Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

Babad Perdekan Tegalsari / Awal Mula Pondok Tegal Sari

Babad Perdekaan TegalsarirI. Pada abad ke 18 (lebih kurang dalam tahun 1710 berdirilah desebuah desa yang bernama Tegalsari-Sebuah pondok (pesantren), dengan Kyai Ageng Hasan Bashori sebagai Kyai-nya yang pertama. Pondok ini terletak ditepi dua buah kali, yaitu antara kali Keyang dan kali Malo. Pondok (Pesantren) itu lazim disebut PONDOK TEGALSARI. Beliau adalah Kyai, Ulama Bangsawan Besar. Beliau adalah keturunan atau percampuran darah :
PEJAJARAN dengan HARJO BANGAH.
MOJOPAHIT dengan Demang NGORAWAN.
KYAI AGENG TARUP • BONDAN KEJAWAN.
IRAHAMI ASMARA dengan SUNAN NGAMPEL.
KYAI AGENG PEMANAHAN dengan PANGERAN BUNTARAN.
II. Kyai Ageng Hasan Bashori mempunyai 9 orang putera. Salah seorang diantaranya bernama H.Zaenal Abidin yang menjadi mantu dan akhirnya menjadi raja di Selangor Raya. Pecahan dari putera-puteranya yang 9 orang itu tersebar diseluruh Jawa Tengah. Beribu-ribu dari keturunan beliau itu menjadi ,ulama, intelek, pegawai negeri, bupati, penghulu, penganjur dalam segala tingkatan pergerakan masyarakat. Di antaranya, ialah Raden H.O.S. Cokroaminito. Beliau ini adalah keturunan yang ke V dari Kyai Ageng Hasan Bashori.

III. Dalam Pondok Tegalsari pada zaman dahulu itu terdapat ribuan santri, yang berasal dari seluruh tanah jawa dan sekitarnya, dan terdiri dari bermacam-macam tingkat golongan masyarakat, yaitu dari kalangan putera tani yang serendah-rendahnya, sampai golongan putera- putera bangsawan yang setinggi- tingginya.

IV. Pada tahun 1742, yaitu pada tang gal 30 Juni- menyerbulah musuh, yaitu R.M.Grendi Susuhunan Kuning dengan pasukan Tionghoa-nya kedalam keraton Paku Buana II, yang terkenal dengan nama Susuhunan Kumbul. Karena serbuan yang hebat ini, maka terpaksa Paku Buana II pergi meninggalkan kerajaan, melarikan diri kesebelah timur gunung Lawu. Di sana bertemulah Paku Buana II dengan Kyai Ageng Bashori. Tingallah Paku Buana II ini beberapa masa lamanya di Tegalsari. Kepada Kyai Ageng Hasan Bashori inilah Susuhunan Kumbul minta pertolongan, sehingga akhirnya dapatlah Susuhunan Kumbul itu menduduki tahta kerajaannya kembali. Semenjak dari saat itu, maka Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka. Daerah bebas dari kewajiban terhadap kerajaan. Daerah bebas dari kerajaan ini disebut “PERDEKAN”. Ia bebas dari segala pajak dan cukai.

V. Setelah Kyai Ageng Hasan Bashori meninggal maka kedudukan beliau digantikan oleh putera beliau yang ke VII, bernama Kyai Hasan Yahya. Kyai Hasan Yahya kemudian digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashori II. Pada tahun 1800 kedudukan beliau diganti pula oleh Kyai Hasan Anom. Pada tahun 1830, Tegalsari berada di bawah pemerintahan “Gouvernement Campagnie”. Namun demikian, kemerdekaannya tetap diakui seperti semula. Besluit Perdekan Tegalsari diperbaharui dalam tahun 1853, yaitu pada tanggal 23 Desember 1853, staatsblad no.77. Pada tanggal 9 Januari 1862, Kyai Bagus Hasan Bashori wafat dengan meninggalkan 94 putera dan 44 cucu dan piut.

[Dari kutipan catatan-catatan Mr. Fokkens, Pegawai PamongPraja (Bestuur Ambtenaar) pada tahun 1877, dan sesudah itu disahkan oleh para darah keturunan Tegalsari juga (tahun 1942)].

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ 1991/halaman 10-13

Kasni Gunopati

Kasni001Kasni Gunopati lahir di Ponorogo, 30 Juni 1934. Pendidikan Sekolah Rakyat (SR). Namun masa mudanya lebih banyak untuk ngangsu kawruh, semedi, dan mengabdi pada orangorang yang berngel- mu.
Tahun 1954, Kasni merintis berdirinya kesenian reog dfi Ponorogo.
Tahun 1987 meraih juara I festival reog tingkat Jawa Timur, piagam dari Kodam VI Brawijaya, dan Kakanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.
Selain memimpin paguyuban reog Pujangga Anom, ia sebagai Kamituwo Dusun Merbot, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Oleh warga Ponorogo, ia disebut-sebut sebagai sisa warok tulen terakhir. Penampilannya mirip seorang resi yang memberikan kesejukan bagi yang kepanasan, memberikan kedamaian bagi mereka yang penuh kekacauan. Tercatat sebagai ketua perwakilan aliran kepercayaan Purwa Ayu MardiUtama. Ponorogo bagian barat.
Bersama istri, Kasemi, dan 5 anaknya masingmasing: Ismini. Siti Nurjanah, Rumanah, Trianawati, dan Gathot Harian- to; ia bertempat tinggal di Jl. Raden Patah No. 4, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Postur tubuhnya kurus, jangkung, janggut dan kumisnya tidak lebat tapi panjang dan memutih. Nada bicaranya lembut, andhap-asor, lugas, namun sarat dengan makna, penuh petuah atau wejangan.
Kamituwo Kucing, begitu masyarakat Somoroto menyebutnya. Toh julukan yang begitu indah tidak membuat warok yang satu ini tersinggung. Di kalangan jagoan, nama Kasni Gunopati memang tidak segegap-gempita rekan-rekannya. Maklum yang dikejar oleh bapak dari 5 orang anak ini bukan sekedar ilmu kanuragan, yang bisa membuatnya kebal. Tapi ilmu kasampurnan (kesempurnaan). Yang disebut warok, menurut Kamituwo Kucing, adalah orang yang tahu sangkan paraning dumadi (asal-usul manusia). “la harus mengetahui asal-usul dan paham lahir-batin dirinya. Ini sangat berat. Sebab, ia hidup untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,” tuturnya.
Bersikap dan bertindak sebagai warok dan warokan, semua orang bisa. Namun untuk memegang predikat warok sejati, tidak setiap orang mampu. Perjalanannya cukup panjang, penuh liku-liku dan sejuta goda. Caranya? “Harus kuat melek (tidak tidur), tahan lapar, kuat menahan satwat, dan semedi,” jawabnya.
Dari kegemarannya bersemedi ia mendapatkan lamat (petunjuk) tentang hakikat hidup. Maka ia kini dengan lancar dapat mengungkapkan falsafah hidupnya. “Harus eling, nrima, lan waspada. Kita harus selalu ingat pada Sang Pencipta. Tidak membeda-bedakan orang. Senang menolong tanpa pemrih, jujur, dan juga harus selalu instropeksi diri,” katanya. (AS-10)

Pondok pesantren Tegalsari, Penjaga Mataraman

Pondok pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo penjaga Mataraman yang kokoh sepanjang masa. Meski kejayaannya telah hampir punah, warisan ponpes yang didirikan Kyi Ageng Hasan Besari pada 1742 ini, telah menyebarkan virus keberagaman yang kuat dikawasan Mataraman. Berkat ajaran Kyia Hasan Besari, para santrinya banyak menempati posisi penting dalam pelbagai profesi. Sunan Paku Buwono II atau lebih dikenal Sunan Kumbul, Bagus Burhan yang dikenal sebagai Raden Ngabei Ronggo Warsito adalah seorang filo-suf dan pujangga jawa yang masyur, Bagus Harun atau yang lebih dikenal dengan Kyai Ageng Basyariyah dari Sewulan, HOS Cokroaminoto tokoh pergerakan nasional yang juga menjadi guru Soekarno sekaligus mertua-nya, serta kiai besar lainnya.

Santri besarnya adalah Bagus Darso yang dikenal dengan sebutan KH Ab-dul Manan yang mendirikan Pondok Pesantren Termas, Pacitan pada 1830. Kebesaran pondok ini selain sampai ini masih berdiri di Ujung Selatan Ja­wa Timur dengan ribuan santrinya, alumninya juga menjadi orang-orang penting di negeri ini, sebut saja misal­nya Prof. DR H Mukti Ali, MA, mantan Mentri Agama di era orde baru. Para kiai besar yang pernah menge­nyam di PP Termas bisa disebutkan antara lain, Kyai Maksum Lasem Rem­bang, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Kyai Muslih Mranggen Demak, dan Kyai Muhammad Munawwir Krapyak serta Kyai Arwani Kudus. Selain itu juga ada Kyai Faqih Gresik, Kyai Ali Maksum, Krapyak Yogyakarta, Kyai Makhrus Ali Kediri, Kyai Inayat Banten, Kyai Adnan Trenggalek, dan Kyai Mas- duki, Cirebon, Jendral Sarbini Jakarta serta Jedral Abdul Mannan, Surabaya, Masih banyak lagi kyai besar lain­nya yang juga memiliki ponpes be­sar dan semuanya telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang kelak me­warnai keberagamaan di negeri nu­santara ini. Sebut saja misalnya Kyai Ahmad Sahal pendiri ponpes Gontor Ponorogo yang juga turut menjaga bumi Mataraman yang mampu menc­etak generasi Islam yang unggul di kancah internasional.

“Lahirnya kiai-kiai besar itu jika diu­rut bersumber dari Kyai Ageng Hasan Besari pendiri Ponpes Tegalsari, Pono­rogo,” jelas Habib Suwarno (keturunan kesembilan dari Kyai Ageng Hasan Be­sari ) kepada Suara Desa. Namun kebesaran pondok yang berdiri di Desa Tegal Sari, kecamatan Jetis, ini kini hanya menyisakan arte- fak-artefak dan banbgunan heritage yang masih berdiri merana. Masjid kuno peninggalan Kyai Besari tem­pat para santri tidur dan belajar ilmu agama ini pada 1977 direhab tanpa memperhatikan nilai-nilai sejarah, se­hingga banyak sudut bangunan yang tidak asli lagi, padahal dari masjid ini Kyai Besari berhasil mengislamkan masyarakat Ponorogo dan kawasan Gunung Lawu. “Meski pada tahun berikutnya direhab dan diusahakan kembali pada bangunan aslinya masih * tetap tidak bisa,” katanya.

Masjid tua ini tampak megah de­ngan 36 tiangnya yang menggambar­kan jumlah wali songo (3 + 6 = 9.) Tata letak pintu dan jendela masjid juga tiang – tiang terbuat dari kayu jati tanpa menggunakan pasak me­nyerupai arsitektur Masjid Agung Demak. Di Ponpes Tegalsari ini juga tersimpan kitab berusia 400 tahun yang ditulis oleh Ronggo Warsito santri Kyai Hasan Besari. Komplek Masjid terdiri dari 3 ba­gian; Dalem gede dulunya merupakan pusat pemerintahan. 2. Masjid. 3. Kom­plek makam Kyai Ageng Hasan Besari beserta keturunanya. “Dan kesederha­naan bisa dilihat dari simbol kubah diatas masjid yang hanya terbuat dari gentong tanah berukuran kecil. Yang pasti, seluruh bangunan khususnya ti- ang-tiang masjid, meski sudah berumur ratusan tahun, hingga saat ini masih utuh seperti ketika dulu dibangun oleh Kiai Ageng Besari,” katanya, (mar)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA| Edisi 07 | 15 Agustus – 15 September 2012, hlm. 34

Sejarah Reyog Ponorogo

Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire, olok-olok, atau sindiran, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sasaran yang dijadikan olok-olok tersebut. Sasaran itu bermacam-macam. Dapat menunjuk pada situasi masyarakat umum, atau tertentu, dalam kurun waktu tertentu pula, atau kepada seseorang tokoh terpandang, yang sedikit banyak mempunyai pengaruh terhadap kehidupan atau penghidupan orang banyak, biasanya seorang pejabat atau penguasa. Atau dapat pula merujuk kepada suatu keadaan politik. Menurut kamus Van Dale, satire berarti: “hekeldicht, hekelend geschrift; hekelende, bijtende uitdrukking; daad welke dient om ene andere (of een persoon) in een kwaad of bespottelijk daglicht te plaatsen,” yang artinya: “sastra atau’ tulisan” yang mengandung kebencian; ungkapan yang melontarkan rasa benci secara tajam; perbuatan (ulah) dengan maksud menempatkan sesuatu (atau seseorang dalam sorotan yang mengundang kebencian atau cemoohan.” Di sini terasa sekali tekanannya kepada “kebencian” ,sebagai motivasinya.

Tetapi suatu sifat yang khas dalam dunia kebujanggaan Jawa tempo dulu, yalah, bahwa satire-satire yang dllontarkan dalam berbagai ungkapan, (sastra, ulah, pertunjukan, dan lain-lain sebagilinya), betapa pun tajamnya, namun cenderung tidak inenaburklln rasa kebencian. Inilah yang membedakannya dengan satire-satire barat atau Indonesia modern. Ungkapan-ungkapan satire Jawa sudah dibesut sedemikian rupa, sehingga ketajaman olok-oloknya itu tidak lagi nampak , atau terasa, kalau tidak diterima dengan kearifan atau ketajaman tanggap rasa. Artinya, bagi yang tidak arif, satire demikian diterima apa adanya; sebagai lelucon, sebagai lawakan, membuat kita ketawa, membuat puas, habis. Biasanya, yang merasakan ketajaman olok-olok yang dilontarkan oleh satire-satire Jawa demikiap., yalah orang yang bersangkutan yang menjadi sasaran. Publik lain tidak merasakan olok-oloknya, atau tidak melihat adanya olok”olok yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, maka sifat menghasut atau membangkitkan sentimen publik terhadap sasaran olok-olok, tidak ada sarna sekali. Di sini sifat rasa “ngeman” (sayang) lebih diutamakan.

Demikian pula Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire Karena sublimnya penggarapan, tidak terasa betapa tajamnya sebenarnya olokolok yang ditujukan terhadap suatu keadaan. Untuk dapat menangkap apa yang tersirat dalam satire pertunjukan Reog Panaraga; kita perlu meninjau latar belakang sejarahnya. Jaman kapan terciptailya pertunjukan tersebut, siapa penciptanya, apa motivasinya, lalu · bagaimana perkembangan selanjutnya. Dari sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di Purwaka Caruban Nagari, disebutkan dengan jelas, bahwa Raden Patah adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi (Brawijaya V). Raja Kertabumi ini merebut kekuasaan Majaphit dad tangan Bra Pandhan Salas Dyah Suraprabawa (Briwijaya IV) yang masih kemenakannya, dengan jalan menyingkirkannya dari keratonnya di Tumapel pada tahun Syaka 1390 (= 1468 Masehi). Pada tahun Syaka 1400 (1278 M) kekuasaan atas tahta kerajaan Majaphit dapatdirebut kembali oleh anak Bra Pandhan Salas, yaitu Dyah Ranawijaya Girindrawardana (Brawijaya VI) dengan mengadakan penyerangan ke Majapahit. Dalam penyerangan Ranawijaya ini Bra Kertabumi gugur di kraton. Peristiwa gugurnya Bra Kertabumi di kraton Majapahit ini tersimpul dalam candra sangkala “sirna-ilang-kertaning-bumi” (= 1400 syaka, atau 1478 Masehi).

Panaklukan kerajaan Majapahit kemudian oleh Demak, dapat dianggap sebagai tindakan balasan . Adipati Unus (anak Raden Patah) terhadap Girindrawardana Dyah Ranawijaya, yang telah mengalahkan neneknya Bra Kertabumi. Demikianlah gambaran sejarah Majapahit Akhir, yang ditandai aengan persaingan dan pertikaian antar kerabat raja, sehingga kedudukan kerajaan yang pernah mencapai puncak jaman keemasannya, makinlama makin suram dan goyah. Antara klik yang satu dan klik yang lain saling berebutan Pengaruh. Ditambah dengan masuknya agama Islam yang sudah mulai banyak dipeluk oleh kalanga·n kraton sendiri, semakin menambah tajamnya pertentangan. Dalam masa pemerintal}.an Bra Kertabumi, yang dalam sastra babad lebih dikenal dengan sebutan Brawijaya yang terakhir, (yang sebenarnya bukan terakhir), salah seorang pembesar pembantunya, seorang cendekia berpangkat Bujangga Anom bernama Ki Ageng Ktut Surya Alam, telah menyingkir dari ibukota. Iamelihat keadaan negara sangat menguatirkan terancam’ keruntuhan. Raja. tidak lagi berwibawa. Surya Alam menganggap Raja terlalu banyak memberikan konsesi kepada permaisurinya yang beradal dari Cina dan beragama Islam itu. Surya Alam adalah penganjur agama Buda, karena itu ia tidak sependapat dengan kebijaksanaan baginda, yang banyak dipengaruhi oleh permaisurinya orang asing itu, baik kebangsaan maupun agamanya: Sering ia memperingatkan baginda, tetapi rupanya peringatan itu tidak termakan.

Maka ia pun menarik diri, dan menyingkir ke daerah Wengker (daerah Panaraga sekarang), tinggal di desa Kutu. Di desa Kutu ini Ki Ageng Surya Alam mendirikan sebuah “paguron” (pergunlan), yang mengajarkan “ilmu kanuragan” (ilmu kekebalan, ilmu kesaktian), di.samping ilmu kebatinan dan keprajuritan (ilmu perang). Muridnya makin lama makin banyak, dan rata-rata masih muda-muda. Selama dalam pendidikan mereka dik-!nakan disiplin yang keras, dikumpulkan dalam sebuah pondhok paguron (asrama), dan harus mematuhi persyaratan yang berat. Salah satu persyaratan yang unik yalah pantangan berkumpul dengan perempuan. Mereka yang melanggar pantangan tersebut akan kehilangan kesaktiannya. Untuk menyalurkan nafsu berahinya, maka diadakanlah apa yang sekarang kita kenai sebagai “gemblak”. Yaitu anak laki-Iaki rupawan dan halus sikap pembawaannya, yang didandani seperti perempuan. Menggauli gemblak demikian tidak menjadi pantangan. Mereka yang sudah dinyatakan lulus dalam pendidikan , diberikan predikat “warok”. Dan warok-warok ini benar-benar kebal dan sakti.

Pantangan bergaul dengan perempuan tidak berlaku lagi bagi mereka, tetapi sifat dan sikap berani, jujur, dan rendah hati harus tetap dipegang teguh, tidak boleh dilepaskan selama hidup. Ini sudah menjadi semacam kode etik mereka. Lambat laun “perwarokan: ” dan ” pergemblakan” tersebut membudaya, dan akhirnya sudah demikian kuat berakar di masyarakat, sehingga sampai sekarang pun nama Panaraga tidak dapat dipisahkan dengan warok dan gemblaknya. Kembali kita kepada Ki Ageng Surya Alam . Setelah ia mendirikan paguron kanuragan di desa Kutu tersebut, namanya menjadi terkenal dengan panggilan Ki Ageng Kutu. Apa maksud. Ki Ageng Kutu mendirikall, tempat paguron semacam itu Kiranya mudah diterka, kalau kita hubungkan dengan sikapnya yang melawan kebijaksanaan rajanya, yaitu Bra Kertabumi. Memberontak, itulah kesimpulan yang gampang. Tetapi dalam cerita babad atau tutur belum pernah diungkapkan adanya niatan pemberontakan dad pihak Ki Ageng Kutu itu. Mungkin hanya usaha membuat suatu kubu pertahanan dengan para warok sebagai kekuatan tulang-punggung, kalau sewaktu-waktu ia mendapat serangan dari pihak raja.

Bagaimanapun juga, ia menyadari benar bahwa sikapnya selama ini cepat atau lambat akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap kerajaan. Tetapi perjuangan Ki Ageng Kutu lebih diarahkan kepada perjuangan idiil, perjuangan cita-cita, yang bertentangan sifatnya dengan kebijaksanaan yang dianut oleh Prabu Kertabumi. Hal ini dapat kiranya dibuktikan dengan hal-hal yang dilakukan olehnya lebih ilanjut. Karena Ki Ageng Putu adalah seorang bujangga, jadi seorang seniman, maka dalam memperjuangkan “ideologinya”, ia menggunakan sarana keseniah. 1a mencipta sebuah karya seni yang kemudian dinamakan REOG. Reog asli yang diciptakannya itu hanya sederhana sekali, tidak menggunakan peraga lebih dari secukupnya saja, dengan tetabuhan yang minim juga. Dengan kesederhanaannya, dan peralatan yang minim itu, sangat memudahkan Ki Ageng Kutu untuk memperbanyaknya menjadi beberapa unit menurut keperluannya atu unit Reog hasil ciptaan Ki Ageng Kutu menurut aslinya, terdiri dari:

 

a. para pelakunya.

1. Singabarong dengan bulu meraknya;

2. Bujangganong atau Ganong;

3. dua Jathil, yaitu penari penunggang kuda kepang, laki-laki dengan dandanan perempuan.

 

b. tetabuhannya.

1. sebuah kendhang;

2. dua angkiung;

3 .sebuah kenong;

4. sebuah gong;

5. sebuah selompret.

 

c. pengiring, terdiri dari beberapa orang, yang tidak ditentukan jumIahnya. Tugasnya serabutan, membantu di mana diperlukan, dan terutama memeriahkan suasana dengan senggakan-senggakan dan sorak-sorainya yang riuh gemuruh.

 

Dengan penampilan kesenian Reog yang diciptanya itu, Ki Ageng Kutu ingin membuat “prasemon”, yaitu gambaran karikatural situasi negaraMajapahit pada waktu itu. Singabarong dimaksudkannya ‘ sebagai pengejawantahan ‘ raja Bra Kertabumi yang sedang berkuasa. Singabarong dalam kehidupan kawanan margasatwa diumpamakan sebagai raja. Tetapi Singabarong Reog ini menyunggi burung merak, yang melambangkan, bahwa permaisurinya, seorang puteri Cina, sedang menduduki kepala sang raja. Maksud kiasannya yalah, bahwa kewibawaan raja sudah dikalahkan oleh permaisurinya, sang puteri Cina yang cantik lagi congkak itu . Sebagaimana kita ketahui, burung merak adalah sejenis burung yang mempunyai bulu yang indah dan mewah, berwama hijau kemilauan. Dalam penampilannya tampak congkak dan angkuh.

Adapun Bujangganong atau Ganong adalah potret diri sang bujangga sendiri. Pangkat Bujangga Anom disandikan menjadi Bujangganong. Kecuali nama itu lucu kedengarannya, maksud sang bujangga Penampilan Bujangganong itusendiri sengaja dibuat lucu, baik dalam ulah ” tarian”nya, maupun ujudnya. Ujud ini digambarkan dalam bentuk topeng yang berwama merah (lambang keberanian), sepasang mata yang melotot (lambang “mampu melihat kenyataan”), hidung panjang, kumis panjang, dan rambut panjang (yang serba panjang ini melambangkan “mampu berpanjang nalar” ).  Ujud Bujangganong itu menakutkan, khususnya bagi anak-anak, tetapi pun membuat mereka ketawa senang, karena lucunya. Maksud pasemon ini yalah, bahwa sang bujangga bersungguh-sungguh, tidak main-main, yang dinyatakan dalam sikapnya yang terus-terang. Menentang kebijaksanaan raja, oleh sebab itu ditakuti oleh orang-orang yang bertingkah seperti kanak-kanak, yang dimaksudkan: para pejabat kerajaan Majapahit waktu itu, termasuk raja Kertabumi. Tetapi sebenarnya sang bujangga ingin berbuat senang bagi mereka, bahwa sang pujangga tidak perlu ditakuti, karena memang tidak ada maksud menakut-nakuti siapa pun.

Hanya yang berbuat tidak benar itulah yang merasa takut. Maka dalam gerak tariannya pun,  Bujangganong kadangkala mendekat berhadapan muka dengan Singabarong, maksudnya mengajak berdialog, tetapi kalau singabarong menjadi marah dan hendak menerkamnya, maka Bujangganong menghindar lari menjauh, kadang-kadang berada di belakang Singabarong, tetapi tidak meninggalkannya. Maksudnya: Sang Bujangga mendekati sang Prabu, berdialog, menasehati, memperingatkan, tetapi kalau sang Prabu menjadi marah, sang Bujangga mengundurkan diri, tetapi masih tut-wuri, tidak mau meninggalkan. Jadi tidak ada niatan untuk memberontak atau mengkhianati. Sepasang penari jathilan menggambarkan prajurit Majapahit, tetapi dengan dandanan seperti perempuan, solah tingkahnya pun kewanitawanitaan, artinya: prajurit Majapahit sudah kehilangan kejantanannya.

Namun yang demikian itu tidak menjadi perhatiannya. Disiplin prajuritnya sudah demikian merosotnya, sampai-sampai ibarat si prajurit sudah berani duduk di atas kepala sang raja.  Dalam tiap , pertunjukan Reog Panaraga pasti terdapat adegan penari Bunyi tabuhan yang riuh, dibarengi dengan sorak-sorai senggakan senggakan yang riuh pula, menggambarkan usaha sang Bujangga untuk menari perhatian rakyat agar mau menyaksikan tingkah laku raja. Senggakan-senggakan yang bernada olok-olok yang sering ditujukan kepada Singa barong .. mengandung maksud, bahwa rakyat memperolok-olok.

Demianlah Reog Panaraga benar-benar merupakan suatu pertunjukan yang sangat istimewa tidak sekadar main akrobat atau pun demonstrasi, kekuatan otot singo barongan megang peranan, yang pada jaman permulaannya kekuata otot ini dulu dibarengi dengan kekuatan dalam , kekuatan kanuragan, yang dilakukan oleh warok-warok. Juga bukan sekadar suatu show seperti sekarang yang siap dijual murah untuk konsumsi wisatawan , Satire yang terkandung di dalamnya tetap merupakan cermin peringatan sepanjang masa, juga bagi kita semua. Setiap saat peristiwa semacam gejala ketahan Majapahit tetap mengancam ketahanan nasional kita. Tentu saja si burung merak sudah berganti rupa, entah apa. Dengan demikian para pujangga muda kita harus tetap waspada untuk tidak perlu harus menjadi bujangganong. Para prajurit harus tetap jantan untuk tidak menjadi prajurit jathilan yang menari di atas kuda kepang. Itulah amanat hakiki sang Bujangga Ki Ageng Kutu yang disiratkannya melalui Reog Panaraga karya ciptaannya.

Dalam pada itu Prabu Brawijaya Kertabumi tidak tinggal diam. Ia mengutus salah seorang puteranya, Raden Kebokenanga alias Raden Katong, mengadakan penglacakan terhadap Ki Ageng Surya Alam , yang disinyalir konon berada di daerah Wengker. Raden Katong berangkat dengan lebih dulu singgah di Bintara, menghadap kakaknya, yaitu Adipati Bintara, Raden Patah. Raden Patah ini putera Prabu Brawijaya Kerta bumi lahir dari ibu seorang puteri Cina, permaisuri baginda. Setelah dewasa ia diangkat oleh baginda menjadi Adipati Bintara, dan di sinilah Raden Patah merintis pemekaran agama Islam bersama-sama para wali. Raden Patah pun merencanakan untuk mengIslamkan daerah Wengker, yang masyarakat penduduknya kebanyakan- masih memeluk agama Budha. Dari Sunan Kalijaga, seorang dari kesembilan wali, Raden Patah mendapat info asli, bahwa Ki Ageng Surya Alam, penganjur agama Budha yang berada di Wengker itu, merupakan kelilip yang membahayakan bagi kedudukan kadipaten Bintara dan agama Islam.

Maka kedatangan Raden Katon ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Disarankannya kepada Raden Katong untuk memeluk agama Islam, dengan demikian rintisan peng Islaman daerah Wengker dapat dipercayakan kepadanya disamping tugasnya melcak Ki Ageng Surya Alam. Untuk memikat masyarakat penduduk derah Wengker yang masih percaya kepada Dewa-dewa, maka disarankan Dia agar Raden Katong menambahkan gelar Bathara di depan namanya. maka berangkatlah Bathara Katong ke Wengker, dengan didampingi oleh seorang ulama yang menjadi penasehatnya. Tidak perlu diceritakan, betapa Bathara Katong membuka hutan, mempersiapkan daerah pemukiman di kawasan Wengker, dan betapa pula ia berhasil memperoleh banyak pengikut diri sedikit ke sedikit, kini langsung dituturkan, bahwa ia akhirnya berhasil pula bertemu dengan teman lama yang dicarinya: Ki Ageng Surya Alam. Mereka lalu mengadakan pertemuan.

Akan tetapi dalam pertemuan itu mereka tidak mendapatkan persesuaian pendapat. Perang tidak dapat dihindarkan, karena masing-masing pihak mempertahankan prinsipnya sendiri.  Pada babakan-babakan pertama Bathara Katong menderi kekalahan. Ki Ageng Surya Alam adalah lawan yang tangguh. Tetap, Bathara Katong pun bukan orangnya yang mudah menyerah kalah. Ia mencari bantuan pada seorang bernama Ki Ageng Muslim, yang di desanya lebih dikenal dengan panggilan Ki Ageng Mirah. Tetapi Mirah ini sebenarnya bukan namanya sendiri, melainkan nama anak gadisnya. Nama aslinya Anggajaya, semula pengikut dan murid Ki Ageng Kutu juga. Jadi ia pun seorang warok yang sakti pula. Kemudian memisahkan diri, lalu masuk agama Islam. Sejak itu ia berganti nama Ki Ageng Muslim. Tetapi karena desa yang ia tempati adalah hasil cikal bakalnya sendiri yang Juga dinamakan desa Mirah, maka nama yang tetap populer baginya yalah Ki Ageng Mirah.

Bantuan Ki Ageng Mirah membuka lembaran baru bagi perjuangan Bathara Katong, karena pengaruh Ki Ageng amat besar dan banyak pula pengikutnya. Tetapi bagi Ki Ageng Kutu merupakan titik balik. Dalam menanggulangi serangan-serangan gadungan Bathara Katong – Ki Ageng Mirah ini, sering Ki Ageng Kutu tetpaksa berpindah-pindah tempat. Banyak anak buahnya yang gugur, dan akhirnya Ki Ageng Kutu sendiri pun harus mengakui keunggulan lawan. Ia tewas. Konon menurut kepercayaan orang, ia muksa bersama raganya.  Sepeninggal Ki Ageng Kutu, kesenian Reog yang sudah membudaya dan berurat-akar di masyarakat, diteruskan oleh Ki Ageng Mirah, tetapi segala unsur yang mengingatkan kepada kejayaan Ki Ageng Kutu dihapus.

Akar-akar atau naluri yang menebalkan kepercayaan tentang dunia perwarokan dihilangkan. Motivasi satirik penciptaan Reog Panaraga yang ditujukan untuk menjatuhkan nama Prabu Brawijaya Kertabumi dibuang dan diganti dengan latar belakang legendarik yang diambilkan dari cerita Panji. Tokoh-tokoh peran yang semula tidak ada, ditambahkan, seperti Kelana Sewandana, Sri Genthayu, Dewi Sanggalangit, dan seterusnya, ‘makin lama m,akin banyak menurut perkembangannya kemudian. Penggantian motivasi satirik dengan latar belakang legendarik tersebut tidak mengalami kesukaran, sebab lahiriah hampir tidak mengalami perubahan, kecuaIi menambah tokoh Sewandana dan lain-lain. Sebagaimana dipaparkan di muka, satire yang dituangkan dalam kesenian Reog sudah demikian sublimnya, sehingga tidak sembarang orang manyadari adanya olok-olok yang sengaja ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Bagi Ki Ageng Mirah sendiri, hal itu sudah barang tentu bukan rahasia lagi, karena ia memang bekas kepercayaan Ki Ageng Kutu.

Dengan timbulnya perpecahan dan permusuhan antara Ki Ageng Kutu dan Ki Ageng Mirah yang sama-sama waroknya dan berasal dari satu paguron yang sama, kemudian saling berpisah mengikuti alirannya masing-masing, Yang satu berkiblatkan kepada pandangan agama Budha yang dipertahankan, yang lain menganut ajaran agama Islam yang bersikeras hendak menghapus agama Budha, dapat kita bayangkan betapa dunia perwarokan yang semula utuh itu lantas mengalami perpecahan yang semakin lama semakih parah. Dengan dihilangkannya akar-akar atau naluri kepercayaan masyarakat terhadap dunia perwarokan oleh Ki Ageng Mirah dalam usahanya menghapus pengaruh Ki Ageng Kutu, maka paguron kanuragan sebagai pusat pengadaan kader-kader warok, dengan sendirinya dilarang. Tetapi dunia perwarokan yang sudah membudaya dan berakar di masyarakat tidak mudah dihilangkan begitu saja, terutama bagi mereka yang tetap setia menganut ajaran Ki Ageng Kutu.

Mereka meneruskan paguron tersebut secara perorangan (privaat), dan tidak terang-terangan melainkan terselubung dalam ulah kegiatannya. Dalam hal ini ulah kesenian Reoglah satu-satunya peninggalan Ki Ageng Kutu yang mendapat legalisasi, meskipun dengan inotivasi lain. Tidak mengherankan, bahwa dalam waktu yang tidak lama munculnya kelompok-kelompok unit Reog seperti jamur di musim hujan layaknya. Rertahun-tahun kemudian, setelah masa pertentangan antara penganut aliran Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Kutu terlampaui, dan keadaan lambat laun mereda dan semakin stabil , maka kelompok-kelompok unit Reog yang sekian banyaknya tanpa koordinasi ilu cenderung berkembang sendiri-sendiri menurut iradatnya masing-masing, dan sayang tidak tanpa ekses. Egoisme manusia mengambil peranan menonjol justeru .dalam keadaan yang sudah aman dan damai, karena “semangat kesaktian dan perjuangan” yang tersimpan menumpuk dalam dada para warok itu memerlu kan penyaluran keluar dan mencari sasaran.

Sasaran itu ditemukan pada sesama warok ‘ melalui unit-unit Reog yang mereka wakili masing-masing, tidak jarang terjadi. Sangat boleh jadi pada awal mulanya sebagai semacam “pertunjukan pameran”, suatu “exibition show”, akan tetapi lambat laun terdapatlah ekses-ekses yang pada akhirnya membuat arena ‘ pertunjukan Reog sering berubah meiljadi kancah perkelahian masal; unit Reog yang satu melawan unit Reog yang lain, termasuk para penabuh dan pengiring kedua belah pihak. Dalam istilah mereka. perkelahian masal demikian dinamakan “tempuk”. Tentang “tempuk” ini dapat dituturkan sebagai berikut. Biasanya padii” bulan Besar banyak orang mempunyai hajat mengawinkan anaknya. Maka sering kali terjadi beberapa rombongan perarakan pengantin saling berpapasan dalam perjalanan pulang kembali dari kenaiban . atau waktu berangkatnya. Karena adanya persaingan satu sarna lain , warok yang satu ingin mengungguli wilTok’ yang lain. maka perkelahian tidak dapat dihindarkan. Masing-masing lalu mencari lawannya sejenis: Singabarong lawan Singabarbng, Bujangganong lawan Bujangganong, Jathilan lawan Jathilan , penabuh lawan penabuh. dan bahkan pun kuda tunggangan mempelai kedua belah . pihak dihasut untuk saling bertarung. Keruan saja terjadi kekalutan hebat, yang berakhir dengan rusaknya peralatan, pakaian, dan perhiasan. serta jatuhnya korban luka-luka.

Kalau pihak yang satu berhasil menyingkirkan piliak lawannya, maka dengan penuh rasa bangga pillak yang menang itu pun meneruskan perjalanan semlfari berjogedan dan bersorak-sorai. Kadang~kadangpun dengan membawa rampasan berupa barang.barang hiasan piliak yang dikalahkan. Biasanya saban unit reog memasang genta pada ujung kanan dan kiri kedhok dhadhakmeraknya, . yang pada tiap gerakan mengeluarkan bunyi. Kalau unit reog demikian sedang berpapasan dengan unit yang lain, ‘ dan keduanya membiarkan genta masing-masing berbunyi, maka itu berarti sarna-sarna berani, dan pasti bertarung. Tetapi kalau salah satu pihak, entah karena tidak berani, atau malas berkelahi, atau menjaga keselamatan, maka gentanya disumbat dengan secarik kain atau lainnya, sehingga tidak akan mengeluarkan bunyi.

Dengan demikian tidak akan terjadi perkelahian. Mereka akan berpapasan dengan ·aman. Namun demikian, sudah barang tentu pihak yang mengalah itu harus pandai-pandai menahan hati untuk tidak terbakar oleh sikap ‘ dan lagak rombongan reoglawannya yang memamerkan kebesaran dan . :esombongannya, yang, kalau ditanggapi, memang sangat menjengkelkan dan menyakitkan hatibenar. Sejak kapan tepatnya “tempuk” demikian mulai timbul, tidak diketahui dengan pasH. Tetapi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1912, pernah terjadi pertarungan seru antara dua orang warok bernama Pardi dan Kardjan, berikut unit reognya masjng-masing, yang berakhir dengan bacokan hingga keduanya tewas. Sejak itu pemerintah kolonial Hindia Belanda meiarang adanya pertunjukan reog.  Tetapi Panaraga tanpa reog, agaknya merupakan keganjilan yang tak bertemu nalar. Hal ini dirasakan benar oleh seorang Wedana distrik Arjawinangun , dan melalui Bupati Panaraga Raden Tumenggung Syam, diusulkannya kepada pemerintah Hindia Beianda untuk menghapus larangan tersebut, dan mengijinkan kembali pertunjukan Reog Panaraga. Usul diterima dengan syarat tidak boleh mcmbuat keonllran, bersedia mematuhi segala ‘peraturan pemerintah , dan ikut menjaga ketcrtiban umum. Itu terjadi pada tahun 1936, berarti Reog Panaraga sempat tidur lelap selama 24 tahun. Namun ketinggalan 24 tahun terkejar juga akhirnya.

Pada jaman penjajahan Jepang tahun 1942 – 1945, Reog Panaraga mengalami pasang surutnya kembali. Reog sebagai kesenian rakyat tidak mendapatkan tempat dan peluang untuk berkembang secara wajar scperti yang sudah. Semua anggota unit-unit Reog tidak luput dari bermacammacam kewajiban yang digerakkan oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon untuk membantu memenangkan Perang-Asia-Timur-Raya-nya (Perang Dunia lI). Mereka diikutkan dalam gerakan Seinenda (pemuda), Keibodan (pembantu keamanan desa), kinrohoosyi (gcrakan gugur gunung), Romusha (kuli paksa), Heiho (prajurit Dai Nippon) dan sebagainya. Waktu dan enerji mereka praktis tidak tersisa untuk mengurusi kesenian Reog.

Tetapi harapan cerah kembali ketika tahun 1945 tiba dengan jatuhnya Jepang. Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia, tetapi segera terlibat dalarn kancah revolusifisik rnelawan BeIa:nda yang ingin menjajah kern bali. Reog yang rnulai dikenal kernbali rnernpunyai potensi .penggerak ,rnassa yang dinilai sangat efisien, rnendapat peluang · untuk ‘ bangkit dan . berkernbang lagi. Tetapi sayang untuk rnengalami rnalapetaka yang .lebih parah lagi, dengan dilibatkannya dalam satu gerakan petualangan politik rnelawan pernerintah sendiri pad a waktu itu, yang terkenal dengan Affair Madiun (1948). Akibatnyaparah sekali. Reog, yang sernula tersebar di tiap-tiap desa, setelah Affair Madiun, yang segera disusul dengan perang kernerdekaanII, hanyalah tinggal yang berada di ibukota-ibukota kecarnatan, yang langsung rnendapat pernbinaan dari pernerintah seternpat rnelalui KODIM (Kornando Distrik Militer). Luka .yang ditirnbulkan Affair Madiun rnulai terobati lagi. Sedikit demi sedikit nampak kesernbuhannya untuk kernudian pulih giat kernbali seperti sernula. Menyambut hari depan.

Tetapi rupanya hari depan itu tidak secerah diharapkan. Percobaan kedua datang rnenjelang dengan berdirinya sebuah organisasi yang dinamakan Barisan Reog Panaraga, atau disingkat BRP, di bawah panji-panji Partai Kornunis Indonesia (1955), sebagai alat untuk mengikat rnassa dalarn rangka rnemenangkan suara daliun pernilihan umurn. Agaknya orang-orang kornunis Indonesia tahu benar’ kernarnpuan Reog Panaraga sebagai penggerak rna.ssa. Tanpa ragu-ragu Reog ditungganginya lagi seperti di tahunl948. Hanya bedanya tahun 1948 secara illegal, sedang tahun 1955 secara legal , karena pada tahun 1955 itu hak hidup Partai Kornunis Indonesia diakui secara hukurn. Tetapi kekuatan politik di hiar .PKl cukup waspada. BRP ditandingi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan BREN-nya (Barisan Reog Nasional) dan oleh Nahdiatul ‘Ulama (NU) dengan Reog Cakranya.

Dengan demikian kesenian Reog menjadi selubung pertarungan sengit antara partai-partai politik. Ada juga unit-unit Reog yang berada di luar itu sernua, tetapi jurnlahnya tidak seberapa. Dengan pecahnya pernberontakan G.30S PKI tahun 1965, maka Reog rnendapat pukulan berat lagi, terutama yang tergabung dalam BRP. Menurut catatan Kantor Seksi Kebudayaan Kabupaten Panalaga, yang sarnpai 1965 tercatat 385 unit Reog, gada tahun 1969 tinggal 90 unit.

Kini, tahun 1979, sepuluh tahun kemudian, belum diketahui berapa jumlahnya, tetapi jelas mengalami kebangkitannya kembali dengan lebih dewasa lagi, melalui penertiban integral dalam era pernbangunan budaya bangsa. Panaraga. memang tidak dapat dilepaskan dari Reognya. Reog Panaraga mengalami pasang naik dan . pasang surutnya sejalan dengan pasang naik dim pasang turunnya ·perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Demfkianlah gambaran sekilas latar belakang sejarah Reog Panaraga dan perkembangannya dari masa ke masa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. ………99

Terjadinya Reog Panaraga, Versi Kelana – Sanggalangit

Bujangga Anom adalah putera raja Daha, Sri Genthayu, pada suatu hari diam-diam telah meninggalkan negerinya, kemudian berguru kepada seorang petapa yang sakti di lereng gunung Lawu. Kebetulan sang petapa tersebut mempunyai murid pula yang bernama Kelana Sewandana, seorang raja di Bantarangin. Terjalinlah persahabatan yang akrab antara Bujangga Anom dan Raja Kelana Sewandana. Ketika diuji kesaktian masing-masing oleh sang guru, setelah mereka menyelesaikan masa puruhitanya, ternyata keduanya sebanding. Kelana Sewandana sangat berkenan hatinya terhadap Bujangga Anom, lalu diangkatnya menjadi patih kerajaan Bantarangin.

Pada suatu malam Sang Kelana bermimpi kawin dengan puteri Daha yang bernama Dewi Sanggalangit, yang tidak lain adaiah saudara Bujangga Anom sendiri. Keesokan harinya Sang Kelana mengutus Patih ( Bujangga Anom menyampaikan lamaran ke Daha. Bujangga Anom berang­kat ke Daha dengan membawa perajurit secukupnya.

Syahdan sampai di perbatasan Bantarangin. dan Daha, perjalanan pasukan Bujangga Anom dicegat oleh pasukan harimau dan merak, rakyat Raja Singabarong yang merajai hutan belantara yang sukar ditembus oleh manusia. Perang terjadi, tetapi pasukan Bantarangin kalah, dan terpaksa mengundurkan diri kembali ke Bantarangin.

Prabu Kelana Sewandana, setelah mendengar laporan Patih Bujangga Anom, menjadi sangat murka. Ia ingin berangkat sendiri, dan memerin­tahkan menyiapkan pasukan prajurit pengiring berlipat ganda, baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki.

Di perbatasan Bantarangin dan Daha terjadi lagi bentrokan antara pasukan Singabarong dan’pasukan Kelana Sewandana. Kali ini pasukan Singabarong terdesak. Banyak prajuritnya yang mati atau tertawan. Ke­mudian tampil Raja Singabarong sendiri untuk melawan Sang Kelana. Ia didampingi oleh Raja Merak yang berjalan maju dengan mengem­bangkan bulunya yang berwarna hijau berkilauan sangat mempeso- nakan. Jalannya tegak dengan angkuh dan angkernya. Sedang Raja Singa­barong berjalan dengan gayanya yang malas, alap-santun, sebentar-se- bentar mengibaskan kepalanya, sehingga surinya yang lebat terurai ber- alun-alun, terkena sinar matahari seperti emas diupam layaknya.

Bujangga Anom kuatir kalau-kalau Prabu Kelana Sewandana men­jadi terlena karena pemandangan yang indah dan agung itu, maka lekas dihampirinya dengan isyarat untuk bersiap-siap berperang. Prabu Kelana menangkap isyarat itu, lalu maju menyambut musuhnya. Terjadi perke­lahian seru, satu lawan dua. Prabu Singabarong yang semula berjalan dengan alap-santunnya tanpa memperlihatkan kehebatannya, setelah ber­tarung, ternyata sangat cekatan, luar biasa kekuatannya, meloncat ke kiri, menghindar ke kanan, menapuk, menggigit, menerkam, menerjang, sehingga Kelana Sewandana terengah-engah kehabisan napas. Apalagi di­lawan dua bersama Raja Merak yang menyerang dari atas, memupuh, memagut, menyusuh, berulang-ulang. Benar-benar Kelana Sewandana tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Akhirnya ia menarik diri, dan memerintahkan seluruh pasukannya mundur meninggalkan medan.

Kelana mencari tempat persembunyian untuk bersamadi. Ia minta bantuan gurunya. Tiba-tiba gurunya pun menampakkan diri, berdiri di depannya dan menyampaikan pesan, agar Raja Singabarong dan Raja Merak dipancing dengan tetabuhan, dan orang menari-nari di depannya, dengan menggunakan topeng yang aneh, lucu, tetapi sekaligus pun mena­kutkan. Dengan demikian Raja Singabarong dan Raja Merak akan hanyut terlena oleh bunyi tetabuhan dan gerak tari serta perujudan yang aneh tersebut. Dan di situlah letak kelemahan Singabarong dan Merak. Pada saat yang demikian terbukalah peluang bagi Kelana Sewandana untuk melumpuhkan kesaktian mereka dengan melecutkan cemeti pusaka yang bernama “gendir wuluh gadhing” ke tubuh mereka. Sang petapa kemudian menyerahkan sebuah cemeti pusaka yang dimaksud kepada Prabu Kelana Sewandana. Sesudah itu gaiblah ia.

Dengan semangat yang pulih kembali, Kelana Sewandana menyusun barisannya mengatur siasat. Patih Bujangga Anom dimintanya mengenakan topeng yang dimaksudkan dan menari-nari menggoda di depan Singaba­rong dan Merak, dibantu oleh dua orang wira yang berpakaian badut dan bertopeng pula, sedang beberapa prajurit berkuda ikut pula menari-nari di atas kudanya masing-masing mengitari tidak jauh. Beberapa prajurit lain­nya membunyikan tetabuhan seadanya, terdiri dari peralatan musik perang berupa kendhang, dhog-dhog, gong beri, bendhe, selompret, dibarengi dengan suara senggakan yang riuh rendah. Sementara pasukan-pasukan lainnya dipimpin oleh Kelana Sewandana bersiap-siap setiap saat untuk menyerang pasukan Singabarong dan Merak, setelah Kelana memberikan isyaratnya dengan melecutkan “gendir wuluh gadhing” ke tubuh Singa­barong dan Merak.

Siasat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Mula-mula Singabarong dan Merak terkejut keheran-heranan. Mereka saling berpandangan, tetapi kemudian Merak pun mulai mengigal. Bulu ekornya yang panjang itu di­kembangkan tegak berdiri melingkar membuat bentuk kipas rasaksa berwarna hijau kemilauan sangat indahnya. Dengan anggun ia berjalan kian-kemari dengan kepalanya menganggut-anggut mengikuti irama ken­dhang.

Tanpa disadari kaki Singabarong pun mulai ikut berkejutan mengi­kuti bunyi tetabuhan yang sigrak bersemangat itu. Lama-lama badannya pun ikut bergerak, meliyuk-liyuk menirukan orang menari. Kepalanya digelengkan ke kanan dan ke kiri, surinya berombak-ombak. Sorak-sorai orang Bantarangin bergemuruh memenuhi angkasa, bersahutan dengan senggakan-senggakan menambah kemeriahan suasana. Patih Bujangga Anom mengenakan topeng berwarna merah dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang, kumis tebal dan rambut gimbal. Ia menari- nari dfcngan gerak-gerik yang lucu di hadapan Singabarong dan Merak sambil menggoda. Kegembiraan semakin memuncak, ketika Raja Merak terbang ke udara untuk kemudian hinggap bertenggar di atas kuduk Singa­barong dan mengigel.

Prabu Kelana Sewandana waspada. Cemethinya sudah disiapkan. Pasukan berkuda dan yang berjalan kaki sudah siap-siap pula menanti isyarat dari pemimpinnya. Singabarong dan Merak sudah mabuk kepa­yang dan lupa segalanya. Dan pada saat itulah bunyi “gendir wuluh gadhing” menggeletar melecut tubuh Singabarong dan Merak sekaligus, hingga kedua mahluk itu lumpuh tiada berdaya sama sekali.

Bersamaan dengan bunyi lecut cemethi, tiba-tiba tetabuhan ber­henti mendadak, sebagai isyarat bagi pasukan berkuda yang sudah dise­pakati untuk menyerbu barisan musuh yang sudah lengah sama sekali. Pasukan yang berjalan kaki mencegat mereka yang berusaha melarikan diri, dengan demikian mereka ditumpas atau ditawan.

Singabarong dan Merak minta pengampunan dan merajuk-rajuk agar kekuatannya dipulihkan kembali. Mereka berjanji membantu Sang Kelana melamar puteri Daha. Permintaan Singabarong dan Merak dika­bulkan. Dengan kesaktian Kelana, Singabarong dan Merak pulih kembali kekuatannya. Peperangan dihentikan, dan mereka pun bersama-sama mengiringkan raja Kelana Sewandana meneruskan perjalanan ke Daha.

Sepanjang jalan menuju ke Daha-, penduduk desa-desa yang dile­wati menjadi terheran-heran menyaksikan suatu perarakan yang aneh, yang selama hidup belum pernah mereka saksikan. Paling depan sebagai perintis sepasukan prajurit bersenjata. Kemudian seorang penari dengan menggunakan topeng merah lucu tetapi pun menakutkan. Rupanya Patih Bujangga Anom enggan menanggalkan peranannya sebagai badut Ganong (demikianlah sebutan namanya kemudian). Jalannya maju mundur menari- nari menggoda Singabarong, yang juga ikut menari. Raja Merak mengigal, angkuh dan anggun bertenggar di kuduk Singabarong. Di belakangnya barisan penabuh. Alat tetabuhannya terdiri dari kendhang, dhog-dhog, bemdhe, gong beri, selompret. Lagunya berirama gembira, sigrak dan ber­semangat, diselingi sorak dan senggakan, menggempita sampai terdengar jauh. Kemudian menyusul Prabu Kelana Sewandana. diapit-apit oleh barisan kawalnya, yang disusul oleh pasukan lainnya, beijalan kaki maupun yang berkuda.

Catatan:

Adegan terakhir inilah yang kemudian menjadi tontonan Reog di Panaraga. Nama “reog” Barangkali diambil dari nama alat tetabuhan sejenis tambur, atau kendhang, atau yang sering disebut “dhog-dhog” yang berfungsi sebagai penentu irama.

Sampai di sini dongeng asal-usul Reog Panaraga sebenarnya tamat. Tetapi dongeng Kelana Sewandana sendiri masih bersambung. Pada sambungan ini terdapat beberapa versi yang berbeda satu sama lain, namun tidak prin­sipiil. Dua versi yang agak jauh berbeda adalah seperti di bawah ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 50-54

Haji Oemar Said Tjokromaninoto, Tokoh Pergerakan Nasional

HOS. COKRO AMINOTOTahun 1883, di Desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, lahir, Tjokroaminoto, putera dari Raden Mas Tjokroamiseno, Wedana Kleco, Madiun; sedangkan kakeknya, R.M Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo. Tjokromaninoto tak  memiliki pendidikan formal, ia hanya lulusan akademi pamong praja Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Magelang.

Tahun 1912, Awal karier Haji Oemar Said Tjokromaninoto, setelah bertemu dengan Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surabaya. Saat itu Tjokro mengusulkan agar nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam-tanpa meninggalkan misi dagangnya-agar lebih luas cakupannya. Usul itu langsung diterima dan ia diminta menyusun anggaran dasar SI.

10 September 1912, Sarekat Islam pun resmi berdiri dengan Samanhudi menjadi ketua dan Tjokro menjadi komisaris untuk Jawa Timur.

Tahun 1915, Tjokro menjadi ketua Central Sarekat Islam (SI), gabungan dari SI daerah. Semenjak itu terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI. Dalam naungan organisasi ini Tjokro berjuang menghapuskan diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi. Upaya SI menghilangkan dominasi ekonomi penjajah Belanda serta para pengusaha keturunan Cina.

Maret 1916, Sarekat Islam diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia Belanda. Berbeda dengan para pemuda keturunan bangsawan lainnya, H.O.S. Tjokroaminoto berupaya keluar dari belenggu budaya Jawa. Tjokro tidak memilih organisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangannya. Padahal  H.O.S. Tjokroaminoto layak bergabung dalam organisasi eksklusif priyayi itu. Kakek serta Ayahnya, adalah bangsawan.

Ekspresi patriotisme, Haji Oemar Said Tjokromaninoto untuk menentang penghisapan dan eksploitasi oleh pemerintahan kolonial. Orang pertama yang meneriakkan Indonesia merdeka. Sehingga pemerintah kolonial belanda menjulukinya  “De Ongekroonde van Java” atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota” 

Tahun 1916, Gagasan patriotiknya terlihat dalam berbagai ceramah dan tulisan di berbagai media massa. Tjokroaminoto juga melakukan gerakan penyadaran itu terhadap anak-anak muda Surabaya. TjokroIa berkeinginan, Indonesia memiliki pemerintahan sendiri bebas dari belenggu penjajahan. Paling tidak, untuk tahap awal, bangsa Indonesia bisa menyalurkan suaranya dalam masalah politik, misalnya, lewat pembenahan parlemen sebagai perwujudan prinsip demokrasi. Dengan begitu, kehidupan bangsa Indonesia diatur oleh perundangan yang diputuskan oleh bangsa Indonesia sendiri di lembaga itu. Gagasan Tjokroaminoto itu dilontarkannya di tengah-tengah Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam. Tentu saja, di masa itu pandangan tersebut dinilai sangat luar biasa berani dan progresif.

Tahun 1918, Haji Oemar Said Tjokromaninoto mengusulkan pembentukan sebuah parlemen, pemerintahan kolonial Belanda bersedia membentuk Dewan Rakyat (Volksraad). Tjokroaminoto beserta  Abdul Muis dan Agus Salim terpilih sebagai anggota dewan itu. Mereka pun bertekad untuk membentuk parlemen sejati. Ketiganya  sempat  mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih dari dan oleh rakyat, serta membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen. Sayang, mosi itu ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini pulalah yang memaksa SI untuk mengambil alih sikap non kooperasi dengan pemerintah.

Tahun 1923, Kongres Sarekat Islam di Madiun SI diubah menjadi partai politik, bernama Partai Sarekat Islam (PSI).  Menentang pemerintah Belanda yang melindungi kapitalisme. Haji Oemar Said Tjokromaninoto adalah sosok otodidak yang memiliki pengaruh kuat di kalangan rakyat jelata, hingga menjadikan begitu ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda, bahkan tidak sedikit rakyat yang menganggapnya sebagai Ratu Adil, karena gagasannya dianggap melebihi zaman serta selalu berpihak kepada rakyat dan tanah airnya. Tapi, Tjokro justru menolak sebutan itu. Dia justru mengingatkan bangsa Indonesia untuk bekerja keras menciptakan Indonesia merdeka. Selain kemerdekaan Indonesia, pokok gagasan Tjokro yang terkenal adalah pentingnya kebebasan berpolitik serta perlunya membangkitkan kesadaran akan hak-hak kaum pribumi.

17 Desember 1934, Sebelum cita-citanya terkabul, Haji Oemar Said Tjokromaninoto harus menghadap Sang Khalik.  Namu, ia meninggalkan seorang murid yang kelak akan meneruskan harapannya. Soekarno pun mengakuinya bahwa Tjokroaminoto adalah salah satu gurunya yang amat dihormati. Kepribadian serta Islamismenya sangat menarik hatinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. M. Mayuhur Amin, HOS. Tjokroaminoto; Rekonstruksi Pemikiran Dan Perjuangannya: Cokroaminoto University Press. Bab. II.1995. (CB-D13/1995-15)

Reog Panaraga: Versi Asmarabangun – Rahwanaraja

Tersebutlah dalam kisah, Raden Panji Asmarabangun, Raja Jenggala, pada suatu hari kehilangan empat puluh empat ekor kuda piaraannya. Segera dapat diketahui, bahwa pencurinya adalah Rahwanaraja, yang menguasai hutan wilayah Mataram.

Rahwanaraja ini suatu mahluk berbadan manusia, tetapi berkepala harimau, berperangai buas dan menakutkan. Seluruh penghuni hutan menjadi bawahannya. Prajurit-prajuritnya terdiri atas binatang-binatang buas yang hidup di hutan, seperti harimau, ular naga, celeng, banteng, dan lain-lainnya.

Setelah diketahui, bahwa Rahwanaraja pencurinya, maka Raja Jenggala memerintahkan Patih Brajadhenta dan Tumenggung Jantraguna untuk menumpasnya. Semua, Rahwanaraja beserta pengikut-pengikutnya. Dalam pada itu Baginda Panji Asmarabangun pun ingin pula menyaksikan perburuan tersebut. Maka berangkatlah Baginda diantar oleh dua orang panakawannya Bancak dan Dhoyok (atau disebut pula Penthul dan Tembem) dengan membawa anjing-anjing berburu.

Tidak dikisahkan selama di perjalanan, sampai di hutan segera terja­dilah perkelahian seru antara pasukan Jenggala dan pasukan binatang buas, kawula Rahwanaraja. Pasukan binatang buas akhirnya dapat di­tumpas, dan tampillah Rahwanaraja berhadapan dengan Raden Panji Asmarabangun. Keduanya segera terlibat dalam perang tanding yang seru, karena masing-masing memiliki kesaktian yang tidak mudah dika­lahkan. Tetapi akhirnya pun kemenangan berada di pihak Panji. Rahwa­naraja dapat dibunuh. Seluruh hutan menjadi aman, dan setelah dikuasai oleh Jenggala, maka di sana-sini dibuka menjadi dusun yang aman dan makmur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 61

Reog Panaraga: Versi Jathasura – Kilisuci – Bujanggalelana dan Kelana – Candrakirana

Buta Locaya, seorang bujangga sakti, pencikal-bakal Daha dan se­kitarnya, mempunyai dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Jakalodra, adiknya Singalodra. Pada suatu hari sang bujangga memanggil kedua anaknya menghadap. Jakalodra mengenakan ikat kepala yang bukan mestinya. Sebagai seorang satria seharusnya mengenakan ikat kepala jilidan menurut adat setempat, tetapi waktu itu Jakalodra menggunakan ikat kepala yang bagian sisi kanan dan kirinya mencuat keluar seperti tanduk kerbau layaknya. Melihat hal demikian sang ayah menjadi gusar, katanya:

“Ikat kepala macam apa yang kaukenakan itu? Lihat tampangmu, tak ubahnya seperti kepala kerbau saja!”

Mendengar ujar ayahnya demikian, Singalodra, si bungsu, ketawa terbahak-bahak.

“Kau pun demikian juga!” tegur sang bujangga, “Seperti tak tahu adat. Cekakakan seperti mulut macan layaknya!”

Mungkin karena kesaktian sang bujangga, mungkin pula karena kehendak Dewata, sekonyong-konyong kedua kakak-beradik itu seperti kena kutuk dan menjadi salah ujud. Jakalodra menjadi seorang manusia berkepala kerbau, sedang adiknya, Singalodra, berkepala macan (hari­mau). Keduanya menangis menyesal dan minta ampun agar dikembalikan kepada ujudnya yang semula.

“Aduh, ayah, hamba akan menjadi apa, dengan ujud hamba yang begini? Hamba seorang satria, mestikah hamba menanggung malu dengan muka dan kepala binatang begini? Bagaimana mungkin hamba menjadi satria, kalau hamba tak berani lagi muncul di depan umum? Hamba mohon ampun, ayah.”

“Anakku, Jakalodra dan Singalodra. Ayah pun menyesal karena ke­buru hati mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak patut kuucapkan. Tetapi apa hendak dikata. Nasi telah menjadi bubur, suratan takdir tidak dapat diubah. Ini sudah kehendak Dewata. Ayah hanya dapat berdoa, agar kalian, apa pun ujudmu, tetap menjadi satria dan yang sakti pula. Ini, terimalah, anak-anakku, pusaka ayah berupa “aji-aji pamungkas”, jadikan perisai keselamatanmu bersama. Hendaknya kalian rukun selalu. Tetaplah bersatu dalam menghadapi segala keadaan apa pun, itulah ke­kuatan “aji-aji” ini, yang akan menjadikan kalian satria yang sakti.”

“Aduh, ayah, karena ujud hamba yang sudah begini, tidak ada lagi keinginan hamba kecuali kesaktian. Berikan “aji-aji pamungkas” itu, ayah, hamba akan mematuhi segala petunjuk dan nasehat ayah.”

“Sukurlah, anakku. Nah, sebelah barat ini terdapat daerah hutan belantara yang luas. Carilah tempat yang terdapat “sarang angin”-nya, bukalah hutan di sekitar itu dan dirikan perkampungan sebagai tempat tinggal kalian. Namakan perkampungan baru itu Bandarangin.”

Kedua kakak-beradik itu pun bersembah dan menerima “aji-aji pamungkas,” setelah itu bermohon diri untuk membuka hutan yang ditunjukkan oleh ayahnya itu.

Syahdan, Jakalodra dan Singalodra telah berhasil membuka hutan di sebelah barat Daha, sebagaimana ditunjukkan oleh ayah mereka sang bujangga Buta Locaya. Perkampungan telah berdiri, mula-mula kecil, lambat laun menjadi besar, karena makin banyaknya pendatang yang ikut tinggal dan membangun perkampungan tersebut. Bahkan akhirnya kedua saudara itu pun berhasil mendirikan istana bagi dirinya masing-masing. Jakalodra kemudian mengangkat dirinya sebagai raja penguasa daerah itu dengan gelar Prabu Anom Lembusura (atau Maesasura?), sedang adiknya dijadikan patihnya, bernama Jathasura. Adapun kerajaan mereka dina­makan Bandarangin, karena merupakan sebuah kota yang banyak berangin. Letak Bandarangin itu di desa Bandaran di Kedhiri sekarang, berada di seberang Brantas sebelah barat. Tetapi pada waktu itu sungai Brantas belum ada.

Berbatasan dengan Bandarangin adalah kerajaan besar Kedhirilaya, yang dirajai oleh seorang puteri cantik bernama Ratu Kilisuci. Prabu Anom Lembusura ingin mempersunting Ratu Kilisuci. Maka dipanggilnya Patih Jathasura, adiknya, dan disampaikan niatnya itu.

“Kalau aku berhasil memperisteri Ratu Kilisuci, maka aku akan menjadi raja Kedhirilaya. Dan kau akan kujadikan Raja Muda di Banda­rangin ini. Sekarang berangkatlah kau ke Kedhirilaya, menyampaikan pinanganku kepada Ratu Kilisuci.”

“Baiklah, kakang Prabu, tetapi kalau lamaran itu ditolak, bagai­mana? Betapapun juga, kita harus menyadari, bahwa ujud kita ini tidak sempurna lagi. Apakah kira-kira mau Ratu Kilisuci menerima kakang Prabu menjadi suaminya?”

“Kuberi kau purba wasesa untuk memutuskan segala sesuatunya. Andaikata Kilisuci minta tebusan, apa pun tebusan itu, turutilah barang kehendaknya. Tetapi kalau ia menolak, jadikanlah kerajaan Kedhirilaya karang-abang. Gunakanlah “aji-aji pamungkas” warisan ayahanda.”

Patih Jathasura berangkat ke Kedhirilaya dengan membawa bebe­rapa satuan pasukan bersenjata lengkap, dengan Kelana Sewandana sebagai panglima.

Sesampainya di ibukota kerajaan Kedirilaya, Patih Jathasura meng­hadap Ratu Kilisuci, diantar oleh Patih Kedhirilaya Sang Bujanggaleng. Syahdan, ketika Patih Jathasura untuk pertama kali melihat kecantikan Ratu Kilisuci, timbul niatnya yang tidak baik. Ia merasa sayang kalau wanita secantik itu harus diserahkan kepada kakaknya. Ia ingin memperisterinya sendiri. Dan dinyatakannya isi hatinya itu terus terang kepada baginda Ratu, yang mendengarnya dengan sabar dan penuh perhatian. Setelah Jathasura habis bicara, maka bersabdalah Ratu Kilisuci:

“Sudahkah kaupikirkan masak-masak keinginanmu itu, Jathasura? Kau adalah utusan kakakmu, yang juga menjadi rajamu, yang segala titahnya sepatutnya kau junjung tinggi. Kalau kau sendiri sekarang mengi­nginkan aku, ini berarti, bahwa kau akan mengkhianati rajamu. Apakah kau bertanggung jawab, kalau timbul murka rajamu?”

“Hamba bertanggung jawab. Hamba akan menghadapinya, kalau ia akan menuntut dan memerangi Kedhirilaya. Hamba cukup kuat mengha­dapinya, karena hamba mempunyai “aji-aji pamungkas,” yang akan me­ngalahkan dia.”

“Baiklah, tetapi tak urung rakyatku jua yang akan menderita, kalau rajamu Prabu Lembusura datang menyerang kemari. Ini tidak adil, sebab dalam perkara ini aku dan lebih-lebih rakyatku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Perkara ini semata-mata urusanmu dan urusan raja­mu.”

“Tetapi kalau lamaran ini ditolak, dia pasti akan memerangi Kedhi­rilaya juga. Itu sudah pasti. Dan kalau lamarannya tuanku terima dan ber­hasil ia memperisteri tuanku, hamba pasti tidak rela.”

“Sebaliknya pun demikian juga. Andaikata kuturuti kehendakmu, dia pun tidak akan rela. Karena itu begini sajalah. Aku bersedia menjadi isterimu, kalau kau berhasil membunuh rajamu lebih dulu. Kalau dia sudah mati, maka perkawinan kita tidak lagi akan terganggu. Tetapi kalau kau gagal, jangan harapkan aku. Nasibmu sudah pasti, kau akan mati oleh rajamu sendiri, dan aku menjadi isterinya. Dengan demikian rakyatku akan terhindar dari malapetaka peperangan. Ini sudah adil. Bagaimana, Jathasura, sanggupkah kau memenuhi permintaanku?”

“Permintaan tuanku puteri akan hamba penuhi. Sekarang hamba minta diri.”

Syahdan, pertarungan sengit yang timbul antara kedua kakak-beradik, setelah Jathasura kembali di Bandarangin, akhirnya berakhir dengan kematian Prabu Lembusura. Tetapi belum lagi Jathasura menikmati ke­menangannya, tiba-tiba muncul di hadapannya bujangga Buta Locaya.

“Heh, Jathasura, tak kusangka setega itu kau mengkhianati saudara tua, yang rajamu pula, hanya karena nafsu memperebutkan perempuan, yang bukan hakmu pula, karena kau hanyalah sebagai utusan. Tetapi hendaknya kau ingat, Jathasura, bahwa tiap perbuatan manusia itu tidak akan luput dari pembalasan yang disuratkan oleh karmamu sendiri. Kau tak menyadari, bahwa permintaan Ratu Kilisuci sebenarnya hanyalah tipu muslihat belaka. Oleh tipu muslihat itu kau telah menjadi alat penyebab kematian saudaramu. Maka kematianmu kelak pun akan disebabkan oleh tipu muslihat.” Setelah bersabda demikian, maka gaiblah Sang Bujangga Buta Locaya.

Tertegun Jathasura sesaat, seakan-akan menyesal ia atas tindakan­nya telah membunuh saudaranya sendiri. Tetapi kemudian datang bersembah panglima Kelana Sewandana.

“Gusti, tibalah saatnya kini tuanku menagih janji Prabu Puteri Ki­lisuci. Hamba menanti titah tuanku, apa yang harus hamba lakukan.”

Mendengar nama Kilisuci, tiba-tiba semangat Jathasura timbul kembali. Sabda Sang Buta Locaya seakan-akan telah hapus begitu saja oleh kenyataan, bahwa kini ia telah menjadi penguasa tunggal di kerajaan Bandarangin, dengan harapan akan mempersunting Puteri Kilisuci, pengua­sa kerajaan besar Kedhirilaya.

“Sewandana”, demikian katanya, “perintahkan membuat pancaka untuk membakar layon kakang Prabu Lembusura. Adakan upacara besar-besaran untuk mengantar sukma Baginda ke nirwana. Nyatakan hari-hari berkabung selama sepekan bagi seluruh kawula kerajaan Bandarangin. Setelah itu persiapkan angkatan perang yang akan mengantar perjalanan­ku ke Kedhiralaya untuk menagih janji Kilisuci.”

Peristiwa kematian Prabu Lembusura sudah terdengar beritanya sampai di istana Kedhirilaya. Itulah sebabnya Kedhirilaya diam-diam mem­persiapkan angkatan perangnya menghadapi Jathasura, sebab, bagaimana pun juga, Dewi Kilisuci bertekad untuk tidak mau menyerah kepada ke­inginan Jathasura.

Tiba saatnya menagih janji, Jathasura, yang kini sudah menjadi raja Bandarangin menggantikan kedudukan kakaknya, datang dengan mem­bawa pasukannya di ibukota Kedhirilaya.

“Prabu Jathasura”, sabda Ratu Kilisuci ketika menerima kedatangan Jathasura di stinggil. “Jangan kau kecewa, kalau kunyatakan kepadamu, bahwa sebenarnya sejak semula aku tidak ingin menjadi isteri siapa pun. Juga isterimu tidak. Lebih-lebih kau karena ujudmu itu, manusia berkepala macan. Itu adalah suatu pertanda, bahwa kau adalah penjelmaan binatang. Ini dapat dibuktikan pula dengan ulahmu yang mudah tega membunuh saudara sendiri karena dorongan nafsumu. Nafsu kebinatangan yang mengijinkan perbuatan jahat guna memenuhi keinginan angkaramu. Demi ke­hormatan negaraku, kawulaku, dan diriku sendiri, lamaranmu kutolak.”

Bagaikan disebit telinga Jathasura mendengar hinaan Kilisuci yang ditujukan kepada dirinya. Matanya berapi-api, dagunya gemetar, tangan­nya mengepal karena menahan marah.

“Heh, perempuan jahanam, tidak pantas rupanya kau disebut ratu, karena kau mengingkari janji-janjimu sendiri. Tidak akan tenteram hatiku sebelum aku berhasil membuat kau tunduk kepada kemauanku. Bersiap-siaplah kau untuk menerima upah kesombonganmu!”. Dan dengan an­caman demikian, Jathasura meninggalkan sitinggil.

Peperangan tidak dapat dihindarkan. Tetapi segalanya sudah diper­siapkan dan diperhitungkan. Namun demikian terdesak juga pasukan Kedhirilaya menghadapi amukan Jathasura yang dibantu dengan serangan-serangan gencar oleh pasukan istimewanya. Jathasura memang sakti. Segala macam senjata tidak mempan terhadapnya. Banyak sudah prajurit Kedhirilaya yang gugur atau tertawan. Mereka yang tertawan dijadikan sandera, dikumpulkan di dua tempat yang terpisah. Para perwira dan pejabat-pejabat tinggi ditawan dalam sebuah gedung besar berpagarkan tembok. (Tempat ini sampai sekarang terkenal dengan sebutan Setana Gedhong). Sedang prajurit bawahan dikumpulkan dalam sebuah per­kampungan yang dipagari bambu, (yang kini menjadi kampung Setana Bethek. Bethek = bambu).

Patih Bujanggaleng seorang cendekia, bijaksana, arif, penuh akal dan muslihat. Ia melihat Jathasura sebagai orang sakti, tetapi yang hanya mengandalkan kekuasaan dan kekuatan jasmani, mudah dipengaruhi oleh perasaannya yang terburu nafsu, mengabaikan kecerdasan akal dan budi yang baik. Kesaktiannya untuk memburu keangkaraannya, dan kesaktian demikian tidak akan dapat menyelamatkannya. Tetapi melawan Jathasura dengan kekuatan perang, pasti akan membawa korban besar kepada pra­jurit Kedhirilaya. Maka disarankannya Ratu Kilisuci untuk berpura-pura menyerah damai dan bersedia kawin dengan Jathasura, namun dengan persyaratan:

satu: agar dibuatkan sebuah sumur ban dung di puncak gunung Kelut, lengkap dengan sebuah tamansari dan pesanggrahannya, yang kelak akan menjadi tempat pengantin dipertemukan.

dua: tebusan pengantin perempuan berupa sasrahan ayam tukung sebesar gubug penceng (= gayor gong), kepalanya sebesar buah jambe (= tabuh gong), dan matanya sebesar terbang sesisi (= gong).

tiga: gulungan dedak jagung (= iker-iker, pinggiran topi), dibungkus daun asam (= sinom, yang juga nama tembang), sedang bitingnya alu beng­kong (= kepala orang yang dijobloskan dalam lingkaran iker-iker; beng­kong = dengan maksud terselubung). Pengarak pengantin terdiri atas pra­jurit yang menari-nari sambil menabuh sendiri, sedang niyaganya dewa berwatak sembilan. (Dewa = penguasa, pejabat pemerintah; berwatak sembilan = sembilan jenis kelompok). Pelaksanaan perarakan pengantin kelak akan diatur oleh Patih Bujanggaleng.

Karena mabuk kemenangan, maka tanpa pikir panjang, Jathasura menerima usul perdamaian dan persyaratan yang diminta oleh Ratu Kilisuci. Segera diperintahkannya mempersiapkan segala peralatan penga­rak pengantin. Para tawanan dipekerjakan di sebuah perkampungan yang disebut Setana Pandhe, karena di situ didirikan beberapa besalen untuk pembuatan gong, kenong, dan juga peralatan gamelan lainnya.

Jathasura sendiri memimpin pasukannya mempersiapkan pem­buatan sumur bandung dengan pesanggrahan dan tamansarinya di puncak gunung Kelut. Karena kesaktiannya, semua ini pun berhasil disiapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka disampaikannya berita ke Kedhirilaya, bahwa segala persiapan untuk menerima mempelai puteri di gunung Kelut sudah selesai.

Pada suatu hari berangkatlah perarakan pengantin yang amat panjang dan megah dari ibukota menuju ke selatan, sepanjang jalan disambut gemuruh oleh rakyat Kedhirilaya. Sang Puteri ditempatkan dalam sebuah jempana berhiaskan lambang kerajaan dan ragam hiasan lain bertatahkan ratna mutu manikam. Paling depan pasukan pembawa panji-panji dan umbul-umbul tanda kebesaran kerajaan, diapit oleh pasukan perintis yang bersenjatakan tombak dan keris. Kemudian barisan penari dan penabuhnya, lalu beberapa jempana yang membawa Sang Puteri dan para inang pengasuh. Di belakanganya menyusul barisan penari dan pena­buh lagi, kemudian ditutup oleh barisan prajurit bersenjata.

Semakin jauh perjalanan semakin sukar, apalagi jalannya menanjak dan rumpil. Sebentar-sebentar beristirahat sambil makan atau minum. Tetapi semangatnya tetap tinggi. Akhirnya sampai juga perjalanan mereka ke tempat tujuan, yaitu puncak gunung Kelut. Jathasura datang menyam­but perarakan itu dengan wajah gembira dan bangga. Utusan Ratu Kilisuci menyampaikan berita kepada Jathasura, bahwa Sang Puteri akan mela­kukan pemeriksaan setempat untuk meyakinkan diri, apakah semua sudah memenuhi persyaratannya. Kemudian barisan memberikan jalan kepada usungan jempana yang ditumpangi Sang Puteri dan para inang.Usungan mendekati tepi sumur yang bentuknya seperti kawah, terjal dan dalam, diiring oleh para pembesar kerajaan dan prajurit yang bertugas menjaga keselamatan Sang Puteri.

Syahdan, ketika usungan berada di tempat tepi sumur yang dalam itu, entah apa sebabnya, tiba-tiba jempana menjadi oleng, dan sebelum orang-orang menyadari apa yang terjadi, jerit dan pekik para inang dan prajurit lainnya melengking memenuhi udara: “Sang Puteri, jatuh ke su­mur! Tolong! sang Puteri! Tolong!” Sekilas tampak Ratu Kilisuci cepat terluncur ke bawah.

Jathasura sangat terkejut dan segera bertindak. Ia meloncat melun­cur ke dalam sumur dengan maksud menolong Sang Puteri calon per­maisurinya, diikuti oleh pandangan penuh arti orang-orang yang berada di sekitar sumur. Dalam pada itu di belakang terjadi kekalutan. Pasukan Jathasura yang lengah tak tahu datangnya bahaya, tiba-tiba diserang oleh pasukan prajurit Kedhirilaya. Banyak yang mati, tak terhitung jumlahnya, dan ada pula yang lari tunggang lenggang dihujani berpuluh-puluh tombak. Pada saat itu pula para prajurit pengiring Ratu Kilisuci beramai-ramai melemparkan batu besar-besar ke dalam sumur.

Tersebutlah yang berada di dalam sumur, Jathasura tidak dapat berbuat apa-apa. Ia menyadari kutukan ayahnya berlaku atas dirinya, sebagai pembalasan atas kematian kakaknya. Namun demikian masih sem­pat juga ia melontarkan sumpahnya:

“Heh, orang-orang Kedhirilaya, janganlah kalian girang-girang ketawa, tunggulah pembalasanku. Akan kuletuskan gunung Kelut ini, dan kubanjiri wilayah Kedhirilaya dengan laharnya yang panas yang meng­hanguskan segala!”

Para prajurit Kedhirilaya tidak berhenti bekerja, sebelum sumur bandhung tersebut penuh ditimbuni batu dan tanah, sehingga seluruhnya terurug sama sekali. Kemudian kembalilah mereka membawa kemenangan.

Tiba kembali di ibukota, Patih Bujanggaleng segera menghadap Baginda Ratu Kilisuci, melaporkan hasil gemilang tipu muslihatnya. Jatha­sura telah mati terkubur di kawah gunung Kelut.

“Terima kasih, Pamanda Patih”, sabda Ratu Kilisuci dengan lembut, “akal pikiran Pamanda untuk mencipta boneka gambarku, ternyata telah menolong kehormatan pribadiku dan kehormatan kerajaan Kedhirilaya.”

“Tetapi sayang, boneka itu bagus benar,” sembah Sang Patih. “Hidup seperti kembaran Tuanku Puteri.”

“Aku rela dan iklas melepaskan dia berkubur bersama Jathasura dalam kawah gunung Kelut itu.”

Oleh Patih Bujanggaleng dilaporkan pula tentang sumpah Jathasura, yang akan meletuskan gunung Kelut dan membanjiri daerah Kedhirilaya dengan laharnya. Ratu Kilisuci lalu melepaskan selendangnya, dan ber­sabda:

“Baiklah kubuatkan jalan untuk mengalirkan banjir lahar itu,” dan dengan selendangnya itu diciptakannya sebuah sungai besar yang menga­lir lewat Kedhirilaya, yang kini terkenal dengan Kali Brantas. Dan ketika pada suatu hari betul-betul gunung Kelut meletus dan meluapkan lahar panas yang melanda daerah sekitar, maka Dewi Kilisuci pun mencegahnya jangan sampai masuk kota Kedhirilaya. Baginda meletakkan kain panjang di atas tanah di luar kota, maka terbendunglah lumpur panas itu. Lumpur­nya mengendap, airnya menguap, dan lambat laun membukit, akhirnya menjadi gunung Pegat yang sekarang ini (daerah Srengat, Blitar)…

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 62-69.

Reog Panaraga: Versi Wijaya – Kilisuci

Riwayat Terjadinya Reog Panaraga:  Versi Wijaya Kilisuci

Raja Wengker (Panaraga), Pangeran Wijaya, sangat sakti. Ia pandai menghilang. Ia pun belum beristeri. Konon menurut kata orang, bukan karena tiada wanita yang cocok di hatinya, melainkan karena mempu­nyai cita-cita yang ingin dicapainya dengan ulah laku. Karena kerasnya ia melakukan tapa, maka tak seorang pun kawulanya berani menghadap, kalau tidak dipanggil. Kerajaan menjadi angker. Itulah sebabnya negaranya dinamakan Wengker.

Setengah orang lain mengatakan, bukan karena tiada wanita, me­lainkan disebabkan karena kegemarannya ber-“gendhak”, yaitu kawin dengan sesama lelaki. (Istilah setempat “gemblak” = homoseksualitas). Tingkah laku demikian lambat laun ditiru oleh kawulanya. Entah ditiru ataukah diperintahkan, tetapi kenyataan menunjukkan, bahwa di daerah

Wengker berlaku tata kehidupan “kawin gendhak” atau “kawin gemblak”. Dengan demikian akhirnya negeri mengalami kekurangan penduduk, karena angka kelahiran sangat merosot.

Pada suatu ketika, Wengker diperangi oleh kerajaan Kahuripan. Karena kekurangan tenaga pertahanan, maka Wengker mengalami keka­lahan yang pahit. Mujur Pangeran Wijaya mempunyai kesaktian luar biasa, pandai menghilang, karena itu sulit dapat ditangkap atau dibunuh, bahkan selalu muncul di tempat lain untuk mengadakan perlawanan lagi. Pasukan Kahuripan dengan demikian sempat dibuat kucar-kacir. Namun keamanan Wijaya tetap terancam, karena Raja Kahuripan, Prabu Airlangga, telah bulat tekadnya untuk menumpas Wijaya. Hal ini disadarinya benar-benar. Lambat laun ia menjadi jenuh hidup selalu dibayangi oleh bahaya serangan musuh. Dirasakannya kelemahan pertahanan negaranya, karena kekurang­an prajurit.

Akhirnya dilakukan perombakan dalam tata kehidupan rakyatnya. “Kawin gemblak” dihapus, dan digantikan dengan tata perkawinan biasa. Wijaya sendiri pun sudah bertekad untuk mengakhiri “masa bujangnya”, dan akan mencari calon isterinya. Tetapi karena dorongan ambisinya akan kekuasaan, maka dipilihnya calon permaisurinya puteri mahkota keraja­an Kahuripan, Dewi Kilisuci, puteri Prabu Airlangga. Maka dipanggilnya Patih Jayawinanga menghadap untuk diserahi tugas menyampaikan surat lamaran kepada Raja Kahuripan.

Jayawinanga adalah seorang perwira yang sangat sakti dan gagah berani. Kesaktiannya telah dibuktikan dalam menghadapi musuh dari Kahuripan. Ia menjadi patih kerajaan Wengker dengan pangkat Bujangga Anom. Tetapi kesaktian itu sendiri tidak akan menolong kehancuran kerajaan Wengker, kalau angkatan perang sebagai tulang punggungnya semakin menyusut kekuatannya. Karena itu Jayawinanga diutus ke Bali lebih dulu minta bala bantuan. Sesudah itu lalu pergi langsung ke Kahu­ripan menyampaikan surat lamaran, disertai kekuatan bala bantuan dari BaU. Kepada Jayawinanga pun diberikan kekuasaan sepenuhnya mengam­bil tindakan-tindakan yang dipandangnya perlu untuk mendapatkan Sang Puteri. Jayawinanga lalu minta diri.

Dewi Kilisuci, puteri sulung Prabu Airlangga, puteri mahkota keraja­an Kahuripan yang beribukotakan Kedhiri, mashur karena kecantikan­nya. Tetapi sayang, hingga akhir dewasa tidak berkeinginan untuk kawin. Hal demikian membuat Baginda dan permaisuri sangat prihatin, karena tiap kali harus menolak pinangan dari berbagai pihak.

Syahdan, pada suatu hari datanglah Patih Jayawinanga, mengaku utusan Prabu Kelana Sanaha dari kerajaan Buleleng Bali, menyampaikan surat lamaran untuk meminang Dewi Kilisuci. Tetapi Prabu Airlangga yang arif bijaksana tidak ayal lagi siapa sebenarnya yang dihadapi. Terhadap musuh sakti dan bandel seperti Wijaya dari Wengker dan pengikut-pengikutnya, Baginda Airlangga bersikap hati-hati sekali, dan menyebarkan banyak mata-mata untuk mengawasi segala gerak-geriknya. Karena itu kepergian Jayawinanga ke Bali telah disampaikan pula laporannya melalui telik sandi Baginda yang terpercaya. Kedatangan Patih Jayawinanga dengan membawa pasukan dari Buleleng pun sudah lebih dulu diketahui, dan persiapan-persiapan telah dilakukan untuk menghadapi segala ke­mungkinan, walaupun dari luar nampak tenang-tenang saja seperti ke­adaan biasa.

Sehabis membaca surat lamaran, baginda dalam hati telah menduga-duga apa sebenarnya yang dimaksud oleh musuhnya itu di balik pinangan­nya. Mustahil kalau Wijaya tidak mendengar tentang tekad puterinya, Dewi Kilisuci, yang menolak perkawinan, mengingat sudah banyak lamar­an yang ditolak. Wengker tidak jauh dari Kahuripan.

Satu hal lain yang meragukan iktikad baik Wijaya yalah, bahwa Wijaya sudah tersohor tidak kawin dengan perempuan, melainkan mela­kukan “kawin gemblak”, hal yang sudah menjadi tata adat kehidupan masyarakat di Wengker. Dan kini mendadak sontak berbalik haluan, tiba-tiba ingin memperisteri puterinya. Maksud sebenarnya, demikian pikir Baginda, yalah, bahwa Wijaya menghendaki tahta Kahuripan melalui perkawinan dengan Dewi Kilisuci, yang, karena kedudukannya sebagai puteri mahkota, mempunyai hak waris tahta kerajaan Kahuripan. Dengan demikian, Wijaya akan memenuhi ambisinya tanpa menumpahkan darah. Tetapi sebaliknya, kalau pinangannya ditolak, maka penolakan itu akan dijadikan dasar alasan untuk menggempur jantung kerajaan, yaitu Kedhiri, ibukota Kahuripan. Selama ini peperangan dilakukan jauh dari ibukota Kedhiri, di wilayah kekuasaan Wengker sendiri. Bukan tidak ada maksud­nya mengerahkan bala bantuan dari Buleleng yang sudah siap tempur itu.

“Patih Jayawinanga”, sabda Prabu Airlangga tanpa memperlihat­kan kecurigaannya, “surat gustimu sudah kubaca dan kupahami isinya. Tunggulah sampai besok keputusannya, sementara aku akan membicara­kan dengan kerabat istana dan terutama dengan nini dewi. Kuijinkan kau dan pasukanmu beristirahat di pesanggrahan yang sudah tersedia, dan jadilah tamuku. Segala kepentingan dan keperluan kalian akan dilayani sebaik-sebaiknya.”

Seundur Jayawinanga, Prabu Airlangga mengadakan pembicaraan dengan seisi istana dan para manggala praja tentang sikap dan tindakan apa yang baik dilakukan menghadapi siasat Wijaya dari Wengker itu. Pada akhir pertemuan diputuskan, agar Dewi Kilisuci mengeluarkan pasanggiri sebagai syarat untuk menerima lamaran Wijaya. Yaitu hendaknya dibuatkan sebuah telaga besar di puncak gunung Kamput, yang dikitari oleh sebuah taman sari lengkap dengan pesanggrahannya untuk peris­tirahatan kedua mempelai kelak.

Dengan mengandalkan kesaktiannya, dan mengingat akan wewe­nang yang diberikan Wijaya kepadanya, maka tanpa pikir panjang Jaya­winanga menyanggupi untuk memenuhi pasanggiri tersebut. Segera ia minta diri untuk langsung menuju ke gunung Kamput dengan menggiring pasukan bala bantuan dari Buleleng. Dalam pada itu, ia pun mengutus seorang prajurit kepercayaannya untuk kembali ke Wengker, melapor­kan hasil lamaran dan pasanggiri yang dituntutkan oleh Dewi Kilisuci kepada Prabu Wijaya.

Syahdan, rajaputera Kahuripan, Pangeran Kelana Sewandana, ketika sedang berkelana di hutan, melihat barisan pasukan asing lewat, lengkap dengan senjata perang. Segera ia menyingkir bersembunyi di balik rerungkudan. Ia menjadi curiga, karena pasukan asing tersebut datang dari arah ibukota Kahuripan. Hatinya menjadi kuatir. Ia pun segera menyimpang jalan, meninggalkan persembunyiannya, langsung kembali ke ibukota. Segera ia menghadap ayahanda. Baginda pun menguraikan hal ihwal kunjungan Patih Jayawinanga. Kecurigaan Baginda sejak awal ternyata dibenarkan dengan masuknya laporan, bahwa Patih Jayawinanga mengi­rim utusan ke Wengker untuk menyampaikan berita kepada Prabu Wi­jaya. Tentang pasanggiri Dewi Kilisuci disampaikan oleh Baginda, bahwa hal itu hanyalah suatu tipu daya untuk menghindarkan pertumpahan darah di ibukota, dan segalanya sudah dipersiapkan untuk kemungkinan-kemungkinan yang mendatang.

Setelah menerima keterangan dari Baginda, maka Kelana Sewan­dana pun minta ijin untuk membawa pasukan khusus buat mengejar utusan Jayawinanga, dengan harapan akan menemukan tempat persem­bunyian Wijaya. Ia ingin menyergapnya, hidup atau mati.

Pangeran Wijaya menanti-nanti kabar dari Patih Jayawinanga di salah satu tempat persembunyiannya, seraya menghimpun kekuatan ang­katan perangnya kembali, yang sudah bcrccrai-berai dan banyak berku­rang karena serbuan dan serangan pasukan Kahuripan yang terus-menerus. Namun semangat Wijaya masih tetap menyala-nyala, tak luntur sedikit pun oleh kegawatan kedudukannya.

Akhirnya yang lama ditunggu tiba, berita dari Jayawinanga yang dibawa oleh utusan. Mendengar laporan Jayawinanga, Pangeran Wijaya malah menjadi murka.

“Tak sadarkah Jayawinanga, bahwa ia telah masuk perangkap orang Kahuripan? Di mana ada orang membuat telaga dan taman pesang­grahan di puncak gunung, kalau tidak untuk mengubur dirinya? Jaya­winanga ingin mampus rupanya”

Dan Pangeran Wijaya pun memerintahkan pasukannya untuk ber­siap berangkat menyerang Kahuripan, dengan perhitungan bahwa per­hatian Kahuripan akan ditujukan kepada Jayawinanga dan bala bantuan­nya dari Buleleng, dengan demikian tidak siap akan menghadapi serangan Wijaya. Tetapi perhitungannya ternyata meleset. Belum lagi jauh ia dengan pasukannya meninggalkan persembunyiannya, sekonyong-konyong pasukan Kahuripan di bawah pimpinan Kelana Sewandana datang menyer­gapnya dari berbagai penjuru. Wijaya dan pasukannya terkepung rapat-rapat. Pertempuran tidak dapat dielakkan, tetapi kedudukan lawan jauh lebih menguntungkan, sedang ia sendiri terjepit. Prajuritnya sudah banyak tewas. Ia nekad. Hanya kesaktiannya yang diandalkannya. Dengan se­mangat yang tinggi ia menerjang barisan lawan yang mengepungnya, yang sudah merupakan pagar betis berlapis-lapis. Dalam amuknya masih sempat ia menewaskan banyak prajurit Kahuripan, tetapi akhirnya ia harus menga­kui keunggulan lawan. Wijaya menerima nasibnya. Ia gugur dengan tubuh­nya penuh ditembusi tombak Kahuripan.

Kelana Sewandana sempat menyaksikan mayat musuhnya sesaat, ketika terjadi suatu keajaiban. Mayat itu tiba-tiba lenyap tak tentu rim­banya, tetapi pada saat itu pula terdengar suara mengancam, suara Wijaya: “Heh, orang-orang Kahuripan! Baiklah kuterima kekalahanku se­karang, tetapi tunggulah pembalasanku nanti!”

Patih Jayawinanga berhasil memenuhi janjinya. Telaga besar di puncak gunung Kamput sudah siap, lengkap dengan tamansari dan pe­sanggrahannya yang indah laksana di sorga layaknya. Utusan dikirim ke Kedhiri untuk memberitahukan kepada Baginda Airlangga dan Dewi Kilisuci. Utusan berangkat, dan kemudian kembali membawa berita, bahwa perarakan besar Dewi Kilisuci sedang menyusul. Sang Puteri ingin melihat sendiri keadaan telaga, pesanggrahan dan tamansarinya. Patih Jayawinanga diminta menunggu di puncak gunung Kamput.

Perarakan besar yang mengiring Dewi Kilisuci ke gunung Kamput, sudah meninggalkan kota Kedhiri. Paling depan pasukan perintis jalan, disusul oleh barisan pemukul gamelan, bertalu-talu bunyinya. Lalu barisan wadyabala Kahuripan lengkap dengan senjatanya. Menyusul usung-usungan jempana, satu ditumpangi oleh Sang Puteri Dewi Kilisuci, lainnya oleh para inang pengasuh. Kanan dan kiri diapit oleh beberapa perwira menunggang kuda sebagai pengawal. Di belakangnya pasukan wadyabala bersenjata lagi, yang merupakan ekor barisan yang panjang. Sepanjang jalan dielu-elu oleh penduduk.

Tak diceritakan selama perjalanan perarakan itu, hanya kedatangan­nya di puncak gunung Kamput diperhitungkan menjelang senjakala. Sebentar kemudian hari pun gelap. Pemandangan di puncak gunung Kamput berubah menjadi seperti hutan terbakar layaknya, karena nyala ratusan obor yang menerangi sekitar.

Jempana Dewi Kilisuci diusung mendekati tepian kawah, konon atas permintaan Sang Puteri, yang ingin melihat lebih jelas keadaan telaga berikut taman dan pesanggrahannya. Tetapi tiba-tiba jempana oleng. jSang Puteri yang sedang melongok ke bawah kehilangan keseimbangannya, lalu jatuh terluncur ke kawah yang dalam serta curam itu. Teriak dan jerit para inang melengking, dan seketika keadaan menjadi hiruk-pikuk dan kacau-balau. “Sang Puteri jatuh! Sang Puteri jatuh! Tercebur ke kawah, tolong, tolong!”

Patih Jayawinanga, yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan calon permaisuri rajanya, segera bertindak. Tanpa pikir panjang ia terjun ke kawah untuk menolong Sang Puteri. Tetapi alangkah terkejutnya, keti­ka hampir bersamaan waktunya batu-batu besar berjatuhan dari atas, menghimpit dan menimpanya, bertubi-tubi, dibarengi dengan sorak-sorai orang-orang yang berada di tepi kawah di atas. Jayawinanga menjadi sadar, bahwa ia terjerumus dalam perangkap tipu muslihat orang-orang Kahuripan. Batu dan tanah semakin tinggi menimbuni kawah, sehingga akhirnya menutup rata sama sekali. Jayawinanga mati terkubur dalam ka­wah gunung Kamput bersama boneka Dewi Kilisuci yang dicipta oleh orang Kahuripan sebagai umpannya.

Ya, Jayawinanga sudah mati… jasadnya. Tetapi sukmanya, konon menurut kepercayaan penduduk, masih berkuasa. Meletusnya gunung Kamput dengan memuntahkan batu dan lahar panas adalah ulah Jaya? winanga untuk membalaskan dendamnya kepada penduduk Kahuripan dan Kedhiri, yang dianggap telah mengkhianatinya. Banyak korban yang jatuh.

Sukma Jayawinanga sanggup menembus bumi, merayang ke mana mana, dan dapat bertemu pula dengan sukma rajanya, Wijaya. Keduamenjelma menjadi siluman, kadang-kadang menampakkan diri: Wijaya menjadi mahluk berkepala harimau besar, berkudung bulu merak, untuk menyatakan betapa gandrungnya ia kepada Dewi Kilisuci, puteri cantik yang digambarkannya sebagai burung merak yang indah warnanya, yang selalu disunggi-sunggi di atas kepalanya. Dan suatu perujudan barongan demikian itu suka menghadang orang yang sedang pergi melamar calon isterinya. Dan barongan itu ikut dalam perarakan sambil menari-nari.

Dan Jayawinanga, sang Bujangga Anom, menjelma menjadi Bujang Ganong, yang bermuka merah, dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang dan besar, misai tebal, dan rambutnya yang gimbal. Dialah gendruwon yang selalu mendampingi sang Singabarong, menghilang ber­sama, muncul bersama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 55-61