Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Wanita Remaja Rakyat Biasa, nama pakaian, bagian atas kebaya rancongan, bagian bawah : Sarung tenun atau sarung batik. Unsur Perlengkapan Pakaian: Bagian kepala Pada Wajah memakai jimpit di bagian kening kanan, kiri atau di dahi, tempat yang dijimpit disebut leng-pelenpan, bahan dibuat dengan cubitan tangan (dahulu). Sedang saat ini memakai alat kosmetik (lipstik). warna merah. Ukuran : ± 2 cm., bentuk berupa garis kecil membujur.

Hiasan mata celak, bahan dari cairan atau bubuk seperti pasir halus yang didapatkan dari tanah Mekkah Arab, warna hitam pekat atau hitam keabu-abuan, ukuran sepanjang kelopak mata bagian bawah, bentuk berupa garis kecil memanjang mengikuti lengkung kelopak mata bagian bawah.

Rambut disisir ke belakang, kemudian digelung sendhal, gelung Madura ini pada umumnya agak tinggi letaknya, bahan rambut asli (membuat sendiri) tanpa cemara,  bentuk agak bulat penuh (padat) dengan kuncir atau ekor yang merupakan sisa rambut dan terletak tepat di tengah-tengah sanggul.

Harnal Bahan emas bermata selong warna kuning emas Ukuran ± panjang 12 centimeter. Bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak besar. Hiasan Rambut Terdiri :

Cucuk Bahan dari emas, motif mata uang talenan, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 2 centimeter, bentuk seperti sebuah busung yang terdiri dari untaian mata uang emas (sekeping atau dua keping), tetapi adakalanya terdiri dari uang talenan atau ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai bagi yang mampu uang ini berjumlah sampai 10 buah atau lebih. Te­tapi bagi masyarakat yang tidak mampu jumlahnya hanya 3 atau 5 buah.

Cucuk Dinar, bahan emas, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 3 centimeter, motif  mata uang (dollar) Amerika, bentuk  seperti sebuah busur yang terdiri dari beberapa kepingan dollar Amerika.  Tapi adakala­nya hanya terdiri dari sebuah dollar saja. Karena ke 2 cucuk (cucuk sisir maupun cucuk di­nar) tersebut terbuat dari emas dan harganya mahal, maka demi keamanannya cucuk tersebut diberi tali dari benang atau kain untuk diikatkan di pangkal sanggul agar tidak mudah lepas.

Bangun tuluk bahan bunga alami, misalnya kembang melati atau tanjung, warna putih, Ukuran : panjang ± 10 centimeter, bentuk diuntai (dironce) menyerupai bentuk busur.

Tutup kepala memakai leng-oleng yang diletakkan di atas kepala, bahan handuk besar atau kain yang tebal. Hiasan telinga Anteng cap-cap bahan emas , motif  polos warna kuning emas, ukuran, bentuk bulat kecil berantai.

Hiasan leher  kalung  bahan emas, motif  Pale obi, mon-temonan atau Brondong. warna kuning emas, ukuran berat kalung ini tergantung dari kemampuan ekonomi si pemakai. Kadang-kadang beratnya  sampai 1 ons atau lebih. Tapi bagi masyara- kat biasa beratnya hanya ± 5 s/d 10 gram. Panjang ± 30 s/d 40 centimeter atau tergantung selera si pemakai, bentuk corak pale obi bentuknya menyerupai batang ubi melintir. Sedang corak mentemonan bentuknya seperti biji buah mentimun yang disambung satu persatu (diuntai) memanjang sampai ukurannya sesuai dengan ukuran lingkar leher. Motif Brondong adalah suatu motif yang menyeru­pai biji jagung yang disambung satu persatu (direnteng) sampai ukurannya seperti kalung. Bentuk ka­lung brondong ini sampai sekarang masih banyak dipakai oleh wanita Madura. Dan motif ini adalah motif  khas kalung Madura.

Kalung tersebut biasanya dikenakan bersama liontin atau bandul, bahan emas warna kuning emas, ukuran tergantung dari bentuk dan kemampu an ekonomi dari si pemakai. Akan tetapi berat bandul ini pada umumnya ± 5 s/d 15 gr, bentuk liontin pada jaman dahulu pada umumnya berbentuk mata uang dollar Amerika (dinar). Untuk saat ini wanita Madura juga banyak mempergunakan liontin yang berbentuk mirip bunga matahari dengan bulatan menonjol di tengah serta kelopak kecil-kecil di pinggirnya.

 Bagian Atas

Kebaya rancongan, bahan dahulu pada umumnya memakai bahan tenun. Saat sekarang memakai bahan elastis, misalnya kain brokat. Motif kain tenun motif polos. Kalau kain brokat berbunga-bunga besar atau kecil dan tembus pandang. Warna kalau dahulu berwarna hitam atau biru. Seka­rang pada umumnya memakai warna-wama menyolok, misalnya merah muda, merah tua, hijau pupus atau ku­ning. Adakalanya warna-warna yang dipakai untuk saat ini  kombinasikan dengan benang-benang emas atau perak yang mengkilap. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kupnat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri. Keba­ya rancongan ini ciri khasnya pada kelimannya yang lebar ± 15 centimeter.

Kutang bahan katun, motif polos, warna biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya  merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukuran sesuai badan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula yang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada bagian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peniti Dinar ranteng bahan emas, motif nolos warna kekuning-kuningan, ukuran sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Hiasan tangan gelang dipakai ditangan kanan dan kiri masing-masing 1 buah. Bahan emas memakai mata selong, motif tebu saeros, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar tangan si pemakai. Bentuk seperti keratan tebu. Hiasan jari Cincin 1 buah di tangan kanan atau kiri, bahan emas, motif tebu saeres, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar jari si pemakai, bentuk seperti keratan tebu.

Bagian bawah

Odhet bahan kain motif tenunan polos warna merah, kuning atau hitam ukuran 1,5 meter. Bentuk Lebar 15 centimeter. Panjang lebih kurang seperti zetagen Jawa pada umumnya. Sarung bahan batik Madura memakai tumpal, para gadis pada umumnya senang menggunakan motif batik Storjoan yang berwarna merah agak coklat atau dengan kombinasi bunga hijau dan biru, Ukuran seperti pada umumnya sarung yang dipakai oleh kebanyakan orang. Bentuk : seperti kain panjang hanya tanpa wiru.

Hiasan kaki memakai penggel dipakai pada pergelangan ke dua kaki masing- masing satu buah, bahan perak atau emas, motif polos atau berukir ujungnya dengan gambar kepala ular atau lain-lainnya, warna jika terbuat dari perak berwarna putih dan bila terbuat dari emas berwarna kekuning-kuningan. Ukuran lingkar pergelangan disesuaikan dengan kaki si pemakai, dan beratnya disesuaikan dengan kemam- puan ekonomi pemakainya jika terbuat dari perak ada yang beratnya sampai 3 kg sebuah, dan yang terbuat dari emas tentunya tidak seberat itu.Alas kaki Sandal japit bahan kulit (dahulu), plastik (sekarang). Warna menyolok. Ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuk : seperti sandal japit pada umumnya.

 Cara memakai pakaian.

Mula-mula mengenakan kain tanpa wiru, caranya dengan melilit- kan ke pinggang dari kiri ke kanan. Memakai kainnya agak tinggi (nyingsing) sehingga betisnya kelihatan. Setelah itu mengenakan odhet dililitkan maka salah satu ujungnya yang sengaja dipanjang- kan sebagai tempat penyimpan uang atau benda berharga lainnya diikat simpul. Kemudian bagian atas kain yang masih bersisa dite- kuk ke luar untuk menutupi odhet, sehingga simpul adhet tidak kelihatan. Baru setelah itu mengenakan kotang dan terakhir me­makai kebaya. Sebagai penutup kepala memakai leng-oleng de­ngan cara dililitkan di atas kepala. Adapun cara memakai penggel, penggel dimasukkan ke pergelangan kaki (seperti gelang kaki). Langkah kaki pemakainya tentu saja agak dipaksa-paksa karena berat penggal yang dibawa ke dua kakinya.

Fungsi pakaian dipakai ke remo’ (acara resmi), misalnya menghadiri pesta rakyat dan upacara adat. Arti simbolis : Warna yang dipakai adalah warna-warna yang menyolok jika merah maka merahnya adalah merah darah. Jika hitam, hitamnya harus legam, demikian juga warna-warna yang lain. Orang Madura tidak mengenal warna-warna lembut dan ragu-ragu. Kesungguhan akan pemilihan warna yang me­nyolok menunjukkan karakter orang Madura, yaitu ti­dak pernah ragu-ragu dalam bertindak, bersifat pembrani. Semua warna dianggap suci bagi orang Madura. Selain itu Madura adalah daerah pantai yang seluruh kehidupannya berkaitan dengan unsur-unsur pantai, seperti misalnya : air dan matahari.

Bentuk ngepres (pas) badan untuk menunjukkan kein- dahan lekuk tubuh sipemakai. Hal ini berkaitan erat de­ngan jamu-jamu yang biasa diminum oleh wanita Madu­ra, pantangan beberapa makanan bagi wanita Madura serta pemakaian penggel yang semuanya bertujuan un­tuk membuat badan wanita Madura tersebut tampak indah.

(1)        Fungsi Hiasan : Jimpit Semula adalah sebagai cara pengobatan tradisional (se- macam kerokan kalau di Jawa). Tetapi kini merupakan hiasan kalau pergi ke pesta. Celak mata Untuk memperindah/memberi aksen pada bentuk mata agar kelihatan bulat dan besar. Harnal selain sebagai penguat gelung anita desa menggunakan harnal sebagai senjata jika sewaktu-waktu di serang oleh musuhnya. Khususnya untuk orang Madura baik laki- laki. Maupun perempuan tidak akan gentar jika berkela- hi untuk mempertahankan harga dirinya. Ujung harnal yang runcing seperti garpu adalah termasuk senjata yang paling praktis karena dapat diselipkan di rambut.

Leng-oleng, Untuk memperindah seluruh penampilan dan sebagai alas kalau membawa barang di atas kepala.

Penggel selain untuk menyimpan kekayaan, juga sebagai suatu alat memadatkan otot-otot paha dan pembentuk pantat yang padat.

Arti Simbolis  jimpit selain untuk keindahan, jimpit ini di pergunakan untuk daya tarik kepada lawan jenisnya. Celak mata keagamaan. Karena bahannya dibawa dari Mekkah, maka dianggap si pemakainya akan menuruti ajaran Nabi Muhaijimad s.a.w. Selain itu memakai celak berarti menghindari segala penyakit terutama mata. Anteng Cap-cap Menandakan bahwa pemakainya boleh dipinang. Penggel Lambang kebanggaan seorang wanita karena wanita desa di Madura akan amat bangga bila si suami atau ayahnya dapat memberi hadiah penggel kepadanya. Perhiasan keseluruhan

Bagi wanita Madura dari kalangan rakyat biasa perhiasan yang dipakai merupakan suatu kebanggaan di samping sebagai hiasan keindahan. Perhiasan tersebut merupakan kebanggaan akan hasil payahnya dalam bekerja keras, diperlihatkan melalui apa yang dipakai secara keseluruh­an, baik dari pakaian sampai perlengkapannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 75-86

Pakaian adat tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Madura1Pakaian adat  tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan. Pakaian Ibadah Pria Dewasa Bangsawan.

Nama pakaian bagian atas kelambi Tagwa, bagian bawah : Sarung kotak-kotak berwarna biru atau hijau. Perlengkapan pakaian bagian kepala , Tutup kepala memakai Odheng Peredan bahannya batik tulis, dengan memakai motif storjaan, Bera’songay atau Toh Biru. Warnanya, warna terang, dan ukurannya sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala yang ber bentuk segitiga. Namun mempunyai kelompok hanya sebuah. Selain itu ujung simpul di bagian belakang hanya satu.

Pakaian Bagian atas memakai, kelambi Tagwa bahan kelambi ialah katun tidak memakai motif, sedangkan. Warna pada umumnya putih, ukuran sesuai dengan tubuh si pemakai, dan bentuknya seperti piyama, tidak memakai leher memakai saku 3 buah, 2 di bawah kanan kiri dan 1 buah di atas. Kancing baju biasanya 5 biji.

Pakaian bagian bawah memakai Ikat pinggang (Sabbuk) bahan sabuk adalah kain tenunan asli. tidak bermotif dengan warna coklat tua. Bentuknya seperti pada umumnya ikat pinggang dengan timang besar di tengah-tengah. Sarung Palekat dari bahan katun, bermotif kotak-kotak besar. Warnanya dasar putih berwarna biru atau hijau. Alas kaki Terompah bahannya kulit sapi, polos, berwarna hitam. Ukurannya sesuai dengan ukuran kaki si pemakai. Bentuknya terbuka tetapi di bagian ujung depan ter- dapat suatu alat penjepit yang terbuat dari bahan yang sama. Fungsi alat penjapit ini untuk pengikat jariyang lain.

Cara memakai pakaian.

Mula-mula memakai sarong, Caranya: Setelah ke dua kaki dimasukkan ke dalarn sarong. Kemudian bagian atas sarong dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digulung dari atas pan- jang sarong sampai di bawah mata kaki. Sebagai penguat sarong memakai sabbuk. Dan terakhir baru mengenakan Kelambi Taqwa. Adapun cara memakai ikat kepala peredan agak miring di kepala (tidak tegak), boleh miring ke kanan atau miring ke kiri, jika miring ke kiri yang mencuat kelopak ka­nan dan bila miring ke kanan yang mencuat kelopak kiri.

Fungsi pakaian

Kelambi Taqwa ini sebenarnya adalah untuk mengunjungi acara adat, misalnya upacara peled kandung (upacara nujuh bulan kandungan). Baju ini khusus dipakai oleh para sesepuh terutama yang keturunan para kyai atau para ulama. Selain untuk upacara adat, kelambi Taqwa ini juga untuk upacara keagamaan, misalnya untuk sholat idhul fitri atau untuk sholat di masjid. Hanya bila untuk sholat tidak memakai ikat ke­pala melainkan memakai kopiah/peci. Ikat kepala peredan biasa dipakai oleh pejabat yunior bila bepergian ke acara yang resmi.

Arti simbolis dari warna dan bentuk baju :

  • Warna putih, melambangkan suatu kesucian.
  • Bentuk baju, melambangkan arti ke taqwaan si pemakainya kepada Allah Yang Maha Esa.
  • Bentuk peredan, melambangkan pemakainya masih kuncup belum sempurna. Selain itu ujung simpul di bagian belakang yang hanya 1 melambangkan huruf “alif” yang merupakan huruf awal dari bahasa Arab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 48-49

Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian sehari-hari yang dipakai wanita dewasa, bangsawan Madura, Kabupaten Bangkalan 

Pakaian Tradisi,wanita Dewasa, bangsawan, MaduraBagian atas Kebaya tanpa kutu baru, Bahan bakunya tenun dan voile, bermotif polos. Warnanya tergantung pada kesukaan sipemakai. Biasa­nya cenderung warna gelap. Ukurannya tergantung pada badan si pemakai. Panjang kebaya untuk bangsawan wanita, biasanya di bawah pantat. Jadi pantat harus tertutup. Berbeda deng­an kebaya orang desa yang cenderung panjangnya di atas pantat.

Bentuknya seperti kebaya pendek pada umumnya, tetapi berlengan  panjang. Tanpa memakai kutu baru. Perhiasan Kebaya Paneti rantai. Bahannya emas, motifnya gung atau jagung. Warnanya kekuning-kuningan, sedangkan beratnya relatif disesuaikan dengan kemampuan. Bentuknya seperti biji jagung, berenteng dari atas ke bawah atau memakai paneti biasa (Madura-catot), bahannya emas atau selaka, tidak bermotif. Berwarna kekuning-kuningan, dengan ukuran seperti peniti pada umumnya, berjumlah tiga buah. Bentuknya seperti peniti pada umumnya hanya diuntai dengan rantai kecil.

perlengkapan pakaian Bagian kepala:

Rambut disisir ke belakang kemudian digelung Bokor nongkep. Bentuknya seperti bokor tengkurap atau seperti Gelung Tekuk dari Jawa. Pada bagian dalam gelung diberi bunga cempaka putih atau bunga melati dapat juga bunga gondosuli. Gelung ini biasanya dipakai oleh Ibu muda usia. Ibu-ibu yang sudah lanjut usia biasanya memakai Gelung Mager Sereh yaitu gelung yang bentuknya sama dengan gelung ma- lang hanya ukelnya diisi dengan kembang tanjung dan kembang pandan. Gelung ini biasanya dipakai oleh ibu- ibu tua isteri bekas para pejabat yang berketurunan bangsawan.

Harnal bahannya selaka/tembaga, bermotif polos dan berwarna putih.Ukurannya ukuran harnal ini tebalnya seperti lidi sapu. Bentuknya seperti harnal pada umumnya, tidak mema­kai permata.

Hiasan telinga, Anting,  Anteng shentar penthol. Bahannya emas, motifnya polos, dan warnanya ke- kuning-kuningan. Bentuknya, seperti biji jagung.

Hiasan leher, kalung Bahannya emas, bermotif montemonan atau rantai ber­warna kekuning-kuningan dengan ukuran berat kalung ini ringan sekali. Bentuknya seperti biji mentimun tapi kecil.

Ikat pinggang, memakai setagen, bahan stagen ialah kain tenunan, tidak bermotif, dan warnanya hitam, ukuran, lebar 15 m panjang 2 m. Sabbu’ Epek atau pending. Bahannya, perak, berwarna keputih-putihan, deng­an ukuran sesuai dengan lingkar pinggang si pemakai.

Hiasan Jari memakai Cincin (Madura = serser), bahannya emas, dengan mengambil motif tebu saeres. Warna kekuning-kuning, dan ukurannya tergantung pada lingkar jari si pemakai, beratnya relatip ringan. Bentuknya seperti keratan tebu melingkar.

Hiasan tangan memakai (gelang), bahan gelang ini adalah emas, dengan motif pale obi, tebu saeres atau tretes. Warnanya kekuning-kuningan. Ukurannya tergantung pada lingkar tangan pemakai. Bentukriya pale obi bentuknya seperti batang ubi me- lintir, sedangkan tebu saeres bentuknya seperti kerabat- an tebu. Bentuk tretes penuh dengan permata intan.

Bagian bawah, kain batik tulis atau sarung batik tulis khas Madura, bahannya kain katun, bermotifnya suruh dengan warna dasar merah. Ukurannya 2m x 110, dengan bentuk seperti kain panjang pada umumnya atau biasanya juga dipakai kain panjang, bahannya kain batik tulis, dengan memilih warna latar belakang coklat. Motifnya parang kecil dengan sayap burung yang disetilir, Ukuran: 2 m x 110, dengan bentuknya seperti kain pan­jang pada umum.

Alas Kaki Sandal ceplek, bahannya kulit sapi, tidak bermotif, warnanya hitam atau kecoklat-coklatan  dengan ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuknya seperti sandal biasa dengan tali selebar 3 jari.

Cara memakai pakaian diawali dengan mengenakan kain batik atau sarong batik tanpa me­makai wiron. Sebagai penguat kain memakai sabbuk epek atau pending. Setelah itu baru mengenakan kebaya. Pakaian ini berfungsi sebagai pakaian sehari-hari di rumah.

Arti simbolis:

(1). Pemakaian bunga di rambut mempunyai arti atau makna sebagai berikut:

  • Selain sebagai kesedapan bau bunga ini sesuatu yang dapat dianggap dapat memberikan suatu ketenangan dan ketenteraman.
  • Aroma yang disebarkan memberikan suatu sugesti bagi si pemakai maupun yang melihat suatu kesejukan di hati.
  • Bunga ini diambil dari sekitar rumahnya, oleh karena itu rumah para bangsawan biasanya penuh dengan tanaman bunga yang beraneka ragam.
  • Sampai sekarangpun di rumah para turunan bangsawan masih terlihat suatu kebun bunga terutama bunga melati, mawar dan gondosuli

(2). Arti motif sayap burung pada kainnya.

Motif burung di sini diambil dari unsur burung garuda. Di mana garuda di sini berasal dari kata gaibnya dada, berarti kembalinya kita pada suatu tataan rasa: misalnya rasa pengayoman perlindungan. Karena mereka keturunan raja. Jadi harus memberi suatu rasa perlindung­an bagi rakyatnya.

(3).  Perhiasan emas yang dipakai oleh bangsawan cenderung tidak menyolok akan tetapi kecil (mungil) karena ini adalah salah satu yang membedakan strata sosial antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Kaum bangsawan cenderung tidak menampilkan kekayaan ini secara lahiriah.Turunan bangsawan di sini cenderung mempunyai suatu falsafah yang kuat sekali bahkan rasa (roso) harus di atas segala-galanya, tidak boleh memburu nafsu keduniawan berupa benda.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987.

Pakaian adat tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan. Pria remaja

Pakaian adat tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan. Pakaian Sehari-hari pria remaja, bangsawan. 

Nama Pakaian: 1. Bagian atas Rasughan totop; 2. Bagian bawah : Samper kembeng

Pakaian Tradisi,Pria remaja, bangsawan, Madura

Perlengkapan pakaian Bagian kepala
Odheng kepala bahannya kain batik tulis, dengan warna hitam dan coklat, sedangkan motifnya biasanya bunga dan lidah api. Di daerah Madura motif ini dikenal dengan motif, Stor joan, Bera’ songay atau Acoh biru. Ukurannya sesuai dengan kepala manusia sedang ben­tuknya seperti umumnya odheng Tongkosan. Perbedaannya hanya pada. Kelopaknya yang berbentuk segitiga. Bila odheng peredan ini dipakai dalam posisi miring ke kiri, maka yang mencuat ke atas adalah kelo- pak sebelah kanan, jika dipakai dalam posisi miring ke kanan, maka yang mencuat adalah kelopak kiri. Ujung simpul di bagian belakang dari odheng peredan tersebut sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi 1 pelintiran yang tegak lurus ke atas melambangkan huruf “AlifHal ini merupakan huruf awal dari bahasa Arab. 

Pakaian Bagian atas

  • Rasughan totep (jas totop), bahannya kain tebal sejenis woll, berwarna cerah, misal­nya: warna kuning gading, hitam atau putih. Modelnya polos, sedangkan kurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti umumnya Beskap Jawa Tengah deng­an keraag tegak lurus ± 5 cm. Baju ini bila dipakaipan- jangnya sampai pinggul dan menutupi sabbuknya. Baju ini mempunyai 2 buah kupnat di bagian belakang yang berfungsi sebagai pembentuk baju secara keseluruhan agar kelihatan pas dan rapih jika dikenakan. Baju ini mempunyai hiasan kancing yang berjumlah 5 sampai 7 buah, biasanya yang 2 buah letaknya dikraag dan bentuknya agak kecil dibanding kancing yang ter- letak di badan. Biasanya 2 buah kancing yang terletak di kraag ini di- bungkus oleh bahan yang sama dengan pakaiannya. Kancing yang lainnya terbuat dari tempurung kelapa atau tulang. Bentuknya bulat seperti kancing pada umumnya. Lengan baju panjang sampai pergelangan tangan, dengan hiasan kancing 1 buah. Hiasan lain daari rasughan totop ini adalah saku yang berjumlah 3 buah, 1 buah di sebelah kiri atas dan 2 buah masingm-masing di kanan kiri bawah.
  • Rompi (kotang dalam), bahannya kain satin, sedangkan warna yang dipakai ialah coklat atau hitam, polos, tidak bermodel. Ukurannya disesuaikan dengan badan sipemakai, dan bentuknya seperti kaos dalam (singlet). 

Pakaian Bagian bawah

(1)   Celana tiga perempat(3/4), bahannya satin atau mori, memilih warna abu-abu atau hitam. Motifnya polos, hanya di bagian belahan lutut ada hiasan yang terbuat dari mamas disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk hiasan berderet selebar 1 cm. Ukurannya panjang celana 5 cm di bawah lutut. Bentuk seperti celana pada umumnya nanya agak sempit serta ada belahan ± 10 cm di samping kanan kiri lutut.

(2)   Samper Kembeng (Kain panjang), bahannya batik tulis. Warna yang dijadikan warna dasar ialah coklat dengan motif hitam atau sebaliknya. Motifnya prangpang (besar-besar), atau biasanya me- ngambil bunga yang disetilir atau bunga sirih, dan ada juga yang bermotif parang rusak. Namun ada juga yang bermotif parang rusak. Ukurannya seperti umumnya ukuran kain panjangnya ± 2,5 m, lebar ± 1,10 m.

(3)   Sap-osap (saputangan) dibuat dari kain katun berwarna putih.

(4)  Setagen bahannya tenunan asli dengan warna merah, putih dan hitam, tidak bermotif.

Ukurannya pas pinggang si pemakai, dengan lebar ± 5 s/d 20 cm. Bentuknya memakai kancing kait (hak) tiga atau empat buah. Fungsinya untuk mengaitkan ujung setagen yang kanan dengan ujung setagen yang kiri.

(5) Sabbuk Katemang Raja Bahannya kulit sapi, warnanya hitam atau coklat, tidak bermotif atau polos. Bentuknya seperti ikat pinggang biasa tetapi agak lebih besar.

(6)           Alas kaki; Terompah, bahannya kulit sapi, memilih warna hitam atau coklat. Bentuknya seperti sandal japit atau seperti selop ter- tutup.

Cara memakai pakaian

Mula-mula mengenakan celana tiga-perempat. Caranya ke 2 kaki dimasukkan ke masing-masing pipa celana, kemudian bagian atas celana dipererat dengan tali kolor. Setelah itu baru memakai samper kembeng yang diwiron selebar 5 jari, agar kalau berjalan bisa nampak gagah dan mempercepat langkah. Kain panjang dieratkan dengan setagen dan di atas setagen memakai sabbuk katemang raja Jika perlengkapan bagian bawah sudah dikenakan semua, maka rompi dipakai sebagai baju dalam. Setelah itu mengenakan rasughan totop. Kemudian memakai odheng peredan. Terakhir saputangan yang telah dibentuk segitiga memanjang diselipkan di sebelah kixi sabbuk katemang raja, menyuntai di bagian paha.

Fungsi dan arti simbolis

  • Fungsi Rasughan Totop bagi remaja pria tempo dulu di­pakai untuk ke sekolah maupun untuk sehari-hari di rum ah.
  • Saputangan berguna untuk mengusap tangan agar pakai­an yang dikenakan tidak kotor.
  • Wiron besar pada kain panjang selaiii berfungsi estetis juga praktis, yaitu memudahkan dalam melangkah. 

Arti simbolis.

  • Hiasan kancing sebanyak 5 atau 7 buah mempunyai arti bahwa pada dasarnya manusia mempunyai lapisan raga yang terdiri dari rambut, kulit, daging, darah dan tulang sum sum.
  • Selain itu 5 buah kancing juga berartibila kita menyembah mempergunakan 5 jari tangan yang ditangkupkan. Menyembah bagi orang Madura mempunyai arti membri hormat kepada orang tua, karena kita semua berasal dari Bapak dan Ibu.
  • Motif bunga sirih pada samper yang dipakai berkaitan dengan kepribadian dan rasa ketuhanan.
  • Warna baju yang dipakai mempunyai arti suatu kesucian. Kesucian di sini tidak hanya pada 1 warna tetapi semua warna. Arti suci di sini berarti pernyataan suatu sikap yang terus terang, apapun yang tejadi berani menanggungnya. 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 32 – 35