Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Bangsawan Wanita Dewasa , nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang  bagian bawah Jarit (kain panjang). Sedangkan sebagai unsur perlengkapan pakaianadalah sebagai berikut:

 Bagian kepala :

Wajah Rias wajah dengan menggunakan.

(a)  Wedak gadhung dan wedak teles atau wadak dari bahan beras. Cara membuat wedak gadhung adalah sebagai berikut • Beras direndam dalam air selama kurang lebih 5 atau 7 hari. Tiap hari airnya harus diganti. Setelah itu ditumbuk atau diremas dan di- diamkan untuk beberaoa waktu. Setelah lembut di saring dan sisa/ampas dari beras yang halus itu di­beri ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bulat- bulat dan dijemur sampai kering. Setelah itu dipo- leskan ke seluruh wajah. Adapun fungsinya agar muka tampak cantik dan segar.

(b)  Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata. Bahannya langes (bahasa Jawa) yaitu, asap api yang mengeras. Warnanya biasanya hitam.

(c)  Nginang (makan sirih), salah satu kebiasaan orang-orang tua di Ponorogo adalah nginang yaitu : mengunyah sirih dengan segala bumbu-bumbunya antara lain : enjet (kapur- sirih), gambir dari isi buah pinang. Sirih ini diku- nyah sampai lembut/halus, setelah itu dibuang dan di bersihkan dengan tembakau yang telah dibentuk bulat. Fungsi daripada makan sirih (nginang) ini adalah untuk menguatkan gigi dan memerahkan bibir.

Rambut

Memakai sanggul gelung konde, di atas sanggul dipakai hiasan bunga melati. Hiasan lain berupa 2 buah tusuk (cucuk) konde. Bahannya emas bermata intan, perak atau baga. Ben­tuknya Sendokan (seperti sendok) dan manggaran (se­perti bunga kelapa).

Telinga

Hiasan di telinga ialah suweng gem bung dengan temung- gul atau intan yang besar di tengah-tengah, serta di ling- kari oleh 8 intan yang kecil-kecil. Di belakang temung- gul ada semacam sekrup dari tembaga sebagai (alat un­tuk mengunci antara suweng dengan telinga agar tidak mudah lepas. Suweng yaitu subang bahannya terbuat dari emas dengan banyak permata, biasanya permata intan atau berlian. Dasar suweng berwarna hitam terbuat dari bahan beludru.

Orang perempuan yang memakai subang sejenis ini, lobang telinganya harus besar (± diameter 1 centime­ter). Jadi bagian dari subang yang akan dimasukkan ke dalam lobang telinga ini bentuknya cukup besar, tidak seperti subang biasanya. Adapun cara untuk memperbesar lobang telinga ini ialah dengan diberi merang atau batang padi. Jika menginginkan lobang tersebut ditambah, maka setiap hari jumlah merangnya harus ditambah pula. Lobang itu semakin hari semakin besar, sam­pai akhirnya cukup untuk diberi subang gembung.

Bagian atas :

Leher

Hiasan di leher berupa kalung rantai terbuat dari emas untuk pelengkapnya dipakai liontin ada beberapa ben­tuk liontin, yitu:

  • Bentuk keris dengan mata beijumlah 9 buah.
  • Bentuk bulan dengan mata beijumlah 6 buah. Ba­han dari emas dan matanya dari intan.

ü   Bentuk kuku macan, bagi mereka yang kurang mampu. Bahannya berupa kuku macan asli dengan warnanya putih kekuningan.

Kebaya panjang dengan memakai Kutubaru. Bahannya kain beludru, berwarna hitam polos. Bentuk­nya seperti pada umumnya kebaya Jawa, ukuran pan­jang kebaya sampai di bawah pinggul atau di bawah pan- tat/menutupi pantat.

Hiasan pada baju kebaya berupa peniti rantai, yang ter­buat dari emas. Bahan emas, motifnya bentuk huruf S atau motif kembang atau motif tebu sekeret.

Bagian dada, dipakai kutang sebagai sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus.

  • Kemben, yaitu sepotong kain penutup dada dan dipa­kai setelah memakai setagen, dari kain batik, bermotif jemputan atau lompong keli, yang berwarna-warni. Ukuran panjang ± 2 meter, lebar ± 40 centimeter.
  • Selendang ciut, yaitu sepotong kain kecil sebagai pelengkap kalau me­makai kain kebaya, bahannya kain batik. Motifnya truntum (satu stel dengan kain panjangnya), dengan warna hitam, ukuran panjang ± 2 meter dan lebar ± 40 cm. Bentuk seperti selendang pada umumnya, yaitu persegi-empat panjang.

Bagian tangan, hiasan di tangan berupa gelang penuh permata yang ber- nama gelang tretes terbuat dari emas. Bentuknya ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular, atau bentuk untir-untir yang menyerupai spiral (pir).

Bagian bawah :

Kain panjang atau jarit yaitu sehelai .bahan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 2% x 1 meter, ter­buat dari batik yaitu kain mori yang dilukisatau digambar, dengan motif bledak atau truntum dengan hiasan lar-laran. Ukuran seperti kain panjang pada umurnya yaitu panjang 2 meter dari lebarnya ± 1 meter. Bentuk empat persegi panjang dengan jumlah wiron antara 20 dan 22.

Setagen

Setagen yaitu sepotong kain yang panjang dan sempit terbuat dari kain tenun yang kuat dipergunakan untuk mengikat antara kain panjang dengan badan (pinggang). Bahannya kain tenun, dengan warna hitam. Ukuran pan­jang ± 5 meter, lebar ± 15 cm.

Alas kaki

Namanya selop beludru atau sandal yang bersulam hias­an mote (manik-manik). Bahannya kulit, berwarna hi­tam dan dihias manik-manik yang berwarna-warni. Fungsinya sebagai pelindung dan penghias kaki. Bentuk selop, tertutup bagian depannya dan tidak terlalu ting- gi, sedangkan sandalnya kadang-kadang terbuka bagian depannya.

Cara berpakaian

Mula-mula dipakai jarit (kain panjang) yang sudah diwiron de­ngan cara dililitkan di badan sampai ke mata kaki. Setelah itu di­pakai setagen yang dililitkan di pinggang agak kencang agar kain tidak mudah terlepas. Kemudian dipakai kemben, yaitu sepo­tong kain batik yang berfungsi sebagai penutup bagian dada sam­pai ke pinggang. Setelah itu dikenakan kebaya panjang, lalu dipa­kai selop dan terakhir selendang.

Fungsi

Fungsi pakaian adat ini ialah untuk pakaian bepergian, misal­nya menghadiri pesta perkawinan atau menyambut tamu agung. Sedangkan fungsi hiasan adalah untuk suatu kebang- gaan atau perlambang suatu kekayaan.

Arti simbolis:

  • Arti simbolis kuku macan sebagai leontin/bandul ka­lung : kecuali untuk perhiasan, pada kuku macan terse- but ada yoni yaitu unsur kekuatan gaib yang fungsinya menjaga keselamatan si pemakai.
  • Arti simbolis warna dasar hitam yang dipakai untuk ke- baya/busana wanita-wanita bangsawan di Ponorogo umumnya melambangkan : kelanggengan dan keabadian atau kewibawaan si pemakai.
  •  Arti simbolis motif truntum pada kain panjang yaitu suatu penghargaan yang diberikan pada mempelai ber- dua, jika kain ini dipakai pada saat menghadiri upacara perkawinan. Selain itu juga memberikan arti suatu kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh tamu yang di- sambut. Sedangkan motif  lar-urip (sayap) adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rak­yat biasa (suatu simbol status sosial). Jadi motif  lar- urip ini tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa dan yang boleh mempergunakan hanyalah kaum bangsawan saja. Demikian juga halnya dengan selop (sandal). Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, karena selop itu menunjukkan tentang status seseorang yaitu bangsa­wan. Rakyat biasa tidak boleh memakainya.
  • Arti simbolis bunga melati pada sanggul yang dipakai adalah suatu perlambang keharuman, keagungan, kesu- cian dan suatu kharisma seorang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 123-127

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Wanita Remaja Bangsawan, nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang, bagian bawah Jarit (kain panjang). Unsur Perlengkapan Pakaian pada  bagian kepala:

Wajah memakai wedak teles, Rias wajah memakai wedak gadung atau wedak te­les atau wedak yang dibuat dari bahan beras. Ada- pun cara membuat wedak gadung adalah sebagai berikut : Beras direndam dalam air selama 5—7 hari. Tiap hari airnya diganti. Setelah beras diren­dam kemudian ditumbuk (diremat) dan disaring. Setelah lembut, didiamkan untuk beberapa waktu. Sisa atau ampas dari beras yang halus tersebut diberi ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bu- lat-bulat dan dijemur sampai kering. Cara pema- kaian wedak aden ini ialah dicampur dengan air, lalu dipoleskan ke seluruh wajah. Fungsi wedak adem ialah agar muka tampak cantik berseri-seri.

Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata, bahannya ialah langes (bahasa : Jawa) yaitu asap api yang mengeras. Biasanya api dari lampu teplok yang nyalanya besar biasa mengeluarkan asap ba- nyak dan lama-lama menebal serta mengeras. Jela- ga yang telah mengeras itu berwarna hitam. Inilah yang dijadikan celak.

Rambut, untuk remaja putri biasanya dipakai sanggul berupa gelung konde dengan hiasan di atasnya 2 buah cucuk (tu­suk) konde, bahannya emas, perak atau tembaga, dan bentuknya menyerupai sendok dan manggaran menyerupai manggar (bunga kelapa).  Hiasan telinga memakai gondel (anting-anting), terbuat dari emas, berwarna kuning po­los. beratnya tidak ada ketentuan, biasanya disesuai­kan dengan kemampuan.  Bentuknya seperti bentuk setengah lingkaran.

Bagian atas,  Hiasan di leher berupa kalung rantai (menyerupai se­perti rantai). Bila dari kalangan orang berada atau mampu, maka diberi gandul atau leontin dinar (uane Arab). Bahannya emas, dengan warna kekuning-kuningan de­ngan bentuk seperti rantai dan liontinnya bulat seperti uang logam. Klambi kebaya panjang tanpa Kuthubaru. Bahan pakaian ini ialah beludru berwarna hitam. Bentuknya seperti umumnya kebaya Jawa, dibuat tan­pa memakai kuthubaru, tetapi menggunakan benik atau kancing dinar sebanyak tiga atau lima buah. Ukurannya panjang kebaya sampai di bawah pineeul. Pola badan dan lengan dibuat mengepas di badan agar terlihat jelas bentuk badannya. Itulah tujuannya kebaya remaja putri dibuat tanpa kuthu baru. Kutang sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus dan menarik, bahannya kain mori atau kain belacu yang agak halus biasanya warnanya pada umumnya putih atau hitam, dan bentuknya seperti bentuk kutang pada umumnya. Ukurannya sesuai dengan besar kecilnva dada si pemakai dan biasanya dibuat agak pas agar kelihatan badannya singset dan kencang.

Kemben bahannya kain batik berwarna merah, de­ngan motif cinde atau pelangi. Ukurannya panjang 2,5   meter dan lebar ± 40 centimeter. Fungsinya untuk penutup bagian dada dan sekalian juga untuk penutup stagen. Selendang Cinde bahan selendang ini ialah kain batik dengan warna bermacam-macam. Motifnya ialah udan liris, sinatrio manah atau sido mukti (biasanya satu stel dengan kain panjangnya). Ukuran panjang 2,5 meter dan lebar lebih kurane 40 centimeter.

Fungsi sebagai pelengkap kain kebaya. Hiasan di tangan berupa Gelang rantai atau gelang penuh permata yang bernama gelang tretes. Bahannya emas dan permatanya dari intan. Ben­tuknya seperti rantai biasa dan bentuk ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular. Cincin dibuat dari emas bermata merah dan putih. Bentuknya cere gancet yaitu bentuk anak coro yang se­dang berdempetan tumpeng tindih. Menpenai beratnya tidak ada ketentuan, disesuaikan denean kemampuan.

Bagian bawah : Jarit (kain paiyang) terbuat dari mori, dengan warna latar pu­tih. Motifnya bahan liris atau sinatrio manah, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya yaitu, pan­jang 2,5  meter dan lebar satu meter. Bentuk kain empat persegi panjang dengan jumlah wiron panjil, antara sebelas sampai dengan sembilan belas. Setagen dibuat dari kain tenun kentel, berwarna hitam ukuran panjang ± 5 meter dan lebar ± 15 centimeter, stagen berfungsi untuk pengikat kain panjang denpan pinggang agar kain tidak lepas atau melorot dari pinggang. Alas kaki selop atau sandal, Selop dibuat dari bahan beludru, sedangkan sandal di­buat dari bahan kulit. Warnanya biasanya hitam. Model selop, bagian depannya tertutun dengan hak tidak terla- lu tinggi sedang sandal, model srempang (seperti sandal jepit).

Cara berpakaian, Mula-mula dipakai kain panjang yang sebelumnya sudah diwiron dengan jumlah ganjil. Kain dipakai dengan cara dililitkan meling- kari badan dari arah kiri ke kanan, yang panjangnya dari batas ninggang sampai batas mata kaki. Setelah itu, dipakai setagen sebagai pengikat kain panjang di ba­dan (pinggang) agar kain panjang terse but dengan erat dan baik, sehingga tidak mudah lepas. Ada pun memakainya juga dengan cara dililitkan di pinggang dan waktu melilitkannya, setagen ter- sebut agak ditarik supaya ketat dan sinpset. Kemudian, dipakai kemben dengan cara dililitkan pula dari batas dada sampai ke pinggang. Ada pun memakai kemben adalah se­bagai penutup dada, sekaligus untuk menutupi setagen agar tam- nak lebih rapi. Setelah yang baru dipakai klambi kebaya panjang kemudian benik atau kancing dinarnya dikancingkan semua. Kemudian, dipakai selop atau sandal, dan selendang cinde.

Fungsi pakaian untuk menutup bagian tubuh dan alat ke- indahan dalam menghadiri acara-acara resmi pada pesta per- kawinan serta acara resmi dalam menyambut tamu-tamu. Arti simbolis : Kebaya remaja putri ini yang tidak memakai kuthubaru mempunyai makna bahwa remaja putri itu belum pernah mempunyai putra. Hal ini dilambanpkan denpan bentuk badannya yang masih kencang (singset) teruta- ma pada bagian buah dada, sehingga tidak perlu lapi kuthu baru pada kebayanya.  Warna merah dan nutih pada cincin cere gancet, melambangkan bahwa asal manusia adalah dari Bopo dan Biyung (Bapak dan Ibu).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 119-122