Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

Asal Usul Nama Bondowoso

Sebuah nama pada hakikatnya terdiri dari dua aspek yaitu bentuk dan isi. Bentuk adalah ungkapan isi yang berupa bahasa lisan maupun tulisan. Sedangkan isi adalah maksud yang hendak dikemukakan. Bentuk dan isi hendaklah ada keserasian. Bagaimana wujudnya, begitulah maknanva. Oleh karena itu membahas sebuah nama tidak dapat dilepaskan dari dnjauan linguistik dan normatif.

Tinjauan secara linguistik membawa kita pada analisis secara etimologis, yaitu mencari makna sebuah kata berdasarkan asalusulnya dari kamus atau dari bahasa asalnya (asing). Di dalam ilmu bahasa, sebuah kata mengalami perkembangan; perubahan bunyi, bahkan perubahan arti, sehingga arti kata lama kadang-kadang jauh berbeda dengan arti yang muncul pada masa kini. Walaupun demikian perubahan bunyi dan arti itu masih dapat dipertanggungjawabkan cara linguistik (ilmu bahasa).

Tinjauan secara normatif adalah tinjauan yang bertitik tolak dari keinginan masyarakat pemakai bahasa yang hendak memberikan pesan-pesan nilai (norma) pada sebuah nama. Tujuannya bersifat edukatif-filosofis.

  1. Tinjauan secara Linguistik

Ada dua hal yang perlu diketahui, pertama, Kabupaten Bondowoso menempati suatu dataran tinggi yang dikelilingi gunung dan bukit, serta ditumbuhi hutan belukar, yang menurut penelitian Dinas Purbakala, menyimpan aset peninggalan zaman megalitikum. Konon daerah itu selama ribuan tahun tidak terjamah oleh sejarah. Kedua, baru pada permulaan abad ke-19 daerah itu dibuka dengan hadirnya seorang pionir, pemuka, serta pembabat hutan yang mengemban misi bupati untuk mengembangkan wilayah Besuki ke selatan. Ia mendapatkan sebuah dataran tinggi yang strategis untuk mendirikan kota guna mengendalikan pemerintahan di kelak kemudian hari. Orangitu adalah Raden Bagus Assrah (Mas Astrotruno), yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Rangga Bondowoso.

Bertolak dari dua kenyataan tersebut, nama Bondowoso tidak dapat dipisahkan dari masalah hutan dan pembabatnya. Nama Bondowoso agaknya erat kaitannya dengan makna kata “Wanawasa” yang berarti “hutan belukar”. Di dalam Babad Bondowoso Pupuh X Pangkur, bait 12, terdapat kata wanawasa, bahkan pada bait 2 Pupuh X dipakai dua perkataan “Bandawasa” dan “wanawasa” secara berdampingan, sebagai berikut:

Bait 12:

“Lajeng marang ibunira/nuwun pamit
matur yen dinuteng aji/ambedhah wana-wasa gung/…”
(La/u (beliau) kepada ibunya, berpamitan
hendak diutus raja membuka hutan besar / …)

Bait 2:

… kuneng ing Bandawasa/ lagya wanawasa …
 (… Adapun di Bondowoso waktu itu masih berupa hutan belukar …)

 a. Analisis Secara Etimologis

 Di dalam kamus Jawa Bausastra Jawa karangan WJS Poerwadarminta, arti kata wanawasa adalah (a) berdiam di dalam hutan, dan (b) hutan besar (belukar). Disebutkan bahwa kata wanawasa itu berasal dari bahasa Sanskerta.

Dalam bahasa Jawa baru perkataan wana adalah bentuk bahasa “krama” dari kata “alas” (hutan). Sedangkan perkataan was atau wis adalah akar kata bahasa Sanskerta, yang berarti “masuk”. Jadi wana wasa berarti “masuk hutan”, bedah hutan, atau berkediaman di dalam hutan. Dalam perkembangan pemakaian selanjutnya, maknanya berubah menjadi objek yang dibabat, yaitu “hutan belukar” (arti kedua).

Pemakaian akar kata was atau wis yang berarti “masuk” itu, masih dapat kita temukan dengan bentuk akhiran -ma yang berarti “yang di” dalam bahasa kita. Misalnya:

Akar kata “wis” (masuk) + -ma berarti wisma (yang dimasuki, atau rumah).
Akar kata “kr” (kerja) + – ma berarti karma (yang dihasilkan, atau buah pekerjaan, wohe panggawe).
Akar kata “jan” (lahir) + – ma berarti janma (diucapkan jalma, berarti manusia, yaitu yang dilahirkan).

Perubahan dari perbuatan menjadi tujuan itu terdapat pula pada kata “korban” (Arab). Semula qaraba berarti “mendekat” atau “mendekatkan diri kepada Tuhan secara ikhlas”. Kemudian berubah makna menjadi “sapi atau kambing yang dikorbankan”. Perkataan “menyembelih korban” berarti “menyembelih sapi atau kambing untuk berkorban.”

b. Gejala Perubahan Bunyi

 Gejala perubahan bunyi adalah perubahan atau penambahan bunyi pada awal, tengah, atau pada akhir kata.

1) Perubahan bunyi pada awal kata:

Contoh perubahan bunyi w menjadi b pada awal kata. Dalam ilmu perbandingan bahasa banyak kita jumpai kata-kata bahasa daerah yang diawali bunyi b dan sedikit yang berawal bunyi w, bahkan bahasa Madura tidak memiliki kata yang diawali bunyi w. Otto Dempwelff menetapkan bahwa kata-kata yang diawali bunyi w adalah kata-kata purba. Kata-kata bahasa Jawa atau asing yang diawali bunyi w berubah menjadi b dalam bahasa Madura dan Indonesia (Melayu). Contoh:

Wulan (Jawa) menjadi bulan (Madura, Indonesia)
Woh (Jawa) menjadi bua (Madura), serta menjadi buah (Indonesia)
Watu (jawa) menjadi bato (Madura), serta menjadi batu (Indonesia)
Wulu (Jawa) menjadi bulu (Madura, Indonesia)

Atas dasar itulah maka nama-nama daerah di Bondowoso di-Madura-kan, misalnya:

Waringin menjadi Baringen
Wanasari menjadi Banasare
Wanasuka menjadi Banasoka

Demikianlah perkataan ivana ivasa itu berubah menjadi ivana basa.

2)  Penambahan bunyi di tengah

Untuk melancarkan pengucapan, acapkali terjadi tambahan bunyi sengau atau bunyi lain yang sedaerah artikulasi (dasar ucapan dalam rongga mulut sama). Contoh:

Makin menjadi mangkin
Masa (Indonesia) menjadi mangsa (Jawa)

Dalam ilmu bahasa gejala ini disebut epentesis. Contoh lain dengan bunyi d, sebagai berikut:

Akan aku menjadi akandaku
Akan ia menjadi akandia
Dengan aku menjadi dengandaku

Pada zaman Majapahit ada empu bernama Canakya. Akhirnya setiap orang terpelajar diberi gelar nama itu. Dari Canakya berubah menjadi cendekia. Di sebelah selatan Pal Sanga’ ada daerah pertanian yang pada zaman Belanda dinamai Binnen land (tanah pedalaman). Sekarang dikenal dengan nama Bendhellan.

Demikianlah dalam perkembangan kemudian, perkataan wana wasa berubah menjadi bana basa dan akhirnya diucapkan banda basa. Tetapi karena pengaruh tekanan kata, maka pengucapan empat suku itu tidak diucapkan lengkap, melainkan terdengar hanya tiga suku. Suku kata awal tak terucapkan. Tekanan jatuh pada suku ketiga dari akhir. Contoh:

Tegal batu diucapkan Galbato
Sumber suka diucapkan Bersoka
Empa’polo (40) diucapkan pa’polo
Pettong atos (700) diucapkan tong atos

Kata Bandabasa kemudian diucapkan Dabasa. Kata ini kemudian menjadi nama sebuah desa di selatan alun-alun Bandawasa. Atas dasar perubahan tekanan itulah, maka kata ulang dalam bahasa Madura tak diucapkan penuh, misalnya:

jalan-jalan menjadi lan-jalan
orang-orang menjadi reng-oreng
kanak-kanak menjadi na- kana’

 

  1. Ejaan Menuliskan Kata dengan Huruf Latin dan Caraka

Kata-kata semacam tangga, nangka, bandha jika dituliskan dengan huruf caraka menggunakan taling-tarung. Tetapi jika kata itu dibubuhi e atau ne, maka bunyi o taling-tarung itu berubah menjadi a. Karena itu penulisannya dengan huruf Latin tetap menggunakan huruf a. Contoh:

nangka menjadi nangkane
bangsa menjadi bangsane
kanca menjadi kancane
tangga menjadi tanggane

Agaknya ejaan tersebut tidak berlaku lagi bagi penulisan nama-nama kota, seperti Bondowoso, Purwokerto, Bojonegoro, Mojokerto, dan sebagainya, karena nama-nama kota, lembaga, orang, terikat oleh hukum. #wdp

——————————————————————————————-
Sumber:
Mashoed. H., 2004. Sejarah dan budaya Bondowoso. Surabaya : Papyrus

 

Legenda Makam Sunan Drajat

Makam Sunan Drajat terletak di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan tepatnya di desa Drajat jalur pantai utara masuk ke selatan kira-kira 300 meter dari jalan raya Daendeles. Lokasi Makam Sunan Drajat berada diperbukitan yang tidak begitu tinggi, berbentuk Cungkup dari kayu jati berukir dan tempat paseban dilengkapi dengan gapura paduraksa, masjid, musium, lahan parkir, serta tempat-tempat penjualan sovenir. Makam Sunan Drajat ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Indonesia Tempat ini tidak pernah sepi, lebih-lebih jika pada hari libur dan hari Besar Islam. Meskipun Sunan Drajat sebagai salah satu Wali Songo dan dipercaya sebagai salah satu tokoh yang benar-benar nyata, tetapi rakyat setempat mempunyai cerita lisan yang cukup menarik untuk diungkapkan karena mempunyai fungsi penting dalam promosi wisata Cerita lisan yang akan dikutipkan berasal dari berbagai sumber misalnya dari informan pangkal, informan utama, maupun informan penunjang. Di samping itu cerita juga diambilkan dari catatan para informan yang sudah disimpan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah.
Sebelum menjadi Wali dan diangkat sebagai Sunan, Sunan Drajat bernama Raden Qosim, Raden Masih Maurat, Raden Syarifuddin, atau Raden Hasim, tetapi lebih dikenal dengan panggilan Raden Qosim. Raden Qosim putia Sunan Ampel dari perkawinannya dengan Retno Ayu Manila adik Tumenggung Wilwatikto putra Haryo Tejo Bupati Tuban diperkirakan lahir pada tahun 1445 M di Ampel Surabaya Ketika berusia 6 tahun Raden Qosim sudah pandai menulis dan membaca Al-Quran di bawah bimbingan ayahnya Setelah Raden Qosim menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Ampel, ia menunaikan ibadah haji ke Makkah sambil memperdalam ilmu agama Islam di Saudi Arab i a untuk bekal tambahan pengetahuan nantinya Sepuluh tahun kemudian Raden Qosim pulang ke tanah Jawa untuk melaksanakan tugas sucinya seperti yang dipesankan oleh ayahnya
Ketika Raden Qosim hendak meneruskan dakwalmya dan menumpang sebuah perahu nelayan yang mencari ikan di perairan Surabaya-Tuban, perahu yang ditumpangi itu menabrak karang hingga hancur. Pada saat itu muncullah seekor ikan hiu untuk menolongnya Raden Qosim disuruh menumpang di punggung hiu dan hiu itu mengantarnya sampai ke darat. Sampailah Raden Qosim di desa Jelag. Di tempat ini Raden Qosim mulai dakwah dengan membangun Musholla sebagai tempat ibadah dan sentral kegiatan dakwah Islamiyah. Para santri pengikutnya kemudian membuka daerah baru sebagai tempat pemukiman. Santri yang hadir tidak hanya dari tanah Jawa saja, tetapi juga dari sabrang antara lain dari Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Akhirnya desa Jelag ini terkenal sampai di luar Jawa selanjutnya kampung baru ini diberi nama Banjar karena yang berdatangan kebanyakan pedagang dari Banjarmasin. Kemudian kampung baru itu disebut kampung Banjar Anyar (1476 M).
Raden Qosim bersama 17 santrinya yang berasal dari Banjarmasin itu melanjutkan dakwahnya ke daerah lain. Selama dalam perjalanan dakwahnya Raden Qosim juga membuka daerah baru dan berhasil menaikkan martabat masyarakat, baik berupa ekonomi, derajat, maupun ilmu pengetahuan, akhirnya terbentuklah masyarakat yang bermartabat tinggi dari pada semula Untuk itu patutlah Raden Qosim dijuluki Mbah Drajai kemudian lebih terkenal dengan sebutan Sunan Drajat. Daerah pemukiman itu disebut Drajai sampai sekarang dan menjadi nama desa di wilayah kecamatan Paciran (1480 M). Setelah kewalian Raden Qosim di sahkan oleh para wali, maka Raden Qosim mengajukan izin pengesahan tempat padepokan, pesantren, dan masjid kepada penguasa Raja Demak pertama Raden Fatali. Raja Demak kemudian menghadiahkan tanah seluas 61 ha kepada Raden Qosim untuk kesejahteraan keluarga dan santrinya Raden Qosim beristrikan putri Adipati Kediri Smyo Adi logo yang bernama Refno Ayu Condro Sekai-. Dari perkawinannya dengan putri Kediri ini Raden Qosim dikainniai tiga orang putra yang masing-masing diberi nama Raden Azrif, Raden lshaq, dan Raden Shiddig
Di masa hidupnya Sunan Drajai terkenal sebagai salah seorang wali yang berjiwa sosial dan mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi. Hal yang dilakukannya misalnya menyantuni anak yatim piatu, memberi makan kepada fakir miskin yang sengsara penghidupannya, memberi perlindungan bagi orang yang tidak berdaya Ajaran Sunan Drajat ini telah melekat pada masyarakat Lamongan yang terdiri dari empat ungkapan.
1. Menehono teken marang wong kang wulo.
2. Menehono mangan marang wong kang luwe.
3. Menehono ngiyup marang wong kang kodanan
4. Menehono busono marang wong kang mudo.

Jika dibahasaindonesiakan seperti berikut..
1. Berilah tongkat kepada orang yang buta.
2. Berilah makan kepada orang yang kelaparan.
3. Berilah berteduh kepada orang yang kehujanan.
4. Berilah pakaian kepada orang yang telanjang.

Ajaran Sunan Drajat semacam itu menipakan ajaran yang berkaitan dengan mata rantai kehidupan seseorang. Sebab pendidikan, penghidupan, tempat tinggal, dan pakaian adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Raden Qosim juga menyarankan kepada para santrinya agar semua kehidupan ini dilandasi dengan ke Taqwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa dan ditandaskan pula setiap manusia agar menjaga perut karena perut merupakan unsur badaniyah yang menjadikan pikiran bersih dan jernih. Metode dakwah Sunan Drajat melalui pendekatan kepada masyarakat misalnya dengan menanamkan rasa disiplin, rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan, dan juga rasa saling menghargai terhadap sesama sehingga dalam mengambil keputusan dapat dengan jalan kebijaksanaan. Ajaran Raden Qosim tentang kebijaksanaan dalam mengambil keputusan seperti yang digariskan dalam surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi sebagai berikut. Suruhlah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat yang baik dan bertukar pikiranlah dengan cara yang baik, sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalannya dan Dia lali yang Maha mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.
Dengan kalimat pembukaan mengajak ke jalan Allah hikmahnya akan mendapat petunjuk yang baik bagi rokhani maupun jasmani. Mengajak ke jalan Allah juga merupakan pegangan hidup yang mantap dan kokoh sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesalan dan kekerasan yang berunsur negatif Nasehat yang baik merupakan etika dalam budaya dan pergaulan yang beradab serta tukar pikiran merupakan kecenderungan untuk mengambil jalan tengah yang seadil-adilnya agar tidak merugikan orang lain. Berdasarkan ayat itu pula Sunan Drajat mengembangkan Islam tidak dengan jalan kekerasan melainkan dengan tutur kata yang sopan, ramal) tam ah sehingga dengan mudah dapat memberikan pengertian kepada pengikutnya. Rasa toleransi dan menghormati antar sesama umat sangat dijaga sehingga banyak umat Hindu dan Budha yang masuk agama Islam.
Di lain pihak. Sunan Drajat juga sebagai seorang seniman, maka dibuatlah seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang, gender, saron, peking, dan gambang. Sunan Drajat juga mencipta gending pangkur sebagai sabagai satu alat untuk memberikan penerangan serta ajaran-ajaran Islam. Dengan gending itu pula dibawakan ayat-ayat suci Al-Quran serta Sunnah Rosul sehingga Islam diterima oleh pengikutnya dengan aman dan damai. Kini peninggalan seperangkat gamelan yang bernama Singomengkok itu disimpan di musium Sunan Drajat di kompleks pemakaman Sunan Drajat. (Informan R. Subaktiaji)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Dra. Purwantini, M.Hum. [dkk], Penelitian: Folklor Rakyat: Sarana Penyebarluasan Tempat-Tempat Wisata Kabupaten Lamongan: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 20-24 (CLp-D13/2002-232)

Pemerintahan Wiraraja Dan Pembangunan Kota Majapahit

Dalam tahun 1268-1292 Kerajaan Singosari dipimpin oleh Raja Kertanegara yang mempunyai dua orang menantu ialah R. Wijaya dan R. Ardaraja. Pada batu bersurat didesa Butak diceriterakan, bahwa pada suatu hari Raja Kertanegara diserang ole Jayakatwang dari negeri Gelang-gelang (Daha), yang maksudnya untuk menjatuhkan Kertanegara beserta singgasananya dinegeri Tumapel. Setelah Kertanegara mendengar bahwa musuh datang, dikirimkanlah R. Wijaya dan R. Ardaraja untuk memukul mundur musuhnya. Dikampung Kedung Peluk kedua belah pihak betemu dan api peperangan mulai dinyalakan. Lawan dapat dikalahkan dan mereka lari tunggang langgang kekampung Lemah Batang dan Pulungan. Tetapi dari kampung Rakut Carat tiba-tiba datanglah lawan dengan tidak tersangka-sangka jang mempunyai kekuatan besar, dan menan­tu-menantu Kertanegara terpukul mundur. R. Wijaya dikejar oleh musuhnya, ia terus lari ke negeri Kudadu.

 

Diceriterakan bahwa Raja Kertanegara mati terbunuh, sehingga sejak itu Singosari berada dibawah perintah kerajaan Daha (Kediri). Bagaimana sikap Raden Wijaya atas kehilangan kerajaan mertuanya? Dari Kudadu, ia memutuskan untuk menyeberang kepulau Madura, guna minta bantuan Wiraraja (keratonnya di Batuputih, Sumenep), Ialah ra­ja Madura yang berkedudukan di Sumenep atas angkatan Raja Kerta­negara. Raden Wijaya diterima sepantasnya oleh Wiraraja. Mereka berjanji untuk nantinja membagi tanah Jawa menjadi dua bagian. SelanjutnYa Wiraraja menganjurkan supaya R. Wijaya pergi ke Kediri, ibukota Jajakatwang menjalankan pemerintahan.

Disana ia supaya menundukkan diri kepada Jajakatwang dan kalau sudah menjadi kesayangan diistana ia supaya minta tanah Tarik untuk dibabat bersama-sama dengan orang Madura, guna dijadikan kota.

Pembangunan Kota Madjapahit.

Akhirnya dengan segala kecerdikan Raden Wijaya, Jayakatwang mengidzinkannya, tanah Tarik untuk dijadikan tempat tinggal. Tanah tersebut tidak subur, sehingga sukar sekali untuk mencari makanan. Pada suatu ketika seorang pengikut Raden Wijaya dari Madura merasa lapar dan ia terus menaiki pohon Maja yang daunnya berduri serta segera memetik buahnya. Setelah buah itu dimakannya terasa sangat pahit dan scgera dibuangnya. Sejak itulah dimana tempat buah Maja yang Pahit itu dilemparkannja disebut Majapahit.

Demikianlah diceritakan dalam kitab Pararaton. Akan tetapi, hal itu juga dapat sebagai, perumpamaan bahwa Majapahit didirikan atas pahit getirnja perjuangan. Selain dari itu Majapahit juga disebut Wilwatikta.

Semasa hidupnya Raja Kertanegara, pada suatu hari datanglah utusan negeri Cina menghadap Radja, yang maksudnja supaya Singosari tunduk kepada negeri Cina. Karena itu Kertanegara marah dan melukai muka utusan itu. Oleh sebab itu datanglah bala tentara negeri Cina yang diutus oleh Rajanya yang bernama Kubilai Khan untuk membalas dendam. Tentara Cina datang dipulau Jawa pada tahun 1293, dimana tidak dapat bertemu dengan Kertanegara karena telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Tentara Kubilai Khan dipimpin oleh tiga Jendral ialah : Che-pi, Yi-K’o-mi-su dan Kau Hsing. Sewaktu mereka berangkat menuju Singosari, bertemulah dengan Raden Wijaya. Mereka dibelokkan menuju ke Kediri dan dihadapkan dengan Jajakatwang yang memang sudah mulai menyerang Majapahit. Meskipun Jajakatwang memiliki tentara ber-puluh puluh ribu orang jumlahnya, akhirnya dapat dipukul mundur juga oleh tentara Kubilai Khan. Sebenarnya tentara Cina kena tipu muslihat, karena balas dendam tersebut ditujukan kepada Raja Kertanegara, bukan ke­pada Jajakatwang.

Waktu itu Raden Wijaya sudah kembali ke Majapahit. Selanjutnya, bagaimana sikapnya terhadap tentara Cina yang ada dipulau Jawa? Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Raden Wijaya banyak membunuh tentara Cina dengan bantuan orang Kediri dan orang Majapahit sendiri. Sebagian pula dari tentara Cina dapat dihalau meninggalkan pulau Jawa. Jayakatwang kemudian dapat dijatuhkan pula oleh Raden Wijaya dan dengan demikian pula Daha (Kediri) ada dibawah kekuasaan Majapahit dan Raden Wijaya sebagai Rajanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Adapun Wiraraja dengan pasukan Maduranya yang banyak memberi pertolongan diangkat menjadi Radja di Lumajang. (Lebih luas dari Lumajang sekarang sainpai keujung timur). Setelah Wiraraja dengan gelar Bayjak Wide mengakhiri kekuasaannya di Sumenep, daerah ini mengalami kemunduran.

Pimpinan di Madura setelah Wiraraja.

Yang mengganti memimpin pulau Madura ialah saudara dari Wiraraja yang bemama Ario Bangah, berkeraton didesa Benasareh, Rubaru, di daerah Sumenep juga. Kemudian pimpinan diganti oleh anaknya yang bernama Ario Danurwendo bergelar Lembusuranggono dan keratonnya dipindah kedesa Tanjung, dae­rah Bluto. Karena pulau Madura mengalami kemunduran, tidak banyak tulisan- tulisan atau ceritera ceritera mengenai kerajaan pulau Garam pada saat itu. Dari tangan Danurwendo dipindah lagi kepada anaknya bernama Panembahan Joharsari. Joharsari diganti pula oleh anaknja bernama Panembahan Mondoroko, yang berkeraton digunung Keles, daerah Ambunten, Penembahan ini diganti pula oleh anaknya, dan Madura mengalami 2 orang pimpinan, jalah Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung (artinya Sumberagung didaerah Guluk-guluk).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.5-7

 

Panembahan Ronggo Sukawati

Diceriterakanlah, bahwa Sukawati adalah raja Pamekasan yang menjalankan Pemerintahan penuh dengan kebijaksanaan. Selain dari pada itu, pribadinya memang memiliki sifat kesatria yang dapat dibanggakan, misalnya keberanian karena benar, kejujuran, keadilan dan kesopanan.

Selain dari itu ia tidak suka memperluas daerahnya dengan daerah kera­jaan lain, tctapi sebaliknya pula ia tidak sudi dicampuri oleh fihak lain didalam menjalankan pemerintahan. Pada suatu waktu, Sukawati baru saja dilantik sebagai raja Pamekasan, menggantikan ayahnya, datanglah seseorang yang mempersembahkan satu landian keris. Keesokan harinya, orang lain lagi datang mempersembahkan sebuah rangka keris dan terakhir, seorang tamu lainnya datang dengan membawakan isi keris. Sesudah itu Sukawati menyuruh seorang ahli keris untuk memasang mempersatukan perkakas perkakas keris yang ia terima dari orang- orang itu. Ternyata cocok, tidak usah dirobah lagi. la lalu memberi narna terhadap keris tersebut, ialah ,,Joko piturun”. Diceriterakan selanjutnja, bahwa pada suatu saat, orang  orang Bali datang menyerang daerah Sampang dan Sumenep.

Di Sumenep Pangeran Lor I meninggal dunia dalam pertempuran dan juga banyak pembesar – pembesar dari Sampang yang gugur. Setelah orang – orang Bali merasa izlah menang, mereka terus menyerang daerah Pamekasan. Pasukan dari Bali itu disambut sendiri oleh Sukawati dipebatasan kota Pamekasan ialah di Jungcangcang. Timbullah pertempuran yang hebat ditempat itu, tetapi tidak antara lama pasukan dari Bali hancur lebur, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun dari orang – orang bali yang dapat menyelamatkan diri. Dengan demikian, kedudukan Sukawati makin kuat dan namanya makin terkenal diseluruh Madura. Diceriterakan pula, bahwa dalam zaman kerajaan Sukawati pernah terjadi dua tahun lamanya daerah Pamekasan tidak ada hudjan turun. Rakyat sangat menderita, karena tidak dapat bercocok tanam dan tim­bullah penyakit busung lapar. Pada suatu malam Sukawati bermimpi, bah­wa tidak  jauh dari kota Pamekasan didaerah hutan dan rawa rawa bertempat tinggal seorang wali yang tidak mempunyai rumah, siang malam ia berselimutkan angin, beratapkan langit. Keesokan harinya Sukawati terus memerintahkan patihnya untuk mencari orang itu. Pepatih beserta beberapa Menteri terus berangkat mencari apa yang telah dipesan oleh rajanja. Ditempat rawa – rawa dan hutan, kelihatan banyak pohon yang telah tumbang. Siapakah kiranya yang menebang pohon itu?

Setelah dicari kian kemari, dijumpainya hanya seorang saja yang mene­bang pohon. Sewaktu ditanyakan, siapakah namanya, maka dijawab bah­wa ia bernama Kiyahi Agung Raba. Patih Pamekasan segera pulang dan menceriterakan segala sesuatunya kepada rajanja. Setelah Sukawati mendengar laporan tersebut, ia segera memerintahkan kepada Patih dan Menteri -Menterinja, supaya mereka menggerakkan tenaga rakyat untuk mendirikan rumah bagi wali tersebut (Kiyahi Agung Raba). Setelah rumah itu selesai dan ditempati oleh Kijahi Agung Raba, maka hujan segera turun dan orang – orang Pamekasan sangat bergembira dan berlomba-lomba berangkat untuk bercocok tanam.

Peristiwa lain semasa pemerintahan Ronggo Sukawati ialah pada suatu saat Panembahan Lemahduwur, Arosbaya datang ke Pamekasan bersama- sama dengan Menteri -menterinya untuk keperluan bersilaturrachmi. Sukawati menerima dengan cukup ramah tamah atas kunjungan Lemahduwur. Sete­lah beberapa lama berselang, Lemahduwur berkenan menangkap ikan dari rawa si Ko’ol dekat kota Pamekasan. Semua Menterinya dengan membuka pakaian luar disuruh melompat kedalam rawa untuk menangkap ikan. Su­kawati menyuruh Menteri-menterinya untuk membantu, dan Menteri dari Pameka­san itu tidak membuka pakaiannya sama sekali dan terjun kedalam air.

Entah karena apa, Lemahduwur setelah melihat peristiwa itu tanpa minta diri, terus pulang dengan diikuti oleh Menteri -menterinja. Sukawati setelah meli­hat tamunya pulang tanpa pamit, terus mengejarnya. Sesampainya di Sam­pang ia menanyakan kepada saudaranya, ialah Adipati Sampang, kemanakah tamunya pergi. Ia mendapat jawaban bahwa tamunya terus menuju Blega dan ditepi jalan dikampung Larangan tamunya itu berhenti sebentar menyandar disebuah pohon. Sukawati menghunus keris Jokopiturun dan ditusukkan kepada pohon kaju itu, dan ia terus kembali ke Pameka­san. Selang beberapa hari lamanya, Sukawati menerima surat dari isterinya Lemahduwur Arosbaya, bahwa suaminya meninggal dunia karena “bisul besar dipinggangnya. Setelah membaca berita itu, Sukawati marah pada dirinya dan diambilnja keris Jokopiturun terus dilemparkan kerawa si Ko’ol. Setelah keris itu dibuang, kedengaran suara : „Seumpama keris Jokopi­turun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”. Setelah Sukawati mendengar suara itu, ia merasa sangat menyesal dan memerintahkan Menteri -menterinja mencari kerisnya didalam rawa- rawa . Tetapi sayang, keris itu tidak dapat diketemukan kembali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 44-46

Riwayat Jokotole

Lahirnya Jokotole.
Diceriterakannya didalam sejarah Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning) kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole, diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan, didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.

Djokotole bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri, saudara dari ayahnja, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang. Untuk penyelesaian pembuatan pintu Gerbang itu harus dipergunakan suatu alat perekat, perekat mana nantinya akan dapat keluar dari pusar Jokotole, sewaktu ia dibakar hangus. Karena itu nantinya ia harus minta bantuan orang – orang lain untuk membakar; dirinya, dengan pengertian kalau Jokotole telah hangus terbakar menjadi arang, perekat yang keluar dari pusarnya supaya segera diambil dan jika sudah selesai supaya ia segera disiram dengan air untuk dapat hidup kembali seperti sediakala. Jokotole diberinya petunjuk bagaimana caranya memanggil pamannya (Adirasa) apabila ia mendapat kesukaran. Selain mendapat nasehat – nasehat, juga ia men¬dapat seekor kuda hitam, bersayap (si Mega) sehingga kuda tersebut da¬pat terbang seperti burung Garuda, dan sebuah Cemeti dari ayahnya sendiri, Adipoday. Setelah Jokotole bersaudara dapat perkenan dari pamannya untuk berangkat ke Majapahit, sesampainya mereka dipantai Gersik men¬dapat rintangan dari penjaga – penjaga pantai, karena memang mereka mendapat perintah dari Rajanya untuk mencegat dan membawa dua orang bersaudara itu keistana. Perintah Raja ini berdasarkan mimpinya untuk mengambil menantu yang termuda dari dua pemuda sesaudara itu. Setelah diadakan pembitjaraan kompromis antara pihak pepatih dongan kedua orang bersaudara itu, datanglah mereka keistana. Ketika kedua orang sesaudara tadi diterima oleh Raja, diadakan ramah-tamah dan diutarakan niatan Raja menurut mimpinya. Karena itu dengan ikhlas Jo¬kotole meninggalkan adiknya dan melanjutkan perjalanannya menuju Majapahit. Setelah ia mendapat perkenan dari ayah angkatnya menemui Raja Majapahit, ia lalu ditunjuk oleh Raja sebagai pembantu Empu-empu. Pada saat bekerja sama dengan Empu-empu, Jokotole minta kepada Empu-empu, supaya dirinya dibakar sampai menjadi arang. Bila telah terbakar supaya diambilnya apa yang keluar dari pusarnya, danitulah nantinya dapat dijadikan alat perekat. Apa yang diminta oleh Jo¬kotole dikerjakan oleh Empu-empu sehingga pintu gerbang jang tadinya belum .dapat dilekatkan, maka sesudah itu dapat dikerjakan sampai selesai. Setelah bahan pelekatnya di¬ambil dari pusar Jo¬kotole, ia lalu disiram dengan air sehingga dapat hidup kembali seperti biasa.
Selanjutnja jang mendjadi persoalan jalah pintu gerbang tadi tidak dapat didirikan oleh Empu-empu, karena beratnya. Dengan bantuan Jo¬kotole yang memperoleh kekuatan dari pamannja Adirasa yang tidak menampakkan diri, pintu gerbang yang besar itu dapat segera ditegakkan, sehingga perbuatan tersebut menakjubkan bagi Raja, Pepatih, Menteri – menteri dan Empu-empu lainnya. Bukan saja dibidang tehnik, Jo¬kotole memberikan jasa- jasanya yang besar, bahkan dibidang pertahanan Kerajaan Majapahit banyak pula bantuannya, misalnya dalam pengamanan dan penaklukan Blambangan. Atas jasa- jasanya yang besar itu Raja Majapahit berkenan menganugerahkan puteri Mahkota yang bernama Dewi Mas Kumambang. Tetapi karena hasutan Pepatihnya, maka keputusan untuk mengawinkan Jo¬kotole dengan Dewi Mas Kumambang ditarik kembali dan diganti dengan Dewi Ratnadi yang waktu itu buta karena menderita penyakit cacar. Sebagai seorang ksatria Jokotole menerima saja keputusan Rajanya.

Jokotole dengan istrinya pulang ke Sumenep.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Jokotole minta diri untuk pulang ke Madura dan membawa isterinya yang buta itu. Dalam perjalanan kembali ke Sumenep, sesampainya dipantai Madura, isterinya minta idzin untuk buang air. Karena di tempat tersebut tidak terdapat air, maka tongkat isterinya diambil oleh Jokotole dan ditancapkan ditanah, sehingga keluarlah air yang kebetulan mengenai mata yang buta itu, maka tiba- tiba Dewi Ratnadi dapat membuka matanya, sehingga dapat melihat kembali. Karena itu tempat tersebut diberi nama „Socah”, jang artinja mata. Didalam perjalanannya ke Sumenep banyaklah kedua suami isteri itu menjumpai hal- hal yang menarik dan memberi kesan yang baik. Misalnya sesam¬painya mereka di Sampang, Dewi Ratnadi ingin mencuci kainnya yang kotor karena ia sedang menstruasi (haid). Kain jang dicucinya itu dihanyutkan oleh air sehingga tidak dapat diketemukan lagi. Kain dalam ter¬sebut oleh orang Madura disebut „amben”. Setelah isterinya itu kehilangan amben, maka berkatalah Jokotole, mudah- mudahan sumber ini tidak keluar dari desa ini untuk selama-lamanja. Sejak itulah desa tersebut disebut orang desa Omben. Sewaktu Jokotole menemui ayahnja ditempat pertapaan digunung Geger, diberitahunja bahwa ia nantinja akan berperang dengan seorang perajurit yang ulung bernama Dempo Abang (Sampo Tua Lang), seorang Panglima perang dari Negeri Cina jang menunjukkan kekuatanya kepada semua Raja –raja ditanah Jawa, Madura dan sekitarnya. Pada suatu ketika (demikian menurut ceritera), waktu Jokotole bergelar Pangeran Secoadiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep ( ± tahun 1415), datanglah musuh dari negeri Cina jang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan Kapal Layar yang dapat berlayar dilaut, diatas gunung diantara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu, Pangeran Secoadiningrat III mengendarai Kuda Terbang, sesuai dengan petujuk dari pamannya (Adirasa). Pada suatu saat setelah ia mendengar suara dari pamannya, yang berkata : „ Pukul maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia sendiri menoleh sambil memukulkan cemetinya (cambuknya) yang mengenai kendaraan musuhnya sehingga hancur luluh jatuh ditanah. Dari kejadian-kejadian inilah, maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan Lambang bagi daerah Sumenep. Sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Maja¬pahit sudah memperkenalkan lambang kuda terbang. Di pintu gerbang dimana Jokotole ikut membuatnya terdapat gambar seekor kuda memakai sayap, dua kaki belakang ada ditanah, sedang dua kaki muka diangkat kebelakang. Demikian pula di Asta Tinggi Sumenep di salah satu congkop (koepel) terdapat gambar kuda terbang yang dipahat diatas manner. Juga dipintu gerbang rumah Kabupaten (duhulu Keraton) Sumenep ada lambang kuda terbang. Di museum Sumenep juga terdapat lambang kerajaan yang ada kuda terbangnya. Karena itu sudah sewajarnyalah kalau sampai sekarang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep mempergunakan lambang kuda terbang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp, Sumenep 1971, hlm. 8-11

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Pada akhirnya diceriterakan bahwa Jokotole (Secoadiningrat III) memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sampai berumur lanjut dengan sangat memuaskan bagi semua lapisan masyarakat. Pada suatu waktu datanglah utusan dari Bali dengan menaiki sebuah kapal dan membawa surat, bahwa putera mahkota Bali akan datang berkunjung ke Sumenep, kedatangan mereka disambut dengan baik oleh raja Sumenep. Tetapi sesampainya diistana, entah sebab apa, mereka tiba – tiba mengamuk sehingga banyak orang – orang yang mati terbunuh atau luka – luka. Juga Jokotole mendapat luka – luka. Ia lalu dibawa lari dengan dipikul memakai tandu menuju kekeraton lama di Banasareh. Diperjalanan Jo­kotole meninggal dunia. Ditempat, dimana ia meninggal dunia, sukar sekali dicari air untuk memandikan jenazah. Karena itu Raden Ario Begonondo (putera Djokotole) menancapkan tongkat ibunya yang dipakai di Socah, dan keluarlah air dari tanah.

Tempat itu lalu disebut desa Sa-asa, jang artinja tempat untuk mencuci.

Jokotole lalu dikuburkan didesa Landjuk berbatasan dengan Sa-asa, sekarang termasuk kecamatan Manding. Adik dari Jokotole, Jokowedi mendengar adanja pertempuran dengan orang – orang  Bali di Sumenep. Ia segera datang untuk membantunya. Setelah orang – orang Bali melihat Jokowedi, dikiranya Jokotole dapat hidup kembali, karena wajah Jokowedi mirip sekali dengan wajah kakaknya. Dengan demikian orang – orang Bali ketakutan dan lari tunggang langgang kekapalnja. Ceritera kehidupan dan perjuangan Jokotole banyak mengandung legenda.

Sampai dimanakah batas – batas kebenarannya, jika ditinjau dari segi sejarah, kami tidak berani menentukan, karena persoalan ini masih raemerlukan penyelidikan yang lebih mendalam. Kami telah mengadakan peninjauan ke „ kuburan nyamplong “, dimana Adipoday dimakamkan, demikian pula kekuburan Jokotole, tetapi kedua tempat yang dianggap keramat oleh rakyat itu, tidak menunjukkan bentuk kuburan zaman Jokotole. Kemungkinan besar bentuk kuburan yang lama telah diganti sama sekali dengan bentuk kuburan zaman sekarang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33

Adipoday dipulau Sepudi.

Adipoday (ayah dari Jokotole) menjumpai Puteri Kuning (Ibu Jokotole) di Sumenep untuk diajak ke Sepudi. Waktu itu di Sepudi diperintah kakek dari Jokotole ialah Panembahan Blingi (Wlingi). Setelah beliau meninggal dunia, Adipoday menggantikan ayahnya dengan bergelar Penembahan Wiroakromo, menjalankan pemerintahan disemua kepulauan disekitar Sepudi. Panembahan ini terkenal sudah memeluk agama Islam, siang dan malam suka memegang tasbeh da­ri buah pohon nyamplong. Karena itu banyaklah orang dianjurkan menanam pohon nyamplong tersebut. Keraton yang ia tempati, disebut orang desa Nyamplong.

Adipoday juga meninggal ditempat itu dan kuburannya disebut Asta Njamplong, jang hingga sekarang masih juga banyak dikunjungi orang untuk berziarah.

Diceriterakannya bahwa Adipoday. memang menjalankan pemerintahan sangat bijaksana dan apa yang mendjadi cita -citanja dapat direalisir dengan baik. Pohon nyamplong yang dianjurkan untuk ditanam ternyata kayunya sangat baik untuk didjadikan alat- alat perahu. Pulau Sepudi sejak dahulu terkenal pula dengan sapinya. Sapi kerapan yang dilombakan di Madura, yang menang pada umumnya berasal dari Sepudi. Setiap tahun pulau Sepudi mengeluarkan sapi begitu banyak, yang kelihatannya ti­dak seimbang dengan keadaan dan luasnya pulau tersebut. Menurut kepercayaan orang, keadaan demikian itu disebabkan karena cara – cara Adipodaj memelihara ternak itu tetap tertanam dalam hati sanubari rakjat dan rakjat tidak berani merobahnya. Petunjuk- Petunjuk Adipoday da­lam pemeliharaan ternak dan pertanian dianggap mempunyai kekuatan magis untuk diikutinya. Pelanggaran dianggap akan menimbulkan bahaya. Juga menjadi kebiasaan rakyat Sepudi, jika ada wabah penyakit menyerang penduduk disana, mereka mengeluarkan alat – alat peninggalan Adipoday (Tjalo’, kodi dsb.nja) untuk diarak, guna menolak adanja wabah penjakit tersebut.

Keadaan pulau Kangean.

Pulau lain jang perlu disebut disini ialah pulau Kangean. Pulau ini juga sudah terkenal sedjak zaman Madjapahit. Prapanca dalam kitabnya Nagara-Kertagama menulis sebagai berikut :

Sjair 15 (2).

Kunang tekang nusa Madhura tanami lwir parapuri ir denjan tunggal mwang Yamadharani rakwekana dengu………………………

Sjair 14 (5). Ingkang sakasanusa Makasar Butun Bangawi Kuni Ggaliyao mwang i (ing) Salaya Sumba Solot muar………………………

Djadi pulau Sepudi pada zaman Madjapahit disebut Ggaliyao. Dipulau ini pada zaman itu sudah ditempatkan seorang Adipati. Semula pu­lau tersebut adalah tempat pembuangan orang – orang jang mendapat hukuman berat dari raja. Tetapi karena tanahnja subur (sawah, ladang) dan banyaknya penghasilan yang didapat dari lautan (ikan, akar bahar dsb. nya) beserta hasil hutannya, maka lambat laun pulau itu menjadi pusat perdagangan dan banyak orang- orang dari Sumenep dan dari daerah lain yang menetap di Kangean.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 12-13

Ke’ Lesap

Diceriterakan bahwa Pak Lesap adalah putera Madura keturunan Panembahan Cakraningrat dengan isteri selir; karena itu pada umumnya ia kurang mendapat kedudukan kalau dibandingkan dengan putera-puteranya dari isteri Padmi. Pada suatu waktu ia (Lesap) diberi tahu oleh ibunya, siapa sebenarnja ayahnya.

Sebagai seorang pemuda, ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan macam – macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa digunung-gunung dan dikuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa digunung Geger (di Bangkalan) sampai cukup lamanya. Sekembalinya dari bertapa tersebut, ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama ia menjadi dukun untuk menjyembuhkan macam – macampenyakit.

Hal itu terdengar oleh raja Bangkalan, lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tetap tinggal dikota Bangkalan, dengan diberinya rumah didesa Pejagan.

Selain dari pada itu Raja djuga mengizinkan ia menjalankan praktek sebagai dukun, ialah memberinja obat- obat  kepada siapapun yang menderita sakit. Meskipun sudah mendapat kehormatan dan penghargaan semacam itu Ke’Lesap masih merasa tidak puas, karena ia merasa selalu diawasi oleh Raja. Yang tersembunyi dibalik itu, ia rupanya mempunyai ambisi untuk memegang Pemerintahan di Madura. Karena itu Ke’Lesap meninggalkan kota Bangkalan, terus menuju ketimur dan akhirnya ia sam­pai digua gunung Pajudan “didaerah Guluk-Guluk. Digua itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.

Nama Ke’ Lesap makin lama makin terkenal.

Diceriterakan bahwa Ke’ Lesap memiliki sebuah golok dan dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya. Kare­na kesaktian – kesaktian yang ia miliki, ia makin lama makin menjadi terkenal sam­pai diseluruh pelosok Madura.

Akhirnja Ke’ Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri, bahwa ia sudah cukup mampu untuk mulai mengobarkan api pemberontakan. Keahlian dan kemasyurannya, banyak membawa simpati kepada rakyat, sehingga pa­da saat ia turun dari pertapaannya (Gunung Payudan) dengan sangat mudah ia dapat menaklukkan desa- desa yang ia datangi. Pemberontakan Ke’ Lesap mulai dari timur.

Dengan bantuan pengikut – pengikutnja, Ke’ Lesap mulai menyerang kerajaan Sumenep. Pertempuran terjadi dimana-mana, dan tak lama kemudian, Sumenep dapat diduduki. Pangeran Tjokronegoro IV (Raden Alza), sebagai Bupati Sumenep merasa sangat ketakutan dan ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan ia melaporkan adanya pemberontakan tersebut kepada Kompeni.

Setelah keraton Sumenep diduduki, Pak Lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan, ialah Bluto, Prenduan, Kadura dan seterusnya. Ditempat-tempat dimana ia lalui, disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus mereka menggabungkan diri masuk pasukan pemberontak. Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan, karena pada waktu itu Bupati Pamekasan yang bernama Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada ditempat, ia sedang bepergian ke Semarang.

Ke’ Lesap melawan Adikoro IV.

Adikoro IV adalah menantu dari Cakraningrat V di Bangkalan. Sewaktu Adikoro IV kembali dari Semarang dan singgah di Bangkalan, ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke’ Lesap melancarkan pemberontakan. Setelah mendengar peristiwa itu, Adikoro IV terus minta diri kepada ayah mertuanya untuk terus berangkat berperang menghadapi Ke’ Lesap. Ia sa­ngat marah, karena memikirkan bagaimana nasib rakyat Pamekasan yang tentunya kocar-kacir, karena ditinggalkan pemimpinnya. Adikoro IV naik kuda dari Bangkalan menuju Blega. Di Blega ia berjumpa dengan orang- orang dari Pamekasan yang dipimpin oleh Wongsodirejo, Penghulu Bagandan. Dengan diiringi oleh pengikut pengikutnya yang masih setia, Adikoro IV terus menuju ke Sampang. Dikota ini ia berhenti un­tuk istirahat sebentar. Pada saat makan siang datanglah seorang utusan dari Pak Lesap dengan mcmbawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Adikoro IV sangat marah dan nasinya tidak terus dimakan, bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang – orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Pak Lesap. Penghulu Bagandan tidak menyetujui untuk berangkat segera, karena hari itu adalah hari naas dan. menasehatkan untuk berangkat besok paginya saja. Tetapi Adikoro IV tidak sabar untuk menunggu semalam saja. Ia menanyakan lagi, siapa yang berani mati bersama-sama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut, bahwa dirinyalah yang per-tama bersedia untuk mati bersama-sama pemimpinnja. Karena itu, tanpa di-tunda- tundalagi, Adikoro IV berangkat dengan diikuti oleh Penghulu Bagandan dan pengiring-pengiringnya menuju ke Pamekasan.

Adikoro IV beserta pasukannya mengamuk sedemikian rupa, sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai di Pegantenan, daerah Pamekasan Akan tetapi, karena pasukan Adikoro IV jumlahnya hanya sedikit dan ia sendiri sudah sangat lelah, maka tidak lama kemudian perutnya kena senjata dan ususnya sampai keluar. Tetapi semangatnya tidak padam, ia melilitkan ususnya kepada tangkai kerisnya dan ia terus mengamuk dengan tombaknya. Akhirnya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh meninggal dunia. Demikianlah pula Penghulu Bagandan gugur dimedan pertempuran bersama-sama Adikoro IV.

Pertempuran di Bangkalan dan berakhirnya pemberontakan Pak Lesap (tahun 1750). Setelah Adikoro IV dapat dikalahkan, maka Pak Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Pertempuran dimulai sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan yang cukup hebat. Tetapi lama ke- lamaan pasukan kerajaan Bangkalan dapat dipukul mundur. Bantuan dari Kompeni didatangkan dari Surabaya. Pertempuran terus berkobar kembali.

Bantuan Kompenipun tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula. Karena Cakraningrat V merasa hampir kalah, ia mengungsi ke Melaja, sedangkan Benteng dipertahankan oleh pasukan Kompeni. Waktu itu Pak Lesap membuat pesanggrahan didesa Tonjung. Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Pak Lesap dikirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih, yang maksudnya, bahwa Bangkalan akan menyerah. Tipu muslihat tersebut keesokan harinya dijalankan. Seorang perempuan ronggeng diberinya pakaian keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus dikirimkan kepada Pak Lesap. Pak Lesap menerima pemberian itu dan wanita itu dibawa kepesanggrahannya, dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah. Pada waktu Cakraningrat V dengan pengikutnja sedang menunggu reaksi Pak Lesap dengan dikiriminya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba – tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama SiNenggolo gemetar dan bersinar seolah-olah  mengeluarkan api. Cakraningrat bangkit dari duduknya dan terus mengabil tombak itu.

Ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Pak Lesap.

Sesampainya didesa Tonjung, Pak Lesap sangat terkejut, karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba – tiba. Dengan tidak menunggu lama lagi, Cakraningrat V mendatangi pemimpin pemberontak itu dan terus tombaknya ditancapkan. Pak Lesap, pada seketika itu pula rebah dan te­rus meninggal. Rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya bersama – sama berteriak : „Bangka-la’an”, jang artinja „sudah matilah”. Karena itu sebagian orang Bangkalan mengatakan, bahwa nama Bang­kalan asalnja dari kalimat itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33

Adipati Sendang sedayu

 Ki Pitrang Bergelar Adipati Sendang sedayu, Serat Kuno Babad Majapahit dan Para Wali (33)

Pangeran Sendang dan istri pergi untuk menempati daerah kekuasaan pemberian Adipati Blambangan. Warga bersukacita menyambutnya bak pahlawan perang. Upacara penyambutan di alun-alun pun digelar dengan mementaskan berbagai kesenian rakyat.

ADA sebuah tamsil aneh yang terjadi dalam kisah Empu Supa, yakni tidak selamanya orang berbuat salah berbuah petaka. Setidaknya itulah yang ter- sirat dalam Serat Babat Majapahit dan Para Wali dalam cerita Empu Supa saat mencuri Keris Sengkelat dari Adipati Blambangan. Dengan kelicikannya, dirinya bisa nyusup ke dalam kerajaan di ujung timur Pulau Jawa itu tanpa mengundang syakwasangka dari para prajurit Blam­bangan.

Bahkan sang penguasa sang Adipati Blambangan pun bisa dikelabuhinya dengan cara dibuatkan Keris Sengkelat palsu, untuk selanjutnya yang asli diambilnya. Anehnya, sang Adipati tak merasa kalau dirinya dikelabuhi oleh seorang empu sakti itu. Malah sebagai bebungah, Sang Adipati memberi Empu Supa gelar baru bernama Ki Pitrang dan menjabat sebagai Pangeran Sendang, yang artinya penguasa tunggal di tlatah Sendhangsedayu.

Selanjutnya Ki Pitrang dikawinkan dengan putri sang Adipati, bernama Sugiyah. Namun jabatan dan istri itu sebenarnya diraihnya tanpa harus bersusah payah. Itu semua dilaluinya seperti sebuah mimpi dan hanya membalikkan telapak tangan. Inilah yang membuat hati Empu Supa menjadi gundah gulana. Apalagi ia adalah seorang empu sehingga dirinya harus bersikap kesatria. Tetapi apa yang dilakukannya di Blam­bangan terasa sebagai tipudaya sehingga sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Nah, dalam suasana pikiran yang gamang, ia terlihat merenung dan berkata dalam hati. “Kalau saya berkata jujur kepada Adipati Blambangan tentang semuanya, pastinya aku akan mendapatkan hukuman,” resah hati Empu Supa.

Semalaman ia terpekur dalam galau. Hanya seorang diri dalam kesunyian alam. Malam pun makin cepat berlari. Bulan sabit di langit menampakkan sinarnya yang temaram, isyaratkan bari segera beranjak pagi. Empu Supa tetap duduk bersila di tikar usang, depan surau tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru, Sendangsedhayu.

Tiba-tiba seekor burung hantu melintas di atas kepalanya. Suara kepak sayapnya membuyarkan lamunananya. “Hemm, isyarat apa ini,” gumam Empu Supa sembari mendongak ke atas. Na­mun burung itu sudah hilang di keremangan malam. Mata Empu Supa hanya bisa menangkap goyangan dahan pohon so- nokeling yang tak jauh dari tempatnya bersila. Dirinya meyakini, jika ada bu­rung hantu atau burung gagak terbang di tengah malam, akan terjadi sesuatu di luar jangkauan nalar manusia.

Sadar dirinya berada dalam bahaya, Empu Supa berdiri dari duduknya, berjalan ke arah surau, bersiap menjalankan salat malam. Usai salat, ahli pembuat pusaka ini bertafakur, mencoba kembali mengurai perjalanan hidupnya hingga dirinya sampai berada di Sendhangse­dayu. Setelah resmi mempersunting Sugi­yah, nama samarannya Ki Pitrang oleh Adipati Blambangan diganti dengan Pangeran Sendhang. Setelah itu, kedua mempelai, dari Blambangan menuju ke Sendhangsedayu. Nah, demi mendengar akan segera datang pangeran sarimbit (berserta istri) masyarakat desa di lereng gunung itu tak putus membicarakannya siang malam.

Di sawah, pos ronda, sampai di pasar-pasar. Mereka percaya, sang pan­geran akan memerintah wilayah desa yang subur itu dengan penuh kearifan. Oleh sebab itu, kedatangan Pangeran Sendhang dan istrinya benar-benar di- subyo-subyo (dielu-elukan) oleh pen- duduk.

Di setiap pojok kampung digelar pertunjukan kesenian hingga suasana kawasan Pedukuhan Sedhayu menjadi rejo (ramai). Melihat antusias warga yang begitu tinggi, hati Pangeran Sen­dang tak kuasa menyembunyikan rasa bahagiannya, demikian halnya dengan sang istri, Sugiyah. Ketika pesta telah usai dan masyarakat kembali pada kehidupan aslinya pergi ke sawah, pasar, dan ke surau ketika menjelang beduk magrib, hati Pangeran Sendhang kem­bali gundah.

Sebenarnya hati kecilnya tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Namun ia tak kuasa menolak, apalagi mangkir dengan cara tinggal glanggang colong playu (memilih pergi meninggalkan tanggung jawab besar yang dibebankan kepadanya). Sekali lagi Empu Supa tak kuasa menjawabnya. Sebagai empu kondang dirinya merasa tak bisa men­gurai benang kusut yang sedang membelit pikirannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: EDY WINARTO: posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 32