Terjadinya Reog Panaraga, Versi Kelana – Sanggalangit

Bujangga Anom adalah putera raja Daha, Sri Genthayu, pada suatu hari diam-diam telah meninggalkan negerinya, kemudian berguru kepada seorang petapa yang sakti di lereng gunung Lawu. Kebetulan sang petapa tersebut mempunyai murid pula yang bernama Kelana Sewandana, seorang raja di Bantarangin. Terjalinlah persahabatan yang akrab antara Bujangga Anom dan Raja Kelana Sewandana. Ketika diuji kesaktian masing-masing oleh sang guru, setelah mereka menyelesaikan masa puruhitanya, ternyata keduanya sebanding. Kelana Sewandana sangat berkenan hatinya terhadap Bujangga Anom, lalu diangkatnya menjadi patih kerajaan Bantarangin.

Pada suatu malam Sang Kelana bermimpi kawin dengan puteri Daha yang bernama Dewi Sanggalangit, yang tidak lain adaiah saudara Bujangga Anom sendiri. Keesokan harinya Sang Kelana mengutus Patih ( Bujangga Anom menyampaikan lamaran ke Daha. Bujangga Anom berang­kat ke Daha dengan membawa perajurit secukupnya.

Syahdan sampai di perbatasan Bantarangin. dan Daha, perjalanan pasukan Bujangga Anom dicegat oleh pasukan harimau dan merak, rakyat Raja Singabarong yang merajai hutan belantara yang sukar ditembus oleh manusia. Perang terjadi, tetapi pasukan Bantarangin kalah, dan terpaksa mengundurkan diri kembali ke Bantarangin.

Prabu Kelana Sewandana, setelah mendengar laporan Patih Bujangga Anom, menjadi sangat murka. Ia ingin berangkat sendiri, dan memerin­tahkan menyiapkan pasukan prajurit pengiring berlipat ganda, baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki.

Di perbatasan Bantarangin dan Daha terjadi lagi bentrokan antara pasukan Singabarong dan’pasukan Kelana Sewandana. Kali ini pasukan Singabarong terdesak. Banyak prajuritnya yang mati atau tertawan. Ke­mudian tampil Raja Singabarong sendiri untuk melawan Sang Kelana. Ia didampingi oleh Raja Merak yang berjalan maju dengan mengem­bangkan bulunya yang berwarna hijau berkilauan sangat mempeso- nakan. Jalannya tegak dengan angkuh dan angkernya. Sedang Raja Singa­barong berjalan dengan gayanya yang malas, alap-santun, sebentar-se- bentar mengibaskan kepalanya, sehingga surinya yang lebat terurai ber- alun-alun, terkena sinar matahari seperti emas diupam layaknya.

Bujangga Anom kuatir kalau-kalau Prabu Kelana Sewandana men­jadi terlena karena pemandangan yang indah dan agung itu, maka lekas dihampirinya dengan isyarat untuk bersiap-siap berperang. Prabu Kelana menangkap isyarat itu, lalu maju menyambut musuhnya. Terjadi perke­lahian seru, satu lawan dua. Prabu Singabarong yang semula berjalan dengan alap-santunnya tanpa memperlihatkan kehebatannya, setelah ber­tarung, ternyata sangat cekatan, luar biasa kekuatannya, meloncat ke kiri, menghindar ke kanan, menapuk, menggigit, menerkam, menerjang, sehingga Kelana Sewandana terengah-engah kehabisan napas. Apalagi di­lawan dua bersama Raja Merak yang menyerang dari atas, memupuh, memagut, menyusuh, berulang-ulang. Benar-benar Kelana Sewandana tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Akhirnya ia menarik diri, dan memerintahkan seluruh pasukannya mundur meninggalkan medan.

Kelana mencari tempat persembunyian untuk bersamadi. Ia minta bantuan gurunya. Tiba-tiba gurunya pun menampakkan diri, berdiri di depannya dan menyampaikan pesan, agar Raja Singabarong dan Raja Merak dipancing dengan tetabuhan, dan orang menari-nari di depannya, dengan menggunakan topeng yang aneh, lucu, tetapi sekaligus pun mena­kutkan. Dengan demikian Raja Singabarong dan Raja Merak akan hanyut terlena oleh bunyi tetabuhan dan gerak tari serta perujudan yang aneh tersebut. Dan di situlah letak kelemahan Singabarong dan Merak. Pada saat yang demikian terbukalah peluang bagi Kelana Sewandana untuk melumpuhkan kesaktian mereka dengan melecutkan cemeti pusaka yang bernama “gendir wuluh gadhing” ke tubuh mereka. Sang petapa kemudian menyerahkan sebuah cemeti pusaka yang dimaksud kepada Prabu Kelana Sewandana. Sesudah itu gaiblah ia.

Dengan semangat yang pulih kembali, Kelana Sewandana menyusun barisannya mengatur siasat. Patih Bujangga Anom dimintanya mengenakan topeng yang dimaksudkan dan menari-nari menggoda di depan Singaba­rong dan Merak, dibantu oleh dua orang wira yang berpakaian badut dan bertopeng pula, sedang beberapa prajurit berkuda ikut pula menari-nari di atas kudanya masing-masing mengitari tidak jauh. Beberapa prajurit lain­nya membunyikan tetabuhan seadanya, terdiri dari peralatan musik perang berupa kendhang, dhog-dhog, gong beri, bendhe, selompret, dibarengi dengan suara senggakan yang riuh rendah. Sementara pasukan-pasukan lainnya dipimpin oleh Kelana Sewandana bersiap-siap setiap saat untuk menyerang pasukan Singabarong dan Merak, setelah Kelana memberikan isyaratnya dengan melecutkan “gendir wuluh gadhing” ke tubuh Singa­barong dan Merak.

Siasat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Mula-mula Singabarong dan Merak terkejut keheran-heranan. Mereka saling berpandangan, tetapi kemudian Merak pun mulai mengigal. Bulu ekornya yang panjang itu di­kembangkan tegak berdiri melingkar membuat bentuk kipas rasaksa berwarna hijau kemilauan sangat indahnya. Dengan anggun ia berjalan kian-kemari dengan kepalanya menganggut-anggut mengikuti irama ken­dhang.

Tanpa disadari kaki Singabarong pun mulai ikut berkejutan mengi­kuti bunyi tetabuhan yang sigrak bersemangat itu. Lama-lama badannya pun ikut bergerak, meliyuk-liyuk menirukan orang menari. Kepalanya digelengkan ke kanan dan ke kiri, surinya berombak-ombak. Sorak-sorai orang Bantarangin bergemuruh memenuhi angkasa, bersahutan dengan senggakan-senggakan menambah kemeriahan suasana. Patih Bujangga Anom mengenakan topeng berwarna merah dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang, kumis tebal dan rambut gimbal. Ia menari- nari dfcngan gerak-gerik yang lucu di hadapan Singabarong dan Merak sambil menggoda. Kegembiraan semakin memuncak, ketika Raja Merak terbang ke udara untuk kemudian hinggap bertenggar di atas kuduk Singa­barong dan mengigel.

Prabu Kelana Sewandana waspada. Cemethinya sudah disiapkan. Pasukan berkuda dan yang berjalan kaki sudah siap-siap pula menanti isyarat dari pemimpinnya. Singabarong dan Merak sudah mabuk kepa­yang dan lupa segalanya. Dan pada saat itulah bunyi “gendir wuluh gadhing” menggeletar melecut tubuh Singabarong dan Merak sekaligus, hingga kedua mahluk itu lumpuh tiada berdaya sama sekali.

Bersamaan dengan bunyi lecut cemethi, tiba-tiba tetabuhan ber­henti mendadak, sebagai isyarat bagi pasukan berkuda yang sudah dise­pakati untuk menyerbu barisan musuh yang sudah lengah sama sekali. Pasukan yang berjalan kaki mencegat mereka yang berusaha melarikan diri, dengan demikian mereka ditumpas atau ditawan.

Singabarong dan Merak minta pengampunan dan merajuk-rajuk agar kekuatannya dipulihkan kembali. Mereka berjanji membantu Sang Kelana melamar puteri Daha. Permintaan Singabarong dan Merak dika­bulkan. Dengan kesaktian Kelana, Singabarong dan Merak pulih kembali kekuatannya. Peperangan dihentikan, dan mereka pun bersama-sama mengiringkan raja Kelana Sewandana meneruskan perjalanan ke Daha.

Sepanjang jalan menuju ke Daha-, penduduk desa-desa yang dile­wati menjadi terheran-heran menyaksikan suatu perarakan yang aneh, yang selama hidup belum pernah mereka saksikan. Paling depan sebagai perintis sepasukan prajurit bersenjata. Kemudian seorang penari dengan menggunakan topeng merah lucu tetapi pun menakutkan. Rupanya Patih Bujangga Anom enggan menanggalkan peranannya sebagai badut Ganong (demikianlah sebutan namanya kemudian). Jalannya maju mundur menari- nari menggoda Singabarong, yang juga ikut menari. Raja Merak mengigal, angkuh dan anggun bertenggar di kuduk Singabarong. Di belakangnya barisan penabuh. Alat tetabuhannya terdiri dari kendhang, dhog-dhog, bemdhe, gong beri, selompret. Lagunya berirama gembira, sigrak dan ber­semangat, diselingi sorak dan senggakan, menggempita sampai terdengar jauh. Kemudian menyusul Prabu Kelana Sewandana. diapit-apit oleh barisan kawalnya, yang disusul oleh pasukan lainnya, beijalan kaki maupun yang berkuda.

Catatan:

Adegan terakhir inilah yang kemudian menjadi tontonan Reog di Panaraga. Nama “reog” Barangkali diambil dari nama alat tetabuhan sejenis tambur, atau kendhang, atau yang sering disebut “dhog-dhog” yang berfungsi sebagai penentu irama.

Sampai di sini dongeng asal-usul Reog Panaraga sebenarnya tamat. Tetapi dongeng Kelana Sewandana sendiri masih bersambung. Pada sambungan ini terdapat beberapa versi yang berbeda satu sama lain, namun tidak prin­sipiil. Dua versi yang agak jauh berbeda adalah seperti di bawah ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 50-54

Reog Panaraga: Versi Asmarabangun – Rahwanaraja

Tersebutlah dalam kisah, Raden Panji Asmarabangun, Raja Jenggala, pada suatu hari kehilangan empat puluh empat ekor kuda piaraannya. Segera dapat diketahui, bahwa pencurinya adalah Rahwanaraja, yang menguasai hutan wilayah Mataram.

Rahwanaraja ini suatu mahluk berbadan manusia, tetapi berkepala harimau, berperangai buas dan menakutkan. Seluruh penghuni hutan menjadi bawahannya. Prajurit-prajuritnya terdiri atas binatang-binatang buas yang hidup di hutan, seperti harimau, ular naga, celeng, banteng, dan lain-lainnya.

Setelah diketahui, bahwa Rahwanaraja pencurinya, maka Raja Jenggala memerintahkan Patih Brajadhenta dan Tumenggung Jantraguna untuk menumpasnya. Semua, Rahwanaraja beserta pengikut-pengikutnya. Dalam pada itu Baginda Panji Asmarabangun pun ingin pula menyaksikan perburuan tersebut. Maka berangkatlah Baginda diantar oleh dua orang panakawannya Bancak dan Dhoyok (atau disebut pula Penthul dan Tembem) dengan membawa anjing-anjing berburu.

Tidak dikisahkan selama di perjalanan, sampai di hutan segera terja­dilah perkelahian seru antara pasukan Jenggala dan pasukan binatang buas, kawula Rahwanaraja. Pasukan binatang buas akhirnya dapat di­tumpas, dan tampillah Rahwanaraja berhadapan dengan Raden Panji Asmarabangun. Keduanya segera terlibat dalam perang tanding yang seru, karena masing-masing memiliki kesaktian yang tidak mudah dika­lahkan. Tetapi akhirnya pun kemenangan berada di pihak Panji. Rahwa­naraja dapat dibunuh. Seluruh hutan menjadi aman, dan setelah dikuasai oleh Jenggala, maka di sana-sini dibuka menjadi dusun yang aman dan makmur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 61

Reog Panaraga: Versi Jathasura – Kilisuci – Bujanggalelana dan Kelana – Candrakirana

Buta Locaya, seorang bujangga sakti, pencikal-bakal Daha dan se­kitarnya, mempunyai dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Jakalodra, adiknya Singalodra. Pada suatu hari sang bujangga memanggil kedua anaknya menghadap. Jakalodra mengenakan ikat kepala yang bukan mestinya. Sebagai seorang satria seharusnya mengenakan ikat kepala jilidan menurut adat setempat, tetapi waktu itu Jakalodra menggunakan ikat kepala yang bagian sisi kanan dan kirinya mencuat keluar seperti tanduk kerbau layaknya. Melihat hal demikian sang ayah menjadi gusar, katanya:

“Ikat kepala macam apa yang kaukenakan itu? Lihat tampangmu, tak ubahnya seperti kepala kerbau saja!”

Mendengar ujar ayahnya demikian, Singalodra, si bungsu, ketawa terbahak-bahak.

“Kau pun demikian juga!” tegur sang bujangga, “Seperti tak tahu adat. Cekakakan seperti mulut macan layaknya!”

Mungkin karena kesaktian sang bujangga, mungkin pula karena kehendak Dewata, sekonyong-konyong kedua kakak-beradik itu seperti kena kutuk dan menjadi salah ujud. Jakalodra menjadi seorang manusia berkepala kerbau, sedang adiknya, Singalodra, berkepala macan (hari­mau). Keduanya menangis menyesal dan minta ampun agar dikembalikan kepada ujudnya yang semula.

“Aduh, ayah, hamba akan menjadi apa, dengan ujud hamba yang begini? Hamba seorang satria, mestikah hamba menanggung malu dengan muka dan kepala binatang begini? Bagaimana mungkin hamba menjadi satria, kalau hamba tak berani lagi muncul di depan umum? Hamba mohon ampun, ayah.”

“Anakku, Jakalodra dan Singalodra. Ayah pun menyesal karena ke­buru hati mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tak patut kuucapkan. Tetapi apa hendak dikata. Nasi telah menjadi bubur, suratan takdir tidak dapat diubah. Ini sudah kehendak Dewata. Ayah hanya dapat berdoa, agar kalian, apa pun ujudmu, tetap menjadi satria dan yang sakti pula. Ini, terimalah, anak-anakku, pusaka ayah berupa “aji-aji pamungkas”, jadikan perisai keselamatanmu bersama. Hendaknya kalian rukun selalu. Tetaplah bersatu dalam menghadapi segala keadaan apa pun, itulah ke­kuatan “aji-aji” ini, yang akan menjadikan kalian satria yang sakti.”

“Aduh, ayah, karena ujud hamba yang sudah begini, tidak ada lagi keinginan hamba kecuali kesaktian. Berikan “aji-aji pamungkas” itu, ayah, hamba akan mematuhi segala petunjuk dan nasehat ayah.”

“Sukurlah, anakku. Nah, sebelah barat ini terdapat daerah hutan belantara yang luas. Carilah tempat yang terdapat “sarang angin”-nya, bukalah hutan di sekitar itu dan dirikan perkampungan sebagai tempat tinggal kalian. Namakan perkampungan baru itu Bandarangin.”

Kedua kakak-beradik itu pun bersembah dan menerima “aji-aji pamungkas,” setelah itu bermohon diri untuk membuka hutan yang ditunjukkan oleh ayahnya itu.

Syahdan, Jakalodra dan Singalodra telah berhasil membuka hutan di sebelah barat Daha, sebagaimana ditunjukkan oleh ayah mereka sang bujangga Buta Locaya. Perkampungan telah berdiri, mula-mula kecil, lambat laun menjadi besar, karena makin banyaknya pendatang yang ikut tinggal dan membangun perkampungan tersebut. Bahkan akhirnya kedua saudara itu pun berhasil mendirikan istana bagi dirinya masing-masing. Jakalodra kemudian mengangkat dirinya sebagai raja penguasa daerah itu dengan gelar Prabu Anom Lembusura (atau Maesasura?), sedang adiknya dijadikan patihnya, bernama Jathasura. Adapun kerajaan mereka dina­makan Bandarangin, karena merupakan sebuah kota yang banyak berangin. Letak Bandarangin itu di desa Bandaran di Kedhiri sekarang, berada di seberang Brantas sebelah barat. Tetapi pada waktu itu sungai Brantas belum ada.

Berbatasan dengan Bandarangin adalah kerajaan besar Kedhirilaya, yang dirajai oleh seorang puteri cantik bernama Ratu Kilisuci. Prabu Anom Lembusura ingin mempersunting Ratu Kilisuci. Maka dipanggilnya Patih Jathasura, adiknya, dan disampaikan niatnya itu.

“Kalau aku berhasil memperisteri Ratu Kilisuci, maka aku akan menjadi raja Kedhirilaya. Dan kau akan kujadikan Raja Muda di Banda­rangin ini. Sekarang berangkatlah kau ke Kedhirilaya, menyampaikan pinanganku kepada Ratu Kilisuci.”

“Baiklah, kakang Prabu, tetapi kalau lamaran itu ditolak, bagai­mana? Betapapun juga, kita harus menyadari, bahwa ujud kita ini tidak sempurna lagi. Apakah kira-kira mau Ratu Kilisuci menerima kakang Prabu menjadi suaminya?”

“Kuberi kau purba wasesa untuk memutuskan segala sesuatunya. Andaikata Kilisuci minta tebusan, apa pun tebusan itu, turutilah barang kehendaknya. Tetapi kalau ia menolak, jadikanlah kerajaan Kedhirilaya karang-abang. Gunakanlah “aji-aji pamungkas” warisan ayahanda.”

Patih Jathasura berangkat ke Kedhirilaya dengan membawa bebe­rapa satuan pasukan bersenjata lengkap, dengan Kelana Sewandana sebagai panglima.

Sesampainya di ibukota kerajaan Kedirilaya, Patih Jathasura meng­hadap Ratu Kilisuci, diantar oleh Patih Kedhirilaya Sang Bujanggaleng. Syahdan, ketika Patih Jathasura untuk pertama kali melihat kecantikan Ratu Kilisuci, timbul niatnya yang tidak baik. Ia merasa sayang kalau wanita secantik itu harus diserahkan kepada kakaknya. Ia ingin memperisterinya sendiri. Dan dinyatakannya isi hatinya itu terus terang kepada baginda Ratu, yang mendengarnya dengan sabar dan penuh perhatian. Setelah Jathasura habis bicara, maka bersabdalah Ratu Kilisuci:

“Sudahkah kaupikirkan masak-masak keinginanmu itu, Jathasura? Kau adalah utusan kakakmu, yang juga menjadi rajamu, yang segala titahnya sepatutnya kau junjung tinggi. Kalau kau sendiri sekarang mengi­nginkan aku, ini berarti, bahwa kau akan mengkhianati rajamu. Apakah kau bertanggung jawab, kalau timbul murka rajamu?”

“Hamba bertanggung jawab. Hamba akan menghadapinya, kalau ia akan menuntut dan memerangi Kedhirilaya. Hamba cukup kuat mengha­dapinya, karena hamba mempunyai “aji-aji pamungkas,” yang akan me­ngalahkan dia.”

“Baiklah, tetapi tak urung rakyatku jua yang akan menderita, kalau rajamu Prabu Lembusura datang menyerang kemari. Ini tidak adil, sebab dalam perkara ini aku dan lebih-lebih rakyatku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Perkara ini semata-mata urusanmu dan urusan raja­mu.”

“Tetapi kalau lamaran ini ditolak, dia pasti akan memerangi Kedhi­rilaya juga. Itu sudah pasti. Dan kalau lamarannya tuanku terima dan ber­hasil ia memperisteri tuanku, hamba pasti tidak rela.”

“Sebaliknya pun demikian juga. Andaikata kuturuti kehendakmu, dia pun tidak akan rela. Karena itu begini sajalah. Aku bersedia menjadi isterimu, kalau kau berhasil membunuh rajamu lebih dulu. Kalau dia sudah mati, maka perkawinan kita tidak lagi akan terganggu. Tetapi kalau kau gagal, jangan harapkan aku. Nasibmu sudah pasti, kau akan mati oleh rajamu sendiri, dan aku menjadi isterinya. Dengan demikian rakyatku akan terhindar dari malapetaka peperangan. Ini sudah adil. Bagaimana, Jathasura, sanggupkah kau memenuhi permintaanku?”

“Permintaan tuanku puteri akan hamba penuhi. Sekarang hamba minta diri.”

Syahdan, pertarungan sengit yang timbul antara kedua kakak-beradik, setelah Jathasura kembali di Bandarangin, akhirnya berakhir dengan kematian Prabu Lembusura. Tetapi belum lagi Jathasura menikmati ke­menangannya, tiba-tiba muncul di hadapannya bujangga Buta Locaya.

“Heh, Jathasura, tak kusangka setega itu kau mengkhianati saudara tua, yang rajamu pula, hanya karena nafsu memperebutkan perempuan, yang bukan hakmu pula, karena kau hanyalah sebagai utusan. Tetapi hendaknya kau ingat, Jathasura, bahwa tiap perbuatan manusia itu tidak akan luput dari pembalasan yang disuratkan oleh karmamu sendiri. Kau tak menyadari, bahwa permintaan Ratu Kilisuci sebenarnya hanyalah tipu muslihat belaka. Oleh tipu muslihat itu kau telah menjadi alat penyebab kematian saudaramu. Maka kematianmu kelak pun akan disebabkan oleh tipu muslihat.” Setelah bersabda demikian, maka gaiblah Sang Bujangga Buta Locaya.

Tertegun Jathasura sesaat, seakan-akan menyesal ia atas tindakan­nya telah membunuh saudaranya sendiri. Tetapi kemudian datang bersembah panglima Kelana Sewandana.

“Gusti, tibalah saatnya kini tuanku menagih janji Prabu Puteri Ki­lisuci. Hamba menanti titah tuanku, apa yang harus hamba lakukan.”

Mendengar nama Kilisuci, tiba-tiba semangat Jathasura timbul kembali. Sabda Sang Buta Locaya seakan-akan telah hapus begitu saja oleh kenyataan, bahwa kini ia telah menjadi penguasa tunggal di kerajaan Bandarangin, dengan harapan akan mempersunting Puteri Kilisuci, pengua­sa kerajaan besar Kedhirilaya.

“Sewandana”, demikian katanya, “perintahkan membuat pancaka untuk membakar layon kakang Prabu Lembusura. Adakan upacara besar-besaran untuk mengantar sukma Baginda ke nirwana. Nyatakan hari-hari berkabung selama sepekan bagi seluruh kawula kerajaan Bandarangin. Setelah itu persiapkan angkatan perang yang akan mengantar perjalanan­ku ke Kedhiralaya untuk menagih janji Kilisuci.”

Peristiwa kematian Prabu Lembusura sudah terdengar beritanya sampai di istana Kedhirilaya. Itulah sebabnya Kedhirilaya diam-diam mem­persiapkan angkatan perangnya menghadapi Jathasura, sebab, bagaimana pun juga, Dewi Kilisuci bertekad untuk tidak mau menyerah kepada ke­inginan Jathasura.

Tiba saatnya menagih janji, Jathasura, yang kini sudah menjadi raja Bandarangin menggantikan kedudukan kakaknya, datang dengan mem­bawa pasukannya di ibukota Kedhirilaya.

“Prabu Jathasura”, sabda Ratu Kilisuci ketika menerima kedatangan Jathasura di stinggil. “Jangan kau kecewa, kalau kunyatakan kepadamu, bahwa sebenarnya sejak semula aku tidak ingin menjadi isteri siapa pun. Juga isterimu tidak. Lebih-lebih kau karena ujudmu itu, manusia berkepala macan. Itu adalah suatu pertanda, bahwa kau adalah penjelmaan binatang. Ini dapat dibuktikan pula dengan ulahmu yang mudah tega membunuh saudara sendiri karena dorongan nafsumu. Nafsu kebinatangan yang mengijinkan perbuatan jahat guna memenuhi keinginan angkaramu. Demi ke­hormatan negaraku, kawulaku, dan diriku sendiri, lamaranmu kutolak.”

Bagaikan disebit telinga Jathasura mendengar hinaan Kilisuci yang ditujukan kepada dirinya. Matanya berapi-api, dagunya gemetar, tangan­nya mengepal karena menahan marah.

“Heh, perempuan jahanam, tidak pantas rupanya kau disebut ratu, karena kau mengingkari janji-janjimu sendiri. Tidak akan tenteram hatiku sebelum aku berhasil membuat kau tunduk kepada kemauanku. Bersiap-siaplah kau untuk menerima upah kesombonganmu!”. Dan dengan an­caman demikian, Jathasura meninggalkan sitinggil.

Peperangan tidak dapat dihindarkan. Tetapi segalanya sudah diper­siapkan dan diperhitungkan. Namun demikian terdesak juga pasukan Kedhirilaya menghadapi amukan Jathasura yang dibantu dengan serangan-serangan gencar oleh pasukan istimewanya. Jathasura memang sakti. Segala macam senjata tidak mempan terhadapnya. Banyak sudah prajurit Kedhirilaya yang gugur atau tertawan. Mereka yang tertawan dijadikan sandera, dikumpulkan di dua tempat yang terpisah. Para perwira dan pejabat-pejabat tinggi ditawan dalam sebuah gedung besar berpagarkan tembok. (Tempat ini sampai sekarang terkenal dengan sebutan Setana Gedhong). Sedang prajurit bawahan dikumpulkan dalam sebuah per­kampungan yang dipagari bambu, (yang kini menjadi kampung Setana Bethek. Bethek = bambu).

Patih Bujanggaleng seorang cendekia, bijaksana, arif, penuh akal dan muslihat. Ia melihat Jathasura sebagai orang sakti, tetapi yang hanya mengandalkan kekuasaan dan kekuatan jasmani, mudah dipengaruhi oleh perasaannya yang terburu nafsu, mengabaikan kecerdasan akal dan budi yang baik. Kesaktiannya untuk memburu keangkaraannya, dan kesaktian demikian tidak akan dapat menyelamatkannya. Tetapi melawan Jathasura dengan kekuatan perang, pasti akan membawa korban besar kepada pra­jurit Kedhirilaya. Maka disarankannya Ratu Kilisuci untuk berpura-pura menyerah damai dan bersedia kawin dengan Jathasura, namun dengan persyaratan:

satu: agar dibuatkan sebuah sumur ban dung di puncak gunung Kelut, lengkap dengan sebuah tamansari dan pesanggrahannya, yang kelak akan menjadi tempat pengantin dipertemukan.

dua: tebusan pengantin perempuan berupa sasrahan ayam tukung sebesar gubug penceng (= gayor gong), kepalanya sebesar buah jambe (= tabuh gong), dan matanya sebesar terbang sesisi (= gong).

tiga: gulungan dedak jagung (= iker-iker, pinggiran topi), dibungkus daun asam (= sinom, yang juga nama tembang), sedang bitingnya alu beng­kong (= kepala orang yang dijobloskan dalam lingkaran iker-iker; beng­kong = dengan maksud terselubung). Pengarak pengantin terdiri atas pra­jurit yang menari-nari sambil menabuh sendiri, sedang niyaganya dewa berwatak sembilan. (Dewa = penguasa, pejabat pemerintah; berwatak sembilan = sembilan jenis kelompok). Pelaksanaan perarakan pengantin kelak akan diatur oleh Patih Bujanggaleng.

Karena mabuk kemenangan, maka tanpa pikir panjang, Jathasura menerima usul perdamaian dan persyaratan yang diminta oleh Ratu Kilisuci. Segera diperintahkannya mempersiapkan segala peralatan penga­rak pengantin. Para tawanan dipekerjakan di sebuah perkampungan yang disebut Setana Pandhe, karena di situ didirikan beberapa besalen untuk pembuatan gong, kenong, dan juga peralatan gamelan lainnya.

Jathasura sendiri memimpin pasukannya mempersiapkan pem­buatan sumur bandung dengan pesanggrahan dan tamansarinya di puncak gunung Kelut. Karena kesaktiannya, semua ini pun berhasil disiapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka disampaikannya berita ke Kedhirilaya, bahwa segala persiapan untuk menerima mempelai puteri di gunung Kelut sudah selesai.

Pada suatu hari berangkatlah perarakan pengantin yang amat panjang dan megah dari ibukota menuju ke selatan, sepanjang jalan disambut gemuruh oleh rakyat Kedhirilaya. Sang Puteri ditempatkan dalam sebuah jempana berhiaskan lambang kerajaan dan ragam hiasan lain bertatahkan ratna mutu manikam. Paling depan pasukan pembawa panji-panji dan umbul-umbul tanda kebesaran kerajaan, diapit oleh pasukan perintis yang bersenjatakan tombak dan keris. Kemudian barisan penari dan penabuhnya, lalu beberapa jempana yang membawa Sang Puteri dan para inang pengasuh. Di belakanganya menyusul barisan penari dan pena­buh lagi, kemudian ditutup oleh barisan prajurit bersenjata.

Semakin jauh perjalanan semakin sukar, apalagi jalannya menanjak dan rumpil. Sebentar-sebentar beristirahat sambil makan atau minum. Tetapi semangatnya tetap tinggi. Akhirnya sampai juga perjalanan mereka ke tempat tujuan, yaitu puncak gunung Kelut. Jathasura datang menyam­but perarakan itu dengan wajah gembira dan bangga. Utusan Ratu Kilisuci menyampaikan berita kepada Jathasura, bahwa Sang Puteri akan mela­kukan pemeriksaan setempat untuk meyakinkan diri, apakah semua sudah memenuhi persyaratannya. Kemudian barisan memberikan jalan kepada usungan jempana yang ditumpangi Sang Puteri dan para inang.Usungan mendekati tepi sumur yang bentuknya seperti kawah, terjal dan dalam, diiring oleh para pembesar kerajaan dan prajurit yang bertugas menjaga keselamatan Sang Puteri.

Syahdan, ketika usungan berada di tempat tepi sumur yang dalam itu, entah apa sebabnya, tiba-tiba jempana menjadi oleng, dan sebelum orang-orang menyadari apa yang terjadi, jerit dan pekik para inang dan prajurit lainnya melengking memenuhi udara: “Sang Puteri, jatuh ke su­mur! Tolong! sang Puteri! Tolong!” Sekilas tampak Ratu Kilisuci cepat terluncur ke bawah.

Jathasura sangat terkejut dan segera bertindak. Ia meloncat melun­cur ke dalam sumur dengan maksud menolong Sang Puteri calon per­maisurinya, diikuti oleh pandangan penuh arti orang-orang yang berada di sekitar sumur. Dalam pada itu di belakang terjadi kekalutan. Pasukan Jathasura yang lengah tak tahu datangnya bahaya, tiba-tiba diserang oleh pasukan prajurit Kedhirilaya. Banyak yang mati, tak terhitung jumlahnya, dan ada pula yang lari tunggang lenggang dihujani berpuluh-puluh tombak. Pada saat itu pula para prajurit pengiring Ratu Kilisuci beramai-ramai melemparkan batu besar-besar ke dalam sumur.

Tersebutlah yang berada di dalam sumur, Jathasura tidak dapat berbuat apa-apa. Ia menyadari kutukan ayahnya berlaku atas dirinya, sebagai pembalasan atas kematian kakaknya. Namun demikian masih sem­pat juga ia melontarkan sumpahnya:

“Heh, orang-orang Kedhirilaya, janganlah kalian girang-girang ketawa, tunggulah pembalasanku. Akan kuletuskan gunung Kelut ini, dan kubanjiri wilayah Kedhirilaya dengan laharnya yang panas yang meng­hanguskan segala!”

Para prajurit Kedhirilaya tidak berhenti bekerja, sebelum sumur bandhung tersebut penuh ditimbuni batu dan tanah, sehingga seluruhnya terurug sama sekali. Kemudian kembalilah mereka membawa kemenangan.

Tiba kembali di ibukota, Patih Bujanggaleng segera menghadap Baginda Ratu Kilisuci, melaporkan hasil gemilang tipu muslihatnya. Jatha­sura telah mati terkubur di kawah gunung Kelut.

“Terima kasih, Pamanda Patih”, sabda Ratu Kilisuci dengan lembut, “akal pikiran Pamanda untuk mencipta boneka gambarku, ternyata telah menolong kehormatan pribadiku dan kehormatan kerajaan Kedhirilaya.”

“Tetapi sayang, boneka itu bagus benar,” sembah Sang Patih. “Hidup seperti kembaran Tuanku Puteri.”

“Aku rela dan iklas melepaskan dia berkubur bersama Jathasura dalam kawah gunung Kelut itu.”

Oleh Patih Bujanggaleng dilaporkan pula tentang sumpah Jathasura, yang akan meletuskan gunung Kelut dan membanjiri daerah Kedhirilaya dengan laharnya. Ratu Kilisuci lalu melepaskan selendangnya, dan ber­sabda:

“Baiklah kubuatkan jalan untuk mengalirkan banjir lahar itu,” dan dengan selendangnya itu diciptakannya sebuah sungai besar yang menga­lir lewat Kedhirilaya, yang kini terkenal dengan Kali Brantas. Dan ketika pada suatu hari betul-betul gunung Kelut meletus dan meluapkan lahar panas yang melanda daerah sekitar, maka Dewi Kilisuci pun mencegahnya jangan sampai masuk kota Kedhirilaya. Baginda meletakkan kain panjang di atas tanah di luar kota, maka terbendunglah lumpur panas itu. Lumpur­nya mengendap, airnya menguap, dan lambat laun membukit, akhirnya menjadi gunung Pegat yang sekarang ini (daerah Srengat, Blitar)…

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 62-69.

Reog Panaraga: Versi Wijaya – Kilisuci

Riwayat Terjadinya Reog Panaraga:  Versi Wijaya Kilisuci

Raja Wengker (Panaraga), Pangeran Wijaya, sangat sakti. Ia pandai menghilang. Ia pun belum beristeri. Konon menurut kata orang, bukan karena tiada wanita yang cocok di hatinya, melainkan karena mempu­nyai cita-cita yang ingin dicapainya dengan ulah laku. Karena kerasnya ia melakukan tapa, maka tak seorang pun kawulanya berani menghadap, kalau tidak dipanggil. Kerajaan menjadi angker. Itulah sebabnya negaranya dinamakan Wengker.

Setengah orang lain mengatakan, bukan karena tiada wanita, me­lainkan disebabkan karena kegemarannya ber-“gendhak”, yaitu kawin dengan sesama lelaki. (Istilah setempat “gemblak” = homoseksualitas). Tingkah laku demikian lambat laun ditiru oleh kawulanya. Entah ditiru ataukah diperintahkan, tetapi kenyataan menunjukkan, bahwa di daerah

Wengker berlaku tata kehidupan “kawin gendhak” atau “kawin gemblak”. Dengan demikian akhirnya negeri mengalami kekurangan penduduk, karena angka kelahiran sangat merosot.

Pada suatu ketika, Wengker diperangi oleh kerajaan Kahuripan. Karena kekurangan tenaga pertahanan, maka Wengker mengalami keka­lahan yang pahit. Mujur Pangeran Wijaya mempunyai kesaktian luar biasa, pandai menghilang, karena itu sulit dapat ditangkap atau dibunuh, bahkan selalu muncul di tempat lain untuk mengadakan perlawanan lagi. Pasukan Kahuripan dengan demikian sempat dibuat kucar-kacir. Namun keamanan Wijaya tetap terancam, karena Raja Kahuripan, Prabu Airlangga, telah bulat tekadnya untuk menumpas Wijaya. Hal ini disadarinya benar-benar. Lambat laun ia menjadi jenuh hidup selalu dibayangi oleh bahaya serangan musuh. Dirasakannya kelemahan pertahanan negaranya, karena kekurang­an prajurit.

Akhirnya dilakukan perombakan dalam tata kehidupan rakyatnya. “Kawin gemblak” dihapus, dan digantikan dengan tata perkawinan biasa. Wijaya sendiri pun sudah bertekad untuk mengakhiri “masa bujangnya”, dan akan mencari calon isterinya. Tetapi karena dorongan ambisinya akan kekuasaan, maka dipilihnya calon permaisurinya puteri mahkota keraja­an Kahuripan, Dewi Kilisuci, puteri Prabu Airlangga. Maka dipanggilnya Patih Jayawinanga menghadap untuk diserahi tugas menyampaikan surat lamaran kepada Raja Kahuripan.

Jayawinanga adalah seorang perwira yang sangat sakti dan gagah berani. Kesaktiannya telah dibuktikan dalam menghadapi musuh dari Kahuripan. Ia menjadi patih kerajaan Wengker dengan pangkat Bujangga Anom. Tetapi kesaktian itu sendiri tidak akan menolong kehancuran kerajaan Wengker, kalau angkatan perang sebagai tulang punggungnya semakin menyusut kekuatannya. Karena itu Jayawinanga diutus ke Bali lebih dulu minta bala bantuan. Sesudah itu lalu pergi langsung ke Kahu­ripan menyampaikan surat lamaran, disertai kekuatan bala bantuan dari BaU. Kepada Jayawinanga pun diberikan kekuasaan sepenuhnya mengam­bil tindakan-tindakan yang dipandangnya perlu untuk mendapatkan Sang Puteri. Jayawinanga lalu minta diri.

Dewi Kilisuci, puteri sulung Prabu Airlangga, puteri mahkota keraja­an Kahuripan yang beribukotakan Kedhiri, mashur karena kecantikan­nya. Tetapi sayang, hingga akhir dewasa tidak berkeinginan untuk kawin. Hal demikian membuat Baginda dan permaisuri sangat prihatin, karena tiap kali harus menolak pinangan dari berbagai pihak.

Syahdan, pada suatu hari datanglah Patih Jayawinanga, mengaku utusan Prabu Kelana Sanaha dari kerajaan Buleleng Bali, menyampaikan surat lamaran untuk meminang Dewi Kilisuci. Tetapi Prabu Airlangga yang arif bijaksana tidak ayal lagi siapa sebenarnya yang dihadapi. Terhadap musuh sakti dan bandel seperti Wijaya dari Wengker dan pengikut-pengikutnya, Baginda Airlangga bersikap hati-hati sekali, dan menyebarkan banyak mata-mata untuk mengawasi segala gerak-geriknya. Karena itu kepergian Jayawinanga ke Bali telah disampaikan pula laporannya melalui telik sandi Baginda yang terpercaya. Kedatangan Patih Jayawinanga dengan membawa pasukan dari Buleleng pun sudah lebih dulu diketahui, dan persiapan-persiapan telah dilakukan untuk menghadapi segala ke­mungkinan, walaupun dari luar nampak tenang-tenang saja seperti ke­adaan biasa.

Sehabis membaca surat lamaran, baginda dalam hati telah menduga-duga apa sebenarnya yang dimaksud oleh musuhnya itu di balik pinangan­nya. Mustahil kalau Wijaya tidak mendengar tentang tekad puterinya, Dewi Kilisuci, yang menolak perkawinan, mengingat sudah banyak lamar­an yang ditolak. Wengker tidak jauh dari Kahuripan.

Satu hal lain yang meragukan iktikad baik Wijaya yalah, bahwa Wijaya sudah tersohor tidak kawin dengan perempuan, melainkan mela­kukan “kawin gemblak”, hal yang sudah menjadi tata adat kehidupan masyarakat di Wengker. Dan kini mendadak sontak berbalik haluan, tiba-tiba ingin memperisteri puterinya. Maksud sebenarnya, demikian pikir Baginda, yalah, bahwa Wijaya menghendaki tahta Kahuripan melalui perkawinan dengan Dewi Kilisuci, yang, karena kedudukannya sebagai puteri mahkota, mempunyai hak waris tahta kerajaan Kahuripan. Dengan demikian, Wijaya akan memenuhi ambisinya tanpa menumpahkan darah. Tetapi sebaliknya, kalau pinangannya ditolak, maka penolakan itu akan dijadikan dasar alasan untuk menggempur jantung kerajaan, yaitu Kedhiri, ibukota Kahuripan. Selama ini peperangan dilakukan jauh dari ibukota Kedhiri, di wilayah kekuasaan Wengker sendiri. Bukan tidak ada maksud­nya mengerahkan bala bantuan dari Buleleng yang sudah siap tempur itu.

“Patih Jayawinanga”, sabda Prabu Airlangga tanpa memperlihat­kan kecurigaannya, “surat gustimu sudah kubaca dan kupahami isinya. Tunggulah sampai besok keputusannya, sementara aku akan membicara­kan dengan kerabat istana dan terutama dengan nini dewi. Kuijinkan kau dan pasukanmu beristirahat di pesanggrahan yang sudah tersedia, dan jadilah tamuku. Segala kepentingan dan keperluan kalian akan dilayani sebaik-sebaiknya.”

Seundur Jayawinanga, Prabu Airlangga mengadakan pembicaraan dengan seisi istana dan para manggala praja tentang sikap dan tindakan apa yang baik dilakukan menghadapi siasat Wijaya dari Wengker itu. Pada akhir pertemuan diputuskan, agar Dewi Kilisuci mengeluarkan pasanggiri sebagai syarat untuk menerima lamaran Wijaya. Yaitu hendaknya dibuatkan sebuah telaga besar di puncak gunung Kamput, yang dikitari oleh sebuah taman sari lengkap dengan pesanggrahannya untuk peris­tirahatan kedua mempelai kelak.

Dengan mengandalkan kesaktiannya, dan mengingat akan wewe­nang yang diberikan Wijaya kepadanya, maka tanpa pikir panjang Jaya­winanga menyanggupi untuk memenuhi pasanggiri tersebut. Segera ia minta diri untuk langsung menuju ke gunung Kamput dengan menggiring pasukan bala bantuan dari Buleleng. Dalam pada itu, ia pun mengutus seorang prajurit kepercayaannya untuk kembali ke Wengker, melapor­kan hasil lamaran dan pasanggiri yang dituntutkan oleh Dewi Kilisuci kepada Prabu Wijaya.

Syahdan, rajaputera Kahuripan, Pangeran Kelana Sewandana, ketika sedang berkelana di hutan, melihat barisan pasukan asing lewat, lengkap dengan senjata perang. Segera ia menyingkir bersembunyi di balik rerungkudan. Ia menjadi curiga, karena pasukan asing tersebut datang dari arah ibukota Kahuripan. Hatinya menjadi kuatir. Ia pun segera menyimpang jalan, meninggalkan persembunyiannya, langsung kembali ke ibukota. Segera ia menghadap ayahanda. Baginda pun menguraikan hal ihwal kunjungan Patih Jayawinanga. Kecurigaan Baginda sejak awal ternyata dibenarkan dengan masuknya laporan, bahwa Patih Jayawinanga mengi­rim utusan ke Wengker untuk menyampaikan berita kepada Prabu Wi­jaya. Tentang pasanggiri Dewi Kilisuci disampaikan oleh Baginda, bahwa hal itu hanyalah suatu tipu daya untuk menghindarkan pertumpahan darah di ibukota, dan segalanya sudah dipersiapkan untuk kemungkinan-kemungkinan yang mendatang.

Setelah menerima keterangan dari Baginda, maka Kelana Sewan­dana pun minta ijin untuk membawa pasukan khusus buat mengejar utusan Jayawinanga, dengan harapan akan menemukan tempat persem­bunyian Wijaya. Ia ingin menyergapnya, hidup atau mati.

Pangeran Wijaya menanti-nanti kabar dari Patih Jayawinanga di salah satu tempat persembunyiannya, seraya menghimpun kekuatan ang­katan perangnya kembali, yang sudah bcrccrai-berai dan banyak berku­rang karena serbuan dan serangan pasukan Kahuripan yang terus-menerus. Namun semangat Wijaya masih tetap menyala-nyala, tak luntur sedikit pun oleh kegawatan kedudukannya.

Akhirnya yang lama ditunggu tiba, berita dari Jayawinanga yang dibawa oleh utusan. Mendengar laporan Jayawinanga, Pangeran Wijaya malah menjadi murka.

“Tak sadarkah Jayawinanga, bahwa ia telah masuk perangkap orang Kahuripan? Di mana ada orang membuat telaga dan taman pesang­grahan di puncak gunung, kalau tidak untuk mengubur dirinya? Jaya­winanga ingin mampus rupanya”

Dan Pangeran Wijaya pun memerintahkan pasukannya untuk ber­siap berangkat menyerang Kahuripan, dengan perhitungan bahwa per­hatian Kahuripan akan ditujukan kepada Jayawinanga dan bala bantuan­nya dari Buleleng, dengan demikian tidak siap akan menghadapi serangan Wijaya. Tetapi perhitungannya ternyata meleset. Belum lagi jauh ia dengan pasukannya meninggalkan persembunyiannya, sekonyong-konyong pasukan Kahuripan di bawah pimpinan Kelana Sewandana datang menyer­gapnya dari berbagai penjuru. Wijaya dan pasukannya terkepung rapat-rapat. Pertempuran tidak dapat dielakkan, tetapi kedudukan lawan jauh lebih menguntungkan, sedang ia sendiri terjepit. Prajuritnya sudah banyak tewas. Ia nekad. Hanya kesaktiannya yang diandalkannya. Dengan se­mangat yang tinggi ia menerjang barisan lawan yang mengepungnya, yang sudah merupakan pagar betis berlapis-lapis. Dalam amuknya masih sempat ia menewaskan banyak prajurit Kahuripan, tetapi akhirnya ia harus menga­kui keunggulan lawan. Wijaya menerima nasibnya. Ia gugur dengan tubuh­nya penuh ditembusi tombak Kahuripan.

Kelana Sewandana sempat menyaksikan mayat musuhnya sesaat, ketika terjadi suatu keajaiban. Mayat itu tiba-tiba lenyap tak tentu rim­banya, tetapi pada saat itu pula terdengar suara mengancam, suara Wijaya: “Heh, orang-orang Kahuripan! Baiklah kuterima kekalahanku se­karang, tetapi tunggulah pembalasanku nanti!”

Patih Jayawinanga berhasil memenuhi janjinya. Telaga besar di puncak gunung Kamput sudah siap, lengkap dengan tamansari dan pe­sanggrahannya yang indah laksana di sorga layaknya. Utusan dikirim ke Kedhiri untuk memberitahukan kepada Baginda Airlangga dan Dewi Kilisuci. Utusan berangkat, dan kemudian kembali membawa berita, bahwa perarakan besar Dewi Kilisuci sedang menyusul. Sang Puteri ingin melihat sendiri keadaan telaga, pesanggrahan dan tamansarinya. Patih Jayawinanga diminta menunggu di puncak gunung Kamput.

Perarakan besar yang mengiring Dewi Kilisuci ke gunung Kamput, sudah meninggalkan kota Kedhiri. Paling depan pasukan perintis jalan, disusul oleh barisan pemukul gamelan, bertalu-talu bunyinya. Lalu barisan wadyabala Kahuripan lengkap dengan senjatanya. Menyusul usung-usungan jempana, satu ditumpangi oleh Sang Puteri Dewi Kilisuci, lainnya oleh para inang pengasuh. Kanan dan kiri diapit oleh beberapa perwira menunggang kuda sebagai pengawal. Di belakangnya pasukan wadyabala bersenjata lagi, yang merupakan ekor barisan yang panjang. Sepanjang jalan dielu-elu oleh penduduk.

Tak diceritakan selama perjalanan perarakan itu, hanya kedatangan­nya di puncak gunung Kamput diperhitungkan menjelang senjakala. Sebentar kemudian hari pun gelap. Pemandangan di puncak gunung Kamput berubah menjadi seperti hutan terbakar layaknya, karena nyala ratusan obor yang menerangi sekitar.

Jempana Dewi Kilisuci diusung mendekati tepian kawah, konon atas permintaan Sang Puteri, yang ingin melihat lebih jelas keadaan telaga berikut taman dan pesanggrahannya. Tetapi tiba-tiba jempana oleng. jSang Puteri yang sedang melongok ke bawah kehilangan keseimbangannya, lalu jatuh terluncur ke kawah yang dalam serta curam itu. Teriak dan jerit para inang melengking, dan seketika keadaan menjadi hiruk-pikuk dan kacau-balau. “Sang Puteri jatuh! Sang Puteri jatuh! Tercebur ke kawah, tolong, tolong!”

Patih Jayawinanga, yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan calon permaisuri rajanya, segera bertindak. Tanpa pikir panjang ia terjun ke kawah untuk menolong Sang Puteri. Tetapi alangkah terkejutnya, keti­ka hampir bersamaan waktunya batu-batu besar berjatuhan dari atas, menghimpit dan menimpanya, bertubi-tubi, dibarengi dengan sorak-sorai orang-orang yang berada di tepi kawah di atas. Jayawinanga menjadi sadar, bahwa ia terjerumus dalam perangkap tipu muslihat orang-orang Kahuripan. Batu dan tanah semakin tinggi menimbuni kawah, sehingga akhirnya menutup rata sama sekali. Jayawinanga mati terkubur dalam ka­wah gunung Kamput bersama boneka Dewi Kilisuci yang dicipta oleh orang Kahuripan sebagai umpannya.

Ya, Jayawinanga sudah mati… jasadnya. Tetapi sukmanya, konon menurut kepercayaan penduduk, masih berkuasa. Meletusnya gunung Kamput dengan memuntahkan batu dan lahar panas adalah ulah Jaya? winanga untuk membalaskan dendamnya kepada penduduk Kahuripan dan Kedhiri, yang dianggap telah mengkhianatinya. Banyak korban yang jatuh.

Sukma Jayawinanga sanggup menembus bumi, merayang ke mana mana, dan dapat bertemu pula dengan sukma rajanya, Wijaya. Keduamenjelma menjadi siluman, kadang-kadang menampakkan diri: Wijaya menjadi mahluk berkepala harimau besar, berkudung bulu merak, untuk menyatakan betapa gandrungnya ia kepada Dewi Kilisuci, puteri cantik yang digambarkannya sebagai burung merak yang indah warnanya, yang selalu disunggi-sunggi di atas kepalanya. Dan suatu perujudan barongan demikian itu suka menghadang orang yang sedang pergi melamar calon isterinya. Dan barongan itu ikut dalam perarakan sambil menari-nari.

Dan Jayawinanga, sang Bujangga Anom, menjelma menjadi Bujang Ganong, yang bermuka merah, dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang dan besar, misai tebal, dan rambutnya yang gimbal. Dialah gendruwon yang selalu mendampingi sang Singabarong, menghilang ber­sama, muncul bersama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 55-61