Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Ds. Tapelan Kec. Ngraho Kab. Bojonegoro

generasi-keempat-kaum-saminDidalam melaksanakan perkawinan, anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka. Masyarakat Samin menganggap sah menurut adatnya apabila seorang pemuda telah menyukai seorang gadis maka pemuda tersebut beserta orang tuanya maupun para perangkat desa “jawab” artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah peristiwa lamaran diterima, perjaka tersebut “Ngawulo” yaitu dengan cara magang atau nyuwito artinya mencari pengalaman atau nyonto di rumah orang tua gadis dan menjadi “Tahanang” artinya perjaka tersebut harus tinggal di rumah gadis dengan maksud agar tidak diganggu gadis lain.

Selama ngawulo pemuda tersebut bekerja membantu orang tua gadis sanbil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan : dari latar belakang inilah, maka peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana pelaksanaan perkawinan adat masyarakat Samin dengan mengambil judul “Adat Perkawinan Masyarakat Samin di Desa Tapelan Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro”.

Masyarakat Samin termasuk golongan masyarakat yang menyerderhanakan semua proses kehidupan sosialnya, termasuk dalam hal perkawinannya. Dalam masyarakat Samin masih berlaku sistim perjodohan, dari perjodohan ini kebanyakan dari meraka menerima perjodohan yang diberikan oleh orang tuanya. Didalam melaksanakan perkawinan anak-anak Samin harus mengikuti adat istiadat yang ditetapkan oleh tradisi mereka yaitu dengan cara magang atau nyuwirto artinya mencari pengalaman atau nyonto (mencontoh). Proses magang ini sama artinya dengan orientasi atau pengenalan sifat masing-masing calon mempelai apabila sudah ada kecocokan hati pada kedua calon mempelai maka dilanjutkan dengan melamar orang tua gadis

Masyarakat Samin masih memakai adat perkawinan yang biasa mereka lakukan, mekipun sekarang nampak perubahan dalam melaksanakan perkawinan guna mengikuti anjuran pemerintah. Pada waktu dulu sebelum melakukan perkawinan, seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dia dan orang tuanya beserta perangkat desa harus “jawab” yang artinya melamar pada orang tua gadis. Setelah pihak perempuan setuju dengan lamaran pihak lelaki, perjaka tersebut harus “ngawulo” atau “nyuwito” dengan mencari pengalaman/ nyonto dirumah orang tua gadis. Selama ngawulo tersebut, perjaka membantu orang tua gadis sambil menunggu hari baik untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Dulu sistem ngawulo ini masih sering berlaku apalagi jika calonnya masih kecil (dalam arti belum dewasa/ aqil balik), si perjaka harus ngawulo bertahun-tahun sampai calonnya tumbuh menjadi dewasa, tetapi cara ngawulo tersebut tidak dipakailagi walaupun nampak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat karena pada umumnya sekarang baru diperbolehkannya kawin jika sudah dewasa/ aqil balik.

Pelaksanaan perkawinan yang terjadi pada masyarakat Samin masih tergolong sederhana, hal itu terlihat pada peristiwa lamaran. Saat melakukan lamaran laki-laki tersebut meminta ijin dan restu dari bapak dan ibu gadis yang dimaksud, setelah mendapat ijin dan gadis itu menyatakan setuju untuk dinikahi maka selanjutnya adalah memberitahukan hal itu pada orang tua untuk berkumpul menyaksikan calon pengantin laki-laki berjanji saling mencintai dan saling setia. Janji yang diucapkan “derek kulo ingkang dateng ngiki supoyo sampeyan seksekno ucap kulo, turun kulo wedok, kulo nglegakake janji jeneng lanang, kulo seksekno kandani, yen janji podo duweni janji, karo nyekseni bojonipun dinikahi, tomponen le?” dan pengantin laki-laki jawab “nggih pak”. Setelah acara tersebut selesai, selanjutnya mendatangkan naib dan moden untuk menyaksikan acara yang kedua kali dalam perkawinan mereka dan mencatat secara hukum. Dalam melangsungkan perkawinan dihadapan naib, wali menyerahkan sepenuhnya kepada naib untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki tersebut. Setelah itu naib memberikan penjelasan sekali lagi bahwa yang akan dinikahi sudah saling mencintai dan tidak ada paksaan untuk dinikahi dan kejelasan mengenai nama ataupun orang tuanya. Setelah semua dirasa jelas dan saksi- saksi sudah lengkap maka selanjutnya naib membacakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami yang dipenuhi dalam rumah tangga nanti. Setelah pengantin laki-laki menjawab bersedia, selanjutnya naib membimbing calon pengantin laki- laki mengucapkan kalimat syahadat dihadapan para saksi dan setelah itu dinyatakan sah menurut naib maupun para seksi maka selanjutnya diadakan penandatanganan bukti surat nikah oleh kedua mempelai. Setelah itu diadakan doa bersama yang dipimpin oleh naib agar pernikahan yang dilangsungkan menjadi langgeng dan bahagia dengan harapan menjadi keluarga yang sakinah.

Setelah proses-proses perkawinan dihadapan naib selesai kemudian diadakan “Brokohan”. Brokohan ini mengandung arti suatu perayaan selamatan atau syukuran yang ditunjukkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga langgeng atau rukun. Perayaan ini dilakukan secara sederhana (tergantung kedua binansial rumah tangga). Adapun perlengkapan brokohan itu yang utama adalah tumpeng yang ditempatkan di tampah yang terdiri dari nasi berada di tenggah dan dikelilingi lauk pauk yang berupa urap- urapan, daun mengkudu yang artinya supaya keluarga yang dibina oleh pengantin menjadi sehat lahir dari penyakit. Kemudian telur yang berasal dari ternaknya sendiri yang bertujuan kedua mempelai dikaruniai anak, ikan laut (gerih) yang bertujuan bercukupan sandang pangan. Dan juga dilengkapi lauk-pauk lainnya sebagai bahan perlengkap saja. Selain itu juga ada nasi kabuli yang ditempatkan dipiring yang lauknya terdiri dari serondeng, peyek kedelai, dan ayam goreng. Hal ini bertujuan agar cita-cita dari keluarga yang akan dibina akan dikabulkan. Selain itu juga ada buah yaitu pisang raja yang dimaksudkan pengantin menjadi raja sehari dan minumnya air putih. Dalam brokohan itu mereka hanya mengundang sanak famili dan tetangga sekitar saja. Dalam perkawinan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya dan tidak dilengkapi dengan pakaian adat atau perlengkapan sebagaimana layaknya seorang pengantin. Dan dalam acara tersebut mereka tidak menerima sumbangan berupa uang, tetapi mereka bisa menerima sumbangan berupa bahan makanan (bahan- bahan dapur).

Apabila ada lingkungan Samin tedapat beberapa orang yang dalam melaksanakan perkawinan tidak sesuai dengan adat yang semestinya, maka mereka akan menjadi bahan pembicaraan dan dikucilkan dari kalangan mereka. Hal itu dilakukan karena mereka melakukan hal yang bertentangan dengan wong Sikejo atau tiyang Sikep ( sebutan orang Samin) yang artinya orang Samin atau masyarakat Samin yang mempunyai sikap atau sikap hidup tersendiri yang dapat dijadikan sebagai cara atau adat istiadat. Jadi pengertian wong sikap yaitu orang atau masyarakat yang mempunyai cara adat atau istiadat tersendiri yang harus dipatuhi. Walaupun dalam masyarakat Samin masih kental dengan adat perkawinannya namun masyarakat Samin dapat dengan mudah untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada terutama dalam hak perkawinan dan sangat patuh terhadap peraturan pemerintah. Hal itu terbukti dengan perkawinan KUA yang mana masyarakat Samin sudah mulai memahami arti pentingnya pencatatan maupun peraturan pemerintah tersebut. Walaupun pengetahuan mereka masih sangat minim sekali tentang UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan mereka berupaya untuk mengikuti segala peraturan.

Dari uraian di atas jelas dikatakan bahwa pelaksanaan adat perkawinan masyarakat Samin masih dipertahankan hanya saja sekarang pelaksanaanya sudah melakukan anjuran dari pemerintah yaitu dengan melakukan perkawinan mereka di KUA.

 

——————————————————————————————-Sarjono, Panitia Penggali dan Penyusunan Sejarah Bojonegoro.1998.

Perubahan Sosial-Budaya Masyarakat Samin

Perubahan Sosial-Budaya dan Potensi Pembangunan

Masyarakat-Samin.Tahap-tahap kemajuan harus dilalui dengan merangkak lambat. Mereka menolak mesin seperti traktor, huller, dan lain-lain, karena alat-alat tersebut mempersempit penggunaan tenaga manusia setempat. Seperti diketahui, di daerah Kesaminan seperti Kutuk, Tapelan, Tlagawangu, Nginggil, masih banyak terjadi hal yang bila dilihat dari kacamata sekarang kurang tepat.

Ambillah umpamanya “bowong” (kebo-wong), yakni penggunaan tenaga manusia sebagai pengganti lembu untuk menarik bajak dan gilingan, penyosohan padi oleh manusia, pembuatan gula aren dan tebu dengan tenaga manusia, semata-mata lantaran keengganan terhadap produk teknologi mutakhir.

Apakah mereka ‘nonpraktis’ dalam kehidupan sehari-hari, dapat dibuktikan dari kenyataan bahwa di daerah Pati dan Brebes, Samin njaba, Samin Anyar, telah meninggalkan tata cara kekunoan tersebut, dan menganut kelaziman di desa masa kini (Sastroatmodjo, 2003:47-48).

Dalam hal ini, Wong Sikep, yakni Samin yang dulunya fanatik – tapi kini meninggalkan ajaran dasar dan memilih agama formal, yakni Budha Dharma, misalnya di Klopoduwur (Blora), Purwasari (Cepu), dan Mentora (Tuban) – hanyakelihatan Saminnya bila kita lihat dari kebersahajaan dan kesenangan berpakaian polos hitam dari bahan kasar, sedang kredo agamis sepenuhnya telah Budhasentris.

Mungkin akan lebih jujur lagi seandainya terhadap masyarakat etnik semacam ini kita bersikap toleran dalam hal jamahan wawasan, sedangkan untuk membawa kelompok terbesar itu pada era modernisasi diperlukan pemahaman mendasar tentang watak dan kepribadian suku Samin tersebut.Pendekatan dialogis, pendekatan kekeluargaan adalah cara yang seyogianya ditempuh, terutama apabila kita hendak mengenalkan suatu motivasi yang bersangkutan dengan teknik-teknik kepraktisan hidup sehari-hari.

Stimulasi terhadap gerak tertentu yang liat, bisa digiatkan melalui ceramah-ceramah gaya pedesaan, dengan peragaan teatrikal dan sosio-drama yang sugestif. Para pemikir bisa menyiapkan ancang- ancang terlebih dahulu sebelum memulai proyek penyantunan suku ini, tanpa mengenal bahasa yang tepat dan seragam, sebagaimana bisa digunakan untuk kalangan bersangkutan, orang tak akan menemukan kunci pemecahan isolasisme Samin (Sastroatmodjo, 2003:73-76).

Salah satu alternatif untuk mengajak orang untuk mendarmabaktikan hidupnya secara utuh adalah menggugah jiwanya. Petugas lembaga tertentu dan aparat pemerintah setempat sering melakukan kekeliruan, karena memperhitungkan target, dan bukan melihat sudah atau belum efektifnya ajakan tersebut. Istilah ‘tertutup’ untuk kebudayaan sesuangguhnya hanyalah cara pilih yang spekulatif, di kala kelompok subkultur telah sia-sia melawan nasib.

Antropolog terkenal Clifford Geertz pernah mengajukan pertanyaan sederhana: “Is human nature universalT Secara tegas kemudian dicobanya memberikan jawaban bahwa watak manusia tidak bersifat universal lantaran tumbuh sebagai unfinished animal (hewan yang belum selesai) yang seterusnya disempurnakan oleh lingkungan budaya tempat ia hidup. Oleh sebab itu, tampak betapa beragamnya variasi kemanusiaan, kendatipun nyata bahwa dunia teknologi bercorak universal.

Kita bisa mengimpor truk, traktor, pesawat pembuat hujan, dan seperangkat alat bantu modern pertanian. Namun penggunaan alat-alat itu sepenuhnya bergantung kepada manusia yang mendayagunakannya, yang mesti dididik khusus untuk itu, di mana selain skill juga seluruh kepribadian operatornya. Tanpa pembentukan kepribadian itu, mesin-mesin tersebut segera berubah menjadi besi tua.

Dalam pembangunan kelompok etnik tertentu, tampilnya pemerhati yang tekun sebagai penyantun budaya digerakkan oleh dua faktor, yakni faktor dinamik dan pengendali stabilitas. Persoalannya kini, sudah sampai di manakah kita bergerak ke arah penyelesaian faktor objektif ini, di samping menyelesaikan faktor objektif dalam mekanisme yang berlangsung berupa kompetisi aspirasi dan kepentingan yang puspa ragam ini? Homogenitas orang Samin kiranya lebih memper mudah bentuk pendekatan kita atasnya, lebih-lebih dalam studi antropologis yang senantiasa memiliki pesona kuat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm.  106 – 107

Religi dan Kegiatan Ritual, masyarakat Samin

mbah-hardjo-kardi-generasi-keempat-kaum-saminAda orang yang beranggapan Saminisme itu sebuah agam. Katanya Saminisme itu tidak kawin di masjid menurut Islam dan tidak pula di gereja menurut Kristen. Tidak melakukan sunat (khitan), dan tidak pernah pula menyebut nama Tuhan.

Dengan demikian, mereka berkesimpulan bahwa orang-orang Samin itu bukan penganut agama Islam, bukan penganut agama Kristen, bukan penganut agama Hindu dan Budha pula. Tetapi mereka mempunyai agama sendiri yaitu agama “Samin”.

Pendapat seperti di atas itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (Soepanto-Djaffar, 1962:39). Selanjutnya, Soepanto-Djaffar (1962:39), menyatakan saminisme bukan suatu agama, sebaliknya bukan pula tidak percaya kepada agama. Saminisme tidak membeda-bedakan agam. Semua agama itu baik, maka Saminisme tidak mengingkari agama. Dan itulah paham Samin yang pokok.

Menurut HarryJ. Benda (dalam Sastroatmodjo, 2003:48-49), orang Samin asli sering menyebut dirinya ” 13matting Agama Adam Kawitan”, yang meyakini tujuan hidup yakni kesempurnaan umat manusia, sedangkan manusia hidup di tengah-tengah Urip, sementara kehidupan ini abadi, dan manusia diikat oleh cakra panggilingan atau jalan karmanya sendiri-sendiri. Untuk menebus dosanya selagi di dunia, manusia harus mengalami reinkarnasi alias penitisan beberapa kali.

Di pihak lain, Benda (dalam Prasongko, 1981:36) gerakan Samin merupakan tradisi Abangan di Jawa Orang Samin mengaku menganut agama Adam. Tentang agama yang dianutnya ini mereka menegaskan bahwa “Agama nikugaman, Adampangucape, mangaman lanang . Tetapi orang Samin tidak membedakan agama yang ada,mereka menganggap semua agama baik, dan mereka merasa memilikinya:

“Agama Islam ya duwe, agama Katholikya duwe, Budha ya duwe, wong kabehne iku apik”

Agama Islam punya, agama Katholik  punya, agama Budha  punya, sebab semua itu  baik”

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 102 -103

Sumber gambar: Berita Jati.COM media online

Kekerabatan/Pertalian Kekeluargaan, masyarakat Samin

Sistem Kekerabatan dan Pertalian Kekeluargaan

rumah-mbah-hardjo-kardi-sesepuhsaminDalam masyarakat Samin yang mengikat aktivitas bersama adalah keluarga batih atau keluarga inti (nuclear family), rumah tanggayang mereka menyebutnya somah (household, dan saudara- saudara orang tua dari pihak ayah maupun dari pihak ibu, orang tua isteri, saudara-saudara orang tua isteri, juga para kemenakan, anak-anak dari saudara orang tua dari pihak ayah maupun dari pihak ibu Kelompok kekerabatan atau kelompok keturunan ini disebut dengan istilah kindred. Anggota kindred akan berkumpul apabila seseorang memulai aktivitas-aktivitas,misalnya mengadakan hajatan atau a dang akeh.

Selain ikatan genealogis, aktivitas hidup dalam masyarakat Samin juga dilihat oleh perasaan sepaham. Perasaan persamaan paham ini diucapkan dengan sebutan sedulur. Untuk hubungan seketurunan disebut sedulur tenan, dulur tenan, sedulur dhewek, dulur dhewek, atau iseh kulit. Meskipun demikian, kebanyakan orang Samin (di Tapelan, khususnya) kurang memiliki daya ingatyang kuat atau panjang, artinya untuk menyebut hubungan kekerabatan yang lebih jauh dari generasi kakek (mbah) ke atas atau ke samping. Oleh karena itu kalau ditanyakan mereka akan mengatakan “tidak tahu”. Juga untuk mengingat anggota kekerabatan yang tempat tinggalnya tidak dalam satu komunitas, misalnya ketika ditanyakan, “Apakah kamu kenal dengan Pak Hardjo Mingun yang tinggal di Desa Margomulyo?” Ia menjawab, “Tidak tahu.” (terjemahan bebas). Paling mereka mengatakan bahwa mempunyai sedulur yang ada di Klopoduwur atau di Kayen, Pati.

Bagi orang Samin keluarga batih yang ideal itu keluarga batih yang tinggal dalam satu rumah. Artinya dalam satu rumah itu hanya dihuni oleh satu keluarga batih, yakni suami, isteri, dan anak- anaknya yang belum menikah. Namun kenyataannya seperti yang ditemui di lapangan tidak demikian. Rata-rata dalam satu rumah itu dihuni oleh lebih dari satu keluarga batih, atau anggota kerabat yang lain, misalnya kemenakan atau keponakan, orang tua dari pihak suami atau dari pihak isteri. Itulah yang kemudian disebut sebagai rumah tangga atau somah. Somah inilah dalam masyarakat Samin berperan sebagai pengikat aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh seseorang.

Pada masyarakat Samin keluarga batih baru yang tinggal bersama dalam satu rumah dengan orang tua, belum disebut somah atau rumah tangga, walaupun ia makan dari dapur sendiri. Masyarakat Samin akan mengakui sah keluarga batih baru itu menjadi keluarga apabila telah memiliki pintu masuk untuk menerima tamu sendiri. Jadi keluarga batih baru itu belum disebut somah selama belum memiliki pintu masuk sendiri. Artinya ia dikatakan somah apabila tinggal dalam satu rumah sendiri tidak bersama orang tua. Pengertian somah atau bateh atau keluargo menurut orang Samin anggotanya terdiri atas suami, isteri, dan anak-anaknya yang belum menikah.

Kelompok kekerabatan atau kelompok keturunan lain yang dikenal masyarakat Samin adalah kelompok kekerabatan yang lebih luas daripada keluarga batih. Kelompok kekerabatan ini disebut bateh dhewek. atau isih kulit. Bateh dhewek atu iseh kulit terjadi karena hubungan genealogis dan juga karena ikatan perkawinan. Dalam hal ini hubungan kekerabatan diperhitungkan menurut garis ayah maupun garis ibu. Di dalamnya tercakup saudara sekandung baik laki-laki maupun perempuan ayah dan juga saudara sekandung baik laki-laki maupun perempuan ibu; orang tua suami dan ibu; saudara- saudara orang tua suami dan ibu; anak-anak saudara suami dan ibu; suami dan isteri anak (anak mantu) dan anggota kekerabatan lain yang diperhitungkan berdasarkan keturunan.

Masyarakat Samin di daerah penelitian,yakni Dusun Tapelan, Kecamatan Ngraho, dan Desa Margomulyo sulit untuk mengingat hubungan kekerabatannya. Hal itu karena anggotanya luas, lagi pula tersebar tidak hanya di wilayah Kabupaten Bojonegoro, tetapi juga sampai di luar wilayah Kabupaten Bojonegoro, seperti Blora, Tuban, Pati, Grobogan, dan Kudus.

Berdasarkan uraian di atas daopat dikatakan bahwa sistem kekerabatan masyarakat Samin bersifat bilateral (bilateral descent), yang menghitungkan hubungan kekerabatan melalui garis keturunan laki-laki maupun garis keturunan perempuan. Hal itu sangat jelas apabila dirunut dari istilah-istilah kekerabatan pada orang Samin. Misalnya ego (individu sebagai pusat untuk menyebut kerabat), menyebut kaum kerabat anggota kekerabatan ayah (laki- laki) tidak berbeda dengan menyebut anggota kekerabatan ibu (perempuan). Istilah atau sebutan uwa atau wa atau pak dhe atau dhe, orang Samin memakai istilah pak 1w dan pak dhe diberikan kepada kakak laki-laki ayah ego, juga kepada saudara laki-laki ibu ego. Mbok wa/mbok dhe untuk menyebut kakak perempuan ayah ego, maupun kakak perempuan ibu ego. Untuk menyebut adik laki- laki ayah ego, maupun kakak perempuan ibu ego. Untuk menyebut adik laki-laki ayah ego adalah pak lik/lik. Adik perempuan ayah ego disebut bibek.

Apabila dicer mati penggunaan istilah kekerabatan pada orang Jawa, khususnya dalam masyarakat Samin, tampak perbedaan istilah yang dipakai ego untuk generasi ketiga ke atas {pak wa, mbok wa untuk menyebut kakak laki-laki dan perempuan ayah/ibu; lik, bibek untuk menyebut adik laki-laki dan perempuan ayah/ibu). Tetapi untuk generasi ketiga ke bawah disebut dengan istilah yang sama. Istilah kekerabatan seperti ini oleh Murdock (1965:105) dikatakan mengabaikan prinsip polarity. Kebanyakan orang Samin hanya mengenal istilah-istilah untuk menyebut tiga generasi ke atas (mak,yung, mbah, buyut).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 99 – 102

Sumber gambar: Berita Jatim.COM media online

Tatacara Kematian Orang Samin

mbah-hardjo-kardi-sesepuh-saminDalam hal kematian, masyarakat Samin juga mempunyai tatacara sendiri. Menurut anggapan orang Samin orang itu tidak mati, tetapi salin sandhangan. Maksudnya apabila roh lepas dari raga (jasmani, tubuh), ia mencari tempat baru, yakni ikut anak cucu. Hal itu sesuai dengan ajaran Samin Surosentiko:

” Wong enom mati uripe titip sing urip. Bayi uda nangis nger niku suksma ketemu raga. Dadi mulane wong niku boten mati.Nek ninggal sandhangan niku tiggi. Kedah sabar lan trokal sing diarah turun- temurun. Dadi ora mati nanging kumpul sing urip. Apik wong selawase sepisan, dadi wong selawase dadi wong .

Orang Samin tidak mengenal perkataan wafat, meninggal, dan mati. Tetapi mereka mengenal perkataan “salinpanggonan” atau “salin sandhang sebagai pengganti kata-kata wafat, meninggal, dan mati. Mereka tidak terlalu bersedih hati dalam menghadapi”sedulur- sedulur” yang “salin sandhang itu, kalau dibandingkan dengan orang-orang di luar lingkungannya. Hal itu mungkin disebabkan karena mereka tidak mengenal alam kehidupan akhir, alam baka yang merupakan hari-hari pertimbangan bagi orang-orang yang beragama Islam, Kristen, Budha, dan Hindu.

Mereka percaya bahwa “salin sandhang itu adalah bebas tugas kehidupan mereka dan selanjutnya tidak perlu dibicarakan lagi, karena sudah tidak bergaul dan kelihatan bersama-sama mereka. Pada malam hari pertama sesudah meninggal, mayat itu diletakkan di bawah pohon-pohon kayuyang berada di dekat rumah si mati itu.

Pada siang harinya sebelum itu keluarganya telah mengumpulkan kayu api guna menghidupkan api unggun pada malam pertama itu. Api unggun ini menyala semalam suntuk di dekat mayat itu, dan dijaga bersama-sama atau ganti-berganti agar mayat itu tidak diganggu oleh hal-hal di luar kemampuan mereka.

Api unggun yang menyala sepanjang malam di dekat pembaringan mayat pada malam pertama itu disebut “setran” menurut istilah mereka, dan mayat yang didekatkan aipi unggun itu disebut”disetra”. Karena kelengahan penjaga api unggun, maka pernah terjadi menurut informan, mayatyang sedang “disetra” itu dimakan binatang buas. Untuk mencegah kemungkinan terulang kembali kejadian itu, selanjutnya mayat itu tidak lagi diletakkan di bawah pohon-pohon, tetapi cukup di dalam rumah saja asal disertakanlah pohon-pohon dan api unggun itu. Api unggun yang kecil dan pohon-pohon simbolis yang dilakukan dalam rumah akhirnya sudah cukup sebagai pengganti pohon-pohon besar dan api unggun yang besar pula.

Pada malam pertama itu selain keluarganya datang pula tetangga-tetangganyayang lain untuk turut bersama-sama duduk dekat mayat itu serta menghidupkan api unggun dan bercakap- cakap. Yang dipercakapkan adalah hal ikhwal sehari-hari.

Keesokan harinya barulah mayat itu ditanam di pekarangan rumah si mati itu. Mereka tidak memiliki makam tertentu. Di atas timbunan mayat ditanam orang pohon yang berguna bagi keturunannya, biasanya pohon pisang. Wong Samin tidak mengenal alam akhir begitu pun mereka tidak mengenal sajen atau sesembahan-sesembahan lainnya yang ditujukan kepada kekuatan- kekuatan gaib.

Orang Samin yang meninggal tidak dimakamkan di makam umurn Ini terutama terjadi pada zaman kolonial. Suatu dugaan mungkin karena orang-orang Samin telah mendapat predikat sebagai kelompok yang menentang pemerintah kolonial Belanda, suka mengadakan perlawanan. Ada kecenderungan orang yang meninggal dimakamkan di mana dia mau, dan biasanya di sekitar kediaman mereka dengan diberi tanda tertentu. Namun hal itu telah berbeda untuk zaman sekarang. Mungkin karena hubungan dengan masyarakat di luar kelompok Samin ini memberikan perubahan cara penguburan orang meninggal dunia (Mumfangati, 2004:31-32).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 97 -99

Sumber gambar: Berita Jatim.COM media online

Adat Perkawinan Masyarakat Samin

mbah-hardjo-kardi-sesepuh-tokoh-dan-generasi-keempat-kaum-saminDalam perkawinan masyarakat Samin salah satu andaran Kyai Samin terungkap dalam Pangkury yang berbunyi demikian:

Saha malih dadya garan,
anggegulang gelunganing pambudi,
palakrami nguwoh mangun,
mamangun treping widya,
kasampar kasandhung dugi prayogantuk ambudya atmaja tama, mugi-mugi dadi kanthi. (Serta lagi yang mesti kita jadikan senjata)

untuk melatih ketajaman budi,
dapat melalui perkawinan,
yang membuahkan kesanggupan,
yakni semakna dengan merain ilmu yang luhur,
karena dalam perkawinan itu,
kita jatuh bangun dalam upaya mencari ‘cukup’
apalagi tatkala menehasrati aatangnya anak-keturunan,
yangkelak menjadi kawan,
dalam mengarungi bahtera lehidupan)

Tegasnya, menurut ajaran Kesaminan, perkawinan adalah wadah prima bagi manusia untuk belajar, karena melalui lembaga ini kita dapat menekuni ilmu kesunyatan. Bukan saja karena perkawinan nanti mebuahkan keturunan yang akan meneruskan sejarah hidup kita, tetapi juga karena sarana ini menegaskan hakikat ketuhanan, hubungan antara pria dan wanita, rasa sosial dan kekeluargaan, dan tanggung jawab. Jelas, masyarakat Samin memandang sakral terhadap lembaga perkawinan (Sastroatmodjo, 2003:38-39).

Terbawa oleh sikapnyayang menentang pemerintah kolonial Belanda itu, kemudian orang-orang Samin membuat tatanan sendiri, adat-istiadat sendiri, seperti adat-istiadat perkawinan dan kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut kematian. Pernikahan dilakukan di masjid, tetapi mereka menolak pembayaran mas kawin, alasannya karena penganut “agama Adam”. Lagi pula pembayaran untuk menyeleng gar akan upacara perkawinan dianggapnya melanggar ajaran. Untuk menghindari kesalahpahaman dari kelompok yang bukan Samin, perkawinan kemudian dilakukan di Catatan Sipil (Mumfangati, 2004:29).

Selanjutnya, Mumfangati (2004:29), menjelaskan pada dasarnya adat perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Samin adalah endogami, yakni pengambilan jodoh dari dalam kelompok sendiri, dan menganut prinsip monogami. Dalam pola perkawinan ini yang dipandang ideal adalah isteri cukup hanya satu untuk selamanya: bojo siji kanggo salawase turun-temurun. Sebagai landasan berlangsungnya perkawinan, adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Kesepakatan ini merupakan ikatan mutlak dalam lembaga perkawinan masyarakat Samin.

Sebagaimana halnya dengan adat-istiadat lainnya, adat- istiadat perkawinan masyarakat Samin akan peneliti deskripsikan menurut gaya dan irama masyarakat tersebut. Tidak dapat dihindari dalam masyarakat mana pun juga, perkawinan itu dimulai dengan lamaran dan prae lamaran. Yang dimaksud dengan prae lamaran adalah persesuaian paham antara pihak lelaki dan orang tua perempuan, antara si jejaka dan si gadis. Baru sesudah itu meningkat ke satu tingkatan yang lebih maju lagi yang biasa disebut orang sekarang lamaran.

Cara melakukan lamaran itulah yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dan seterusnya juga ada dalam upacara-upacara berikutnya. Begitu pun adapt- istiadat perkawinan dalam masyarakat Samin dimulai dengan lamaran dan prae lamaran yang tersendiri pula sesuai dengan kebiasaan masyarakat itu. Lamaran dan prae lamaran dilalui dengan jalan yang biasa saja, dan tidak berliku-liku. Cukup diselesaikan oleh orang tua lelaki dengan orang tua si gadis saja, atau pun ada kalanya hanya diurus langsung oleh si jejaka dan si gadis yang bersangkutan sendiri. Sifat mudah dan sederhana itulah yang kadang-kadang digunakan pula oleh orang-orang luaran untuk mengacau masyarakat yang murni itu. Masyarakat Samin tidak mengenal telangkai atau perantara untuk menghubungkan perkawinan anaknya itu.

Sesudah antara orang tua si lelaki dan orang tua si perempuan atau si jejaka dan si gadis bersesuaian paham, maka itu berarti sudah terikat dalam suatu pertunangan dan berarti pula sudah dilaluinya masa peminangan atau pelamaran. Kesepakatan itu terwujud apabila calon suami dan isteri saling menyatakan padha dhemene (saling suka sama suka). Pernyataan ini bukan sekedar ucapan, tetapi diikuti dengan bukti tindakan dengan melakukan hubungan seksual. Selesai melakukan hubungan seksual, laki-laki calon suami memberitahukan kepada orang tua si gadis calon isteri. Hal itu dilakukan setelah orang tua laki-laki melamar kepada keluarga pihak perempuan dan diterima.

+ ” Oh ya Le, wis tak rukunke,ning ana buktine bocah. Mbesuk nek wis wayahe sikep rabi mbok lakoni, kowe kandha aku.”
(Ohya saya setuju, tetapi harus ada buktinya. Nanti kalau anak saling mencintai dan melakukan hubungan suami isteri memberitahukan saya)
Setelah itu:
–          “Pak lare sampeyan mpun kula wujude tatane wong sikep rabi”. (Pak, putri Bapak dan saya sudah saling mencintai dan semalam saya sudah melakukan kewajiban sebagai suami).

+   “Iya, Nduk?” (Benarkah, Nak?)

—    Nggib” (Ya)

+  “Apa kowe wis padha dhemen tenanf (Apa kamu sudah saling  mencintai?)

–     “Nggih” (Ya)
+  “Nek kowe wis padha dhemen aku mung karek dhemen nyekseni Iho, Ten)

     (Kalau begitu, sebagai orang tua saya tinggal meresmikan, Nak)

Tahapan pertunangan ini harus dilalui oleh si jejaka dengan suatu masa percobaan kepadanya. Masa percobaan ini biasa disebut dengan “magang. Artinya diselidiki dikirim oleh orang tuanya atau datang dengan sukarela ke rumah si gadis untuk menetap tinggal di sana, seraya membantu dan menolong pekerjaan orang tua si gadis itu. Tidak dikatakan berapa jumlah hari si jejaka harus melakukan demikian, hanya semata-mata bergantung kepada kesanggupan dan kemampuan si jejaka dan si gadis itu sendiri, dalam membatasi dirinya masing-masing selaku di luar suami-isteri.

Jika kesanggupan dan kemampuan keduanya untuk membatasi diri itu sudah berakhir, artinya mereka sudah hitiup selaku suami isteri (terangnya mereka sudah melakukan hubungan kelamin), maka ketika itulah orang tua si gadis memberitahukan kepada ” sedulur-sedulur-nya bahwa anaknya sudah kawin.

Satu hal yang harus diingat, anak gadis itu harus memberitahukan kepada orang tuanya pada hari pertama sesudah mereka selaku suami isteri itu. Tidak boleh tarlambat dan tidak ada hari esok untuk menyatakan hal itu. Terlambat dan hari esok berarti melanggar kebiasaan mereka.

“Pak, aku wis lakf – (bapak, saya sudah kawin, kata si gadis itu kepada orang tuanya keesokan harinya).

” Ya, takkandhakna sedulurakeh”, – (Ya akan saya beritahukan saudara-saudara kita semuanya”, ayahnya menjawab).

Pada hari yang sudah ditentukan, orang tua si gadis itu pun mengundang “sedulur-sedulur”nya untuk turut menyaksikan peresmian pengantin itu. Orang tua si gadis memberitahukan kepada yang hadir sebagaimana yang telah disampaikan oleh anaknya itu.

Apabila si jejaka tidak membantah, berarti apa yang dikatakan oleh si gadis pada orang tuanya dan selanjutnya diteruskan kepada yang hadir adalah benar. Dengan demikian resmilah sudah perkawinan itu. Para tamu sudah memakluminya dan sesudah selesai berpesta sekedarnya, mereka itu pun minta diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing.

Tatacara perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Samin menunjukkan bahwa sahnya perkawinan dilakukan sendiri oleh orang tua laki-laki, si gadis. Dasar pengesahan perkawinan ini adalah pernyataan padha dhemen antara seorang laki-laki dengan seorang gadis dengan buktiyang dilukiskan seperti tersebut di atas. Tampak bahwa lembaga perkawinan masyarakat Samin itu hingga sekarang masih berlaku. Meskipun ada kalanya masyarakat Samin yang mengawinkan anaknya tidak dengan cara adat Samin, tetapi hampir semuanya tetap dengan cara adat mereka yang sudah berlaku lama.

Prasongko (1981), menjelaskan tentang sahnya perkawinan kecuali ayah si gadis anggota kerabat ayah si gadis, yang dalam hal ini berperan sebagai wali yang berhak menjadi wali antara lain saudara laki-laki sekandung ayah, saudara-saudara sepupu ayah, anak laki-laki dan saudara laki-laki ayah, dan anggota kerabat lain menurut garis ayah (laki-laki) ke atas, misalnya kakek (orang tua laki-laki ayah), saudara laki-laki kakek baik sekandung maupun sepupu. Jadi generasi ayah ke atas yang terhitung berdasar pancer lanang atau tunggal bibit dapat menjadi wali dalam perkawinan. Bilamana tidak dapat menemukan wali, maka dapat orang lain (wali njileh).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 92 – 97

Sumber gambar: Berita Jatim.COM media online

Adat-Istiadat dan Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Samin

Adat-istiadat masyarakat Samin ditandai oleh sikap dan perilaku atau perbuatan yang tidak (selalu) mengikuti adapt-istiadat dan aturan-aturan yang berlaku di desa atau masyarakat di mana mereka tinggal.

Hal itu diawali oleh sikap orang Samin yang mulai berani melawan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan orang Samin terhadap pemerintah kolonial Belanda tidak dilakukan dengan cara kekuatan fisik, tetapi diwujudkan dengan cara membandel tidak mau menyetor padi, menentang pamong desa dan terutama membandel atau menolak untuk membayar pajak.

Pajak yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda itu dirasakan sangat membebani mereka yang pada umumnya petani miskin. Oleh sebab itu pengaruh Saminisme di masa colonial lebih dikenal sebagai kelompok yang tidak mau membayar pajak. Sejak saat itu pula segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan-urusan pemerintah kolonial tidak mereka ikuti (Mumfangati, 2004:29).

Berbicara tentang adat-istiadat (upacara) kelahiran, perkawinan, dan kematian masyarakat Samin, tentu saja tidak lepas dari berbicara tentang adat-istiadat umum masyarakat Samin, yang merupakan perikehidupan masyarakat yang bersangkutan.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm.92 – 93

Persebaran Masyarakat Samin

Pada tahun 1917 Asisten Residen Tuban J.E. Jasper melaporkan bahwa persebaran masyarakat Samin itu dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Jasper dalam laporannya memberikan catatan kasar bahwa, keluarga Samin yang berada dan tinggal di luar wilayah Kabupaten Blora ada 283 keluarga, yakni meliputi wilayah Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Ngawi, Grobogan (Benda dan Catles, 1969:214). Selanjutnya, Benda dan Catles (1969), mencatat, di Desa Kutuk, Kudus Selatan, kini orang Samin berjumlah kira-kira dua ribu orang dan hidup di bidang pertanian. Data pada Encyclopedia van Nederlandsch Indie, 1919, orang Samin berjumlah 2.300 kepala keluarga, tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, dan Kudus,yang terbesar di Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro.

Soepanto-Djaffar (1962:41-42), menyatakan orang Samin boleh dikatakan tempat tinggalnya terpencar dalam beberapa buah desa dan bercampur gaul dengan orang-orang desa itu yang bukan dari golongannya. Di antara desa-desa yang ditempati oleh orang Samin itu yang terbanyak ialah di Desa Bapangan, Kecamatan Mendenrejo, Kabupaten Blora, dan yang paling sedikit ialah di Jepon. Di Bapangan + 1700 jiswa, di Ngawen + 650 jiwa, di Ngaringan ± 375 jiwa, di Jepon + 300 jiwa.

Persebaran masyarakat Samin terjadi di wilayah Kabupaten Blora, dan sampai ke luar wilayah Kabupaten Blora. Persebarannya di wilayah Kabupaten Blora diawali dari desa tempat kelahiran Samin Surosentiko, yakni Desa Ploso Kedhiren, Kecamatan Randublatung. Di Desa Ploso karena pengikutnya makin bertambah, Samin Surosentiko mencari tempat yang lebih luas, yakni di Desa Bapangan, wilayah Kecamatan Menden. Dari Bapangan inilah penyebaran masyarakat Samin diawali. Persebaran masyarakat Samin di wilayah Kabupaten Blora diawali dari Randublatung ke Menden. Selanjutnya ke daerah-daerah Kedungtuban, Sambongjiken, Jepon, Blora, Tunjungan, Ngawen, Todanan, Kunduran, Banjarejo, dan Doplang. Selama satu dasa warsa, keluarga Samin menyebar sampai ke luar wilayah Kabupaten Blora, antara lain: Kudus, Pati, Rembang, Bojonegoro, Ngawi Soerjanto Sastroatmodjo (2003:20), mencatat persebaran paham Samin sampai di Dusun Tapelan (Bojonegoro), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunungsegara (Brebes), dan sebagian lagi di Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan).

Ada dua alasan kuat penyebaran masyarakat Samin baik yang terjadi di wilayah Kabupaten Blora maupun sampafke luar wilayah Kabupaten Blora. Vertama, berkenaan dengan pengembangan ajaran Samin Surosentiko yang dilakukan oleh Samin Surosentiko sendiri maupun oleh para pengikutnya, seperti Wongsorejo (di wilayah Jiwan, Madiun), Engkrek ada juga yang menyebut Engkrak (di wilayah Grobogan, Purwodadi), Karsiyah atau Pangeran Sendang Janur (di Kayen, Pati). Kedua, berkenaan dengan gerakan orang- orang Samin yang menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda dengan cara menolak untuk membayar pajak dan menyerahkan sebagian hasil panen ke pihak desa. Cara ini semakin berkembang yang kemudian dirasa mencemaskan dan membahayakan pemerintah kolonial. Oleh sebab itu banyak orang Samin yang ditangkap. Mereka yang lolos, menghindarkan diri dari dari penangkapan pemerintah kolonial. Untuk itu mereka meninggalkan desanya, tinggal sembunyi di pinggiran hutan jati atau sungai. Apalagi setelah Samin Surosentiko ditangkap bersama delapan pengikutnya, sampai meninggal di Sawahlunto, Sumatera tahun 1914.

Persebaran masyarakat Samin seperti terurai di atas, membawa konsekuensi semakin merasa bersatu yang diikat oleh ikatan persaudaraan, dan orang Samin menyebutnya seduluran. Dengan seduluran ini orang Samin mengaku bahwa setiap orang adalah sedulur (saudara), apalagi dengan sesama orang Samin, misalnya orang Samin yang tinggal di Dukuh Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro mengaku mempunyai seduluryang tinggal di Dukuh Tambak, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora.

Di samping ikatan seduluran, orang Samin di mana tinggal juga terikat oleh persamaan adat-istiadat atau tatacara, aturan- aturan yang wajib mereka laksanakan. Misalnya adat-istiadat atau tatacara perkawinan dan kematian, tidak boleh berdagang karena menurut anggapannya orang berdagang itu akan berbuat goroh (menipu), tidak boleh menerima sumbangan berupa uang sepeser pun apabila sedang mempunyai hajat (adang ake/o), dan tolong menolong harus dilaksanakan karena ini merupakan kewajiban manusia hidup. Untuk mensosialisasikan pranata sosial ini dilakukan sendiri oleh Samin Surosentiko pada waktu men yeleng gar akan pesta anaknya. Dalam pesta perkawinan anaknya, ia sudah benar-benar meninggalkan adat-istiadat yang berlaku di desa (Prasongko, 1981:3). ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 89 – 92

 

Perkembangan Paham Samin

Perkembangan Gerakan Paham Samin (Saminist) di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Nama Samin dikenal sedari 1840, ketika Surowijoyo menghimpun kelompok brandalan di Rajegwesi dan Kaner, yang banyak menyusahkan pihak Gupermen. Sampai pada generasi Kohar alias Samin Surosentiko, warisan kekecewaan yang menumpuk ini lebih menekan jiwanya lagi (Sastroatmodjo, 2003:61).

Para ahli menyebutkan adanya tiga unsur dalam gerakan Saminisme yang berkembang di Pulau Jawa. Pertama, gerakan ini mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung. Kedua, aktivitas kontinyu: sepanjang yang dideteksi pihak aparat pemerintah terbukti bahwa gerakan ini bersifat utopis, bahkan tanpa perlawanan fisik yang mencolok. Ketiga, tantangan yang dialamatkan kepada pemerintah yang diperlihatkan dengan prinsip “diam”, tidak bersedia membayar pajak, tidak bersedia menyumbangkan tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agraria daerah yang berlaku, dan terlampau mendewakan diri sendiri sebagai pengejawantahan dewa yang suci (Sastroatmodjo, 2003:12).

Wong Sikep, yakni Samin yang dulunya fanatik – tapi kini meninggalkan ajaran dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma, misalnya di Klopoduwur (Blora), Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) – hanya kelihatannya Samin apabila dilihat dari keberhasajaan dan kesenangan berpakaian polos hitam dari bahan kasar, sedang kredo agamis sepenuhnya telah Budhasentris (Sastroatmodjo, 2003:48).

Situasi sekarang tidaklah sama dengan pada zaman penjajahan pemerintah kolonial berkuasa. Masyarakat Samin juga mengalami perubahan. Mereka pada umumnya sudah menyesuaikan dengan masyarakat sekitar yang tinggal dalam satu komunitas. Tetapi ajaran-ajaran yang mereka terima dari Samin Surosentiko tetap mereka pertahankan (ugemi). Seperti misalnya, orang harus berbudi luhur, jangan membuat orang kecewa, jangan menyakiti orang lain dan sebagainya, “Aja drengki srei, tukarpadu, gahwen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog nyolong dan sebagainya. Ajaran itulah yang masih melekat dalam ingatan orang-orang Samin dan konsekuen mereka jalani.

Kemurnian ajaran kesaminan mungkin hanya bisa bertahan hingga setengah, atau paling banter, satu abad. Setelah itu, mengingat meluasnya penggunaan alattransportasi modern,adanya radio dan surat kabar serta pengaruh perkembangan pesat teknologi lainnya, isolasi mereka lambat laun menipis. Perlu ditambahkan, kendati mereka cenderung menolak menjadi anggota organisasi politik dan hanya memberikan partisipasinya kepada lembaga- lembaga yang bersifat sosial, ekonomi, dan kesenian setempat, tetap membuktikan bahwa sisi terpenting ajaran baku Kiai Samin tidak diabaikan, bahkan menjadi semacam pedoman penghayat. Masuk akallah apabila nereka tampak puritan (Sastroatmodjo, 2003:31). ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 88 – 89