Sejarah Batik Jombang

Batik Jombang Baru Berkembang Pada Tahun 2000-An.

motif_batik_jmbg_1Tahun 1944, Sekolah Rakyat Perempuan pakaian sekolahnya masih memakai sarung dan kebaya batik (zaman penjajah Belanda). Pada masa itu di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan  bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun.  (Ibu Hajah Maniati, pemilik kedai batik “Sekar Jati Setar”) Namun pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang menghilang, disebabkan oleh sulitnyanya mendapatkan bahan baku serta berkurangnya pengrajin batik.

motif_batik_jmbg_2Tahun 1993, Ibu Hj. Maniati bersama puterinya mempunyai pemikiran dan keinginan untuk membangkitkan dan melestarikan kembali tradisi membatik di kota Jombang (Surya, 2005). Untuk mewujudkan keinginan serta pemikiran tersebut Ibu Hj. Maniati bersilaturahmi ke kerabat yang lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau maktab keguruan) bidang pengkhususan kraftangan. Ibu Hj. Maniati mengajukan permohonan izin ke Kepala Desa (Kepala Kampung) mengumpulkan ibu-ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan remaja guna membicarakan pelatihan (workshop) membatik, dan Kepala Desa menyambut baik atas gagasan. Maka Ibu Hj. Maniati, Ibu-ibu PKK dan para remaja mulai belajar membatik dengan jenis batik jumput (batik ikat) dan hasilnya tak sia-sia cukup memuaskan, sehingga semangat untuk membatik cukup tinggi.

motif_batik_jmbgTahun 2000 Ibu Hj. Maniati dipanggil oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membicarakan pelatihan/kursus/workshop, tepatnya tanggal  8-10 Februari 2000 Ibu Hj. Maniati beserta puterinya mengikuti kursus Batik Tulis Warna Alami di Surabaya yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Dari hasil kursus ini Ibu Hj. Maniati beserta puterinya dan ibu-ibu PKK semakin rajin membatik.

Tahun 2000 di bulan Desember Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “SEKAR JATI STAR” di desa Jatipelem. Pada waktu yang sama Bapak Bupati (ketua daerah/DO) memutuskan untuk mengadakan kursus membatik di desa Jatipelem dengan peserta dari perwakilan wilayah kecamatan se-kabupaten Jombang.

Pada tanggal 16 Desember 2004, Ibu Hj. Maniati mendapat izin usaha tetap dari pemerintah dengan nama “BATIK TULIS SEKAR JATI STAR” dengan nomor SIUP: 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Saat ini untuk memenuhi permintaan pasar, Ibu Hj. Maniati menjual batik dalam bentuk kemeja pria (baju lengan panjang untuk lelaki). Untuk kemeja batik berbahan standar dijual Rp. 150,000.00, sedangkan untuk bahan sutra Rp. 300,000.00 (Surya, 2005). Selain itu beliau juga melayani pesanan dan yang pesan boleh membawa contoh. Untuk melayani hal tersebut Ibu Hj. Maniati mempunyai 27 orang tenaga kerja.  Untuk mengembangkan batik Jombang, berbagai usaha dilakukan oleh Ibu Hj. Maniati. Mulai dari mendirikan kedai sampai ke koperasi.

Pada awalnya motif  batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Selanjutnya Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten  Jombang (isteri Bupati/DO), bersepakat bahawa Motif Batik Tulis Khas Jombang diambil dari salah satu Relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.

Tahun 2005, Bupati Jombang mengharuskan  semua para pegawai di kabupaten Jombang untuk memakai baju batik motif khas Jombang. Dimana baju tersebut bermotif batik warna merah, motifnya lakar simetris dan ada cecekan. Cecek adalah kata Jawa yang bererti titik. Titik adalah bahagian terpenting dari batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang bererti “titik”.

Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan. Semua memiliki khas candi peninggalan Majapahit dan warnanya pun memakai dasar merah dan hijau yang merupakan warna khas Jombang, (Ibu Kusmiati Slamet).

Selain Ibu Hj. Maniati batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet. Dengan modal awal Rp 2 juta, tahun 2002 mulailah Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mengambil tenaga kerja dari para tetangganya sendiri (sekitar rumahnya) untuk membuat berbagai model dan motif batik dengan khas paten relief Candi Rimbi. Awalnya, prakarsa ini muncul atas dorongan tetangga yang ingin mencari kesibukan dengan belajar membuat batik dengan motif khas Kerajaan Majapahit. Alasannya, karena Jombang dulunya merupakan daerah pecahan Mojokerto, nenek moyangnya sama-sama berasal dari Majapahit.

Pekerjaan dilakukan dengan sistem borongan sesuai keperluan yang diinginkan. Jika pesanan ramai, dalam sehari bisa melibatkan 20 tenaga kerja dengan hasil batikan antara 35 sampai 40 lembar kain. Hari demi hari, pekerjaan membatik pun terus berkembang dan kian banyak pembeli dari daerah-daerah sekitar yang memakai produk Kusmiati. Lalu munculah inisiatif untuk memberi label/brand pada batiknya. Melalui kesepakatan dengan pihak keluarga, akhirnya batik Kusmiati diberi merk “LITABENA”. Litabena diambilkan dari sebahagian dari nama keempat anaknya yang sudah besar. Li dari nama Lilik, Ta dari nama Rita, Be dari nama Benny, dan Na dari nama Nanang. Ibu Kusmiati Slamet berharap dengan nama itu usaha batiknya dapat berkembang menjadi besar. Pada saat ini produk batik LITABENA telah beredar sampai ke Jakarta, Kalimantan, Palembang dan Lampung.

Untuk mengembangkan batik Jombang, Pemerintah Jombang mengadakan workshop batik di Jombang. Berkat bantuan dari pemerintah dan didorong dengan semangat besar, batik Ibu Kusmiati Slamet menjadi berkembang dan terkenal tidak hanya di kalangan pemerintahan namun telah berkembang ke luar negeri. Sekarang Ibu Kusmiati Slamet telah membuat batik pesanan dari Bank Jawa Timur, Dinas Sosial dan Dinas Perikanan berupa baju-baju pegawai. Di samping itu, setiap bulan mendapat pesanan 30 lembar sajadah ke negara Iraq dan mengirim bed cover ke Taiwan sebanyak 2,200 lembar setiap tiga bulan sekali. Kini produksinya mencapai 500-600 yard setiap bulan.

 MOTIF KHAS BATIK JOMBANG

Motif khas batik Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama BATIK JOMBANGAN. Batik Jombangan yang telah diproduksi sudah ada di Muzium Batik Pekalongan, Jawa Tengah.

PROSES BATIK

Proses batik Jombang secara umum masa dengan proses batik di daerah-daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis  batik skrin/printing, dan batik ikat. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima.

FUNGSI BATIK JOMBANG

Seperti guna kain batik pada umumnya, batik Jombang juga digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian rasmi. Kain batik di Jombang termasuk kain yang mempunyai nilai harga yang mahal, sehingga kain batik tidak digunakan sebagai pakaian untuk kerja kasar ataupun sebagai pakaian tidur. Secara khusus batik Jombang digunakan untuk uniform para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Mulai 2006/2007 digunakan juga untuk para Pelajar Tingkatan1 dan Tingkatan 4, pada hari Rabu dan Kamis.

KEDAI BATIK

Salah satu contoh kedai batik di Jombang yang aktif memasarkan kain batik khas Jombang atau BATIK JOMBANGAN. Kedai batik SEKAR JATI STAR adalah milik Ibu Hj. Maniati di desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

——————————————————————————————-Karsam. Batik Tulis Jombangan, Jawa Timur

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com

Batik Mojokerto

Mojokerto merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari Surabaya. Mojokerto merupakan kota yang istimewa dalam sejarah Indonesia karena kota ini dulunya merupakan ibukota dari Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan bersejarah, salah satunya adalah seni membatik.  Batik Mojokerto adalah batik khas dari Kota Mojokerto yang memiliki keunikan yaitu memiliki motif yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan Majapahit, mengadaptasi elemen-elemen yang ada dalam Kerajaan Majapahit diantaranya adalah Surya Majapahit, bunga Teratai, buah Maja, dan masih banyak lagi. Selain itu, motif dari batik ini mengambil tema dari kehidupan sekitar Kota Mojokerto. Sangat disayangkan keberadaan batik Mojokerto kurang atau bahkan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar baik yang berasal dari Kota Mojokerto maupun luar Kota Mojokerto. Hanya sebagian orang yang mengetahui keberadaan dari batik ini dan menyebarkannya dari mulut ke mulut.

Batik Mojokerto sempat dipamerkan di Australia pada tahun 2007 dan mulai berkembang dengan sederet nama motif yang unik dan khas seperti Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit, dan masih banyak lagi. Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai identitas atau ciri khas dari Kota Mojokerto Beberapa nama motif batik Mojokerto memiliki kesamaan nama motif dengan batik yang berasal dari daerah lain seperti motif Pring Sedapur ditemukan juga pada batik motif batik lain. Namun terdapat perbedaan antara motif Pring Sedapur dari daerah Mojokerto dengan motif Pring Sedapur daerah lain. Dari warna dasarnya, untuk motif Pring Sedapur Mojokerto menggunakan warna dasar putih dan dominasi warna cokelat pada motifnya sehingga memiliki kesan klasik sedangkan pada motif Pring Sedapur daerah lain memiliki warna dasar jingga dengan dominasi warna hitam pada motifnya. Selain itu, dalam setiap bentukan motif yang ada pada motif Pring Sedapur Mojokerto kaya akan ornamen dan sudah dimodifikasi untuk menghilangkan kesan kaku berbeda dengan motif Pring Sedapur Magetan yang masih menggambarkan bentukan motif menyerupai bentuk aslinya. Kini Pemerintah mulai memperhatikan keberadaan batik ini dan mulai mengenalkan batik ini kepada masyarakat sekitar melalui pengadaan pelajaran membatik dan pelatihan membatik untuk anak-anak dan ibu rumah tangga.
Batik Mojokerto merupakan salah satu batik Indonesia, yang konon terlahir di Majapahit, awalnya adalah batik keraton. Namun seiring runtuhnya kerajaan Hindu batik keraton Majapahit    menyingkir dari wilayah pusat kerajaan terbesar di Nusantara ini. Mojokerto sendiri yang merupakan petilasan Majapahit, ditinggalkan oleh para nenek moyang mereka para empu batik.

Belakangan seni membatik mulai muncul lagi di Mojokerto yang dihidupkan oleh generasi baru. Dari literatur lama diperoleh catatan bahwa pada tahun 1920-an di daerah Mojowarno, ada seorang Nyonya berkebangsaan Belanda (tertulis sebagai Mevrouw Kats) yang membuka kursus batik cap di kalangan masyarakat setempat. Namun batik cap ini setelah ditelusuri hingga kini berkembangnya justru ke arah Jombang.

Munculnya kembali seni membatik di Mojokerto justru berangkat dari berkembangnya seni kerajinan (craft) di wilayah ini. Pembatik Mojokerto sendiri banyak yang tidak tahu apakah batik yang mereka kerjakan itu adalah asli digali dari Mojokerto atau justru motif-motif yang mereka kerjakan berdasarkan pesanan konsumen sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh karenanya sulit untuk mengetahui asal usul motif yang berkembang dan populer di situ. Masalah ini bukan hanya terjadi di Mojokerto saja, tetapi juga merupakan kendala yang dihadapi di daerah lain.

Namun demikian yang patut diapresiasi kalangan Batik Mojokerto saat ini sedang berkembang sederet nama motif batik seperti Gedheg Rubuh, Mrico Bolong, Gringsing, Surya Majapahit, Alas Majapahit, Lerek Kali, Bunga Matahari (kadang hanya disebut Matahari), Koro Kenteng, Rawan Inggek, Bunga Sepatu, Kawung Cemprot, dan Pring Sedapur.

Ciri Khas Batik Mojokerto Menurut Ernawati, salah satu pengrajin batik Mojokerto, motif batik Mojokerto mengambil corak atau motif dari alam sekitar kehidupan manusia yang mampu memberikan gambaran mengenai ciri daerah Mojokerto. Beberapa corak atau motif yang digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi. Untuk ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan ukel.

Motif Batik Mojokerto

 

  1. batik-mojokerto-motif-mrico-bolongMotif Mrico Bolong; Motif ini diberi nama Mrico Bolong karena memiliki latar berupa bulatan-bulatan kecil seperti merica yang tampak berlubang. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan berwarna cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  2. batik-mojokerto-motif-sisik-gringsingMotif Sisik Gringsing; Motif ini diberi nama Sisik Gringsing karena memiliki latar berbentuk seperti sisik ikan. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini memiliki kesamaan dengan motif Mrico Bolong dari segi motif utama dan motif pelengkapnya namun yang membedakan keduanya adalah latar dari kedua motif ini. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  3. batik-mojokerto-motif-pring-sedapurMotif Pring Sedapur; Motif ini diberi nama Pring Sedapur yang diambil dari rumpun bambu yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah burung merak yang bertengger di rumpun bambu tersebut. Latar dalam motif ini dibuat dengan cara meremukkan malam yang digunakan untuk menutup latar kain sehingga warna lain bisa dimasukkan dan menimbulkan kesan retak-retak. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  4. batik-mojokerto-motif-rawan-inggekMotif Rawan Inggek; Motif ini diberi nama Rawan Inggek karena memiliki latar berupa garis yang berkelok-kelok. Garis yang berkelok-kelok ini disebut rawan, yang berasal dari kata “rawa” yang mendapat imbuhan “an”. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu dan surya majapahit.
  5. batik-mojokerto-motif-kawung_rambutanMotif Kawung Rambutan; Motif ini diberi nama Kawung Rambutan sesuai dengan latarnya, kawung cenderung berbentuk kotak dengan ujung yang agak membulat. Kawung tampak pada motif garis-garis berbentuk kotak yang terdapat bulatan dengan srungut-srungut. Dengan adanya srungut-srungut itu maka diberi nama Kawung Rambutan. Yang menjadi motif utama adalah rangkaian bunga beserta daun-daunnya sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu.
  6. Motif Teratai Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Teratai Surya Majapahit karena menampilkan elemen-elemen yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang didominasi oleh bunga teratai dan surya majapahit. Yang menjadi motif utamanya adalah ayam bekisar, bunga teratai, tempat duduk dewa-dewi serta surya majapahit sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja. Motif ini menggunakan isen-isen cecek pada latarnya.
  7. Motif Kembang Dilem; Motif ini diberi nama Kembang Dilem karena terinspirasi dari tanaman dilem, berupa daun dan tidak berbunga, yang digunakan untuk pewangi pada batik sedangkan kembang berasal dari bunga-bunga kecil yang tampak dari motif ini. Bunga-bunga kecil itu merupakan motif pelengkap dan motif utamanya adalah daun dilem.
  8. Motif Matahari; Motif ini diberi nama Matahari karena didominasi oleh motif berbentuk bunga matahari. Motif bunga matahari itu merupakan motif utama sedangkan kupukupu di sini menjadi motif pelengkap saja. Untuk latarnya berupa warna hitam polos tanpa adanya isenisen.
  9. Motif Merak Ngigel; Motif ini diberi nama Merak Ngigel karena motif utamanya adalah burung merak yang saling berhadaphadapan. Untuk motif pelengkapnya berupa kupukupu dan bunga-bunga. Latar dari motif ini didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek dengan warna biru.
  10. btmo-koro-rentengMotif Koro Renteng; Motif ini diberi nama Koro Renteng karena motif utamanya adalah buah koro yang ditunjukkan oleh bulatan-bulatan kecil bewarna cokelat yang di dalamnya terdapat isen-isen cecek sebanyak tiga cecek sedangkan renteng menunjuk pada daun yang di-renteng (disusun berjajar). Motif ini memiliki latar polos bewarna putih yang terlihat seperti didominasi oleh isen-isen sawutan yang terdapat pada tepian setiap bentukan motif.
  11. Motif Rantai Kapal Kandas; Motif ini diberi nama Rantai Kapal Kandas karena motif utamanya adalah rantai dan motif pelengkapnya berupa bagian-bagian kapal yang sudah hancur (kandas). Motif ini memiliki latar polos dengan warna putih tanpa adanya isen-isen.
  12. daun_talas_batik_tulis_bahan_cotton_size_225m_x_110mMotif Daun Talas; Motif ini diberi nama Daun Talas karena motif utamanya berupa daun talas. Daun talas sendiri merupakan daun dari tanaman umbi-umbian yang berdaun lebar yang sering dijumpai di Kota Mojokerto. Motif pelengkap dari motif ini adalah buah talas. Untuk latarnya menggunakan warna biru dengan isen-isen cecek.
  13. Motif Gerbang Mahkota Raja Motif ini diberi nama Gerbang Mahkota Raja karena terdapat bentukan gerbang dan mahkota raja yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah bunga teratai, buah maja, ayam bekisar, dan kupu-kupu. Gerbang disini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Majapahit yang di dalamnya terdapat beragam budaya, mahkota raja sebagai tanda kebesaran yang dipakai oleh raja-raja Majapahit. Bentukan motif yang ada di dalam kain batik ini merupakan elemen-elemen dari Kerajaan Majapahit. Untuk latarnya didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek.
  14. Motif Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Surya Majapahit karena motif utamanya berupa surya majapahit yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang sering dijumpai pada candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit berbentuk cakra segi delapan ini merupakan gambaran dari 9 dewa yang dipuja oleh penduduk Majapahit. Untuk motif pelengkapnya berupa buah maja. Latar dari motif ini berwarna hitam polos tanpa adanya isen-isen.
  15. Motif Rawan Klasa; Motif ini diberi nama Rawan Klasa karena latarnya berbentuk menyerupai anyaman tikar (klasa). Yang menjadi motif utama adalah sepasang sawat yang menyerupai sayap burung garuda yang memberi kesan gagah sedangkan motif pelengkapnya berupa daun dan bunga-bunga kecil di sekitarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  16. Motif Alas Majapahit; Motif ini diberi nama Alas Majapahit karena menggambarkan keadaan atau suasana hutan (alas) di mana di dalam hutan terdapat berbagai hewan dan tumbuhan. Yang menjadi motif utama adalah motif yang berbentuk hewan dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja, kupu-kupu kecil, dan bunga-bunga kecil. Motif ini memiliki latar dengan isen-isen cecek.
  17. Motif Bin Pecah; Motif ini diberi nama Bin Pecah karena memiliki latar dengan bentukan seperti ubin dalam keadaan pecah (berbentuk seperti segitiga). Yang menjadi motif utama adalah rangkaian daun kelapa, burung, dan bunga teratai sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  18. Motif Merak Gelatik; Motif ini diberi nama Merak Gelatik karena motif utama berbentuk burung gelatik yang kecil namun memiliki ekor panjang seperti burung merak. Motif pelengkapnya adalah bunga-bunga dan daun-daun. Latar motif ini berwarna putih polos tanpa adanya isen-isen. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  19. Motif Kembang Suruh; Motif ini diberi nama Kembang Suruh karena motif ini memiliki latar yang didominasi oleh isen-isen kembang suruh. Motif utamanya adalah bunga dan daun-daun sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  20. Motif Ukel Cambah; Motif ini diberi nama Ukel Cambah karena motif ini didominasi oleh latar dengan isen-isen ukel yang menyerupai bentuk kecambah. Motif ini hampir serupa dengan motif Kembang Suruh, hanya terdapat perbedaan pada isen-isen yang mendominasi latarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  21. Motif Sekar Jagad Mojokerto; Motif ini diberi nama Sekar Jagad Mojokerto karena motif utamanya berupa bunga teratai, buah maja, dan surya majapahit yang kesemuanya merupakan elemen dari Kota Mojokerto. Motif pelengkapnya adalah motif di luar dari elemen-elemen Kota Mojokerto yang sudah ada. Motif ini terkesan padat dan ramai seperti kondisi alam semesta (jagad raya).
  22. kembang_mojo_Motif Kembang Maja; Motif ini diberi nama Kembang Maja karena motif utamanya adalah kembang yang diwakili oleh bunga matahari (bunga yang tidak diberi warna) dan buah maja yang merupakan buah yang menjadi asal nama Majapahit.

 

Batik Mojokerto konon telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, namu seiring runtuhnya kerajaan ini, keberadaan batik Mojokerto mulai tersingkir keberadaannya. Belakangan seni membatik muncul  dan berkembang lagi di Mojokerto yang diawali oleh generasi baru yang mewarisi tradisi turun temurun dari generasi sebelumnya.

Sebagai tradisi yang dimiliki oleh Mojokerto ini patut untuk dijaga kelestariannya sehingga kelak batik Mojokerto lebih dikenal oleh masyarakat luas.  Hadirnya wacana baru untuk mengenalkan batik Mojokerto kepada masyarakat secara luas khususnya para pecinta batik. Diharapkan mampu menarik perhatian sasaran kawulamuda sehingga mereka mengenal dan ikut melestarikan batik Mojokerto.

 

—————————————————————————————————————–Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto./ Fransisca Luciana Santoso, Bramantya, Ryan Pratama Sutanto.
Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya – STK Wilwatikta Surabaya

Nama dan makna corak Kain Batik Tuban

Di samping membuat kain lurik di daerah Tuban ini mereka membuat pula kain batik yang khas dalam penampilannya. Pemberian nama kain Tuban pun, baik kain lurik maupun kain batiknya diambil dari alam sekitar kehidupan yang sehariharinya akrab dengan mereka dan yang mereka anggap bermanfaat serta mempunyai perilaku/sifat yang baik. Di samping itu ada pula nama-nama yang merupakan kiasan atau bermakna simbolis.

Masyarakat Tuban yang tergolong suku Jawa, pada corak dan pemberian nama kainnya terlihat pula berbagai corak dan nama dari kebudayaan dan falsafah Hin­du Jawa, seperti antara lain: corak lar pada kain batik Tuban yang merupakan lambang kekuasaan, kain lurik corak tuwuh/ tuluh ivatu lambang, kekuatan, keperkasaan (tuwuh, tuluh dapatberarti kuat; zvatu = batu), kain lurik corak kijing miring memperingatkan pada manusia akan akhir hayatnya.

gb-120Di samping itu corak kebudayaan Cina (burung hong, bunga pioni, dan lain-lain) sangat menonjol pada kain batik Tuban, dengan penataan gaya Lok Chan (Gb.120) serta corak Coromandel pada umumnya dipakai sebagai pinggiran kain atau hiasan pembatas (Gb.120). Begitu pula terlihat co­rak geometrispatola (Gb.l24b,125) pada umumnya dianggap sakral.

gb-124aCorak flora dan fauna biasanya dipakai untuk pakaian seharihari, sedangkan co­rak geometris patola pada umumnya untuk upacara adat dan sakral. Pada warna dan tata warna tradisional batik Tuban (Gb.l22-124a) terlihat perubahan baik dalam jenis warna, nuansa warna maupun tata warnanya, yang pada umum­nya didapat dengan pemakakn warna sintetis. Bahkan akhirakhir ini terlihat warna sogan gb-121sebagai adaptasi warna batik Solo/Yogya (Gb.121).

Kain batik Tuban menurut perpaduan warnanya disebut dengan berbagai istilah, yaitu: bangrod, pipitan, putihan dan irengan. Tiap jenis kain tersebut diperuntukan, dipakai oleh kalangan tertentu dengan makna tertentu.

Kain bangrod
gb-122Kain bangrod (Gb.122) adalah kain berlatar  putih dengan corak warna merah, dari per-    kataan diabang, yaitu dicelup dengan warna merah dan kemudian malamnya dilorod,          menjadi istilah bangrod. Diperuntukan bagi wanita remaja dan yang belum menikah.

Kain pipitan
gb-123Kain pipitan (Gb.123) adalah kain berlatar 1 putih dengan corak bertata warna merah dan biru. Pipitan berarti berdampingan, karena itu kain dengan perpaduan warna ini  diperuntukan bagi orang yang telah ada pendampingnya, yaitu yang telah menikah.

Kain putihan                                             
gb-124agb-124bKain putihan (Gb.l24a,b) adalah kain berlatar putih dengan corak berwarna biru tua. Yang bercorak geometris patola dianggap kain sakral, melindungi segala sesuatunya serta dijadikan lambang tolak bala. Putihan dari kata mutih, yaitu ritus mensucikan dan memurnikan diri dari segala dosa dan noda dengan jalan berpuasa di mana orang hanya diperbolehkan minum air putih makan nasi putih sekadarnya.

Kain irengan                                             
gb-125Kain irengan (Gb.125) adalah kain berlatar    hitam atau biru tua dengan corak berwarna putih. Kain irengan yang berarti kain hitam, dipakai oleh orang lanjut usia. Demikian pula kain irengan yang bercorak geometris/ patola dianggap sakral, dipakai untuk pergi melayat dan sebagai penutup jenazah demi keselamatan arwah yang meninggal, karena kematian dianggap sesuatu yang sakral.

Sebagaimana telah diutarakan terlebih dahulu,. kain Tuban mempunyai daya tariknya tersendiri, terutama kekasaran bahan dengan benang pintal tangannya, warnawarna redup yang khas meskipun yang telah dicelup dengan zat warna sitetis, ser­ta pengerjaan yang masih tradisional de­ngan pesonanya tersendiri. Nampaknya halhal inilah yang menarik orangorang asing, yang menjadikan kain Tuban barang cinderamata yang menarik dan digemarinya. Dewasa ini terlihat kain batik maupun lurik Tuban dibuat untuk rompi, topi, tas dan lainlain, serta terlihat batik Tuban dalam bentuk taplak (Gb.l26a) dan serbet dan lainlain.

Dua orang wanita Belanda yang saya kenal dan sudah lama bermukim di Indo­nesia, menurut hemat saya banyak sumbangannya dalam memperkenalkan kain Tuban: Rens Herringga dengan penelitian dan penulisannya yang mendalam dan Wineke de Groot dengan usahanya memodifikasi corak, warna dan penggunaan, ter­utama lurik Tuban (Gb.l26b) serta memperkenalkan berbagai kerajinan rakyat Tuban.

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarta: Djambatan, 2000
hlm.: 115-119

Bentuk dan Tata pemakaian Kain Tradisional Tuban

gb-126aBentuk Kain Tradisional Tuban
Baik kain lurik maupun kain batik Tuban, umumnya berbentuk/flrif (kain panjang) dengan ukuran ± (1 x 2,5 m), dan berbentuk kain sarung ± (1 x 2 m). Sayut, istilah setempat untuk selendang kebanyakan di batik, dengan ukuran yang sangat panjang ± (3 x 0,5 m), yang dipakai sebagai pembawa barang. Ikat kepala biasanya terbuat dari batik

gb-126bTata pemakaian kain Tuban
Di daerah ini sebetulnya terdapat pula tata aturan tentang pemakaian kain lurik maupun batik, sejalan dengan tingkat sosial masyarakatnya, yang dahulu dilaksanakan dengan ketat. Antara lain aturan pemakaian ini adalah sebagai berikut:

  • Batik lurik dipakai oleh rakyat biasa.
  • Lurik kentol dan lurik kembangan (pakan tambahan) diperuntukan bagi kaum terpandang dan menengah, mungkin dikarenakan kedua kain lurik ini lebih rumit dan lama proses pengerjaannya.
  • Corak kain lurik horisontal sejalan dengan arah benang pakan dipakai kaum wanita, serta yang vertikal sejalan dengan arah benang lungsi untuk kaum pria, sedangkan corak cacahan (kotak-kotak) untuk pria dan wanita. Berbagai aturan ini sekarang tidak dipegang teguh lagi.
  • Kain batik bermutu tinggi, yang halus mengerjakannya, diperuntukan bagi kaum terpandang dan menengah. Mereka yang tergolong kaum terpandang ada­lah penduduk keturunan penetap pertama, yang pada umumnya adalah pe- milik tanah.

gb-126bWarna dan tata warna tradisional kain lurik maupun kain batik Tuban terbatas pada warna biru tua/hitam (indigofera), merah mengkudu (morinda citrifolia), putih dan krem (warna asli kapas). Pada warna dan tata warna kain lurik Tuban belum banyak terlihat perubahan, meskipun sudah ada juga yang dicelup dengan menggunakan warna sintetis, namun masih berkisar pada warna biru tua, hitam, merah dan putih. Sedangkan pada kain batik Tuban perubahan warna sudah banyak terlihat, baik dalam jenis warna, nuansa warna maupun tata warnanya, yang pada umumnya didapat dengan pemakaian warna sintetis.

—————————————————————————————–Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarta: Djambatan, 2000
hlm.: 113-114

Teknik Menenun Di daerah Tuban

Teknik Menenun Pakan Tambahan

Di daerah Tuban orang masih menenun lurik pakan tambahan dengan alat tenun gendong, serta pada umumnya mereka masih mempergunakan benang pintal tangan. Pada hakekatnya tenunan pakan tam­bahan adalah tenunan polos (Gb.A) yang sekaligus merupakan tenunan dasar, yang dihias dengan diberi/ditambah benang pakan tambahan (Gb.B).gb-agb-bgb-c

Caranya adalah dengan jalan memasukan/menyisipkan benang pakan tersebut (Gb.B; Pt.l, Pt.2, Pt.3, dan seterusnya) di antara benang pakan dari tenunan dasar (Gb.B; PI-P2; P2-P3, P3-P4, dan seterus­nya), menurut corak yang diinginkan. Be­nang pakan tambahan secara bergiliran di- sisipkan sekali di atas beberapa benang lungsi (Gb.B; LI, L2, L3) dan sekali diba- wahnya (Gb.B; L4,L5,L6), dan seterusnya, sesuai corak yang diinginkan. Dengan demikian terlihat benang pakan tambahan sekali berada di atas permukaan tenunan dasar, sekali di bawahnya (Gb.C).

gb-dgb-eSebelum menenun, benang-benang lungsi yarig akan berada di atas dan di bawah benang tambahan dipisahkan terlebih dahulu sesuai corak dengan lidiidi (Gb.D). Pada saat benang pakan tambahan akan dimasukkan, terlebih dahulu lidi yang bersangkutan diganti dengan liro (bambu atau kayu pipih) yang kemudian ditegakkan, sehingga membentuk rongga (Gb.E), di antara mana benang pakan tam­bahan tersebut dimasukan.

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 112-113
 

Pengembangan Desain Motif Batik Anjuk Ladang, Nganjuk

Batik adalah salah satu jenis kain yang sudah banyak dikenal di Indonesia, dimasa lampau, batik hanya dipakai oleh golongan ningrat keraton, tidak semua orang boleh mengenakan batik, utamanya pada motif-motif tertentu. Namun pada perkembangannya, batik telah menjadi salah satu “pakaian nasional” Indonesia.

Seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur memiliki batik dengan ciri khas masing-masing, kabupaten Tuban memiliki batik gedog, Banyuwangi batik Gajah Oling-nya, Probolinggo batik Mangur-nya, hingga Surabaya dengan batik Mangroew-nya. Tidak ketinggalan Nganjuk juga mengembangkan batik khas daerahnya sendiri,  dinamakan batik “Anjuk Ladang” karena motif yang digunakan adalah Prasasti Anjuk Ladang. Batik motif Anjuk Ladang belum pernah mengalami pengembangan sejak pertama diciptakan.

Batik motif Anjuk Ladang perlu adanya pengembangan motif agar jangkauan pasarnya lebih luas, selain motif utama yang perlu mendapat pengembangan, motif tambahan pun perlu dirubah dengan bentuk-bentuk yang menjadi karakteristik kota Nganjuk agar semakin terlihat kalau batik Anjuk Ladang berasal dari Nganjuk. Ada banyak icon kota Nganjuk yang bisa dijadikan motif tambahan, diantaranya ada air terjun Sedudo, air merambat Roro Kuning, atau goa Margo Tresno. Atau bisa juga dengan menggunakan icon candi Lor, candi Ngetos, serta bawang merah. Pilihan lainnya bisa dengan menggunakan unsur angin dari nama julukan kota Nganjuk yaitu kota angin.

Batik Motif Anjuk Ladang

Di Nganjuk baru ada satu batik motif Anjuk Ladang. Motif utamanya menggunakan bentuk stilasi dari prasasti Anjuk Ladang yang merupakan tanda kemerdekaan kota Nganjuk. Untuk motif tambahan menggunakan bentuk stilasi dari  garuda dan stilasi prasasti Anjuk Ladang dalam ukuran kecil dan bentuknya berbeda dengan motif utama. Motif prasasti Anjuk Ladang disusun secara vertikal dengan motif  garuda, kemudian diulang secara horizontal dengan jeda motif prasasti kecil. Jarak antara tiap motif pun dibuat teratur. Untuk  ukuran motif utama prasasti Anjuk Ladang lebih kecil daripada motif tambahan garuda dan lebih besar dari motif tambahan prasasti kecil. Garis-garis pada tiap motif pada batik motif Anjuk ladang cenderung menggunakan garis lengkung. Hal lain yang menonjol dari batik motif Anjuk Ladang yaitu latarnya yang berkesan tiga dimensi dengan beberapa macam warna antara lain meliputi merah, biru, dan coklat. Isen-isen tidak hanya digunakan di dalam motif saja, tetapi juga digunakan pada tanahan. Isen pada tanahan berbentuk bunga dengan kombinasi warna merah dan kuning.

Setelah melakukan pengambilan data maka tahap selanjutnya adalah proses pembuatan desain motif batik yang baru. Desain motif yang baru dibuat tanpa meninggalkan pakem-pakem dari desain yang lama jadi tidak menghilangkan ciri khas dari motif yang lama yaitu motif Prasasti Anjuk Ladang. Ada 4 macam desain yang diterapkan pada 3 aplikasi, sebagai berikut.

Pada desain pertama konsep yang digunakan tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Agar terlihat tampil beda maka motif utama pada desain dibentuk menyerupai batik motif kawung dari Jogjakarta yang bagian tengahnya diberi motif bunga melati. Untuk pemberian nama batik, kata Anjuk Ladang dipakai lagi karena bentuknya merupakan stilasi dari prasasti Anjuk Ladang, kemudian kata Wilis dipakai karena motif tambahan menggunakan stilasi dari bantuk gunung Wilis. Sedangkan untuk kata kinasih berarti yang terkasih, kata tersebut bermakna tentang keharmonisan kota Nganjuk yang penuh kasih antar masyarakatnya.

Untuk motif tambahan digunakan bentuk segitiga dengan stilasi motif bawang merah di dalamnya. Segitiga melambangkan wujud dari gunung Wilis, satu-satunya gunung yang ada di kota Nganjuk. Bawang merah juga menjadi salah satu alasan yang membuat kota Nganjuk menjadi terkenal di kota lainnya. Motif tambahan yang lainnya yaitu stilasi dari Prasasti Anjuk Ladang yang lebih sederhana daripada bentuk motif utama yang juga sama-sama menggunakan bentuk Prasasti Anjuk Ladang. Setelah desain divalidasi oleh validator, ada beberapa saran yang diberikan untuk memperbaiki desain yaitu pinggiran motif pada sisi kanan dan kiri kain dibuat setengah bentuk agar bisa menyambung jika disatukan. Kemudian motif utama bagian atas diseimbangkan pola penyebarannya agar tidak terlihat berat sebelah. Desain motif batik Anjuk Ladang Wilis Kinasih tersebut dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut.

Untuk desain motif batik yang berikutnya diberi nama batik Anjuk Ladang Margo Tresno. Konsep yang digunakan pada desain tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk prasasti Anjuk Ladang. Motif utama pada desain ditempatkan secara diagonal di dalam sebuah lingkaran, kemudian  disusun secara horizontal ke arah kanan dengan ritme teratur baik proporsi maupun jarak antar motifnya. Untuk kata Anjuk Ladang pada nama desain batik diambil dari nama mootif utama yaitu prasasti Anjuk Ladang, kemudian kata Margo Tresno diambil dari nama goa Margo tresno yang bentuknya telah distilasi dan menjadi motif tambahan pada desain.

Untuk motif tambahan digunakan stilasi dari bentuk stalakmit dan stalaktit yang ada di goa Margo Tresno, goa tersebut adalah salah satu tempat pariwisata yang dimiliki kota Nganjuk. Selain itu juga digunakan motif tambahan stilasi dari bentuk bawang merah, bawang merah juga merupakan salah satu ikon kota Nganjuk yang cukup terkenal. Dalam desain ada dua stilasi bentuk bawang merah yang berbeda satu dengan lainnya. Setelah desain divalidasi oleh validator, disarankan untuk merubah arah susun motif utama menjadi berselingan menghadap kanan dan kiri. Kemudian untuk dua motif tambahan juga dirubah secara acak posisi hadapnya. Desain motif batik Anjuk Ladang Margo Tresno dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut. Desain motif yang ketiga diberi nama batik Semilir Anjuk Ladang.

Konsep yang digunakan tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Bagian bawah motif diberi bentuk stillasi dari wujud angin. Untuk motif tambahan dan motif pinggiran juga digunakan stilasi dari wujud angin. Terdapat banyak penggunaan macam isen-isen untuk mengisi bidang latar yang kosong yang telah diberi garis-garis batas. Nama Semilir Anjuk Ladang diambil dari kata Semilir yang identik dengan gerakan angin, sedangkan kata Anjuk Ladang merupakan nama prasasti yang digunakan untuk motif utama. Setelah desain divalidasi oleh validator, disarankan untuk merubah warna jingga menjadi warna biru agar terlihat lebih lembut dan juga merubah warna latar menjadi tiga macam warna yaitu merah muda, merah marun, dan ungu. Desain motif batik Semilir Anjuk Ladang dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut.  Desain motif batik yang terakhir diberi nama batik Anjuk Ladang Guyub Rukun.

Konsep yang digunakan tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Bagian bawah motif diberi beberapa bentuk lingkaran dan bentuk lonjong. Kemudian motif utama divariasi ukurannya menjadi besar dan kecil, lalu disusun bertumpukan dan berlawanan arah. Untuk mengisi bidang kain yang tidak terkena motif digunakan isen-isen cecek pyur. Nama desain diambil dari kata Anjuk Ladang yang merupakan nama prasasti yang dijadikan motif utama, kemudian kata Guyub Rukun melambangkan kerukunan dari seluruh lapisan masyarakat di kota Nganjuk yang digambarkan dengan banyak warna pada motif utama dan peletakkannya yang tumpang tindih tapi tetap harmonis.

Setelah mendapat beberpa perbaikan akhirnya Desain motif batik Anjuk Ladang Guyub Rukun dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut, tiga aplikasi desain motif batik diwujudkan menjadi produk yaitu, batik motif Anjuk Ladang Margo Tresno dalam wujud lembaran kain sepanjang 2 meter, batik motif Anjuk Ladang Wilis Kinasih dalam wujud blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu.

 

——————————————————————————-
Pengembangan Desain Motif Batik Anjuk Ladang Di Kota Nganjuk
Nuri Mardiana Eka Putri Rudianingsih, Fera Ratyaningrum
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Batik Situbondo, Ds. Selowogo Kec. Bungatan

Di Kabupaten Situbondo terdapat batik pesisiran yang dinamakan “ Batik Lente” yang menampilkan motif utama “ keranglaut ” . Motif kerang ini disinyalir muncul pada tahun 1994 dirancang dan dikerjakan oleh muda-mudi yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas  Harapan Desa Selowogo. Mereka melakukan pengembangan inovasi motif untuk membentuk atau membedakan desain motif batik Situbondo dengan motif batik pesisir di daerah lain. Yang akhirnya menghasilkan batik pesisiran yang cerah dan kontras, yang bisa memberi identitas tersendiri bagi batik pesisiran Situbondo ini.    Sentra kerajinan batik Situbondo ini terdapat di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan. Kerajinan batik Situbondo di Desa Selowogo banyak dipengaruhi oleh batik Madura karena masyarakatnya yang kebanyakan suku Madura. Pengrajin batik di Desa Selowogo memproduksi batik yang tergolong batik pesisiran. Motif batik pesisiran pada umumnya memiliki karakter motif hias yang lebih bersifat naturalis dan lebih kaya akan motif hias, serta kaya akan ragam pewarnaan. Demikian pula motif batik Situbondo yang ada di Desa Selowogo. Pengrajin yang memakai objek kerang sebagai motif utama. Motif kerang ini diberi latar warna gading (jingga atau warna mangga yang hampir masak), biru tua, hijau tua, cokelat tanah, hingga ungu.   Menilik keunikan motif batik Situbondo  yang belum didapati di daerah lain, maka batik ini sangat menarik untuk  diteliti. Selain untuk menginventaris kekayaan motif batik pesisiran di daerah Jawa Timur, penelitian ini juga akan mengungkapkan betapa kayanya alam budaya Indonesia.

Salah satunya keragaman jenis Batik di Indonesia yaitu batik Situbondo, Uraian ini, memaparkan INFO:, tentang batik Situbondo di Desa Selowogo, kecamatan Bungatan, kabupaten Situbondo.

  1. Peralatan yang digunkan dalam pembuatan batik Situbondo

Alat yang digunakan untuk membuat batik ada beberapa jenis. Masing-masing alat tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Adapun peralatan untuk membatik yang digunakan pengrajin batik di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo antara lain sebagai berikut.

  1. Canting Canting adalah alat pokok untuk membatik. Canting dipergunakan untuk melukiskan lilin malam pada kain dalam proses pembuatan motif batik. Canting yang digunakan pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah adalah canting yang berukuran medium atau canting klowong dan menggunakan satu jenis canting saja untuk memudahkan dalam proses pembatikan.
  2. Wajan Wajan merupakan perkakas yang digunakan bersama kompor untuk mencairkan lilin malam. Wajan yang digunakan oleh pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah wajan yang berukuran kecil atau wajan mini untuk memudahkan saat dipindah-pindah.
  3. Kompor Kompor yang digunakan oleh pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah kompor yang berukuran mini karena menyesuaikan dengan ukuran wajan yang digunakan.
  4. Gunting Gunting adalah alat yang digunakan untuk tahap persiapan yang berfungsi untuk memotong kain yang akan dibatik. Gunting yang digunakan oleh pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah gunting berukuran medium dengan panjang 17cm.
  5. Kuas Kuas adalah alat yang digunakan dalam pewarnaan colet maupun keseluruhan kain (ngeblok) . Kuas yang digunakan oleh pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah kuas dengan ukuran 14, 12, 6, dan 3. Kuas yang berukuran besar digunakan untuk mewarnai bidang yang besar sedangkan kuas yang berukuran kecil digunakan untuk mewarnai bidang kecil atau bidal detail.
  6. Pensil Pen sil adalah alat untuk membuat desain dasar pada kain agar pembatik lebih mudah dalam membuat motif dan pola pada saat pencantingan malam (lilin). Jenis pensil yang digunakan adalah pesil 2B.
  7. Tong Di dalam proses pelorodan peralatan yang dibutuhkan diantaranya adalah tong. Tong berguna sebagai wadah kain dalam proses pelepasan lilin malam pada kain dengan cara mencelupkan kedalam air mendidih.
  8. Bak Besar Fungsi dari bak besar yaitu sebagai wadah air untuk membilas kain setelah proses pelorodan maupun tempat untuk air campuran kanji. Bak yang digunakan berukuran 110 cm x 150 cm.

Bahan yang Digunakan dalam Pembuatan Batik Situbondo

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, bahan-bahan yag digunakan dalam proses membatik di desa Selowogo, kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo antara lain:

  1. Kain Jenis kain yang sering dipakai oleh pengrajin batik Situbondo yaitu jenis katun Primisima dan untuk batik agak kasar menggunakan jenis katun Prima.
  2. Malam Pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah malam yang sudah jadi atau malam siap pakai.
  3. Pewarna Warna kimia yang dipakai oleh perajin batik di Desa Selowogo, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo adalah Remazol dan Naphtol .
  4. Soda Abu (Soda Ash) Soda abu yang berupa puder berwarna putih berfungsi untuk campuran pada waktu proses pencucian kain sebelum dibatik dengan tujuan untuk menghaluskan kain supaya mudah dibatik.
  5. Water Glass Waterglass berupa cairan yang bersifat kental dan lengket. Digunakan sebagai bahan bantu dalam proses pelorodan atau melepas lilin pada kain dalam air mendidih dan untuk mematikan warna sehingga tidak mudah luntur dan tahan lama.

Proses Pembuatan Batik Situbondo

  1. Pengetelan Pengetelan adalah proses untuk menghilangkan kanji pada kain yang berasal dari pabrik. Proses ini dilakukan dengan cara perendaman kain dengan menggunakan soda ash dan air secukupnya.
  2. Mendesain motif pada kain Pada tahap ini, yang pertama adalah membuat membuat motif di atas kain menggunakan pensil untuk mempermudah proses pencantingan.
  3. Pencantingan Pencantingan pertama pada kain yang dilakukan perajin batik Situbondo di Desa Selowogo Kecamatan Bungatan Kabupaten Situbondo sering disebut “Ngrengreng” . Yang pertama dilakukan adalah “Nglowong” yaitu membuat out line garis paling tepi pada pola. Canting yang digunakan adalah canting berukuran medium dan hanya menggunakan satu jenis canting saja. Setelah melakukan pencantingan klowong maka selanjutnya adalah memberi isen – isen pada pola yang sudah di klowong. Memberi isen – isen adalah memberi isian pada pola yang berupa titiktitik, garis, lingkaran ataupun dengan bentuk-bentuk lain. Isen – isen ini dimaksudkan agar pola kelihatan luwes tidak kosong atau polos. Dan yang terakhir adalah Nembok . Nembok  adalah proses menutupi bagianbagian yang tidak boleh terkena warna dasar. Nembok juga dilakukan pada sisi muka maupun belakang agar warna tidak mudah tembus ke warna dasar.
  4. Pewarnaan Proses pewarnaan batik Situbondo di desa Selowogo kecamatan Bungatan kabupaten Situbondo jika diamatai sangatlah sederhana. Perajin batik menggunakan pewarna remazol atau Napht ol . Proses pewarnaan dengan teknik coletan adalah proses pewarnaan dengan menggunakan lebih dari satu warna menggunakan kuas dalam proses pewarnaannya. Kuas  yang digunakan oleh pengrajin batik Situbondo di Desa Selowogo adalah kuas dengan ukuran 14, 12, 6, dan 3. Kuas yang berukuran besar digunakan untuk mewarnai bidang yang besar sedangkan kuas yang berukuran kecil digunakan untuk mewarnai bidang kecil atau bidang detail.
  5. Proses Pelorodan malam (menghilangkan lilin) Proses terakhir dalam pembuatan batik adalah proses menghilangkan lilin atau malam . Menghilangkan malam secara keseluruhan ini dengan cara kain dimasukkan ke dalam air panas. Agar warna batik tidak mudah luntur biasanya kain batik yang sudah diwarna dicuci terlebih dahulu menggunakan water glass . Untuk mempermudah pelepasan malam , sebelum dimasukkan kedalam kedalam air panas dicuci atau dibasahi dahulu dengan air larutan kanji. Di dalam air panas kain batik sambil diangkat-angkat untuk mempercepat pelepasan malam dari kain. Kain setelah dilorod dicuci dengan air bersih sambil digosok dengan tangan untuk menghilangkan sisa malam yang masih menempel. Kain yang sudah bersih setelah proses pelorodan dijemur ditempat yang teduh, yang tidak terkena matahari secara langsung  agar kain batik warnanya tidak mudah menjadi kusam.

Beberapa ragam corak motif yang teradapat pada batik Situbondo di Desa Selowogo Kecamatan Bungatan Kabupaten Situbondo.

  1. Motif Tale Percing Motif  batik Tale Percing dalam bahasa yang dimaksud adalah hiasan korden yang dibuat menggunakan kerangkerangan yang diikat menggunakan benang. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama tale percing . Motif ini di kelompokkan  dalam  motif fauna (hewan) . Degan motif utama berupa stilasi kerangkerangan dan motif pendukung stilasi bunga. Motif ini mengunakan isen titik yang terdapat dalam motif pendukung namun motif ini memiliki banyak ruang kosong karena tidak banyak menggunakan isen untuk menutup bidang-bidang kosong. Situbondo adalah kota yang masyarakatnya beraneka ragam agama, suku, dan bahasa. Warga Situbondo memang didominasi oleh keturunan Madura jadi bahasa Madura menjadi bahasa sehari hari di Kabupaten Situbondo, namun banyak warganya yang keturunan dari daerah lain bahkan dari keturunan Cina dan Arab. Dengan berbagai perbedaan yang mejadi satu kesatuan maka motif ini dibuat agar dari perbedaan itu ada pengikat menjadi satu kesatuan yang harmonis sehingga muncullah motif tale percing . Motif tale percing dibuat agar masyarakat Situbondo agar lebih memiliki sikap saling menghargai satu sama lain dan memiliki sikap toleransi dalam bermasyarakat.
  1. Motif Kerang Gempel Kerang gempel dalam bahasa Madura adalah kerang pecah. Motif ini termasuk corak nongeometris yang merupakan pola dengan  susunan tidak terukur. Motif ini memiliki motif utama kerang besar yang digambar retak (tak sempurna) dan  kerang kecil tiga buah serta bunga. Pada motif ini terdapat motif pendukung berupa stilasi bunga. Motif ini menggunakan isen titik.    Motif ini mengandung makna dan filosofi bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, yang artinya tidak satupun di dunia ini yang sempurna, tentunya kecuali Tuhan yang maha sempurna. Memang demikian setiap orang pasti pernah berbuat salah tanpa terkecuali.
  2. Motif Lerkeleran Lerkeleran dalam bahasa Madura adalah berjalan dengan tertib. Motif ini termasuk corak non geometris yang merupakan pola dengan  susunan tidak terukur dan tergolong dalam kelompok corak fauna (hewan) . Motif lerkeleran ini memiliki motif yang hampir sama dengan motif yang lain yaitu kerang kerangan, yaitu terdiri dari satu kerang berukuran besar dan sebelas kerang berukuran kecil, serta terdapat motif pendukung berupa kerangkerang lainnya. Motif ini memiliki makna pesan moral  budaya tertib. Karena dalam kehidupan sehari-hari masusia tidak lepas dari kata tertib,  karena hal ini merupakan suatu dasar agar suatu manusia mendapatkan kesuksesan dalam hidup ataupun karir. Motif Lerkeleran ini bertujuan agar masyarakat Situbondo miliki kebudayaan antri dan lebih disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Motif Kerang Bertopeng Motif  ini hampir sama dengan motif lain yang tergolong corak fauna (hewan) dan tergolong corak non geometris.  Motif  ini terdapat motif utama berupa hasil dari stilasi dari kerang -kerangan dan memilki motif  pendukung berupa stilasi bunga dengan isen titik-titik.  Mengandung makna dan filosofi kejujuran. Dalam kehidupan, kejujuran merupakan sikap positif manusia. Kejujuran adalah pangkal dari kebaikan, jadi apabila  kita selalu berkata jujur maka kebaikan akan hadir dalam kehidupan kita. Sikap inilah yang ingin dituangkan dalam sebuah motif kerang bertopeng ini. Agar makna dari motif ini dapat menginspirasi masyarakat Situbondo untuk mengambil  makna positif dalam motif ini.
  2. Motif Malate Sato‟or Malate sato‟o r dalam bahasa madura adalah seikat melati. Motif ini memiliki motif utama yaitu stilasi bunga melati  yang tergolong corak flora (tumbuhan) . namun terdapat juga motif pendukung yaitu kerang-kerangan yang menjadi ikon batik situbondo, ditambah dengan isen titik-titik.   Dalam filosofinya bunga melati adalah lambang kesucian atau kebaikan. Bunga melati mengajarkan bahwasanya manusia janganlah besifat sombong dan angkuh. Bahwasanya bunga melati tidak perlu mengatakan bagaimana wangi dirinya karena semua orang akan mengetahui wangi dari bunga melati dengan sendirinya. Begitupun manusia dalam berbuat kebaikan tidak perlu memamerkan bahkan menyombongkan diri, bahwasanya kebaikan yang diperbuat, akan terungkap dengan sendirinya dan yang terpenting bahwa Tuhan akan selalu memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik.
  3. Motif Baluran Menunggu  Motif ini merupakan motif yang sangat sulit dalam proses pengerjaannya karena memiliki motif yang cukup rumit. Motif Baluran menunggu ini memiliki motif utama yang tergolong corak fauna yaitu hewan khas yang ada di hutan Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo, yaitu banteng , burung merak dan rusa. Pada motif ini juga terdapat motif pendukung yaitu motif hasil stilasi dari bunga, daundaun dan rumput. Motif ini sebagai tanda untuk membawa Kabupaten Situbondo lebih baik lagi di sektor pariwisata serta lebih baik lagi dalam menjaga aset daerah di taman nasional, bahari dan sebagainya.
  4. Motif Sonar Bulen Motif sonar bulen dalam bahasa Madura adalah cahaya bulan. Motif ini memiliki motif utama yaitu stilasi dari bulan sabit di atas lautan. Serta terdapat isen berupa titik-titik dan garis bergelombang tak beraturan. Bulan sebagai simbol kecantikan dan keindahan. Ibarat wanita biasanya kecantikannya di ibaratkan seperti cahaya bulan. Serta cahaya yang memiliki sifat menerangi dan memberikan jalan yang benar dan terang dalam  kehidupan seharihari. Motif ini bermakna bahwa keindahan dan kecantikan harus juga di ikuti dengan perilaku yang baik dan memberikan hal yang positif bagi makhluk sekitarnya.
  5. Motif Sonar Are Sonarare dalam bahasa Madura adalah cahaya matahari. Motif ini hampir mirip dengan motif sonar bulen . Motif ini memiliki motif utama yaitu stilasi dari matahari, daun dan laut. Dan terdapat isen berupa titik dan garis bergelombang tak beraturan Motif ini memiliki makna keikhlasan. Semua makhluk di bumi membutuhkan sinar matahari. Manusia, tumbuhan, dan hewan membutuhkan matahari, dan matahari secara ikhlas memberi cahaya nya tanpa meminta imbalan dari makhluk yang membutuhkannya. Motif ini bermakna agar kita mau seperti matahari, membantu sesama tanpa rasa pamrih. Dan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan.
  6. Motif Jaring Samudra Motif ini hampir sama dengan motif batik Situbondo kebanyakan yaitu motif utama stilasi dari kerang dan dua daun.  Serta memiliki isen berupa garis dan titik.  Motif jaring jaring samudra memiliki makna dan filosofi sebagai penghargaan untuk masyarakat Kabupaten Situbondo yang berprofesi sebagai nelayan. Selain itu motif ini mengandung makna kemakmuran.
  7. Motif gelang bahari Motif gelang bahari hampir sama dengan jaring samudra. Yang membedakan motif ini hanya motif utama dan warna. Motif ini adalah hasil stilasi dari kerang, daun, dan bunga dengan isen titiktitik dan garis. Motif ini mencerminkan kegotong royongan masyarakat nelayan. Bahwasanya para nelayan mencari ikan ke laut untuk mencari nafkah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Motif ini memiliki makna yaitu dengan bersamasama hal apapun akan menjadi mudah, dan dalam hehidupan hendaknya kita manusia harus saling tolong menolong terhadap sesama. Agar hidup kita lebih bermakna hari ini dan nanti.

Makna filosofi dari ragam motif batik Situbondo di Desa Selowogo Kecamatan Bungatan Kabupaten Situbondo, banyak berisi pesan moral yang banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan normanorma tradisi yang banyak dianut oleh masyarakat Situbondo. Hal tersebut divisualisasikan melalui simbol-simbol visual yang  berkaitan dengan kekayaan flora, fauna dan biota laut yang menjadi sumber  kehidupan masyarakat Situbondo yang berada di daerah pesisir timur pulau Jawa, yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani.

————————————————————————————————————————–Batik Situbondo Di Desa Selowogo Kecamatan Bungatan Kabupaten Situbondo./ Rochman Kifrizyah, Drs. Agus Sudarmawan, M.Pd, Ni Nyoman Sri Witari, S.Sn, M.Ds
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali
Nara Sumber: Bapak Jasmiko tgl 10 / 13 – 4 – 2013