Panembahan Ronggo Sukawati

Diceriterakanlah, bahwa Sukawati adalah raja Pamekasan yang menjalankan Pemerintahan penuh dengan kebijaksanaan. Selain dari pada itu, pribadinya memang memiliki sifat kesatria yang dapat dibanggakan, misalnya keberanian karena benar, kejujuran, keadilan dan kesopanan.

Selain dari itu ia tidak suka memperluas daerahnya dengan daerah kera­jaan lain, tctapi sebaliknya pula ia tidak sudi dicampuri oleh fihak lain didalam menjalankan pemerintahan. Pada suatu waktu, Sukawati baru saja dilantik sebagai raja Pamekasan, menggantikan ayahnya, datanglah seseorang yang mempersembahkan satu landian keris. Keesokan harinya, orang lain lagi datang mempersembahkan sebuah rangka keris dan terakhir, seorang tamu lainnya datang dengan membawakan isi keris. Sesudah itu Sukawati menyuruh seorang ahli keris untuk memasang mempersatukan perkakas perkakas keris yang ia terima dari orang- orang itu. Ternyata cocok, tidak usah dirobah lagi. la lalu memberi narna terhadap keris tersebut, ialah ,,Joko piturun”. Diceriterakan selanjutnja, bahwa pada suatu saat, orang  orang Bali datang menyerang daerah Sampang dan Sumenep.

Di Sumenep Pangeran Lor I meninggal dunia dalam pertempuran dan juga banyak pembesar – pembesar dari Sampang yang gugur. Setelah orang – orang Bali merasa izlah menang, mereka terus menyerang daerah Pamekasan. Pasukan dari Bali itu disambut sendiri oleh Sukawati dipebatasan kota Pamekasan ialah di Jungcangcang. Timbullah pertempuran yang hebat ditempat itu, tetapi tidak antara lama pasukan dari Bali hancur lebur, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun dari orang – orang bali yang dapat menyelamatkan diri. Dengan demikian, kedudukan Sukawati makin kuat dan namanya makin terkenal diseluruh Madura. Diceriterakan pula, bahwa dalam zaman kerajaan Sukawati pernah terjadi dua tahun lamanya daerah Pamekasan tidak ada hudjan turun. Rakyat sangat menderita, karena tidak dapat bercocok tanam dan tim­bullah penyakit busung lapar. Pada suatu malam Sukawati bermimpi, bah­wa tidak  jauh dari kota Pamekasan didaerah hutan dan rawa rawa bertempat tinggal seorang wali yang tidak mempunyai rumah, siang malam ia berselimutkan angin, beratapkan langit. Keesokan harinya Sukawati terus memerintahkan patihnya untuk mencari orang itu. Pepatih beserta beberapa Menteri terus berangkat mencari apa yang telah dipesan oleh rajanja. Ditempat rawa – rawa dan hutan, kelihatan banyak pohon yang telah tumbang. Siapakah kiranya yang menebang pohon itu?

Setelah dicari kian kemari, dijumpainya hanya seorang saja yang mene­bang pohon. Sewaktu ditanyakan, siapakah namanya, maka dijawab bah­wa ia bernama Kiyahi Agung Raba. Patih Pamekasan segera pulang dan menceriterakan segala sesuatunya kepada rajanja. Setelah Sukawati mendengar laporan tersebut, ia segera memerintahkan kepada Patih dan Menteri -Menterinja, supaya mereka menggerakkan tenaga rakyat untuk mendirikan rumah bagi wali tersebut (Kiyahi Agung Raba). Setelah rumah itu selesai dan ditempati oleh Kijahi Agung Raba, maka hujan segera turun dan orang – orang Pamekasan sangat bergembira dan berlomba-lomba berangkat untuk bercocok tanam.

Peristiwa lain semasa pemerintahan Ronggo Sukawati ialah pada suatu saat Panembahan Lemahduwur, Arosbaya datang ke Pamekasan bersama- sama dengan Menteri -menterinya untuk keperluan bersilaturrachmi. Sukawati menerima dengan cukup ramah tamah atas kunjungan Lemahduwur. Sete­lah beberapa lama berselang, Lemahduwur berkenan menangkap ikan dari rawa si Ko’ol dekat kota Pamekasan. Semua Menterinya dengan membuka pakaian luar disuruh melompat kedalam rawa untuk menangkap ikan. Su­kawati menyuruh Menteri-menterinya untuk membantu, dan Menteri dari Pameka­san itu tidak membuka pakaiannya sama sekali dan terjun kedalam air.

Entah karena apa, Lemahduwur setelah melihat peristiwa itu tanpa minta diri, terus pulang dengan diikuti oleh Menteri -menterinja. Sukawati setelah meli­hat tamunya pulang tanpa pamit, terus mengejarnya. Sesampainya di Sam­pang ia menanyakan kepada saudaranya, ialah Adipati Sampang, kemanakah tamunya pergi. Ia mendapat jawaban bahwa tamunya terus menuju Blega dan ditepi jalan dikampung Larangan tamunya itu berhenti sebentar menyandar disebuah pohon. Sukawati menghunus keris Jokopiturun dan ditusukkan kepada pohon kaju itu, dan ia terus kembali ke Pameka­san. Selang beberapa hari lamanya, Sukawati menerima surat dari isterinya Lemahduwur Arosbaya, bahwa suaminya meninggal dunia karena “bisul besar dipinggangnya. Setelah membaca berita itu, Sukawati marah pada dirinya dan diambilnja keris Jokopiturun terus dilemparkan kerawa si Ko’ol. Setelah keris itu dibuang, kedengaran suara : „Seumpama keris Jokopi­turun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”. Setelah Sukawati mendengar suara itu, ia merasa sangat menyesal dan memerintahkan Menteri -menterinja mencari kerisnya didalam rawa- rawa . Tetapi sayang, keris itu tidak dapat diketemukan kembali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 44-46

Dari Pamekasan ke Besuki

Tahun 1743, terjadi peristiwa penting di Pamekasan, Madura. Saat itu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Kiai Lesap, putra selir dari Panembahan Tjakraningrat V. Pemberontakan itu bermotifkan tuntutan hak suksesi Kiai Lesap kepada pemerintahan Pangeran Tjakraningrat di Pamekasan. Pemberontakan itu menimbulkan peperangan yang dahsyat antara kedua belah pihak yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Perang itu bahkan melibatkan Bupati Pamekasan Tumenggung Adikoro IV. Tumenggung Adikoro IV adalah putra menantu Panembahan Tjakraningrat V. Ia ikut terlibat mempertahankan Kerajaan Pamekasan. Namun akhirnya Tumenggung Adikoro IV gugur di Desa Bulangan. Karena meninggal di desa itu maka ia mendapat sebutan Kiai Penembahan Bulangan.

Tahun 1750, pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan tewasnya Kiai Lesap. Pemerintahan pun kemudian dapat dipulihkan. Selanjutnya diangkatlah putra Tumenggung Adikoro IV yang bernama Tumenggung Adipati Tjakraningrat. Namun kekuasaan pemerintah- annya tidak berlangsung lama, karena terjadi lagi perebutan ke­kuasaan. Selang beberapa waktu kemudian pemerintahan diserahkan kepada Tjakraningrat I, putra Adikoro III yang kemudian bergelar Tumenggung Sepuh. Saat itu pula diangkadah seorang patih ber- nama Raden Bilat yang sedang bermusuhan dengan keluarga Adikoro IV.

Untuk mencegah terjadinya percekcokan yang mendalam dan demi keselamatan cucu kesayangannya, Raden Bagus Assrah, Nyi Seda Bulangan kemudian mengasingkan cucunya ke wilayah Besuki, yaitu di sekitar Paiton, di Desa Binor. Pada waktu itu terjadilah gelombang eksodus besar-besaran dari pengikut Adikoro IV ke luar Pulau Madura. Selanjutnya Nyi Seda Bulangan tinggal menetap di Binor, dekat Paiton-Besuki. Orang-orang kemudian lebih mengenal Nyi Seda Bulangan sebagai Nyi Binor.

Pada sekitar masa itu pemerintahan di Besuki dipimpin oleh Bupati Tumenggungjoyolelono di Banger (Probolinggo). Maka sebagian wilayah Sentong (yaitu Besuki) dimasukkan ke dalam wilayah Probolinggo. Hal itu terjadi setelah Wirobroto berhasil mengajak rakyat di Tanjung, Pamekasan, untuk eksodus ke daerah Besuki.

Desa pertama yang telah dibabat dinamai Demung Maduran, sesuai dengan kondisinya yang banyak dihuni pendatang dari Madura. Lama kelamaan banyak pendatang yang mengikuti jejak Wirobroto untuk bercocok tanam. Motif utama kepindahan mereka adalah karena di Madura sedang terjadi paceklik akibat lama tidak turun hujan. Petani tidak bisa bercocok tanam. Peristiwa itu seiring dengan eksodusnya keluarga Adikoro IV pada tahun 1743 karena alasan politis. •

Karena jasanya itu maka Wirobroto oleh Tumenggung Joyo lelono diangkat menjadi Demang Besuki yang berkedudukan & Demung Maduran. Putra Wirobroto yang bernama Kasim sejak kecil sudah memiliki tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi pemimpinyang arif dan bijaksana. Ia pun bisa memperlihakan tanda-tanda sebagai seorang anak yang cerdas lagi bijak. Kasim lama berguru kepada Tumenggung Joyolelono, bahkan kemudian diambil menantu.

Karena usia Wirobroto telah lanjut, jabatan Demang Besuki digantikan kepada Ki Bagus Kasim pada 1760. Kemudian karena budi pekertinya yang halus dan luhur, orang mengenal dia dengan sebutan Demang Alus. Setelah menjabat Patih, ia pun disebut Patih Alus.

Setelah Kiai Tumenggung Joyolelono dipecat, Kademangan Besuki didngkatkan statusnya menjadi Kabupaten Besuki. Maksud VOC meningkatkan status Besuki menjadi kabupaten adalah untuk menghidupkan dan meningkatkan fungsi pelabuhan Besuki yang dinilai sangat strategis untuk menguasai jalur lalu-lintas perdagangan di laut, di samping itu sebagai pintu masuk VOC ke daerah pe- dalaman sampai di Puger.

Keberadaan Nyi Binor dan cucunya Bagus Assrah akhirnya tercium juga oleh Kiai Patih Alus Besuki. Semula Nyi Binor sempat khawatdr mengenai cucunya itu, tapi ternyata tidak. Kiai Patih Alus yang dikenal sebagai seorang yang linuwih, bijaksana, dan ambek paramarta itu, begitu melihat raut muka Bagus Assrah mengatakan kepada Nyi Binor bahwa kelak anak itu akan menjadi orang besar yang ternama sehingga perlu diberi bekal ilmu pengetahuan yang akan dibutuhkan olehnya kelak.

Mendengar perkataan Kiai Patih Alus, legalah hati Nyi Binor. Akhirnya demi masa depan cucunya yang sangat dicintainya itu, Bagus Assrah diserahkan untuk mengabdi kepada Kyi Patuh Alus. Di sana Bagus Assrah diterima dengan baik dan diperlakukan sebagai keluarga Kiai Patih Alus sendiri.

Bagus Assrah langsung mendapat gemblengan dari Patih Alus dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan dan agama, serta olah keterampilan. Kelak semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi bekal hldup Bagus Assrah.

Sementara itu setelah Besuki dinaikkan statusnya menjadi kabupaten, maka VOC menggadaikannya kepada bangsa Cina untuk menutupi utang-utangnya. Maklumlah selama VOC berkuasa, korupsi merajalela dalam pemerintahannya.

VOC pun lantas menunjuk bupati pertamanya yaitu seorang keturunan Cina bernama Tjing Sin. Ia diangkat sebagai Bupati Ronggo di Besuki dengan gelar Ronggo Supranolo pada 1768. Untuk me- ngembangkan daerah Besuki, Bupati Ronggo Supranolo mengangkat putra menantunya bernama Ang Tjian Pik menjadi Kapten sehingga dikenal dengan nama Kapten Bwee.

Bupati Ronggo Supranolo adalah keturunan Cina yang beragama Islam, termasuk keluarga dinasti Kesepuhan (Surabaya) yang terkenal sebagai alim ulama yang disegani. Karisma itu dipergunakan oleh Bupati Ronggo Supranolo untuk menyebarkan agama Islam di Besuki, sebab di sana masih banyak penduduk yang kehidupannya masih bersifat animistis. Hal itu mengundang simpati masyarakat sehingga beliau dikenal dengan sebutan Kiai Ronggo Supranolo. Berkat kepemimpinan Kiai Ronggo Supranolo, Besuki berhasil menjadi kota pelabuhan yang cukup ramai sehingga Pelabuhan Panarukan menjadi sepi karena kalah saingan.

Tahun 1773, Kapten Bwee menggantikan mertuanya menjadi Bupati-Ronggo Besuki dengan gelar Kiai Ronggo Suprawito. Ke- dudukan itu tak lama dijabatnya karena ia wafat pada 1776. Sebagai penggantinya ditunjuk Babah Panjunan namun jabatan itu tak lama dipangkunya karena beliau dipromosikan menjabat Bupati-Tumenggung di Bangil. Sebagai penggantinya, VOC menunjuk saudara sepupunya yang bernama Babah Midun menjadi Bupati Besuki dengan gelar Kiai Suroadikusumo.

Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Kiai Suroadikusumo mengangkat mantan Demang Besuki yaitu Kiai Demang Alus atau yang juga dikenal sebagai Demang Wirodipuro untuk menjadi Patih Besuki. Sejak saat itulah ia mendapat sebutan Patih Alus Besuki di masyarakat Besuki.

Pada suatu ketika Bupad Ronggo-Besuki Kiai Suroadikusumo membutuhkan seorang calon pegawai atau kader yang kelak akan dididik menjadi ahli pemerintahan. Sudah barang tentu si calon hendaklah seorang yang cerdas, tampan, dan mampu menguasai berbagai masalah kenegaraan dan ilmu pengetahuan, serta hal-hal yang berkenaan dengan ilmu administrasi.

Kiai Patih Alus yang sangat mengetahui kualitas dan pribadi Bagus Assrah, lalu mengusulkannya sebagai calon. Ternyata Bagus Assrah diterima, selanjutnya ia menjadi pegawai di Kabupaten Besuki.

Karena Kiai Suroadikusumo dengan istrinya Nyi Rambitan tidak dikaruniai putra, maka Bagus Assrah diambil sebagai anak angkat- nya. Nyi Rambitan menerimanya dengan senang hati, lalu mendidik dan memperlakukannya sebagai anak sendiri. Kasih sayang Kiai Ronggo Besuki bersama istrinya kepada Bagus Assrah makin men- dalam.

Ada beberapa hal yang menjadikan kedua orang tua angkatnya itu semakin tertarik kepada Bagus Assrah. Selain karena baktinya secara tulus ikhlas kepada kedua orang tua, juga karena perangai dan sikap ramah yang membuat setiap orang simpatik kepadanya. Di samping itu Kiai Ronggo telah merasakan firasat yang menun- jukkan kebesaran pada anak itu yaitu berupa sinar cahaya gaib yang memancar dari tubuhnya di kala ia tidur pada malam hari.

Setelah Bagus Assrah lulus dalam mengikuti pelajaran ketata- negaraan, ia kemudian diberi tugas untuk menarik upeti (pajak) serta ikut menangani dan memecahkan berbagai persoalan umum dalam bidang pemerintahan. Semuanya dapat dia dikerjakan dengan baik. Dengan keberhasilannya itu maka Bagus Assrah diangkat menjadi Mantri Anom dengan nama Abiseka (gelar) Mas Astrotruno.

Karena dorongan yang kuat untuk memperoleh anak sendiri, maka atas pertimbangan keluarga (Nyi Rambitan) dan terutama Kiai Patih Alus, pada 1768 Kiai Ronggo Besuki Suroadikusumo melamar putri Panembahan Somala, Bupati Sumenep, untuk dijadikan istrinya.

Perkawinannya dengan putri Panembahan Somala bukan hanya bertujuan memperoleh keturunan, tetapi juga untuk menaikkan kewibawaan dalam pemerintahan, sesuai dengan petunjuk Ki Patih Penarukan Ki Surodiwiryo, karena istri keduanya itu masih cucu seorang alim ulama besar yang tersohor di Sumenep yaitu Bindara Sa’od, ayah Penambahan Somala. Selain itu ia juga masih keturunan Pangeran Katandur, seorang alim ulama besar pada waktu itu.

Ternyata dalam perkawinannya yang kedua ini pun Kiai Ronggo- adikusumo tidak mendapatkan keturunan sebagaimana yang di- idamkan selama ini. Oleh karena itu Nyi Suroadikusumo lalu me- ngambil anak angkat dari keponakannya sendiri yang bernama Raden Ario Bambang Sutikno. Kedua anak angkat Kiai Suroadikusumo tersebut kelak menjadi tokoh sejarah. Bagus Assrah menjadi tokoh sejarah Bondowoso dan Raden Ario Bambang Sutikno yang kemu­dian bergelar Kanjeng Pangeran Prawirodiningrat menjadi tokoh sejarah di Besuki-Panarukan.

Pada 1795 Patih Puger Raden Tumenggung Prawirodiningrat wafat. Kemudian VOC mengangkat Kiai Ronggo Suroadikusumo menjadi Bupati Tumenggung di Puger dengan gelar Kiai Suryo- adikusumo. Namun karena Kiai Patih Alus menolak untuk dipindah- kan ke Puger mengikuti Tumenggung, maka untuk sementara waktu pusat pemerintahannya berada di Besuki. Pada waktu itu Kiai Patih Alus sudah amat tua.

Pada 1801 Kiai Patih Alus wafat. Jenazahnya dikebumikan di Desa Demung Besuki (Kampung Arab) sehingga pusat pemerintahan Tumenggung Puger pun dipindahkan ke tempat yang semestinya yaitu di Puger. Pengangkatannya ke Puger memakai gelar Maulana Kiai Suroadiwikromo.

Menurut rumusan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang naskahnya disusun pada 28 April 1976 No. HK. 031/474/ 1976, erat kaitannya dengan tahun Candrasengkala 1728 Komariyah Sura Dwi Wiku Grama  atau 1801 M. (Sura / 8 ; Dwi / 2; Wiku / 7; Grama / 1 = 1728 Hijriyah).

Tahun 1806, beliau dipindahkan lagi ke Besuki dengan jabatan Adipati. Sebagai penggantinya kemudian diangkatlah Babah Panderman, putra Tumenggung Leder, dengan gelar Kiai Tumenggung Suryoadiningrat. Pada 1813 Kiai Suroadiwikromo wafat dan dimakamkan di Bangil [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 55- 61

Batik Pamekasan

Batik Pamekasan Banjir Pesona

Ketetapan UNESCO bahwa batik sebagai warisan asli budava Indonrsia, manfaat nya mulai dirasakan pengrajin .hususnva warga Desa klampar, kecamatan Proppo, kabupatan Pamekasan. Desa yang dikenal Sebagai setra batik Madura Itu kini mendapat keuntungan karena tingginya  pesana. Order, melonjak. hlngga 200 persen.

Kain batik tulis khas Madura yang bertahan dengan motif flora dan fauna itu sering digunakan sebagai bingkisan. Harga kain berballan sutra kelas menengah itu sekitar Rp 500 ribu. Sedangkarrbatik sutra kelas super Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.

Mbah Maryam (76) perajin bati mengatakan, motif fauna sering digambarkan seperti dedaunan dan bunga. Untuk motif fauna ditorehkan seperti kepala, sayap dan ekor ayam. Motif flora dan fauna itu direfleksikan men”ad’ motif Segar Jagat, Kenari, Jago Kluruk, Mata Ikan, dan motif Sabat.

Dua motif ini serlng dipakai Iantaran para perajin secara turun temurun bermukim di kawasan pertanian. Masih terawatnya motif yang lekat dengan flora dan fauna, boleh jadi karena budaya warisan leluhur. Indikasinya, lembaran batik tulis ini digarap oleh keluarga besar, Mereka terdiri dari nenek, anak bahkan cucu.

Tiga generasi kerja bareng dalam satu pondok. Membatik dengan satu tungku berisi cairan malam. Seperti dilakukan keluarga Maryam yang dibantu Suhimah (45), anaknya. Begitu pula Suhimah (23), anak Suhimah yang tak lain cucu Maryam. bergabung membatik dalam satu pondok.

“Kami telah membatik sejak Indonesia belum merdeka,” ujar Mbah Maryam. Cara membatik seperti itulah yang menjadikan motif flora dan fauna tetap terpelihara dengan baik sebagai ciri khas. Puluhan keluarga di Desa Klampar melakukan pekerjaan yang sama. Para pembatik ini menggarap seluruh proses pembatikan.

Usai pembatikan, tembaran kain ini masuk proses pewarnaan. Tiga warna primer. Menjadi pilihan favorit, yakni warna merah. hijau. dan Kuning. Setelah pewarnaan, masuk tahap pelorotan atau membersihkan cairan malam yang memadat dan menempel di kain. Ini dilakukan dengan cara mencelupkan kain ke dalam drum berisi air panas di atas tungku api kayu bakar. Terakhir. lembaran kain batik ini dibilas dengan air bersih lalu dijemur.

HARI BATIK

H. Ahmadi perajin asal Desa Klampar mengaku, momen hari batik 2 Oktober lalu ternyata berdampak positif. Sebelum adanya pengakuan dunia terhadap batik Indonesia. ia hanya mampu menjual 2.000 lembar batik/bulan. “Kini dalam satu bulan terakhir mencapai 3.200 lembar batik.” katanya.

Menurut Ahmadi, kain batik buah karya perajin diborong kalangan pedagang batik Pamekasan. Tak jarang mendapat order dari pemodal yang memesan batik sutra. Bahkan kain sutranya dipasok pemodal. Perajin tinggal membatiknya. “Para pemodal itu kebanyakan para pemilik butik yang membuka galerai di Jalan Jokotole, maupun pemilik butik di Kota Surabaya dan Jogjakarta,” katanya.

Saat hari-hari normal, penjualan batik tulis mencapai 800 kodi per bulan. Selama bulan puasa lalu order hampir 2.000 ribu kodi. la menjamin tidak ada kenaikan harga saat banyak order. “Apalagi seluruh bahan tidak mengalami kenaikan lantaran kurs dollar relatif stabil,” katanya.

Pada 24 Juli 2009 latu, Pemkab Pamekasan membuat terobosan dengan mencanangkan kota terse but sebagai kota batik yang ditandai dengan kegiatan “Pamekasan Membatik” yang digelar di sekitar monument Arek Lancor. Kegiatan yang masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) tersebut diikuti 600 pembatik, dengan panjang kain 1.530 meter, angka sesuai dengan hari jadi Kabupaten Pamekasan.

Menurut Wabup, prornosi  batik Pamekasan ke luar daerah memang kurang sehingga masih banyak warga di luar Pamekasan yang belum mengetahui. Sebagian pedagang ada yang mampu menembus pasar hingga Jawa Tengah dan Jawa Barat. Akan tetapi belum cukup berpengaruh terhadap ornzet penjualan. la mendukung usulan bahwa tanggal 2 Oktober dijadikan sebagai “Hari Batik Nasional”, utamanya Pamekasan yang telah mendeklarasikan sebagai Kabupaten Batik Madura, kata Wabup, Kadarisman. (M Khoirul Rijal)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWATIMUR, EDISI 12 ,TAHUN lX1 2009, hlm. 10

Batik Pamekasan

Batik Latansa Collection Pamekasan
Berkembang Pesat Berkat Promosi PLN

Ada yang istimewa dari bisnis batik “Latansa Collection” yang dikelola oleh Hj. Sakinah Mahdor yang beralamat di Jl. Sersan Misrul 4/25 Pamekasan, Madura. Penghasilan dari usaha yang digelutinya itu, 90 persen langsung masuk ke yayasan dan diperuntukkan untuk membantu fakir miskin dan membantu pembangunan pondok pesantren serta masjid.

Dalam wawancara dengan INFODIS belum lama ini, ibu satu anak ini mengatakan, kalau seluruh penghasilan dari cabang-cabang Latansa Collection hampir 90 persen masuk ke yayasan tanpa melalui dirinya. “Hanya show room yang ada di sini (Jl. Sersan Misrul) untuk kehidupan sehari-hari serta untuk pengembangan,” kata istri dari H. Mahdor Abdullah yang sehari-hari menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Pamekasan.

Ia juga mengakui kalau bisnis yang didirikannya pada 1986 lalu itu dulunya biasa-biasa saja. Namun setelah berkenalan dengan PLN khususnya di APJ Pamekasan usahanya semakin berkembang. Pejabat dan keluarga di kantor tersebut selalu berbelanja di sini. Bahkan dalam setiap kesempatan PLN ikut mempromosikan Latansa Collection ke setiap relasi yang dikenalnya.

Dengan demikian rumah batik tersebut semakin dikenal oleh masyarakat. Tidak saja di Madura tetapi sudah sampai di Surabaya hingga Jakarta. “Sudah 15 tahun ini saya bekerja sama dengan PLN dan hasilnya sangat signifikan,” kata Hj. Sakinah sembari menambahkan kalau pihaknya kini sudah bisa membuka 4 cabang masing-masing di Madura dan Surabaya.

Batik produksi Latansa Collection memang tidak sama dengan batik-batik produksi perusahaan lain. Disain dan warna yang ditawarkan selalu up to date karena perusahaan tersebut tidak ingin produknya bisa ditiru oleh perusahaan lain. Tidak mengherankan jika produk batik dari Latansa Collection ini mendapatkan perhatian bagi para pelanggan.

Hj. Sakinah Mahdor selaku pemilik Latansa Collection senantiasa menjaga mutu dan kualitas dari batik-batik hasil ciptaannya. Oleh karena itu dalam setiap pengerjaannya dilakukan dengan cermat sehingga hasilnya bena-benar sesuai harapan.

Untuk mengerjakan satu batik saja (khususnya yang berbahan sutera) waktu yang dibutuhkan cukup lama yakni sekitar dua bulan. Pengerjaan yang paling lama adalah melukis disain yang telah ditetapkan. Setiap gambar baik yang kecil hingga besar dikerjakan dengan telaten.

Corak dan warna dari batik hasil ciptaan Latansa Collection seluruhnya berciri khas Madura mulai dari Kota Bangkalan dan Pamekasan. Di Bangkalan, gaya lukisannya lebih bagus sedangkan untuk corak warna Pamekasan yang lebih menonjol. Dua ciri tersebut digabung oleh Latansa Collection sehingga menghasilkan batik yang sempurna.

Kemudian juga ada ciri khas dari setiap batik yang dikeluarkan oleh Latansa Collection yakni tidak meninggalkan goresan warna merah sebagai ciri khas Madura. Dengan demikian setiap batik yang mempunyai warna dasar apa saja selalu ada gambar atau goresan warna merah yang menghiasai disain yang telah ditentukan.

Dikemukakan, untuk membuat sebuah batik sangat beda dengan membuat kue yang nota bene sudah ada resepnya. Menciptakan batik dibutuhkan waktu lama dan telaten. Paling lama adalah cara melukisnya yang harus dilakukan secara hati-hati. “Saya menciptakan sendiri motif batik sehingga kalau jadi tidak dipunyai oleh perusahaan lain,” tandas Hj. Sakinah.

Oleh karena itu untuk perekrutan karyawan ia benar-benar selektif dan tidak sembarangan. Karyawan yang dipilih diutamakan mempunyai jiwa telaten atau sabar. “Membatik itu butuh kelatenan kalau tidak hasilnya akan tidak baik,” tambahnya. Dikemukakan pula, untuk bahan baku ia tidak kesulitan karena sudah ada kenalan di salah satu kota di Jawa Tengah. Hj. Sakinah tinggal menelpon saja kalau membutuhkan bahan-bahan yang dibutuhkannya. Untuk pembayarannya ia langsung mentransfer ke rekening kenalannya itu.

Sedangkan daya tarik dari batik-batik produksi Latansa Collection adalah mutu dan kualitasnya. Ia menyebutkan kalau batik tulis yang baik berasal dari Bangkalan dan untuk corak warnanya adalah dari Pamekasan. Oleh karena itu Latansa Collection menggabungkan hasil batiknya dari dua daerah tersebut.

Tidak mengherankan kalau batik produksi Latansa Collection digemari oleh masyarakat. Mereka datang langsung ke rumah batik tersebut dan melakukan transaksi. Dari sekian banyak yang membeli produknya ada sebagian yang rnenjualnya kembali ke pasaran dengan harga yang jauh lebih tinggi. “Para pejabat dari Jakarta atau dari kota lain sering datang kesini untuk rnernbeli produk kami ,” kata Hj. Sakinah.

Untuk rnengerjakan seluruh produknya Latansa Collection rnengerjakan puluhan orang yang telah dididik secara profesional. Seperti menyekolahkan sebagian karyawan di bagian penyelupan ke Pekalongan, Jawa Tengah, karena daerah tersebut dikenal sebagai cikal bakal perbatikan. Saat ini yang bekerja di pusat perusahaan ada 12 orang sedangkan yang lain tersebar di berbagai tempat di Madura. Menurut Hj Sakinah, rata-rata karyawannya tidak mau pindah ke tempat lain. “Mereka betah bekerja di sini sehingga banyak di antara mereka yang mulai bekerja dengan status lajang hingga berkeluarga,” katanya sembari menambahkan kalau ada sebagian dari karyawannya yang ditanggung soal pendidikan anak-anaknya.

Pada bagian lain keterangannya ia mengemukakan kalau usaha yang digelutinya itu bukanlah dari turun-temurun. Pertama kali ia mencoba dengan menawarkan batik-batik yang ia beli dari rumah-rumah batik kepada kenalannya dan juga ke instansi yang ada di Madura. Seiring dengan perjalanan waktu, Hj. Sakinah akhirnya menetapkan untuk menggeluti bisnis tersebut hingga saat ini. (p)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Infodis, Edisi II, 2001, hlm. 22.

Lele Phyton, Pamekasan

Nikmatnya Omzet Lele Phyton

Anda mungkin belum banyak mengenal ikan lele phyton. Ya, usaha Ishak, warga Desa Nyalaran, Kelurahan Lawangan Daya, Kabupaten Pamekasan, mengembangkan budidaya ikan lele phyton sejak tiga tahun silam tak sia-sia. Hasilnya pun menggiurkan karena omzetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Ishak mengaku, modal awal yang disiapkan untuk mengembangkan lele phylon Rp 30 juta. “Alhamdulillah, budidaya lele phylon kini omzetnya tembus sampai ratusan juta rupiah,” ujarnya saat dilemui di rumahnya, 22 Mei (2011) lalu. Untuk harga sepasang indukan lele phylon dengan umur dua tahun berkisar antara Rp 200 ribu – Rp 250 ribu. Sedangkan harga per ekor bibit lele sekitar Rp 150 ribu.

Setiap satu ekor induk lele phyton bisa menghasilkan 30.000 telur. “Saya sekarang memiliki puluhan ekor lele phyton indukan dengan menghasilkan jutaan guraya (anak lele),” kata dia. Kini Ishak sudah bisa menikmati hasil budidayanya. Setiap bulan, dia mengirim dua ton bibit lele phyton ke tiap pelanggannya yang berada di luar Pulau Madura. Lelaki berkacamata itu kini telah memiliki puluhan pelanggan.

Lele phyton merupakan perkawinan silang antara lele dumbo dengan lele impor dari Thailand. Hasilnya, ukurannya super jumbo dengan berat sekitar 7 kg per ekor.  Bentuk tubuhnya pun panjang ramping dan bermulut kecil seperti ular phyton.  “Karena hasil perkawinan silang antara kedua jenis lele itu sangat besar, saya beri nama lele phyton,” kata Ishak. (jat)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dera Desa, Edisi 44, Juni 2011, hlm. 33

Tacceggan: permainan anak Madura

Tacceggan Salah satu permainan asal Pamekasan, Madura, dimainkan oleh anak-anak pengembala. Tacceggan berasal dari kata ‘Tacceg’, artinya ‘Tancap’ permainan ini melemparkan sabit, yang ditujukan pada sebuah tiang bambu yang telah dipancang. Yang dapat menancapkan sabitnya terdekat pada tiang bambu yang menjadi pemenangnya.

Di daerah pedalaman Madura, banyak pengembala kerbau atau sapinya. Sementara kerbau atau sapi-sapinya merumput, mereka mengadakan permainan tersebut. Caranya mula-mula memancangkan sebuah bambu, masing-masing anak mengumpulkan rumput sebagai taruhannya.

Beberapa meter dari bambu yang telah terpancang terdapat sebuah garis pembatas, sebagai batas untuk melemparkan sabit. Selanjutnya  anak-anak serempak melemparkan sabitnya masing-masing ke bambu tersebut. Sabit yang menancap paling dekat ke tiang bambu itulah yang menang. Pemiliknya atau pelemparnya berhak mendapatkan setumpuk rumput yang dijadikan taruhannya.

Awalnya Tacceggan ini hanya hanya sebagai pengisi waktu belaka, sambil menunggu gembalaannya. Lama-lama menjadi sebuah permainan yang menyenangkan bagi anak gembala, selain sebagai hiburan juga disertai taruhan. Namun permainan ini terdapat unsur jeleknya. Anak gembala yang sudah mahir melemparkan aritnya akan lebih sering menjadi pemenang. Sehingga ia menjadi anak pemalas, sebab mendapatkan rumput dengan cara mudah, tanpa bekerja keras.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Permainan Daerah Jawa Timur. Departeman pendidikan Kebudayaan, Jakarta, 1978. 

Karapan Sapi Tingkat Nasional: Pasangan Sapi “Jet Metik” Raih Trofi Presiden RI

-Pamekasan, Bhirawa, 25 Oktober 2011-
Pasangan sapi “Jet Metik” meraih juara pertama dan menggondol trofi bergilir Presiden RI, pada grandfinal Karapan Sapi yang berakhir Senin (24/10) di stadion R, Sunarto Hadiwidjoyo, Pamekasan.

Sapi “Jet Metik” milik H Said, dari Kabupaten Sam pang, selain menggondol trofi Presiden RI, juga sebuah mobil Suzuki Carry dan sebuah sepeda motor. Kemenangan ini disambut suka cita pemilik, pengelola maupun pendukungnya. Sontak tabuhan musik Sronen dikumandangkan usai diumumkanya pasangan sapi “Jet Metik” menjadi juara Karapan Sapi Piala Presiden 2011. Pendukung pemenang mengarak keliling lapangan H. Said bersama sapi miliknya. Para pendukung itu tak sekadar memainkan musik sronen tapi juga menaiki kendaraan roda dua dan mobil yang menjadi hadiah juara pertama.

“Saya bersyukur, pasangan sapi milik saya meraih juara. Semua itu berkat kerja keras semua pendukung. Khususnya seorang penongkok pasangan sapi “Jet Metik” mulai start hingga ke finish”, kata H. Said, usai menerima trofi Presiden RI, dan hadiah lainnya.

Juara kedua dalam ajang ini diraih pasangan sapi “Parang Sakti” milik H. Udin, dari Pamekasan, juara ketiga direbut pasangan sapi “Bumi Hangus GR” milik Heri THR, dari Sumenep.

Pemenang golongan kalah, juara pertama diraih pasangan “Gagak Rimang” milik HM Tohir, dari Bangkalan, juara dua “Gagak Remang Muda” milik H. Abdullah, dari Pamekasan dan juara ketiga “Lintas J aya” milik Hakiki dari Sampang.

Gelar karapan pada hari kedua, melombakan enam pasang sapi berjalan tertib dan aman. Namun penonton yang menyaksikan tidak sebanyak pada hari pertama (Minggu, Red). Kepala Bakorwil IV Madura, Eddy Santoso mengatakan, pelaksanaan Karapan Sapi tahun ini jauh lebih baik, tertib dan meriah dibanding sebelumnya 2010 lalu.

Ia menilai, di tingkat lomba pelaksanaannya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. “Saya harus membentuk tim evaluasi untuk membuat laporan disampaikan kepada Gubernur Jatim”, tegas Eddy Santoso, pada sambutan penutupan didampingi Kapolres Pamekasan, AKBP  Drs Anjar Gunadi.

Pelaksanaan karapan ini berlangsung selama dua hari. Menurut Kepala Bakorwil, hal itu karena peserta tidak konsekuennya mematuhi peraturan pelaksanaan Karapan Sapi, padahal sudah disepakati bersama.

Ia mengimbau, tahun mendatang jika Karapan Sapi kembali digelar seluruh peserta harus konsekuen dengan peraturan yang telah disepakati bersama. Karapan Sapi, kata Eddy Santoso harus tetap dilestarikan, karena merupakan budaya kebanggaan masyarakat Madura.  din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 1 sambung 11

Meriah, Penyelenggaraan Lomba Kerapan Sapi

-Pamekasan, Bhirawa, 25 Oktober 2011-
Meski sempat molor sehari dari jadwal semula, penyelenggaraan grand final lomba Kerapan Sapi memperebutkan piala Presiden RI di stadion R. Sunarto Hadiwijodjo, (23-24/1 0) secara umum berlangsung meriah.

Even yang masih merupakan rangkaian memperingati Hari Jadi 66 Tahun Provinsi Jawa Timur, ini memperlombakan 24 pasang Sapi Kerapan.

Sebelum menggelar grand final kerapan sapi, sehari sebelumnya panitia juga menggelar festival Sapi Sonok yang dimeriahkan dengan penyediaan stan-stan untuk menjual produk unggulan.

Gubernur Jatim semula dijadwalkan akan hadir dan membuka acara ini. Namun, karena kesibukannya, pembukaan Kerapan Sapi yang dipadati sekitar 25 ribu pengujung, dilakukan oleh Sekdaprov Jatim Dr. Rasiyo yang ditandai penyerahan bendera starter berwarna merah kepada petugas starter.

Beberapa pejabat ikut hadir diantaranya Kepala Bakorwil Pamekasan Eddy Santoso, Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian Prabowo, Kepala Dinas Peternakan Jatim Ir. Suparwoko Adisoemarto, Kepala Badiklat Jatim Saiful Rahman, dan undangan lainnya. Selain beberapa wisatawan asing, tampak pula undangan khusus seperti dosen, mahasiswa dan peserta Pendidikan dan Latihan Pimpinan angkatan ke II.

Mengawali acara, dilaksanakan defile (kirab) pasangan sapi kerapan yang diiringi musik Saronen dan diikuti sejumlah orang. Kemudian pementasan tari Pecut yang dibawakan putra-putri dari beberapa Sekolah Menengah Atas, hasil buah karya Syaiful Mandacan.

Kepala Bakorwil Pamekasan Eddy Santoso, bersyukur penyelenggaraan even nasional tahun ini berlangsung tertib meski sempat molor sehari. Para penggemar sapi kerapan juga semakin nampak menjunjung tinggi sportifitas dan didukung kejujuran dan ketegasan para juri di lapangan. “Panitia sudah bekerja maksimal, namun bisajadi masih ada beberapa kekurangannya,” jelasnya.

Mengantisipasi besarnya jumlah penonton, panitia menyiapkan berbagai fasilitas terutama keamanan dan ketertiban bekerjasama dengan aparat TNI-Polri dan Satpol PP. Panitia juga menyiapkan berbagai makanan khas Madura dan tersedia pangggung representatif  untuk melihat secara gamblang  pasangan sapi yang dikirap tersebut.

Bagi pengunjung yang ingin berbelanja souvenir, di ajang pesta Kerapan Sapi ini juga tersedia berbagai macam produk unggulan seperti batik, pernak-pernik  kerajinan, jamu, kripik, makanan dan minuman khas Madura tersedia di stan-stan. Sekretaris Bakorwil Pamekasan Tajul Fallah, menyatakan stan-stan itu bagi UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan Pedagang Kaki Lima diatur baik yang berada di jalan masuk menuiu pintu Stadion.

“Penyediaan stan-stan ini, bagi UKM ini untuk mempromosikan dan menjual produk. Sekaligus dapat meningkat perekonomian  rakyat. Karena keramaian ini orang berkqmpul terjadi transaksi,” tutur Tajul Fallah.

Dijelaskan, grand final diikuti 24 pasang sapi kerapan ini merupakan para pememang golongan menang dan pemenang golongan kalah mulai seleksi di tingkat Kewedanan, dan tingkat Kabupaten, lalu dilombakan di tingkat nasional memperebutkan tropi bergilir PresidenRI.   din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 12