Pakaian Tradisi Adat Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Tradisi Adat Jawa Ponoragan, Kabupaten Ponorogo ,pakaian resmi pria dewasa bangsawan, nama pakaian bagian atas baju wakthung dan baju kuthungan, bagian bawah : Celana gombor maro gares.

Unsur perlengkapan pakaian :

Bagian kepala memakai tutup kepala: Blangkon Ponoragan terbuat dari kain batik, berwarna hitam atau biru, motifnya cemukiran, namanya udeng cemukiran dan lain-lainnya bermotif kembang melati merata di tepi ikat kepala, namanya udeng gadung melati. Ukurannya sesuai dengan kepala si pemakai, sedangkan bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala (blang- kon), tetapi di bagian belakang ada mondolannya. Mondolan adalah : Suatu bagian paling bawah daripada ikat kepala tepatnya terletak di atas tengkuk manusia dan berbentuk bulat panjang. Mondolan ini fungsinya untuk menyimpan rambut si pemakai yang panjang dengan cara ditekuk-tekuk. Konon pada jaman dahulu orang laki-laki di Ponorogo umumnya mempunyai rambut panjang. Oleh sebab itu bila mema­kai blangkon, rambutnya yang panjang harus digelung dulu dan setelah digelung diberi sisir penyu sebagai penguat gelung, kemudian di taruh di bagian belakang blangkonnya. Itulah sebabnya blangkon orang Ponorogo sekarang ada mondolannya. Sedang gelungnya disebut: gelung kadal menek, artinya seperti kadal yang merayap ke atas.

Topi Ponorogo ada 2 macam yaitu, Peci Pacal Gowang, yaitu bentuk tutup kepala yang krowak atau ber- lobang di bagian belakang kepala dan dipakai sete­lah memakai ikat kepala (udeng). Oleh sebab itu ikat kepala jenis jingkingan ini tidak memakai tan- duk seperti ikat kepala jenis pancalan.   Peci-Dines Bentuk tutup kepala ini seperti topi kondektur kereta api dan di bagian muka terdapat hiasan ber­bentuk krown (mahkota). Bahannya kain dril yang tebal, berwarna hitam. Fungsi pada jaman dahulu untuk pakaian pengantin laki-laki.

          Bagian atas memakai Baju wakthung, artinya krowak di buthung atau krowak di bagian punggung. Bahannya dahulu dipakai kain laken, tetapi sekarang dipakai kain catarina, yang berwarna hitam, polos, ti­dak bermotif. Ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Model baju dibuat tidak memakai krah, pan jang lengannya sampai pergelangan tangan, bagian bela­kang di “krowak” atau terpotong sampai di atas ikat pinggang. Kancing baju ada 5 biji dengan susunan : di atas 2 biji, di tengah 2 biji dan di bawah 1 biji. Pola pa­kaian.

Baju kuthungan ialah baju bagian dalam yang berlengan pen- dek dan memakai gulon atau krah. Bahannya kain mori, berwarna putih kecuali krahnya berwarna merah, tidak bermotif, ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti hem lengan pendek, panjangnya hanya sampai pinggang. Jumlah kancing 5 buah (lihat gambar). Perhiasan di dada, bagi bangsawan yang berada (mampu), biasanya pada baju wakthung dilengkapi dengan hiasan dada berupa : jam saku lengkap dengan rantai peraknya (Ponorogo : Perde). Selain jam saku dengan rantainya, ada juga yang me­makai hiasan lain berupa gandul krepyak uang emas yang terdiri dari : dinar ringgit, dinar repes, dinar ukon, dinar talen, dinar ece/ketip. Uang-uang emas ini disusun (ditata) menjadi satu deret- an dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan digantungkan dari saku kanan ke saku kiri atau dari saku kiri ke kancing baju bagian atas. Bagi rakyat biasa yang kurang mampu, hanya memakai gandul kuku macan. Unsur perhiasan di tangan berupa Cincin yang terbuat dari emas, berwarna kuning dengan motif cere gancet. Ukurannya dibuat sesuai menurut ke­mampuan. Bentuk cere gancet seperti anjing kawin atau anak coro yang berhimpitan.

Bagian bawah Celana gombor maro gares, yaitu celana yang panjang­nya hanya setengah lutut atau separuhnya tulang ke- ring, memakai koloran dari benang lawe yang dipilin atau ditampar/dikelabang menjadi tali, dengan bahan la- kan dan warna hitam, tidak bermotif. Ukurannya agak longgar (gombor). Model celana dibuat longgar atau gombor, di bagian atas diberi jahitan untuk tempat ko­loran dari tali lawe. Celana dibuat tanpa memakai un- juk-unjuk. Panjang celana hanya setengah lutut atau te- patnya di bawah dengkul. Pola celana : lihat gambar. Celana gombor ini ada 2 macam yaitu, Celana gombor maro gares dan Celana gombor dingkik’ an, seperti celana gombor maro gares tetapi di samping dengkul ada kancing 3 biji.

Jarit (kain panjang), bahannya kain mori (batik), berwarna hitam dengan latar ireng, motifnya parang barong atau lar-laran, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya. Bentuknya empat persegi panjang, jumlah wiron tidak ada ketentuan dan ukuran wiron kurang lebih 2,5 cm. Ikat pinggang terdiri dari 2 macam yaitu :

ü   Sabuk ubet, bahan sabuk ubet ini adalah kain hitam, tidak ber­motif, dengan ukuran panjang ± 1 meter dan lebar ± 20 cm berbentuk panjang.

  • Sabuk epek lengkap dengan ketimangnya berbahan kain beludru, sedang untuk ketimangnya dari besi, kuningan, perak atau emas. Warnanya hitam untuk epeknya dan untuk keti­mangnya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Motif hiasan borci atau dibordir dengan benang emas (untuk epeknya), sedangkan untuk ketimang­nya polos. Ukuran panjang ± 1 meter dan lebar- nya ± 20 centimeter. Bentuk seperti ikat pinggang pada umuinnya.
  • Senjata atau gaman untuk melengkapi pakaian adat ini terdiri dari 2 macam yaitu : 1.Pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya, yaitu tempat untuk mengaitkan pedang. Bahannya dari besi untuk pedangnya, sedangkan ang­garannya terbuat dari kulit harimau. Warnanya putih untuk pedangnya, sedangkan anggarannya berwarna coklat, bermotif polos. Bentuknya seperti pedang pa­da umumnya, hanya untuk pedang wesi aji ini diberi anggaran dari kulit harimau, biasanya hanya dipakai oleh golongan bangsawan saja. 2. Keris (Ponorogo : Gabelan) Selain pedang wesi aji, para orang tua di Ponorogo juga memakai atau melengkapi dirinya dengan keris, dari besi berwarna putih, motifnya blangkrak, dengan ukuran seperti ukuran keris pada umumnya. Bentuk seperti bentuk keris pada umumnya. Keris ini diletak- kan di belakang, condong ke sebelah kanan. Oleh se­bab itulah maka bajunya wakthung atau pakal kro­wak di punggung. Keris ini dipergunakan andaikata sudah terdesak sekali untuk menyelamatkan dirinya. Bila hanya bahayaa ringan yang menyerang, maka yang dipergunakan terlebih dahulu adalah pedang.

Alas kaki Unsur perlengkapan bagian kaki memakai alas kaki, disebut selop atau eripu, dengan bahan dan kulit, ber­warna hitam polos. Ukurannya tidak ada ketentuan, jadi sesuai dengan kaki pemakai. Bentuknya, bagian de­pan tertutup rapat dan tinggi selop sejajar. Cripu ini khusus dipakai oleh para bangsawan saja, orang biasa tidak berani memakai.

Cara berpakaian, mula-mula memakai celana gombor maro gares warna hitam dengan kolor lawe. Celana tersebut diikat kencang di pinggang dengan kolor lawe dan setelah diikat, kolornya dibiarkan ngle- wer supaya kelihatan. Setelah itu dipakai kain panjang yang su­dah diwiru besar-besar dengan cara dililitkan melingkari badan dari arah kanan ke kiri, dipakai dari batas pinggang sampai di atas mata kaki.

Kemudian memakai ikat pinggang sabuk ubed warna hitam, seperti memakai setagen yaitu dililitkan di ping- gang. Sabuk ubed ini berfungsi sebagai pengikat antara kain pan­jang dengan pinggang si pemakai agar kain panjang tidak mudah lepas. Setelah itu dipakai ikat pinggang sabuk epek lengkap de­ngan timangnya, agar kain lebih kuat lagi. Lalu dipakai senjata, pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya. Pedang ini diletakkan di belakang. Kemudian dipakai ikat kepala blangkon Ponoragan lengkap dengan hiasan mondolannya. Ada pun cara me­makai ikat kepala ini bagi golongan bangsawan disebut “jingking- an” yaitu ikat kepala yang tidak memakai semacam tanduk se­perti halnya ikat kepala jenis pancalan. Setelah itu dipakai peci pacul gowang dan talinya dikaitkan atau diikatkan dengan mon­dolannya agar tidak jatuh, baru dipakai baju kuthungan warna putih. Kelima kancingnya dikancingkan semua. Kemudian dipa­kai baju wakthung, kelima buah kancing dikancingkan semua (tertutup rapat). Setelah itu dipakai alas kaki selop atau cripu. Kemudian memakai keris motif blangkrak. Keris ini diletakkan di belakang, condong ke sebelah kanan dan diselipkan di dalam ikat pinggangnya. Kalau dipakai perhiasan di dada berupa gandul krepyak uang emas atau gandul kuku macan dan perhiasan di tangan berupa cincin.

Fungsi pakaian, ialah untuk bepergian, misalnya melawat ke daerah-daerah lain atau bilamenemui tamu-tamu da­ri luar daerah dan menyambut tamu agung. Selain itu juga dipakai untuk menghadiri acara resmi dalam pesta perkawinan.

  1. Arti simbolis. untuk warna hitam pada baju wakthung dan celana gombor maro gares ialah; Warna hitam dipandang dari segi religius adalah melambangkan ketenteraman dan kelanggengan (abadi). Bahwa orang Ponorogo dahulu mengingin- kan hidupnya tenteram. Bagi masyarakat Ponoro­go, warna hitam merupakan warna yang bersifat langgeng. Oleh sebab itu warna hitam pada baju dan celananya sudah tidak bisa diubah lagi dengan warna yang lain.Warna hitam dipandang dari segi historisnya ialah karena kena pengaruh kebudayaan Solo yang menyenangi warna hitam. Selain itu juga karena daerah Ponorogo merupakan daerah atau tempat pembuangan dari Majapahit (daerah wetan Nglawu) yang pada waktu itu merupakan tempat kegelapan.
  2. Arti simbolis jumlah kancing 5 biji pada bajunya ialah melambangkan bahwa kekuatan manusia itu terletak pada lima jari.
  3. Arti simbolis warna merah’pada krah baju kuthungan atau baju dalamnya ialah bahwa warna merah bagi orang Ponogoro melambangkan keberanian dan juga ka­rena ada pengaruh politik, sehingga sampai sekarang warna tersebut masih tetap dipakai.
  4. Arti simbolis daripada kolor pada celana gombor maro gares ialah karena pada kolor ini ada unsur magisnya dan bagi orang Ponorogo, kolor merupakan senjata ampuh. Menurut sumber keterangan dari salah seorang informan, bahwa yang sungguh-sungguh ampuh itu justru terletak pada kantongannya karena di dalamnya diisi dengan jimat-jimat berupak menyan, rajah atau macam-macam kepercayaan orang. Selain itu agar dapat betul-betul ampuh bila difetakkan di tempat yang keramat (Jawa : disotrekkan), artinya dikeramatkan. Kolor yang ada isinya ini justru diikatkan di luar jarik (kain panjangnya), jadi bukan di dalam celananya.
  5. Arti simbolis motif lar-laran pada kain panjangnya ialah karena motif ini adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rakyat biasa atau sebagai simbol status sosial. Jadi yang boleh memakai motif ini hanyalah kaum bangsawan. Demikian juga halnya de­ngan pemakaian selopnya. Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan saja, karena dari selop tersebut dapat menunjukkan tentang status seseorang yaitu bang- sawan. Dalam hal ini rakyat biasa juga tidak boleh me­makainya.
  6. Arti simbolis pemakaian anggaran (bagian dari senjata) yang memakai bahan dari kulit harimau ialah bahwa orang yang memakai anggaran pada senjatanya dikata- kan seperti raja. Maksudnya bila seseorang memakai pakaian adat lengkap dengan senjata dan anggarannya, maka berarti orang tersebut sudah mengenakan pakaian kebesaran sepertilayaknya seorang raja Seseorang yang mengenakan pakaian ini mempunyai maksud agar dihor- mati dan disegani orang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.127-134

Pakaian Tradisi Adat Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Sehari-hari anak laki – laki  Rakyat biasa, nama pakaian bagian atas Baju Pesa’an, bagian bawah Celana gomboran (dahulu), serta unsur perlengkapan berpakaian  diantaranya:

Bagian kepala kopyah hitam atau tanpa peci, bahan sejenis beludru, motif polos, warna hitam, ukuran di sesuaikan dengan kepala si pemakai, bentuk seperti peci.

Bagian atas : Baju Pesa’an Bahan : kain cina (dahulu) kain katun (sekarang) Motif : polos Warna : segala warna Ukuran : serba longgar tidak pas badan. Bentuk : baju ini berlengan panjang yang longgar cenderung komprang. Bentuk leher bulat tanpa ke- raaig. Saku pada baju 3 buah, yaitu 1 buah di kanan atas dan di kanan-kiri bawah masing-masing 1 buah. Pada samping kiri-kanan baju terdapat belahan. Baju ini tidak memakai kancing, walaupun di bagian kanan atas baju terdapat lubang kancing. Lubang kancing di sini fungsinya hanya sebagai hiasan saja, ciri khas dari baju pesa’an ini terletak pada klimannya se- lebar ± 15 cm. Bagian bawah Celana gomboran Bahan kain katun Motif  polos Warna bebas, Ukuran serba longgar tidak pas badan. Panjang cela­na sampai mata kaki, bentuk : seperti pada umumnya celana panjang, tetapi tidak memakai kolor. Adapun ciri khas dari ben- tuknya, ialah jika dibentangkan lurus seperti sarung. Celana ini mempunyai keliman selebar ± 15 cm.

Sarong Plekat bahan katun, motif  kotak-kotak besar maupun kecil, warna warna-warni, bentuk seperti pada umumnya sarung yang lain.

Alas kaki terompah Bahan kulit sapi motif polos, bentuk seperti sandal  dengan tali lebar.

Cara memakai pakaian. dimulai  memakai celana gomboran dengan cara ke kaki di masukkan dalam pipa celana. Celana tersebut bagian pinggangnya digulung seperti pada umumnya kalau memakai sarung. Setelah itu mengenakan baju pesa’an. Sebagai perlengkapan biasanya memakai sarung yang diselempang miring dari pundak ke badan- nya. Perlengkapan yang terakhir dipakai adalah kopyah (peci) yang dikenakan di kepala dan terompah sebagai alas kaki.

 Fungsi pakaian bagi kalangan anak rakyat biasa mempunyai fungsi ganda. Pakaian ini dapat dipergunakan untuk bermain atau untuk menunaikan ibadah, yaitu sholat (sembahyang) di mesjid. Pada zaman dahulu sebelum ada sekolah formal ke- biasaan anak Madura baik pagi-siang dan sore mengaji di su- rau, maka jika saat mengaji atau sholat di masjid tiba sarung yang diselempangkan tersebut dipakai selayaknya sebagai sarung. Jadi dalam hal ini sarungpun mempunyai fungsi gan­da, yaitu untuk bermain atau keperluan lain sehari-hari dan untuk sholat. Bila waktunya tiba mereka langsung ke surau tanpa pulang lebih dahulu dengan tidak mengotori/mena- jiskan sarung karena tidak di pakai langsung (fungsi praktis). Sampai saat ini kebiasaan mengaji di surau masih dilaksana- kan di desa maupun di kota di Madura, hanya saja sekarang baju pesa’annya diganti dengan kemeja lengan pendek dan ce­lana pendek biasa. Adapun fungsi sarung sampai sekarang ma- sih tetap seperti dulu. Mengenai warna baju saat ini cende- rung berwarna bebas.

Arti simbolis dari warna baju, warna yang beraneka ragam mencerminkan suatu kecerian, kegembiraan sebagaimana yang dialami pada masa kanak-kanak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 73-75

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Bangsawan Wanita Dewasa , nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang  bagian bawah Jarit (kain panjang). Sedangkan sebagai unsur perlengkapan pakaianadalah sebagai berikut:

 Bagian kepala :

Wajah Rias wajah dengan menggunakan.

(a)  Wedak gadhung dan wedak teles atau wadak dari bahan beras. Cara membuat wedak gadhung adalah sebagai berikut • Beras direndam dalam air selama kurang lebih 5 atau 7 hari. Tiap hari airnya harus diganti. Setelah itu ditumbuk atau diremas dan di- diamkan untuk beberaoa waktu. Setelah lembut di saring dan sisa/ampas dari beras yang halus itu di­beri ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bulat- bulat dan dijemur sampai kering. Setelah itu dipo- leskan ke seluruh wajah. Adapun fungsinya agar muka tampak cantik dan segar.

(b)  Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata. Bahannya langes (bahasa Jawa) yaitu, asap api yang mengeras. Warnanya biasanya hitam.

(c)  Nginang (makan sirih), salah satu kebiasaan orang-orang tua di Ponorogo adalah nginang yaitu : mengunyah sirih dengan segala bumbu-bumbunya antara lain : enjet (kapur- sirih), gambir dari isi buah pinang. Sirih ini diku- nyah sampai lembut/halus, setelah itu dibuang dan di bersihkan dengan tembakau yang telah dibentuk bulat. Fungsi daripada makan sirih (nginang) ini adalah untuk menguatkan gigi dan memerahkan bibir.

Rambut

Memakai sanggul gelung konde, di atas sanggul dipakai hiasan bunga melati. Hiasan lain berupa 2 buah tusuk (cucuk) konde. Bahannya emas bermata intan, perak atau baga. Ben­tuknya Sendokan (seperti sendok) dan manggaran (se­perti bunga kelapa).

Telinga

Hiasan di telinga ialah suweng gem bung dengan temung- gul atau intan yang besar di tengah-tengah, serta di ling- kari oleh 8 intan yang kecil-kecil. Di belakang temung- gul ada semacam sekrup dari tembaga sebagai (alat un­tuk mengunci antara suweng dengan telinga agar tidak mudah lepas. Suweng yaitu subang bahannya terbuat dari emas dengan banyak permata, biasanya permata intan atau berlian. Dasar suweng berwarna hitam terbuat dari bahan beludru.

Orang perempuan yang memakai subang sejenis ini, lobang telinganya harus besar (± diameter 1 centime­ter). Jadi bagian dari subang yang akan dimasukkan ke dalam lobang telinga ini bentuknya cukup besar, tidak seperti subang biasanya. Adapun cara untuk memperbesar lobang telinga ini ialah dengan diberi merang atau batang padi. Jika menginginkan lobang tersebut ditambah, maka setiap hari jumlah merangnya harus ditambah pula. Lobang itu semakin hari semakin besar, sam­pai akhirnya cukup untuk diberi subang gembung.

Bagian atas :

Leher

Hiasan di leher berupa kalung rantai terbuat dari emas untuk pelengkapnya dipakai liontin ada beberapa ben­tuk liontin, yitu:

  • Bentuk keris dengan mata beijumlah 9 buah.
  • Bentuk bulan dengan mata beijumlah 6 buah. Ba­han dari emas dan matanya dari intan.

ü   Bentuk kuku macan, bagi mereka yang kurang mampu. Bahannya berupa kuku macan asli dengan warnanya putih kekuningan.

Kebaya panjang dengan memakai Kutubaru. Bahannya kain beludru, berwarna hitam polos. Bentuk­nya seperti pada umumnya kebaya Jawa, ukuran pan­jang kebaya sampai di bawah pinggul atau di bawah pan- tat/menutupi pantat.

Hiasan pada baju kebaya berupa peniti rantai, yang ter­buat dari emas. Bahan emas, motifnya bentuk huruf S atau motif kembang atau motif tebu sekeret.

Bagian dada, dipakai kutang sebagai sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus.

  • Kemben, yaitu sepotong kain penutup dada dan dipa­kai setelah memakai setagen, dari kain batik, bermotif jemputan atau lompong keli, yang berwarna-warni. Ukuran panjang ± 2 meter, lebar ± 40 centimeter.
  • Selendang ciut, yaitu sepotong kain kecil sebagai pelengkap kalau me­makai kain kebaya, bahannya kain batik. Motifnya truntum (satu stel dengan kain panjangnya), dengan warna hitam, ukuran panjang ± 2 meter dan lebar ± 40 cm. Bentuk seperti selendang pada umumnya, yaitu persegi-empat panjang.

Bagian tangan, hiasan di tangan berupa gelang penuh permata yang ber- nama gelang tretes terbuat dari emas. Bentuknya ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular, atau bentuk untir-untir yang menyerupai spiral (pir).

Bagian bawah :

Kain panjang atau jarit yaitu sehelai .bahan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 2% x 1 meter, ter­buat dari batik yaitu kain mori yang dilukisatau digambar, dengan motif bledak atau truntum dengan hiasan lar-laran. Ukuran seperti kain panjang pada umurnya yaitu panjang 2 meter dari lebarnya ± 1 meter. Bentuk empat persegi panjang dengan jumlah wiron antara 20 dan 22.

Setagen

Setagen yaitu sepotong kain yang panjang dan sempit terbuat dari kain tenun yang kuat dipergunakan untuk mengikat antara kain panjang dengan badan (pinggang). Bahannya kain tenun, dengan warna hitam. Ukuran pan­jang ± 5 meter, lebar ± 15 cm.

Alas kaki

Namanya selop beludru atau sandal yang bersulam hias­an mote (manik-manik). Bahannya kulit, berwarna hi­tam dan dihias manik-manik yang berwarna-warni. Fungsinya sebagai pelindung dan penghias kaki. Bentuk selop, tertutup bagian depannya dan tidak terlalu ting- gi, sedangkan sandalnya kadang-kadang terbuka bagian depannya.

Cara berpakaian

Mula-mula dipakai jarit (kain panjang) yang sudah diwiron de­ngan cara dililitkan di badan sampai ke mata kaki. Setelah itu di­pakai setagen yang dililitkan di pinggang agak kencang agar kain tidak mudah terlepas. Kemudian dipakai kemben, yaitu sepo­tong kain batik yang berfungsi sebagai penutup bagian dada sam­pai ke pinggang. Setelah itu dikenakan kebaya panjang, lalu dipa­kai selop dan terakhir selendang.

Fungsi

Fungsi pakaian adat ini ialah untuk pakaian bepergian, misal­nya menghadiri pesta perkawinan atau menyambut tamu agung. Sedangkan fungsi hiasan adalah untuk suatu kebang- gaan atau perlambang suatu kekayaan.

Arti simbolis:

  • Arti simbolis kuku macan sebagai leontin/bandul ka­lung : kecuali untuk perhiasan, pada kuku macan terse- but ada yoni yaitu unsur kekuatan gaib yang fungsinya menjaga keselamatan si pemakai.
  • Arti simbolis warna dasar hitam yang dipakai untuk ke- baya/busana wanita-wanita bangsawan di Ponorogo umumnya melambangkan : kelanggengan dan keabadian atau kewibawaan si pemakai.
  •  Arti simbolis motif truntum pada kain panjang yaitu suatu penghargaan yang diberikan pada mempelai ber- dua, jika kain ini dipakai pada saat menghadiri upacara perkawinan. Selain itu juga memberikan arti suatu kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh tamu yang di- sambut. Sedangkan motif  lar-urip (sayap) adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rak­yat biasa (suatu simbol status sosial). Jadi motif  lar- urip ini tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa dan yang boleh mempergunakan hanyalah kaum bangsawan saja. Demikian juga halnya dengan selop (sandal). Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, karena selop itu menunjukkan tentang status seseorang yaitu bangsa­wan. Rakyat biasa tidak boleh memakainya.
  • Arti simbolis bunga melati pada sanggul yang dipakai adalah suatu perlambang keharuman, keagungan, kesu- cian dan suatu kharisma seorang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 123-127

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Wanita Remaja Bangsawan, nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang, bagian bawah Jarit (kain panjang). Unsur Perlengkapan Pakaian pada  bagian kepala:

Wajah memakai wedak teles, Rias wajah memakai wedak gadung atau wedak te­les atau wedak yang dibuat dari bahan beras. Ada- pun cara membuat wedak gadung adalah sebagai berikut : Beras direndam dalam air selama 5—7 hari. Tiap hari airnya diganti. Setelah beras diren­dam kemudian ditumbuk (diremat) dan disaring. Setelah lembut, didiamkan untuk beberapa waktu. Sisa atau ampas dari beras yang halus tersebut diberi ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bu- lat-bulat dan dijemur sampai kering. Cara pema- kaian wedak aden ini ialah dicampur dengan air, lalu dipoleskan ke seluruh wajah. Fungsi wedak adem ialah agar muka tampak cantik berseri-seri.

Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata, bahannya ialah langes (bahasa : Jawa) yaitu asap api yang mengeras. Biasanya api dari lampu teplok yang nyalanya besar biasa mengeluarkan asap ba- nyak dan lama-lama menebal serta mengeras. Jela- ga yang telah mengeras itu berwarna hitam. Inilah yang dijadikan celak.

Rambut, untuk remaja putri biasanya dipakai sanggul berupa gelung konde dengan hiasan di atasnya 2 buah cucuk (tu­suk) konde, bahannya emas, perak atau tembaga, dan bentuknya menyerupai sendok dan manggaran menyerupai manggar (bunga kelapa).  Hiasan telinga memakai gondel (anting-anting), terbuat dari emas, berwarna kuning po­los. beratnya tidak ada ketentuan, biasanya disesuai­kan dengan kemampuan.  Bentuknya seperti bentuk setengah lingkaran.

Bagian atas,  Hiasan di leher berupa kalung rantai (menyerupai se­perti rantai). Bila dari kalangan orang berada atau mampu, maka diberi gandul atau leontin dinar (uane Arab). Bahannya emas, dengan warna kekuning-kuningan de­ngan bentuk seperti rantai dan liontinnya bulat seperti uang logam. Klambi kebaya panjang tanpa Kuthubaru. Bahan pakaian ini ialah beludru berwarna hitam. Bentuknya seperti umumnya kebaya Jawa, dibuat tan­pa memakai kuthubaru, tetapi menggunakan benik atau kancing dinar sebanyak tiga atau lima buah. Ukurannya panjang kebaya sampai di bawah pineeul. Pola badan dan lengan dibuat mengepas di badan agar terlihat jelas bentuk badannya. Itulah tujuannya kebaya remaja putri dibuat tanpa kuthu baru. Kutang sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus dan menarik, bahannya kain mori atau kain belacu yang agak halus biasanya warnanya pada umumnya putih atau hitam, dan bentuknya seperti bentuk kutang pada umumnya. Ukurannya sesuai dengan besar kecilnva dada si pemakai dan biasanya dibuat agak pas agar kelihatan badannya singset dan kencang.

Kemben bahannya kain batik berwarna merah, de­ngan motif cinde atau pelangi. Ukurannya panjang 2,5   meter dan lebar ± 40 centimeter. Fungsinya untuk penutup bagian dada dan sekalian juga untuk penutup stagen. Selendang Cinde bahan selendang ini ialah kain batik dengan warna bermacam-macam. Motifnya ialah udan liris, sinatrio manah atau sido mukti (biasanya satu stel dengan kain panjangnya). Ukuran panjang 2,5 meter dan lebar lebih kurane 40 centimeter.

Fungsi sebagai pelengkap kain kebaya. Hiasan di tangan berupa Gelang rantai atau gelang penuh permata yang bernama gelang tretes. Bahannya emas dan permatanya dari intan. Ben­tuknya seperti rantai biasa dan bentuk ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular. Cincin dibuat dari emas bermata merah dan putih. Bentuknya cere gancet yaitu bentuk anak coro yang se­dang berdempetan tumpeng tindih. Menpenai beratnya tidak ada ketentuan, disesuaikan denean kemampuan.

Bagian bawah : Jarit (kain paiyang) terbuat dari mori, dengan warna latar pu­tih. Motifnya bahan liris atau sinatrio manah, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya yaitu, pan­jang 2,5  meter dan lebar satu meter. Bentuk kain empat persegi panjang dengan jumlah wiron panjil, antara sebelas sampai dengan sembilan belas. Setagen dibuat dari kain tenun kentel, berwarna hitam ukuran panjang ± 5 meter dan lebar ± 15 centimeter, stagen berfungsi untuk pengikat kain panjang denpan pinggang agar kain tidak lepas atau melorot dari pinggang. Alas kaki selop atau sandal, Selop dibuat dari bahan beludru, sedangkan sandal di­buat dari bahan kulit. Warnanya biasanya hitam. Model selop, bagian depannya tertutun dengan hak tidak terla- lu tinggi sedang sandal, model srempang (seperti sandal jepit).

Cara berpakaian, Mula-mula dipakai kain panjang yang sebelumnya sudah diwiron dengan jumlah ganjil. Kain dipakai dengan cara dililitkan meling- kari badan dari arah kiri ke kanan, yang panjangnya dari batas ninggang sampai batas mata kaki. Setelah itu, dipakai setagen sebagai pengikat kain panjang di ba­dan (pinggang) agar kain panjang terse but dengan erat dan baik, sehingga tidak mudah lepas. Ada pun memakainya juga dengan cara dililitkan di pinggang dan waktu melilitkannya, setagen ter- sebut agak ditarik supaya ketat dan sinpset. Kemudian, dipakai kemben dengan cara dililitkan pula dari batas dada sampai ke pinggang. Ada pun memakai kemben adalah se­bagai penutup dada, sekaligus untuk menutupi setagen agar tam- nak lebih rapi. Setelah yang baru dipakai klambi kebaya panjang kemudian benik atau kancing dinarnya dikancingkan semua. Kemudian, dipakai selop atau sandal, dan selendang cinde.

Fungsi pakaian untuk menutup bagian tubuh dan alat ke- indahan dalam menghadiri acara-acara resmi pada pesta per- kawinan serta acara resmi dalam menyambut tamu-tamu. Arti simbolis : Kebaya remaja putri ini yang tidak memakai kuthubaru mempunyai makna bahwa remaja putri itu belum pernah mempunyai putra. Hal ini dilambanpkan denpan bentuk badannya yang masih kencang (singset) teruta- ma pada bagian buah dada, sehingga tidak perlu lapi kuthu baru pada kebayanya.  Warna merah dan nutih pada cincin cere gancet, melambangkan bahwa asal manusia adalah dari Bopo dan Biyung (Bapak dan Ibu).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 119-122

Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Wanita Remaja Rakyat Biasa, nama pakaian, bagian atas kebaya rancongan, bagian bawah : Sarung tenun atau sarung batik. Unsur Perlengkapan Pakaian: Bagian kepala Pada Wajah memakai jimpit di bagian kening kanan, kiri atau di dahi, tempat yang dijimpit disebut leng-pelenpan, bahan dibuat dengan cubitan tangan (dahulu). Sedang saat ini memakai alat kosmetik (lipstik). warna merah. Ukuran : ± 2 cm., bentuk berupa garis kecil membujur.

Hiasan mata celak, bahan dari cairan atau bubuk seperti pasir halus yang didapatkan dari tanah Mekkah Arab, warna hitam pekat atau hitam keabu-abuan, ukuran sepanjang kelopak mata bagian bawah, bentuk berupa garis kecil memanjang mengikuti lengkung kelopak mata bagian bawah.

Rambut disisir ke belakang, kemudian digelung sendhal, gelung Madura ini pada umumnya agak tinggi letaknya, bahan rambut asli (membuat sendiri) tanpa cemara,  bentuk agak bulat penuh (padat) dengan kuncir atau ekor yang merupakan sisa rambut dan terletak tepat di tengah-tengah sanggul.

Harnal Bahan emas bermata selong warna kuning emas Ukuran ± panjang 12 centimeter. Bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak besar. Hiasan Rambut Terdiri :

Cucuk Bahan dari emas, motif mata uang talenan, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 2 centimeter, bentuk seperti sebuah busung yang terdiri dari untaian mata uang emas (sekeping atau dua keping), tetapi adakalanya terdiri dari uang talenan atau ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai bagi yang mampu uang ini berjumlah sampai 10 buah atau lebih. Te­tapi bagi masyarakat yang tidak mampu jumlahnya hanya 3 atau 5 buah.

Cucuk Dinar, bahan emas, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 3 centimeter, motif  mata uang (dollar) Amerika, bentuk  seperti sebuah busur yang terdiri dari beberapa kepingan dollar Amerika.  Tapi adakala­nya hanya terdiri dari sebuah dollar saja. Karena ke 2 cucuk (cucuk sisir maupun cucuk di­nar) tersebut terbuat dari emas dan harganya mahal, maka demi keamanannya cucuk tersebut diberi tali dari benang atau kain untuk diikatkan di pangkal sanggul agar tidak mudah lepas.

Bangun tuluk bahan bunga alami, misalnya kembang melati atau tanjung, warna putih, Ukuran : panjang ± 10 centimeter, bentuk diuntai (dironce) menyerupai bentuk busur.

Tutup kepala memakai leng-oleng yang diletakkan di atas kepala, bahan handuk besar atau kain yang tebal. Hiasan telinga Anteng cap-cap bahan emas , motif  polos warna kuning emas, ukuran, bentuk bulat kecil berantai.

Hiasan leher  kalung  bahan emas, motif  Pale obi, mon-temonan atau Brondong. warna kuning emas, ukuran berat kalung ini tergantung dari kemampuan ekonomi si pemakai. Kadang-kadang beratnya  sampai 1 ons atau lebih. Tapi bagi masyara- kat biasa beratnya hanya ± 5 s/d 10 gram. Panjang ± 30 s/d 40 centimeter atau tergantung selera si pemakai, bentuk corak pale obi bentuknya menyerupai batang ubi melintir. Sedang corak mentemonan bentuknya seperti biji buah mentimun yang disambung satu persatu (diuntai) memanjang sampai ukurannya sesuai dengan ukuran lingkar leher. Motif Brondong adalah suatu motif yang menyeru­pai biji jagung yang disambung satu persatu (direnteng) sampai ukurannya seperti kalung. Bentuk ka­lung brondong ini sampai sekarang masih banyak dipakai oleh wanita Madura. Dan motif ini adalah motif  khas kalung Madura.

Kalung tersebut biasanya dikenakan bersama liontin atau bandul, bahan emas warna kuning emas, ukuran tergantung dari bentuk dan kemampu an ekonomi dari si pemakai. Akan tetapi berat bandul ini pada umumnya ± 5 s/d 15 gr, bentuk liontin pada jaman dahulu pada umumnya berbentuk mata uang dollar Amerika (dinar). Untuk saat ini wanita Madura juga banyak mempergunakan liontin yang berbentuk mirip bunga matahari dengan bulatan menonjol di tengah serta kelopak kecil-kecil di pinggirnya.

 Bagian Atas

Kebaya rancongan, bahan dahulu pada umumnya memakai bahan tenun. Saat sekarang memakai bahan elastis, misalnya kain brokat. Motif kain tenun motif polos. Kalau kain brokat berbunga-bunga besar atau kecil dan tembus pandang. Warna kalau dahulu berwarna hitam atau biru. Seka­rang pada umumnya memakai warna-wama menyolok, misalnya merah muda, merah tua, hijau pupus atau ku­ning. Adakalanya warna-warna yang dipakai untuk saat ini  kombinasikan dengan benang-benang emas atau perak yang mengkilap. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kupnat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri. Keba­ya rancongan ini ciri khasnya pada kelimannya yang lebar ± 15 centimeter.

Kutang bahan katun, motif polos, warna biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya  merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukuran sesuai badan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula yang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada bagian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peniti Dinar ranteng bahan emas, motif nolos warna kekuning-kuningan, ukuran sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Hiasan tangan gelang dipakai ditangan kanan dan kiri masing-masing 1 buah. Bahan emas memakai mata selong, motif tebu saeros, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar tangan si pemakai. Bentuk seperti keratan tebu. Hiasan jari Cincin 1 buah di tangan kanan atau kiri, bahan emas, motif tebu saeres, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar jari si pemakai, bentuk seperti keratan tebu.

Bagian bawah

Odhet bahan kain motif tenunan polos warna merah, kuning atau hitam ukuran 1,5 meter. Bentuk Lebar 15 centimeter. Panjang lebih kurang seperti zetagen Jawa pada umumnya. Sarung bahan batik Madura memakai tumpal, para gadis pada umumnya senang menggunakan motif batik Storjoan yang berwarna merah agak coklat atau dengan kombinasi bunga hijau dan biru, Ukuran seperti pada umumnya sarung yang dipakai oleh kebanyakan orang. Bentuk : seperti kain panjang hanya tanpa wiru.

Hiasan kaki memakai penggel dipakai pada pergelangan ke dua kaki masing- masing satu buah, bahan perak atau emas, motif polos atau berukir ujungnya dengan gambar kepala ular atau lain-lainnya, warna jika terbuat dari perak berwarna putih dan bila terbuat dari emas berwarna kekuning-kuningan. Ukuran lingkar pergelangan disesuaikan dengan kaki si pemakai, dan beratnya disesuaikan dengan kemam- puan ekonomi pemakainya jika terbuat dari perak ada yang beratnya sampai 3 kg sebuah, dan yang terbuat dari emas tentunya tidak seberat itu.Alas kaki Sandal japit bahan kulit (dahulu), plastik (sekarang). Warna menyolok. Ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuk : seperti sandal japit pada umumnya.

 Cara memakai pakaian.

Mula-mula mengenakan kain tanpa wiru, caranya dengan melilit- kan ke pinggang dari kiri ke kanan. Memakai kainnya agak tinggi (nyingsing) sehingga betisnya kelihatan. Setelah itu mengenakan odhet dililitkan maka salah satu ujungnya yang sengaja dipanjang- kan sebagai tempat penyimpan uang atau benda berharga lainnya diikat simpul. Kemudian bagian atas kain yang masih bersisa dite- kuk ke luar untuk menutupi odhet, sehingga simpul adhet tidak kelihatan. Baru setelah itu mengenakan kotang dan terakhir me­makai kebaya. Sebagai penutup kepala memakai leng-oleng de­ngan cara dililitkan di atas kepala. Adapun cara memakai penggel, penggel dimasukkan ke pergelangan kaki (seperti gelang kaki). Langkah kaki pemakainya tentu saja agak dipaksa-paksa karena berat penggal yang dibawa ke dua kakinya.

Fungsi pakaian dipakai ke remo’ (acara resmi), misalnya menghadiri pesta rakyat dan upacara adat. Arti simbolis : Warna yang dipakai adalah warna-warna yang menyolok jika merah maka merahnya adalah merah darah. Jika hitam, hitamnya harus legam, demikian juga warna-warna yang lain. Orang Madura tidak mengenal warna-warna lembut dan ragu-ragu. Kesungguhan akan pemilihan warna yang me­nyolok menunjukkan karakter orang Madura, yaitu ti­dak pernah ragu-ragu dalam bertindak, bersifat pembrani. Semua warna dianggap suci bagi orang Madura. Selain itu Madura adalah daerah pantai yang seluruh kehidupannya berkaitan dengan unsur-unsur pantai, seperti misalnya : air dan matahari.

Bentuk ngepres (pas) badan untuk menunjukkan kein- dahan lekuk tubuh sipemakai. Hal ini berkaitan erat de­ngan jamu-jamu yang biasa diminum oleh wanita Madu­ra, pantangan beberapa makanan bagi wanita Madura serta pemakaian penggel yang semuanya bertujuan un­tuk membuat badan wanita Madura tersebut tampak indah.

(1)        Fungsi Hiasan : Jimpit Semula adalah sebagai cara pengobatan tradisional (se- macam kerokan kalau di Jawa). Tetapi kini merupakan hiasan kalau pergi ke pesta. Celak mata Untuk memperindah/memberi aksen pada bentuk mata agar kelihatan bulat dan besar. Harnal selain sebagai penguat gelung anita desa menggunakan harnal sebagai senjata jika sewaktu-waktu di serang oleh musuhnya. Khususnya untuk orang Madura baik laki- laki. Maupun perempuan tidak akan gentar jika berkela- hi untuk mempertahankan harga dirinya. Ujung harnal yang runcing seperti garpu adalah termasuk senjata yang paling praktis karena dapat diselipkan di rambut.

Leng-oleng, Untuk memperindah seluruh penampilan dan sebagai alas kalau membawa barang di atas kepala.

Penggel selain untuk menyimpan kekayaan, juga sebagai suatu alat memadatkan otot-otot paha dan pembentuk pantat yang padat.

Arti Simbolis  jimpit selain untuk keindahan, jimpit ini di pergunakan untuk daya tarik kepada lawan jenisnya. Celak mata keagamaan. Karena bahannya dibawa dari Mekkah, maka dianggap si pemakainya akan menuruti ajaran Nabi Muhaijimad s.a.w. Selain itu memakai celak berarti menghindari segala penyakit terutama mata. Anteng Cap-cap Menandakan bahwa pemakainya boleh dipinang. Penggel Lambang kebanggaan seorang wanita karena wanita desa di Madura akan amat bangga bila si suami atau ayahnya dapat memberi hadiah penggel kepadanya. Perhiasan keseluruhan

Bagi wanita Madura dari kalangan rakyat biasa perhiasan yang dipakai merupakan suatu kebanggaan di samping sebagai hiasan keindahan. Perhiasan tersebut merupakan kebanggaan akan hasil payahnya dalam bekerja keras, diperlihatkan melalui apa yang dipakai secara keseluruh­an, baik dari pakaian sampai perlengkapannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 75-86

Pakaian Upacara Khitanan Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Upacara Adat Rakyat Biasa, Madura Kabupaten Bangkalan, upacara adat masa Dewasa anak laki-laki, sommadan (khitan), nama pakaian, yang dipakai anak laki-laki, pada bagian badan atas ialah baju hem/baju taqwa, sedangkan di bagian bawah,” sarone plekat. 

Untuk pelengkap pakaian, di kepala dipakai songkok atau ko- piah. Bahan kopiah ialah sejenis beludru, tidak bermotif, atau berwarna hitam. Ukurannya disesuaikan dengan kepala si pemakai, sistim tinggi songkok ± 5 cm, dengan bentuk seperti umumnya peci atau kopiah.

 Bagian atas:

Baju hem/baju taqwa, bahannya terbuat dari katun, warna­nya bebas, tidak bermotif. Bentuknya seperti umumnya ba­ju laki-laki, dengan kraag tegak dan mempunyai saku 1 buah di kiri atas, berlengan pendek.

Bagian bawah :

  • Sarong plekat : Sarung palekat, bahannya terbuat dari katun, dengan motif berkotak-kotak besar atau kecil, dengan warna dasar putih dengan kotak-kotak, hijau atau berwarna biru.
  • Pacol Sabut kelapa bahan pacol ialah sabut kelapa berbentuk bulan sabit.
  • Sabbuk Pacol, terbuat dari katun, dengan bentuk sabuk biasa.
  • Bes Gibes bahan benang besar (benang wol), sedang- kan gagangnya terbuat dari rotan. Adapun warnanya berwarna-warni, dengan ukuran gagangnya kira-kira 3 cm, dan, bentuknya seperti terlihat di gam bar.
  • Alas kaki Bacca’ (dahulu) atau kelompen (sekarang). Alas kaki ini bahannya kayu, berwarna putih kekuning-kuningan de­ngan tali hitam. Bentuknya seperti sandal dengan hak agak yang agak tinggi ± 2 cm, dan tali selebar tiga jari.

Cara memakai pakaian

Mula-mula pacol dikaitkan/dicantelkan pada sabbuk pacol. Ke­mudian sabbuk tersebut di lilitkan di pinggang dan pacol diletak- kan di bagian depan badan mensungkit ke depan. Setelah itu ba- ru dikenakan sarung seperti lazimnya. Karena ada pacol di dalam sarong, maka bagian depan sarong agak naik ke atas. Kemudian memakai hem, lalu kopiah serta mengenakan bacca atau kelom­pen. Paling akhir memegang bes-gibes.

Fungsi :

  • Fungsi baju dan sarong baru yang dikenakan oleh anak yang akan dikhitankan berfungsi untuk memberikan suatu rasa kegembiraan dan kebanggaan sehingga sianak tidak akan takut merasakan sakitnya dikhitan.
  • Fungsi songkok selain berfungsi untuk kerapian dalam berpa- kaian, bagi orang Madura merupakan suatu kesopanan. Aoama Islam yang dianut oleh orang Madura mempu nyai pengaruh yang kuat dalam hal kebersihan dan kerapihan. Mereka selalu ingat akan hadist Nabi Muham­mad s.a.w. yang mengatakan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.
  • Fungsi bes-gibes untuk penghalau lalat.
  • Fungsi Pacol Untuk menghindari geseran alat kelamin dengan sarong. 

Arti simbolis :

Pakaian dan sarong baru untuk melatih anak mempersiapkan diri menghadapi tingkat kehidupan menjelang dewasa sebagai suatu tingkat kehidupan baru bagi anak itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 114 – 116

 

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat BiasaNama pakaian

  • Bagian atas : Baju Pesa’an.
  • Bagian bawah : Celana Gomboran.

Perlengkapan pakaian :

 Bagian kepala :

  • Odheng santapan, bahan kain batik biasa, motif telaga Biru atau Storjoan, Warna merah soga. Ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. seperti pada umumnya ikat kepala yang Bentuk berbentuk segitiga.
  • Odheng tapoghan, bahan kain batik biasa, motif bunga atau lidah api. warna merah soga, ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuk : seperti pada umumnya ikut kepala yang berbentuk segitiga, hanya di bagian atas kepala tidak tertutup.

Pakaian bagian atas :

  • Baju Pesa’an Bahan kain cina (dahulu) kain Lasteng tiu, atau Tetoron (sekarang), motif  polos Warna hitam, ukuran serba longgar tidak pas badan, ukuran pinggang dan pipa celana lebar, menyerupai sarung bila dibentangkan, panjang celana sampai mata kaki. Adapun ciri khas dari celana Gomboran ini pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti pada umumnya celana panjang bia­sa tetapi tidak memakai kolor.
  • Sarong Bahan : sarong Samarinda memakai bahan sutra sedang sarong plekat terbuat dari katun. Motif : ke-2 sarong bermotif kotak-kotak besar ± 5 cm, warna sarong samarinda berwarna menyolok mema­kai benang emas, sedang sarong plekat berwarna dasar putih dengan kotak-kotak berwarna biru atau hijau, ukuran seperti pada umumnya sarong yang lain. Bentuk : seperti pada umumnya sarong yang lain.
  • Ikat pinggang sabbuk katemang Raja atau sabbuk katemang kalep, bahan kulit sapi, motif polos, warna coklat atau hitam, ukuran seperti pada umumnya ikat pinggang yang lain, bentuk lebar ada kantung di depannya untuk menyimpan uang.

Senjata terbagi atas beberapa jenis :

  • Gelati cap garupu/ mata buatan Jerman. Bahan : besi baja Motif : polos Wama : warna besi baja. Ukuran : vang terpanjang 40 cm. Bentuk : seperti pisau dapur, pada umumnya hanya ujungnya runcing.
  • Piol adalah Gobang yang kecil Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : pas dengan badan. Bentuk : seperti pisau dapur pada umumnya.
  • Are/Sabit atau clurit, merupakan senjata kelas menengah Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : beratnya rata-rata 450 gr. Bentuk : seperti sabit atau clurit pada umumnya. Are/sabit terbagi atas beberapa kelas.
  • Takabuan terbuat dari besi tempaan bermutu terbuat dari besi bekas keris sehingga pamornya tampak. motif  polos, warna besi, ukuran paruhnya pas lengkung perut, bentuk  melengkung seperti bulan sabit, namun agak lebar di bagian tengah dan tebal di punggungnya. Mata pisaunya (paruhnya) lebar dan kemudian mengecil ke arah ujungnya (ujungnya berbentuk lancip). Takabuan biasanya tidak bersarung kecuali yang berukuran kecil. Hanya bagian paruhnya yang ditutupi oleh sarung yang terbuat dari kulit atau rotan (Madura : Selotong).
  • Lancor ayam/bulu ayam atau Kembang toroy/kembang turi, bahan, loyang biasa hasil tempaan pandai besi, se­dang gagangnya terbuat dari kayu sawo, motif polos , warna paruhnya berwarna besi dan gagangnya ber­warna coklat, bentuk melengkung seperti ekor ayam jago, bagian paruhnya sempit, makin ke ujung makin runcing, ga­gangnya bulat panjang seperti bentuk Takabuan dan biasanya diberi paksei tembus agar lebih kuat, namun ada juga pakseinya yang tidak besi baja polos
  • Gobang Bahan besi baja, motif  pada umumnya tembus, warna besi, ukuran  lebih besar dari piol, bentuk : seperti pisau dapur.
  • Calo Montor merupakan senjata kelas berat, bahan besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan (racun). Motif polos, warna hitam (warna besi), bentuk seperti are tapi mempunyai gagang kayu yang panjang. Calo Montor, macamnya antara Lain 🙁1.) Amparan/Labasan Bahan Besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan. warna besi. Motif polos Ukuran beratnya rata-rata 11 ons. Bentuk seperti Calo Montor tetapi paruhnyamenghadap ke luar. (2.) Clonot Bahan motif polos Warna warna hitam besi Bentuk sama seperti Calo Montor tetapi paruh­nya menghadap ke dalam.

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa.Alas kaki : Terompah bahan  kulit sapi,  ukuran  sesuai dengan ukuran kaki si pemakai, bentuk terbuka tetapi di bagian ujung depan dan belakang terdapat suatu tali sebagai penjapit yang terbuat dari bahan sama. Fungsi alat penjepit ini untuk pengikat antara ibu jari dengan jari yang lain.

Cara memakai pakaian: mula-mula dikenakan celana Gomboran. Caranya setelah ke dua kaki masuk ke kaki celana, kemudian bagian atas celana dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digu- lung dari atas seperti halnya memakai sarong, sampai panjang ce­lana menjadi 3/4. Sebagai penguat celana memakai sabbuk Katemang Raja (bagi orang kaya) atau sabbuk katcmang kalep. Ke- mudian untuk bagian atasnya dipakai baju kaos. tetapi kadang- kadang ada yang tidak. Setelah itu baru dikenakan baju Pesa’an. Lalu mengenakan odheng santapan atau odheng Tapoghan. Ada- pun cara mengenakan odheng Tapoghan •

Setelah tepi dilipat maka puncak kain diletakkan terbalik (bagian yang lebar berada di bawali). Puncak kain tersebut di taruh di sebelah kiri atau kanan kepala. Jika si pemakai berjalan maka puncak kain yang lebar itu bila tertiup angin akan menepuk (Madura : Napok) si pemakai odheng Tapo- ghan. Sedang jika memakai odheng Santapen, di bagian atas kepala terbuka sedikit sehingga rambutnya kelihatan. Selain memakai baju Pesa’an dan celana Gomboran, ada juga yang melengkapinya dengan sarong. Bila orang itu mampu, ia memakai sarong Samarinda dan orang biasa memakai sarong plekat. Adapun cara memakainya bila sarong disampirkan di bahu namanya eka sandang dan bila di lilitkan di pinggang namanya eka samhung.

Fungsi pakaian

Pakaian dapat berfungsi praktis bila dilihat dari bentuknya yang serba sederhana, bebas dan ringkas. Pakaian ini tidak hanya dapat dipakai untuk ke acara remo (resmi) tetapi juga dapat dipergunakan di rumah. Fungsi lainnya lagi adalah estetis. Apabila dilihat warnanya, warna merah-putih pada kaosnya kontras dengan warna baju pesa’an yang berwarna hitam. Selain ke dua fungsi itu, masih ada fungsi yang lain, yaitu fungsi khusus. Fungsi ini merupakan cermin dari nilai budaya lokal Madura khususnya untuk rakyat biasa.

Fungsi Sarong

Selain sebagai perlengkapan ibadah (sholat), dapat pula digu- nakan sebagai hiasan baju dengan sara disampirkan di bahu.

Arti simbolis :

Kaos lorek merah-putih mempunyai arti bahwa manusia berasal dari Bopo-Biyung (bapak-ibu). Selain itu warna merah dan putih dengan garis yang tegas melambangkan kegagahan, dari jiwa dan semangat berjuang yang gigih. Berjuang dalam melawan musuh maupun mencari naf- kah.

Warna pakaiannya yang hitam mempunyai arti simbolis sesuatu yang murni. Theori di sini berarti dalam segala tindakan orang Madura tidak ragu-ragu, menunjukkan suatu ketegasan hidup. Apa yang diperbuat sudah diper- hitungkan secara matang.

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Kepotren

Pakaian Adat Tradisional Madura Kabupaten Bangkalan, pakaian resmi bangsawan wanita remaja (Pakaian Kepotren). Nama pakaian: bagian atas kebaya Bengkal, bagian bawah kain Songket

Perlengkapan Pakaian:

Bagian Kepala : Rambut memakai sanggul bokor nongop (bokor tengkurap) bahannya rambut asli, bentuknya seperti gelung tekuk Jawa, tengahnya diberi bunga bangbabur yaitu irisan daun pandan dibuat bulatan seperti bola lalu dimasukkan ke dalam gelung agar bisa bulat. Kemudian di tengah irisan daun pandan tersebut diberi bunga mawar asli berwarna merah. Di sekeliling sanggul diberi bunga melati asli yang dironce, na- manya pagar temor (pagar timur). Letak sanggul agak tinggi di atas tengkuk.

Hiasan telingan Giwang kerabu, bahan, permata intan atau berlian, serta pengikatnya emas atau suasa warnanya kekuning-kuningan. Ukurannya : lingkar tengah ± 7 mm, dan bentuknya : bulat utuh seperti biji jagung.

Hiasan leher Kembang kates Kalung Kembang kates, bahannya emas bermata intan, dengan motif kembang Kates, dan warna Kuning emas dan putih, bentuk perhiasan  umumnya.

Bagian atas

  • Kebaya Bengkal, bahannya beludru bersulam benang emas, berwarna me­rah kendola, motifnya polos dengan sulaman bermotif madduh empak (sudut empat) dalam kotak-ketak berisi daun si’dratul muntaha, yaitu daun yang paling agung dari surga, dengan ukuran sesuai dengan badan pemakainya, bentuknya seperti kebaya pendek biasa, memakai kutu baru dengan hisan bunga mawar yang sesuai dengan hias­an pada sanggulnya. Hiasan mawar tersebut dari benang emas yang terjalin rapat.
  • Kotang, bahannya katun, dan biasanya warnanya cenderung gelap, ukuran pas dengan badan pemakai. Panjangnya relatif. Bentuknya, seperti kotang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing bisa pula tali ikatan.
  • Hiasan Kebaya: Peneti Ronyok (ketter) yang berarti goyang-goyang. Bahannya emas atau warnanya kuning.
  • Sap-osap (Saputangan),  bahannya beludru atau katun dan bersulam benang emas, dan biasanya motifnya di bagian pinggirnya berhiaskan bunga melati. Warnanya merah Kendola, dengan ukuran 20 x 30 cm. Bentuknya seperti umumnya saputangan.
  • Hiasan Jari (Selok) Bahannya emas. Warnanya kuning emas dengan permata intan. Ukurannya sesuai dengan lingkar jari pemakainya.

Bagian bawah

  • Kain songket bahannya sutra, warnanya merah kendola. Motifnya kotak-kotak dengan motif tumpal di pinggirnya. Bentuk­nya seperti kain songket pada umumnya (tidak memakai wiron).
  • Ikat pinggang : Pending bahannya emas, yang biasanya mengambil mo­tif berkembang-kembang, dan berwarna, kuning emas. Bentuknya, seperti biasanya ikat pinggang tetapi agak lebar.
  • Alas kaki: Selop bahannya kulit sapi, berwarna hitam memakai manik-manik, ukurannya sesuai dengan kaki si pemakai, bentuknya tertutup sewperta umumnya, namun tidak bertumit. 

Cara memakai pakaian :

Mula-mula mengenakan kain panjang/songket tanpa memakai wi- ru. Setelah kain diikat dengan seutas tali lalu dikencangkan de­ngan pending. Kemudian memakai kotang dan kebaya. Saputa- ngan diletakkan di bawah pending ditampakkan di bawah keba­ya. Terakhir mengenakan selop.

Fungsi pakaian :

Dipakai oleh para putri bangsawan untuk menghadiri acara- acara yang bersifat resmi. Bahkan pada jaman dahulu pakaian kepotren ini dipakai un­tuk menghadiri acara formal, misalnya menyambut tamu agung atau menghadap kepada raja dan gubernur Belanda.

Arti simbolis pakaian :

Secara keseluruhan kebaya bengkel mempunyai arti lebar atau luas akalnya. Diharapkan sipemakai dapat mempunyai pikiran yang luas dan terang. Mengenai warna : Warna yang dipakai oleh remaja putri biasanya memakai warna cerah, misalnya jika merah maka merahnya adalah merah kendola (merah pink). Disini men- cerminkan suatu kecerahan, kegembiraan seperti yang ter- pancar dalam warna, tersebut. Sebagai seorang remaja maka segala kegembiraan yang dilukiskan adalah kegembiraan/ kecerahan yang wajar dan tidak berlebihan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.

Pakaian adat tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Madura1Pakaian adat  tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan. Pakaian Ibadah Pria Dewasa Bangsawan.

Nama pakaian bagian atas kelambi Tagwa, bagian bawah : Sarung kotak-kotak berwarna biru atau hijau. Perlengkapan pakaian bagian kepala , Tutup kepala memakai Odheng Peredan bahannya batik tulis, dengan memakai motif storjaan, Bera’songay atau Toh Biru. Warnanya, warna terang, dan ukurannya sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala yang ber bentuk segitiga. Namun mempunyai kelompok hanya sebuah. Selain itu ujung simpul di bagian belakang hanya satu.

Pakaian Bagian atas memakai, kelambi Tagwa bahan kelambi ialah katun tidak memakai motif, sedangkan. Warna pada umumnya putih, ukuran sesuai dengan tubuh si pemakai, dan bentuknya seperti piyama, tidak memakai leher memakai saku 3 buah, 2 di bawah kanan kiri dan 1 buah di atas. Kancing baju biasanya 5 biji.

Pakaian bagian bawah memakai Ikat pinggang (Sabbuk) bahan sabuk adalah kain tenunan asli. tidak bermotif dengan warna coklat tua. Bentuknya seperti pada umumnya ikat pinggang dengan timang besar di tengah-tengah. Sarung Palekat dari bahan katun, bermotif kotak-kotak besar. Warnanya dasar putih berwarna biru atau hijau. Alas kaki Terompah bahannya kulit sapi, polos, berwarna hitam. Ukurannya sesuai dengan ukuran kaki si pemakai. Bentuknya terbuka tetapi di bagian ujung depan ter- dapat suatu alat penjepit yang terbuat dari bahan yang sama. Fungsi alat penjapit ini untuk pengikat jariyang lain.

Cara memakai pakaian.

Mula-mula memakai sarong, Caranya: Setelah ke dua kaki dimasukkan ke dalarn sarong. Kemudian bagian atas sarong dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digulung dari atas pan- jang sarong sampai di bawah mata kaki. Sebagai penguat sarong memakai sabbuk. Dan terakhir baru mengenakan Kelambi Taqwa. Adapun cara memakai ikat kepala peredan agak miring di kepala (tidak tegak), boleh miring ke kanan atau miring ke kiri, jika miring ke kiri yang mencuat kelopak ka­nan dan bila miring ke kanan yang mencuat kelopak kiri.

Fungsi pakaian

Kelambi Taqwa ini sebenarnya adalah untuk mengunjungi acara adat, misalnya upacara peled kandung (upacara nujuh bulan kandungan). Baju ini khusus dipakai oleh para sesepuh terutama yang keturunan para kyai atau para ulama. Selain untuk upacara adat, kelambi Taqwa ini juga untuk upacara keagamaan, misalnya untuk sholat idhul fitri atau untuk sholat di masjid. Hanya bila untuk sholat tidak memakai ikat ke­pala melainkan memakai kopiah/peci. Ikat kepala peredan biasa dipakai oleh pejabat yunior bila bepergian ke acara yang resmi.

Arti simbolis dari warna dan bentuk baju :

  • Warna putih, melambangkan suatu kesucian.
  • Bentuk baju, melambangkan arti ke taqwaan si pemakainya kepada Allah Yang Maha Esa.
  • Bentuk peredan, melambangkan pemakainya masih kuncup belum sempurna. Selain itu ujung simpul di bagian belakang yang hanya 1 melambangkan huruf “alif” yang merupakan huruf awal dari bahasa Arab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 48-49

Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur

Pakaian bayi berumur 0-3 bulan 

Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur,  Madura,  Kabupaten Bangkalan, Pakaian Sehari-hari Bangsawan, Pakaian bayi berumur 0-3 bulan.

Nama pakaian untuk bayi yang berumur 0-3 bulan, yang bagian atas disebtu Gerita sedangkan bagian bawahnya disebut Geddung.

Untuk bayi baru lahir sampai usia 40 hari, pada bagian kepala, baik bayi laki-laki maupun perempuan dari turunan bangsawan tidak memakai perlengkapan apapun, namun diberi ramuan di atas kepalanya.

Pada bagian badan inilah baru diberi pakaian Gerita yang panjang dan lebar disesuaikan dengan tubuh bayi. Berbentuk Empat persegi panjang dengan kedua sisi yang digunting menjadi bagian-bagian yang kecil sehingga membentuk tali yang berjumlah 5 buah. Bagian tengah dari gurita tersebut dibiarkan utuh diperuntukkan sebagai alas punggung dan penutup perut.

Kemudian ditalikan se­hingga gurita tersebut dapat menempel ke tubuhnya. Sebagai alas pantat bayi dipergunakan daun pace selembar yang ditempelkan di bagian pantatnya. Fungsi daun pace ini untuk menghisap keringat di bagian pantat agar tidak lembab.

Gedhung bahannya kain panjang yang dibungkuskan ke seluruh tubuh bayi sehingga bayi ter­sebut terbungkus rapat. Fungsi gedung ini selain untuk membungkus badan, juga untuk membentuk syaraf-syaraf dalam tubuhnya agar normal.

Gurita dan gedhung ini dipakaikan sehari-hari untuk bayi selama 7 bulan. Sebelum lahir, perlengkapan ini tidak boleh disediakan terlebih dahulu. Sudah merupakan suatu tradisi bahwa sebelum bayi lahir, baik ibu maupun keluarga tidak boleh menyediakan perlengkapan apa pun baik pakaian dan perhiasan. Maka dari itu, baik pakaian maupun perlengkapan bayi biasanya disediakan secara spontan dari sehelai kain panjang yang dirobek menjadi beberapa bagian dan dibentuk tanpa jahitan.

Setelah bayi berusia 7 bulan bayi baru lepas dari gurita diganti dengan celana, baju, topi dan kaos kaki, pada jaman dahulu bahan biasanya mempergunakan kain katun berwarna putih. Namun kini bahan topi dan kaos kaki biasanya terbuat dari benang siyet, sedang untuk baju dan celana selain mempergunakan kain katun berwarna putih, juga banyak yang mempurgunakan kain-kain halus yang lebih bagus.

Untuk perlengkapan yang berupa gedhung ini dianggap mempunyai peranan dan arti yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik bayi maka pemakaiannya dilakukan turun temurun sampai saat sekarang. Sedangkan pemakaian katun (kain) berwarna putih sebagai pakaian bayi, mempunyai maksud agar bayi kelihatan bersih dan selain itu jika pakaian tersebut kotor cepat diketahui.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Penidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1987, hlm. 25-27