“Entas-entas”, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Upacara  setelah keseribu-harinya kematian. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96-99

 

Mengantar ke Tanah Arwah, Uapacara Tradisi Masyarakat Tengger

  • Mengantar ke Tanah Arwah

    Begitu ada seorang yang meninggal segera keluarganya memberita­hukan kepada Petinggi dan dukun desa. Seluruh keluarga diberitahu ke­pada Petinggi dan dukun desa. Seluruh keluarga diberitahu demikian juga tetangganya yang dekat. Pengurusan mayat baru diselenggarakan setelah seluruh keluarga, dukun desa dan para pamong desa telah datang.

    Sambil menunggu keluarga yang agak jauh dan menunggu dukun serta para pejabat desa, keluarga yang ditinggalkan segera menyembelih biri-biri atau kambing, bahkan bagi yang kaya menyembelih kerbau atau sapi untuk mengadakan selamatan dan menjamu yang akan ikut mengu­burkan. Biasanya sebelum mayat diurus, makanan dan sajian telah disiap­kan.

    Kalau tempat penguburan jauh dipuncak gunung, terlebih dahulu sebelum mayat diujubkan dan dimandikan, semua orang yang akan mengantarkan mayat dijamu diberi makan terlebih dahulu. Setelah itu barulah dukun desa mulai dengan upacara pengujuban.

    Mayat dibaringkan dengan mengarah ke Timur, di samping kaki mayat ditaruhkan sajian berupa gedang ayu, nasi sepiring dengan lauk pauknya. Kemudian dukun desa duduk bersila menghadap mayat dekat kepalanya. Terlebih dahulu dukun memakai selendang suci. Dupa dibakar dan mantera pengujuban dibacakan. Sambil membacakan mantera itu air yang telah disediakan oleh Legen (pembantu dukun) dicipratkan (diper­cikkan) sebanyak tiga kali kepedupaan dan kepada mayat. Selesai mem­bacakan mantera pengujuban, selendang suci dibuka dan-diberikan ke­pada pembantunya untuk disimpan.

    Kemudian mayat diangkat ke tempat pemandian dan dimandikan dengan pimpinan Legen. Pemandian dilakukan oleh keluarga si mati. Yang pertama mengguyurkan air adalah isterinya atau suaminya serta di­susul oleh keluarga yang tertua dan kemudian oleh keluarga lainnya dengan urutan umur. Selesai dimandikan kemudian mayat dibungkus dengan kain kafan. Pembungkusan dilakukan sebanyak tiga lapis dan dilakukan di atas “pendoso” (pasaran). Pendoso ini dibuat dari bambu yang dilapisi dengan kain samak.

    Selesai pembungkusan mayat, mayat siap untuk diangkat dan di­angkut menuju tempat penguburan. Pengusung harus dari keluarga ter­dekat sebanyak empat orang, baru setelah dijalan, diganti oleh orang lain yang bersedia untuk mengusung. Di setiap persimpangan ditaburkan uang logam, sebagai tanda labuh (korban). Pembuangan ini dimaksudkan untuk menghindarkan “sengkolo” dan sebagai penebus dosa yang me­ninggal. Orang yang paling depan harus wong sepuh yang menjadi penun­juk jalan bagi arwah yang meninggal.

    Setelah sampai di kuburan, usungan mayat diputar sebanyak tiga kali. Keliling tiga kali itu dimaksudkan sebagai “ketuk pintu” karena akan memasuki alam kubur. Setelah di kelilingkan kemudian “dienjat” (diturun-naikkan) sebanyak tiga kali pula. Maksud diturun-naikkan itu sebagai tanda permisi dari arwah si mati, karena akan memasuki alam kubur. Barulah mayat dimasukkan ke dalam kuburan. Pandoso di buka dan bambu-bambunya dipotong-potong dan dijadikan penahan tanah (sama dengan kayu padung). Kemudian samak ditutupkan. Lobang-lo­bang yang masih terbuka ditutup dengan alang-alang atau daun-daunan, barulah kemudian ditimbun dengan tanah sambil diinjak-injak sampai padat sekali.

    Di tengah-tengah timbunan tanah kuburan kemudian diberi kayu nisan. Kemudian upacara pengujuban dilkukan oleh dukun sebagai pe­nyerahan yang meninggal ke alam lelangit (kuburan). Selesai pengujuban bunga-bunga ditaburkan oleh keluarganya berganti-ganti dan diatasnya ditaruh sajian. Barulah kemudian dibagi-bagi sajian tumpeng dan ikan ayam panggang, terutama kepada para penggali kubur dan para pengu­sung. Selesailah penguburan.

     

    Sore harinya diadakan selamatan di rumah keluarga yang me­ninggal. Upacara pengujuban dilakukan oleh dukun desa dan para “Bes- po” (petra). Benda suci ini dibentuk seperti orang-orangan. Benda ini dianggap tempat tinggal sementara arwah yang .baru meninggal atau tem­pat para arwah yang sedang diupacarakan. Demikian sakti petra ini se­hingga bisa menampung para arwah yang sedang diundang atau diupaca­rakan. Petra terbuat dari daun-daunan “nangkuh”, bunga “seni kikir”, bunga “tanlayu”, daun “andong” daun janur, daun “pampung”. Semua itu tumbuh di daerah pegunungan Tengger. Daun-daun dan bunga-bunga itu disusun demikian rupa sehingga menyerupai orang duduk. Kalau arwah yang diundang atau yang diupacarakan itu laki-laki Petra diberi pakaian laki-laki. Demikian juga kalau wanita diberi pakaian wanita. Petra banyak dipergunakan pada upacara “Entas-entas”, atau pada waktu upacara kematian.

    Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

    ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
    Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96-99

     

Pujan Kasanga, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Pujan Kasanga, Usaha Bersih Desa  

Upacara Pujan Kasanga ditujukan untuk merawat desa dari segala penyakit, terutama yang disebabkan oleh gangguan roh-roh halus. Upaca­ranya dipimpin oleh Dukun, bertempat di Sanggar Pamujan. Apabila semua penduduk desa sudah berkumpul mulailah Dukun mengujubkan, serta mengadakan hubungan dengan para leluhur serta Hong Pukulun.

Upacara di Sanggar Pamujan antara lain mengadakan korban dengan menyembelih ayam, kemudian ditanam di halaman Sanggar Pamujan. Kemudian Sesajen diberikan berupa Tumpeng kecil dan besar sejumlah 11 buah; bambu 9 buah, nasi golong 7 buah, jenang lima macam, yaitu berwarna merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Di samping itu juga rangkaian bunga senikir dan Tanalayu, sapu dan prasen.

Sajian untuk Pujan Kasangan itu sering juga disebut Sanggar Bu- wana, diletakkan di atas meja, di depan rumah, di tepi jalan besar meng­arah ke tempat Pendanyangan Desa. Macam sajian yang lengkap terdiri dari:

  1.  Nasi Tumpeng, ayam panggang, kuwe pipis, pasung, juadah, pisang ayu, kinang, ketan, jenang, wajik, apem, semuanya ditempatkan dalam takir kawung. ‘
  2. Munden 6 batang, yang dibuat dari daun kelapa muda (janur) yang dianyam seperti cambuk.
  3. Pada kaki meja sebelah belakang diikatkan pohon pisang sebuah dengan jantung dan buahnya. Di situ juga diikatkan batang tebu, daun beringin, daun bunga kelapa (manggar), dan dua buah kelapa muda pada setiap kaki meja yang disebelah belakang tadi.
  4. Di sebelah meja, di tanah, diletakkan sebuah ancak atau rigen dibu­at dari belahan bambu panjang yang dianyam jarang-jarang (ukur­an 1 x \Vi meter) di atas ancak dibentangkan kulit lembu lengkap dengan kepalanya. Di atas kulit lembu itu diletakkan apa yang disebut: Momotan Sarwo satus, yaitu seratus bungkus kuwe-kuwe dan nasi, masing-masing 50 biji. Pada mulut kepala lembu itu disi­sipkan sate mentah, yang disebut cokotan.

Sehabis upacara di Sanggar Pamujan biasanya dilanjutkan dengan arak- arakan anak-anak yang membawa gamelan untuk di bawa keliling desa. Instrumen yang dibawa antara lain terdiri: kendang, ketuk, kempul, genta yang dibawa oleh Legen.

Di samping itu dibawa pula cangkul dan sapu, sebagai lambang untuk membersihkan kotoran. Dengan Upacara Kasanga diharapkan desa sertta penduduknya akan hidup sejahtera, selamat sentausa. Pujan Kasanga diadakan pada tanggal 24 bulan Ka­sanga.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96

Pujan Kawolu, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Pujan Kawolu, Memperbaharui Ikatan Hidup dengan Alam Semesta.

Tanggal 1 bulan Kawolu merupakan hari untuk melaksanakan upa­cara yang bertujuan untuk memperingati terjadinya manusia. Perayaan itu dilangsungkan sebagai akhir megeng pada Pujan Kapitu. Upacara ter­sebut ditujukan untuk meminta selamat kepada Hong Pukulun, agar manusia serta alam sekelilingnya terhindar dari malapetaka. Upacara kawolu juga ditujukan untuk menghormati Bumi, sebagai tempat semua makhluk. Penghormatan kepada bumi juga dilambangkan sebagai ibu pertiwi. Unsur-unsur alam lain yang dihormati ialah: banyu (air), Geni (api), angin, bintang, bulan, matahari, dan akasa.

Sajian yang dihidangkan pada waktu pujan kawolu sama dengan pada waktu upacara Pujan Kapat. Manusia berusaha memperbaharui ikatannya dengan sang alam, Alam di luar kehidupan manusia, adalah suatu buana agung, yyaitu alam semesta. Sedang manusia adalah merupa­kan perwujudan dari buana kecil. Antara kedua buana harus terjadi keselarasan.

Manusia, dalam hidupnya di dalam masyarakat berusaha untuk menye­suaikan dirinya agar terjadi keselarasan antara buana besar (alam semesta) serta buana kecil, yaitu kehidupan manusia.

Malapetaka akan menimpa manusia jika terjadi ketidak seimbangan antara kedua Alam itu. Untuk mengatasi malapetaka yang mungkin berupa wabah penyakit, gempa, banjir, manusia harus mengadakan upa­cara barikan. Keseimbangan Alam semesta dengan alam manusia, harus selalu terjamin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 94

Megeng dan Patigeni, Upacara pada Bulan Kapitu, Masyarakat Tengger

Pada bulan Kapitu “masyarakat Tengger melakukan megeng. Megeng dapat dibandingkan dengan puasa, pada masa yang telah ditetapkan, se­lama sebulan masyarakat yang sudah mampu dan cukup umur melaku­kannya. Pada saat megeng, diharuskan menghindari apa saja yang me­nimbulkan kenikmatan atau kesenangan. Pada saat itu suasana kepri­hatinan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalan­kan megeng, jiwa raga harus bersih.

Pada pembukaan megeng, masing-masing kepala keluarga membawa tumpeng ke tempat petinggi untuk dimantrai oleh Dukun. Setelah di- mantrai tumpeng dibawa pulang ke rumah, dan hanya beberapa bagian saja yang ditinggalkan di tempat Petinggi pucuk tumpeng, panggang ayam dsb. Selama megeng, orang harus dapat menguasai hawa nafsu­nya, dan selama itu harus melakukan mutih. Mutih artinya makan de­ngan menghindari garam, gula, ikan, air putih, dan apa saja yang menye­babkan makanan enak. Selama megeng bagi Dukun serta para pembantu­nya mengurangi tidur, berbicara, makan, dan bersanggama. Pada bulan megeng ini, Padanyangan dan Sanggar Pamujan menjadi pusat kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Di Pedangnyangan ini dilakukan pemba­karan Bespo/petro. Megeng itu berlangsung sejak matahari terbit hingga terbenam.

Bagi seorang dukun, legen ataupun Tiyang Sepuh menjelang Me­geng harus mensucikan diri dengan jalan kramas, dengan doa sebagai berikut:

Niat ingsun adus kramas ing tlogo nirmolo, banyune tirta kanggo anyuceni badan ingsun suci. Suci, Suci, Suci, sak kersaning Bapa Kuasa. Artinya: Saya berniat mandi kramas di telaga suci-nama, airnya tirta untuk menyucikan badan saya, suci atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah melakukan kramas, pada hari pertama para dukun melakukan pa- tigeni, yaitu tidak tidur, tidak makan minum serta tidak berkumpul dengan istri selama sehari-semalam. Patigeni ini diulangi lagi pada akhir megeng. Setelah Megeng berakhir, pendudukpun mengadakan selamatan di rumah Petinggi lagi dan seluruh upacara dipimpin oleh Dukun.

Upacara pada pujan Kapitu, ditujukan juga untuk mengingatkan orang agar selalu dapat mengendalikan hawa nafsu serta pengendalian diri sendiri. Hendaknya orang mampu menjauhi larangan selama ber­langsungnya megengan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979,  hlm.93

Upacara waktu Mengandung Masyarakat Tengger

Pada waktu mengandung upacara yang dilakukan terutama pada waktu kandungan berumur tujuh bulan. Upacara ini disebut “ujud”. Upacara ini bertujuan supaya bayi yang sedang dikandung selamat dan mudah dilahirkan. Upacara sujud dipimpin oleh Dukun Paraji, Sesajen di­sediakan dan pembakaran dupa dilakukan oleh Dukun sebagai pengujub. Kemudian calon ibu dimandikan dengan air yang bercampur bermacam bunga yang sebelumnya juga telah diberi mantera oleh Dukun. Setelah itu benang lawe dililitkan keperut calon ibu.

Sajian yang disediakan di antaranya beras, gula, kelapa, tumpeng dan biji-bijian, di samping itu juga dilengkapi dengan juadah dan pipis ketan. Bagi yang cukup mampu pada waktu kandungan berumur 3 bulan juga diadakan upacara yaitu “neloni”. Upacara ini juga merupakan mulai adanya pengawasan langsung dari Dukun paraji terhadap calon ibu sam­pai nanti anaknya melahirkan.

Pada waktu bayi lahir tidak ada upacara khusus. Bayi hanya dimanterai dengan mantera “among-among”. Dan sesajen yang disediakan sama dengan pada waktu upacara sujud. Mandi setiap hari dua kali dan dimandikan oleh Dukun paraji. Setiap 3 atau 5 hari bayi dibalur dengan parem khusus untuk bayi. Setiap habis mandi bayi diurut oleh Dukun, demikian sampai berumur 44 hari.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 27-28

Upacara Khitanan Masyarakat Tengger

Setelah anak laki-laki berumur 12 tahun diadakan lagi upacara peringatan cuplak pusar dan khitanan. Hari baik untuk melakukan khi­tanan dilakukan pada hari setelah kelahirannya. Khitanan tabu pada hari cuplak pusarnya. Sehari sebelum dikhitan si anak diajak ke Punden untuk melakukan nyekar. Pada nyekar ini mereka sekeluarga terutama si anak meminta doa restu serta ijin dari para leluhurnya serta danyang.

Pagi-pagi si anak dimandikan kramas dan dimanterai oleh dukun desa. Anak diberi pakaian baik dan diberi tempat duduk yang beralaskan kain “mori” (putih). Di atas kain mori diletakkan benang Lawe yang arahnya melintang. Kemudian si anak didudukkan dikursi tersebut dan siap untuk dikhitan. Dukun sunat melakukan penghitanan dan terlebih dahulu dibaca­kan mantera. Tepat pada saat si anak dikhitan, jengger seekor ayam jantan dipotong bagian tengahnya. Maksud dengan pemotongan jengger itu ialah agar rasa sakit yang diderita si anak pindah ke jengger ayam yang dipotong. Setelah itu anak tidak boleh makan yang rasanya masam atau lada.

Selamatan khitanan dilakukan dua kali. Pertama dilakukan sebelum khitanan. Upacara ini dilakukan oleh Dukun Desa. Tugasnya untuk mengujubkan kepada Hyang Maha Agung, bahwasanya upacara akan di­mulai dan mohon keselamatan baik si anak maupun seluruh keluarga serta hadirin. Selamatan yang kedua dilakukan setelah khitanan dilaku­kan. Selamatan ini disebut “selamatan piringan”. Sajian yang disediakan panganan 7 piring yang diujubkan oleh Dukun Sunat. Maksud tujuan, dari selamatan ialah untuk keselamatan anak dan keluarga setelah di­khitan dan supaya cepat sembuh. Dukun sunat akan menerima nasi piringan, ayam jantan, kain mori, uang sekedarnya dan fitrah. Fitrah ini berupa beras, pisang, kelapa dan gula.

Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 29

 

Upacara Cuplak Pusar Masyarakat Tengger

Biasanya setelah bayi berumur lima atau 7 hari pusarnya mengering dan terlepas. Kejadian ini diperingati dengan suatu upacara. Upacara ini dilakukan dengan “kekerik”, yang bertujuan untuk melepaskan segala kotoran dari leluhurnya, dan supaya mendapatkan keselamatan. Mantera yang dibacakan diantaranya sebagai berikut:

“getih abang, getih putih diselameti dina iki dadi kabeh nylameti getihe.” Sajian yang disediakan ada lima macam, yaitu jenang merah, putih, kuning, hitam dan hijau. Dukun menerima sajian-sajian dan uang sekedar­nya. Tali-tali ari-arinya ditanam di dalam rumah dan selama lima hari di­beri penerangan pelita.

Pada upacara kekerik ini diadakan suatu sajian yang lebih lengkap. Pada waktu upacara itu ayah, ibu dan bayinya me­makai benang lawe yang telah dimanterai oleh Dukun. Dengan demikian keselamatan akan diperolehnya dan pertalian diantara ayah, ibu dan anak akan menjadi abadi. Tali benang lawe harus dipakai sampai rusak dengan sendirinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 28

Upacara Among among Masyarakat Tengger

Setelah bayi berumur 35 atau 44 hari diadakan upacara “among- among”
yaitu upacara untuk menyelamati “sing bahu Rekso”. Pem­berian mantera
ialah agar bayi dijauhkan dari segala gangguan. Kemudian di-“lindungi” diberi
mantera dari orang-orang tua, pada waktu nengkurep. Pada waktu merangkak
diberi lagi mantera, demikian juga pada waktu berdiri, pada waktu jalan
dan waktu sudah bisa lari. Selama 44 hari itu ibu tidak boleh bekeija berat
dan pantang makanan seperti ikan laut, makanan pedas dan mentimun,
akan tetapi diharuskan makan yang serba pahit seperti ranti, sawijo,
pupus daun singkong, daun tetirem. Setelah 44 hari atau 36 hari semua
pantangan itu sudah tidak berlaku lagi dan sejak itu sang ibu sudah boleh bergaul dengan suaminya seperti biasa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 28-29

Upacara Perkawinan Masyarakat Tengger

Perkawinan bagi masyarakat Tengger pertama-tama yang aktip ada­lah kedua calon.-Setiap pemuda berhak untuk memilih siapa yang akan dijadikan calon istrinya. Demikian juga setiap pemudi akan menentukan siapa saja yang datang melamarnya. Kalau sudah ada persetujuan antara kedua muda mudi ini, barulah si pemuda memberitahukan kepada orang tuanya untuk meminang si gadis yang dicalonkannya.

Pelamaran dilakukan oleh orang tua laki-laki kepada orang tua si gadis, tanpa membawa suatu paningset atau mahar. Biasanya sebelum melamar dilakukan suatu peninjauan dan penilaian oleh orang tua laki- laki kepada si gadis. Penilaian ini bukan hanya kepada si gadis saja, akan tetapi juga terhadap keadaan orang tuanya sendiri. Yang menjadi bahan penilaian terutama mengenai tingkah laku, sopan santun dan perbuatan­nya. Setelah sesuai dengan yang diinginkannya, barulah lamaran dilaku­kan.

Hari baik untuk perkawinan ditanyakan kepada Dukun. Dukun me­nentukan hari yang paling baik untuk menyelenggarakan perkawinan. Dalam menentukan hari baik ini kalau perlu diganti namanya supaya ada kecocokan antara kedua calon pengantin. Sebelum pernikahan dilakukan, diadakan terlebih dahulu upacara “ngerowan wali”. Upacara ini dilaku­kan di rumah mempelai wanita. Tujuan dari upacara ini untuk meminta keselamatan bagi pengantin kepada Yang Maha Kuasa. Jauh sebelum perkawinan dilakukan dicarilah dukun “Pengarasan” (dukun temahten). Dukun ini bertugas merias pengantin wanita dan me­mimpin mempelai selama perkawinan. Sehari sebelum diadakan perka­winan dukun pengaras ini datang untuk menjalankan tugasnya.

Sebelum upacara perkawinan dimulai diadakan upacara “Kekerik”, khusus bagi mempelai wanita. Mempelai wanita duduk dihadapan dukun pengaras, yang sebelumnya telah disediakan sesajen. Sesajen ini berapa Beras 1 kg, Gula Putih 1 kg., “setangkap gedang” (sesisir pisang) dan kelapa satu butir. Sesajen ini diletakkan di kamar tidur pengantin. Se­telah persyaratan tersedia, dilakukan upacara tersebut oleh dukun pengarasan. Muka mempelai wanita dikerik dengan pisau kecil yang biasa dipakai untuk mencukur. Kemudian didandani dengan pakaian pengan- ten menurut tradisi Tengger. Di antara kedua alisnya diberi andeng- andeng (tahi lalat) dan di atas bibir sebelah kanan. Sanggul wanita diberi bunga rampai dari bunga sedap malam atau melati. Giginya di “lepenan” (digusar), berbaju kebaya kuning dan berkain rereng.

Pengantin laki-laki berangkat menuju rumah mempelai wanita se­telah terlebih dahulu didandani secara adat Tengger. Hiasan di mukanya seperti juga mempelai wanita diberi andeng-andeng di antara kedua alis dan di atas bibir atas sebelah kanan. Lehernya diberi kalung bunga ram­pai bunga melati atau sedap malam. Memakai hem dan jas berwarna ge­lap, kainnya solo gambiran di samping pantalon dan blangkon. Yang mendandaninya orang tuanya sendiri. Kemudian diantar ke rumah mem­pelai wanita dengandiantar oleh seluruh kerabatnya. Begitu tiba di rumah mempelai wanita telah disambut oleh pihak keluarga mempelai wanita. Mempelai wanita telah menunggunya di luar rumah. Sedangkan sebelum­nya telah disediakan syarat-syarat untuk melakukan upacara penyambut­an mempelai laki-laki, berupa telor, beras, sirih, uang benggolan (uang kuno) serta air yang telah dicampur dengan bunga.

Begitu mempelai laki-laki datang kemudian dilakukan upacara menginjak telur. Sebuah telur terlebih dahulu dibanting yang berarti membanting “sengkolo” agar selamat. Sebutir telur disediakan untuk di­injak oleh mempelai laki-laki setelah didudukkan berhadap-hadapan. Setelah menginjak telur kaki mempelai laki-laki dicuci oleh mempelai wanita dengan air yang dicampur dengan bunga-bungaan. Tangan kedua mempelai kemudian dipersatukan, tangan mempelai wanita berada di atas tangan mempelai laki-laki dengan telapak tangannya menengadah ke atas. Di atas tangannya diletakkan beras dan sirih. Kemudian beras itu se­cara bersama-sama ditaburkan. Kemudian keduanya bersalaman. Ber­salaman itu dilakukan secara bolak-balik selama tiga kali. Seterusnya ke­dua mempelai didudukkan di tempat yang telah disediakan. Selesai upacara penerimaan mempelai laki-laki oleh mempelai wa­nita, kemudian dilangsungkan upacara “wologoro”. Upacara ini merupa­kan akad nikah yang dilakukan oleh Dukun Desa. Dukun membawa seca­wan air yang bercampur dengan daun pisang. Air itu kemudian dimante- rai. Mempelai wanita kemudian mencelupkan jari telunjuknya dan di­usapkan ke tungku, lawang, dan kembali lagi telunjuk di celupkan serta seterusnya diusapkan kepada yang hadir untuk mendapatkan restu yang kemudian diikuti oleh mempelai laki-laki.

Setelah itu kedua mempelai berdiri di hadapan Dukun. Dukun membakar kemenyan sambil membaca mantera. Kedua mempelai me- ngisap-isap asap kemenyan itu. Selesai mengisap asap kemenyan kedua mempelai bersalaman dengan Dukun dan kemudian kepada seluruh ha­dirin, dilanjutkan dengan upacara “Nduliti”.

Kedua mempelai duduk lagi bersanding pada tempatnya, bersama kedua belah pihak keluarganya. Dukun membacakan mantera, setelah itu kedua mempelai diberi gelang “lawe wenang” (gelang benang). Demikian juga kedua belah pihak keluarganya. Ikatan ini sebagai tanda pengikat tali persaudaraan yang kekal antara kedua suami istri dan seluruh keluar­ga dari kedua belah pihak.

Sesajen yang disajikan terdiri dari “prasen, cemung, ubeg-ubeg, daun pisang, nasi sebakul, gedang ayu, kapur sirih, “kauman” (nasi sepi­ring lengkap dengan lauk pauknya), cegawan (beras dan gula sebagai kado untuk pengantin). Bagi keluarga yang mampu juga diadakan pesta ngunduh mantu. Upacara ngunduh mantu ini sama dengan upacara pada waktu perkawinan di rumah keluarga wanita dengan dipimpin oleh Du­kun Desa.

Pada waktu melamar telah ditentukan perjanjian oleh kedua belah pihak mengenai tempat kedua mempelai setelah menikah. Biasanya adat menetap setelah kawin di rumah keluarga wanita. Akan tetapi juga kadang-kadang adat menetap di rumah keluarga laki-kali. Lamanya mene­tap baik di rumah mertua laki-laki maupun di rumah mertua wanita pa­ling sedikit 2 bulan. Bila menetap di rumah keluarga isteri di sebut “ngetutan”, kalau menetap di rumah keluarga suami disebut “digowo”. Maksud adat menetap ini untuk membiasakan suami istri baru hidup berkeluarga dengan sementara dipimpin oleh orang tuanya, serta harus mengambil contoh bagaimana seharusnya mengemudikan kehidupan berumah tangga. Keharusan ini disebut “ngijirono”. Kalau sudah di­anggap cukup “ngijir” mereka baru diperbolehkan untuk pindah ke ru­mahnya sendiri yang sebelumnya telah disediakan.

Bulan yang dianggap baik untuk melakukan perkawinan yaitu pada bulan Kapat, Wolu, Kasa, Karo, Katiga, Kalima, Kanem, Kasapuluh, Desta dan Kesada. Doa-doa mantera yang dibacakan oleh Dukun Penga- rasan di rumah mempelai wanita di antaranya sebagai berikut :

  1. Membacakan mantera pada bagian lawang sebelum mempelai laki- laki memasuki rumah.
  2. Gawe menyan, menyediakan dupa dengan mantera.
  3. “Pangkun” yaitu tempat duduk mempelai
  4. “Ngoku gamane lading dan gunting” yang akan dipergunakan untuk kekerik.
  5. “Penimbulan” yaitu mantera tidak geget sebelum “wolu kalong” (rambut halus dikening) dipotong.
  6. “Nyurani” mantera sebelunvmenyisir.
  7. “Wedak” mantera sebelum dibedaki.
  8. “Kembang” sekuntum bunga dan bunga rampai yang akan dika­lungkan pada rambutnya. Bunga-bunga ini kelak di cabut sendiri oleh mempelai laki-laki sebagai tanda bahwa mempelai wanita su­dah menjadi miliknya.
  9. “Penganggo” sebelum dipakai dimanterai dahulu supaya enak di­pakainya.
  10. “Paturon” sebelum diduduki dimanterai dahulu agar supaya tidak ada rasa takut dan enak dipakai.
  11. “Ngisore paturon” yaitu di tempat tidur dimanterai agar supaya mempelai wanita tetap tenang menunggu mempelai laki-laki dan tak ada yang mengganggu dari makhluk halus.
  12. “Pelungguhan lawang” dimanterai setelah selesai didandani me­nunggu mempelai laki-laki.
  1. “Melaku ndalan” yakni dukun pengarasan membaca mantera berjalan menuju rumah mempelai laki-laki, supaya mempelai laki-laki terlepas dari “sengkala”
  1. . “Prapatan” yaitu memberikan mantera di daerah yang akan dila­lui oleh mempelai laki-laki agar makhluk halus memberi jalan ke­pada mempelai laki-laki.
  1. “Sapasar sewulan” yaitu mantera yang dibacakan oleh Dukun pe- ngarasan bila sampai di rumah sendiri, sebagai tanda selesai me­laksanakan tugasnya.
  1. “Jaran dan taleng” yaitu mantera pelengkap penutup.

Di samping itu masih ada mantera-mantera yang harus dibaca se­perti “pasendetan” sebelum memulai melakukan tugas, “wewenangan” mantera untuk sesepuhan, “tetolak” untuk menghindarkan dari ganggu­an “lintu-lintu”, biasanya dilengkapi dengan sesajen prasen, gedang ayu.

Barang bawaan tidak merupakan keharusan bagi mempelai laki- laki. Akan tetapi biasanya mempelai laki-laki membawa barang seperti uang, alat-alat rumah tangga dan pakaian. Barang-barang itu kemudian diserahkan kepada pihak perempuan yang selanjutnya menjadi milik mempelai wanita.

Perceraian jarang terjadi. Akan tetapi kalau dalam kehidupan berumah tangga tidak ada kecocokan, mula-mula laki-lakinya melapor­kan kepada Petinggi. Petinggi akan memberikan nasehat kepada laki- laki dan juga kepada istrinya. Kalau dengan jalan demikian masih belum bisa memecahkan persoalan dan tetap perceraian akan dilaksanakan, suaminya melaporkan dirikepada Dukun Desa.

Dukun mendengarkan alasan-alasan mengapa sampai teijadi perceraian. Andaikata alasan-alasan itu dapat diterima dan telah berunding dengan Petinggi, barulah Dukun Desa memberikan surat cerai. Surat cerai ini harus ditebus oleh laki-laki- nya. Kalau surat cerai telah diperoleh sahlah perceraian ini. Kedua belah pihak bebas untuk mencari jodoh masing-masing, kalaupun esoknya akan kawin lagi. Anak-anaknya akan menjadi tanggungan salah satu pi­hak, baik ayah maupun ibu, berdasarkan perjanjian sebelum perceraian terjadi.

Sistim perkawinan yang banyak dijalankan pada masyarakat Teng­ger kebanyakan adalah monogami. Akan tetapi ada juga dan diperboleh­kan untuk melakukan polygami. Polygami hanya diperbolehkan kalau ada cap jempol atau ijin dari istri pertama. Hak menentukan waktu kilir ditentukan oleh pihak suami, kedua istrinya tidak berhak menentukan kapan suaminya kilir. Istri pertama berhak mendapatkan belanja yang lebih besar dari istri muda. Demikian juga dalam hari perayaan besar seperti Karo dan Kasada suaminya berhak untuk berada di tempat istri pertama. Kalau sampai terjadi salah seorang istrinya meninggal, anak- anaknya dititipkan pada saudara-saudara suaminya. Kalau suami yang meninggal maka masing-masing istrinya memelihara anak-anaknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979., Pasuruan, hlm. 22-27