Masjid Jamik Kota Malang

Masjid Jamik Malang keberadaan Masjid ini tepat di pusat kota Malang tepatnya terletak di sebelah Barat Alun-alun kota Malang. Pembangunan masjid ini selama delapan tahun,  diawali tahun 1882 M dan selesai tahun 1890 M. Semula bangunan masjid berdenah bujur sangkar berstruktur baja dengan bentuk atap tajug tumpang dua,  sampai sekarang bangunan ini masih dapat dilihat dan merupakan bagian dari bangunan induk bagian Barat. Perkembangan selanjutnya penambahan bangunan baru di depan bangunan aslinya. Berbeda dengan bangunan aslinya, bangunan tambahan juga berdenah bujursangkar dan berstruktur kayu, namun memiliki bentuk atap tajug tumpang tiga. Sehingga bangunan yang baru inilah yang sekarang terlihat puncak atapnya dari Alun-alun. Tahun 1950 terjadi perluasan lagi yakni dengan dibangunnya tempat wudu yang representatif dan ruang pertemuan serta ruang administrasi masjid di lantai atasnya. Masjid jamik ini dikelola dan menjadi milik Yayasan Masjid Jamik Malang dengan pengawasan dari Pemerintah Kota Malang.  Terdapat dua jalan masuk untuk menuju ke masjid ini bisa dari depan dari arah Alun-alun dan bisa dari belakang dari jalan kampung di belakang. Areal kompleks ini sekarang telah demikian padat dengan bangunan sehingga halaman depan yang semula cukup luas kini menjadi relatif sempit, untung di depannya terdapat alun – alun. Di belakang bangunan induk terdapat halaman belakang yang tidak begitu luas untuk keperluan pelayanan dan ruang transisi ke Unit Radio Pemancar Amatir, Taman Kanak-kanak, Musholla wanita serta serambi Samping.

Selain untuk kegiatan peribadatan, di Masjid Jamik Malang terdapat juga kegiatan – kegiatan sosial yang meliputi:

  • pembagian zakat,
  • pembagian daging korban,
  • remaja masjid,
  • taman kanak-kanak,
  • radio amatir untuk penyiaran dakwah,
  • perpustakaan dan sebagainya.

Dengan demikian maka fungsi masjid ini sudah mulai berkembang tidak hanya sekedar sebagai pusat peribadatan semata akan tetapi juga sudah mengarah sebagai pusat kebudayaan Islam.

Bangunan induk merupakan dua bangunan,  bangunan be­lakang (bangunan lama) yang berdenah bujur sangkar beratap genteng dan berbentuk atap tajug tumpang dua, sedangkan yang depan tumpang tiga. Serambi depan bangunan be­lakang merupa­kan pertemuan tengah depan dan be­lakang berbentuk emperan, sedangkan serambi bagian depan yang menghadap ke halaman merupakan dinding berlisplank pada bagian bawahnya dibuat bentuk-bentuk lengkung yang disangga dengan tiang/kolom beton jaraknya sama.

Pada bangunan induk tidak terdapat menara te­tapi tetap mempertahankan bentuk atap tajug. Bila dilihat dari sistem strukturnya yang tak memiliki balok tumpang (susun) maka bangunan tajug ini mirip sekali dengan bentuk bangunan Wantilan suatu ba­ngunan pertemuan dan bangunan upacara persembahan (sakramen) pada agama Hindu di Bali. Sedangkan menaranya terdapat pada bangunan serambi depan yang jumlahnya ada dua buah dan pada bagian main entrancenya terdapat satu kubah yang terbesar sedangkan empat buah lainnya terda­pat di serambi itu dan satu kubah kecil terdapat lagi di bangunan kantor. Jadi pada kompleks ini meskipun terdapat perluasan namun ternyata keaslian dari bangunan lama masih tetap dipertahankan sedangkan bangunan tambahannya yang baru itu meskipun dengan ben­tuk relung dan kubah yang berasal dari negara-negara Islam Timur Tengah ternyata dapat dipadukan dengan amat manis.

Ragam hias yang dipakai tidak menyolok dan ti­dak menjadikan ruang yang perlu kekhusyukan ini menjadi ramai. Ragam hias yang utama terdapat pa­da ruang Mihrab dan Mimbar. Mihrabnya di bagian pelengkung atasnya terdapat ukiran kayu yang cu­kup halus dengan warna keemasan. Demikian pula mimbarnya yang menyerupai singgasana terbuat da­ri kayu jati penuh dengan ukiran yang keemasan. Sedangkan di atas pintu terdapat lubang ventilasi yang ditutup dengan teralis besi dengan ornamen dari besi cor yang cukup halus. Di samping itu penyelesaian dinding temboknya cukup teliti dan serasi baik dengan hiasan tonjolan tembok maupun yang berbentuk ornamen yang menempel pada tembok. Penyelesaian kolom-kolom pada serambi juga cukup halus dengan memakai pola kepala-badan-kaki.

Proporsi bangunan masjid ini cukup baik se­hingga bangunan ini memiliki tampang yang cantik dan antik. Skala keagungan di ruang luar dicerminkan dengan menjulangnya dua buah menara, kubah dan atap tajug. Pola bentuk yang dipakai juga cukup serasi yakni dengan menggunakan bentuk lengkung di bagian serambi dan segitiga di ruang liwan. De­ngan demikian maka pola ini mencerminkan keanggunan bangunan ini.

Bangunan – bangunan samping merupakan bangunan baru dengan konstruksi baru, Gedung pertemuan dan administrasi bangunan dua lantai dengan konstruksi beton bertulang dan beratap dasar, pada bagian bawahnya dimanfaatkan untuk tempat wudu pria.  Sedangkan bangunan untuk musholla wanita pada lantai bawahnya sebagai tempat wudu wanita juga berlantai dua berkonstruksi beton tetapi beratap limasan dari genteng. Gedung taman kanak-kanak yang juga untuk unit siaran radio pemancar merupa­kan bangunan satu lantai dengan atap berbentuk limasan. Penambahan – penambahan ba­ngunan samping berlantai dua itu selain sangat fungsional juga padat manfaat.

Dapat dikatakan bahwa pengembangan dan perluasan fisik masjid jamik ini cukup berhasil sebab keaslian bangunan semula tidak dirusak sedangkan bangunan tambahannya dapat menyesuaikan diri dengan yang lama tanpa mengurangi ciri-ciri kemajuannya.

Pembagian ruang pada kompleks Masjid Jamik Malang ini terbagai sesuai kebutuhan sebagai berikut:

  • Ruang penitipan,
  • Serambi,
  • Liwan,
  • Ruang Mihrab, mimbar dan ruang penyimpanan Kitab Suci Al-Quran,
  • Ruang Kantor Takmir Masjid,
  • Ruang Pertemuan,
  • Ruang Jaga,
  • Ruang Unit RADAM,
  • Ruang Taman Kanak-kanak,
  • Ruang wudu pria dan wudu wanita,

Penerangan siang hari di dalam bangunan in­duk menggunakan sinar Matahari melalui pembukaan dinding-dinding luar berupa pintu, jendela dan boventlicht serta penerangan atas melewati sela-sela atap tumpang yang ada. Dengan demikian maka suasana penerangan ini menjadi temaram sehingga suasana sebagai ruang suci yang memerlukan kekhusyukan sangat cocok. Penerangan di Serambi depan dan samping cu­kup optimal karena dinding luarnya transparan de­ngan bentuk relung dan tiang penyangganya. Namun penerangan di tempat wudu pria kurang karena jendela atas hanya dari satu sisi saja. Kantor dan ruang pertemuan mendapat penerangan yang cukup sesuai dengan fungsinya masing-masing. Pada bangunan induk dan Serambinya ventilasinya cukup baik sebab bisa terjadi ventilasi silang. Demikian pula pada ruang pertemu­an. Namun di dalam ruang wudu pria ventilasi ku­rang memadai karena tak dapat terjadi ventilasi si­lang sehingga terjadi kelembapan udara.

Akustik di ruang Liwan juga cukup baik karena hampir semua dinding banyak terdapat pembukaan. Sehingga pemasangan pengeras suara tidak mengalami gangguan yang berarti. Kebersihan bangunan-bangunan sakral dan pelengkapnya cukup memadai. Ruang Liwan dan Se­rambi cukup hygienis. Demikian pula tempat wudu cukup hygienis, baknya memakai kran yang cukup banyak jumlahnya dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm2, sedangkan lantainya dari tegel wafel warna kuning, pembuangan air limbah tersalurkan dengan baik. Penghawaan tertolong oleh keluasan alun – alun, namun penerangannya kurang karena padatnya bangunan. Ketinggian lantai bangunan sakral yang kurang lebih 105 cm dari muka tanah sekitarnya itu ikut menunjang kesucian bangunan ini.

Arah kiblat bangunan masjid ini sudah mengarah ke Makkah. Dengan demikian maka arah saf salat juga menjadi tertib. Hanya suasana dan bentuk ruang Liwan yang terpaksa menjadi memanjang ke depan ini kurang begitu baik ditinjau dari tatakrama salat. Jumlah tiang di bangunan baru yang 20 biji itu cukup mengganggu sedangkan pada bangunan la­ma yang mempunyai luas yang sama justru ha­nya menggunakan empat tiang saja sehingga tidak mengganggu.

Suasana kekhusyukan cukup baik sebab ba­ngunan ini terpisahkan dari tetangga dengan tembok tinggi atau dengan batas bangunan lain. Sedangkan suasana ruang dalamnya di bawah atap tumpang terasa suasana agung karena langit-langitnya langsung menempel pada usuk, sehingga kesan ruang yang memusat dan mengarah ke atas ini cukup terasa.


————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986        CB-D13/1986-6[1]

Masjid Jamik Sunan Giri

Masjid Jamik Sunan Giri ini berada di wilayah Gresik, 20 km dari kota Surabaya dan terletak di Kampung Sunan Giri, Kelurahan Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kotamadia Gresik, Provinsi Jawa Timur. Masjid Jamik Sunan Giri berbatasan dengan pabrik PT Semen Gresik sebelah utara, sebelah selatan dengan jalan raya, sebelah timur dengan pemukiman penduduk, dan sebelah barat berbatasan, dengan pemakaman. Masjid berdampingan dengan kompleks makam Sunan Giri di Bukit Giri. Untuk mencapainya harus menaiki tangga sebanyak 105 buah.

Masjid Jamik Sunan Giri merupakan kompleks paling besar diantara masjid-masjid di Gresik. Luas lahan tanah 3.000 m2 dengan luas bangunan 1.750 m2. Kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang terbuat dari beton. Pintu gerbang tersebut mempunyai ukuran panjang 95 cm, lebar 1,5 m dan tinggi 3,5 m. Kompleks masjid terdiri atas ruang utama, serambi, dan bangunan lainnya.

Ruang utama
Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding. Keempat buah dinding masjid tersebut terbuat dari tembok dan berdiri di atas pondasi setinggi 0,7 m. Tebal dinding 0,9 m, tinggi 6 m. Dinding utara dan selatan masing-masing tiga buah jendela. Pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Pada ruang utama lama terdapat juga tiang-tiang yang berjumlah empat buah dengan empat persegi.

Pada setiap dinding terdapat pintu-pintu dengan susunan sebagai berikut: satu buah ditengah sebagai pintu masuk dengan tiang empat persegi. Pintu utama diapit oleh dua buah tiang kiri-kanan. Pada bagian atas dibuat berlapis-lapis sehingga menyerupai pelipit. Jendela pada ruangan berada pada dinding barat dan utara saja. Jumlahnya ada enam buah dan masing-masing berukuran 1 x 3 m. Sedangkan daun jendela berupa kayu berukir. Jendela dilengkapi pula dengan teralis besi berjumlah enam buah berwama kuning berhias bulatan.

Ruangan ini terdapat tiang sokoguru atau tiang utama dan tiang penopang lainnya. Jumlah tiang secara keseluruhan adalah 16 buah. Sembilan buah merupakan tiang utama sedangkan sisinya merupakan penopang. Tiang utama berbentuk bulat. Bagian tiang penopang maupun tiang utama dilapisi porselin berukuran tinggi 30 cm.

Mihrab
Seperti masjid tua lainnya, Masjid Agung Sunan Giri memiliki mihrab yang merupakan sebuah ruangan yang menonjol keluar disisi barat, berukuran 1,5 x 1,2 x 3,5 m. Berbentuk ruangan kecil yang terbuat dari beton dengan dua buah tiang persegi empat berwama coklat tua tanpa hiasan. Dinding belakang pengimanan terutama pada bagian atas terdapat kuncup teratai. Atapnya terbuat dari semen dan berbentuk limas melengkung. Pada sudut-sudutnya terdapat tonjolan seperti mahkota. Tonjolan ini melengkung ke arah ujungnya seperti tanduk kerbau.

Mimbar
Mimbar mempunyai ukuran 1,3 m x 80 cm x 3,5 m. Menuju ke atas mimbar dijumpai pipi tangga yang yang juga berhias empat persegi panjang. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar atas terdapat tiang persegi empat yang menopang puncak mihrab. Pada tiang mimbar ini dilapisi emas.

Serambi dan teras
Serambi terletak di sisi utara dan selatan masjid yang menyatu bangunan ruang utama. Di dalam terdapat ruangan berukuran 25 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding barat. Kalau ingin menuju ke serambi dan teras tersebut terlebih dahulu menaiki anak tangga sebanyaklimabuah.

Bangunan lain
-Tempat wudhu dan WC
Tempat untuk mengambil air wudhu berjumlah dua buah yang berada di sebelah sisi timur menyatu dengan masjid berukuran 10x 2 x 6 m dan di sebelah utara tempat untuk mengambil air wudhu terpisah dengan masjid berukuran 5 x 2 x 4 m. Kedua tempat yang terpisah tersebut dapat dibedakan antara tempat pria dan wanita dan juga terdapat WC umum yang berada di sebelah utara.

-Bangunan pendopo
Bangunan ini berada di timur masjid. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m, mempunyai tiang penyangga sebanyak dua buah yang terbuat dari kayu. Pendopo tersebut berbentuk empat persegi panjang. Pendopo tersebut dihiasi oleh keramik berwama putih polos. Di samping kanan terdapat ruangan untuk menyimpan bedug.

-Makam
Di daerah Gresik juga masih terdapat suatu kompleks makam diantaranya yang terkenal ialah makam Sunan Giri. Makamnya terdapat dalam suatu cungkup yang diberi ukiran dengan warna cat-cat asli (sebagian cat baru). Bentuk kubur maupun nisan-nisannya juga masih menunjukkan corak seni pahat klasik. Kita ketahui bahwa makam terutama adalah makam Sunan Giri hanya berdasarkan tradisi. Meskipun, demikian segi ilmu purbakala bentuk nisan dan kubumya masih menunjukkan kekuasaan dari sekitar abad 16. Kecuali itu dimana terdapat masjid kuno yang telah mengalami perubahan-perubahan. Bentuk arsitektumya tetap menunjukkan corak asli. Pintu gerbang pintu gerbang yang dibuat dari batu bata menunjukkan bentuk candi-candi bentar seperti pernah didapatkan pada zaman Majapahit. Tempat ini terkenal terutama sejak Sunan Giri (kemudian Sunan Prapen), sebagai tempat pesatren yang pengaruhnya sampai ke Maluku. Di sebelah barat masjid terdapat makam Muhammad Ainul Yaqin, Raden Paku, Raden Samudra, dan Prabu Satmoko.

– Latar Sejarah
Masjid Jamik Sunan Giri dibangun pada hari Ahad, 14 Muharram 1277 H oleh H. Ya’kub, dan selesai pada hari Ahad Ramadhan 1277 H. Pendiri Masjid Giri ialah Kanjeng Sunan Giri pada tahun yang disebutkan dalam candrasengkala yang berbunyi Lawang Gapura Gunaning Ratu. Bangunan ini berdiri diatas sebuah bukit Kedaton Seda Sidomukti yaitu suatu tempat dimana Kanjeng Sunan Giri berdiam dan memimpin Pesantren. Baru pada tahun 1407 S (menurut Candrasengkala berberbunyi Pendito Nepi Akerti Ayu) secara resmi oleh beliau dijadikan masjid jamik.

Masjid Jamik Sunan Giri didirikan telah lima kali mengalami perombakan dan penambahan serta pengecetan ulang. Terakhir dipugar pada tahun 1950 M oleh Panitia Kesejateraan Makam dan Masjid Sunan Giri, pada tabun 1975 pemah dilakukan pengecetan dan perbaikan atap, tiang-tiang masjid Sunan Giri oleh  PT. Semen Gresik.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh Dian K dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.181-183, Deposit : CB-D13/1999-339.

MASJID JAMIK AL BAITUL AMIN JEMBER

masjid-jemberMasjid Jamik Al Baitul Amin kota Jember adalah masjid baru yang terletak di sebelah Utara masjid jamik yang la­ma, di seberang jalan raya yang membelah Alun-alun kota Jember,  terletak di sebelah Barat Alun-alun kota.

Pembangunan Masjid dipelopori oleh K.H. Ahmad Siddiq mewakili ulama dan Bapak Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember me­wakili pihak Pemerintah Daerah. Menurut informasi, dari kedua tokoh ini timbul ide perencanaan masjid ini dengan tema tawaf. Tawaf adalah suatu bagian dari ibadah haji di Tanah Suci di mana umat berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Ide itu akan dicerminkan dengan adanya bangunan pusat yang dikelilingi oleh sembilan bangunan pelengkapnya. Angka sembilan diambil dari angka keramat mubaligh Islam di tanah Jawa yakni Wali Songo yang sembilan orang itu,Maksud membangun masjid jamik dengan ide bentuk tawaf ini mendapat sambutan simpatik sekaligus ditunjukkan seorang perencana/arsitek berasal dari Ban­dung yakni Ir. Ya Ying K. Kesser.

Pada tahun 1978 bersama-sama dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung” maka di- resmikan pula penggunaan Masjid Jamik ini dan dinamai Masjid Jamik “Al Baitul Amien” Jember. Masjid Jamik “Al Baitul Amien” dibangun diatas tanah seluas 1,75 ha, yang terdiri dari persil Kantor Kehutanan dan persil-persil milik masyarakat. Di sebelah Selatan Alun-alun terdapat kompleks Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Jem­ber, di sebelah Timur Alun-alun terdapat bangunan hotel dan kantor-kantor pemerintah, demikian pula di sebelah Utaranya merupakan daerah perkantoran pemerintah.

Jalan masuk samping ada dua buah masing-masing dapat dicapai dari Jalan Semeru dan dari Jalan Raya Sultan Agung. Halaman depan terasa amat sempit sedangkan halaman belakangnya cukup luas. Tata bangunan dibuat simetris yang terdiri dari satu bangunan berkubah besar dengan tiga kubah yang semakin mengecil di samping depan kiri dan samping kanan. Batas belakang dan samping areal  masjid dipagari de­ngan dinding tembok setinggi lebih kurang dua me­ter, sedangkan pada bagian depan diberi pagar besi dengan bentuk pola cekungan yang berulang, merupakan pola kebalikan dari pola bentuk yang cembung.

Kepengurusan masjid jamik lama dan masjid baru merupakan satu manajemen, karena tujuan awal pembangunan masjid jamik baru merupakan perluasan dan pengembangan dari mas­jid jamik lama. Dengan bertambahnya sarana baru ini maka kegiatannya kepengurusan masjid tetap menjadi satu.

Masjid Jamik Al Baitul Amien digunakan sebagai masjid jamik, artinya digunakan untuk kegiatan sembahyang Jumat dan sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan Sembahyang rawatib yang dikerjakan sehari-hari dilakukan di dua tempat dengan pembagian waktu tersendiri. Untuk waktu malam hari yakni untuk keperluan salat Maghrib, Isyak dan Subuh digunakanlah masjid baru sedang­kan masjid yang lama ditutup. Sedangkan pada siang hari untuk keperluan sembahyang Dhuhur dan Ashar disediakan di masjid lama, dan masjid baru ditutup. Aturan ini dimaksudkan agar kedua masjid ini masih tetap digunakan sehari-hari dan demi kepraktisan masjid lama dipakai sembahyang di siang hari karena di situ terdapat kegiatan Perpustakaan, Kantor Takmir Masjid dan Ruang Pengadilan Agama.

Dengan demikian maka fungsi masjid sebagai pusat peribadatan diwujudkan pada masjid baru se­dangkan fungsi sebagai pusat kebudayaan diwujud­kan pada kompleks masjid lama.Bentuk Masjid Jamik Al Baitul Amin yang baru ini bulat denahnya dan dilindungi de­ngan bentuk kubah/dome dengan ditumpu oleh balok-balok beton berbentuk busur.  Dilihat dari komposisi massanya terlihat bahwa terdapat suatu komposisi yang seolah-olah terbentuk gambar abstrak yang memperlihatkan bentuk garuda yang baru terbang ke arah kiblat, dengan kepalanya berada pada mihrab masjid dan ekornya pada plaza di depan bangunan masjid.

masjid-lama-jemberKalau ide semula dari panitia bertemakan kegiatan tawaf yang mengelilingi Ka’bah, maka ide tersebut ternyata tidak tercermin di sini. Memang di tengah kita temukan bangunan berkubah yang terbesar tetapi bangunan yang lain tidak mencerminkan keadaan mengelilingi tetapi justru sebagai sayap, sayap kiri dan sayap kanan. Demikian pula angka 9 yang diambil dari Wali Songo itu tidak sempat terlaksana, dicerminkan dalam bangunan sekunder yang mengelilingi bangunan utama itu hanyalah berjumlah 6 saja. Bangunan utama yang terletak di tengah digunakan untuk liwan pria dan mihrab. Ba­ngunan ini memiliki denah bulat dengan diameter 34 m.

Bangunan kedua yang berada di samping depan kiri dan kanan berbentuk bulat berdiameter 20 m dan masing-masing digunakan untuk liwan untuk anak-anak dan liwan untuk wanita. Bangunan sam­ping yang kedua masing-masing berbentuk bulat de­ngan diameter 11 m digunakan untuk perluasan li­wan anak-anak dan perluasan untuk liwan wanita.

Sedangkan bangunan samping ketiga masing- masing berdenah bulat dan berdiameter 8 masing- masing digunakan untuk tempat wudu pria (Utara) dan tempat wudu wanita (Selatan). Tidak didapat keterangan apakah kanak-kanak wanita juga di li­wan kanak-kanak, dan di mana mereka mendapatkan tempat wudu.

Masing-masing bangunan samping ini dihubungkan oleh selasar terbuka. Sedangkan antara bangunan utama dan bangunan samping pertama, kiri dan kanan dindingnya relatif bersinggungan se- hingga di sana langsung dapat dihubungkan dengan pintu kaca, tanpa selasar lagi.

Bangunan utama ditumpu oleh empat busur balok beton yang dibagi menjadi dua kelompok yang bersilang tegak lurus. Keempat balok inilah yang mendukung atap melengkung dari beton bertulang. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, yakni lantai bawah yang tingginya sekitar 160 cm dari muka tanah dan lantai atas yang merupakan lantai mezanin.

Lantai kedua ini ditumpu oleh enam belas tiang yang bentuknya bulat dengan komposisi berkeliling dan satu kolom berada di pusat lingkaran.

Sedangkan bangunan samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur beton bertulang yang menyilang tegak lurus satu sama lainnya. Sedang­kan bangunan samping yang pertama kiri dan kanan, maka di samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur masih ditumpu lagi oleh 16 kolom pinggir dari beton bertulang yang berkeliling mem- bentuk lingkaran pembatas ruang.

Pada kompleks masjid baru ini ternyata berbeda dengan pola masjid di Indonesia seumumnya. Di masjid ini tidak ditemukan serambi. Hal ini tidak ditemukan dalam pola masjid tradisional tetapi bisa terlihat pada pola bangunan langgar/surau. Sebagai gantinya terdapat teras depan yang terbuka dan merupakan anak tangga yang jumlahnya delapan ting- kat dan masing-masing lebarnya lebih 120 cm, jadi untuk satu saf sembahyang. Namun sayang, bentuk­nya yang melingkar ini menyebabkan arah makmum ini tidak semuanya ke arah kiblat tetapi justru ke arah tiang sentral bangunan utama. Di depan teras ini terdapat plaza yakni halaman depan yang dirata- kan dan diperkeras dengan pasangan batu bata jenis klinker. Plaza ini menghubungkan bangunan in- duk dengan Jalan Semeru di depan tapak. Di bagian yang berhubungan dengan jalan tersebut terdapat li­ma buah pintu masuk utama yang masing-masing lebarnya 5 m.

Di samping ketujuh bangunan berbentuk dome itu, di samping Selatan gerbang masuk utama terda­pat sebuah menara dengan denah bawah berbentuk bulat dengan diameter 3 m dan tinggi 33 m. Menara ini dibuat dengan struktur beton bertulang berbentuk bulat dan di tengahnya terdapat tangga melingkar ke atas, dan di puncaknya terdapat ruang untuk meletakkan 8 buah pengeras suara dan di atasnya ditutup dengan bentuk kubah dari metal dan terdapat simbol bulan bintang di puncaknya.

Program masjid jamik yang lebih ditekankan se­bagai pusat peribadatan ini terdiri dari ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan dewasa pria lantai I …….. 910 m2
  2. Liwan dewasa pria lantai II …… 490 m2
  3. Liwan wanita ………………………. 314 m2
  4. Liwan anak-anak ………………….. 314 m2
  5. Liwan tambahan wanita ………… 95 m2
  6. Liwan tambahan anak-anak …… 95 m2
  7. Tempat wudu pria ………………… 50 m2
  8. Tempat wudu wanita…………….. 50 m2
  9. Mihrab, mimbar, ruang persiapan khatib dan ruang mekanikal 78 m2

Sistem penerangan pada bangunan liwan yang terdapat pada lima bangunan berkubah memanfaatkan sinar matahari secara optimal. Hampir semua dindingnya yang melingkar terbuat dari pintu dan jendela kaca yang lebar-lebar. Sedangkan penerangan di bangunan tempat wudu juga memanfaatkan sinar matahari melalui pembukaan bagian atas dinding. Penerangan malam hari menggunakan lam- pu listrik yang dikontrol dari ruang mekanik di sebelah Selatan mihrab. Lampu ditanam di langit-langit dengan pola bebas. Sedangkan lampu di liwan pria bagian bawah dipasang pada langit-langit dengan pola melingkar, yang sekaligus menyesuaikan ben­tuk melingkar dari pola langit-langitnya yang berorientasi ke titik pusat pada kolom sentral yang menyangga lantai mezanin itu. Sedangkan di tengah-tengah ruang mezanin ini tergantungkan lampu kristal yang anggun, tetapi tidak memiliki skala yang memadai dengan ukuran ruangannya.

Penghawaan juga memanfaatkan aliran udara dengan membuat jendela kaca dengan krepyak ka­ca Nako. Dengan demikian maka dapat terjadi ventilasi silang yang cukup. Dengan demikian maka kecuali ruang mihrab maka semua ruang lainnya tak menggunakan ventilasi buatan.

Perlu ditambahkan bahwa di bangunan utama terdapat ventilasi dan penerangan yang terletak pa­da atap dan terletak di antara dua balok busur yang searah.

Tata suara bentuk dome agak sulit mengingat bahwa bentuk atap yang cekung dapat memantulkan suara apalagi dengan material yang keras dan licin. Oleh karena itu maka langit-langit bangunan berkubah ini diselesaikan dengan penutup dari bahan karpet yang bertekstur kasar sehingga diharap- kan dapat menyerap suara. Pengeras suara dipa­sang di langit-langit secara merata sehingga dengan sekalian lampu-lampunya maka seolah-olah di la­ngit-langit terdapat banyak bintang bertaburan apa­lagi bentuk-bentuknya dipilih yang berpola bulat.

Sistem sanitasi diselesaikan secara baik de­ngan peralatan modern. Air bersih diambil dari tiga buah sumur. Dengan dua buah pompa air sumur disedot dan disalurkan ke bak reservoir yang terdapat pada masing-masing bangunan tempat wudu. Dari reservoir ini air baru disalurkan ke tempat wudu de­ngan kran-kran air yang mewah. Tempat wudunya dibuat melingkar dengan lorong sirkulasi yang cukup longgar. Dindingnya dilapisi porselin dan lantainya dibuat dari tegel wavel warna kuning. Di sini ternyata tidak tersedia tempat mandi dan WC, dan ti­dak terlihat jelas di mana tempat untuk berhajat itu harus dilakukan. Mungkinkan harus ke masjid lama di seberang jalan atau memang fasilitas itu tidak dianggap penting, atau fasilitas itu belum sempat di- bangun, tiada informasi yang didapat.

Kebersihan bangunan suci ini mendapat tempat utama. Pertama letak lantai bangunan yang tingginya lebih dari 150 cm di atas permukaan tanah sekitar, kedua bahan bangunan yang digunakan bermu- tu prima tahan lama dan mewah seperti tegel mar­iner ukuran 60 x 120 cm di ruang liwan, kaca jendela dan pintu yang lebar, langit-langit liwan pria bagian bawah yang terdiri dari garis-garis dari papan kayu jati kelas prima dengan dipolitur halus licin. De­mikian pula kolom beton yang berbentuk bulat diselesaikan dengan lapisan papan jati kualitet prima dan di bagian bawahnya terdapat cincin kuningan melingkar sebagai material transisi dengan lantai da­ri marmer. Dengan demikian maka tingkat kemewahannya ternyata juga memperoleh tempat prima.

Pola Masjid ‘Baitul Amin’ Jember merupakan satu-satunya pola baru yang lama atau pola lama yang baru, khususnya di Jawa Timur dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Dengan demiki­an maka ternyata dalam alam kemerdekaan di mana telah muncul tenaga-tenaga ahli muslim bangsa sendiri serta kesempatan membangun yang memadai dan luput dari dunia kemiskinan, kungkungan penjajah atau tekanan dari kaum komunis, maka bermunculanlah kreasi-kreasi baru pada arsitektur masjid di Jawa Timur yang ikut memperkaya khasanah arsitektur masjid di persada Indonesia tercinta.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K, Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro
Penerbit Impresium: Surabaya: Bina Ilmu,  1987
CB-D13/1986-6[1] DDC: 726.2