Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Masjid Tiban Macanbang, Kabupaten Tulungagung

Jin pun menyusup di antara para jamaah masjid tiban macanbang.

Arsip macanbangMasjid Tiban Macanbang penuh misteri. Tak diketahui, dibangun oleh siapa dan bagaimana proses kejadiannya. Seolah-olah, masjid tersebut bercokol di tempat itu setelah di jatuhkan dari langit. Tetapi benarkah kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah masjid?

Banyak kisah tentang masjid tiban. Rata-rata, berselimut misteri. Demikian halnya dengan Mas­jid Tiban Macanbang, yang terletak di salah satu sudut Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. “Masjid ini, tiba-tiba ada dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh warga,” jelas Dulgani (68).

Dulgani adalah seorang warga setempat yang memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Tiban Ma­canbang. Kedekatan tersebut, karena ia merupakan keturunan ke enam dari penemu pertama masjid itu. “Menurut nenek moyang kami, Masjid Tiban Macanbang ini ditemukan pada sekitar tahun 1600-ari oleh Sangidin,” kisah Dulgani mengungkap riwayat Masjid Tiban Ma­canbang.

Lebih jauh dikemukakan, Sangidin adalah nenek moyangnya. Sekaligus, merupakan cikal bakal Desa Macanbang. Selain itu, Sangidin juga merupakan salah seorang menantu Kyai Kasan Besari, Tegalsari, Ponorogo. Sekedar untuk diketahui, Kyai Kasan Besari sendiri merupakan guru pujangga besar Keraton Surakarta Hadiningrat, R Ngabehi Ronggowarsita.

arsip macanbang 0Ihwal ditemukannya Masjid Tiban Macanbang, terkait dengan sejarah babad daerah setempat. Seperti di­ketahui, sebelum Desa Macanbang seperti sekarang ini, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang sangat angker. Selain dihuni banyak binatang buas, juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus yang amat menyeramkan. Saking angkernya, tidak setiap manusia berani merambahnya. Ibaratnya, jalma mara, jalma mati. Artinya, siapa yang berani merambah hutan ini, hampir bisa dipastikan akan pulang tinggal nama.

Keadaan demikian, tak membuat nyali Sangidin ciut. Dengan keberaniannya, lelaki gagah berani yang juga menantu Kyai Kasan Besari ini membuka kawasan hutan tersebut, untuk kemudian dijadikan permukiman warga. “Ketika masih berupa hutan, namanya Alas Sumampir,” kisah Dulgani yang ditemui LIBERTY di Masjid Tiban Macanbang.

Dengan peralatan seadanya, Sangidin menebangi belantara hutan yang angker itu. Satu persatu, pohon-pohon di dalam hutan itu ditebang. Pekerjaan ini dilakukan selama berhari-hari. Nah, hingga satu hari mata Sangidin terbelalak, melihat sebuah masjid kuno tiba-tiba muncul di tengah hutan yang dibabatinya. Dalam perkembangan berikutnya, masjid itu kemudian lebih popular dengan sebutan Masjid Tiban Macan­bang.

arsip macanbang 1Sangidin tidak habis mengerti atas keberadaan masjid kuno itu. Ia juga heran, dan terus bertanya-tanya. Yang membuatnya bingung, siapa yang telah mendirikan masjid itu. Siapa pula yang akan menggunakan masjid yang berdiri di tengah hutan belantara seperti itu.

Apalagi, Sangidin melihat tak ada seorang pun warga yang bisa dilihatnya di sekitar masjid tersebut. “Ya, lantas siapa yang membangun masjid ini, dan siapa pula yang akan menggunakannya masjid di tengah belantara hutan yang hanya dihuni binatang-binatang buas dan bermacam makhluk halus ini,” demikian , kira-kira Sangidin bertanya-tanya.

ARTISTIK
Arsitektur Masjid Macanbang sendiri tampak artistik. Tanpa kubah, juga tanpa menara. Atapnya seperti kebanyakan bangunan joglo. Hanya saja bersusun tiga. Sepintas, seperti masjid-masjid kuno yang dibangun pada zaman Kesultanan Demak.

Memang, masjid tiban Macan­bang sendiri sudah mengalami beberapa kali renovasi. Tetapi serangkaian renovasi yang pernah dilaku­kan, tidak sampai merombak total bentuk aslinya. “Sejak dulu, ya se­perti ini. Bentuk aslinya, sengaja dipertahankan sedemikian rupa,” ujar Dulgani.

Teras masjid, berupa balai-balai. Arsitektur bangunannya juga joglo. Masyarakat setempat biasa memanfaatkan balai-balai tersebut sebagai tempat untuk selamatan atau kenduri. Di setiap Rabu pertama di bulan Sapar, digelar tradisi Rabu Wekasan. “Tradisi ini, sebenarnya merupakan salah satu bentuk tasyakuran masyarakat ‘jelas Dulgani.

Bukan hanya tasyakuran saparan saja yang digelar di Masjid Tiban Ma­canbang. Tasyakuran serupa juga di­gelar pada bulan-bulan lainnya. Di antaranya, bulan Ruwah, Maulud dan menyambut tahun baru Islam. Pada bulan-bulan demikian, masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid itu dengan membawa makanan dari rumah untuk dikendurikan bersama.

Di masjid, juga terdapat bebera pa benda kuno yang diperkirakan peninggalan Sunan Kuning. Benda-benda yang dimaksud, antara lain berupa mimbar tempat berkhotbah, dampar un­tuk tadarusan, kentongan serta bedhug. Benda-benda ini, hingga sekarang masih bisa didapati. Hanya saja, un­tuk mimbar tempat ber­khotbah dan dampar untuk tadarusan, warnanya sudah tidak asli lagi. Kesannya, baru dicat dengan warna hijau.

Yang jelas, ada semacam kepercayaan dari beberapa warga setem­pat, bahwa kadang-kadang ada jin yang menyusup di antara para jamaah di masjid itu. “Memang, tidak semua orang bisa melihat dan merasakan hal ini. Tetapi setidak-tidaknya, hal demikian pernah dirasakan dan dilihat oleh beberapa jemaah,” ungkap beberapa warga sekitar Masjid Macanbang.

MAKAM
Bukan hanya masjid kuno itu saja yang ditemukan cikal bakal Desa Macanbang ini, ketika membedah Alas Sumampir. Ia juga menemukan sebuah kompleks makam. Lokasinya, persis di belakang masjid tiban. Salah satu makam yang ditemukannya itu, hingga kini dipercaya masyarakat setempat sebagai Ma­kam Sunan Kuning.

Siapa sebenarnya Sunan Kuning ini? Menurut Dulgani, yang juga juru kunci makam itu, Sunan Kuning adalah calon menantu Sunan Ampel. “Tetapi, beliau keburu meninggal dunia, sebelum benar-benar bersanding dengan putri Sunan Ampel,” jelasnya.

Kematian Sunan Kuning, bukan tanpa kisah. Meski kisah tersebut belum tentu kebenarannya, namun masyarakat terlanjur mempercayainya. Dalam kisahnya disebutkan, satu ketika Sunan Kuning tertarik oleh kecantikan dan kemolekan salah seorang putri Sunan Ampel. Tak ada penjelasan, siapa nama pu­tri Sunan Ampel yang dimaksud.

Yang pasti, kemudian Sunan Ku­ning berterus kepada Sunan Ampel akan rasa ketertarikannya itu. Dan ternyata, Sunan Ampel tidak keberatan, jika memang Sunan Kuning hendah memperistri salah seorang putrinya. Hanya saja, ada syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi oleh Sunan Kuning. Syarat yang dimaksud, intinya Sunan Kuning baru bisa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di alas Lodoyo Blitar.

Demi wanita pujaan hatinya, Sunan Kuning bertekad memenuhi syarat yang diminta calon mertuanya. Ia pun berangkat melabrak musuh-musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo. Sayangnya, lawannya lebih tangguh. Sunan Kuning pun asor ing jurit (kalah), hingga menemui kematiannya. Bagaimana hingga jasadnya dimakamkan di Desa Macanbang, memang tidak ada penjelasan.

Yang jelas, Makam Sunan Kuning nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Menurut Dulgani, hampir setiap hari peziarah itu selalu ada. Hanya saja, jumlahnya tidak pasti. Di hari-hari tertentu, memang terjadi lonjakan peziarah. Ledakan pengunjung ini, biasa terjadi pada malam Jumat Legi atau pada tanggal 1 Suro. Para pe­ziarah itu datang dari berbagai pen- juru daerah untuk ngalab berkah.

Makam Sunan Kuning dan para pengikutnya sendiri berada dalam sebuah bangunan cungkup. Untuk menziarahinya, seseorang harus melalui sebuah pintu khusus. Di- katakan pintu khusus, karena tinggi pintu cungkup tersebut tidak lazim. Saking tidak lazimnya, peziarah ha­rus membungkuk untuk bisa melewati pintu tersebut. Tetapi bukan tanpa maksud, jika pintu isa menikahi putri Sunan Ampel, jika ia berhasil mengalahkan musuh Sunan Ampel di Alas Lodoyo, cungkup Makam Sunan Kuning dibuat sedemikian rupanya.

Menurut Dulgani, ada makna tersendiri di balik laku jongkok seo­rang peziarah yang ingin ngalab berkah, atau mengais karomah di Makam Sunan Kuning. “Laku jong­kok bagi peziarah Makam Sunan Ku­ning ini, di antaranya mengandung makna penghormatan. Ya, penghor­matan terhadap leluhur yang telah sumare dalam keabadiannya itu sendiri tentunya,” jelas Dulgani.•Emte

——————————————————————————-134N70nulis DW-LIBERTY, 1-10 September 2009.

Masjid Tiban Dalam Tanah, Kabupaten Mojokerto

Sampaikan Pesan Kematian Tempat Bertuah Untuk Nadzar

Pada hari-hari tertentu masjid ini banyak didatangi orang. Selain memenuhi rasa penasaran tentang keberadaan masjid yang berada di dalam tanah, tak sedikit pula yang melakukan ritual dengan harapan mendapatkan sesuatu.

Masjid Tiban Dalam Tanah1Padepokan Mayangkoro, Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Banyak tamu pengunjung bersilahturahmi dan beramahtamah dengan Kiai Abdul Malik, selaku pemilik pondok pesanten Mayangkoro, para tamu itu kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dalam tanah yang biasa disebut orangorang dengan masjid di dalam tanah yang lokasinya persis di bawah rumah Kiai Abdul Malik.

“Kami dari Sidoarjo. Kami ke sini memang sengaja untuk melihat-lihat masjid ini dari dekat. Karena selama ini kami sering mendengar dari orang lain tentang keistimewaan masjid ini,” ujar salah seorang dari mereka kepada LIBERTY.

Usai berwudhu, satu persatu para pengunjung itu memasuki masjid terpendam itu. Di dalam masjid itu suasana cukup gelap. Tak ada penerangan dari lampu listrik atau cahaya yang masuk dari luar sedikit pun. Dua buah lampu senter yang dibawa seorang santri Kiai Abdul Malik dan seo­rang pengunjung tak juga bisa membuat suasana di dalam ruangan itu bisa terlihat dengan sejelas-jelasnya Masjid di dalam tanah itu memiliki beberapa ruangan. Ada ruang utama sebagai tempat sholat, ruang semedi, serta ruangan yang biasa digunakan untuk gemblengan yang dilakukan Kiai Abdul Malik terhadap para pengikutnya. Selain ruangan-ruangan itu, di dalam masjid di dalam itu juga terdapat dua buah sendang atau mata air yang diper- caya airnya mengandung keistimewaan.

“Usai digembleng, para santri Kiai Abdul Malik biasanya juga dimandikan di salah satu sendang ini,” ujar Toha, santri Kiai Abul Malik.

Masjid Tiban Dalam Tanah2Karena dianggap istimewa, tidak sedikit dari pengunjung yang kemudian membawa pulang air atau bahkan mandi di air sendang itu. Kepercayaan lain, melakukan doa atau bernadzar di dalam masjid itu juga katanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Tentang hal ini, Kiai Abdul Malik hanya mengatakan bahwa itu tetap saja tergantung manusianya yang berdoa atau meminta sesuatu. Jika memang niat tulus, pasti keinginannya itu akan terkabulkan.

“Di samping itu, karena berada di dalam tanah dan tempatnya sangat tenang, tentu orang akan mudah berkonsentrasi untuk melakukan doa atau permohonan kepada Allah SWT. Mungkin karena itulah maka banyak keinginan para pendatang yang dikabulkan usai berdoa di masjid ini,” ujar Kiai Nyeleneh yang selalu mengenakan udeng ini. Selain suka mengenakan udeng, Kiai Malik juga suka mengunakan training atau baju-baju lain yang sederhana.

SATU SANTRI

Dari mulai berdiri hingga sekarang ini, Padepokan Mayangkoro tak pernah banyak memiliki santri. Paling banter katanya cuma sampai 10 orang. Sekarang ini, bahkan hanya seorang santri yang memilih nyantri di tempat ini. Namun, meski begitu, santri yang berasal dari sekitar lingkungan cukup banyak dan mereka tidak tinggal dalam padepokan. Jika sudah berkumpul dalam acara khusus, misalnya, santri-santri yang dulu pernah mon- dok di tempat ini juga tak ketinggalan untuk datang lagi.

Memasuki masjid yang berada di dalam tanah ini, jika tidak hafal betul lokasi di dalamnya, niscaya ia akan tersesat dan tidak bisa keluar lagi. Sebab, selain tempatnya yang gelap gulita, di dalam masjid ini juga banyak terdapat lorong-lorong yang sangat membinggungkan dan terkadang hanya bisa dilewati dengan membungkukkan badan agar kepala tidak membentur dinding ruangan di dalam masjid tersebut.

Selain bertujuan untuk membangun tempat ibadah yang nyaman dan agar jauh dari kebisingan dunia luar, pembangunan masjid ini menurut Kiai Malik juga bertujuan mengingatkan manusia tentang hari kematian. Dengan memasuki masjid ini, orang diharapkan akan berpikir tentang hari kematian dengan mengatakan dalam hatinya bagaimana seandainya dirinya terkubur dalam tanah suatu hari nanti. Karena pesan kematian itulah Kiai Malik berharap orang akan semakin mempertebal rasa keimanannya terhadap Allah SWT.

Meski tidak mengunakan penyangga beton untuk menopang bangunan yang berada di atasnya, namun masjid ini nyatanya cukup kuat dan terbebas dari longsor atau ambles. Tentang hal itu, Kiai Malik mengatakan bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, katanya apa saja bisa dik­abulkan meski hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.

“Saya tidak memiliki ilmu apa-apa atau semacam kesaktian yang sering dibilang orangorang terhadap diri saya. Semua itu merupakan barokah dari Allah SWT,” ujar Kiai yang pernah akrab den­gan almarhum Gus Maksum Lirboyo, Kediri ini.

MENGHEBOHKAN

Sebelum 1996, Kiai Abdul Malik hanya. memiliki sebuah bangunan terbuat dari bambu yang biasa digunakan untuk mengajari santri-santrinya mengaji dan juga tempat melakukan sholat secara berjamaah. Pada saat itulah ia berkeingian membangun sebuah masjid di tanah berawa yang berada di sebelah rumahnya. Ide itupun sebenarnya tidak murni dari keinginannya sendiri, melainkan mendapatkan petunjuk. Iseng-iseng ia lantas menulisi tanah rawa itu de­ngan papan yang berbunyi akan dibanguan sebuah masjid.

Namun, bukannya banyak yang membantu atau mendukungnya, malah ada saja orang yang sinis den­gan niatan itu. Mereka beranggapan, dari mana Kiai Abdul akan memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya itu? Namun, seiring dengan waktu, tanpa banyak diketahui orang lain, tanpa kenal lelah Kiai Abdul Malik dan para santrinya membuat ruangan dalam tanah yang tanah kedukannya dibuat menguruk tanah rawa-rawa yang berada di sebelah rumahnya.

Praktis perbuatan Kiai Malik dan para santrinya itu tidak menjadi perhatian lingkungannya. Karena bekas urukannya itu sedikit demi sedikit telah menjadikan tanah berawa di sebelah rumahnya menjadi rata. Pada 1996, entah siapa yang menyebarkannya, ruangan yang berada di dalam tanah diketahui banyak orang dan dianggap sebagai masjid tiban yang muncul dari dalam tanah.

Tak hanya warga sekitar, orang- orang dari luar kampung pun berduyun-duyun ingin melihatnya. Bahkan, kemudian berkembang ke luar kota hingga pada waktu itu yang datang sampai ada yang mengunakan mobil atau bus dalam setiap harinya. Praktis tempat Kiai Abdul Malik menjadi heboh. Merasa prihatin dengan keadaan pesantren yang serba sederhana, tak sedikit pula yang kemudian mengulurkan tangan hingga sebuah masjid yang berada di atasnya berdiri pula.

“Ya, semua ini merupakan kehendak Allah SWT Tentang kekuatan gaib masjid di dalam tanah ini, orang boleh percaya boleh tidak. Namun, tentang hal itu lebih baik tanyakan sendiri pada orangorang yang pernah memasuki dan me­lakukan lelaku di tempat ini,” pungkasnya. RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 48-50

Masjid Tiban Dalam Tanah, Kabupaten Mojokerto

Sampaikan Pesan Kematian Tempat Bertuah Untuk Nadzar

Pada hari-hari tertentu masjid ini banyak didatangi orang. Selain memenuhi rasa penasaran tentang keberadaan masjid yang berada di dalam tanah, tak sedikit pula yang melakukan ritual dengan harapan mendapatkan sesuatu.

Masjid Tiban Dalam Tanah1Padepokan Mayangkoro, Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Banyak tamu pengunjung bersilahturahmi dan beramahtamah dengan Kiai Abdul Malik, selaku pemilik pondok pesanten Mayangkoro, para tamu itu kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dalam tanah yang biasa disebut orangorang dengan masjid di dalam tanah yang lokasinya persis di bawah rumah Kiai Abdul Malik.

“Kami dari Sidoarjo. Kami ke sini memang sengaja untuk melihat-lihat masjid ini dari dekat. Karena selama ini kami sering mendengar dari orang lain tentang keistimewaan masjid ini,” ujar salah seorang dari mereka kepada LIBERTY.

Usai berwudhu, satu persatu para pengunjung itu memasuki masjid terpendam itu. Di dalam masjid itu suasana cukup gelap. Tak ada penerangan dari lampu listrik atau cahaya yang masuk dari luar sedikit pun. Dua buah lampu senter yang dibawa seorang santri Kiai Abdul Malik dan seo­rang pengunjung tak juga bisa membuat suasana di dalam ruangan itu bisa terlihat dengan sejelas-jelasnya Masjid di dalam tanah itu memiliki beberapa ruangan. Ada ruang utama sebagai tempat sholat, ruang semedi, serta ruangan yang biasa digunakan untuk gemblengan yang dilakukan Kiai Abdul Malik terhadap para pengikutnya. Selain ruangan-ruangan itu, di dalam masjid di dalam itu juga terdapat dua buah sendang atau mata air yang diper- caya airnya mengandung keistimewaan.

“Usai digembleng, para santri Kiai Abdul Malik biasanya juga dimandikan di salah satu sendang ini,” ujar Toha, santri Kiai Abul Malik.

Masjid Tiban Dalam Tanah2Karena dianggap istimewa, tidak sedikit dari pengunjung yang kemudian membawa pulang air atau bahkan mandi di air sendang itu. Kepercayaan lain, melakukan doa atau bernadzar di dalam masjid itu juga katanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Tentang hal ini, Kiai Abdul Malik hanya mengatakan bahwa itu tetap saja tergantung manusianya yang berdoa atau meminta sesuatu. Jika memang niat tulus, pasti keinginannya itu akan terkabulkan.

“Di samping itu, karena berada di dalam tanah dan tempatnya sangat tenang, tentu orang akan mudah berkonsentrasi untuk melakukan doa atau permohonan kepada Allah SWT. Mungkin karena itulah maka banyak keinginan para pendatang yang dikabulkan usai berdoa di masjid ini,” ujar Kiai Nyeleneh yang selalu mengenakan udeng ini. Selain suka mengenakan udeng, Kiai Malik juga suka mengunakan training atau baju-baju lain yang sederhana.

SATU SANTRI

Dari mulai berdiri hingga sekarang ini, Padepokan Mayangkoro tak pernah banyak memiliki santri. Paling banter katanya cuma sampai 10 orang. Sekarang ini, bahkan hanya seorang santri yang memilih nyantri di tempat ini. Namun, meski begitu, santri yang berasal dari sekitar lingkungan cukup banyak dan mereka tidak tinggal dalam padepokan. Jika sudah berkumpul dalam acara khusus, misalnya, santri-santri yang dulu pernah mon- dok di tempat ini juga tak ketinggalan untuk datang lagi.

Memasuki masjid yang berada di dalam tanah ini, jika tidak hafal betul lokasi di dalamnya, niscaya ia akan tersesat dan tidak bisa keluar lagi. Sebab, selain tempatnya yang gelap gulita, di dalam masjid ini juga banyak terdapat lorong-lorong yang sangat membinggungkan dan terkadang hanya bisa dilewati dengan membungkukkan badan agar kepala tidak membentur dinding ruangan di dalam masjid tersebut.

Selain bertujuan untuk membangun tempat ibadah yang nyaman dan agar jauh dari kebisingan dunia luar, pembangunan masjid ini menurut Kiai Malik juga bertujuan mengingatkan manusia tentang hari kematian. Dengan memasuki masjid ini, orang diharapkan akan berpikir tentang hari kematian dengan mengatakan dalam hatinya bagaimana seandainya dirinya terkubur dalam tanah suatu hari nanti. Karena pesan kematian itulah Kiai Malik berharap orang akan semakin mempertebal rasa keimanannya terhadap Allah SWT.

Meski tidak mengunakan penyangga beton untuk menopang bangunan yang berada di atasnya, namun masjid ini nyatanya cukup kuat dan terbebas dari longsor atau ambles. Tentang hal itu, Kiai Malik mengatakan bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, katanya apa saja bisa dik­abulkan meski hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.

“Saya tidak memiliki ilmu apa-apa atau semacam kesaktian yang sering dibilang orangorang terhadap diri saya. Semua itu merupakan barokah dari Allah SWT,” ujar Kiai yang pernah akrab den­gan almarhum Gus Maksum Lirboyo, Kediri ini.

MENGHEBOHKAN

Sebelum 1996, Kiai Abdul Malik hanya. memiliki sebuah bangunan terbuat dari bambu yang biasa digunakan untuk mengajari santri-santrinya mengaji dan juga tempat melakukan sholat secara berjamaah. Pada saat itulah ia berkeingian membangun sebuah masjid di tanah berawa yang berada di sebelah rumahnya. Ide itupun sebenarnya tidak murni dari keinginannya sendiri, melainkan mendapatkan petunjuk. Iseng-iseng ia lantas menulisi tanah rawa itu de­ngan papan yang berbunyi akan dibanguan sebuah masjid.

Namun, bukannya banyak yang membantu atau mendukungnya, malah ada saja orang yang sinis den­gan niatan itu. Mereka beranggapan, dari mana Kiai Abdul akan memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya itu? Namun, seiring dengan waktu, tanpa banyak diketahui orang lain, tanpa kenal lelah Kiai Abdul Malik dan para santrinya membuat ruangan dalam tanah yang tanah kedukannya dibuat menguruk tanah rawa-rawa yang berada di sebelah rumahnya.

Praktis perbuatan Kiai Malik dan para santrinya itu tidak menjadi perhatian lingkungannya. Karena bekas urukannya itu sedikit demi sedikit telah menjadikan tanah berawa di sebelah rumahnya menjadi rata. Pada 1996, entah siapa yang menyebarkannya, ruangan yang berada di dalam tanah diketahui banyak orang dan dianggap sebagai masjid tiban yang muncul dari dalam tanah.

Tak hanya warga sekitar, orang- orang dari luar kampung pun berduyun-duyun ingin melihatnya. Bahkan, kemudian berkembang ke luar kota hingga pada waktu itu yang datang sampai ada yang mengunakan mobil atau bus dalam setiap harinya. Praktis tempat Kiai Abdul Malik menjadi heboh. Merasa prihatin dengan keadaan pesantren yang serba sederhana, tak sedikit pula yang kemudian mengulurkan tangan hingga sebuah masjid yang berada di atasnya berdiri pula.

“Ya, semua ini merupakan kehendak Allah SWT Tentang kekuatan gaib masjid di dalam tanah ini, orang boleh percaya boleh tidak. Namun, tentang hal itu lebih baik tanyakan sendiri pada orangorang yang pernah memasuki dan me­lakukan lelaku di tempat ini,” pungkasnya. RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 48-50

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Tiban Temenggung, Kabupaten Blitar

masjid-tiban-temenggungBanyak kisah misteri di balik keberadaan Masjid Tiban. Karena keberadaannya sering dianggap “Dari Langit”, masjid-masjid demikian acap dijadikan tempat bermunajab atas harapan.kecermelangan hidup dan masa depan.

Di mana sajakah masjid-masjid PARAWALI itu berada, dan apa saja keistimewaannya?

Pertama diketahui, bersamaan dengan peristiwa pembabatan hutan. Warga Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jatim, menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Disebutkan demikian, karena masjid itu tiba- tiba ada. Tiba-tiba bercokol di salah satu sudut desa mereka, tanpa sempat diketahui proses pembuatannya Karenanya, banyak juga yang menganggap masjid itu dari langit. Tepatnya, turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu. “Ya, masjid itu seolah-olah turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut desa kami,” ujar beberapa warga Desa Temenggung.

Orang pertama yang berjasa atas keberadaan masjid itu adalah Abdullah Islam (alm). Dia seorang ulama besar yang berkaliber Wali. Itulah sebabnya, Abdullah Islam pun semasa hidupnya akrab disapa masyarakat setempat sebagai Mbah Wali. “Dia memang seorang Wali, sehingga tidak salah kalau masyarakat di sini menyebutnya Mbah Wali,” ujar Siti Fatonah (70), salah seorang menantu Mbah Wali.

Di Kabupaten Blitar dan sekitarnya, masjid tiban di Dusun Gembong ini populer dengan sebutan Masjid Kuno. Pihak Pemda setempat mengiventarisir masjid itu sebagai cagar budaya yang perlu dilindungi. Tetapi sayangnya, tampak muka masjid ini hilang sama sekali oleh bangunan masjid baru yang disebut-sebut seba­gai hasil renovasi.

Keterangan yang berhasil dihimpun LIBERTY menyebutkan, masjid itu pertama kali diketahui bersamaan dengan pembabatan hutan setempat untuk dijadikan hunian. Ketika pem­babatan hutan terjadi, mendadak warga terbelalak oleh sebuah masjid yang terdapat di tengah hutan. Masyarakat pun lalu menyebutnya sebagai masjid tiban, karena tanpa sempat mengetahui proses pembuatannya.

Rajjah Allah Tanpa Alif

Masjid tersebut disebut-sebut foto copy dari Masjid Nabawi di Madinah. Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya. Pada pokok menara, terdapat jamban de­ngan air yang tak pernah kering se- kalipun di musim kemarau panjang. “Air pada menara-menara itu, banyak dipercaya masyarakat berkhasiat kesembuhan,” terang Fatonah.

Konon, penyakit apapun bisa di- sembuhkan dengan air di jamban me­nara-menara masjid itu. Mulai dari penyakit kulit, hingga penyakit dalam. Khasiat kesembuhan pada air tersebut, disebut-sebut sebagai tuah dari air zam-zam yang telah bersenyawa sejak zaman Mbah Wali. “Mbah Wali lah orang pertama yang mengatakan kalau air di jamban menara-menara itu sudah bercampur de­ngan air zam-zam,” ungkap Fatonah.

Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tam­pak timbul dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya merupakan kayu jati pilihan.

Rajah Allah tanpa huruf alif itu sengaja dibuat oleh Mbah Wali. Menurut Fatonah, semasa hidupnya dalam setiap tarikan nafasnya Mbah Wali selalu menyebut Allah, Allah, Allah dan Allah. “Tulisan Allah tanpa huruf Alif itu seperti yang pernah dikatakan oleh Mbah Wali, Alif-nya adalah dirinya sendiri. Tetapi saya tidak tahu maksudnya, mengapa harus begitu,” urai Fatonah.

Barangkali, Mbah Wali ini seorang sufi. Dia ibaratkan dirinya sebagai Alif, yang hanya akan bermakna dalam jika digan- dengkan dengan “llah”. Diapun hidup kare­na “llah”. Dia pun baru berarti karena “llah”. Dia pun sebagai manusia Islam, hanya karena “llah”.

Wingit

“Dulu, kecilan saya dulu, masjid itu tampak wingit sekali. Saking wingitnya, anak-anak kecil sampai banyak yang tidak berani datang sendirian ke masjid itu,” kenang Solekan, seorang kepaia SMPN Ponggok yang tinggal tidak jauh dari masjid tiban ini. “Sayapun, dulu takut sekali jika harus ke masjid itu seorang diri,” lanjut Solekan.

Wingitnya masjid itu, konon seringnya digunakan oleh jin-jin Islam untuk ikut sholat berjamaah bersama umat muslim lainnya. Jiivjin memang tidak selalu me- nampakkan diri, namun kehadirannya cukup bisa dirasakan oleh jamaah yang melaksanakan sholat di masjid tersebut.

Beberapa warga setempat menyebutkan perihal “terasanya” kehadiran jin-jin Islam sewaktu sholat di masjid tiban te- menggung ini. Ketika sholat berjamaah hanya terdiri dari beberapa orang, tiba-tiba ketika usai membaca surat Al Fatihah yang “mengamini” terdengar banyak sekali, sehingga suaranya pun tidak sebanding dengan jamaah yang ada.

Masih segar dalam ingatan Solekan, kesan wingit atas masjid tiban di Temeng- gung ini sudah terasa sewaktu menjejakkan kaki di halamannya. “Tetapi sekarang barn bisa merasakan kesan wingit dari masjid itu setelah masuk kedalamnya,” tegas Solekan yang ditemui LI­BERTY di kediamannya.

Seorang pengurus masjid tiban yang masih kerabat Mbah Wali menyebutkan, di dalam masjid itu ada lampu-lampu minyak kuno yang aneh. Dikatakan aneh, karena sewaktu Mbah Wali masih hidup, lampu-lampu minyak akan menyala sepanjang malam meski tanpa diisi minyak. “Inilah lampu- lampu minyak itu,” ujar M Basuni sambil menunjukkan lampu yang dimaksud pada LIBERTY.

Basuni adalah cucu menantu Mbah Maksum, salah seorang putra Mbah Wali. Putra lain Mbah Wali adalah Sulaiman Zuhdi. Fatonah sendiri merupakan istri dari Mbah  Maksum. Kini, jasad Mbah Wali,  Mbah Maksum dan Mbah Sulaiman Zuhdi tempat imaman masjid tiban itu.

Lampu-Jampu minyak itu sendiri, kini tergantung melingkar di pilar tengah masjid yang menjelang di antara empat soko guru (empat pilar penyangga atap). Lampu-lampu itu, tam­pak berdebu dan tersusun sedemikian rupa dari bawah hingga pucuk pilar te­ngah. Jumlah sangat banyak, dan dari dulu hingga sekarang tempatnya pun relatif tak berubah.

Tak Pernah Sepi Pengunjung

Meski letaknya relatif terpencil, namun masjid tiban Temenggung ini hampir tidak pemah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara. Beberapa warga setem­pat sempat bingung, dari mana pe­ngunjung itu tahu kalau di Dusun Gem- bong ada masjid tiban yang membetot hasrat mereka untuk mengunjunginya dan berolah spiritual.

Tidak sedikit di antara para pengun­jung itu yang datang karena mendapat petunjuk lewat mimpi. Mereka terlebih dahulu bermimpi melihat masjid yang belum pernah sekalipun didatanginya itu. Tidak sedikit pula yang datang karena bisikan gaib yang menyuarakan kebe- radaan masjid tiban Temenggung.

Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, tidak sedikit di antara para pengunjung itu yang beritikaf di masjid itu dengan tadarus, wind dan dzikir. Dzikir mereka pun meniru Mbah Wali, yakni Allah … Allah … Allah …, dalam bilangan ribuan kali.

Seorang pengunjungyang mengaku datang dari Jawa Barat mengaku, kedatangannya ke masjid tiban di Temenggung ini untuk mohon petunjuk atas bisnis yang tengah dijalankan. Lelaki setengah baya itu kepada LIBERTY mengaku bernama Imron. Tetangga saya di Pekalongan, setelah dzikir di sini dagang batiknya sukses. Dulu, dia tak pernah bisa membayangkan akan bisa menghidupi anak-anak yatim hingga 10 orang, tetapi setelah mohon petunjuk di masjid ini semuanya berjalan lancar. Rejekinya pun berlimpah,” urai Imron yang mengaku buka usaha perbengkelan.

Tidak takutkah Imron berdzikir sambil memilin-milin biji tasbih di dalam masjid yang benar-benar terkesan wingit itu? “Tidak ada yang saya takutkan, kecuali Allah,” kata Imron menjawab pertanyaan LIBERTY.

Banyak Imron-imron yang lain, datang ke masjid tiban di Temenggung itu dalam rangka ikhtiar atas usahanya. Mereka, datang ke masjid itu dengan penuh keyakinan, bahwa Allah akan menolongnya. “Tetapi ya tidak mungkin toh, hanya berdiam di masjid lantas Tuhan men- jatuhkan rejeki dari langit begitu saja. Jadi, di sini ini selain berdoa ya juga harus be- kerja keras,” aku Imron.

Suasana religius masjid tiban Temenggung benar-benar sangat terasa, bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Di atas hamparan sajadah, tanpa penerangan sedikit pun, mereka mewirid Asmaul Husna (99 sebutan- sebutan bagus untuk Allah SWT) •EMTE

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 38-40

Masjid Tiban Temenggung, Kabupaten Blitar

masjid-tiban-temenggungBanyak kisah misteri di balik keberadaan Masjid Tiban. Karena keberadaannya sering dianggap “Dari Langit”, masjid-masjid demikian acap dijadikan tempat bermunajab atas harapan.kecermelangan hidup dan masa depan.

Di mana sajakah masjid-masjid PARAWALI itu berada, dan apa saja keistimewaannya?

Pertama diketahui, bersamaan dengan peristiwa pembabatan hutan. Warga Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jatim, menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Disebutkan demikian, karena masjid itu tiba- tiba ada. Tiba-tiba bercokol di salah satu sudut desa mereka, tanpa sempat diketahui proses pembuatannya Karenanya, banyak juga yang menganggap masjid itu dari langit. Tepatnya, turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu. “Ya, masjid itu seolah-olah turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut desa kami,” ujar beberapa warga Desa Temenggung.

Orang pertama yang berjasa atas keberadaan masjid itu adalah Abdullah Islam (alm). Dia seorang ulama besar yang berkaliber Wali. Itulah sebabnya, Abdullah Islam pun semasa hidupnya akrab disapa masyarakat setempat sebagai Mbah Wali. “Dia memang seorang Wali, sehingga tidak salah kalau masyarakat di sini menyebutnya Mbah Wali,” ujar Siti Fatonah (70), salah seorang menantu Mbah Wali.

Di Kabupaten Blitar dan sekitarnya, masjid tiban di Dusun Gembong ini populer dengan sebutan Masjid Kuno. Pihak Pemda setempat mengiventarisir masjid itu sebagai cagar budaya yang perlu dilindungi. Tetapi sayangnya, tampak muka masjid ini hilang sama sekali oleh bangunan masjid baru yang disebut-sebut seba­gai hasil renovasi.

Keterangan yang berhasil dihimpun LIBERTY menyebutkan, masjid itu pertama kali diketahui bersamaan dengan pembabatan hutan setempat untuk dijadikan hunian. Ketika pem­babatan hutan terjadi, mendadak warga terbelalak oleh sebuah masjid yang terdapat di tengah hutan. Masyarakat pun lalu menyebutnya sebagai masjid tiban, karena tanpa sempat mengetahui proses pembuatannya.

Rajjah Allah Tanpa Alif

Masjid tersebut disebut-sebut foto copy dari Masjid Nabawi di Madinah. Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya. Pada pokok menara, terdapat jamban de­ngan air yang tak pernah kering se- kalipun di musim kemarau panjang. “Air pada menara-menara itu, banyak dipercaya masyarakat berkhasiat kesembuhan,” terang Fatonah.

Konon, penyakit apapun bisa di- sembuhkan dengan air di jamban me­nara-menara masjid itu. Mulai dari penyakit kulit, hingga penyakit dalam. Khasiat kesembuhan pada air tersebut, disebut-sebut sebagai tuah dari air zam-zam yang telah bersenyawa sejak zaman Mbah Wali. “Mbah Wali lah orang pertama yang mengatakan kalau air di jamban menara-menara itu sudah bercampur de­ngan air zam-zam,” ungkap Fatonah.

Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tam­pak timbul dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya merupakan kayu jati pilihan.

Rajah Allah tanpa huruf alif itu sengaja dibuat oleh Mbah Wali. Menurut Fatonah, semasa hidupnya dalam setiap tarikan nafasnya Mbah Wali selalu menyebut Allah, Allah, Allah dan Allah. “Tulisan Allah tanpa huruf Alif itu seperti yang pernah dikatakan oleh Mbah Wali, Alif-nya adalah dirinya sendiri. Tetapi saya tidak tahu maksudnya, mengapa harus begitu,” urai Fatonah.

Barangkali, Mbah Wali ini seorang sufi. Dia ibaratkan dirinya sebagai Alif, yang hanya akan bermakna dalam jika digan- dengkan dengan “llah”. Diapun hidup kare­na “llah”. Dia pun baru berarti karena “llah”. Dia pun sebagai manusia Islam, hanya karena “llah”.

Wingit

“Dulu, kecilan saya dulu, masjid itu tampak wingit sekali. Saking wingitnya, anak-anak kecil sampai banyak yang tidak berani datang sendirian ke masjid itu,” kenang Solekan, seorang kepaia SMPN Ponggok yang tinggal tidak jauh dari masjid tiban ini. “Sayapun, dulu takut sekali jika harus ke masjid itu seorang diri,” lanjut Solekan.

Wingitnya masjid itu, konon seringnya digunakan oleh jin-jin Islam untuk ikut sholat berjamaah bersama umat muslim lainnya. Jiivjin memang tidak selalu me- nampakkan diri, namun kehadirannya cukup bisa dirasakan oleh jamaah yang melaksanakan sholat di masjid tersebut.

Beberapa warga setempat menyebutkan perihal “terasanya” kehadiran jin-jin Islam sewaktu sholat di masjid tiban te- menggung ini. Ketika sholat berjamaah hanya terdiri dari beberapa orang, tiba-tiba ketika usai membaca surat Al Fatihah yang “mengamini” terdengar banyak sekali, sehingga suaranya pun tidak sebanding dengan jamaah yang ada.

Masih segar dalam ingatan Solekan, kesan wingit atas masjid tiban di Temeng- gung ini sudah terasa sewaktu menjejakkan kaki di halamannya. “Tetapi sekarang barn bisa merasakan kesan wingit dari masjid itu setelah masuk kedalamnya,” tegas Solekan yang ditemui LI­BERTY di kediamannya.

Seorang pengurus masjid tiban yang masih kerabat Mbah Wali menyebutkan, di dalam masjid itu ada lampu-lampu minyak kuno yang aneh. Dikatakan aneh, karena sewaktu Mbah Wali masih hidup, lampu-lampu minyak akan menyala sepanjang malam meski tanpa diisi minyak. “Inilah lampu- lampu minyak itu,” ujar M Basuni sambil menunjukkan lampu yang dimaksud pada LIBERTY.

Basuni adalah cucu menantu Mbah Maksum, salah seorang putra Mbah Wali. Putra lain Mbah Wali adalah Sulaiman Zuhdi. Fatonah sendiri merupakan istri dari Mbah  Maksum. Kini, jasad Mbah Wali,  Mbah Maksum dan Mbah Sulaiman Zuhdi tempat imaman masjid tiban itu.

Lampu-Jampu minyak itu sendiri, kini tergantung melingkar di pilar tengah masjid yang menjelang di antara empat soko guru (empat pilar penyangga atap). Lampu-lampu itu, tam­pak berdebu dan tersusun sedemikian rupa dari bawah hingga pucuk pilar te­ngah. Jumlah sangat banyak, dan dari dulu hingga sekarang tempatnya pun relatif tak berubah.

Tak Pernah Sepi Pengunjung

Meski letaknya relatif terpencil, namun masjid tiban Temenggung ini hampir tidak pemah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara. Beberapa warga setem­pat sempat bingung, dari mana pe­ngunjung itu tahu kalau di Dusun Gem- bong ada masjid tiban yang membetot hasrat mereka untuk mengunjunginya dan berolah spiritual.

Tidak sedikit di antara para pengun­jung itu yang datang karena mendapat petunjuk lewat mimpi. Mereka terlebih dahulu bermimpi melihat masjid yang belum pernah sekalipun didatanginya itu. Tidak sedikit pula yang datang karena bisikan gaib yang menyuarakan kebe- radaan masjid tiban Temenggung.

Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, tidak sedikit di antara para pengunjung itu yang beritikaf di masjid itu dengan tadarus, wind dan dzikir. Dzikir mereka pun meniru Mbah Wali, yakni Allah … Allah … Allah …, dalam bilangan ribuan kali.

Seorang pengunjungyang mengaku datang dari Jawa Barat mengaku, kedatangannya ke masjid tiban di Temenggung ini untuk mohon petunjuk atas bisnis yang tengah dijalankan. Lelaki setengah baya itu kepada LIBERTY mengaku bernama Imron. Tetangga saya di Pekalongan, setelah dzikir di sini dagang batiknya sukses. Dulu, dia tak pernah bisa membayangkan akan bisa menghidupi anak-anak yatim hingga 10 orang, tetapi setelah mohon petunjuk di masjid ini semuanya berjalan lancar. Rejekinya pun berlimpah,” urai Imron yang mengaku buka usaha perbengkelan.

Tidak takutkah Imron berdzikir sambil memilin-milin biji tasbih di dalam masjid yang benar-benar terkesan wingit itu? “Tidak ada yang saya takutkan, kecuali Allah,” kata Imron menjawab pertanyaan LIBERTY.

Banyak Imron-imron yang lain, datang ke masjid tiban di Temenggung itu dalam rangka ikhtiar atas usahanya. Mereka, datang ke masjid itu dengan penuh keyakinan, bahwa Allah akan menolongnya. “Tetapi ya tidak mungkin toh, hanya berdiam di masjid lantas Tuhan men- jatuhkan rejeki dari langit begitu saja. Jadi, di sini ini selain berdoa ya juga harus be- kerja keras,” aku Imron.

Suasana religius masjid tiban Temenggung benar-benar sangat terasa, bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Di atas hamparan sajadah, tanpa penerangan sedikit pun, mereka mewirid Asmaul Husna (99 sebutan- sebutan bagus untuk Allah SWT) •EMTE

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 38-40

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52