Batik Tulis Citaka Dhomas, Kediri

logo-citaka-dhomas-newBatik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad delapan belas atau awal abad sembilan belas. Semuanya bermula dari batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Kediri masuk dalam catatan sejarah batik. G.P. Rouffaer melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

 Adi Wahyono, S.Pd., pria yang lahir di desa Menang 25 Oktober 1975 ini adalah perintis Perusahaan Rumah Batik Citaka Dhomas  yang beralamatkan di  Jalan Joyoboyo 415 desa Menang RT 01/ RW 03, tak jauh dari petilasan Joyo Boyo, di Menang, Pagu, Kediri. Email : citakadhomas@gmail.com, HP : 085 258 271 028. Rumah Batik Citaka Dhomas memiliki tenaga kerja, cukup mahir, detail motif yang mereka kerjakan cukup rumit (ujarnya Adi). Meski baru lima tahun membatik, Adi Wahyono sudah punya nama di Kediri. Pagelaran duta wisata Raka-Raki Jawa Timur kerap menggunakan batiknya. Sudah banyak pelanggan dari dalam dan luar kota.

Bagi Adi Wahyono, membatik bukanlah sesuatu yang baru, karena pengetahuan tersebut sudah merupakan ketrampilan warisan secara turun menurun didapat dari neneknya adalah seorang pembatik. Semenjak kecil tangannya sudah terampil menggoreskan canting di atas selembar kain. Dan ketrampilan terseut bertambah terasa dan semakin nyata; dengan bekal pendidikan seni rupa yang didapatnya dari UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Sebelumnya, Adi Wahyono bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan mebel, setelah sepuluh tahun bekerja; panggilan batin mendorongnya untuk melanjutkan tradisi membatik yang diwariskan turun-temurun dari nenek buyutnya; yang dikenal sebagai pembatik langganan kaum priyayi pada jaman dulu.

Corak Sejarah Batik Citaka Dhomas

Awalnya, Adi Wahyono dengan sarung batik pemberian sang nenek saat dia dikitan dulu. Walaupun sarung itu sudah rusak, sudah tinggal separuh. Namun masih tampak jelas motif batik pada sarung itu. Dia sangat suka dengan motifnya. Setelah dia pelajari lebih mendalam, barulah dia tahu kalau itu adalah motif adi luhung.

Dengan motif itulah dia mulai membuat batik. Kegemarannya menggali motif-motif  batik semakin memperkokoh namanya di antara para pembatik lokal di Jawa Timur. Pada tahun 2009, dia mendirikan Rumah Batik Tulis “Citaka Dhomas” dan mulai membatik secara profesional. Tak cukup puas dengan pengetahuan yang sebelumnya pernah dia miliki; Adi Wahyono juga memperdalam ilmu membatiknya pada seorang pembatik kenamaan dari di Bantul, Jogjakarta. Karena dedikasinya yang tinggi dalam membatik, namanya cukup dikenal di kalangan para pejabat lokal. Karya batiknya dihargai mahal karena memiliki nilai seni yang tinggi, dan dikerjakan dengan teknik membatik yang nyaris sempurna. Hal itu bisa kita lihat dari kualitas bahan, kerapian, detail dan keindahan warna. Batik Citaka Dhomas memiliki nilai lebih, motif – motif  batiknya tak lepas dari relief di  berbagai situs sejarah dan budaya di Kediri: Candi, patung, lingga yoni dan prasasti kuno.

Sebagai salah satu UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang ada di Kabupaten Kediri, Adi Wahyono dan Citaka Dhomasnya diberikan kesempatan untuk mengikuti even-even pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kesungguhannya menekuni seni kerajinan batik juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas. Dalam sebuah ajang lomba desain batik tingkat Kabupaten Kediri tahun 2010; Adi Wahyono berhasil meraih juara 1 untuk kategori fauna, Juara 2 untuk kategori flora dan Juara 2 untuk kategori bebas.

Pembatik muda umumnya menyukai motif  kontemporer, namun pembatik satu ini sangat  berbeda,  Batik- batik garapannya tergolong khas dan klasik. Hal ini dibuktikan dengan beberapa motif yang dibuatnya sebagian besar ide pemikarannya berasal diilhami dari situs situs sejarah dan budaya. Baik relief dan ornamen di candi, patung, lingga yoni serta berbagai gambar yang tampak di situs budaya dan bersejarah yang ada di Kediri. Adi Wahyono yang menangani sendiri batik Citaka Dhomas ini. Laki-laki yang bermukim ini turun tangan sendiri menuangkan gambaran batik dalam pikirannya ke sehelai kain dengan mengangkat kearifan lokal.

Rumah Batik Citaka Dhomas telah memiliki 10 motif pakem yang khas dan klasik. Diantaranya:

  • Motif batik Loka Moksa mengambil gambar lingga yoni di situs budaya petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Batik berwarna dasar coklat, diambil dari warna alam.
  • Motif batik Tunjung Sewu yang inspirasi motifnya dari Candi Surowono. Di dinding candi, dia menemukan relief teratai miring.
  • Motif batik ‘Sawung Tunjung Tejamaya’ menunjukkan beberapa simbol; ayam bekisar sebagai ikon Jawa Timur, Astadala dan gambaran relief ‘Surya Majapahit’ di dinding candi Tegowangi.
  • Motif batik Candrakapala, simbol kerajaan Kediri yang diperoleh dari prasasti Tangkilan.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna Sentetis

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-1

batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-2batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-3batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-4Dari beberapa karya batik muncul di pasaran, saat diamati nampak batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-5batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-6kemiripan dengan motif  batiknya. Tidak masalah jika ada batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-7yang meniru batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-8batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-9motifnya, sebab batik karya Adi Wahyono dengan Citaka Dhomasnya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-10memiliki kekhasan tersendiri. Proses membatiknya batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-11batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-12batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-13batik-tulis-citaka-dhomas-kediri-warna-sentetis-14cukup detail. Awalnya, Adi berdiskusi dengan pakar sejarah. Setelah itu, dia melakukan riset. Mulai melakukan pengamatan relief-relief secara langsung, memotret hingga mencari referensi sejarahnya. Kemudian, dia menggali dari sisi batiknya. “Kalau dibuat batik ‘kan nggak mungkin gambar aslinya, istilahnya ada penggayaan,” ungkap suami Hidayati Sofiah ini.

Namun, ada satu yang tak bisa lepas dari Adi. Dia tak pernah meninggalkan bunga teratai dalam setiap karyanya. Dia merasa sudah berada pada rel yang akan terus dijalaninya, mengangkat budaya dan sejarah lokal.

Koleksi Batik Citaka Dhomas Warna alam

 

 

 

batik_tulis_warna_alam1

batik_tulis_warna_alam4

batik_tulis_warna_alam5

batik_tulis_warna_alam6

batik_tulis_warna_alam10batik_tulis_warna_alam8

 

 

 

 

 

batik_tulis_warna_alam15

 

 

batik_tulis_warna_alam11

 

batik_tulis_warna_alam13

batik_tulis_warna_alam12

batik_tulis_warna_alam14

 

batik_tulis_warna_alam9

batik_tulis_warna_alam7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

——————————————————————————————-Rumah Batik Tulis Citaka Dhomas
http://batikcitakadhomas.com

Batik Mojokerto

Mojokerto merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari Surabaya. Mojokerto merupakan kota yang istimewa dalam sejarah Indonesia karena kota ini dulunya merupakan ibukota dari Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan bersejarah, salah satunya adalah seni membatik.  Batik Mojokerto adalah batik khas dari Kota Mojokerto yang memiliki keunikan yaitu memiliki motif yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan Majapahit, mengadaptasi elemen-elemen yang ada dalam Kerajaan Majapahit diantaranya adalah Surya Majapahit, bunga Teratai, buah Maja, dan masih banyak lagi. Selain itu, motif dari batik ini mengambil tema dari kehidupan sekitar Kota Mojokerto. Sangat disayangkan keberadaan batik Mojokerto kurang atau bahkan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar baik yang berasal dari Kota Mojokerto maupun luar Kota Mojokerto. Hanya sebagian orang yang mengetahui keberadaan dari batik ini dan menyebarkannya dari mulut ke mulut.

Batik Mojokerto sempat dipamerkan di Australia pada tahun 2007 dan mulai berkembang dengan sederet nama motif yang unik dan khas seperti Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit, dan masih banyak lagi. Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai identitas atau ciri khas dari Kota Mojokerto Beberapa nama motif batik Mojokerto memiliki kesamaan nama motif dengan batik yang berasal dari daerah lain seperti motif Pring Sedapur ditemukan juga pada batik motif batik lain. Namun terdapat perbedaan antara motif Pring Sedapur dari daerah Mojokerto dengan motif Pring Sedapur daerah lain. Dari warna dasarnya, untuk motif Pring Sedapur Mojokerto menggunakan warna dasar putih dan dominasi warna cokelat pada motifnya sehingga memiliki kesan klasik sedangkan pada motif Pring Sedapur daerah lain memiliki warna dasar jingga dengan dominasi warna hitam pada motifnya. Selain itu, dalam setiap bentukan motif yang ada pada motif Pring Sedapur Mojokerto kaya akan ornamen dan sudah dimodifikasi untuk menghilangkan kesan kaku berbeda dengan motif Pring Sedapur Magetan yang masih menggambarkan bentukan motif menyerupai bentuk aslinya. Kini Pemerintah mulai memperhatikan keberadaan batik ini dan mulai mengenalkan batik ini kepada masyarakat sekitar melalui pengadaan pelajaran membatik dan pelatihan membatik untuk anak-anak dan ibu rumah tangga.
Batik Mojokerto merupakan salah satu batik Indonesia, yang konon terlahir di Majapahit, awalnya adalah batik keraton. Namun seiring runtuhnya kerajaan Hindu batik keraton Majapahit    menyingkir dari wilayah pusat kerajaan terbesar di Nusantara ini. Mojokerto sendiri yang merupakan petilasan Majapahit, ditinggalkan oleh para nenek moyang mereka para empu batik.

Belakangan seni membatik mulai muncul lagi di Mojokerto yang dihidupkan oleh generasi baru. Dari literatur lama diperoleh catatan bahwa pada tahun 1920-an di daerah Mojowarno, ada seorang Nyonya berkebangsaan Belanda (tertulis sebagai Mevrouw Kats) yang membuka kursus batik cap di kalangan masyarakat setempat. Namun batik cap ini setelah ditelusuri hingga kini berkembangnya justru ke arah Jombang.

Munculnya kembali seni membatik di Mojokerto justru berangkat dari berkembangnya seni kerajinan (craft) di wilayah ini. Pembatik Mojokerto sendiri banyak yang tidak tahu apakah batik yang mereka kerjakan itu adalah asli digali dari Mojokerto atau justru motif-motif yang mereka kerjakan berdasarkan pesanan konsumen sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh karenanya sulit untuk mengetahui asal usul motif yang berkembang dan populer di situ. Masalah ini bukan hanya terjadi di Mojokerto saja, tetapi juga merupakan kendala yang dihadapi di daerah lain.

Namun demikian yang patut diapresiasi kalangan Batik Mojokerto saat ini sedang berkembang sederet nama motif batik seperti Gedheg Rubuh, Mrico Bolong, Gringsing, Surya Majapahit, Alas Majapahit, Lerek Kali, Bunga Matahari (kadang hanya disebut Matahari), Koro Kenteng, Rawan Inggek, Bunga Sepatu, Kawung Cemprot, dan Pring Sedapur.

Ciri Khas Batik Mojokerto Menurut Ernawati, salah satu pengrajin batik Mojokerto, motif batik Mojokerto mengambil corak atau motif dari alam sekitar kehidupan manusia yang mampu memberikan gambaran mengenai ciri daerah Mojokerto. Beberapa corak atau motif yang digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi. Untuk ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan ukel.

Motif Batik Mojokerto

 

  1. batik-mojokerto-motif-mrico-bolongMotif Mrico Bolong; Motif ini diberi nama Mrico Bolong karena memiliki latar berupa bulatan-bulatan kecil seperti merica yang tampak berlubang. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan berwarna cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  2. batik-mojokerto-motif-sisik-gringsingMotif Sisik Gringsing; Motif ini diberi nama Sisik Gringsing karena memiliki latar berbentuk seperti sisik ikan. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini memiliki kesamaan dengan motif Mrico Bolong dari segi motif utama dan motif pelengkapnya namun yang membedakan keduanya adalah latar dari kedua motif ini. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  3. batik-mojokerto-motif-pring-sedapurMotif Pring Sedapur; Motif ini diberi nama Pring Sedapur yang diambil dari rumpun bambu yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah burung merak yang bertengger di rumpun bambu tersebut. Latar dalam motif ini dibuat dengan cara meremukkan malam yang digunakan untuk menutup latar kain sehingga warna lain bisa dimasukkan dan menimbulkan kesan retak-retak. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  4. batik-mojokerto-motif-rawan-inggekMotif Rawan Inggek; Motif ini diberi nama Rawan Inggek karena memiliki latar berupa garis yang berkelok-kelok. Garis yang berkelok-kelok ini disebut rawan, yang berasal dari kata “rawa” yang mendapat imbuhan “an”. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu dan surya majapahit.
  5. batik-mojokerto-motif-kawung_rambutanMotif Kawung Rambutan; Motif ini diberi nama Kawung Rambutan sesuai dengan latarnya, kawung cenderung berbentuk kotak dengan ujung yang agak membulat. Kawung tampak pada motif garis-garis berbentuk kotak yang terdapat bulatan dengan srungut-srungut. Dengan adanya srungut-srungut itu maka diberi nama Kawung Rambutan. Yang menjadi motif utama adalah rangkaian bunga beserta daun-daunnya sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu.
  6. Motif Teratai Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Teratai Surya Majapahit karena menampilkan elemen-elemen yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang didominasi oleh bunga teratai dan surya majapahit. Yang menjadi motif utamanya adalah ayam bekisar, bunga teratai, tempat duduk dewa-dewi serta surya majapahit sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja. Motif ini menggunakan isen-isen cecek pada latarnya.
  7. Motif Kembang Dilem; Motif ini diberi nama Kembang Dilem karena terinspirasi dari tanaman dilem, berupa daun dan tidak berbunga, yang digunakan untuk pewangi pada batik sedangkan kembang berasal dari bunga-bunga kecil yang tampak dari motif ini. Bunga-bunga kecil itu merupakan motif pelengkap dan motif utamanya adalah daun dilem.
  8. Motif Matahari; Motif ini diberi nama Matahari karena didominasi oleh motif berbentuk bunga matahari. Motif bunga matahari itu merupakan motif utama sedangkan kupukupu di sini menjadi motif pelengkap saja. Untuk latarnya berupa warna hitam polos tanpa adanya isenisen.
  9. Motif Merak Ngigel; Motif ini diberi nama Merak Ngigel karena motif utamanya adalah burung merak yang saling berhadaphadapan. Untuk motif pelengkapnya berupa kupukupu dan bunga-bunga. Latar dari motif ini didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek dengan warna biru.
  10. btmo-koro-rentengMotif Koro Renteng; Motif ini diberi nama Koro Renteng karena motif utamanya adalah buah koro yang ditunjukkan oleh bulatan-bulatan kecil bewarna cokelat yang di dalamnya terdapat isen-isen cecek sebanyak tiga cecek sedangkan renteng menunjuk pada daun yang di-renteng (disusun berjajar). Motif ini memiliki latar polos bewarna putih yang terlihat seperti didominasi oleh isen-isen sawutan yang terdapat pada tepian setiap bentukan motif.
  11. Motif Rantai Kapal Kandas; Motif ini diberi nama Rantai Kapal Kandas karena motif utamanya adalah rantai dan motif pelengkapnya berupa bagian-bagian kapal yang sudah hancur (kandas). Motif ini memiliki latar polos dengan warna putih tanpa adanya isen-isen.
  12. daun_talas_batik_tulis_bahan_cotton_size_225m_x_110mMotif Daun Talas; Motif ini diberi nama Daun Talas karena motif utamanya berupa daun talas. Daun talas sendiri merupakan daun dari tanaman umbi-umbian yang berdaun lebar yang sering dijumpai di Kota Mojokerto. Motif pelengkap dari motif ini adalah buah talas. Untuk latarnya menggunakan warna biru dengan isen-isen cecek.
  13. Motif Gerbang Mahkota Raja Motif ini diberi nama Gerbang Mahkota Raja karena terdapat bentukan gerbang dan mahkota raja yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah bunga teratai, buah maja, ayam bekisar, dan kupu-kupu. Gerbang disini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Majapahit yang di dalamnya terdapat beragam budaya, mahkota raja sebagai tanda kebesaran yang dipakai oleh raja-raja Majapahit. Bentukan motif yang ada di dalam kain batik ini merupakan elemen-elemen dari Kerajaan Majapahit. Untuk latarnya didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek.
  14. Motif Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Surya Majapahit karena motif utamanya berupa surya majapahit yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang sering dijumpai pada candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit berbentuk cakra segi delapan ini merupakan gambaran dari 9 dewa yang dipuja oleh penduduk Majapahit. Untuk motif pelengkapnya berupa buah maja. Latar dari motif ini berwarna hitam polos tanpa adanya isen-isen.
  15. Motif Rawan Klasa; Motif ini diberi nama Rawan Klasa karena latarnya berbentuk menyerupai anyaman tikar (klasa). Yang menjadi motif utama adalah sepasang sawat yang menyerupai sayap burung garuda yang memberi kesan gagah sedangkan motif pelengkapnya berupa daun dan bunga-bunga kecil di sekitarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  16. Motif Alas Majapahit; Motif ini diberi nama Alas Majapahit karena menggambarkan keadaan atau suasana hutan (alas) di mana di dalam hutan terdapat berbagai hewan dan tumbuhan. Yang menjadi motif utama adalah motif yang berbentuk hewan dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja, kupu-kupu kecil, dan bunga-bunga kecil. Motif ini memiliki latar dengan isen-isen cecek.
  17. Motif Bin Pecah; Motif ini diberi nama Bin Pecah karena memiliki latar dengan bentukan seperti ubin dalam keadaan pecah (berbentuk seperti segitiga). Yang menjadi motif utama adalah rangkaian daun kelapa, burung, dan bunga teratai sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  18. Motif Merak Gelatik; Motif ini diberi nama Merak Gelatik karena motif utama berbentuk burung gelatik yang kecil namun memiliki ekor panjang seperti burung merak. Motif pelengkapnya adalah bunga-bunga dan daun-daun. Latar motif ini berwarna putih polos tanpa adanya isen-isen. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  19. Motif Kembang Suruh; Motif ini diberi nama Kembang Suruh karena motif ini memiliki latar yang didominasi oleh isen-isen kembang suruh. Motif utamanya adalah bunga dan daun-daun sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  20. Motif Ukel Cambah; Motif ini diberi nama Ukel Cambah karena motif ini didominasi oleh latar dengan isen-isen ukel yang menyerupai bentuk kecambah. Motif ini hampir serupa dengan motif Kembang Suruh, hanya terdapat perbedaan pada isen-isen yang mendominasi latarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  21. Motif Sekar Jagad Mojokerto; Motif ini diberi nama Sekar Jagad Mojokerto karena motif utamanya berupa bunga teratai, buah maja, dan surya majapahit yang kesemuanya merupakan elemen dari Kota Mojokerto. Motif pelengkapnya adalah motif di luar dari elemen-elemen Kota Mojokerto yang sudah ada. Motif ini terkesan padat dan ramai seperti kondisi alam semesta (jagad raya).
  22. kembang_mojo_Motif Kembang Maja; Motif ini diberi nama Kembang Maja karena motif utamanya adalah kembang yang diwakili oleh bunga matahari (bunga yang tidak diberi warna) dan buah maja yang merupakan buah yang menjadi asal nama Majapahit.

 

Batik Mojokerto konon telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, namu seiring runtuhnya kerajaan ini, keberadaan batik Mojokerto mulai tersingkir keberadaannya. Belakangan seni membatik muncul  dan berkembang lagi di Mojokerto yang diawali oleh generasi baru yang mewarisi tradisi turun temurun dari generasi sebelumnya.

Sebagai tradisi yang dimiliki oleh Mojokerto ini patut untuk dijaga kelestariannya sehingga kelak batik Mojokerto lebih dikenal oleh masyarakat luas.  Hadirnya wacana baru untuk mengenalkan batik Mojokerto kepada masyarakat secara luas khususnya para pecinta batik. Diharapkan mampu menarik perhatian sasaran kawulamuda sehingga mereka mengenal dan ikut melestarikan batik Mojokerto.

 

—————————————————————————————————————–Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto./ Fransisca Luciana Santoso, Bramantya, Ryan Pratama Sutanto.
Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya – STK Wilwatikta Surabaya

Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan memiliki 3 motif baru  pada tahun 2012 yang dihasilkan dari perlombaan mendesain motif batik yang bertemakan Lamongan. Motif baru tersebut meliputi

  • motif bandeng lele sebagai Icon Kabupaten Lamongan,
  • motif gapuro Tanjung Kodok dan,
  • motif kepiting yang diciptakan berdasarkan sumber ide berasal dari daerah Lamongan.

Motif  batik Sendang Lamongan ditinjau dari ragam hias  utama, pelengkap, isen-isen dan makna motif dan warna motif batik Sendang Lamongan. Dalam menentukan motif  batik Sendang Lamongan mengacu dari lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, benda-benda yang ada di sektor perikanan daerah pantura yaitu kepiting. Motif dan warna batik menjadi ciri khas batik Sendang Lamongan tentunya memiliki makna karena motif tersebut muncul melalui pengalaman-pengalaman yang terjalani dan sesuai dengan lingkungan hidup di sekitar kabupaten Lamongan.

  1. Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan
  2. Motif Bandeng Lele

Motif batik Bandeng lele dijadikan sebagai Icon Kabupaten Lamongan yang diperoleh dari hasil perlombaan membuat motif batik dengan tema Lamongan. Batik motif bandeng lele tercipta dari hasil perlombaan yang diadakan pada tahun 2012, dan motif bandeng lele ditetapkan sebagai Icon Kabupaten Lamongan.

Motif bandeng lele merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2015. Sumber ide motif Bandeng lele berasal dari binatang yang mempunyai keistimewahan serta menyimpan cerita sejarah Kabupaten Lamongan yang diwujudkan menjadi lambang Kabupaten Lamongan yaitu Bandeng dan Lele.

  1. Motif batik Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan pemenang lomba juara 1 tahun 2013. Hal tersebut sesuai pendapat Bapak Eko (Staf Diskoperindag). Batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Kabupaten Lamongan yaitu Gapuro dan Batu Kodok.

Gapuro merupakan tempat yang dahulu digunakan berkumpulnya antara kanjeng Sunan Drajat dan Sunan Sendang yang terletak disekitar tanjung kodok. Akan tetapi gapuro tersebut sudah dipindah dengan bentuk yang sama dan sekarang digunakan sebagai gapura pintu masuk makam Sunan Sendang tepatnya di Desa Sendangduwur.

Tanjung kodok bersumber ide dari sebuah batu yang menjorok kelaut dengan bentuk yang menyerupai hewan kodok. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif Gapuro Tanjung Kodok bersumber ide dari benda yang ada disekitar Lamongan, dalam hal ini yaitu Gapura Makam Sunan Sendang dan Tanjung Kodok. Sesuai gambar sumber ide penggabungan gapuro dan tanjung kodok,  sehingga muncul motif gapuro tanjung kodok. Penggambaran gapuro dan tanjung kodok diteparkan pada ragam hias utama pada batik.

  1. Motif batik Kepiting

Motif Batik Kepiting merupakan desain hasil lomba motif batik yang bertemakan Lamongan pemenang juara 2 tahun 2014. Batas sebelah utara Lamongan merupakan daerah pesisir yang sebagain besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan, hasil tanggkap ikan yang banyak diperoleh yaitu kepiting, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Hal itu menunjukkan bahwa kepiting merupakan hasil tangkapan para nelayan yang banyak dijumpai dan merupakan ciri khas fauna daerah pantura di Kecamatan Paciran. Sumber ide batik motif kepiting dari binatang yang merupakan hasil sektor perikanan daerah pantura yang banyak dijumpai di daerah pesisir kecamatan Paciran serta diwujudkan dalam bentuk patung Raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan.

Bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Bandeng lele ini adalah ragam hias binatang berupa ikan Bandeng dan Lele. Penggambaran Bandeng dan Lele ditampilkan secara utuh dengan menggunakan warna hijau tosca serta warna dasar hijau tua sesuai warna dasar Lambang Kabupaten. Gambar bandeng dan lele berdampingan dengan bentuk sedikit melengkung. Ragam hias pelengkap pada motif bandeng lele adalah ragam hias berupa bunga melati dan rantai. Pada ragam hias pelengkap berupa melati. ragam hias isen-isen yang digunakan pada motif bandeng lele adalah cecek-cecek dan cecek sembilan. Isen-isen menggunakan warna coklat muda.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Berdasarkan hasil observasi  mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah ragam hias alam yang berupa gapuro dan batu kodok. Penggambaran Gapuro dan tanjung kodok ditampilkan secara utuh. Pada ragam hias utama berupa gapuro dan tanjung kodok menggunakan warna biru  tua yang mengikuti warna dasar pada batik serta dikombinasi dengan warna hitam. Ragam hias pelengkap pada motif Gapuro Tanjung Kodok  adalah ragam hias berupa daun singkong dan burung garuda. ragam hias isen-isen pada motif batik Gapuro tanjung Kodok adalah cecek-cecek. Ragam hias isen-isen pada motif batik ini pengisis bidang kosong pada ragam hias pelengkap. Isen cecek-cecek menggunakan warna putih.

Berdasarkan hasil observasi mengenai bentuk motif batik diketahui bahwa ragam hias utama pada motif kepiting adalah berupa ragam hias hewan berupa kepiting. Penggambaran kepiting ditampilkan secara utuh. Ragam hias utama menggunakan warna merah muda. Ragam hias pelengkap pada motif Kepiting adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam. ragam hias pelengkap pada motif Kepiting  adalah ragam hias berupa daun cerme. Para warna ragam hias pelengkap mengikuti warna dasar batik dengan divariasi dengan menggunakan warna hitam.

  1. Makna Motif Dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Sesuai dengan hasil wawancara mengenai makna warna dan ragam hias batik bersama ibu Alismawati  (pengrajin batik Sendang) dan Bapak Eko Budi (Staf diskoperindag) bahwa pada motif batik bandeng lele ragam hias utama digambarkan  secara utuh ikan lele dan ikan bandeng dengan menggunakan warna tosca. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna semangat untuk mencapai tujuan mulia. Ragam hias pelengkap pada batik bandeng lele yaitu rantai dan bunga melati. Ragam hias rantai memiliki makna ikatan persatuan yang terus dijaga untuk menuju kedamaian. Bunga melati memiliki arti kesucian, kelembutan dan keharuman dalam kehidupan bermasyarakat. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna coklat muda yang memiliki makna kebersamaan dan rendah hati. Warna coklat ini diambil dari warna tanah daerah Lamongan. Pada motif batik bandeng lele terdapat isen-isen yang menyimpan makna. Isen titik-titik yang rata menggambarkan sebagai derasnya hujan yang digunakan sebagai sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen cecek pitu menggambarkan kerukunan masyarakat dengan berbagai macam agama, keyakinan dan perguruan yang berbeda tetapi hidup rukun damai dan sejahtera. Pada warna isen-isen pada batik bandeng lele ini menggunakan warna coklat muda  yang memiliki makna rendah hati.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Sesuai hasil wawancara bersama pengrajin batik Ibu Hj. Ruhayatin mengenai makna ragam hias batik, bahwa ragam hias utama pada motif Gapuro Tanjung Kodok adalah gambar utuh bentuk gapuro dan tanjung kodok. Pada ragam hias utama berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Isenisen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Warna isen-isen menggunakan warna putih. Sesuai hasil wawancara bersama Ibu Ruhayatin, bahwa warna pada isen-isen tidak meiliki makna, hanyasebagai memperindah pada batik motif gapuro tanjung kodok.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Ragam hias tambahan pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah pada motif secara keseluruhan.

Penerapan Sumber Ide Pada Batik Sendang Dalam Lomba yang Diadakan Oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan

  1. Motif Bandeng Lele

Motif bandeng lele yang diteliti ini merupakan pemenang juara I tahun 2015 hasil karya Ibu Alismawati, karena motif pemenang lomba pada tahun sebelumnya memiliki motif yang sama yaitu motif bandeng lele, sehingga batik yang diteliti ini merupakan motif terbaru yaitu pemenang  juara 1 tahun 2015. Perlombaan diadakan untuk meningkatkan kreatifitas masyarakat dan sebagai upaya pelestarian kebudayaan Lamongan. Motif bandeng lele bersumber ide dari binatang berupa bandeng dan lele yang mempunyai keistimewahan sehingga diwujudkan sebagai lambang Kabupaten Lamongan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986: 14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Sesuai dengan Sumber ide lambang kabupaten yang berupa bandeng dan lele, sehingga gambar bandeng dan lele diterapkan pada ragam hias utama.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Motif batik Gapuro Tanjung Kodok  merupakan motif batik khas Sendang Lamongan yang tercipta dari hasil perlombaan yang mulai diadakan pada tahun 2012. Batik Motif gapuro tanjung kodok yang diteliti merupakan hasil lomba juara I pada tahun 2013 karya Ibu Ruhayatin, karena motif gapuro tanjung kodok ini merupakan motif terbaik pada tahun 2013. Motif batik gapuro tanjung kodok bersumber ide dari benda-benda yang ada disekitar Lamongan yaitu Gapuro dan Tanjung kodok. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah benda-benda yang ada di sekitar kita

  1. Motif Kepiting

Batik motif kepiting yang diteliti merupakan hasil lomba juara II Tahun 2014 karya ibu Ruhayatin. Motif kepiting ini berupakan motif terbaik pada pada tahun 2014, karena motif pemenang pada tahun sebelumnya memiliki motif sama yaitu motif kepiting. Batik motif kepiting bersumber ide dari binatang kepiting. Sesuai dengan pendapat (Sukamto, 1986:14) bahwa salah satu obyek yang mendatangkan inspirasi bagi pencipta motif batik adalah binatang (hewan) yang  mempunyai keistimewahan. Kepiting merupakan hasil perikanan dan menjadi ciri khas fauna daerah pantura karena letaknya yang sangat dekat dengan laut, sehingga diwujudkan pula patung kepiting raksasa tepat di pintu masuk Wisata Bahari Lamongan (WBL). Sesuaai dengan sumber ide kepiting, maka gambar kepiting diterapkan pada ragam hias utama pada batik motif kepiting.

  1. Ciri-Ciri Batik Sendang dari Hasil Perlombaan Pada Tahun 2013-2015 ditinjau dari Ragam Hias Utama, Ragam Hias Pelengkap dan Isen-Isen.

Menurut pengertian ragam hias batik (Hamzuri, 2000:1) dijelaskan bahwa bagian-bagian dari gambar yang diwujudkan dalam bentuk visual yang membentuk suatu motif. Ragam hias yang digunakanpada Batik Sendang Lamongan yaitu:

  1. Motif Bandeng Lele

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik bandeng lele termasuk jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa Bandeng dan lele. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik Bandeng Lele yaitu berupa rantai dan bunga melati. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif bandeng lele yaitu cecek-cecek dan cecek pitu. Sesuai dengan pendapat (Sosanto:1980: 261), bahwa ragam hias merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik gapuro tanjung kodok termasuk jenis ragam hias alam yaitu berupa Gapuro dan tanjung kodok. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan, geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Batik Gapuro Tanjung kodok terdiri dari 2 ragam hias pelengkap yaitu berupa daun singkong dan burung garuda. Sesuai pendapat (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Isen-isen pada motif gapuro tanjung kodok yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias yang digunakan sebagai ragam hias utama pada motif batik kepiting merupakan jenis ragam hias binatang yang hidup di air yaitu berupa kepiting. Hal tersebut sesuai pendapat (Hamzuri, 2010: 01) bahwa jenis ragam hias dibedakan menjadi 7 yaitu manusia, binatang, tumbuhan geometris, abstrak, cerita sejarah dan alam. Ragam hias pelengkap pada motif batik kepiting berupa daun cerme yang digambar memenuhi bidang kain. Bentuknya lebih kecil dibandingkan ragam hias utama. Sesuai kajian pustaka mengenai ragam hias pelengkap (Susanto, 1980: 261) menjelaskan bahwa ragam hias pelengkap merupakan penghias atau pelengkap bidang agar keseluruhan motif terlihat indah. Ragam hias isen-isen pada motif kepiting yaitu cecek-cecek. Sesuai dengan pendapat (Sosanto, 1980: 261) bahwa ragam hias isen-isen merupakan gambar yang berupa unsur titik-titik, gabungan antara titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif secara keseluruhan.

  1. Makna Motif dan Warna Batik Sendang Dari Hasil Lomba Tahun 2013-2015
  2. Motif Bandeng Lele

Ragam hias utama berupa bandeng dan lele digambarkan secara utuh. Ikan Lele memiliki makna kehidupan masyarakat Lamongan yang ulet, tahan menderita, sabar serta tahan emosi apabila mendapaatkan suatu masalah. Ikan bandeng memiliki makna  semangat untuk mencapai tujuan mulia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Warna pada ragam hias utama motif bandeng lele menggunkan warna hijau tosca yang memiliki makna kesegaran daerah perairan tambak ikan di kabupaten Lamongan. Sesuai dengan kajian pustaka (Pemkab Lamongan, 2008: 35) mengenai warna Lambang Kabupaten Lamongan berwarna latar hijau tua yang melambangkan kesuburan.

  1. Motif Gapuro Tanjung Kodok

Ragam hias utama pada motif batik Gapuro Tanjung Kodok yaitu berupa gambar gapuro memiliki makna “Sugeng rawuh” yang artinya selamat datang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011:5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan budhaisme. Pada ragam hias utama menggunakan warna yang sama dengan warna dasar batik yaitu biru tua dan variasi dengan warna hitam. Sesuai dengan hasil wawancara kepada Ibu Ruhayatin, bahwa warna biru tua pada batik gapuro tanjung kodok ini memiliki makna kesetiaan. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Ragam hias pelengkap pada motif gapuro tanjung kodok adalah daun singkong yang memiliki makna rasa syukur terhadap nikmat dan rizki yang diberikan Tuhan. Hal tersebut sesuai pendapat pengrajin batik ibu Ruhayatin, bahwa makna ragam hias pelengkap tersebut sesuai dengan kehidupan Raden Sunan Sendang yang hidup sederhana dan memanfaatkan tanaman disekitarnya. Isen-isen pada motif Gapuro tanjung kodok ini adalah cecek-cecek yang memiliki makna derasnya hujan sebagai sumber kesegaran sumber kehidupan dan penyegar kebahagiaan dalam berumah tangga. Isen-isen pada motif initidak meiliki makna.

  1. Motif Kepiting

Ragam hias utama pada motif kepiting adalah hewan kepiting yang digambarkan secara utuh. Gambar kepiting dengan badan yang besar serta memiliki capit  mengandung  makna keyakinan dan percaya diri seseorang dalam keadaan apapun serta perlindungan seorang pemimpin besar terhadap rakyat-rakyat kecil. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Musman, Asti dan Arini, Ambar, 2011: 5) mengenai makna batik, bahwa motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional jawa, islami, hindhuisme dan buhaisme. Pada Ragam hias utama menggunakan warna ,merah muda, dalam hal ini tidak memiliki makna hanya saja memang sengaja menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar, sehingga terlihat jelas ragam hias utamanya. Ragam hias Pelengkap pada batik kepiting adalah daun cerme. Bentuknya kecil dan mudah rontok atau jatuh apabila tertiup angin. Hal ini melambangkan sebagai manusia haruslah tolong menolong khususnya pada rakyat kecil. Sebab dari rakyat kecillah semuanya dapat berhasil. Pada ragam hias pelengkap menggunakan warna yang sama dengan warna dasar yaitu kuning dan  divariasi dengan warna hitam.  Warna kuning memiliki makna ketentraman yang melambangkan kehidupan masyarakat Lamongan yang hidup damai dan tentram, sedangkan warna hitam tidak memiliki makna, hanya saja sebagai memperindah warna batik. Sesuai pendapat (Soesanto, 1980: 178), bahwa warna merupakan sumber keduniawian yang dapat memberi rasa keindahan dan memberikan kesan. Pada motif batik kepiting terdapat isen-isen yaitu cecekcecek. Isen-isen pada motif kepiting tidak memiliki makna akan tetapi hanya sebagai pengisi untuk melengkapi dan memperindah suatu motif.

 

——————————————————————————————-e-Journal. Volume 05 Nomor 02 Tahun 2016, Edisi Yudisium Periode Mei 2016,Hal 1-9
Richah Rohmaya,  Yulistiana
BATIK SENDANG LAMONGAN
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya

BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Museum dan Perpustakaan Bank Indonesia

Museum & Perpustakaan BI (2)De Javasche Bank salah satu bank terkemuka pada zaman kolonial Belanda yang didirikan di Batavia, tanggal 24 Januari 1828. Kantor pusatnya di Batavia de Javasche Bank, cabangnya di kota- kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Makasar, Palembang dan Pontianak. Kantor cabang Surabaya dibuka 14Seprtember 1829. Gedungnya di pojok Schoolplein (sekarang Jalan Garuda No.1) dan Werfstraat (sekarang Jalan Penjara).

Pada tanggal 1 Juli 1953 Bank ini berubah menjadi Bank Indonesia dan gedung di Jalan Garuda No.1 masih dipakai sampai tahun 1973, sementara Bank Indonesia Surabaya pindah ke Jalan Pahlawan No.105.

Dari survey arkeologi menunjukkan bangunan itu menerapkan teknologi Belanda, antara lain bagian basement (R. Khazanah) dengan pintu besi besar dan lebar, almari besi kokoh, rak besi besar dan kuat., dinding tebal berlapis beton bertulang, kaca patri sebagai jalan cahaya, kisi-kisi tembok dan atap yang kokoh. Arsitektur ini adalah perpaduan dari bangunan Kolonial, Hindu dan Jawa Centris.

Perpustakaan Bank Indonesia secara resmi dibuka oleh Walikota Surabaya,Tri Rismaharini, dihadiri Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (Bl), di Gedung Mayangkara, Surabaya, JawaTimur.

Gedung Mayangkara dulunya disebut Woning voor Agent van Javasche Bank merupakan rumah pejabat De Javasche Bank. Pada 1975-2004 gedung itu berfungsi sebagai Museum Mpu Tantular, dan telah ditetapkan oleh pemerintah kota setempat sebagai benda cagar budaya.

Museum & Perpustakaan BIPerpustakaan itu sendiri memiliki koleksi sedikitnya 17.000 buku, 11 ribu judul dimana 65 persen dari buku-buku tersebut adalah buku, jurnal dan referensi tentang ekonomi, moneter dan perbankan. Sisanya, koleksi buku untuk anak-anak, disediakan sarana bebas akses perpustakaan digital (cyber library) yang didukung 20 unit komputer, wi-fi gratis, area membaca yang nyaman dilengkapi sarana perpustakaan anak-anak, ruangan audiovisual dan juga tersedia kafe book.

 

MUSEUM BANK INDONESIA

Jl. Garuda No.1 Surabaya

Telp: +62 (31) 3531829

Fax: +62 (31) 3520025

——————————————————————————————134N70nulusDW

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

MASJID AGUNG AT TAQWA BONDOWOSO

Masa pemerintahan Kiai Suroadikusumo Besuki mengalami banyak kemajuan, Besuki menjadi ramai dan padat penduduknya, sehingga perlu dilakukan pengembangan wilayah baru ke arah tenggara. dengan membuka hutan dijadikan daerah hunian.  Daerah baru dibuka tersebut berupa hutan belukar yang masyarakat menyebutnya Wana – Sawa, kemudian berkembang menjadi Bondowoso.

Mas Astrotuno putra angkat Kiai Suroadikusumo, dianggap sebagai orang yang sanggup memikul tugas tersebut yang sebelumnya dinikahkan dengan putri dari Bupati Probolinggo yaitu Roro Sadiyah. Pengembangan wilayah tersebut selain bertujuan politis, juga sebagaiupaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju kehidupan penduduknya masih menganut ajaran animisme. Tugas tersebut dilaksanakan pada tahun 1789.

Dalam melaksanakan tugasnya, Mas Astrotuno dibantu oleh empat orang asistennya yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno.  Dalam perluasan wilayahnya, dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, sebelah barat sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat ini kemudian dikenal sebagai “kabupaten lama” Blindungan yang terletak kurang lebih 400 meter di sebelah utara alun-alun.

 

Selanjutnya merancang pembangunan kota, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan yang terletak di utara alun-alun. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur.  Masjid inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Agung At Taqwa Bondowoso awalnya dikenal dengan Masjid Jami’ Bondowoso.

Sejarah Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso berawal pada tahun 1809 ketika Raden Bagus Assra diangkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso yang membangun sebuah missigit (masjid).  Masjid Agung At Taqwa adalah masjid yang pertama ada di Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa dibangun dengan gaya arsitektur Hindu – Jawa. Pada awal pembangunan, masjid ini hanya sebuah surau dengan bangunan yang sederhana (non permanen). Dinding bangunan masjid masa itu terbuat dari bambu dan atap dari bahan rumbia. Pada tahun  1819, saat  Raden Bagus Assra  diangkat menjadi Ronggo Bondowoso dengan julukan Kyai Ronggo Bondowoso masjid tersebut di sempurnakan dengan menambah pagar bagian depan dan pintu masuk yang di atasnya dilengkapi dengan sebuah beduk besar yang ditabuh setiap menjelang sholat lima waktu. Untuk menuju ke tempat beduk tersebut harus melewati beberapa anak tangga yang terbuat dari batubata. Tangga inilah yang membuat pintu pagar masjid nampak indah dan kokoh.

Dalam perkembangannya  masjid  ini bernama masjid Jami’ At Taqwa Bondowoso. Pada tahun 1967 Masjid Jami’ At Taqwa mulai direnovasi, pintu pagar yang menjadi ciri khas masjid ini dibongkar dan diganti dengan pagar besi. Proses renovasi saat itu sangat mengagumkan utamanya keterlibatan seluruh masyarakat Bondowoso. Setiap hari dari berbagai penjuru kota dan desa, warga berduyun-duyun menuju Masjid Jami’ At Taqwa untuk mengirim sumbangan secara sukarela berupa bahan-bahan material seperti batu, pasir dan batu bata.  Pada saat itu masyarakat Bondowoso tergerak untuk memiliki sebuah masjid kebanggaan  yang megah dengan arsitektur yang lebih modern. Pada saat renovasi inilah untuk pertama kalinya Masjid Jami’ At Taqwa membangun sebuah menara di sebelah selatan bangunan utama yang digunakan untuk tempat loudspeaker (pengeras suara) sebagai sarana berkumandangnya adzan sholat lima waktu.

Tanggal 12 April 1971, Masjid Agung At Taqwa  dipugar dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh R. Arifin Djauharman (1965-1973).

Tahun 1995,  Masjid Jami’ At-Taqwa kembali direnovasi. Saat Bupati Bondowoso dijabat oleh Haji Agus Sarosa,  menjabat tahun 1988 – 1998. Dalam renovasi ini menara masjid semula berada di sisi kanan bangunan utama dipindah ke utara. Dan dalam perkembangannya masjid jami’ berubah nama menjadi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid kebanggaan warga Bondowoso.

Tanggal 24 Januari 2007 masjid direnovasi kembali, yang biaya renovasinya berasal dari APBD dan sumbangan masyarakat dan diresmikan oleh bupati Bondowoso Dr. H. Mashoed Msi.

Lokasi Masjid Agung At Taqwa Bondowoso Jawa Timur di wilayah kecamatan kota Bondowoso tepatnya di jalan Letnan Sutarman No. 08 Bondowoso, Jawa Timur. Batas-batas masjid tersebut adalah sebagai berikut, pada sebelah utara berbatasan dengan kantor Koramil, sebelah selatan SDN Kotakulon I, sebelah barat berbatasan dengan kompleks pemakaman umum dan pemukiman penduduk (Kauman). Sedangkan sebelah timur masjid, yang merupakan bagian depan berbatasan dengan alun-alun kota Bondowoso.

Masjid Agung At Taqwa Bondowoso berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 20000 m2. Meskipun katagori tua, Tahapan-tahapan renovasi masjid akhirnya telah menyulap masjid ini menjadi bangunan yang tergolong modern. Ornament ketuannya telah terganti dengan fisik yang dimodel dengan variasi yang lebih apik. Namun hal tersebut tidak menghapuskan kesan keagungan dari masjid ini.

Bentuk Arsitektur Masjid Agung At Taqwa Bondowoso, pada ruang utama Masjid mempunyai fungsi ganda yaitu antara lain:

Ruang utama Masjid Agung At Taqwa terdiri atas dua lantai. Bangunan pada lantai pertama berupa ruang tertutup yang memiliki 6 saka guru dan 12 saka rawa. Ruang ini merupakan pusat kegiatan jamaah di Masjid Agung At Taqwa. Ruang utama yang cukup luas tersebut digunakan sebagai tempat melaksanakan salat berjamaah lima waktu. Selain sebagai ruang untuk melaksanakan ibadah, ruang utama masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan bagi anak didik dalam praktek salat juga ibadah lainnya. Bangunan ini juga digunakan sebagai ruang untuk melaksanakan kegiatan pengajian, kuliah subuh, serta kegiatan lain yang mendukung kemakmuran masjid.

Lantai pada ruang tersebut terbuat dari keramik yang divariasikan dengan pembatas shaf salat. Atap masjid dibuat berupa kubah dengan bentuk limas segi empat yang di atasnya terdapat ukiran kaligrafi guna menampakkan keagungannya. Dengan arsitektur demikian, maka Masjid Agung At Taqwa seakan-akan memiliki gaya abadi, penuh kemegahan dan kebesaran, serta memancarkan cahaya kebesaran Tuhan.

Di dalam ruang utama ini terdapat kelengkapan yang secara lazim terdapat pula di masjid-masjid agung yaitu mihrab sebagai tempat untuk imam dan mimbar sebagai tempat khatib berkhotbah pada salat Jum’at. Dari berita sejarah yang penulis dapat, mihrab tersebut tidak mengalami perubahan letak dalam setiap renovasi.

Sedangkan ruang utama di lantai kedua digunakan apabila ruang utama di lantai pertama tidak mencukupi untuk menampung jamaah, seperti pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha serta kegiatan-kegiatan lain yang mendatangkan ribuan jamaah. Seperti halnya ruang utama di lantai bawah, ruang utama di lantai dua juga bersebelahan dengan kelas MTs (Madrasah Tsanawiyah).

Serambi masjid ini berada di depan ruangan utama yang dibuat dengan konsep bangunan yang modern. Ruangan ini berbentuk emperan yang pada kedua sisinya terdapat dua ruangan yang juga mendukung kegiatan masjid. Diantaranya ruang kontrol atau ruang operator dan ruang bawah tanah (RBT), ruang kontrol digunakan untuk mengontrol kegiatan yang ada juga sebagai ruang untuk beristirahat petugas keamanan dan kebersihan. Sedangkan ruang bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebersihan, barang-barang tidak terpakai, dan lainnya, sehingga pemanfaatan ruang ini seperti gudang.

Kantor Takmir terletak di sebelah kiri ruang utama. Ruangan ini juga sebagai berkumpulnya atau beristirahatnya imam masjid atau para kiai yang akan mengisi pengajian.

Tempat wudhu bagi wanita berupa ruang tertutup yang berada di sebelah kanan masjid. Ruang ini berdampingan dengan ruang kelas MTs. Sedangkan tempat wudhu bagi pria terletak di sebelah kiri bangunan utama agak ke utara. Ruang ini berdampingan dengan kelas TK.

Menara adzan didirikan di halaman masjid di sebelah kiri. Di atasnya diletakkan loudspeaker sebagai pengeras suara untuk mengumandangkan adzan salat lima waktu.

Taman masjid berada di sebelah utara ruang utama. Taman ini dibangun untuk memperindah masjid.

Fungsi Masjid Agung At Taqwa bagi Masyarakat merupakan tempat ibadah umat Islam, terutama digunakan sebagai tempat salat berjamaah, selain itu masjid merupakan tempat untuk melakukan segala aktifitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Di tempat suci inilah umat Islam menemukan ketenangan hidup dan kesucian jiwa, karena disana terdapat majelis-majelis dan forum-forum terhormat. Masjid bagi umat Islam adalah institusi yang paling penting untuk membina masyarakat. Di masjidlah rasa kesatuan dan persatuan ditumbuh-suburkan. Demikianlah peran Masjid Agung At Taqwa dalam bidang keagaman dan sosial masyarakat Bondowoso. Sehingga selain sebagai pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga merupakan pusat pendidikan bagi masyarakat. Kegiatan belajar mengajar yang ada khususnya dalam ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam.

Sejak tahun 70-an,  kegiatan pendidikan telah banyak terlaksana heskipun bersifat nonformal seperti pengajian kitab oleh para kiai, takmir, dan lainnya. Pengajian tersebut untuk berbagai macam usia, baik besar, kecil, tua dan muda. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan setiap hari mulai pagi hingga petang, penyelenggaraan pendidikan lebih dikembangkan. Saat ini sistem pendidikan yang dipakai dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah naungan Yayasan At Taqwa, seperti, MI, TK, TPQ, Madrasah Tsanawiyah, bahkan Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa. Adapun pendidikan di luar jalur sekolah diantaranya Madrasah Diniyah Awaliyah (Madinah).

Remaja Masjid At Taqwa merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan membina generasi muda dalam melahirkan pribadi muslim yang berkualitas juga untuk memakmurkan kegiatan masjid. Di dalam organisasi ini, para anggota Remaja Masjid dibina dan dibentuk karakter kepribadian dan kecerdasannya sehingga kelak mampu menjalani kehidupan yang lebih Islami. Caranya, lewat berbagai macam metode dan kegiatan, di mana minat, bakat, dan kemampuan positif yang dimiliki para remaja tetap dapat diakomodasi dan disalurkan. Program kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid ini bermanfaat bagi para remaja khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya pesantren ramadhan, latihan kepemimpinan, pengajian, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga membantu takmir dalam kegiatan-kegiatan yang lain.  Bagi masjid sendiri, keberadaan organisasi remaja masjid juga penting dalam proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini.

Metode Penentuan Arah Kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso sebagai masjid “plat merah”  Kabupaten Bondowoso, Seuai ungkapan Ketua Yayasan At Taqwa, bahwa data mengenai metode penentuan arah kiblat Masjid Agung At Taqwa Bondowoso tidak dicatat secara khusus dan data mengenai hal tersebut haruslah dirujuk pada data-data sejarah sekian tahun yang lalu. dalam catatan sejarah yang ada masih belum dapat ditemukan hingga sekarang.

————————————————————————————134N70 nulis DW

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)