Masjid Rahmat, Surabaya

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0001Masjid Rahmat adalah salah satu masjid tertua di Surabaya. Lokasi masjid ini berada di kawasan jalan Kembang Kuning Su­rabaya. Walaupun bangunan masjid yang sekarang adalah termasuk ban­gunan baru karena dibangun pada tahun 1967, tapi cikal bakal dari keberadaan masjid tersebut sudah ada sejak zamannya Sunan Ampel.

Konon Masjid Rahmat ditemukan secara tiba-tiba oleh seorang penduduk yang sedang merambah hutan. Saat ditemukan berupa sebuah tempatyang beralaskan batu bata yang ditata rapi dengan letaknya lebih tinggi dari sekitarnya, dan ditiap sudutnya terdapat empat buah tiang yang menyangga sebuah atap yang terbuat dari daun tebu (welit = Jawa). Selanjutnya masyarakat di sekitar tempat itu mulai mengenalnya dengan istilah masjid tiban. Tapi setelah dirunut mengenai sejarahnya ternyata diketahui bahwa masjid tersebut sebenarnya didirikan oleh Sunan Ampel.

Diceritakan bahwa dulu saat pertama kali datang dari negerinya Campa, Sunan Ampel langsung menuju ke kerajaan Majapahit untuk bertemu dengan Prabu Brawijaya yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai pamannya sendiri. Hal ini karena bibinya yang bernama Dewi Dwarawati adalah istri dari Prabu Brawijaya. Setelah berkunjung beberapa lama di Majapahit, akhirnya Prabu Brawijaya menghadiahi sebidang tanah di daerah utara Surabaya yang disebut dengan Ampel Denta.

Hal ini karena Prabu Brawijaya menyukai Sunan Ampel yang sangat berbudi baik. Maka mulailah Sunan Ampel pergi menuju ke daerah yang diberi oleh Prabu Brawijaya tersebut sambil disertai oleh seorang pembantu keraton yang bernama Ki Wiro Saroyo.

Dalam perjalanannya kedua orang ini singgah di daer­ah Kembang Kuning dan kemudian membangun sebuah tempat berteduh yang juga digunakan sebagai tempat untuk bermunajat kepada Allah. Ki Wiryo Saroyo yang kemudian memeluk Islam tersebut langsung bahu-membahu bersama Sunan Ampel membuat tempat seperti yang dikehendaki Sunan Ampel. Mulailah di susun beberapa batu bata membentuk lantai selanjutnya dipasang empat buah tiang yang diatasnya diberi atap berupa daun tebu yang dijahit.

Setetah beberapa lama tinggal ditempat tersebut, se­lanjutnya Sunan Ampel melanjutkan perjalanan ke daerah  Ampel Denta untuk mengurusi tanah pemberian Prabu Brawijaya. Sedangkan Ki Wiryo Saroyo yang sebenarnya berasal dari daerah Kembang Kuning memilih tinggal di sekitar tempat yang dibangunnya bersama Sunan Ampel bersama keluarganya. Selanjutnya putri Ki Wiryo Saroyo yang bernama Kharimah pada akhirnya menjadi istri kedua Sunan Ampel.

Namun sepeninggal Ki Wiryo Saroyo yang pergi menghadap Allah, bangunan tersebut tidak ada lagi yang mengurus sehingga daerah di sekitamya dalam beberapa waktu telah berubah menjadi sebuah hutan lebat. Namun dalam beberapa ratus tahun setelah perjalanan hidup Sunan Ampel, tepatnya di masa penjajahan Belanda ada seorang perambah hutan yang kemudian menemukan sisa-sisa bangunan peninggalan Sunan Ampel tersebut. Selanjutnya bangunan yang juga dilengkapi sebuah sumur dengan sumber air yang tidak pernah kering tersebut mulai diperbaiki kembali dan dimanfaatkan menjadi sebuah langgar.

Dari cerita tentang sejarah masjid ini akhirnya muncul keyakinan bahwa tempat di mana masjid itu berdiri adalah tempat yang sangat istimewa. Di mana siapa saja yang berdoa di sana pasti akan terkabul. Hal ini karena pemilihan tempat tersebut oleh Sunan Ampel bukan tanpa sebab. Selain untuk tempat beristirahat, konon Sunan Ampel memang mendapat petunjuk untuk mendirikan tem­pat ibadah di situ.

Hanya saja karena pada saat itu posisi bangunan awal berada di sebelah utara bangunan yang sekarang, banyak jamaah yang mempercyai bahwa serambi bagian utara masjid inilah yang memiliki keistimewaan lebih dibandingkan tempat yang lain. Karena itu banyak di antara mereka yang lebih memilih untuk sholat di sekitar tempat ini.

“Memang benar bahwa tempat yang dianggap paling mustajabah di masjid ini justru berada di luar yaitu di depan ruangan khotib yang dulu adalah ruangan pengimaman saat sebelum masjid ini dibangun. Banyak orangorang yang mengatakan bahwa bila sholat dan berdoa di tempat itu segala apa yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah,” HM Muchsin, salah satu takmir Masjid Rahmat Surabaya kepad LIBERTY.KL@6

———————————————————————————–LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 43-45

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Ampel dan Masjid Rahmat

Masjid Ampel dan Masjid Rahmat, Surabaya Jejak Perjalanan Spiritual Sunan Ampel

JEJAK PERJALANAN RELIGI SUNAN BERNAMA ASLI RADEN RAHMATULLAH INI, TERNYATA TIDAK HANYA BERDIRI DI KAWASAN AMPEL.

Keberadaan Masjid Ampel Surabaya sebagai salah satu kawasan wisata religius sudah tak terbantah lagi. Pamor masjid yang dibangun pada tahun 1421 M ini, mampu mengundang ribuan pengunjung dari dalam dan luar kota Surabaya. Tak jarang, pada momen-momen khusus, ada pengunjung dari luar negeri yang datang untuk sekedar jalan-jalan di Pasar Ampel, atau ikut sholat, iktikaf, dan berziarah ke makam Sunan Ampel yang terletak satu kompleks dengan tempat ibadah tersebut.

Tiap hari, tak kurang dari 500 hingga 2 ribu orang datang berkunjung. Puncak keramaian terjadi pada saat haul Sunan Ampel, jumlah pengunjung bisa mencapai 10 ribu orang. Jumlah yang sama juga terjadi pada bulan Ramadhan. Di malam ke-21 Ramadhan, angka ini malah berkembang hingga dua kali lipat. Akibatnya, banyak pengunjung terpaksa menunggu di luar sampai ada ruang kosong di dalam masjid dan area makam. Padahal kawasan ini keseluruhan memiliki luas sekitar 4 hektar.

“Banyak orang berpikiran, dengan ziarah akan dapat berkah. Ini keliru. Ada berkah atau tidak, itu karena Allah. Begitu juga anggapan yang menyebut bahwa Masjid Ampel merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun Sunan Ampel. Itu salah,” tegas M. Ali Muchsin, 66 tahun, pengurus Yayasan Masjid Rahmat, Kembang Kuning, Surabaya. Menurut Kitab Pengging Teracah, setelah selesai mendatangi undangan Raja Brawijaya, penguasa Mojopahit, Sunan Ampel mendapat ganjaran Ampilan tanah untuk menyebarkan agama Islam di sisi utara tanah Jawa Timur.

Perjalanan Sunan Ampel yang bernama asli Raden Achmad Rahmatullah ini dibarengi beberapa pengikut, diantaranya Ki Wirosaroyo. Wirosaroyo sebelumnya beragama Hindu. Setelah masuk Islam, ia menyatakan ingin ikut perjalanan Sunan Ampel ke Surabaya. Kebetulan ia punya anak gadis bemama Karimah (yang kemudian disunting Sunan Ampel). Sesuai tradisi Jawa, orang tua kadang dipanggil dengan nama anak pertamanya.

Jadi Ki Wirosaroyo sering dipanggil dengan nama Pak Karimah, atau lebih populer lagi dengan sebutan Mbah Karimah. “Sesampai di Surabaya, Sunan Ampel lebih dulu membangun tempat ibadah di Kembang Kuning. Nama ini, konon berasal dari gebang kuning atau palm kuning yang waktu itu banyak ditemui di sini,” jelas Muchsin. Tempat ibadah yang didirikan Sunan Ampel bersama Ki Wirosaroyo ini, lanjutnya, berbentuk musholla kecil berukuran sekitar 12 x 12 meter dan sekilas mirip cungkup. Lantainya menyerupai siti inggil yang menurut kepercayaan sangat pas untuk munajat pada Allah.

Setelah itu, Sunan Ampel melanjutkan perjalanan dan membangun masjid di Ampel Dento yang keberadaannya terus bertahan sampai sekarang. Jika mampir di masjid yang terletak di Jl. Ampel Suci 45 atau Jl. Ampel Masjid 53 ini, kita masih bisa melihat menara setinggi 30 meter di dekat pintu masuk sisi selatan, sumur dan bedug kecil peninggalan Sang Sunan, serta 16 tiang setinggi 17 meter (lengkap dengan ukiran kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi) yang menyangga atap masjid seluas 800 meter persegi.

“Sampai sekarang, Masjid Ampel relatif masih berdiri sesuai aslinya. Ini sangat berbeda dibanding Langgar Tiban di Kembang Kuning. Langgar ini sudah direnovasi total jadi Masjid Rahmat. Renovasi total ini karena takut akan ada pengkultusan yang dikhawatirkan mendekati sirik,” kata Muchsin. Tapi ia maklum, citra Masjid Ampel memang lekat dengan hal mistis dan misterius. Termasuk cerita tentang Mbah Sholeh yang katanya memiliki sembilan nyawa. Ketika ia meninggal, sebagai penghormatan, Mbah Sholeh juga dimakamkan di kompleks makam Masjid Ampel lama sebelah utara.

Di sini, kita bisa melihat sembilan batu nisan yang berjejer rapi, sebagai tanda bahwa Mbah Sholeh pemah hidup dan mati Sembilan kali. Di sisi barat masjid lama, ada makam Mbah Bolong yang pertama kali menentukan arah kiblat sekaligus acuan semua masjid di Pulau Jawa. Tak sampai 30 meter dari makam-makam ini, ada makam Sunan Ampel, berdampingan dengan isteri pertamanya, Dewi Condrowati, salah satu putri Raja Brawijaya. mi hd laksono
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
mossaik, november 2005.


Masjid Rahmat/Masjid Kembang Kuning, Surabaya

Masjid Rahmat Kembang Kuning memang punya sejarah yang tertaut erat dengan misi dakwah dan kebesaran nama Sunan Ampel. Masjid ini, dari catatan lembaran sejarah dibangun pada pertengahan abad XV  era awal keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Menurut Kitab Pengging Teracah, Raja Brawijaya, penguasa Mojopahit memberikan ganjaran Ampilan tanah pada Samputoalang atau Raden  Achmad Rahmatuliah nama asli Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di wilayah utara tanah kekuasaan Mojopahit. Dalam Perjalanan menyebarkan agama Islam di wilayah  utara, Sunan Ampel disertai beberapa pengikut, diantaranya ada pengikut setianya bernama Ki Wirosaroyo. Ki Wirosaroyo sebelumnya beragama Hindu. Setelah masuk Islam Ki Wirosaroyo ikut perjalanan Sunan Ampel ke wilayah  utara. Ki Wirosaroyo dipanggil Pak Karimah, atau lebih populer dengan sebutan Mbah Karimah (menurut tradisi Jawa, orang tua dipanggil dengan nama anak pertamanya). Kebetulan ia punya anak gadis bemama Karimah yang kemudian disunting Sunan Ampel. Dari hasil pemikahan ini, pasangan tersebut dikaruniai dua orang putri , yakni Siti Mustosima dan Siti  Mustosiah. Lalu, dua putri Sunan Ampel ini, Siti Mustosima atau Dewi Mursimah, menikah dengan Sunan Kalijaga, sedangkan Siri Murtosiah atau juga disebut Dewi Murtasiah menikah dengan Sunan Giri.

Sesampai di Surabaya di Kademangan Cemoro Sewu, Sunan Ampel lebih dulu membangun tempat ibadah. Tempat ibadah yang didirikan Sunan Ampel bersama Ki Wirosaroyo ini, berbentuk musholla kecil berukuran sekitar 12×12 meter dan sekilas mirip cungkup. Lantainya menyerupai siti inggil yang menurut kepercayaan sangat pas untuk munajat pada Allah.

Konon Langgar ini dibangun hanya semalam dan di kawasan sekitar bangunan langgar banyak tumbuh bunga berwarna kuning, hingga pada pagi harinya masyarakat sangat terkejut dengan keberadaan langgar tersebut, maka masyarakat sekitar menyebutnya Langgar Tiban/Langgar Kembang  Kuning,   Langgar ini sudah direnovasi total jadi Masjid Rahmat. Renovasi total ini karena takut akan adanya pengkultusan yang dikhawatirkan mendekati sirik•

Setelah itu, Sunan Ampel melanjutkan perjalanan menyebarkan agama Islam di wilayah Surabaya utara, sempat pula membangun tempat ibadah di kampung Penilih, setelah itu baru, Sunan Ampel membangun masjid di Ampel Dento yang dikenal dengan Masjid Ampel =Siwh0t0=

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur