Terjadinya Reog Panaraga, Versi Kelana – Sanggalangit

Bujangga Anom adalah putera raja Daha, Sri Genthayu, pada suatu hari diam-diam telah meninggalkan negerinya, kemudian berguru kepada seorang petapa yang sakti di lereng gunung Lawu. Kebetulan sang petapa tersebut mempunyai murid pula yang bernama Kelana Sewandana, seorang raja di Bantarangin. Terjalinlah persahabatan yang akrab antara Bujangga Anom dan Raja Kelana Sewandana. Ketika diuji kesaktian masing-masing oleh sang guru, setelah mereka menyelesaikan masa puruhitanya, ternyata keduanya sebanding. Kelana Sewandana sangat berkenan hatinya terhadap Bujangga Anom, lalu diangkatnya menjadi patih kerajaan Bantarangin.

Pada suatu malam Sang Kelana bermimpi kawin dengan puteri Daha yang bernama Dewi Sanggalangit, yang tidak lain adaiah saudara Bujangga Anom sendiri. Keesokan harinya Sang Kelana mengutus Patih ( Bujangga Anom menyampaikan lamaran ke Daha. Bujangga Anom berang­kat ke Daha dengan membawa perajurit secukupnya.

Syahdan sampai di perbatasan Bantarangin. dan Daha, perjalanan pasukan Bujangga Anom dicegat oleh pasukan harimau dan merak, rakyat Raja Singabarong yang merajai hutan belantara yang sukar ditembus oleh manusia. Perang terjadi, tetapi pasukan Bantarangin kalah, dan terpaksa mengundurkan diri kembali ke Bantarangin.

Prabu Kelana Sewandana, setelah mendengar laporan Patih Bujangga Anom, menjadi sangat murka. Ia ingin berangkat sendiri, dan memerin­tahkan menyiapkan pasukan prajurit pengiring berlipat ganda, baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki.

Di perbatasan Bantarangin dan Daha terjadi lagi bentrokan antara pasukan Singabarong dan’pasukan Kelana Sewandana. Kali ini pasukan Singabarong terdesak. Banyak prajuritnya yang mati atau tertawan. Ke­mudian tampil Raja Singabarong sendiri untuk melawan Sang Kelana. Ia didampingi oleh Raja Merak yang berjalan maju dengan mengem­bangkan bulunya yang berwarna hijau berkilauan sangat mempeso- nakan. Jalannya tegak dengan angkuh dan angkernya. Sedang Raja Singa­barong berjalan dengan gayanya yang malas, alap-santun, sebentar-se- bentar mengibaskan kepalanya, sehingga surinya yang lebat terurai ber- alun-alun, terkena sinar matahari seperti emas diupam layaknya.

Bujangga Anom kuatir kalau-kalau Prabu Kelana Sewandana men­jadi terlena karena pemandangan yang indah dan agung itu, maka lekas dihampirinya dengan isyarat untuk bersiap-siap berperang. Prabu Kelana menangkap isyarat itu, lalu maju menyambut musuhnya. Terjadi perke­lahian seru, satu lawan dua. Prabu Singabarong yang semula berjalan dengan alap-santunnya tanpa memperlihatkan kehebatannya, setelah ber­tarung, ternyata sangat cekatan, luar biasa kekuatannya, meloncat ke kiri, menghindar ke kanan, menapuk, menggigit, menerkam, menerjang, sehingga Kelana Sewandana terengah-engah kehabisan napas. Apalagi di­lawan dua bersama Raja Merak yang menyerang dari atas, memupuh, memagut, menyusuh, berulang-ulang. Benar-benar Kelana Sewandana tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Akhirnya ia menarik diri, dan memerintahkan seluruh pasukannya mundur meninggalkan medan.

Kelana mencari tempat persembunyian untuk bersamadi. Ia minta bantuan gurunya. Tiba-tiba gurunya pun menampakkan diri, berdiri di depannya dan menyampaikan pesan, agar Raja Singabarong dan Raja Merak dipancing dengan tetabuhan, dan orang menari-nari di depannya, dengan menggunakan topeng yang aneh, lucu, tetapi sekaligus pun mena­kutkan. Dengan demikian Raja Singabarong dan Raja Merak akan hanyut terlena oleh bunyi tetabuhan dan gerak tari serta perujudan yang aneh tersebut. Dan di situlah letak kelemahan Singabarong dan Merak. Pada saat yang demikian terbukalah peluang bagi Kelana Sewandana untuk melumpuhkan kesaktian mereka dengan melecutkan cemeti pusaka yang bernama “gendir wuluh gadhing” ke tubuh mereka. Sang petapa kemudian menyerahkan sebuah cemeti pusaka yang dimaksud kepada Prabu Kelana Sewandana. Sesudah itu gaiblah ia.

Dengan semangat yang pulih kembali, Kelana Sewandana menyusun barisannya mengatur siasat. Patih Bujangga Anom dimintanya mengenakan topeng yang dimaksudkan dan menari-nari menggoda di depan Singaba­rong dan Merak, dibantu oleh dua orang wira yang berpakaian badut dan bertopeng pula, sedang beberapa prajurit berkuda ikut pula menari-nari di atas kudanya masing-masing mengitari tidak jauh. Beberapa prajurit lain­nya membunyikan tetabuhan seadanya, terdiri dari peralatan musik perang berupa kendhang, dhog-dhog, gong beri, bendhe, selompret, dibarengi dengan suara senggakan yang riuh rendah. Sementara pasukan-pasukan lainnya dipimpin oleh Kelana Sewandana bersiap-siap setiap saat untuk menyerang pasukan Singabarong dan Merak, setelah Kelana memberikan isyaratnya dengan melecutkan “gendir wuluh gadhing” ke tubuh Singa­barong dan Merak.

Siasat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Mula-mula Singabarong dan Merak terkejut keheran-heranan. Mereka saling berpandangan, tetapi kemudian Merak pun mulai mengigal. Bulu ekornya yang panjang itu di­kembangkan tegak berdiri melingkar membuat bentuk kipas rasaksa berwarna hijau kemilauan sangat indahnya. Dengan anggun ia berjalan kian-kemari dengan kepalanya menganggut-anggut mengikuti irama ken­dhang.

Tanpa disadari kaki Singabarong pun mulai ikut berkejutan mengi­kuti bunyi tetabuhan yang sigrak bersemangat itu. Lama-lama badannya pun ikut bergerak, meliyuk-liyuk menirukan orang menari. Kepalanya digelengkan ke kanan dan ke kiri, surinya berombak-ombak. Sorak-sorai orang Bantarangin bergemuruh memenuhi angkasa, bersahutan dengan senggakan-senggakan menambah kemeriahan suasana. Patih Bujangga Anom mengenakan topeng berwarna merah dengan sepasang matanya yang melotot, hidung panjang, kumis tebal dan rambut gimbal. Ia menari- nari dfcngan gerak-gerik yang lucu di hadapan Singabarong dan Merak sambil menggoda. Kegembiraan semakin memuncak, ketika Raja Merak terbang ke udara untuk kemudian hinggap bertenggar di atas kuduk Singa­barong dan mengigel.

Prabu Kelana Sewandana waspada. Cemethinya sudah disiapkan. Pasukan berkuda dan yang berjalan kaki sudah siap-siap pula menanti isyarat dari pemimpinnya. Singabarong dan Merak sudah mabuk kepa­yang dan lupa segalanya. Dan pada saat itulah bunyi “gendir wuluh gadhing” menggeletar melecut tubuh Singabarong dan Merak sekaligus, hingga kedua mahluk itu lumpuh tiada berdaya sama sekali.

Bersamaan dengan bunyi lecut cemethi, tiba-tiba tetabuhan ber­henti mendadak, sebagai isyarat bagi pasukan berkuda yang sudah dise­pakati untuk menyerbu barisan musuh yang sudah lengah sama sekali. Pasukan yang berjalan kaki mencegat mereka yang berusaha melarikan diri, dengan demikian mereka ditumpas atau ditawan.

Singabarong dan Merak minta pengampunan dan merajuk-rajuk agar kekuatannya dipulihkan kembali. Mereka berjanji membantu Sang Kelana melamar puteri Daha. Permintaan Singabarong dan Merak dika­bulkan. Dengan kesaktian Kelana, Singabarong dan Merak pulih kembali kekuatannya. Peperangan dihentikan, dan mereka pun bersama-sama mengiringkan raja Kelana Sewandana meneruskan perjalanan ke Daha.

Sepanjang jalan menuju ke Daha-, penduduk desa-desa yang dile­wati menjadi terheran-heran menyaksikan suatu perarakan yang aneh, yang selama hidup belum pernah mereka saksikan. Paling depan sebagai perintis sepasukan prajurit bersenjata. Kemudian seorang penari dengan menggunakan topeng merah lucu tetapi pun menakutkan. Rupanya Patih Bujangga Anom enggan menanggalkan peranannya sebagai badut Ganong (demikianlah sebutan namanya kemudian). Jalannya maju mundur menari- nari menggoda Singabarong, yang juga ikut menari. Raja Merak mengigal, angkuh dan anggun bertenggar di kuduk Singabarong. Di belakangnya barisan penabuh. Alat tetabuhannya terdiri dari kendhang, dhog-dhog, bemdhe, gong beri, selompret. Lagunya berirama gembira, sigrak dan ber­semangat, diselingi sorak dan senggakan, menggempita sampai terdengar jauh. Kemudian menyusul Prabu Kelana Sewandana. diapit-apit oleh barisan kawalnya, yang disusul oleh pasukan lainnya, beijalan kaki maupun yang berkuda.

Catatan:

Adegan terakhir inilah yang kemudian menjadi tontonan Reog di Panaraga. Nama “reog” Barangkali diambil dari nama alat tetabuhan sejenis tambur, atau kendhang, atau yang sering disebut “dhog-dhog” yang berfungsi sebagai penentu irama.

Sampai di sini dongeng asal-usul Reog Panaraga sebenarnya tamat. Tetapi dongeng Kelana Sewandana sendiri masih bersambung. Pada sambungan ini terdapat beberapa versi yang berbeda satu sama lain, namun tidak prin­sipiil. Dua versi yang agak jauh berbeda adalah seperti di bawah ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sassana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. 50-54

Reog

TARIAN SENSASIONAL DARI PONOROGO

Kepala berbentuk singa dengan sayap-sayap terbuat dari bulu merak terlihat melenggak-lenggok dan berputar-putar mengikuti irama gendang. Sementara di depannya tampak sekelompok orang mengenakan kostum hitam-hitam berusaha menggoda singa agar erus menari. Itulah figur sentral dari sebuah kesenian

Reog asal Ponorogo, Jawa Timur yang hingga kini masih tetap menarik untuk disaksikan. Reog adalah sebuah tarian spektakuler yang diperagakan oleh beberapa penari dengan kostum berwarna warn i dan diiringi oleh musik gamelan yang meriah . Tarian ini biasanya dilakukan di halaman terbuka seperti taman ataupun jalanan . Se lain tarian tradisional, Reog oleh sekelompok orang biasanya juga dipadukan dengan pertunjukkan magis yang diharapkan dapat menarik perhatian penonton .

Salah satu tokoh sentra l yang selalu menjadi perhatian para penonton adalah topeng kepala macan yang sebelah pinggirnya dihiasi bulu merak bersayap lebar. Bisanya orang mengenal topeng tersebut dengan sebutan Dhadhak Merak yang konon beratnya mencapai 40 hingga 100kg dan dibawa oleh satu orang yang berjalan maju mundur ataupun berputar-putar. Karena kepala macan ini melambangkan sosok pahlawan, maka sang penari, Warok yang mengenakannya bisanya juga memiliki ·kekuatan magis.

REOG ADALAH SEBUAH TARIAN SPEKTAKULER YANG DIPERAGAKAN OLEH BEBERAPA PENARI DENGAN KOSTUM BERWARNA WARNI DAN DIIRINGI OLEH MUSIK GAMELAN YANG MERIAH

Selain itu, ia juga harus memiliki susunan gigi serta leher yang kuat untuk bisa menggoyang-goyangkan topeng Dadak Merak dengan giginya. Bahkan terkadang juga harus menggendong seorang wanita yang dianggap mewakili Ratu Ragil Kuning. Atau kadang, ia harus mendemonstrasikan keahlian dan kekuatannya sambil menggendong penari bertopeng lain, tanpa mengurangi mutu gerakan tariannya yang terlihat fantastis dan penuh semangat.

Dhadhak Merak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Singabarong, biasanya diperagakan sebagai tarian selamat datang kepada para tamu yang dihormati, atau sebagai atraksi yang lengkap dengan segala atributnya seperti yang memerankan sebagai Prabu Kelana Sewandono dan para penari pengikutnya yang disebut sebagai Bujangganong.

Bujangganong adalah seorang pahlawan dengan muka yang buruk rupa, mengenakan topeng berwarna merah, berhidung panjang, berambut awut-awutan dan bergigi taring. Para penari ini bisanya dilengkapi dengan kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Mereka melambangkan sosok prajurit pengawal raja Kelana Sewandono.

Orang -orang yang dikenal sebagai Warok dalam kesenian ini, diyakini memiliki talenta khusus, yang diperoleh melalui latihan bertahun-tahun. Salah satu keunikan dari pertunjukkan Reog adalah para penari yang terdiri dari pemuda-pemuda yang berdandan seperti perempuan. Mereka disebut sebagai Gemblak yaitu orang yang biasa menemani warok, yang selama jadwal pertunjukkan masih berlangsung mereka dilarang mendekati wanita.

 

Sejarah

Kesenian Reog Ponorogo sebenarnya tarian ini sudah dikenal sejak jaman kebudayaan Hindu di Jawa Timur. Ceritanya berhubungan dengan legenda Kerajaan Ponorogo (kira-kira 70km arah Tenggara Solo). Raja Ponorogo yang berkuasa ketika itu adalah, Kelono Soewandono, sangat terkenal dengan kemahirannya bertempur dan kekuatan magisnya.

Bersama Patihnya, Bujanganom, mereka diserbu oleh, Singabarong, Raja Singa dari hutan Kediri yang dibantu oleh bala tentaranya, pasukan Singa dan Merak. Sebenarnya mereka sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Kediri untuk menikahi Dewi Ragil Kuning, sang ratu kerajaan.

Kemudian terjadilah pertempuran dahsyat antara para prajurit perkasa dengan kekuatan-kekuatan magisnya. Pasukan merak berterbangan naik turun sambil mengepakkan sayapnya demi membantu para singa-singa Barong. Bujanganom dengan cemeti

ajaibnya yang dibantu oleh para Warok dengan kostum hitam tradisionalnya berusaha mengalahkan sang Raja Singa beserta para pengikutnya .

Singkat cerita, Raja Ponorogo tersebut dapat menaklukkan mereka dan melanjutkan perJalanannya menuju Kediri. Singa Barongpun lalu mengikuti arakarakkan mereka, sementara pasukan Merak berada dekat dengan Singa Barong seraya membentangkan ekor mereka sehingga terlihat seperti sebuah kipas yang indah.

Sementara ada versi lain yang menceritakan, bahwa sebenarnya kesenian tarian Reog ini merupakan petunjuk dari raja Majapahit yang menikahi seorang ratu berkebangsaan Cina. Kekuatan sang raja kemudian digambarkan takluk oleh kecantikan sang putri. Apapun versi cerita aslinya, tarian Reog hingga kini tetap menjadi sebuah atraksi dan kesenian yang sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke mancanegara.()

CARAKAWALA,September 2004, hlm. 12

Warok dan Reog Ponorogo

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo
Ada yang Mermlih Profesi

 
KESENIAN reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya, terus men gal ami perubahan tanpa .menghilangkan eiri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang miliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modemisasi. Benarkan demikian?

Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilmu keguruan yang akan diseberluaskan ke beberapa anak cucunya.

“Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perint!! h.an. Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas sallih seorang tokoh warga.

Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan “Malah dan politiknya dapat dijadikan greget untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya.

Seperti yang dialarni Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus.cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai. Warok dengan peguron saja.

Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan  kehidupannya betul~betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur.

“Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Sementara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehidupan para warok yang boleh.dikatakan agak tersisih, kurang perhatian.Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarlam sebagai produk kesenian lokal ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat Imtuk memperkenalkan ke event lnteruasional, sekarang ini rnempunyai tni lp n bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pernirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijurnpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk aja.pg promosi.

Khusus penari jatilan yang kini mu, l&-i- diperankan oleh ‘Perempuan, me.tiurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga rianti talc ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”.

Untuk memperkaya dan melestari kan kesenian reog, saat iill di setiap desalkelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut pe,nari yang terdiri dari dadak merak plus barongpnnya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan: pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhnya.(budi s/habis)

Reog, Kerajinan

Bertahan Hidup di Bawah Reog
Siang itu Sarju duduk menghadap beberapa pekerjanya yang tengah mengerjakan pesanan kepala singa yang akan dikirim minggu depan ke Jawa Barat. Tidak seperti hari biasanya, Sarju yang tepat duduk berada di belakang display usahanya itu tidak lagi dapat mengarahkan pekerjanya yang tengah membuat peralatan reog. Karena penyakit stroke yang dideritanya sejak satu bulan lalu, Sarju memang tidak dapat berbicara, untuk berjalan menuju tempat usahanya saja, dia harus dibopong oleh beberapa anggota keluarganya.

Untungnya Sarju masih memiliki menantu yang juga mencintai kesenian reog, sekaligus terampil membuat peralatan reog. Kini usahanya dijalankan oleh menantunya, Supriyanto, dibantu enam karyawan tetapnya. Sarju adalah salah satu pengusaha peralatan reog di Ponorogo yang hingga kini masih tetap eksis mengembangkan usahanya.

Tempat usaha di samping kediamannya, di Jl. raya Ponorogo Purwantoro, di Desa Carat Sumoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, itu masih terlihat ramai pembeli yang meneari aksesoris reog seperti kaos, celana panjang, cambuk kecil dan topeng kecil, atau miniatur kepala reog, dan sebagainya.

Supriyanto menjelaskan, aktif di perkumpulan reog selama kurang lebih 35 tahun dan sempat berkeliling dunia untuk bermain pertunjukan reog, menginspirasi mertuanya untuk memproduksi peralatan reog sendiri, seiring dengan semakin terkenalnya seni reog. Pertimbangan tenaga karena usianya sudah semakin tua, Sarju pada 1994 memulai membuka usaha memproduksi peralatan reog beserta aksesoris pendukungnya.

Sedikit demi sedikit perlengkapan reog yang diproduksi Sarju seperti peralatan, musik reog, dadak, topeng, barongan, topeng bujang ganom dan busana reog laris diserap pasar dari dalam maupun luar negeri seperti Arab, Amerika, Australia dan Rusia.

Untuk satu paket peralatan reog dengan kualitas biasa, Sarju menjual dengan harga Rp 24 juta. Sementara untuk paket dengan kualitas super, perlengkaan reog dijual  dengan harga Rp 30 juta. “Paket super itu dengan lebar dadak yang lebih besar berukuran 2,25 meter dengan berat 25 kilogram dan tampilan kepala singa yang lebih seram,” katanya.

Penjualan peralatan reog akan meningkat hingga 30 persen menjelang waktu-waktu tertentu seperti menjelang bulan Agustus dan bulan Muharam.

Bahan Alam
Pembuatan perlengkapan seni reog sebagian besar memanfaatkan bahan-bahan alami seperti kayu. Kayu biasanyadimanfaatkan untuk membuat kepala singa, topeng, dadak dan alat penyangga genongan. “Untuk kepala singa dan topeng, kayu yang dipakai biasanya kayu dadap, sementara untuk dadak menggunakan rotan dan bambu,” kat;a Supriyanto. Selain menggunakan kayu, beberapa bagia perlengkapan reog lainnya menggunakan bagian tubuh binatang, seperti ekor kambing atau sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk menghiasi dadak, dan kulit macan. untuk kepala singa.

Supriyanto mengaku seringkali merasa kesulitan untuk mendapatkan beberapa jenis tubuh binatang, seperti rambut ekor sapi untuk rambut topeng, bulu merak untuk dadak, atau kulit macan untuk kepala reog. “Kadang untuk mengantisipasi terbatasnya bahan kulit macan, kami gunakan kulit sapi yang digambar motif kulit macan,” katanya.

Tapi khusus untuk bulu merak, dia sengaja khusus mendatangkan dari India, karena kualitas kulit merak India lebih bagus dari warna dan motif. Bulu merak tersebut biasanya didatangkan pada bulan November Desember, karena saat itu merupakan musim rontok bulu merak. Dia juga mendatangkan dalam jumlah besar, agar dapat dijadikan stok untuk kebutuhan selama satu tahun.

Keluarga besar Sarju memang terkenal sebagai keluarga pecinta reog. Dua orang putranya membantu membesarkan usaha pembuatan peralatan reog, sementara tiga menantu laki-lakinya juga turut membantu, termasuk Supriyanto. Beberapa di antara putra dan menantunya juga masih aktif di perkumpulan-perkumpulan reog di Ponorogo.

Karena itu dia termasuk paling getol yang menolak klaim bahwa reog milik Malaysia. “Reog Ponorogo adalah kesenian asli lokal Ponorogo, bukan Malaysia,” tuturnya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, Edisi 51, Mei- Juni 2010, hlm. 35

Kesenian, Kabupaten Kediri

Seni Reog
Seperti halnya di Ponorogo, kesenian Reog juga berkembang di wilayah Kabupaten Kediri. Kesenian ini ditarikan oleh 2 orang penari reog, 4 orang penari jaranan, 2 orang penari topeng penthul, 2 orang penari warok, yang menari diiringi gamelan. Salah satu kesenian reog yang ada di Kabupaten Kediri adalah Grup Reog “Ki Ageng Suko Sewu”, dari Desa Gringging, Kecamatan Grogol.

Seni Qosidah
Qosidah adalah jenis kesenian Islami yang berkembang di wilayah Kabupaten Kediri, kesenian ini diyakini sebagai kesenian warisan dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di wilayah Jawa Timur. Salah satu grup qosidah yang berkembang di Kabupaten Kediri ini adalah Qosidah “Muhabbatain” dari Kecamatan Kunjang

Seni Tayub
Tayub atau Langen Tayub adalah salah satu bentuk tari pergaulan dan sangat memasyarakat di Kabupaten Kediri. Dalam seni tayub penari putra disebut sebagai Pengibing sedangkan penari putri disebut waranggono yang sekaligus sebagai vokalisnya.

Selain penari ada seorang lagi yang bertugas sebagai pembagi giliran dalam menari dengan mengalungkan sampur pada calon penari berikutnya, tugas ini dilaksanakan oleh Pramugari Salah satu Seni Tayub yang berkembang di Kabupaten Kediri adalah Seni Tayub ” Mekarsari ” yang beralamat di Desa Banyuanyar, Kecamatan Gurah.

Campursari
Seni Campursari merupakan jenis seni musik yang mengkolaborasikan musik tradisional dan musik modem terutama pada alat musiknya yang memadukan antara gamelan dan alat musik modem seperti gitar, organ dan drum. Lagu-lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu Jawa yang populer dimasyarakat. Dalam penampilannya seni Campursari menampilkan penyanyi-penyanyi yang sudah cukup temama dan tidak jarang pula dalam penyajiannya menampilkan pelawak sebagai hiburan.

Seni Ludruk
Kesenian Ludruk ini merupakan kesenian yang menampilkan bentuk seni peran. Cerita yang ditampilkan dalam kesenian inipun beragam mulai cerita masa kerajaan sampai dengan masa perjuangan.
Ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur dan berkembang di seluruh wilayah Jawa Timur, di Kabupaten Kediri Kesenian Ludruk juga berkembang dengan baik. Salah satu organisasi kesenian Ludruk a i Kabupaten Kediri adalah Ludruk “Kusuma Baru”, Alamat: Desa Payaman, Kecamatan Plemahan.

Seni Wayang Orang (Wayang Uwong)
Kesenian Wayang Orang, Seperti halnya kesenian di Jawa pada umumnya, Kesenian wayang orang terdapat juga di wilayah Kabupaten Kediri, kesenian ini menampilkan cerita adegan demi adegan dengan mengisahkan lakon Mahabarata maupun Ramayana. Salah satu organisasi kesenian di Kabupaten Kediriadalah Wayang Orang “Sari Budoyo” , Alamat: Jalan Pamenang, Katang, Kecamatan Gampengrejo.

Seni Wayang Kulit
Wayang Kulit merupakan kesenian Jawa yang bernuansa Islami yang mengadaptasi budaya pra-Islam dengan proses akulturasi budaya yang sangat kental, kesenian wayang berkembang pesat di Jawa. Pada mulanya seni pewayangan dikembangkan oleh Wali Songo sebagai penyebar Agama Islam.

Di Kabupaten Kediri ada beberapa bentuk wayang kulit yaitu:
1. Wayang kulit gaya Jawa Timuran
2. Wayang kulit gaya Surakarta
3. Wayang kulit gaya Yogyakarta
Kesenian wayang yang terdapat di Kabupaten Kediri ini tergabung dalam sebuah wadah organisasi PEPADI Alamat Sekretariat: Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten.

Seni Atraksi Akrobatik
Seni Atraksi Akrobatik ini terdapat di Kecamatan Kras, atraksi ini menampilkan kepiawaian dan ketrampilan sang pawang dalam bergulat dengan binatang buas yang sangat berbahaya, tak jarang dalam melaksanakan aksinya sang pawang melakukan ritual keselamatan terlebih dahulu. Salah satu bentuk atraksi yang ditampilkan dalam kesenian ini antara lain adalah duel dengan King Kobra dan duel dengan buaya, Grup seni atraksi ini dipimpin oleh Mbah Slamet, alamat di Kecamatan Kras.

Debus
Debus merupakan seni akrobatik yang menampilkan unsur kekebalan tubuh sebagai daya tariknya, atraksi yang ditampilkan para pemainnya antara lain adalah berguling-guling di atas pecahan kaca, digantung diatas tiang, diseret dengan kendaraan roda empat dan sebagainya. Atraksi ini menuntut kepiawaian dan ketrampilan pemainnya.

Seni Bantengan
Seperti halnya kesenian jaranan, kesenian bantengan merupakan kesenian rakyat yang tumbuh subur di Kabupaten Kediri khususnya di Daerah timur Kabupaten Kediri, yaitu di Kecamatan Kepung, atraksi yang ditampilkan dari kesenian ini adalah atraksi banteng yang ditarik oleh beberapa orang, tak jarang pemainnya mengalami trance (Ndadi, Jw.).
Dan menampilkan atraksi memakan ayam hidup-hidup salah satu Kesenian bantengan ada di Desa Karang Dinoyo, Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil Kebudayaan Kabupaten Kediri. Kantor Parsenibud Kabupaten Kediri, Kabupaten Kediri, 2006. 

Reog Ponorogo, Seni Tradisional yang Magis

-Agustus 2010-

Reog, salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur semakin terkenal setelah kontroversi klaim Malaysia sebagai pemilik kesenian itu. Ponorogo dipastikan sebagai tanah kelahiran Kesenian Reog yang sedikit berbau magis ini. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pad a abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak kerajaan yang berperilaku korup dan diatur oleh kelompok pedagang asal China. Ia melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ki Ageng Kutu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri ilmu kekebalan diri. dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Ia mengharapkan anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog. sebagai “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, simbol Kertabumi. Di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para pedagangChina yang mengatur segala gerak-geriknya.

Jatilan yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Gemblak ini menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada di balik topeng badut merah. Ki Ageng Kutu disimbolkan dalam bentuk kekuatan besar, sendirian menopang berat topeng singabarong yang beratnya mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan menyerang perguruan Ki Ageng Kutu. Warok dengan cepat bisa diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran. Namun kesenian Reog masih diperbolehkan pentas karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dengan menambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa. Sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tarian menggambarkan perang antara Kerajaan Kediridan Kerajaan Ponorogo yang mengadu ilmu hitam. Parapenari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat membawakan tarian. Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewaris budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan secara turun temurun. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya jika tidak memiliki garis keturunan yang jelas. Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehat sebagai pegangan spiritual ataupun ketenteraman hidup. Seorang warok harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Dahulu warok dikenal mempunyai ban yak gemblak, laki-laki belasan tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang berakar pada komunitas seniman reog.

Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.

Pada masa sekarang lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari Reog Ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkon estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah Reog Ponorogo dengan format festival seperti sekarang.

Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggatanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog NasionAl. Reog Ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya. Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional.

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongon) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penonton.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profile Jawa timur: The Great of East Java, Surabaya: Agustus 2010, Hlm. 189-196.

Bathara Kathong Membumikan Reog

-Desember 2003-

Reog identik dengan Ponorogo, kabupaten seluas 1.372,78 M2, di Jawa Timur. Daya ekspansi kesenian tradisional ini luar biasa hebat. Mampu menembus mancanegara. “Bahkan, Australia, Amerika Serikat, dan Belanda telah memasukkan kesenian tradisional reog menjadi bagian kurikulum pendidikan mereka, ” kata Bupati Ponorogo, Dr H Markum Singodimedjo, saat membuka lomba Langen Beksan, di pendapa kantornya.

Ketenaran kabupaten ini tak lepas dari sentuhan Batara Kathong, bupati pertama. Dialah yang “membumikan” reog di daerahnya. Lewat kesenian ini dia menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Istilah warok (tokoh pemain reog) disinyalir berasal dari kata wara’a, orang yang menjaga diri dari perbuatan dosa. “Kesempurnaan diri itulah Ponorogo (sampurnaning raga),” kata RM. Soehardo, Ketua DPRD setempat.

Ihwal bupati pertama tersebut diyakini masih ada hubungan dengan Keraton Jogjakarta. Semasa keruntuhan Kerajaan Majapahit dan munculnya Kerajaan Demak, debut Batara Kathong dimulai. Pusat pemerintahan yang semula berada di sekitar Kelurahan Sentono, dipindahkan ke Kutha Tengah (pendapa kantor Bupati sekarang). Kelurahan Sentono berjarak sekitar 5 Km dari pusat kota arah ke timur. Dari Terminal Selo Aji dapat ditempuh dengan angkudes jurusan Jenangan, atau langsung naik ojek dari terminal. Ingin lebih santai lagi, pilih becak.

Jasa Betara Kathong meletakkan dasar-dasar pemerintahan di wilayah Ponorogo amat besar. Pantaslah mendapatkan penghargaan dan diingat perjuangannya. Kawasan makamnya cukup menarik. Tepat di gang Raden Kathong berdiri sebuah gapura. Konstruksi gapura itu lebih condong berbentuk kubah. Tak ada ornamen mencolok, warnanya pun putih. Tak berbeda jauh dengan lingkungan makam. Pagar dinding batu bata mengelilingi makam, dan membagi menjadi dua pintu. Pintu pertama masuk pada bagian pelataran. Dua batu besar tergeletak membujur ke pintu ke dua.

Memasuki kawasan utama kompleks makam Batara Kathong, disambut wangi pohon kamboja diiringi kicauan burung kutilang dan trocokan. Nuansa hening mencuat. Semilir angin dari barongan (serumpun bambu) menggerakkan bulu di kulit. Merinding. Untuk memasuki kompleks rnakarn ini pastilah melewati juru kunci. Mbah Mani namanya. Tanpa sepengetahuannya, dapat dipastikan tidak bisa melihat-melihat dari dekat cungkup (nisan) makam.

 Grebeg Sura
Setiap tanggal 1 Sura, masyarakat Ponorogo selalu menyambutnya dengan meriah. Begadang semalam suntuk. Tak boleh berteduh. Semua berjalan rnenuju ke alun-alun. Di sanalah mereka duduk dan menunggu saat pergantian tahun. Bupati Markum Singodimedjo melihat potensi peringatan satu Sura amat besar dijadikan even tahunan. Dalam kemasan Festival Reog Ponorogo, tradisi Suroan itu kian marak.

Perhelatan bermula di makam Batara Kathong di Desa Sentono, Kecamatan Jenangan. Upacara Boyong Pusaka (kirab pusaka) peninggalan bupati pertarna itu, diarak keliling kota menuju Kutha Tengah. Jauh hari sebelumnya, semua pusaka telah dibersihkan di Telaga Ngebel. Konon, sebelum memindah pusat pemerintahan, Batara Kathong sempat mensucikan diri di telaga ini. Grebeg Sura 1424 H, delapan bulan lalu saja, dimeriahkan 507 unit reog. Jumlah itu sama dengan umur Ponorogo, 507 tahun. Tahun 2004 nanti (1 Sura 1425 H) direncanakan lebih meriah lagi. “Semua seni budaya Ponorogo kami tampilkan. Tapi settingnya yang bagus,” kata bupati yang sudah dua periode memimpin “bumi reog” tersebut. Gayut dengan rencana itu dia telah memerintahkan Sekretaris Kabupaten, Toni, untuk menimba ilmu ke Negeri Cina. Pasalnya, sementara ini negeri tirai bambu itu sangat jago dalam menampilkan tari-tari kolosal. Nah, itu baru seru, kelak. Azmi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 24, 12 -26 Desember 2003, Tahun I