Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

Reog Panaraga: Versi Asmarabangun – Rahwanaraja

Tersebutlah dalam kisah, Raden Panji Asmarabangun, Raja Jenggala, pada suatu hari kehilangan empat puluh empat ekor kuda piaraannya. Segera dapat diketahui, bahwa pencurinya adalah Rahwanaraja, yang menguasai hutan wilayah Mataram.

Rahwanaraja ini suatu mahluk berbadan manusia, tetapi berkepala harimau, berperangai buas dan menakutkan. Seluruh penghuni hutan menjadi bawahannya. Prajurit-prajuritnya terdiri atas binatang-binatang buas yang hidup di hutan, seperti harimau, ular naga, celeng, banteng, dan lain-lainnya.

Setelah diketahui, bahwa Rahwanaraja pencurinya, maka Raja Jenggala memerintahkan Patih Brajadhenta dan Tumenggung Jantraguna untuk menumpasnya. Semua, Rahwanaraja beserta pengikut-pengikutnya. Dalam pada itu Baginda Panji Asmarabangun pun ingin pula menyaksikan perburuan tersebut. Maka berangkatlah Baginda diantar oleh dua orang panakawannya Bancak dan Dhoyok (atau disebut pula Penthul dan Tembem) dengan membawa anjing-anjing berburu.

Tidak dikisahkan selama di perjalanan, sampai di hutan segera terja­dilah perkelahian seru antara pasukan Jenggala dan pasukan binatang buas, kawula Rahwanaraja. Pasukan binatang buas akhirnya dapat di­tumpas, dan tampillah Rahwanaraja berhadapan dengan Raden Panji Asmarabangun. Keduanya segera terlibat dalam perang tanding yang seru, karena masing-masing memiliki kesaktian yang tidak mudah dika­lahkan. Tetapi akhirnya pun kemenangan berada di pihak Panji. Rahwa­naraja dapat dibunuh. Seluruh hutan menjadi aman, dan setelah dikuasai oleh Jenggala, maka di sana-sini dibuka menjadi dusun yang aman dan makmur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 61

Reog Panaraga: Versi Wijaya – Kilisuci

Riwayat Terjadinya Reog Panaraga:  Versi Wijaya Kilisuci

Raja Wengker (Panaraga), Pangeran Wijaya, sangat sakti. Ia pandai menghilang. Ia pun belum beristeri. Konon menurut kata orang, bukan karena tiada wanita yang cocok di hatinya, melainkan karena mempu­nyai cita-cita yang ingin dicapainya dengan ulah laku. Karena kerasnya ia melakukan tapa, maka tak seorang pun kawulanya berani menghadap, kalau tidak dipanggil. Kerajaan menjadi angker. Itulah sebabnya negaranya dinamakan Wengker.

Setengah orang lain mengatakan, bukan karena tiada wanita, me­lainkan disebabkan karena kegemarannya ber-“gendhak”, yaitu kawin dengan sesama lelaki. (Istilah setempat “gemblak” = homoseksualitas). Tingkah laku demikian lambat laun ditiru oleh kawulanya. Entah ditiru ataukah diperintahkan, tetapi kenyataan menunjukkan, bahwa di daerah

Wengker berlaku tata kehidupan “kawin gendhak” atau “kawin gemblak”. Dengan demikian akhirnya negeri mengalami kekurangan penduduk, karena angka kelahiran sangat merosot.

Pada suatu ketika, Wengker diperangi oleh kerajaan Kahuripan. Karena kekurangan tenaga pertahanan, maka Wengker mengalami keka­lahan yang pahit. Mujur Pangeran Wijaya mempunyai kesaktian luar biasa, pandai menghilang, karena itu sulit dapat ditangkap atau dibunuh, bahkan selalu muncul di tempat lain untuk mengadakan perlawanan lagi. Pasukan Kahuripan dengan demikian sempat dibuat kucar-kacir. Namun keamanan Wijaya tetap terancam, karena Raja Kahuripan, Prabu Airlangga, telah bulat tekadnya untuk menumpas Wijaya. Hal ini disadarinya benar-benar. Lambat laun ia menjadi jenuh hidup selalu dibayangi oleh bahaya serangan musuh. Dirasakannya kelemahan pertahanan negaranya, karena kekurang­an prajurit.

Akhirnya dilakukan perombakan dalam tata kehidupan rakyatnya. “Kawin gemblak” dihapus, dan digantikan dengan tata perkawinan biasa. Wijaya sendiri pun sudah bertekad untuk mengakhiri “masa bujangnya”, dan akan mencari calon isterinya. Tetapi karena dorongan ambisinya akan kekuasaan, maka dipilihnya calon permaisurinya puteri mahkota keraja­an Kahuripan, Dewi Kilisuci, puteri Prabu Airlangga. Maka dipanggilnya Patih Jayawinanga menghadap untuk diserahi tugas menyampaikan surat lamaran kepada Raja Kahuripan.

Jayawinanga adalah seorang perwira yang sangat sakti dan gagah berani. Kesaktiannya telah dibuktikan dalam menghadapi musuh dari Kahuripan. Ia menjadi patih kerajaan Wengker dengan pangkat Bujangga Anom. Tetapi kesaktian itu sendiri tidak akan menolong kehancuran kerajaan Wengker, kalau angkatan perang sebagai tulang punggungnya semakin menyusut kekuatannya. Karena itu Jayawinanga diutus ke Bali lebih dulu minta bala bantuan. Sesudah itu lalu pergi langsung ke Kahu­ripan menyampaikan surat lamaran, disertai kekuatan bala bantuan dari BaU. Kepada Jayawinanga pun diberikan kekuasaan sepenuhnya mengam­bil tindakan-tindakan yang dipandangnya perlu untuk mendapatkan Sang Puteri. Jayawinanga lalu minta diri.

Dewi Kilisuci, puteri sulung Prabu Airlangga, puteri mahkota keraja­an Kahuripan yang beribukotakan Kedhiri, mashur karena kecantikan­nya. Tetapi sayang, hingga akhir dewasa tidak berkeinginan untuk kawin. Hal demikian membuat Baginda dan permaisuri sangat prihatin, karena tiap kali harus menolak pinangan dari berbagai pihak.

Syahdan, pada suatu hari datanglah Patih Jayawinanga, mengaku utusan Prabu Kelana Sanaha dari kerajaan Buleleng Bali, menyampaikan surat lamaran untuk meminang Dewi Kilisuci. Tetapi Prabu Airlangga yang arif bijaksana tidak ayal lagi siapa sebenarnya yang dihadapi. Terhadap musuh sakti dan bandel seperti Wijaya dari Wengker dan pengikut-pengikutnya, Baginda Airlangga bersikap hati-hati sekali, dan menyebarkan banyak mata-mata untuk mengawasi segala gerak-geriknya. Karena itu kepergian Jayawinanga ke Bali telah disampaikan pula laporannya melalui telik sandi Baginda yang terpercaya. Kedatangan Patih Jayawinanga dengan membawa pasukan dari Buleleng pun sudah lebih dulu diketahui, dan persiapan-persiapan telah dilakukan untuk menghadapi segala ke­mungkinan, walaupun dari luar nampak tenang-tenang saja seperti ke­adaan biasa.

Sehabis membaca surat lamaran, baginda dalam hati telah menduga-duga apa sebenarnya yang dimaksud oleh musuhnya itu di balik pinangan­nya. Mustahil kalau Wijaya tidak mendengar tentang tekad puterinya, Dewi Kilisuci, yang menolak perkawinan, mengingat sudah banyak lamar­an yang ditolak. Wengker tidak jauh dari Kahuripan.

Satu hal lain yang meragukan iktikad baik Wijaya yalah, bahwa Wijaya sudah tersohor tidak kawin dengan perempuan, melainkan mela­kukan “kawin gemblak”, hal yang sudah menjadi tata adat kehidupan masyarakat di Wengker. Dan kini mendadak sontak berbalik haluan, tiba-tiba ingin memperisteri puterinya. Maksud sebenarnya, demikian pikir Baginda, yalah, bahwa Wijaya menghendaki tahta Kahuripan melalui perkawinan dengan Dewi Kilisuci, yang, karena kedudukannya sebagai puteri mahkota, mempunyai hak waris tahta kerajaan Kahuripan. Dengan demikian, Wijaya akan memenuhi ambisinya tanpa menumpahkan darah. Tetapi sebaliknya, kalau pinangannya ditolak, maka penolakan itu akan dijadikan dasar alasan untuk menggempur jantung kerajaan, yaitu Kedhiri, ibukota Kahuripan. Selama ini peperangan dilakukan jauh dari ibukota Kedhiri, di wilayah kekuasaan Wengker sendiri. Bukan tidak ada maksud­nya mengerahkan bala bantuan dari Buleleng yang sudah siap tempur itu.

“Patih Jayawinanga”, sabda Prabu Airlangga tanpa memperlihat­kan kecurigaannya, “surat gustimu sudah kubaca dan kupahami isinya. Tunggulah sampai besok keputusannya, sementara aku akan membicara­kan dengan kerabat istana dan terutama dengan nini dewi. Kuijinkan kau dan pasukanmu beristirahat di pesanggrahan yang sudah tersedia, dan jadilah tamuku. Segala kepentingan dan keperluan kalian akan dilayani sebaik-sebaiknya.”

Seundur Jayawinanga, Prabu Airlangga mengadakan pembicaraan dengan seisi istana dan para manggala praja tentang sikap dan tindakan apa yang baik dilakukan menghadapi siasat Wijaya dari Wengker itu. Pada akhir pertemuan diputuskan, agar Dewi Kilisuci mengeluarkan pasanggiri sebagai syarat untuk menerima lamaran Wijaya. Yaitu hendaknya dibuatkan sebuah telaga besar di puncak gunung Kamput, yang dikitari oleh sebuah taman sari lengkap dengan pesanggrahannya untuk peris­tirahatan kedua mempelai kelak.

Dengan mengandalkan kesaktiannya, dan mengingat akan wewe­nang yang diberikan Wijaya kepadanya, maka tanpa pikir panjang Jaya­winanga menyanggupi untuk memenuhi pasanggiri tersebut. Segera ia minta diri untuk langsung menuju ke gunung Kamput dengan menggiring pasukan bala bantuan dari Buleleng. Dalam pada itu, ia pun mengutus seorang prajurit kepercayaannya untuk kembali ke Wengker, melapor­kan hasil lamaran dan pasanggiri yang dituntutkan oleh Dewi Kilisuci kepada Prabu Wijaya.

Syahdan, rajaputera Kahuripan, Pangeran Kelana Sewandana, ketika sedang berkelana di hutan, melihat barisan pasukan asing lewat, lengkap dengan senjata perang. Segera ia menyingkir bersembunyi di balik rerungkudan. Ia menjadi curiga, karena pasukan asing tersebut datang dari arah ibukota Kahuripan. Hatinya menjadi kuatir. Ia pun segera menyimpang jalan, meninggalkan persembunyiannya, langsung kembali ke ibukota. Segera ia menghadap ayahanda. Baginda pun menguraikan hal ihwal kunjungan Patih Jayawinanga. Kecurigaan Baginda sejak awal ternyata dibenarkan dengan masuknya laporan, bahwa Patih Jayawinanga mengi­rim utusan ke Wengker untuk menyampaikan berita kepada Prabu Wi­jaya. Tentang pasanggiri Dewi Kilisuci disampaikan oleh Baginda, bahwa hal itu hanyalah suatu tipu daya untuk menghindarkan pertumpahan darah di ibukota, dan segalanya sudah dipersiapkan untuk kemungkinan-kemungkinan yang mendatang.

Setelah menerima keterangan dari Baginda, maka Kelana Sewan­dana pun minta ijin untuk membawa pasukan khusus buat mengejar utusan Jayawinanga, dengan harapan akan menemukan tempat persem­bunyian Wijaya. Ia ingin menyergapnya, hidup atau mati.

Pangeran Wijaya menanti-nanti kabar dari Patih Jayawinanga di salah satu tempat persembunyiannya, seraya menghimpun kekuatan ang­katan perangnya kembali, yang sudah bcrccrai-berai dan banyak berku­rang karena serbuan dan serangan pasukan Kahuripan yang terus-menerus. Namun semangat Wijaya masih tetap menyala-nyala, tak luntur sedikit pun oleh kegawatan kedudukannya.

Akhirnya yang lama ditunggu tiba, berita dari Jayawinanga yang dibawa oleh utusan. Mendengar laporan Jayawinanga, Pangeran Wijaya malah menjadi murka.

“Tak sadarkah Jayawinanga, bahwa ia telah masuk perangkap orang Kahuripan? Di mana ada orang membuat telaga dan taman pesang­grahan di puncak gunung, kalau tidak untuk mengubur dirinya? Jaya­winanga ingin mampus rupanya”

Dan Pangeran Wijaya pun memerintahkan pasukannya untuk ber­siap berangkat menyerang Kahuripan, dengan perhitungan bahwa per­hatian Kahuripan akan ditujukan kepada Jayawinanga dan bala bantuan­nya dari Buleleng, dengan demikian tidak siap akan menghadapi serangan Wijaya. Tetapi perhitungannya ternyata meleset. Belum lagi jauh ia dengan pasukannya meninggalkan persembunyiannya, sekonyong-konyong pasukan Kahuripan di bawah pimpinan Kelana Sewandana datang menyer­gapnya dari berbagai penjuru. Wijaya dan pasukannya terkepung rapat-rapat. Pertempuran tidak dapat dielakkan, tetapi kedudukan lawan jauh lebih menguntungkan, sedang ia sendiri terjepit. Prajuritnya sudah banyak tewas. Ia nekad. Hanya kesaktiannya yang diandalkannya. Dengan se­mangat yang tinggi ia menerjang barisan lawan yang mengepungnya, yang sudah merupakan pagar betis berlapis-lapis. Dalam amuknya masih sempat ia menewaskan banyak prajurit Kahuripan, tetapi akhirnya ia harus menga­kui keunggulan lawan. Wijaya menerima nasibnya. Ia gugur dengan tubuh­nya penuh ditembusi tombak Kahuripan.

Kelana Sewandana sempat menyaksikan mayat musuhnya sesaat, ketika terjadi suatu keajaiban. Mayat itu tiba-tiba lenyap tak tentu rim­banya, tetapi pada saat itu pula terdengar suara mengancam, suara Wijaya: “Heh, orang-orang Kahuripan! Baiklah kuterima kekalahanku se­karang, tetapi tunggulah pembalasanku nanti!”

Patih Jayawinanga berhasil memenuhi janjinya. Telaga besar di puncak gunung Kamput sudah siap, lengkap dengan tamansari dan pe­sanggrahannya yang indah laksana di sorga layaknya. Utusan dikirim ke Kedhiri untuk memberitahukan kepada Baginda Airlangga dan Dewi Kilisuci. Utusan berangkat, dan kemudian kembali membawa berita, bahwa perarakan besar Dewi Kilisuci sedang menyusul. Sang Puteri ingin melihat sendiri keadaan telaga, pesanggrahan dan tamansarinya. Patih Jayawinanga diminta menunggu di puncak gunung Kamput.

Perarakan besar yang mengiring Dewi Kilisuci ke gunung Kamput, sudah meninggalkan kota Kedhiri. Paling depan pasukan perintis jalan, disusul oleh barisan pemukul gamelan, bertalu-talu bunyinya. Lalu barisan wadyabala Kahuripan lengkap dengan senjatanya. Menyusul usung-usungan jempana, satu ditumpangi oleh Sang Puteri Dewi Kilisuci, lainnya oleh para inang pengasuh. Kanan dan kiri diapit oleh beberapa perwira menunggang kuda sebagai pengawal. Di belakangnya pasukan wadyabala bersenjata lagi, yang merupakan ekor barisan yang panjang. Sepanjang jalan dielu-elu oleh penduduk.

Tak diceritakan selama perjalanan perarakan itu, hanya kedatangan­nya di puncak gunung Kamput diperhitungkan menjelang senjakala. Sebentar kemudian hari pun gelap. Pemandangan di puncak gunung Kamput berubah menjadi seperti hutan terbakar layaknya, karena nyala ratusan obor yang menerangi sekitar.

Jempana Dewi Kilisuci diusung mendekati tepian kawah, konon atas permintaan Sang Puteri, yang ingin melihat lebih jelas keadaan telaga berikut taman dan pesanggrahannya. Tetapi tiba-tiba jempana oleng. jSang Puteri yang sedang melongok ke bawah kehilangan keseimbangannya, lalu jatuh terluncur ke kawah yang dalam serta curam itu. Teriak dan jerit para inang melengking, dan seketika keadaan menjadi hiruk-pikuk dan kacau-balau. “Sang Puteri jatuh! Sang Puteri jatuh! Tercebur ke kawah, tolong, tolong!”

Patih Jayawinanga, yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan calon permaisuri rajanya, segera bertindak. Tanpa pikir panjang ia terjun ke kawah untuk menolong Sang Puteri. Tetapi alangkah terkejutnya, keti­ka hampir bersamaan waktunya batu-batu besar berjatuhan dari atas, menghimpit dan menimpanya, bertubi-tubi, dibarengi dengan sorak-sorai orang-orang yang berada di tepi kawah di atas. Jayawinanga menjadi sadar, bahwa ia terjerumus dalam perangkap tipu muslihat orang-orang Kahuripan. Batu dan tanah semakin tinggi menimbuni kawah, sehingga akhirnya menutup rata sama sekali. Jayawinanga mati terkubur dalam ka­wah gunung Kamput bersama boneka Dewi Kilisuci yang dicipta oleh orang Kahuripan sebagai umpannya.

Ya, Jayawinanga sudah mati… jasadnya. Tetapi sukmanya, konon menurut kepercayaan penduduk, masih berkuasa. Meletusnya gunung Kamput dengan memuntahkan batu dan lahar panas adalah ulah Jaya? winanga untuk membalaskan dendamnya kepada penduduk Kahuripan dan Kedhiri, yang dianggap telah mengkhianatinya. Banyak korban yang jatuh.

Sukma Jayawinanga sanggup menembus bumi, merayang ke mana mana, dan dapat bertemu pula dengan sukma rajanya, Wijaya. Keduamenjelma menjadi siluman, kadang-kadang menampakkan diri: Wijaya menjadi mahluk berkepala harimau besar, berkudung bulu merak, untuk menyatakan betapa gandrungnya ia kepada Dewi Kilisuci, puteri cantik yang digambarkannya sebagai burung merak yang indah warnanya, yang selalu disunggi-sunggi di atas kepalanya. Dan suatu perujudan barongan demikian itu suka menghadang orang yang sedang pergi melamar calon isterinya. Dan barongan itu ikut dalam perarakan sambil menari-nari.

Dan Jayawinanga, sang Bujangga Anom, menjelma menjadi Bujang Ganong, yang bermuka merah, dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang dan besar, misai tebal, dan rambutnya yang gimbal. Dialah gendruwon yang selalu mendampingi sang Singabarong, menghilang ber­sama, muncul bersama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 55-61

Reog Ponorogo

Kesenian Berbau Mistis Tersebar Di Mana-mana

Ya, salompret tersebut menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, eksotis sekaligus membangkitkan gairah.

Hampir semua kalangan menyenangi akan kesenian khas Reog Ponorogo. Musik pengiringnya, terdiri dari alat-alat tradisional dan iramanya begitu dinamis. Dan itu membuat kita bisa larut di dalamnya. Tidak itu saja, terompet yang ditiup seniman reog juga bisa menyedot ban yak orang untuk mendatangi tempat penampilan Reog Ponorogo.

Secara garis besar instrumen pengiringnya terdiri dari: kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret (nama terompet di dalam kesenian tersebut). Ya, salompret tersebut menyuarakan nada slendro dan pelog yang memuneulkan atmosfir mistis, eksotis sekaligus membangkitkan gairah.

Tidak mengherankan suara salompret begitu dominan apabila ditampilkan Reog Ponorogo di satu tempat. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua pasti berduyun-duyun mendatangi tempat acara apabila mendengar suara salompret tersebut.

Kehebatan kesenian ini juga terlihat dari para penarinya. Mulai dari yang memanggul kepala macan yang beratnya berkilo-kilo sampai dengan atraksi kelincahan penari dalam memperagakan ilmu loncat meloncat seperti halnya yang dilakukan oleh atlet dari cabang olahraga senam.

Dengan demikian hampir dipastikan kalau ada Reog Ponorogo yang pentas di suatu acara, maka penontonnya akan membludak. Para penonton tidak akan kecewa untuk menyaksikan kehebatan kesenian tersebut walaupun mereka harus berlama-lama mengorbankan waktu.

Reog Ponorogo begitu merakyat sehingga hampir seluruh daerah di tanah air. ini ada grup kesenian Reog Ponorogo. Dalam suatu upacara ataupun pawai dan pesta rakyat, sangat sering keserlian ini ditampilkan. Tidak saja di kota-kota Pulau Jawa tetapi di daerah lain seperti Sumatra kesenian ini juga menjadi andalan sebagai hiburan masyarakat.

Berdasarkan sebuah buku te rb itan Pemkab Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Selain itu juga ada buku versi lain yang meneeritakan asal muasal kesenian Reog Ponorogo. Kesenian Reog Ponorogo ini pertama kali bernama Singa Barong atau Singa Besar dan diperkirakan mulai dikenal oleh masyarakat pad a sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut Agama Hindu Siwa.

Diceritakan dalam buku terbitan Pemkab Ponorogo, untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung Merak oleh Ki ageng Kutu Suryo. Dan seiring dengan perkembangan jaman kesenian barongan itu terus dipertahankan hingga akhirnya berubah menjadi kesenian Reog Ponorogo.(p)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Infodis, Edisi , 2006, hlm. 24

 

Reog

TARIAN SENSASIONAL DARI PONOROGO

Kepala berbentuk singa dengan sayap-sayap terbuat dari bulu merak terlihat melenggak-lenggok dan berputar-putar mengikuti irama gendang. Sementara di depannya tampak sekelompok orang mengenakan kostum hitam-hitam berusaha menggoda singa agar erus menari. Itulah figur sentral dari sebuah kesenian

Reog asal Ponorogo, Jawa Timur yang hingga kini masih tetap menarik untuk disaksikan. Reog adalah sebuah tarian spektakuler yang diperagakan oleh beberapa penari dengan kostum berwarna warn i dan diiringi oleh musik gamelan yang meriah . Tarian ini biasanya dilakukan di halaman terbuka seperti taman ataupun jalanan . Se lain tarian tradisional, Reog oleh sekelompok orang biasanya juga dipadukan dengan pertunjukkan magis yang diharapkan dapat menarik perhatian penonton .

Salah satu tokoh sentra l yang selalu menjadi perhatian para penonton adalah topeng kepala macan yang sebelah pinggirnya dihiasi bulu merak bersayap lebar. Bisanya orang mengenal topeng tersebut dengan sebutan Dhadhak Merak yang konon beratnya mencapai 40 hingga 100kg dan dibawa oleh satu orang yang berjalan maju mundur ataupun berputar-putar. Karena kepala macan ini melambangkan sosok pahlawan, maka sang penari, Warok yang mengenakannya bisanya juga memiliki ·kekuatan magis.

REOG ADALAH SEBUAH TARIAN SPEKTAKULER YANG DIPERAGAKAN OLEH BEBERAPA PENARI DENGAN KOSTUM BERWARNA WARNI DAN DIIRINGI OLEH MUSIK GAMELAN YANG MERIAH

Selain itu, ia juga harus memiliki susunan gigi serta leher yang kuat untuk bisa menggoyang-goyangkan topeng Dadak Merak dengan giginya. Bahkan terkadang juga harus menggendong seorang wanita yang dianggap mewakili Ratu Ragil Kuning. Atau kadang, ia harus mendemonstrasikan keahlian dan kekuatannya sambil menggendong penari bertopeng lain, tanpa mengurangi mutu gerakan tariannya yang terlihat fantastis dan penuh semangat.

Dhadhak Merak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Singabarong, biasanya diperagakan sebagai tarian selamat datang kepada para tamu yang dihormati, atau sebagai atraksi yang lengkap dengan segala atributnya seperti yang memerankan sebagai Prabu Kelana Sewandono dan para penari pengikutnya yang disebut sebagai Bujangganong.

Bujangganong adalah seorang pahlawan dengan muka yang buruk rupa, mengenakan topeng berwarna merah, berhidung panjang, berambut awut-awutan dan bergigi taring. Para penari ini bisanya dilengkapi dengan kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Mereka melambangkan sosok prajurit pengawal raja Kelana Sewandono.

Orang -orang yang dikenal sebagai Warok dalam kesenian ini, diyakini memiliki talenta khusus, yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun. Salah satu keunikan dari pertunjukkan Reog adalah para penari yang terdiri dari pemuda-pemuda yang berdandan seperti perempuan. Mereka disebut sebagai Gemblak yaitu orang yang biasa menemani warok, yang selama jadwal pertunjukkan masih berlangsung mereka dilarang mendekati wanita.

 

Sejarah

Kesenian Reog Ponorogo sebenarnya tarian ini sudah dikenal sejak jaman kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Ceritanya berhubungan dengan legenda Kerajaan Ponorogo (kira-kira 70km arah Tenggara Solo). Raja Ponorogo yang berkuasa ketika itu adalah, Kelono Soewandono, sangat terkenal dengan kemahirannya bertempur dan kekuatan magisnya.

Bersama Patihnya, Bujanganom, mereka diserbu oleh, Singabarong, Raja Singa dari hutan Kediri yang dibantu oleh bala tentaranya, pasukan Singa dan Merak. Sebenarnya mereka sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri untuk menikahi Dewi Ragil Kuning, sang ratu kerajaan.

Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara para prajurit perkasa dengan kekuatan-kekuatan magisnya. Pasukan merak berterbangan naik turun sambil mengepakkan sayapnya demi membantu para singa-singa Barong. Bujanganom dengan cemeti

ajaibnya yang dibantu oleh para Warok dengan kostum hitam tradisionalnya berusaha mengalahkan sang Raja Singa beserta para pengikutnya .

Singkat cerita, Raja Ponorogo tersebut dapat menaklukkan mereka dan melanjutkan perJalanannya menuju Kediri. Singa Barongpun lalu mengikuti arakarakkan mereka, sementara pasukan Merak berada dekat dengan Singa Barong seraya membentangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti sebuah kipas yang indah.

Sementara ada versi lain yang menceritakan, bahwa sebenarnya kesenian tarian Reog ini merupakan petunjuk dari raja Majapahit yang menikahi seorang ratu berkebangsaan Cina. Kekuatan sang raja kemudian digambarkan takluk oleh kecantikan sang putri. Apapun versi cerita aslinya, tarian Reog hingga kini tetap menjadi sebuah atraksi dan kesenian yang sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara.()

CARAKAWALA,September 2004, hlm. 12