagi datang yaitu pkl. 06.00 hingga makan malam selesai pkl. 20.00 – 23.00 karena memang soto ini cocok dalam segala cuaca dan kesempatan. Sedangkan warung tenda di Alun-Alun  yang banyak menjajakan menu ikan dan daging juga terdapat beberapa yang menyajikan menu soto melayani penikmat sambil merasakan irama suasana malam kota Lamongan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makanan Khas Nusantara  Kabupaten : Lamongan,  Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kab. Lamongan, Pusat Kajian Makanan Tradisional Univ. Gadjah Mada Yogyakarta,  2007, hlm.16-17, Deposit : CB/D13 : 2007-108.

Wingko Babat Si Bulat Pipih yang Manis Gurih

-2007-
Sepanjang Jalan Raya Lamongan dapat ditemui toko–toko yang menjajakan oleh-oleh makanan khas Lamongan, WINGKO, sebuah kudapan bentuk bulat pipih, dengan aroma harum, memadukan rasa manis gula dan gurihnya kelapa. Harumnya wingko akan semakin terasa saat memasuki bagian barat Lamongan, tempat lahirnya wingko, Kecamatan Babat. Wingko merupakan makanan khas dan asli dari Babat Kabupaten Lamongan. Nama babat diambil dari nama Kecamatan Babat tempat pertama kali wingko dibuat hingga tepatlah jika namanya adalah wingko babat. Meski ada daerah lain yang terkenal dengan produksi wingko babat, namun nama wingko Babat tetap melekat.

Sebuah perusahaan wingko tertua dan terbesar di Kecamatan Babat telah berproduksi sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya berada di jalan Raya Babat. Selain di Kecamatan Babat, di Kota Kabupaten Lamongan juga terdapat cukup banyak usaha pembuatan wingko yang tak kalah enaknya. Anda dapat membeli secara langsung di tempat usaha pembuatan wingko tersebut atau dapat juga membeli di outlet khusus wingko dan toko oleh-oleh yang berada di beberapa tempat di jalan raya Babat dan dalam Kota Lamongan. Di tempat wisata seperti Wisata Bahari Lamongan dan tempat wisata yang lain, baik berupa toko oleh-oleh maupun hanya pedagang kakilima juga banyak yang menawarkan wingko untuk wisatawan. Jika tak sempat pun, maka di terminal atau dalam kereta dan bus yang anda tumpangi banyak yang menjajakan wingko yang dapat anda beli untuk oleh-oleh.

Wingko dapat dibuat dengan alat dan bahan yang sederhana dan mudah diperoleh. Wingko dibuat dari kelapa muda parut, tepung ketan, dan gula pasir yang seluruhnya merupakan bahan pangan lokal. Kuncinya kelapa yang digunakan haruslah masih muda dan adonan harus terbentuk dengan tepat, tak lengket di tangan (kalis). Pada proses pemasakannya, untuk ukuran besar berdiameter 25 cm dengan tebal 5 cm memerlukan waktu 2 hingga 5 jam di atas panggang api kompor minyak. Sedangkan untuk wingko ukuran sedang berdiameter 25 cm dengan tebal 3 cm diperlukan waktu tak kurang dari satu jam. Selain ukuran tersebut, pembeli dapat memesan dengan ukuran lain misalnya ukuran kecil yang berdiameter 15 cm dengan tebal 4 cm, atau bahkan dengan ukuran sampai dengan 7 cm dengan tebal 2 cm  dengan waktu pemasakan berkisar 1 jam. Pembuatan wingko yang cukup lama ini menyebabkan wingko mempunyai daya simpan yang cukup lama pula, yaitu antara 4 sampai dengan 7 hari pada suhu kamar.

Pada mulanya wingko babat ini dibuat dengan rasa alami kelapa dan gula saja, kini wingko babat dapat diperoleh dalam rasa lain seperti nangka, coklat, dan vanilla, memberikan pilihan rasa bagi penikmatnya. Aromanya yang harum khas kelapa dengan rasa manis dan gurih memang memberikan nuansa eksotik yang  berbeda melengkapi makanan khas Jawa Timur yang asin pedas. Wingko sebagai makanan tradisional khas Lamongan juga difungsikan sebagai buah tangan lamaran dan dondang, sebuah istilah hantaran saat nikah berlangsung. Barangkali bulatnya wingko merupakan simbol bagi tekad sang jejaka meminang anak dara pujaannya, nah tekad telah bulat! Bulat juga menjadi simbol tiada ujung dan akhir maka saat nikah diharapkan pasangan hidup bersama sampai akhir zaman. Semoga..

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makanan Khas Nusantara  Kabupaten : Lamongan,  Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kab. Lamongan, Pusat Kajian Makanan Tradisional Univ. Gadjah Mada Yogyakarta,  2007, hlm.23-24, Deposit : CB/D13 : 2007.

Menjala Emas di Brondong

-Juni 2009-

Di tempat ini, transaksi bernilai jutaan rupiah bergulir setiap hari. Tak heran jika keberadaannya memberi kontribusi istimewa bagi pemerintah setempat.

Pemandangan itu sudah biasa. Mulai dari matahari masih merah. Nelayan, penjual ikan, warga sebagai pembeli, hingga tengkulak sudah merapat di kawasan pelelangan ikan di Pelabuhan Nusantara Brondong, Kabupaten Lamongan. Kehadiran mereka untuk bersiap dan akan melakukan transaksi jual beli ikan hasil  buruan.

Ramai memang, disana sini ratusan manusia saling bersahut untuk tawar menawar. Ada nelayan yang sengaja menawarkan ikan tangkapannya pada pembeli di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dan ada pula yang menjual dengan cara berbeda. Yaitu dengan berburu agen penjualan atau makelar yang posisinya bisa ada di luar lokasi. “Ini lebih menguntungkan, laba agak besar daripada dijual di pelelangan. Selain itu saya dapat bersiap untuk melaut berikutnya”, jelas M. Soleh, 40 tahun, nelayan asal Blimbing.

Biasanya Soleh melaut bersama 12 anak buahnya. Selama 8 hari di laut mereka berhasil meraih lima ton ikan. Hasil tangkapan ini berhasil terjual secara borongan dengan harga Rp 13 juta. Padahal untuk modal keberangkatan modal yang dibutuhkannya, hanya sekitar Rp 5 juta.

“Modal itu saya gunakan untuk membeli solar, oli, atau beberapa bekal tambahan seperti makanan, minuman, camilan, dan terpenting adalah balok es batu,” ujar bapak tiga anak ini pada EastJava Traveler.

Ditanya sampai dimana beberapa nelayan Brondong biasanya mencari ikan. Soleh menjawab ringan, tentu sampai puluhan mil jauhnya bahkan sampai waktu melautnya seminggu lebih. “Tapi itu sudah biasa kami jalani,” tukas seorang nelayan lain yang duduk bersebelahan dengan Soleh.

Dari upaya melaut, ikan laut segar yang didapat para nelayan di Brondong, seperti ikan kuningan, bambangan, krese, golok sabrang, kapasan, kakap merah, kerapu, layur, cumi-cumi, tongkol, hiu, bawal, dan masih banyak lainnya. “Berbagai jenis ikan seperti itulah yang banyak didapat nelayan,” ujar Mas’udi, salah seorang petugas lapangan dari KUD Minatani, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Lebih lanjut, Mas’udi mengatakan potensi perikanan yang diperoleh nelayan di Brondong ini relatif cukup banyak. Maka, tak salah bila TPI Brondong bisa dikategorikan penghasil ikan terbanyak yang ada di Jatim. Dan, pantas bila disejajarkan dengan yang ada di Prigi, Sendang Biru, Madura, dan beberapa tempat lainnya.

Kategori Nelayan
Sementara menurut penjelasan Mas’udi kategorisasi nelayan di Brondong terbagi menjadi beberapa jenis. Ini dilihat dari jarak jangkauan dan waktu penangkapan ikan. Ada yang mengistilahkan nelayan ngebok, maksudnya adalah para nelayan pergi jauh ke tengah lautan menggunakan kapal-kapal besar, yang dilengkapi kotak-kotak besar dipergunakan untuk menyimpan hasil tangkapan.
Waktu yang dibutuhkan nelayan jenis ini biasanya rata-rata lima hari dengan target tangkapam sekitar setengah ton. “Tapi itu untuk kategori kecil, sedangkan yang besar biasa pergi ke laut sampai dua mingguan dan target tangkapan sekitar 8 ton bahkan lebih,” tuturnya. . .

Dan jumlah-jumlah besar itu biasanya terjadi pada bulan panen nelayan, yaitu Agustus sampai Desember. Selain nelayan warga Brondong menyebut nelayan ngebok, ada juga yang menyebut nelayan korsin. Nelayan ini berangkat sekitar jam 12 malam, lalu pulang siang hari. Mereka pergi ke tengah laut dengan perahu kecil dan hasilnya pun relatif lebih sedikit.

Adanya nelayan jenis korsin, maka tak salah bila di TPI Brondong ada dua sesi pelelangan. Pertama mulai jam 4 pagi sampai jam 10 siang. Lalu yang kedua mulai sekitar jam 12-an sampai menjelang jam 3 sore.

Selain nelayan ngebok dan korsin, ada juga warga nelayan disana yang memilih sebagai nelayan pancing. Mereka biasanya berangkat ke tengah lautan tanpa batasan waktu, atau sesuka hati. Mengenai hasil tentu lebih sedikit dari dua kategori nelayan sebelumnya. Karena mereka berburu ikan cukup dengan alat pancing.

Pelabuhan Perikanan Nusantara
Brondong yang berjarak 6 kilometer dari lokasi Wisata Tanjung Kodok itu, kini telah berkembang pesat bahkan telah menjadi salah satu andalan Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam mendulang Pendapatan Anggaran Daerah (PAD).

Dari catatan beberapa sumber, sebelum tahun 1998 hasil retribusi yang dikumpulkan TPI Brondong berhasil meraup 60 persen PAD. Memang seperti dikatakan Mas’udi dari catatan KUD Minatani masa gemilang di Brondong pernah terjadi di tahun 1998. “Pada saat itu, dari hasil tangkapan nelayan saja menembus perolehan 30 ribu ton pertahun,” katanya.

Berurutan di tahun 1999 perolehan tangkapan menurun 22,5 ribu ton. Tahun 2000 kembali melorot menjadi 18 ribu ton saja. Lalu di tahun 2008 bisa diambil rata-rata sekitar 28 ribu ton dalam setahun. Mengetahui betapa besar peranan TPI Brondong bagi Kabupaten Lamongan, pemerintah setempat dibantu beberapa instansi terkait

Pelabuhan Ikan Brondong telah menjadi salah satu andalan Pemerintah Kabupaten Lamongari dalam mendulang Penqapatan Anggaran Daerah (PAD).
Nampak getol untuk terus mengembangkan sebagai sebuah aset berharga. Apalagi kini TPI Brondong dikelola oleh tiga intansi langsung dengan tugasnya masing-masing. Antara lain, di bawah naungan Pelabuhan Perikanan Nusantara meliputi pengembangan sarana dan prasarana. Lalu ada Perusahaan Umum (Perum) meliputi pengelolahan modal usaha. Dan ada KUD Minatani meliputi pengelolah dan pemberi swadaya pinjaman bagi usaha anggota nelayan.

Kondisi harus dilakukan karena dulunya Brondong adalah sebuah pasar ikan kecil yang dikelola warga desa setempat. Juga secara administratif penangan tempat ini meneruskan pola yang diterapkan pemerintah Belanda. Sebab kebetulan posisi letaknya di jalur Daendels (ruas jalan Anyer-Panarukan). Yang lebih tepatnya melewati jalur Gresik-Panceng-Paciran dari arah timur. Sedangkan dari arah barat jalur Tuban-Paciran.

TPI yang pada tahun 1980-an hanya memiliki area gedung seluas 150 meter persegi, dan luas total (area pelabuhan dan fasilitas-fasilitas tambahan) sebesar 4 hektar ini berubah menjadi wilayah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong, Lamongan. Sehingga kondisi inilah yang membuat wilayah kawasan Pelabuhan Brondong diperluas, hingga menjadi seluas 30 hektar.

Irianto, Kepala Bagian Tata Usaha PPN Brondong, Lamongan pada EastJava Traveler menjelaskan, seiring dengan berkembangnya area kelolah di Pelabuhan Brondong. Maka, pihaknya telah membangun beberapa fasilitas penunjang bagi warga, nelayan dan pembeli yang datang kesana. “Ini sebagai upaya memberikan kelayakan pada sisi pengelolahan di TPI Brondong,” ucapnya.

Beberapa fasilitas penunjang itu antara lain kamar mandi, musholla, tempat parkir yang luas, keamanan, tempat makan yang memadai, dan masih banyak fasilitas lainnya, ejt m rido’i – loto; wt atmojo

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Easjava Traveler, Etalase Wisata Jawa Timur, EDISI 29, Tahun II, Juni 2009, Hlm.6-9.