Makam Tebuireng, Makam Wali ke-10

Makam tebuireng.0001Suatu ketika ada seorang kakek tua yang tidak dikenal nama dan asalnya, datang ke dusun Tebuireng. Ia beristirahat melepas lelah di bawah pohon, di tepi lorong kecil dekat sebuah sungai. Ternyata kakek tua itu jatuh sakit hingga berhari-hari lamanya. Ia hanya pasrah kepada Allah SWT dengan penuh khidmah dan kesabaran.
Di kala penyakitnya semakin parah, datanglah seorang penduduk dusun setempat untuk mengurus dan merawat kakek tua itu. “Nak, kalau daun hayatku telah gugur dan ajalku telah sampai\ sudilah kiranya engkau menanamku (menguburkanku) di semak belukar sebelah timur dari tempatku ini. Sebab, kelak entah berapa belas tahun atau puluban tahun kemudian akan berdiri sebuab tempat pengajian besar yang harum sampai he segala penjuru.” Tak lama setelah kakek tua itu mengucapkan pesan singkatnya, beliau pun berpulang ke rahmatullah. Inna liLlabi wa inna ilayhi rajiun. Konon, kakek tua itulah orang pertama yang dimakamkan di wilayah pemakaman Tebuireng.
Makam tebuireng.0002Kini, ramalan kakek tua misterius itu telah menjadi kenyataan. Tempat pengajian besar yang namanya harum ke segala penjuru itu, sekarang bernama Pesantren Tebuireng. Di dalamnya terdapat makam para kekasih Allah Swt. (Makam Tebuireng), yang setiap hari diziarahi oleh 2 ribuan manusia dari berbagai penjuru Nusantara.
Makam Tebuireng merupakan tem¬pat dimakamkannya keluarga besar hadra- tus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari. Lokasi- nya berada tepat di tengah-tengah Pondok Pesantren Tebuireng. Para pengasuh Tebu¬ireng dan anggota keluarga serta tokoh- tokoh Tebuireng lainnya yang telah wafat, dikebumikan di sana. Tepat di sisi barat kompleks pemakaman, berdiri gedung Wisma Hadji Kalla berlantai tiga, lalu di sebelah utaranya berdiri Wisma Suryokusumo berlantai dua dan di sebelah selatan Gedung KH. M. Ilyas berlantai 3.
Para tokoh yang dimakamkan di Makam Tebuireng antara lain; hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Ny. Hj.Nafiqoh (istri), KH.A. Wahid Hasyim dan Ny.Hj. Solechah (istri), KH. Abdul Kholik Hasyim, KH. Ma’shum Ali (pengarang kitab shorof Amtsilatus Tasbrifiyyab) dan Ny.Hj. Khoiriyah Hasyim (istri), dan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Makam tebuireng.0003Sejak dahulu, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk para peneliti,
akademisi, dan pemerhati pesantren baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kiprah perjuangan hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahid Hasyim rupanya sangat menarik perhatian mereka untuk
mengunjungi makam Tebuireng.
Setelah wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, makam Tebuireng semakin ramai dikunjungi peziarah. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari abang becak, pedagang, santri, kiai, pendeta, pastur, biksu, pengusaha, aktivis, artis, seniman, pejabat daerah dan pusat, termasuk para diplomat asing. Pada hari pemakaman Gus Dur tanggal 31 Desember 2009, ratusan ribu pelayat tumplek blek memenuhi area
pesantren Tebuireng dan sekitarnya. Bahkan banyak yang rela berjalan kaki puluhan kilo meter dari kota Jombang menuju Tebuireng. Jalur bis terpaksa dialihkan karena jalan raya di depan Pesantren Tebuireng sepanjang kurang lebih 7 (tujuh) kilometer penuh sesak oleh peziarah.
Makam tebuireng.0004Pemandangan yang sama juga terjadi pada peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1 tahun wafatnya presiden ke 4 Republik Indonesia itu. Areal Pondok Pesantren Tebuireng penuh sesak dengan peziarah. Jalan raya macet total meskipun pada malam harinya hujan turun cukup deras. Apalagi sebelum peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur, di Tebuireng diadakan acara khataman al-Qur’an seribu majelis yang dikuti oleh 3.500an hafidz dan hafidzah dari seluruh Indonesia. Khataman al-Qur’an yang memecahkan rekor MURI itu diselenggarakan oleh pengurus Jam’iyyatul Qurra’ wal Khuffadz bekerjasama dengan PP. Madrasatul Qur’an Tebuireng. Praktis, seluruh areal Pondok Pesantren Tebuireng menjadi lautan manusia.
Pada hari-hari biasa, makam Tebuireng juga tidak pernah sepi pengunjung. Para peziarah datang silih berganti, ada yang datang berombongan dengan mengendarai bis, mobil besar, bahkan truk dan pick-up. Ada pula yang datang dengan mobil pribadi. Kepadatan semakin meningkat pada akhir pekan seperti hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu, termasuk pada hari-hari libur nasional.
Kondisi ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Mereka membuka kios-kios semi permanen di sepanjang jalan menuju makam. Gang-gang di sekitar pondok disulap menjadi pasar dadakan. Beraneka barang dagangan ditawarkan, mulai dari dodol, krupuk, buah-buahan, buku, kaos, hingga aksesoris-aksesoris bergambar Gus Dur.
Makam tebuireng.0006Tempat parkir bis dibangun di sebelah barat Masjid Ulul Albab, tepat di depan Pondok Putri Tebuireng. Jembatan tua yang terletak di gerbang masuk areal parkir yang sempat retak gara-gara terlalu sering dilewati bis, kini dibangun dengan cor beton yang kokoh. Bangunan MCK juga disediakan di ujung barat tempat parkir. Praktis, Pondok Pesantren Tebuireng kini telah menjadi salah satu tujuan wisata religi bersama Wali Songo. Sehingga, makam masyayikh Tebuireng (khususnya Gus Dur) oleh para peziarah disebut sebagai Wali Kesepuluh.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 203-208

Cungkup

Cungkup iyalah suatu bangunan yang didirikan diatas sebuah makam, dengan dibangunnya suatu cungkup dalam halaman ke III suatu komplex pemakaman pesisir Utara Jawa Timur, maka akan terjadi pulalah perulangan pembagian kedalam tiga bagian yaitu :

  1. Ruang a :

yang dibentuk oleh pemunculan sebuah kijing yang diberi berkiswa atau kelambu sebagai suatu peraduan, dan disinilah letak makam yang dimaksud.

  1. Ruang b :

yang dibatasi oleh dinding keliling dan membentuk suatu bilik makam.

  1. Ruang c. :

yalah lorong langkan yang mengelilingi bilik makam dan terbentuk karena adanya dinding cungkup.

Memperhatikan pembagian ruangan ini dalam tiga bagian tersebut, maka tidaklah berbeda keadaannya dengan suatu percandian sebagai suatu tempat pemakaman raja-raja dalam masa Jawa Timur ( abad X — abad XV ). Ruang a. dapat kita bandingkan dengan sumuran pada suatu percandian tempat peripih abu penjenazahan diletakkan sedang ruang b. dapat dipersamakan dengan bilik percandian. Ruang c. yang merupakan lorong langkan dalam suatu cungkup, akan tidak jauh berbeda pula dengan lorong-lorong langkan pradaksina atau prasavya dalam suatu prosesi keagamaan mengelilingi percandian-percandian. 16).

Kenyataan yang kitB hadapi hingga kini dalam suatu cungkup pemakaman antara lain yang terdapat didaerah Gersik, justru pada lorong langkan inilah banyak terlihat kitab suci al Qur’an atau Surat Yassin tersimpan dan ada kalanya para penziarah dapat melakukan pengajian dan bersembahyang dalam lorong langkan ini.

Dengan memperhatikan perbandingan ini serta mengingat kembali akan tanggapan-tanggapan pada fase-fase a, b, c, yang menganggap bahwa makam- makam tersebut sebagai tempat kediaman/tempat peristirahatan yang mewakilL suatu bentuk gunung maka terlihatlah lambang-lambang gunung menghiasi cungkup-cungkup ini. Pada puncak cungkup pemakaman umumnya terdapat mahkota atap yang melambangkan meru ( Mahameru ). Bidang-bidang pada dinding cungkup maupun tiang-tiangnya penuh dengan hiasan-hiasan motif tumpal ( antefix ), tepi awan, lidah api, meander, swastika, lengkung-lengkung kala merga dengan kepala ular naga atau singa-singa, bentuk-bentuk binatang yang distilir serta arabesque, untaian daun padma yang kesemuanya mewujudkan attribute-attribute mahameru.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 10

Putri Cempo

Menanti Istri Setia di Makam Putri Cempo, Banyak orang berharap mendapat jodoh yang setia di Makam Putri Cempo. Karena berasal dari Campa, makamnya juga sangat dihormati oleh orang-orang Tionghoa. 

makam putri cempoBersama lima kawannya, Ahmad Muslih (25) terlihat khusyuk berdoa di serambi cungkup Makam Putri Cempo, Rabu (29/8) siang. Sudah dua hari, santri-santri Pondok Pesantren Darussalamah, Lampung Timur itu berada di makam yang terietak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang tersebut. Sebeiumnya mereka telah betziarah ke beberapa makam wali yang ada di Jawa Timur dan Jawa-Tengah.

Mereka menjadikan wali atau tokoh yang dimakamkan di tempat-tempat itu sebagai wasilah (perantara) untuk menggapai cita-cita. Karena sebagai manusia merasa punya banyak dosa, mereka membutuhkan wali yang lebih dekat dengan Allah sebagai perantaranya. Dalam menjalankan perannya sebagai wasilah itu, masing-masing wali atau tokoh memiliki kelebihannya sendiri-sendiri.

makam putri cempo0002Orang yang memohon wasilahnya, melihat kelebihan itu dari cerita, sejarah, bahkan legenda sang tokoh. Seperti Ahmad Muslih dan kawan-kawan yang ingin men­dapat wasilah dari Putri Cempo agar suatu saat memperoleh jodoh yang baik. “Istri yang ideal, baik dalam segala hal, cantik dan setia. Layaknya kesetiaan Puteri Cem­po tertiadap Sunan Bonang,” jelas Ahmad Muslih yang diamini Mudzakir dan kawan- kawannya yang lain.

Cerita tentang Puteri Cempo memang menyiratkan pesan kesetiaan itu. Menurut

H. Abdul Wahid, juru kunci makam, Puteri Cempo adalah nama salah satu murid wanita Sunan Bonang. Dia berasal dari sebuah kerajaan di kawasan Vietnam sekarang. Setelah beberapa lama menjadi murid, sang putri diangkat menjadi pengajar di pesantren salah satu anggota walisongo itu.

“Perjalanan waktu rupanya membuat sang putri jatuh cinta pada Kanjeng Sunan dan ingin menjadi istrinya,” papar Wahid . Mendengar keinginan tersebut, keluar sebuah jawaban mengambang dari mulut Sunan Bonang. “Entenono,” kata Wahid menirukan jawaban Sunan Bonang. “Tunggu saja”, sebuah jawaban yang mem- beri makna tidak mengiyakan atau menolak permintaan sang putri.

Sang putri pun setia menunggu keputusan Sunan Bonang untuk menjadikannya sebagai istri. “Walau pada kenyataannya, keinginan itu tidak pernah tercapai hingga Sunan Bonang meninggal dunia,” jelas Wa­hid. Sunan Bonang sendiri selama hidupnya tidak pernah menikah, hingga dikerral dengan nama Sunan Wadat Anyakrawati.

IBU RADEN PATAH

Lepas dari pesan kesetiaan di atas, beberapa catatan sejarah mengungkap versi lain tentang cerita Puteri Cempo. Dalam “Tionghoa dalam Pusaran Politik”, Benny G. Setiono menulis Puteri Cempo adalah Dewi Kiem yang didatangkan oleh Sunan Ampel dari Cemboja untuk dihadiahkan kepada Prabu Kertabumi. Tujuannya untuk membobol benteng pertahanan Majapahit yang men­jadi penghalang bagi perjuangan para wali.

Temyata Kertabumi langsung menjadikan Dewi Kiem sebagai istrinya. Ketika Dewi Kiem mengandung tiga bulan, ahli nujum kerajaan meramalkan bahwa bayi yang dikandung Dewi Kiem kelak akan menjadi ra­ja besar di Jawa. Namun karena keamanannya tidak terjamin (waktu itu Majapahit tengah berperang melawan Kediri), Dewi Kiem diserahkan

kepada putranya, Arya Damar, yang menja­di adipati di Palembang. Beberapa bulan kemudian lahirlah dari rahim Dewi Kiem seorang putra yang diberi nama Raden v Hasan atau Pangeran Jin Bun. Kelak, Jin Bun yang dikenal dengan nama Raden Patah menjadi Raja Demak dan berhasil mengalahkan Majapahit.

H J. de Graff dkk. dalam “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI – Antara Historisitas dan Mitos”, menyebutkan, Putri Cempa berjasa membawa keponakannya, Bong Swie Hoo alias Sunan Ampel, dari Campa ke Jawa untuk menyebarkan Islam. Dia meninggal dan dimakamkan di Trowulan pada 1448. Kemudian hari, kerangkanya dipindahkan oleh Sunan Bonang, putra Sunan Ampel, ke Karang Kemuning, Bonang. Ini dilakukan Sunan Bonang untuk menghormati nenek bibinya itu.

Satu hari menarik yang patut dicatat dari versi – versi cerita di atas; bahwa orang- orang keturunan Tionghoa juga berjasa da­lam menyebarkan Islam di Jawa. Disebut keturunan Tionghoa, karena dari sisi etnis, orang-orang Campa mempunyai kemiripan dengan penduduk asli Tiongkok. Dari sisi geografis, letak Kerajaan Campa juga berbatasan dengan Tiongkok. Pada masa Ialu, kawasan Vietnam, tempat Kerajaan Campa itu berdiri, yang terpecah antara daerah Tonkin di utara dan Annam di selatan, juga pernah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Tiongkok.

Pada masa Kaisar Gia Long dari Dinasti Nguyen, negeri ini pernah meminta petunjuk Kekaisaran Tiongkok untuk memberi nama bam. Gia Long mengajukan nama gabungan An Nam dan Viet Thuong. Gabungan nama itu mengerucut menjadi Nam Viet, yang akhirnya menjadi Viet Nam sejak awal abad ke-19, hingga sekarang.

Marco Polo yang tiba di pantai Vietnam pada 1292, mencatat negeri itu bernama Caugigu. Nama ini berasal dari kata Giao Chi Quan yang diduga sebagai nama kaisar Tiongkok kuno dari Dinasti Han. Nama itu terus mengalami perubahan, sampai ahli geografi Denmark, Konrad Malte-Bume, pada awal 1800-an, menganggap kawasan di semenanjung itu terpengaruh dua kebudayaan, India dan Tiongkok (Cina). Sehingga semenanjung itu disebut Indocina. Nama ini sampai sekarang tetap dipakai untuk menyebut gabungan tanah Vietnam, Laos, dan Kamboja Dengan sejumlah fakta di atas, tak mengherankan bila Makam Puteri Cempo di Bonang maupun petilasannya yang ada di Trowulan juga sangat dihormati oleh orang- orang Tionghoa. Di waktu-waktu tertentu, akan terlihat asap hioswa berpadu dengan menyan dan kembang di dua tempat tersebut. “Beberapa tahun lalu, peziarah dari luar Jawa yang kebingungan mencari – mencari makam ini, justru bertanya di Klenteng Lasem,” ungkap Abdul Wahid. • hk

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

 

Makam Panjang di Leran Kabupaten Gersik

BERBURU KESAKTIAN Dl MAKAM PANJANG

Makam Panjang0002Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur . Di komplek makam Siti Fatimah binti Maimun juga terdapat beberapa makam lain. Menurut Hasyim, makam-makam itu adalah makam para pengikut Siti Fatimah. Selain itu ada pula makam para juru kunci perawat makam tersebut.

Namun dari sekian banyak makam yang ada, tepat di sisi kiri dan kanan atau mengapit jalan menuju bangunan cungkup makam Siti Fatimah, terdapat dua buah makam dengan ukuran yang tidak umum. Makam ini memiliki panjang hingga sekitar tujuh meter. Masyarakat menyebutnya dengan makam panjang, karena memang ukurannya yang sangat panjang. Makam siapakah itu?

Hasyim menjelaskan bahwa dua makam panjang itu adalah makam dari pengawal setia Siti Fatimah semasa hidupnya. Dan makam yang dibuat panjang karena konon waktu itu jasad kedua senopati kerajaan Kedah ini akan dicuri oleh musuh-musuhnya. Karena itu sebelum keduanya meninggal, mereka berpesan agar jasadnya dikubur di dalam liang dengan ukuran sangat panjang. Hal ini untuk mengelabui musuh-musuhnya.

Namun lepas dari cerita itu, Hasyim mengatakan bahwa makam yang panjang itu sebenarnya adalah symbol dari penantian panjang manusia di alam kubur. Karena itu, agar di dalam penantian yang panjang itu bisa hidup tenang, hendaknya manusia selalu membekali dirinya dengan berbagai amal. Sebab amal-amal itulah nantinya yang akan menolong mereka di hari kiamat.

“Ukuran ini sebenarnya hanya simbol sehingga bagi mereka yangtahu akan bisa mengambil hikmahnya,” terang Hasyim.Dan seperti halnya di makam Siti Fatimah, di makam panjang ini sering pula terlihat para peziarah yang berlama- lama berdoa. hanya saja berbeda dengan yang diyakini dari makam Siti Fatimah, makam panjang para pengawal Siti Fatimah ini diyakini ampuh untuk meningkatkan olah kanuragan seseorang. Karena itu kebanyakan mereka yang bermeditasi di tempat ini adalah mereka yang tengah memperdalam  ilmu atau bahkan golongan paranormal *KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 7

Makam Syekh Subakir, Kabupaten Tuban

Tidak ada yang tahu pasti dimana makam Syekh Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Sedangkan yang ada di Indonesia dan diziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya.Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa.Di pulau Jawa sendiri terdapat dua makam yang berbeda, makam pertama terletak di pemakaman Beji Benowo daerah pegunungan Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Dan makam lainnya terletak di Tanjung Awar-Awar Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

Syekh Subakir merupakan tokoh pertama Islam yang datang ke Pulau Jawa, sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak maupun Syekh Maulana Magribi dan anggota Wali Songo lainnya. Syekh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai pesantrennya.Masyarakat kala itu beranggapan bahwa Syekh Subakir ahli memasang tumbal atau jimat.

Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, sudah beberapa kali utusan dari Arab yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan Agama Islam.Namun pada umumnya mengalami kegagalan. Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya.Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan yang sangat berat ajaran Agama Islam meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas.

Konon, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara yang sangat angker.Datanglah seorang Syekh dari Persia yang bernama Syekh Subakir. Angkernya pulau Jawa saat itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syekh Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.Akhirnya, Syekh Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat.

Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil.Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syekh Subakir.Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm.

Makam Mbah Punjul, Kabupaten Tuban

Terletak di Desa Ngepon Kecamatan Jatirogo terletak pada 6°53’43” LS dan 111°40’6″ BT. Di desa ini terdapat situs yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Makam Mbah Punjul .Makam ini berada di bukit Ngepon di sebelah barat jalan Bulu-Jatirogo. Pada hari-hari tertentu banyak orang berziarah ke makam Mbah Punjul, dan kebanyakan dari mereka banyak yang berasal dari daerah Demak, Pati, Kudus, dan sekitarnya. Makam Kyai Ngepon yang merupakan utusan Raja Brawijaya dari Majapahit untuk datang kepada Raden Patah. Tapi,kebanyakan orang menyebutnya sebagai makam Mbah Punjul(asal kata dari Pinunjul).

Menurut cerita, konon, Prabu Brawijaya memberi sesuatu tanda mata kepada putranya, Raden Patah. Yang diutus adalah Kyai Ngepon. Sang Prabu memberinya sebuah bumbung dari bambu, dengan titah apabila nanti bumbung tersebut dibuka akan dapat diketahui tanda mata apa yang diberikan oleh raja Brawijaya. Dalam perjalanan dari Majapahit ke Demak Bintoro, utusan tersebut berhenti di Ngepon.

Ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk mengetahui isi bumbung, maka lalu dibukanya. Anehnya, beraneka macam binatang keuar dari bumbung itu dan kemuldian menghilang ke dalam hutan. Sang utusan tidak berani menghadap dengan bumbung kosong kepada Sang Raja. Maka, bumbung ditanam dan tumbuh rumpun bambu dengan lebatnya. Pada akhirnya sang utusan menetap di Ngepon sampai meninggal dan dimakamkan di bukit Ngepon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.

Makam Ploso (Medalem), Kaupaten Tuban

Di dusun Soko Desa Medalem Kecamatan Senori ada makam yang dikenal dengan nama Makam Ploso, oleh sebagian penduduk setempat, makam tersebut sebagai Makam Sunan Kalijaga. Pada tahun 1999 sebelum KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden beliau mengunjungi dusun Soko untuk berziarah Makam Ploso. Melalui kunjungan itulah dibenarkan bahwa makam tersebut adalah makam wali atau makam Sunan Kalijaga, sehingga sampai sekarang makam tersebut tetap diziarahi dan diadakanhaul setiap tahunnya (di bulan Muharram).

Di tempat tersebut terdapat sembilan pohon ploso yang melambangkan sembilan bintang. Bintang yang lima melambangkan Rasulullah dan empatsahabatnya sedangkan 4 bintang lainnya melambangkan 4 madzab. Itulah tempat yang sekarang diberi nama Makam Ploso.Sunan Kalijaga sering singgah ke Soko dan Medalem, maka kedua tempat itu dinamakan Soko dan Medalem. Kata soko berasal dari sangking yang artinya dari, dan medalem yang berasal dari kata ndalem yang berarti rumah.

Sunan Kalijaga lahir di Tuban dengan nama Raden Sahid. Sunan Kalijaga meru- pakan putra dari se- orang Adipati Tuban, Tumenggung Wilotikto. Ia dibesarkan diling- kungan istana.Setelah beranjak remaja,ianakal dan menjadi penyamun dengan mencuri barang- barang upeti di gudang penyimpanan dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Ia dikenal dengan sebutan Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari Lokajaya melakukan perjalanan jauh, ditengah jalan iabertemu dengan seorang kakek tua (Sunan Bonang) yang membawa tongkat dari emas.Lokajaya pun ingin mengambil tongkat tersebut.Oleh Sunan Bonang, ia ditunjukkan buah aren dari emas, dari situlah akhirnya Lokajaya sadar dan ingin menjadi murid dari Sunan Bonang.Sunan Bonang mau menerimanya sebagai niurid asalkan ia mau menjaga tongkatnya disungai dan tidak boleh meninggalkannya.

Tak terasa waktu sudah berjalan tiga tahun, Sunan Bonang datang dan membangunkan Lokajaya yang tubuhnya penuh dengan lumut. Dari situlah nama Sunan Kalijaga berasal, yaitu kali artinya sungai dan jaga yang artinya menjaga.Pada saat Sunan Kalijaga masih menjadi Brandal Lokajaya, iasering singgah di dusun Soko Desa Medalem. Dan saat penyerbuan Demak ke Majapahit dibawah pimpinan Sunan Kalijaga, Soko Medalem juga digunakan tempat singgah mereka.Jadi, di Soko Medalem terdapat persinggahan atau napak tilas Sunan Kalijaga

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.

Makam Mbah Kartowijoyo, Kabupaten Tuban

Secara administratif Situs Bandungrejo dan Makam Mbah Kartowijoyo terletak di Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang, dan secara astronomis berada pada 7°5’0″ LS dan 112°6’31” BT. Keberadaan makam yang terletak di dalam cungkup di Astana Krebut Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang ini sekarang dikenal dengan nama makam Mbah Kartowijoyo. Nama beliau seperti yang tertulis di papan kayu di Astana Krebut adalah Sayyid Abdurrahman Abu Bakar Husein.

Di Astana Krebut Desa Bandungrejo terdapat dua buah batu prasasti, disebut Prasasti Bandungrejo atau Prasasti Tuban, berangka tahun 1277 Saka atau 1355 Masehi. Prasasti Tuban ini terbuat dari batu sebanyak dua buah, yang angka tahun dan isinya bersamaan, ditemukan di Desa Bandungrejo dan merupakan satu-satunya prasasti yang menyebut nama Tuban secara langsung dan jelas. Transkripsi prasasti ini diterjemahkan oleh Drs. Soekarto Kartoatmojo pada tahun 1980. Prasasti ini menyebutkan bahwa pembe- rontakan di tepi sungai dapat dipadamkan oleh orang-orang Tuban (pati kadi dasa hakuti tuban), sehingga dapat aman dan sentosa.

Transkripsi Prasasti Tuban I, adalah sebagai berikut:

  1. isika, irika… dewasaning alaga,
  2. om, takala ni nadhitira,
  3. pati kadi dasa hakuti tuban,
  4. kaparitata sakani-keni dadi rasa jana tata.

Terjemahartnya:

  1. Tahun saka, ketika ada peperangan.
  2. Om, ketika ada peperangan di tepi sungai.
  3. Dapat dipadamkan orang-orang Kuti Tuban.
  4. Dapat tenteram, akhirnya menjadi masyarakat yang aman sejahtera.

Dalam buku Catatan Sejarah 700 Tahun Tuban menyebutkan bahwa menurut cerita rakyat dikatakan ada seorang Pangeran dari Mataram, yang dicintai oleh permaisuri raja Mataram. Kemudian mereka lari menggunakan gethek (perahu kecil) di Bengawan Solo, mengikuti aliran sungai dan menghilir, akhirnya sampai di daerah rawa di Desa Bandungrejo. Ia kemudian mengabdi kepada Kyai Jiwonolo, yang juga disebut Kyai Klebet.

Sedangkan menurut penuturan H. Sunoto, juru kunci makam, Mbah Kartowijoyo adalah seorang Senopati (panglima perang) yang berperang melawan kompeni Belanda pada masa Kerajaan Mataram

dipimpin oleh Amangkurat 11(1677-1703). Menurut silsilah yang berasal dari H. Sunoto, silsilah Mbah Kartowijoyo adalah seBagai berikut.

Para Pemimpin Kesultanan Banten :

  1. Sunan Gunungjati (1479-1568)
  2. Sultan Maulana Hasanuddin (1552 – 1570)
  3. Pangeran Yusuf (1570-1580).
  4. Maulana Muhammad (Banten, 1585-1590).
  5. Abdul MufakirMahmud Abdul Kadir (1605-1640).
  6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1640 -1650)
  7. Sultan Ageng Tirtoyoso (1651-1680).

Sultan Ageng Tirtoyoso menurunkan:

  1. Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) (1683-1687)
  2. Pangeran Purbaya.

Para Pemimpin Kesultanan Cirebon:

  1. Fatahillah (1568-1570)
  2. Pangeran Pasarean
  3. Pangeran Dipati (wafat 1565)
  4. Pangeran Emas/Panembahan Ratu I (1570-1649)
  5. Pangeran Dipati Sedo ing Gayam (Panembahan Adiningkusuma), wafat lebih dulu sehingga digantikan oleh putranya, Pangeran Girilaya. Ia memakai gelar ayahnya Panembahan Adiningkusuma.
  6. Pangeran Rasmi/Pangeran Karim/Pangeran Girilaya/ Panembahan Adiningkusuma/Panembahan Ratu II (1649-1677).

Beliau adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Makamnya ada di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja- raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Pangeran Girilaya mempunyai 3 anak, yaitu:

  1. Pangeran Martawijaya (1677-1703),
  2. Pangeran Kartawijaya (1677-1723),
  3. Pangeran Wangsakerta(1677-1713).

Dengan kematian Pangeran Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa.Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten.Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram.Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing- masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:

  1. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin.
  2. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin.
  3. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati.

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya irii dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten.Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing.Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan.

Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi   berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tuban Bumi Wali; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 223-224

Makam Sunan Bejagung, Kabupaten Tuban

Makam Sunan Bejagung terletak di Desa Bejagung Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. Menurut keterangan juru kunci, nama Bejagung berasal dari maja agung. Diceritakan pada waktu tentara Majapahit datang ke Tuban hendak menaklukkan kelompok orang-orang Islam, mereka bertemu dengan seorang tua di tengah tegalan.

Karena dahaga tentara Majapahit minta air kepada orang tua tersebut dan diberi air dengan wadah buah maja.Tetapi ketika diminum ternyata tidak habis-habisnya dan mencukupi seluruh pasukan Majapahit. Karena itulah desa tersebut dinamakan Maja Agung (buah maja besar) dan lambat laun berubah menjadi Bejagung.

Ternyata orang tua tersebut di atas adalah Sunan Bejagung sendiri. Di sebelah selatan gapura Paduraksa, pintu masuk makam Sunan utama terdapat sebuah sumur yang sangat dalam dan menurut cerita sumur itu dibuat oleh Sunan Bejagung dengan menggunakan tongkatnya.

Menurut kajian Soekarto K. Atmodjo (1982:18-19) Sebilah papan kayu bagian pintu gerbang masuk makam Sunan Bejagung dipahat dengan sebaris tulisan yang sudah aus.Tulisan itu menggunakan huruf Jawa Baru dan berbunyi “kang hamurwa lawang pu krayatingi” atau “kang hamurwa lawang pun arya tingi”.

Perkataan kang amurwa lawang berarti “yang memulai (membuat) pintu”. Pu Krayatingi atau Arya Tinggi menunjuk nama orang. Siapa yang dimaksud nama tersebut, kurang jelas. Mengingat tulisan singkat itu menyebut nama orang, rupa-rupanya kalimat itu bukan sebuah kronogram (candra sengkala).

Dilihat dari segi paleografi tulisan itu berasal dari sekitar tahun 1800 Masehi.Selain tulisan tersebut, di atas rumah joglo yang terletak di dekat makam juga terpahat angka tahun dan kronogram berbunyi “sarira nembah panditaratu”.Kalimat “sarira nembah pandita ratu” (badan menyembah pendeta raja) juga melambangkan angka tahun Jawa 1728 (1801 M).Perkataan sarira (badan, tubuh) bernilai 8, nembah (menyembah) 2, pandita (pendeta) 7, dan ratu (raja) l.Karena itu diperkirakan bahwa bangunan joglo tersebut dibangun atau diperbaiki pada tahun 1901 M.

TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 191 – 194

Makam SyekhMaulana Ishaq al-Maghrobi, Kabupaten Tuban

makam Syekh Maulana Ishak Al-MagribiMenurut penuturan Syekh Abu Al-Fadl (Mbah Ndol) Maulana Ishaq adalah saudara Syekh Ibrahim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel). Jadi beliau adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro.Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anakyang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa.yaituMaulana IbrahimAsmoroqondi(Sunan Gesik) dan Maulana Ishaq. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana IbrahimAsmoroqondi ke Champa lalu ke Jawa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai dan Blam- bangan.Sayyid Maulana Ishak mempersunting putri Raja Blamban- gan Menak Sambuyu yang bernama Dewi Sekardadu, dan mempu­nyai seorang putera yang bernama Ainul Yakin atau Raden Paku (Sunan Giri).

Makam Syekh Maulana Ishaqal-Maghrobi berada di Desa Gedong- Ombo, Kecamatan Semanding, Tuban. Masuk Gang Syeh Maulana, perempatan pabrik kapur sebelum Pasar Baru Tuban. Sebutan SyekhMaulana al-Maghribi ini kemungkinan merupakan asal muasal nenek moyangnya, yaitu daerah Maghribi atau Maroko di Afrika Utara.Di area makamSyekh Maulana jugaterdapat makamHabib Abdul Qodir bin Alwy Assegaf dan Habib Idrus bin Salim.

Makam Syekh Maulana al-Maghrobi ini juga ditemukan di beberapa tempat lain, seperti di daerah Gresik, Cirebon, dan di daerah Bantul. Di daerah Jatinom, Klaten, ada juga makam Ki Ageng Gribig, yang juga dikaitkan dengan Syekh Maulana Maghribi. Di daerah wisata Baturaden (Banyumas) juga terdapat sebuah petilasan Mbah Atas Angin yang konon merupakan nama lain untuk Syekh Maulana Maghribi. Di Wonobodro, Batang, Jawa Tengah, ada pula Makam Syekh Maulana Maghribi.Lalu ada makam Syekh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal, Pemalang.

Demikian terkenalnya Syekh Maulana al-Maghrobi sehingga diklaim dimakamkan di banyak tempat yang lokasinya saling berjauhan satu dengan lainnya. Dengan begitu banyaknya tempat yang diklaim sebagai Makam Syekh Maulana Maghribi, tentunya hanya ada satu yang benar, dan sisanya barangkali adalah petilasan, atau tempat dimana Syekh Maulana Maghribi pernah singgah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.