Bentuk dan Tata pemakaian Kain Tradisional Tuban

gb-126aBentuk Kain Tradisional Tuban
Baik kain lurik maupun kain batik Tuban, umumnya berbentuk/flrif (kain panjang) dengan ukuran ± (1 x 2,5 m), dan berbentuk kain sarung ± (1 x 2 m). Sayut, istilah setempat untuk selendang kebanyakan di batik, dengan ukuran yang sangat panjang ± (3 x 0,5 m), yang dipakai sebagai pembawa barang. Ikat kepala biasanya terbuat dari batik

gb-126bTata pemakaian kain Tuban
Di daerah ini sebetulnya terdapat pula tata aturan tentang pemakaian kain lurik maupun batik, sejalan dengan tingkat sosial masyarakatnya, yang dahulu dilaksanakan dengan ketat. Antara lain aturan pemakaian ini adalah sebagai berikut:

  • Batik lurik dipakai oleh rakyat biasa.
  • Lurik kentol dan lurik kembangan (pakan tambahan) diperuntukan bagi kaum terpandang dan menengah, mungkin dikarenakan kedua kain lurik ini lebih rumit dan lama proses pengerjaannya.
  • Corak kain lurik horisontal sejalan dengan arah benang pakan dipakai kaum wanita, serta yang vertikal sejalan dengan arah benang lungsi untuk kaum pria, sedangkan corak cacahan (kotak-kotak) untuk pria dan wanita. Berbagai aturan ini sekarang tidak dipegang teguh lagi.
  • Kain batik bermutu tinggi, yang halus mengerjakannya, diperuntukan bagi kaum terpandang dan menengah. Mereka yang tergolong kaum terpandang ada­lah penduduk keturunan penetap pertama, yang pada umumnya adalah pe- milik tanah.

gb-126bWarna dan tata warna tradisional kain lurik maupun kain batik Tuban terbatas pada warna biru tua/hitam (indigofera), merah mengkudu (morinda citrifolia), putih dan krem (warna asli kapas). Pada warna dan tata warna kain lurik Tuban belum banyak terlihat perubahan, meskipun sudah ada juga yang dicelup dengan menggunakan warna sintetis, namun masih berkisar pada warna biru tua, hitam, merah dan putih. Sedangkan pada kain batik Tuban perubahan warna sudah banyak terlihat, baik dalam jenis warna, nuansa warna maupun tata warnanya, yang pada umumnya didapat dengan pemakaian warna sintetis.

—————————————————————————————–Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarta: Djambatan, 2000
hlm.: 113-114

Teknik Menenun Di daerah Tuban

Teknik Menenun Pakan Tambahan

Di daerah Tuban orang masih menenun lurik pakan tambahan dengan alat tenun gendong, serta pada umumnya mereka masih mempergunakan benang pintal tangan. Pada hakekatnya tenunan pakan tam­bahan adalah tenunan polos (Gb.A) yang sekaligus merupakan tenunan dasar, yang dihias dengan diberi/ditambah benang pakan tambahan (Gb.B).gb-agb-bgb-c

Caranya adalah dengan jalan memasukan/menyisipkan benang pakan tersebut (Gb.B; Pt.l, Pt.2, Pt.3, dan seterusnya) di antara benang pakan dari tenunan dasar (Gb.B; PI-P2; P2-P3, P3-P4, dan seterus­nya), menurut corak yang diinginkan. Be­nang pakan tambahan secara bergiliran di- sisipkan sekali di atas beberapa benang lungsi (Gb.B; LI, L2, L3) dan sekali diba- wahnya (Gb.B; L4,L5,L6), dan seterusnya, sesuai corak yang diinginkan. Dengan demikian terlihat benang pakan tambahan sekali berada di atas permukaan tenunan dasar, sekali di bawahnya (Gb.C).

gb-dgb-eSebelum menenun, benang-benang lungsi yarig akan berada di atas dan di bawah benang tambahan dipisahkan terlebih dahulu sesuai corak dengan lidiidi (Gb.D). Pada saat benang pakan tambahan akan dimasukkan, terlebih dahulu lidi yang bersangkutan diganti dengan liro (bambu atau kayu pipih) yang kemudian ditegakkan, sehingga membentuk rongga (Gb.E), di antara mana benang pakan tam­bahan tersebut dimasukan.

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 112-113