Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Makam Tebuireng, Makam Wali ke-10

Makam tebuireng.0001Suatu ketika ada seorang kakek tua yang tidak dikenal nama dan asalnya, datang ke dusun Tebuireng. Ia beristirahat melepas lelah di bawah pohon, di tepi lorong kecil dekat sebuah sungai. Ternyata kakek tua itu jatuh sakit hingga berhari-hari lamanya. Ia hanya pasrah kepada Allah SWT dengan penuh khidmah dan kesabaran.
Di kala penyakitnya semakin parah, datanglah seorang penduduk dusun setempat untuk mengurus dan merawat kakek tua itu. “Nak, kalau daun hayatku telah gugur dan ajalku telah sampai\ sudilah kiranya engkau menanamku (menguburkanku) di semak belukar sebelah timur dari tempatku ini. Sebab, kelak entah berapa belas tahun atau puluban tahun kemudian akan berdiri sebuab tempat pengajian besar yang harum sampai he segala penjuru.” Tak lama setelah kakek tua itu mengucapkan pesan singkatnya, beliau pun berpulang ke rahmatullah. Inna liLlabi wa inna ilayhi rajiun. Konon, kakek tua itulah orang pertama yang dimakamkan di wilayah pemakaman Tebuireng.
Makam tebuireng.0002Kini, ramalan kakek tua misterius itu telah menjadi kenyataan. Tempat pengajian besar yang namanya harum ke segala penjuru itu, sekarang bernama Pesantren Tebuireng. Di dalamnya terdapat makam para kekasih Allah Swt. (Makam Tebuireng), yang setiap hari diziarahi oleh 2 ribuan manusia dari berbagai penjuru Nusantara.
Makam Tebuireng merupakan tem¬pat dimakamkannya keluarga besar hadra- tus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari. Lokasi- nya berada tepat di tengah-tengah Pondok Pesantren Tebuireng. Para pengasuh Tebu¬ireng dan anggota keluarga serta tokoh- tokoh Tebuireng lainnya yang telah wafat, dikebumikan di sana. Tepat di sisi barat kompleks pemakaman, berdiri gedung Wisma Hadji Kalla berlantai tiga, lalu di sebelah utaranya berdiri Wisma Suryokusumo berlantai dua dan di sebelah selatan Gedung KH. M. Ilyas berlantai 3.
Para tokoh yang dimakamkan di Makam Tebuireng antara lain; hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Ny. Hj.Nafiqoh (istri), KH.A. Wahid Hasyim dan Ny.Hj. Solechah (istri), KH. Abdul Kholik Hasyim, KH. Ma’shum Ali (pengarang kitab shorof Amtsilatus Tasbrifiyyab) dan Ny.Hj. Khoiriyah Hasyim (istri), dan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Makam tebuireng.0003Sejak dahulu, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk para peneliti,
akademisi, dan pemerhati pesantren baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kiprah perjuangan hadratus syeikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahid Hasyim rupanya sangat menarik perhatian mereka untuk
mengunjungi makam Tebuireng.
Setelah wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, makam Tebuireng semakin ramai dikunjungi peziarah. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari abang becak, pedagang, santri, kiai, pendeta, pastur, biksu, pengusaha, aktivis, artis, seniman, pejabat daerah dan pusat, termasuk para diplomat asing. Pada hari pemakaman Gus Dur tanggal 31 Desember 2009, ratusan ribu pelayat tumplek blek memenuhi area
pesantren Tebuireng dan sekitarnya. Bahkan banyak yang rela berjalan kaki puluhan kilo meter dari kota Jombang menuju Tebuireng. Jalur bis terpaksa dialihkan karena jalan raya di depan Pesantren Tebuireng sepanjang kurang lebih 7 (tujuh) kilometer penuh sesak oleh peziarah.
Makam tebuireng.0004Pemandangan yang sama juga terjadi pada peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1 tahun wafatnya presiden ke 4 Republik Indonesia itu. Areal Pondok Pesantren Tebuireng penuh sesak dengan peziarah. Jalan raya macet total meskipun pada malam harinya hujan turun cukup deras. Apalagi sebelum peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur, di Tebuireng diadakan acara khataman al-Qur’an seribu majelis yang dikuti oleh 3.500an hafidz dan hafidzah dari seluruh Indonesia. Khataman al-Qur’an yang memecahkan rekor MURI itu diselenggarakan oleh pengurus Jam’iyyatul Qurra’ wal Khuffadz bekerjasama dengan PP. Madrasatul Qur’an Tebuireng. Praktis, seluruh areal Pondok Pesantren Tebuireng menjadi lautan manusia.
Pada hari-hari biasa, makam Tebuireng juga tidak pernah sepi pengunjung. Para peziarah datang silih berganti, ada yang datang berombongan dengan mengendarai bis, mobil besar, bahkan truk dan pick-up. Ada pula yang datang dengan mobil pribadi. Kepadatan semakin meningkat pada akhir pekan seperti hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu, termasuk pada hari-hari libur nasional.
Kondisi ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Mereka membuka kios-kios semi permanen di sepanjang jalan menuju makam. Gang-gang di sekitar pondok disulap menjadi pasar dadakan. Beraneka barang dagangan ditawarkan, mulai dari dodol, krupuk, buah-buahan, buku, kaos, hingga aksesoris-aksesoris bergambar Gus Dur.
Makam tebuireng.0006Tempat parkir bis dibangun di sebelah barat Masjid Ulul Albab, tepat di depan Pondok Putri Tebuireng. Jembatan tua yang terletak di gerbang masuk areal parkir yang sempat retak gara-gara terlalu sering dilewati bis, kini dibangun dengan cor beton yang kokoh. Bangunan MCK juga disediakan di ujung barat tempat parkir. Praktis, Pondok Pesantren Tebuireng kini telah menjadi salah satu tujuan wisata religi bersama Wali Songo. Sehingga, makam masyayikh Tebuireng (khususnya Gus Dur) oleh para peziarah disebut sebagai Wali Kesepuluh.()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 203-208

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari, Tebuireng

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0001Ma’had Aly Hasyim Asy’ari merupakan lembaga pendidikan tinggi setingkat S1, setara dengan perguruan tinggi yang diselenggarakan Departemen Agama. Didirikan pada 6 September 2006 atas prakarsa (aim) KH. Muhammad Yusuf Hasyim dan dilestarikan oleh Gus Solah. Dengan prinsip melahirkan generasi Khairu Ummah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menyelenggarakan studi-studi agama secara mendalam melalui perpaduan sistem pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi modern. Dari sini diharapkan akan lahir para intelektual muslim yang memiliki akhlaqul karimah dengan kadar intelektualitas global.
Program studi dijalani selama 4 (empat) tahun. Setiap tahun terdiri dari 2 (dua) semester. Kurikulum disusun sesuai dengan 5 program kekhususan ilmu keagamaan. Yaitu (1) Program pendalaman tafsir, (2) Hadits, (3) Fiqih dan Ushul Fiqih, (4) Gramatika Arab dan Inggris, (5) Akhlaq dan Tasawuf
Proses belajar-mengajar seluruhnya disampaikan dalam Bahasa Arab dan Inggris. Program belajar meliputi dirasah yaumiyyah (kuliah harian) dengan metode ceramah dan dialog interaktif, studi kepustakaan literatur klasik, muhadatsah/speaking, penugasan penulisan ilmiah, kegiatan extra, mudzakarah, bahtsul masail fiqhiyyah-maudluiyyah- waqi’iyah, dan kajian khusus terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan dosen bidang studi. Rata- rata dosen Ma’had Aly adalah lulusan Timur Tengah dengan stratifikasi S-2 (Magister) dan S-3 (Doktoral).
Para calon mahasiswa diharuskan memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu untuk dapat diterima sebagai mahasiwa Ma’had Aly, diantaranya telah lulus pendidikan serendah-rendahnya Madrasah
Aliyah, memiliki kemampuan dasar dalam bidang ilmu yang akan menjadi pilihan spesialisasinya, memiliki wawasan yang luas tentang khazanah keilmuan Islam, dan lulus tes.
Jumlah mahasiswa yang diterima dibatasi sebanyak 30 orang, dibebaskan dari uang SPP, uang ujian semester, dan uang asrama. Selama masa studi, mahasiswa diharuskan tinggal di asrama Ma’had Aly.
Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0002Untuk menunjang keberhasilan program studinya, Ma’had Aly menyediakan sarana dan fasilitas, antara lain asrama mahasiswa, gedung perkuliahan, perpustakaan, komputer analisis data, televisi channel luar negeri dengan perangkat parabola, dan lain-lain.
Selain kegiatan rutin perkuliahan, para mahasiswa Ma’had Aly juga dibekali dengan berbagai kegiatan ekstra seperti diskusi mingguan yang diselenggarakan BEM, kemudian stadium general yang diadakan setiap tahun, juga kegiatan temporal seperti seminar, lokakarya, dan workshop dengan pembicara tokoh-tokoh nasional, juga penerbitan buletin, website, khataman al-Qur’an, kegiatan diba’iyyah, dan sebagainya.
Sebagian besar mahasiswa Ma’had Aly aktif mengajar di beberapa lembaga pendidikan, baik di Tebuireng maupun di sekitar Tebuireng. Sebagian lagi menjadi Pembina santri (putra-putri), pengajar al-Qur’an (■qoritutor Bahasa Arab, Redaktur Majalah, penulis buku, aktivis LSM, dan sebagainya. Secara umum, keberadaan mahasiswa Ma’had Aly memberi pengaruh yang cukup positif bagi pengembangan keilmuan di berbagai lembaga yang mereka tempati. Di sana, mereka mampu memberi warna dan corak khas pesantren; berilmu dan berakhlak. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 180-183

Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyyah (MASS), Tebuireng

Madrasah Aliyah Tebuireng.Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng merupakan unit pendidikan formal tertua nomor dua (setelah MTs) yang berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Ide awal pendirian madrasah ini sudah dimulai sejak masa kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari, lalu disempurnakan pada masa KH. Wahid Hasyim dengan nama Madrasah Nidzamiyah, dan diformalkan pada masa kepemimpinan
KH. Kholik Hasyim (tahun 1962) dengan nama Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS).
Hingga kini, MASS Tebuireng sudah banyak melahirkan lulusan- lulusan berprestasi di berbagai bidang, dan tersebar luas di seluruh pelosok nusantara. Para siswa MASS Tebuireng berasal dari berbagai daerah dengan dasar pendidikan Tsanawiyah maupun SLTP. Tenaga pengajar MASS sebagian besar bersertifikasi sarjana strata satu (S-l) dan magister (S-2) berbasic pesantren. Dengan aset berupa sumber daya manusia yang besar, MASS Tebuireng terus berupaya meningkatkan kualitasnya sesuai perkembangan zaman, dengan harapan akan mampu melahirkan generasi intelektual muslim yang berkualitas, berwawasan global, berdedikasi tinggi, dan berakhlakul karimah.
Sejak tahun pelajaran 1997-1998, MASS Tebuireng mendapat status Disamakan, berdasarkan SK Dirjen Binbaga Depag RI No. 25/E IV. PP.03.2/KEP/III/97 dan Terakreditasi “A” pada tahun 2005. Pada tahun 1997-1998 meraih juara pertama MA Swasta Teladan tingkat propinsi Jawa Timur.
Sejak tahun ajaran 1993-1994, MASS Tebuireng yang sebelumnya telah memiliki dua jurusan (IPA dan IPS), membuka dua jurusan baru yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) dan Jurusan Salaf. Jurusan
MAK difokuskan pada pendalaman dan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris secara aktif. Menggunakan kurikulum Depag dan takhassus pesantren dengan komposisi pelajaran agama 70% dan pelajaran umum 30%. Lulusannya diproyeksikan mampu melanjutkan ke perguruan tinggi di Timur Tengah maupun perguruan tinggi di dalam negeri.
Sedangkan jurusan Salaf dititiktekankan pada penguasaan gramatika Arab seperti Nahwu, Shorof, Balaghah, dan pendalaman kitab-kitab fiqh klasik-kontemporer melalui kegiatan bahtsul masail, tutorial, sorogan, dan lain sebagainya. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Jurusan ini diproyeksikan dapat melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi Islam baik di dalam maupun luar negeri.
Kemudian program IPA dan IPS diproyeksikan bagi mereka yang memiliki minat mendalami ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu eksakta, didukung dengan ilmu-ilmu keagamaan yang memadai. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum.
Hingga kini, keempat jurusan tersebut (MAK, Salaf, IPA, IPS), menjadi ikon utama keberadaan MASS Tebuireng.
Untuk meningkatkan kualitas siswa di berbagai bidang, MASS Tebuireng menambah kegiatan-kegiatan ekstra, seperti pengajian kitab- kitab Islam klasik (kitab kuning), Komputerisasi kitab kuning (CD Program), pelatihan Keorganisasian, Kepemimpinan, Pelatihan Dakwah, pers, olah raga, pramuka, seni bela diri dan musik, forum kajian ilmiah santri, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Tebuireng English and Arabic Club (TEAC, khusus siswa MAK), Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF, khusus siswa Salaf).
Sarana penunjang yang kini dimiliki MASS Tebuireng antara lain Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Aula, sarana Olah Raga dan Kesehatan.
Pada tanggal 9 Agustus 2008, Perpustakaan KH. Muhammad Ilyas diresmikan penggunannya. Perpustakaan berlantai dua sumbangan keluarga besar mantan Menteri Agama KH Muhammad Ilyas itu, menambah lengkapnya sarana penunjang proses belajar-mengajar di MASS Aliyah Tebuireng.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 165-170

Orkes Gambus el-Fataa, Tebuireng

El-Fataa...
Untuk menunjang tumbuhnya kreatifitas seni santri, terutama di bidang seni musik islami, maka Pesantren Tebuireng mendirikan sebuah Group Orkes Gambus yang diberi nama El-Fataa. Personel Group Gambus yang berdiri tahun 2003 ini, terdiri dari para santri senior, pengurus, santri, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Personel El-Fataa berjumlah 20-an orang.
Suguhan musik cantik yang bernuansa islami dari el-Fataa seringkali membuat para hadirin terdecak kagum. Olah vokal musisinya dan aransment yang memadukan alat musik tradisional dan modern, membuat alunan lagu el-Fataa terasa merdu di telinga dan syahdu di dada. Selain untuk mengembangkan bakat seni, tujuan pendirian group musik ini adalah untuk menjalin silaturrahim dengan masyarakat serta
memperkenalkan kesenian Pesantren Tebuireng kepada mereka. Tahun 2010, el-Fataa meluncurkan album perdana.
Sejak awal berdirinya hingga sekarang, El-Fataa sering tampil dalam berbagai kegiatan baik di Pesantren Tebuireng maupun di daerah-daerah lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 148

Unit Penerbit Tebuireng

Unit Penerbitan didirikan pada tanggal 1 Januari 2007, merupakan lembaga yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual santri melalui penerbitan majalah, bulletin, dan buku.
Pustaka Tebuireng.0001Pada awalnya, Unit Penerbitan hanya menerbitkan (kembali) Majalah Tebuireng; majalah yang pernah eksis di tahun 1980-an dan berhenti terbit akibat kendala teknis. Pada masa kepemimpinan Gus Solah, majalah tersebut diterbitkan kembali secara berkala dan edisi perdananya mulai terbit pada bulan Juli 2007.

Personil pertama Majalah Tebuireng berjumlah tujuh orang dengan latar belakang yang beragam; mahasiswa, guru, pembina. Para penulis buku juga berasal berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar Pesantren.
Kini, Unit Penerbitan telah mengelola tiga divisi di bawahnya, yaitu Divisi Majalah, Divisi Buletin, dan Divisi Penerbit Buku. Pada pertengahan 2007, Unit Penerbitan juga mengelola Divisi SMS Dakwah, yang menangani pengiriman sms dakwah Gus Solah, bekerjasama dengan PT. Benang Komunikasi Infotama (B-comm) dan PT. Telkomsel Indonesia Tbk.

Pustaka Tebuireng.0003Sedangkan Divisi Penerbit Buku yang diberi nama Pustaka Tebuireng, kini telah menerbitkan puluhan judul buku bertema sosial, pendidikan, dan keagamaan. Buku yang sedang berada di tangan Anda ini, merupakan salah satu produk Pustaka Tebuireng.
Para penulis yang berkeinginan menerbitkan tulisan di Majalah Tebuireng, atau menerbitkan buku melalui Pustaka Tebuireng, bisa datang langsung ke kantor atau menghubungi lewat email majalahtebuireng@yahoo.co.id dan pustakatebuireng@yahoo.co.id.

Pustaka Tebuireng..

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. Halaman 190-191

Pondok Pesantren Putri Wali Songo, Tebuireng

Ponpes WalisongoMasa Pembentukan (1951 – 1952)
Pada awal abad ke 20, orang yang belajar di pondok pesantren (santri), umumnya adalah kaum laki-laki. Tidak ada budaya perempuan mondok. Namun seiring perkembangan zaman, budaya itu lambat laun berubah. Beberapa pesantren mulai membuka pondok putri, seperti Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri. Sedangkan Pesantren Tebuireng saat itu belum melakukannya, meskipun tidak sedikit perempuan yang berniat mondok di sana. Sebagai gantinya, Kiai Hasyim meminta Kiai Adlan Aly (adik kandung Kiai Ma’shum Aly Seblak) untuk membuka pondok putri di desa Cukir.
Kiai Adlan Aly kemudian mengumpulkan beberapa orang terkemuka di Desa Cukir dan beberapa Pimpinan Madrasah Ibtidaiyah di sekitar Kecamatan Diwek. Pertemuan itu menyepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan khusus putri kemudian dinamakan Madrasah Mu’allimat. Peristiwa bersejarah tersebut dilakukan pada malam hari di tahun 1951.
Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, KH. Adlan Aly menjalani tugas mengajar dengan dibantu beberapa orang guru, seperti KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang Jombang), Kholil Mustofa (Tebuireng), K. Abu Hasan (Kayangan Jombang). Mereka bekerja tanpa pamrih, termasuk pamrih materi. Tempat belajarnya di rumah KH. Adlan Aly, dengan waktu belajar sore hari. Kurikulumnya 100 % pelajaran agama. Siswi pertama berjumlah 30 orang, berasal dari Desa Cukir dan sekitarnya. Mereka bersekolah secara gratis.

Masa Perkembangan (1952 – 1967)
Satu tahun kemudian, KH. Adlan Aly menambah gedung baru yang terbuat dari bambu, karena semakin banyaknya siswi yang belajar. Sejak saat itu, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan pada pagi hari. Untuk siswi yang berasal dari luar daerah dibuatkan asrama khusus. Asrama tersebut ditempatkan di rumah KH. Adlan Aly dan kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Walisongo.
Pada tahun 1955 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan pada tahun 1957 jenjang pendidikan kelasnya genap menjadi enam kelas.
Mulai tahun 1958, atau tujuh tahun setelah berdirinya, dibangunlah gedung sekolah permanen dengan dinding dari batu merah (tidak terbuat dari bambu lagi). Seluruh dana pembangunan berasal dari uang pribadi KH. Adlan Aly. Beliau menyewakan sawahnya selama tujuh tahun untuk membiayai pembangunan gedung tersebut.
Kurikulum pun ditambah dengan materi pelajaran umum, dengan prosentase 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Ditambah pula dengan satu kelas persiapan yang lazim disebut “Voor Klas”. Kelas ini disiapkan untuk siswi-siswi lulusan SD atau SMP yang umumnya belum mengenal pelajaran Agama. Sejak saat itu mulai ada bantuan Guru Negeri dari Pemerintah.
Karena semakin membludaknya siswi, maka pada tahun 1968 dibangunlah lantai II dari lokal kelas yang sudah ada. Salah seorang yang membantu proses pembangunan itu adalah Bupati Jombang, Isma’il. Kemudian didirikan pula Taman Kanak-kanak yang menjadi sa¬lah satu unit pendidikan di Madrasah Mu’allimat
Mulai Tahun Ajaran 1976-1977, Madrasah Mu’allimat VI Tahun dirubah menjadi 2 jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu pada Tahun Ajaran 1990-1991, diadakan ujian lisan membaca kitab kuning guna meningkatkan penguasaan siswi terhadap literatur berbahasa Arab.
Pada hari Sabtu, 6 Oktober 1990 (17 Robi’ul Awwal 1441), pendiri Madrasah Putri Mu’allimat, Kiai Adlan Aly, berpulang ke Rahmatullah. Madrasah Mu’allimat berduka.

Kondisi Terkini
Kini, unit-unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Badan Wakaf KH. Adlan Aly meliputi :
(1) Madrasah Ibtidaiyah,
(2) Madrasah Tsanawiyah,
(3) Madrasah Aliyah,
(4) Pondok Pesantren Wali Songo.

Pondok Pesantren Wali Songo kini mengelola 4 unit pendidikan, yakni:
Madrasah Diniyah,
Madrasah Dirasat al-Qur’an,
Madrasah Hifdz al-Qufan, dan
Syubat al-Lughat al-Arabiyyah.

Kegiatan Madrasah Diniyah wajib diikuti oleh semua santri. Tujuannya agar mereka mampu membaca dan memahami kitab kuning serta menguasai ilmu-ilmu agama lainnya. Madrasah Dirasat al-Qur’an juga wajib diikuti oleh semua santri. Di sana mereka digembleng untuk menguasai dasar-dasar membaca al-Qur’an binnadhar, mulai juz 1 s/d 30. Sedangkan Madrasah Hifdz al-Qur’an membina santri menghafal al-Quran serta mendalami ilmunya, kemudian Syubat al-Lughat al-Arabiyyah membina santri agar menguasai percakapan Bahasa Arab secara aktif, sifatnya tidak wajib. Dua program itu hanya bagi yang berminat saja.
Untuk mendukung suksesnya proses belajar-mengajar di pondok maupun di madrasah, maka diadakan kegiatan-kegiatan penunjang seperti pelatihan jurnalistik, media penulisan kreatifitas santri, pelatihan dan kursus-kursus seperti English Conversation dan Life Skill (budidaya cabe, tomat, jamur tiram, dll.), pelatihan seni qosidah, taghanni al-Qur’an, kaligrafi, dekorasi, pidato, dll., serta pelatihan Bahtsul Masail Diniyah dan istighatsah dwi bulanan.
Secara umum, baik Pondok Pesantren Wali Songo maupun Madrasah Mu’allimat, kini telah berkembang cukup pesat. Apalagi kegiatan belajar- mengajar kini didukung dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai, seperti dibangunnya poliklinik al-Syi’fa’, yang memberikan pelayanan kepada santri dan masyarakat; kemudian Koperasi Pondok Pesantren, yang menyediakan berbagai kebutuhan harian santri seperti sabun, buku, kitab, dll.; Warung Telekomunikasi dan Warung Internet; Laboratorium Bahasa; Laboratorium Komputer; Laboratorium MIPA; Laboratorium Audio Visual; Studio Siaran (Radio Mu’allimat FM); Perpustakaan; dan Ruang Pelatihan (produksi border, jamu, sari kedelai, budidaya tomat, jamur, dll.). ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 221-224

 

Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (MQ), Tebuireng

Ponpes MQ.0001Masa pembentukan
Embrio kelahiran Madrasatul Qur’an sebenarnya sudah ada sejak masa Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan al-Qur’an. Beliau sangat mencintai orang yang hafal al-Qur’an (hafidz). Konon, pada Bulan Ramadhan tahun 1923, para santri Tebuireng telah secara bergiliran menjadi imam salat tarawih dengan bacaan al-Qur’an bil-hifdzi (dihafalkan) sampai khatam. Sayangnya, sistem hafalan al-Qur’an di Tebuireng saat itu belum terorganisasi dengan baik karena belum ada lembaga khusus yang
menanganinya. Kondisi ini terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Kiai Kholik Hasyim.
Pada masa kepemimpinan Pak Ud, tepatnya tahun 1971, rencana pendirian lembaga pendidikan al-Qur’an dimatangkan. Ada 9 orang kiai yang dilibatkan dalam rencana tersebut. Hasilnya, pada tanggal 27 Syawal 1319 H., atau 15 Desember 1971 M, lembaga itu secara resmi berdiri dengan nama Madrasatul Huffadz.

Pada tahun pertama, santrinya berjumlah 42 orang dan diasuh oleh Kiai Yusuf Masyhar, menantu Kiai Ahmad Baidhawi. Sesuai dengan namanya, lulusan lembaga ini diarahkan untuk menjadi kader penghafal al-Quran sekaligus mendalami ilmunya. Semula, Madrasah Huffadz bertempat di rumah Kiai Wahid, bagian barat Pesantren Tebuireng (sekarang kediaman KH. Musta’in Syafi’i). Kemudian mulai tahun 1982, lokasinya dipindah ke belakang rumah peninggalan Kiai Baidhawi dengan tanah waqaf dari beliau.
Dari tahun ke tahun madrasah ini berkembang cukup pesat. Setelah dilakukan pemekaran, Madrasatul Khuffadz secara struktural terpisah dari Yayasan Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng. Kini, jenjang pendidikannya meliputi Madrasah I’dadiyah (Persiapan), Tsanawiyah, SMP al-Furqon, dan Madrasah Aliyah, dan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng. Kini, MQ telah mengelola unit-unit seperti: Unit Tahfidz, Unit Sekolah, Unit Pondok, Unit Perpustakaan, Biro Santunan, Unit Sarana dan Keuangan.

Program Binnadliar (non-hafalan)
Program ini dikhususkan bagi mereka yang belum dapat mengambil program tahfidz karena belum memenuhi syarat. Di dalamnya terdapat empat tingkatan:

1) Tingkat mubtadi9 (pemula); yakni mereka yang belum mampu membaca al-Qur’an dan atau belum mempunyai dasar- dasar fashahah.
2) Tingkat mutawassith (menengah); sudah lancar membaca dan menguasai dasar- dasar fashahah, namun belum bisa membedakan ciri-ciri
huruf dan cara melafadkannya.
3) Tingkat Muntadbir; sudah lancar membaca dan fasih, namun kurang menguasai waqof, ibtida\ serta musykilat al-ayat. Dan
4) Tingkat Maqbul; tingkat dimana santri tinggal menempuh qira’ah muwahhadah (standar MQ).
Ponpes MQ.0002Program Tahfidz (menghafal al-Quran).
Program ini dibagi menjadi dua fase, yakni Qira’ah Masyhurah (bacaan al-Qur’an populer) dan Qira’ah Sab’ab (tujuh bacaan al-Qur’an riwayat dari tujuh orang Imam). Kedua fase ini terlebih dahulu harus melewati fase dasar (qira’ah muwahhadah) bagi yang belum memenuhi syarat untuk menghafal.

Qira’ah Masyhurah; yakni bacaan umum al-Qur’an yang diriwayatkan oleh sepuluh orang Imam. Untuk sampai pada fase ini, santri diwajibkan baik bacaan al-Qurannya, sesuai dengan qira’ah muwahhadah standar MQ. Sistem pembinaannya meliputi setoran hafalan, pembinaan fashahah, dan mudarasah kelompok. Setoran hafalan dilakukan setiap hari, dengan memperdengarkan hafalan kepada instruktur masing-masing. Setoran fashahah dilakukan dengan memperdengarkan bacaan kepada pembina masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. Sedangkan mudarasah kelompok dilakukan dengan membagi santri tiga-tiga dan setiap hari memperdengarkan hafalannya kepada teman sekelompoknya secara bergilir. Bagi yang telah menyelesaikan program ini akan diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ah Masyhurah (S.Q.I).

Qira’ah Sab’ah; fase ini dikhususkan bagi mereka yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Qira’ah Masyhurah dengan baik dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada fase ini, santri mempelajari ilmu qira’ah yang variatif riwayat tujuh orang imam (Imam Nafi, Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Ibn Amir, Ibn Amr, dan Ibnu Katsir), serta pendalaman kajian makna dan perbedaan bacaan. Mushaf yang dipakai adalah Utsmani riwayat Imam Hafs dari Imam Ashim. Santri harus hafal 30 juz al-Qur’an selama 3 tahun. Bagi yang lulus program ini berhak diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ab Sab’ah (S.Q.2).

Kesungguhan berbuah prestasi
Sejak fajar hingga malam hari, santri MQ aktif melaksanakan berbagai kegiatan wajib seperti salat berjamaah, sekolah, setoran, dan lain-lain. Selain itu mereka juga dibekali dengan kegiatan extra-kurikuler, seperti latihan pidato, khutbah jum’at, shalawat (jam’iyah mingguan), Musabaqah Hifdz al-Qur’an (MHQ), Musabaqah Syarh al-Qur’an (MSQ), Musabaqah Fahm al-Qur’an (MFQ), diskusi ilmiah, dan pembinaan qira’ah al-Qur’an bi al-tagbanni (melagukan bacaan).
Para santri MQ juga sering diundang masyarakat sekitar untuk mengisi berbagai acara seperti khataman al-Qur’an, menjadi khatib salat jum’at, membina TPQ, melakukan bakti sosial, juga memberikan santunan kepada fakir miskin.

Untuk menumbuhkan semangat berdikari, maka sejak awal berdirinya MQ telah mendirikan koperasi santri, yang dikelola sendiri oleh para santri. Koperasi tersebut kini telah memiliki tiga unit usaha, yakni Unit Koperasi Jasa Boga, Unit Pertokoan, dan Unit Biro Sosial. MQ juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Lantabur.

Selain menghasilkan kader penghafal A1 Quran, MQ juga berupaya mencetak kader qori’ yang berkualitas. Salah satu langkahnya adalah bekerja sama dengan Lembaga Perkembangan Tilawah al-Quran (LPTQ) milik pemerintah. Tak heran hingga kini MQ telah melahirkan sejumlah qori5 yang kerap menjuarai berbagai event tingkat Nasional. Bahkan sebagian diantaranya sudah pernah menjuarai event tingkat Internasional yang diadakan di Arab Saudi, Mesir, Turki, Malaysia, dan lain-lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 216-220

SMA. A. Wahid Hasyim, Tebuireng

SMA. A. Wahid Hasyim.0001Secara struktural, SMA A. Wahid Hasyim (biasa disingkat SMA AWH) berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Pondok Pesantren Tebuireng dan dalam pembinaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur. SMA AWH didirikan pada masa kepemimpinan KH.Muhammad Yusuf Hasyim, tepatnya pada tahun 1975, dengan SK Kanwil Depdikbud No.097/PA/PMU/75-76 dan sejak tahun 2005 mendapat status Trakreditasi “A” dan merupakan Sekolah Rintisan Standar Nasional.
Pendirian institusi ini pada awalnya mendapat penentangan keras dari beberapa kalangan, karena dianggap menyalahi tradisi pesantren, namun berkat kesungguhan para pendirinya, hingga kini SMA AWH tetap eksis dan telah banyak berkiprah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ribuan alumninya telah tersebar di berbagai pelosok Nusantara.
Jurusan IPA dan IPS merupakan program alternatif pilihan siswa/i SMA AWH. Selain melaksanakan kurikulum nasional, SMA AWH juga menambah kurikulum pesantren (diniyah) yang materi kurikulumnya meliputi akidah ahklaq, tafsir, hadits/ilmu hadits, fiqh, nahwu, shorof, aswaja, dan Sejarah Kebudayaan Islam.
Untuk mendukung peningkatan mutu lulusannya, SMA AWH menyediakan sarana-sarana penunjang seperti Laboratorium Biologi, Laboratorium Kimia, Laboratorium Fisika, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Hatspot Area, Ruang Perpustakaan, Ruang OSIS, Ruang Redaksi Buletin, Kopsis, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Musholla, dan Kamar Kecil.
Selain menjalani proses belajar-mengajar, para siswa SMA AWH juga diberi materi tambahan berupa kegiatan ekstra kurikuler, seperti pembinaan Bahasa Arab dan Inggris, Qosidah, Drum Band, Seni Musik, Seni Bela Diri, Olah Raga, Group Pecinta Alam, Pramuka, KIR, Paskibra, Seni Baca Al-Qur’an, Theater, al-Banjari, Tim Olimpiade Sains.
Sejak tahun 2004, SMA AWH selalu mengirimkan siswa-siswinya yang berprestasi, untuk mengikuti pertukaran pelajar (Program AFS) ke Amerika Serikat dan Negara-negara maju lainnya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 171-174