Rudi Isbandi

Rudi IsbandiRudi Isbandi lahir di Yogyakarta, 2 Januari 1931. Pendidikan terakhir SMA, setelah itu belajar dari kehidupan. Sejak 16 November 1987 menggantikan almarhum Khrishna Mustadjab sebagai su­pervisor kebudayaan Perhimpunan Persahabatan Indonesia- Amerika (PPIA) Surabaya.

Pelukis yang kritikus seni rupa ini menikah dengan Sunarti tahun 1958, dikaruniai 2 orang anak, Drh. Toto Rudi Ananto dan Dra. Titi Ratih Dianti.

Pada tahun 1980 pernah menerima penghargaan sebagai “Keluarga Harmonis” tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pemilihan Keluarga Teladan Indonesia YASCO, 28 Januari 1987 menerima piagam penghargaan dari Presiden Soeharto sebagai peserta Keluarga Berencana Lestari, 4 Juni 1987 menerima piagam warga kota berprestasi, pasangan KB teladan dari Walikota Kodia Surabaya, dr. Poernomo Kasidi.

Bukunya yang diterbitkan di antaranya : Perkembangan Seni Lukis di Surabaya sampai 1975 (DKS, 1975); Lukisan Sebagai Potret Diri (DKS. 1976); Percakapan dengan Rudi Is­bandi (DKS, 1985); dan novelet Kembalilah ITO (Surya Raya, 1979). la pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya.

Bersama keluarga ia bertempat tinggal di Jl. Karang Wismo I No. 10 Surabaya, dan berkantor di Jl. Dharmahusada Indah Barat I No. 3 Surabaya. Kini ia lebih dikenal sebagai kolektor burung dan ayam bekisar.

 

Dunia seni lukis sudah mendarah daging dalam diri tokoh ini. Melukis bukan lagi sekadar menggoreskan kuas dan cat ke kanvas, sudah lebih dari itu. “Seni itu ibarat sebuah pohon. Pasti mengenal kapan saat tumbuh, kapan berdaun, ber- bunga, dan berbuah untuk kemudian mati karena ditelan usia,” ucap pelukis, kritikus seni rupa, dan penulis sajak, Rudi Isbandi.

Sikap-sikap seni lukis Rudi di antaranya,” di samping bentuk dan rupa, yang nyata, maka setiap hal itu juga mengandung yang bersifat abstrak. Itu dapat berujud getaran tegangan, irama, nuansa, dan apapun namanya. Misainya suatu suasana selalu memiliki getaran atau tegangan atau irama yang berbeda dengan suasana yang berlainan. Dalam lukisan dapat berupa garis saja, atau semata-mata warna, atau nuansa dan bentuk-bentuk lain yang nonfiguratif.

Lukisan-lukisan abstrak Rudi Isbandi le­bih menawarkan renungan. “Setiap lukisan mesti menyodorkan masalah, yang berupa tema yang diajukan pelukisnya. Tema itu menjadi masalah pokok, problem yang di- garap pelukis. Dan saya tidak mengajukan problem ….. Tema Kehidupan, bagaimanapun pengolahannya, tentulah sesuatu yang tidak selesai. Saya tidak menggarap kehidupan dari segi fisiknya, tapi dari te­gangan, dari iramanya, atau ritmenya. Dan itu merupakan nuansa warna transparan,” tuturnya.

Perkembangan terakhir dari lukisan-lukisan Rudi Isbandi yaitu menyodorkan pulasan-pulasan warna, tanpa obyek. Bagi Rudi hal itu merupakan suatu mata rantai pekembangan lukisannya yang ditekuni selama ini. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 50 (CB-D13/1996-…)

 

Thalib Prasojo

Thalib PrasojoM. Thalib Prasojo lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931. Pendidikan terakhir Akademi Seni Rupa. Pernikahannya dengan Rr. Sri Sumiyatun membuahkan 4 orang anak, masing masing Nunik Sri Rahayu (guru Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya), Basuki (war- tawan tabloid Jawa Anyar, Ninil Kurniawati (wiraswasta), dan Teguh (sarjana teknik alumni ITS).
Sebagai pelukis sketsa ia telah memamerkan karya karyanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya. Aktif dalam organisasi kesenian, di antaranya pernah memegang jabatan sebagai Ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Surabaya(DKS), kini menjabat Ketua Penelitian dan Pengemban- gan (Litbang) Dewan Kesenian Surabaya.
Kariernya diawali dengan pengabdiannya sebagai guru Sekolah Dasar, menulis mengenai spiritual, dan intens dalam kegiatan seni rupa. la pernah memperoleh penghargaan dari Korem 084 Surabaya dan AkabriLaut dalam pembuatan patung monumen.
Pelukis ini bertempat tinggal di Jalan Gresik No. 254 Surabaya.
Sesuai dengan nama yang disandang, pelukis ini memiliki semboyan hidup sedarhana. Bertolak dari nama itu pulalah ia waktu kecil memiliki obsesi hendak meniti karier menjadi dalang atau menjadi pelukis. Ternyata pilihannya jatuh pada profesi yang kedua, yaitu pelukis.
Atas dasar wangsit yang pernah ia terima waktu duduk di Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SMP) bahwa profesi pelukis, akan membuahkan hasil untuk kemuliaan anak-anaknya. “Kadang-kadang sesuatu yang tak terlihat mata, bisa tam- pak,” tuturnya.
Dalam setiap kesempatan ia selalu membawa kertas gambar ukuran folio dan pulpen ditangannya. Objek-objek yang berupa kegiatan manusia, flora, dan fauna dipindahkan ke dalam kertasnya. Tidak mengherankan bila ia memiliki beribu-ribu koleksi lukisan sketsa.
Sebagai pelukis Sketsa ia bukanlah tukang gambar. Karya-karyanya memiliki nuansa khas yang menyentuh batin penik- matannya. Kekuatannya terletak pada garis-garis yang diberi muatan simbolik. Raut muka seseorang yang dilukis setelah dipindahkan ke dalam kertas, berubah menjadi simpul-simpul kepribadian ma­nusia. Itulah sebabnya, pelukis yang memi­liki tokoh idolah Sunan Kalijaga ini, ingin mengawinkan falsafah-falsafah dengan objek yang dilukis.
“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pan- dang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Mahakuasa,” akunya. (AS-10)

Amang Rahman Jubair

Amang RahmanAmang Rahman Jubair lahir di Kampung Ampel. Surabaya, 20 November 1931, beragama Islam, la anak keempat dari 13 bereaudara. Masa kecilnya dihabiskan di Sidoarjo, Surabaya dan Madura. Selain dikenal sebagai pelukis, ia juga sebagai penyair, dramawan dan pemusik. Puisi dan cerpennya terbesar di berbagai media, di antaranya dimuat dalam Antoiogi Puisi 25 Penyair Surabaya tahun 1975.

la ikut membidani lahirnya Akademi Senirupa Surabaya (AKSERA) tahun 1967, dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1971. Dalam periode 1967 sampai 1994, tidak kurang mengikuti pameran baik di dalam maupun diluar negeri. Dua kali ke tanah suci, pertama melaksanakan ibadah umrah sambil berpameran di Jeddah (1985) dan kedua menunaikan ibadah haji bersama istri.

Pernikahannya dengan Wasi Kasiyati (1961) dikaruniai empat orang anak. Masing-masing Lilik Eliya Jubair, Yunus Jubair, Aisyah Jubair dan llham Anugrah Jubair. Bersama keluarga, ia tinggal di Jl. Kali Kepiting 11A Surabaya.

Kuteteskan keringat, darah dan airmataku ke dalam lukisan. Aku berjalan menembus lorong hitam bagai sumur tanpa dasar, sekaligus lobang langit dan jalan panjang menuju ke tempatnya,” kata Amang Rahman, Sang Maestro. Selebihnya, “Kata kakek saya, sorga itu warnanya biru. Tetapi tidak seperti biru ada hijaunya tapi tidak seperti hijau daun. Itulah obsesi dan yang menjadi ciri lukisanku”.

Dalam lukisannya ia mengangkat simbol-simbol melalui warna. Terutama biru, bentuk dan sosok. la sekaligus memakai pengulangan bentuk dan menata ruangan di atas kanvas dengan cara yang teliti dan terampil. Itu cirinya, untuk menimbulkan suasana tertentu, serta untuk memperkuat simbol-simbol tersebut. Menurutnya, biru merupakan simbol sorga atau dunia rohani, sementara sosok kuda berkepala wanita adalah lambang dari kekuatan dan keindahan.

“Awan dalam lukisanku adalah simbol dari kemungkinan-kemungkinan yang diha- dapi manusia, sekaligus perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Kalau ada orang bilang lukisanku sekarang berubah warna, itu tidak benar. Itu perjalanan alam lukisanku. Dalam melukis aku tak pernah berubah,” katanya.

Barangkali ia seniman besar yang sangat bersahaja. Tidak suka menyombong- kan diri dan tak pernah menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain. Tak ada idealisme yang ingin dicapainya. Tak ada prinsip yang ingin dipertahankannya. Setiap orang bebas menterjemahkan karya- karyanya. (AS-5)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 56  (CB-D13/1996-…)

 

Soehardi, Blitar

HARDI PELUKIS BLITAR - Copy26 Mei 1951, R. Soehardi lahir di Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Akhirnya lebih dikenal dengan Hardi

Tahun 1970, hidup di Ubud, Bali melukis bersama W. Hardja, Anton Huang, kemudian kuliah di Akademi Seni Rupa

1970 – 1980an,  karya lukis Hardi banyak mengekspos masalah sosial, dan menjadi pencetus Gerakan Seni Rupa Baru yang fenomenal, menjadi karya-karya yang teduh, meski tetap dengan sapuan yang galak, dan blak-blakan, kadang meledak-ledak. Seorang kolektor dan pengamat karyanya menandai perubahan, memiliki kepribadian terbuka.

Surabaya.
Tahun 1971 – 1974, Hardi kuliah di STSRI ASRI Yogyakarta.

 Tahun 1975 – 1977, kuliah di De Jan Van EYC Academie di Maastricht, Belanda. Dalam bidang senirupa Hardi berguru kepada Daryono, Fadjar Sidik, Widayat, Prof. Hans Seur, Prof. Pieter De Fesche, Nyoman Gunarsa, dan Drs. Sudarmadji.

Tahun 1976,  mengadakan pameran tunggal di Heerlen Belgia, kemudian di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, Balai Budaya, Komala Galerry Ubud, Wisma Seni Depdikbud, Hotel Sahid, kemudian pameran bersama dengan berbagai kelompok pelukis, sampai tahun 1992-an Hardi tidak mencatat lagi pameran-pamerannya karena nyaris tiap bulan mengadakan pameran.

5 Desember 1978,  Hardi ditangkap dan di tahanan Laksusda Jaya, karena lukisan foto dirinya, berukuran 60 x 30 cm, dengan pakaian jendral berbintang dan bertajuk Presiden tahun 2001, Soehardi. Pamasangan foto dirinya di tengah pemerintah represif dan militeristik Orde Baru merupakan protes dan perlawanan, sekaligus tantangan kepada penguasa. Namun, berkat campur tangan Wakil Presiden Adam Malik saat itu, Hardi dibebaskan.

18 April 1999 – 18 Mei 1999, Hardi mengadakan pameran tunggal di Graha Budaya Indonesia di Tokyo.

Mei 2008 akhir,  Hardi mengikuti pameran bersama “Manifesto” di Galeri Nasional, menghadirkan karya bertema tersangka terorisme berjudul Waiting for the death penalty.

Karyanya dikoleksi Keluarga Cendana, menteri-menteri kabinet Orde Baru dan Orde Reformasi, tokoh-tokoh nasional, kalangan pengusaha, dan rekan-rekan seniman, selain lembaga-lembaga bergengsi seperti Museum Purna Bhakti Pertiwi, Balai Senirupa DKI, Dinas Kebudayaan DKI, TIM, LBH, Wisma Seni Nasional, Bentara Budaya, PT. Coca Cola Museum Neka Ubud – Bali, Yayasan Pengembangan Bisnis Indonesia, dll.
Terakhir dia aktif dan menjadi Ketua UMUM Ormas Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN) di bawah naungan bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).=S1Wh0T0=

Liem Keng, Pelukis Surabaya

Liem Keng, Nama harumnya terukir dengan sendirinya sebagai pelukis yang ekspresif sangat membanggakan hingga menjadi aset budaya Jawatimur.  Liem Keng dengan goresan-goresan tintanya yang yang melahirkan karya-karya bernilai tinggi.

Liem Keng adalah sosok yang sederhana dalam berkesenian namun kaya akan karya dengan goresan tinta baknya yang ekspresif dan mampu menciptakan karya yang luar biasa yang diakui dunia meskipun selalu hidup dalam keserhanaan.

9 Maret 1934,   Lim Keng lahir di Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, ayah Lim Ie Swan tinggal di Undaan Kulon 125 Surabaya,  Istri  Ernawati,   Anak Tradiyanto Halim, Lim Ie Waliban (Iwan Walimba)

Tahun 1962, Sekolah di SMA Pecindilan  Surabaya, Ketika di SMA ini, kecintaan pada menggambar makin tak terbendung. Belum genap dua tahun bersekolah, Lim memilih keluar dari sekolah. Dia berguru pada dua pelukis andal, Nurdin B.S. dan Iwa Kustiwa. Awal mula belajar, dia menekuni teknik drawing, melukis dengan pensil. Berikutnya, dia mulai merambah lukisan cat air dan cat minyak.

Tahun 1962 Lim mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta (kini Institut Seni Indonesia).

Tahun 1964,  di ASRI, dia hanya menghabiskan dua semester. Selebihnya, dia berkeliling ke sejumlah daerah bersama teman-temannya. Bali adalah tempat favorit Lim. Di Pulau Dewata, dia menghasilkan banyak karya. Karya-karyanya itu dijual di art shop setempat. “Kalau beruntung ya ada yang beli, lumayan buat biaya hidup,” kenangnya.

Tahun 1972, dia mulai menjajal sketsa. Di situ, dia mengaku mengalami kesulitan luar biasa. “Dari tiga media yang saya kuasai, melukis sketsa menggunakan tinta bak (tinta hitam dari Tiongkok, Red) justru yang paling sulit. Kalau sekali gores sudah salah, ya nggak bisa diulangi. Harus gambar lagi mulai awal,” tuturnya.

Akhir tahun 1970, dia ikut berpameran bersama rekan-rekannya. Karya-karya Lim mulai dikenal di kalangan para seniman Surabaya. Lukisannya dicari banyak kolektor. Berbagai pameran bersama pernah dia ikuti. Namun, Lim selalu ogah berpameran tunggal.

Pelukis umumnya berkarya di studio, namun Lim Keng melukis datang langsung ke lokasi. Melukis petani dan sapi, misalnya, dilakukan pinggiran persawahan.  Melukis tarian barongsai dilakukan di tengah atraksi. Sambil ditonton ramai-ramai oleh masyarakat.

Ternyata tidak mengganggu konsentrasi. Bahkan bagi Lim Keng, semakin ramai orang, sketsanya makin hidup dan semakin cepat rampung. Hanya butuh waktu 15 menit untuk bikin satu sketsa.

Lim Keng sangat idealis, ingin menjadi diri sendiri. Lim enggan meniru gaya lukisan yang ramai di pasaran atau sudah banyak digarap orang lain. Karena itu, Lim Keng memilih sketsa (sketch), jenis lukisan yang sangat jarang ditekuni pelukis Indonesia. Namun, Lim tetap ingin tampil beda. Tak heran, ia menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi ia belum puas.

Suatu ketika muncul ide yang nyeleneh, orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup, dan lubang kecil penutup botol menjadi saluran tinta. Bisa dibayangkan sulitnya melukis dengan metode macam ini. Bergetar sedikit saja, kurang konsentrasi, kucuran tinta niscaya merusak kertas. Di sinilah pentingnya konsentrasi serta keahlian luar biasa (virtuositas) dari seorang seniman.

Di dunia ini hanya satu orang yang bisa melakukan itu. Namanya Lim Keng,  sulit bagi orang lain meniru gaya Lim Keng.

30 Maret 2001,  Baru bersedia pameran di Galeri Candik Ayu Surabaya. Pameran itu mendapat perhatian sangat luas, dibuka Konsul Jenderal Amerika Serikat Robert Pollard. Yang awalnya, Lim Keng mengaku paling malas mengelar pameran. Meskipun karya-karyanya sangat banyak, “Pelukis itu kerjanya gambar, bukan pameran” katanya, memang sekali-sekali, karena tak enak sama teman-teman pelukis di Jawa Timur, Lim Keng akhirnya mau juga menyertakan lukisannya di pameran bareng. Namun Lim Keng, tak muncul di lokasi.

Tahun  2004,  Lim berpameran tunggal di pusat kebudayaan Prancis di Surabaya, CCCL. Dalam pameran tersebut, dia memajang karya sketsa bergambar potret dirinya. Yang  gambar melalui cermin.

Minggu (23-8-2009) sekitar pukul 23.30 WIB, Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis Lim Keng, yang dijuluki maestro sketsa, meninggal dunia di RS Darmo dalam usia 75 tahun.=siwhoto=

Sumber  :
http://hurek.blogspot.com
http://brangwetan.wordpress.com