BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

Monumen Jenderal Soedirman di Pacitan

Kawasan Wisata Sejarah

Monumen Jenderal Soedirman

Monumen Panglima ♦ Besar Jendral Soedirman di Pacitan, diresmikan menjadi Kawasan Wisata Sejarah oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Monumen itu terletak di Kompleks Monumen Desa Pakisbaru Kecamatan Nawangan Pacitan.

SAAT peresmian, Presiden Yudhoyono yang didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudoyono dan sejumlah menteri, berpe­san agar lokasi Monumen Pang­lima Besar Jendral Soedirman dan rumah bekas markas ge­rilyanya dijadikan kawasan wi­sata sejarah. Untuk itu, kemen-terian Kebudayaan dan Pariwi­sata diharapkan mempererat

kerjasama dengan pemerintah daerah guna menciptakan krea­tivitas baru demi makin sem­purnanya bangunan.

“Kembangkan akses baik dari Jawa Timur maupun dari Ja­wa Tengah ke tempat ini. Dengan demikian akan menjadi satu rang­kaian kawasan wisata baik dari Solo maupun Madiun,” kata SBY.

Revitalisasi Monumen Jen­dral Soedirman diharapkan ber­pengaruh terhadap peningkatan nilai tambah ekonomi masya­rakat. Jika kawasan bersejarah makin hidup yang ditandai dengan banyaknya wisatawan, tentu pendapatan masyarakat akan bertambah.

PJ Gubernur Jatim, Setya Purwaka menuturkan, di tem­pat ini Jederal Soedirman me­musatkan gerakan untuk ber­juang melawan penjajah. Pe­ninggalan seperti Markas Ge­rilya yang berada dua kilometer ke arah timur monumen men­jadi saksi hidup perjuangan itu.

“Kita semua tahu tempat ter­sebut mempunyai nilai historis yang sangat tinggi. Siapapun yang melihat ke tempat itu akan terbayang bagaimana perjuang­an Jenderal Soedirman,” kata­nya. “Banyak prinsip, ajaran, dan wejangan beliau yang dapat di­ambil oleh generasi muda itu a-kan membantu pengembangan mental mereka,” tuturnya.

Kawasan ini akan terus di­kembangkan, sehingga ke depan akan menjadi salah satu kawasan wisata sejarah seperti halnya di Blitar dengan Museum dan Ma­kam Bung Karno, dan Trowulan Mojokerto dengan peninggalan Kerajaan Majapahitnya.

Menurut Setya, kawasan bersejarah ini diharapkan bisa menjadi obyek yang menarik perhatian wisatawan luar mau­pun dalam negeri. “Kawasan ini akan terus dikembangkan se­hingga masyarakat di sini akan ikut merasakan manfaat kebe­radaannya.” katanya.

Semakin banyak yang ber­kunjung, akan makin banyak yang mengenal Pacitan. Nan­tinya di kawasan ini akan di­bangun penginapan tamu, di­orama, museum, lahan parkir kendaraan, dan tiga helypad.

“Area yang tersedia masih cukup luas untuk mengemban­gkan kawasan ini, kami yakin wisatawan akan tertarik kesini karena kawasan ini berada di dataran tinggi sehingga peman­dangan di sepanjang jalan me­nuju lokasi sangat indah serta hawanya sejuk,” tuturnya.

Apalagi Kabupaten Pacitan memiliki banyak potensi alam yang sangat bagus untuk di­kembangkan.

Seperti perkebunan dan pertanian. Selain itu kawasan ini juga memiliki potensi wisata alam dan budaya yang cukup manarik.

Bahkan, untuk mengem­bangkan potensi tersebut kini pemprop tengah mengerjakan beberapa projek pembangunan seperti pembangunan jalur lin­tas selatan Banyuwangi – Pacitan dengan pan jang 626 Km, Pemba­ngunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kapasitas 615 Mega watt de­ngan anggaran pembangunan se­besar Rp 6 triliun yang diambil dari anggaran APBN dan APBD Propinsi Jatim. Di Target­kan pemba­ngunan PLTU ini selesai 2010.

Kawasan Wisata

Monumen Jenderal Soedir­man ini berdiri di atas bukit yang menjadi saksi sejarah perju­angan Jenderal Soedirman. Un­tuk mencapai lokasi, harus me­lalui tiga jalur berundak, dengan jumlah anak tangga setiap ja­lurnya adalah 45, 8, dan 17, cermin dari tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan RI. Di sanalah, di tanah seluas kurang lebih 97.831 meter persegi, dan ketinggian 1.314 meter di atas permuka­an laut, berdiri patung Jenderal Soedirman setinggi 8 meter.

Awalnya, kawasan itu dibangun oleh ke­luarga Roto Suwarno yang merupakan pe­ngawal  Jenderal Soedirman   saat bermarkas di Desa Pakis Baru sejak 1 April hingga 7 Juli 1949. Kemudian mulai tanggal 22 Juli 2008 dilakukan pemugaran kawasan tersebut.

Sebelum memasuki kawas­an ini, ada delapan pintu ger­bang yang bertuliskan pesan Jenderal Soedirman seperti Ke­merdekaan Sudah di Genggam Jangan Dilepaskan atau Walau Dengan Satu Paru-Paru dan Ditandu Pantang Menyerah.

Di samping kiri kanannya lapangan terdapat relief perja­lanan sejarah perjuangan Jen­deral Soedirman, mulai masih anak-anak, saat mengenyam pendidikan militer, perang melawan sekutu, pergi keluar Jogjakarta untuk bergerilya dan kembali ke Yogyakarta.

Rumah Gerilya

Rumah bekas markas geril­ya Jenderal Soedirman terletak 2 kilometer ke arah Timur mo­numen. Rumah ini terdiri dari dua bangian, bagian depan di­sambungkan dengan bagian belakang. Rumah bagian depan berbentuk empat persegi panjang, 11,5 x 7,25 meter per­segi, sedangkan bagian bela­kang berukuran 10,2 x 7,3 me­ter persegi.

Di masa perjuangan, di sini tempat menyusun strategi penyerangan dan bertahan dari serangan musuh. Rumah ini juga dilengkapi dapur dan ruang untuk menyimpan perbekalan atau alat-alat perang.

Pada masa perjuangan, ba­gian depan rumah, dilengkapi satu set meja – kursi yang ter­buat dari kayu.”Sekarang su-mah lebih tertata, halaman yang dulunya tanah liat, sekarang ter­lihat lebih bagus dengan hias­an taman di kedua sisi rumah,” kata Padi juru kunci Markas.

Menurut dia, markas gerilya banyak mengalami renovasi, di dalam rumah telah diletakkan papan informasi, foto koleksi, dan perabotan. Di kamar depan terdapat tempat tidur Jenderal Soedirman. Juga beberapa foto Jenderal bersama warga. “Ma­syarakat yang ingin mengetahui beberapa informasi tentang be­liau bisa membaca di papan in­formasi atau melihat beberapa koleksi foto,’ katanya.

Menurut Padi, pengunjung juga dapat menyaksikan wideo dokumenter tentang sekilas perjalanan sang jenderal. “Ruangan ini sudah dilengkapi audiovisual. Tapi juga barang-barang asli rumah ini seperti alat masak dan tempayan/gentong

 

Sejarah Markas

Markas gerilya awalnya rumah milik Karsosoemito, seo­rang bayan (pamong/perangkat desa) Dukuh Sabo, Desa Pakis Baru. Tahun dibangunnya hing­ga kini belum diketahui pasti.

Awalnya setelah hampir tu­juh bulan bergerilya keluar ma­suk hutan, Jenderal Soedirman tiba di Sabo, Pakis Baru, me­nginap di rumah Karsosoemito, bergaul dengan masyarakat. Selain itu ia juga mulai me­ngatur hubungan dengan peja­bat pemerintah di Jogjakarta. Kegiatan sehari-hari Jenderal menyusun perintah-perintah ha­rian serta petunjuk dan amanat untuk tentara dan rakyat, me­lalui caraka (kurir). Banyak ko­mandan pasukan dan pejabat pemerintah yang datang ke Sobo untuk meminta petunjuk panglima. Melalui Letkol Soe­harto dia melakukan komuni­kasi dengan Sri Sultan HB IX di Jogjakarta.

Karena itulah. Tempat ini di­kenal sebagai markas gerilya. Setelah perjanjian Roem-Royen disahkan 7 Mei 1949 dan pe­merintah Indonesia – Belanda sepakat untuk mengakhiri pe­perangan, Panglima kembali ke Jogjakarta. Setelah diminta be­berapa pihak termasuk Presiden Soekarno pada 7 Juli 1949 me­ninggalkan markas kembali ke Jogjakarta, (muhajir/saadah)

Melongok Daerah Pacitan

Wilayah Pacitan yang memiliki luas daratan sekitar 1.419.44 w Km terdiri dari gugusan perbukitan kapur dan hanya sebagian kecil terdiri lahan pertanian dan letaknya dari pusat Ibukota Propinsi Jawa Timur sekitar 275 Km. Melihat kenyataan yang ada kondisi alam wilayah Pacitan dapat disebut tidak begitu ramah bagi masyarakatnya. Dan ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi masyarakat daerah Pacitan untuk menaklukkan ketidak ramahannya. Mereka saling bahu membahu mencurahkan semangat kebersamaan guna mencari seberkas cahaya kehidupan yang terbentang luas merawang di hadapannya. Walaupun semua harapan keberhasilan tidak dapat mereka raih sesuai yang diharapkan, paling tidak upaya ini merupakan pembuka jalan bagi generasi mendatang.

Dari kondisi alam inilah yang membuat perckonomian daerah Pacitan nampaknya masih belum sejajar dengan daerah lain di wilayah Jawa Timur. Untuk mengentas masyarakat dari kekurang beruntungan sejak lama pihak Pemerintah Daerah Jawa Timur melakukan kerjasama dengan Propinsi Jawa Tengah dengan istilah PAWONSARl (PacitanWonogiri dan Wonosari) untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di wilayah daerah Pacitan agar tidak tertinggal dengan daerah tingkat II lainnya.

Terisolimya wilayah Pacitan yang memang tidak pada jalur ekonomi, serta kondisi alrun yang tandus dan gersang ini sehingga sulit untuk mengembangkan dan mengangkat kondisi perekonomiannya. Oleh karena itu dibutuhkan upaya penanganannya dengan memberikan motivasi yang kuat tcrhadap para investor guna menanrunkan sebagian modalnya di Pacitan. Sekarang ini minat investor memasuki wilayah Pacitan masih kurang karena kondisi alam yang gersang, prasarana dan sarana yang tidak mendukung. Dari kenyataan inilah perlu upaya-upaya terobosan dari jajaran Pemerintah Daerah Pacitan untuk manarik investor masuk ke Pacitan.

Sementara ini perkembangan ekonomi di Pacitan hingga akhir tahun 1991/ 1992 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp. 214.965,39 juta, sedang pendapatan regional sebesar Rp. 202.239,43 juta, dan pcndapatan pcrkapitanya scbcsar Rp. 393.648,00. Scdangkan Kcbutuhan Fisik Minimum (KFM) sebesar Rp. 256.777,00 yang untuk Pendapatan Asli Daerah Pacitan sebesar Rp. 1.007.785 .700. Scmentara kekuatan APBD Pacitan hanya sebesar Rp. 1,5 miliar.

Pertumbuhan perekonomian Pacitan sctiap tahunnya mengalami kcnaikan rata-rata 5 %. Jumlah ini akan meningkat jika didukung oleh peran swasta. Potensi Pacitan yang dapat diharapkan untuk menunjang pertumbuhan ekonominya di sektor industri kerajinan rakyat, seperti industri Gula Kelapa produksinya telah mencapai sekitar 566.383 ton per tahun, Sale Pisang sebanyak 97.100 kg per tahun, emping mlinjo 157,8 ton setiap tahun, batu mulia/batu aji mencapai produksi 2.654.200 biji per tahun. KHUSUS untuk batu aji ini produksinya telah memenuhi pasaran eksport ke Arab Saudi, Mesir, Eropa. Sedang industry kerajinan bordir sekitar 10.400 meter per tahun dan batik tulis sekitar 804. meter per tahun. Disektor pertanian memang tidak dapat diharapkan, namun disektor perkcbwlan, peternakan, dan perikanan, seperti sektor petcrnakan di Pacitan sudah tcrdapat sekitar 772.835 unggas, sapi sebanyak 42.206 ekor, kambing sebanyak 61 .533 ekor, sector perikanan laut diproduksi sekitar 2.395 ton per tahun. Jumlah ini belum dikembangkan secara optimal karena para nelayannya masih mengelola dengan sistem tradisional, produksi ikan dar at sekitar 559 ton per tahun, dan untuk pengembangan rwllput laut Pacitan telah berhasil memproduksi sekitar 171 ton per tahunnya.

Potensi galian bahan tambang yang saat ini dimiliki selain batu aji dari hasil penclitiandan pengamatan dari Direktorat Eksploitasi Mineral dan Batuan Dcpartcmcn Pcrtambangan dan energy di Wilayah Pacitan terdapat 22 jenis bahan galian tambang yang memiliki prospek yang Cukup baik bila digali secara baik diantara bahan galian Golongan C scperti Bentonit, terdapat di dcsa Punung, Tegal Ombo, Nawangan dan Donorejo, galian Kalsiet terdapat di Pringkuku, Marmer tcrdapat di wilayah Tulakan, sedang Batu mulia terdapat diwilayah Tegalombo dan Pacitan. Untuk saat ini Pacitan juga mengembangkan tanaman keras seperti Kakao, Kopi Arabica.

Semen tara itu guna memasarkan hasil-hasil yang diproduksi Kabupaten Pacitan didalam menggerakkan roda perekonomian pada saat ini cenderung ke wilayah Jawa Tengah seperti ke Wonogiri, Solo dan Yogyakarta mengingat orbitasi antara Kabupaten Pacitan dengan tiga wilayah sasaran produksinya cukup dekat. Sebaliknya untuk kebutuhan wilayah Pacitan sendiri hanya dapat dipenuhi dari ke tiga wilayah tersebut.

Memang Wilayah Pacitan saat ini ibarat perawan desa yang masih membutuhkan “ragad” untuk bersolek. Tetapi melihat potensinya sebenamya Pacitan sendiri memiliki peluang yang cukup besar sebagai pusat pertumbuhan Jawa Timur belahan selatan. Jika seluruh potensi yang dimiliki Pacitan sudah dimanfaatkan secara maksimal. Dan tentu saja hal ini membutuhkan keberanian dari para investor yang memiliki wawasan sosial dan berorientasi jangka panjang untuk menerobos isolasi potensi daerah serta kekayaan alam yang masih terpendam. (Guno)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, EDISI: 153 MEI-JUNI 1993

Ceprotan, Upacara Tradisional Pacitan

“CEPROTAN” MENJADI IDOLA WISATA TRADISIONAL PACITAN
Kita mendengar sebutan Pacitan, mungkin benak pikiran kita hanya terpancang pada dampak negatifnya bahwa Kota Pacitan merupakan kota yang tandus dan terpencil dibanding dengan Daerah Tingkat II yang lain di Propinsi Jawa Timur ini.

Namun dibalik semua itu Kabupaten Daerah Tingkat II Pacitan, telah menyimpan banyak potensi yang cukup handal seperti halnya industry kerajinan batu akik, hasil perkebunan buah jeruk yang sudah dikenal dengan jeruk Pacitannya. Lebih dari itu potensi-potensi pariwisata yang dimiliki oleh kabupaten ini cukup banyak jumlahnya  dan sangat menarik obyek wisatanya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang mondar-mandir di Kota Pacitan manpun ditempat-tempat obyek wisata, bahkan tak j arang pula wisatawan manca Negara tersebut yang menyempatkan untuk bermalam sekaligus menikmati suasana malam di Kabupaten Pacitan yang terpencil.

Kabupaten Paeitan, memang merupakan salah satu pintu masuk wisatawan yang cukup potensial, khususnya para wisatawan dari Wonogiri Solo Jawa Tengah. Satu hal yang menjadi kendala bagi wisatawan setelah menikmati berbagai obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan, mereka umumnya enggan untuk melanjutkan perjalanan ke kabupaten-kabupaten lain yang terdekat dengan Pacitan, karena jaraknya yang terlalu jauh dan tanpa didukung obyek wisata. Untuk itulah maka wisatawan mancanegara lebih senang setelah menikmati keindahan Pacitan, kembali lewat Wonogiri menuju Solo untuk melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain sesuai dengan selera.

UPACARA TRADISIONAL CEPROTAN
Wisata budaya berupa upacara tradisional Ceprotan, nampaknya sudah menjadi idola bagi masyarakat Pacitan, bahkan banyak pula wisatawan dari luar Kabupaten yang datang untuk menyaksikan jalannya upacara tradisional Ceprotan tersebut.

Upacara tradisional Ceprotan ini biasanya diselenggarakan pada hari Senin Kliwon, jika tidak ada hari Senin Kliwon pada bulan itu diadakan pada hari Minggu Kliwon bulan Longkang bertempat di desa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan. Untuk penyelenggaraan upacara tradisional Ceprotan pada tahun ini jatuh pada tanggal 1 Mei 1994 ditempat yang sama dan dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Lokasi upacara Ceprotan ini terletak didaerah perbatasan dengan Wonogiri, atau sekitar 40 km arah barat daya dari Kota Pacitan, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan memakan waktu hampir satu setengah jam.

Upacara tradisional Ceprotan, dimaksudkan untuk mengenang sejarah kehidupan Kyai Godeg dan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri yang menurut masyarakat desa Sekar merupakan orang yang pertama yang bertempat tinggal I cikal bakal didesa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan.

Mulai saat itulah Kyai Godeg membuat desa Sekar setiap hari Senin Kliwon bulan Dulkangidah /Longkang diadakan bersih desa yang sekaligus sebagai ulang tahun I hari jadi desa Sekar dengan diadakan Upacara Adat Ceprotan dengan kelapa muda untuk mengingat asal usul desa Sekar.

Tidak jauh dari lokasi upacara tersebut, tepatnya didesa Tabuhan wisatawan dapat pula menikmati wisata alam berupa gua dengan sebutan Gua Tabuhan, di gua ini kita dapat menanggap gamelan/tabuhan dari batu-batuan didalam gua dengan harus mengeluarkan uangsebesar Rp 15.000, belum termasuk sewa lampu untuk menikmati keindahan didalam gua yaitu sebesar Rp 1.000,-. Di tempat ini pula ada kios-kios souvenir khas Pacitan khususnya batu akik.

Selain itu pula, bagi wisatawan sebelum menuju desa Sekar untuk menyaksikan upacara tradisional Ceprotan khususnya yang berangkat dari Kota Pacitan pada pagi hari. Sayang rasanya jika tidak mampir terlebih dahulu, ke obyek wisata pantai yang sangat dekat dengan kota sekitar 3 Km, yaitu wisata alam pantai Teleng Ria yang cukup indah serta masih alami, yang dihiasi dengan pepohonan kelapa yang masih kecil dan hiruk pikuknya nelayan mendaratkan ikannya, dari kota kita dapat naik dokar/saldo maupun kendaraan lain. Di lokasi ini pula lengkap dengan fasilitas kolam renang, tempat bemain untuk anak, serta penginapan yang memadai.

Berdekatan dengan pantai Teleng Ria terdapat  pantai lain yang sudah dikenal pula yaitu wisata pantai Tamperan, di pantai ini wisatawan dapat berbelanja ikan segar di Tempat Pelelangan ikan (TPI), serta kios makanan khas Tiwul yangkini sangat sulit kita jumpai. (Agus Dm).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  MIMBAR JATIM, EDISI: 159, APRIL 1994, hlm. 20

Batik Pacitan

Mengemas Batik “Amoh” Menjadi Komoditas Berkelas

Batik Warna Alam yang Memberi Warna Pacitan. Namanya pendek saja, SAJI Merupakan nama orang sebenarnya. Belakangan, Saji menjadi merk sebuah produk kain batik tulis berkelas asal Pacitan. Saji tidak saja menjadi terkenal karena pewarna alam untuk kain batiknya, tetapi juga memberi warna tersendiri untuk Pacitan yang alamnya terhimpit gunung-gunung tak terbayangkan.  Makin memasyarakatnya kain batik di tanah air pada dua dasawarsa terakhir membawa cerita tersendiri bagi masyarakat Pacitan. Bahwa, ternyata, di kabupaten yang letaknya nun jauh di ujung barat daya provinsi Jawa Timur, yang wilayahnya dihimpit panorama bergunung-gunung dan kerap kali aksesnya dengan “dunia luar” terputus karena satu-satunya jalur transportasi darat diterpa tanah longsor ketika musim hujan tiba, memiliki tradisi batik tulis dengan pamor menawan.

Tidak saja corak batiknya memiliki karakter kuat dan khas, pamor menawan itu masih dipadu dengan teknik pewarnaan natural dyes atau yang lebih dikenal dengan warna alam. Yaitu, warnawarni untuk membatik yang bahannya berasal dari bermacam daun, kulit, dan akar-akaran pohon yang diolah, dicampur, dengan tanaman atau buah-buahan tertentu dari tegalan maupun hutan. Teknik pewarnaan yang sebenarnya sudah sangat lama ditinggalkan, namun kini hidup kembali seiring dengan munculnya gerakan kesadaran untuk kelestarian alam. Sebelum batik Pacitan dikenal masyarakat luas, orang mengenal tempat asal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini hanya sebagai daerah yang dikelilingi gugusan pegunungan kapur. Untuk mencapainya, orang harus membelah gunung dan hutan dengan jalan yang berkelok-kelok tajam. Sebagian berlubang-Iubang dan ada beberapa bag ian ruasnya longsor tergerus air yang meluncur dari atas gunung yang gundul. Bergunung-gunungnya tanah Pacitan memendam kekayaan batu mulia dalam jumlah besar.

Salah satu jenis batu mulia yang dihasilkan dan menjadi terkenal bahkan melegenda adalah batu akik. Karena itu, sejak lama Pacitan lebih dikenal memiliki komoditas batu akik berkualitas ekspor. Kini setelah Pacitan mempunyai batik tulis warna alam yang berpamor menawan, perburuan kerajinan unggulan daerah oleh para kolektor tidak lagi terkonsentrasi pada batu akik, tetapi juga kain batik. Dan Saji, adalah salah satu merk batik dengan warna alam yang sedang digandrungi para kolektor batik dari dalam dan luar negeri.

BATIK “AMOH”

“Orang di sini bilang, batik saya ini adalah batik amoh. Semakin warnanya terlihat amoh, semakin mahal pula harganya,” ujar Bu Saji dengan tawa berderai kepada Tim TEROPONG yang mengunjungi rumah sekaligus tempat memproduksi batik tulis miliknya di Jalan Buono Keling, Sukoharjo,

Pacitan, Jawa Timur. Para kolektor batik, lanjut dia, malah memprotes dan kurang percaya jika kain batik warna alam malah terlihat terang benderang. “Yang seperti  itu malah dibilang warna alam yang aspal alias asli tapi palsu.” Amoh dalam bahasa Jawa berarti rusak. Kata amoh kerap berpasangan dengan kata gombal. Gambal amah berarti kain rusak. Jadi, ketika “Batik Tulis Saji” warnanya makin terlihat seperti gambal amoh, komoditas unggulan baru dari Pacitan ini justru makin berharga tinggi. Mampu mengalahkan jenis batik tulis lain dengan pewarna kimia yang notabene malah terlihat bagus dan kinclang dari segi warna. Dan lagi lebih terlihat cerah dan seperti kain baru yang keluar dari produksi pabrik kain.

Sukses Batik Tulis Saji tidak semata karena booming kain batik di negeri ini yang diawali dari kebijakan pemerintah untuk melestarikan warisan budaya. Menurut Bu Saji, jauh sebelum batik memasyarakat seperti sekarang, keluarganya sudah bergelut dengan canting dan batik. Keluarganya adalah sebagian kecil dari keluarga-keluarga di Pacitan yang turuntemurun mengusahakan kain batik menjadi komoditas untuk menopang hidup. Dituturkan lebih jauh, keluarga Saji sempat menarik diri dari produksi batik tulis yang dilakoni turun-temurun tersebut. Keputusan itu diambil karena lesunya pasar kain batik. Apalagi, saat itu, batik tulis tak mampu bersaing harga dengan murahnya jenis kain batik cap dan batik printing bikinan pabrik. Tak hanya keluarga Saji yang terpuruk, keluarga pembatik lain yang jumlahnya tak seberapa juga terpaksa menutup usahanya. Keluarga Saji, berikutnya, menopang hidup dengan mengolah tanah dan bercocok tanam.

Menjadi petani. Namun, membatik bagaimana pun adalah warisan turun-temurun. Sungguh sayang warisan ini kalau ditinggalkan begitu saja. Di tahun 1980-an, keluarga Saji kembali bergelut dengan batik. Hanya bedanya, kalau dulu, membatik adalah membantu usaha orang tua, sedang saat itu usaha batik diwariskan kepadanya. Pasangan Saji (Pak dan Bu Saji) yang saat itu merasa muda dan bertenaga kemudian merombak manajemen produksi batik tu run-temurun tersebut. Ritme usaha juga dirombak sedemikian rupa sehingga produksi mampu berjalan secara kontinyu. Untuk membuat gebrakan, pertamatama 10 orang pekerja direkrut. Semuanya adalah para tetangga di sekitar rumah. Mereka diajak membatik selesai bekerja di sawah atau setelah mengurus  rumah tangganya. Gebrakan tersebut ternyata membawa hasil yang lumayan. Sembari mengedarkan batik dari pasar ke pasar, Bu Saji mengaku menitipkan hasil batikannya ke toko-toko kain.

Tentu saja toko-toko yang mau dititipi kain batik. Untuk motif-motif batik yang laku dipasaran kemudian dicoba dikembangkan. Pak Saji-Iah yang kemudian kebagian tugas menjadi desainer dari karya-karya batik itu. Sembari memperkaya khasanah batik produksinya, dengan adanya motif-motif baru membuat pasar tidak jenuh dan bosan dengan batik. Motif batik yang berhasil dikembangkan oleh keluarga Saji di antaranya motif lumbu, wahyu temurang, gringsing, latulip, pace, sekar, lung-lung ayu dan lainnya.

Seiring munculnya tren batik dengan pewarn a alam yang juga sering disebut indigo, Batik Tulis Saji tak pelak turut ketiban berkah. Motif-motif yang sudah berhasil dikembangkan dan berhasil mengundang minat masyarakat kemudian diproduksi dengan teknik pewarna alam. Meski kemudian harganya melambung tinggi ketimbang batik cap atau printing, batik tulis ini malahan justru menjadi terkenal dan diminati masyarakat.

KOLEKTOR MANCANEGARA

Dari semula hanya mempekerjakan 10 orang, kini Batik Tulis Saji memiliki tak kurang dari 50 orang karyawan. Omzet usaha batiknya juga membengkak pesat, Mampu menembus angka di atas 100 juta rupiah per bulan. Sebuah omzet yang bukan main-main. Setelah sekian lama bergelut dengan batik warna alam, di Jawa Timur, Batik Tulis Saji cukup memiliki nama besar. Pasarnya pun juga kian melebar hingga keluar wilayah Pacitan yang terhimpit pegunungan. Pasar potensialnya di dalam negeri adalah Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Pontianak. Sedangkan pasar luar negeri yang sudah menjadi pelanggannya adalah Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat. Tren batik warna alam yang kian diminati pasar, membuat keluarga Saji  mulai meninggalkan pewarna batik dari bahan kimia. Saji mulai belajar dan rajin meramu sendiri bahan-bahan alam yang digunakan untuk pewarna batik. Bahan-bahan alami yang diperlukan untuk meramu warna batik di antaranya adalah kulit pohon mangga, buah mohoni, buah ketapang, koncer, bluluk kelapa , daun suji, daun pandan, dan seterusnya. Bahan-bahan tersebut jika direbus dan diolah dengan cara tertentu akan menghasilkan warna-warni batik yang sangat bagus, tahan lama, aman serta ramah lingkungan.

Proses membatik dengan warna alam prinsipnya sama dengan membatik umumnya. Namun untuk mendapatkan kualitas warna yang prima, batik warna alam membutuhkan sedikitnya empat kali proses’ pencelupan di dalam bejana-bejana warna. Prosesnya, pertama-tama kain yang akan dibatik direndam terlebih dahulu dengan air tawas 1 x 24 jam. Setelah kering, kain dikanji tipistipis baru kemudian dipola sesuai dengan desain yang diingingkan. Ketika pola sudah jadi, selanjutnya kain dibatik sesuai dengan motif-motif yang sudah terpola. Pola kemudian ditutup dengan warna. Pencelupan ke mewarnai dilakukan hingga 3 sampai 4 kali. Setelah semua proses pewarnaan selesai, hasil batikan dilorot atau direbus dengan air panas direbus dengan air panas untuk menghilangkan malam yang masih menempel pad a kain. Kain batik kemudian diangin-angin hingga kering dan selanjutnya siap dipaking dan dipasarkan. Untuk satu potong kain Batik Tulis Saji warna alam, harga yang dipatok berkisar antara 400-600 ribu rupiah. Itupun juga masih tergantung dengan tingkat kerumitan motif batik yang diinginkan. Jika motif batik memiliki kerumitan yang tinggi, juga membutuhkan pewarnaan yang lebih banyak, harga jelas melewati patokan harga yang ditentukan.

Sementara untuk batik dengan pewarna kimia, untuk harga per potong-nya jauh di bawah yang menggunakan warna alam, yaitu berkisar antara 100-250 ribu rupiah. Menyadari segmentasi pasar batik, dan agar usaha turun-temurun itu tetap berjalan, keluarga Saji tetap mengakomodasi pasar. Bagi sebagian besar masyarakat Pacitan, harga kain batik warna alam boleh jadi adalah harga yang tak terbeli. Sebab itu, batik dengan harga terjangkau tetap diupayakan berproduksi untuk menjangkau pasar ekonomis. “Apalagi orang Pacitan tidak begitu menyukai batik amoh yang harganya teryata malah mahal,” pungkas Bu Saji masih diiringi dengan derai tawa meski kali ini sedikit terdegar pahit. (widi antoro)

TEROPONG edisi 57 Mei – Juni 2011

Wayang Beber, Kabupaten Pacitan

Lakon Ujar Wayang Beber

DI SELA BEBATUAN ITU PADI DITANAM, DAN DISELA BEBATUAN GUNUNG ITU DALANG BEBER MENCOBA BERTAHAN.

Dalam sebuah pementasan wayang beber di Jakarta pada tahun 1969, Soeharto, Presiden RI pada masa itu pernah berujar, “Wayang beber yang ada saat ini hanya satu-satunya di dunia, dan itu ada di Pacitan, sebuah kawasan tertinggal di Jawa Timur. Dimana warganya terpaksa menanam padi di sela-sela batu”.

Ucapan  ini masih terekam di benak Sumardi, 63 tahun, dalang generasi ke 13, warga Dusun Karang Talun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. “Saya menerima warisan seperangkat wayang beber dari bapak saya, Ki Dalang Sarnen atau Guna Carita,” papar Sumardi.

Dengan kata lain, eksisitensi dalang pertamanya, Ki Tawang Alun, dilanjutkan anak keturunannya, Ki Nalongso, Ki Citrawangsa, Ki Gandayuta, Ki Singanangga, dan seterusnya, sampai Ki Sarnen dan Ki Sumardi. “Siapa yang dipercaya mendapat wayang ini harus bersedia untuk meneruskan tradisi menjadi dalang. Biasanya anak laki-laki, atau cucu laki-laki. Dan dalang di tiap masa selalu menjadi dalang wayang beber satu-satunya, tegas Sumardi.

Bagi bapak tiga dara ini, menjadi dalang wayang beber sungguh bukan pilihan hidup yang jadi impian. Karena saat bapaknya popular sebagai dalang wayang beber, ia malah memilih merantau di Jakarta dari tahun 1969 hingga 1988. Di tahun itu pula, ia dipilih untuk menjadi dalang wayang beber menggantikan Ki Sarnen. Sebuah babak baru pedalangan wayang beber dimulai. Bersamaan dengan penyerahan satu kotak wayang beber, nama Sumardi langsung dinyatakan sebagai dalang baru.

Sebagai dalang, Sumardi perlahan tapi pasti membangun citra baru kesenian wayang beber. Ia terbang ke Jakarta, menggelar pentas wayang beber di Taman Mini Indonesia Indah sampai dua kali. Tak hanya itu, ia juag sempat manggung dalam pentas wayang beber di Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, dan terakhir di Gedung Cak Durasim Surabaya pada tahun 2002. Di luar pengalaman pertunjukan ini, ia juga terbilang laris sebagai dalang wayang beber. Karena biasa menerima tanggapan dari Pacitan, Kediri, Surabaya, beberapa kawasan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dan masih banyak lagi.

Di luar itu, Sumardi juga pernah mendapat tamu dari Bali, Jepang, dan Australia, yang datang khusus untuk melihat enam gulung wayang beber andalannya. Mereka penasaran dan ingin melihat sendiri, bagaimana kondisi wayang beber Sumardi yang usianya sudah mencapai lima abad lebih. “Ya, kalau bicara umur, saya sendiri tidak tahu, berapa usia wayang ini. Yang pasti, satu set wayang beber ini pemberian Prabu Brawijaya,”  aku Sumardi. Dikisahkan, pada masa itu, putri Prabu Brawijaya sakit keras. Walau sudah mengundang tabib dan ahli dari seluruh Majapahit, penyakit Sang Putri tak kunjung sembuh. Akhirnya, Ki Tawang Alun diundang untuk mengobati penyakit putri. “Lha  kok ndilalah Kanjeng Putri bisa sembuh. Sebagai ungkapan rasa syukur Prabu, Ki Tawang Alun diberi sebidang tanah untuk dikelola. Tapi Beliau tidak bersedia akhirnya, Sang Prabu mengganti hadiah dalam bentuk seperangkat wayang beber, lanjutnya, Prabu Brawijaya sempat berpesan, “Ini bisa kamu gunakan untuk cari makan bersama anak cucumu-nanti”.

WAYANG TERTUA?
Dalam wacana budaya tradisi Jawa-Timur wayang beber  terbilang miskin refensi.  Berbeda dengan wayang kulit dan wayang krucil,  wayang beber nyaris tak memiliki sejarah yang pasti. Hal ini diakui Arif Mustofa, pemerhati budaya tradisi dari Universitas Negeri Surabaya. Mahasiswa pasca sarjana yang saat ini sedang mengerjakan tesis Cerita Rakyat di Pesisir Selatan Kabupaten Pacitan ini mengatakan, dalam kitab Babad Tanah Jawa disebutkan, ketika Jaka Tingkir dilahirkan (1500-1549), digelar pertunjukan Wayang Beber sebagai ungkapan rasa syukur.

“Lalu mengutip makalah Rochimdakas yang berjudul Perjalanan Wayang Beber, pada abad ke XII, Prabu Pandreman, Raja Pajajaran, pernah  menyuruh merubah dan memperbesar gambar wayang purwa,” papar Arif. Gambar itu, lanjutnya, dibuat dari kulit kayu yang diambil dari daerah Ponorogo. Di sisi Kanan dan kiri gambar, diikat sepotong kayu untuk membuka dan menutup gulungan gambar. “Berdasar catatan ini kita bisa menyimpulkan, wayang beber sudah ada antara abad XII hingga abad XV,” tegas Arif.

Permasalahannya, lebih dahulu mana wayang beber dan wayang kulit? “Kalau mengutip penjelasan Dr. Serrurier dan Raden Mas Utaya, wayang beber adalah induk wayang kulit. Logikanya, sebelum dipotong dan diukir menjadi wayang kulit, maka wujud wayang ini masih dalam lembaran kertas,” papar pria asal Pacitan ini. “Sebaliknya, Dr. GAJ Hazeu mengatakan, wayang beber hanyalah tiruan dari wayang kulit. Hazeu beralasan, pengetahuan membuat arca muncul lebih dahulu ketimbang membuat gambar. Kedua, kata wayang berasal dari wayangan atau bayangan. Jadi kalau ada sebutan wayang beber, kata ‘wayang’ ini berasal dari mana?” tanya Arif.

Dalam pertunjukan wayang kulit, katanya, sisi yang dipertontonkan cuma bayangan. “Kalau wayang beber, yang dipertunjukkan adalah gambamya,” tandas Arif. Selain performa fisik, cerita yang dibawa dalam pertunjukan wayang beber dan kulit juga berbeda. Jika wayang kulit bisa membawa kisah Mahabarata, Ramayana, dan Baratayudha, wayang beber hanya bisa membawa kisah-kisah panji yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Dewi Sekartaji dan Joko Kembang Kuning (Panji Asmarabangun).

Cerita wayang beber, terdiri dari enam gulung. Satu gulung berisi  empat adegan yang disajikan satu persatu. Jadi dalam pertunjukan wayang beber Pacitan, gambar dalam gulungan disajikan seperempat demi seperempat.

MUATAN RELIGI
Bicara muatan dalam pertunjukan, wayang beber terbilang bersih dari ‘pesan sponsor’. Bandingkan dengan wayang kulit  atau wayang krucil yang  leluasa bicara kepedulian sosial, pemilu, bahkan keluarga berencana. Dalam pertunjukan wayang Beber, misalnya yang adi di Pacitan, hal-hal seperti ini sulit dipenuhi. Karena wayang beber hanya bisa membawa semangat memenuhi,

Ujar dalam Kultur Jawa, sama dengan nadhar dalam ajaran Islam. Misalnya ada warga yang sedih karena anaknya sakit dan tak kunjung sembuh. Ia bisa berujar, “Jika anak saya sembuh, saya akan nanggap wayang beber. Entah kebetulan entah tidak, jika ujar ini terucap, penyakit yang diderita warga ini akan hilang.

“Sepanjang yang saya tahu, wayang beber hanya digunakan untuk medium permohonan. Agar niat seseorang bisa jadi lebih mudah. Niat kesembuhan, kemakmuran,” atau “mau melahirkan,” aku Ki Sumardi, dalang wayang beber Pacitan. Niatan ini, lanjut dia, hanya bisa digunakan untuk hal yang baik. Pada Mossaik Sumardi mengatakannya berkali-kali dapat order mempermudah niat jahat.

“Saya tidak bisa menerima. Karena kakek moyang saya berpesan, wayang beber hanya untuk mempermudah permohonan yang baik-baik saja. Bukan untuk menang judi, merusak keluarga orang, atau hal-hal jelek lainnya,” tegas Sumardi.

Karenanya, tiap menerima order ndalang, ia selalu bertanya pada yang membawa pesan, “Tujuan atau permohonan yang hendak dicapai apa?” Jika tidak hati-hati, balak atau kemalangan yang datang bukan bergerak ke yang mengorder, tapi ke Sumardi.

Sumber kesialan lain yang wajib dihindari, lanjutnya, juga terletak pada cara perawatan wayang beber. Ketika menerima wayang dari bapaknya, Sumardi mendapat pesan agar senantiasa berhati-hati. Ia wajib menjaga kebersihan wayang beber, baik secara fisik maupun non fisik. Untuk itu, tiap Bulan Suro, ia melakukan ritual pembersihan secara khusus.

Dulu, proses pembersihan dilakukan dengan memasang bulu merak di ujung kanan kotak wayang. Penggunaan bulu merak ini tidak sekedar karena alasan spiritualitas, tapi juga ilmu logika. Bulu merak, terbukti mampu mengusir ngengat yang bisa merusak wayang beber. Aromanya mampu mengalihkan perhatian ngengat, sehingga tidak jadi merusak gulungan wayang beber. Maklum, wayang ini terbuat dari lembaran-lembaran kertas Jawa yang meski elastis, terbilang sangat tipis.

Satu cerita wayang beber, terdiri dari enam gulung. Satu gulung berisi empat adegan yang disajikan satu persatu. Jadi dalam pertunjukan wayang beber Pacitan, gambar dalam gulungan disajikan seperempat demi seperempat. Tak terbayang jika proses penyimpanan wayang ini tak berjalan semestinya. “Pasti sudah rusak sejak dulu kala,” khawatir Sumardi.

Padahal keberadaan wayang beber bagi masyarakat Desa Gedompol, sudah tak bisa dipisahkan lagi. Wayang beber adalah simbol kesucian yang wajib dijaga, karena semangat spiritualitas wayang ini jadi penentu keseimbangan alam masyarakat Gedompol. “Wayang rusak, saya rusak. Kalau sudah demikian, masyarakat desa ini akan menderita,” tambah Sumardi.

Oleh karena itu, ia tak heran jika ada beberapa orang suka datang ke tempatnya, untuk melakukan melekan atau begadang. Mereka rela tidur dan jagongan di sekitar kotak wayang demi mendapat berkah dan kemudahan. Tak jarang ada warga yang datang ke Sumardi hanya untuk bilang,” Mbah, jika anak saya sembuh, saya akan kirim kembang ke wayang sampeyan”.

Sayang, karena perasaan memiliki yang besar, beberapa warga sempat mendatangai Sumardi. Mereka datang dan meminta agar  Sumardi menyerahkan wayang bebernya, baik yang orisinil, maupun wayang duplikasi pemberian Pemkab Pacitan, ”Dengan tidak berada di tangan, saya tidak bisa menjaga dengan benar. Apapun bisa terjadi. Dan mereka tidak tahu. Jika ada masalah, efek utamanya ke saya. Bukan pada mereka, “ sesal Sumardi. hd laksono/foto : an kusnanto

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pusaka Jawatimuran dari koleksi Deposit–Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: mossaik, Januari 2006, hlm. 17.

Batik Nilo dari Pacitan

‘Ini Batik Nilo dari Pacitan’

“Ibu, ini Batik Nilo asal Pacitan. Warnanya soft agak lembut dan corak batiknya dipengaruhi corak mataraman.” Tutur lembut itu disampaikan Ketua Dekranasda Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi, kepada Ibu Negara Ny. Hj. Ani Yudhoyono, yang saat bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi stan pameran Jatim, pada Puncak Peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ke-8 dan Hari Kesatuan Gerak PKK Ke-39 Tingkat Nasional Tahun 2011, di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (31/5).

Ya, Ibu Negara Ani SBY sempat terkesima dan mengamati batik yang dipamerkan di stand Jatim. “Ini apa juga batik asal Jatim, Bude Karwo?” kata Ani SBY, sembari menghadapkan wajahnya ke Hj. Nina Soekarwo maupun Gubemur Jatim H. Soekarwo. “Inggih Ibu, batik Nilo ini tidak menggunakan warna bahan kimia, tapi semuanya menggunakan dari bahan alami, seperti getah pohon, warna daun maupun buah-buah kecil dari berbagai tanaman,” tambah Bude Karwo, panggilan akran wanita yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Jatim itu.

Ibu Negara pun terlihat ‘kepincut’ akan batik Nilo ini, yang menggunakan pewarna alami bukan kimia. Ia terus mengamati kain batik itu penuh seksamanya. Kemudian menanyakannya kepada Bude Karwo. Keunggulan batik yang menggunakan pewarna alarni seperti Nilo ini, lanjut Bude Karwo, warna alaminya tidak mudah pudar. Bahkan jika dicuci makin muncul warna batiknya, sehingga terlihat tambah cemerlang.

Pakde Karwo pun tak menyia-nyiakan kesempatan memamerkan dan mempromosikan produk-produk khas Jatim. Bahwa ke-38 batik khas kabupaten atau kota itu dibawa dari Jatim. “Jawa Timur memiliki ratusan corak batik, dan sebagian besar batik itu ditulis oleh ibu-ibu di perdesaan,” ujar Bude Karwo kepada Ny. Hj . Ani Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam acara itu Jawa Timur tengah dua penghargaan yang langsung disampaikan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi kepada Ketua Tim Penggerak Kab. Tulungagung Gardjati Heru Cahyono yang meraih Piala Pakarti Utama dari Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono kategori Pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Bapak Riyanto, asal Desa Kajang Kec. Pasar Desa Terbaik. (*)
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 44, Juni 2011, hlm. 11.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Blog terkait:

Batik Tulis Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan
BATIK TULIS TENGAH SAWAH
– Pace Motif Batik Khas Pacitan

 

Ceprotan, Budaya Pacitan

Ceprotan Keselamatan bagi Pacitan

Tradisi dan mitos menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nyaris tak ada yang bisa mengubahnya. Seperti yang terjadi di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Warga desa tersebut memiliki, upacara bersih desa yang sarat muatan religius. Upacara memetri desa (selamatan untuk desa) itu mereka sebut dengan istilah ceprotan. Lazim dilaksanakan secara gotong royong. Namun setelah dikemas menjadi objek wisata, Pemkab Pacitan dan Dinas Pariwisata setempat ikut andil dalam pelaksanaannya.

Keselamatan desa merupakan tujuan pokok dari pelaksanaan prosesi ceprotan. Warga desa berharap mendapatkan keselamatan lahir-batin, rukun, damai, terbebas dari gangguan makhluk halus, dan terhindar dari malapetaka. Upacara ceprotan dilaksanakan setahun sekali, tiap bulan Selo atau Longkang (Dulkangidah/Dzul Qa’dah), hari dan pasaran Senin Kliwon. Bila pada bulan tersebut tidak terdapat hari Senin Kliwon, maka upacara dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon. Even kali ini tepat tanggal 19 Januari 2004. Prosesi ceprotan berlangsung selama dua jam mulai pukul 14.00.

Sebuah tradisi dan mitos (sejarah) sebuah desa, lazimnya tidak boleh berubah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat Desa Sekar, ceprotan pun tak luput menjadi dua versi cerita. Sehingga tak mustahil terjadi pro-kontra dan saling tuding ketika terjadi malapetaka. Semua itu bermuara pada pelaksanaan upacara ceprotan yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan awal.

Versi pertama mengalir dari tradisi lokal di Desa Sekar, seperti yang disampaikan H. Sakiman, mantan lurah. Konon, desa tersebut semula merupakan kawasan perbukitan tandus dan tak berpenghuni. Lokasinya di utara Keraton Wirati, kediaman Prabu Prawirayuda yang populer dengan julukan Gusti Kalak. Ketika Ki Gadheg (salah satu anak Gusti Kalak dengan garwo selir yang bernama Mbak Prawan) membuka hutan untuk membangun padepakan, bertemu dengan Dewi Sekartaji yang sedang berkelana mencari Panji Asmarabangun, kekasihnya.

Konon, dalam perjalanan itu Dewi Sekartaji kehausan dan minta air kepada Ki Gadheg. “Jangankan air untuk minum, sedangkan hutan saja baru dibabat,” jawab yang dimintai. Namun, demi Dewi Sekartaji, dia berusaha mencari air minum. Sesaat dia bersemedi di dekat sebuah teleng (goa). Dengan kekuatan gaib, sekejab mata Ki Gadheg telah masuk Laut Selatan, lokasi Keratan Wirati, dan kembali dengan membawa sebuah kelapa muda. Setelah minum air kelapa tersebut, kesegaran dan kekuatan Dewi Sekartaji pulih. Sisa air kelapa ditumpahkan di tanah. Dengan kekuatan Sang Hyang Widi bekas tumpahan itu menjadi sumber mata air. “Bila suatu saat nanti terjadi kemakmuran (rejaning jaman), namakan tempat ini Sekar. Setiap tahun harus diadakan upacara bersih desa,” pesan Dewi Sekartaji.

Dilempar Kelapa
Versi kedua yang disampaikan Mbah Iman Tukidjo, lurah sekarang, lain lagi. Status Dewi Sekartaji dan Ki Godheg adalah suami-istri. Mereka mendirikan padepokan untuk mengembangkan ilmu. Calon murid yang hendak berguru harus membawa perlengkapan persyaratan. Rincinya, cengkir, beraspari, beras ketan, mori, pitik putih mulus, kembang setaman, dan menyan. Pada waktu yang ditentukan, para murid datang menghadap sang guru. Mereka ada yang membawa perbekalan dan ada juga yang tidak. Murid yang membawa perbekalan dianggap tidak faham wejangan Ki Godheg. Sedangkan yang tidak membawa dianggap faham, karena yang dimaksud perlengkapan tersebut adalah falsafah berupa akronim. Cengkir adalah kencenge pikir (lurusnya pikiran). Beras pari maksudnya biar aber kekerasane (tak mudah marah). Beras ketan maknanya keket tan ana tandinge (menjadi manusia seutuhnya). Mori dimaksudkan supaya bisa ngemori (menyatu dengan masyarakat). Pitik putih mutus artinya pikirane mletik lan tulus, dengan maksud jika orang sudah beragama hidupnya akan berlandaskan tujuan baik dan iman kuat. Kembang setaman maksudnya mengembangkan perbuatan baik yang utama. Menyan atau dupa, bermakna bahwa setiap orang harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Maka perlengkapan yang sudah dibawa para murid dimasak bersama-sama dan dibagi-bagikan secara merata.

Hingga kini, jenis makanan itulah yang dijadikan ragam sesajen. Pada saat pembagian selesai, tersisa dua ayam panggang. Ki Godheg membuat sayembara, “Barang siapa yang dapat mengambil dua buah ayam panggang serta berani dilempari dengan cengkir (kelapa muda), boleh memiliki ayam panggang tersebut. Akhirnya terjadilah peristiwa pelemparan kelapa muda pada murid yang mengambil ayam panggang dimaksud. Karena yang dilemparkan kelapa muda yang telah dikupas, maka terjadi percikan (cipratan) air kelapa muda. Peristiwa ini akhimya di sebut ceprotan. Meski ada dua versi, namun sajian pertunjukan tetap serupa. Mulai dari sesajen hingga ucapara ritualnya yang diakhiri saat matahari terbenam. Saat itulah diyakini roh-roh halus yang akan mengganggu ketentraman warga desa muncul.

Prosesi pelemparan cengkir pun dilaksanakan saat menjelang matahari terbenam. Upacara ditutup dengan pembagian sesaji pada warga, dan diberkati doa. Acara ceprotan itu telah menjadi sajian budaya khas Pacitan. Hebatnya, ceprotan itu mampu menyedot puluhan wisatawan manca negara. Diantaranya dari Jerman, Cekoslovakia, Jepang, Belanda, Taiwan, dan Inggris. “Begitu pula untuk even mendatang, diperkirakan tamu-tamu tersebut (wisatawan) akan hadir,” kata Endro Waluyo, Kabag Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pacitan.Aida Ceha

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Jatim News, Tabloid Wisata Plus,
 Edisi 26, 9-23 Januari 2004 Th. II