Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyyah (MASS), Tebuireng

Madrasah Aliyah Tebuireng.Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng merupakan unit pendidikan formal tertua nomor dua (setelah MTs) yang berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Ide awal pendirian madrasah ini sudah dimulai sejak masa kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari, lalu disempurnakan pada masa KH. Wahid Hasyim dengan nama Madrasah Nidzamiyah, dan diformalkan pada masa kepemimpinan
KH. Kholik Hasyim (tahun 1962) dengan nama Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS).
Hingga kini, MASS Tebuireng sudah banyak melahirkan lulusan- lulusan berprestasi di berbagai bidang, dan tersebar luas di seluruh pelosok nusantara. Para siswa MASS Tebuireng berasal dari berbagai daerah dengan dasar pendidikan Tsanawiyah maupun SLTP. Tenaga pengajar MASS sebagian besar bersertifikasi sarjana strata satu (S-l) dan magister (S-2) berbasic pesantren. Dengan aset berupa sumber daya manusia yang besar, MASS Tebuireng terus berupaya meningkatkan kualitasnya sesuai perkembangan zaman, dengan harapan akan mampu melahirkan generasi intelektual muslim yang berkualitas, berwawasan global, berdedikasi tinggi, dan berakhlakul karimah.
Sejak tahun pelajaran 1997-1998, MASS Tebuireng mendapat status Disamakan, berdasarkan SK Dirjen Binbaga Depag RI No. 25/E IV. PP.03.2/KEP/III/97 dan Terakreditasi “A” pada tahun 2005. Pada tahun 1997-1998 meraih juara pertama MA Swasta Teladan tingkat propinsi Jawa Timur.
Sejak tahun ajaran 1993-1994, MASS Tebuireng yang sebelumnya telah memiliki dua jurusan (IPA dan IPS), membuka dua jurusan baru yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) dan Jurusan Salaf. Jurusan
MAK difokuskan pada pendalaman dan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris secara aktif. Menggunakan kurikulum Depag dan takhassus pesantren dengan komposisi pelajaran agama 70% dan pelajaran umum 30%. Lulusannya diproyeksikan mampu melanjutkan ke perguruan tinggi di Timur Tengah maupun perguruan tinggi di dalam negeri.
Sedangkan jurusan Salaf dititiktekankan pada penguasaan gramatika Arab seperti Nahwu, Shorof, Balaghah, dan pendalaman kitab-kitab fiqh klasik-kontemporer melalui kegiatan bahtsul masail, tutorial, sorogan, dan lain sebagainya. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Jurusan ini diproyeksikan dapat melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi Islam baik di dalam maupun luar negeri.
Kemudian program IPA dan IPS diproyeksikan bagi mereka yang memiliki minat mendalami ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu eksakta, didukung dengan ilmu-ilmu keagamaan yang memadai. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum.
Hingga kini, keempat jurusan tersebut (MAK, Salaf, IPA, IPS), menjadi ikon utama keberadaan MASS Tebuireng.
Untuk meningkatkan kualitas siswa di berbagai bidang, MASS Tebuireng menambah kegiatan-kegiatan ekstra, seperti pengajian kitab- kitab Islam klasik (kitab kuning), Komputerisasi kitab kuning (CD Program), pelatihan Keorganisasian, Kepemimpinan, Pelatihan Dakwah, pers, olah raga, pramuka, seni bela diri dan musik, forum kajian ilmiah santri, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Tebuireng English and Arabic Club (TEAC, khusus siswa MAK), Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF, khusus siswa Salaf).
Sarana penunjang yang kini dimiliki MASS Tebuireng antara lain Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Aula, sarana Olah Raga dan Kesehatan.
Pada tanggal 9 Agustus 2008, Perpustakaan KH. Muhammad Ilyas diresmikan penggunannya. Perpustakaan berlantai dua sumbangan keluarga besar mantan Menteri Agama KH Muhammad Ilyas itu, menambah lengkapnya sarana penunjang proses belajar-mengajar di MASS Aliyah Tebuireng.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 165-170

Pondok Pesantren Putri Wali Songo, Tebuireng

Ponpes WalisongoMasa Pembentukan (1951 – 1952)
Pada awal abad ke 20, orang yang belajar di pondok pesantren (santri), umumnya adalah kaum laki-laki. Tidak ada budaya perempuan mondok. Namun seiring perkembangan zaman, budaya itu lambat laun berubah. Beberapa pesantren mulai membuka pondok putri, seperti Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri. Sedangkan Pesantren Tebuireng saat itu belum melakukannya, meskipun tidak sedikit perempuan yang berniat mondok di sana. Sebagai gantinya, Kiai Hasyim meminta Kiai Adlan Aly (adik kandung Kiai Ma’shum Aly Seblak) untuk membuka pondok putri di desa Cukir.
Kiai Adlan Aly kemudian mengumpulkan beberapa orang terkemuka di Desa Cukir dan beberapa Pimpinan Madrasah Ibtidaiyah di sekitar Kecamatan Diwek. Pertemuan itu menyepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan khusus putri kemudian dinamakan Madrasah Mu’allimat. Peristiwa bersejarah tersebut dilakukan pada malam hari di tahun 1951.
Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, KH. Adlan Aly menjalani tugas mengajar dengan dibantu beberapa orang guru, seperti KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang Jombang), Kholil Mustofa (Tebuireng), K. Abu Hasan (Kayangan Jombang). Mereka bekerja tanpa pamrih, termasuk pamrih materi. Tempat belajarnya di rumah KH. Adlan Aly, dengan waktu belajar sore hari. Kurikulumnya 100 % pelajaran agama. Siswi pertama berjumlah 30 orang, berasal dari Desa Cukir dan sekitarnya. Mereka bersekolah secara gratis.

Masa Perkembangan (1952 – 1967)
Satu tahun kemudian, KH. Adlan Aly menambah gedung baru yang terbuat dari bambu, karena semakin banyaknya siswi yang belajar. Sejak saat itu, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan pada pagi hari. Untuk siswi yang berasal dari luar daerah dibuatkan asrama khusus. Asrama tersebut ditempatkan di rumah KH. Adlan Aly dan kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Walisongo.
Pada tahun 1955 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan pada tahun 1957 jenjang pendidikan kelasnya genap menjadi enam kelas.
Mulai tahun 1958, atau tujuh tahun setelah berdirinya, dibangunlah gedung sekolah permanen dengan dinding dari batu merah (tidak terbuat dari bambu lagi). Seluruh dana pembangunan berasal dari uang pribadi KH. Adlan Aly. Beliau menyewakan sawahnya selama tujuh tahun untuk membiayai pembangunan gedung tersebut.
Kurikulum pun ditambah dengan materi pelajaran umum, dengan prosentase 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Ditambah pula dengan satu kelas persiapan yang lazim disebut “Voor Klas”. Kelas ini disiapkan untuk siswi-siswi lulusan SD atau SMP yang umumnya belum mengenal pelajaran Agama. Sejak saat itu mulai ada bantuan Guru Negeri dari Pemerintah.
Karena semakin membludaknya siswi, maka pada tahun 1968 dibangunlah lantai II dari lokal kelas yang sudah ada. Salah seorang yang membantu proses pembangunan itu adalah Bupati Jombang, Isma’il. Kemudian didirikan pula Taman Kanak-kanak yang menjadi sa¬lah satu unit pendidikan di Madrasah Mu’allimat
Mulai Tahun Ajaran 1976-1977, Madrasah Mu’allimat VI Tahun dirubah menjadi 2 jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu pada Tahun Ajaran 1990-1991, diadakan ujian lisan membaca kitab kuning guna meningkatkan penguasaan siswi terhadap literatur berbahasa Arab.
Pada hari Sabtu, 6 Oktober 1990 (17 Robi’ul Awwal 1441), pendiri Madrasah Putri Mu’allimat, Kiai Adlan Aly, berpulang ke Rahmatullah. Madrasah Mu’allimat berduka.

Kondisi Terkini
Kini, unit-unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Badan Wakaf KH. Adlan Aly meliputi :
(1) Madrasah Ibtidaiyah,
(2) Madrasah Tsanawiyah,
(3) Madrasah Aliyah,
(4) Pondok Pesantren Wali Songo.

Pondok Pesantren Wali Songo kini mengelola 4 unit pendidikan, yakni:
Madrasah Diniyah,
Madrasah Dirasat al-Qur’an,
Madrasah Hifdz al-Qufan, dan
Syubat al-Lughat al-Arabiyyah.

Kegiatan Madrasah Diniyah wajib diikuti oleh semua santri. Tujuannya agar mereka mampu membaca dan memahami kitab kuning serta menguasai ilmu-ilmu agama lainnya. Madrasah Dirasat al-Qur’an juga wajib diikuti oleh semua santri. Di sana mereka digembleng untuk menguasai dasar-dasar membaca al-Qur’an binnadhar, mulai juz 1 s/d 30. Sedangkan Madrasah Hifdz al-Qur’an membina santri menghafal al-Quran serta mendalami ilmunya, kemudian Syubat al-Lughat al-Arabiyyah membina santri agar menguasai percakapan Bahasa Arab secara aktif, sifatnya tidak wajib. Dua program itu hanya bagi yang berminat saja.
Untuk mendukung suksesnya proses belajar-mengajar di pondok maupun di madrasah, maka diadakan kegiatan-kegiatan penunjang seperti pelatihan jurnalistik, media penulisan kreatifitas santri, pelatihan dan kursus-kursus seperti English Conversation dan Life Skill (budidaya cabe, tomat, jamur tiram, dll.), pelatihan seni qosidah, taghanni al-Qur’an, kaligrafi, dekorasi, pidato, dll., serta pelatihan Bahtsul Masail Diniyah dan istighatsah dwi bulanan.
Secara umum, baik Pondok Pesantren Wali Songo maupun Madrasah Mu’allimat, kini telah berkembang cukup pesat. Apalagi kegiatan belajar- mengajar kini didukung dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai, seperti dibangunnya poliklinik al-Syi’fa’, yang memberikan pelayanan kepada santri dan masyarakat; kemudian Koperasi Pondok Pesantren, yang menyediakan berbagai kebutuhan harian santri seperti sabun, buku, kitab, dll.; Warung Telekomunikasi dan Warung Internet; Laboratorium Bahasa; Laboratorium Komputer; Laboratorium MIPA; Laboratorium Audio Visual; Studio Siaran (Radio Mu’allimat FM); Perpustakaan; dan Ruang Pelatihan (produksi border, jamu, sari kedelai, budidaya tomat, jamur, dll.). ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 221-224

 

Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (MQ), Tebuireng

Ponpes MQ.0001Masa pembentukan
Embrio kelahiran Madrasatul Qur’an sebenarnya sudah ada sejak masa Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan al-Qur’an. Beliau sangat mencintai orang yang hafal al-Qur’an (hafidz). Konon, pada Bulan Ramadhan tahun 1923, para santri Tebuireng telah secara bergiliran menjadi imam salat tarawih dengan bacaan al-Qur’an bil-hifdzi (dihafalkan) sampai khatam. Sayangnya, sistem hafalan al-Qur’an di Tebuireng saat itu belum terorganisasi dengan baik karena belum ada lembaga khusus yang
menanganinya. Kondisi ini terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Kiai Kholik Hasyim.
Pada masa kepemimpinan Pak Ud, tepatnya tahun 1971, rencana pendirian lembaga pendidikan al-Qur’an dimatangkan. Ada 9 orang kiai yang dilibatkan dalam rencana tersebut. Hasilnya, pada tanggal 27 Syawal 1319 H., atau 15 Desember 1971 M, lembaga itu secara resmi berdiri dengan nama Madrasatul Huffadz.

Pada tahun pertama, santrinya berjumlah 42 orang dan diasuh oleh Kiai Yusuf Masyhar, menantu Kiai Ahmad Baidhawi. Sesuai dengan namanya, lulusan lembaga ini diarahkan untuk menjadi kader penghafal al-Quran sekaligus mendalami ilmunya. Semula, Madrasah Huffadz bertempat di rumah Kiai Wahid, bagian barat Pesantren Tebuireng (sekarang kediaman KH. Musta’in Syafi’i). Kemudian mulai tahun 1982, lokasinya dipindah ke belakang rumah peninggalan Kiai Baidhawi dengan tanah waqaf dari beliau.
Dari tahun ke tahun madrasah ini berkembang cukup pesat. Setelah dilakukan pemekaran, Madrasatul Khuffadz secara struktural terpisah dari Yayasan Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng. Kini, jenjang pendidikannya meliputi Madrasah I’dadiyah (Persiapan), Tsanawiyah, SMP al-Furqon, dan Madrasah Aliyah, dan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng. Kini, MQ telah mengelola unit-unit seperti: Unit Tahfidz, Unit Sekolah, Unit Pondok, Unit Perpustakaan, Biro Santunan, Unit Sarana dan Keuangan.

Program Binnadliar (non-hafalan)
Program ini dikhususkan bagi mereka yang belum dapat mengambil program tahfidz karena belum memenuhi syarat. Di dalamnya terdapat empat tingkatan:

1) Tingkat mubtadi9 (pemula); yakni mereka yang belum mampu membaca al-Qur’an dan atau belum mempunyai dasar- dasar fashahah.
2) Tingkat mutawassith (menengah); sudah lancar membaca dan menguasai dasar- dasar fashahah, namun belum bisa membedakan ciri-ciri
huruf dan cara melafadkannya.
3) Tingkat Muntadbir; sudah lancar membaca dan fasih, namun kurang menguasai waqof, ibtida\ serta musykilat al-ayat. Dan
4) Tingkat Maqbul; tingkat dimana santri tinggal menempuh qira’ah muwahhadah (standar MQ).
Ponpes MQ.0002Program Tahfidz (menghafal al-Quran).
Program ini dibagi menjadi dua fase, yakni Qira’ah Masyhurah (bacaan al-Qur’an populer) dan Qira’ah Sab’ab (tujuh bacaan al-Qur’an riwayat dari tujuh orang Imam). Kedua fase ini terlebih dahulu harus melewati fase dasar (qira’ah muwahhadah) bagi yang belum memenuhi syarat untuk menghafal.

Qira’ah Masyhurah; yakni bacaan umum al-Qur’an yang diriwayatkan oleh sepuluh orang Imam. Untuk sampai pada fase ini, santri diwajibkan baik bacaan al-Qurannya, sesuai dengan qira’ah muwahhadah standar MQ. Sistem pembinaannya meliputi setoran hafalan, pembinaan fashahah, dan mudarasah kelompok. Setoran hafalan dilakukan setiap hari, dengan memperdengarkan hafalan kepada instruktur masing-masing. Setoran fashahah dilakukan dengan memperdengarkan bacaan kepada pembina masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. Sedangkan mudarasah kelompok dilakukan dengan membagi santri tiga-tiga dan setiap hari memperdengarkan hafalannya kepada teman sekelompoknya secara bergilir. Bagi yang telah menyelesaikan program ini akan diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ah Masyhurah (S.Q.I).

Qira’ah Sab’ah; fase ini dikhususkan bagi mereka yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Qira’ah Masyhurah dengan baik dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada fase ini, santri mempelajari ilmu qira’ah yang variatif riwayat tujuh orang imam (Imam Nafi, Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Ibn Amir, Ibn Amr, dan Ibnu Katsir), serta pendalaman kajian makna dan perbedaan bacaan. Mushaf yang dipakai adalah Utsmani riwayat Imam Hafs dari Imam Ashim. Santri harus hafal 30 juz al-Qur’an selama 3 tahun. Bagi yang lulus program ini berhak diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ab Sab’ah (S.Q.2).

Kesungguhan berbuah prestasi
Sejak fajar hingga malam hari, santri MQ aktif melaksanakan berbagai kegiatan wajib seperti salat berjamaah, sekolah, setoran, dan lain-lain. Selain itu mereka juga dibekali dengan kegiatan extra-kurikuler, seperti latihan pidato, khutbah jum’at, shalawat (jam’iyah mingguan), Musabaqah Hifdz al-Qur’an (MHQ), Musabaqah Syarh al-Qur’an (MSQ), Musabaqah Fahm al-Qur’an (MFQ), diskusi ilmiah, dan pembinaan qira’ah al-Qur’an bi al-tagbanni (melagukan bacaan).
Para santri MQ juga sering diundang masyarakat sekitar untuk mengisi berbagai acara seperti khataman al-Qur’an, menjadi khatib salat jum’at, membina TPQ, melakukan bakti sosial, juga memberikan santunan kepada fakir miskin.

Untuk menumbuhkan semangat berdikari, maka sejak awal berdirinya MQ telah mendirikan koperasi santri, yang dikelola sendiri oleh para santri. Koperasi tersebut kini telah memiliki tiga unit usaha, yakni Unit Koperasi Jasa Boga, Unit Pertokoan, dan Unit Biro Sosial. MQ juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Lantabur.

Selain menghasilkan kader penghafal A1 Quran, MQ juga berupaya mencetak kader qori’ yang berkualitas. Salah satu langkahnya adalah bekerja sama dengan Lembaga Perkembangan Tilawah al-Quran (LPTQ) milik pemerintah. Tak heran hingga kini MQ telah melahirkan sejumlah qori5 yang kerap menjuarai berbagai event tingkat Nasional. Bahkan sebagian diantaranya sudah pernah menjuarai event tingkat Internasional yang diadakan di Arab Saudi, Mesir, Turki, Malaysia, dan lain-lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 216-220

SMP A. Wahid Hasyim, Tebuireng

SMP. P. Wahid Hasyim0002SMP A. Wahid Hasyim (biasa disingkat SMP AWH) merupakan salah satu unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari (Tebuireng-Jombang-Jawa Timur), yang pendiriannya hampir bersamaan dengan SMA A. Wahid Hasyim (tahun 1975). Dalam kurikulumnya, SMP AWH menggabungkan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dengan kurikulum
pesantren (Program Diniyah), sehingga diharapkan lulusan SMP AWH mampu menguasai ilmu pengetahuan umum dengan dasar keagamaan yang kuat. Hingga kini, SMP AWH sudah berhasil meluluskan banyak siswa dengan prestasi yang cukup membanggakan. Pada tahun ajaran 2010-2011, SMP AWH membuka kelas unggulan, yakni International Class Programme (ICP) yang dibina oleh sekolah Center Laboratorium Universitas Negeri Malang, bekerjasama dengan Cambridge International Programme (CIP).
Dengan sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki sendiri, sejak tahun 1991 SMP AWH mendapat status “Disamakan” berdasar SK Depdikbud No. 1616/104/MN/1998, tertanggal 27 Januari 1998. Kemudian pada tahun 2003, SMP AWH mendapat kepercayaan sebagai Sekolah Target (Sekolah Percontohan) serta telah terakreditasi ulang dengan nilai terbaik tingkat SMP Negeri/Swasta se-Kabupaten Jombang (tahun 2003).
Untuk menunjang keberhasilan proses belajar-mengajar, maka SMP AWH menyediakan sarana dan pra sarana yang memadai. Diantaranya 12 ruang belajar yang dilengkapi dengan audio visual (TV & DVD) tiap kelas, dua ruang laboratorium computer ber-AC dengan system jaringan nirkabel, ditambah sarana penunjang belajar LCD proyektor, satu ruang laboratorium bahasa ber-AC dengan system multimedia, 1 ruang laboratorium sains/IPA dengan fasilitas lengkap, satu ruang laboratorium IPS dengan koleksi benda bersejarah/antik, satu ruang bengkel kertaseni untuk praktek keterampilan dan seni rupa/pahat, ruang studio musik untuk praktek ekstrakurikuler musik/band.
SMP AWH juga menyediakan Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Koperasi Sekolah, satu ruang perpustakaan, dua ruang makan siswa, musholla, dan masjid untuk mendukung Full Day School, lapangan olah raga yang luas, dan green bouse (lahan pembibitan dan tanaman obat) untuk praktek KIR.
Sedangkan kegiatan ekstra kurikuler meliputi Kursus Bahasa Inggris (ELC), Kursus Komputer, Sains Club, Theater, Penulisan Karya Ilmiah Remaja (KIR), Seni Baca Al-Qur’an (SBQ), Teknik Informatika Komputer, Banjhari, Palang Merah Remaja (PMR), kegiatan Pramuka, Seni Musik/Band, dan Olah Raga.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 161-164

Pondok Pesantren Putri Al-Farros, Tebuireng

Gus Irvan; Ponpes Putri  Al-farrosPondok Pesantren Putri ini bernama Al-Farros. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab yang artinya banyak cakap atau cerdas. Sesuai dengan namanya, maka pesantren ini memiliki harapan bisa mencerdaskan akhlak serta pengetahuan kepada para santri-santrinya.
Sejak didirikannya pada tahun 2006 pesantren ini diasuh oleh H. Agus Irvan Yusuf, M.Si (Gus Irvan). Beliau adalah putra keempat almarhum KH. M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng periode 1965-2006. Dalam memimpin pondok, Gus Irvan senantiasa dibantu oleh sang istri, Hj. Indira Laila. Nama Pesantren Al-Farros juga diambil dari salah satu putra beliau yang bernama Barbarosa Muhammad Farros.
Sebagai pesantren muda, Al-Farros beberpa kali mengalami pengembangan. Pada tiga tahun pertama (2006-2009), Al-Farros hanya menerima santri putra. Santri yang
terdaftar mencapai 30 orang dari berbagai kota. Setelah banyak yang lulus, hanya ada beberapa santri putra saja yang tinggal di sana.
Hingga akhirnya, Pesantren Al-Farros resmi merubah dari pondok putra menjadi pondok putri. Pada tahun pelajaran 2009-2010 terdapat 21 santriwati. Tahun 2010-2011 jumlah seluruhnya mencapai 41 santriwati yang seluruhnya menempuh pendidikan di unit-unit pendidikan Pesantren Tebuireng (MTs, SMP, SMA dan MA).
Aktifitas Pesantren Al-Farros tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang ada di Pesantren Tebuireng. Dalam sistem pendidikan, Al-Farros juga mendirikan MAD IN (Madrasah Diniyah), yang fokus mempelajari ilmu agama, mulai ilmu alat (nahwu shorof), tauhid, ta’lim muta’allim, pego dan lain-lain. MADIN ini berlangsung setelah shalat jama’ah Maghrib pukul 18.30 hingga 19.30 WIB. Sebelum proses belajar- mengajar berlangsung, terlebih dahulu mereka mengikuti kegiatan bahasa Arab berdurasi 15 menit.
Belajar malam dimulai setelah para santri selesai shalat dan makan malam. Ini diwajibkan dengan tujuan melatih kedisiplinan dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tidur malam tidak diperkenankan melebihi jam 22.00 wib. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar mereka bisa istirahat cukup dan bisa bangun subuh lebih awal. Di tengah malam mereka juga dianjurkan melaksanakan shalat tahajjud sebagaimana yang telah diajalankan oleh para nabi dan ulama untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Setelah berjama’ah subuh, mereka bergegas menuju kelas masing- masing untuk mengikuti pengajaran Al-Qur’an. Bagi yang belum mampu
membaca Al-Qur’an harus mengikuti program Tilawaty yang merupakan jembatan menuju tingkat Al-Qur’an. Pengajian ba’da subuh ini berakhir pukul 06.30 pagi lalu dilanjutkan persiapan berangkat sekolah. Selama kurang lebih 9 jam mereka belajar di sekolah masing- masing yang masih berada di bawah naungan Yayasan Hasim Asy’ari. Di sana mereka mendapatkan berbagai macam pengetahuan umum maupun agama serta organisasi.
Sepulang dari sekolah, mereka diwajibkan langsung menuju pondok. Tidak diperkenankan bermain atau mengunjungi tempat-tempat lainnya. Setelah melepas lelah, mereka bergegas melaksanakan shalat ashar secara berjama’ah kemudian dilanjutkan dengan kegiatan bahasa Arab pukul 17.15.
Karena padatnya kegiatan santriwati baik di sekolah maupun pondok, maka didatangkan pula tukang cuci atau “laundry” dari luar. Semua santri mencucikan bajunya di sana. Sekalipun demikian ketika libur hari Jum’at, mereka tetap diajarkan mencuci agar bisa mandiri.
Di Pesantren Al-Farros terdapat beberapa ruangan. Di lantai pertama adalah musholla, ruangan pembina dan asrama “Shofiyah” yang ditempati 15 santriwati. Di lantai dua terdapat kamar “Aisyah” dengan jumlah 16 santriwati dan kamar “Khodijah” berkapasitas 12 santriwati. Ketiga kamar tersebut memiliki fasilitas yang sama, yaitu kamar mandi dan tempat tidur. Begitu pula, setiap santriwati mendapatkan fasililitas berupa dipan (kasur plus bantal) serta almari. Agar suasana kamar menjadi sejuk dan nyaman maka dilengkapai pula dengan satu buah kipas angin.
Untuk melatih kemandirian, dibentuklah pengurus kamar yang memiliki wewenang mengatur keadaan kamar masing-masing, termasuk kebersihan, aturan, sanksi, dst. Selain pengurus kamar, juga dibentuk pengurus pondok yang keseluruhan dari santriwati senior. Sedangkan pembina yang membimibing mereka setiap harinya adalah para ustadzah yang merupakan mahasiswa senior di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Untuk kebutuhan pokok yang lain seperti makan dan minum sudah disediakan pondok. Sesekali mereka diajarkan memasak pada hari Jum’at. Pada hari itulah mereka diberi kebebasan memilih menu sendiri sekaligus mempersiapkan makan siang dan sore.
Selain kegiatan muhadhoroh sebagai kegiatan wajib, bagi mereka yang memiliki bakat ataupun keinginan belajar qiro’ah dan banjari, bisa disalurkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Yang paling utama dari semua jenis kegiatan tersebut adalah shalat berjamaah lima waktu. Bagi santriwati Pesantren Al-Farros, shalat berjamaah tidak boleh ditinggalkan. Dari shalat berjamaah itulah banyak manfa’at yang telah dirasakan: menambah kebersamaan, kedisiplinan, berakhlaqul kariamah kepada Allah SWT dan sesama manusia.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman 230-233

Pondok Pesantren Darul Hakam, Tebuireng

Pondok Pesantren Darul Hakam.0002 Pesantren ini pada awalnya hanyalah sebuah asrama/komplek tempat menampung para santri yang belum diterima di pondok sekitar. Mereka belum/tidak diterima di pondok sekitar karena belum memenuhi syarat-syarat tertentu. Jumlahnya lumayan banyak. Karena itu, untuk menampung mereka, maka pada tanggal 19 Pebruari 1991, KH. Abdul Hakam Kholiq (putra tunggal Kiai Kholiq Hasyim) berinisiatif mendirikan wisma tersebut, dan diberi nama Darul Hakam.
Para penghuni asrama Darul Hakam berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka dapat sekolah di mana saja. Rata-rata bersekolah di unit-unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng (SMP, MTs, MA, SMA). Kompleks Darul Hakam letaknya sangat setrategis; berada di pinggir jalan raya Jombang-Kediri-Malang, di antara Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an. Alamat lengkapnya ialah jalan Irian Jaya no. 40 Tebuireng Jombang, sebelah utara Pondok Pesantren MQ.

Perkembangan
Pondok Pesantren Darul Hakam.0003Waktu terus berjalan. Asrama Darul Hakam kian berkembang. Karena itu, setelah 5 tahun berjalan, sesuai dengan hasil musyawarah keluarga, pada tanggal 29 Mei 2006 asrama Darul Hakam berubah nama menjadi Pondok Pesantren Darul Hakam. Perubahan nama ini tentu saja mempengaruhi perubahan statusnya. Oleh karena itu, Kiai Hakam Kholiq kemudian menjadikannya sebagai yayasan, menjadi Yayasan Darul Hakam, dengan akta notaris Ramlan SH. Sp.N.
Selain bersekolah, para santri Darul Hakam juga melaksanakan kegiatan-kegiatan pengajian kitab secara rutin. Meskipun peraturan di pesantren ini tergolong tidak begitu ketat (bila dibandingkan pesantren sekitar), namun para santri lumayan aktif mengikui kegiatan pengajian. Pondok Pesantren Darul Hakam.0001Hal yang paling ditekankan di sana adalah salat berjamaah.
Kemudian pada hari jum’at, seusai salat jum’at di masjid Tebuireng, para santri Darul Hakam mengikuti acara tahlil bersama di makam keluarga besar Bani Hasyim Tebuireng, dipimpin langsung oleh Kiai Hakam Kholiq. Kegiatan ini dilakukan secara rutin seminggu sekali. Semenjak awal berdirinya hingga kini, Pondok Pesantren Darul Hakam diasuh oleh Kiai Hakam Kholiq. ()

 

 

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman 228-230

Pondok Pesantren Darul Hakam, Tebuireng

Pondok Pesantren Darul Hakam.0002 Pesantren ini pada awalnya hanyalah sebuah asrama/komplek tempat menampung para santri yang belum diterima di pondok sekitar. Mereka belum/tidak diterima di pondok sekitar karena belum memenuhi syarat-syarat tertentu. Jumlahnya lumayan banyak. Karena itu, untuk menampung mereka, maka pada tanggal 19 Pebruari 1991, KH. Abdul Hakam Kholiq (putra tunggal Kiai Kholiq Hasyim) berinisiatif mendirikan wisma tersebut, dan diberi nama Darul Hakam.
Para penghuni asrama Darul Hakam berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka dapat sekolah di mana saja. Rata-rata bersekolah di unit-unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng (SMP, MTs, MA, SMA). Kompleks Darul Hakam letaknya sangat setrategis; berada di pinggir jalan raya Jombang-Kediri-Malang, di antara Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an. Alamat lengkapnya ialah jalan Irian Jaya no. 40 Tebuireng Jombang, sebelah utara Pondok Pesantren MQ.

Perkembangan
Pondok Pesantren Darul Hakam.0003Waktu terus berjalan. Asrama Darul Hakam kian berkembang. Karena itu, setelah 5 tahun berjalan, sesuai dengan hasil musyawarah keluarga, pada tanggal 29 Mei 2006 asrama Darul Hakam berubah nama menjadi Pondok Pesantren Darul Hakam. Perubahan nama ini tentu saja mempengaruhi perubahan statusnya. Oleh karena itu, Kiai Hakam Kholiq kemudian menjadikannya sebagai yayasan, menjadi Yayasan Darul Hakam, dengan akta notaris Ramlan SH. Sp.N.
Selain bersekolah, para santri Darul Hakam juga melaksanakan kegiatan-kegiatan pengajian kitab secara rutin. Meskipun peraturan di pesantren ini tergolong tidak begitu ketat (bila dibandingkan pesantren sekitar), namun para santri lumayan aktif mengikui kegiatan pengajian. Pondok Pesantren Darul Hakam.0001Hal yang paling ditekankan di sana adalah salat berjamaah.
Kemudian pada hari jum’at, seusai salat jum’at di masjid Tebuireng, para santri Darul Hakam mengikuti acara tahlil bersama di makam keluarga besar Bani Hasyim Tebuireng, dipimpin langsung oleh Kiai Hakam Kholiq. Kegiatan ini dilakukan secara rutin seminggu sekali. Semenjak awal berdirinya hingga kini, Pondok Pesantren Darul Hakam diasuh oleh Kiai Hakam Kholiq. ()

 

 

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman 228-230

Pesantren Miftachussunnah, Surabaya

 Mengunjungi Pesantren Miftachussunnah Surabaya                       

Dengan llmu hidup lebih bermutu. Dengan agama hidup menjadi terarah. Orang yang tidak berilmu hidupnya sengsara. Maka, mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim. Itulah di antaranya tujuan Ponpes Misftachussunnah Surabaya.

Keberadaannya memang di pinggiran kota, namun kiprah Pesantren Miftachussunnah didalam memperjuangkan Islam sangatlah luar biasa. Aktivitas belajar mengajar ilmu-ilmu agama dan ketauhi- dan, dilakukan setiap hari di pesantren ini. Bila ingin meningkatkan kualitas hidup, datanglah dipesantren ini.

Seperti kebanyakan pondok pesantren pada umumnya. Didirikan di pinggiran suatu wilayah. Kesannya men­jadi pos penjaga keamanan wilayah tersebut. Memang, semua pesantren dibangun dengan tujuan untuk menjaga. Utamanya ketauhidan, dan mengembangkan Islam tujuan umumnya. Begitu juga Pesantren Miftachussunnah Surabaya ini.

Kawasan Tambaksari, yang di sini terdapat stadion sepak bola Gelora 10 November, dulunya merupakan pinggiran kota Surabaya. Kini wilayah ini padat penduduk, dan menjadi sentral kota. Di wilayah ini, ada pesantren tua yang pengasuhnya cukup terkenal di Jawa Timur. Yaitu Pondok Pesantren Miftachussunnah. Pesantren ini mudah ditemukan, karena letaknya .cukup strategis, di Jl Kedung Tarukan No. 100 Surabaya, Jawa Timur.

Pesantren ini didirikan oleh KH Miftakhul Akhyar, yang kini terpilih kembali menjadi Rois Syuriah NU Jawa Timur, periode 2013-2018. Tujuannya untuk menyebarkan Islam di kawasan Surabaya. Uniknya pesantren ini didirikan bertepatan dengan hari pahlawan dan lokasinya tak jauh dari lokasi GOR Gelora Sepuluh No­vember yakni 10 November 1982.

Menurut Jamal, pengurus pondok, awalnya KH Miftakhul Akhyar mengajak ngaji ma- syarakat sekitar di rumahnya. Pengajian dilakukan terus- menerus, begitu pula kegiatan keagamaan. Sehingga makip menarik minat masyarakat untuk belajar. Seiring berjalannya waktu, mulai berdatangan santri-santri yang berasal dari daerah, yang membuat rumah beliau tidak sanggup menampungnya. Hingga pada akhirnya mendorongnya untuk mendirikan pesantren. Sebagai badan hukumnya, didirikanlah Yayasan.

Selain sebagai pondok pesantren, yayasan ini juga mengembangkan pendidikan formal diantaranya Ma­drasah Diniyah, Ibtidaiyah, dan Tsanawiyah.”Berkat keimanan, ketakwaan, keuletan, keyakinan serta kebaktiannya kepada Allah SWT dengan penuh semangat fisabilillah, pondok pesantren ini telah mengalami berbagai macam kemajuan yang membangun hingga saat ini,”jelasnya.

Menurut Jamal, di pon­dok yang memiliki sekitar 150 santri mukim ini selain mewajibkan para santri mengikuti Madrasah, juga mengadakan pengajian kitab-kitab kuning sebagai basic penguasaan hasanah keilmuan klasik. Layaknya kebanyakan Ma­drasah di Indonesia, Madrasah Miftachussunnah juga mengajarkan beberapa disiplin ilmu ke Islaman, seperti Fiqih, tajwid, Aqidah Akhlak, Ilmu Alat (Nahwu-Sharaf), Balaghah Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits, dan ilmu Tasawuf untuk para santri kawakan.

Seiring dengan latar belakang berdirinya, pondok yang hingga kini masih eksis dan kuat dengan metode salafiyahnya, merupakan lembaga pendidikan yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dimana salah satu tujuannya melestarikan dan mengem­bangkan akhlaqul karimah, dan nilai-nilai amaliah sala-fushsholeh.

“Jadi, sasaran yang ingin kami capai adalah untuk mengisi jiwa (Aqlun, Qolbun, dan nafsun) dan memberi bekal kemampuan (Intelektual dan Kreativitas) kepada anak didiknya untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya,” jelasnya.

Karenanya santri secara intensif dibekali dengan berbagai keilmuan yang bersumber dari para ijtihad para ulama terdahulu. “Kitab kuning memang menjadi prioritas di pesantren ini, jika santri sudah -menguasainya maka tahapan selanjutnya akan mudah,” ujarnya.

Proses kegiatan belajar mengajar di ponpes ini juga menitik beratkan pada pelajaran-pelajaran Qowa’id, Shorof, dan Balaghoh. Dengan melestarikan metode bandongan, yakni ustad yang membaca sedangkan murid menyimak dan memberi syakal/harakat. “Insya Allah dengan metode tersebut santri akan cepat menguasai ilmu yang disam- paikan/’katanya.

Qleh karena itu, nama pesantren Miftachussunnah tidak dapat dipisahkan dari sosok kharismatik KH.Miftakhul Akhyar yang dipandang sebagai pesantren induk dan memberikan pengaruh luas bagi perkembangan pesantren dan kegiatan keagamaan islam lainnya di berbagai daerah. 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MUSPURMADANI. Edisi, 740