Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

MASJID AGUNG BANGKALAN

Pembangunan Masjid Agung Kota Bangkalan merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura, karena sejak ditangkapnya dan dibuangnya Pangeran Tjakraadiningrat ke IV yang memerintah mulai tahun 1718 sampai dengan tahun 1745 yang disebut Sidingkap (asal kata Sido-Ing-Kaap) oleh Belanda (Kaap de Goede Hoop/Afrika), yang semula didesa Sembilangan dipindahkan ke Desa Kraton Bangkalan (tahun 1747) dengan diawali 3 bangunan utama yang terdiri dari :

  1. Bangunan Kraton (sebelah timur)
  2. Bangunan Paseban (di tengah)
  3. Bangunan tempat ibadah/masjid (sebelah barat)

Adapun penggantinya adalah Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panembahan Tjakraadiningrat Ke V yang kemudian setelah wafat disebut Pangeran Sidomukti (asal kata Sido-ing-mukti) yang memerintah tahun 1745 sampai 1770 dan dikebumikan di Aermata, Arosbaya. Pada masa pemerintahannya (tahun 1774) Kraton dipindahkan ke Bangkalan. Pangeran Sidomukti mempunyai putra R. Abd. Djamil, menjadi Bupati Sedayu dengan gelar R. Tumenggung Ario Suroadiningrat dan wafat mendahului Pangeran Sidomukti dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan dan setelah lahir diberi nama R. Tumenggung Mangkuadiningrat dan bergelar Tjakraadiningrat VI (Panembahan Tengah) wafat tahun 1780 dimakamkan di Aermata, Arosbaya.

Setelah Tjakraadiningrat VI wafat diganti Saudara ayahnya yang bernama R. Abdurrahman atau R. Tawangalun alias R. Tumenggung Ario Suroadiningrat atau Panembahan Adipati Tjakraadiningrat VII beliau memerintah tahun 1780 sampai dengan 1815, selanjutnya kemudian dikenal sebagai Sultan Bangkalan I. Masjid waktu itu masih khusus untuk ibadah kerabat dan keluarga kraton. Mulai Tjakraadiningrat ke VII pemerintahan berupa kesultanan dan penggantinya Sultan R. Abd. Kadirun (sultan Bangkalan ke II) memerintah tahun 1847. Dalam kurun pemerintahan Sultan R. Abd. Kadirun, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah sholat Jum’at, tiang agung dipancangkan (pemugaran yang pertama) dengan ukuran 30 m x 30 m, dan waktu itu diresmikan sebagai wakaf/dijadikan Masjid Umum (Masjid Jami).

Oleh karenanya, para sesepuh Bangkalan menyatakan bahwa Masjid Jami Kota Bangkalan dibina oleh Panembahan Sidomukti dan diwakafkan oleh Sultan R. Abd. Kadirun yang wafat pada tanggal 11 safari 236 H (tahun 1847) dimakamkan dikompleks tanah Masjid/dibelakang Masjid yang disebut cungkup. Sedang tulisan (kaligrafi) yang tertera disekeliling Masjid ditulis oleh R. Moh. Zaid yang kemudian diberi gelar Raden Mas Kayadji.

Terhitung tanggal 1 Nopember 1885 status pemerintahan berubah menjadi Kadipaten, dan Bupati yang pertama adalah R. Moh. Hasyim dengan gelar Pangeran Suryonegoro. Adalah atas prakarsanya padatahun 1899-1900 Masjid dipugaryang II bagian atap, penutupan kolam dimuka yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi waktu itu termasuk tatanan bangunan sekitarnya (sebelah Selatan di bangun rumah Penghulu dan sebelah Utara rumah Hoofd Penghulu). Dalam pemugaran yang ke II ini sempat ada korban yaitu arsiteknya (orang Tionghoa) meninggal disambar petir diatas Masjid.

Tahun 1950 akibatadanya gempa bumi Masjid mengalami rusak berat terutama bagian muka (serambi) dan dipugar ke III oleh Bupati Tjakraningrat. Kemudian mulai tahun 1965 .karena Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led, mulai timbul rencana perluasan dan dibentuklah Panitia yang terdiri dari beberapa unsur organisasi massa dengan nama Panitia Besar Pembangunan Masjid Jami Kota Bangkalan. Namun Panitia tersebut sampai beberapa lama tidak menampakkan ujud hasilnya.

Sewaktu kepemimpinan Bupati HJ. Sujaki diambil kebijaksanaan, Panitia tersebut dirombak dengan susunan Panitia ini secara Instansional terkait dengan nama Panitia Pembangunan/Perluasan Masjid Jami Kota Bangkalan (SK Bupati KDH Tingkat II Bangkalan). Menjelang akhir kepemimpinan HJ. Sujaki, Rencana Gambar selesai yang didesign oleh PATA – ITS Surabaya dengan rencana anggaran Rp. 35.000.000,00. Hari Jum’at sesudah sholat tanggal 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 walaupun hanya bermodal Rp. 15.000.000,00 atas kebijaksanaan PJ. Bupati Soelarto, Pembangunan/Perluasan Masjid terus dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Kemudian dalam kepemimpinan Bupati Drs. Soemarwoto, mengingat pemasukan dana yang lamban dan juga adanya kondisi tanah dan lingkungan pembuangan air sekitarnya, maka gambar (design) direvisi yaitu :

  1. Tempat wudlu yang semula dibawah lantai dipindah ke samping dengan bangunan tersendiri, dengan pertimbangan pembuangan air sulit tersalurkan karena kenyataannya selokan pembuangan lebih tinggi dari tempat wudlu tersebut.
  2. Bagian muka yang seluruhnya berlantai dua (kelder) untuk menghemat biaya hanya samping kanan – kiri yang berlantai dua, sedang di tengah dibangun joglo.

Demikian juga setelah awal kepemimpinan Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan pada hari Jum’at 12 Jumadil Akhir 1409 H tanggal 20 Januari 1989 memulai pekerjaan tahap ke V dengan mengerjakan Wing sebelah Selatan atau kanan. Dalam pengumpulan dana juga mengalami hal yang sama sehingga pekerjaan tersendat-sendatdan akhirnya dicari terobosan dengan memberikan mandat penuh kepada Drs. H. Hoesein Soeropranoto/ketua kehormatan Yayasan Ta’mirul Masjid Jami Kota Bangkalan ini (sesuai dengan keputusan Rapat antar Bupati, Panitia Pembangunan dan Yayasan Ta’mirul Masjid tanggal 12 Agustus 1990 di kantor PT. Imaco Surabaya/PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Selanjutnya gambar “maket” dari pemugaran Masjid tersebut disyahkan oleh Bupati Bangkalan (Abd. Kadir) para Ulama yang diwakili oleh Ketua Yayasan (KH. Loethfi Madani) sesepuh masyarakat Bangkalan (R. Pd. Muhammad Noer dan RP Mahmoed Sosrodiputro) dan Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan Kyai Lemah Duwur MKGR Bangkalan, Drs. Mar’ie Muhammad dan Drs. H. Hoesein Soeropranoto. Sedang pekerjaan pemugaran mulai dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 dan dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan lebih cepat dari yang direncanakan selama 9 bulan. Sebagaimanadigambarkan sebelumnyabahwa kondisi Masjid ini sudah tidak mungkin lagi untuk tetap dibiarkan saja baik ujud bangunannya, fasilitasnya dan daya tampungnya.

Berdasarkan rasa percaya atas rahmatNya, Yayasan telah bertekad untuk menjadikan Masjid ini sesuai perkembangan Jaman dengan tetap memperhatikan karya para pendahulu. Makna dari pemugaran ini adalah untuk melestarikan bangunan bersejarah dan merupakan partisipasi nyata d’ari generasi penerus yang mempunyai rasa tanggung jawab didalam pemenuhan kebutuhan masyarakat muslim yang menganggap Masjid Agung Bangkalan sebagai kebanggaan dan pusat orientasi kota yang warganya mayoritas muslim.

Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama. Dalam pemugaran Masjid Jami tersebut berkembang cerita bahwa sewaktu Sultan berkenan hendak meluaskan dan membangun Masjid yang agung dan berwibawa, beliau memerintahkan untuk mencari kayu jati 4 batang yang besar dan tingginya sama untuk tiang agung dan ternyata hanya memperoleh 3 batang, sedang yang satu batang besarnya sama namun tingginya kurang dan kurang lurus, sedang waktu untuk mencari sudah tidak ada lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka tampillah seorang Ulama yang bernama K. Nalaguna (makamnya dikampung Barat Tambak Desa Pejagan Bangkalan) yang kemudian dikenal sebagai Empu Bajraguna (ahli membuat senjata/keris) yang bersedia untuk mengusahakan agar kayu tersebut dimandikan dan dibungkus dengan kain putih dan dikirap keliling kota, dan setelah dikirap kain pembungkusnya dibuka, ternyata berkat karomah Ulama tersebut kayu itu sama tinggi dan besarnya, sehingga tepat pada waktu yang telah ditentukan. Kayu tersebut dipancangkan disebelah muka bagian utara yang kemudian tiang tersebut diambil dari Arosbaya tanpa menggunakan alat pengangkut (transport), cukup dengan gotong royong masyarakat dengan cara sambung menyambung (bahasa madura Lorsolor), sedang campuran lolo digunakan legen (bahasa madura La’ang).

Ujud Masjid Agung yang nampak seperti sekarang ini adalah merupakan pengetrapan ide dari Ketua kehormatan Yayasan TMJKB yang dipadukan dengan prinsip-prinsip tehnik Arsitektur dengan mempertimbangkan kondisi bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Dengan selesainya pemugaran ini didalam Masjid dapat menampung 6000 Jamaah dan dipelatarannya dapat digunakan Sholat oleh 5000 lebih Jamaah. Selain dari itu Masjid juga dapat menampung kegiatan Administrasi pengelola, perpustakaan untuk umum juga kegiatan ibadah lainnya.
——————————————————————————————-Oleh: Wahyu DP; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Rehabilitasi perluasan Masjid Agung Bangkalan,

Drs.H. Hoesein Soeroprano
Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kota Bangkalan,  1991
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG BANGKALAN

Pembangunan Masjid Agung Kota Bangkalan merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura, karena sejak ditangkapnya dan dibuangnya Pangeran Tjakraadiningrat ke IV yang memerintah mulai tahun 1718 sampai dengan tahun 1745 yang disebut Sidingkap (asal kata Sido-Ing-Kaap) oleh Belanda (Kaap de Goede Hoop/Afrika), yang semula didesa Sembilangan dipindahkan ke Desa Kraton Bangkalan (tahun 1747) dengan diawali 3 bangunan utama yang terdiri dari :

  1. Bangunan Kraton (sebelah timur)
  2. Bangunan Paseban (di tengah)
  3. Bangunan tempat ibadah/masjid (sebelah barat)

Adapun penggantinya adalah Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panembahan Tjakraadiningrat Ke V yang kemudian setelah wafat disebut Pangeran Sidomukti (asal kata Sido-ing-mukti) yang memerintah tahun 1745 sampai 1770 dan dikebumikan di Aermata, Arosbaya. Pada masa pemerintahannya (tahun 1774) Kraton dipindahkan ke Bangkalan. Pangeran Sidomukti mempunyai putra R. Abd. Djamil, menjadi Bupati Sedayu dengan gelar R. Tumenggung Ario Suroadiningrat dan wafat mendahului Pangeran Sidomukti dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan dan setelah lahir diberi nama R. Tumenggung Mangkuadiningrat dan bergelar Tjakraadiningrat VI (Panembahan Tengah) wafat tahun 1780 dimakamkan di Aermata, Arosbaya.

Setelah Tjakraadiningrat VI wafat diganti Saudara ayahnya yang bernama R. Abdurrahman atau R. Tawangalun alias R. Tumenggung Ario Suroadiningrat atau Panembahan Adipati Tjakraadiningrat VII beliau memerintah tahun 1780 sampai dengan 1815, selanjutnya kemudian dikenal sebagai Sultan Bangkalan I. Masjid waktu itu masih khusus untuk ibadah kerabat dan keluarga kraton. Mulai Tjakraadiningrat ke VII pemerintahan berupa kesultanan dan penggantinya Sultan R. Abd. Kadirun (sultan Bangkalan ke II) memerintah tahun 1847. Dalam kurun pemerintahan Sultan R. Abd. Kadirun, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah sholat Jum’at, tiang agung dipancangkan (pemugaran yang pertama) dengan ukuran 30 m x 30 m, dan waktu itu diresmikan sebagai wakaf/dijadikan Masjid Umum (Masjid Jami).

Oleh karenanya, para sesepuh Bangkalan menyatakan bahwa Masjid Jami Kota Bangkalan dibina oleh Panembahan Sidomukti dan diwakafkan oleh Sultan R. Abd. Kadirun yang wafat pada tanggal 11 safari 236 H (tahun 1847) dimakamkan dikompleks tanah Masjid/dibelakang Masjid yang disebut cungkup. Sedang tulisan (kaligrafi) yang tertera disekeliling Masjid ditulis oleh R. Moh. Zaid yang kemudian diberi gelar Raden Mas Kayadji.

Terhitung tanggal 1 Nopember 1885 status pemerintahan berubah menjadi Kadipaten, dan Bupati yang pertama adalah R. Moh. Hasyim dengan gelar Pangeran Suryonegoro. Adalah atas prakarsanya padatahun 1899-1900 Masjid dipugaryang II bagian atap, penutupan kolam dimuka yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi waktu itu termasuk tatanan bangunan sekitarnya (sebelah Selatan di bangun rumah Penghulu dan sebelah Utara rumah Hoofd Penghulu). Dalam pemugaran yang ke II ini sempat ada korban yaitu arsiteknya (orang Tionghoa) meninggal disambar petir diatas Masjid.

Tahun 1950 akibatadanya gempa bumi Masjid mengalami rusak berat terutama bagian muka (serambi) dan dipugar ke III oleh Bupati Tjakraningrat. Kemudian mulai tahun 1965 .karena Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led, mulai timbul rencana perluasan dan dibentuklah Panitia yang terdiri dari beberapa unsur organisasi massa dengan nama Panitia Besar Pembangunan Masjid Jami Kota Bangkalan. Namun Panitia tersebut sampai beberapa lama tidak menampakkan ujud hasilnya.

Sewaktu kepemimpinan Bupati HJ. Sujaki diambil kebijaksanaan, Panitia tersebut dirombak dengan susunan Panitia ini secara Instansional terkait dengan nama Panitia Pembangunan/Perluasan Masjid Jami Kota Bangkalan (SK Bupati KDH Tingkat II Bangkalan). Menjelang akhir kepemimpinan HJ. Sujaki, Rencana Gambar selesai yang didesign oleh PATA – ITS Surabaya dengan rencana anggaran Rp. 35.000.000,00. Hari Jum’at sesudah sholat tanggal 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 walaupun hanya bermodal Rp. 15.000.000,00 atas kebijaksanaan PJ. Bupati Soelarto, Pembangunan/Perluasan Masjid terus dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Kemudian dalam kepemimpinan Bupati Drs. Soemarwoto, mengingat pemasukan dana yang lamban dan juga adanya kondisi tanah dan lingkungan pembuangan air sekitarnya, maka gambar (design) direvisi yaitu :

  1. Tempat wudlu yang semula dibawah lantai dipindah ke samping dengan bangunan tersendiri, dengan pertimbangan pembuangan air sulit tersalurkan karena kenyataannya selokan pembuangan lebih tinggi dari tempat wudlu tersebut.
  2. Bagian muka yang seluruhnya berlantai dua (kelder) untuk menghemat biaya hanya samping kanan – kiri yang berlantai dua, sedang di tengah dibangun joglo.

Demikian juga setelah awal kepemimpinan Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan pada hari Jum’at 12 Jumadil Akhir 1409 H tanggal 20 Januari 1989 memulai pekerjaan tahap ke V dengan mengerjakan Wing sebelah Selatan atau kanan. Dalam pengumpulan dana juga mengalami hal yang sama sehingga pekerjaan tersendat-sendatdan akhirnya dicari terobosan dengan memberikan mandat penuh kepada Drs. H. Hoesein Soeropranoto/ketua kehormatan Yayasan Ta’mirul Masjid Jami Kota Bangkalan ini (sesuai dengan keputusan Rapat antar Bupati, Panitia Pembangunan dan Yayasan Ta’mirul Masjid tanggal 12 Agustus 1990 di kantor PT. Imaco Surabaya/PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Selanjutnya gambar “maket” dari pemugaran Masjid tersebut disyahkan oleh Bupati Bangkalan (Abd. Kadir) para Ulama yang diwakili oleh Ketua Yayasan (KH. Loethfi Madani) sesepuh masyarakat Bangkalan (R. Pd. Muhammad Noer dan RP Mahmoed Sosrodiputro) dan Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan Kyai Lemah Duwur MKGR Bangkalan, Drs. Mar’ie Muhammad dan Drs. H. Hoesein Soeropranoto. Sedang pekerjaan pemugaran mulai dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 dan dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan lebih cepat dari yang direncanakan selama 9 bulan. Sebagaimanadigambarkan sebelumnyabahwa kondisi Masjid ini sudah tidak mungkin lagi untuk tetap dibiarkan saja baik ujud bangunannya, fasilitasnya dan daya tampungnya.

Berdasarkan rasa percaya atas rahmatNya, Yayasan telah bertekad untuk menjadikan Masjid ini sesuai perkembangan Jaman dengan tetap memperhatikan karya para pendahulu. Makna dari pemugaran ini adalah untuk melestarikan bangunan bersejarah dan merupakan partisipasi nyata d’ari generasi penerus yang mempunyai rasa tanggung jawab didalam pemenuhan kebutuhan masyarakat muslim yang menganggap Masjid Agung Bangkalan sebagai kebanggaan dan pusat orientasi kota yang warganya mayoritas muslim.

Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama. Dalam pemugaran Masjid Jami tersebut berkembang cerita bahwa sewaktu Sultan berkenan hendak meluaskan dan membangun Masjid yang agung dan berwibawa, beliau memerintahkan untuk mencari kayu jati 4 batang yang besar dan tingginya sama untuk tiang agung dan ternyata hanya memperoleh 3 batang, sedang yang satu batang besarnya sama namun tingginya kurang dan kurang lurus, sedang waktu untuk mencari sudah tidak ada lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka tampillah seorang Ulama yang bernama K. Nalaguna (makamnya dikampung Barat Tambak Desa Pejagan Bangkalan) yang kemudian dikenal sebagai Empu Bajraguna (ahli membuat senjata/keris) yang bersedia untuk mengusahakan agar kayu tersebut dimandikan dan dibungkus dengan kain putih dan dikirap keliling kota, dan setelah dikirap kain pembungkusnya dibuka, ternyata berkat karomah Ulama tersebut kayu itu sama tinggi dan besarnya, sehingga tepat pada waktu yang telah ditentukan. Kayu tersebut dipancangkan disebelah muka bagian utara yang kemudian tiang tersebut diambil dari Arosbaya tanpa menggunakan alat pengangkut (transport), cukup dengan gotong royong masyarakat dengan cara sambung menyambung (bahasa madura Lorsolor), sedang campuran lolo digunakan legen (bahasa madura La’ang).

Ujud Masjid Agung yang nampak seperti sekarang ini adalah merupakan pengetrapan ide dari Ketua kehormatan Yayasan TMJKB yang dipadukan dengan prinsip-prinsip tehnik Arsitektur dengan mempertimbangkan kondisi bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Dengan selesainya pemugaran ini didalam Masjid dapat menampung 6000 Jamaah dan dipelatarannya dapat digunakan Sholat oleh 5000 lebih Jamaah. Selain dari itu Masjid juga dapat menampung kegiatan Administrasi pengelola, perpustakaan untuk umum juga kegiatan ibadah lainnya.
——————————————————————————————-Oleh: Wahyu DP; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Rehabilitasi perluasan Masjid Agung Bangkalan,

Drs.H. Hoesein Soeroprano
Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kota Bangkalan,  1991
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG ASY- SYUHADA’ Kabupaten Pamekasan

pamekasanMasjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan bermula dibangun di tempat yang sama yaitu tempat  Masêghit Rato atau masjid raja karena yang mendirikan masjid yang mula-mula tersebut adalah Raja Ronggosukowati. Raja Ronggosukowati memang merupakan raja Pamekasan yang pertama beragama Islam. Dengan demikian masjid yang ada saat ini merupakan pengembangan dari Masêghit Rato  tersebut. (masèghit Rato sebutan masjid yang dibangun oleh raja). Hal tersebut karena raja membuat tempat syujud atau masjide, pemberi nama ini datang dari kelompok keturunan langsung Ronggosukowati antara lain marga Adikara. Namun setelah Madura dikuasai Mataram yang kemudian oleh Mataram diterimakan kepada Belanda, semua yang berbau Madura dikecilkan dan pada hakikatnya Stigma bagi Madura mulai terasa. Sebutan langgar adalah pantas bagi Madura menurut mereka bahkan Raden Pratanupun disebutnya sebagai Pangeran Langgar, karena itu sejarawan di Jawa hanya mengenal seorang  pangeran di Madura yaitu Pangeran Langgar yang tertulis di makam Sunan Kalinyamat di Jawa Tengah. Karena itu pula setelah jaman berikutnya terutama setelah Bupati Hindia Belanda yang Pertama di Pamekasan (1804) Masèghit Rato disebut juga dengan sebutan Langghâr Rato.

LOKASI  MASJID
Hampir seluruhnya langgar yang dibangun masyarakat Islam saat itu di Madura dibuat dari kayu dan beratapkan rumbia. Bangunan Masjid Rato berdiri di atas tanah (yang tentunya milik raja) tepat berada di tepi sungai. Penempatan di tepi sungai Kampung Masèghit yang lokasinya di sisi barat sungai dekat masjid raja hingga kiri-kanan masjid merupakan tempat pekerja/pemelihara masjid. Pada bagian sisi utara masjid di dibuat taman, maka kampong masèghit menjadi ciut dan yang tersisa di bagian sisi barat sungai, sampai saat ini masih bernama Kampung Masèghit. Sedangkan bagian kampong Masèghit dibagian sisi utara masjid lalu menjadi Kampung Taman dan di kanan mesjid berubah pula namanya dari kampong Masèghit menjadi Kampung Barat Pos setelah Pemerintah Jajahan mendirikan kantor yang berfungsi Jasa Pos, di ujung Jalan Masigit yang sekarang. Namun perubahan pekerja /pemelihara masjid terus berlangsung. Setelah dynasti Ronggosukowati yaitu pewaris sebagai pemilik lokasi mesjid / sebagai pewaris dari raja yang memndirikan masjid rato satu demi satu tidak lagi berkuasa di Pamekasan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1804 mengangkat saudara Sultan Bangkalan menjadi Bupati Pamekasan, dan pengurusan masjid diangkat pegawai dari kerabat kaum bangsawan dengan pangkat panggilan Tumenggung, yang ditempatkan di perkampungan yang namanya Kampung Tumenggungan yang hingga saat ini diteruskan oleh pelanjut keturunannya.
 PEMUGARAN DAN PERLUASAN MASJID
Perkembangan Masjid Raja kemudian selalu mengikuti jaman para penguasa di Pamekasan yang terus berlangsung dari masa ke masa yang tidak terlepas dari perkembangan arsitektur masjid yang ada di Jawa Timur, sebagaimana yang terlihat kemudian sampai saat ini seperti. Langgar masjid zaman wali, langgar masjid zaman penjajahan dan langgar masjid zaman kemerdekaan. Masjid Raja ini kemudian direnovasi oleh para Bupati / penguasa setelah masa-masa berikutnya. Setelah Madura ditaklukkan Mataram, Sultan Agung memerintahkan penggusuran Masjid Raja dan di atas lokasinya tersebut dibangun kembali bentuk mesjid yang umum di Pulau Jawa saat itu yaitu Mesjid Langgar Mataram dan telah disetujui Sultan Agung yaitu bangunan tajung tumpang tiga bagaikan bangunan meru tempat peribadatan masyarakat agama Budha. Perubahan ini dilaksanakan ketika pemerintahan Adipati yang  bernama Raden Gunungsari bergelar Adikoro I. Pada saat VOC jatuh pada Tahun 1799, semua daerah koloninya diserahkan kepada Pemerintah Belanda di Negeri Belanda  termasuk  daerah Madura. Kemudian jajahan VOC tersebut oleh Belanda dinamakan Hindia Belanda dan Madura termasuk di dalamnya. Selama itu hingga tahun jatuhnya VOC Masjid Pamekasan belum direnovasi baik fisik dan tatanan pemeliharaannya atau ketip-ketipnya. Namun semula Masjid Raja (1530) atau masjid renovasi tahun 1672 dilakukan cuma sekedar untuk syahnya shalat Jum’at untuk menampung jamaah sebanyak 40 orang menurut mazhab As-Syafii. Pada  pemerintahan Bupati R. Abd Jabbar gelar R. Adipati Ario Kertoamiprojo, yang memerintah dari tahun 1922 s/d 1934’ Masjid rehap tahun 1672 tersebut diperluas ke samping dan ke depan yang demikian karena makin banyaknya jamaah khususnya saat mendirikan shalat Jum’at dan pada hakikatnya masjid sedang diarahkan untuk menjadi masjid jamik Kota Pamekasan.

Pada tahun 1804 Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda mengangkat saudara dari Sultan Bangkalan yang bernama Abdul Latif Palgunadi sebagai Bupati Pertama Hindia Belanda  di Pamekasan. Tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1804 yang kemudian dikukuhkan dengan SK Tanggal, 27 Juli 1819 sebagai Panembahan Pamekasan dengan gelar Panembahan Mangkuadiningrat. Sejalan dengan pengukuhan tersebut Pemelihara masjid atau ketip masjid dipercayakan kepada Pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Panembahan Pamekasan dengan pangkat Tumenggung yang ditempatkan di tanah milik Pemerintah Panembahan Pamekasan di sekitar masjid sebagai perluasan dari Kampung Masèghit (kampung Masjid)  yang sudah ada yang saat ini masih berbekas di Kampung Tumenggungan.

Namun kemudian pada tahun 1939, saat Pamekasan diperintah oleh Bupati R. A. Asiz (R. Abd Azis (SIS)  berkuasa dari tahun 1939-1942) atas anjuran Gubernur Jawa Timur saat itu yaitu van derPlaas, masjid rato yang telah beberapa kali mengalami renovasi tersebut dirombak total dan di atasnya di bangun mesjid styel Walisongo yaitu segi empat beratap tajung tumpang tiga. Tetapi  masjid yang dibangun masa pemerintahan Bupati R. A. Abdul Azis ini tidak sepenuhnya menurut styel walisongo, sebab tidak memiliki serambi. Bahkan Tiang agungnya terdiri dari 16 batang tiang bukan empat. Tiang sebanyak itu untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah masjid yang mula-mula yaitu Masêghit Rato yang dibangun pada abad Ke-16. Setelah renovasi pada tahun 1939 yang diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini lalu dinamakan Masjid Jamik Kota Pamekasan dengan dua buah menara kembar di kanan-kiri masjid, menara setinggi 20 meter. Nama masjid jamik ini bertahan hingga tahun 1980, bahkan tidak sedikit penduduk Pamekasan yang menyebutkan demikian hingga saat ini.

Pada tahun 1980 masjid ini diperluas ke depan sejauh lima meter, tambahan ini merupakan serambi. Penambahan ini dilakukan atas perintah Bupati Pamekasan, Mohammad Toha yang memerintah pada tahun 1976 sampai dengan tahun 1982. Dengan demikian hasil Renovasi ini membuahkan masjid ini memiliki serambi yang tertutup dan perubahan ini bisa diterima karena masjid-masjid di jaman walisongo semuanya memiliki serambi.

Bangunan kantor Takmir Masjid Agung Asy-Syuhda’ Kabupaten Pamekasan tahun 1939 bertahan hingga renovasi tahun 1995. Namun kolam bundar untuk mengambil air wudhu sudah tergusur dan pengambilan air wudhu ditempatkan di bagian utara depan menara.  Selain itu untuk mengenang para Syuhada’ yang syahid pada waktu Serangan Umum pada tanggal 16 Agustus 1947, yang dilakukan oleh para pejuang Republik Indonesia di Madura terhadap pendudukan serdadu Belanda di kota Pamekasan. Mereka yang gugur, semuanya dikubur di depan Masjid Jamik sebelah sisi utara dan kemudian di situ didirikan monumen Taman Makam Pahlawan(TMP). Namun kemudian di tahun 1974 para Syuhada yang terkubur di Taman Makam Pahlawan tersebut seluruhnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Panglegur seperti adanya saat ini. Sebagian bekas taman makam pahlawan di depan masjid tersebut bagian tepi barat sudah menjadi Jalan Masigit setelah  ada pelebaran jalan depan masjid pada tahun 2004. Serangan Umum tanggal 16 Agustus 1947 tersebut oleh seorang wartawan perang Belanda, Wim Horman,  menyebutkan  dalam ungkapannya :

Renovasi tahun 1980-1985
Pada tahun 1985 oleh Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan, Masjid  kembali mendapat renovasi berupa pelebaran ke samping kanan dan kiri sejauh lima meter dengan jalan menggusur tempat untuk berwudhu’ yang kemudian tempat air wudhu’ tersebut dipindah ke bagian depan sebelah utara. Nama masjid kemudian ditambah dari Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan.

Pada September tahun 1995 di jaman pemerintahan Bupati Drs. H. Subagio, M.Si Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan direnovasi total kembali. Secara total Masjid dibangun dengan seluruhnya cor beton . Karena berada di tepi sungai yang rawan longsor  maka digunakan pasak bumi yaitu paku beton sepanjang 22 meter tertancap di bumi dasar mesjid sebanyak 360 batang dan setiap pasak dihubungkan dengan cor beton pula sehingga Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan renovasi 1995 ini terkesan bagaikan sangkar beton yang tertancap di bumi sebagai fondasinya. Masjid ini memiliki 3 lantai. Lantai pertama sebagian digunakan sebagai Gudang, Kantor Takmir, Ruang Pertemuan, Perpustakaan, Balai Pengobatan, sanitasi dan tempat ambil air wudhu’. Sebagian lagi tepatnya di bagian ke arah barat tertutup ditimbuni tanah. Lantai 2 sebagai ruang inti / haram dengan ukuran 50X50  meter dan samping kanan-kiri.  Bagian depan dibatasi dinding sebagai serambi masjid. Tiang utama 4 (empat) buah dengan demikian kembali ke styl masjid Mataram yang memiliki empat pilar tiang agung yang tertancap di dasar bangunan tembus ke lantai tiga. Lantai tiga juga dipersiapkan sebagai tempat sholat, dari lantai tiga ini  para jamaah dapat melihat imam shalat di lantai dua. Materi bangunan masjid banyak didatangkan dari luar Madura seperti marmar untuk lantai dari Tulungagung dan Lampung. Tembok dinding dilapisi dengan ukiran, juga pintu dari kayu berukir dan ukiran ini didatangkan dari Jepara di Jawa Tengah dan Karduluk di Sumenep. Secara keseluruhan masjid renovasi 1995 masih dalam bentuk masjid tradisional, berserambi, bertiang utama (tiang agung) empat buah, tetapi atapnya tidak lagi atap tajung tumpang tiga melainkan bergaya Timur Tengah, bentuk segi empat dan berkubah cor pasir dan semen. Nama masjid tetap Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dengan daya muat sebanyak 4000 jamaah.

Renovasi total Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan berlanjut hingga pemerintahan Bupati Drs. H. Dwiatmo Hadiyanto, M.Si. Rehap dalam tahap akhir pemberian pagar dan gerbang masjid serta pelebaran Jalan Masigit khususnya di depan Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dilaksanakan dalam pemerintahan bersama Bupati Drs. H. Ahmad Syafi’i, M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang memerintah dari tahun  2003 s/d 2008 sekaligus merestui Takmir Masjid Agung Asy-Syahada’ Kabupaten Pamekasan yang baru yaitu Drs. H.R. Abd. Mukti, M.Si sebagai Ketua Umum  Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dan Drs. KH.M. Baidowi Ghazali, MM sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan. Pada saat tulisan ini disusun renovasi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasanmemang sudah selesai  sesuai dengan konsep semula. Namun Wajah Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan terus-menerus dipercantik sebatas yang diperbolehkan agama, dan ragam rias ini selalu dalam pengamatan dan bimbingan langsung dari Bupati Kabupaten Pamekasan  Drs. KH. Kholilurrahman, SH.,M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang keduanya mulai menjabat dari tahun 2008 s/d 2013. Pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal, 24 Mei 2011 Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten dan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan di lebur menjadi satu dengan nama Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan yang di ketuai oleh Drs. H. RP. Abd. Mukti, M.Si.

KIBLAT
Dalam masalah kiblat ini Pamekasan yang termasuk daerah khatulistiwa, sebagaimana umumnya negeri kita, Indonesia. Apa yang mereka kerjakan.” ( Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 144 ).   Untuk daerah kita, telah diperhitungkan menurut azimuth yang sudah digunakan bagi seluruh tempat di tanah air dan bagi Pamekasan yaitu arah barat-barat daya atau kearah barat dan serong ke arah utara sebesar 23º, sehingga mengarah ke Masjidil Haram di Makkah. Dengan demikian Jhâlân Sè Jhimat yang mengarah dari simpang monumen Lancor di renovasi untuk disesuaikan sebab jalan tersebut dahulu dibuat dengan tujuan mengarah ke mihrab mesjid Rato dengan maksud si pejalan kaki merupakan sosok yang berjalan di jalan Allah menuju tempat untuk sujud kepada AllahNamun saat ini jalan Sè Jhimat tersebut sudah menjadi tempat parkir.  Wa Allâhu a’lam bi al sawhâb.

RUANG, INTERIOR DAN SARANA DI MASJID AGUNG ASY-SYUHADA
Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupten Pamekasan yang berlantai tiga ini mempunyai  banyak ruang  dengan fungsi yang berbeda seperti :

  • Ruang liwan, ruang inti tempat jamaah masjid melakukan sholat berjamaah, terdapat di lantai dua, juga terdapat di lantai tiga 30 X 1,20 m
  • Ruang Haram  / Liwan di lantai 2
  • Ruang Haram / Liwan di lantai 3
  • Serambi, serambi depan 9 X 55 m dan serambi samping kiri – kanan dengan ukuran  masing – masing 4,5 X 20,7 M di lantai dua,
  • Serambi samping kanan / utara , lantai 2,
  • Serambi  depan di lantai 2,
  • Serambi samping kiri / ruang liwan wanita di lantai 2,
  • Ruang istirahat Imam sejajar dengan ruang-ruang  mihrab dan mimbar dan ruang muadzin sekaligus sebagai ruang alat-alat elektronik. Masing-masing berukuran 5 X 3 m di lantai 2,
  • Ruang Mihrab dan mimbar,
  • Kantor Takmir, terletak di lantai satu berukuran  4 X 20 m.
  • Ruang Pertemuan, terletak di lantai satu dengan ukuran  8 X 21 m

Di samping ruang-ruang ini masih tersedia ruang-ruang lain seperti gudang tempat penyimpanan alat kelengkapan masjid seperti terpal, permadani dan lain-lain. Juga di sekitar atau bagian sisi utara dan barat masjid dibangun beberapa bangunan untuk tempat pendidikan dan kesenian. Walaupun tempat seperti terpisah tapi masih merupakan satu komplek dalam makna masih mencerminkan adanya hubungan orientasi antara komplek dan bangunan induk masjid.

  • Ruang Unit Radio “ Swara Gerbangsalam 88,6 FM “hasil kerja sama Majelis Ulama’ Indonesia Kab. Pamekasan, Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam Kab. Pamekasan, FOKUS Kab. Pamekasan dan Yayasan Takmir Masjid Asy-Syuhada’ Kab. Pamekasan dengan ukuran 3X3 M dan juga ada ruang tempat penyelenggaraan rekaman, relay / TV. Dan sekarang dikelola oleh Badan Pengelola Radiop Gerbang Salam 88,6 FM.
  • Ruang Wanita, ditempatkan terpisah dari jamaah pria yaitu di serambi bagian kiri di lantai 2 (selatan) Pemisahan tempat ini untuk menjaga agar tidak tergaggunya kekhusyukan, dari dua jamaah yang berbeda jenis kelamin, wanita-pria. Untuk hari-hari biasa, pada hari Jum’at tidak disediakan tempat Jamaah wanita hal ini karena bagi wanita shalat Jum’at merupakan  sunat (boleh melaksanakan boleh tidak) tetapi untuk hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha disediakan di lantai tiga. Walaupun terjadi pemisahan seperti tersebut di atas, para jamaah wanita masih dengan sempurna hubungan pandangan  secara langsung ke ruangan pria yang demikian dimaksudkan agar herak-gerik imam atau khatib dapat diikuti secara langsung dari ruang wanita.
  • Tempat ruang sesuci / Wudhu’ dan Sanitasi,terdapat di lantai satu di kiri (Selatan)- kanan (Utara).Untuk wanita di bagian kiri, terdapat 6 (enam) sanitasi dan 27 kran untuk mengambil air wudhu. Sedangkan di bagian kanan untuk pria, terdapat 10 tempat sanitasi, 4 tempat kencing dan kran untuk mengambil air wudhu’ sebanyak 26 buah. Pemisahan kedua ruang sesuci antara pria dan wanita ini sudah sesuai dengan tuntunan ajaran Agama Islam bahwa manakala sesudah bersuci untuk sholat apabila terjadi persinggungan kulit antara dua jenis kelamin dan bukan termasuk muhrim maka ia menjadi batal, karena ia diharuskan mengambil wudhu’ kembali. Air yang digunakan  untuk air wudhu di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan adalah air dari mata air yang ada di Pamekasan  melalui jasa PDAM Pamekasan. Pengambilan air wudhu’ disediakan kran sebagaimana tersebut di atas, hal ini untuk menjaga  agar air wudhu’ tetap hygienis. Demikian pula  kamar mandi dan WC yang  ruangnya tertutup  dan sopan sehingga menjamin tingkat privacy jamaah yang menggunakan.
  • Gedung Taman Pendidikan Al-Qur’an Asy-Syuhada’ Terletak di samping belakang bagian utara Komplek Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan,
  • Jam gantung 3 buah, papan publikasi 3 buah, mimbar 1 buahdan beduk 1 buah dan penitipan sandal.
  • Ruang alat elektro dan  pengeras suara.
  • Pertamanan terdapat di halaman masjid bagian tepi kiri – kanan,  Halaman bagian utara,  Halaman bagian selatan.
  • Ragam RiasMasjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan juga dihias dengan kaligrafi, dan beberapa gambar motif  bangunan masjid dan geometris.
    Menara , Masjid berujung berbentuk peluru (sesuai dengan penjelasan dari Arsitek Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan kepada beberapa orang jamaah di tahun 1996 ).
  • Tempat penitipan kendaraan jamaah di pusatkan di jalan Sè Jhimatyang sudah ditutup, di area Monumen Lancor

MENARA KEMBAR Tinggi 37 M

Menara oleh Islam difungsikan sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan agar adzan lebih jauh lagi didengar orang karena adzan  merupakan panggilan atau ajakan untuk melakukan sholat. Saat ini muadzin tidak perlu naik-turun menara yang tinggi dan melelahkan itu. Hal ini karena Islam juga telah menggunakan teknologi yang ada. Muadzin tidak perlu naik-turun menara. tetapi cukup menempatkan  pengeras suara di puncak menara dan muadzin cukup mengumandangkan panggilan shalat tersebut di ruang muadzin sebab dari tempat tersebut dihubungkan ke pengeras suara di puncak  menara menggnakan alat elektro.

Menara Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan tetap dua buah dan merupakan menara kembar sebagaimana menara masjid Jamik Pamekasan buatan tahun 1939 yang telah dibongkar, tetapi menara yang sekarang ujung atasnya berbentuk peluru, bentuk ini sebagai ungkapan bahwa Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pernah menyaksikan serangan umum yang disebutkan di atas pada tanggal 16 Agustus 1947, saat itu Masjid Jamik Pamekasan dipenuhi lubang bekas peluru yang ditembakkan oleh tentara pendudukan Belanda ke arah masjid sebab di masjid banyak pejuang berlindung.

FUNGSI MASJID

Kegiatan dalam Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah terlihat demikian kompleks. Bahkan dapat dikatakan makmur, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni peribadatan,  pendidikan keagamaan, sosial keagamaan dan sebagainya. Justru dengan semakin makmurnya  kegiatan ini maka pihak pembina masjid yaitu Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dirangsang untuk semakin dapatnya menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Ketua Umum Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan selain mengawasi perkembangan fisik masjid juga membawahi unit-unit usaha, pendidikan, (Taman Pendidikan Al-Qur’an / TPA), badan dakwah, remaja masjid, keamanan, pemeliharaan fisik kompleks masjid, Unit Radio Swara Gerbangsalam sedangkan sekretaris membawahi  pembukuan, keuangan dan urusan material. Sedangkan pemeliharaan gedung ditangani oleh seksi tehnik dan karyawan masjid.

Selain dari yang telah melembaga seperti yang disebutkan di atas masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti Panitia Amaliyah Zakat Fitrah dan Mall, Panitia Amaliyah Idul Qurban, Panitia Santunan Anak Yatim, Panitia Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, Panitia Maulid Nabi Muhammad saw. Di samping itu pendidikan non formal juga tidak dilupakan seperti kuliah subuh, kuliah pada malam nisfu sya’ban dan hari-hari besar Islam yang dirayakan di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan, ceramah dan dialog interaktif Radio Swara Gerbangsalam 88,6 FM, akad nikah dan doa bersama seperti Istighatsah oleh berbagai golongan organisasi Islam. Juga dalam program pengembangannya Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pada tahun Ajaran 2011 akan membuka Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Diniyah dan Belajar Sampoa, belajar mengaji bagi Lansia.

Semua tercakup dalam pengelompokan, religi, pendidikan, sosial budaya dan ekonomi, kemasyarakatan dan kepemudaan.   Dengan demikian fungsi Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah secara estafet, meneruskan budaya Islami yang selaras dengan budaya lokal, walaupun demikian warna kultur Islam masih dapat terlihat jelas, hal ini karena kultur Islam memiliki warna khas tersendiri.

——————————————————————————————-Oleh: Dian K ; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; SEJARAH MASJID ANGUNG ASY-SYUHADA`  PAMEKASAN, A.Sulaiman Sadik. 
Pamekasan: Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan,  2011
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG K.H ANAS MAHFUDZ LUMAJANG

masjid-agung-k-h-anas-mahfudz-lumajang

Masjid Agung kota Lumajang disebut pula Masjid agung K.H Anas Mahfudz, Terletak di pusat kota tepatnya sebelah barat alun – alun Lumajang.  Berawal dari tahun 1825 M. pasukan tentara diponegoro mendirikan sebuah langgar kecil di sebelah barat alun – alun kota Lumajang, Yakni, ketika pasukan itu berada di Lumajang.

Awal tahun 1968 masa kepemimpinan Bupati Subowo, masjid ini sempat dilebarkan ke utara dengan membongkar kantor NU dan Maarif, 1987 perluasan lahan menjadi 3 kali dari luas lahan semula. Pada tahun 1987 masa kepemimpinan Bupati karsid dilakukan pemugaran total, yang semula bangunan masjid, bergaya arsitektur jawa kuno atap joglo dirubah menjadi bangunan masjid modern beratapkan kubah setengah lingkaran. Masa pemerintahan H.Syamsi Ridwan (1988 – 1993) membangun menara tambahan pada sisi utara masjid. Pada masa pemerintahan Bupati Tamrin Hariadi (1993-1998) dilakukan peresmian nama Masjid Agung Lumajang yang pada masa sebelumnya dikenal sebagai Masjid Jami’. Setelah itu pada tahun 2002 – 2003 dilakukan renovasi besar- besaran oleh Bupati Fauzi. Renovasi dilakukan dengan perubahan tampilan depan masjid dan penambahan dua menara setinggi 30 meter di sebelah selatan masjid.

Juga terjadi perubahan nama dari Masjid Agung Lumajang menjadi Masjid Agung K.H. Anas  Mahfudz.  Penamaan masjid agung ini diambil dari nama ulama yang berpengaruh di Lumajang yaitu K.H Anas Mahfudz. Beliau merupakan perintis didirikannya masjid agung sekaligus perawat masjid setelah didirikannya masjid oleh Laskar Diponegoro. Penerus K.H Anas Mahfudz sampai saat ini masih menjadi pengurus ( takmir ) dari masjid ini.

Ketakmirannya masjid secara beruntun dimulai sejak Kiai Anas Machfudz sampai tahun 1980. Kemudian Kiai Maimun dan Kiai Said. Lalu diganti KH Sahlan sampai 1996. Dilanjutkan Kiai Eksan Anwar sampai 2007. Dan Kiai Amak Fadoli (mertuanya) sampai 2012. Baru kemudian, saat ini Abdul Kahfi menjadi ketua takmir masjid tersebut.

Gaya arsitektur masjid ini bercirikan khas timur tengah, menggunakan kubah lengkung panjang dan begitu pula bentuk kusennya. Kolom yang berderet panjang dengan model besar merupakan bekas renovasi kedua yang tidak di bongkar sehingga menjadikan ciri khas tersendiri dari bangunan masjid ini.

Pada kedua sisi masjid didirikan menara sebagai ikon masjid. Hal yang unik dari arsitektur masjid ini adalah kubah tumpuk yang disebabkan karena kubah lama tidak dibongkar pada saat renovasi kubah, langsung di tumpuk dengan kubah baru seperti yang di lihat saat ini.

Interior masjid ini memiliki sirkulasi yang cukup luas dengan pembagian saf wanita di sebelah kiri belakang dari bagian saf laki-laki. Pembagian tempat wudlu wanita berada di sebelah selatan dan laki-laki berada sebelah utara sehigga sirkulasi wanita dan laki-laki tidak berbenturan.

Pencahayaan di dalam masjid ini cukup baik dengan pencahayaan alami yang didapat dari kubah atas dan juga dari jendela lebar di sisi dinding selatan dan utara. Penghawaan sebenarnya sudah cukup baik meskipun tidak menggunakan penghawaan buatan ( AC ) hal ini dikarenakan terdapat ventilasi di sekeliling dinding masjid. Ventilasi ini berbentuk unik dengan pengulangan bentuk persegi yang cukup statis dan memberikan kesan simetris.

Area Lobby dan Area Tunggu  di desain dengan penggabungan dua unsur, antara budaya Islam dan Lumajang. Penggunaan bentuk ornamen islam pada dinding dipadukan dengan signage yang berasal dari transformasi motif batik Lumajang pada backdrop lobby memberi kesan unik.

Desain ruangan nampak dinamis dengan bentuk lengkung pada furnitur dan pertemuan antara dinding dan plafond memberikan kesan ruang yang tidak monoton. Tampilan warna hijau yang merupakan warna khas islam dipadukan dengan warna emas dan warna natural kayu.

Area Perpustakaan memberikan kebebasan ruang gerak bagi pengunjung. Pemisahan area baca dan area simpan buku agar konsentrasi pengunjung yang membaca tidak terganggu, juga disediakan area baca lesehan. Area internet corner berada di belakang meja lobby memberi kemudahan pengunjung untuk mengakses informasi. Tersedia pula katalog digital serta fasilitas foto copy dan print.

Pada area TPA didesain multifungsi, ruang dibagi empat (4) dengan pembatas ruangan berpartisi semi transparan. Ornamen islami hadir pada dinding, lantai menggunakan parket kayu sehingga mebawa kesan hangat, nyaman di pijak tidak licin, warna dominan putih dengan aksen hijau. sehingga pengguna ruangan memberi efek tenang dan nyaman.

—————————————————————————————-edit 134N70

sumber: Aplikasi Budaya Lumajang Pada Interior Masjid Agung K.H Anas Mahfudz: Citra Maya Rusafi; Jurusan Desain Produk Industri, FTSP ITS. Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

MASJID AGUNG BANGKALAN

Pembangunan Masjid Agung Kota Bangkalan merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura, karena sejak ditangkapnya dan dibuangnya Pangeran Tjakraadiningrat ke IV yang memerintah mulai tahun 1718 sampai dengan tahun 1745 yang disebut Sidingkap (asal kata Sido-Ing-Kaap) oleh Belanda (Kaap de Goede Hoop/Afrika), yang semula didesa Sembilangan dipindahkan ke Desa Kraton Bangkalan (tahun 1747) dengan diawali 3 bangunan utama yang terdiri dari :

  1. Bangunan Kraton (sebelah timur)
  2. Bangunan Paseban (di tengah)
  3. Bangunan tempat ibadah/masjid (sebelah barat)

Adapun penggantinya adalah Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panembahan Tjakraadiningrat Ke V yang kemudian setelah wafat disebut Pangeran Sidomukti (asal kata Sido-ing-mukti) yang memerintah tahun 1745 sampai 1770 dan dikebumikan di Aermata, Arosbaya. Pada masa pemerintahannya (tahun 1774) Kraton dipindahkan ke Bangkalan. Pangeran Sidomukti mempunyai putra R. Abd. Djamil, menjadi Bupati Sedayu dengan gelar R. Tumenggung Ario Suroadiningrat dan wafat mendahului Pangeran Sidomukti dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan dan setelah lahir diberi nama R. Tumenggung Mangkuadiningrat dan bergelar Tjakraadiningrat VI (Panembahan Tengah) wafat tahun 1780 dimakamkan di Aermata, Arosbaya.

Setelah Tjakraadiningrat VI wafat diganti Saudara ayahnya yang bernama R. Abdurrahman atau R. Tawangalun alias R. Tumenggung Ario Suroadiningrat atau Panembahan Adipati Tjakraadiningrat VII beliau memerintah tahun 1780 sampai dengan 1815, selanjutnya kemudian dikenal sebagai Sultan Bangkalan I. Masjid waktu itu masih khusus untuk ibadah kerabat dan keluarga kraton. Mulai Tjakraadiningrat ke VII pemerintahan berupa kesultanan dan penggantinya Sultan R. Abd. Kadirun (sultan Bangkalan ke II) memerintah tahun 1847. Dalam kurun pemerintahan Sultan R. Abd. Kadirun, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah sholat Jum’at, tiang agung dipancangkan (pemugaran yang pertama) dengan ukuran 30 m x 30 m, dan waktu itu diresmikan sebagai wakaf/dijadikan Masjid Umum (Masjid Jami).

Oleh karenanya, para sesepuh Bangkalan menyatakan bahwa Masjid Jami Kota Bangkalan dibina oleh Panembahan Sidomukti dan diwakafkan oleh Sultan R. Abd. Kadirun yang wafat pada tanggal 11 safari 236 H (tahun 1847) dimakamkan dikompleks tanah Masjid/dibelakang Masjid yang disebut cungkup. Sedang tulisan (kaligrafi) yang tertera disekeliling Masjid ditulis oleh R. Moh. Zaid yang kemudian diberi gelar Raden Mas Kayadji.

Terhitung tanggal 1 Nopember 1885 status pemerintahan berubah menjadi Kadipaten, dan Bupati yang pertama adalah R. Moh. Hasyim dengan gelar Pangeran Suryonegoro. Adalah atas prakarsanya padatahun 1899-1900 Masjid dipugaryang II bagian atap, penutupan kolam dimuka yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi waktu itu termasuk tatanan bangunan sekitarnya (sebelah Selatan di bangun rumah Penghulu dan sebelah Utara rumah Hoofd Penghulu). Dalam pemugaran yang ke II ini sempat ada korban yaitu arsiteknya (orang Tionghoa) meninggal disambar petir diatas Masjid.

Tahun 1950 akibatadanya gempa bumi Masjid mengalami rusak berat terutama bagian muka (serambi) dan dipugar ke III oleh Bupati Tjakraningrat. Kemudian mulai tahun 1965 .karena Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led, mulai timbul rencana perluasan dan dibentuklah Panitia yang terdiri dari beberapa unsur organisasi massa dengan nama Panitia Besar Pembangunan Masjid Jami Kota Bangkalan. Namun Panitia tersebut sampai beberapa lama tidak menampakkan ujud hasilnya.

Sewaktu kepemimpinan Bupati HJ. Sujaki diambil kebijaksanaan, Panitia tersebut dirombak dengan susunan Panitia ini secara Instansional terkait dengan nama Panitia Pembangunan/Perluasan Masjid Jami Kota Bangkalan (SK Bupati KDH Tingkat II Bangkalan). Menjelang akhir kepemimpinan HJ. Sujaki, Rencana Gambar selesai yang didesign oleh PATA – ITS Surabaya dengan rencana anggaran Rp. 35.000.000,00. Hari Jum’at sesudah sholat tanggal 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 walaupun hanya bermodal Rp. 15.000.000,00 atas kebijaksanaan PJ. Bupati Soelarto, Pembangunan/Perluasan Masjid terus dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Kemudian dalam kepemimpinan Bupati Drs. Soemarwoto, mengingat pemasukan dana yang lamban dan juga adanya kondisi tanah dan lingkungan pembuangan air sekitarnya, maka gambar (design) direvisi yaitu :

  1. Tempat wudlu yang semula dibawah lantai dipindah ke samping dengan bangunan tersendiri, dengan pertimbangan pembuangan air sulit tersalurkan karena kenyataannya selokan pembuangan lebih tinggi dari tempat wudlu tersebut.
  2. Bagian muka yang seluruhnya berlantai dua (kelder) untuk menghemat biaya hanya samping kanan – kiri yang berlantai dua, sedang di tengah dibangun joglo.

Demikian juga setelah awal kepemimpinan Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan pada hari Jum’at 12 Jumadil Akhir 1409 H tanggal 20 Januari 1989 memulai pekerjaan tahap ke V dengan mengerjakan Wing sebelah Selatan atau kanan. Dalam pengumpulan dana juga mengalami hal yang sama sehingga pekerjaan tersendat-sendatdan akhirnya dicari terobosan dengan memberikan mandat penuh kepada Drs. H. Hoesein Soeropranoto/ketua kehormatan Yayasan Ta’mirul Masjid Jami Kota Bangkalan ini (sesuai dengan keputusan Rapat antar Bupati, Panitia Pembangunan dan Yayasan Ta’mirul Masjid tanggal 12 Agustus 1990 di kantor PT. Imaco Surabaya/PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Selanjutnya gambar “maket” dari pemugaran Masjid tersebut disyahkan oleh Bupati Bangkalan (Abd. Kadir) para Ulama yang diwakili oleh Ketua Yayasan (KH. Loethfi Madani) sesepuh masyarakat Bangkalan (R. Pd. Muhammad Noer dan RP Mahmoed Sosrodiputro) dan Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan Kyai Lemah Duwur MKGR Bangkalan, Drs. Mar’ie Muhammad dan Drs. H. Hoesein Soeropranoto. Sedang pekerjaan pemugaran mulai dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 dan dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan lebih cepat dari yang direncanakan selama 9 bulan. Sebagaimanadigambarkan sebelumnyabahwa kondisi Masjid ini sudah tidak mungkin lagi untuk tetap dibiarkan saja baik ujud bangunannya, fasilitasnya dan daya tampungnya.

Berdasarkan rasa percaya atas rahmatNya, Yayasan telah bertekad untuk menjadikan Masjid ini sesuai perkembangan Jaman dengan tetap memperhatikan karya para pendahulu. Makna dari pemugaran ini adalah untuk melestarikan bangunan bersejarah dan merupakan partisipasi nyata d’ari generasi penerus yang mempunyai rasa tanggung jawab didalam pemenuhan kebutuhan masyarakat muslim yang menganggap Masjid Agung Bangkalan sebagai kebanggaan dan pusat orientasi kota yang warganya mayoritas muslim.

Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama. Dalam pemugaran Masjid Jami tersebut berkembang cerita bahwa sewaktu Sultan berkenan hendak meluaskan dan membangun Masjid yang agung dan berwibawa, beliau memerintahkan untuk mencari kayu jati 4 batang yang besar dan tingginya sama untuk tiang agung dan ternyata hanya memperoleh 3 batang, sedang yang satu batang besarnya sama namun tingginya kurang dan kurang lurus, sedang waktu untuk mencari sudah tidak ada lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka tampillah seorang Ulama yang bernama K. Nalaguna (makamnya dikampung Barat Tambak Desa Pejagan Bangkalan) yang kemudian dikenal sebagai Empu Bajraguna (ahli membuat senjata/keris) yang bersedia untuk mengusahakan agar kayu tersebut dimandikan dan dibungkus dengan kain putih dan dikirap keliling kota, dan setelah dikirap kain pembungkusnya dibuka, ternyata berkat karomah Ulama tersebut kayu itu sama tinggi dan besarnya, sehingga tepat pada waktu yang telah ditentukan. Kayu tersebut dipancangkan disebelah muka bagian utara yang kemudian tiang tersebut diambil dari Arosbaya tanpa menggunakan alat pengangkut (transport), cukup dengan gotong royong masyarakat dengan cara sambung menyambung (bahasa madura Lorsolor), sedang campuran lolo digunakan legen (bahasa madura La’ang).

Ujud Masjid Agung yang nampak seperti sekarang ini adalah merupakan pengetrapan ide dari Ketua kehormatan Yayasan TMJKB yang dipadukan dengan prinsip-prinsip tehnik Arsitektur dengan mempertimbangkan kondisi bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Dengan selesainya pemugaran ini didalam Masjid dapat menampung 6000 Jamaah dan dipelatarannya dapat digunakan Sholat oleh 5000 lebih Jamaah. Selain dari itu Masjid juga dapat menampung kegiatan Administrasi pengelola, perpustakaan untuk umum juga kegiatan ibadah lainnya.
——————————————————————————————-Oleh: Wahyu DP; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Rehabilitasi perluasan Masjid Agung Bangkalan,

Drs.H. Hoesein Soeroprano
Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kota Bangkalan,  1991
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

MASJID AGUNG DARUSSAALAM BOJONEGORO

masjid-agung-darussaalam-bojonegoro

Lokasi Masjid Agung  Darussalam Bojonegoro terletak tepat di baratnya alun-alun Bojonegoro, tepatnya berada pada Jl. KH. Hasyim Asy`ari No. 21.  Berdekatan dengan berbagai gedung instansi yang ada di Bojonegoro, mulai dari gedung pemerintahan, pendopo, kampus-kampus, Rumah sakit Islam Muhammadiyah, serta beberapa gedung sekolahan, serta pusat perdagangan yakni pasar Bojonegoro. Dari letak inilah membuat masjid  ini  menjadi pusat perhatian tempat.

Lokasi masjid agung Darussalam ini  berdiri tepat di depan pintu masuk alun – alun hanya dibatasi oleh penyebrangan jalan raya saja. Sedangkan Lokasi alun-alun Bojonegoro dapat dicapai dari arah manapun.  Adapun Kabupaten Bojonegoro dari arah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tuban, dari arah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, serta dari arah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk, sedangkan dari arah Barat berbatasan dengan Kabupaten Blora (Jawa Tengah).  Melihat letak itu dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor, roda empat ataupun jalan kaki.

Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan. Masjid agung Darussalam Bojonegoro didirikan tahun 1825 bertepatan dengan peristiwa perang Diponegoro yang terjadi di Bojonegoro. Berdasarkan sejarah perkembangan masjid arsitektur Masjid di Jawa Timur dibagi dalam tiga periode yaitu zaman Wali, zaman Penjajahan, dan zaman Kemerdekaan, begitu pula Masjid agung Darussalam Bojonegoro. Menurut catatan sejarah pembangunan masjid yang menjadi simbol religius ini di bangun sekitar tahun 1825 oleh para pedagang yang singgah di Jalur Sungai Bengawan Solo. Akan tetapi  berdirinya masjid ini tidak bisa dipisahkan dengan keterlibatan keterlibatan Laskar Diponegoro, sebab sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo ketika itu merupakan jalur satu satunya laskar Diponegoro dalam malaksanakan penyerangan gerilyanya, dan Masjid merupakan titik utama.

Salah satu tokoh laskar Diponegoro yang mempunyai sebutan Patih Pahal. Beliaulah yang telah mewakafkan sebidang tanahnya, selanjutnya pada tahun 1825 itulah oleh masyarakat sekitar bersama sisa– sisa laskar Pangeran Diponegoro serta didukung para pedagang pasar Bojonegoro, mulai dibangun sebuah Masjid dan konon sambil perang melawan penjajah di Sepanjang tepi   Bengawan Solo. Pelaksanaan pembangunan masjid saat itu sangat luar biasa, setiap hari masyarakat sekitar bergantian secara sukarela mencarikan material seperti, berupa kayu,  batu kali dan pasir, saat itu material tersebut memang mudah didapat. Selain itu banyak masyarakat juga bergantian memberikan konsumsi pada para tukang. Pada saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana semi permanen, hanya bangunan induk pondasinya batu dan semua bagian bangunannya dari kayu termasuk pilar dan dindingnya.

Pemugaran merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena dari bangunan-bangunan lama yang diperbaharui kembali, selain mengganti bagian yang rusak juga mengadakan penambahan dan ada pula yang mengurangi dari objek bangunan yang dipugar. Akan tetapi dalam  pemugaran tersebut juga harus menjaga dan melestarikan nilai spiritual dan budaya bangunan yang dipugar.  Oleh sebab itu pada proses pemugaran pelaksanaannya harus jeli dan mengusahakan tidak merubah keaslian dari obyek yang bersangkutan.

Tahun 1925 saat masjid agung Darussalam Bojonegoro berusia ke 100 tahun, dilakukan penyempurnaan bangunan fisik yang dilakukan oleh Kanjeng Soemantri, Bupati Bojonegoro yang menjabat tahun 1916 sampai dengan tahun 1936. Masjid dipugar dengan melengkapi serambi depan, Kantor kenaiban (Kantor urusan Agama ) dan Madrasatul Ulum sebagai upaya pengkaderan umat islam yang sekarang menjadi MIN I Bojonegoro.

Tahun 1955 Republik Indonesia baru genap usia 10 tahun. Untuk itu Bojonegoro sangat membutuhkan sarana pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dibagunlah sekolah rakyat di halaman samping Masjid Darussalam sekarang menjadi SMP Islam.

Tahun 1963 dilaksanakan renovasi, pada bangunan serambi dan lantai masjid, Kantor Urusan Agama Kecamatan dan pagar depan, dengan menggusur bangunan kopel menjadi KUA dan bangunan KUA semula menjadi balai Muslimin yang letaknya disebelah utara masjid. Saat itu Bupati TK II Bojonegoro dijabat oleh H.R. Tamsi Tedjosasmito masa kepemimpinan tahun 1960-1968.

Tahun 1983 dilaksanakan perluasan, menambahan lokasi serambi ke samping dan depan, dengan bentuk hiasan setengah lingkaran mengelilingi serambi masjid baik sisi kanan, kiri maupun depan.  Selain itu juga merenovasi tempat pengambilan air wudlu, sumur dan jamban. Lokasi menara pada awalnya berada di samping kanan masjid dipindah ke bagian halaman depan masjid, karena samping kanan masjid akan digunakan untuk perluasan ruang shalat. Selain itu pintu gerbang di dampingi dua buah mihrab kecil pada sisi kanan dan kiri pintu. Bentuk atap memiliki dua buah atap, pada bagian atap ruang shalat utama berbentuk atap tumpang sedangkan pada bagian serambi terdapat atap kubah. Kubah berbentuk setengah lingkaran, dana pembangunan masjid ini berasal dari:  Bantuan dari Presiden, dari Menteri Agama,  dana NTCR (Nikah, Talak, Cerai. Dan Rujuk) serta dana APBD tahun 1978-1983 masa kepemimpinan Bupatinya Drs. Soeyono. Selanjutnya peresmian dilakukan oleh Menteri Agama Bapak H. Alam Syah Ratu Perwira Negara.

Tahun 1993 dilaksanakan rehab total pada semua bangunan masjid yang kepanitiaannya langsung ditangani oleh Bapak Drs. H. Imam Supardi Bupati KDH TK.II Bojonegoro yang menjabat dua periode tahun 1988-1993 berlanjut tahun 1993-1998. Renovasi meliputi bangunan induk, pilar – pilar dibungkus dengan kayu jati asli, pintu-pintu masjid, ornamen dan asesorisnya diperbaiki, tempat wudhu, perkantoran sampai tempat parkir semuanya direnovasi. Juga dilakukan pemindahan lokasi Kantor KUA, MIN dan SMP Islam,  MIN dipindah ke Jl. Panglima Sudirman,  SMP I dipindah ke Jalan Panglima Polim sedangkan Kantor KUA dipindah ke sebelah selatan Masjid Mojo Kampung. Balai Muslimin juga mengganti dengan pendopo, ruang perpustakaan dan kantor TPQ, pembuatan tempat wudhu baru, pembuatan serambi dan mengalihkan ruang shalat jamaah wanita ke lantai atas, pembuatan menara dan taman dilingkungan masjid. Sumber dana diperoleh dari bantuan Presiden, APBD, NTCR serta infaq Masyarakat yang dikoordinir oleh YASOIMI, juga bantuan dari Gubernur Jawa Timur yang kala itu dijabat oleh H. Bashofi Sudirman, peresmiannya dilakukan oleh Bapak H. Bashofi Sudirman.

Tahun 2014 Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengalami pemugaran besar-besaran menggunakan dana APBD sebesar 40 Milyar. Masa  kepemimpinan Bupati Drs. H. Suyoto, M.Si  yang menjabat dua periode yaitu tahun 2008 – 2013 dilanjutkan pada tahun 2013 – 2018. Pembangunan pada tahap pertama  yang dilaksanakan mulai bulan April 2014 telah menghabiskan dana sebanyak 25 Milyar. Renovasi pada tahap ini hampir seluruh bangunan masjid, mulai dari bangunan induk, serambi, menara, tempat wudhu, ruang perkantoran dll. Dilaksanakannya renovasi tersebut dikarenakan beberapa masalah yang meliputi:

  • Bangunan induk rendah dan kurang luas menyebabkan sirkulasi udara kurang sempurna sehingga udara didalam masjid panas; interior ruang shalat sudah usang, bentuk mihrab setengah lingkaran dibagi dua tempat, dirubah menjadi persegi panjang ke atas menjadi satu tempat, arah kiblat kurang sesuai.
  • Serambi masjid rendah baik bagian kanan, kiri maupun depan, membuat sirkulasi udara kurang sempurna menyebabkan ruanganan panas, lahan kurang luas serta bentuk bangunan di anggap kurang uptodate di zaman sekarang.
  • MCK ( mandi, cuci, kakus ) terletak sebelah kanan serambi masjid menonjol kedepan, antara tempat pria dan tempat wanita menjadi satu hanya disekat dengan tembok saja.
  • Bangunan pendopo yang terletak disebelah kiri masjid kurang berfungsi (dihilangkannya).
  • Bentuk menara menyesuaikan dengan bentuk arsitektur masjid.
  • Bangunan perkantoran masih kurang, baik jumlah maupun luasnya; Membangun sembilan ruang dengan masing – masing berukuran 4 x 4  M2 sebagai kantor Mui, Dmi, Lpptka-Bkprmi, Ta`Mir, Remas, Perpustakaan, Radio, Dan Ruang Pertemuan.

Pada renovasi tahap pertama ini Masjid Darussalam arsitekturnya kelihatan anggun , elegan dan modern, selanjut asesoris dan ornamennya di lengkapi pada rencana pembangunan tahab ke 2 . Renovasi masjid ini tetap melestarikan bangunan lama dengan mempertahankan tetap mempertahankan bangunan induk dan pilar – pilar kayu yang menjulang tinggi karena mengandung nilai historis dan untuk menjaga kelestarian benda wakaf. Bangunan Masjid  berlantai 2 dilengkapi tempat parkir yang luas.

Ruang shalat terdiri dari dua lantai. Lantai  pertama dibagi menjadi 3 wilayah, yakni wilayah mihrab, wilayah liwan pria, dan liwan wanita. Adapun lantai 2 dipakai pula untuk liwan wanita.

Tempat wudhu ada dua bagian sebelah kiri masjid tempat wudhu wanita sedangkan sebelah kanan tempat wudhu Pria, tempat wudhu berkeramik warna abu-abu sehingga jika kotor cepat kelihatan, dilengkapi kolam pembasuh kaki ketika hendak atau selesai wudhu. Penyediaan air lancar dan bersih dilengkapi terdapat beberapa keran air wudhu, fasilitas kamar mandi masjid dilengkapi beberapa gantungan baju ataupun tas dan sebuah cermin.

Serambi masjid berbentuk persegi panjang dan los terdapat dua tiang penyangga atap. Ruang di antara pintu depan dan pintu utama mempunyai atap berbentuk bulat yakni bentuk dalam dari lekungan kubah utama. Ruang serambi ini juga dihiasi oleh 3 buah lampu Kristal dan 2 tangga bagian pinggir kiri dan kanan untuk jalan menuju lantai 2 yakni liwan wanita, dan dua buah kotak amal kecil berbentuk seperti masjid. Warna cat berupa cream membuat masjid ini tampak kelihatan anggun, elegan dan modern.

Pemugaran Masjid Agung Darussalam diresmikan Bupati Bojonegoro H. Suyoto, pada hari Jum’at , tanggal 3 juni 2016. Menandai diresmikannya Masjid Agung Darussalam, H. Suyoto menabuh bedhuk dan menanda tangani prasasti peresmian pemugaran Masjid yang berada di barat Alun-alun Bojonegoro. Acara dilanjutkan dengan tumpengan, sebagai selamatan peresmian. Hadir pada acara tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono, Kapolres Bojonegoro AKBP Sri Wahyu Bintoro, Ketua MUI Bojonegoro KH. Jauhari Hasan, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para jama’ah Jum’at Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Perlu diketahui, Masjid agung Darussalam Bojonegoro saat itu direncanakan bakal dipugar dengan dana 40 miliar. Pada tahap awal masjid dibangun dengan memanfaatkan dana APBD 2014 yang dikerjakan oleh PT. Daman Varia Karya dengan anggaran sebasar Rp 24.580.000,00 (dua puluh empat miliar lima ratus delapan puluh juta). Setelah masjid itu dibangun pada tahap awal di APBD 2014 silam, kemudian muncul aturan dari pemerintah yang melarang fasilitas umum dibangun dengan dana APBD Kabupaten/kota, maka pembangunan Masjid Agung Darussalam hanya dilaksanakan pada APBD induk tahaun 2014 untuk pembangunan tahap ke 2, dilanjutkan oleh pihak masjid sendiri dengan disesuai dengan keuangan yang ada.Untuk pemugaran pada tahun 2014 itu, dengan Luas bangunan Masjid Agung Darussalam yang baru sekitar 2.422 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 3.562 meter persegi. Masjid itu mampu menampung jamaah mencapai 1.100 orang, saat ini Masjid Agung Darussalam memiliki dua lantai.

Secara umum pengaruh tradisi arsitektural asing yang mempengaruhi tradisi arsitektural Masjid Agung Darussalam Bojonegoro adalah arsitektur atau gaya India – Cina – Timur Tengah-Eropa serta ditambah unsur-unsur budaya setempat. Masjid Agung Darussalam jika dilihat dari desain interior dan eksterior memiliki banyak penafsiran pengaruh budaya asing selain dari arsitektural tradisional. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai keberagaman tradisi arsitektur bangunan masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Unsur-Unsur Budaya yang mempengaruhi Pada Arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Pengaruh arsitektur khas corak Jawa pada bangunan Masjid Agung Darussalam yaitu adanya Bentuk atap tumpang yang berada pada atap ruang utama shalat yang juga menjadi salah satu peninggalan ciri khas masjid pada tahun 1984. Awalnya atap tumpang yang dimiliki Masjid Agung Darussalam berdiri tepat di belakang atap kubah. Akan tetapi bentuk atap tumpang tersebut sekarang sudah mulai dihilangkan, diganti dengan atap kubah utama yang berdiri di atas serambi utama. Atap tumpang dihilangkan karena melihat bentuk fisiknya yang terbuat dari kayu yang dikhawatirkan tidak akan bisa bertahan lama.  Cirikhas lainnya arsitektur corak Jawa adalah empat tiang utama ( soko guru) yang terbuat dari Kayu  dan dihiasi dengan bentuk pasak pada sudut-sudut tiang. Masing-masing pasak tersebut menghubungkan antara soko guru satu dengan soko guru lainnya, Pasak berbentuk ujung tombak yang berhiaskan ukiran tumbuh-tumbuhan menjalar dengan bentuk kubah kecil pada ujung tombak tersebut. Di antara ke Empat soko guru tersebut ditengah-tengah atap terdapat pasak yang berbentuk empat penjuru mata angin yang di pusatkan pada bentuk koin yang berhiaskan ukiran-ukiran bentuk bunga melingkar. Bedug ataupun kentongan merupakan salah satu ciri khas yang ada pada masjid Jawa, berfungsi sebagai pertanda waktu akan shalat.

Kebudayaan Arsitektur Timur Tengah juga tercermin pada Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Bentuk menara Masjid Agung Darussalam Bojonegoro memiliki bentuk Spiral memutar ke atas. Meskipun tidak nampak persis namun menara ini termasuk dalam kategori bentuk menara yang hampir mirip di kota Samarra (Irak). Pengaruh budaya arsitektur Timur Tengah lainnya yaitu bentuk lekung pintu yang terdapat pada pintu serambi depan. Bentuk-bentuk lekung setengah lingkaran melancip juga terdapat pada Serambi Masjid Agung Darussalam  Bojonegoro. Jika dilihat memiliki kesamaan bentuk dengan kubah di Timur Tengah yang juga berbentuk setengah lingkaran. Pada sela-sela pintu terdapat hiasan kaligrafi yang berkeliling di atas pintu. Lafadz dari Kaligrafi tersebut adalah dari Surat Al-baqarah.

Kebudayaan arsitektur Eropa juga mempengaruhi arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Hal ini terlihat dari bentuk arsitektur masjid yang terdapat sebuah lampu Kristal utama yang terletak di ruang shalat, hiasan lampu Kristal ini mengelilingi sepanjang ruangan shalat utama, serta juga menghiasi ruang serambi.

Kebudayaan arsitektur Cina juga mewarnai arsitektur Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, dilihat pada bentuk ukiran ukiran kayu yang ada pada mimbar, bedug, pintu utama, tiang soko guru juga merupakan salah satu pengapdosian dari kebudayaan arsitektur Cina. Bentuk ukiran kayu tersebut semuanya hampir sama yakni berbentuk tumbuh tumbuhan yang menjalar, bunga serta ukiran berbentuk geometris.

Berikut adalah gambaran tentang elemen hias islam yang diterapkan pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro:

  • Dinding pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro terbagi tiga, dinding mihrab, dinding liwan yang membatasi area shalat makmum dengan ruang luar masjid, serta dinding pembatas antara liwan area shalat dengan serambi yang terletak di depan. Dinding pada masjid Agung Darussalam ini berbentuk enam persegi panjang yang memiliki hiasan dinding berwarna putih dan jendela kaca, serta pintu yang yang membatasi masing-masing ruang.
  • Mihrab pada Masjid Agung Darussalam berbentuk persegi panjang ke atas menjulang hingga ke atap yang setengah ruang digunakan oleh imam dan letak mimbar sedangkan yang bagian atas digunakan untuk elemen hias mihrab, pada dinding pinggir mihrab yang berhiaskan ukiran bentuk tumbuhan yang berada tepat disebelah barat.
  • Mimbar pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini berbentuk singasana kecil yang di atasnya terdapat kubah kecil yang menghiasi mimbar. Posisi mimbar ini terletak di dalam mihrab tepatnya disebelah kanan tempat shalat imam. Bahan yang digunakan dalam pembuatan mimbar ini adalah kayu dengan warna asli kayu berpliture. Mimbar ini juga dihiasi oleh ukiran kayu yang bermotif bunga dan tumbuhan dan terdapat pula lambang Allah pada tempat kursi mimbar dan tiga buah anak tangga.
  • Pintu gerbang pada masjid Agung Darussalam Bojonegoro berbentuk persegi panjang yang mengelilingi sepanjang bangunan masjid. Bahan tembok dan besi yang bermotifkan segi lima.
  • Pintu yang ada pada masjid Agung Darussalam ini terdapat tiga pintu utama besar. Pintu utama serambi berbentuk setengah melengkung kubah yang berhiaskan kotak-kotak kecil simetris yang kerap memenuhi bentuk dinding pintu dengan perpaduan warna hijau dan cream. Berbentuk persegi panjang dengan bahan dasar kayu jati yang di pliture dengan elemen hias ukiran simetris. Tiga pintu kembar pada pintu utama masjid agung Darussalam Bojonegoro berhias kotak-kotak kecil. Ukiran ini menghiasi bagian kiri dan kanan pintu utama masjid. Tiga buah pintu utama masjid agung ini menyeleraskan jumlah dari pintu serambi yakni tiga buah pintu serambi depan.
  • Tiang penyangga (Soko Guru) terdapat empat buah tiang penyangga masjid Pada bagian utama masjid yakni pada ruang liwan pria, mulai masjid berdiri hingga mengalami pemugaran berkali-kali tiang ini masih tetap dipertahankan, sebagai simbol dari masjid jawa. Tiang terbuat dari kayu jati yang di pliture dan di hiasi dengan ukiran kayu yang bermotif tumbuhan. Tiang penyangga lainnya terbuat dari bahan tembok terdapat 10 tiang pada liwan pria dan 10 tiang pada liwan wanita. Tiang soko guru terdapat pada ruang shalat utama masjid agung Darussalam Bojonegoro 2 tiang penyangga pada serambi, dan 5 tiang pada serambi sisi kiri, 5 tiang pada serambi sisi kanan. Tiang penyangga ini rata-rata berbahan batu bata dan semen yang kemudian dihaluskan dan dihiasi dengan cat cream serta bagian bawah berwarna putih. Perpaduan kedua warna ini akan terlihat sangat indah dan nyaman untuk di lihat.
  • Langit-langit masjid agung Darussalam ini berbentuk persegi empat yang ditengahnya terdapat kotak-kotak berbentuk persegi panjang. Motif hias yang digunakan berbentuk ukiran-ukiran tumbuhan yang melingkari setiap sudut plafon dengan bahan dasar kayu dan berwarna coklat. Plafonnya sendiri berwarna putih yang terbuat dari asbes.
  • Lantai pada masjid ini penanda shaf menggunakan barisan ukuran lantai marmer yang berbentuk persegi panjang yang sudah ditata sedemikian rupa. Sehingga ukurannya sudah sebesar sajadah untuk shalat. Bahan utama dari lantai adalah marmer yang terlihat seperti mengkilat rapi dan bersih.
  • Lampu yang ada pada Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini terdapat dua jenis, lampu kristal dan lampu biasa, lampu Kristal berwarna putih bentuk mengkrucut ke atas berbahan kaca yang berjumlah 23 buah lampu. Lampu Kristal terletak disetiap sudut ruang masjid, pada bagian ruang utama (tempat shalat) terdapat 12 lampu Kristal, bagian ruang liwan wanita terdapat 8 lampu Kristal dan bagian serambi terdapat 3 buah lampu Kristal. Sedangkan lampu biasa juga menghiasi di sela-sela lampu Kristal berjumlah 16 buah lampu.
  • Ruang shalat liwan wanita memang cukup luas dimana terdapat 8 tiang penyangga, dihiasi oleh dinding tembok yang berlubang-lubang yakni tembok yang bermotif silindris mengelilingi ruangan, agar cahaya dan angin bisa masuk dalam ruangan, untuk memperingan biaya listrik kipas dan lampu. Bagian plafon (langit-langit) liwan ini berbentuk polos yang juga se atap dengan liwan pria.
  • Anak tangga menuju liwan wanita pada lantai bagian dua pada masjid agung Darussalam Bojonegoro berjumlah dua buah terletak pada bagian dalam serambi sisi kiri dan sisi kanan. Anak tangga ini berbentuk persegi panjang dengan tingkat kemiringan 30˚dengan bahan tembok serta kaca dan besi dan berwarna cream.
  • Bedug terdapat dua buah di masjid agung Darussalam berbahan dasar sama dari kayu dan kulit sapi berada pada masing-masing kutub. Bedug yang berukuran sedang biasa digunakan sehari-sehari terletak di serambi sisi kanan, sedangkan bedug yang berukuran besar berhiaskan ukiran-ukiran bermotif tumbuhan dan berujung ukiran bentuk mihrab diletakkan di ruang liwan wanita. Bedug ini berwarna coklat dan berpadu pada warna cream.

Gaya arsitekrur bentuk bangunan Masjid Agung Darussalam Bojonegoro persegi (kotak), membuat masyarakat beranggapan bahwa masjid ini merupakan sebuah gedung pemerintah yang, upaya desain Eksterior yang memperlihatkan bangunan tersebut merupakan bangunan Masjid dicirikan sebaga berikut:

  • Kubah pada Masjid Agung Darussalam ada 3 buah, yang terdiri dari kubah kecil terdapat pada atap ruang wudhu wanita dan pria, Kubah utama terdapat pada atap serambi yang terletak paling depan bagian masjid.
  • Menara menara berbentuk tinggi sudah menggunankan alat pengeras suara (loud speaker) yang diletakkan di atas menara untuk mempermudah terdengarnya suara adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat.
  • Pada kompleks Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, terdapat pula ruang atau bangunan-bangunan lainnya sebagai penunjang media berdakwah dan melengkapi fasilitas Masjid:
  • Kantor Ta’mir,
  • Ruang Muadzin,
  • Ruang Poliklinik Darussalam,
  • Kantor Remas Masjid Agung Darussalam,
  • Studio radio Darussalam fm 106.8 MHZ,
  • Tempat perkumpulan,
  • Ruang tamu,
  • Ruang Karyawan dan lain-lain. Semua ruangan tersebut
  • Ruang pendidikan atau ruang pertemuan,
  • Ruang pengajian anak-anak (madrasah),
  • Ruang perpustakaan,
  • Ruang kesenian hadrah,
  • Ruang penginapan,
  • Gudang,

Sebelah Barat dalam area Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terdapat kompleks makam warga. Tanah makam ini juga pewakafan Patih Pahal (Pangrehing Projo), selain mewakafkan tanahnya untuk pendirian masjid.  Kompleks makam ini bersifat umum Kelurahan Klangon Kecamatan Bojonegoro juga masyarakat sekitar kompleks masjid.

————————————————————————————134N70 nulis DW