Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Batik Suminar, Kabupaten/Kota Kediri

batik-suminar-mangga-2Kediri memiliki nilai sejarah yang tinggi karena adanya kerajaan Kediri, Kediri juga memiliki potensi alam dan potensi wisata. Potensi alam berupa tanaman pertanian, tanaman perkebunan, perikanan, Potensi wisata seperti Goa Selomangkleng, pegunungan Wilis, aliran Sungai Brantas, Pemandian Kuwak dan Dermaga Brantas.

Berangkat dari keberagaman potensi yang ada di Kediri tersebut, pada tahun 1992 dra. Suminarwati Sundoro menggagas pembuatan batik khas Kediri. Batik khas Kediri ide Ibu Suminarwati memiliki motif yang menarik digali dari sisi sejarah Kediri, peninggalan arkeologis, serta perkembangan masyarakat. Maka lahirlah “Busana Kediren”, berupa Batik Bolleches dengan nama motif garuda mukha dan teratai mekar dengan warna utama ungu cerah kebiruan atau nila, kuning dan merah soga.

Gaya motif batik bolleches Kediri lebih banyak dipengaruhi oleh motif batik pantai utara. Motif – motifnya sama sekali tidak terikat oleh pakem, coraknya lebih bebas dan seringkali bermotifkan pola gambar natural dan tematis, sementara warnanya cenderung dekat dengan corak warna batik madura dengan warna-warna yang lebih berani dan eksotis.

Tehnik Pembuatan Batik Suminar  sama dengan tehnik pembuatan batik pada umumnya, meliputi:

  • Moordating; proses melepas lapisan lilin dari kain katun dengan cara direbus selama ± 5 menit.
  • Memola membuat Gambar Pola; proses membuat pola diatas kain katun atau prissima dengan cara ngeblat (meniru/menjiplak) pola motif yang sudah ada, menggunakan pensil 2B atau canting.
  • Nyanting ; proses mengolesi malam yang telah dipanaskan menggunakan canting, pada kain yang telah dipola.
  • Nyolet; proses pemberian warna batik secara sporadis atau setempat-setempat misalnya, motif daun diberi warna hijau, ranting atau pohon warna coklat, bunga atau buah warna terang.
  • Nemboi atau nutup adalah proses memberi warna pada coletan yang sudah kering lalu ditemboi atau ditutup malam dengan canting yang berfungsi sebagai pembuatan blok pada kain.
  • Nyelup: proses memberi warna dasar kain batik, dengan jalan mencelupkan kain pada pewarna biasanya warna gelap.
  • Nglorot/Ngelungsur; proses melepas lapisan malam dengan cara merebus kain batik selama ± 10 menit dengan diberi serbuk soda abu untuk mempercepat proses lepasnya malam.
  • Pembilasan dan Pengeringan; setelah proses ngelungsur atau ngelorot , dilakukan proses membilas dengan air lalu di angin-anginkan.

Perkembangan Batik Suminar cukup baik, terbukti dengan adanya motif batik yang berjumlah ± 115, yang dimulai pada tahun 2004. Motif- motif batik tersebut bertema flora fauna dan sosial budaya yang ada di Kabupaten Kediri, sekaligus  mengangkat potensi alam dan pariwisata baik kabupaten maupun kota Kediri.

Proses Pemasaran Batik Suminar dan pengenalan ke masyarakat luas diupayakan dengan cara mulut ke mulut, internet, brosur, media elektronik dan media cetak.  Galeri dan butik yang dibuat digunakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas batik dan produk-produk yang dihasilkan oleh batik Suminar.   Upaya pemerintah sangatlah penting dalam memdukung perkembangan batik Suminar, hal ini terbukti dengan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan oleh DISKOPERINDAG kabupaten/kota.  Industri batik Suminar juga mengalami peningkatan, hal ini dibuktikan dengan adanya cabang cabang batik Suminar baik yang ada Kabupaten/kota di Jawa Timur, Bahkan membuka galeri-galeri Batik Suminar di Surabaya dan Jakarta bertujuan untuk memperkenalkan batik khas Kediri kepada masyarakat Indonesia.

Tahun 1992-2014 perkembangan Batik Suminar cukup baik dalam menonjolkan batik sebagai ikon daerah,  hal ini dibuktikan sejak motif pertama yang dibuat yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2014, tidak kurang dari 115 motif yang telah dihasilkan.  Motif-motif tersebut dibuat untuk Kabupaten Kediri maupun Kota Kediri serta pesanan khusus pakaian pegawai-pegawai maupun putri Indonesia.

Motif dan makna batik Suminar umumya berorientasi pada keadaan lingkungan sekitar di wilayah kabupaten/kota Kediri sehingga menghsilkan suatu batik yang disebut batik Bolleches dan mempunyai warna-warna yang terang dan tidak terikat oleh pakem-pakem batik,  meliputi:

  • Flora/tumbuhan; Daun Dewa, Daun Pisang, Brambang Sekoto, Anggrek, Mangga Podang, Pring Sedapur, Kembang Polkadot, Godong Gedang Ontong (daun dan bunga pisang) , Teratai Ukel, Bambu Mini, Blarak Tanggung (daun kelapa Sedang), Anggrek Kangkung, Ron Telo (daun ketela), Petetan Beras kutah, Sulur seledri, Sekar Kantil (bunga kantil), Kangkung Seiket, Bunga Rambat, Garuda Teratai, daun Mangkok, Garuda Muka Suruhan, Teratai Mekar, Anggrek Truntum, Blarak Sempal (daun kelapa patah), Blarak Sempal Mini (daun kelapa patah mini), Vilokers, Ron Mawar Renteng (daun mawar berderet), Mawar melati, Semanggi Sulur, Sekar jagad Sekar renteng, Bunga Matahari, Daun Liar, Suruhan Ceplok, Anggrek Patrun, Villodendron, Kopi, Ron Kates, Pertiwi, Semanggi, Bunga Simpur Melati, Boketan, Seruni, Ron Kembar (daun kembar), Gemani, Bunga Dahlia, Podang Gunung, Buah Naga, Rosella, Anggur,
  • Fauna/hewan; Ikan Koi, Kupu Tapak Dara, Ulat Bulu, Suro lan Boyo, Ikan Cupang
  • Seni budaya; Kuda Lumping, Garuda Muka Kalpataru, Bangbangan Kediren, Pelem Garuda, Parangkeris Kuda Lumping, Kuda Lumping Kembar,
  • Wisata; Selomangkleng, Fenomena Kelud Erupsi, Anak Kelud, Kemilau SLG (Kemilau Simpang Lima Gumul), Barong, Parangsih SLG (Parangsih SLG Simpang Lima Gumul)
  • Sosial: RS Baptis kediri, keperawatan Pelem Garuda, Batik PSSI, Garuda Muka Mukti, Garuda Muka Liris, Garuda Muka Gemani, Garuda Muka Teratai Mekar, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Brantas, Garuda Muka Geragih, Genta, Garuda Muka Parangkeris, Sulur Awan, Sawunggaling.

Peran  Pemerintah kabupaten/kota Kediri untuk menonjolkan batik Suminar sebagai ikon daerah sangat besar. Dibuktikan dengan; melatih dan membina para pembatik, mengikutkan batik Suminar keberbagai macam acara baik lokal maupun internasional, mewajibkan para pegawai pemerintah daerah (pegawai kantor dan guru) dan anak-anak sekolah memakai pakaian batik pada hari rabu, kamis dan jumat.

——————————————————————————————-AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah ;  Volume 3, No. 3,  Oktober 2015
Novita Eka Ariana R , Yohanes Hanan Pamungkas
Perkembangan Motif Batik Suminar Sebagai Upaya Membangun Identitas Daerah Kediri Tahun 1992-2004
Jurusan Pendidikan Sejarah  Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya

Motif Batik Khas Madiun

Madiun memiliki motif yang melambangkan tentang Madiun, pada akhir tahun 1991, Madiun telah memiliki motif batik yang pertama yakni motif batik kenanga. Dalam perkembangannya motif batik kenanga mengalami kemunduran, untuk menarik antusias masyarakat khususnya Madiun, pemerintah Madiun melakukan pencarian motif dengan mengadakan lomba menggambar motif batik yang bertemakan tentang Madiun. Hasil yang diharapkan adalah dapat melestarikan batik juga dapat melestarikan pengetahuan tentang Madiun. Pengumuman penemuan motif baru batik khas Madiun yang diperoleh dari hasil lomba tersebut, oleh pemerintah diabadikan menjadi seragam kerja agar masyarakat luas umumnya dan masyarakat Madiun khusunya mengetahui dan ikut melestarikan motif batik khas Madiun.  Motif batik Madiun yang tergolong baru ini dikenalkan kepada masyarakat luas. Motif batik khas Madiun memiliki pengetahuan tentang Madiun yang perlu dilestarikan.

Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun
Motif Batik Keris
Motif batik keris yang merupakan hasil perlombaan dengan tema Madiun ini, terinspirasi dari kebudayaan Madiun berupa pusaka keris warisan babad Madiun. Keris yang di Madiun mempunyai nama Keris Tundhung Madiun ini merupakan senjata dari pahlawan wanita Madiun bernama Raden Ayu Retno Dumilah. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber ide yang menjadi inspirasi motif batik keris adalah cerita sejarah, dalam hal ini cerita tentang babad Madiun.

Motif Batik Porang
Pada tahun 1991 berkembang motif batik kenanga, tidak ada pengaruh dari daerah lain karena kenanga diambil dari nama desa Kenongorejo dan Madiun memiliki banyak tumbuhan kenanga. Tahun 2009, motif batik Madiun mengalami perkembangan motif baru yang menjadi motif batik khas Madiun yakni motif batik porang dan serat sengon. Sumber ide berasal dari tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan. Berkebun merupakan salah satu budaya Madiun, dari hasil berkebun didapatkan tumbuhan porang.

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris
Motif batik keris sebagai motif batik khas Madiun diperoleh dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002.  Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah warisan budaya saat babad Madiun. Keris merupakan pusaka warisan kebudayaan Madiun yang merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Motif batik pertama adalah motif batik kenanga yang lahir pada tanggal 7 Oktober 1991.Motif batik khas Madiun mengalami perkembangan, ditandai dengan munculnya motif batik porang, serat jati atau serat sengon tahun 2009. Porang, serat jati atau serat sengon merupakan tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan. Berkebun merupakan salah satu kebudayaan Madiun. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Apresiasi atas ekspor yang mencapai mancanegara, tumbuhan porang yang menjadi icon Madiun dituangkan menjadi motif batik.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna
Motif Batik Keris
Keris pada motif batik  khas madiun terinspirasi dari cerita sejarah berupa peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa pusaka keris Tundhung Madiun. Keris pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Keris pada seragam kerja pemerintah kota Madiun divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari. Keris pada kain batik  juga divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, ragam geometris berupa matahari dan motif bunga. Ragam hias selendang menggambarkan keanggunan Retno Dumilah.

Seragam Kerja Pemerintah Kota Madiun

  • Ragam Hias Utama Ragam hias utama pada seragam kerja pemerintah kota Madiun adalah motif Keris Tundhung Madiun. Penggambaran keris ditampilkan secara utuh yang dihiasi dengan ornamen lidah api di sekelilingnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada motif keris tundhung Madiun adalah ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen pada seragam pemerintah kota Madiun ini terdapat di seluruh ragam hias utama maupun ragam hias pelengkap. Ragam hias isen yang digunakan pada motif ini adalah cecek, cecek sawut, cecek sawut daun, dan sisik.
  • Warna Warna yang digunakan pada motif ini adalah warna biru muda sebagai dasar. Ragam hias utama menggunakan warna hitam dan pada ragam hias pelengkap menggunakan warna hitam dan putih yang dipadupadankan menjadi kesatuan sedangkan ragam hias isen menggunakan warna putih.

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang Motif batik khas Madiun adalah motif batik porang, serat jati atau serat sengon, tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik.Tumbuhan porang pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Ragam hias khas yang dipadupadankan dengan motif batik porang adalah kenanga, karena bunga kenanga adalah motif batik pertama Madiun yang tercipta pada tahun 1991. Porang pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun divariasikan dengan ragam hias tumbuhan, antara lain serat sengon atau jati dan kakao. Ragam hias tersebut juga merupakan hasil kehutanan dan perkebunan Madiun yang bernama KASEPO (Kakao, Sengon, dan Porang). Porang pada kain batik mempunyai variasi ragam hias tumbuhan yang bermacam- macam.

Seragam Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun

  • Ragam hias utama pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah tumbuhan porang yang digambarkan secara utuh, lengkap dengan bunga dan buah porangnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias pelengkap memiliki 3 komponen, yaitu kakao, serat sengon dan bunga serta daun kenanga.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen yang digunakan pada ragam hias utama adalah isen kontemporer dan ukel, sedangkan ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama adalah cecek, kembang jeruk.
  • Warna hijau tua digunakan sebagai dasar batik seragam kerja. Ragam hias utama menggunakan warna hijau muda yang dipadupadankan dengan putih menjadi satu kesatuan dan bunganya bewarna hijau lumut. Ragam hias pelengkap, bunga kenanga berwarna putih dan daunnya bewarna hijau muda. Kakao memiliki warna hijau dan serat sengon digambarkan dengan warna putih. Ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama maupun yang mengisi ragam hias utama menggunakan warna putih.

Motif Batik Khas Madiun  Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun Motif

Batik Keris

Motif Batik Keris merupakan motif batik khas kota Madiun yang tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ). Perlombaan ini diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide cerita sejarah sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Cerita sejarah yang dimaksud adalah mengenai kebudayaan Madiun, tepatnya peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa keris tundhung Madiun. Keris Tundhung Madiun adalah senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah. Motif batik khasnya berupa motif non geometris. 

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang merupakan motif batik khas kabupaten Madiun yang tercipta tahun 2009, pada masa jabatan Bupati H. Muhtarom S.Sos. (2008 sampai sekarang). Pencanangan ini adalah bentuk upaya  pemerintah untuk melestarikan kebudayaan Madiun. Sumber ide berasal dari hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan dan diperoleh dari tumbuhan yang hidup dikawasan hutan dan kebun di wilayah Madiun Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khasnya berupa motif non geometris, berupa ragam hias tumbuhan baik naturalis maupun stilasi. 

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris 
Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ) Kota Madiun mengadakan perlombaan untuk menemukan motif batik khas Madiun untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun.  Cerita sejarah yang menjadi sumber ide adalah keris Tundhung Madiun, sebuah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Keris merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Kebudayaan Madiun salah satunya ialah berkebun, dari hasil berkebun. Motif batik khas Madiun yang pertama kali tercipta pada tahun 1991 dan diberi nama motif batik kenanga dan pada tahun 2009 berkembang motif batik porang dan serat sengon sebagai ikon perdagangan kabupaten Madiun Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Karena porang, serat jati atau serat sengon diperoleh dari hasil hutan dan perkebunan di Madiun.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna Ragam hias yang digunakan pada batik khas Madiun yaitu :

Motif Batik Keris 

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun cerita sejarah. Ragam hias yang digunakan adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun berupa keris yang bernama keris Tundhung Madiun. Berdasarkan pendapat Susanto (1980: 212) ragam hias utama umumnya ragam hias lebih besar daripada ragam hias pelengkap. Pada ragam hias motif batik keris hal tersebut tidak berlaku, karena pada kain batik keris I dan II ragam hias utama berupa keris lebih kecil daripada ragam hias pelengkap.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam non geometris. Motif berupa bunga melati yang menjadi simbol keanggunan bupati wanita Madiun, Raden Ayu Retno Dumilah. Sedangkan ragam hias non geometris berupa tombak dan selendang milik Raden Ayu retno Dumilah yang menjadi simbol keanggunan dan keberanian Madiun. Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan, karena berkaitan erat dengan cerita sejarah.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik keris menggunakan sisik, cecek sawut, dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, dan truntum.
  • Warna Motif Batik Keris: Warna Motif Batik Keris Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam– macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan obyek sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen. Sehingga batik Madiun memiliki kecenderungan digolongkan sebagai batik pesisiran, karena warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik keris adalah biru. Warna biru melambangkan warna kota Madiun yang diapit oleh dua gunung, Wilis dan Lawu.

Motif Batik Porang

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias yang digunakan adalah tumbuhan yang hidup di sekitar kota dan kabupaten Madiun yakni bunga kenanga, porang dan sengon. Tumbuhan yang digunakan sebagai ragam hias tersebut erat kaitannya dengan kebudayaan Madiun, yaitu berkebun.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam hias non geometris. Ragam hias tumbuhan diambil dari tumbuhan kebangaan Madiun, berupa bunga kenanga yang menjadi motif batik pertama Madiun Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik porang menggunakan, cecek sawut, cecek – cecek dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, ukel dan kembang jeruk.
  • Warna Motif Batik Porang: Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam – macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen, karena itu batik Madiun lebih cenderung digolongkan menjadi batik pesisiran. Warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik porang adalah hijau. Warna hijau melambangkan kabupaten Madiun yang memiliki banyak kawasan hutan dan perkebunan sebagai icon perdagangan.

——————————————————————————————eJournal Vol. 02 No. 01 Th. 2013, Edisi Yudisium Periode Februari 2013, Hal 65-71
Motif Batik Khas Madiun./Himmatul Hanifa Mahasiswa,  Yuhri Inang Prihatina
Universitas Negeri Surabaya

Motif Batik Khas Madiun

Madiun memiliki motif yang melambangkan tentang Madiun, pada akhir tahun 1991, Madiun telah memiliki motif batik yang pertama yakni motif batik kenanga. Dalam perkembangannya motif batik kenanga mengalami kemunduran, untuk menarik antusias masyarakat khususnya Madiun, pemerintah Madiun melakukan pencarian motif dengan mengadakan lomba menggambar motif batik yang bertemakan tentang Madiun. Hasil yang diharapkan adalah dapat melestarikan batik juga dapat melestarikan pengetahuan tentang Madiun. Pengumuman penemuan motif baru batik khas Madiun yang diperoleh dari hasil lomba tersebut, oleh pemerintah diabadikan menjadi seragam kerja agar masyarakat luas umumnya dan masyarakat Madiun khusunya mengetahui dan ikut melestarikan motif batik khas Madiun.  Motif batik Madiun yang tergolong baru ini dikenalkan kepada masyarakat luas. Motif batik khas Madiun memiliki pengetahuan tentang Madiun yang perlu dilestarikan.

Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun
Motif Batik Keris
Motif batik keris yang merupakan hasil perlombaan dengan tema Madiun ini, terinspirasi dari kebudayaan Madiun berupa pusaka keris warisan babad Madiun. Keris yang di Madiun mempunyai nama Keris Tundhung Madiun ini merupakan senjata dari pahlawan wanita Madiun bernama Raden Ayu Retno Dumilah. Berdasarkan ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber ide yang menjadi inspirasi motif batik keris adalah cerita sejarah, dalam hal ini cerita tentang babad Madiun.

Motif Batik Porang
Pada tahun 1991 berkembang motif batik kenanga, tidak ada pengaruh dari daerah lain karena kenanga diambil dari nama desa Kenongorejo dan Madiun memiliki banyak tumbuhan kenanga. Tahun 2009, motif batik Madiun mengalami perkembangan motif baru yang menjadi motif batik khas Madiun yakni motif batik porang dan serat sengon. Sumber ide berasal dari tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan. Berkebun merupakan salah satu budaya Madiun, dari hasil berkebun didapatkan tumbuhan porang.

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris
Motif batik keris sebagai motif batik khas Madiun diperoleh dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002.  Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah warisan budaya saat babad Madiun. Keris merupakan pusaka warisan kebudayaan Madiun yang merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Motif batik pertama adalah motif batik kenanga yang lahir pada tanggal 7 Oktober 1991.Motif batik khas Madiun mengalami perkembangan, ditandai dengan munculnya motif batik porang, serat jati atau serat sengon tahun 2009. Porang, serat jati atau serat sengon merupakan tumbuhan hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan. Berkebun merupakan salah satu kebudayaan Madiun. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Apresiasi atas ekspor yang mencapai mancanegara, tumbuhan porang yang menjadi icon Madiun dituangkan menjadi motif batik.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna
Motif Batik Keris
Keris pada motif batik  khas madiun terinspirasi dari cerita sejarah berupa peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa pusaka keris Tundhung Madiun. Keris pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Keris pada seragam kerja pemerintah kota Madiun divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari. Keris pada kain batik  juga divariasikan dengan ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, ragam geometris berupa matahari dan motif bunga. Ragam hias selendang menggambarkan keanggunan Retno Dumilah.

Seragam Kerja Pemerintah Kota Madiun

  • Ragam Hias Utama Ragam hias utama pada seragam kerja pemerintah kota Madiun adalah motif Keris Tundhung Madiun. Penggambaran keris ditampilkan secara utuh yang dihiasi dengan ornamen lidah api di sekelilingnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada motif keris tundhung Madiun adalah ragam hias non-geometris berupa selendang dan tombak, motif berupa bunga melati, ragam geometris berupa matahari.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen pada seragam pemerintah kota Madiun ini terdapat di seluruh ragam hias utama maupun ragam hias pelengkap. Ragam hias isen yang digunakan pada motif ini adalah cecek, cecek sawut, cecek sawut daun, dan sisik.
  • Warna Warna yang digunakan pada motif ini adalah warna biru muda sebagai dasar. Ragam hias utama menggunakan warna hitam dan pada ragam hias pelengkap menggunakan warna hitam dan putih yang dipadupadankan menjadi kesatuan sedangkan ragam hias isen menggunakan warna putih.

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang Motif batik khas Madiun adalah motif batik porang, serat jati atau serat sengon, tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik.Tumbuhan porang pada motif digambarkan secara utuh, dan divariasikan dengan berbagai ragam hias. Ragam hias khas yang dipadupadankan dengan motif batik porang adalah kenanga, karena bunga kenanga adalah motif batik pertama Madiun yang tercipta pada tahun 1991. Porang pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun divariasikan dengan ragam hias tumbuhan, antara lain serat sengon atau jati dan kakao. Ragam hias tersebut juga merupakan hasil kehutanan dan perkebunan Madiun yang bernama KASEPO (Kakao, Sengon, dan Porang). Porang pada kain batik mempunyai variasi ragam hias tumbuhan yang bermacam- macam.

Seragam Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun

  • Ragam hias utama pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah tumbuhan porang yang digambarkan secara utuh, lengkap dengan bunga dan buah porangnya.
  • Ragam Hias Pelengkap Ragam hias pelengkap pada seragam kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias pelengkap memiliki 3 komponen, yaitu kakao, serat sengon dan bunga serta daun kenanga.
  • Ragam Hias Isen Ragam hias isen yang digunakan pada ragam hias utama adalah isen kontemporer dan ukel, sedangkan ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama adalah cecek, kembang jeruk.
  • Warna hijau tua digunakan sebagai dasar batik seragam kerja. Ragam hias utama menggunakan warna hijau muda yang dipadupadankan dengan putih menjadi satu kesatuan dan bunganya bewarna hijau lumut. Ragam hias pelengkap, bunga kenanga berwarna putih dan daunnya bewarna hijau muda. Kakao memiliki warna hijau dan serat sengon digambarkan dengan warna putih. Ragam hias isen yang mengelilingi ragam hias utama maupun yang mengisi ragam hias utama menggunakan warna putih.

Motif Batik Khas Madiun  Sumber Ide Motif Batik Khas Madiun Motif

Batik Keris

Motif Batik Keris merupakan motif batik khas kota Madiun yang tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ). Perlombaan ini diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide cerita sejarah sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Cerita sejarah yang dimaksud adalah mengenai kebudayaan Madiun, tepatnya peninggalan atau warisan budaya Madiun berupa keris tundhung Madiun. Keris Tundhung Madiun adalah senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah. Motif batik khasnya berupa motif non geometris. 

Motif Batik Porang
Motif Batik Porang merupakan motif batik khas kabupaten Madiun yang tercipta tahun 2009, pada masa jabatan Bupati H. Muhtarom S.Sos. (2008 sampai sekarang). Pencanangan ini adalah bentuk upaya  pemerintah untuk melestarikan kebudayaan Madiun. Sumber ide berasal dari hasil kehutanan dan perkebunan yang menjadi produk unggulan Madiun dan diperdagangkan dan diperoleh dari tumbuhan yang hidup dikawasan hutan dan kebun di wilayah Madiun Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Tumbuhan hasil berkebun inilah yang menjadi sumber inspirasi dalam pembuatan motif batik, karena .Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khasnya berupa motif non geometris, berupa ragam hias tumbuhan baik naturalis maupun stilasi. 

Kaitan Motif – Motif Batik Khas Madiun Dengan Kebudayaan Madiun 

Motif Batik Keris 
Keris Tundhung Madiun yang menjadi motif batik adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Tahun 2002, pada masa jabatan Walikota Drs. H. Ahmad Ali  (1999 sampai 2004 ) Kota Madiun mengadakan perlombaan untuk menemukan motif batik khas Madiun untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian  kebudayaan  Madiun.  Cerita sejarah yang menjadi sumber ide adalah keris Tundhung Madiun, sebuah pusaka warisan kebudayaan Madiun. Keris merupakan senjata pahlawan wanita Madiun yaitu Raden Ayu Retno Dumilah.

Motif Batik Porang
Kebudayaan Madiun salah satunya ialah berkebun, dari hasil berkebun. Motif batik khas Madiun yang pertama kali tercipta pada tahun 1991 dan diberi nama motif batik kenanga dan pada tahun 2009 berkembang motif batik porang dan serat sengon sebagai ikon perdagangan kabupaten Madiun Madiun menjadi pengekspor porang ke Jepang. Motif batik khas Madiun tersusun dari motif yang bersumber ide flora yang berkembang sesuai dengan kebudayaan Madiun tanpa ada pengaruh dari daerah lain. Karena porang, serat jati atau serat sengon diperoleh dari hasil hutan dan perkebunan di Madiun.

Ciri – Ciri Motif Batik Khas Madiun Ditinjau Dari Ornamen Utama, Ornamen Pelengkap, Isen-Isen Dan Warna Ragam hias yang digunakan pada batik khas Madiun yaitu :

Motif Batik Keris 

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun cerita sejarah. Ragam hias yang digunakan adalah pusaka warisan kebudayaan Madiun berupa keris yang bernama keris Tundhung Madiun. Berdasarkan pendapat Susanto (1980: 212) ragam hias utama umumnya ragam hias lebih besar daripada ragam hias pelengkap. Pada ragam hias motif batik keris hal tersebut tidak berlaku, karena pada kain batik keris I dan II ragam hias utama berupa keris lebih kecil daripada ragam hias pelengkap.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam non geometris. Motif berupa bunga melati yang menjadi simbol keanggunan bupati wanita Madiun, Raden Ayu Retno Dumilah. Sedangkan ragam hias non geometris berupa tombak dan selendang milik Raden Ayu retno Dumilah yang menjadi simbol keanggunan dan keberanian Madiun. Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan, karena berkaitan erat dengan cerita sejarah.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik keris menggunakan sisik, cecek sawut, dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, dan truntum.
  • Warna Motif Batik Keris: Warna Motif Batik Keris Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam– macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan obyek sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen. Sehingga batik Madiun memiliki kecenderungan digolongkan sebagai batik pesisiran, karena warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik keris adalah biru. Warna biru melambangkan warna kota Madiun yang diapit oleh dua gunung, Wilis dan Lawu.

Motif Batik Porang

  • Ragam Hias Utama: Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik khas Madiun adalah ragam hias tumbuhan. Ragam hias yang digunakan adalah tumbuhan yang hidup di sekitar kota dan kabupaten Madiun yakni bunga kenanga, porang dan sengon. Tumbuhan yang digunakan sebagai ragam hias tersebut erat kaitannya dengan kebudayaan Madiun, yaitu berkebun.
  • Ragam Hias Pelengkap: Ragam hias pelengkap batik Madiun menggunakan ragam hias non geometris. Ragam hias tumbuhan diambil dari tumbuhan kebangaan Madiun, berupa bunga kenanga yang menjadi motif batik pertama Madiun Ragam hias pelengkap mengandung unsur kebudayaan.
  • Ragam Hias Isen: Motif batik khas Madiun menggunakan berbagai macam isen – isen, yaitu pada motif batik porang menggunakan, cecek sawut, cecek – cecek dan cecek sawut daun, isen kontemporer, cecek, ukel dan kembang jeruk.
  • Warna Motif Batik Porang: Warna yang digunakan pada batik khas Madiun menggunakan zat warna sintetis atau kimia buatan yang bermacam – macam. Warna pada ragam hiasnya, tidak selalu sesuai dengan sumber ide karena sesuai dengan selera pengrajin. Warna batik Madiun tidak ada yang di patenkan, terkadang warna yang diproduksi sesuai keinginan konsumen, karena itu batik Madiun lebih cenderung digolongkan menjadi batik pesisiran. Warna yang sering digunakan sebagai latar batik Madiun berupa motif batik porang adalah hijau. Warna hijau melambangkan kabupaten Madiun yang memiliki banyak kawasan hutan dan perkebunan sebagai icon perdagangan.

——————————————————————————————eJournal Vol. 02 No. 01 Th. 2013, Edisi Yudisium Periode Februari 2013, Hal 65-71
Motif Batik Khas Madiun./Himmatul Hanifa Mahasiswa,  Yuhri Inang Prihatina
Universitas Negeri Surabaya

Motif Batik Daun Singkong, Batik Kabupaten Bondowoso

motif-daun-singkong-batik-bondowoso-2Batik ditetapkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober tahun 2009, sejak itulah masyarakat mulai bersemangat mengembangkan usaha pembatikan. Daerah yang dulunya tidak memiliki sejarah batik kini mulai mengembangkan batik khas daerahnya dengan menuangkan potensi alam maupun icon daerahnya sebagai motif batiknya. Motif yang tercipta berupa motif yang mengacu pada beberapa jenis batik modern.

Kabupaten Bondowoso adalah salah satu kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Bondowoso sudah lama memiliki batik khas sendiri sejak tahun 1984. Moif batik khas Kabupaten Bondowoso ini mengangkat tema tumbuhan singkong. Singkong merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Bondowoso, oleh karenanya dengan mengangkat tema tanaman singkong pada motif batiknya diharapkan lebih mengenalkan Kabupaten Bondowoso, khususnya pada hasil kerajinannya berupa batik khas Kabupaten Bondowoso. Seiring dengan perkembangan zaman batik khas Kabupaten Bondowoso tersebut dikenal masyarakat dengan motif batik daun singkongnya, melihat hal tersebut Pemerintah Kabupaten Bondowoso pada tahun 2009 mengukukuhkan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso, sampai sekarang.

Pengukuhan motif batik daun singkong sebagai motif batik khas kabupaten Bondowoso membuat potensi batik khas Bondowoso semakin meningkat. Hal ini lebih memacu para pengrajin batik yang ada di Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan motif batiknya, sehingga motif batik yang dihasilkan oleh pengrajin batik di Kabupaten Bondowoso, tidak terbatas pada motif batik daun singkong saja. Semua ini dibuktikan dengan munculnya beberapa motif batik hasil perkembangan para pengrajin Kabupaten Bondowoso antara lain motif batik kupu-kupu, capung, ilalang, cabe, stroberi, kacang makadamia, singo ulung, tembakau dan kopi. Minat masyarakat akan batik juga makin bertambah.

Beberapa pengrajin mulai mendirikan usaha pembatikan, hal tersebut terbukti dengan bertambahnya jumlah industri batik di Kabupaten Bondowoso, yang awalnya hanya terdapat sbatik-bondowoso-7atu pengrajin saja, namun kini telah bertambah menjadi lima pengrajin batik. Namun tidak semua pengrajin tersebut terdaftar sebagai mitra UMKM, menurut data yang ada di DISKOPERINDAG kabupaten Bondowoso dari lima hanya tiga pengrajin yang baru terdaftar dalam UMKM DISKOPERINDAG sampai pada tahun 2014. Para pengrajin yang tercatat sebagai mitra tersebut adalah sanggar Batik Tulis Sumbersari, Batik Lumbung, dan sanggar batik tulis Kembatik-bondowoso-8bang Kusuma.

 Batik Lumbung berdiri sejak tahun 2012, merupakan salah satu pengrajin batik yang memproduksi motif batik khas Kabupaten Bondowoso. Banyaknya peminat batik tulis produksi oleh para pengrajin ini berawal dari keikutsertaan mereka dalam UMKM Kabupaten Bondowoso. Sehinggga pemasaran dibantu oleh DISKOPERINDAG. Juga dikarekan harga yang ditawarkan kepada konsumen bervariasi, sehingga konsumen dari semua kalangan bisa menikmati batik khas Kabupaten Bondowoso ini. Minat yang semakin meningkat dari konsumen juga harus diimbangi dengan kegiatan pengrajin yang harus berusaha untuk meningkatkan mutu dan keragaman motif batik dalam memproduksi batik-bondowoso-9batiknya.

Motif khas Kabupaten Bondowoso produksi “Batik Lumbung”, tergolong sederhana dan kurang bervariasi atau monoton. Hal ini dikarenakan khususnya motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika dilakukan penggubahan maka akan merubah bentuk dasar ditakutkan tidak 05btergambar seperti daun singkong. Menurut penuturan ibu Sofiah selaku pengerajin Batik Lumbung, bahwa motif batik daun singkong agak sulit untuk dilakukan penggubahan, jika terlalu digayakan maka tidak tergambar seperti daun singkong yang sesungguhnya. Sehingga dalam pengembangan motif batik daun singkong yang merupakan motif batik khas bondowoso ini, para pengrajin di batik-bondowoso-10“batik lumbung” berupaya mengupayakan pengembangan motif batik daun singkong, agar  gambaran motif batik daun singkong tidak terkesan monoton.

Observasi terhadap hasil pengembangan tiga motif batik khas Bondowoso yang bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan motif batik yang terbaik diperoleh dari penelitian hasil motif-daun-tembakaujadi pengembangan motif batik Bondowoso ditinjau dari unsur dan prinsip desain serta pengembangan motifnya.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung”.
  2. Batik Daun Singkong

Pengembangan pertama yaitu batik daun singkong mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan mengarah keatas dari bagian pinggiran motif batik. Susunan ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat lebih renggang dan sedikit berjauhan. Dalam pengembangannya bentuk ujung setiap helaian pada ornamen daun singkong menjadi lebih runcing dan sedikit meliuk. Penambahan batang pada bagian pangkal daun berupa ornamen ukel juga menambah variasi pada motif daun singkong. Bentuk ilalang setelah dikembangkan menjadi ornamen ilalang dengan bentuk yang yang lebih besar dan lebih meliuk-liuk. Terdapat pula ornamen ilalang yang menyerupai ornamen ukel pada bagian ujung daunnya. Ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ornamen ilalang sebelumnya memungkinkan motif batik secara keseluruhan memiliki pusat perhatian atau center of interest. Ornamen tambahan atau disebut juga ornamen pengisi bidang pada motif  batik sesudah mengalami pengembangan berupa daun dengan stilasi membentuk ornamen ukel dan motif daun dengan bentuk yang lebih sederhana dan dibuat meliuk.

Ornamen tambahan setelah dikembangkan dibuat lebih sederhana dan penempatan ornamen tampak menyatu dengan ornamen utama yaitu daun singkong. Isen-isen pada motif ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranyasawut, ceceg danceceg pitu.

Ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat tiga warna sehingga memberi kesan adanya center of interest dalam setiap ornamen daun singkong. Dan pada ornamen ilalang, walaupun hanya diterapkan satu warna dalam satu ornamen, namun jika dilihat secara menyeluruh pada rumpunan ornamen ilalang terdapat perbedaan warna antara ornamen ilalang satu dengan yang lain. Jika dilihat warna ornamen ilalang setelah dikembangkan terdapat ketidakseimbangan penempatan warna, sehingga rumpun ilalang terlihat kurang harmonis.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan batik daun singkong memperoleh nilai rata-rata 2,89 dengan kategori penilaian cukup baik. hal ini dikarenakan terdapat tiga  aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik daun singkong dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik daun singkong dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, dan 3) dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004: 107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

 Batik Kupu-Kupu

Pengembangan motif batik yang kedua adalah batik kupu-kupu. Pada batik ini susunan antar ornamen masih terlihat sama antara batik sebelum dikembangkan dan sesudah dikembangkan. Terlihat pada bagian penyusunan ornamen daun singkong dan kupu-kupu berjajar keatas dalam setiap jenisnya. Namun terdapat sedikit perbedaan pada gambaran garis yang membatasi tempat ornamen daun singkong dan kupu, garis yang sebelumnya lurus dibuat meliuk-liuk dan semakin keatas semakin mengerucut atau mengecil.

Daun singkong sebagai ornamen utama 1 digambarkan daun singkong yang berbentuk meruncing pada setiap ujung helaiannya, lebih panjang dan terpisah disetiap helainya. Tambahan batang dibuat di pangkal daun sehingga membuat ornamen daun singkong semakin berbeda dengan motif daun singkong sebelum dikembangkan. Penyusunan daun singkong yang di buat seakan berjatuhan membuat motif memiliki irama dalam penglihatan siapapun yang melihatnya. Ornamen kupu-kupu sebagai ornamen utama kedua dalam pengembangannya terlihat pada bentuk sayap kupu-kupu yang beragam antara kupukupu satu dengan yang lain. ornamen kupukupu setelah dikembangkan dibuat lebih beragam bentuk. Ornamen kupu-kupu setelah dikembangkan membentuk kupukupu yang sedang beterbangan kesegala arah dengan sayap yang terlihat penuh ataupun yang terlihat dari samping seekor kupu-kupu.

Ornamen pecah batu merupakan ornamen tambahan, setelah dikembangankan ornamen  pecah batu tidak berbeda jauh dengan ornamen pecah batu sebelum dikembangkan dari segi bentuknya. Perbedaan yang terlihat pada ukuran dan penyusunan dari ornamen itu sendiri. Ukuran motif dibuat bervariasi,  dari batubatu yang besar hingga batu yang kecil dan dari penyusunan terlihat ornamen ini disusun didalam bidang garis lengkung tersendiri Penyusunan juga terlihat dari ukuran yang terbesar hingga yang terkecil menjulang kebagian atas kain, sehingga kesan mata bergerak mengikuti arah motif pecah batu lebih kuat. Isen-isen pada ornamen daun singkong setelah dikembangkan dibuat dengan mengkombinasi tiga jenis isen-isen dalam satu ornamen daun singkong diantaranya ron pakis, ceceg dan uceng. Susunan isen-isen pada ornamen ini dibuat agar dapat menunjukkan sebuat pusat perhatian dalam satu ornamen. Isen-isen pada ornamen kupu-kupu dibuat dengan kombinasi dua jenis isen-isen yaitu sawut dan ceceg. Penyusunan isen juga dilakukan sedemikian rupa sehingga ornamen ini terlihat beragam antara ornamen kupu-kupu satu dengan yang lainnya.

Perbandingan luas warna tosca terlihat sama dengan warna krem tua, hal ini dikarenakan warna tersebut diletakkan pada bidang yang berbentuk sama yaitu bidang yang terbagi-bagi oleh garis yang meliukliuk, sehingga batik kupu-kupu kurang menunjukkan pusat perhatiannya. Pada setiap motif, baik daun singkong dan kupukupu diberikan warna satu jenis saja, hal ini dikarenakan warna dasar kain yang sudah dibuat lebih dari dua warna. Walaupun penerapan warna pada daun singkong dan kupu diberikan satu warna dalam satu ornamen, namun dalam penyusunannya dibuat selang-seling antara motif satu dengan yang lain, sehingga jika dilihat dalam keseluruhan motif maka memberikan kesan kurangnya prinsip kesatuan pada batik ini.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik kupukupu memperoleh nilai rata-rata 2,81 dengan kategori penilaian cukup baik, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai cukup baik. 1) batik kupu-kupu  dianggap belum memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai cukup harmonis dan proporsional, 2) batik kupu-kupu dianggap belum menimbulkan irama atau kesan gerak dalam desainnya, 3) batik kupu-kupu dianggap memiliki gabungan motif dan warna yang belum membentuk suatu kesatuan atau unity , dan 4) batik kupu-kupu dianggap sudah memiliki perpaduan warna yang kontras namun belum dilakukan penempatan warna yang baik sebagai suatu penekanan agar timbul sebuah pusat perhatian. Sedangkan jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), untuk membuat desain-desain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsipprinsip desain dalam menggabungkan unsurunsur desain.

 Batik Cabe

Pada pengembangan batik yang terakhir yaitu batik cabe mengalami perubahan desain namun masih jelas terlihat secara keseluruhan memiliki susunan motif yang searah. Susunan ornamen daun singkong, cabe dan sulur dibuat lebih rapat, sehingga batik terlihat lebih penuh dengan ornamen.

Ornamen utama 1 berupa daun singkong dalam pengembangannya terlihat pada bentuk yang dibuat memiliki jarak antara ruas satu dengan yang lainnya sehingga pada pangkal ruas jari daun membentuk lengkungan. Ornamen sulur merupakan ornamen utama 2, pada hasil pengembangan ornamen sulur mengalami stilasi bentuk. Bentuk ornamen ini setelah dikembangkan menjadi ornamen sulur dengan bentuk yang bercabang dan bergelombang.

Ornamen cabe dan ornamen daun merupakan ornamen tambahan pada batik cabe. Ornamen cabe dibuat sangat berbeda dengan sebelumnya, berbentuk cabai dengan bentuk yang sebenarnya dan disusun berbentuk lingkaran sehingga nampak seperti baling-baling. Isen-isen pada batik cabe secara keseluruhan memiliki enam jenis isen-isen, yakni: krakalan, ceceg telu, kembang suruh, ceceg pitu, ron pakis dan sawut. Isen pada ornamen utama berupa daun singkong dibuat dua jenis isen-isen dalam satu ornamen berupa ron pakis dan ceceg pitu. Isen ornamen utama yang kedua tidak terdapat pengembangan, hanya dilakukan penggantian jenis isennya saja berupa ceceg telu. Isen pada ornamen tambahan yaitu cabe dan daun di beri isen hanya satu jenis saja pada masing-masing ornamen, hal ini dikarenakan ukuran yang kecil pada masing-masing ornamen.

Penerapan warna yang tepat akan membuat semakin indah sebuah desain. Penerapan warna pada batik cabe terlihat kurang harmonis, hal ini dikarenakan penerapan warna pada ornamen sulur dirasa kurang tepat. Peletakan warna pada ornamen daun singkong, ornamen cabe dan ornamen daun kurang memiliki prinsip kesatuan.

Hasil penilaian observer mengenai hasil jadi pengembangan motif batik cabe ditinjau dari unsur dan prinsip desain, batik cabe memperoleh mean sebesar 3,2  dengan kategori penilaian baik dan merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan batik daun singkong dan batik kupu-kupu, hal ini dikarenakan terdapat empat aspek unsur dan prinsip desain yang dinilai baik. 1) batik kupu-kupu dianggap telah memiliki ukuran dan bentuk yang seimbang sehingga dinilai nampak harmonis dan proporsional,  hal ini sesuai dengan teori Kamil (1986:62) bahwa ukuran erat hubungannya dengan bentuk sehingga dalam pembuatan sebuah desain yang baik harus memperhatikan keseimbangan ukuran dan bentuk yang baik agar desain yang tercipta dapat harmonis dan proporsional. 2) batik cabe dianggap sudah memiliki perpaduan garis yang bergerak dengan teratur. 3) batik cabe memiliki perpaduan warna yang seimbang penempatannya, dan 4) batik cabe dianggap memiliki gabungan ornamen dan warna yang sudah membentuk suatu kesatuan atau unity Jika ditinjau dalam keseluruhan aspek unsur dan prinsip desain hal diatas belum sesuai dengan teori dari Suhersono (2004:107), yaitu untuk membuat desaindesain yang lebih baik maka harus memperhatikan prinsip-prinsip desain dalam menggabungkan unsur-unsur desain.

  1. Pengembangan Motif Bondowoso di Pengrajin “Batik Lumbung” yang Terbaik.

Pada aspek pusat perhatian ketiga batik dinilai cukup baik, dan skor tertinggi pada batik kupu-kupu dengan skor 2,8, hal ini dikarenakan motif  kupu-kupu dianggap memiliki warna yang kontras dan penempatan warna yang lebih banyak pada krem tua, sehingga memiliki penekanan pada penempatan warnanya hal ini didukung oleh teori dari Kamil, (1986:60), untuk menarik perhatian satu bagian diantaranya harus diberi tekanan untuk membentuk sebuah pusat perhatian atau klimaks dari desain tersebut, dan Soekarno dan Lanawati Basuki (2004:31) menambahkan bahwa sebuah pusat perhatian dapat terbentuk dengan cara pemilihan warna yang kontras.

Jika ditinjau dari unsur dan prinsip desain ketiga batik masih belum dianggap memiliki kriteria desain yang baik karena belum mendapat penilaian yang baik dalam keseluruhan aspek. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari bapak Dody Doerjanto (Dosen Seni Rupa Unesa) mengemukakan bahwa hasil jadi yang baik dapat secara maksimal menerapkan unsur dan prinsip desain, karena unsur dan prinsip desain merupakan teori dasar dalam membuat sebuah seni rupa. Namun motif cabe dapat dikatakan hasil pengembangan motif batik yang terbaik dibandingkan motif batif singkong dan kupu-kupu.

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 01 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2016, Hal 10-18
Gian Bifadlika, Irma Russanti
Pengembangan Motif Batik Bondowoso Di Pengrajin “Batik Lumbung”
Fakultas Teknik, (UNESA) Universitas Negeri Surabaya

Motif Batik Mojopahit

Motif Batik yang dipakai dalam sendratari banjaran Majapahit yang digelar di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Pasuruan pada bulan Juni sampai dengan Nopember 1993. Serial Pagelaran sedratari tersebut ditampilkan berdasarkan pada sejarah kejayaan Majapahit sekitar 1293-1528. Beberapa motif yang dipakai dalam pagelaran tersebut diantaranya:

1. Motif Kembang Sruni (untuk Penamping dan Sapta Prabu)
2. Motif Bangun Tulak (untuk Upacara)
3. Motif Surya Kawung (untuk Pengalasan)
4. Motif Sulur Gringging (untuk Raja Majapahit dalam Pasewakan)
5. Motif Sulur Kembang Sruni Cinecek (untuk para Bangsawan di bawah Raja)
6. Motif Poleng 1 (untuk Resi Tanabaya dan Mpu Cinta Murti)
7. Motif Poleng 2 (untuk Puthut, Wasi, Jejanggan)
8. Motif Surya Mangrangsang (untuk Putra Raja Majapahit/satria muda)
9. Motif Jagad Raya (untuk Pangeran Patih)

Contoh-contoh motif Majapahit diperlihatkan sbb:

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. BUDI UDJIANTO, dkk, BANJARAN MAJAPAHITSurabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Jawa Timur, 1993. hlm. lampiran 10-12.

Batik, Motif Jawa Timur

Pecahkan Rekor Muri
Motif Batik Terbanyak Jawa Timur

JAWA Timur patut berbangga, sebab, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim berhasil memecahkan rekor Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) dengan motif batik terbanyak yaitu 1.120 motif. Motif sebanyak ini berasal dari 22 kabupaten/kota se Jatim yang mencerminkan ragam karakter dan budaya Jatim. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya yang diraih Jogjakarta pada 27 Maret 2010 lalu dengan 1001 motif batik.

Sertifikat Muri ini diserahkan langsung Perwakilan MURI Sri Widayati kepada Ketua Dekranasda Jatirn, Dra Hj Nina Soekarwo, MSi pada Pembukaan Pameran Batik Bordir & Aksesoris ke-6, di Gramedia Expo Surabaya, Rabu (18/5).

Gubernur Jatim Soekarwo pada kesempatan itu mengungkapkan keunggulan kualitas batik Jatim. Batik Jatim dikenal nomor satu apalagi yang hand made. Coretan batiknya mempunyai filosofi yang mencerminkan emosi dan karakteristik masyarakat. “Kalau menggunakan batik khas Jawa Timur dengan warna cerahnya, penampilan nampak lebih sumringah. Batik merupakan bagian dari nasionalisme yang harus kita bangun. Motif batik juga harus mempunyai cerita/legenda agar lebih menarik pasar/’ ujarnya.

Dari PDRB Jatim, 67 persen atau sekitar Rp 520 triliun untuk konsumsi, mulai untuk makan, pakaian sampai dengan rekreasi. Apalagi income perkapita/tahun US $ 3.000. Menurut para ahli, kalau income masyarakat sudah di atas US$ 2.000/tahun biasanya untuk konsumsi membeli barang/pakaian. “Ini merupakan peluang. Oleh karena itu keterampilan para perajin harus dilatih dan ditingkatkan kreatifivitasnya, serta pasar periu dibenahi,” harapnya.

Sementara itu, Bude Karwo menegaskan, kepengurusan Dekranasda yang sudah dibentuk 38 kabupaten/kota se J atim untuk mendorong dan memfasilitasi kerajinan yang dihasilkan para perajin di daerah. Ini agar kesejahteraan masyarakat perajin bisa meningkat. Di Jatim terdapat 549500 unit perajin yang menyerap tenaga kerja 211.205 pekerja. Karya mereka mempunyai daya saing tinggi dan beberapa menembus pasar luar negeri. Di antaranya produk dengan bahan baku kulit, batik, tenun, border, sulam dan onyx dari Tulungagung dan Trenggalek yang digemari pasar Eropa.

Namun, lanjutnya, prod uk karya IKM masih periu ditingkatkan. Oleh karena itu, istri Gubernur Jatim yang populer dengan sapaan Bude Karwo ini mengimbau para perajin agar meningkatkan keterampilan dan kualitas perajin melalui pelatihan untuk meningkatkan desain, pelatihan teknis, dan pelatihan finishing/packaging. Kualitas material sudah bagus tapi sering kalah dengan produk luar bidang finishing touch dan packaging. Selain itu, Bude karwo juga menekankan program penguatan jaringan pasar. “Saya harap selama pameran dan pasca pameran terjadi transaksi,” harapnya.

Program lain yang digalakkan oleh Ketua Dekranasda ini, adalah peningkatan strandarisasi produk dengan mengangkat karakteristik budaya lokal agar produksi makin dicintai dan dilestarikan generasi muda. Semua ini dilakukan untuk melindungi produk khas Jatim dari pengambilan hak negara lain.

Dalam kesempatan itu, Bude Karwo menyerahkan sertifikat dari Kantor Kementerian Hukum dan HAM atas Hak Kekayaan Intelektual (Hak Cipta Motif  Batik dan Hak Merek Batik) bagi perajin Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jatim. Jumlah Cipta Motif Batik yang difasilitasi Disperindag Prov Jatim sejak 2009 s/d Mei 2011 sebanyak 60 motif batik. Empat IKM yang menerima sertifikat Hak Cipta Motif Batik adalah Tikno (Magetan) dengan motif ‘Pring Sedapur’, sedang ‘Kawung Gringsing Wilis’ yang diterima oleh Sigit Suseno, SE (Tulungaung), ‘Satria Pinilih Latar Gringsing” oleh Budi Raharjo (Pacitan), serta ‘Jagung Miji Emas’ oleh Sudjono (Bojonegoro).

Sementara dua IKM yang menerima sertifikat Hak Merek Batik adalah lanang Pramadi (Blitar) dengan merek ‘BALITAR’, dan Linda (Situbondo) dengan merek ‘Shafli’. Dalam rangkaian acara tersebut, Bude Karwo menyerahkan hadiah uang dan piagarn penghargaan kepada pemenang lomba desain batik tulis khas Jatim. Untuk kategori professional mahasiswa karya, juara I motif batik ‘Sawung Cahya Buwana’ karya Toni Retno Antyaningsih (Pacitan), Juara II motif ‘Rebbe Jun Tole’ oleh Hosniya (Pamekasan), ·dan Juara III diraih oleh Vetrylla Prima Z (Bangkalan) dengan judul karya ‘Bekisar Panca Warna’. Sementara untuk kategori pelajar, juara I diberikan kepada Gala Kurnia Handawijaya (Malang) dengan ‘Batik Sang Koi’, sedangkan juara II adaJah Ika Ayu Fitri (Surabaya) ‘Bekisar dan Ikan Koi’, dan juara III Raditya Yogiswara Y (Blitar) dengan karyanya yang berjudul Ulam Kencono Kadhewan’.

Pada kesempatan yang sarna, Kepala Disperindag Prov Jatim Ir Budi Setiawan, MMT, ME mengatakan, pameran tahunan yang digelar sejak 2006 ini merupakan upaya untuk melestartikan dan mencintai karya bangsa sendiri di tengah situasi maraknya produk impor. Pameran yang digelar selama 5 hari mulai tanggal 18 hingga 22 Mei ,ini diikuti 125 peserta dari 7 Provinsi (kaltim, DKI, Jogjakarta, Jateng, Jabar, dan Bali, Jatim), 5 BUMN (Semen Gresik, Pertamina, dll), dan Dekranasda Kabupaten/Kota se Jatim.

Disperindag juga mengadakan lomba desain batik tulis khas Jawa Timur dengan dua kategori lomba, yaitu kategori profesional/mahasiswa dan kategori pelajar. Pelaksanaan lomba yang dimulai 21 Maret hingga 14 Mei ini berhasil menjaring 156 karya desain, terdiri dari kategori profesional/mahasiswa karya yang masuk 138 desain dari Kab/ Kota se Jatim, dan kategori pelajar sebanyak 18 karya. Pembukaan parneran dihadiri Wakil Ketua Dekranasda Prov Jatim Ny. Hj. Fatma Saifullah Yusuf, dan para isteri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Jatim. – ryan

SAREKDA Jawa Timur,  edisi: 012,  1201 1, hlm. 34