Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kesenian Damarulan, Kabupaten Banyuwangi

Janger atau legong adalah kesenian tradisional yang berasal dari daerah Bali, dan yang dapat tumbuh dan berkembang serta digemari masyarakat Banyuwangi. Di Banyuwangi, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa Tengah cerita yang dipentaskan biasanya babad-babad Majapahit, Blambangan, dan sebagainya, sedangkan gamelan dan tata rias serta busananya tidak menin- galkan aslinya.

Sekitar tahun 1950, Banyuwangi mengalami per­tumbuhan kesenian ini sehingga hampir setiap desa memilikinya Lakon yang hampir selalu ditampilkannya, dan sangat digemari masyarakat, ialah cerita Damarulan Ngarit ‘Damar Wulan menya­bit rumput’ sehingga akhirnya kesenian itu lebih dikenal dengan nama damarulan. Damar Wulan adalah nama tokoh kerajaan Majapahit semasa pemerintahan ratu Kencana Wungu.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini, damarulan banyak dan sering menampilkan cerita lain, seperti Sri Tanjung, Jaka Umbaran, Bantrang Surati, Agung Wilis, dan babad-babad tentang berdiri­nya mesjid Demak, bahkan kadang-kadang diambil dari cerita film. Kesenian tradisional damarulan makin banyak digemari, mungkin karena pertumbuhan serta peningkatan cipta seninya memenuhi selera daerah setempat.

Dalam pada itu, jenis kesenian yang dianggap sebagai sumbernya, yaitu legong atau janger, masih terdapat di beberapa tempat di Banyuwangi, walaupun pengge­marnya tidak banyak Kesenian tradisional damarulan termasuk drama. Walaupun cakapan dilakukan dalam bahasa Jawa Tengah, tetapi motif Bali masih dominan, terutama dalam hal tata rias, ta­ta busana, bentuk gerak tari, dan perangkat gamelan dengan laras­nya yang khas Bali.

Kita telah banyak mengenal gending irama Bali dengan rit­me yang lincah dari kombinasi nada yang merdu dan serasi itu, dan pada kesenian damarulan pun terdapat gending yang sama.

Pada kesenian legong atau janger, sarana peralatannya cukup besar, terutama perangkat gamelannya. Kesenian damarulan pun demikian pula. Perangkat gamelannya terdiri dari 12 macam gamelan, sedangkan tenaga penabuhnya ada 19 orang. Satu pe­rangkat gamelan damarulan terdiri dari :

a) Sebuah gamelan yang disebut pantus, yaitu gamelan sema­cam selenthem pada angklung banyuwangi, dan pemukulnya seorang, disebut pantus juga. Pantus sebagai pembawa gen­ding pada perangkat gamelan ini, mempunyai peranan pen­ting dalam penampilan cerita sehingga ia harus banyak penga­laman dalam hal pagelaran kesenian damarulan.

b) Gamelan yang disebut tempalan i,sebanyak tiga buah ter­diri dari dua tengahan dan satu peking, dan berfungsi mem­berikan pukulan yang berlawanan dengan tempalan 2.

c) Tiga gamelan tempalan 2, terdiri dari dua tengahan dan satu peking. Cara memukul tempalan 1 dan tempalan 2 ber­lawanan, mengikuti irama pantus, dan para penabuhnya duduk berhadapan

d) Dua buah calung, yaitu jenis gamelan semacam selenthem be­sar, bedanya masing-masing mempunyai wilahan yang hanya terdiri dari enam wilah. Cara memukulnya bersamaan me­ngikuti irama pantus yang memiliki 12 wilah.

e) Sebuah jubag, yaitu semacam selenthem besar, tetapi terdiri dari enam wilah dan tiap wilah terdiri dari wilahan yang rangkap. Dengan demikian alat pemukulnya pun rangkap dua. Cara memukulnya irama lambat atau satu-satu, meng- kuti irama pantus. Namun mengikuti pukulan yang tera­khir tiap birama seakan-akan mengikuti lagunya pada bagian belakang.

Kecek, yaitu alat ritmis terbuat dari lempengan semacam seng tebal, dua pasang, masing-masing disusun rangkap ber- bentuk lingkaran. Alat pemukulnya juga terbuat dari bahan yang sama, berbentuk sama pula, hanya tidak rangkap. Cara memukulnya dengan menggunakan tangan kanan dan kiri bergantian mengikuti irama, gendingnya berfungsi seba­gai sisipan pada iramanya, dan terutama untuk memperte­gas persamaan gerak tari pelaku yang sedang menari.«

g) Kethuk, yaitu alat yang hanya terdiri dari satu saja. Cara memukulnya dengan irama yang tidak tetap. Walaupun se­derhana, alat ini tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang.

h) Sebuah gong yang fungsinya sama dengan pada gamelan lain.

i) Dua buah gendang dengan dua orang pemukul juga, ber­fungsi membawa irama.

j) Reong, yaitu gamelan khas Bali, berupa deretan kempul yang memanjang sebanyak 12 buah dengan empat orang pemukul. Gamelan ini mengiringi irama gending dengan suara yang khas Bali.

Penampilan atau permainan damariilan di daerah Banyuwangi sama dengan cara penampilan janger atau legong di Bali. Pentas berupa panggung dengan latar belakang skerm dengan berbagai macam gambaran atau lukisan yang digunakan menurut kebu­tuhan cerita atau lakon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,

 

Kesenian patrol, Kabupaten Banyuwangi

Kesenian patrol merupakan salah satu jenis musik khas Banyuwangi yang tetap hidup dan berkembang sampai sekarang. Kesenian patrol adalah jenis musik rakyat yang lebih bersifat ritmis, tanpa peralatan diatonik.

Dalam perkembangannya, di beberapa tempat ditambahkan satu atau dua peralatan diatonik, biasanya berupa angklung atau seruling dari bambu sebagai peng­ganti vokal. Kesenian patrol yang aslinya juga tetap berkembang, merupakan seni memukul peralatan ritmis dari ruas-ruas bambu yang diraut dan diatur demikian rupa sehingga enak didengar dan sedap dipandang, dengan teknik pukulan khas Banyuwangi.

Kesenian patrol juga terdapat di daerah lain dengan ciri khas masing-masing, antara lain di Madura dan Jawa Tengah.Pada patrol Banyuwangi ada semacam alat patrol ritmis yang dalam dialek Using disebut gendhong. Alat itu berfungsi seperti gendang pada kesenian angklung Banyuwangi atau selo pada musik keron­cong.

Jadi alat itu berfungsi penting sebagai pengatur irama dan ritmanya. Pemukul gendhong harus benar-benar tahu irama dan banyak memahami teknik permainan patrol. Musik rakyat patrol Banyuwangi berfungsi sebagai salah satu sarana dalam rangka penjagaan keamanan desa dari segala macam bahaya, dan kata patrol yang berasal dari kata patroli berarti ‘beijaga berkeliling’ atau ‘meronda’ sambil membunyikan peralat­an ritmis terbuat dari mas bambu besar kecil, yang apabila dipukul mengeluarkan bunyi berbeda dan enak didengar.

Dalam hubungan itu, mungkin peralatan patrol dibuat di samping sebagai salah satu sarana kegiatan patroli atau meronda dari penduduk kampung yang berfungsi untuk tanda membangunkan penduduk desa yang sedang tidur, juga sengaja untuk sekedar menyusun bunyi-bunyian indah berirama sebagai pencegah para peronda mengantuk.

Dewasa ini kesenian patrol Banyuwangi terbina dan berkembang dengan baik, serta terkordinir secara teratur dengan kaidah-kaidah permainan tertentu sebagai salah satu jenis kesenian daerah Blam- bangan Banyuwangi.

Kesenian patrol banyuwangi memiliki ciri khas. Secara tra­disional, di daerah Banyuwangi, selama bulan Ramadhan ada kebiasaan setiap malam sesudah sembahyang tarawih diadakan permainan patrol berkeliling dari kampung ke kampung oleh para remaja dan bahkan ada yang sudah dewasa. Kebiasaan itu tidak lagi berfungsi sebagai penjaga kampung atau ronda malam, tetapi secara suka rela tanpa rasa pamrih membangunkan penduduk desa yang masih tidur lelap segera bangun untuk makan sahur.

Dalam penampilannya, patrol selalu diiringi vokal membawa­kan lagu atau gending banyuwangen dengan cengkok serta logat yang khas Banyuwangi, diselingi ucapan suara lantang dan keras, “sahur! sahur!” Dalam perkembangan selanjutnya, kesenian pa­trol yang terorganisasi dengan rapi serta mempunyai program pem­binaannya, dapat dijumpai setiap saat, dan tidak hanya menampil­kan bunyi-bunyian peralatan patrol itu saja, tetapi dilengkapi dengan lagu perjuangan daerah Blambangan ciptaan baru. Musik rakyat patrol ini membawakan lagu daerah Banyuwangi yang biasa dibawakan oleh penari gandrung.

Dalam usaha pembinaannya, setiap bulan Ramadhan diada­kan festival “Parade Patrol”, diikuti oleh semua organisasi patrol di seluruh wilayah kabupaten Banyuwangi. Dengan usaha itu, daerah Banyuwangi sempat membina kesenian ini. Untuk menen­tukan juara parade itu, biasanya ditetapkan kriteria penilaian yang meliputi hal-hal berikut.

  1. Kecakapan atau teknik pukulan, yaitu kemahiran cara memu­kul peralatan patrol sehingga terdengar suara dan irama yang indah. Ketrampilan pukul akan melahirkan keserasian suara yang indah serta pengaturan irama atau ritma pukulan yang enak didengar. Keserempakan mulai memukul dan berhen­ti pada saat yang tepat, adalah salah satu dari ketentuan kriteria ini.
  2. Aransemen, yaitu pukulan atau irama sisipan pada pukulan para pemainnya, biasanya banyak tergantung kepada kete­kunan mereka berlatih di samping kecakapan pimpinan atau  pelatihnya. Setiap grup mempunyai aransemen yang ber­lainan, tergantung kepada selera pelatihnya, namun tidak meninggalkan irama dan ritma khas Banyuwangi.
  3. Keindahan bunyi peralatan patrol yang tidak terlepas dari aransemen, warna bunyi atau suara peralatan patrol itu sen­diri sangat menunjang keindahannya. Patrol yang pecah atau tidak nyaring, sudah tentu tidak akan melahirkan suara yang merdu atau indah. Dalam lomba itu, biasanya juga ditentukan keaslian peralat­annya, yang terutama terbuat dari bambu atau kayu.
  4. Tata tertib dan kesopanan, biasanya telah ditentukan lebih dulu oleh panitia jauh sebelum parade dilaksanakan, me­nyangkut ketentuan yang bersifat ideal sebagai orang Timur. Tata busana, yang tidak terlalu mewah, tetapi sopan dan pantas. Kriteria penilaian busana ini tidak amat menentu­kan.

Peralatan kesenian patrol khas Banyuwangi umumnya terbuat dari ruas bambu besar kecil yang diraut dan dilubangi demikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara nyaring apabila dipukul. Dari warna bunyi yang indah itu, sekelompok anak muda berusaha mengungkapkan rasa musikalnya melalui kesenian ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 33-35

Tari Padangulan, Kabupaten Banyuwangi

Tari padangulan adalah satu jenis tari daerah Blambangan Banyuwangi yang termasuk jenis tari kelompok berpasangan, dan sudah dikenal di seluruh daerah Jawa Timur. Namanya dise­suaikan dengan suasananya, yaitu ketika kelompok muda-mudi berpasangan bersukaria bersama di bawah sinar bulan purnama di tepi pantai Banyuwangi. Memang sudah menjadi kebiasaan, pada waktu bulan purna­ma, pantai Banyuwangi banyak dikunjungi para pemuda, terutama para remaja, apalagi jika kebetulan tepat pada malam Minggu. Pada saat itu mereka berkesempatan saling berpasangan menikmati hawa sejuk tepi pantai, memadu janji di bawah kilauan air laut. Tari padangulan adalah satu tarian tradisional yang bersifat hiburan semata-mata sehingga dapat dianggap sebagai tari per­gaulan muda-mudi. Tari ini termasuk tari rakyat, yaitu tarian yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat Using, Banyuwangi Tarian ini diiringi angklung Banyuwangi dengan gending banyu- wangen, Padangulan, yang syair lengkapnya dalam dialek Using adalah sebagai berikut: Padangulan nong pesisir Banyuwangi, padangulan nong pesisir Banyuwangi, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, soren-soren lanang wadon padha teka. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, berkilauan lautannya bagai cermin, berkilauan lautannya bagai cermin, sore hari, pria wanita berdatangan. Gending itu akan terasa lebih indah apabila diiringi angklung Banyuwangi yang erotik melankolik dan lincah, menarik siapa pun yang menikmatinya, apalagi dengan santapan visual kelompok penari cantik menarik. Seperti pada tarian tradisional Banyuwangi lainnya, tari ini juga dengan motif khas Banyuwangi, seperti gerak tari pada penari gandrung. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 31-32

Hadrah Kuntul, Kabupaten Banyuwangi

Hadrah kuntul, atau lebih dikenal dengan nama hadrah kun- tulan atau kuntulan saja, adalah salah satu di antara kesenian khas daerah Banyuwangi yang masih tetap hidup dengan subur dan berkembang dengan baik di beberapa daerah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Hadrah adalah nama jenis kesenian atau organisasi kesenian yang banyak terdapat di seluruh Jawa Timur, dengan jenis peralatan yang khas berupa alat musik bersifat ritmis, yang disebut terbang.

Karena alatnya itu, kesenian ini juga biasa disebut terbangan, yaitu jenis kesenian yang bernafaskan ajaran agama Islam dalam bentuk nyanyian atau pujian salawat bagi Nabi Besar Muhammad SAW. dalam rangka syi’ar Islam di daerah. Kuntulan, berasal dari kata kuntul, yaitu nama sejenis burung yang berbulu putih. De­ngan demikian, hadrah kuntulan adalah kesenian yang telah me­ngalami perkembangan dan perubahan karena kemajuan atau pengaruh situasi kelilingnya; antara lain dalam penampilannya para pemain mengenakan pakaian atau seragam yang menyerupai bentuk atau warna burung kuntul, yaitu celana, hem lengan pan­jang, dan berkaos tangan yang semuanya berwarna putih. Di sam­ping itu pemain masih mengenakan semacam peci warna kuning atau biru dengan motif burung kuntul. Lagu dan nyanyian yang ditampilkan, dalam perkembangan, di samping yang bernafaskan agama, juga lagu perjuangan, lagu Melayu, lagu daerah Blambang- an, dan lain-lain. Untuk lebih menarik dan sesuai, biasanya peralat­an atau instrumennya lebih dilengkapi dengan semacam gende­rang besar yang disebut jedor, seruling, tenor, dan sebagainya. Ada juga yang dilengkapi dengan akordion, gitar, dan masih ba­nyak yang lain.

Ditilik dari segi penampilan peralatannya, kesenian ini sulit dikatakan asli dari daerah Banyuwangi, walaupun hanya terdapat di daerah itu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kesenian ini termasuk kesenian yang berbau keagamaan, berasal dari bentuk

samanan, yaitu kesenian dengan memakai peralatan terbang dan bertujuan untuk syi’ar agama Islam.

Hadrah kuntulan termasuk jenis kesenian hiburan, mengan­dung nilai keagamaan, walaupun bukan berarti penampilannya khusus untuk kegiatan upacara agama. Sebagai kesenian hiburan, sekarang lebih banyak menjurus kepada hiburan masyarakat sehingga sering dipentaskan untuk keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau khitanan. Ciri khas penampilannya banyak dipengaruhi pencak silat, namun lepas dari sifat bela diri.

Organisasi hadrah kuntulan yang lebih maju dan lebih kaya, biasanya mempunyai peralatan lebih banyak, dilengkapi peralat­an musik modern untuk orkes Melayu, berupa akordion, bas- gitar, dan lain-lain. Bahkan ada pula organisasi kesenian hadrah kuntulan yang sengaja memenuhi selera masyarakatnya, terutama para penggemarnya, dengan menampilkan para vokalis lagu melayu. Walaupun demikian, sifat tradisionalnya yang dominan tetap tidak ditinggalkan, dan biasanya penampilan lagu melayu itu hanya mereka tampilkan pada saat acara selingan.

Pada acara hiburannnya, hadrah kuntulan menampilkan tarian dan nyanyian yang unik sekali dan khas Banyuwangi, yaitu mengarah kepada bentuk silat. Salah satu gerakannya, mi­salnya, kedua belah tangan terbuka dan bergetar kiri dan kanan berganti-ganti ke atas dan ke bawah dengan sikap menengadah dan melihat ke bawah berganti-ganti pula mengikuti irama je- dor dan terbang bervariasi. Seluruh pemain, berjumlah tidak lebih dari 20 orang laki-laki, 12 orang di antaranya sebagai pemukul instrumen, dan 8 orang berfungsi sebagai rodat ‘penari’. Dalam penampilannya, seorang rodat yang disebut pantus berfungsi se­bagai dalang atau pembawa acara. Pantus pada kesenian ini hampir sama dengan satu pada angklung Banyuwangi, karena itu harus lebih mahir. Rodat yang lain selalu menurut perintah pantus, dan biasa timbul gerakan ber­beda apabila ada rodat yang kurang memperhatikan kehendak pantus. Kuntulan yang baik, gerakannya akan seragam, sesuai dengan perintah pantus. Kadang-kadang seorang rodat menari dan menyanyi dengan bentuk tari yang sesuai dengan lagu yang dibawakannya, sedangkan rodat yang lain menari dengan gerak­an seragam bersama-sama sambil mengimbangi rodat yang satu itu (tari rodat kombinasi), diiringi bunyi gamelan,. Setelah se­lesai, diganti rodat lain yang melakukan cara yang sama, dengan tarian yang berbeda selama satu atau dua lagu, terus-menerus bergantian.

Kesenian ini terus-menerus menghibur penonton sepanjang malam. Apabila perlu istirahat karena lelah, dengan kata-kata manis sang pantus menyampaikan maksudnya kepada anggota rodat maupun kepada penonton, dan sebagai acara selingan segera tampil para vokalis yang juga termasuk anggota kelompoknya dengan iringan peralatan orkes Melayu.

Pemukul instrumen terdiri dari 12 orang, 9 orang sebagai pemukul terbang dengan fungsi sebagai pengiring lagu, 2 orang sebagai pemukul jedor kecil dengan fungsi sebagai pemberi aba- aba irama dan ritmenya, dan seorang sebagai pemukul jedor be­sar yang berfungsi sebagai gong. Iramanya disesuaikan dengan

irama lagu dan gerak tari. Kadang-kadang cepat seperti irama pencak silat, kadang-kadang berubah lembut jika mengiringi lagu yang syahdu. Dalam peralihan itu, pantus memegang paranan yang menentukan, sedangkan keindahan warna pukulan pada instrumen tergantung kepada kecakapan dan kemahiran anggota pemukulnya memainkan instrumen yang khas itu.

Kesenian hadrah kuntulan memerlukan pentas atau pang­gung berukuran kira-kira 7 x 7 m, dalam bentuk arena terbuka atau di bawah tarob, yaitu sejenis bangunan sementara dari tenda atau welit sebagai atap tanpa latar belakang. Pagelarannya biasanya dilakukan pada waktu malam, dan lamanya tergantung kepada pengundang atau penyewanya, sesuai dengan hajat pengun­dang itu sendiri, untuk perkawinan, khitanan, atau sekedar ulang tahun.

Penampilannya lebih meriah lagi jika dengan sengaja pengun­dangnya mendatangkan dua kelompok kesenian kuntulan sehing­ga terjadi hadrah kuntulan caruk ‘hadrah kuntulan berlomba’. Kedua kelompok kuntulan yang akan bermain bergantian mengadu kecakapan dan saling menunjukkan kekayaan variasi pukulan atau aransemen mereka masing-masing, siap di pang­gung.

Pertunjukan semacam itu tidak ada panitiannya, dan tidak per­lu pula dibentuk tim penilai atau dewan juri. Penonton sekaligus bertindak sebagai juri: siapa yang mendapat banyak sambutan penonton dengan positif, tepukan meriah, atau pendapat simpati dan sanjungan penonton, itulah yang dinyatakan menang.

Teknis penampilan hadrah kuntulan adalah sebagai beri­kut.

Pertama-tama muncul satu persatu ke atas pentas 12 penabuh instrumen, membawa peralatannya masing-masing; mula-mula 9 orang pemukul terbang yang membawa terbang ditangan- nya, diikuti dua orang pemukul jedor kecil, dan akhirnya pemukul jedor besar. Mereka membentuk formasi dengan melihat situasi dan kondisi pentas; biasanya penabuh ter­bang berderet lurus dari arah depan ke belakang atau se­rong sebelah kiri atau kanan pentas. Di kedua ujung, ber- tempat jedor besar dan jedor kecil. Biasanya mereka ber­pakaian seragam kesenian daerah Blambangan.

b)         Setelah regu pemukul menempati formasi, mereka mulai membunyikan instrumennya sebagai tanda perkenalan kepa­da para penonton sambil menunjukkan kemahiran cara me­mukul, sebelum rodat muncul. Ini hanya satu teknik saja, ada teknik lain yang menampilkan pemukul instrumen dan rodat bersama-sama sejak awal.

c)         .   Setelah berdemonstrasi dengan pukulannya, tiba-tiba mereka mengurangi suara pukulannya dengan irama pelan, dan pada saat itu muncul para rodat dengan pakaiannya yang khas dan membentuk formasi, biasanya bersebelahan dengan penabuh instrumen dan menghadap penonton atau para undangan.

d)         Dengan aba-aba pantus, rodat maulai menarikan tari ucap­an selamat datang kepada para penonton, dimulai dengan ragam pembukaan. Ada yang disebut ragam duduk, menari dengan sikap duduk, ragam berdiri, menari dengan sikap ber­diri, ragam baris, ragam hormat, dan sebagainya.

e)         Pantus mulai memegang peranan pada permainan inti. Kadang-kadang seorang rodat menari dengan lincah di ha­dapan rodat lainnya yang bertindak sebagai latar, diselingi gerak ragamnya. Rodat itu bergantian maju menari sampai jauh malam, dan bahkan sampai terbit fajar.

Biasanya setiap organisasi kesenian kuntulan mempunyai jenis lagu atau nyanyian untuk lagu penutupnya, di samping itu ada pula bentuk tari yang disebut ragam penutup.

Untuk mengisi waktu istirahat setelah beberapa jam tam­pil di atas pentas, mereka mempersiapkan acara khusus, biasanya dalam bentuk lagu oleh para vokalisnya dengan iringan semacam orkes melayu. Kesenian ini tidak begitu menonjolkan tata rias para pemainnya, mereka mengatur dan merias dirinya sendiri, dan tidak menyulitkan karena semuanya laki-laki. Pakaian rodat terdiri dari:

a)          Tutup kepala berwarna putih, berbentuk peci. Sepanjang tepi bagian atas arah memanjang, ada tambahan hiasan garis dan umbai-umbai warna kuning atau hiasan yang lain menurut selera, mengingatkan kita kepada bentuk kepala seekor bu­rung.

b)          Kemeja putih lengan panjang, berbentuk setengah jas dengan hiasan garis warna kuning, berumbai sepanjang lengan kiri dan kanan, bagian dadanya dihias umbai warna kuning, merupakan dua garis bertemu membentuk sudut menghadap ke atas. Kemeja itu dipakai di luar celana.

c)          Celana putih dengan garis warna kuning kiri dan kanan, seperti yang terdapat pada pakaian latihan olah raga. Ba­hannya tergantung kemampuan, biasanya kain sejenis tek- teks atau sebangsanya.

d)          Sepasang kaus kaki warna putih, tanpa sepatu atau yang lain.

e)          Kaos tangan putih.

Tata busana itu tidak merupakan keharusan, baik bentuk maupun warnanya, tergantung selera dan kemampuan organi­sasi masing masing yang penting bentuk ukuk adalah motif bu­rung semacam kuntul

Busana pemukul instrumen, pada umumnya tidak ditentukan, me­nurut kemampuan yang ada saja, hanya harus seragam, biasanya dengan kain batik melilit pada perut, dan bersongkok hitam. Para pemukul instrumen umunya lebih tua daripada rodat, se­kitar 40-50 tahun, sedangkan rodat umumnya tergolong pemuda atau bahkan remaja. Sampai sekarang belum ada anggota wani­ta.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 36-41

Tari Seblang Olehsari, Kabupaten Banywangi

Tari seblang hidup dan berkembang di desa Olehsari dan Mojopanggung (kecamatan Glagah) yang terletak di kaki gunung Ijen. Tarian ini merupakan kesenian adat, dan sampai sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat Using, walaupun jarang dipentaskan. Tarian yang oleh masyarakatnya dianggap keramat ini hanya dipentaskan pada upacara adat tertentu saja, terutama pada upacara adat bersih desa ‘membersihkan desa. Menurut keterangan, tarian ini menjadi sumber lahirnya tari gandrung Banyuwangi yang sekarang sudah mulai dikenal secara meluas.

Walaupun tari seblang dikenal di dua desa. ternyata di antara keduanya terdapat sejumlah perbedaan. Perbedaan itu ialah antara lain yang berhubungan dengan:hal-hal berikut.

  1. Waktu pementasan. Tari seblang Olehsari dipentaskan pada bu­lan Syawal atau hari raya Idulfitri, selama satu minggu, sedangkan tari seblang Mojo­panggung dipentaskan pada bu­lan Zulhijah pada hari raya ldulkurban, selama satu hari saja.
  2. Penari seblang Oleh­sari terdiri dari para gadis muda, dan setiap tahun ber­ganti, sedangkan penari seb­lang Mojopanggung adalah wa­nita yang sudah berumur, dan tidak mengalami pergantian.
  3. Tata busana dan tata rias. Tata busana dan tata rias seblang Olehsari lebih asli dibandingkan dengan seblang Mojopanggung. Mahkota yang dikenakan penari seblang Olehsari terbuat dari daun-daunan dan bunga-bungaan setempat, sedangkan mahkota penari sebiang Mojopanggung bentuknya hampir sama dengan mahkota tari gandrung Banyuwangi.
  4. Bawaan. Tangan penari sebiang Olehsari hanya membawa sehelai selendang pelangi, sedangkan penari seblang Mojo-panggung membawa sebilah keris terhunus.
  5. Gamelan pengiring seblang Olehsari hanya terdiri dari dua buah saron, sebuah gong, dan kendang,, sedangkan gamelan pengiring tari seblang Mojopanggung merupakan perangkat gamelan yang lengkap.

Karena dianggap keramat, sudah wajar jika untuk mementaskan tari sebiang ini diperlukan persiapan cukup seksama. Pementa-san itu dipimpin oleh seorang laki-laki setengah baya yang berfungsi sebagai dukun atau pawang yang mendatangkan roh dengan mengucapkan mantra dan membakar dupa. Roh itu akan masuk ke dalam raga penari.

Sebagai pemimpin pementasan, dukun harus sudah mempersiapkan segala sesuatu lama sebelumnya. Menurut keterangan, persiapan itu dikeijakan berdasarkan impian sang dukun yang diterima dari roh yang diharapkan hadir Dalam impian itu roh yang bersangkutan biasanya yang dianggap cakal bekal desa menetapkan susunan panitia, penari, penabuh gamelan, pemaju,  pesinden gending banyuwangen, dan tempat pementasan. Semuanya itu tidak boleh diubah oleh siapa pun, dan sang dukun hanya menyampaikannya kepada masyarakat serta melaporkan kepada lurah.

Penari seblang yang ditunjuk dan ditugaskan, bisanya wanita muda yang belum bersuami atau janda yang masih turunan penari gandrung pertama. Jika hal ini tidak dilakukan, akibatnya akan sangat buruk, berupa pageblug, misalnya saja panen gagal atau sawah dan ladang diserang hama.

Penari seblang, setelah kemasukan roh, tanpa sadar menari-nari melengak-lenggok ke kiri dan ke kanan dengan gelengan kepala ke samping kiri dan kanan sambil mengelilingi gelanggang yang penuh sesak. Matanya terpejam, mulutnya terkatup, sedangkan gerakannya santai dan lemah gemulai mengikuti irama gending banyuwangen yang dibawakan para pesinden Using dengan iringan gamelan khas banyuwangen dengan larasnya yang khusus. Walaupun menari tanpa sadar dan mata terpejam, tetapi penari itu seakan-akan dapat melihat, dengan mudah ia menari di antara orang banyak. Dalam menari itu, ia diikuti/disertai oleh seorang pemaju.

Pementasan tari seblang tahun 1978 dilaksanakan dari hari ketiga sampai hari ketujuh Idulfitri, bertempat di salah satu dukuh (dusun) desa Olehsari. Setiap 14.00-17.00 WIB, atau kadang-kadang sampai menjelang magrib, sedangkan persiapannya dimulai kira-kira pukul 13.00 WIB. Menurut keterangan orang tua-tua, pementasan itu ditentukan oleh suara gaib melalui salah seorang penduduk yang tiba-tiba kemasukan roh dan memerintahkan agar segera diselenggarakan pementasan tari seblang, dan jika tidak diindahkan, segenap penduduk desa akan mengalami musibah besar yang mengerikan.

Pada tahun 1978 itu, Surati, seorang janda Olehsari yang baru berusia 25 tahun dan berdarah gandrung di desanya, me­nurut keterangan pak Enan (60 tahun) yang bertindak sebagai dukun, ditunjuk dan ditetapkan sebagai penari seblang berdasar­kan petunjuk Buyut Trasiun, cakal bakal desa. Petugas lain yang ditunjuk pada waktu itu ialah antara lain seorang laki-laki yang rata-rata berusia 40 tahun, sebagai penabuh gamelan pengiring. Sebagai juru rias ditunjuk seorang wanita bernama Suni, dan ditunjuk pula tujuh orang wanita sebagai pesinden gending banyuwangen tradisional seblang, semuanya berusia sekitar 40 tahun.

Gending-gending yang dibawakan oleh penari seblang tahun itu, seluruhnya tidak kurang dari 26 macam, dan sebagian besar juga dikenal pada kesenian gandrung, seperti gending Podho Nonton, Layar Kamendung, Kembang Menur, Kembang Waru, Sekar Jenang, Candra Dewi, Celeng Mogok, dan Erang-erang. Menurut keterangan, mula-mula tari sebiang biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki yang tampan di desanya, dan penari seblang wanita yang pertama bernama Semi, penduduk desa Cungking, kecamatan Giri, yang berbatasan dengan kecamatan Glagah. Embah Semi akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai penari seblang wanita, dan dalam perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai gandrung Banyuwangi. Dengan demikian disimpulkan bahwa semua penari gandrung Banyuwangi yang sekarang masih mempunyai hubungan darah dengan embah Semi.

Persiapan sajen, pembuatan mahkota dari daun dan bunga, pengaturan gamelan, dan lain-lain, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB di tempat yang telah ditetapkan. Tidak begitu jauh dari tempat itu, juru rias Suni melaksanakan tugasnya merias Surati sebagai penari seblang. Kira-kira pukul 13.45 WIB, penari seblang yang masih dalam keadaan sadar diikuti juru rias, pemaju, dan para pesinden dengan segala perlengkapannya masing-masing, menuju tempat pementasan, yaitu lapangan terbuka berukuran kira-kira 20 x 20 meter. Tepat di tengah lapangan, dipancangkan sebatang tonggak kayu atau bambu setinggi 4 meter, dari puncak­ nya direntangkan tali-temali ke segenap penjuru sehingga mirip sebuah payung besar. Menurut dukun, penari sebiang digambar­kan menari dan bergembira di bawah keteduhan payung agung.

Di tempat itu telah tersedia seperangkat kecil gamelan tradisional dan para pemukulnya. Di sisi barat tempat itu, di­siapkan semacam pondok kecil berukuran kira-kira 2×3 meter, menghadap ke timur, dilengkapi tikar pandan untuk para pesin­den duduk bersimpuh, dan sebuah kursi biasa sebagai singgasana penari sebiang, di bagian atas pondok kecil itu, di bawah atap, bergantungan berbagai hasil desa, berupa seuntai padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, berbagai buah-buahan, sayur-sayur, dan se- bagainya, menggambarkan hasil bumi daerahnya dengan mak­sud agar panen tahun itu melebihi harapan. Kedatangan rombongan penari seblang yang masih sadar itu di­sambut oleh para penonton yang sudah lama berjejal-jejal, ber­kerumun, dan berdesak-desakan menanti. Kerabat desa, dibantu hansip setempat, sibuk mengatur dan menjaga ketertiban dan keamanan acara.

Sementara sudah nampak siap dan tertib, pak Enan dengan tenang mulai membakar kemenyan. Ia dibantu seorang wanita setengah baya yang menutup rapat kedua mata dan telinga penari sebiang dari belakang dengan kedua tangannya sambil berdiri. Dukun duduk berjongkok berhadapan dengan penari sebiang, membakar kemenyan dan membaca mantra. Kedua belah tangan penari sebiang memegang sebuah niru kecil dengan sikap seakan- akan meletakkan punggung niru ke arah datangnya asap dari perapian dukun.

Jika tanpa sengaja niru terjatuh dari tangan penari sebiang, itu menandakan bahwa roh telah masuk ke dalam tubuhnya, dan pada saat itu tanpa sadar ia mulai menari berkeliling, seorang diri di antara orang banyak sambil mengikuti irama gamelan yang dikumandangkan dengan gending banyuwangen dan suara para pesinden dari arah pondok kecil, diikuti pemaju Sondok. Tarian itu merupakan tari pembukaan.

Setiap kali sebuah gending se-lesai ditarikan bersama pe-maju, dan apabila merasa puas, segera penari sebiang menuju ke pondok dan beristirahat, duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, bergema gending la-in, dan apabila penari sebiang menyetujui, dia segera bangkit dari kursinya dan menari lagi mengikuti irama gending itu sepuas hati. Apabila gending itu kurang berkenan di hati, dia tetap duduk tenang. Se-tiap gending yang berbeda, menyebabkan tarian penari sebiang itu berbeda pula jenisnya. Demikian acara itu berlangsung terus-menerus sampai seluruh 26 gending berakhir; menari tanpa bersuara, mata tertutup, tetapi tidak sampai terantuk benda atau penonton yang memenuhi gelanggang.

Puncak acara yang cukup mengesankan adalah pada acara hari terakhir sebagai acara penutup. Penari sebiang tidak hanya menari di dalam gelanggang itu saja, tetapi mengelilingi desa Olehsari, melalui jalan sempit berkelok-kelok, menyusuri lorong kecil di antara rumah penduduk. Pada kesempatan itu, penabuh dengan gamelannya, para pesinden, dan dukun (pak Enan) diikuti semua penonton turut berkeliling mengikuti langkah dan tarian penari sebiang, seakan-akan pawai mengelilingi desa.

Menurut keterangan, mengelilingi desa itu dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam bentuk yang mungkin merusak desa, dan mempunyai hikmah saling mengenal antar penduduk. Acara itu ditafsirkan membawa tanda penyebaran doa selamat sejahtera kepada segenap penduduk desa, termasuk keamanan kampung, peningkatan hasil sawah ladang, peningkatan hasil ternak, dan sebagainya, serta memberikan tanda tolak bala, agar dijauhkan dari segala macam bentuk malapetaka. Setelah kembali ke gelanggang, dukun mulai berperan lagi untuk yang terakhir kalinya, dan dengan kekuatan mantranya, menyadarkan penari sebiang kembali sebagai Surati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 

Osing dan Banyuwangi

Mengapa Banyuwangi Mendapat Predikat Kota Osing?

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling Timur dari pulau Jawa. Secara admin­istratif berada di dalam wilayah pemerintahan Pembantu Gubernur di Jember, disamping kabupaten-kabupaten lainnya seperti Situbondo, Bondowoso dan Jember.

Berbeda dengan ketiga kabupaten tersebut, yang berkembang menjadi kota dengan usia relatif muda (mulai berkembang pada zaman penjajahan Belanda karena ditunjang oleh berbagai macam perkebunan di daerahnya masing-masing), maka sejarah perkembangan Kabupaten Banyuwangi agak lain.

Sejarah Kabupaten Banyuwangi dimulai dari zaman Kerajaan Blambangan di daerah Selatan (sezaman dengan kerajaan Majapahit), yang kemudian ibukotanya berpindah makin ke Utara sehingga menjadi kota Banyuwangi yang sekarang ini. Perkembangannya pada abad-abad terakhir dari segi ekonomi juga banyak didukung oleh berbagai macam per­kebunan yang banyak terdapat di wilayahnya. Perkebunan tersebut semuanya mulai dirintis sejak masa penjajahan Belanda.

Sebagai suatu daerah kebudayaan, Banyuwangi termasuk lingkungan kebudaya­an Jawa, sebagaimana halnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Akan tetapi kalau diteliti lebih mendalam, sebenarnya daerah ini secara kultural merupakan suatu wilayah tersendiri dengan segala kekhasannya.

Hal yang demikian karena didukung oleh keadaan wilayah, dimana batas-batas alam dan kultur telah “memagari” daerah tersebut. Di sebelah Utara. Timur dan Selatan Kabupaten Banyu­wangi dibatasi oleh laut, sedang di sebelah Barat oleh ketiga kabupaten tersebut diatas, yang notabene sebagai wilayah kebudayaan tergolong baru.

Keadaan Banyuwangi ini mengingatkan kita kepada pulau/propinsi Bali, yang karena letak geografisnya menyebabkan selama ini tetap mempunyai corak kebudayaan yang asli dengan segala adat istiadatnya.

ASAL MULA ISTILAH ASING

Banyuwangi sebagai suatu wilayah kebudayaan mempunyai kekhususan, yang membedakannya dengan daerah-daerah lain, baik ditinjau dari segi bahasa, kesenian maupun adat istiadat penduduknya.

Sebagai suatu kabupaten dengan ibukota yang terletak di tepi pantai (pelabuhan), maka Banyuwangi (sejak) masa-masa yang lalu banyak dikunjungi oleh penduduk dari daerah lain, baik itu oleh suku-suku lain di seluruh wilayah Nusantara, maupun oleh orang-orang asing.

Tidak mengherankan jika bahasa daerah Banyuwangi, yang pada dasarnya bahasa Jawa (kuno) itu banyak dipengaruhi oleh bahasa- bahasa lain, seperti bahasa daerah Bali. Madura, Melayu bahkan konon bahasa Inggris.

Bahasa daerah Banyuwangi mengenal perkataan nagud (jelek), yang konon berasal dari perkataan bahasa Inggris no good. Bahasa daerah Banyuwangi yang berakhir dengan huruf “i” biasanya diucapkan seperti pada umumnya orang Inggris mengucapkan huruf “i” (=ai). Contoh: iki (=ini) diucapkan ikai. Lali (=lupa) diucapkan lalai

Orang luar menamakan wilayah kebudayaan Banyuwangi sebagai “daerah osing”. Perkataan “osing” yang berarti “tidak” sebenarnya merupakan sinonim dari perkataan bahasa Jawa “ora” yang juga berarti “tidak”. Disini berperan pengaruh bahasa Jawa dan

Bali, karena sing dalam bahasa Banyuwangi juga berarti tidak. Sebagai sebuah perkataan untuk menyatakan “tidak” maka perkataan “osing meniru tatanan bahasa Jawa: “ora”. Didalam bahasa percakapan sehari-haripun kalau orang Banyuwangi menyatakan “tidak”, tentu “osing” bukan “using”.

Oleh karenanya maka penulis lebih cenderung memakai istilah osing dan bukan using, sebab tata bahasa asalnya (induknya) adalah ora, bukan ura.

Pemakaian istilah Osing sebagai suatu nama bagi wilayah kebudayaan Banyuwangi sebenarnya relatif muda, baru sekitar abad XVIII. Menurut hasil Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa IKIP-PGRI Banyuwangi jurusan Sejarah, istilah osing dilontarkan oleh para pendatang dari Jawa Tengah yang membuka dan mendiami kawasan hutan di daerah Banyuwangi Selatan. Para penduduk Banyuwangi di sebelah Utara mereka, mulai dari Cluring sampai Kalipuro, disebut dengan istilah orang Osing. Maksud­nya orang (penduduk), yang kalau menyatakan tidak bukan dengan ora melainkan osing.

Berdasarkan data tahun 1987, dari jumlah 175 Desa/Kelurahan di Kabupaten Banyu­wangi, 94 diataranya para penduduknya kebanyakan menggunakan bahasa Osing.

KESENIAN DAN ADAT ISTIADAT

Di bidang kesenian kita kenal kesenian khas Banyuwangi seperti gandrung, aljin, angklung caruk, kendang kempul dan seni drama khas Banyuwangi yang disebut janger Banyuwangi (=damarwulan).

Kalau seni musik yang terkenal di Indo­nesia ialah gamelan, maka di daerah Banyuwangi gamelan ini merupakan suatu perangkat instrumen yang agak berbeda dan dimainkan dalam bentuk-bentuk kombinasi sedikit lain daripada gamelan Jawa pada umumnya. Pada gilirannya gamelan khas Banyuwangi ini menunjukkan irama-irama yang lincah dan dinamis, mirip-mirip gamelan Bali.

Seni tari yang berhubungan dengan seni musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(*Penulis adalah mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(Penilis mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Abd. Gaffar. Gema Blambangan, Humas Pemerintah Kabuoaten Dati II Banyuwagi GB. No. 081 /1998, hlm. 37- 38

Kesenian hadrah Berjanji , Kabupaten Banyuwangi

Kesenian hadrah Berjanji yang selama ini digemari masyarakat Using Banyuwangi pada umumnya merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Menurut nilai historis sejarahnya berawal dari syi’ar agama islam yang di lakukan oleh para wali di telatah bumi Blambangan, dimana dalam perjalanannya selain dakwah serta diselingi dengan lagu puji-pujian seperti shalawat Nabi yang diiringi menggunakan satu alat terbang atau rebana Banyak masyarakat terbius oleh lagu-lagu yang dibawakan sehingga kegiatan mulia tersebut menjadikan patokan dalam perkembangan seni hadrah di Banyuwangi

Kesenian hadrah Banyuwangi biasa disebut hadrah berjanji, dimana hadrah sendiri berasal dari sebuah kata hadroh yang mempunyai arti jenis kesenian Islam yang menitik beratkan pada keagamaan, dan dalam penyajiannya lagu-Iagu yang dibawakan 100 % diambil dari sebuah kitab Al Berjanji seperti lagu-Iagu serakalan atau tibaan pada umumnya serta dibawakan secara bersama-sama oleh pemukul terbang itu sendiri dengan di sertakan gerakan-gerakan sederhana. Kesenian hadrah berjanji terjadi secara turun-temurun dengan ciri khas sendiri sesuai khasanah daerahnya, baik dilihat dari segi lagu, gerakan, hingga pada gaya pukulan terbangannya. Kesenian bernafaskan Islam yang tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat Using Banyuwangi tidak hanya hadrah tetapi ada lagi yang lain seperti Kuntulan, kundharan dan Gembrung. Adapun sebagai alat iringannya yaitu sama menggunakan musik perkusi terbang. masing-masing kesenian tersebut memiliki gaya penyajian yang berbeda, seperti kesenian hadrah Berjanji sebelum Jepang mendarat di Banyuwangi terakhir diketahui oleh tokoh seniman masyarakat( Madari:1942 ) lagu-Iagu yang dibawakan semuanya berasal dari sebuah kitab AI,Berjanji contohnya Assalamu’alaik, Asrokol, Alai Mukudam, Ya Marhaban, Sholawat Nabi dan seterusnya.

Sebagai alat musik iringannya pada mulanya hanya menggunakan empat satuan terbang diantaranya terbang onteng, terbang gowonan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan dengan tiga jenis gaya pukulan yaitu terbangan Jos, terbangan Yahum dan terbangan Tirim yang dilakukan di mushola-mushola atau di rumah tokoh masyarakat desa itu sendiri. Dalam perkembangannya munculah seorang penari putra disebut Rudad dengan gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan sambil duduk, berikut alat music terbang sebagai iringannya mendapat tambahan jenis alat musik perkusi yang lain atau musik non nada yaitu jidhor yang berasal dari sebuah bedhuk mushola pada umumnya.

Kesenian hadrah berjanji dari tahun ke tahun tumbuh pesat serta mengalami perkembangan yang merupakan hasil kreatifitas seniman yang mengacu pada perkembangan jaman dalam memenuhi kebutuhan pasar agar senantiasa hadrah di gemari oleh masyarakat. Tentunya berbagai macam cara di lakukan untuk mengemas seni hadrah itu sendiri, meskipun tetap berpatokan pad a seni hadrah sebelumnya, tetapi seniman dituntut untuk berkarya tanpa memiliki keterbatasan dalam menciptakan nuansanuansa baru yang dapat menjadikan seni tetap eksis dan lestari, maka timbulah kesenian bernafaskan Islam baru disebut Kuntulan dan kundharan.

Kesenian hadrah tidak hanya tumbuh di Banyuwangi, tetapi ada pula jenis hadrah-hadrah lain yang dimiliki oleh masyarakat luar daerah Banyuwangi dengan nuansa yang berbeda sesuai ciri khas daerahnya masing-masing. Dengan adanya keragaman budaya yang dimiliki menjadikan kesenian hadrah bervariasi sesuai prinsip BHINEKA TUNGGAL EKA berbeda-beda tetap satu jua.

 

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 13

 

Kebo-keboan/Keboan, upacara adat Osing

Kebo-keboan atau Keboan merupakan upacara adat yang berkaitan dengan pertanian. Upacara ini berakar dari adanya kepercayaan para petani bahwa apabila upacara Kebo-keboan atau Keboan digelar, di sawah yang menjadi tempat berkubang bagi kerbau akan menghasilkan panen padi yang melimpah. Sawah, petani, kerbau, dan benih padi harus “mendapat” tempat dan penghormatan sesuai dengan peran dan fungsinya, agar terjadi harmoni yang berdampak bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Berakar dari keyakinan seperti tersebut di atas, Upacara Kebo-keboan/Keboan merupakan upacara adat petani Using/Banyuwangi yang diselenggarakan di Desa Aliyan, Dusun Alasmalang (Desa Wonorekso), Desa Geladak, Desa Watukebo, Desa Tambong, Desa Bubuk, dan lain-lainnya. Upacara ini telah berlangsung secara turun-temurun. Ritual ini berkaitan erat dengan pertanian sebagai mata pencaharian penduduk. Kebo-keboan/Keboan berasal dari kepercayaan warga Desa Aliyan, Dusun Alasmalang, dan lain-lain bahwa lahan sawah yang dijadikan tempat berkubang kerbau akan menghasilkan panen padi yang melimpah apabila upacara Kebokeboan/Keboan diselenggarakan. Lebih jauh lagi, upacara ini mempunyai tujuan agar desa dan masyarakatnya dihindarkan dari segala macam bencana atau penyakit dan diberi berkah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Upacara ini dilaksanakan setahun sekali pada bulan Suro, tetapi tidak ditentukan tanggal pelaksanaannya. Biasanya, pelaksanaan upacara ini tergantung dari kondisi keuangan warga. Upacara dilaksanakan apabila warga berhasil mengumpulkan biaya. Istilah Kebo-keboan/Keboan diambil dari bahasa Jawa ‘kebo’, yang artinya kerbau. Dinamakan Kebo-keboan karena dalam proses upacara ini, para pelakunya berdandan dan berlaku seperti kerbau yang berkubang di Lumpur, Kubangan sudah dipersiapkan sebelumnya, dan tidak harus terletak di sawah, bisa disiapkan di jalan atau tempat-tempat yang sudah disepakati sebelumnya.

Upacara yang dilaksanakan dalam rangka bersih desa (selamatan desa) ini dibagi dalam beberapa prosesi yang terangkum dalam tiga hari. Pada hari pertama biasanya dilaksanakan upacara bersih desa yang dimulai dengan adu ayam yang disebut ‘tajen’ dan selamatan kecil-kecilan. Dalam selamatan ini disediakan tumpeng kecil yang dilengkapi dengan lauk-pauk serta buah gempol yang ditumbuk dicampur ikan gereh dan suwiran daging ayam. Tumpeng ini disebut tumpeng gecok gempol.

Di Desa Aliyan selamatan pada hari pertama hanya dihadiri beberapa orang yang dipimpin tetua untuk mendoakannya. Doa-doa yang dibacakan adalah doa-doa Islam dan ujub dalam bahasa lokal (bahasa Using). Keesokan harinya diadakan pertunjukan wayang kulit selama dua kali, yakni pada waktu siang dan malam hari. Dalam pertunjukan ini, Buyut Wangsa Kenanga dan anak buahnya diundang secara gaib untuk menghadiri upacara Kebo-keboan.

Pertunjukan wayang pada siang hari menceritakan tentang turunnya Dewi Sri (Dewi Padi), Pertunjukan wayang ini juga memerlukan sesajen yang terdiri dari tumpeng beserta lauknya, biasanya kare atau ‘pecel pitik’ (ayam panggang) dan gecok gempol. Ada juga boneka binatang, seperti tikus, katak, cacing, dan ular yang terbuat dari tepung. Pertunjukan wayang ini digelar di rumah Jaga Tirta (pengawas pengairan di desa). Makam Buyut Wangsa Kenanga berada di Suko Pekik, Dusun Cempakasari. Menurut keterangan Suud, juru kunci makam tersebut, di tempat itu terdapat sebuah buku gaib yang menceritakan tentang riwayat Buyut Wangsa Kenanga.

Menurut beliau, Buyut Wangsa bukan penduduk asli Banyuwangi. Berdasarkan pakaian yang dikenakan, kira-kira ia berasal dari Kediri. Buyut Wangsa Kenanga sering memberikan wangsit kepada juru kunci atau orang-orang yang berziarah ke makam tersebut. Di Dusun Alasmalang lain lagi. Pada masa lalu para peserta upacara Kebo-keboan berangkat dari Petaunan di ujung barat Alasmalang, kemudian menuju ke punden Watu Lasa yang dipercaya sebagai pusat kerajaan roh halus. Di tempat ini para peserta yang menjadi kerbau diberi sajian dan mantra hingga kesurupan (entranced) dan menyebar ke seluruh pelosok desa. Pada masa sekarang para peserta upacara adat Kebo-keboan berkumpul di Petaunan lalu “berjalan menuju ke empar punden yang dipercaya sebagai sosok yang mbaurekso atau melindungi masyarakat Alasmalang, yakni punden Watu Lasa, punden Watu Naga, punden Watu Gajah, dan punden Watu Karang, dalam rangkaian upacara Ider Bumi dan menuju ke sawah. upacara ritual ini, hingga hari ini masih terselenggara.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A., Kamus Budaya Using. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember, 2010. Hlm. 111 dan 116.