Mengenal Warok dan Reog Ponorogo

Warok Tidak Harus Berwajah Seram dan Angker

 
Berbicara masalah warok, pikiran pasti langsung menbayangkan sosok lelaki yang bertubuh besar, kekar dan angker. Termasuk atribut yang terus dipakai setiap harinya yang serba hitam-hitam lengkap dengan kolor putihnya. Tak ketinggalan, lingkungan sekitar yang terkesan magis dan tak teratur dalam kehidupannya. Memang tak salah apabila begitu cepat menyimpulkan demikian. Itu sesuatu yang lumrah, bahkan sudah, bukan menjadi pembicaraan ranasia lagi bila sebutan warok yang terdapat di kota Ponorogo, banyak dinilai minor dalam kesehari-hariannya itu. Kepribadian warok yang oleh masyarakat dinilai sebagai warok sejati adalah lelaki dengan ilmu kedigdayannya.

Siapa sebenarnya yang pantas disebut warok atau hanya warokan saja. Nah, untuk warok dapat ditarik difinisi orang atau lelaki yang tidak suka senonjolkan kesaktiannya, terutama dengan ilmu yang dimiliki. Sedangkan warokan, hanyalah orang yang sering tampil sebagai pengiring saat ada pentas seni reog. Jumlahnya cukup banyak, bahkan sampai ribuan. Hingga saat ini warok yang masih dipercaya sebagai suhunya Ponorogo adalah Mbah Mardi Kutu (66), mantan Kepala Desa (Kades) Losari Jetis dan Kasni alias Mbah Wo Kucing (63), mantan Kasun Kauman-Sumoroto. Kedua warok sejati tersebut sudah malang melintang dalam ngangsu kawruh di beberapa pergutuan. Dan sudah beberapa guru yang terserap ilmunya.

Seperti yang dialami Mbah Wo Kucing, ternyata lelaki yang sudah kelewat uzur ini masih segar bugar. Begitu pula gaya dan penampilannya juga tak memperlihatkan orang tua lainnya yang sudah pikun atau kena penyakit tua lainnya. Menurut keterangan, Mbah Wo Kucing ini sudah menyerap ilmu kanuragan dari puluhan guru. Konon melalui semedi atau bertapa di beberapa tempat yang cukup dianggap keramat, hanya untuk mencari ilmu untuk membekali ilmu pasrah terhadap Gusti Pencipta Bumi ini. Kegunaan dari ilmu yang didapat sudah cukup banyak dan beraneka fungsi. Pada umumnya, ilmu itu hanya untuk memberikan pertolongan terhadap sesama yang sedang dilanda kesusuhan dan bahaya. Namun bila ada perlawanan, juga digunakan untuk membela diri. Dan sabuk kolor putih yang kadang melingkar di pinggulnya sebagai senjata untuk menghancurkan lawannya.

“Sudah lebih 40 guru yang saya datangi untuk mendapatkan ilmu khususnya dengan ilmu kanuragan,” kenang Mbah Wo Kucing yang berjenggot panjang putih. Lelaki bertubuh tiriggi kurus itu, kini menjadi pioneer setiap ada pentas budaya reog. Mengapa kok bisa dikatakan dan disebut warok? Ternyata ada sejarah dan artinya. Menurut KH Mudjab Tohir, tokoh masyarakat sekaligus Ketua Insan Taqwa I1ahi (INTI) Ponorogo, seyogyannya dapat membedakan antara warok dan warokan. Kendati saat berkumpul keduanya sulit untuk membedakan. Warok berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata Wira yang artinya jauhilah perbuatan yang tidak terpuji. “Pokoknya siapa saja yang bisa memenuhi unsur tersebut, yaitu yang disebut dengan warok,” kata Mudjab Tohir saat ditemui Memorandum di teras masjid DPD Golkar, belum lama ini.

Menurut Mudjab Tohir, dulunya orang yang menyebut dirinya warok sebenamya belum tentu itu warok sesungguhnya. Terutama di tahun 1965, kadang kala hanya dengan secuil i1mu yang telah didapat, ingin njajal keampuhannya. Dengan penampilannya seperti jagoan berjalan di tepi jalan dan membuka dadanya, seperti orang menantang. Tak heran bila setiap ada orang yang lewat langsung disapa. Sehingga terjadi selisih paham dan buntutnya berkelahi. Para warok muda yang belum berisi penuh ilmu kekebalannya langsung “pasang aksi”. Sehingga saat itu suasana jadi agak panas. Kendati berlangsung cukup lama hingga para warok tua harus turun tangan juga “Dengan wadah INTI, kami harapkan para warok bisa bersatu,” harap Mudjib. Lebih lanjut ia menambahkan sekarang ini INTI yang dibentuk tahun 1977, telah menghimpun sekitar 200 kelompok kesenian reog, dengan 77 warok yang dimaksudkan untuk menghindari perpecahan antar warok khususnya. (budi s/bersambung)

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Yang Sejati Masih Tetap Hidup
 Hingga sekarang, perkembangan zaman terus melaju. Seiring dengan itu, keberadaan warok juga mulai memudar. Khususnya berkenaan dengan jatidiri warok yang sebenarnya. Jika dulu warok selalu dicari dan dinanti kehadirannya, kini mulai ditinggalkan. Yang jelas dewasa ini banyak yang pilih menggandrungi kesenian reognya untuk menyalurkan darah seninya dengan mendirikan grup reog untuk pentas. Disamping menjadi pemimpin warga untuk kelangsungan hidup dalam suatu jabatan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Banyak sebab dan latar belakang yang mempengaruhinya. Selain lingkungan, juga generasi warok yang terus menyusut. Entah mengapa, sampai sekarang ilmu kanuragan terutama mengenai ilmu tidak ada yang meneruskan. Kalau toh ada, hanya minim sekali. Itupun hanya satu dua warok tanpa memperlihatkan·kepada khalayak.

Bukan itu saja, semakin lama kesenian reog juga agak “terkikis” untuk mengalami renovasi sebagai pembaharuan khas seni. Sehingga mau tidak mau keberadaan warok juga agak tenggelam. Namun warok sejati masih tetap hidup, tak akan lekang ditelen perubahan dan pembenahan kesenian reog yang menjadi simbul keberadaannya. Warok yang terkenal dan sudah punya nama, memang sangat mudah untuk mengumpulkan massa. Termasuk untuk dijadikan dalam menduduki jabatan tertentu. Sehingga tak heran dari sekian warok kebanyakan sekarang menjadi abdi negara. “Saya menjabat sebagai kepala kelurahan disini, ya disamping sebagai tokoh reog juga atas kehendak warga disini,” tutur H Achmad Tobroni, tokoh masyarakat dan sekarang menjabat kepala Kelurahan Cokro Menggalan saat ditemui Memorandum di beberapa kesempatan pentas reog di ponorogo.

Tobroni yang sukses mengantarkan kesenian khas Ponorogo Keliling dunia termasuk di negara “Jawa” Suriname, menjelaskan, jika soal warok saat ini memang perlu mendapat perhatian. Hal ini mengandung maksud sebagai langkah agar keberadaannya bisa duduk dan tidak dikonotasikan yang bersifat negatif. Misalnya seorang warok biasanya mempunyai gemblak (lelaki yang dirias sedemikian ayu yang menjadi pasangan hidupnya, red). “Kalau sekarang ada wadah INTI (Insan Taqwa Ilahi, red) memang saya sangat setuju sekali,” jelas bapak tujuh anak yang kini masuk daftar calon legeslatif (Caleg) DPRD dari FKP”. Jadi kalau ngomong soal reog, ya harus ada kaitannya dengan kesenian ngerjakan yang baik dan meninggalkan kejelekan. Sehingga apabila saat pentas reog seorang pemain dan merasa dirinya sebagai warok, kok masih minum-minuman keras dan berbuat asusila, sudah termasuk orang yang mursal.

“Memang aneh jika minum-minuman keras sekarang ini dianggap barang yang trandy dan pelengkap dalam pentas reog,” jelas RTM Sindu diningrat, pengamat dan peneliti budaya Ponorogo. Cucu Raden Batoro Katong pendiri kota Ponorogo ini menimpali lagi agar kebiasaan mabuk-mabukan segera dapat dihentikan jika tak ingin kelestatian budaya nenek moyang kita namanya tercoreng. Sumber Memo randum dari para sesepuh, soal minum-nimuman keras dipandang tidak berbahaya. Ada cerita yang mengatakan orang termasuk warok itu sendiri, tidak akan mabuk bila meneguk minuman keras. Soalnya ada yang mempunyai jimat berupa Katak Gadung atau Aji Bandung Bondowoso (Bolo sewu).

 ltulah sebabnya beberapa  pengirin reog masih mempunyai aji jaya kawijayan seperti itu. Namun jimat Bolo Sewu tersebut kini tidak akan digunakan dan ditonjolkan,j ika tidak terpaksa atau disepelekan orang lain. Sedangkan Aji Kalak Gadung konon hanya berfungsi/untuk menawarkan dan mengebalkan diri dari keracunan. Bagi seorang warok sendiri, agar mempunyai badan dan kekuatan gaib memang banyak caranya. Hanya saja. Untuk mencapai dimensi gaib itu orang Jawa mempunyai cara melalui kebathinan Jawanya. Dan itu bukan klenik, dengan alasan ilmu kejawen memang kadang sulit dijelaskan dengan nalar.

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Ada yang Memilih Profesi
Kesenian reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya,  terus men gal ami perubahan tanpa menghilangkan ciri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang dimiliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modernisasi. Benarkan demikian? Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilrnu keguruan yang akan disebarluaskan ke beberapa anak cucunya.”Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perintahan.

Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas salah seorang tokoh warok. Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan. “Malah harus sebaliknya, lewat pemerintahan dan politiknya dapat dijadikan greget  untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya. Seperti yang dialami Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai warok dengan peguron saja. Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan kehidupannya betul-betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur. “Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Semen tara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehi dupan para warok yang boleh dikatakan agak tersisih, kurang perhatian. Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarkan sebagai produk kesenian lokal  ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat untuk memperkenalkan ke event Internasional, sekarang ini rnempunyai tujuan bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pemirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijumpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk ajang promosi. Khusus penari jatilan yang kini mulai diperankan oleh Perempuan, menurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga nanti  tidak ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”. Untuk memperkaya dan melestarikan kesenian reog, saat ini di setiap desa kelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut penari yang terdiri dari dadak merak plus barongan-nya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan,  pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhny. (budi s).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Memorandum……

Raja Dharmawangsa dari Ponorogo?

Mungkinkah Raja Dharmawangsa berasal dari Ponorogo? Tanda tanya ini bergelayut di benar warga kota reog itu. Ini karena ditemukannya dua artefak yang diduga kuat peninggalan dari Kerajaan Medang semasa Raja Dharmawangsa.

Dua situs bersejarah itu ditemukan di Dusun Watu Dhukun, Desa Pager Ukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Artefak itu berbentuk mangkara dan linggajati (altar) besar yang terletak berdampingan.

Temuan ini cukup menggegerkan warga Ponorogo, karena Medang Kamulan adalah kerajaan penting di Jawa Timur yang pernah menguasai Kerajaan Sriwijaya di Palembang tahun 992 Masehi, jauh sebelum Singsosati dan Majapahit berdiri.

Menurut Aryo Putro,pemerhati sejarah dari Kediri yang meninjau situs tadi, tulisan pada kedua artefak itu memakai huruf Pallawa. Ia menduga, mangkara dan linggajati itu peninggalan Dharmawangsa ketika menyingkir ke Ponorogo karena bertempur melawan Kerajaan Wura-wuri di Sidoarjo, dekat Surabaya sekarang.

“Jadi, tempat ini merupakan tempat pelarian Airlangga sebelum menjadi raja. Dan tempat ini merupakan lokasi semediAirlangga hingga mendapat petunjuk untuk menjadiraja,” duga ia.

Meski dari situ diketahui bahwa Raja Dharmawangsa bukan berasal dari Ponorogo, toh penemuan itu dua artefak itu menunjukkan betapa pentingnya kota reog itu bagi Dharmawangsa, salah satu raja besar dari Jawa Timur. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXX April 2010, hlm. 49

Reog

TARIAN SENSASIONAL DARI PONOROGO

Kepala berbentuk singa dengan sayap-sayap terbuat dari bulu merak terlihat melenggak-lenggok dan berputar-putar mengikuti irama gendang. Sementara di depannya tampak sekelompok orang mengenakan kostum hitam-hitam berusaha menggoda singa agar erus menari. Itulah figur sentral dari sebuah kesenian

Reog asal Ponorogo, Jawa Timur yang hingga kini masih tetap menarik untuk disaksikan. Reog adalah sebuah tarian spektakuler yang diperagakan oleh beberapa penari dengan kostum berwarna warn i dan diiringi oleh musik gamelan yang meriah . Tarian ini biasanya dilakukan di halaman terbuka seperti taman ataupun jalanan . Se lain tarian tradisional, Reog oleh sekelompok orang biasanya juga dipadukan dengan pertunjukkan magis yang diharapkan dapat menarik perhatian penonton .

Salah satu tokoh sentra l yang selalu menjadi perhatian para penonton adalah topeng kepala macan yang sebelah pinggirnya dihiasi bulu merak bersayap lebar. Bisanya orang mengenal topeng tersebut dengan sebutan Dhadhak Merak yang konon beratnya mencapai 40 hingga 100kg dan dibawa oleh satu orang yang berjalan maju mundur ataupun berputar-putar. Karena kepala macan ini melambangkan sosok pahlawan, maka sang penari, Warok yang mengenakannya bisanya juga memiliki ·kekuatan magis.

REOG ADALAH SEBUAH TARIAN SPEKTAKULER YANG DIPERAGAKAN OLEH BEBERAPA PENARI DENGAN KOSTUM BERWARNA WARNI DAN DIIRINGI OLEH MUSIK GAMELAN YANG MERIAH

Selain itu, ia juga harus memiliki susunan gigi serta leher yang kuat untuk bisa menggoyang-goyangkan topeng Dadak Merak dengan giginya. Bahkan terkadang juga harus menggendong seorang wanita yang dianggap mewakili Ratu Ragil Kuning. Atau kadang, ia harus mendemonstrasikan keahlian dan kekuatannya sambil menggendong penari bertopeng lain, tanpa mengurangi mutu gerakan tariannya yang terlihat fantastis dan penuh semangat.

Dhadhak Merak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Singabarong, biasanya diperagakan sebagai tarian selamat datang kepada para tamu yang dihormati, atau sebagai atraksi yang lengkap dengan segala atributnya seperti yang memerankan sebagai Prabu Kelana Sewandono dan para penari pengikutnya yang disebut sebagai Bujangganong.

Bujangganong adalah seorang pahlawan dengan muka yang buruk rupa, mengenakan topeng berwarna merah, berhidung panjang, berambut awut-awutan dan bergigi taring. Para penari ini bisanya dilengkapi dengan kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Mereka melambangkan sosok prajurit pengawal raja Kelana Sewandono.

Orang -orang yang dikenal sebagai Warok dalam kesenian ini, diyakini memiliki talenta khusus, yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun. Salah satu keunikan dari pertunjukkan Reog adalah para penari yang terdiri dari pemuda-pemuda yang berdandan seperti perempuan. Mereka disebut sebagai Gemblak yaitu orang yang biasa menemani warok, yang selama jadwal pertunjukkan masih berlangsung mereka dilarang mendekati wanita.

 

Sejarah

Kesenian Reog Ponorogo sebenarnya tarian ini sudah dikenal sejak jaman kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Ceritanya berhubungan dengan legenda Kerajaan Ponorogo (kira-kira 70km arah Tenggara Solo). Raja Ponorogo yang berkuasa ketika itu adalah, Kelono Soewandono, sangat terkenal dengan kemahirannya bertempur dan kekuatan magisnya.

Bersama Patihnya, Bujanganom, mereka diserbu oleh, Singabarong, Raja Singa dari hutan Kediri yang dibantu oleh bala tentaranya, pasukan Singa dan Merak. Sebenarnya mereka sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri untuk menikahi Dewi Ragil Kuning, sang ratu kerajaan.

Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara para prajurit perkasa dengan kekuatan-kekuatan magisnya. Pasukan merak berterbangan naik turun sambil mengepakkan sayapnya demi membantu para singa-singa Barong. Bujanganom dengan cemeti

ajaibnya yang dibantu oleh para Warok dengan kostum hitam tradisionalnya berusaha mengalahkan sang Raja Singa beserta para pengikutnya .

Singkat cerita, Raja Ponorogo tersebut dapat menaklukkan mereka dan melanjutkan perJalanannya menuju Kediri. Singa Barongpun lalu mengikuti arakarakkan mereka, sementara pasukan Merak berada dekat dengan Singa Barong seraya membentangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti sebuah kipas yang indah.

Sementara ada versi lain yang menceritakan, bahwa sebenarnya kesenian tarian Reog ini merupakan petunjuk dari raja Majapahit yang menikahi seorang ratu berkebangsaan Cina. Kekuatan sang raja kemudian digambarkan takluk oleh kecantikan sang putri. Apapun versi cerita aslinya, tarian Reog hingga kini tetap menjadi sebuah atraksi dan kesenian yang sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara.()

CARAKAWALA,September 2004, hlm. 12

Warok dan Reog Ponorogo

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo
Ada yang Mermlih Profesi

 
KESENIAN reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya, terus men gal ami perubahan tanpa .menghilangkan eiri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang miliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modemisasi. Benarkan demikian?

Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilmu keguruan yang akan diseberluaskan ke beberapa anak cucunya.

“Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perint!! h.an. Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas sallih seorang tokoh warga.

Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan “Malah dan politiknya dapat dijadikan greget untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya.

Seperti yang dialarni Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus.cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai. Warok dengan peguron saja.

Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan  kehidupannya betul~betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur.

“Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Sementara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehidupan para warok yang boleh.dikatakan agak tersisih, kurang perhatian.Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarlam sebagai produk kesenian lokal ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat Imtuk memperkenalkan ke event lnteruasional, sekarang ini rnempunyai tni lp n bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pernirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijurnpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk aja.pg promosi.

Khusus penari jatilan yang kini mu, l&-i- diperankan oleh ‘Perempuan, me.tiurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga rianti talc ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”.

Untuk memperkaya dan melestari kan kesenian reog, saat iill di setiap desalkelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut pe,nari yang terdiri dari dadak merak plus barongpnnya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan: pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhnya.(budi s/habis)

Masjid Tegalsari, Ponorogo

Masjid Tegalsari, Ponorogo, Oase lahirnya tokoh Islam jauh sebelum  RONGGOWARSITO menjadi pujangga besar tanah jawa, pernah nyantri disini. 

Pada paruh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di Desa Tegalsari, 10 kilometer ke arah selatan Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Hasan Besari (alias Kyai Agung Tegalsari) mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari (ada yang menyebut pesantren Gebang Tinatar). Kyai Besari adalah cicit dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dan cucu dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dari garis keturunan ibu. Sedangkan dari pihak ayah masih keturunan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Dan ia cucu Kyai Ageng Mohammad Besari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pemah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya, terutama pada jaman Kyai Hasan Besari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut  ilmu di pondok ini. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), Bantengan, dan lain-lain.

Alumni pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, bahkan pujangga keraton. Misalnya, Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Sebuah riwayat  menyebutkan, keberadaan pondok itu mengelilingi sebuah masjid yang didirikan Kyai Ageng Besari pada tahun 1760. Masjid itu pemah direhab pada tahun 1978 dan 1998, atas keinginan mantan Presiden RI, Soeharto. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya.

Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak.  Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara. Di sebelah rimur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Rumah itu dikenali sebagai rumah adat satu-satunya yang masih ada. Karena itulah, pemerintah setempat menetapkan kawasan ini sebagai obyek wisata religi.

Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berjumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, selukat dan lain-lain, sebelum direhab pada 1978 masih asli. Ketika rehab pada 1998 pun, tidak mampu mengembalikan keaslian bangunan. Lebih parah lagi, pada masjid putri, di sebelah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris tak ada bedanya dengan bangunan pada umumnya. Tempat tinggal Ronggowarsito semasa jadi santri juga sudah tak jelas keasliannya.

Di sisi barat masjid terdapat makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan puasa, terutama sepuluh hari terakhir, kawasan ini kebanjiran pengunjung. Tak cukup hanya di lingkungan masjid, bahkan meluber sampai kawasan desa. Pada 1990-an, pemerintah bersama tokoh-tokoh agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu dengan nama pesantren Ulumul Quran. Namun, kata Afif Azhari, keinginan itu hingga kini belum berhasil diwujudkan. Yang masih berjalan hingga kini adalah pesantren dengan sistem modern: Madrasah , Tsanawiyah dan Aliyah Ronggowarsito. mi husnul m

Mossaik, November 2005 

Telaga Ngebel, Ponorogo

Telaga Ngebel, Pesona Kala Senja

Laporan: ABI/DJUP/FER
Di bawah naungan awan-gemawan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, memang asyik dinikmati. Lebih-lebih di kala senja yang temeram, di saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, terlihat cahaya kemerahannya di horizon telaga yang tepiannya berjajar pepohonan teduh nan asri dan luas. Lokasi telaga ini sekitar 24 km ke arah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tepatnya berada di Gunung Wilis dengan ketinggian 750 meter di atas permukaan laut, dengan suhu sekitar 22 derajad celcius. Jalan menuju lokasi Telaga Ngebel tidaklah sulit. Selain banyak penunjuk arah yang membimbing pengunjung, akses jalan beraspal sangat memudahkan kendaraan yang melintas. Bisa melalui jalan raya Madiun-Ponorogo ke arah timur, atau bisa juga mulai dari jantung kota Ponorogo. Paling enak mencapai telaga ini tentu saja dengan menggunakan mobil pribadi. Berada di ketinggian 750 di atas permukaan laut, diperlukan kelincahan mengemudikan kendaraan, karena akses jalan menuju ke telaga ini cukup sempit dan terjal. Jika kemampuan mengemudi di pegunungan belum terlalu mahir harap berhati-hati karena banyak tikungan menanjak dan berkelok-kelok.

Telaga seluas 160 hektare ini menawarkan panorama yang sangat indah dan menakjubkan. Walau sarat dengan mitos, setidaknya Telaga Ngebel bisa menjadi pilihan untuk melepas penat dari rutinitas kerja yang melelahkan. Udaranya yang sejuk dan pemandangan yang indah mampu menyegarkan kembali urat dan pikiran yang lelah. Mitos Telaga Ngebel berawal dari cerita rakyat tentang kemarahan Baru Klinthing, seorang pemuda miskin yang sering diejek warga. Sebetulnya, Baru Klinthing adalah jelmaan naga yang dibunuh warga untuk pesta rakyat. Kedatangan Baru Klinthing yang meminta makan saat pesta berlangsung membuat  jijik warga karena penampilannya. Seorang di antara warga, Nyai Latung, iba hati kemudian memberi makan Baru Klinthing. Usai makan pemberian Nyai Latung, Baru Klinthing lantas menantang warga untuk menarik lidi yang ia tancapkan ke tanah. Namun, tak seorang pun yang bisa menarik lidi tersebut. Setelah berpesan kepada Nyai Latung agar menaiki lesung jika keluar air bah, Baru Klinthing lantas menarik lidi sehingga menimbulkan bah besar yang kini menjadi Telaga Ngebel. Legenda Telaga Ngebel, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon, salah seorang pendiri kabupaten ini, yakni Batoro Kantong. Sebelum melakukan syiar Islam di Kabupaten Ponorogo, Batoro menyucikan diri terlebih dahulu di mata air, yang ada di dekat Telaga Ngebel yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Selain pemandangan yang memesona, Telaga Ngebel juga kaya sumber alam, utamanya air tawar bersih yang keluar dari sumber-sumber di dasar telaga sedalam kurang lebih 52 meter. Tanah subur di sekitar telaga ini juga menghasilkan aneka pohon buah berkualitas, misalnya durian Ngebel yang menjadi buah primadona kawasan ini. Selain buah berduri itu, tumbuh subur pula pohon manggis, nangka dan tanaman perkebunan seperti cengkeh dan kopi. Menikmati keindahan panorama telaga sembari makan buah-buahan khas Ngebel merupakan tujuan para wisatawan. Di lokasi itu, tak perlu khawatir kelaparan karena banyak penjual makanan dan buah di sekitar telaga. Tempat berteduh dan parkir yang luas cukup membuat suasana nyaman.

Puncak keramaian di Telaga Ngebel biasanya pada malam 1 Sura (1 Muharam). Saat itu, dilakukan larung saji berupa kepala kerbau yang dilarung menuju ke tengah telaga. Empat kaki kerbau yang sudah disembelih ditanam di empat arah mata angin sekitar telaga. Sesajian itu bertujuan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Pesona telaga Ngebel yang masih alami ini menggoda pengunjungnya betah berlama-Iama. Buktinya, walau senja akan berganti petang pengunjung masih enggan beranjak. Mereka ingin menikmati panorama yang ditawarkan keindahan Telaga Ngebel. Melihat kondisi alamnya, Telaga Ngebel sangat berprospek baik bila dikembangkan dan bisa menjadi asset Pemkab Ponorogo dalam meningkatkan perekonomian, khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata itu sendiri. Itu sebabnya Telaga Ngebel menunggu sentuhan investor, sehingga diharapkan bisa lebih bergeliat dan mempercantik diri menjadi ikon kedua setelah kesenian reog. Obyek wisata Telaga Ngebel layak dikunjungi lantaran masih bersuasana alami dan indah. Kondisi seperti ini dipastikan mampu menghilangkan kepenatan atau kelelahan usai didera kesibukan sehari-hari. -ryan

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Media Informasi Biro Administrasi Perekonomian, Sekretariat daerah Provinsi Jawa timur, EDISI 009/2010

Telaga Ngebel

-April 2009-

Kabupaten Ponorogo selain terkenal dengan wisata budaya. Seperti Grebeg 1 Suro salah satunya. Juga cukup tenar dengan keunggulan obyek wisatanya. Yaitu Telaga Ngebel.

Telaga Ngebel cukup unik dan menarik, dibandingkan dengan telaga-telaga lain yang ada di wilayah Jawa Timur. Telaga anggun yang cukup luas ini dikelilingi rimbunnya pepohonan lereng Gunung Sumping (anak Gunung Wilis).

Obyek wisata Telaga Ngebel berada di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorago. Sekitar 24 km ke arah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Tepatnya berada dengan ketinggian 750 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata sekitar 22 derajat celcius. Luas permukaan telaga 15 kilometer persegi dengan dikelilingi jalan sepanjang 5 km. sekali lagi panoramanya sangat indah dan menakjubkan. Tentu didukung udaranya yang sejuk dan kondisi alamnya yang masih asri.

Di Telaga Ngebel setiap satu tahunsekali diselenggarakan ritual budaya, berupa Larungan Sesaji pad a tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Sura. Biasanya ritual di sini sebagai prasesi puncak dari Grebeg 1 Sura. Di saat itulah dilarungkan tumpeng raksasa hingga ke tengah telaga.

Telaga Ngebel ibarat tambang emas yang menunggu sentuhan investor, sehingga dapat bersolek dan menjadi ikon kedua di Kabupaten Ponorago setelah kesenian Reyog.

Karenanya pemerintah Kabupaten Ponorogo mengakui Telaga Ngebel memang cukup potensial untuk dikembangkan. Menjadi daerah tujuan wisata sekaligus sebagai penopang ekonomi masyarakat maupun daerah kabupaten itu sendiri. Terlebih dengan kondisi alamnya yang sangat berprospek baik untuk dikembangkan.

Melihat kondisi ini, pemerintah Kabupaten Ponorogo bermaksud akan bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Madiun dan Nganjuk untuk membuat jalan tembus menuju ke Telaga Ngebel. Dengan adanya beberapa jalur alternatif menuju Telaga Ngebel, muncul harapan adanya peluang bagi investor tertarik untuk menanamkan modalnya. Demi kemajuan dan berkembangnya obyek wisata Telaga Ngebel. (Redaksi)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Easjava Traveler, Etalase Wisata Jawa Timur, EDISI 27, Tahun III, April 2009, Hlm. 3.

Reog Ponorogo, Seni Tradisional yang Magis

-Agustus 2010-

Reog, salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur semakin terkenal setelah kontroversi klaim Malaysia sebagai pemilik kesenian itu. Ponorogo dipastikan sebagai tanah kelahiran Kesenian Reog yang sedikit berbau magis ini. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pad a abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak kerajaan yang berperilaku korup dan diatur oleh kelompok pedagang asal China. Ia melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ki Ageng Kutu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri ilmu kekebalan diri. dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Ia mengharapkan anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog. sebagai “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, simbol Kertabumi. Di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para pedagangChina yang mengatur segala gerak-geriknya.

Jatilan yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Gemblak ini menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada di balik topeng badut merah. Ki Ageng Kutu disimbolkan dalam bentuk kekuatan besar, sendirian menopang berat topeng singabarong yang beratnya mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan menyerang perguruan Ki Ageng Kutu. Warok dengan cepat bisa diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran. Namun kesenian Reog masih diperbolehkan pentas karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dengan menambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa. Sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tarian menggambarkan perang antara Kerajaan Kediridan Kerajaan Ponorogo yang mengadu ilmu hitam. Parapenari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat membawakan tarian. Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewaris budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan secara turun temurun. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya jika tidak memiliki garis keturunan yang jelas. Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehat sebagai pegangan spiritual ataupun ketenteraman hidup. Seorang warok harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Dahulu warok dikenal mempunyai ban yak gemblak, laki-laki belasan tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang berakar pada komunitas seniman reog.

Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.

Pada masa sekarang lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari Reog Ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkon estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah Reog Ponorogo dengan format festival seperti sekarang.

Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggatanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog NasionAl. Reog Ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya. Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional.

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongon) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penonton.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profile Jawa timur: The Great of East Java, Surabaya: Agustus 2010, Hlm. 189-196.

Batik Ponorogo

-(2009)-
 PERKEMBANGAN batik di Ponorogo tak lepas dari riwayat tentang Batoro Katong. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong yang merupakan adik Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan sekaligus mengajarkan seni batik. Selain itu, ada juga nama Kyai Hasan Basri, menantu raja kraton Solo yang sangat berperan dalam penyebaran batik di Ponorogo.

Daerah perbatikan lama yang bisa dilihat sekarang ialah di daerah Kauman (sekarang Kepatihan Wetan), Desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Corak dan motif batik Ponorogo banyak mengangkat tema flora dan fauna yang motifnya condong ke Solo dan Jogjakarta. Motif-motif itu di antaranya adalah latar ireng reog, sekar jagat, djarot asem, klitik dan sebagainya. Untuk warna dasarnya lebih cenderung gelap.

Salah seorang pengrajin batik, Mariana (60) mengatakan, batik Ponoogo terkenal dengan motif meraknya. Motif ini terilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah Ponorogo. Mariana sendiri selama kiprahnya menekuni batik sejak awal 1980-an, telah menciptalan sedikitnya 25 motif batik asli Ponorogo. Di antara sekian motif tersebut yang paling terkenal adalah motif Merak Tarung, Merak Romantis, Sekar Jagad dan Batik Reog.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit No. 12.312/19-03-2010 – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ZONABIS, Media Informasi Kadin Wilayah Tengah, Volume II, (2009).

Bathara Kathong Membumikan Reog

-Desember 2003-

Reog identik dengan Ponorogo, kabupaten seluas 1.372,78 M2, di Jawa Timur. Daya ekspansi kesenian tradisional ini luar biasa hebat. Mampu menembus mancanegara. “Bahkan, Australia, Amerika Serikat, dan Belanda telah memasukkan kesenian tradisional reog menjadi bagian kurikulum pendidikan mereka, ” kata Bupati Ponorogo, Dr H Markum Singodimedjo, saat membuka lomba Langen Beksan, di pendapa kantornya.

Ketenaran kabupaten ini tak lepas dari sentuhan Batara Kathong, bupati pertama. Dialah yang “membumikan” reog di daerahnya. Lewat kesenian ini dia menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Istilah warok (tokoh pemain reog) disinyalir berasal dari kata wara’a, orang yang menjaga diri dari perbuatan dosa. “Kesempurnaan diri itulah Ponorogo (sampurnaning raga),” kata RM. Soehardo, Ketua DPRD setempat.

Ihwal bupati pertama tersebut diyakini masih ada hubungan dengan Keraton Jogjakarta. Semasa keruntuhan Kerajaan Majapahit dan munculnya Kerajaan Demak, debut Batara Kathong dimulai. Pusat pemerintahan yang semula berada di sekitar Kelurahan Sentono, dipindahkan ke Kutha Tengah (pendapa kantor Bupati sekarang). Kelurahan Sentono berjarak sekitar 5 Km dari pusat kota arah ke timur. Dari Terminal Selo Aji dapat ditempuh dengan angkudes jurusan Jenangan, atau langsung naik ojek dari terminal. Ingin lebih santai lagi, pilih becak.

Jasa Betara Kathong meletakkan dasar-dasar pemerintahan di wilayah Ponorogo amat besar. Pantaslah mendapatkan penghargaan dan diingat perjuangannya. Kawasan makamnya cukup menarik. Tepat di gang Raden Kathong berdiri sebuah gapura. Konstruksi gapura itu lebih condong berbentuk kubah. Tak ada ornamen mencolok, warnanya pun putih. Tak berbeda jauh dengan lingkungan makam. Pagar dinding batu bata mengelilingi makam, dan membagi menjadi dua pintu. Pintu pertama masuk pada bagian pelataran. Dua batu besar tergeletak membujur ke pintu ke dua.

Memasuki kawasan utama kompleks makam Batara Kathong, disambut wangi pohon kamboja diiringi kicauan burung kutilang dan trocokan. Nuansa hening mencuat. Semilir angin dari barongan (serumpun bambu) menggerakkan bulu di kulit. Merinding. Untuk memasuki kompleks rnakarn ini pastilah melewati juru kunci. Mbah Mani namanya. Tanpa sepengetahuannya, dapat dipastikan tidak bisa melihat-melihat dari dekat cungkup (nisan) makam.

 Grebeg Sura
Setiap tanggal 1 Sura, masyarakat Ponorogo selalu menyambutnya dengan meriah. Begadang semalam suntuk. Tak boleh berteduh. Semua berjalan rnenuju ke alun-alun. Di sanalah mereka duduk dan menunggu saat pergantian tahun. Bupati Markum Singodimedjo melihat potensi peringatan satu Sura amat besar dijadikan even tahunan. Dalam kemasan Festival Reog Ponorogo, tradisi Suroan itu kian marak.

Perhelatan bermula di makam Batara Kathong di Desa Sentono, Kecamatan Jenangan. Upacara Boyong Pusaka (kirab pusaka) peninggalan bupati pertarna itu, diarak keliling kota menuju Kutha Tengah. Jauh hari sebelumnya, semua pusaka telah dibersihkan di Telaga Ngebel. Konon, sebelum memindah pusat pemerintahan, Batara Kathong sempat mensucikan diri di telaga ini. Grebeg Sura 1424 H, delapan bulan lalu saja, dimeriahkan 507 unit reog. Jumlah itu sama dengan umur Ponorogo, 507 tahun. Tahun 2004 nanti (1 Sura 1425 H) direncanakan lebih meriah lagi. “Semua seni budaya Ponorogo kami tampilkan. Tapi settingnya yang bagus,” kata bupati yang sudah dua periode memimpin “bumi reog” tersebut. Gayut dengan rencana itu dia telah memerintahkan Sekretaris Kabupaten, Toni, untuk menimba ilmu ke Negeri Cina. Pasalnya, sementara ini negeri tirai bambu itu sangat jago dalam menampilkan tari-tari kolosal. Nah, itu baru seru, kelak. Azmi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 24, 12 -26 Desember 2003, Tahun I