Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

GLIPANG, Kabupaten Probolinggo

SEJARAH KESENIAN
Kesenian Glipang merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Pendil. Secara administratif, Desa Pendil termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Ketinggian wilayah Banyuanyar mencapai 89 meter di atas permukaan air laut. Suhu udaranya berkisar 27°C sampai dengan 32° C. Dengan demikian, Banyuanyar termasuk dataran rendah.
Jarak antara pusat pemerintahan Banyuanyar dengan desa yang paling jauh mencapai 8 km. Sedangkan jarak antara Banyuanyar dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar 113 km. Wilayah Banyuanyar terdiri dari tanah sawah (+ 1.784 hektar) dan ladang kering (+ 2.476 hektar). Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Banyuanyar sebanyak 14 desa, termasuk Desa Pendil.
Desa Pendil terletak di sebelah timur pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Desa Pendil sekitar 169.170 hektar. Ketinggian daerahnya mencapai 14 meter di atas permukaan air laut. Jarak Desa Pendil dengan pusat pemerintahan Kecamatan Banyuanyar sekitar 7 km. Sedangkan jarak Banyuanyar dengan Probolinggo sekitar 13 km.
Batas-batas wilayah Desa Pendil, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pikatan. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Desa Alassapi. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Klenang Lor. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tarokan. Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pendil tersebut semuanya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Sifat kegotongroyongan pada masyarakat Desa Pendil masih tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hidup rukun dan gotong royong merupakan sifat masyarakat pedesaan yang masih melekat di Desa Pendil. Sebagian besar penduduk Desa Pendil bermatapencahariaan sebagai petani dan pedagang.
Kecamatan Banyuanyar memiliki beberapa jenis kesenian tradisional yang hampir punah keberadaannya. Kesenian Glipang merupakan salah satu kesenian milik masyarakat Desa Pendil. Dan sekarang kesenian Glipang sudah diakui menjadi ciri khas kesenian Kabupaten Probolinggo. Kesenian Glipang ini memiliki corak dan nilai estetis tersendiri sebagai pancaran kebudayaan masyarakat tersendiri.
Kesenian Glipang ini berlatar belakang pada kebudayaan Madura yang beragama Islam. Pada waktu itu, sekitartahun 1912, banyak orang Madura melakukan migrasi lokal ke Pulau Jawa. Tepatnya di sepanjang pantai Pulau Jawa bagian timur. Alasan migrasi yang mereka lakukan itu adalah untuk mencari pekerjaan. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pak Saritruno termasuk orang yang melakukan migrasi tersebut, la kemudian menetap di Desa Pendil. Di Desa Pendil Pak Saritruno telah mendapat pekerjaan. Pekerjaan Pak Saritruno adalah sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending. Pada waktu itu Pabrik Gula Gending masih dikuasai Belanda. Jadi, Pak Saritruno bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mandor tebang tebu, Pak Saritruno sering terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh tingkah laku para sinder Belanda. Mereka dianggap bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi.
Diperlakukan seperti itu, Pak Saritruno merasa tidak puas. Rasa kebangsaannya tergugah, la ingin melakukan perlawanan, la mengumpulkan orang-orang pribumi. Tujuannya untuk membentuk suatu perkumpulan. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun sebuah kekuatan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka sangat jengkel terhadap tindakan penjajah Belanda. Tindakannya selalu sewenang- wenang terhadap bangsa pribumi. Kegiatan yang dikembangkan dalam perkumpulan ini adalah latihan ilmu bela diri pencak silat.
Pak Saritruno mengajarkan berbagai jurus silat. Awalnya, kegiatan latihan ini dilakukan secara sembunyi- sembunyi. Karena bila latihan bela diri itu dilakukan secara terang-terangan akan mengundang kecurigaan Belanda.
Untuk menghilangkan kecurigaannya, Pak Saritruno menciptakan musik. Musik yang diciptakannya itu digunakan untuk mengiringi gerak-gerak pencak silat. Sehingga kegiatannya seakan tampak seperti kegiatan seni.
Dari latar belakang inilah, maka terciptalah musik ciptaan Pak Saritruno. Musik yang diciptakan Pak Saritruno itu dinamakan musik Gholiban. Kata gholiban berasal dari bahasa Arab, artinya kebiasaan.
PakSaritruno menamakannya demikian, karena beliau tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya perkumpulan pencak silat itu lebih dikenal sebagai kesenian gholiban. Kata gholiban berubah
menjadi glipang. Hal ini dikarenakan pengaruh dari dialek orang Jawa. Karena penduduk asli Desa Pendil adalah Jawa. Maka, kata gholiban diucapkan gliban. Akhirnya, gliban menjadi glipang.
Dalam memilih alat musik Glipang, Pak Saritruno mengalami kesulitan. Penduduk Desa Pendil tidak mau menggunakan alat musik gamelan. Mereka menganggap alat musik gamelan merupakan alat musik yang kurang cocok dengan lingkungannya.
Akhirnya, Pak Saritruno memilih alat musik lain. Alat- alat musik tersebut adalah jidor, hadrah atau terbang, ketipung, dan terompet.
Bentuk kesenian Glipang, pada awalnya berbentuk jurus-jurus silat utuh. Dalam perkembangan selanjutnya dibuat sebuah tarian. Tarian ini dinamakan tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang menggambarkan seorang pemuda pribumi yang gagah perkasa. Mereka melakukan uji ketangkasan bela diri. Pada tahun 1920-an, kesenian Glipang terkenal dengan tari Kiprah Glipangnya. Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Berkat kreativitas Pak Saritruno, terciptalah beberapa tarian, yaitu tari Baris Glipang, tari Papakan, dan tari Teri.
Oleh masyarakat pada waktu itu, kesenian Glipang banyak dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, kesenian Glipang dijadikan sebagai media dakwah tentang ajaran- ajaran agama Islam. Lagu-lagu yang dilantunkannya pun berisi tentang rukun Islam, rukun Iman, kebesaran Tuhan, dan tentang ajaran kebajikan lainnya. Ada hal yang menarik dalam pertunjukkan kesenian Glipang ini. Yaitu adanya tari Papakan dan tari Teri. Kedua
tarian ini merupakan tarian pasangan putra dan putri. Tetapi penari putri dimainkan oleh orang laki-laki. Mereka memakai tata rias dan busana putri.
Pada tahun 1935, Pak Saritruno meninggal dunia, karena sakit. Kedudukannya digantikan oleh Kartodirjo, menantunya. Mulai tahun 1950, kesenian Glipang di bawah kepemimpinan Pak Kartodirjo. Dengan mendapat dukungan dari Bu Asiah, istrinya atau putri dari Pak Saritruno, kesenian Glipang terus berkembang pesat. Bentuk tampilannya banyak dipengaruhi oleh kesenian ludruk. Agar seni pertunjukkan ini tetap jaya dan digemari masyarakat, akhirnya Pak Kartodirjo beserta para pengurusnya memberi variasi pertunjukkan. Pada awalnya hanya tari-tarian saja, lalu penyajiannya ditambah lawakan dan drama.
Cerita yang digunakan dalam drama tersebut berkisar tentang Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Selain itu, ceritanya kadang-kadang juga disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Misalnya menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Judul ceritanya adalah “Banteng Solo”. Lakon ini menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Pesan pada akhircerita, masyarakat diharapkan agar berhati-hati dan tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesenian Glipang benar-benar sangat digemari masyarakat. Baik masyarakat Pendil maupun di luar Desa Pendil. Bahkan terkenal sampai di luar wilayah kabupaten, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang pentas di Banyuwangi. Tetapi naas bagi rombongan kesenian Glipang. Sepulang dari pentas itu kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ditumpanginya jatuh terperosok ke jurang. Akibat dari kecelakaan itu, Pak Kartodirjo meninggal dunia.
Sejak saat itulah perkumpulan kesenian Glipang bubar. Bahkan hampir mengalami kepunahan. Baru setelah pada tahun 1970-an, kesenian Glipang mulai bangkit kembali.
Bu Asiah dan Soeparmo, putranya, berupaya untuk mendirikan kembali. Berkat kerja keras Bu Asiah dan Soeparmo, kesenian Glipang mulai bangkit kembali. Mereka mulai mengadakan pementasan-pementasan. Soeparmo, selaku pimpinan perkumpulan seni Glipang, berusaha untuk menggali seni Glipang yang pernah jaya pada masa itu.
Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Berkat kerja keras Soeparmo dan kawan- kawannya, mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Mereka diajak untuk membentuk suatu wadah organisasi kesenian. Akhirnya berdirilah sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Andhika Jaya.
Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Tepatnya tanggal 5 Februari 1985, Sanggar Andhika Jaya secara resmi telah terdaftar di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur, dengan nomor induk kesenian: 031/111.0416/104.28/1993.
Kini kesenian Glipang telah diakui sebagai seni asli daerah Probolinggo. Kesenian ini memiliki tarian khas, yaitu tari Kiprah Glipang. Karena tarian ini memiliki sejarah perjuangan.
Mulai tahun 1985, kesenian Glipang lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya. Pementasan sering dilakukan di mana-mana, baik atas permintaan masyarakat maupun pemerintah. Maraknya perkembangan musik dangdut, karaoke, televisi, film, dan video, kesenian Glipang hampir tersisih. Masyarakat lebih banyak memilih hiburan musik dangdut, karaoke, film, dan video. .Untuk mengatasi persaingan ini, maka seni pertunjukkannya diselingi musik dangdut dan karaoke. Dengan demikian kesenian Glipang tidak lagi ditinggalkan masyarakat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: “GLIPANG” Seni Tradisional Probolinggo/ Suyitno; Irvi Jaya, 2011. hlm. 1-7, (CB-D13/2011-694)

Hari Jadi Kota Probolinggo

TANGGAL 4 SEPTEMBER 1359 SEBAGAI HARI JADI KOTA PROBOLINGGO

1. Pokok-pokok Pikiran / Hal-hal yang Menjadi Dasar/ Melatarbelakangi

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOa. Berdirinya / pembentukan Gemente ( Kota Probolinggo pada tanggal 1 Juli 1918 yang ditetapkan sebagai hari   lahinya Pemerintah Kota Probolinggo dan telah diperingati oleh pemerintah dan masyarakat, Hari Jadi Kota Probolinggo Kota Probolinggo pada kira-kira tahun ’60-80’an merupakan produk / bentukan Pemenntah Kolonial Hindia Belanda.

b. Himbauan Pemerintah Kotapraja Probolinggo yang disampaikan oleh Walikota Probolinggo dalam sidang pleno DPRD Kotapraja Probolinggo dan usul inisiatif DPRD Kotapraja untuk mencari dan menetapkan hari jadi Kota Probolingo yang tidak berbau Kolonial Belanda dan yang lebih bersifat nasionalis, mempunyai nilai heroic ( kepahlawanan ) serta digali dari sejarah bangsa sendiri yang berkepribadian .

2. Penetapan Tanggal 4 September 1359 sebagai Hari jadi Kota Probolinggo

a. Perjalanan Keliling ( Inspeksi ) Prabu Hayam Wuruk

Perjalanan keliling Prabu hayam wuruk ini dicatat dan ditulis oleh Pujangga Kerajaan yang terkenal, yaitu Prapanca. Perjalanan keliling daerah kita baca dalam pupuh 17/4 bahwa Prabu Hayam Wuruk

setelah berakhir musim dingin (maksudnya ialah musim hujan ). Sering mengadakan perjalanan keliling untuk mengunjungi daerah yang dekat-dekat seperti : Jalagiri, Blitar, Polaman, Daha dan sebagainya, yang sering dikunjungi ialah desa

Perdikan Jalagiri yang terletak tidak jauh dari sebelah Timur Majapahit , serta Wewe Pikatan di Candi Lima , dengan kaki saja . Jika tidak kesitu . maka beliau suka berkunjung ke Palah untuk berziarah ke Candi Siwa. Perjalanan itu lalu diteruskan ke Blitar, Jimur Silaahrit, Polaman. Daha Janggalah.

Selanjutnya Prapanca mencatat perjalanan keliling Prabu Hayam Wuruk, diiringi oleh segenap pembesar pemerintah pusat pada tahun Saka 1275 (Masehi) ke Panjang ; tahun Saka 1276 (Masehi 1357) ke Pantai Selatan, mene robos hutan terus ke Lodaya, Teto dan Sideman: tahun Saka 1281 (Masehi ‘ 1   1359). Pada bulan badra (Agustus – September) ke Lumajang. Mengenai perjalanan yang terakhir ini , Prapanca

memberikan uraian yang panjang lebar, sehingga kita dapat mengetahui desa – desa dan daerah – daerah inana yang dikunjungi dalam peijalanan itu . Ternyata perhatian Prabu Hayam Wuruk besar sekali terhadap desa-desa dan bangunan suci juga kita ketahui pula betapa Prabu Hayam Wuruk disambut oleh para penghuni desa dan asrama yang didatanginya

Peijalanan keliling itu dimaksudkan untuk mnyaksikan sendiri keadaan kehidupan rakyat kecil di desa-desa di wilayah Negara Majapahit. sekaligus juga menyaksikan pelaksanaan amanat beliau sendiri dan petunjuk para petugas pemerintah pusat Demikianlah beliau tidak puas dengan laporan saja. Beliau ingin menyaksikan keadaan rakyat di Desa-desa yang sulit dikunjungi orang sekalipun.

Dalam pupuh HO/4 dinyatakan dengan tegas maksud perjalanan keliling daerah , yang dilakukan oleh Sri Nata Hayam Wuruk. Maksudnya ialah supaya musnah semua duijana di muka wi lay all kerajaan Mojopahit, yang diperintah Sri Nata, itulah sebabnya maja semua desa ditelusuri. dikunjungi, diteliti, sanipai desa-desa yang letaknya ditepi pantai laut sekalipun

Kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Prapanca sebenarnya bernama Decawamana, yang terutama menceri takan waktu Sang Prabu mengunjungi daerah- daerah dan pedesaan-pedesaan. Sri Nata sangat menaruh perhatian terhadap kehidupan di pedesaan. Peijalanan keliling dimaksudkan agar Sang Prabu dapat melihat sendiri bagaimana kehidupan ” wong cilik ” di desa-desa sekaligus apakah perintah-perintah yang ia telah berikan dalam pengarahan sudah dikerjakan oleh pejabat-pejabat eselon bawahan . Selain daerah-daerah dan desa-desa yang mendapat perhatian dari Sang Prabu , juga ia berziarah ke bangunan suci dan kalau tardapat kerusakan – kerusakan pada bangunan tersebut , segera diperintahkan untuk memperbaiki.

b. R. Ng Yosodipura, Pujangga Surakarta Hadiningrat, menuliskan:

Prabu Hayam Wuruk sajroning an Jong lelono anjajah praja ing tanggap warsa 1359, tahun candra nalungsure ing jurang terpis, tumekeng perenging wuki Temenggungan tumuju ing argo Tengger ing Mada Karipura. Tumurun ing tepising wonodrikang banger ambeting warih, sang prabu manages ing ngarsaning Dewa , denyo nerusake lampah marang Sukodon ning wuwus nyuwon nugroho supoyo tansah pinanjungan ing Hyang Widi bisa tansah kaleksanaan ing sediyo. Kang dadi ubayane ing wuri utusan pawongan ing Wono Banger babat Wono dung mrih saranan ing rejaning projo ing wuri. Kasigek caritaning lampah, Sang Prabu sank Punggowo cantang balung kinen angungak ing projo sadeng sawusnyo prang pupuh. Dening Sang Prabu wus kinaryo penggalihan ing sumangso kelampahan kang katur babat wono gung arso pinaringan aprasanti dadio tungguling projo anyar asesilih akuwu kadipaten Sukodono Lumajang, Prasetianing sang noto ing tepising wonodri katiti ing mongso wanci purnomo angglewang ( lingsir ), respati arinipun. Sangnoto Rejosonegoro andon lelono ing brang wetan tumekeng manguni blambangan lan saindenging brang wetan.

Artinva :

Prabu Hayam Wuruk selama berkelana keliling negara pada tahun 1359 , tahun candra nalungsure ing jurang terpis ( 1359 ) tiba di lereng gunung Tumenggungan dan menuju ke gunung Tengger di Madakaripura. Menunin di tepi / batas hutan yang sungainya berbau busuk. Sang Prabu memohon kepada Dewa , dapatnya meneruskan peijalanan ke Sukodono. Dalam kata-katanya memohon anugerah agar selalu dalam lindungan Hyang Widi, agar dapat terlaksana dalam kenyataan. Yang menjadi upaya / kehendak pada kemudian beliau menyuruh Punggawa di Wan a Bangera agar membuka hutan lebat supaya menjadi daerah yang makmur di kemudian hari.

Tersebutlah jalannya cerita, Sang Prabu beserta pasukan tentaranya disuruh meninjau daerah Sadeng sesudah Perang Pupuh. Oleh Sang Prabu sudah direncanakan pada waktu melewati hutan lebat yang baru dibuka berkenan menganugerahi jabatan agar menjadi pimpinan / pemuka daerah yang  baru bergelar Akuwu dalam Kadipaten Sukodono Lumajang. Janji Sang Nata di tepi hutan tercatat pada bulan Purnama condong, hari Kamis, Sang Nata Rejosonegoro bekelana di daerah Timur sampai menjumpai Blambangan dan pelosok daerah Timur. Perintah Prabu Hayam Wuruk untuk membuka hutan Banger ( babat alas Banger ) tersebut diperhitungkan dan ditetapkan pada tanggal 4 September 1359.

a. Baremi, Banger, Borang

Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama dengan jelas menyebut nama- nama desa ( daerah ): ” Borang, Banger, Bremi”. Nama – nama desa tersebut dituliskan pada Pupuh XXI/1 dan XXXIV/4. Desa Baremi merupakan pedukuhan di Kelurahan Sukabumi Kota Probolinggo . Borang, sekarang bernama Kelurahan Wiroborang sebagai paduan antara Wirojayan dan Borang. Desa Banger yang terletak diantara Bremi dan Borang, sekarang merupakan pusat Kota Probolinggo. Sedangkan nama Banger sekarang masih dipakai untuk menyebutkan nama sungai yang mengalir ditengah-tengah Kota probolinggo. Sungai dengan aliran kecil , merupakan saluran pembuangan dan berbau busuk. Tetapi kira-kira sekitar tahun 1900 sungai ini masih lebar, airnya jernih. Banyak perahu-perahu dagang dan Madura dapat masuk berlabuh di pusat perdagangan, di Jalan Siaman . Dahulu tempat ini merupakan sebuah teluk , yang disebut ” tambak pasir Kira-kira tahun 1928 sebagian dan sungai ini ditimbun ( diurug ) dijadikan jalan, yang sekarang sebagian menjadi Jalan Siaman dan Jalan KH. Abd Ajiz. Ada sementara orang berpendapat bahwa nama Banger ini diberikan / untuk memberi nama sungai yang aimya berbau banger / amis karena bau darah Minak Jinggo yang dipenggal kepalanya oleh Raden Damarwulan.

Jika yang dimaksud Menak Jinggo Damarwulan ialah Bre Wirabumi dengan Raden Gajah yang peperangan nya terjadi pada tahun 1401 – 1406 ( Perang Paregreg ), maka anggapan tersebut tidak benar.

Perang Paregreg teijadi pada tahun 1401-1406, sedangkan Prapanca menyebut nama Banger dalam Buku Kertagama yang ditulis pada tahun 1365 dan nama Banger sudah ada pada tahun 1359 Masehi. Jika bau Bangei’ itu disebabkan karena bau darah dan mayat-mayat yang terjadi akibat peperangan antara Majapahit dengan Lumajang “Pemberontakan Nambi, Ariya Wiraaja” pada tahun 1316 Masehi, ini masuk akal, karena terjadinya sebelum perjalanan keliling ke Lumajang.

F. TANGGAL 1 JULI 1918 DAN 4 SEPTEMBER 1359

  • Tanggal 1 Juli 1918 sebagai hari jadi Pemerintah kota Probolinggo, karena pada tanggal 1 Juli 1918 Pemerintah kolonial Belanda membentuk Gemeente (kota) Probolinggo, di bawah Kabupaten Probolinggo.
  • Tangggal 4 September 1359 sebagai hari jadi Kota Probolinggo, karena pada tanggal 4 September 1359, Prabu Hayam wuruk memerintahkan untuk membuka (babat) alas Banger untuk dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Pemerintahan di Banger semula berada di bawah Akuwu di Sukodono, kemudian menjadi Pakuwon, Kadipaten, Kabupaten dan Kota Probolinggo.
  • Tanggal 1 Juli 1918: Hari jadi Pemerintah Gemeente / Kota Probolinggo mulai adanya Pemerintah Kota Tanggal 4 September 1359 : hari jadi kota Probolinggo terbentuk, adanya wilayah / daerah Kota Banger, cikal bakal Probolinggo. 

Banger akhirnya menjadi kabupaten Probolinggo dengan Probolinggo ASRINYA dan Kota Probolinggo dengan Probolinggo BESTARINYA. Sebagai Bupati Probolinggo yang pertama ialah Kyai djojolelono dan yang terakhir (2004) ialah pasangan H. Hasan Aminuddin SH, dan H. Hapur Abdul Gafur. Sebagai Walikota Probolinggo yang pertama ialah Tn. Meyer dan yang terakhir (2004) ialah pasangan H. M. Buchori, SH dan Drs. H. Koentjoro Soehadi, Md, BA, M.Sc.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004

Gemente ( Kota ) Probolinggo

GEMENTE ( KOTA ) PROBOLINGGO

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPada masa Pemerintahan Raden Adipati Ario Nitinegoro, Bupati Probolinggo ke 17, Pemerintahan Hindia Belanda membentuk ” Gementee Probolinggo(Kota Probolinggo) pada tanggal 1 Juli 1918 ( Berdasarkan Stbl 322-1918 ). Tanggal 1 Juli 1918 kemudian dijadikan sebagai hari jadinya Pemerintah Kota Probolinggo.

Bersamaan dengan HUT.Bhayangkara, tanggal 1 Juli oleh Pemerintah Kotamadya Probolinggo telah beberapa kali diperingati sebagai hari jadi / HUT Pemerintah Kota Probolinggo. Tahun 1926 Gementee diubah menjadi Stads Gementee berdasarkan Stbl 365 Tahun 1926.

Gementee Probolinggo selanjutnya menjadi Kota Probolinggo berdasarkan Ordonansi pembentukan Kota ( Stbl. 1928 No. 500 ). Sejak tahun 1918 Gementee Probolinggo dipegang/dijabat oleh seorang Asisten Residen ( di bawah Keresidenan Pasuruan ). Baru pada 1928 diangkat seorang Burgemeester (Walikota) sebagai Kepala Daerah yang berkuasa penuh. Pada tahun 1929 Probolinggo pernah menjadi Ibukota Karesidenan Probolinggo.

Burgemeester (Walikota) Probolinggo pertama ialah Tn. Meyer. Tahun 1935 pangkat Burgemeester untuk Stadsgemeente Probo linggo dihapus dan sebagai pejabat diangkat Asisten Residen yang berkedudukan di Probolinggo (1935-1942) yaitu LA. de Graaf dan diganti oleh LNoe.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004

Probolinggo Menjadi Tanah Partikelir

PROBOLINGGO MENJADI TANAH PARTIKELIR

HARIJADI KOTA PPROBOLINGGOPada masa pemerintahan / kekuasaan Gubenur Jenderal Meester Herman William Daendets, yang terkenal dengan pemerintahan tangan besinya, mengadakan perubahan-perubahan dalam pemerintahan.

Juga banyak menjual tan ah negara kepada bangsa asing. Tanah Probolinggo (termasuk Kraksan dan Lumajang ) dijual kepada Mayor Cina Han Kek Koo ( Han Tik Hoo, han Tik Ko, Han Tek Kok).

Han Kek Koo Kemudian menjadi Bupati Probolinggo ke 5 yang bergelar “Babah Tumenggung”. Pusat Pemerintahan (Kabupaten) dipindahkan di sebelah Selatan Alun- alun, seperti keadaan sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sekilas tentang Hari Jadi Kota Probolinggo Tanggal 4 September 1359;  Kantor Informasi Dan Komunikasi Kota Probolinggo 2004.

Jamur Champignon, Bromo-Probolinggo

Jamur Champignon, Atasi Kesulitan Petani Bromo

LAPORAN: FATHONI/HM DJUPRI/FERRY WARDATA

KETIKA debu Bromo masih tebal, saat itu petani di sekitarnya kesulitan menanam kentang dan gubis maupun tanaman lain. Sebagai alternatif petani dianjurkan menanam jamur champignon atau yang lebih populer dengan sebutan Bromo Champ. Jamur ini sangat mudah dilakukan di rumah tanam. Soal permodalan dan untuk menggolkan program Bromo Champ ini, Kadin Probolinggo memfasilitasi bekerjasama dengan Bank BPR Jatim. Sebagai titik awal pelaksanaan program ini, Sabtu (21/5) diadakan Sosialisasi Usaha Jamur Champignon “Menuju Kebangkitan Ekonomi Pasca Erupsi Bromo” yang digelar di balai desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Acara ini dihadiri Sekprov Jatim yang juga Komut Bank BPR Jatim Dr. H. Rasiyo MSi, Dirut Bank BPR Jatim R. Soeroso, Ketua Kadin Probolinggo Ir. Sucipto Susilo, pejabat Pemkab Probolinggo dan para petani jamur Bromo Champ.

Dalam wawancara dengan Sarekda, Rasiyo menilai program Bromo Champ sangat bagus untuk membantu masyarakat Bromo akibat dampak gunung berapi beberapa waktu lalu. Petani yang gagal menanam kentang dan kubis diarahkan menanam jamur. “Jenis jamur champignon ini bagus sekali apalagi didukung situasi alamnya yang tinggi dengan temperatur antara 10-20 derajat celsius dan hasil panen yang menjanjikan. Ditambah lagi sistem pertaniannya bisa di rumah-rumah, jadi sangat mudah dilakukan,” katanya. Jadi, lanjut Rasiyo, nantinya bertani jamur ini bisa dilanjutkan sambil menunggu lingkungan Gunung Bromo menjadi subur lagi seperti hari-hari biasanya biasanya. Sebab, untuk menunggu pulih lagi perlu waktu sehingga kalau sekarang ditanami secara paksa tidak akan tumbuh dengan subur karena ketebalan pasir sekitar 60 cm. “Nah, sambil menunggu kesuburan tanah ini petani dianjurkan bertani jamur. Jamur kan juga menghasilkan sehingga nantinya bertani jamur bisa diteruskan.

Nanti ketika lingkungan pertaniannya sudah subur kembali, maka bertani kentang dan gubis juga jalan sementara jamur pun jalan,” harapnya. Menurut Rasiyo, sebenarnya usaha jamur ini menyangkut permodalan, itu sebabnya Pemprov Jatim membantu permodalan dengan cara meminjami. “Sebab, kalau seseorang itu hanya diberi uang saja maka kinerjanya tidak bagus. Tapi, kalau dipinjami maka dia ada upaya untuk mengembalikan dari hasil pertaniannya. Cara ini akan lebih mendidik orang agar lebih giat dan lebih bersemangat. Apalagi bunganya juga kecil, hanya satu persen. Kreditnya dari Bank BPR Jatim, tapi kalau channeling nanti modalnya bisa lebih dari Rp 250 juta,” ujarnya. Dijelaskan lagi, seandainya dia tidak punya agunan, petani tetap akan mendapat kredit. Sebab, agunan akan ditanggung oleh Jamkrida. Bahkan, bisa dibilang petani tidak mengeluarkan uang sama sekali. “Petani terima uang, tapi dari hasil kegiatannya itu petani malah bisa membayar utang dengan bunga yang sangat kecil sekali.

Bunga Jamkrida hanya 6 persen. Jadi, 12 persen efektif, berarti satu bulannya ya satu persen. Modal sudah kita luncurkan. Tadi, kita sudah Modal. Kalau soal teknis nanti dengan Kadin Probolinggo, dan kalau soal dana dengan kami. Nanti dua atau tiga bulan lagi nanti akan kita cek lagi,” katanya. Sementara Dirut Bank BPR Jatim, R Soeroso, di lokasi sosialisasi usaha jamur menjawab pertanyaan mengatakan terarik pada program Bromo Champ karena bertujuan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan akibat erupsi Gunung Bromo sehingga pertanian jadi terhambat. “Nah, dengan dialihkannya pertanian menjadi budidaya jamur apalagi pasamya sudah jelas melalui PT Surya Jaya, dengan demikian Bank BPR Jatim tergugah sekaligus ikut mengakses program Pak Gubemur yaitu pro  job dan pro growth,” jelas Soeroso.

Soeroso menilai, budidaya jamur ini sebetulnya upaya untuk penyerapan tenaga kerja melalui pemberian modal kerja yang biayanya dari Bank BPR Jatim. Dengan pemberian modal kerja dan investasi jamur ini, maka ekonomi kerakyatan itu akan terdongkrak naik. Tanaman lain yang terkena erupsi sehingga gulung tikar, namun pada pertanian jamur penghasilannya akan meningkat karena suhu di Bromo memenuhi syarat dalam bertani jamur. “Itu sebabnya, kami bersarna Pak Sekprov Jatim bersosialisasi dalam rangka eksibilitas permodalan dari Bank BPR Jatim, sehingga langsung bisa diserap oleh para petani yang ada di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo ini,” terangnya.

Dalam program Bromo Champ ini, tegas Soeroso lagi, Bank BPR Jatim ini justru harus punya peran. Sebagai BUMD jangan hanya memberi profit, tapi juga bisa memberi benefid atau manfaat bagi rakyat di Jawa Timur untuk pertumbuhan ekonomi kerakyatan dengan penyerapan tenaga kerja. Harapannya PDRB naik, pend apatan perkapita penduduk naik, kemampuan membayar distribusi pajak baik, kemampuan pemerintah dalam APBD juga meningkat, dan subsidi pun berkurang sehingga bisa membangun sarana dan prasama di daerah lain yang tertinggal. Ujung-ujungnya daerah lain pun ikut berkembang dan bisa mengejar daerah-daerah lain yang sudah berkembang lebih dulu.

“Insyaallah, saya mengikuti program Pak Gubernur bahwa tahun 2013 Jawa Timur harus bisa menyalip Jakarta dengan turut membangun ekonomi kerakyatan sehingga bisa tumbuh dengan baik. “Saya, menunjang program 2013. Bank BPR Jatim harus punya peran serta terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan yaitu lewat penyerapan tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan tadi,” urainya.

Sedangkan Ketua Kadin Probolinggo Ir Sucipto Santoso, mengatakan bahwa budidaya jamur champignon ini sebetulnya sebagai altematif petani Bromo yang usahanya sedang macet. Ini disebabkan karena keadaan pasir pasca letusan Bromo yang saat ini ketebalannya mencapai 60 cm bahkan masih ada hujan abu.

Menurutnya, keunggulan jamur champignon ini disamping bisa dilakukan di rumah-rumah tanam, juga hidup pada suhu 16 derajat celsius pada ketinggian 1.500 meter. “Menanam jamur champignon lebih gampang daripada tanam kentang atau wartel yang mudah layu jika terkena debu Bromo padahal saat ini Bromo masih terus batuk-batuk. Rumah-rumah yang menanam jamur nantinya ditandai dengan stiker Bromo Champ. Petani yang direkrut ditargetkan 300 orang sehingga diharapkan bisa menghasilkan jamur champignon 18 ton/hari. Harapan kami ke depan Bromo seperti Batu. Kalau orang berwisata ke Batu pulang bawa oleh-oleh apel, maka wisatawan ke Bromo pulang bawa oleh-oleh jamur champignon,” harap Sucipto.

Ditambahkan, Kadin Probolinggo dalam budidaya jamur champignon ini memfasilitasi antara petani dengan industri pabrikan yang mengola dalam kaleng, plastik bahkan pres. “Jadi, yang melakukan ekspor sudah ada sendiri yaitu industri pabrikan itu. Ekspor dilakukan ke Amerika, Eropa dan Timur Tengah. Saat ini hanya untuk konsumsi lokal dulu, karena masih dalam taraf ujicoba. Tapi, nanti ketika panen sudah mencapai 90 ton maka ekspor pun dilakukan. Standar satu kontiner itu 15 ton, dan ekspor terbesar ke Amerika,” ujarnya. -ryan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA Jawa Timur, edisi : 011, 2011