Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali

Djanatin-Alias-Osman-bw-253x300Djanatin alias Osman bin Mohammad Ali lahir : Purbalingga, 18 Maret 1943
beragama Islam, Ayah H. Mohammad Ali Ibu Rukiyah

Pendidikan :
SD Tahun 1958
SMP Tahun 1961
Pendidikan Militer 1962

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Djanatin berasal dari keluarga santri yang patuh kepada agama, disamping itu keluarga Djanatin ádalah merupakan pejuang bangsa yang gigih, salah seorang kakaknya telah gugur di dalam tugas mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1949. Dua orang kakaknya yang lain meneruskan perjuangan kakaknya yang telah gugur tersebut.
Pada tahun 1961 saat Djanatin duduk di kelas 3 SMP, berdengunglah Tri Komando (TRIKORA) yang dikumandangkan oleh Presiden Soekarno. Trikora itu amat menyentuh jira Djanatin, Djanatin bermaksud memenuhi panggilabn tersebut. Tahun 1962 Djanatin mulai mengikuti pendidikan militer yang diadakan oleh Korps Komando Angkatan Laut RI. Djanatin mengikuti pendidikan selama 6 bulan dan diteruskan dengan latihan amphibi selama 4 minggu, selanjutnya Djanatin memasuki pendidikan khusus di Cisarua selama satu bulan. Setamat dari berbagai latihan niscaya Djanatin dan kawan-kawan seangkatannya merupakan prajurit pilihan yang serba mampu. Kemudian Djanatin terlibat dalam pelaksanaan Trikora pembebasan Irian Barat.
Sementara itu Djanatin menamatkan pendidikan militer sukarela tanggal 20 Agustus 1962 dan dipindahkan ke Batalyon III KKO-AL. Dalam melaksanakan tugas “Operasi Sadar” di Irian Barat, Djanatin dapat menunjukkan kemampuannya sebagai seorang prajurit sejati yang dapat menepati sumpahnya termasuk termasuk disiplin serta kesetiaan yang tinggi pada kesatuannya. Dalam kesatuan itulah Djanatin berteman dengan Harun yang sama-sama memberikan pengabdian maksimal kepada negara dan bangsa.
Saat Indonesia mengumandangkan ” Konfrontasi” dengan federasi Malaysia dan lahirlah ”Dwikora”, pelaksanaannya antara lain memanggil sukarelawan dari berbagai bagian ABRI. Menurut Surat Perintah KKO tanggal 27 Agustus 1964 Kopral Osman (Djanatin) dan Prako II Harun dimasukkan dalam Tim Brahmana I dibawah pimpinan Kapten KKO Paulus Subekti yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau, disini mereka bertemu dengan Gani bin Arup.
Pada tanggal 8 Maret 1965 mereka bertiga ditugaskan menyusup ke Singapore dengan bekal 12,5 kg bahan peledak. Tugas mereka adalah melaksanakan sabotase yang dapat menimbulkan efek psikologis yang dapat menggoyahkan kepercayaan umum kepada Pemerintah Singapore. Tanggal 9 Maret 1965 mereka berhasil mendarat di Singapore meskipun penjagaan keamanan sangat ketat. Sasaran yang mereka tentukan adalah Hotel Mr. Me Donald House di Orchard Road. Mereka berhasil membuat ledakan dahsyat di Hotel tersebut yang menyebabkan 3 orang meninggal dan sejumlah orang luka berat dan ringan. Sabotase tersebut mencapai efek yang dimaksud, masyarakat Singapore menjadi gelisah dan menimbulkan kegoyahan dan kepercayaannya kepada pemerintahnya.
Pada tanggal 10 Maret 1965 mereka memutuskan untuk kembali ke pangkalan mereka di Pulau Sambu. Osman dan Harun bersama-sama sedangkan Gani memisahkan diri. Osman (Djanatin) dan Harun berhasil naik kapal “Begama” dan menyamar sebagai pelayan dapur. Tetapi pada malam hari tanggal 12 Maret 1965 penyamarannya diketahui oleh pemilik kapal, sehingga mereka mencari kapal lain. Mereka berhasil merampas motor boad yang dikemudikan seorang Cina, tetapi di tengah lautan motor boad tersebut macet, sehingga pada tanggal 13 Maret 1965 mereka ditangkap dan ditahan untuk menunggu perkaranya diajukan ke muka pengadilan.
Pada tanggal 4 Oktober 1965 Djanatin alias Osman bin Haji Mohammad Ali dan Harun bin Said alias Tahir diajukan ke Pengadilan Tinggi Singapore. Pada tanggal 20 Oktober 1965 mereka dijatuhi hukuman mati. Tanggal 6 Juni 1966 mereka naik banding ke Pengadilan Federal, tetapi pada tanggal 5 Oktober 1966 permohonan naik banding tersebut ditolak. Kemudian pada tanggal 17 februari 1967 perkara tersebut diajukan ke “Prici Council” di London, namun pada tanggal 21 Mei 1968 pengajuan tersebut di tolak. Upaya selanjutnya adalah permohonan grasi kepada Presiden Singapore, pada tanggal 1 Juni 1968 tetapi permohonan grasi tersebut di tolak.
Upaya terakhir untuk menyelamatkan Osman dan Harun, yaitu Presiden Suharto mengirim utusan pribadinya Brigjen TNI Cokropranolo (waktu itu Sekmil Presiden) untuk menghubungi pejabat yang berwenang di Singapore, usaha terakhir ini pun tidak berhasil.
Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 – 07.00 pagi, KBRI Singapore menelpon penjara Changi dan mendapat penjelasan bahwa hukuman mati atas Osman dan Harun telah dilaksanakan.
Dari Jakarta dikirimkan sebuah pesawat terbang khusus untuk menjemput kedua jenazah tersebut untuk dibawa ke tanah air dan selanjutnya dimakamkan di TMPN kalibata.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dengan menaikkan pangkat mereka :
a. Djanatin bin Mohammad Ali alias Osman menjadi Sersan Anumerta KKO-AL.
b. Harun bin Said alias Tahir menjadi Kopral Anumerta KKO-AL.
Dengan Surat Keputusan Presiden No. 50/TK/Tahun 1968 tertanggal 17 Oktober 1968, mereka berdua dianugerahi Gelar Pahlawan.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber: Kementrian Sosial RI

http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1843

M.T. Harjono

M.TM.T. Harjono dilahirkan tanggal 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur. ayahnya bernama Mas Harsono dan ibunya bernama Alimah. Keluarga Mas Harsono dikenal sebagai keluarga yang taat beragama dan cukup terpandang dikalangan masyarakat.
Horjono memperoleh pendidikan pertama di ELS (Europese Lagere School) di Jakarta. Murid-murid yang diterima di sekolah yang setingkat Sekolah Dasar ini terbatas pada anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang orang tuanya mempunyai kedudukan penting dalam pemerintahan atau dalam masyarakat Pada masa itu tidak semua anak Indonesia memasuki sekolah yang disukainy a.
Setelah menamatkan ELS, Harjono melanjutkan pelajarannya ke HBS (Hoogere Burger School) setingkat Sekolah Menengah Atas. Pendidikan umum tertinggi yang diperoleh Harjono ialah di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) dalam zaman Jepang. Tetapi sekolah ini tidak sampai diselesaikannya. la hanya belajar di Ika Daigaku selama tiga tahun.
Rupanya minat Harjono beralih kebidang lain, yakni bidang militer. Dalam tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi tentara Peta (Pembela Tanah Air). Sebenarnya Jepang bermaksud untuk memakai pemuda-pemuda ini membantu Jepang dalam perang menghadapi Sekutu. Tetapi golongan nasionalis Indonesia berhasil menanamkan rasa kebangsaan di kalangan anggota tentara Peta, sehingga mereka menyiapkan diri untuk menjadi tentara di negara sendiri. Dalam kenyataannya, tentara Peta inilah yang kelak menjadi inti dari Angkatan Bersenjata Indonesia (ABRI) di samping kesatuan-kesatuan militer lainnya yang dibentuk oleh Jepang maupun Belanda. Seperti halnya dengan pemuda lainnya, M.T. Harjono pun memasuki Peta.
Sejak saat itulah kehidupan Harjono mulai terkait dengan kehidupan militer sampai akhir hayatnya. Sesudah kemerdekaan diproklamasikan, Harjono bersama teman-temannya turut mengambil bagian dalam kegiatan merebut senjata dari tangan Jepang. Ketika pemerintah mengumumkan pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Harjono segera memasukinya. BKR inilah yang kemudian berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), lalu TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan akhirnya ABRI.
Sejak bersekolah di- HBS, Harjono sudah menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemahiran berbahasa asing itu menyebabkan ia diberi kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung terhitung mulai 1 September 1945. Tugasnya yang utama ialah mengadakan kontak dengan perwira-perwira Inggris yang datang ke Indonesia atas nama Sekutu untuk melucuti pasukan Jepang dan memulangkan mereka ke tanah airnya. Jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung tidak lama dipangkunya, sebab dalam bulan Desember 1945 ia dipindahkan ke Sekretariat Keamanan.
Strategi diplomasi yang dijalankan pemerintah pada masa-masa awal kemerdekaan, menyebabkan seringnya diadakan perundingan dengan pihak Inggris dan Belanda. Pemerintah berusaha memperoleh pengakuan Internasional terhadap kedaulatan Indonesia melalui jalan diplomasi. Dalam perundingan-perundingan seperti itu diperlukan orang-orang yang mahir berbahasa asing. Karena itulah tenaga Harjono terpakai. Dalam bulan Maret 1946 ia ditunjuk sebagai sekretaris delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda di Jakarta.
Selama dalam perundingan itu Harjono memperlihatkan kemampuannya sebagai tenaga administrasi yang baik. Pemerintah kemudian mempercayainya untuk memegang jabatan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara di Yogyakarta. Jabatan itu mulai dipangkunya bulan Juli 1946, tetapi empat bulan kemudian ia diangkat sebagai wakil tetap Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Tugas itu bukanlah tugas yang ringan. Walaupun resminya sudah tercapai gencatan senjata antara RI dan Belanda, namun pelanggaran-pelanggaran sering diadakan oleh kedua pihak. Mau tak mau Harjono terlibat dalam mencari penyelesaiannya.
Karir Harjono sebagai perwira staf terus meningkat. Akhir tahun 1947 diangkat sebagai Kepala Kantor Urusan Pekerjaan Istimewa pada Markas Umum Angkatan Darat. Dalam bulan Desember 1948, menjelang terjadinya Agresi Militer II Belanda, ia diserahi jabatan sebagai Kepala Bagian Pendidikan Staf Angkatan Perang merangkap sebagai juru bicara Staf Angkatan Perang.
Agresi Militer II Belanda diakhiri dengan KMB (Konferensi Meja Bundar) dalam konferensi ini Angkatan Perang mengirimkan delegasi yang akan membicarakan kedudukan Angkatan Perang RI sesudah Belanda mengakui kedaulatan RI. Delegasi ini dipimpin oleh Kolonel T.B. Simatupang, sedangkan Mayor M.T. Harjono diangkat sebagai sekertaris.
Pada tanggal 27 Desember 1949 Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Hubungan antara kedua negara dipulihkan dengan cara membuka perwakilan masing-masing. RI menempatkan atase militer di Negeri Belanda, begitu pula sebaliknya. Bulan Januari 1950 M.T. Harjono diangkat sebagai atase militer pertama RI untuk Negeri Belanda. Tugas ini di pangkunya selama empat tahun dan sementara itu, pada bulan Agustus 1951, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.
Kembali ke tanah air dalam tahun 1954, Letnan Kolonel M.T. Harjono diangkat sebagai perwira diperbantukan pada KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Setelah selama kurang lebih satu tahun ditempatkan di Inspektorat Infanteri, mulai bulan Juli 1956 kembali M.T. Harjono diperbantukan pada KSAD. Itupun tidak lama, sebab bulan Oktober 1956 ia diperbantukan pada Deputy III KSAD.
Dalam tahun 1957 Harjono memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan pada kelas senior SSKAD (Sekolah Staf Dan Komando Angkatan Darat) di Bandung. Selesai dari pendidikan ini, untuk beberapa waktu lamanya ia dikembalikan ke Deputy II KSAD. Namun mulai Desember 1958 ia diserahi tugas sebagai wakil Direktur CIAD (Corps Intendans Angkatan Darat) dan sekaligus merangkap sebagai Pejabat Sementara Direktur CIAD. Jabatan terakhir ini kemudian diserahkanya kepada Kolonel Ashari D. yang telah diangkat sebagai Direktur CIAD.
Kenaikan pangkat menjadi Kolonel diterima Harjono tanggal 11 Januari 1959 dan dua puluh bulan kemudian pangkatnya naik lagi menjadi Brigadir Jenderal. Dengan pangkat Brigadir Jenderal ia diserahi jabatan sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat. Kenaikan pangkat terakhir sebagai Mayor Jenderal diterimanya dalam bulan Juli 1964, sedangkan jabatan yang di pangkunya ialah Deputy III Men/Pangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat). Dalam pangkat dan jabatan itulah ia meninggal dunia akibat penghianatan PKI (Partai Komunis Indonesia).
Dalam tahun 1960-an PKI berhasil menanamkan pengaruhnya di hampir setiap dibidang kehidupan kenegaraan. Mereka melakukan intrik untuk melumpuhkan partai-partai politik yang melawan mereka. Tujuan akhir PKI ialah merebut kekuasaan negara dan mengganti idiologi negara Pancasila dengan idiologi komunisme. Pimpinan Angkatan Darat yang menyadari bahaya yang akan timbul dari ambisi PKI itu berusaha menghalang-halanginya. Karena itulah PKI menilai Angkatan Darat sebagai lawan utama.
Dengan berbagai cara PKI mencoba mendiskreditkan Angkatan Darat. Mereka menyebar isu bahwa dalam Angkatan Darat terdapat sebuah dewan yang menilai kebijaksanaan Presiden Sukarno. Diisukan pula bahwa Angkatan Darat akan merebut kekuasaan negara, bahkan dikatakan Angkatan Darat bekerjasama dengan sebuah negara asing untuk melakukan pemberontakan.
Untuk memperkuat dirinya, PKI mengajukan gagasan untuk membentuk angkatan Kelima yang akan terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai. Gagasan untuk membentuk Angkatan Kelima ini dengan tegas ditolak oleh pimpinan Angkatan Darat, termasuk Mayor Jenderal M.T. Harjono. Karena itulah Harjono dianggap PKI sebagai lawan yang harus dibunuh.
Pada hari tanggal 1 Oktober PKI memulai gerakannya menculik dan membunuh pejabat-pejabat teras Angkatan Darat. Gerakan itu dikenal dengan nama G-30-S/PKI (Gerakan 30 September/PKI). Pasukan yang ditugasi menculik Mayor Jenderal Harjono terdiri atas 16 orang. Mereka berhasil memasuki rumah dan mendobrak secara paksa pintu kamar tidur Harjono sambil melepaskan tembakan. Harjono berusaha merebut senjata gerombolan, namun gagal. Beberapa peluru melukai tubuhnya dan meninggal saat itu juga. Mayatnya diangkut gerombolan ke Lubang Buaya dan dimasukan kedalam sumur tua bersama mayat perwira-perwira lain yang diculik dan dibunuh PKI. Barulah tanggal 4 Oktober, setelah Daerah Lubang Buaya dibersihkan dari pasukan pemberontak, Mayat Harjono dan lain-lainnya dikeluarkan dari sumur. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-20 ABRI tanggal 5 Oktober 1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah menghargai jasa dan pengabdian M.T. Harjono kepada bangsa dan tanah air, terutama dalam mempertahankan kemurnian Pancasila. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 11l/Koti/1965 tanggal 5 Oktober 1965 M.T. Harjono ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.
Harjono meninggalkan seorang istri dan lima orang anak. Istrinya bernama Mariatin. Mereka menikah pada tanggal 2 Juli 1950. Dua orang anak mereka lahir di Negeri Belanda, yakni Bob Hariyanto dan Haryanti Mirya. Anak-anak lainya ialah Rianto Nurhadi, Adri Prambarto, dan Endah Marina.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1821

MARSMA TNI ANM R. ISWAYUDI

ISWAYUDIIswahjudi dilahirkan tanggal 15 Juli 1918 di Surabaya, Jawa Timur. la adalah anak kedua dari sembilan orang bersaudara. Ayahnya bernama Wiryomiharjo dan ibunya Issumirah.
Pendidikan umum tertinggi ditempuh Iswahyudi di NIAS (Nederlandachi Indiache Artaen School, sekolah dokter), tetapi tidak sampai tamat. Rupanya pemuda yang menyenangi musik ini lebih tertarik untuk menjadi penerbang daripada menjadi seorang dokter. Demikianlah, dalam tahun 1941 ia mengikuti pendidikan pada Luchvasrt Opleiding School (sekolah penerbang) di Kalijati, Jawa Barat.
Pada saat itu bahaya perang mulai mengancam Indonesia. Sudan sejak bulan September 1939 Eropa dilanda oleh perang yang kemudian dikenal dengan nama Perang Dunia n. Di Asia, Jepang mulai memperlihatkan sikap agresif. Tujuan Jepang ialah menguasai Asia dan Pasifik dan hal itu merupakan ancaman terhadap bangsa -bangsa Eropa yang berkuasa di sebagian wilayah ini, termasuk Belanda yang keuka itu masih menjajah Indonesia Karena adanya ancaman perang itulah Pemerintah In¬dia Belanda memindahkan para siswa sekolah penerbang ke Adelaide, Australia. Iswahjudi pun ikut dipindahkan. Di tempat yang baru ini pendidikan merekadilanjutkan. Pada waktu kemudian sebagian para siswa ini melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Ada di antara mereka yang kelak ikut serta sebagai penerbang dalam perang dunia H
Umumnya Siswa – siswa Indonesia tidak senang di pindahkan ke Australia. Sebagian dari mereka berusaha kembali ke Indonesia. Dalam tahun 1943 Iswahjudi dan beberapa orang temannya berhasil melarikan diri dari tempat pendidikan. Dengan menggunkan dua buah perahu karet berlayar menuju Indonesia. Resiko yang dihadapi cukup besar, bahaya di laut dan kemungkinan tertangkap oleh Jepang yang ketika itu sudah menguasai lautan sekitar Australia dan Indonesia. Sebagian anggota rombongan memang tertangkap dan kemudian dibunuh oleh Jepang. Tetapi Iswahjudi berhasil mendarat dengan selamat di pantai Lodoyo, daerah militer di Kediri Selatan.
Kedatangan Iswahjudi diketahui oleh mata – mata Jepang. Bagaimanapun ia tercatat sebagai anggota angkatan udara Belanda. Karena itu ia ditangkap dan dimasukan kedalam kamar tahanan Karangmenjangan di Surabaya. Beberapa waktu kemudian status tahanannya diubah menjadi Tahanan kota. Selain itu ia juga berhasil memperoleh pekerjaan sebagai pegawai Kotapraja Surabaya. Tugasnya adalah mengawasi tempat – tempat rekreasi. Status sebagai tahanan kota ini tidak pernah di cabut sampai saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, walaupun pelaksanaannya tidak terlalu ketat. Malahan untuk melakukan pernikahan dengan Suwarti, 27 Maret 1944, Iswahjudi diijinkan pergi ke Probolinggo.
Pada waktu Proklamasi Kemerdekaan, Iswahjudi tetap berada di Surabaya. Bersama dengan pemuda – pemuda lain, ia turut serta dalam pengambilalihan kantor – kantor pemerintah dari tangan Jepang. Ia memimpin sekelompok pemuda menyerbu kantor Jawatan Kereta Api, menurunkan Bendera Jepang di kantor tersebut dan menaikkan bendera Merah Putih. Sebagai pemuda yang pernah mendapat pendidikan terbang, iapun ikut mengamankan pesawat terbang dan peralatannya yang berhasil direbut dari tangan Jepang di Tanjung Perak.
Situasi dalam kota Surabaya semakin hari semakin panas. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Jepang terjadi hampir setip hari. Karena itu Iswahjudi memindahkan keluarganya ke Madiun, sedangkan ia sendiri tetap tinggal dalam kota.
Suatu kali terjadi salah paham di antara kelompok – kelompok pemuda. Iswahjudi ditangkap dan bersama dengan beberapa orang temannya ia di tahan oleh kelompok pemuda lain. Setelah terbukti bahwa ia tidak bersalah, barulah ia dibebaskan kembali. Iswahjudi kemudian menggabungkan diri ke dalam satuan Polisi Kota Surabaya.
Perebutan – perebutan kekuasan dari tangan Jepang di kota Surabaya berakhir pada awal Oktober 1945. Tetapi sejak minggu terakhir bulan itu para pemuda Surabaya menghadapi musuh baru, yakni pasukan Inggris yang datang ke Indonesia mewakili sekutu. Tugas mereka sebenarnya hanyalah melucuti pasukan Jepang, memulangkan orang – orang Jepang ke tanah airnya dan membebaskan orang – orang Sekutu yang ditawan Jepang. Dalam kenyataanya Inggris berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Insiden bersenjata antara pihak Inggris dengan pemuda Surabaya mulai terjadi dua hari setelah mereka mendarat. Dalam satu insiden tanggal 30 Oktober 1945 panglima pasukan Inggris di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby, mati terbunuh. Pada tanggal l0 November 1945 Inggris dengan kekuatan satu divisi melancarkan serangan besar – besaran dari laut, dan udara terhadap kota Surabaya. Pertempuran berlangsung selama tiga minggu. Barulah pada akhir November 1945 pejuang – pejuang Surabaya meninggalkan kota untuk membangun pertahanan baru di luar kota.
Sementara itu di Yogyakarta sedang berlangsung kesibukan dalam rangka menyusun kekuatan udara. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah RI membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dalam Organisasi TKR terdapat satu bagian yang disebut TKR Jawatan Penerbangan. Bagian inilah yar»g diserahi tanggung jawab untuk menyusun kekuatan udara. Masalah yang di hadapi TKR Jawatan Penerbangan cukup berat. Jumlah penerbang sangat sedikit dan umumnya belum banyak berpengalaman. Pesawat terbang yang ada hanya beberapa buah, merupakan warisan dari tentara Jepang, itupun dalam keadaan rusak.
Dengan segala kemampuan yang ada dan fasilitas yang sangat kurang, pimpinan TKR Jawatan penerbangan berusaha membangun kekuatan udara RI. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mendidik calon – calon penerbang. Dalam bulan Desember 1945 TKR Jawatan Penerbang membuka Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sekolah itu dipimpin oleh Adisujipto yang mendapat pendidikan tebang dalam zaman Belanda. Sebagai seorang yang juga pernah mendapat pendidikan penerbang. Iswahjudi berangkat ke Yogyakarta dan menggabungkan diri dengan pimpinan TKR Jawatan penerbangan. Berkat Pimpinan Adisujipto, dalam waktu tiga minggu ia sudah mempu menerbangkan pesawat setelah kurang lebih tiga tahun lamanya tidak pernah menyentuh kapal terbang. Berkat keterampilannya ia kemudian diangkat menjadi instruktur Sekolah Penerbang dengan pangkat Opsir Udara II. Sekaligus ia juga diangkat menjadi pembantu utama Adisutjipto.
Mendidik calon penerbang pada masa itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Mereka harus melakukan percobaan terbang, sedangkan pesawat yang ada umumnya dalam keadaan rusak. Karena itu diperlukan terlebih dahulu perbaikan pesawat. Namun berkat ketekunan Adisudjipto dan Iswahjudi di percobaan – percobaan terbang berhasil dilaksanakan yang sekaligus dikaitkan dengan tugas – tugas lain. Pada taggal 23 April 1946 tiga buah pesawat cukiu tingal landas dari lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta menuju lapangan terbang Kemayoran, Jakarata. Penerbangan berbentuk formasi ini membawa rombongan delegasi RI yang terdiri dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) S. Suryadarma dan Jenderal Mayor Sudibyo yang akan mengadakan perundingan dengan delegasi Sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan orang – orang interniran. Iswahyudi ikut dalam penerbangan ini bersama-sama Adisutjipto, Imam Suwongso Wirjosaputro, dan Abdul Halim Perdanakusuma.
Bulan berikutnya dilakukan latihan terbang formasi. Satu formasi menuju Serang, Jawa Barat, sedangkan formasi lainya menuju Malang dan Madura. Dalam latihan ini digunakan pesawat Cureng dan Cukiu. Pesawat Cureng berada dibawah pengawasan Iswahjudi dan I.S. Wiryosaputro, sedangkan pesawat Cukiu di bawah pengawasan Adisutjipto. Latihan terbang ini berhasil dengan baik.
Dalam usaha untuk meningkatkan minat kedirgantaran, pada tanggal 10 Juli 1946 diadakan demontrasi terbang di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya. Dari Yogyakarta didatangkan lima buah pesawat Cureng untuk memeriahkan demontrasi ini. Iswahyudi dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian masyarakat berkat ketangkasan yang diperlihatkannya dalam menerbangkan pesawat.
Pembina-pembina AURI selalu berusaha memperbaiki pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang. Salah sebuah pesawat itu diberi rrama ”Diponegoro I”. Untuk mengadakan uji-coba, maka pada tanggal 10 Agustus 1946 Adisutjipto, Iswahjudi dan Husein Sastranegara beserta juru teknik Kaswan dan Rasyidi, menerbangkan nya dari Maguwo ke Maospati, Madiun.
Percobaan – percobaan terbang yang berhasil baik itu menambah keyakinan pembina-pembina AURI bahwa mereka akan berhasil membangun kekuatan udara yang sangat diperlukan oleh sebuah negara yang baru saja merdeka dan sedang menghadapi ancaman musuh. Pembangunan itu termasuk pula pembinaan wilayah dan dalam hal ini AURI melakukan inspeksi ke pangkalan-pangkalan yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Tanggal 27 Agustus 1946 enam buah pesawat jenis Nishikoren, Cukiu, dan Cureng tinggal landas dan lapangan Maguwo menuju Sumatra bagian Selatan. Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, pesawat yang dikemudikan Iswahjudi mengalami kerusakan mesin. Tak ada pilihan lain selain melakukan pendaratan darurat. Berkat keterampilan Iswahjudi pesawat berhasil mendarat di pantai Pameunpeuk, Garut Selatan, Jawa Barat, tanpa mengalami kerusakan berat. Dalam pesawat itu ikut KSAU, Komodor Udara S. Suryadarma.
Iswahjudi termasuk salah seorang perwira andalan AURI. Semua jenis pesawat terbang yang ada ketika itu sudah diterbangkannya dan dikuasainya dengan baik. Pesawat Dakota C-47 VT-CLA milik seorang industrialis India, Patnaik, yang mendarat di Maguwo bulan Pebruari 1947, pernah pula diterbangkannya. Untuk itu, Iswahjudi bersama Adisutjipto berlatih selama dua hari. Pesawat inilah yang pada tanggal Juli 1947 ditembak secara brutal oleh pesawat terbang Belanda di atas udara Yogyakarta sehingga terbakar dan menewaskan beberapa orang pimpinan AURI, antara lain Abdulrachman Saleh.
Sebagai seorang militer, Iswahjudi pun mengalami perpindahan tugas. Pada mulanya ia diserahi tugas sebagai instruktur Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sesudah itu ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Maospati, Madiun, menggantikan Abdurachman Saleh yang diangkat menjadi Komandan Pangkalan Bugis, Malang. Jabatan sebagai Komandan Pangkalan Bugis dipangku Iswahjudi selama satu tahun. Beberapa waktu lamanya ia ditempatkan di Yogyakarta dan setelah itu, diserahi jabatan sebagai komandan Pangkalan Udara Gadut, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Di samping itu, bersama-sama Abdul Halim Perdanakusuma ia bertugas pula membentuk dan menyusun organisasi AURI di Sumatera. Bahkan ia mendapat tugas khusus untuk menyelenggarakan hubungan udara dengan luar negeri.
Tugas menyelenggarakan hubungan dengan luar negeri merupakan tugas yang cukup berat dan berbahaya. Pada waktu itu Belanda melakukan blokade yang ketat terhadap wilayah RI, baik di darat, di luar, maupun di udara. Di darat Belanda selalu berusaha memojokkan RI ke daerah-daerah yang miskin. Blokade laut dan udara dimaksudkan Belanda untuk melumpuhkan perdagangan RI dengan luar negeri dan juga untuk mencegah masuknya senjata dari luar ke Indonesia. Namun Blokade ini, dengan keberanian yang luar biasa, dalam beberapa hal berhasil ditembus oleh pihak RI. AURI beberapa kali berhasil menerbangkan diplomatik RI ke luar negeri, antara lain Misi Haji Agus Salim, Misi Sutan Sjahrir, dan Misi Wakil Presiden Moh. Hatta dalam kunjungan tidak resmi ke India. Misi Agus Salim berhasil menarik simpati beberapa negara Arab sehingga mereka mengakui RI. Dalam membawa misi Wakil Presiden, Iswahjudi bertindak sebagai kopilot.
Untuk melakukan tugasnya, AURI memerlukan pesawat yang cukup. Masyarakat diajak berpatisipasi dalam hal pembelian pesawat terbang. Sewaktu bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut, Bukittinggi, Iswahjudi menghimbau masyarakat setempat untuk mengumpulkan uang guna membeli sebuah pesawat terbang. Himbauan itu berhasil baik. Secara bergotong royong masyarakat Bukittinggi mengumpulkan uang dan harta benda mereka, walaupun keadaan ekonomi pada masa itu cukup sulit. dana yang terkumpul ditukar dengan emas seberat 12 kilogram itulah dibeli sebuah pesawat terbang jenis Avro Anson dari seorang pedagang Amerika bernama Keegan. Pesawat itu kemudian. diberi registrasi RI-003. Sesuai dengan perjanjian, Keegan akan mengantarkan pesawat ke Bukittinggi dan kemudian ia akan diantarkan kembali ke Bangkok.
Sesudah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik. Sesudah itu bersama dengan Halim Perdanakusuma ia berangkat ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan. Selain mengantarkan Keegan, meraka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke tanah air lewat Singapura.
Tanggal 14 Desember 1947 pesawat terbang di udara Perak, Malay¬sia. Tiba-tiba cuaca berubah memburuk. Hujan lebat turun disertai badai yang cukup kuat. Iswahyudi berusaha melakukan pendaratan darurat. Karena jarak penglihatan sangat pendek, pesawat membentur pohon kayu ketika berusaha menghindari suatu ketinggian di pantai. Pesawat akhirnya jatuh di laut di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.
Sore hari tanggal 14 Desember 1947 itu Polisi Lumut, Malaysia menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Pada waktu itu mereka belum mengetahui bahwa pesawat yang jatuh itu adalah pesawat RI-003. Seorang anggota Polisi berangkat ke tempat kecelakaan. tetapi karena air sedang pasang, ia hanya dapat melihat ekor pesawat. Keesokan harinya beberapa orang nelayan menemukan sesosok mayat terapung di laut beberapa ratus meter dari pantai. Pencarian terus diadakan. Akhirnya di temukan barang-barang lain dan kepingan-kepingan pesawat. Salah satu barang yang ditemukan ialah kartu nama Halim Perdanakusuma. Ditemukan pula sebuah dompet berisi lembar uang ketas Siam, kartu – kartu bertuliskan Iswahyudi dan sarung pisau dengan tulisan di atasnya Keegan.
Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan bahwa pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Disimpulkan pula bahwa kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca yang sangat buruk.
Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas. Tokon-tokoh masyarakat Malaysia yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap peristiwa tersebut. Dilumut di bentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma. Mayat Iswahyudi tidak pernah di temukan, walaupun pencarian dilakukan secara insentif.
Kecelakaan pesawat RI-003 merupakan pukulan yang berat bagi AURI khususnya dan perjuangan Indonesia umumnya. AURI kehilangan dua orang perwira yang sangat diandalkan dan tenaganya masih sangat diperlukan. Beberapa bulan sebelumnya AURI telah pula kehilangan perwira-perwiranya, antara lain : Abdurachman Saleh dan Adisucipto ketika pesawat Dakota CT-CLA ditembak Belanda di udara Yogyakarta.
Berita duka itu diterima isteri Iswahyudi dan segenap anggota keluarga dengan rasa pedih dan pilu. Wakil Preisiden Hatta yang sedang berada di Bukittinggi secara khusus mengirim surat belasungkawa kepada isteri Iswahyudi. Dalam surat itu Wakil Presiden mengatakan bahwa Iswahyudi di gugur sebagai pahlawan bangsa.
Pemerintah menghargai jasa dan perjuangan Iswahyudi untuk kepentingan bangsa dan negara. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 06/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975, Isawahyudi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Bertepatan dengan Hari Pahlawan tanggal 10 November 1975 makam Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi secara simbolis dipindahkan dari Lumut ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK.1975 tanggal 9 Agustus 1975 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI Anumerta R. Iswahyudi.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1876

Mas Isman

1 Januari 1924, Mas Isman Lahir di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.

Pendidikan:

  • HIS Purwokerto;Mas Isman
  • Tahun 1940, MULO Cirebon;
  • SMP-Ketabang Sura­baya;
  • Tahun 1943, SMT Surabaya;
  • Tahun 1946, SMA-Malang;
  • Fakultas Hukum Surabaya;
  • SESKOAD;

Jabatan:

  • Tahun 1945 – 1951, Mas Isman mendirikan Komaridan TRIP Jawa Timur, Komandan Be-17  TNI.
  • Tahun 1951 – 1956, Bertugas di SUAD, dengan pangkat Mayor.
  • Tahun 1956-1958, Diperbantukan pada kantor Perdana Menteri, menjadi Letnan Kolonel.
  • Tahun 1958, Anggota Delegasi Rl ke PBB.
  • Tahun 1959 – 1960, menjabat Duta besar Rl di Rangoon, dengan Pangkat Kolonel.
  • Tahun 1960 – 1964, menjabat Duta besar Rl di Bangkok, dengan pangkat Brig. Jen.
  • Tahun 1964 – 1967, menjabat Duta besar Rl di Kairo.
  • Menjabat Asisten-6 PANG- AD dengan pangkat May. Jen. di Markas Besar Aangkatan Darat.,
  • Tahun 1978, menjadi Anggota DPR/MPR.
  • Tahun 1957, menjadi Ketua Umum KOSGORO.
  • Tahun 1957-1975, sebagai Dewan Penyantun IKIP-PGRI Sarmidi Mangunsarkoro Jawa Timur de­ngan Prokersa KOSGORO.
  • Tahun 1976, sebagai Dewan Penyantun IKIP-PGRI Jawa Timur.
  • Sebagai Dewan Pembina DPR-GOLKAR .

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: A.RADJAB: TRIP dan PERANG KEMERDEKAAN, Surabaya, Kasnendra Suminar, hlm.viii

Prof. Dr. Moestopo, Kabupaten Kediri

MOESTOPO a13 Juli 1913, Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, Indonesia.  Anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya, Raden Koesoemowinoto sudah meninggal ketika Moestopo baru kelas V HIS.

adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Timur dan juga seorang tokoh militer PETA, dokter gigi dan akademisi yang membidani lahirnya Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama).

Ia Moestopo menempuh pendidikan diawali dari HIS, kemudian MULO. Setelah itu ia melanjutkan ke STOVIT (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi) di Surabaya dan juga mengikuti pendidikan Orthodontle di Surabaya dan UGM, Yogyakarta. Setelah itu ia mengikuti pendidikan Oral Surgeon di Fakultas Kedokteran UI, Jakarta dan juga pendidikan sejenis di Amerika Serikat dan Jepang.

Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Profesor Dr. Moestopo, Os.Orth.Opdent.Prosth. Pedo/D.H.Ed. Biol.Panc. Gelar di depan namanya umum pasti mengetahui. Namun gelar di belakang dirinci sebagai berikut: ahli ilmu bedah rahang mulut; ahli perawatan gigi; ahli pengawetan gigi; ahli kesehatan gigi masyarakat; ahli gigi palsu srta ahli dalam biologi.

Tahun 1937 – 1941, Prof. Dr. Moestopo mulai bekerja sebagai Asisten Orthodontle dan Conserven de Tandheeldunda.

Tahun 1941-1942 ia menjabat sebagai Wakil Direktur STOVIT, kemudian sebagai asisten profesor dari Shikadaigaku Ikabu (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia).

Tahun 1952, Kolonel Moestopo, menjabat Kepala Bagian Bedah Rahang Rumah Sakit Angkatan Darat, Jakarta. Membuka Kursus Tukang Gigi, merupakan awal pengabdian Yayasan UPDM.  Disela  kesibukannya, Pak Moes mengabdikan diri pada dunia pendidikan, dengan mengelola ‘Kursus Kesehatan Gigi dr. Moestopo’, di rumah beliau di jalan Merak 8, Jakarta. Kursus ini berlangsung selama 2 jam, sejak pukul 15.00 sampai 17.00 dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan tukang gigi di seluruh Indonesia yang jumlahnya hampir 2.000 orang, agar dapat memenuhi kriteria minimal Ilmu Kedokteran Gigi dalam hal hygiene, gizi, dan anatomi sederhana, sesuai dengan himbauan Menteri Kesehatan dalam Konggres PDGI II tahun 1952.

Tahun 1957, dibuka sebuah kursus lagi yang dinamakan ‘Kursus Tukang Gigi Intelek’.

Tahun 1958, sepulang dari Amerika Serikat, Pak Moes mendirikan ‘Dental College Dr. Moestopo’. Dental college ini mendapat pengakuan resmi dari Departemen Kesehatan, Presiden Soekarno berkesempatan kunjung. Bung Karno memberikan pujian khusus kepada Dr.Moestopo, dianggap berhasil mendidik dan menelurkan tenaga kesehatan gigi yang terjangkau.

Tahun 1960, status dental college ditingkatkan menjadi ‘Akademi Tinggi Gigi’, status akademi ditingkatkan menjadi ‘Perguruan Tinggi Swasta Dental College dr. Moestopo’, selanjutnya ditingkatkan lagi statusnya menjadi ‘Fakultas Kedokteran Gigi Prof.Dr.Moestopo’

Tahun 1961 Pak Moes memperoleh gelar Guru Besar/Profesor dari Universitas Indonesia, dan dilantik oleh Prof. Ouw Eng Liang.

15 Februari 1961, Prof. Dr. Moestopo pejuang kemerdekaan, ilmuwan dokter gigi yang sangat peduli terhadap pendidikan bangsa Indonesia. Mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) UPDM (B).

Tahun 1962,  Prof. Dr. Moestopo bersama ibu R.A. Soepartin Moestopo mendirikan Yayasan Universitas Prof.Dr.Moestopo berdasarkan akte Notaris R.Kadiman No. 62. Untuk mendirikan Yayasan ini, Pak Moes selaku pendiri dan ketua Yayasan yang pertama, menggunakan tanah pribadi dan bangunannya di jalan Hang Lekir I no. 8. Jakarta dan sebuah mobil Opel Capitan tahun 1962 Nopol. B 311, sebagai salah satu modal pertama.

Tahun 1964, Prof. Dr. Moestopo mendirikan lembaga Pusat Perdamaian Dunia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada. DEalam perjuangannya mewujudkan perdamaian dunia memalui lembaga inilah, Moestopo mengirim telegram yang ditujukan ke banyak pemimpin dunia, diantaranya Leonid Brezhnev, Paus Paulus II, Jimmy Carter, Ronald Reagan, Menachem Begin, Margaret Thatcher, Presiden Argentina, pemimpin Iran dan Irak.

29 September 1986, Prof. Dr. Moestopo wafat, pada umur 73 tahun Prof. Dr. Moestopo meninggal di Bandung, Jawa Barat. Namun perjuangan Ys UPDM sebagai wadah pengabdian keluarga Pak Moes kepada Negara dan bangsa harus tetap berlangsung. Untuk itu telah diwasiatkan kepada keluarga yang ditinggalkan dan keluarga besar Ys UPDM, bahwa yang menggantikan beliau sebagai Ketua adalah putra sulungnya, yaitu drg. J.M.Joesoef  Moestopo.=S1Wh0To=

Bung Tomo, Surabaya

Cerita Cinta Sanq”Jendral Kancil”

Jenderal Kancil! Itulah julukan Bung Karno untuk Mayjen Sutomo (Bung Tomo) semasa hidupnya. Julukan tersebut bukan tanpa alasan, dalam keadaan bagaimanapun Bung Tomo selalu punya akal, seperti kancil. Kecerdikan itulah tentunya yang menyelamatkan dirinya dan para gerilyawan lain dari incaran Belanda. Padahal, waktu itu namanya masuk deretan teratas setelah Soekarno dalam daftar “target operasi” Belanda.

Kecerdikan yang dimiliki Bung Tomo tersebut ternyata tak berhasil “menyelamatkannya” dari kekuasaan pemer­intah sendiri. Bung Tomo “dibuikan” oleh Soeharto karena kekritisannya terhadap pemerintah. Namun, kancil tetaplah kancil, selalu ada akal. Semasa menjadi penghuni Nirbaya (Kramatjati, Jakarta), dia mencari alasan untuk keluar bah­kan juga berhasil membujuk penjaga untuk mampir ke rumahnya.

Itu adalah sedikit dari begitu banyak kenangan yang dituangkan Sulistina dalam buku yang diterbitkan oleh Visimedia ini. Lebih jauh istri BungTomo tersebut mengung­kap bahwa perkenalannya dengan BungTomo diawali saat mendengarkan pidato-pidato radionya yang menggelora menyemangatkan para pejuang.

Saat bergabung menjadi anggota PMI, Sulistina bertemu secara langsung dengan Sutomo. Di mata lelaki yang selalu berpenampilan rapi tersebut Sulistina terlihat berbeda. Selain cantik, dia tidakterlalu peduli atas kehadiran Sutomo layaknya gadis lain yang kagum dan berebut perha­tian. Hal tersebut justru membuat Sutomo muda penasaran. Beberapa waktu kemudian Bung Tomo pun menyatakan cintanya yang dijawab dengan diam oleh Sulistina.

Berpacaran di waktu perang bukanlah pengalaman menyenangkan. Rasa was-was dan rindu merupakan hal biasa bagi keduanya. Apalagi Sutomo adalah lelaki pejuang dan terkenal, incaran para gadis, serta (terutama lagi ada­lah) incaran tentara Belanda. Namun, semua itu mereka jalani apa adanya. Bagi keduanya yang nomor satu adalah perjuangan membela negara. Bahkan, Sutomo sempat berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia bebas dari cengkeraman penjajah.

Janji tersebut tidak dapat mereka tepati karena Indo­nesia semakin genting. BungTomo diminta mengungsi ke Australia. Untuk keamanan dari godaan dan fitnah, Bung Tomo diminta segera menikah. Pernikahan dilaksanakan 19 Juni 1947. Konsekuensinya, mereka harus”berpuasa” selama empat puluh hari karena itulah syarat bagi pemimpin yang menikah di masa perang. Sayang keberangkatan ke Aus­tralia tersebut dibatalkan karena Lapangan Bugis keburu dibombardir Belanda.

Kemudian, Sulistina selalu menemani perjuangan Bung Tomo karena suaminya hanya mau dilayani olehnya. Namun, kebersamaan tersebut tidak selamanya. Jogja jatuh, Bung Tomo harus bergerilya dan Sulistina mengungsi bersama anak sulungnya (Tien Sulistami). Mereka baru berkumpul kembali setelahTNI yang dipimpin Letkol Soeharto berhasil menduduki Jogja. Saat itu, putri sulung mereka,Tien Sulis­tami, telah berusia satu tahun.

Dalam perjalanan karier militernya, Sutomo pernah diangkat menjadi Mayor Jenderal sekaligus menjadi pucuk pimpinan TNI bersama Jenderal Soedirman, Letjen Oerip Soemohardjo, Komodor Surjadarma, dan Laksamana Nazir. Waktu itu dia bertugas sebagai Koordinator Bidang Intelijen dan Perlengkapan Perang untuk AD, AU, dan AL. Kemu­dian, pangkat jenderal tersebut harus ditanggalkan karena kecintaannya terhadap negeri. Dia diminta memilih oleh Menteri Pertahanan Amir Syarifudin, ingin terus berpidato atau menjadi jenderal. Bung Tomo memilih menanggalkan pangkat jenderalnya: “Persetan, ora dadi jenderal ya ora pateken,” ujarnya dalam logat Surabaya.

Selain sebagai Koordinator Bidang Intelijen dan Per­lengkapan Perang, Bung Tomo pernah tercatat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran/ Menteri Sosial Ad Interim (1955-1956), Anggota DPR (1956- 1959), Ketua II Mabes Legium Veteran, dan pendiri Partai Rakyat.

Atas jasa-jasanya pada negara, penulis beberapa buku tentang perjuangan dan politik ini dianugerahi Satya Len­cana Kemerdekaan dan Bintang Gerilya. Namun, sampai sekarang beliau belum juga dianugerahi gelar pahlawan nasional. Mengapa? Entahlah, Sulistina hanya menulis: Biar rakyat yang menilai kepahlawananmu.

Tahun 1981 BungTomo menghembuskan nafas terakh­irnya saat melaksanakan ibadah haji dan kemudian berhasil dimakamkan di Pemakaman Umum Ngaggel seperti yang diinginkannya. Baginya, seorang pejuang harus dekat den­gan rakyat dan matinya pun harus bersama rakyat jelata.

Mayjen (purn) Sutomo adalah pencinta sejati. Setelah meninggal, Sulistina membuka dompetnya yang semasa hidup tak pernah dilakukan. Satu di antara dua foto yang ditemukan bertuliskan iki bojoku membuat Sulistina terharu. “Saya sangat percaya dengan Mas Tom. Dia tidak mungkin melakukan itu (berselingkuh maksudnya). Karena saya tahu betul siapa dia. Saya tidak menyanjung suami saya. Tapi, MasTom itu seorang Muslim yang sangat taat. Dia tentu lebih takut kepada Allah daripada aku,” ujarnya saat ditanya fenomena para pejabat yang suka berselingkuh (hal. 196).

Buku setebal 208 halaman ini tidak sekadar catatan sejarah, melainkan juga referensi bagi para pencari cinta. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada bangsa dan negara, cinta kepada sesama, cinta pada kebenaran, cinta pada pada anak, cinta pada profesi, cinta pada banyak hal. Cerita cinta yang kompleks.

Judul : BungTomo Suamiku, Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu
ISBN : 979-104-392-2
Penulis : Sulistiana Sutomo
Penerbit : Visimedia
Tahun : 2008 (cetakan II)
Tebal : viii + 208 halaman
Harga : Rp 29.000

oleh: Sabjan Badio jakartasatu@gmail.com

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kontak Sosial : media informasi kesejahteraan sosial, Edisi Semester 2/2008, hlm. 32

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo

9 Juli 1895, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, lahir di Magetan. anak kedua dari sepuluh bersaudara dari Raden Mas Wiryosumarto yang bertugas sebagai Ajun Jaksa di Magetan,dan Raden Ayu Kustiah.

Soerjo bersekolah di Tweede Inlandsche School (Sekolah ongko lara) di Magetan, kemudian pindah ke Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelah lulus dari HIS, ia pindah ke Madiun untuk mengikuti pendidikan di Opleidings School Voor Inlandsche Ambteraar (OSVIA). Di Madiun ia tinggal di rumah Bupati Madiun, kakak ibunya. yaitu Raden Ronggo Kusnodiningrat.

Tahun 1918, ia Lulus OSVIA ditugaskan di Ngawi sebagai Gediplomeerd Assistant nlandsch Bestuur Ambtenaar kantor Controleur Ngawi.

22 Agustus 1917,  Besluit Kepala Departemen Derusan Bestuur No. 1442/C11,  Sebelum tamat OSVIA, ia pernah ditugaskan sebagai pangreh praja dalam residensi Madiun,

27 Agustus 1917, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 7681/10 ia menjadi Candidat prijaji Pangreh Praja Indonesia dan ditempatkan sebagai Controleuir di Ngawi.

3 April 1919, berdasarkan Besluit Residen Madiun No. 4058/10, Setelah kelulusanya dari OSVIA ia sebagai Wedono Ngrambe (Ngawi).

27 Oesember 1919, berdasarkan Besluit No. 11847/10, sebagai Asisten Wedana Onderdistrik Karangredjo (Magetan).

Tahun 1920 ia dipindahkan ke Madiun sebagai Mantri Veld Politie hingga tahun 1922.

Tahun 1923 ia mendapat tugas belajar di Politie School (Sekolah Polisi) di Sukabumi selama dua tahun.

30 Maret 1925, berdasarkan besluit Residen Madiun No. 5064/10. ia pindah ke Onderdistrik Kota Madiun

Pada tahun 1926 ia pernah menduduki jabatan Asisten Wedana di Kota Madiun dan Ponorogo (Jetis) dan selanjutnya ia menjadi Wedana di Pacitan. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Raden Ajoe Siti Moettopeni, yang lahir di Ponorogo tanggal 13 Mei 1898. Raden Ajoe Siti Moettopeni merupakan puteri dari Raden Adipati Aryo Hadiwinoto, Bupati Magetan. Buah pernikahan tersebut melahirkan seorang anak bernama Raden Adjeng Siti Soeprapti, lahir di Magetan, 12 Januari 1922.

21 Februari 1927, Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 1524/10 tanggal, dipindahkan ke Onderdistrik Djetis distrik Ardjowinangun Kabupaten Ponorogo.

30 Juni 1927 Berdasarkan besluit Residen Madiun No. 4975/10 diangkat menjadi Asisten Wedono Klas I.

25 September 1928, Berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 1080/23a diangkat menjadi Wedono Distrik Kota Patjitan.

Tahun 1930 ,Soerjo, mengikuti pendidikan di Bestuuracademic di Batavia selama dua tahun.

1 Desember 1930,  berdasarkan Besluit Goebernoer Djawa Timoer No. 3171/23a, setelah menyelesaikan pendidikannya  ia ditugaskan di distrik Modjokasri (Modjokerto) sebagai Wedana di Mojokerto

11 September 1935,  diangkat menjadi Wedono Distrik Porong. Kabupaten Sidoarjo.

9 Agustus 1938,   diangkat menjadi Bupati di Magetan hingga tahun 1942.

Tahun 1943, beliau menjabat Su Cho Kan (Residen) Bojonegoro hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

18 Agustus 1945, setelah Indonesia merdeka, Soerjo, diangkat sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur yang pertama.

5 September 1945, Ia dilantik sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur.

12 Oktober 1945, baru melaksanakan tugas sebagai Gubernur Jawa Timur.

31 Oktober 1945, menghadapi pasukan tentara sekutu di Surabaya. Setelah terbunuhnya Mallaby di Surabaya kemarahan Inggris semakin memuncak.

9 November 1945, tentara Inggris mengeluarkan ultimatum kepada segenap rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata paling lambat tanggal 10 Nopember 1945 pukul 06.00 pagi. Apabila tuntutan ini tidak dipenuhi mereka akan menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara. Gubernur Soerjo menghadapi keadaan genting ini dengan kepala dingin. Ia mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat.

9 Nopember 1945 pukul 23.00, beliau berpidato melalui siaran radio dan membakar semangat rakyat untuk bangkit melawan pasukan Inggris. Pidato yang sama pun digelorakan oleh Bung Tomo yang mampu memicu semangat pemuda Surabaya untuk menahan gempuran Sekutu.

10 Nopember 1945, keesokan harinya meletus pertempuran dahsyat antara tentara Inggris dan para pejuang serta pemuda Indonesia di Surabaya yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Surabaya.

Tahun 1945, serangan Inggris di Surabaya semakin gencar dan memaksa Suryo dan staf pemerintahan menyingkir ke Sepanjang.

Tahun 1947, kemudian pindah ke Mojokerto, Kediri, dan selanjutnya Malang .

21 Juli 1947, setelah aksi Militer Belanda I. Kedudukan Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang sebelumnya ada di Malang dipindahkan ke Blitar.

Tahun 1947 Soerjo digantikan oleh Dr. Moerdjani. Soerjo mendapat tugas baru sebagai Wakil Ketua DPA di Yogyakarta. la selanjutnya menjadi ketua DPA ketika ketua sebelumnya sakit.

10 Nopember 1948 setelah menghadiri peringatan hari Pahlawan di Yogyakarta, Soerjo pulang ke Madiun untuk menghadiri 40 hari wafatnya adiknya, Raden Mas Sarjuno yang menjadi korban keganasan Partai Komunis Indonesia. la bermalam di Solo dan menginap di rumah seorang Residen Solo, Pak Diro.

11 Nopember 1948, keesokan harinya beliau melanjutkan perjalanan. Di Desa Bago, Kedunggalar, Ngawi, dicegat dan kemudian dibunuh gerombolan komunis yang dipimpin oleh Maladi Yusuf. Pada saat yang sama lewat mobil yang ditumpangi M. Duryat dan Suroko. Soerjo dan lainnya di bawa ke Hutan Sonde dan dibunuh secara kejam. Jenazahnya ditemukan empat hari kemudian di Kali Klakah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Jenazah Soerjo kemudian dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan.

17 Nopember 1964, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294, Pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan Pembela Kemerdekaan.

 Taman TAHURA

Cak Durasim

-2011-
Cak Durasim adalah seniman Ludruk kelahiran Jombang, dia adalah seniman ludruk sejati di jaman Soerabaja Tempo Doeloe. Dia yang memprakasai perkumpulan Ludruk di Surabaya. Pada tahun 1937 mempopulerkan cerita-cerita legenda Soerabaja dalam bentuk Drama.

Cak Durasim adalah seniman Ludruk sekaligus adalah Pejuang, Pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai negeri ini melalui Ludruk sebagai media siar. Dia membangkitkan semangat juang arek-arek Surobojo dan mengkritik pemerintah penjajah,  di dalam pementasan drama Ludruknya. Selain menceritakan legenda Surabaya Cak Durasim juga mementaskan cerita perjuangan-perjuangan lokal masyarakat Jawa Timur. Selain itu gendhing Jula-Juli Surabaya isinya mengkritik pemerintah penjajah.

Pada puncaknya waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya Cak Durasim melantunkan Kidungan yang sangat populer yang berbunyi :“Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro”  – Bekupon Sangkar burung dara, Ikut NIPPON (Jepang) bertambah sengsara”.
Yang artinya : kehidupan pada jaman Jepang lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di jaman penjajah Belanda. Kidungan ini yang menyebabkan Cak Durasim dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Jepang. Pada tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara dan dimakamkan di Makam Islam Tembok. =Wh0=

Catatan: Sujarwo, Putakawan Jawa Timur, 2011
Bahan bacaan: koleksi Deposit Badan Perpuatakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Napak Tilas Peristiwa 10 Nopember

Berbagai permasalahan bangsa akan bias diselesaikan bila nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan diterapkan dalam kehidupan. Demikian yang disampaikan Drs. Fahrur Rozi Syata,M.Si. Kepala Dinas Sosial Jatim saat pelepasan peserta Ziarah Wisata. Acara yang digelar pada 19 Oktober ini diikuti 285 pelajar SMP dan SMA di Surabaya.

Kepada wartawan Fahrur Rozi, menyampaikan acara yang digelar secara rutin setiap tahun ini merupakan upaya menanamkan nilai-nilai kepahlawanan kepada pelajar dan generasi muda. Karena pelajar dan generasi muda saat inilah yang akan menentukan pe rja lanan bangsa dimasa datang. Dengan nilai-nilai kepahlawanan itu, generasi muda bisa melanjutkan perjalanan bangsa ini dengan baik.

“Kepada mereka perlu ditanamkan bahwa kemerdekaan bangsa ini buka nlah pemberian bangsa lain. Tapi hasil perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Tidak hanya harta tapi juga nyawa mereka korbankan. Sehingga generasi muda tidak menyia-nyiakan kemerdekaan ini dan turut serta membangun bangsa. Kalau nilia-nilai kepahlawanan ini bisa diterapkan, maka berbagai persoalan bangsa saat ini akan bisa diselesaikan;’ tukasnya.

Memang acara Ziarah Wisata yang melibatkan para pelajar ini nampak berbeda dengan tahuntahun sebelumnya. Pada tahun lalu misalnya, acara difocuskan diatas kapal TNI AL. Digeladak kapal perang itulah mereka melaksanakan upacara untuk mengenang jasa pahlawan kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga di laut. Dalam acara itu pula para pelajar diperkenalkan dengan berbagai peralatan yang ada dikapal kebanggaan TNI AL tersebut.

Sementara untuk tahun ini, ziarah wisata lebih terfocus pada tempat-tempat bersejarah utamanya yang terkait dengan perist iwa heroik melawan penjajah diSurabaya. Dimana dalam peristiwa yang puncaknya terjadi pada 10 Nopember tersebut, tidak bisa lepas dari peran Bung Tomo. Untuk itulah tempat pertama yang dikunjungi dalam ziarah wisata ini adalah makam Bung Tomo di TPU JI. Ngagel.

Kemudian rombongan pelajar yang diangkut 8 bus tersebut dibawa ke SMA N 5. Ditempat inilah banyak yang merasa bingung. Pasalnya mereka tidak tahu kenapa SMA tersebut masuk dalam acara ziarah wisata. Namun kebingungan tersebut terjawab setelah mereka mendapat penjelasan dari guru sejarah SMA N 5. “SMA kompleks ini tadinyajadi satu. Disekolah inilah Bung Karno, Bung Tomo dan Cak Roeslan Aboelgani bersekolah. Sekolah ini juga menjadi salah satu markas BKR yang punya peranan penting dalam peristiwa 10 Nopember;’ ungkapnya.

Paparan tersebutjuga ditegaskan oleh Prof. Dr Aminuddin Kasdi, Guru Besar UNESA yang ikut serta dalam rombongan ziarah wisata tersebut. Dalam kesempatan itu, pakar sejarah ini juga bercerita tentang bagaimana Bung Karno semasa bersekolah. Cerita tersebut dipaparkan sebagai teladan dan penyemangat bagi para pelajar. “Setiap tahun sekitar 40 ribu sarjana yang menganggur. Jadi belajarlah sungguh-sungguh dan bekerja keras agar tidak hanya menjadi pemangku ijazah,” tandasnya memotivasi para pelajar peserta ziarah wisata.

Pada kesempatan tersebut, Nadia Zahara, Putri IntelgensiaIndonesiaI 2009 juga memompa ,semangat para pelajar untuk mau memahami perjalanan bangsa ini. Hal ini dimulai dengan pertanyaan siapa yang sudah tahu makam Bung Tomo. Ternyata tidak banyak yang mengangkat tangan. “Ternyata kita lebih banyak tahu tentang pusat-pusat perbela nj aan daripada tem pat-tem pat berseja ra h seperti makam Bung Tomo;’tandasnya. Setelah dari SMAN 5, rombongan peserta ziarah wisata melanjutkan perjalanan ke Hotel Majapahit yang berada di JI. Tunjunga n. Tempat ini dikenal dengan peristiwa penyobekan bendera belanda oleh arek-arek Suroboyo. Sayang ditempat ini peserta tidak bisa berlama-Iama.Parapeserta hanya bisa sampai didepan hotel yang dulunnya lebih dikenal dengan ‘Hotel Oranye.

Dari Hotel Majapahit, ziarah dilanjutkan ke makam Dr. Soetomo yang berada di Gedung Nasional Indonesia (GNI) di JI. Bubutan. Disamping do’a bersama da n menabur. bunga di makam Dr Soetomo, di GNI ini pula peserta diminta mempresentasikan hasil ziarah. Adalah Vera dari SMP 39 yang memaparkan dengan runtut tentang hasil kunjungannya di Hotel Majapahit.Tak ketinggalan dipaparkan pula tentahg peristiwa yang pernah terjadi dihotel tersebut.

Sementara Charis Subianto dari SMA N 2 memaparkan tentang sejarah

GNI dan perjalanan Dr. Soetomo. Sedang Pungky dari SMA Hang Tuah memaparkant entang peristiwa perebutan RS Karang Menjangan dan Markas Kempetai yang kini menjadi Tugu Pahlawan. “Pada awalnya saya bingung. Mau dibawa kemana kita ini. Tapi setelah dari makam Bung Tomo saya jadi tahu, bagaimana rangkaian perjuangan pahlawan kita dalam mempertahankan Kota Surabaya yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 10 Nopember dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sebelumnya saya hanya biasa-biasa saja kalau lewat JI. Ngagel. Tapi kini saya punya kesan lain dengan jalan itu. Karena di makam yang ada  di JI Ngagel itu ada makam Bung Tomo yang mempunyai andil besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan;’ ujar Elok, siswa SMA IPIM saat menyampaikan kesanya mengikiti ziarah wisata.

Pada kesempatan itu, Indayati, Kabid Pemberdayaan Sosial- Dinsos Jatim juga menyampaikan beberapa pesan pada para pelajar.”Janganlahjadi rumput karena engkau akan diinjakinjak. Janganlah jadi cemara karena akan mudah roboh. Jadilah mercusuar karena sebaik-baik manusia adalah yang bisa membawa manfaat bagi sesama,” ujarnya

Dari GNI, rombongan yang terdiri dari pelajar SMAN 2, 5, 9, Hang Tuah, Bhayangkari, IPIM, Among Siswo dan pelajar SMPN 2, 5, 39, Bhayangkari, menuju Tugu Pahlawan. Ditempat yang menjadi icon Surabayaini, peserta ziarah mendapat penjelasan tentang perjuangan arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 Nopember. Didalam musium, peserta juga bias mendengarkan pidato asli Bung Tomo saat membakar semangat arek-arek Suroboyo. Bahkan pada kesempatan tersebut ,juga hadir Bambang Silistomo, putra Bung Tomo. (gt)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kontak Sosial, media informasi kesejahteraan sosaial, EDISI Triwulan 4 2009