KERAJAAN MAJAPAHIT

Sejarah Kerajaan masa Hindu-Budha di daerah Jawa Timur dapat dibagi menjadi 3 periode. Periode pertama adalah raja-raja dari kerajaan Kediri yang memerintah sejak abad ke 10 M hingga tahun 1222 M. Periode kedua dilanjutkan oleh pemerintahan raja-raja dari masa Singosari yang memerintah dari tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. Periode ketiga adalah masa pemerintahan raja-raja Majapahit yang berlangsung dari tahun 1293 M hingga awal abadke 6 M.
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di daerah Tarik. Karena di wilayah tersebut banyak ditemui pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya kemudian dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dari tahun 1293 M hingga 1309 M.
Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Kaligemet yang merupakan putra Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. la kemudian bergelar Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya, pada tahun 1328 M Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bernama Tanca.
Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni, yaitu istri Raden Wijaya yang merupakan salah satu putri Raja Kertanegara dari Singosari. Bersama patihnya yang bernama Gajah Mada, ia berhasil menegakkan kembali wibawa Majapahit dengan menumpas pemberontakan yang banyak terjadi. Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai raja dan menjadi pendeta Budha. Tampuk pemerintahan kemudian diserahkan kepada anaknya yang bernama Tribhuana Wijaya Tunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh patih Gajah Mada. Majapahit kemudian tumbuh menjadi negara yang besar dan termashur, baik di kepulauan nusantara maupun luar negeri.
Pada tahun 1350 M, Tribhuana Tunggadewi kemudian mengundurkan diri. Tampuk kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1365 M. Terlebih ketika Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.
Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi, yaitu putra Hayam Wuruk dari selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu : wilayah timur dikuasai oleh Wirabhumi dan wilayah barat diperintah oleh Wikramawardhana bersama Kusumawardhani. Namun ketegangan di antara keduanya masih berlanjut hingga kemudian terjadi perang saudara yang disebut dengan “Paragreg” yang berlangsung dari tahun 1403 M hingga 1406 M.
Perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana yang kemudian menyatukan kembali wilayah Majapahit, la kemudian memerintah hingga tahun 1429 M.
Wikramawardhana kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita yang memerintah dari tahun 1429 M hingga 1447 M. Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dari selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja akan meredakan persengketaan. Ketika
Suhita wafat, tampuk kekuasaan kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsung singkat hingga tahun 1451 M. Sepeninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi raja dengan gelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya sangat singkat hingga tahun 1453 M. Kemudian selama tiga tahun Majapahit mengalami “Interregnum” yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker kemudian tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Pada tahun 1466 M, ia meninggal dan kemudian digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468 lyl, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majapahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana kemudian menyingkir ke Daha. Pemerintahan Singhawikramawardhana digantikan oleh putranya yang bernama Rana Wijaya yang memerintah dari tahun 1447 M hingga 1519 M. Pada tahun 1478 M, ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardhana.
Kondisi kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan disertai munculnya perkembangan baru pengaruh Islam di daerah pesisir utara Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: I Made Kusumajaya [dkk]. Mengenal Kepurbakalaan Majapahity Di Daerah Trowulan, [2014…?] hlm. 5-8. (CB-D13/2014-126)

Busana Pengantin Mojokerto

Terdapat versi lain mengenai busana pengantin Mojokerto. Busana pengantin Mojokerto terdiri dari elemen-elemen masa kejayaan Majapahit dan modifikasi busana tempo dulu. Penutup kepala berbentuk blangkon meruncing ke depan/ke atas (model serban), bagian belakang terdapat dua pelipitan yang posisinya menjorok ke bawah (samping kiri-kanan) dengan dasar motif gringsing.

Baju takwa dengan potongan leher tegak berlengan panjang dan bersaku tiga, dihias kancing emas berlambang surya Majapahit.Celana panjang model potongan biasa/kolor (dari mata kaki sampai pinggang). Kain sinjang batik gringsing yang digunakan sebagai pelengkap busana khas pria, dipakai dari pinggang sampai di atas lutut, dilipat tanpa diulur ke bawah dan lipatannya agak’dilebihkan ke kanan serta memakai sabuk otok. Alas kaki berupa selop/cripu (sepatu polos).

 

Busana pengantin Pria

Busana pengantin pria adalah tutup kepala berupa kulukdengan motif garudha mungkur warna dasar kuning emas, dihiasi perrru (putih, hijau, kuning), sumping motif bunga cempaka, kalung bersusun  kelat bahu dengan motif ceplok bunga teratai atau simbar dengan war kuning emas. Cincin 2 buah salah satu dipakai di jari telunjuk, kain penuti badan berupa baju beskap lengan panjang dengan potongan kerah berd dibagian tengah terbuka dihiasi benang emas, berkancing dinar berlambai suiya Majapahit.

Celana panjang agak komprang dipakai di bagian dalam dc ditutup dengan kain kampuh/dodot terdiri dua lapis dengan motif bat gringsing yang diprada warna emas dengan motif bunga-bunga sebag, ciri khas Mojokerto. Wastra atau bebed motif sulur bunga cempak dengan warna emas, dapat dikombinasi warna hijau pradan. Ikatpinggang/sabuk pendhing motif gringsing dari kain sutra atau liner bagian tepi diberi warna kuning emas. Senjata berupa keris disesuaika: warna kuning pada sarung kerisnya, dipakai di bagian depan, lilitai bulat di bagian depan dan panjang di sisi samping kanan/kiri dihias benang/monte warna emas. Alas kaki, selop dengan warna disesuaikan dan dihias dengan monte/benang warna emas.

Busana Pengantin Wanita

Berikut ini deskripsi mengenai buasana pengantin wanita Mojokerto. Pada bagian kepala dibentuk sanggul keling yang mengepal ke atas dan diulur lepas ke bawah sampai di pinggul dan dililit dengan untaian bunga melati serta diberi rangkaian karang melok pada sisi kanan-kiri dan dilengkapi cucuk mentul motif bunga cempaka serta motif ronyok yang diberi permata warna- wami (kuning, hijau dan merah). Hiasan kepala bagian depan berupa jamang, kancing gelung motif garudha mungkur yang pada garis bawahnya diberi untaian permata (wama hijau, kuning dan merah/putih) atau dihiasi dengan kain beludru lima lengkung, subang/giwang motif ronyok dengan hiasan permata (kuning, hijau dan merah), Sumping motif bunga cempaka wama disesuaikan, penutup badan berupa baju panjang sampai batas lutut, dihiasi benang/manik wama emas dengan motif sulur bunga campaka dan motif surya Majapahit, dilengkapi dengan bros/paniti renteng (ceplok bunga anggrek).

Sinjang motif gringsing warna cerah dan hijau, wastra wama merah cerah dengan hiasan benang/monte warna emas. Kampuh motif ceplok bunga cempaka/ anggrek diprada warna emas. Koncer motif cawuto berwarna hitam dapat digunakan kain sutra. Kemer/punding diberi perhiasan tiruan permata (warna kuning, hijau dan merah). Manggala dari kain kasa tipis/kain sutra warna disesuaikan. Gelang tangan motif kuno/sigar menjalin dihiasi dangan permata tiruan (kuning, hijau dan merah). Kelat bahu motif
tridhatu yaitu untaian tiga warna/tiga unsur. Cincin dapat dibuat motif ganda, memakai kalung dangan motif kebon raja dan untaian bunga melati dangan motif cengkehan. Alas kaki, selop dihiasi manik/monte/benang warna emas.

 

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 79-81

Prof. Dr. J.E. Sahetapy

JE Sahetapy6 Juni 1932, Jacob Elfinus Sahetapy lahir di Saparua, Maluku, lebih dikenal dengan nama J.E. Sahetapy adalah seorang guru besar dalam ilmu hukum di Universitas Airlangga, Surabaya. ibu Constantina Athilda Tomasowa profesi guru. Kedua orang tuanya berpisah ketika Jacobus masih kecil. Setelah 12 tahun berpisah, ibunya menikah kembali dengan W.A. Lokollo.

Jacobus menempuh pendidikan dasarnya di sekolah dasar ibunya sendiri, yaitu Particuliere Saparuasche School. Pada usia sekitar 10 tahun, sekolah-sekolah ditutup karena tentara Jepang menyerang Hindia Belanda.

Tahun 1947, Sahetapy baru bisa menyelesaikan sekolahnya setelah Indonesia merdeka. Ia melanjutkan pelajarannya di sekolah menengah dengan kurikulum empat tahun. Namun kembali pendidikannya diganggu oleh gejolak politik setempat yang ditimbulkan oleh diproklamasikannya Republik Maluku Selatan (RMS). Karena itu, Sahetapy pun memutuskan untuk meninggalkan Maluku dan bergabung dengan kakaknya, A.J. Tuhusula-Sahetapy yang sudah lebih dahulu tinggal di Surabaya. Di kota Surabaya inilah ia berhasil menamatkan pendidikan SMAnya.

Setamat SMA, Sahetapy masuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Surabaya (yang kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Airlangga). Semenjak semua keinginannya ditentang oleh ibunya.

Sahetapy fasih berbahasa Belanda, modal yang penting untuk belajar ilmu hukum di Indonesia. Sahetapy diangkat menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Hukum Perdata, selesai kuliahnya, ia ditawari untuk melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Kesempatan ini diterimanya, dan dalam dua tahun ia menyelesaikan program studi magisternya dalam bidang Hubungan Bisnis dan Industri dari Universitas Utah di Salt Lake City, Utah, lalu kembali ke Indonesia.

Sekembalinya dari Amerika Serikat, Sahetapy tidak diizinkan untuk mengajar oleh pihak kiri ia dituduh sebagai mata-mata Amerika. Setelah PKI tersingkir, Sahetapy mendapatkan  tuduhan-tuduhan lain sehingga tetap belum bisa mengajar. Namun semua itu tidak membuatnya putus asa, dalam membela rakyat kecil, akhirnya ia boleh mengajar.

Sahetapy menikah dengan seorang gadis dari Jawa yang bernama Lestari Rahayu Lahenda yang juga seorang sarjana hukum dan dosen. Mereka dikarunia tiga orang anak perempuan, yaitu Elfina Lebrine (lahir 1969), lulusan program S2 dari Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda, Athilda Henriete (lahir 1971), lulusan S2 Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, dan Wilma Laura (lahir 1979), lulusan Fak. Sastra Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan S2 dari Fak. Hukum Universitas Surabaya. Mereka juga mempunyai seorang anak angkat, Kezia (lahir 1992), masih duduk di SMP Petra, Surabaya.

JE Sahetapy 1Tahun 1979,  Prof. Dr. J.E. Sahetapy terpilih menjadi dekan Fakultas Hukum di alma maternya. Ia mengambil gelar doktor dan menulis disertasi dengan judul “Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana”.

Prof. Dr. J.E. Sahetapy  tidak hanya mengajar di Fak. Hukum Universitas Airlangga, tetapi juga di berbagai tempat lainnya seperti di Program Pasca-sarjana Hukum UI dan Universitas Diponegoro, dan menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra.

Tahun 1993, di Institut Alkitab Tiranus Bandung. Sahetapy juga sempat mengikuti pendidikan hingga selesai, Selain itu ia juga pernah menjadi seorang birokrat, yaitu sebagai anggota Badan Pemerintahan Harian Provinsi Jawa Timur, dan asisten Gubernur Jawa Timur, Mohammad Noor.

Bersamaan dengan gelombang reformasi di Indonesia, Sahetapy pun ikut terjun ke dalam politik dan menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P). Ia menjadi anggota DPR/MPR mewakili partainya.

Tahun 2000, Selain itu, Sahetapy juga menduduki sejumlah posisi penting, seperti Ketua Komisi Hukum Nasional R.I. Ketua Forum Pengkajian HAM dan Demokrasi Indonesia, Surabaya, 1999, Anggota BP MPR RI, Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI, Anggota Panitia Ad Hoc I (Amandemen UUD 1945) MPR RI, Anggota Sub Komisi Bidang Hukum DPR RI dan Anggota Badan Legislatif DPR RI.

Kerajinan Clay, Mojokerto

Suparlik, Kades Tanjungan, Mojokerto, Tularkan Bikin Kerajinan

Suparlik, Kades Tanjungan, Kecamatan Kemlagi Mojokerto, getol menularkannya membuat kerajinan kepada ibu-ibu PKK dan karang taruna di desanya. Selain itu mengisi waktu, juga untuk tambahan menutup kebutuhan dapur “Hasil kerajinan tersebut dapat dijual mulai harga *Rp 1.500 sampai dengan Rp 20 ribu, “kata Suparlik, sambil menunjukkan karyanya.

Kerajinan clay berasal dari bahan tepung beras, tepung maizena, bensoat, dan lem sebagai perekat ini. Dari bahan-bahan itu dapat dibuat berbagai jenis kerajinan tangan, seperti gantungan kunci, tempat pensil, bros, jepit dan pigura. Menurut Suparlik, pembuatannya dilakukan secara berkelompok maupun perorangan, bisa dikerjakan di balai desa atau dibawa pulang ke rumah.

Hasil kerajinan kita jual melalui pameran baik di Mo­jokerto maupun di luar wilayah Mojokerto. Jika ada pesanan banyak maka akan dibuat bersama-sama. Namun j iga tidak ada, cukup menitipkan hasil kerajinan ke koperasi,” kata Suparlik, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pembuatan kerajinan clay sangat mudah. Selain semua bahan mudah di­cari juga mudah membuatnya dan tidak membu­tuhkan waktu yang lama. Semua bahan dicampur kemudian dibentuk sesuai keinginan dan diberi warna. Kemudian hasilnya dikeringkan dengan cara diangin-angin selama dua jam.

“Setelah kering, kemudian dipernis agar hasil­nya bagus dan terhindar dari jamur. Satu jenis , hasil kerajinan tidak membutuhkan waktu hingga satu hari cukup beberapa jam saja, hanya menung­gu kering saja yang lama. Untuk jenis dan bentuk, dari kreasi kita sendiri. Biasanya kita cari dari gambar-gambar yang ada di sekitar,” kata Kades yang murah senyum ini.

Desa Tanjungan terletak di wilayah Utara Sun­gai Brantas dan dikenal memiliki obyek wisata Waduk Tanjungan. Selain menjadi kepala desa, ia aktif membina ibu-ibu tim pengerak PPK dan rem­aja Karang Taruna di desanya. Pembuatan keraji­nan clay dilakukan sejak tahun 2009 lalu. (bdh)

Ayub Abdul Djalal

12 Februari 1946, Ayub Abdul Djalal lebih dikenal dengan nama Djalal Surya Grup lahir di Mojokerto, Jawa Timur, adalah seorang pelawak legendaries Indonesia di era tahun 1970-an. dengan tubuh besar dan dialek Madura yang kental menjadi andalannya.

Tahun 1967-1976, Djalal menjadi pengajar di SKKP Negeri Surabaya

Tahun 1974, Memulai karirnya di dunia lawak membentuk grup lawak Surya grup bersama Herry Koko, Suprapto (Sinyo/Esther), dan Sunaryo (Susy). Grup ini malang melintang dari panggung kepanggung serta tampil di tvri satu-satunya stasiun televise.  saat itu. Surya grup sempat menelurkan beberapa album lawak seperti : Sinyo Gombal, Sinyo main Sandiwara,  Sinyo Membolos, Sinyo Minta Mami, Suamiku Tergadai.

Tahun 1975, Seiring dengan karir di dunia lawak, Djalal mencoba peruntungan dengan terjun ke dunia film, awalnya hanya sebagai figuran tapi berhubung makin beken di dunia lawak akhirnya  sering diajak main film seperti  Ganasnya Nafsu (1975)

Tahun 1976,  Karirnya di film semakin mengorbit, selanjutnya ia mendapat peran utama dalam “Inem Pelayan Sexy”, Namanya namanya kian melambung lewat film komedi Inem Pelayan Sexy bersama aktris Doris Callebaute, penyanyi senior Titiek Puspa , Aedy Moward dan pelawak Srimulat terkenal Karjo AC-DC. Inem Pelayan Sexy.

Tahun 1977,  Djalal diangkat sebagai karyawan Kanwil Departemen P&K Surabaya. dan pada tahun  yang sama (1977) membintangai film Jalal Kawin Lagi , Jalal Kojak Palsu, Karminem

Tahun 1978 Film Inem Pelayan Sexy meledak dan menyabet penghargaan Piala Antemas pada Festival Film Indonesia sebagai film terlaris tahun 1977-1978. Prestasi ini membuat  sang sutradara Nya’ Abbas Akup melanjutkan serinya yaitu Inem Pelayan Sexy 2 dan Inem Pelayan Sexy 3. Serta membintangi Zaman EdanIstri Dulu Istri Sekarang

Tahun 1980, Djalal wafat karena serangan jantung yang disebabkan karena kegemukan.

 

Suber :

http://jamansemana.com/dhagelan/surya-group/
http://profil.merdeka.com/indonesia/d/djalal/

Candi Minakjingga

Peninggalan Hindu yang letaknya ± 300 meter, di sebelah timur Kolam Segaran. Letaknya di sebelah kiri jalan. Yang nampak sekarang hanyalah gundukan sebidang tanah yang diberi pagar kawat berduri.

Di atas permukaan tanah kita dapati sekelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menunjukkan bekas bagian bangunan candi. Peninggalan ini disebut candi Minakjingga atau Sanggar Pemelengan.

Dinamakan candi Minakjingga kerena di tempat ini dahulu didapati sebuah patung (arca) besar ber­wajah raksasa tingginya 1,48 meter yang oleh pendu­duk dianggap sebagai patungnya Minakjingga.

Patung tersebut kelihatannya seperti raksasa bersayap, wa­jahnya sepenuhnya raksana, matanya melotot, ram­butnya mengombak ke belakang. Pakaian dan perhi­asan yang dipakai merupakan perhiasan kebesaran, memakai naga upawita dan tangan kanannya meme­gang golok sedang tangan kiri memegang uncal.

Di samping itu juga ada patung perempuan berbadan seekor burung Kenari, tingginya 1,01 meter. Kedua- patung ini sekarang disimpan di Museum Purbakala Mojokerto. Demikian juga beberapa relief yang ber­asal dari candi Minakjingga sekarang dapat dilihat di Museum Mojokerto.

Pada waktu diadakan peng­galian purbakala pada tahun 1976, di dalam gunduk­an tanah itu ditemukan pondasi bangunan dan sisa- sisa bata. Melihat kenyataan dengan banyaknya ba­tu-batu bagian candi dari batu andesit di situs ter­sebut, maka kemungkinan besar candi Minakjingga bagian dalamnya dibuat dari batu bata, kemudian bagian luar ditutup dengan batu andesit. Memperhatikan keadaan susunan tanah dan denah­nya kemungkinan candi Minakjingga dulunya di ke­lilingi .

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Pendopo Agung

Pendopo Agung adalah merupakan bangunan baru yang didirikan oleh Kodam VIII Brawijaya pada tahun 1966 yang ke­mudian disempurnakan pada tahun 1973. Bangunan pendopo ini berbentuk bangunan rumah joglo sebagai ciri khas rumah Jawa berdiri di atas umpak-umpak yang besar. Di dalam pendopo Agung ini dapat kita saksikan photo-photo Panglima—Panglima yang memegang Kodam VIII Brawijaya. Pendirian Pendopo Agung oleh Kodam VIII Brawijaya ini kemungkinan tidak berbeda tujuannya bila dibandingkan dengan Kodam VII Diponegoro mendirikan Monumen Diponegoro. Dengan adanya Pendopo Agung ini kita dapat membayangkan bagaimanakah bentuk dan keindahan Pendopo Agung kerajaan Majapahit yang besar dan disegani oleh negara negara luar.

Di tempat didirikan Pendopo Agung ini dahulu ter­dapat sederetan umpak dari batu yang besar-besar dan berbentuk segi delapan hanya di bagian atasnya tidak berlubang seperti umpak yang kita dapatkan di Sumur Upas. Sehingga dapat kita tafsirkan bahwa, umpak-umpak ini belum pernah terpakai. Di dekat deretan umpak ini terdapat 2 buah tiang batu, satu diantaranya masih terpancang di tanah. Menurut pendapat orang tiang batu tersebut untuk mengikatkan gajah milik raja-raja Majapahit. Menurut tulisan para peninjau—peninjau tempat ini disebut sebagai kandang gajah.

Dibelakang pendopo kita masih dapat menjumpai sebuah kompleks makam yang di bagian tengahnya, ada sebuah makam tertutup cungkup dan letaknya agak tinggi. Makam inilah yang semenjak jaman Raffles dikenal dengan nama Kubur Pang­gung.

Penggalian purbakala yang pernah diadakan ditempat ini. menghasilkan ditemukminya fondasi tembok membujur dari utara-Selatan dan Barat-Timur sehingga membagi tempat itu menjadi ruang-ruang yang disekat-sekat.

Letak Kubur Panggung adalah diatas persilangan sa­lah satu fondasi tembok itu, inilah sebabnya letak makam ini lebih tinggi dari pada yang lain. Dongeng rakyat menge­nai tempat ini ada 2 versi.

Yang pertama adalah, yang dicatat oleh Knebel th 1907 sebagai berikut:

Ketika Majapahit diperintah oleh Kencanawungu dibuatlah sebuah pesanggrahan untuk para tamu dongan memakai  panggung.

Pada suatu saat putera, Sultan Pajang yang bernama Pangeran Benawo, lolos dari Pajang, dan melarikan diri ke Majapahit. Selama di Majapahit ia berdiam di pesanggrahan ini. Setelah tinggal beberapa waktu lamanya Pangeran Benowo kemudiah pergi dan di tempat itu ia membuat petilasan yang di­beri nama Kubur Panggung.

Ceritera kedua, menyebutkan bahwa ketika pusat kekuasaan politik sudah beralih ke Demak, daerah ibukota Majapahit hanya diperintahkan oleh seorang Adipati. Tersebutlah, ketika saat Demak akan melantik Adipati Pajang, Sang Adipati Majapahit tidak mau hadir dalam pelantikan itu.

Peristiwa ini jelas merupakan pembangkangan sehingga Demak mengirimkan balatentaranya untuk menghukum. Ketika balatentara itu tiba di selatan Kubur Panggung, mereka semua tiba-tiba sakit dan menangis tersedu-sedu sebagai akibat kesaktian Adipati Majapahit.

Di dalam bahasa Jawa “menangis tersedu-sedu” adalah “gereng-gereng“, sehingga tempat tersebut hingga kini disebut Puntuk Gereng (bukit menangis).

Sang Adipati Majapahit segera datang ke tempat kejadian itu. Karena ia merasa bersalah, maka ia, bersedia untuk dihukum, akan tetapi hukuman itu hendaknya datang dari Tuhan dan bukan dari orang lain. Pada saat ia selesai mengucapkan kata-katanya itu, seketika itu juga ia hilang dan­ tak diketahui kemana perginya.

Balatentara Demak yang segera pula jadi sembuh dari sakitnya, menyaksikan kejadian ajaib tersebut. Sehingga ditempat itu lalu dibuatkan sebuah makam petilasan yang kemudian dikenal sebagai Kubur Panggung.

Baik dari hasil-hasil penggalian Purbakala yang pernah dilakukan maupun dari kedua dongeng rakyat tadi je­las bahwa Kubur Panggung itu sebenarnya bukanlah makam melainkan hanya sebuah petilasan belaka.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekitar Kepurbakalan di Trowulan Mojokerto. Kantor Wilayah departemen P DAN K Propinsi Jawa Timur, Th. 1981

Chandra Kirana

DI HUTAN lebat tidak tertembus oleh cahaya matahari sore yang tengah condong ke barat, tampak dua orang berkuda dengan santai. Tetapi bentuk mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Yang seorang tampan berpakaian serba gemerlapan, yang seorang lagi sudah setengah baya berpakaian sederhana. Pe­muda tampan itu Raden Putera bersama punakawannya Jodeg Santa. Raden Pu­tera adalah putera mahkota kerajaan Jenggala, saat ini sedang melacak buruan­nya di dalam hutan, karena berburu merupakan salah satu kegemarannya.

Mereka berdua akhirnya beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. Raden Putera tampak jengkel. “Hari ini kita agak sial, paman. Seekor kelinci pun tidak kita peroleh!” kata Raden Putera.

“Kita belum pernah berburu sampai ke rimba ini, Raden. Mungkin saja tem­pat ini memang sial buat berburu”

“Betul, paman. Aku hanya coba-coba saja. Rasanya hari ini kita akan pulang tanpa hasil. Tapi . . . coba dengar, pa­man … suara apa itu?”

Jodeg Santa memperhatikan. Benar, ia mendengar dendang seorang gadis.

“Aneh Raden, di tengah rimba ini ada dendang seorang gadis. Atau mungkin itu suara Kuntilanak. Raden, mari cepat kita menyingkir dari sini!” gemetar suara Jodeg Santa.

Raden Putera menggeleng. ‘Tidak paman, kita cari dulu sumber suara itu!” katanya.

Tubuh Jodeg Santa agak menggigil. “Mencari sumber suara itu, Raden? Dan … saya hanya sendirian?” tanyanya.

Raden Putera mengangguk. “Jika paman takut, mari kutemani!” Dan Raden Putera diiringi panakawannya me­masuki rimba itu menuju sumber suara dendang yang mereka dengar. Dendang itu suara gadis yang teramat merdu. Akhirnya mereka melihat sebuah rumah sederhana di tengah-tengah rimba. Raden Putera terus mendekati rumah itu. Dia semakin terpesona mendengar dendang merdu seorang gadis yang datang dari dalam rumah itu. Pintu rumah itu dike­tuknya.

Bersamaan dengan ketukan pada pintu, suara dendang itu lenyap. Raden Putera menanti sesaat, lalu mendorong pintu itu. Bersamaan dengan terbukanya pintu, terdengar jerit kecil ketakutan. Raden Putera mencari-cari dan ternyata seorang gadis tengah duduk di sudut ruang itu dalam keadaan ketakutan. “Si . . siapa kalian?” gemetar suara si gadis jelita.

Raden Putera tertegun. Luar. biasa cantik gadis itu. Segera ia memberitahu­kan siapa dirinya. “Dan, siapakah kau?”

“Aku Timun Emas,” jawab gadis itu menunduk.

“Akh? Timun Emas? Nama yang luar biasa. Dengan siapa kau tinggal di sini?”

Gadis itu ragu-ragu sejenak, namun akhirnya menjawab: “Aku … aku di sini hanya seorang diri.”

‘Tanpa kawan? Kasihan! Gadis se­cantikmu tidak layak tinggal di rumah seperti ini. Timun Emas, aku bermaksud’ membawamu ke kota Jenggala!”

‘Tapi . . aku . . .,” gadis itu ragu-ragu.

“Gadis secantikmu sudah sepantasnya tinggal di sebuah istana. Nanti kau akan kutempatkan di sebuah puri yang indah!” jawab Raden Putera.

Semula Timun Emas menolak, tapi setelah dipaksa oleh Raden Putera de­ngan bujukannya, gadis itu menurut. Tiba di istana Jenggala, Raden Putera memperkenalkan Timun Emas pada ayahandanya. Beberapa bulan kemudian Raden Putera menikah dengan Timun Emas. Karena kecantikannya yang luar biasa, maka ia diberi gelar Chandra Kira-na. Pasangan pengantin ini saling men­cintai.

DI HUTAN lebat tempat Raden Pu­tera menemukan Timun Emas, tampak seekor tikus tengah memasuki rumah di tengah hutan itu sambil memanggil-manggil: ‘Timun Emas . . . Timun Emas … di mana kau, anakku?”

Tikus itu menyebut Timun Emas se­bagai anaknya dan memang benar ia ada­lah ibu Timun Emas. Tikus ini bukan tikus sembarangan, karena sebenarnya ia penjelmaan seorang bidadari dari Swargaloka. Karena melakukan kesa­lahan, telah dihukum para Dewa untuk hidup di alam manusia sebagai tikus dalam waktu tertentu. Waktu Raden Pu­tera datang dan membawa puterinya, tikus ini tidak berada di rumah. Ketika pulang tidak melihat anaknya, tikus ini jadi sedih. Berhari-hari tikus itu mencari anaknya, setiap binatang rimba yang dijumpainya tentu ditanya. Sampai akhir­nya ada seekor Rusa yang memberita­hukan bahwa, puteri tikus itu telah di­boyong oleh seorang pemuda tampan ber­pakaian mewah gemerlapan. Tikus itu jadi semakin sedih. Tetapi karena tikus ini penjelmaan Bidadari, seketika ia sudah bisa menduga bahwa puterinya dibo­yong oleh seorang putera raja. Maka tiba di Jenggala. Berbulan-bulan lamanya ia melakukan perjalanan, barulah sampai di istana Jenggala. Dengan tidak sulit ia masuk ke dalam istana, mencari-cari anak­nya. Akhirnya ia berhasil menemukan puterinya itu di sebuah ruang yang mewah.

“Timun Emas, anakku!” panggilnya.

Chandra Kirana terkejut, menoleh. “Ohhh, ibu . . .!” serunya kaget ber­campur girang.

“Mengapa kau meninggalkan rumah tanpa memberitahu padaku? Berbulan-bulan lamanya aku mencarimu,” tegur induk tikus itu.

“Maaf, bu … waktu itu semuanya ter­lalu mendadak, setiap hari aku selalu me­mikirkan ibu. Kini aku adalah isteri Pu­tera Mahkota Jenggala. Aku belum mem­beritahu jika ibuku adalah seekor tikus. Nanti akan kuberitahukan. Nah, itu dia datang …”

Raden Putera waktu itu sedang melangkah tenang memasuki ruang. Dia sangat terkejut melihat seekor tikus berada di kamar isterinya. “Oooh, seekor tikus? Mengapa binatang menjijikkan ini bisa berada di kamarmu, Rayi?” Kakinya segera menendang tikus itu. Tubuh tikus terpental membentur dinding cukup keras dan mati seketika.

Chandra Kirana kaget dan berteriak kalap: ‘Ibu . ..?!” segera ia berlari untuk melihat keadaan ibunya, seraya mena­ngis sedih sekali.

‘Tbu? Oooh, apakah … apakah?” Ra­den Putera tidak bisa. meneruskan ucap­annya.

“Kakang, kau sangat kejam, telah membunuh ibuku! Aku tidak akan me­maafkan perbuatanmu . . .,” Chandra Kirana menatap penuh benci.

Tiba-tiba ruangan itu jadi terang dan harum. Raden Putera dan Timun Emas terkejut. Di ruang itu berdiri seorang wanita dengan tubuh bercahaya.

“Jangan bersedih, anakku. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi, karena hukumanku sudah berakhir dan aku harus kembali ke Swargaloka. Kudoakan semoga kau selalu bahagia, anakku!” Setelah berkata demikian, bi­dadari itu sirna. Timun Emas meratapi kepergian ibunya,Raden Putera berusaha membujuk isterinya. Tetapi tidak ber­hasil. Bahkan keesokan harinya Timun Emas diam-diam meninggalkan istana, sehingga membingungkan Raden Pu­tera. Hari itu juga dikerahkan beberapa punggawa untuk mencarinya, tetapi selama dua hari mereka tidak berhasil me­nemukan jejak Timun Emas. Raden Putera berduka ditinggal isterinya, setiap hari bermuram durja. Jodeg Santa ber­usaha menghiburnya dengan melucu, untuk memulihkan kegembiraan tuannya, tapi acapkali gagal.

Timun Emas atau Chandra Kirana ter­nyata telah kembali ke rumah kecil di tengah rimba itu. Ia sedang hamil. Setelah beberapa bulan berlalu, Timun Emas melahirkan seorang bayi laki-laki yang montok dan berwajah manis. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Anak itu tumbuh sehat. Anehnya, dalam usia 3 tahun saja tinggi tubuh Cindelaras sudah seperti anak-anak berusia 10 tahun. Pertumbuhan tubuhnya memang cepat. Kawan   bermainnya   adalah   binatang rimba, yang akrab dengannya adalah se­ekor harimau loreng. Bahkan kemana-mana selalu harimau loreng itu yang jadi tunggangan Cindelaras.

Pada suatu hari Cindelaras minta ijin dari ibunya, untuk main-main dengan temannya di luar rumah. “Jangan ter­lalu jauh, juga cepatlah pulang!” pesan Timun Emas.

Baik bu!” mengangguk Cindelaras.

Sedang bermain, Cindelaras melihat seekor elang membawa sebutir telur. Telur itu diminta oleh anak ini dan Elang mengabulkannya. Cindelaras se­gera mengambil telur itu. Ia bermaksud menetaskan telur itu. Waktu berhasil ditetaskan, ternyata itu telur ayam. Seekor anak ayam yang sehat telah lahir dengan keadaannya yang cepat menjadi besar, suaranya nyaring keras dan per­kasa.

Adanya ayam jago itu, bertambah lagi kawan bermain Cindelaras. Kemana saja pergi tentu dibawanya. Sampai suatu hari Cindelaras bersama sahabatnya bermain sampai ke tepi hutan. Dari kejauhan me­reka melihat sebuah kampung dan tampaknya di sana sangat ramai. Cinde­laras jadi tertarik. “Ah, tempat itu sung­guh ramai! Mari kita ke sana untuk me­lihat-lihat!”

Tetapi harimau belang tidak mau. Ha­rimau memberitahukan bahwa, penduduk desa itu pasti akan ketakutan melihat­nya. Maka terpaksa Cindelaras pergi tanpa didampingi harimau, temannya. Dengan membawa ayam jantannya, Cindelaras menuju dusun itu. Lalu ia menyaksikan orang-orang yang tengah berkerumun. Ada seseorang yang menyapanya: “Anak kecil yang manis, kau bermaksud mengadu ayam juga? Kulihat ayammu bagus sekali!”

“Ada apa di sini, paman?” tanya Cin­delaras.

“Raden Putera dari kerajaan Jenggala  sedang mengadu ayamnya.Sudahtiga ekor ayam jago yang mati kena taji ayam Pu­tera Mahkota itu. Kalau ayammu me­nang, kau bisa memperoleh hadiah yang banyak darinya.”

“Baiklah, aku ingin ikut mengadu ayamku. Kalau memperoleh hadiah, ibuku tentu gembira.”

Segera Cindelaras dibawa menghadap Raden Putera. Keinginan Cindelaras di­kabulkan, untuk mengadu ayamnya de­ngan ayam Raden Putera. Ayam Raden Putera dilepas dan demikian juga ayam Cindelaras. Kedua ekor ayam saling berhadapan dan bertarung. Tetapi dalam suatu kesempatan, ayam Cindelaras dapat menyerang dahsyat lawannya dengan» tajinya, bahkan sampai mematikan. Segera ayam Cindelaras berkokok pe­nuh kemenangan.

Raden Putera kagum dan memanggil -Cindelaras menghadap: “Anak manis, ayammu telah memenangkan pertarung­an ini. Dengan sendirinya kau berhak atas hadiah yang dijanjikan. Hari ini juga kau kami angkat sebagai anggota keluar ga istana, kedua orang tuamu akan kami t jemput .”

“Aku hanya tinggal bersama ibu di tengah hutan .. ..”jawab Cindelaras. Raden Putera mengantar Cindelaras c pulang ke rumahnya. Tetapi ketika me lihat ibu Cindelaras, tidak kepalang kaget campur gembira hati Raden Putera, karena ibu Cindelaras tidak lain dari  Timun Emas atau Chandra Kirana, isteri yang dicintainya.

“Ah Rayi, rupanya kau ibu anak itu. Kau tentu sangat menderita selama ini”,  kata Raden Putera terharu.

“Cindelaras adalah . . adalah puteramu, Kakang . . .,” kata Chandra Kirana   sambil menunduk.

Hari itu juga Chandra Kirana dan Cindelaras diboyong ke istana Jenggala.  Sejak saat itulah mereka hidup bahagia tanpa pernah berpisah lagi. Bahkan setelah Raden Putera naik tahta menggantikan ayahandanya, Cindelaras diangkat sebagai Putera Mahkota. □

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Aneka Ria 376, Juni 1983, hlm. 43-44

Massa Demo di Jembatan Suramadu

Masyarakat yang tergabung dalam Forum Tokoh Masya­rakat dan Tokoh Adat (For­mat) demo di kaki jembatan Suramadu sisi Madura. Mereka memblokir akses jalan menu­ju Jembatan Suramadu dari arah Madura. Demo Jumat (24/2) untuk menolak finalisasi ren­cana induk percepatan pem­bangunan wilayah Suramadu yang digelar di Surabaya.

Mereka meneriakkan yel-yel penolakan BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu). “Apabila hari ini terja­di finalisasi rencana, induk percepatan pembangunan wilayah Suramadu, maka kami akan membentuk dewan adat. Dewan itulah yang nantinya akan menghadang habis-habisan dengan memerahkan jembatan Suramadu dengan darah orang Madura,” teriak korlap aksi Maszahri.

Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat petugas ja­jaran polres Bangkalan. Sem­pat terjadi kemacetan ken­daraan bermotor roda empat di pintu tol jembatan Sura­madu sisi Madura ini. Agar kendaraan bermotor dari Ma­dura bisa masuk jembatan, arus kendaraan selama aksi dialih­kan ke jalan dari arah Sura­baya. Dikatakan kehadiran badan pengembangan wilayah suramadu (BPWS) tidak mengerti nilai kultur sosial budaya Madura. Akibatnya pembangunan Madura tidak jalan.

“BPWS bentukan pusat yang dalam struktur kepengurusannya tidak melibatkan tokoh Madura. Seharusnya untuk membangun Madura, harus mengerti kultur sosial budaya Madura,” tegasnya. Sampai sekarang katanya BPWS belum ada komitmen dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat di Madura, seh­ingga apabila finalisasi renca­na induk percepatan pemban­gunan wilayah Suramadu di paksakan dan gubernur Jatim juga setuju, maka Format akan mengelang semua tokoh un­tuk membentuk dewan adat Madura.

“Dewan itu nanti yang akan memulai proses pele­pasan diri dari propinsi Jawa Timur, akan menuju Madura menjadi propinsi,” ungkapn­ya. Selain itu massa juga meng­galang tanda tangan para tokoh masyarakat yang hadir dalam aksi di atas kain putih sepan­jang 30 meter yang akan di kirim Grahadi. (sn/.jn)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MEMORANDUM, SABTU 25 PEBRUARI 2012.

Perajin Patung Trowulan

Sentra kerajinan patung dari bebatuan. gerabah maupun kuningan dan perak produksi Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokero, rupanya terimbas juga oleh puting beliung krlsis finansial global. Omzet parajin di kecamatan ini turun hingga 50%.

Maklum, sebagian besar pembelinya turis mancanegara yang berwisata di Indonesia khususnya di Pulau Bali. Karena turis yang berkunjung ke Bali menurun dan daya beli mereka juga menurun, maka jumlah pasokan patung ke Bali juga dikurangi” kata Ribut Samiono. Pengusaha yang juga perajin patung di Desa Jati Sumber, Trowulan.

Maklum. sekitar 90% produk mereka dipasarkan ke mancanegara via Bali. Sebagian besar negara pemasar produk patung Trowu!an yakni Jepang, Italia, Amerika Serikat, Australia, dan Belanda.

Sekarang , omzet turun sampai 50%. “Tapi, yang paling parah setelah terjadi bom Bali 1 Oklober 2002. Omzet turun sampai 80%, dan baru pulih 3 tahun kemudian,” kata Agus.

Sebelum krisis, rata-rata perbulan bisa mengirimkan patung hingga 200 buah. Kini tinggal 100 sampai 120 buah perbutan. Penurunan omzet ini tidak terlalu dirasakan perajin. Mereka paham naik turunnya omzet penjualan memang dipengaruhi pennintaan pembeli yang sebagian besar turis mancanegara.

Desa Watesumpak, TrowuIan adalah sentra industri perajin patung terbesar di Jatim. Tak kurang dari 70 sampai 80 unit usaha kerajinan patung dari balu hitam dan batu hijau beraktivitas di desa ini. “Saya menekuni usaha ini sejak tahun 1990,”  kata Adam Supardi.

Dengan bermodalkan dana dari kocek sendiri, mereka menjalankan aktivitas bisnisnya. Tak jarang, mereka mesti menggaransikan BPKB mobil atau sertifikat rumah untuk mendapatkan modal tambahan dari perbankan.

Selama ini, bisnis patung Trowulan dengan manca negara jarang dilakukan secara langsung, tapi melalui pedagang di Bali. “Saya setor ke Bali sebanyak empat truk patung per bulan. Setiap truk nilainya sekitar Rp 25 juta ,” kataAdam.

Oleh pedagang Bali, produk ini dijual dengan harga sangat  tinggi. Kenaikannya bisa mencapai 200% sampat 400%. padahal upah perajin patung paling banter Rp 100.000 perhari. “Dengan demikian yang mengeruk keuntungan besar adalah para pedagang dan perantara dari Bali,“ kata Agus.

Ada sebagian pembeli dari mancanegara yang langsung berhubungan dengan perajin di Trowulan.

Agus mengatakan, transaksi langsung itu biasanya dilakukan setelah pembeli berkunjung ke lokasi usahanya atau mengetahui via internet. Itupun masih terbatas, sekitar 10% dari nilai  transaksi secara keseluruhan.

Soal harga, karena patung mengutamakan aspek seni dan budaya, subjektivitas pembeli sangat menentukan tinggi rendahnya harga.

 

Bahan Baku

Hal lain yang kini menyulitkan perajin, minimnya ketersediaan bahan baku. Musim penghujan mempengaruhi kelancaran pasokan bahan baku. Jika musim kemarau pengam bilan batu mudah dilakukan karena medannya tidak licin dan tidak khawatir longsor.

Batu-batu hitam (andesit) atau batu hijau (Bali green) itu diperoleh dari Kabupaten Pacitan dan Trenggalek. Dua deerah di kawasan selatan dan barat Jatim itu dikenal memiliki bebatuan yang banyak ditemukan di kawasan pegunungan.

Di Kabupaten Pacitan. sekitar 80% wilayahnya merupakan daerah pegunungan yang menyimpan berbagai Janis bebatuan. Di tangan kreatif

perajin patung Trowulan, batu hitam dan batu hijau yang sangat keras itu “disulap” menjadi patung.

Ada model klasik, seperti patung Budha, Ganesha, Dewa Syiwa, Kendedes, Dewi Sri, Dewi Tara, Trimurti, dan lainnya.

Pahatan lain yang misalnya kolam air mancur dan gapura khas Jatim. Harga bahan baku patung itu tergolong mahal. Satu truk batu hitam Rp 1,5 juta dan batu hijau Rp 2 juta.  “ Kami membelinya dengan ukuran truk, bukan meter kubik atau satuan kilogram,· kata Agus.

Ciri khas patung Trowulan yakni sisi atau bagiannya tidak ada yang disambung dengan besi beton atau perekat semen. Patung itu pasti terbuat dari batu utuh.

Kalau pun sekarang menggunakan peralatan modem, itu hanya gergaji mesin sebagaimana dipakai tukang batu untuk memotong keramik. Ada banyak faktor yang menentukan nilai imbalan perajin patung, seperti besar kecilnya patung, pendek dan tingginya dan tingkat kerumitannya.

Biasanya, untuk ukuran patung dengan tinggi maksimal satu meter, perajin mendapat ongkos Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu. Patung besar bisa mencapai Rp 2 juta lebih. “Makin rumit, makin mahal. “kata Agus. (M Khoirul Rljal/W)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:POTENSI JAWATIMUR, EDISI 2, TAHUN IX/2009, hlm. 10