MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID JAMI’ BAITURRAHMAN NGRONGGI KABUPATEN NGAWI

Masjid Jami’ Ngngronggi-ngawironggi merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Ngawi yang didirikan oleh Kyai H. Nguzair pada tahun 1875  dengan kondisi yang amat sederhana dengan ukuran 8 x10 m, didinding dari gedek/sesek, atap dari sirap, lantai dari tanah, diatas lahan/tanah milik pribadi Kyai H. Nguzair di Dusun Ngronggi Desa Grudo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Indonesia, atau tepatnya di Jalan Harjono RT 01/02 Ngronggi Grudo Ngawi.

Kyai H. Nguzair mendirikan Masjid jami’ Ngronggi ini mempunyai makdsud dan tujuan untuk memberikan pengertian ajaran – ajaran Aga

 

ma Islam kepada masyarakat lingkungan setempat yang kurang bahkan jauh dari pengetahuan Agama Islam. Dengan keberadaan Masjid Jami’ di Ngronggi, syiar Agama Islam berkembang semakin luas, diawali dari lingkungan masjid sampai pada Desa-Desa sekitarnya seperti di Desa Beran, Ngale, Tempuran dan sekitarnya, selain itu karena Ngronggi berada dalam wilayah Kota Ngawi akhirnya oleh Pengulu kota Ngawi sekitar tahun 1900 Masjid Jami’ Ngronggi ditunjuk sebagai tempat kantor Pengulu dan urusan-urusan Agama Islam seperti masalah Perkawinan dan lain-lain.

Kyai H. Nguzair dalam mengelola Masjid tersebut dibantu para putranya Kyai H.  Abdullah, Kyai H.  Abdurrahman, serta Kyai Tohir. Pada tahun 1900 K.H. Nguzair wafat, selanjutnya dikelola oleh Putranya yaitu Kyai H. Abdullah dibantu oleh Kyai H. Abdurrahman. Pada masa pengelolaan Kyai H.  Abdullah, banyak perubahan-perubahan, mulai dari fisik bangunan masjid ada perbaikan yaitu dengan mengganti dinding gedek diganti papan, atap diganti genteng, tiang diganti kayu Jati dengan ukuran tinggi 7 m, lebar ditambah menjadi 12 x 12 m, kuncungan dibuat bentuk bulat kecil lancip dan dilengkapi mimbar ukiran serta ditambah bangunan Pondok Pesantren, sehingga syiar Agama Islam juga semakin meningkat.

Pada masa itu Pemerintahan masih dikuasai oleh Belanda sehingga syiar Agama Islam tidak mudah, hal ini tidak menyurutkan niat dan tekad Kyai H Abdullah, beliau mengembangkan ajaran-ajaran Agama Islam melalui perorangan, kelompok-kelompok kecil, maupun melalui keluarga.

Dikarenakan santri mulai bertambah sehingga th. 1912 Kyai H. Adullah mendirikan pondok pesantren berlokasi di sebelah utara masjid, pengajarnya selain Kyai H. Abdullah dibantu Kyai H.  Abdurrahman dan Kyai H. Tohir.   Setelah Kyai H. Abdullah wafat, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh Kyai H. Abdurrahman dan Kyai H. Tohir sampai th. 1930.

Setelah K.H. Abdurrahman dan K.H. Tohir wafat pengelolaan masjid dilanjutkan oleh K.H. Hasbullah, antara th. 1930 sampai dengan tahun 1945. Pada periode ini difokuskan pada perbaikan serta pemeliharaan bangunan masjid yang dibiayai Swadaya murni. Tahun 1945 masa pemerintahan RI, syiar Agama Islam mendapat kebebasan penuh sehingga peningkatannya semakin meluas.

Tahun 1945, pengelolaan masjid diteruskan oleh K.H. Adnan yang dibantu K.H. Zaenuri, pada th. 1959 dilengkapi dengan Madrasah dengan guru ngajinya adalah Sdr Suroso, Kusaeri, Sudarno. Selanjutnya sarana bangunan masjid dilengkapi dengan gedung Madrasah yang didirikan secara swadaya murni oleh K.H. Adnan th. 1945 sd. 1974 serta dilengkapi bangunan untuk wudhu yang ditempatkan di sebelah utara Masjid, sekarang digunakan untuk gedung MI.

Semenjak Masjid Jami’ Ngronggi dilengkapi dengan sarana pondok pesantren dan Madrsah, Dusun Ngronggi menjadi sentral kegiatan syiar Agama Islam. Setelah wafatnya K.H. Adnan kemudian pengelolaan dilanjutkan oleh K.H. Masruh Hasbullah. Pada periode ini pengelolaan Masjid bertambah baik, yayasan serta takmir masjid telah terbentuk, hal ini merupakan upaya untuk memakmurkan masjid jami’ Baiturrahman Ngronggi, dengan maksud tujuan untuk:

  • Meningkatkan syiar Agama Islam
  • Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
  • Menumbuh kembangkan kreatifitas umat Islam khususnya Generasi Muda Islam
  • Sebagai pusat Informasi, Komunikasi dan Edukasi
  • Sebagai tempat pertemuan/rapat
  • Tempat memperingati Hari-Hari Besar Islam
  • Sebagai tempat Majelis Taklim
  • Tempat Kegiatan Sosial, dsb.

Perbaikan perubahan (renofasi) bangunan yang dialami Masjid Jami’ Ngronggi mulai th. 1974, antara lain:

  1. 1978 Penambahan bangunan untuk serambi depan ukuran 12 x 7 m, lantai Masjid induk semula dari batu kerek dan diplester, diganti dengan tegel abu-abu, semua biaya swadaya sebesar Rp.500.000,-, mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah Kab. Ngawi sebesar Rp.50.000,-.
  2. 1994 Masjid Jami’ Ngronggi mengalami rehap dengan biaya sebesar Rp.25.000.000,- bantuan dana didapat dari Putra Daerah setempat yang bekerja di Jakarta yaitu Bapak H. Subandi putra dari Alm. Bpk.H. Ibrahim (Kasun Dusun Ngronggi) serta ditambah swadaya/partisipasi masyarakat yang berupa tenaga maupun material, rehap meliputi:
  • Dinding papan diganti tembok,
  • Genteng diganti genteng pres,
  • Menambah ruang Kantor,
  • Menambah ruang alat-alat Masjid,
  • Menambah ruang untuk serambi wanita,
  • Langit-langit (Pyan) diganti dari Eternit ,
  • Teras depan ditambah dan dibuat model lingkaran,
  • Lantai diganti tegel kembang,
  • Pengecetan seluruh bangunan masjid.

Rehab selesai dandiresmikan oleh Keluarga H. Ibrahim pada tanggal 3 Maret 1995. Untuk memperlancar kegiatan-kegiatan, Masjid Jami’ Baiturrahman telah dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana antara lain:

  • Papan nama Masjid ukuran 100 x 6 cm
  • Papan tanah wakaf ukuran 75 x 40 cm
  • Papan TPQ ukuran 75 x 40 cm
  • Kantor Ta’mir ukuran 3 x 6 m
  • Papan pengumuman ukuran 1 x 2 m
  • Papan jadwal khotib, imam, muadzin ukuran 75×40 cm
  • Papan jadwal petugas shalat rowatib ukuran 75×40 cm
  • Perlengkapan kantor; Meja, kursi, almari, dan ATK
  • Papan penunjuk waktu shalat
  • Program kerja tahunan

Kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di dalam maupun di luar Masjid antara lain tentang      :

  • pelaksanaan shalat Rowatib,
  • Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur’an dikelola oleh remaja masjid bersama Ta’mir Masjid,
  • Penyelenggaraan pendidikan meliputi MIN dan Taman Kanak – Kanak (R.A.).
  • Kelompok Majelis Ta’lim dengan kegiatan Yasinan keliling, Pengajian keliling, serta Mujahadah keliling, dsb.
  • Pembinaan remaja melalui pengajian, mengadakan santapan rohani, pelatihan da’wah.
  • Kegiatan Perpustakaan, pengelolanya REMAS Baiturrahman Ngronggi.
  • Kegiatan sosial meliputi Bazis, Khitanan masal, santunan Yatim Piatu.

Kyai Karismatik Pengelola Masjid

  1. Tahun 1875 – 1900 : Bpk. KH. NGUZAIR
  2. Tahun 1900 – 1912 : Bpk. KH. ABDULLAH

Bpk. KH. ABDURRAHMAN

Bpk. KH. TOHIR

  1. Tahun 1912 – 1930 : Bpk. KH. TOHIR
  2. Tahun 1930 – 1945 : Bpk. KH. HASBULLAH
  3. Tahun 1945 – 1974 : Bpk. KH. ADNAN

Bpk. KH. ZAENURI

  1. Tahun 1974 sd… : Bpk. KH. MASRUCH HASBULLAH

Bpk. KH. MAHFUD ABDUL SYUKUR

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: DIAN K. ; Tim Pustaka Jawatimuran
dari: Remaja Masjid Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi Ngawi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur