Soemiran Karsodiwirjo

Soemiran karsodiwirjoSoemiran Karsodiwirjo lahir di Tulungagung, 9 September 1921, beragama Islam. Pendidikan SR angka I (1933), SR angka II (1935). Saat ini menjabat sebagai Komisaris Pabrik Rokok Reco Pentung. la juga Komisaris dalam pengembangan pariwisata panlai Popoh yang dirintisnya mulai tahun 1972 serta Komisaris PT Soetera Bina Samodra.
Dalam organisasi, ia menjabat sebagai Ketua Gabungan Perusahaan Rokon Indonesia Gapero. Sebelumnya pernah men­jabat sebagai Ketua PPRI (Persatuan Perusahaan Republik In­donesia) Wilayah Kediri tahun 1952.
Menikah dengan Soepadmi, dikaruniai 5 putra dan 4 putri. Masing- masing Istiyah, Ismah, Ismanu, Mulyadi Dodit, Soedjito, Lilik Isyuwarni, Yen Isyuwarno, Wawang Sudjarwo dan Neneng Isnayunaeni. Bersama keluarga tinggal di Jalan Supriadi No. 80 Tulungagung (0335)21904.
Sehari-hari ia bisa ditemui dikantar PR Reco Pentung, Jalan Mayor Suryadi No. 21 Tulungagung Telepon (0335) 23880-2 – 23883.
Kerja keras tanpa mengenal putus asa dalam mencapaicita-cita, merupakan modal utamanya dalam menggapai hasil yang dicita-citakannya. Kata-kata ini sangat cocok untuk pribadi Soemiran.
Soemiran merupakan putera sulung dari sembilan bersaudara, pasangan Karsogoeno dan ibu Toekinem. la dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga serba pas- pasan. Ayahnya sebagai buruh lapangan yang kerjanya memborong penggalian tanah, memasang tiang-tiang listrik dan sebagainya. “Sebagai anak tertua, saya sangat kasihan melihat Bapak saya. Ketika baru berusia enam tahun, saya sudah biasa membantu melakukan pekerjaan bapak. Itu semua saya lakukan karena sebagai sau- dara tertua, yang harus bisa memberi contoh bagi adik-adik, sekaligus sebagai perwujudan bakti pada orang-tua,” ungkapnya.
Pekerjaan seperti itu dilakukannya setelah pulang sekolah. Meski ia sendiri mengaku mengalami beban mental. Di mana anak seusia dia, sebenarnya masih senang-senangnya bermain, tapi ia justru ikut asyik bekerja mencari uang untuk biaya sekolah. “Mungkin sudah merupakan suratan takdir, saya harus menjalani seperti itu,” tambah- nya.
Wiraswasta, mula-mula dengan menjajakan makanan kecil, seperti pisang goreng, kacang dan serabi sambil ke luar masuk kampung. Dan hasilnya pun lumayan. “Dari itu saya mendapatkan keuntungan 20 %. Sebab jajanannya ngambil dari orang lain. Selain uangnya saya gunakan untuk biaya sekolah dan biaya hidup, sisanya sa­ya kirim untuk membantu meringankan be­ban orang-tua. Apapun pekerjaan asal halal pasti saya kerjakan,” ceritanya.

Semasa kecil, Soemiran juga pernah menjadi pembantu pada seseorang. Karena masih kecil, ia pernah tercebur sumur ketika menimba air untuk mengisi bak mandi. Itu semua menjadi pengalaman berharga sekaligus tak pernah terlupakan. Kemudian menjelang tahun 1941, memikirkan berumah-tangga dan berdagang kecil-kecilan di rumah untuk menunjang ke- butuhan sehari-hari.
“Saya mulai berwiraswasta lagi mulai 2 Mei 1946 dengan membuat rokok kretek klobot kecil-kecilan. Semula dikerjakan sen- diri yang akhirnya dari produksi rokok tersebut saya beri nama Cap Ikan Dorang. Dan itu hanya sampai satu tahun,” lanjutnya.
Tahun 1948 Belanda masuk lagi ke kota Tulungagung. Dan patung Reco Pentung yang berada di perbatasan kota banyak yang dirobohkan oleh Belanda. Awal 1949, keadaan kota Tulungagung mulai aman lagi. la mulai meneruskan usaha membuat rokok dengan merk baru, yakni ‘Reco Pen­tung’. “Sebelumnya saya menggunakan merk ‘Sri Sedjati’. Pada awalnya cuma mempekerjakan 5 sampai 20 puluh karyawan. Ternyata rokok yang saya produksi banyak diminati masyarakat. Sehingga per- mintaan pun semakin meningkat dan usaha kami dengan sendirinya berkembang pesat. Maka kami mencari tambahan karyawan baru mencapai 1000 orang,” katanya.

Setelah berjalan sepuluh tahun lebih mengalami kelancaran, tahun 1960-an usaha rokok tersebut mengalami kelesuan lagi. Terutama dengan adanya peristiwa G. 30 SIPKI. Usaha mengalami penurunan sangat drastis diadakan perampingan kar- yawan hingga tinggal 25 orang. Tapi peris­tiwa itu bukan menjadi penghalang bagi Soemiran. Dengan begitu ia biasa mera- sakan, bagaimana rasanya orang jatuh bangun dalam berusaha.

“Sejak kecil saya sudah merasakan pahit-getirnya dalam menjalankan kehidupan. Dan itu merupakan tempaan bagi saya,” katanya. Setelah produksi rokok klobotnya turun drastis, ia mulai memproduksi sigaret kretek putih dengan merk ‘Gaya Baru’. Dan mulai tahun 1970-an industri rokok kretek mulai membaik lagi. Tapi menjelang tahun ’80-an saya juga jatuh lagi. Hingga karyawan saya tinggal 15 orang.

Akhirnya pada tahun 1982 saya mem­buat rokok kretek dengan kualitas lebih baik dari produk-produk sebelumnya. Dan kami beri nama merk ‘Reco Pentung’ yang sebe­lumnya kami gunakan untuk merk rokok klobot. Dan akhirnya berkembang begitu pesat. Hingga mampu menyedot banyak lagi karyawan, dan sampai tahun 1991 men­capai 4500 orang. “Selain itu produksi rokok kretek, kami juga membuat rokok filter yang kami beri merk Minna, Retjo Pentung Wasiat dan Retjo Pentung Jaya. Perusahaan pun berangsur menjadi tingkat menengah,” jelasnya.
Setelah sekarang usianya menginjak kepalatujuh, untuk menjaga kesehatannya ia selalu bangun pagi-pagi. Kemudian melakukan olahraga hidup baru (Orhiba). Setelah itu mandi dengan mengguyur air di kepala sampai 100 gayung. Dan sorenya sampai 75 gayung. Resep agar tetap sehat itu dilakukannya setiap hari. (AS-20)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 57-58 (CB-D13/1996-…)

Ismanu Soemiran

ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)