Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah­wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua­tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po­leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di­tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men­jadi ramai karena sering kedatangan tamu tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa­ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu­ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut­nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka­rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceriteraceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.1-4

Legenda Rawa Pening, Kabupaten Tulungagung

Pada zaman dahulu Tulun­gagung merupakan sebuah daerah yang kerapkali dilanda banjir, bahkan sebelum berganti nama menjadi Tulunga­gung, nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya masih berupa rawa-rawa yang teramat luas.

Salah satu rawa yang terkenal di Tulungagung adalah Rawa Pening. Konon wilayah Rawa Pening ini berada tidak jauh dari Gua Song Gentong. Bicara tentang Rawa Pening tentunya tidak terlepas den­gan pusaka Kabupaten Tulun­gagung yang bernama Tombak Kiai Upas. Berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Tulungagung terjadinya Rawa Pening ini disebabkan karena ada seorang anak kecil yang merupakan jelmaan dari naga baru klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara beru­pa barang siapa yang mampu mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Sebenarnya sayembara tersebut diadakan oleh si anak kecil yang merupakan jelmaan dari Naga Baru Klinthing tadi yang merasa jengkel karena ulah warga sekitar tidak ada yang mau memberinya makan. Dari sekian banyak warga yang mau memberinya bantuan berupa makanan hanyalah seorang nenek-nenek.

Setelah selesai menghabiskan makanan yang diberikan oleh nenek-nenek tersebut si bocah kecil tadi berpesan agar nenek tersebut menyediakan lesung dan entong kayu jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Mendengar permintaan anakkecil tersebut sebenarnya ne­nek tua itu merasa bingung karena untuk apa lesung dan entong kayu itu sebab pada waktu itu masih musim kemarau. Namun karena menuruti apa kata hatinya nenek terse­but akhirnya menyiapkan apa saja yang diminta oleh anak kecil tadi.

Sesudah mewanti-wanti ne­nek yang membantunya tadi si anak jelmaan dari Baru Klinting tadi bergegas ke lapagan desa untuk memberi pelajaran war­ga desa yang sombong dan tidak peduli terhadap orang lain. Saat di lapangan tadi anak kecil tadi menancapkan sebatang lidi dan berujar barang siapa yang mampu mencabut lidi tersebut, maka dia boleh mengambil nyawanya. Namun apabila orang yang bersangkutan tidak mampu mencabut lidi, maka orang tersebut haruslah memberikan makanan kepadanya. Akhirnya makanan kian menumpuk banyak kare­na tidak ada satu pun yang mampu mencabutnya. Karena rnelihat banyak kegagalan warga pun merasa marah dan meminta kepada anak kecil tadi untuk mencabut lidi terse­but.

Sebenarnya sebelum men­cabut lidi tersebut anak kecil tadi telah berkata bahwa akan terjadi sesuatuyang buruk apa­bila dia mencabut lidi tersebut. Namun karena amarah telah merasuk di hati para warga, maka tidak ada jalan lain bagi dia selain mencabut lidi tersebut. Ketika lidi tercabut muncullah air mancur pada tempat lidi ditancapkan tadi yang kian lama kian membesar.

Karena tidak mepersiapan akan datangnya banjir, maka semua warga desa tadi meninggal karena tenggelam. Namu kesekian banyak penduduk desa tadi yang selamat adalah nenek tua yang membantu si Baru Klinting nenek tersebut selamat dengan menggunakan lesung sebagai perahunya dan entong kayu sebagai pengayuhnya seperti apa ya katakan oleh Baru Klintin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ZULY  posmo, 740-13 Agustus 2013

 

Sarip Tambakyoso

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Wijaya Kusuma Malang) Pimpinan Pelda Mulyono/Supriyadi

Sarip Tambakyoso sedang dikejar-kejar polisi dan lurah pemerintahan Belanda dengan tembakan-tembakan. Tetapi Sarip menantang mereka agar semua polisi dan lurah penjajah menghabiskan peluru untuk menembakinya karena Sarip mengetahui bahwa dirinya tak bakal mati ditembak dan tak dapat ditangkap. Sementara itu, Lurah Noto yang merasa sebagai jago penja­jah diserahi tanggung jawab menagih pajak kepada Mbok Sarip yang sudah menunggak selama tiga tahun.

Mbok Sarip menimbang-nimbang perasaannya terhadap anaknya yang tertua bernama Mualim dan adiknya bernama Sarip Tambakyoso. Ibarat telur satu sarang, setelah menetas berbeda warnanya. Sarip selalu menjadi pergunjingan tetangga dan masyarakat karena perbuatannya yang suka mencuri, merampok, dan membegal. Sedangkan Mualim rajin salat, pergi ke langgar, dan tekun mengaji agama di pondok. Tetapi, Mbok Sarip lebih cinta kepada Sarip daripada Mualim. 

Datanglah Lurah Noto menagih pajak kepada Mbok Sarip, tetapi Mbok Sarip tak dapat membayarnya pada hari itu. Akibatnya, Mbok Sarip dipukuli, walaupun usianya sudah tua dan minta waktu membayar sampai kedatangan Sarip. Tiba-tiba datanglah Sarip dan ketika melihat Mbok Sarip berlumuran darah, Sarip naik darah dan langsung saja Lurah Noto dibunuhnya dengan pisau belati dengan alasan bahwa Lurah Nato adalah lurah desa Gedangan yang tidak berhak menarik pajak di desa Tambakyoso, lagi pula telah berani menyiksa ibunya yang sudah tua itu. Setelah membunuh Lurah Noto tersebut Sarip menantang semua lurah dan polisi pemerintahan Belanda di seluruh Kabupaten Sidoarjo agar menghabiskan peluru untuk menembaki dirinya. 

Sarip tiba di rumah Mualim dengan ibunya yang babak belur dan berlu­muran darah. Mualim yang hanya pandai bicara tetapi tak banyak berbuat, serta-merta mencela Sarip yang tak waspada menjaga ibunya. Tetapi, setelah diceritakan Sarip bahwa Lurah Noto telah dibunuhnya, juga mencela perbuatan Sarip bahwa membunuh itu berdosa. Ditambah pula serentetan nasihat agar Sarip berhenti mencuri, merampok, dan membegal; dan mengikuti jejaknya, yaitu rajin salat, pergi ke langgar, dan mengaji di pondok agar kelak, jika mati, masuk surga. Sarip yang jengkel terhadap kakaknya, yang ternyata juga kikir terhadap ibunya itu, menjawabnya bahwa dia biarlah menjadi ma­ling dan menjadi penghuni neraka, sedangkan kakaknya biarlah tekun beribadat dan kelak, jika mati masuk surga. Sarip pun pergi meninggalkan kakak dan mboknya itu untuk merampok orang kaya.

Seorang kusir delman bernama Paidi adalah seorang pendekar, yang hari itu merasa paling pendekar karena telah dapat mengalahkan Sarip dengan memukulkan tongkat serandang,yaitu kayu penumpang delman dan membuang mayat Sarip ke sungai. Paidi tahu pula bahwa dirinya juga orang kepercayaan Pak Haji, ayah gadis cantik bernama Ning Saropah, dan sadar pula bahwa dirinya adalah anak kyai (ulama) di daerah Dorosmo. Hari itu Paidi ditugasi oleh majikannya untuk menjemput Ning Saropah yang sedang berkeliling menagih hutang dari seorang yang menggunakan uang ayahnya. Setelah berjumpa dengan Ning Saropah, kusir delman Paidi minta izin untuk memberi makan kudanya dan minta maaf terlambat menjemput karena lebih dahulu ia menjemput teledek (wanita penari harga murahan di desa).

Lalu datanglah Sarip, yang setelah menggoda Ning Saropah, segera meminta uang dan hendak merampas gelang perhiasannya. Tampillah Paidi pelindung Ning Saropah. Terjadilah perkelahian seru dan Sarip, setelah terkena pukulan tongkat serandang dari teras kayu kulintang (meranggai) yang telah lama direncam, seketika itu juga mati. Mayatnya dibuang ke sungai oleh Paidi dan sesudah itu mengantar Ning Saropah pulang. 

Ketika Mbok Sarip sedang mencuci pakaian istri Mualim di sungai. Tampaklah mayat Sarip yang sangat dicintainya itu terapung-apung di sungai. Dengan sekali panggil saja sambil mengucap “Sarip, belum waktunya kamu buyung”, maka seketika itu juga Sarip hidup kembali. Maka berceritalah ibunya itu bahwa dahulu ketika Sarip masih dalam kandungannya, ayahnya yang bertapa berpesan jika Sarip lahir supaya dijatuhkan dari para-para yang di bawahnya diletakkan tumbak sapu lidi yang sudah usang sebanyak seribu buah. Lagi pula, bayi Sarip harus disuapi tanah merah separuh dan separuh lagi dimakan ibunya. Dengan begitu, selama ibunya masih hidup, Sarip Tambakyoso tak akan bisa mati asalkan nama Sarip disebut oleh Mbok Sarip. Itulah sebabnya Sarip Tambakyoso selalu berteriak mengumandangkan diri­nya sebagai pendekar tanpa guru. 

Sekarang Sarip yang telah hidup kembali menaruh dendam dan mengancam Paidi untuk dilempari perutnya dengan pisau belati. Sarip berjumpa de­ngan seorang gadis bernama Karsinah, anak pemilik warung kopi, yang sebenarnya kekasih Paidi tetapi juga intim dengan Sarip. Sarip berpesan agar disampaikan kepada Paidi bahwa Sarip akan mengeluarkan isi perut Paidi dengan pisau belatinya. Tibalah saatnya Paidi datang ke warung kopi Pak Kacung, ayah gadis Karsinah. Pesan Sarip disampaikan, tetapi Paidi terheran-heran karena Sarip telah mati dan mayatnya dilempar ke sungai. Tiba-tiba muncullah Sarip yang segera duduk menghadapi Paidi di warung kopi. Setelah saling menyindir dan menantang, kedua pendekar itu berkelahi lagi dan kali ini perut Paidi berhasil ditusuk pisau belati dan mati seketika itu juga. 

Kini oleh pihak penjajah dilakukan pengejaran dan penggerebegan dilakukan terhadap Sarip Tambakyoso dengan mengerahkan polisi dan para lurah desa ke rumah Mbok Sarip. Mbok Sarip ditangkap dan disuruh mengaku menunjukkan rahasia kesaktian Sarip Tambakyoso itu. Mbok Sarip yang tak tahan lagi akan siksaan, akhirnya membukakan rahasia kesaktian Sarip, yaitu harus ditembak dengan peluru perak atau emas. 

Dalam pengejaran, setiap kali Sarip kena tembak terdengar suara Mbok Sarip memanggil nama Sarip, dan Sarip pun hidup dan bangkit melawan serta menyerang musuh-musuhnya. Diketahuilah tentang rahasia Sarip yang sebenarnya dan Mbok Sarip pun ditangkap serta dibungkam mulutnya. Maka Sarip Tambakyoso pun mati terkena tembakan peluru penjajah Belanda.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Banteng Surontanu (Joko Sendhang)

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Karta Jaya, Karangmojo Jombang)
Pimpinan S. Kartorejo

Dua jin bernama jin Kebobang dan jin Wilawuk ingin membalas dendam kepada musuhnya yaitu jin Kebo Kicak yang dahulu merintangi kedua jin tersebut untuk menjadi raja Majapahit. Dalam upaya membalas dendam ter­sebut, kedua jin itu masuk ke dalam perut banteng yang bertapak kaki emas. Dahulu, Kebo Kicak membuang batu besar ke dalam sungai Brantas sehingga mengganggu tempat tinggal jin Kebobang dan jin Wilawuk. 

Suatu ketika, seorang pemuda bernama Joko Sendhang sedang berburu di hutan raya. Ia bertemu dengan seekor banteng yang pandai berbicara. Banteng itu terus menyembah ingin mengabdi kepada Joko Sendhang. Ban­teng ini adalah banteng yang bertapak kaki emas yang bernama Banteng Tracak Kencana. Joko Sendhang menerima pengabdian Banteng dan bersumpah sehidup-semati. Sejak itu pula Joko Sendhang bernama Banteng Surantanu. Joko Sendhang alias Banteng Surontanu pulang bersama banteng kesayangannya menghadap neneknya,Ki Ageng Tarup alias Joko Tarub. Di hadapan neneknya ini, Joko Sendhang alias Banteng Surontanu yang sudah dewasa itu menanyakan asal-usulnya, siapa ayahnya, dan siapa ibunya. Ki Ageng Tarub tak dapat mengelak lagi dan menerangkan bahwa ibu Banteng Surontanu adalah Dewi Nawangsih putra putri Dewi Nawangwulan. Dewi Nawang Wulan ini dahulu adalah istri Joko Tarub. Sekarang Dewi Nawangsih, ibu Banteng Surontanu, berada di kahyangan untuk melengkapi jumlah bidadari supaya menjadi empat puluh empat. Ayah Banteng Surontanu adalah Pangeran Lembu Peteng yang berada di istana Majapahit. Banteng Surontanu boleh menyusul ayahnya, tetapi harus lebih dahulu berguru ke Tebu Ireng. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat diberikan oleh Ki Ageng Tarub kepada Ban­teng Surantanu supaya lebih terampil dalam pergaulan dengan orang-orang pandai. 

Di Tebu Ireng, Joko Sendhang (Banteng Surontanu) mendapat seorang guru bernama Kiyai Sumoyono. Suatu saat Tebu Ireng terkena penyakit besar. Penduduk banyak yang mati, sakit sore pagi mati, sakit pagi sore mati. Kiyai Sumoyono memanggil Banteng Surontanu dan mengatakan bahwa menurut bisikan gaib, wabah penyakit yang melanda bisa disembuhkan hanya dengan tetes darah Banteng Tracak Kencana. Banteng Surontanu tak dapat memenuhi permintaan gurunya untuk berkorban bagi kepentingan rakyat Tebu Ireng karena ia telah terikat sumpah dengan Banteng Tracak Kencana untuk sehidup semati. Oleh karena itu, Banteng Surontanu diusir dan tidak diakui lagi sebagai murid oleh Kiyai Sumoyono. 

Kiyai Sumoyono memanggil muridnya yang tersakti, yaitu Kebo Kicak yang menjadi Tumenggung di Desa Karang Kejambon, diperintahkan untuk menangkap dan menyembelih Banteng Tracak Kencana. Kebo Kicak menyanggupi permintaan gurunya karena tahu bahwa yang berada di perut Banteng Tracak Kencana adalah jin Kebobang dan jin Wilawuk, yaitu musuh besarnya sejak dahulu. Terjadilah perkelahian. Kedua murid seperguruan ini sama-sama saktinya dan satu persatu sekutu Banteng Surontanu maupun Kebo Kicak mati dalam perkelahian. Setiap kematian seorang sekutu menandai terjadinya nama suatu daerah di wilayah Tebu Ireng. Akhirnya perke­lahian terbuka satu lawan satu antara Kebo Kicak dan Banteng Surontanu. Banteng Surontanu dengan ilmu lari cepatnya dan Kebo Kicak dengan ilmu pembau (penciuman) yang sangat tajam bertarung mati-matian. Akhirnya kedua saudara seperguruan ini mati secara bersama-sama di sebuah telaga. Kiyai Sumoyono bersama rekan-rekannya Kiyai Pranggang memetik pelajaran dari kesalahan mendidik murid agar kelak tidak teijadi peristiwa

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Tari Barongan, Kabupaten Blitar

Tari Barongan Sebagai penolak marabahaya yang ditimbulkan letusan Gunung Kelud.

Selain Kethek Ogleng, masyarakat Blitar juga mengenal Tari Barongan sebagai kesenian pertunjukan yang lain. Pada dasarnya.Tari Barongan hampir sama den­gan yang ada pada kesenian Jaranan atau Kuda Lumping yang lain. Bedanya, jika dalam Jaranan tarian yang ada didominasi oleh penari yang membawa kuda- kudaan dari anyaman bambu, pada Barongan justru tarian ini yang paling mendominasi jalannya tarian secara keseluruhan. Barongan berasal dari Bahasa Jawa yang secara harfiah artinya hutan bambu, tarian ini disebut Barongan karena topeng yang digunakan pemain san­gat besar sehingga seperti hutan bambu berjalan. Bentuknya yang seperti hutan bambu ditambah permainannya yang sarat unsur mistik dipercaya masyarakat mampu menjadi pagar sehingga dapat menolak marabahaya yang ditimbulkan letusan Gunung Kelud.

Untuk tujuan ini, biasanya pertunjukan den­gan tari-tarian pembuka atau di tengah tarian, Mbah Warok, selaku pimpinan sekaligus tikoh spiritual kelompok penari mengajak para pemain dan penonton yang hadir untuk berdoa kepadaTuhan YME agar terhindarkan dari bahaya letu­san Gunung Kelud. Bagi masyarakat Blitar, Kediri,Tulungagung dan sekitarnya, sudah lazim dikenal bahwa Barongan selain berfungsi sebagai tarian pertunjukan untuk menghibur masyarakat juga dapat digu­nakan sebagai media spiritu­al guna memohon kepada TuhanYME agar terkabul segala hajat dan keinginan seperti menolak maraba­haya. »RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY , 11 -20 APRIL 2012

Gunung Kelud, Kabupaten Kediri

Arsip kelud-Gunung Kelud makin heboh, bukan, sebab akan meletus, tapi justru sebab akibat diperebutkan Pemkab Blitar dan Pemkab Kediri. Dalam legenda pun disebutkan jik.a gunung ini dibuat untukpenguasa Kediri, Dewi Kilisuci. Gunung Kelud yang sekarang telah diklaim menjadi milik Kabupaten Kediri, seperti membuktikan jika legenda Gunung Kelud dan Dewi Kilisuci adalah benar adanya. Konon, Gunung Kelud dibuat memang atas permintaan dan diperun­tukkan kepada Dewi Kilisuci, penguasa Kediri pada masa itu.

Dewi Kilisuci yang cantik jelita sebenarnya sudah bertekad tidak akan men­cari suami, sebab ia sudah memutuskan untuk hidup selibat alias tidak menikah sepanjang hidupnya. Namun sang dewi dilamar kakak-beradik, Mahesasura dan Lembusura untuk dijadikan istrinya.

 

Ceritanya, Dewi Kilisuci yang cantik jelita dilamar kakak-beradik, Mahesasura dan Lembusura untuk dijadikan istrinya. Dewi Kilisuci sebenarnya sudah bertekad tidak akan men­cari suami, sebab ia sudah memutuskan untuk hidup selibat alias tidak menikah sepanjang hidupnya.upanya, pinangan Mahesasura dan Lembusura tidak berani ditolak secara mentah-mentah oleh wanita ini. la mengukur kekuatanya bahwa Kediri akan diserang kakak beradik yang sakti dan memiliki kekuatan bala tentara yang banyak sekali ini..Siasat pun dilakukan untuk menolak lamaran itu secara halus. Kilisuci berse- dia dijadikan istri, namun harus ada syaratnya, yakni membuatkan sebuah sumur dengan yang tiada duanya.

Sebab, selain dalam dan besar sekali, dua sumur itu harus menimbulkan bau wangi dan satu lagi berbau amis.Yang tak kalah susah untuk dilakukan, pekerjaan itu harus sudah selesai hanya dalam waktu semalam. Dengan kesaktiannya, kakak-beradik ini rupanya menyanggupi. Mereka men­cari lokasi yang jauh sesuai yang diinginkan Kilisuci. Tak menunggu waktu lama, mereka langsung bekerja dengan dibantu para mahk- luk halus. Menjelang pagi, Lembusura dan Mahesasura tinggal sedikit lagi akan menyelesaikan pekerjaannya. Kilisuci yang terus memantau perkembangan sumur tersebut, mulai panik dan mencari akal agar gagal dijadikan istri oleh mereka

Pagi harinya, pekerjaan itu selesai dan muncul di permukaan sumur yang luar biasa dalam dan besarnya. Saat mengecek sumur tersebut, Kilisuci menjatuhkan perhiasan yang dipakainya ke dalam sumur. Kakak beradik itu lalu mengambilnya, namun sebelum kembali ke per­mukaan, Kilisuci dan para pengikutnya yang jumlahnya banyak rupanya sudah menutup galian sumur itu setinggi-tingginya sampai membentuk sebuah gunung yang kelak bernama Gunung Kelud.

Konon, letusan Kelud terjadi akibat kemarahan Mahesasura dan Lembusura yang meski tidak bisa keluar namun masih hidup di alam sana untuk membalas den- damnya. Meski dalam legenda disebutkan jika Gunung Kelud diperuntukkan Dewi Kilisuci, namun menurut Pemerhati Budaya asal Kediri, Nanang Setyadjid, jika dilogika akal, sumur yang sedianya dijadikan * kuburan untuk Mahesasura dan Lembusura itu lokasinya pasti berada di luar Kediri. Sebab, sebagai seorang pen­guasa, tentu Kilisuci tak ingin wilayahnya dikotori dengan kuburan Mahesasura dan Lembusura yang merupakan musuhnya. 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY , 11 -20 APRIL 2012

 

Eyang Kumitir penguasa gaib Gunung Kelud, Kabupaten Blitar

Arsip kelud-.Eyang Kumitir adalah penguasa gaib Gunung Kelud yang diyakini masyarakat Kabupaten Blitar, khususnya yang beribadah di Pura Dharma Bhakti yang berada di Desa Selorok, Kecamatan Gerung. Mereka banyak yang mempercayai jika Gunung Kelud dijaga oleh arwah Eyang Kumitir sebagai mahkluk tak kasat mata, yang mbaurekso di Gunung Kelud.

Konon, Eyang Kumitir dipercaya sebagai pendiri pura sekaligus pembabat alas wilayah ini. Di akhir hidupnya ia memutuskan bertapa di puncak Kelud hingga jasadnya muksa atau menghilang karena kesempurnaan ilmu yang dimiliki dan dijalaninya.

Meski demikian, masyarakat percaya bila Kelud akan meletus, Eyang Kumitir akan datang ke pura dan menampakkan diri dalam wujud kakek tua berambut dan berjenggot putih serta berjubah untuk untuk mengingatkan warga akan bahaya serta menyuruh warga memasang janur (daun kelapa muda) di pintu rumahnya masing-masing sebagai penolak bala.

Pada aktivitas Kelud November 2007 silam, berbeda dengan masyarakat lain yang kebingungan, masyarakat di sini terkesan tenang-tenang saja karena yakin bahwa Kelud tak akan meletus. Keyakinan ini muncul karena Eyang Kumitir belum memberi petunjuk bahwa Kelud akan meletus pada waktu itu.

Tentang perebutan kepemilikan Gunung Kelud, masyarakat juga menyakini bahwa Eyang Kumitir suatu saat akan muncul untuk memberi semacam petunjuk ten­tang siapa yang lebih berhak atas status. Dengan bukti-bukti kenyataan yang ada, harus diakui bahwa sejarah dan budaya yang lahir dan berkembang di Kabupaten Blitar sangat dipengaruhi oleh keberadaan Gunung Kelud yang berdiri tegak memayungi dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Pengaruh keberadan Gunung Kelud juga dapat ditemui pada berbagai kesenian pertunjukan rakyat yang memiliki ciri khas tertentu sehingga membedakan dengan kesenian dengan kesenian serupa yang ada di daerah-daerah lain. Ciri khas tersebut adalah dimasukkannya unsur magis ke dalam sebuah pertunjukan sehingga salah satu atau beberapa orang mengalami trance atau kesurupan.

Seni pertunjukan perta- ma yang lazim digelar masyarakat Blitar pada zaman dulu adalah tarian Kethek Ogleng atau Kera Gila yang menceritakan ten­tang Pani Putro yang tengah berwujud kera yang sedang kasmaran dengan seorang putri raja bernama Rara Tompe.

Pertunjukan ini sebenarnya lebih dikenal sebagai kesenian khas Kabupaten Pacitan tetapi dikenal juga hingga ke Blitar, Kediri, Malang, Jombang, Solo dan Jogjakarta. Saat pertun- jukkan berlangsung, pemain yang berperan sebagai kethek atau kera akan men­galami kesurupan dan terkadang juga diikuti beberapa pemain lain dan seringkali juga penonton.

Pada zaman dulu, saat Gunung Kelud mengalami kenaikan aktivitas dan diprediksi akan meletus, masyarakat Blitar yang ting- gal di lereng-lereng Kelud, baik secara pribadi maupun secara kelompok akan menyewa para seniman ini untuk menggelar pertun- jukakn ini, karena konon para danyang yang menguasai Kelud menyukai pertunjukkan ini sehingga mereka tak lagi menggerakkan perut Kelud untuk dimuntahkan sehingga letusan Kelud dapat dicegah.

Setidaknya, meski Kelud meletus, jiwa raga beserta segenap harta benda yang mereka miliki akan terhindar dari semburan material letusan yang berupa abu, pasir , kerikil dan batu serta lahar, baik panas maupun lahar dingin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY , 11 -20 APRIL 2012

Mitologi Candi Pari, Kabupaten Sidoarjo

Mitologi Candi PariSalah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M ). Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. 

Sementara bangunan  induknya terletak di sisi timur area. Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang. Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persinggahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.

Sedangkan di versi kedua, Candi Pari menjadi simbol pembangkangan rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba. Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur.

Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu.

Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.

Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan. Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggap pembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa.

Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahit bergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelah selatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernah ditemukan. Untuk mengenang suami istri yang berjasa pada daerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukan Padi dan Candi Sumur di daerah itu.

Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkan versi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagi perlawanan terhadap penguasa. Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masa lampau. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.

Sarip Tambak Oso, Kabupaten Sidoarjo

“Sebuah Mitologi Sarip Tambak Oso”

Cerita ini akrab di dengar di Sidoarjo dan juga di panggung Ludruk. Lakon Sarip Tambak Oso merupakan sebuah epos yang lahir dan pernah terjadi di Sidoarjo, tepatnya di desa Tambak Oso (sekarang di sebut Tambak Sawah, Kecamatan Waru). 

Dilihat dari beberapa tokoh sentral dalam cerita, diperkirakan peristiwa ini terjadi di masa Sidoarjo sudah berbentuk Kabupaten. Perlawanan Sarip –seperti halnya dengan Jaka Sambang dan Untung Surapati- lebih sering dijumpai di panggungpanggung ludruk. Hal ini bisa menjadi analisa tersendiri jika melihat dari batasan tentang seni panggung di jaman itu.

Batasan itu lahir dari kraton, antara seni yang “adiluhung” yang hanya pantas dipertontonkan di kraton dengan seni rakyat yang berasal dari rakyat biasa. Dalam hal ini, begitu juga dengan halnya ludruk, Sarip Tambak Oso, Jaka Sambang dan Untung Surapati lahir dari orang kebanyakan. Sehingga sepak terjang ke tiga tokoh pembangkang diatas lebih sering digambarkan di panggung Ludruk daripada Ketoprak yang adiluhung itu. Bisa juga dikatakan ketiga tokoh ini merupakan “doa orang biasa” yang menjawab realita timpang pada saat itu, dimana penguasa Pribumi (kraton Solo) lebih berpihak pada penguasa asing daripada kepentingan kawula nya.

Sarip adalah anak seorang janda miskin di desa Tambak Oso. Dia dikenal sebagai pemuda Bengal, kecu, perampok dan seorang maling yang ulung. Keberadaan anak janda ini membuat orang-orang kaya pelit tidak bisa tidur nyenyak. Karena merekalah yang jadi target operasi pencurian Sarip.

Dan Sarip bukanlah maling yang pilih-pilih. Barang apapun yang bisa dijadikan uang pasti ia ambil. Sementara itu sikap masyarakat miskin di sekitarnya cenderung mendiamkan perilaku Sarip, bahkan melindunginya.

Bisa di tebak  masyarakat bersikap seperti itu karena Sarip selalu membagibagikan hasil curiannya kepada masyarakat. Karenanya Sarip juga dikenal sebagai maling budiman. Tetapi tidak demikan halnya dengan pemerintah yang menganggap Sarip tidak lebih sebagai seorang kriminil yang meresahkan. Mulai saat itu pihak keamanan berupaya untuk menangkap maling budiman itu.

Pada suatau hari Sarip mengunjungi seorang saudaranya untuk membicarakan pembagian harta warisan. Ia mempertanyakan hak warisnya atas sebidang tanah tambak dari bapaknya. Saudaranya ini adalah seorang yang curang. Walaupun ia orang kaya tetapi tidak mau memberikan tambak yang menjadi hak Sarip.

Masalah ini menimbulkan perselisihan antara mereka berdua. Bermula dari pertengkaran mulut, perselisihan ini menjadi perkelahian yang berakhir dengan kemenangan Sarip setelah menggebuki saudaranya sampai tersungkur. Si korban tidak terima atas perlakuan ini. Kepada Lurah Gedangan yang bernama Bargowo ia melaporkan kejadian ini. Kemudian Lurah Bargowo dan Cariknya yang bernama Abilowo pergi ke Tambak Oso untuk menangkap Sarip. Tetapi  mereka hanya menemukan emak Sarip yang sudah tua. Jengkel karena tidak bisa menemukan buronannya, Lurah dan Cariknya itu menganiaya emak si Sarip hingga terluka.

Setelah korbannya tidak berdaya, mereka kembali ke Gedangan. Tak lama kemudian Sarip tiba di rumah. Demi melihat emaknya babak belur di hajar lurah dan carik Gedangan, ia naik pitam dan mengejar kedua orang itu. Sarip berhasil menyusul kedua orang itu dan langsung membalas penganiayaan terhadap emaknya. Kedua pamong praja itu melarikan diri ke Sidoarjo setelah tidak mampu mengalahkan Sarip.

Di Sidoarjo mereka melaporkan kasus penganiayaan yang baru mereka alami ke pada Mantri Polisi. Pada saat itu juga rombongan lurah dan mantra polisi bergerak ke Tambak Oso untuk menangkap Sarip. Singkat cerita terjadi pertarungan antara Sarip dengan rombongan itu. Saat merasa terdesak Sarip mencoba melrikan diri. Tetapi peluru kompeni lebih dulu merenggut nyawanya. Sarip tergeletak mati.

Dirumah, emak Sarip merasa telah terjadi sesuatu dengan anaknya. Kemudian ia berteriak keras memanggil nama Sarip. Ikatan batin yang kuat antara ibu-anak itu membuat sebuah keajaiban. Begitu mendengar panggilan emaknya tubuh Sarip yang sudah mati itu bergeletar hidup lagi dan segera melarikan diri. Kejadian itu mengejut kan rombongan pemburunya.

Kejadian serupa berkali-kali terjadi, Sarip yang sudah mati begitu dipanggil emaknya akan hidup lagi. Tahulah rombongan mantra Polisi jika Sarip memempunyai kelebihan. Merasa gagal menangkap Sarip, rombongan itu kembali ke Sidoarjo untuk merencanakan siasat penangkapan.

Lurah Bargowo yang merasa terancam karena gagalnya penagkapan itu, kemudian minta tolong kepada Paidi, seorang pemuda kusir dokar di desa Segoro tambak. Paidi merupakan musuh bebuyutan Sarip. Setiap kali bertemu, kedua pemuda itu selalu berselisih karena masing-masing merasa sebagai jagoan di desanya. Lurah Bargowo tahu hanya Paidi yang mampu menaklukkan Sarip.

Karena dalam perkelahian pemuda itu pandai menggunakan “jagang baceman” (kayu penyangga dokar jika tidak ada kudanya). Paidi menyanggupi permintaan pak Lurah dan mulai memprovokasi Sarip untuk berkelahi dengannya. Sarip terpancing. Kedua pemuda itu terlibat perkelahian. Karena masing-masing adalah jago di desanya, perkelahian itu berjala seru.

Pada awalnya Paidi terdesak oleh serangan Sarip. Ia mulai menggunakan jagang baceman sebagai senjataanya. Ketika senjata itu mengenai sasaran, tubuh Sarip tiba-tiba lunglai. Melihat sarip sudah lemas, lurah Bargowo menghubungi Mantri Polisi di Sidoarjo yang langsung menggelandangnya. Konon, Sarip terlebih dulu di kerangkeng di Gedangan sebelum ia menjalani hukuman gantung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.