Situs Dadung Awuk, Kabupaten Tuban

Terletak di Desa Ngepon Kecamatan Jatirogo,di desa ini ter- dapat situs yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Situs Dadung Awuk.Situs sosial budaya Dadung Awuk terletak di petak 93 RPH Ngepon, BKPH Sale Perhutani KPH Kebonharjo. Situs ini berbentuk batu besar dengan tinggi sekitar dua meter yang dililit akar pohon grasak serta beberapa batu yang bentuknya menyerupai sapi, kerbau, kambing dan binatang ternak lainnya. Lokasi ini juga ditetapkan Perhutani KPH Kebonharjo sebagai kawasan biodiversity

Menurut Juru kunci Kasdan (60) warga asli Desa Ngepon, Kecamatan Jatirogo, Tuban, sejarah situs Dadung Awuk konon bermula pada masa sekitar runtuhnya kerajaan Majapait dan awal kejayaan kerajaan Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Patah. Pada masa itu para Sunan atau Wali sembilan juga tengah menyebarkan agama islam di tanah Jawa.

Alkisah, Sunan Ampel memerintah salah satu santrinya yang pilihan atau pinunjul untuk mengantarkan tabung bambu (bumbung) yang disumbat dengan daun lontar kepada Raden Patah.Sunan Ampel berpesan agar tidak boleh ada yang membuka bumbung itu selain Raden Patah. Nah, dalam perjalanan, sang murid pinunjul tergoda ingin mengetahui isi bumbung itu. Setelah sampai di daerah yang saat ini menjadi kawasan hutan Perhutani Kebonharjo petak 93 tersebut, gejolak hatinya tak dapat dibendung. Rasa ingin tahu isi bumbung itu semakin tinggi.

Mula-mula, ia mengintip isi bumbung itu. Tapi tak kelihatan benda apa yang ada di dalam. Tak dapat menahan rasa penasaran, sumbat bumbung yang berupa daun lontar itu pun dibukanya, dan apa yang terjadi?Ternyata dari bumbung keluar berbagai binatang, yaitu sapi, kerbau, kambing dan lainnya yang lantas berlarian masuk hutan. Terkejut, sang murid pinunjul itu pun kebingungan dan berusaha menangkap serta memasukannya kembali ke dalam bumbung.Ketika semakin masuk ke dalam hutan dalam kebing- ungannya itu, sang murid bertemu dengan Dadung Awuk, seseorang yang berkuasa di wilayah itu. Keduanya berselisih karena Dadung Awuk berpendapat bahwa binatang yang sudah masuk hutan di wilayahnya sudah menjadi miliknya. Sampai kemudian terjadi perkelahian hebat dan tak ada yang menang atau kaiah.

Singkat cerita, dengan kesaktian sang murid pinunjul, akhirnya Dadung Awuk dan semua binatang itu disabdakan menjadi batu. Namun setelah Dadung Awuk dan semua binatang berubah wujud menjadi batu, ia pun menyesal. Dalam penyesalannya, ia setiap hari memohon ampun kepada yang Tuhan Maha kuasa. Konon, sari kata “ampun” itu maka desa itu dinamakan Desa Ngepon.Sedangkan sumbat dari daun lontar menjadikan daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon lontar atau siwalan.Kirii, di sepanjang tepi jalan Bulu-Jatirogo banyak berjualan legen dan siwalan.

Sang murid pinunjul itu pun tak berani kembali ke Ampel dan akhirnya menetap di Desa Ngepon. Masyarakat memanggilnya Mbah Punjul dan akhirnya dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi situs Mbah Punjul.Sampai saat ini, masyarakat sekitar masih melestarikan situs tersebut. 242-243

Situs Gua Gembul, Kabupaten Tuban

Gua Gembul terletak di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, barat daya kota Tuban. Menurut cerita rakyat yang beredar di masyarakat luas, dulu gua itu tempat persembunyian Brandal Lokajaya atau Raden Mas Syahid (kemudian bernama Sunan Kalijaga), putera Bupati Wilatikta Tuban, sewaktu masih gernar bertingkah sebagai seorang penyamun. Cerita lain mengatakan gua itu tempat berkumpul dan bermusyawarah para wali (Wali Songo).

Menurut keterangan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa di Gembul dulunya pernah dipakai sebagai tempat berkumpulnya tentara rakyat yang dipimpin Sunan Bonang dengan panglimanya Sayyid Abdurrahman yang terkenal dengan nama Ki Ageng Ganjur (masih leluhur Gus Dur). Ki Ageng Ganjur hidup saat Kerajaan Majapahit akan jatuh. Dulu berkumpulnya di Gembul. Ia diberi nama Ki Ageng Ganjur, konon ia menggunakan “genjur” yaitu sejenis alat gamelan untuk mengomando pasukan. Ki Ageng Ganjur ini ditunjuk sebagai panglima perang Wali Songo sebab ia paling mahir membuat jembatan. Disamping itu, tentara Wali Songo yang akan menyerbu Majapahit itu harus menyeberangi dua sungai besar, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Ki Ageng Ganjur ini, meski sudah jadi penglima perang, namun ia dalam perjuangannya tetap melanjutkan adatnya para ulama di Tanah Jawa. Ulama itu tradisinya membentuk kekuatan sendiri di masyarakat.Sekarang beliau dimakamkan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah).Demikian keterangan Gus Dur pada saat menjadi Presiden Republik Indonesia hadir dalam acara Haul Buyutnya KH Asy’ari yang dimakamkan di Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang, tahun 2001.Haul diadakan di Pesantren Al Asy’ari Jombang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm.

Situs Makam Ki Ageng Jabung

Makam Ki Ageng Jabung terletak di Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Obyek utamanya adalah makam ulama penyebar agama Islam dari negeri Persia yang bernama Sayyid Abdurrahman. Beliau merupakan tokoh agama sekaligus ahli nujum pada zaman kerajaan Mojopahit.

Ditemukan pertama kali pada tahun 1910 oleh tokoh masyarakat setempat yang bernama KH Nawawi. Tidak jauh dari lokasi terdapat Candi Grinting, Situs Makam Jago Panjilaras, Situs Umpak Batu dan Yoni Lebak Jabung.

Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada saat malam Jumat Legi dan setiap malam tanggal 15 bulan Ruwah diadakan acara haul sekaligus ruwat desa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011, hlm. 22

Situs Kubur Panjang

Peninggalan bersejarah ini berupa makam yang letaknya tidak jauh dari Makam Putri Campa, sekitar 100 meter ke arah timur. Tepatnya di Dusun Unggah-unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Makam ini bahan bangunannya terbuat dari batu gilang dengan berukuran panjang 50 cm, sedangkan lebarnya 35 cm, serta ketebalannya 10 cm.  Situs tersebut berangka tahun 1230 Saka atau 1281 Masehi.

Pertama kali ditemukan pada tahun 1900 M. Pada batu tersebut terdapat tulisan berhuruf jawa kuno berikut angka tahun yang berbunyi: “Pangadegning Bodii 1203”, yang artinya pada tahun 1203 Saka (sebelum Majapahit) terdapat peristiwa penanaman pohon Bodhii atau beringin.

Seperti makam kuno lainnya, kubur panjang sering dikunjungi peziarah terutama pada malam jumat kliwon.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011. hlm. 18

Candi Sumur Gantung, Kabupaten Mojokerto

Candi Sumur Gantung Terletak di Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Fisik candi berupa tumpukan batu bata setinggi 3 meter.

Pada bagian atas terdapat lubang sumur persegi dengan panjang sisi 120 cm. sekitar tahun 1940-an lubang tersebut masih mengeluarkan air, tetapi sekarang sudah kering. Konon, menurut cerita rakyat, tersebutlah Adipati Bulu yang mempunyai seorang putri.

Kecantikan putri ini sangat tersohor, sehingga menarik minat seorang petinggi kerajaan Majapahit untuk memperistri. Sang putri mengajukan syarat, sang petinggi harus mampu membuat sumur yang airnya lebih tinggi dari permukaan air dan permukaan sungai.

Demi memperoleh cinta Sang Putri, maka dibuatlah sebuah sumur dikelilingi pohon besar yang dinamakan Sumur Gantung. Terlepas dari benar tidaknya cerita rakyat ini, jika dulu sumur ini pernah mengeluarkan air, berarti pada masa majapahit mengenal tehnologi sumur artesis atau sumur resapan. Ini membuktikan bahwa disamping sistim kanal dan waduk, Majapahit telah menguasai tehnik hidrologi bangunan air.

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011.hlm.13