Masjid Qawiyudin, Wonokromo-Surabaya

Masjid Wonokromo0001Menelusuri Jejak Kerabat Sunan Gunung Jati di Wonokromo, Surabaya. Ramadan, Sepekan, dua Kali Kaji Fathul Qorib. Ada satu masjid tua di kawasan Wonokromo yang kerap luput dari liputan religi. Masjid Qawiyudin namanya. Terletak di tengah perkampungan Jagir Wonokromo, masjid tersebut masih kukuh berdiri.

Nilai kesejarahan tertera jelas di serambi masjid. Tertempel di pintu utama, sebuah plakat logam yang dikeluarkan Kementerian Agama menandakan berdirinya masjid, yakni 1786. Arsitekturnya cukup berbeda dengan masjid kebanyakan yang umumnya beratap kubah. Kon- struksi atap Masjid Qawiyudin bertumpuk-tumpuk, mirip sekali dengan pura.

Memasuki lingkungan masjid, terasa sekali atmosfer yang ber­beda. Rasanya tidak seperti berada di kompleks Wonokromo yang identik dengan macet plus perkam­pungan yang berjejal-jejal itu. Nuansa religi amat kental di kom­pleks masjid tersebut. Lalu lalang jamaah berkopiah yang keluar masuk masjid kerap terlihat.

Masjid Wonokromo0002Masjid Qawiyudin didirikan Mbah Qawiyudin. Dia adalah cucu Su- nan Gunung Jati dari Cirebon. Qawiyudin terpaksa melarikan diri ke wilayah Wonokromo ka- rena saat zaman penjajahan Be- landa, mereka yang termasuk Bani Basyaiban ditangkapi. Nah, Qawiyudin merupakan salah seorang anggota bani tersebut. Konon kabarnya, masjid tersebut didirikan dengan kayu-kayu yang dibawa langsung dari Cirebon. Kayu-kayu itu dikirim lewat laut, lantas dialirkan menyusuri Kalimas. Hingga kini, kayu-kayu tersebut masih tegak berdiri me- nyangga masjid.

Semula Masjid Qawiyudin ber­diri tepat di pintu air Jagir. Namun, karena Belanda membangun sudetan atau kali baru hingga ke laut, masjid tersebut dipindahkan ke kompleks yang sekarang. Di sekeliling masjid, ada banyak rumah. Namun, mereka masih berkerabat dengan Mbah Qawiyudin.

“Meskipun kuno dan bersejarah, masjid yang didirikan pada 1786  ini terlewat dari sorotan liputan. Padahal, bisa saya bilang, masjid ini tertua di Surabaya Selatan,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Qowiyudin Amir Hamzah” (Sabtu-20/7/13).

Dengan hidangan khas jamaah masjid, yakni kopi tubruk dalam cangkir kecil, malam itu sejumlah pengurus takmir bercerita soal keistimewaan masjid tersebut. Terutama saat Ramadan. Amir menceritakan, saat Rama­dan, frekuensi pengajian di masjid tersebut bertambah. Menjelang buka puasa, masjid mengadakan pengajian Fathul Qorib. Itu merupakan pengajian yang khusus membedah masalah fikih. Jamaah-nya adalah warga sekitar yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kiai yang memberikan penga­jian itu khusus. Mereka didatangkan langsung dari kompleks Pesantren Sidoresmo. Pada Rama­dan kali ini, yang kebagian jatah adalah KH Ahmad Mashuri Toha dan KH Mas Sulaiman. “Ini tradisi yang kami jaga sejak bertahun-tahun lalu. Saat saya masih kecil, sudah ada pengajian semacam ini. Apalagi, masih ada hubungan kekerabatan dengan Sidoresmo,” ungkapnya. Sejumlah pengurus yang lain juga mengangguk soal pernyataan Amir malam itu.

Keutamaan lain, Masjid Qawiyudin di Jagir Wonokromo tersebut amat menjaga nilai-nilaiyang su­dah ditanamkan para leluhurnya. Persis di depan masjid, ada sebuah kubus semen setinggi setengah meter yang dikelilingi pagar besi. Persis di atasnya, tertancap besi setinggi 15 cm. Mungkin saking lamanya, besi tersebut cukup berkarat sehingga warnanya terlihat cokelat tua.

Warga kompleks masjid menyebutnya pandem. Itu adalah penunjuk waktu salat yang masih dipertahankan hingga kini. Kendati sudah ada teknologi untuk menentukan waktu, misalnya menentukan wak­tu zuhur, pengurus terkadang ma­sih memanfaatkannya. Yang me­reka inginkan adalah adanya kesamaan antara jam modern dan tanda-tanda alam tersebut.

Menurut penuturan Abdul Kholiq, imam rawatib di masjid itu, wak­tu salat di masjid itu kerap berbeda dengan Masjid Rahmat. “Ada selisih sedikit saja, kami tidak berani memulai salat. Sebab, hitungannya haram,” ungkap pria murah senyum tersebut.

Banyak nilai lain lagi yang dipegang teguh hingga kini. Salah satunya, masjid sama sekali menolak bantuan pemerintah. “Al- hamdulillah, dalam bentuk apa pun, kami tidak mau menerima. Kami tidak mau di belakang hari muncul masalah,” kata Amir.

Infak jamaah yang didapat ketika salat Jumat juga tidak disimpan di bank. Karena itu, hendahara takmir harus mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Amir me- ngatakan, bunga dari bank mirip sekali dengan riba. “Daripada ka­mi ragu-ragu, lebih baik kami me­ngelolanya sendiri,” ungkapnya.

Saat bulan Rajab, ada satu kegiatan rutin yang menjadi agen­da wajib di masjid tersebut. Yak­ni, mengadakan festival hadrah tingkat Jatim dalam rangka haul Mbah Qawiyudin. Karena itu, halaman masjid pun harus ber­jejal-jejal untuk menampung banyak peserta. (git/c6/end)

———————————————————————————–134N70nulisDW-Jawa pos, Selasa 23 Juli 2013, hlm. 1 dan 30

Masjid Rahmat, Surabaya

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0001Masjid Rahmat adalah salah satu masjid tertua di Surabaya. Lokasi masjid ini berada di kawasan jalan Kembang Kuning Su­rabaya. Walaupun bangunan masjid yang sekarang adalah termasuk ban­gunan baru karena dibangun pada tahun 1967, tapi cikal bakal dari keberadaan masjid tersebut sudah ada sejak zamannya Sunan Ampel.

Konon Masjid Rahmat ditemukan secara tiba-tiba oleh seorang penduduk yang sedang merambah hutan. Saat ditemukan berupa sebuah tempatyang beralaskan batu bata yang ditata rapi dengan letaknya lebih tinggi dari sekitarnya, dan ditiap sudutnya terdapat empat buah tiang yang menyangga sebuah atap yang terbuat dari daun tebu (welit = Jawa). Selanjutnya masyarakat di sekitar tempat itu mulai mengenalnya dengan istilah masjid tiban. Tapi setelah dirunut mengenai sejarahnya ternyata diketahui bahwa masjid tersebut sebenarnya didirikan oleh Sunan Ampel.

Diceritakan bahwa dulu saat pertama kali datang dari negerinya Campa, Sunan Ampel langsung menuju ke kerajaan Majapahit untuk bertemu dengan Prabu Brawijaya yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai pamannya sendiri. Hal ini karena bibinya yang bernama Dewi Dwarawati adalah istri dari Prabu Brawijaya. Setelah berkunjung beberapa lama di Majapahit, akhirnya Prabu Brawijaya menghadiahi sebidang tanah di daerah utara Surabaya yang disebut dengan Ampel Denta.

Hal ini karena Prabu Brawijaya menyukai Sunan Ampel yang sangat berbudi baik. Maka mulailah Sunan Ampel pergi menuju ke daerah yang diberi oleh Prabu Brawijaya tersebut sambil disertai oleh seorang pembantu keraton yang bernama Ki Wiro Saroyo.

Dalam perjalanannya kedua orang ini singgah di daer­ah Kembang Kuning dan kemudian membangun sebuah tempat berteduh yang juga digunakan sebagai tempat untuk bermunajat kepada Allah. Ki Wiryo Saroyo yang kemudian memeluk Islam tersebut langsung bahu-membahu bersama Sunan Ampel membuat tempat seperti yang dikehendaki Sunan Ampel. Mulailah di susun beberapa batu bata membentuk lantai selanjutnya dipasang empat buah tiang yang diatasnya diberi atap berupa daun tebu yang dijahit.

Setetah beberapa lama tinggal ditempat tersebut, se­lanjutnya Sunan Ampel melanjutkan perjalanan ke daerah  Ampel Denta untuk mengurusi tanah pemberian Prabu Brawijaya. Sedangkan Ki Wiryo Saroyo yang sebenarnya berasal dari daerah Kembang Kuning memilih tinggal di sekitar tempat yang dibangunnya bersama Sunan Ampel bersama keluarganya. Selanjutnya putri Ki Wiryo Saroyo yang bernama Kharimah pada akhirnya menjadi istri kedua Sunan Ampel.

Namun sepeninggal Ki Wiryo Saroyo yang pergi menghadap Allah, bangunan tersebut tidak ada lagi yang mengurus sehingga daerah di sekitamya dalam beberapa waktu telah berubah menjadi sebuah hutan lebat. Namun dalam beberapa ratus tahun setelah perjalanan hidup Sunan Ampel, tepatnya di masa penjajahan Belanda ada seorang perambah hutan yang kemudian menemukan sisa-sisa bangunan peninggalan Sunan Ampel tersebut. Selanjutnya bangunan yang juga dilengkapi sebuah sumur dengan sumber air yang tidak pernah kering tersebut mulai diperbaiki kembali dan dimanfaatkan menjadi sebuah langgar.

Dari cerita tentang sejarah masjid ini akhirnya muncul keyakinan bahwa tempat di mana masjid itu berdiri adalah tempat yang sangat istimewa. Di mana siapa saja yang berdoa di sana pasti akan terkabul. Hal ini karena pemilihan tempat tersebut oleh Sunan Ampel bukan tanpa sebab. Selain untuk tempat beristirahat, konon Sunan Ampel memang mendapat petunjuk untuk mendirikan tem­pat ibadah di situ.

Hanya saja karena pada saat itu posisi bangunan awal berada di sebelah utara bangunan yang sekarang, banyak jamaah yang mempercyai bahwa serambi bagian utara masjid inilah yang memiliki keistimewaan lebih dibandingkan tempat yang lain. Karena itu banyak di antara mereka yang lebih memilih untuk sholat di sekitar tempat ini.

“Memang benar bahwa tempat yang dianggap paling mustajabah di masjid ini justru berada di luar yaitu di depan ruangan khotib yang dulu adalah ruangan pengimaman saat sebelum masjid ini dibangun. Banyak orangorang yang mengatakan bahwa bila sholat dan berdoa di tempat itu segala apa yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah,” HM Muchsin, salah satu takmir Masjid Rahmat Surabaya kepad LIBERTY.KL@6

———————————————————————————–LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 43-45

Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

Masjid Al Arfiyah atau Masjid Mojoduwur, Kabupaten Nganjuk

Desa Mojoduwur. Kec. Berbek Kabupaten Nganjuk, tepatnya lebih kurang 3 Km sebelah selatan Berbek atau lebih kurang 10 Km dari Kota Nganjuk. Desa ini memiliki Masjid yang sudah cukup tua umurnya. Dibuat pada Tahun 1726 oleh Kyai Arfiyah. Untuk mengenang jasa pendirinya, masjid tersebut kemudian diberi nama : Masjid Al Arfiyah. Atau masyarakat lebih mengenal dengan nama Masjid Mojoduwur.

Mengenai asal usul Kyai Arfiyah, menurut penuturan beberapa keluarga, berasal dari Sewulan Madiun. Kyai Arfiyah putra dari Kyai Djumalim, yang asal-usulnya dari Kyai Sambu – Pangeran Benawa – Djoko Tingkir – Ki Ageng Pengging – Maulana Iskak. Setelah menginjak usia dewasa dan sudah waktunya untuk menikah, pemuda Arfiyah diambil menantu oleh Basjarijah, seorang Kyai Pondok Pesantren di Sewulan Madiun. Namun karena wujud fisik Arfiyah yang kurang rupawan dibandingkan dengan ipar dan menantu Basjarijah yang

lain, maka ia tidak disukai oleh ipar-iparnya. Bahkan isterinya sendiri malu mengakui Arfiyah sebagai suaminya. Oleh karena itu, selama menjadi menantu Basjarijah, Arfiyah tidak tidur dirumah mertua, tetapi membuat tempat sendiri ditengah pekarangan (membuat gubuk), sehingga hal itu berlangsung sampai 4 tahun.

Karena merasa ditolak oleh isteri dan selalu diancam akan dibunuh oleh ipar-iparnya, maka Arfiyah kemudian meninggalkan Sewulan menuju ke arah timur. Perjalanannya itu baru berhenti setelah sampai di Kuncir (Dukuh Ngledok). Setelah tinggal beberapa saat di Kuncir, kemudian menuju Mojoduwur. Disini membuka lahan/baru untuk didirikan Masjid. Di Masjid yang didirikan itulah ia tinggal bersama murid- muridnya.

Sementara itu Basjarijah menyuruh mencari menantunya. Untuk keperluan, itu Basjarijah menyuruh muridnya sebanyak 60 Orang untuk menemukan tempat tinggal Arfiyah. serta sekaligus mengajaknya pulang ke Sewulan. Ternyata mereka menemukan Arfiyah di Mojoduwur, namun mereka tidak berhasil membujuknya pulang ke Sewulan. Gagal pada uSaha yang pertama, Basjarijah mengirim murid-muridnya lagi berjumlah 100 Orang. Mereka ditugasi memaksa Arfiyah pulang ke Sewulan. Namun tugas inipun mengalami kegagalan. Bahkan murid-murid yang semula ditugasi mengajak pulang Arfiyah ke Sewulan tidak mau kembali. Mereka menetap dan menjadi murid Arfiyah di Mojoduwur.

Wujud Fisik Bangunan

Masjid Al Arfiyah yang dibangun pada tahun 1726 ini. mula-mula terdiri dari bangunan induk dan serambi seluas : 220 M:, beratap sirap dengan pola atap tumpang. Namun masjid ini sekarang telah mengalami perubahan perbaikan sebanyak 2 kali. Pertama tahun 1920 diadakan penambahan serambi depan- Kedua pada tahun 1986/1987 serambi depan diperluas lag1– sehingga ada serambi tengah dan serambi depan.

Serambi depan ditopang oleh tiang beton yang kokoh sebanyak 8 buah, disebelah kiri serambi ada kentongan dan bedug yang cukup besar (bedug dari Masjid A1 Mubaarok. Berbek). Memasuki halaman tengah (serambi tengah) ada tiga pintu dengan motif lengkung tanpa daun pintu. Memasuki ruang utama lewat pintu tengah. Dikanan dan kiri pintu terdapat cendela.

Bangunan utama tersebut dari kayu, atapnya disangga oleh 4 tiang besar dari kayu jati. Bangunan ini semula beratap sirap, namun sekarang sudah diganti genting dari tanah liat. Mihrap Masjid ini ada 2 yang diberi batas agak lebar. Ternyata batas yang agak lebar antara dua mihrab tersebut terdapat makam Kyai Arfiyah sekalian. Dikanan kiri mihrab terdapat cendela. Sebelah kiri dekat mihrab terdapat mimbar dari kayu berukir dengan motif daun.

Disebelah kiri dan belakang masjid terdapat serambi sederhana yang dipergunakan tempat para santri mondok untuk memperdalam kitab Suci Al Qur’an. Disebelah kanan masjid terdapat tempat wudhu dan mandi, sedangkan dibagian belakang masjid dijadikan tempat makam sanak famili Kyai Arfiyah.

Sejak awal didirikan Masjid ini telah difungsikan sebagai pondok pesantren. Umumnya yang menjadi santri di masjid ini berasal dari Jawa Tengah. Antara lain dari Yogjakarta, Cilacap, Kebumen dan Demak. Tahun ini tercatat tidak kurang dari 100 santri dari daerah tersebut. mulai dari usia 6 tahun – 20 tahun.

15 Maret 1987 atau 15 Rajab 1407 H, dengan nama “Pondok Pesantren Salafiyah : Al Arfiyah”. masjid yang juga berfungsi sebagai Pondok Pesantren ini telah diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Nganjuk. Dengan harapan Untuk lebih meningkatkan peranannya sebagai pembangun manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh: Wahyu,  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Nganjuk dan Sejarahnya, 1994, .

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID AGUNG BANGKALAN

Pembangunan Masjid Agung Kota Bangkalan merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura, karena sejak ditangkapnya dan dibuangnya Pangeran Tjakraadiningrat ke IV yang memerintah mulai tahun 1718 sampai dengan tahun 1745 yang disebut Sidingkap (asal kata Sido-Ing-Kaap) oleh Belanda (Kaap de Goede Hoop/Afrika), yang semula didesa Sembilangan dipindahkan ke Desa Kraton Bangkalan (tahun 1747) dengan diawali 3 bangunan utama yang terdiri dari :

  1. Bangunan Kraton (sebelah timur)
  2. Bangunan Paseban (di tengah)
  3. Bangunan tempat ibadah/masjid (sebelah barat)

Adapun penggantinya adalah Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panembahan Tjakraadiningrat Ke V yang kemudian setelah wafat disebut Pangeran Sidomukti (asal kata Sido-ing-mukti) yang memerintah tahun 1745 sampai 1770 dan dikebumikan di Aermata, Arosbaya. Pada masa pemerintahannya (tahun 1774) Kraton dipindahkan ke Bangkalan. Pangeran Sidomukti mempunyai putra R. Abd. Djamil, menjadi Bupati Sedayu dengan gelar R. Tumenggung Ario Suroadiningrat dan wafat mendahului Pangeran Sidomukti dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan dan setelah lahir diberi nama R. Tumenggung Mangkuadiningrat dan bergelar Tjakraadiningrat VI (Panembahan Tengah) wafat tahun 1780 dimakamkan di Aermata, Arosbaya.

Setelah Tjakraadiningrat VI wafat diganti Saudara ayahnya yang bernama R. Abdurrahman atau R. Tawangalun alias R. Tumenggung Ario Suroadiningrat atau Panembahan Adipati Tjakraadiningrat VII beliau memerintah tahun 1780 sampai dengan 1815, selanjutnya kemudian dikenal sebagai Sultan Bangkalan I. Masjid waktu itu masih khusus untuk ibadah kerabat dan keluarga kraton. Mulai Tjakraadiningrat ke VII pemerintahan berupa kesultanan dan penggantinya Sultan R. Abd. Kadirun (sultan Bangkalan ke II) memerintah tahun 1847. Dalam kurun pemerintahan Sultan R. Abd. Kadirun, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah sholat Jum’at, tiang agung dipancangkan (pemugaran yang pertama) dengan ukuran 30 m x 30 m, dan waktu itu diresmikan sebagai wakaf/dijadikan Masjid Umum (Masjid Jami).

Oleh karenanya, para sesepuh Bangkalan menyatakan bahwa Masjid Jami Kota Bangkalan dibina oleh Panembahan Sidomukti dan diwakafkan oleh Sultan R. Abd. Kadirun yang wafat pada tanggal 11 safari 236 H (tahun 1847) dimakamkan dikompleks tanah Masjid/dibelakang Masjid yang disebut cungkup. Sedang tulisan (kaligrafi) yang tertera disekeliling Masjid ditulis oleh R. Moh. Zaid yang kemudian diberi gelar Raden Mas Kayadji.

Terhitung tanggal 1 Nopember 1885 status pemerintahan berubah menjadi Kadipaten, dan Bupati yang pertama adalah R. Moh. Hasyim dengan gelar Pangeran Suryonegoro. Adalah atas prakarsanya padatahun 1899-1900 Masjid dipugaryang II bagian atap, penutupan kolam dimuka yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi waktu itu termasuk tatanan bangunan sekitarnya (sebelah Selatan di bangun rumah Penghulu dan sebelah Utara rumah Hoofd Penghulu). Dalam pemugaran yang ke II ini sempat ada korban yaitu arsiteknya (orang Tionghoa) meninggal disambar petir diatas Masjid.

Tahun 1950 akibatadanya gempa bumi Masjid mengalami rusak berat terutama bagian muka (serambi) dan dipugar ke III oleh Bupati Tjakraningrat. Kemudian mulai tahun 1965 .karena Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led, mulai timbul rencana perluasan dan dibentuklah Panitia yang terdiri dari beberapa unsur organisasi massa dengan nama Panitia Besar Pembangunan Masjid Jami Kota Bangkalan. Namun Panitia tersebut sampai beberapa lama tidak menampakkan ujud hasilnya.

Sewaktu kepemimpinan Bupati HJ. Sujaki diambil kebijaksanaan, Panitia tersebut dirombak dengan susunan Panitia ini secara Instansional terkait dengan nama Panitia Pembangunan/Perluasan Masjid Jami Kota Bangkalan (SK Bupati KDH Tingkat II Bangkalan). Menjelang akhir kepemimpinan HJ. Sujaki, Rencana Gambar selesai yang didesign oleh PATA – ITS Surabaya dengan rencana anggaran Rp. 35.000.000,00. Hari Jum’at sesudah sholat tanggal 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 walaupun hanya bermodal Rp. 15.000.000,00 atas kebijaksanaan PJ. Bupati Soelarto, Pembangunan/Perluasan Masjid terus dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Kemudian dalam kepemimpinan Bupati Drs. Soemarwoto, mengingat pemasukan dana yang lamban dan juga adanya kondisi tanah dan lingkungan pembuangan air sekitarnya, maka gambar (design) direvisi yaitu :

  1. Tempat wudlu yang semula dibawah lantai dipindah ke samping dengan bangunan tersendiri, dengan pertimbangan pembuangan air sulit tersalurkan karena kenyataannya selokan pembuangan lebih tinggi dari tempat wudlu tersebut.
  2. Bagian muka yang seluruhnya berlantai dua (kelder) untuk menghemat biaya hanya samping kanan – kiri yang berlantai dua, sedang di tengah dibangun joglo.

Demikian juga setelah awal kepemimpinan Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan pada hari Jum’at 12 Jumadil Akhir 1409 H tanggal 20 Januari 1989 memulai pekerjaan tahap ke V dengan mengerjakan Wing sebelah Selatan atau kanan. Dalam pengumpulan dana juga mengalami hal yang sama sehingga pekerjaan tersendat-sendatdan akhirnya dicari terobosan dengan memberikan mandat penuh kepada Drs. H. Hoesein Soeropranoto/ketua kehormatan Yayasan Ta’mirul Masjid Jami Kota Bangkalan ini (sesuai dengan keputusan Rapat antar Bupati, Panitia Pembangunan dan Yayasan Ta’mirul Masjid tanggal 12 Agustus 1990 di kantor PT. Imaco Surabaya/PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Selanjutnya gambar “maket” dari pemugaran Masjid tersebut disyahkan oleh Bupati Bangkalan (Abd. Kadir) para Ulama yang diwakili oleh Ketua Yayasan (KH. Loethfi Madani) sesepuh masyarakat Bangkalan (R. Pd. Muhammad Noer dan RP Mahmoed Sosrodiputro) dan Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan Kyai Lemah Duwur MKGR Bangkalan, Drs. Mar’ie Muhammad dan Drs. H. Hoesein Soeropranoto. Sedang pekerjaan pemugaran mulai dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 dan dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan lebih cepat dari yang direncanakan selama 9 bulan. Sebagaimanadigambarkan sebelumnyabahwa kondisi Masjid ini sudah tidak mungkin lagi untuk tetap dibiarkan saja baik ujud bangunannya, fasilitasnya dan daya tampungnya.

Berdasarkan rasa percaya atas rahmatNya, Yayasan telah bertekad untuk menjadikan Masjid ini sesuai perkembangan Jaman dengan tetap memperhatikan karya para pendahulu. Makna dari pemugaran ini adalah untuk melestarikan bangunan bersejarah dan merupakan partisipasi nyata d’ari generasi penerus yang mempunyai rasa tanggung jawab didalam pemenuhan kebutuhan masyarakat muslim yang menganggap Masjid Agung Bangkalan sebagai kebanggaan dan pusat orientasi kota yang warganya mayoritas muslim.

Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama. Dalam pemugaran Masjid Jami tersebut berkembang cerita bahwa sewaktu Sultan berkenan hendak meluaskan dan membangun Masjid yang agung dan berwibawa, beliau memerintahkan untuk mencari kayu jati 4 batang yang besar dan tingginya sama untuk tiang agung dan ternyata hanya memperoleh 3 batang, sedang yang satu batang besarnya sama namun tingginya kurang dan kurang lurus, sedang waktu untuk mencari sudah tidak ada lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka tampillah seorang Ulama yang bernama K. Nalaguna (makamnya dikampung Barat Tambak Desa Pejagan Bangkalan) yang kemudian dikenal sebagai Empu Bajraguna (ahli membuat senjata/keris) yang bersedia untuk mengusahakan agar kayu tersebut dimandikan dan dibungkus dengan kain putih dan dikirap keliling kota, dan setelah dikirap kain pembungkusnya dibuka, ternyata berkat karomah Ulama tersebut kayu itu sama tinggi dan besarnya, sehingga tepat pada waktu yang telah ditentukan. Kayu tersebut dipancangkan disebelah muka bagian utara yang kemudian tiang tersebut diambil dari Arosbaya tanpa menggunakan alat pengangkut (transport), cukup dengan gotong royong masyarakat dengan cara sambung menyambung (bahasa madura Lorsolor), sedang campuran lolo digunakan legen (bahasa madura La’ang).

Ujud Masjid Agung yang nampak seperti sekarang ini adalah merupakan pengetrapan ide dari Ketua kehormatan Yayasan TMJKB yang dipadukan dengan prinsip-prinsip tehnik Arsitektur dengan mempertimbangkan kondisi bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Dengan selesainya pemugaran ini didalam Masjid dapat menampung 6000 Jamaah dan dipelatarannya dapat digunakan Sholat oleh 5000 lebih Jamaah. Selain dari itu Masjid juga dapat menampung kegiatan Administrasi pengelola, perpustakaan untuk umum juga kegiatan ibadah lainnya.
——————————————————————————————-Oleh: Wahyu DP; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Rehabilitasi perluasan Masjid Agung Bangkalan,

Drs.H. Hoesein Soeroprano
Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kota Bangkalan,  1991
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG BANGKALAN

Pembangunan Masjid Agung Kota Bangkalan merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan sejarah awal perpindahan pusat pemerintahan kerajaan di Madura, karena sejak ditangkapnya dan dibuangnya Pangeran Tjakraadiningrat ke IV yang memerintah mulai tahun 1718 sampai dengan tahun 1745 yang disebut Sidingkap (asal kata Sido-Ing-Kaap) oleh Belanda (Kaap de Goede Hoop/Afrika), yang semula didesa Sembilangan dipindahkan ke Desa Kraton Bangkalan (tahun 1747) dengan diawali 3 bangunan utama yang terdiri dari :

  1. Bangunan Kraton (sebelah timur)
  2. Bangunan Paseban (di tengah)
  3. Bangunan tempat ibadah/masjid (sebelah barat)

Adapun penggantinya adalah Pangeran Adipati Setjoadiningrat dengan gelar Panembahan Tjakraadiningrat Ke V yang kemudian setelah wafat disebut Pangeran Sidomukti (asal kata Sido-ing-mukti) yang memerintah tahun 1745 sampai 1770 dan dikebumikan di Aermata, Arosbaya. Pada masa pemerintahannya (tahun 1774) Kraton dipindahkan ke Bangkalan. Pangeran Sidomukti mempunyai putra R. Abd. Djamil, menjadi Bupati Sedayu dengan gelar R. Tumenggung Ario Suroadiningrat dan wafat mendahului Pangeran Sidomukti dengan meninggalkan istri yang sedang hamil 7 bulan dan setelah lahir diberi nama R. Tumenggung Mangkuadiningrat dan bergelar Tjakraadiningrat VI (Panembahan Tengah) wafat tahun 1780 dimakamkan di Aermata, Arosbaya.

Setelah Tjakraadiningrat VI wafat diganti Saudara ayahnya yang bernama R. Abdurrahman atau R. Tawangalun alias R. Tumenggung Ario Suroadiningrat atau Panembahan Adipati Tjakraadiningrat VII beliau memerintah tahun 1780 sampai dengan 1815, selanjutnya kemudian dikenal sebagai Sultan Bangkalan I. Masjid waktu itu masih khusus untuk ibadah kerabat dan keluarga kraton. Mulai Tjakraadiningrat ke VII pemerintahan berupa kesultanan dan penggantinya Sultan R. Abd. Kadirun (sultan Bangkalan ke II) memerintah tahun 1847. Dalam kurun pemerintahan Sultan R. Abd. Kadirun, tepatnya pada hari Jum’at Kliwon tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sesudah sholat Jum’at, tiang agung dipancangkan (pemugaran yang pertama) dengan ukuran 30 m x 30 m, dan waktu itu diresmikan sebagai wakaf/dijadikan Masjid Umum (Masjid Jami).

Oleh karenanya, para sesepuh Bangkalan menyatakan bahwa Masjid Jami Kota Bangkalan dibina oleh Panembahan Sidomukti dan diwakafkan oleh Sultan R. Abd. Kadirun yang wafat pada tanggal 11 safari 236 H (tahun 1847) dimakamkan dikompleks tanah Masjid/dibelakang Masjid yang disebut cungkup. Sedang tulisan (kaligrafi) yang tertera disekeliling Masjid ditulis oleh R. Moh. Zaid yang kemudian diberi gelar Raden Mas Kayadji.

Terhitung tanggal 1 Nopember 1885 status pemerintahan berubah menjadi Kadipaten, dan Bupati yang pertama adalah R. Moh. Hasyim dengan gelar Pangeran Suryonegoro. Adalah atas prakarsanya padatahun 1899-1900 Masjid dipugaryang II bagian atap, penutupan kolam dimuka yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi waktu itu termasuk tatanan bangunan sekitarnya (sebelah Selatan di bangun rumah Penghulu dan sebelah Utara rumah Hoofd Penghulu). Dalam pemugaran yang ke II ini sempat ada korban yaitu arsiteknya (orang Tionghoa) meninggal disambar petir diatas Masjid.

Tahun 1950 akibatadanya gempa bumi Masjid mengalami rusak berat terutama bagian muka (serambi) dan dipugar ke III oleh Bupati Tjakraningrat. Kemudian mulai tahun 1965 .karena Masjid tersebut sudah tidak bisa menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum’at dan sholat led, mulai timbul rencana perluasan dan dibentuklah Panitia yang terdiri dari beberapa unsur organisasi massa dengan nama Panitia Besar Pembangunan Masjid Jami Kota Bangkalan. Namun Panitia tersebut sampai beberapa lama tidak menampakkan ujud hasilnya.

Sewaktu kepemimpinan Bupati HJ. Sujaki diambil kebijaksanaan, Panitia tersebut dirombak dengan susunan Panitia ini secara Instansional terkait dengan nama Panitia Pembangunan/Perluasan Masjid Jami Kota Bangkalan (SK Bupati KDH Tingkat II Bangkalan). Menjelang akhir kepemimpinan HJ. Sujaki, Rencana Gambar selesai yang didesign oleh PATA – ITS Surabaya dengan rencana anggaran Rp. 35.000.000,00. Hari Jum’at sesudah sholat tanggal 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 walaupun hanya bermodal Rp. 15.000.000,00 atas kebijaksanaan PJ. Bupati Soelarto, Pembangunan/Perluasan Masjid terus dimulai dan dilaksanakan dengan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Kemudian dalam kepemimpinan Bupati Drs. Soemarwoto, mengingat pemasukan dana yang lamban dan juga adanya kondisi tanah dan lingkungan pembuangan air sekitarnya, maka gambar (design) direvisi yaitu :

  1. Tempat wudlu yang semula dibawah lantai dipindah ke samping dengan bangunan tersendiri, dengan pertimbangan pembuangan air sulit tersalurkan karena kenyataannya selokan pembuangan lebih tinggi dari tempat wudlu tersebut.
  2. Bagian muka yang seluruhnya berlantai dua (kelder) untuk menghemat biaya hanya samping kanan – kiri yang berlantai dua, sedang di tengah dibangun joglo.

Demikian juga setelah awal kepemimpinan Bupati Abd. Kadir melanjutkan menyelesaikan tahapan ke IV dan pada hari Jum’at 12 Jumadil Akhir 1409 H tanggal 20 Januari 1989 memulai pekerjaan tahap ke V dengan mengerjakan Wing sebelah Selatan atau kanan. Dalam pengumpulan dana juga mengalami hal yang sama sehingga pekerjaan tersendat-sendatdan akhirnya dicari terobosan dengan memberikan mandat penuh kepada Drs. H. Hoesein Soeropranoto/ketua kehormatan Yayasan Ta’mirul Masjid Jami Kota Bangkalan ini (sesuai dengan keputusan Rapat antar Bupati, Panitia Pembangunan dan Yayasan Ta’mirul Masjid tanggal 12 Agustus 1990 di kantor PT. Imaco Surabaya/PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Selanjutnya gambar “maket” dari pemugaran Masjid tersebut disyahkan oleh Bupati Bangkalan (Abd. Kadir) para Ulama yang diwakili oleh Ketua Yayasan (KH. Loethfi Madani) sesepuh masyarakat Bangkalan (R. Pd. Muhammad Noer dan RP Mahmoed Sosrodiputro) dan Badan Pelaksana Yayasan Pendidikan Kyai Lemah Duwur MKGR Bangkalan, Drs. Mar’ie Muhammad dan Drs. H. Hoesein Soeropranoto. Sedang pekerjaan pemugaran mulai dilaksanakan tanggal 28 Oktober 1990 dan dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan lebih cepat dari yang direncanakan selama 9 bulan. Sebagaimanadigambarkan sebelumnyabahwa kondisi Masjid ini sudah tidak mungkin lagi untuk tetap dibiarkan saja baik ujud bangunannya, fasilitasnya dan daya tampungnya.

Berdasarkan rasa percaya atas rahmatNya, Yayasan telah bertekad untuk menjadikan Masjid ini sesuai perkembangan Jaman dengan tetap memperhatikan karya para pendahulu. Makna dari pemugaran ini adalah untuk melestarikan bangunan bersejarah dan merupakan partisipasi nyata d’ari generasi penerus yang mempunyai rasa tanggung jawab didalam pemenuhan kebutuhan masyarakat muslim yang menganggap Masjid Agung Bangkalan sebagai kebanggaan dan pusat orientasi kota yang warganya mayoritas muslim.

Konon dalam ungkapan cerita para sesepuh yang sudah merakyat bahwa Sultan R. Abd. Kadirun selain terkenal sebagai Sultan yang digdaya, juga dikenal sebagai Sultan yang soleh dan alim dalam ilmu agama. Dalam pemugaran Masjid Jami tersebut berkembang cerita bahwa sewaktu Sultan berkenan hendak meluaskan dan membangun Masjid yang agung dan berwibawa, beliau memerintahkan untuk mencari kayu jati 4 batang yang besar dan tingginya sama untuk tiang agung dan ternyata hanya memperoleh 3 batang, sedang yang satu batang besarnya sama namun tingginya kurang dan kurang lurus, sedang waktu untuk mencari sudah tidak ada lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka tampillah seorang Ulama yang bernama K. Nalaguna (makamnya dikampung Barat Tambak Desa Pejagan Bangkalan) yang kemudian dikenal sebagai Empu Bajraguna (ahli membuat senjata/keris) yang bersedia untuk mengusahakan agar kayu tersebut dimandikan dan dibungkus dengan kain putih dan dikirap keliling kota, dan setelah dikirap kain pembungkusnya dibuka, ternyata berkat karomah Ulama tersebut kayu itu sama tinggi dan besarnya, sehingga tepat pada waktu yang telah ditentukan. Kayu tersebut dipancangkan disebelah muka bagian utara yang kemudian tiang tersebut diambil dari Arosbaya tanpa menggunakan alat pengangkut (transport), cukup dengan gotong royong masyarakat dengan cara sambung menyambung (bahasa madura Lorsolor), sedang campuran lolo digunakan legen (bahasa madura La’ang).

Ujud Masjid Agung yang nampak seperti sekarang ini adalah merupakan pengetrapan ide dari Ketua kehormatan Yayasan TMJKB yang dipadukan dengan prinsip-prinsip tehnik Arsitektur dengan mempertimbangkan kondisi bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Dengan selesainya pemugaran ini didalam Masjid dapat menampung 6000 Jamaah dan dipelatarannya dapat digunakan Sholat oleh 5000 lebih Jamaah. Selain dari itu Masjid juga dapat menampung kegiatan Administrasi pengelola, perpustakaan untuk umum juga kegiatan ibadah lainnya.
——————————————————————————————-Oleh: Wahyu DP; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Rehabilitasi perluasan Masjid Agung Bangkalan,

Drs.H. Hoesein Soeroprano
Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kota Bangkalan,  1991
CB.D13/1991-01[3]

MASJID AGUNG ASY- SYUHADA’ Kabupaten Pamekasan

pamekasanMasjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan bermula dibangun di tempat yang sama yaitu tempat  Masêghit Rato atau masjid raja karena yang mendirikan masjid yang mula-mula tersebut adalah Raja Ronggosukowati. Raja Ronggosukowati memang merupakan raja Pamekasan yang pertama beragama Islam. Dengan demikian masjid yang ada saat ini merupakan pengembangan dari Masêghit Rato  tersebut. (masèghit Rato sebutan masjid yang dibangun oleh raja). Hal tersebut karena raja membuat tempat syujud atau masjide, pemberi nama ini datang dari kelompok keturunan langsung Ronggosukowati antara lain marga Adikara. Namun setelah Madura dikuasai Mataram yang kemudian oleh Mataram diterimakan kepada Belanda, semua yang berbau Madura dikecilkan dan pada hakikatnya Stigma bagi Madura mulai terasa. Sebutan langgar adalah pantas bagi Madura menurut mereka bahkan Raden Pratanupun disebutnya sebagai Pangeran Langgar, karena itu sejarawan di Jawa hanya mengenal seorang  pangeran di Madura yaitu Pangeran Langgar yang tertulis di makam Sunan Kalinyamat di Jawa Tengah. Karena itu pula setelah jaman berikutnya terutama setelah Bupati Hindia Belanda yang Pertama di Pamekasan (1804) Masèghit Rato disebut juga dengan sebutan Langghâr Rato.

LOKASI  MASJID
Hampir seluruhnya langgar yang dibangun masyarakat Islam saat itu di Madura dibuat dari kayu dan beratapkan rumbia. Bangunan Masjid Rato berdiri di atas tanah (yang tentunya milik raja) tepat berada di tepi sungai. Penempatan di tepi sungai Kampung Masèghit yang lokasinya di sisi barat sungai dekat masjid raja hingga kiri-kanan masjid merupakan tempat pekerja/pemelihara masjid. Pada bagian sisi utara masjid di dibuat taman, maka kampong masèghit menjadi ciut dan yang tersisa di bagian sisi barat sungai, sampai saat ini masih bernama Kampung Masèghit. Sedangkan bagian kampong Masèghit dibagian sisi utara masjid lalu menjadi Kampung Taman dan di kanan mesjid berubah pula namanya dari kampong Masèghit menjadi Kampung Barat Pos setelah Pemerintah Jajahan mendirikan kantor yang berfungsi Jasa Pos, di ujung Jalan Masigit yang sekarang. Namun perubahan pekerja /pemelihara masjid terus berlangsung. Setelah dynasti Ronggosukowati yaitu pewaris sebagai pemilik lokasi mesjid / sebagai pewaris dari raja yang memndirikan masjid rato satu demi satu tidak lagi berkuasa di Pamekasan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1804 mengangkat saudara Sultan Bangkalan menjadi Bupati Pamekasan, dan pengurusan masjid diangkat pegawai dari kerabat kaum bangsawan dengan pangkat panggilan Tumenggung, yang ditempatkan di perkampungan yang namanya Kampung Tumenggungan yang hingga saat ini diteruskan oleh pelanjut keturunannya.
 PEMUGARAN DAN PERLUASAN MASJID
Perkembangan Masjid Raja kemudian selalu mengikuti jaman para penguasa di Pamekasan yang terus berlangsung dari masa ke masa yang tidak terlepas dari perkembangan arsitektur masjid yang ada di Jawa Timur, sebagaimana yang terlihat kemudian sampai saat ini seperti. Langgar masjid zaman wali, langgar masjid zaman penjajahan dan langgar masjid zaman kemerdekaan. Masjid Raja ini kemudian direnovasi oleh para Bupati / penguasa setelah masa-masa berikutnya. Setelah Madura ditaklukkan Mataram, Sultan Agung memerintahkan penggusuran Masjid Raja dan di atas lokasinya tersebut dibangun kembali bentuk mesjid yang umum di Pulau Jawa saat itu yaitu Mesjid Langgar Mataram dan telah disetujui Sultan Agung yaitu bangunan tajung tumpang tiga bagaikan bangunan meru tempat peribadatan masyarakat agama Budha. Perubahan ini dilaksanakan ketika pemerintahan Adipati yang  bernama Raden Gunungsari bergelar Adikoro I. Pada saat VOC jatuh pada Tahun 1799, semua daerah koloninya diserahkan kepada Pemerintah Belanda di Negeri Belanda  termasuk  daerah Madura. Kemudian jajahan VOC tersebut oleh Belanda dinamakan Hindia Belanda dan Madura termasuk di dalamnya. Selama itu hingga tahun jatuhnya VOC Masjid Pamekasan belum direnovasi baik fisik dan tatanan pemeliharaannya atau ketip-ketipnya. Namun semula Masjid Raja (1530) atau masjid renovasi tahun 1672 dilakukan cuma sekedar untuk syahnya shalat Jum’at untuk menampung jamaah sebanyak 40 orang menurut mazhab As-Syafii. Pada  pemerintahan Bupati R. Abd Jabbar gelar R. Adipati Ario Kertoamiprojo, yang memerintah dari tahun 1922 s/d 1934’ Masjid rehap tahun 1672 tersebut diperluas ke samping dan ke depan yang demikian karena makin banyaknya jamaah khususnya saat mendirikan shalat Jum’at dan pada hakikatnya masjid sedang diarahkan untuk menjadi masjid jamik Kota Pamekasan.

Pada tahun 1804 Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda mengangkat saudara dari Sultan Bangkalan yang bernama Abdul Latif Palgunadi sebagai Bupati Pertama Hindia Belanda  di Pamekasan. Tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1804 yang kemudian dikukuhkan dengan SK Tanggal, 27 Juli 1819 sebagai Panembahan Pamekasan dengan gelar Panembahan Mangkuadiningrat. Sejalan dengan pengukuhan tersebut Pemelihara masjid atau ketip masjid dipercayakan kepada Pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Panembahan Pamekasan dengan pangkat Tumenggung yang ditempatkan di tanah milik Pemerintah Panembahan Pamekasan di sekitar masjid sebagai perluasan dari Kampung Masèghit (kampung Masjid)  yang sudah ada yang saat ini masih berbekas di Kampung Tumenggungan.

Namun kemudian pada tahun 1939, saat Pamekasan diperintah oleh Bupati R. A. Asiz (R. Abd Azis (SIS)  berkuasa dari tahun 1939-1942) atas anjuran Gubernur Jawa Timur saat itu yaitu van derPlaas, masjid rato yang telah beberapa kali mengalami renovasi tersebut dirombak total dan di atasnya di bangun mesjid styel Walisongo yaitu segi empat beratap tajung tumpang tiga. Tetapi  masjid yang dibangun masa pemerintahan Bupati R. A. Abdul Azis ini tidak sepenuhnya menurut styel walisongo, sebab tidak memiliki serambi. Bahkan Tiang agungnya terdiri dari 16 batang tiang bukan empat. Tiang sebanyak itu untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah masjid yang mula-mula yaitu Masêghit Rato yang dibangun pada abad Ke-16. Setelah renovasi pada tahun 1939 yang diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini lalu dinamakan Masjid Jamik Kota Pamekasan dengan dua buah menara kembar di kanan-kiri masjid, menara setinggi 20 meter. Nama masjid jamik ini bertahan hingga tahun 1980, bahkan tidak sedikit penduduk Pamekasan yang menyebutkan demikian hingga saat ini.

Pada tahun 1980 masjid ini diperluas ke depan sejauh lima meter, tambahan ini merupakan serambi. Penambahan ini dilakukan atas perintah Bupati Pamekasan, Mohammad Toha yang memerintah pada tahun 1976 sampai dengan tahun 1982. Dengan demikian hasil Renovasi ini membuahkan masjid ini memiliki serambi yang tertutup dan perubahan ini bisa diterima karena masjid-masjid di jaman walisongo semuanya memiliki serambi.

Bangunan kantor Takmir Masjid Agung Asy-Syuhda’ Kabupaten Pamekasan tahun 1939 bertahan hingga renovasi tahun 1995. Namun kolam bundar untuk mengambil air wudhu sudah tergusur dan pengambilan air wudhu ditempatkan di bagian utara depan menara.  Selain itu untuk mengenang para Syuhada’ yang syahid pada waktu Serangan Umum pada tanggal 16 Agustus 1947, yang dilakukan oleh para pejuang Republik Indonesia di Madura terhadap pendudukan serdadu Belanda di kota Pamekasan. Mereka yang gugur, semuanya dikubur di depan Masjid Jamik sebelah sisi utara dan kemudian di situ didirikan monumen Taman Makam Pahlawan(TMP). Namun kemudian di tahun 1974 para Syuhada yang terkubur di Taman Makam Pahlawan tersebut seluruhnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Panglegur seperti adanya saat ini. Sebagian bekas taman makam pahlawan di depan masjid tersebut bagian tepi barat sudah menjadi Jalan Masigit setelah  ada pelebaran jalan depan masjid pada tahun 2004. Serangan Umum tanggal 16 Agustus 1947 tersebut oleh seorang wartawan perang Belanda, Wim Horman,  menyebutkan  dalam ungkapannya :

Renovasi tahun 1980-1985
Pada tahun 1985 oleh Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan, Masjid  kembali mendapat renovasi berupa pelebaran ke samping kanan dan kiri sejauh lima meter dengan jalan menggusur tempat untuk berwudhu’ yang kemudian tempat air wudhu’ tersebut dipindah ke bagian depan sebelah utara. Nama masjid kemudian ditambah dari Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan.

Pada September tahun 1995 di jaman pemerintahan Bupati Drs. H. Subagio, M.Si Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan direnovasi total kembali. Secara total Masjid dibangun dengan seluruhnya cor beton . Karena berada di tepi sungai yang rawan longsor  maka digunakan pasak bumi yaitu paku beton sepanjang 22 meter tertancap di bumi dasar mesjid sebanyak 360 batang dan setiap pasak dihubungkan dengan cor beton pula sehingga Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan renovasi 1995 ini terkesan bagaikan sangkar beton yang tertancap di bumi sebagai fondasinya. Masjid ini memiliki 3 lantai. Lantai pertama sebagian digunakan sebagai Gudang, Kantor Takmir, Ruang Pertemuan, Perpustakaan, Balai Pengobatan, sanitasi dan tempat ambil air wudhu’. Sebagian lagi tepatnya di bagian ke arah barat tertutup ditimbuni tanah. Lantai 2 sebagai ruang inti / haram dengan ukuran 50X50  meter dan samping kanan-kiri.  Bagian depan dibatasi dinding sebagai serambi masjid. Tiang utama 4 (empat) buah dengan demikian kembali ke styl masjid Mataram yang memiliki empat pilar tiang agung yang tertancap di dasar bangunan tembus ke lantai tiga. Lantai tiga juga dipersiapkan sebagai tempat sholat, dari lantai tiga ini  para jamaah dapat melihat imam shalat di lantai dua. Materi bangunan masjid banyak didatangkan dari luar Madura seperti marmar untuk lantai dari Tulungagung dan Lampung. Tembok dinding dilapisi dengan ukiran, juga pintu dari kayu berukir dan ukiran ini didatangkan dari Jepara di Jawa Tengah dan Karduluk di Sumenep. Secara keseluruhan masjid renovasi 1995 masih dalam bentuk masjid tradisional, berserambi, bertiang utama (tiang agung) empat buah, tetapi atapnya tidak lagi atap tajung tumpang tiga melainkan bergaya Timur Tengah, bentuk segi empat dan berkubah cor pasir dan semen. Nama masjid tetap Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dengan daya muat sebanyak 4000 jamaah.

Renovasi total Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan berlanjut hingga pemerintahan Bupati Drs. H. Dwiatmo Hadiyanto, M.Si. Rehap dalam tahap akhir pemberian pagar dan gerbang masjid serta pelebaran Jalan Masigit khususnya di depan Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dilaksanakan dalam pemerintahan bersama Bupati Drs. H. Ahmad Syafi’i, M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang memerintah dari tahun  2003 s/d 2008 sekaligus merestui Takmir Masjid Agung Asy-Syahada’ Kabupaten Pamekasan yang baru yaitu Drs. H.R. Abd. Mukti, M.Si sebagai Ketua Umum  Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dan Drs. KH.M. Baidowi Ghazali, MM sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan. Pada saat tulisan ini disusun renovasi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasanmemang sudah selesai  sesuai dengan konsep semula. Namun Wajah Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan terus-menerus dipercantik sebatas yang diperbolehkan agama, dan ragam rias ini selalu dalam pengamatan dan bimbingan langsung dari Bupati Kabupaten Pamekasan  Drs. KH. Kholilurrahman, SH.,M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang keduanya mulai menjabat dari tahun 2008 s/d 2013. Pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal, 24 Mei 2011 Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten dan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan di lebur menjadi satu dengan nama Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan yang di ketuai oleh Drs. H. RP. Abd. Mukti, M.Si.

KIBLAT
Dalam masalah kiblat ini Pamekasan yang termasuk daerah khatulistiwa, sebagaimana umumnya negeri kita, Indonesia. Apa yang mereka kerjakan.” ( Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 144 ).   Untuk daerah kita, telah diperhitungkan menurut azimuth yang sudah digunakan bagi seluruh tempat di tanah air dan bagi Pamekasan yaitu arah barat-barat daya atau kearah barat dan serong ke arah utara sebesar 23º, sehingga mengarah ke Masjidil Haram di Makkah. Dengan demikian Jhâlân Sè Jhimat yang mengarah dari simpang monumen Lancor di renovasi untuk disesuaikan sebab jalan tersebut dahulu dibuat dengan tujuan mengarah ke mihrab mesjid Rato dengan maksud si pejalan kaki merupakan sosok yang berjalan di jalan Allah menuju tempat untuk sujud kepada AllahNamun saat ini jalan Sè Jhimat tersebut sudah menjadi tempat parkir.  Wa Allâhu a’lam bi al sawhâb.

RUANG, INTERIOR DAN SARANA DI MASJID AGUNG ASY-SYUHADA
Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupten Pamekasan yang berlantai tiga ini mempunyai  banyak ruang  dengan fungsi yang berbeda seperti :

  • Ruang liwan, ruang inti tempat jamaah masjid melakukan sholat berjamaah, terdapat di lantai dua, juga terdapat di lantai tiga 30 X 1,20 m
  • Ruang Haram  / Liwan di lantai 2
  • Ruang Haram / Liwan di lantai 3
  • Serambi, serambi depan 9 X 55 m dan serambi samping kiri – kanan dengan ukuran  masing – masing 4,5 X 20,7 M di lantai dua,
  • Serambi samping kanan / utara , lantai 2,
  • Serambi  depan di lantai 2,
  • Serambi samping kiri / ruang liwan wanita di lantai 2,
  • Ruang istirahat Imam sejajar dengan ruang-ruang  mihrab dan mimbar dan ruang muadzin sekaligus sebagai ruang alat-alat elektronik. Masing-masing berukuran 5 X 3 m di lantai 2,
  • Ruang Mihrab dan mimbar,
  • Kantor Takmir, terletak di lantai satu berukuran  4 X 20 m.
  • Ruang Pertemuan, terletak di lantai satu dengan ukuran  8 X 21 m

Di samping ruang-ruang ini masih tersedia ruang-ruang lain seperti gudang tempat penyimpanan alat kelengkapan masjid seperti terpal, permadani dan lain-lain. Juga di sekitar atau bagian sisi utara dan barat masjid dibangun beberapa bangunan untuk tempat pendidikan dan kesenian. Walaupun tempat seperti terpisah tapi masih merupakan satu komplek dalam makna masih mencerminkan adanya hubungan orientasi antara komplek dan bangunan induk masjid.

  • Ruang Unit Radio “ Swara Gerbangsalam 88,6 FM “hasil kerja sama Majelis Ulama’ Indonesia Kab. Pamekasan, Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam Kab. Pamekasan, FOKUS Kab. Pamekasan dan Yayasan Takmir Masjid Asy-Syuhada’ Kab. Pamekasan dengan ukuran 3X3 M dan juga ada ruang tempat penyelenggaraan rekaman, relay / TV. Dan sekarang dikelola oleh Badan Pengelola Radiop Gerbang Salam 88,6 FM.
  • Ruang Wanita, ditempatkan terpisah dari jamaah pria yaitu di serambi bagian kiri di lantai 2 (selatan) Pemisahan tempat ini untuk menjaga agar tidak tergaggunya kekhusyukan, dari dua jamaah yang berbeda jenis kelamin, wanita-pria. Untuk hari-hari biasa, pada hari Jum’at tidak disediakan tempat Jamaah wanita hal ini karena bagi wanita shalat Jum’at merupakan  sunat (boleh melaksanakan boleh tidak) tetapi untuk hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha disediakan di lantai tiga. Walaupun terjadi pemisahan seperti tersebut di atas, para jamaah wanita masih dengan sempurna hubungan pandangan  secara langsung ke ruangan pria yang demikian dimaksudkan agar herak-gerik imam atau khatib dapat diikuti secara langsung dari ruang wanita.
  • Tempat ruang sesuci / Wudhu’ dan Sanitasi,terdapat di lantai satu di kiri (Selatan)- kanan (Utara).Untuk wanita di bagian kiri, terdapat 6 (enam) sanitasi dan 27 kran untuk mengambil air wudhu. Sedangkan di bagian kanan untuk pria, terdapat 10 tempat sanitasi, 4 tempat kencing dan kran untuk mengambil air wudhu’ sebanyak 26 buah. Pemisahan kedua ruang sesuci antara pria dan wanita ini sudah sesuai dengan tuntunan ajaran Agama Islam bahwa manakala sesudah bersuci untuk sholat apabila terjadi persinggungan kulit antara dua jenis kelamin dan bukan termasuk muhrim maka ia menjadi batal, karena ia diharuskan mengambil wudhu’ kembali. Air yang digunakan  untuk air wudhu di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan adalah air dari mata air yang ada di Pamekasan  melalui jasa PDAM Pamekasan. Pengambilan air wudhu’ disediakan kran sebagaimana tersebut di atas, hal ini untuk menjaga  agar air wudhu’ tetap hygienis. Demikian pula  kamar mandi dan WC yang  ruangnya tertutup  dan sopan sehingga menjamin tingkat privacy jamaah yang menggunakan.
  • Gedung Taman Pendidikan Al-Qur’an Asy-Syuhada’ Terletak di samping belakang bagian utara Komplek Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan,
  • Jam gantung 3 buah, papan publikasi 3 buah, mimbar 1 buahdan beduk 1 buah dan penitipan sandal.
  • Ruang alat elektro dan  pengeras suara.
  • Pertamanan terdapat di halaman masjid bagian tepi kiri – kanan,  Halaman bagian utara,  Halaman bagian selatan.
  • Ragam RiasMasjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan juga dihias dengan kaligrafi, dan beberapa gambar motif  bangunan masjid dan geometris.
    Menara , Masjid berujung berbentuk peluru (sesuai dengan penjelasan dari Arsitek Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan kepada beberapa orang jamaah di tahun 1996 ).
  • Tempat penitipan kendaraan jamaah di pusatkan di jalan Sè Jhimatyang sudah ditutup, di area Monumen Lancor

MENARA KEMBAR Tinggi 37 M

Menara oleh Islam difungsikan sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan agar adzan lebih jauh lagi didengar orang karena adzan  merupakan panggilan atau ajakan untuk melakukan sholat. Saat ini muadzin tidak perlu naik-turun menara yang tinggi dan melelahkan itu. Hal ini karena Islam juga telah menggunakan teknologi yang ada. Muadzin tidak perlu naik-turun menara. tetapi cukup menempatkan  pengeras suara di puncak menara dan muadzin cukup mengumandangkan panggilan shalat tersebut di ruang muadzin sebab dari tempat tersebut dihubungkan ke pengeras suara di puncak  menara menggnakan alat elektro.

Menara Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan tetap dua buah dan merupakan menara kembar sebagaimana menara masjid Jamik Pamekasan buatan tahun 1939 yang telah dibongkar, tetapi menara yang sekarang ujung atasnya berbentuk peluru, bentuk ini sebagai ungkapan bahwa Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pernah menyaksikan serangan umum yang disebutkan di atas pada tanggal 16 Agustus 1947, saat itu Masjid Jamik Pamekasan dipenuhi lubang bekas peluru yang ditembakkan oleh tentara pendudukan Belanda ke arah masjid sebab di masjid banyak pejuang berlindung.

FUNGSI MASJID

Kegiatan dalam Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah terlihat demikian kompleks. Bahkan dapat dikatakan makmur, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni peribadatan,  pendidikan keagamaan, sosial keagamaan dan sebagainya. Justru dengan semakin makmurnya  kegiatan ini maka pihak pembina masjid yaitu Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dirangsang untuk semakin dapatnya menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Ketua Umum Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan selain mengawasi perkembangan fisik masjid juga membawahi unit-unit usaha, pendidikan, (Taman Pendidikan Al-Qur’an / TPA), badan dakwah, remaja masjid, keamanan, pemeliharaan fisik kompleks masjid, Unit Radio Swara Gerbangsalam sedangkan sekretaris membawahi  pembukuan, keuangan dan urusan material. Sedangkan pemeliharaan gedung ditangani oleh seksi tehnik dan karyawan masjid.

Selain dari yang telah melembaga seperti yang disebutkan di atas masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti Panitia Amaliyah Zakat Fitrah dan Mall, Panitia Amaliyah Idul Qurban, Panitia Santunan Anak Yatim, Panitia Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, Panitia Maulid Nabi Muhammad saw. Di samping itu pendidikan non formal juga tidak dilupakan seperti kuliah subuh, kuliah pada malam nisfu sya’ban dan hari-hari besar Islam yang dirayakan di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan, ceramah dan dialog interaktif Radio Swara Gerbangsalam 88,6 FM, akad nikah dan doa bersama seperti Istighatsah oleh berbagai golongan organisasi Islam. Juga dalam program pengembangannya Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pada tahun Ajaran 2011 akan membuka Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Diniyah dan Belajar Sampoa, belajar mengaji bagi Lansia.

Semua tercakup dalam pengelompokan, religi, pendidikan, sosial budaya dan ekonomi, kemasyarakatan dan kepemudaan.   Dengan demikian fungsi Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah secara estafet, meneruskan budaya Islami yang selaras dengan budaya lokal, walaupun demikian warna kultur Islam masih dapat terlihat jelas, hal ini karena kultur Islam memiliki warna khas tersendiri.

——————————————————————————————-Oleh: Dian K ; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; SEJARAH MASJID ANGUNG ASY-SYUHADA`  PAMEKASAN, A.Sulaiman Sadik. 
Pamekasan: Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan,  2011
CB.D13/1991-01[3]