Pengembangan Desain Motif Batik Anjuk Ladang, Nganjuk

Batik adalah salah satu jenis kain yang sudah banyak dikenal di Indonesia, dimasa lampau, batik hanya dipakai oleh golongan ningrat keraton, tidak semua orang boleh mengenakan batik, utamanya pada motif-motif tertentu. Namun pada perkembangannya, batik telah menjadi salah satu “pakaian nasional” Indonesia.

Seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur memiliki batik dengan ciri khas masing-masing, kabupaten Tuban memiliki batik gedog, Banyuwangi batik Gajah Oling-nya, Probolinggo batik Mangur-nya, hingga Surabaya dengan batik Mangroew-nya. Tidak ketinggalan Nganjuk juga mengembangkan batik khas daerahnya sendiri,  dinamakan batik “Anjuk Ladang” karena motif yang digunakan adalah Prasasti Anjuk Ladang. Batik motif Anjuk Ladang belum pernah mengalami pengembangan sejak pertama diciptakan.

Batik motif Anjuk Ladang perlu adanya pengembangan motif agar jangkauan pasarnya lebih luas, selain motif utama yang perlu mendapat pengembangan, motif tambahan pun perlu dirubah dengan bentuk-bentuk yang menjadi karakteristik kota Nganjuk agar semakin terlihat kalau batik Anjuk Ladang berasal dari Nganjuk. Ada banyak icon kota Nganjuk yang bisa dijadikan motif tambahan, diantaranya ada air terjun Sedudo, air merambat Roro Kuning, atau goa Margo Tresno. Atau bisa juga dengan menggunakan icon candi Lor, candi Ngetos, serta bawang merah. Pilihan lainnya bisa dengan menggunakan unsur angin dari nama julukan kota Nganjuk yaitu kota angin.

Batik Motif Anjuk Ladang

Di Nganjuk baru ada satu batik motif Anjuk Ladang. Motif utamanya menggunakan bentuk stilasi dari prasasti Anjuk Ladang yang merupakan tanda kemerdekaan kota Nganjuk. Untuk motif tambahan menggunakan bentuk stilasi dari  garuda dan stilasi prasasti Anjuk Ladang dalam ukuran kecil dan bentuknya berbeda dengan motif utama. Motif prasasti Anjuk Ladang disusun secara vertikal dengan motif  garuda, kemudian diulang secara horizontal dengan jeda motif prasasti kecil. Jarak antara tiap motif pun dibuat teratur. Untuk  ukuran motif utama prasasti Anjuk Ladang lebih kecil daripada motif tambahan garuda dan lebih besar dari motif tambahan prasasti kecil. Garis-garis pada tiap motif pada batik motif Anjuk ladang cenderung menggunakan garis lengkung. Hal lain yang menonjol dari batik motif Anjuk Ladang yaitu latarnya yang berkesan tiga dimensi dengan beberapa macam warna antara lain meliputi merah, biru, dan coklat. Isen-isen tidak hanya digunakan di dalam motif saja, tetapi juga digunakan pada tanahan. Isen pada tanahan berbentuk bunga dengan kombinasi warna merah dan kuning.

Setelah melakukan pengambilan data maka tahap selanjutnya adalah proses pembuatan desain motif batik yang baru. Desain motif yang baru dibuat tanpa meninggalkan pakem-pakem dari desain yang lama jadi tidak menghilangkan ciri khas dari motif yang lama yaitu motif Prasasti Anjuk Ladang. Ada 4 macam desain yang diterapkan pada 3 aplikasi, sebagai berikut.

Pada desain pertama konsep yang digunakan tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Agar terlihat tampil beda maka motif utama pada desain dibentuk menyerupai batik motif kawung dari Jogjakarta yang bagian tengahnya diberi motif bunga melati. Untuk pemberian nama batik, kata Anjuk Ladang dipakai lagi karena bentuknya merupakan stilasi dari prasasti Anjuk Ladang, kemudian kata Wilis dipakai karena motif tambahan menggunakan stilasi dari bantuk gunung Wilis. Sedangkan untuk kata kinasih berarti yang terkasih, kata tersebut bermakna tentang keharmonisan kota Nganjuk yang penuh kasih antar masyarakatnya.

Untuk motif tambahan digunakan bentuk segitiga dengan stilasi motif bawang merah di dalamnya. Segitiga melambangkan wujud dari gunung Wilis, satu-satunya gunung yang ada di kota Nganjuk. Bawang merah juga menjadi salah satu alasan yang membuat kota Nganjuk menjadi terkenal di kota lainnya. Motif tambahan yang lainnya yaitu stilasi dari Prasasti Anjuk Ladang yang lebih sederhana daripada bentuk motif utama yang juga sama-sama menggunakan bentuk Prasasti Anjuk Ladang. Setelah desain divalidasi oleh validator, ada beberapa saran yang diberikan untuk memperbaiki desain yaitu pinggiran motif pada sisi kanan dan kiri kain dibuat setengah bentuk agar bisa menyambung jika disatukan. Kemudian motif utama bagian atas diseimbangkan pola penyebarannya agar tidak terlihat berat sebelah. Desain motif batik Anjuk Ladang Wilis Kinasih tersebut dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut.

Untuk desain motif batik yang berikutnya diberi nama batik Anjuk Ladang Margo Tresno. Konsep yang digunakan pada desain tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk prasasti Anjuk Ladang. Motif utama pada desain ditempatkan secara diagonal di dalam sebuah lingkaran, kemudian  disusun secara horizontal ke arah kanan dengan ritme teratur baik proporsi maupun jarak antar motifnya. Untuk kata Anjuk Ladang pada nama desain batik diambil dari nama mootif utama yaitu prasasti Anjuk Ladang, kemudian kata Margo Tresno diambil dari nama goa Margo tresno yang bentuknya telah distilasi dan menjadi motif tambahan pada desain.

Untuk motif tambahan digunakan stilasi dari bentuk stalakmit dan stalaktit yang ada di goa Margo Tresno, goa tersebut adalah salah satu tempat pariwisata yang dimiliki kota Nganjuk. Selain itu juga digunakan motif tambahan stilasi dari bentuk bawang merah, bawang merah juga merupakan salah satu ikon kota Nganjuk yang cukup terkenal. Dalam desain ada dua stilasi bentuk bawang merah yang berbeda satu dengan lainnya. Setelah desain divalidasi oleh validator, disarankan untuk merubah arah susun motif utama menjadi berselingan menghadap kanan dan kiri. Kemudian untuk dua motif tambahan juga dirubah secara acak posisi hadapnya. Desain motif batik Anjuk Ladang Margo Tresno dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut. Desain motif yang ketiga diberi nama batik Semilir Anjuk Ladang.

Konsep yang digunakan tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Bagian bawah motif diberi bentuk stillasi dari wujud angin. Untuk motif tambahan dan motif pinggiran juga digunakan stilasi dari wujud angin. Terdapat banyak penggunaan macam isen-isen untuk mengisi bidang latar yang kosong yang telah diberi garis-garis batas. Nama Semilir Anjuk Ladang diambil dari kata Semilir yang identik dengan gerakan angin, sedangkan kata Anjuk Ladang merupakan nama prasasti yang digunakan untuk motif utama. Setelah desain divalidasi oleh validator, disarankan untuk merubah warna jingga menjadi warna biru agar terlihat lebih lembut dan juga merubah warna latar menjadi tiga macam warna yaitu merah muda, merah marun, dan ungu. Desain motif batik Semilir Anjuk Ladang dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut.  Desain motif batik yang terakhir diberi nama batik Anjuk Ladang Guyub Rukun.

Konsep yang digunakan tetap tidak menghilangkan karakteristik dari batik motif Anjuk Ladang yang asli yaitu motif utamanya yang berbentuk Prasasti Anjuk Ladang. Bagian bawah motif diberi beberapa bentuk lingkaran dan bentuk lonjong. Kemudian motif utama divariasi ukurannya menjadi besar dan kecil, lalu disusun bertumpukan dan berlawanan arah. Untuk mengisi bidang kain yang tidak terkena motif digunakan isen-isen cecek pyur. Nama desain diambil dari kata Anjuk Ladang yang merupakan nama prasasti yang dijadikan motif utama, kemudian kata Guyub Rukun melambangkan kerukunan dari seluruh lapisan masyarakat di kota Nganjuk yang digambarkan dengan banyak warna pada motif utama dan peletakkannya yang tumpang tindih tapi tetap harmonis.

Setelah mendapat beberpa perbaikan akhirnya Desain motif batik Anjuk Ladang Guyub Rukun dapat diaplikasikan ke dalam bentuk blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu  seperti berikut, tiga aplikasi desain motif batik diwujudkan menjadi produk yaitu, batik motif Anjuk Ladang Margo Tresno dalam wujud lembaran kain sepanjang 2 meter, batik motif Anjuk Ladang Wilis Kinasih dalam wujud blazer serta sarung bantal dan taplak meja ruang tamu.

 

——————————————————————————-
Pengembangan Desain Motif Batik Anjuk Ladang Di Kota Nganjuk
Nuri Mardiana Eka Putri Rudianingsih, Fera Ratyaningrum
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Sego Becek, Nganjuk

nasi_becek_2Sego Becek (nasi becek) merupakan makanan tradisional dari Nganjuk, Jawa Timur, sego Becek khas Nganjuk, sebenarnya sudah lama menjadi buah bibir masyarakat sejak dulu. Bila di amati dari jenis masakan, bumbu dan bahannya makanan satu ini merupakan makanan jenis kare kambing atau gulai kambing. Walaupun hampir mirip dengan gulai kambing, namun Sego Becek ini memiliki cita rasa dan penyajian yang berbeda.

Penyajian

Keistimewaan kuliner khas nganjuk ini pada tampilannya, sego becek ini biasanya disajikan dengan nasi hangat dan di atasnya disertakan ragam trancam (semacam lalapan) yang terdiri dari irisan kobis, kecambah dan seledri, biasanya diletakkan di atas nasi. Juga disertakan beberapa tusuk daging yang sudah disate dicampurkan ke piring.

Baru setelahnya, bumbu kacang dan sambel kemiri dimasukkan. Terakhir kuah becek dituangkan dalam keadaan panas, tak hanya kuah tapi juga jeroan kambing seperti gajih (lemak) dan balungan (tulang belulang). Untuk sate kambing biasanya disajikan secara terpisah atau disajikan langsung di atas Sego Becek.

Cita Rasa Nasi Becek

Sego Becek ini memiliki cita rasa yang sangat khas, karena kuahnya menggunakan banyak jenis bumbu, seperti sere, lada, pala, kapulaga termasuk bawang merah dan putih. Belum lagi emponempon (rempahrempah) seperti kencur, jinten dan semua jenis bumbu dimasukkan menjadi satu. sehingga kuah memiliki rasa yang pas dan tidak terlalu menyengat. Isian daging pada kuah tersebut juga terasa empuk sehingga tidak terlalu susah untuk menyantapnya.

Selain itu, salah satu ciri khas dari Nasi Becek ini adalah perpaduan rasa kuah dan sate kambingnya. Sebelum tersaji Sate kambing ini sudah terlebih dahulu dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah. Sehingga bila dibandingkan dengan kuah Sego Beceknya akan menjadi dua rasa yang berbeda dan bila keduanya dipadukan akan menjadi satu rasa yang sangat khas. Sate kambing tak hanya sekedar pelengkap. Kelezatan sate kambing yang sudah dibumbui dengan bumbu kacang, kecap dan irisan bawang merah terasa berbeda.

Tempat Kuliner Nasi Becek

Bagi anda yang berkunjung ke Kota Nganjuk, Jawa Timur, tentu kurang lengkap bila belum menikmati makanan satu ini. Sego Becek ini merupakan salah satu makanan tradisional yang cukup terkenal di sana. Tempat penjualan kuliner Sego Becek ini tersebar di wilayah Nganjuk sehingga mudah di jumpai.

Pengolahan Nasi Becek

Proses pengolahan nasi becek, kuah Nasi Becek ini diolah dengan bumbu yang cukup lengkap mulai dari bumbu yang dihaluskan hingga bumbu rempah, sehingga cita rasa bumbunya sangat terasa di lidah kita saat menyantapnya. Selain itu ditambahkan dengan potongan daging kambing dan jeroan tentu membuat Sego Becek ini semakin nikmat.

 

nasi_becek_3Resep Nasi Becek Khas Nganjuk Lezat

Bahan :
• 500 gr daging kambing, atau boleh dicampur jeroan kambing, potong dadu
• 500 ml santan encer
• 3 sdm minyak, untuk menumis
• 1 btg serai, memarkan
• 3 lbr daun jeruk
• 1 btg kayu manis (sekitar 3 cm), panggang
• 300 ml santan kental

Bumbu halus :
• 1 sdt garam
• 1 sdt gula pasir
• 5 btr bawang merah
• 3 siung bawang putih
• 5 btr kemiri, sangrai
• 1 sdt ketumbar, sangrai
• 1 sdt merica
• 1 ruas jari jahe, bakar
• 1 ruas jari kunyit, bakar
• 1 ruas jari kencur, panggang
• 1 ruas jari lengkuas
• 5 lbr daun jeruk

Pelengkap :
• 2 sdm sambal cabai rawit
• 2 sdm irisan kucai
• 6 lbr kol, iris halus
• 100 gr tauge pendek
• 30 tusuk sate kambing bumbu kacang, siap saji
• 1 bh jeruk nipis
• 600 gr nasi putih

Cara membuat :

  1. Rebus daging dan jeroan kambing dengan santan encer hingga matang dan lunak.
  2. Tumis bumbu halus bersama serai, daun jeruk, dan kayu manis hingga harum. Masukkan ke dalam air rebusan, aduk.
  3. Masak dengan api sedang hingga bumbu meresap. Tambahkan santan kental, masak kembali sambil diaduk hingga mendidih kembali dan matang.
  4. Angkat.

Saran penyajian :
Taruh nasi di dalam mangkuk, tambahkan kol, tauge, daun kucai, dan sate kambing, siram dengan kuah beserta potongan daging dan jeroan. Tambah air jeruk dan sambal rawit. sajikan selagi panas.

Demikian pengenalan tentang “Sego Becek Makanan Tradisional Dari Nganjuk, Jawa Timur”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kuliner tradisional Indonesia. Selamat mencoba resep dirumah Sego Becek khas nganjuk lezat ini.

—————————————————————————————Dian K, Pustakawan; Pusaka Jawatimuran Team

Panut Darmoko

panutPanut Darmoko lahir di Nganjuk, 10 September 1931. Pendidikan formal yang pernah dikenyam Konservatori Solo (kini Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Pendidikan informal, di antaranya kursus pedalangan HBS Solo dan Pamarsudi Putri Solo.

Pensiunan guru SPG Negeri Nganjuk (1990) ini lebih dikenal sebagai dalang wayang purwo gaya Surakarta, Pimpinan Paguyuban Karawitan dan Kursus Pedalangan Larasmaya, Sekretaris PEPADI Pusat. Pada tahun 1980 memperoleh hadian seni dari Presiden Suharto. Pernah mendalang di Tokyo, Washington, New York, London, Paris, Pert, Canbera, Sidney, dan Adelaide.

Pada tahun 1966 mendalang di Istana Bogor, dan 3 kali men­dalang di Istana Merdeka. Pada tahun 1984 menunaikan ibadah haji. Perkawinannya dengan Sulasmi, dikaruniai 5 orang anak. Bersama keluarga tinggal di Jl. Sikatan 1/5 Nganjuk-64417.

Nama Ki H. Ahmad Panut Sosro Darmoko, bagi masyarakat pecinta wa­yang kulit di Jawa Timur dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang asing. Dalang kon- dang gaya Surakarta ini selalu menjadi panutan bagi dalang-dalang lain di Jawa Timur.

Penampilannya yang kalem, andhap-asor, dan selalu santun kepada siapa sajayang menjadi lawan bicaranya; menandai dirinya sebagai budayawan dan seniman yang teduh. Dalam hidupnya ia telah mencapai kesempumaan lahir dan batin.

Menanggapi perkembangan wayang kulit pada era globalisasi informasi sekarang ini, Ki Panut Darmoko mengibaratkan perang. Kalaupun diumpamakan manusia, ya seperti sesak napas, Di tengah-tengah perubahan sosial-budaya sekarang ini, orang mempunyai banyak alternatif, apa yang akan ditanggap. Berbeda dengan zaman dulu tidak ada tanggapan band, ndangndut, rock, vidio, dan yang lain. Orang hanya bisa memilih antara tayuban dan wayang kulit.

“Pagelaran jangan seadanya. Perlu adanya rekayasa agar menjadi tontonan yang menarik. Yang tidak kalah dengan seni-seni modern. Namun perlu diingat, bahwa wayang kulit selain sebagai ton­tonan sekaligus sebagai tatanan dan tun- tunan. Itulah sebabnya yang perlu direkayasa hanya sebatas sebagai tontonan. Sedangkan sebagai tatanan dan tuntunan harus tetap diagungkan dan dilestarikan, tidak dapat diuthakathik,” tuturnya ketika dimintai tanggapan tentang pergelaran wayang kulit. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 19  (CB-D13/1996-…)

Dr. Sutomo

Dr. SoetomoSuatu hari di akhir tahun 1907 dokter pensiunan Wahidin Sudirohusodo singgah di Jakarta, beliau sedang melakukan perjalanan ke berbagai daerah dalam rangka mempropagandakan gagasannya tentang pembentukan sebuah badan yang akan menyediakan bea siswa untuk anak-anak Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya.

Gagasan Wahidin itu sudah tersebar agak luas, juga di kalangan pelajar STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen). Dua orang di antara para pelajar itu mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Wahidin.

Mereka sangat tertarik mendengar cita-cita Wahidin, salah seorang di antara pelajar itu mengatakan kepada Wa¬hidin, ”Punika satunggiling pedamelan sae sarta nelakaken budi utama” (itu suatu perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).Pelajar STOVIA yang mengucapkan kata-kata itu adalah Sutomo yang kemudian terkenal dengan nama dokter Sutomo. la lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur.

Waktu lahir beliau diberi nama Subroto. Pergantian namanya menjadi Sutomo mempunyai sejarahnya sendiri.Ayahnya R. Suwaji bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemu¬dian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun. Anaknya tersebut disekolahkan pada Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS = Europeesche Lagere School) Anak itu ikut pada pamannya, Harjodipuro. Putera pamannya, Sahit, berhasil masuk ELS, tetapi Subroto tidak diterima. Pamannya tidak putus asa, esok harinya keponakannya yang ditolak masuk ELS itu dibawanya lagi ke sekolah itu. Tidak dengan nama Subroto, tetapi diganti nama men¬jadi Sutomo. Dengan nama itu beliau diterima di ELS. Setelah tamat pada ELS, beliau mengikuti keinginan ayahnya melanjutkan ke STOVIA.Di STOVIA pada mulanya beliau tidak begitu memperhatikan pelajarannya. Kesenangannya ialah menonton dan makan enak bersama teman-temannya. Barulah pada tahun ketiga sikapnya berubah dan beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh. Beliau lulus dari STOVIA pada tahun 1911.Tetapi sebelum itu, Sutomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya. Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Sutomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo”. Sutomo dipilih sebagai ketuanya. Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia. Hari lahirnya, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Budi Utomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Budi Utomo tidak lahir begitu saja dan Sutomo tidak bekerja seorang diri. Bersama Sutomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Sutomo menemui dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuaya menjadi dokter. Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi. Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Sutomo lah yang banyak berbicara.
Berdirinya Budi Utomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahi¬din . Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin. Budi Utomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura. Di bidang pendidikan Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Sutomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golo¬ngan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Sutomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Budi Utomo. Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Budi Utomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran. Dalam tahun 1911 Sutomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter. Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan). Dalam tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Negeri Belanda. ke¬mudian di Jerman Barat dan Austria.
Sewaktu di Negeri Belanda Sutomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Beliaupun pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Sekembalinya dari Negeri Belanda, Sutomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Budi Utomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut. Tetapi perhatiannya terhadap perkembangan masyarakat tidak pernah surut. Hanya;cara yang ditempuhnya sekarang berbeda. Beliau bermaksud menghimpun golongan terpelajar dan bersama-sama dengan mereka melakukan usaha-usaha yang berguna bagi ma¬syarakat. Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924 Sutomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belan¬da, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Sutomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis. la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial. Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, dr. Sutomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota. la berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah dr. Sutomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, dr. Sutomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh dr. Sutomo. Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh dr. Sutomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur. Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdiri¬nya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu. Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain. Di bi¬dang pengajaran: merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bi¬dang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lam-lain, menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat). Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indo¬nesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927. Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, dr. Sutomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata. Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI. Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres. Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk dr. Sutomo. Kesempatan itu oleh dr. Sutomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajagan kepada ”Budi Utomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Fusi Budi Utomo-Persatuan Bangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra). Dokter Sutomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan dr. Sutomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan. M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Sutomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia. Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Sutomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat. Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur. Karena persahabatan itu Sutomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya. Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Claket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang. Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Sutomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia. Musibah itu dirasakan berat oleh dr. Sutomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya ”Kenang-kenangan”. Empat tahun kemudian, Sutomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan jiwa¬nya tidak tertolong. Pada tanggal 30 Mei 1938 pukul 16.15 dr. Sutomo pu¬lang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan Surabaya, atas permintaannya sendiri.
Seorang yang berjiwa besar dan banyak sekali jasanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia serta prikemanusiaan, dr. Sutomo telah pergi untuk selama-lamanya.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Sutomo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961 dr. Suto¬mo dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1536

Asal Nama Nganjuk

anjuk ladangMenurut cerita rakyat yang masih hidup dikalangan penduduk setempat. bahwa desa tempat didirikannya Candi Lor dahulu bernama Desa Nganjuk, yang berasal dari kata “ANJUK”. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa tersebut diubah namanya menjadi “Tanggungan”. Tanggungan berasal dari kata “Ketanggungan” (Jawa : mertanggung). Istilah ini mengandung makna, bahwa nama Nganjuk tanggung untuk digunakan sebagai nama dari desa tersebut karena sudah digunakan nama bagi daerah yang lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut Nganjuk.

Mengenai arti dan makna dari kata : Anjuk Ladang, Prof Dr. J.G. de Casparis menjelaskan sebagai berikut :

Anjuk : berarti tinggi, tempat yang tinggi atau dalam arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang. Ladang : berarti tanah atau daratan.

Dari latar belakang sejarah dapat diinterpretasikan bahwa Nganjuk dahulu diambil dari nama sebuah tempat atau desa : Anjuk Ladang. Yang karena memiliki nilai sejarah tentang kepahlawanan prajurit prajurit dibawah pimpinan Pu Sindok dapat menaklukkan bala tentara dari kerajaan Sriwijaya, maka kemudian “Nganjuk” diabadikan sebagai Nama Daerah/Wilayah yang lebih luas dan tidak hanya nama sebuah desa kecil, yakni Kabupaten Nganjuk yang sekarang ini. Nganjuk yang diambil dari kata Anjuk berarti “Kemenangan dan Kejayaan”.

Selain keterkaitan yang berlatar belakang sejarah sebagaimana telah dikemukakan diatas, hubungan kata Anjuk dengan nama : Nganjuk dapat dijelaskan dari sudut perkembangan bahasa. Perubahan kata : Anjuk menjadi kata : Nganjuk merupakan hasil proses perubahan morphologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena :

  1. Gejala usia tua (waktu) ;
  2. Gejala informalisasi ;

disamping adanya kebiasaan menambah konsonen sengau “NG” (nasalering/Belanda) pada lingga kata yang diawali dengan suara Vokal. Nada “NG” menunjukkan : Tempat. Contoh :

  1. Aliman menjadi Ngaliman
  2. Amarta menjadi Ngamarta
  3. Asem menjadi Ngasem
  4. Astina menjadi Ngastina
  5. A w i menjadi Ngawi
  6. Ujung menjadi Ngujung
  7. Omben menjadi Ngomben

Dengan demikian jelas kiranya bahwa Nganjuk yang berasal dari kata Anjuk berarti suatu tempat : Kemenangan dan Kejayaan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Nganjuk dan Sejarah,th, 1994, hlm. 67-69

Soepeno, Menteri

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan UUD 1945 serta Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia ditetapkan, para politikus muda mengambil peran melaksanakan tugas-tugas negara. Termasuk Soepeno yang merupakan konseptor berbagai perubahan dalam membentuk badan-badan kelembagaan negara. Bersama para anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dia mengajukan gagasan kepada dwitunggal Soekarno-Hatta, untuk mengadakan sidang KNIP. Usulan tersebut diterima. Lalu dibentuklah Badan Pekerja KNIP, dengan Soepeno sebagai ketuanya. Hal ini terjadi setelah dikeluarkannya Maklumat Negara RI No X pada tanggal 16 Oktober 1945. Pada jaman pendudukan Jepang, Soepeno muda menjadi pegawai Jawa Hokokai. Di tahun 1943 Soepeno menikahi gadis bernama Tien yang hingga kini masih hidup. Ketika itu, Soepeno termasuk pemuda yang aktif dalam organisasi yang menentang penjajah, seperti Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (Baperppi). Aktivitasnya itulah yang membuatnya cukup dekat dengan Bung Karno dan Bung Hatta.

Pada 1947 di saat Bung Hatta memimpin kabinet Presidensiil, Soepeno diangkat sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda. Masa-masa sulit ketika itu menjadi bagian kisah yang tak bisa dihindari oleh para pemimpin negara karena Belanda melancarkan agresi militer kedua pada Desember 1948. Ibukota Yogyakarta sempat diduduki oleh Belanda dan para pemimpin negara ditangkap. Sebagai anggota Pemerintah Pusat yang masih bebas, Soepeno menggerakkan roda Pemerintahan di daerah yang belum dikuasai rakyat. Hal itu membuatnya dia dijuluki sebagai menteri gerilya.

Namun petualangan Soepeno berakhir pada Kamis 24 Februari 1949. Saat itu, Soepeno yang sedang mandi ditembak oleh tentara Belanda. Bersama pejuang lainnya, dia dibawa ke Dusun Ganter, Desa Ngliman, Nganjuk. Soepeno yang memakai baju warok tidak mengaku sebagai menteri ketika diinterogasi. Hal ini demi menjaga negara dan melindungi kawan-kawan seperjuangannya. Tentara Belanda yang sudah menaruh curiga dibuat kesal oleh tindakan tutup mulut Soepeno. Serdadu Belanda menjadi dongkol, lalu meletakan senjata yang ada di tangannya ke pelipis Soepeno sebelah kiri. Walaupun demikian Soepeno tetap tegar. Adegan ini jelas dapat dilihat oleh anggota-anggota rombongan gerilyawan lain yang mengintip dari rumah Kromo Dul. Mereka melihat wajah Soepeno yang mencerminkan ketetapan hati yang kokoh, tiada takut menghadapi bahaya yang dekat. Tiba-tiba terdengar bunyi dor. Serdadu Belanda melepas tembakan dan pelurunya menembus kepala, Soepeno roboh dan bersama enam kawan setianya yang lain dieksikusi oleh tentara Belanda di dusun Ganter di Gunung Wilis. Menteri gugur pada usia 33 tahun. Sekarang ini lokasi penembakan Soepono didirikan monument, yang dikenal sebagai MONUMEN SOEPENO atau MONUMEN GANTER.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Napak Tilas Sejarah Pahlawan Nasional Selama Berjuang di Nganjuk . Nganjuk: Bagian Humas,PDE & Santel Pemerintah Kabupaten Nganjuk, (2007).

Kapten Kasihin, Pejuang Kemerdekaan

Desa Kedungombo, Warujayeng dijadikan markas oleh Yon 22/Sriti Kompi II pada masa-masa perang kemerdekaan. Di bawah pimpinan Kapten Kasihin sebagai pimpinan Kompi II, desa ini memiliki arti strategis militer tersendiri jika dibandingkan dengan desa lain. Sebab secara geografis letak desa Kedungombo berada di tengah-tengah antara posisi pos-pos militer Belanda dan posisi kompi Yon 22/Sriti. Posisi desa lebih terlindung dan baik untuk pertahanan. Sehingga untuk kepentingan perhubungan dan koordinasi relatif lebih mudah dan cepat.

Desa Kedungombo menjadi daerah basis militer yang ada di sebelah barat sungai Brantas. Beberapa kesatuan lain seperti Seorti CPM, Yon 38 Resimen 34 Surabaya (Marinir), Barisan M, Barisan Rahasia (BARA), dan Batalyon Pancawati (tidak menetap) juga mehetapkan Kedungombo sebagai pusat strategi. Mereka menempati rumah-rumah penduduk setempat yang memungkinkan mereka tempati sebagai markas perjuangan.

Sementara Kapten Kasihin, Letnan Siswohandjojo dan Letnan Joesoef di rumah Bapak Poerwodiharjo Para pejabat pemerintahan Kabupaten Nganjuk ketika itu juga ada disana. Seperti Bupati Nganjuk Mr. Gondowardojo dan Patih Djojokoesoemo di rumah Bapak H. Nur. Wedana Anam di rumah Bapak Dipo dan Camat Afandi di Rumah Bapak Djojosoemarto.

Selama perang gerilya perbekalan sangat sulit untuk dikirim dari markas ke tempat perjuangan. Termasuk di desa Kedungombo juga tidak pernah dikirimi perbekalan. Oleh sebab itu semua kebutuhan dicukupi penduduk setempat, termasuk bahan makanan dan pakaian.

Sedangkan amunisi dan bahan peledak tetap dikirim dari kesatuan. Peran penduduk sangat menentukan dalam perjuangan bangsa. Mereka tidak hanya menyediakan tempat dan makanan, tetapi juga menjadi pelaku langsung dalam setiap perjuangan. Hal ini dibuktikan bahwa yang gugur dalam pertempuran di Kedungombo tidak hanya yang tercatat sebagai tentara resmi, tetapi juga penduduk sipil setempat.

Kira-kira pukul 09.00 WIB Kapten Kasihin bersama dengan pengawalnya yang bernama Susah berjalan dari selatan (Tawangrejo) menuju ke arah utara. Baru berjalan beberapa ratus meter mendapat laporan dari seorang mata-mata Republik, bahwa Belanda sudah berada di Balai Desa (berjarak lebih kurag 600 meter dari tempatnya).  Mendapat laporan demikian Kasihin tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke arah utara.

Beberapa menit kemudian terdengar beberapa kali tembakan di pertigaan gang utara SDN Kedungombo I dan ternyata Kapten Kasihin terkena tembakan. Walaupun sudah tertembak ia berusaha lari ke arah timur sejauh lebih kurang 1 km dan masuk ke dalam rumah seorang penduduk di Tawangsari (rumah Bapak Rasio). Di rumah ini Kapten Kasihin mendapat perawatan tuan rumah sekitar 30 menit, sebelum Belanda menemukannya. Belanda yang mengetahui ada orang tertembak terus mengejarnya dan akhirnya menemukan Kapten Kasihin diturunkan di lantai dan kemudian dibunuh di tempat itu juga, sekitar pukul 09.30 WIB.

Menurut penuturan Ibu Parmi (istri Rasio) yang waktu itu di rumah hanya bersama dua orang anaknya yang masih kecil (satu masih digendong), bahwa Kapten Kasihin sebelum diketemukan Belanda sempat minta minum. Saat akan diberi minum itulah Kasihin mengucapkan kata-kata yang terakhir …. .. : Nggih ngeten niki Bu lhae nglabuhi negeri. ….. (Ya begini inilah, Bu, membela negara).

Setelah dibunuh, Kapten Kasihin ditinggalkan begitu saja oleh Belanda (menurut Ibu Parmi ketika Belanda mengetahui bahwa yang dibunuh berpangkat Kapten, mereka kemudian hormat kepada jenazah Kapten Kasihin. Tanda kepangkatan dilepas dan dibawanya). Jenazah Kapten Kasihin kemudian oleh para pejuang bersama rakyat dibawa ke rumah Kepala Desa untuk diberi penghormatan dan setelah itu dimakamkan di makam Kedungombo di dekat makam Kopral Banggo yang sudah dulu gugur di Desa Josaren Kecamatan Tanjung Anom.

Untuk mengenang jasa Almarhum Kapten Kasihin, sekarang ini di alun-alun Kabupaten Nganjuk berdiri kokoh monumen Kapten Kasihin menghadap ke arah selatan Jl. Ahmad Yani.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Napak Tilas Sejarah Pahlawan Nasional Selama Berjuang di Nganjuk. Nganjuk: Bagian Humas, PDE & Santel Pemerintah Kabupaten Nganjuk, (2007).

Jamasan Pusaka: Upacara Adat Kabupaten Nganjuk

-11 Pebruari 2005-
Jamasan Pusaka merupakan Upacara Adat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan,  Kabupaten Nganjuk yang bersifat Tradisi, Sakral, Ritual dan adiluhung. Sebagai budaya bangsa, keberadaan Jamasan Pusaka ini selalu diupayakan kelestariannya bahkan ditingkatkan improfisasinya, sosialisasinya serta disesuaikan pelaksanaanya dengan perkembangan situasi serta kondisi pada saat ini.

Pelaksanaan upacara ini ditetapkan 3 macam hari pilihan yakni: Jum’at Legi, Jum’at Wage dan Senin Wage pada bulan Muharam (Syuro), bertempat di gedung Pusaka Desa Ngliman yang didahului oleh arak-arakan (Kirab).

Kirab didahului oleh serombongan petugas yang terdiri dari Subha Manggala (Cucuk Laku) para prajurit pasukan pembawa Pusaka, Putri Domas serta pasukan dengan kesenian MungDhe yang semuanya itu menggambarkan prajurit Kerajaan pada saat itu. Keberangkatan Kirab Pusaka diawali dari Makam Ki Ageng Ngaliman ke utara sampai gerdon terus kembali lagi sampai akhirnya ke Gedung Pusaka Baru Prosesi Jamasan dimulai dengan seremonial sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Laporan Pembawa Pusaka
3. Penyerahan Pusaka
4. Laporan Penerimaan Pusaka
5. Laporan Kepala Dinparbudn Daerah Kab. Nganjuk
6. Sambutan Bupati Nganjuk
7. Do’a
8. Penutup dilanjutkan Prosesi Jamasan Pusaka

Benda Pusaka yang erat kaitannya dengan acara dimaksud adalah:
1. Kendi Pusaka
2. Senjata Pusaka
3. Wayang Pusaka

1. Kendi Pusaka
Bentuk dan besarnya tidak jauh berbeda dengan kendi-kendi yang kita kenal pada umumnya, terbuat dari tanah liat tingginya ± 25 cm. Kendi tersebut dikeluarkan 1 tahun sekali saat upacara dilaksanakan, sedang pada hari-hari biasa kendi tersebut disimpan di Gedung Makam Kyai Ngaliman.

2. Senjata Pusaka
Pusaka yang dipergunakan untuk upacara berjumlah 4 buah masing-masing bernama Kyai Srambat, Kyai Endel dan Kyai Kembar berjumlah 2 buah bentuk dan panjangnya sama.

3. Wayang Kayu
Wayang Kayul, Wayang Klitik atau Wayang Krucil jumlahnya ada 3 yakni: Eyang Bondan, Eyang Joko Truno, Eyang Betik. Selain benda-benda pusaka tersebut di atas masih ada perlengkapan lain untuk upacara dimaksud, misalnya kembang setaman, warangan, minyak wangi (cendana), Blandongan tempat merendam pusaka, Payung Agung berjumlah 5 buah, padupan untuk membakar dupa.

Proses Jamasan Pusaka
Pelaksanaan Prosesi Jamasan Pusaka diawali dengan penerimaan Pusaka dari berbagai daerah, Pusaka diserahkan Sesepuh Desa Ngliman Kecamatan Sawahan.
Sebagai penutup acara diadakan selamatan bersama di Gedung Pusaka yang diikuti oleh segenap warga masyarakat dan para undangan yang hadir serta berkenan.
Sedangkan pada malam harinya diadakan Tasyakuran dan Pagelaran Wayang Kulit samalam suntuk. Suatu kenyataan bahwa rangkaian upacara ini dipandu dengan lingkungan alam yang indah, udara pegunungan yang sejuk dan masyarakat yang ramah lingkungan serta ramah di dalam tata pergaulan bermasyarakat sehingga sungguh meriah untuk ditonton dengan segenap keluarga. Selamat Menikmati.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Brosur Presesi Upacara Tradisional; Jamasan Pusaka di Ds. Ngliman-Sawahan-Nganjuk, Disparbud Daerah Kab. Nganjuk, Nganjuk, 11 Pebruari 2005.

Wayang Timplong: Tradisi yang Terbenam dalam Gemerlapnya Hiburan Modern, Dalangnya Hanya Lima Orang di Seluruh Dunia

-25 Oktober 2011-
Orang awam di luar daerah Nganjuk, barangkali tidak banyak yang mengetahui apa itu wayang Timplong. Bahkan meski bertempat tinggal di Nganjuk, khususnya generasi muda, pasti tidak banyak yang paham tentang wayang tersebut. Wayang Timplong yang dipentaskan secara sederhana dalam acara-acara khusus, semakin membuat wayang Timplong terbenam dalam gemerlapnya dunia hiburan modern.

Bentuk wayang ini sangat unik. Jika wayang umumnya terbuat dari kulit, atau boneka kayu jika itu wayang golek, kalau wayang Timplong, terbuat dari bahan  kayu waru, sementara tangannya terbuat dari kulit. Untuk mengiringi pagelaran wayang, sang dalang hanya dibantu oleh lima orang panjak atau pemain gamelan yang terdiri dari kendang, dua kenong, gambang, dan gong kecil.

Wayang Timplong yang merupakan kesenian asli Kabupaten Nganjuk semakin dijauhi orang. Apalagi para remaja dan golongan muda yang tidak kenal dengan budaya luhur daerahnya. Meski sudah enam generasi, keberadaan wayang Timplong tetap terjaga dengan baik, karena dari generasi tua melalui garis keturunan secara tidak langsung menjaga kesenian tradisi asli Nganjuk kepada generasi berikutnya.

Wayang Timplong adalah sejenis kesenian wayang dari daerah Nganjuk. Kesenian tradisional ini konon mulai ada sejak tahun 1910 dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis, Kecamatan Pace.

Bahkan di seluruh dunia, hanya sekitar lima dalang wayang timplong yang saat ini masih setia melestarikan wayang Timplong. Ki Gondo Maelan yang kini telah berusia lebih dari 80 tahun, asal Desa Getas Kecamatan Tanjunganom tetap menjaga agar wayang Timplong tidak punah. Meskipun pagelarannya hanya pada saat bersih desa, Ki Gondo Maelan tetap berharap anak cucunya mau meneruskan keahliannya bertutur dalam melakonkan wayang Timplong. “Sekarang ini di Nganjuk mungkin di seluruh dunia hanya terdapat tidak kurang lima dalang wayang timplong, dan yang meneruskan keahliannya bertutur dalam melakonkan wayang Timplong. “Sekarang ini di Nganjuk mungkin di seluruh dunia hanya terdapat tidak kurang lima dalang wayang timplong, dan yang tertua, ya saya,” kata Ki Gondo Maelan saat ditemui pada acara bersih desa di Kecamatan Sukomoro beberapa waktu lalu.

Jika selama ini sebagian besar warga masyarakat lebih mengenali kesenian wayang, tentu saja wayang kulit. Apalagi, era sekarang ini wayang kulit dengan kemasan baru terasa lebih segar, karena memasukkan unsur-unsur lawakan dan juga pesinden lagu-lagu campursari.

Justru sebaliknya, wayang timplong penabuh gamelannya tidak sebanyak dan selengkap yang dijumpai pada seni tradisi wayang kulit gaya Yogyakarta maupun Surakarla. Wayang asli bumi Nganjuk yang akan punah bila tidak dilestarikan ini, tetap berjalan pada pakem wayang itu sendiri. Artinya, sebagai generasi penerus dari para pendahulunya, Ki Gondo Maelan tidak berniat mengubah eksistensi wayang timplong itu sendiri. “0j0 sampek ilang, wayang timplong itu wujudnya yang seperti itu,” ujar Ki Gondo Maelan yang merupakan murid dari Ki Talam yang saat ini sudah wafat.

Kesenian wayang timplong ini hidup dan berkembang di tengah-tengah komunitas penduduk pedesaan di daerah Nganjuk. Sedangkan cerita wayangnya berkisar pada cerita-cerita rakyat, teristimewa cerita Kediren atau asal usul daerah Kediri. “Cerita-cerita lakon Babat Kediri, Asmoro Bangun, dan Panji Laras Miring itu sudah pakem wayang timplong,” tutur ki Gondo Maelan.

Tampilan wayang Timplong asal Nganjuk ini patut mendapat perhatian, terlebih kajian-kajian sosiologis-antropologis dari para pakar seni tradisi. Karena karakter wayang itu sendiri mengenal tokoh jahat maupun tokoh baik. Misalnya tokoh yang disebut Prabu Djoko Klono Sewandoro adalah tokoh jahat, sementara Panji Asmoro adalah tokoh baik. Kelestarian wayang Timplong bisa ditolong dengan sering dipentaskannya wayang tersebut untuk ruwatan desa/bersih desa, untuk mengusir balak ataupun bencana. “Bulan Suroan biasanya banyak tanggapan, kadang tiga, empat, sampai enam kali,” kata Ki Gondo Maelan.

Wayang Timplong tetap ada meskipun eksistensinya terbatas pada komunitas pedesaan yang masih menghargai ritualitas. Ruwatan dan bersih desa yang masih subur di tengah-tengah masyarakat itu menjadi ruang hidup seni wayang Timplong. Ruang untuk wayang langka ini masih perlu dibuka lebar, karena seni tradisi yang konon cuma hidup dan berkembang di daerah Nganjuk itu bias jadi sebuah kekuatan untuk pencerahan-pencerahan hidup.

Hingga kini belum diketahui secara pasti kapan kesenian ini diciptakan. Berdasarkan kenyataan bahwa Nganjuk memiliki sejarah yang cukup tua, upaya untuk mengetahui asal-usul wayang Timplong akan terkait erat dengan perjalanan sejarah kota Nganjuk. Hal itu dibutuhkan untuk menghadirkan peluang-peluang interpretasi demi tercapaianya pemahaman tentang jenis wayang ini.

Ihwal penamaan Timplong belum diketahui hingga saat ini. Namun demikian penduduk di wilayah Nganjuk menduga istilah tersebut dipilih untuk menamai wayang kayu yang dimaksud, karena mengacu pada bunyi gambang bambu yang merupakan unsur melodis paling dominan dalam iringan Timplong. Keterangan ini cukup masuk akal karena dalang-dalang Timplong umumnya juga berpendapat demikian. Jika suara gambang bambu yang digunakan dalam iringan wayang Timplong diperhatikan, maka yang terdengar adalah bunyi ‘plong … plong … plong”  ristika/bhirawa

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 1 sambung 11.

Menelusuri Jejak Pahlawan di Nganjuk

Menanamkan nilai kepahlawanan sejak dini sangatlah diperlukan bagi  generasi muda. Sebab dengan berbekal nilainilai yang telah dimiliki oleh para pahlawan, pejuang dan perintis kemerdekaan, maka generasi muda bisa menghargai jati diri bangsa yang kini sudah mulai terlihat pudar. Demikian yang diungkap Drs Gupuh Santoso, Kepala Seksi  kepahlawanan dan Kesetiakawanan Sosial saat memberikan sambutan dalam acara Ziarah Wisata di Kabupaten Nganjuk 11 November lalu.

 “Saat ini, pemahaman nilai – nilai kepahlawanan cenderung menurun dan bergeser, karena adanya budaya hedonisme yang melanda anak muda.lni perlu diwaspadai karena tata nilai luhuryang dimiliki masyarakatIndonesiabisa saja sirna bila tidak dilestarikan. Dengan kegiatan ini diharapkan generasi muda lebih bisa memahami dalam memaknai perjuangan para pahlawan “tutur Gupuh.

Kegiatan yang diawali dengan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Yudha Pralaya Nganjuk ini, diikuti 200 siwa yang berasal dari Karesidenan Nganjuk. Selain tabur bunga, juga dilakukan pemberian bingkisan kepada para perintis kemerdekaan di Kab Nganjuk. Mereka ini kebanyakan adalah eks Pejuang PETA tahun 1942.

Setelah tabur bunga dan upaeara penghormatan, para siswa diajak menelusuri jejak Panglima Sudirman yang terletak di Bajulan, Loceret, Kab Nganjuk. Di tempat yang kini dijadikan eagar budaya itu terdapat batu yang pernah digunakan Sang Jendral Besar untuk menggelar strategi perang melawan Belanda . Disini, para peserta ziarah diajak mengenang kembali Perjuangan Panglima Sudirman dalam melakukan mobilisasi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Dari Bajulan , rombong an kemudian menuju Museum Dr.Soetomo, pendiri STOVIA yang merupakan putra Asli Loceret. Di museum ini, para siswa bisa menyaksikan peninggalan Dr Soetomo dalam memajukan dunia

kedokteran diIndonesia. Sejumlah alat peraga dipajang di museum tersebut. Ternyata tidak banyak siswa yang mengetahui, bahwa Dr. Soetomo dilahirkan diareal yang kini digunakan museum tersebut.

Lokasi tujuan ziarah wi sata terakhir adalah Museum Anjuk Ladang. Di Museum ini disimpan bendabenda berupa, area, prasasti, pusaka, fosil, uang kuno, alat pertanian tradisional. Siswa dikenalkan tentang bendabenda tersebut, tujuannya adalah menanamkan sikap cinta tanah air seperti yang dimiliki oleh para pahlawan. (fan)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Kontak Sosial, media informasi kesejahteraan sosaial, EDISI Triwulan 4 2009