Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)

Ria Enes

Ria Enes001Ria Enes lahir di Malang, 29 Juni 1968. Beragama Islam. Pendidikan SD hingga SMA ia selesaikan di kota Malang. Meraih gelar sarjana Fakultas llmu Komunikasi, Jurnalislik Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Penyanyi yang punya nama asli Wiwik Suryaningsih karirnya dimulai menjadi penyiar di Radio Carolina selama 9 bulan (1987). Kemudian tahun 1988-1994 pindah di radio Suzana. Sering pula dimintai menjadi MC pada acara-acara khusus di TVRI Surabaya.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya, diantaranya HDX Award 1991 untuk album “Si Kodok”, dua tahun yakni 1992 dan 1993 menerima HDX Golden Award untuk albumnya “Susan punya cita-cita”. Terakhir dia mendapat julukan sebagai “Srikandi Award Tahun 1994 sebagai wanita berprestasi”.
Putri ke delapan dari pasangan Abdul Jahlal dan Umi Kusnul tinggal bersama keluarga di Jalan Simpang Darmo, Permai Selatan VIII/3 Surabaya.
Siapa yang tak kenal Suzan? Tentu, pandangan kita tertuju pada artis kelahiran kota apel ini. Dialah Ria Enes, bukankah Suzan itu Ria Enes, dan Ria Enes adalah Suzan?
Tapi agaknya, bukan ia kalau tidak mampu memilahnya. Meski dalam batas-batas tertentu dibumbui subjektivitas pribadi. Terbukti bisa menyekat ruang yang seolah tanpa batas antara dirinya dan boneka Suzan. Hasilnya gelar Sarjana Komu­nikasi dari Fikom Unitomo Surabaya buat dia yang wisudanya digelar bulan Januari yang lalu.
Mungkin inilah enaknya jadi penghibur semacam Ria. Ia tak perlu jauh-jauh mencari topik skripsi sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana. Boneka Suzannya yang fenomena itu, ia teliti sendiri kadar kredibilitasnya di mata anak-anak penggemarnya.
Maka jadilah skripsi berjudul “Tanggapan Anak-Anak Terhadap Figur Suzan Se­bagai Penyampai Pesan”, (studi penelitian Diskriptif tentang tanggapan anak-anak usia TK-SD di Surabaya dan Jakarta terha­dap Figur Suzan sebagai penyampai pe­san) uang mengantarkannya ke gerbang kesarjanaan.
Sebagai artis penyanyi, tentu banyak mendapat pengalaman, baik itu suka maupun duka. Ia lalu menceritakan pengalamannya yang sangat berkesan di hatinya.
“Mulanya saya cuma hobi bermain bo­neka”, ujar Ria yang punya filsafah hidup, hidup itu tidak perlu ngaya. Lantas keterusan. Malah jadi populer. (AS-4)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996, editor Setyo Yuwono Sudikan. Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 30 (CB-D13/1996-…)

 

Toeti Adhitama

Prahastoeti Adhitama, Lahir di  Madiun,Jawa Timur, 19 Februari 1935 beragama Islam

TUTI ADHITAMAPendidikan:
SD Cemara II, Solo (1947);
SMPI, Pekalongan (1951);
SMA Budi Utomo, Jakarta (1954);
Fakultas Sastra UIJakarta (B.A., 1951);
Universitas Virginia, AS (1962-1963);
Universitas George Washington, AS (M.A., 1914)

Karier:
Tahun (1963-1915) Toeti sebagai Penyiar radio Voice of America;
Tahun (1915-1916) sebagai Editor majalah Femina;
Penyiar TVRI (1916-sekarang);
Dosen tidak tetap Fakultas Sastra (1919—sekarang) dan
Dosen tidak tetap FISIP UI (1983—sekarang);
Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi majalah Eksekutif (1979-sekarang)
Kegiatan lain: Manajer PT InscoreAdcom (1911-1980);
Anggota Kelompok Ketja Menteri P&K(1980-1983);
Anggota Dewan Kurator LPPM (1984-sekarang)
Alamat Rumah: Jalan Cempaka Putih Tengah 21D/42, Jakarta Telp: 414142
AlamatKantor: Jalati Senopati 67 Jakarta Selatan Telp: 582357
 
Dalam suatu acara wisata keluarga di Mesir, 1975, Toeti dan kedua anaknya mengitari piramid sambil duduk di punggung unta. Balik ke tempat suaminya, menunggu bersama pemilik ketiga unta, segera terjadi perdebatan antara suami Toeti, wiraswastawan Wahyu Adhitama, dan pemilik unta, yangmenuntut sewa ekstra. “Sementara itu, kami bertiga terkatung-katung di punggung unta, tidak tahu cara turun dari punggung hewan jangkung itu,” tutur Toeti. Setelah tuntutan pemilik dituruti, dengan sedikit aba-aba, unta langsung menekuk kaki. Selamatlah Toeti dan kedua anaknya.

Sebagai ahli Komunikasi Antar-Pribadi, dan sejak 198 3 mengajarkan ilmu ini pada Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, di samping memberikan kuliah Psikolinguistik di Jurusan Inggris Fakultas Sastra universitas yang sama, Toeti tenang menanggapi kejadian itu: “If was a friendly persuasion dari pemilik unta, agar suami saya membayar lebih banyak,” katanya. Dalam ilmu komunikasi, Toeti mendapat gelar Master dari Universitas George Washington, AS, 1974.
Ia sudah berpraktek di media massa sejak awal 1959, sebagai penerjemah dan penyiar Radio Australia di Melbourne. Terakhir — di samping memimpin majalah Eksekutif, Toeti masih aktif di TVRI. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pernah memberinya penghargaan sebagai pembaca berita terbaik.
Setiap hari, Toeti memulai kesibukannya pada pukul 5 pagi. Potongan rambutnya tetap pendek, cara berpakaiannya pun selalu ringkas dan rapi. Sejak masih di SMA, penampilan Toeti sudah begitu. Ia menyukai warna putih, hitam, dan cokelat muda.
Ayahnya, Prayitno, adalah pensiunan ABRI. Toeti, anak sulung dengan empat adik, mengaku masa kecilnya tidak gemerlapan. Di zaman Revolusi Kemerdekaan, ayahnya turun ke medan. Ia dititipkan pada tantenya, dan harus berpisah dengan adik-adiknya, yangikut saudara-saudara lain.
Mereka berkumpul kembali setelah Toeti tamat SMP. Ia rajin bersenam, main boling, bridge, dan golf. Yang terakhir ini biasa dilakukannya di lapangan Rawamangun. “Seminggu, kalau lagi enak, saya bisa main golf sampai tiga kali,” katanya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah berita minggu Tempo: Apa & Siapa sejumlah orang Indonesia 1985-1986., Jakarta: Pustaka Grafitipers 1986. hlm. 108 

Ismanu Soemiran

ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)

Ita Purnamasari

 

Ita PurnamasariIta Purnamasari Lahir di Surabaya 15 Juli 1957,  Putri bungsu darl lima bersaudara pasangan H. Soekarmen dan Dyah ini tinggal di Jalan Pacar 3, Surabaya.
Lulus SMA Negeri 2 Surabaya tahun 1986. Lady rocker yang menyabet gelar The Best Award 1991 untuk kategori pop ini meraih gelar sarjana hukum di Universitas Surabaya (Ubaya) tahun 1993.
Karir Ita mulai mencuat berkat godokan perusahaan rekaman Billboard. Dalarn waktu singkat, albumnya pun bermunculan. Sukses “penari Ular”, terulang album- album berikutnya, “Ratu Disko, Rindu Sampai Mati, Cinta Bulan Desember, Swalayan.Selamat Tinggal Mimpi, Sanggupkah Aku, dan Biarkanlah”.
Mengawali karirnya dipanggung musik rock, ternyata mendapat tantangan dari kedua orang tuanya. “Mereka tidak mengizinkan, mungkin terlalu sayang pada saya. Bahkan kuatir, kalau-kalau sekolah saya terlantar, hanya karena terlalu asyik di dunia nyanyi”, katanya. Namun dia telah bertekad dan tak bisa dihalangi.
Kenapa aliran rock yang jadi pilihannya. “Sejak kecil sudah suka. Sebenarnya bukan hanya lagu-lagu keras, bagi saya merupakan suatu inspirasi yang dapat saya ekspresikan lewat lagu”, tambahnya.
Kiprahnya dipanggung rock, berawal ketika ia coba-coba beradu kemampuan vokal di festival se-lndonesia, dalam versi Lhog Selebor di Surabaya, 1984. la bergabung di Vocation Group. Kebetulan cewek yang mengikuti festival itu cuma dua orang. Ita dan seorang dari Medan. “Nah, untuk menjadi rocker, saya pikir festival itu suatu kesempatan baik”, kenangnya.
Ternyata Dewan Juri tidak memilih Ita sebagai juara. Tapi tidak membuatnya putus asa. Justru merangsangnya untuk tam- pil dan menunjukkan kebolehannya di setiap ada kesempatan “Walau tidak jadi ju­ara, tapi perasaan saya puas. Sebab, ketika saya menyanyi banyak penonton yang se- nang. Saya rasa,sambutan hangat ini sudah cukup bagi pendatang ba ru seperti saya”, katanya.
Yang patut dicatat, kualitas vokal Ita se- makin terasah. Karakter vokalnya yang nye mpling itu kini mulai memiliki vibrasi sekalipun “berteriak” dalam nada-nada tinggi dan panjang. Ini bisa disimak lewat ternbang Hura-Hura yang bertempo cepat dengan nuansa rock. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 108 (CB-D13/1996-…)

Panut Darmoko

panutPanut Darmoko lahir di Nganjuk, 10 September 1931. Pendidikan formal yang pernah dikenyam Konservatori Solo (kini Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Pendidikan informal, di antaranya kursus pedalangan HBS Solo dan Pamarsudi Putri Solo.

Pensiunan guru SPG Negeri Nganjuk (1990) ini lebih dikenal sebagai dalang wayang purwo gaya Surakarta, Pimpinan Paguyuban Karawitan dan Kursus Pedalangan Larasmaya, Sekretaris PEPADI Pusat. Pada tahun 1980 memperoleh hadian seni dari Presiden Suharto. Pernah mendalang di Tokyo, Washington, New York, London, Paris, Pert, Canbera, Sidney, dan Adelaide.

Pada tahun 1966 mendalang di Istana Bogor, dan 3 kali men­dalang di Istana Merdeka. Pada tahun 1984 menunaikan ibadah haji. Perkawinannya dengan Sulasmi, dikaruniai 5 orang anak. Bersama keluarga tinggal di Jl. Sikatan 1/5 Nganjuk-64417.

Nama Ki H. Ahmad Panut Sosro Darmoko, bagi masyarakat pecinta wa­yang kulit di Jawa Timur dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang asing. Dalang kon- dang gaya Surakarta ini selalu menjadi panutan bagi dalang-dalang lain di Jawa Timur.

Penampilannya yang kalem, andhap-asor, dan selalu santun kepada siapa sajayang menjadi lawan bicaranya; menandai dirinya sebagai budayawan dan seniman yang teduh. Dalam hidupnya ia telah mencapai kesempumaan lahir dan batin.

Menanggapi perkembangan wayang kulit pada era globalisasi informasi sekarang ini, Ki Panut Darmoko mengibaratkan perang. Kalaupun diumpamakan manusia, ya seperti sesak napas, Di tengah-tengah perubahan sosial-budaya sekarang ini, orang mempunyai banyak alternatif, apa yang akan ditanggap. Berbeda dengan zaman dulu tidak ada tanggapan band, ndangndut, rock, vidio, dan yang lain. Orang hanya bisa memilih antara tayuban dan wayang kulit.

“Pagelaran jangan seadanya. Perlu adanya rekayasa agar menjadi tontonan yang menarik. Yang tidak kalah dengan seni-seni modern. Namun perlu diingat, bahwa wayang kulit selain sebagai ton­tonan sekaligus sebagai tatanan dan tun- tunan. Itulah sebabnya yang perlu direkayasa hanya sebatas sebagai tontonan. Sedangkan sebagai tatanan dan tuntunan harus tetap diagungkan dan dilestarikan, tidak dapat diuthakathik,” tuturnya ketika dimintai tanggapan tentang pergelaran wayang kulit. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 19  (CB-D13/1996-…)

Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Mohammad Noer

M NoerMohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah Kabupatern Sampang, 13 Januari 1918, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1932, Lulus HIS di Bangkalan,
Tahun 1936 MULO di Blitar,
Tahun 1939 MOSVIA di Magelang.
Mengawali karir di kantor Kabupaten Sumenep (1939-1940), di Kantor Kawedanan Ambunten (1940- 1941) dan jadi Mantri Kabupaten Bangkalan (1941-1943).
Tahun 1950 sebagai Penjabat Sementara Patih Pamekasan, Bupati Bangkalan (1960-1965), Pembantu Guber- nur (Residen) Jatim Wilayah Madura (1965-1967), Penjabat Sementara Gubernur Jatim (tahun 1967), Penjabat Gubernur Jatim (1967-1971) dan Gubernur Jatim (1971-1976).
Tahun 1973-1978 dan 1985-1992 terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Duta Besar di Prancis (1976-1980), anggota Dewan Pertimbangan Agung (1981-1983,1983-1988), Rektor Universitas Bangkalan (1985 1988) dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989). Saat ini diantaranya menjabat sebagai Ketua Konsor- sium Pembangunan Jembatan Surabaya – Madura, Ketua Yayasan Jantung Sehat Jatim dan Ketua Yayasan Ajidarma.
Banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Bintang Mahaputera Utama III, Bintang GrandOfUcier d’Ordre du Merite dari pemerintah Prancis, Lencana Manggala Karya Kencana BKKBN, serta Bintang Legiun Veteran.
Menikah dengan Mas Ayu Siti Rachma dan dikaruniai 8 putra. Kini tinggal di Jl. Ir. Anwari 11, Surabaya, telepon 65458.
Jawa Timur agaknya sudah tidak bis dipisahkan dengan namanya. Moharn mad Noer begitu dikenal oleh warga Jatim karena berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukannya. Meski tak lagi, menjabat sebagai Gubernur Jatim, namun masyarakat masih menganggapnya sebagai salah seorang sesepuh yang patut untuk dimintai pendapat.
Tak heran kalau rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Karena jadwal kegiatannya cukup padat, ia harus mengatur waktu kun jungan tamunya dengan cermat. “Saya punya buku agenda yang mengatur jadwal kegiatan sehari-hari. Selain itu juga ada papan tulis yang berisi kegiatan saya. Kita memang harus berdisiplin soal waktu,” ungkapnya, sembari memperlihatkan buku agendanya. Dalam buku itu, bahkan aktivitas yang akan dilakukan sebulan kemudian sudah tercatat rapi.
Ia berupaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, dan keluarga. Maka dalam mewujudkan tugas, ia selalu berusaha meningkatkan taraf hidup ma¬syarakat, khususnya masyarakat kecil. Sewaktu menjabat sebagai Gubernur Jatim ia telah bertekad agawe wong cilik gumuyu membuat rakyat kecil tertawa.
Ada beberapa peristiwa yang sangat berkesan di hatinya, sewaktu masih men¬jabat sebagai orang pertama di Jatim. Peristiwa pertama adalah saat mefighadapi kasus carok yang berkepanjangan antara sebagian warga Bangkalan dan Sampang Karena kedua kelompok masyarakat itu saling dendam kesumat untuk melakukan ca¬rok, maka peristiwanya jadi berlarut-larut dan sukar diatasi, sehingga meresahkan mayarakat lainnya.
Bagaimana tindakannya untuk menyelesaikan kasus gawat itu? “Sayatahu bahwa orang Madura sangat menghormati Sunan Ampel. Maka saya mengumpulkan kedua pihak yang bertikai di halaman Mesjid Sunan Ampel untuk membaca ikrar dan sumpah bahwa mereka tidak akan melakukan carok lagi. Dan sesudah itu syukurlah carok tak terjadi lagi,” ungkapnya.
Cara-cara religius memang dipakainya untuk menyelesaikan masalah. Seperti se- waktu terjadi musibah penerbangan di Srilanka, 4 Desember 1974 yang menewaskan 184 jemaah haji dari berbagi daerah di Jatim. Masalahnya adalah bagaimana mengirimkan kembali jenazah itu kepada keluarganya, karena kesulitan identifikasi jenazah. Kembali halaman Mesjid Sunan Ampel menjadi jawabannya. Dengan dimakamkan di tempat itu, segenap keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengikhlaskan jenazah parasyuhada itu dikuburkan di satu tempat.
Peristiwa lain yang berkesan adalah sewaktu menghadapi kasus jaring ikan di Muncar tahun 1974. Saat itu bupati setempat merasakan taraf hidup masyarakatnya, yang sebagian besar nelayan, belum begitu menggembirakan. Hasil mereka menangkap ikan belum seperti yang diharapkan.
Maka bupati lalu berinisialif membuat jaring baru yang ditarik dua kapal. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena berhasil menangkap bertonton ikan, padahal dengan jaring biasa yang hanya menggunakan satu kapal, cuma diperoleh sekitar 25 kg.
Kesulitan timbul, ketika nelayan di daerah lain merasa cara penjaringan ikan seperti itu akan cepat menghabiskan ikan dilautan. Lalu terjadi insiden pembakaran perahu-perahu nelayan Muncar. la kemudian mengumpulkan para demonstran yang ti¬dak menyetujui pemakaian jaring baru itu.
“Saya katakan pada mereka, apakah ka¬lian ingin maju apa tidak? Kalau ingin hidup lebih baik lagi, maka sistem yang baru itu harus diterapkan,” tegasnya. Tampaknya para nelayan bersedia mengikuti sarannya. Namun timbul problem berikutnya, bagai¬mana mengadakan kapal yang lebih banyak buat mereka, karena jaring ini ditarik dua kapal.
Masalah terpecahkan setelah ia menghadap PresidenSoeharto. Hasilnya, Pemda Jatim mendapat kredit untuk pengadaan kapal. Ini hanya beberapa contoh keberhasilannya dalam membangun Jatim, yang ditandai dengan perolehan anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.
Sebagai atasan ia berusaha untuk memberi contoh pada bawahannya. Kepada pa¬ra stafnya ia selalu menekankan rasa cinta tanah air dan menanamkan sikap agar bekerja tidak hanya atas dasar perintah. “Sewaktu saya menjadi Bupati Bangkalan, saat itu tak tersedia dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Namun dengan swadaya masyarakat akhirnya kami bisa membangun jalan-jalan. Sekolah-sekolah di desa terpencil kami bangun. Dengan adanya guru di desa tersebut diharapkan bisa memacu perkembangan desa,” ung-kapnya.
Saat menjabat Wedana Arosbaya, Ma¬dura, tahun 1947, ia merasakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda. la bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Saat itu istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, sang istri terpaksa mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karang- duwak. Di desa ini anak ketiganya dilahir-kan.
Serangan Belanda itu terjadi setelah Belanda melanggar persetujuan Linggarjati. Ketika itu Madura akan dikuasai untuk dijadikan negara boneka Namun dengan tegas ia menolak ajakan Belanda mendirikan Negara Madura. Karena itu tawaran Belanda untuk mengakhiri permusuhan tidak digubris olehnya. Waktu itu kelompok gerilya mulai terdesak, sehingga akhirnya diputuskan untuk hijrah ke Jawa dan membentuk pemerintahan Madura di pengasingan.
Untuk meninggalkan Madura waktu itu tidak mudah, karena laut di sekitar Madura sudah dikuasai Belanda. Namun akhirnya ditemukan sebuah tempat penyebrangan paling baik untuk menghindari kemungkinan disergap patroli Belanda, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, sekitar 20 dari 22 perahu peng’ungsi dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai daerah Tuban. “Demi membela nusa dan bangsa, saat itu kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkapnya.
Sewaktu menjadi Duta Besar Prancis, ia selalu memacu mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana, agar bisa berprestasi. Dan menurutnya kemampuan ma¬hasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa dari negeri lainnya. Tak jarang ada mahasiswa yang lulus cumlaude
“Dalam soal ilmu, kita tidak kalah dengan ilmuwan Prancis. Pernah pada suatu seminar, ilmuwan Prancis terpukau oleh presentasi yang dibawakan delegasi kita, meski menggunakan Bahasa Indonesia. Soal bahasa memang tidak ada masalah, karena kami menyediakan penerjemah,” jelasnya.
Menyinggung soal potensi utama Jatim, menurutnya terletak pada sumber daya manusianya. Jangan sampai kepadatan penduduk justru menjadi beban. “Lihat saja Je-pang, meski sumber daya alamnya terbatas, namun karena manusianya urv ggul, bi-sajadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus menanamkan patriotisme dan nasi-onalisme kepada para pemuda kita. tegasnya.
Industrialisasi di Madura menurutnya sudah saatnyadijalankan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bayangkan saja, saat ini hanya 12% siswa SD yang bisa meneruskan ke SMP, sebelum ada Wajib Belajar 9 tahun. Dan 64% wilayah Madura mendapat Inpres Desa Tertinggal “Dengan adanya industrialisasi, rakyat Madura bisa meningkatkan kesejahteraannya Lagipula mereka juga sudah biasa kerja di pabrik-pabrik. Nanti direncanakan Madura akan jadi tempat industri hitech, seperti elektronika. Tentu kita harus mencegah agar hal-hal yang maksiat tidak terjadi,” tegasnya.
Dalam mendidik ke delapan anaknya, ia mengadakan pendekatan secara kekeluar gaan. Diusahakannya untuk selalu bisa makan malam bersama keluarga. Tak heran kalau meja makan keluarganya sampai berisi 14 kursi. Dalam kesempatan itulah ia berkomunikasi dengan anak-anaknya, mem berikan petuah dan nasehat.
“Saya tekankan pada anak-anak, agar jangan tergantung pada siapapun, kecuali Allah SWT. Mereka jangan tergantung kepa¬da saya, karena suatu saat pasti saya akan pensiun sebagai pejabat. Saya mendiiplinkan mereka agar bisa menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Sehingga mereka mau belajar dengan kesadarannya sendiri. tanpa harus diperintah,” paparnya.
Untuk menjaga kesehatan, dulu setiap pagi ia rajin jogging. Namun oleh dokter ia tak diperbolehkan olahragayang bertumpu pada kaki. Akhirnya ia berganti dengan olah raga renang. Hampir setiap hari ia berenang di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kalau sedang berada di Jakarta, ia juga menyempatkan diri untuk berenang.
“Kalau pikiran ruwet harus segera dihilangkan dengan menghibur diri. Misalnya bermain dengan cucu, melihat ayam bekisar dan kate. Sesudah itu biasanya pikiran tenang kembali,” ungkapnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 86-89 (CB-D13/1996-…)

KARTOLO

Kartolo lahir di Pasuruan, 2 Juli 1947. Beragama Islam. Pendidikannya hanya sampai di Sekolah Rakyat selesai tahun 1958 di kota kelahi rannya.
Sebelum mendirikan group lawak Kartolo Cs, pernah bergabung dengan group kesenian ludruk Dwikora, Marinir, RRI dan Persada Lama.
Menikah dengan Kastini dlkaruniai tiga anak masing- masing Kristianing dan Dewi Antriali sedang putra pertamanya meninggal saat melahirkan. Kartolo bersama keluarga tinggal di Jalan Kupang Jaya 1/12-14 Darmo Satelite, telepon (031) 710555 Surabaya.
Namanya tak bisa dipisahkan dengan Kastini, istrinya. Maklum, pasangan ini sama-sama pelawak kondang di Jawa Timur yang bernaung dalam satu groupnya, yakni Kartolo Cs.
Arek Surabaya ini mengaku tak punya kiat khusus hingga eksistensinya bertahan sampai sekarang. Namun tokoh lawak satu ini mengaku tak mau mengandalkan bakat alam semata. “Biasa saja. Belajar dari pengalaman.
Yang penting lagi, mau belajar apa saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan,” ujar pelawak yang suka bermain karawitan dan menari ngremong. Meski. hanya berpendidikan formal di Sekolah Rakyat, Kartolo yang mulai berani melawak sejak usia remajatetap rajin mem- baca literatur bahkan senang mencari informasi untuk memperkaya cakrawala sebagai bahan lawakannya yang kreatif.
Kalau hanya mengandalkan bakat alam saja, kata- nya seorang lawak bakal menjadi kering dan tak berkembang. “Padahal, perubahan dan perkembangan masyarakat pencinta seni lawak dewasa ini khan., semakin maju pesat. Tentu saja, hal ini yang menjadi tuntutan dan selera para penontonnya, agar dunia lawak tak akan ditinggalkannya,” katanya.
Segudang pengalamannya, memang patut dicatat tersendiri. Hampir setiap waktu ia mendapat tawaran di luar daerah. Baik itu di JawaTimur, Jateng & DIY, Jabar maupun sampai di luar Jawa. Baginya, ia memang harus siap selama masih dibutuhkan.
Selain mendapat tawaran pentas di luar daerah, ia juga sering di mintai melawak di berbagai perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 60 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)