Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

dam-bagongTrenggalek merupakan kabupaten kecil, indah dan menarik. Banyak obyek yang bersifat khas daerah. Kabupaten yang kaya potensi wisata menarik yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu budaya yang terus dilestarikan oleh warga Trenggalek adalah Upacara Adat bersih Dam Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Tradisi Nyadran di Dam Bagong. Upacara adat merupakan salah satu bagian dari adat kebiasaan yang ada di masyarakat, yaitu bentuk pelaksanaan upacara adat yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya, ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Nyadran merupakan tradisi dari daerah Trenggalek yang biasanya diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan jawa. Nyadran biasanya dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya Dam Bagong dan dihadiri ribuan orang dari Trenggalek sendiri maupun dari luar Trenggalek. Dam Bagong adalah dam pembagi aliran sungai Bagong yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Pertama kali Dam Bagong dibangun oleh Adipati Menak Sopal yang juga merupakan pendiri cikal bakal kota Trenggalek.

dam-bagongRitual upacara Nyadran diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual nyadran adalah pelemparan tumbal kepala kerbau atau larung. Dalam upacara Nyadran Dam Bagong ini dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih dan kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilempar ke sungai lalu diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan ritual nyadran ini sebagai tolak balak, tidak hanya sebagai tolak balak upacara ini juga sebagai simbol agar kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi. Biasanya beberapa pemuda telah bersiap-siap di dalam sungai dengan bertelanjang dada untuk memperebutkan kepala kerbau yang dilarung. Sorak sorai kegirangan dan rona kegembiraan terpampang di wajah mereka dan wajah para penonton, kala kepala kerbau dan tulang-belulangnya berhasil diketemukan. Ada anggapan bahwa dengan mendapatkan kepala kerbau, mereka akan memperoleh berkah dalam hidupnya. Rangkaian upacara nyadran ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

dam-bagong-300x200Dengan penyelenggaraan upacara yang serba lengkap menurut tradisi akan memberikan kemantapan batin kepada pelakunya dalam mengagungkan berkat, rahmat dan perlindunganNya. Hal ini diharapkan pula terjadi dengan dilaksanakannya upacara Tradi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Bagi masyarakat yang hidup dipedesaan, adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan tradisi upacara adat “Nyadran” ini oleh masyarakat Kelurahan Ngantru, sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai upaya untuk mengenang jasa Adipati Menak Sopal yang telah berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek yang mayoritas sebagai petani. Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru.

Gotong-royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Khususnya para petani di daerah tersebut yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong. Mereka bergotong-royong dalam mempersiapkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat memperingati upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek”.

Latar Belakang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Menurut R. Linton (dalam Elly, 2011:27-28), mengatakan bahwa Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.

Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.

Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional. Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.

Bentuk Ritual Atau Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.

Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:

  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upacara nyadran sesuai dengan pendapat Depdikbud (1994:20), bahwa dalam suatu sistem upacara yang kompleks mengandung berbagai unsur yang terpenting antara lain sebagai berikut:

  • Sesaji

Pada banyak upacara bersaji, orang memberi makanan yang oleh manusia dianggap lezat, seolah-olah dewa-dewa atau roh itu mempunyai kegemaran yang sama dengan manusia.

  • Berdoa

Biasanya doa bersama diiringi dengan gerak dan sikap-sikap tubuh yang dasarnya merupakan gerak dan sikap menghormati dan merendahkan diri terhadap para leluhurnya, para dewa atau terhadap Tuhan. di dalam berdoa, arah muka atau kiblat merupakan suatu unsur yang amat penting dalam konsep religi. Dalam berdoa, ada pula suatu unsur yaitu kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan itu mempunyai kekuatan gaib dan sering kali kata yang diucapkan itu dalam suatu bahasa yang tidak dipahami masyarakat, karena bahasa yang digunakan bahasa kuno. Tetapi justru itulah rupanya yang memberikan susunan gaib dan keramat kepada doa itu.

  • Makan bersama

Makan bersama juga merupakan suatu unsur perbuatan yang amat penting dalam upacara adat. dasar pemikiran di belakang perbuatan itu adalah untuk mencari hubungan dengan dewa-dewa, dengan cara mengundang dewa-dewa pada suatu pertemuan makan bersama. Perbuatan makan bersama terdapat dalam banyak upacara keagamaan di dunia, baik sebagai bagian dari upacara- upacara maupun sebagai upacara itu sendiri.

  • Berprosesi atau berpawai

Pada saat berprosesi sering dibawa benda-benda keramat seperti lambing, bendera, dengan maksud supaya kesaktian yang memancar dari benda-benda itu bisa memberi pengaruh pada keadaan sekitar tempat tinggal manusia dan terutama pada tempat-tempat yang dilalui prosesi atau pawai itu. Prosesi sering juga dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus, hantu dan segala kekuatan yang menyebabkan penyakit serta bencana dari sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini dilakukan tidak dengan benda sakti, tetapi dengan cara menakuti makhluk halus tadi dengan cara prosesi tersebut.

Ada beberapa niatan saat melakukan upacara tradisi nyadara misalnya sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. (Tasyakuran atau syukuran) atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk atau rakyat Trenggalek baik yang lama oleh Adipati Menak Sopal dan penggantinya, walaupun yang baru dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen.
    1. Mengenang tokoh pelaku Adipati Menak Sopal, Ki Ageng Galek, Rara Amiswati, Ki Demang Surohandoko dan lain-lain, untuk didoa’kan semoga diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
    2. Semua lillahi ta’ala untuk Allah SWT, tidak untuk makhluk halus (jin, syaitan, dan sebagainya).

Upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek mempunyai unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara keagamaan pada umumnya.

Hakikat Gotong-royong Dalam Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Manusia tidak dapat memenuhi kebetuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial, pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong masyarakat Trenggalek Keluraham Ngantru khususnya para petani bergotong-royong agar pekerjaan yang dilakukan bisa cepet selesai. Sistem tolong menolong yang dalam bahasa Jawa biasanya disebut “Sambatan” (Sambat=Minta tolong), atau secara umum oleh orang Indonesia disebut gotong- royong. Dalam gotong-royong ini masyarakat tidak memikirkan kompensasi, dalam masyarakat jawa gotong-royong seperti ini tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja, namun juga dalam kegiatan pembangunan rumah, upacara adat, dan upacara kematian.

Jiwa atau semangat gotong-royong itu dapat kita artikan sebagai perasaan rela terhadap sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, sehingga bekerja bakti untuk umum dinilai sebagai suatu kegiatan yang terpuji dan mulia. Hal ini sama halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek saat memperinganti upacara tradisi nyadran di Dam Bagong. Dalam bergotong-royong tidak terlihat pebedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.

Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong bisa meningkatkan rasa kebersamaan antar warga dan mempererat tali silaturahmi antar warga. Selain itu, bisa saling kenal antara warga yang satu dengan warga yang lain yang awalnya belum pernah kenal.

Persepsi Masyarakat Tentang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Nama nyadran kini “Nyadran Dam Bagong ” diganti dengan “Peringatan Dam Bagong” dan disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi. Mayoritas warga masyarakat menganggap nyadran ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, juga sebagai rasa terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong, yang sangan bermanfaat bagi masyarakat. karena dengan adanya dam itu para petani di Kelurahan Trenggalek dan Kelurahan Pogalan dapat mengairi sawahnya.

Prospektif Mengenai Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Bagi Masyarakat di Masa Depan

Prospektif masyarakat ke depan mengenai tradisi nyadran di Dam bagong Kelurahan Ngantru, tradisi ini akan tetap dijaga dan dilestarikan, konon ceritanya dulu tradisi nyandran ini pernah tidak diperingaati terus pada tanggal 21 April 2006 di Trenggalek terjadi banjir bandang. Terus pada saat itu ada salah satu warga yang bermimpi kalau tradisi nyadran tersebut tidak diperingati akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari itu. Setelah mengetahui itu semua lalu tradisi tersebut diperingati dengan menyembelih 4 (empat) kerbau karena sudah empat tahun tradisi tersebut tidak diperingati oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan prospektif masyarakat sampai kapanpun tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru akan tetap diperingati. Karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kabupaten Trenggalek.

——————————————————————————————-Tahes Ike Nurjana, Suwarno Winarno, Yuniastuti. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahanngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Universitas Negeri Malang

Sumber Gambar:  wisatatrenggalek.com/2016/09

Edit: 84N70

 

Nyadran, Kabupaten Sidoarjo

Nyadran: Aset Pariwisata Sidoarjo

Oleh : Nyonik Adiwarno

Di Indonesia khususnya di Jawa pada bulan Ruwah (kalender Jawa) ada tradisi yang dinamakan ruwatan. Bentuk-bentuk Ruwatan ini dapat berupa bersih desa, ruwah desa atau lainnya. Di Sidoarjo, tepatnya di Desa Balongdowo Kecamatan Candi ada tradisi masyarakat yang dilakukan setiap bulan Ruwah (pada saat bulan purnama).

Tradisi tersebut dinamakan pesta nyadran. Nyadran merupakan upacara adat bagi para nelayan kupang desa Balongdowo sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa. Bentuk kegiatan nyadran berupa pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut Selat Madura. Mereka berangkat dengan diiringi seluruh keluarga nelayan sejak tengah malam.

Berbeda dengan acara petik laut di Banyuwangi, Larungan di Blitar atau Labuhan di Malang, maka Nyadran di Sidoarjo mempunyai kekhasan tersendiri. Kegiatan Nyadran dilakukan oleh masyarakat desa Balongdowo yang mata pencahariannya sebagai nelayan kupang. Sejak siang mereka disibukkan oleh persiapan pesta upacara, yang upacaranya dimulai tengah malam.

Laki-laki, perempuan, besar kecil semuanya melakukan kegiatan sesuai tugas masing-masing. Ada yang menghias perahu, memasang sound system dan sebagainya. Khusus Ibu-ibu melakukan kegiatan menyiapkan makanan yang akan dibawa ke pesta upacara Nyadran di Selat Madura serta menyiapkan Sesaji. Sesaji yang disiapkan berupa ayam panggang, nasi dan pisang serta kue dimasukkan dalam tomblok. Kegiatan persiapan ini berlangsung sampai sore hari dilanjutkan kenduri di masing-masing rumah nelayan kupang usai shalat maghrib.

Pada malam hari di sepanjang jalan dan tepian sungai desa Balongdowo suasananya sangat ramai dipenuhi oleh masyarakat dan pedagang kaki lima baik dari penduduk setempat maupun dari luar kecamatan Candi, sehingga kedengaran hiruk pikuk dibarengi para remaja berjoget di atas perahu.

Uniknya meski hujan mengguyur mulai sore hari, tidak menjadi penghalang bagi para pengunjung bahkan semakin malam semakin berdesakan untuk menyaksikan pemberangkatan iringiringan perahu menuju ke pesta Nyadran di Setat Madura. Pemberangkatan bergantung padakeadaan air sungai. Bila air sudah surut iring-iringan perahu dapat diberangkatkan. Jumlah perahu yang mengikuti pesta Nyadran tahun ini sekitar 50 perahu.

Perjalanan dimulai dari Bandar Balongdowo, Candi menempuh jarak sekitar 12 km menuju Dusun Kepetingan, Sawohan, Buduran. Suasana perjalanan menyenangkan walaupun dinginnya malam menusuk tulang disertai guyuran hujan. Hanya lampu-lampu petromak dalam perahu dan sorot lampu senter sebagai petunjuk jalan. Dalam suasana tersebut tidak hentihentinya anak-anak muda berjoget di atas perahu seakan tak merasa dinginnya malam. Perjalanan ini melewati sungai Desa Balongdowo, Klurak, Kalipecabean, Kedungpeluk dan Kepetingan (Sawohan). Masyarakat berderet di tepian Bandar kali Balongdowo untuk menyambut acara pemberangkatan iring-iringan perahu dengan antusias dan meriah. Ini menunjukkan bahwa Nyadran mendapat simpati dan perhatian dari masyarakat kecamatan Candi khususnya masyarakat Desa Balongdowo dan sekitarnya. Ketika iring-iringan perahu sampai di muara Kalipecabean, perahu yang ditumpangi anak balita membuang seekor ayam. Konon menurut cerita, dahulu ada orang yang mengikuti acara Nyadran dengan membawa anak kecil tersebut mengalami kesurupan. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut masyarakat Balongdowo mempercayai bahwa, dengan membuang seekor ayam yang masih hidup ke Kalipecabean maka anak kecil yang mengikuti Nyadran akan terhindar dari kesurupan malapetaka.

Sekitar pukul 04.30 BBWI peserta iring-iringan perahu tiba di Dusun Kepetingan, Sawohan. Rombongan peserta Nyadran langsung menuju makam Dewi Sekardadu untuk mengadakan kenduri. Sambil menunggu fajar tiba, peserta Nyadran tersebut berziarah, bersedekah dan berdoa di makam tersebut agar berkah terns mengalir. Menurut cerita rakyat Balongdowo, Dewi Sekardadu ini putri Raja Blambangan bernama Minak Sembuyu, yang pada waktu meuinggainya dikelilingi “ikan keting”, maka dusun tersebut dinamakan Kepetingan tapi orang-orang sering menyebut Dusun Ketingan. Pada pagi harinya, sekitar pukul 07.00 BBWI usai  mengadakan selamatan, perahu menuju Selat Madura dengan membentuk lingkaran, sedangkan peserta Nyadran turun untuk mandi dan memperagakan cara mengambil kupang. Tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya, kedalaman Selat Madura temyata cukup dangkal sehingga anak-anak pun dapat turun ke laut untuk sekedar mandi ataupun ikut mencoba mencari kupang.

Setelah dari makam Dewi Sekardadu, perahu-perahu itu menuju ke selat Madura sekitar 3 km. Perjalanannya cukup menarik bagi rnsyarakat yang belum pernah mengikuti pesta nyadran sebab di sisi kiri dan kanan perahu dipenuhi dengan tumbuhan bakau yang dihiasi panorama terbitnya sinar matahari. Sering dijumpai burung bangau berterbangan terusik oleh deru mesin perahu.

Suasana lain yang menambah semaraknya peragaan cara mengambil kupang adalah anak-anak muda dengan perahunya berputar-putar sambil berjoget seakan-akan tidak merasa lelah. Bagi Ibu-ibu dan anak-anak kecil dengan lahapnya menyantap bekal yang telah disiapkan dari rumah sambil melihat remaja-remaja berjoget dan melihat orang-orang turun ke laut dengan disertai hembusan angin laut. Cukup mengesankan jika dilihat dari kejauhan, berpuluh perahu dengan warna-warni hilir mudik di tengah laut. Tidak seorang pun tampak susah, semua bergembira, berjoget berpesta dan makan bersamasama di atas perabu. Itulah oleh masyarakat Balongdowo dinamakan “NYADRAN”.

Sekitar pukul 10.00 BBWI, iring-iringan perahu tersebut mulai meninggalkan selat Madura. Kemudian mereka kembali ke desa Balongdowo. Sepanjang perjalanan pulang, ternyata banyak masyarakat berjajar di tepi sungai menyambut iring-iringan perahu tiba. Mereka minta berkat/makanan yang dibawa oleh peserta nyadran harapan agar mendapatkan berkah.

Mengikuti pesta nyadran ternyata cukup menyenangkan dan mengesankan. Banyak kegiatan dari nyadran dapat dikembangkan sebagai obyek pariwisata si kabupaten Sidoarjo. Misalnya saja proses membuang ayam, ziarah ke makam Dewi Sekardadu, pemandangan butan bakau dan mandi di tengah laut sambil mencari kupang. Sebenarnya ada proses dari nyadran, yaitu “Melarung Tumpeng”. Proses ini dilakukan di muara/clangap (pertemuan antara sungai Balongdowo, sungai Candi dan sungai Sidoarjo). Proses ini tidak diadakan setiap kali nyadran. Melarung tumpeng ini diadakan bila ada peserta nyadran atau nelayan kupang yang mempunyai nadar/khaul. Potensi wisata ini bila dikembangkan dan dikemas dengan baik bukan tidak mungkin akan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah.

Mengembangkan dan mengemas nyadran menjadi obyek pariwisata bukannya tidak mempunyai tantangan dan hambatan-hambatan. Masih ada kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam nyadran irri yang perlu dibina dan ditingkatkan. Misalnya saja koordinasi pelaksanaan nyadran meliputi proses/kegiatan, penertiban peserta nyadran terutama para pemuda yang membawa minuman keras, meningkatkan nilai-nilai ritual nyadran. Bila nyadran dapat disajikan sebagai obyek wisata, maka merupakan obyek wisata bahari yang pertama di Sidoarjo(*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Gema Delta, Juni 1995, hlm. 28

Nyadran di Makam Ibunda Sunan Giri, Kabupaten Sidoarjo

Baju Baru, Konvoi Tumpeng

Desa Kepetingan alias Ketingan, Sidoarjo, pada harihari biasa begitu sunyi. Cuma ada sedikit rumah dengan sedikit orang. Hampir semua wilayah dihuni tambak, pohon dan satwa pantai.

Di desa inilah Ibunda Sunan Giri, Dewi Sekardadu, konon beristirahat sejak abad ke-14. Makamnya cukup megah karena beberapa tahun lalu dipugar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Ada joglo untuk peristirahatan pengunjung. Namun tetap saja, di tengah deru angin kencang yang sesekali membawa air laut, kesan kesunyian dan keterpencilan makam initerasa.

Beberapa penduduk bercerita kalau kunjungan ke makam ini relatif jarang. “Yang datang biasanya adalah peminat ziarah wali. Atau kalau tidal.. ya peneliti, atau peminat masalah supranatural,” ujar Haji Waras, pemuka masyarakat.

Angka kunjungan meningkat menjelang upacara nyadran alias petik laut yang diselenggarakan setahun dua kali. Menjelang Ramadan dan Bulan Maulud. Beberapa penduduk desa ini hafal sejarah makam Dewi Sekardadu, dengan pakem seragam. Bahwa perempuan ini bernasib malang. Dia mencari-cari bayinya di tengah laut namun tidak menemukan. Yang terjadi, dia tewas, lantas digotong ikan-ikan keting untuk didamparkan di tempat ini, yang kini dinamai Desa Ketingan atau Kepetingan.

Putri Blambangan yang Malang

Sekadar mengingatkan, Dewi Sekardadu sesungguhnya adalah putri Prabu Menak Sembuyu, Penguasa Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, pada abad ke-14. Samadi, juru kunci makam menjelaskan, Blambangan suatu ketika didera wabah penyakit. Dewi Sekardadu sendiri sakit. Tabib-tabib terkenal didatangkan namun tak satu pun yang bisa menyembuhkan penyakit, baik Dewi Sekardadu maupun warga desa.

“Raja pun membuat sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu, ia berhak menjadi suami sang dewi jelita itu. Namun lagi-Iagi tidak ada yang bisa menyembuhkan. Hingga akhirnya, Prabu Menak Sembuyu bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkan putrinya adalah ulama

Muslim bernama Syeh Maulana Iskak yang berdiam di sekitar Gresik, Jawa Timur,” beber Samadi. Maka diutuslah patih kerajaan untuk menemui Syeh Maulana Iskak. Syeh Maulana Iskak pun berangkat ke Tanah Blambangan. “Singkat cerita, Dewi Sekardadu berhasil disembuhkan. Maka, dinikahkanlah Syeh Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu.

Setelah menikah mereka tinggal di Blambangan. Syeh Maulana Iskak sangat disayangi pend·uduk Blambangan,” kata Samadi. Orang-orang kepercayaan raja mengail di air keruh. Mereka juga tidak rela rakyat demikian menyayangi Syeh Maulana Iskak. Intrik demi intrik dilakukan, hingga raja semakin membenci Syeh Maulana Iskak. Bahkan Dewi· Sekardadupun tidak lagi akur dengan suaminya. Syeh Maulana Iskak akhirnya meninggalkan· istana untuk berdakwah di tempat lain. Saat itu Dewi Sekardadu hamil-tua.

Bayi yang dikandung Dewi Sekardadu lahir tahun 1365 M. Namun bayi tersebut tidak diinginkan para petinggi kerajaan yang haus kekuasaan. Bayi tersebut diculik, ditempatkan di sebuah peti yang kemudian dipaku dan dibuang ke laut. Itusebabnya bayi tersebut juga dinamai Raden Paku.

Mengetahui anaknya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri, mengejar-ngejar anaknya di laut. Dewi Sekardadu tak bisa mengejar peti yang terapungapung di laut, lantas meninggal.

Di wilayah Balongdowo Sidoarjo, pada tahun 1365 tersebut, para nelayan sedang mencari ikan dan kerang di laut. Mereka dikejutkan dengan serombongan ikan keting yang ramai-ramai menggotong jasad seorang wanita cantik, yang diyakini Dewi Sekardadu. Jasad yang akhirnya  didamparkan ikan-ikan keting di pantai, lantas dikubur secara terhormat oleh warga. Tempat itu akhirnya dinamakan Ketingan alias Kepetingan.

Bagaimana dengan bayi Dewi Sekardadu yang terapung-apung itu? Selamatkah dia? Ternyata bayi tersebut selamat. Seorang pengusaha kapal ikan perempuan mengambil bayi yang kemudian dinamai Raden Paku dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri tersebut.

Namun kisah Dewi Sekardadu ini punya banyak versi. Beberapa tempat seperti Gresik dan Lamongan, konon juga diakui sebagai makam Dewi Sekardadu. Entah versi mana yang benar. Namun nelayan-nelayan di sini sangat yakin, makam Dewi Sekardadu yang asli ya yang di kampong mereka.

 

Upacara Nyadran

Makam Ibunda Sunan Giri tersebut, sangat dimuliakan masyarakat nelayan Sidoarjo. Setiap tahun, saat bulan Maulud dan menjelang Ramadhan, upacara terbesar nelayan pesisir Sidoarjo nyadran atau petik laut dipusatkan di makam ini.

Awal Maret 2010 nelayan pesisir Sidoarjo menggelar nyadran. Sejak pagi para penduduk kampung Bluru Kidul yang sebagian besar kaum nelayan, telah berkumpul di tempat yang biasa mereka pakai sebagai dermaga. Sebagaimana hari raya Idul Fitri, kali ini penduduk pun berpakaian serba baru. Mereka satu persatu, juga. anak-anak naik perahu. Jumlah perahu sekitar 3D-an dan beberapa di antaranya berhiaskan hasil bumi seperti sayur dan buah-buahan. Di dalam perahu-perahu itu telah ada tumpeng.

Makam Dewi Sekardadu dipenuhi penduduk yang bergantian untuk nyekar. Puluhan tumpeng dan sesajen dibawa ke dalam masjid. Ayat-ayat AI Quran juga dikumandangkan. Setelah itu, tumpeng pun dibagikan untuk siapa saja yang memerlukan. Beberapa tumpeng memang disediakan untuk dilarung ke laut, dan ini tentu saja dibawa kembali ke dermaga. Penduduk pun kembali naik perahu, beriring-iring menuju tengah laut, tempat melarung tumpeng. Kebersamaan benar-benar tampak di sini. Even ini ternyata sanggup mempererat tali persaudaraan antar mereka.

Kegiatan semacam ini, sepanjang filosofinya diketahui dan pesan-pesan moral terbaiknya diamalkan, bukankah akan membuat dunia kita yang carut marut ini jadi lebih baik? Bukankah nyadran yang erat kaitannya dengan bersih-bersih ini merupakan kegiatan untuk semakin mendekatkan kita kepada jagat kecil, yakni diri kita, dan jagat besar, yakni semesta ini? Semestinya, kegiatan yang sarat pesan moral dan pastinya ramah lingkungan tersebut tak ada alasan buat ditampik, dicurigai, atau dihujat. (vitri)

 

TEROPONG, Edisi 51, Mei-Juni 20101, hlm. 43