Sejarah Batik Jombang

Batik Jombang Baru Berkembang Pada Tahun 2000-An.

motif_batik_jmbg_1Tahun 1944, Sekolah Rakyat Perempuan pakaian sekolahnya masih memakai sarung dan kebaya batik (zaman penjajah Belanda). Pada masa itu di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan  bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun.  (Ibu Hajah Maniati, pemilik kedai batik “Sekar Jati Setar”) Namun pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang menghilang, disebabkan oleh sulitnyanya mendapatkan bahan baku serta berkurangnya pengrajin batik.

motif_batik_jmbg_2Tahun 1993, Ibu Hj. Maniati bersama puterinya mempunyai pemikiran dan keinginan untuk membangkitkan dan melestarikan kembali tradisi membatik di kota Jombang (Surya, 2005). Untuk mewujudkan keinginan serta pemikiran tersebut Ibu Hj. Maniati bersilaturahmi ke kerabat yang lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau maktab keguruan) bidang pengkhususan kraftangan. Ibu Hj. Maniati mengajukan permohonan izin ke Kepala Desa (Kepala Kampung) mengumpulkan ibu-ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan remaja guna membicarakan pelatihan (workshop) membatik, dan Kepala Desa menyambut baik atas gagasan. Maka Ibu Hj. Maniati, Ibu-ibu PKK dan para remaja mulai belajar membatik dengan jenis batik jumput (batik ikat) dan hasilnya tak sia-sia cukup memuaskan, sehingga semangat untuk membatik cukup tinggi.

motif_batik_jmbgTahun 2000 Ibu Hj. Maniati dipanggil oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membicarakan pelatihan/kursus/workshop, tepatnya tanggal  8-10 Februari 2000 Ibu Hj. Maniati beserta puterinya mengikuti kursus Batik Tulis Warna Alami di Surabaya yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Dari hasil kursus ini Ibu Hj. Maniati beserta puterinya dan ibu-ibu PKK semakin rajin membatik.

Tahun 2000 di bulan Desember Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “SEKAR JATI STAR” di desa Jatipelem. Pada waktu yang sama Bapak Bupati (ketua daerah/DO) memutuskan untuk mengadakan kursus membatik di desa Jatipelem dengan peserta dari perwakilan wilayah kecamatan se-kabupaten Jombang.

Pada tanggal 16 Desember 2004, Ibu Hj. Maniati mendapat izin usaha tetap dari pemerintah dengan nama “BATIK TULIS SEKAR JATI STAR” dengan nomor SIUP: 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Saat ini untuk memenuhi permintaan pasar, Ibu Hj. Maniati menjual batik dalam bentuk kemeja pria (baju lengan panjang untuk lelaki). Untuk kemeja batik berbahan standar dijual Rp. 150,000.00, sedangkan untuk bahan sutra Rp. 300,000.00 (Surya, 2005). Selain itu beliau juga melayani pesanan dan yang pesan boleh membawa contoh. Untuk melayani hal tersebut Ibu Hj. Maniati mempunyai 27 orang tenaga kerja.  Untuk mengembangkan batik Jombang, berbagai usaha dilakukan oleh Ibu Hj. Maniati. Mulai dari mendirikan kedai sampai ke koperasi.

Pada awalnya motif  batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Selanjutnya Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten  Jombang (isteri Bupati/DO), bersepakat bahawa Motif Batik Tulis Khas Jombang diambil dari salah satu Relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.

Tahun 2005, Bupati Jombang mengharuskan  semua para pegawai di kabupaten Jombang untuk memakai baju batik motif khas Jombang. Dimana baju tersebut bermotif batik warna merah, motifnya lakar simetris dan ada cecekan. Cecek adalah kata Jawa yang bererti titik. Titik adalah bahagian terpenting dari batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang bererti “titik”.

Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan. Semua memiliki khas candi peninggalan Majapahit dan warnanya pun memakai dasar merah dan hijau yang merupakan warna khas Jombang, (Ibu Kusmiati Slamet).

Selain Ibu Hj. Maniati batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet. Dengan modal awal Rp 2 juta, tahun 2002 mulailah Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mengambil tenaga kerja dari para tetangganya sendiri (sekitar rumahnya) untuk membuat berbagai model dan motif batik dengan khas paten relief Candi Rimbi. Awalnya, prakarsa ini muncul atas dorongan tetangga yang ingin mencari kesibukan dengan belajar membuat batik dengan motif khas Kerajaan Majapahit. Alasannya, karena Jombang dulunya merupakan daerah pecahan Mojokerto, nenek moyangnya sama-sama berasal dari Majapahit.

Pekerjaan dilakukan dengan sistem borongan sesuai keperluan yang diinginkan. Jika pesanan ramai, dalam sehari bisa melibatkan 20 tenaga kerja dengan hasil batikan antara 35 sampai 40 lembar kain. Hari demi hari, pekerjaan membatik pun terus berkembang dan kian banyak pembeli dari daerah-daerah sekitar yang memakai produk Kusmiati. Lalu munculah inisiatif untuk memberi label/brand pada batiknya. Melalui kesepakatan dengan pihak keluarga, akhirnya batik Kusmiati diberi merk “LITABENA”. Litabena diambilkan dari sebahagian dari nama keempat anaknya yang sudah besar. Li dari nama Lilik, Ta dari nama Rita, Be dari nama Benny, dan Na dari nama Nanang. Ibu Kusmiati Slamet berharap dengan nama itu usaha batiknya dapat berkembang menjadi besar. Pada saat ini produk batik LITABENA telah beredar sampai ke Jakarta, Kalimantan, Palembang dan Lampung.

Untuk mengembangkan batik Jombang, Pemerintah Jombang mengadakan workshop batik di Jombang. Berkat bantuan dari pemerintah dan didorong dengan semangat besar, batik Ibu Kusmiati Slamet menjadi berkembang dan terkenal tidak hanya di kalangan pemerintahan namun telah berkembang ke luar negeri. Sekarang Ibu Kusmiati Slamet telah membuat batik pesanan dari Bank Jawa Timur, Dinas Sosial dan Dinas Perikanan berupa baju-baju pegawai. Di samping itu, setiap bulan mendapat pesanan 30 lembar sajadah ke negara Iraq dan mengirim bed cover ke Taiwan sebanyak 2,200 lembar setiap tiga bulan sekali. Kini produksinya mencapai 500-600 yard setiap bulan.

 MOTIF KHAS BATIK JOMBANG

Motif khas batik Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama BATIK JOMBANGAN. Batik Jombangan yang telah diproduksi sudah ada di Muzium Batik Pekalongan, Jawa Tengah.

PROSES BATIK

Proses batik Jombang secara umum masa dengan proses batik di daerah-daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis  batik skrin/printing, dan batik ikat. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima.

FUNGSI BATIK JOMBANG

Seperti guna kain batik pada umumnya, batik Jombang juga digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian rasmi. Kain batik di Jombang termasuk kain yang mempunyai nilai harga yang mahal, sehingga kain batik tidak digunakan sebagai pakaian untuk kerja kasar ataupun sebagai pakaian tidur. Secara khusus batik Jombang digunakan untuk uniform para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Mulai 2006/2007 digunakan juga untuk para Pelajar Tingkatan1 dan Tingkatan 4, pada hari Rabu dan Kamis.

KEDAI BATIK

Salah satu contoh kedai batik di Jombang yang aktif memasarkan kain batik khas Jombang atau BATIK JOMBANGAN. Kedai batik SEKAR JATI STAR adalah milik Ibu Hj. Maniati di desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

——————————————————————————————-Karsam. Batik Tulis Jombangan, Jawa Timur

Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah­wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua­tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po­leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di­tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men­jadi ramai karena sering kedatangan tamu tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa­ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu­ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut­nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka­rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceriteraceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.1-4

Makam Panjang di Leran Kabupaten Gersik

BERBURU KESAKTIAN Dl MAKAM PANJANG

Makam Panjang0002Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur . Di komplek makam Siti Fatimah binti Maimun juga terdapat beberapa makam lain. Menurut Hasyim, makam-makam itu adalah makam para pengikut Siti Fatimah. Selain itu ada pula makam para juru kunci perawat makam tersebut.

Namun dari sekian banyak makam yang ada, tepat di sisi kiri dan kanan atau mengapit jalan menuju bangunan cungkup makam Siti Fatimah, terdapat dua buah makam dengan ukuran yang tidak umum. Makam ini memiliki panjang hingga sekitar tujuh meter. Masyarakat menyebutnya dengan makam panjang, karena memang ukurannya yang sangat panjang. Makam siapakah itu?

Hasyim menjelaskan bahwa dua makam panjang itu adalah makam dari pengawal setia Siti Fatimah semasa hidupnya. Dan makam yang dibuat panjang karena konon waktu itu jasad kedua senopati kerajaan Kedah ini akan dicuri oleh musuh-musuhnya. Karena itu sebelum keduanya meninggal, mereka berpesan agar jasadnya dikubur di dalam liang dengan ukuran sangat panjang. Hal ini untuk mengelabui musuh-musuhnya.

Namun lepas dari cerita itu, Hasyim mengatakan bahwa makam yang panjang itu sebenarnya adalah symbol dari penantian panjang manusia di alam kubur. Karena itu, agar di dalam penantian yang panjang itu bisa hidup tenang, hendaknya manusia selalu membekali dirinya dengan berbagai amal. Sebab amal-amal itulah nantinya yang akan menolong mereka di hari kiamat.

“Ukuran ini sebenarnya hanya simbol sehingga bagi mereka yangtahu akan bisa mengambil hikmahnya,” terang Hasyim.Dan seperti halnya di makam Siti Fatimah, di makam panjang ini sering pula terlihat para peziarah yang berlama- lama berdoa. hanya saja berbeda dengan yang diyakini dari makam Siti Fatimah, makam panjang para pengawal Siti Fatimah ini diyakini ampuh untuk meningkatkan olah kanuragan seseorang. Karena itu kebanyakan mereka yang bermeditasi di tempat ini adalah mereka yang tengah memperdalam  ilmu atau bahkan golongan paranormal *KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 7

Dari Pamekasan ke Besuki

Tahun 1743, terjadi peristiwa penting di Pamekasan, Madura. Saat itu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Kiai Lesap, putra selir dari Panembahan Tjakraningrat V. Pemberontakan itu bermotifkan tuntutan hak suksesi Kiai Lesap kepada pemerintahan Pangeran Tjakraningrat di Pamekasan. Pemberontakan itu menimbulkan peperangan yang dahsyat antara kedua belah pihak yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Perang itu bahkan melibatkan Bupati Pamekasan Tumenggung Adikoro IV. Tumenggung Adikoro IV adalah putra menantu Panembahan Tjakraningrat V. Ia ikut terlibat mempertahankan Kerajaan Pamekasan. Namun akhirnya Tumenggung Adikoro IV gugur di Desa Bulangan. Karena meninggal di desa itu maka ia mendapat sebutan Kiai Penembahan Bulangan.

Tahun 1750, pemberontakan itu dapat dipadamkan dengan tewasnya Kiai Lesap. Pemerintahan pun kemudian dapat dipulihkan. Selanjutnya diangkatlah putra Tumenggung Adikoro IV yang bernama Tumenggung Adipati Tjakraningrat. Namun kekuasaan pemerintah- annya tidak berlangsung lama, karena terjadi lagi perebutan ke­kuasaan. Selang beberapa waktu kemudian pemerintahan diserahkan kepada Tjakraningrat I, putra Adikoro III yang kemudian bergelar Tumenggung Sepuh. Saat itu pula diangkadah seorang patih ber- nama Raden Bilat yang sedang bermusuhan dengan keluarga Adikoro IV.

Untuk mencegah terjadinya percekcokan yang mendalam dan demi keselamatan cucu kesayangannya, Raden Bagus Assrah, Nyi Seda Bulangan kemudian mengasingkan cucunya ke wilayah Besuki, yaitu di sekitar Paiton, di Desa Binor. Pada waktu itu terjadilah gelombang eksodus besar-besaran dari pengikut Adikoro IV ke luar Pulau Madura. Selanjutnya Nyi Seda Bulangan tinggal menetap di Binor, dekat Paiton-Besuki. Orang-orang kemudian lebih mengenal Nyi Seda Bulangan sebagai Nyi Binor.

Pada sekitar masa itu pemerintahan di Besuki dipimpin oleh Bupati Tumenggungjoyolelono di Banger (Probolinggo). Maka sebagian wilayah Sentong (yaitu Besuki) dimasukkan ke dalam wilayah Probolinggo. Hal itu terjadi setelah Wirobroto berhasil mengajak rakyat di Tanjung, Pamekasan, untuk eksodus ke daerah Besuki.

Desa pertama yang telah dibabat dinamai Demung Maduran, sesuai dengan kondisinya yang banyak dihuni pendatang dari Madura. Lama kelamaan banyak pendatang yang mengikuti jejak Wirobroto untuk bercocok tanam. Motif utama kepindahan mereka adalah karena di Madura sedang terjadi paceklik akibat lama tidak turun hujan. Petani tidak bisa bercocok tanam. Peristiwa itu seiring dengan eksodusnya keluarga Adikoro IV pada tahun 1743 karena alasan politis. •

Karena jasanya itu maka Wirobroto oleh Tumenggung Joyo lelono diangkat menjadi Demang Besuki yang berkedudukan & Demung Maduran. Putra Wirobroto yang bernama Kasim sejak kecil sudah memiliki tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi pemimpinyang arif dan bijaksana. Ia pun bisa memperlihakan tanda-tanda sebagai seorang anak yang cerdas lagi bijak. Kasim lama berguru kepada Tumenggung Joyolelono, bahkan kemudian diambil menantu.

Karena usia Wirobroto telah lanjut, jabatan Demang Besuki digantikan kepada Ki Bagus Kasim pada 1760. Kemudian karena budi pekertinya yang halus dan luhur, orang mengenal dia dengan sebutan Demang Alus. Setelah menjabat Patih, ia pun disebut Patih Alus.

Setelah Kiai Tumenggung Joyolelono dipecat, Kademangan Besuki didngkatkan statusnya menjadi Kabupaten Besuki. Maksud VOC meningkatkan status Besuki menjadi kabupaten adalah untuk menghidupkan dan meningkatkan fungsi pelabuhan Besuki yang dinilai sangat strategis untuk menguasai jalur lalu-lintas perdagangan di laut, di samping itu sebagai pintu masuk VOC ke daerah pe- dalaman sampai di Puger.

Keberadaan Nyi Binor dan cucunya Bagus Assrah akhirnya tercium juga oleh Kiai Patih Alus Besuki. Semula Nyi Binor sempat khawatdr mengenai cucunya itu, tapi ternyata tidak. Kiai Patih Alus yang dikenal sebagai seorang yang linuwih, bijaksana, dan ambek paramarta itu, begitu melihat raut muka Bagus Assrah mengatakan kepada Nyi Binor bahwa kelak anak itu akan menjadi orang besar yang ternama sehingga perlu diberi bekal ilmu pengetahuan yang akan dibutuhkan olehnya kelak.

Mendengar perkataan Kiai Patih Alus, legalah hati Nyi Binor. Akhirnya demi masa depan cucunya yang sangat dicintainya itu, Bagus Assrah diserahkan untuk mengabdi kepada Kyi Patuh Alus. Di sana Bagus Assrah diterima dengan baik dan diperlakukan sebagai keluarga Kiai Patih Alus sendiri.

Bagus Assrah langsung mendapat gemblengan dari Patih Alus dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan dan agama, serta olah keterampilan. Kelak semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi bekal hldup Bagus Assrah.

Sementara itu setelah Besuki dinaikkan statusnya menjadi kabupaten, maka VOC menggadaikannya kepada bangsa Cina untuk menutupi utang-utangnya. Maklumlah selama VOC berkuasa, korupsi merajalela dalam pemerintahannya.

VOC pun lantas menunjuk bupati pertamanya yaitu seorang keturunan Cina bernama Tjing Sin. Ia diangkat sebagai Bupati Ronggo di Besuki dengan gelar Ronggo Supranolo pada 1768. Untuk me- ngembangkan daerah Besuki, Bupati Ronggo Supranolo mengangkat putra menantunya bernama Ang Tjian Pik menjadi Kapten sehingga dikenal dengan nama Kapten Bwee.

Bupati Ronggo Supranolo adalah keturunan Cina yang beragama Islam, termasuk keluarga dinasti Kesepuhan (Surabaya) yang terkenal sebagai alim ulama yang disegani. Karisma itu dipergunakan oleh Bupati Ronggo Supranolo untuk menyebarkan agama Islam di Besuki, sebab di sana masih banyak penduduk yang kehidupannya masih bersifat animistis. Hal itu mengundang simpati masyarakat sehingga beliau dikenal dengan sebutan Kiai Ronggo Supranolo. Berkat kepemimpinan Kiai Ronggo Supranolo, Besuki berhasil menjadi kota pelabuhan yang cukup ramai sehingga Pelabuhan Panarukan menjadi sepi karena kalah saingan.

Tahun 1773, Kapten Bwee menggantikan mertuanya menjadi Bupati-Ronggo Besuki dengan gelar Kiai Ronggo Suprawito. Ke- dudukan itu tak lama dijabatnya karena ia wafat pada 1776. Sebagai penggantinya ditunjuk Babah Panjunan namun jabatan itu tak lama dipangkunya karena beliau dipromosikan menjabat Bupati-Tumenggung di Bangil. Sebagai penggantinya, VOC menunjuk saudara sepupunya yang bernama Babah Midun menjadi Bupati Besuki dengan gelar Kiai Suroadikusumo.

Untuk mendapatkan simpati masyarakat, Kiai Suroadikusumo mengangkat mantan Demang Besuki yaitu Kiai Demang Alus atau yang juga dikenal sebagai Demang Wirodipuro untuk menjadi Patih Besuki. Sejak saat itulah ia mendapat sebutan Patih Alus Besuki di masyarakat Besuki.

Pada suatu ketika Bupad Ronggo-Besuki Kiai Suroadikusumo membutuhkan seorang calon pegawai atau kader yang kelak akan dididik menjadi ahli pemerintahan. Sudah barang tentu si calon hendaklah seorang yang cerdas, tampan, dan mampu menguasai berbagai masalah kenegaraan dan ilmu pengetahuan, serta hal-hal yang berkenaan dengan ilmu administrasi.

Kiai Patih Alus yang sangat mengetahui kualitas dan pribadi Bagus Assrah, lalu mengusulkannya sebagai calon. Ternyata Bagus Assrah diterima, selanjutnya ia menjadi pegawai di Kabupaten Besuki.

Karena Kiai Suroadikusumo dengan istrinya Nyi Rambitan tidak dikaruniai putra, maka Bagus Assrah diambil sebagai anak angkat- nya. Nyi Rambitan menerimanya dengan senang hati, lalu mendidik dan memperlakukannya sebagai anak sendiri. Kasih sayang Kiai Ronggo Besuki bersama istrinya kepada Bagus Assrah makin men- dalam.

Ada beberapa hal yang menjadikan kedua orang tua angkatnya itu semakin tertarik kepada Bagus Assrah. Selain karena baktinya secara tulus ikhlas kepada kedua orang tua, juga karena perangai dan sikap ramah yang membuat setiap orang simpatik kepadanya. Di samping itu Kiai Ronggo telah merasakan firasat yang menun- jukkan kebesaran pada anak itu yaitu berupa sinar cahaya gaib yang memancar dari tubuhnya di kala ia tidur pada malam hari.

Setelah Bagus Assrah lulus dalam mengikuti pelajaran ketata- negaraan, ia kemudian diberi tugas untuk menarik upeti (pajak) serta ikut menangani dan memecahkan berbagai persoalan umum dalam bidang pemerintahan. Semuanya dapat dia dikerjakan dengan baik. Dengan keberhasilannya itu maka Bagus Assrah diangkat menjadi Mantri Anom dengan nama Abiseka (gelar) Mas Astrotruno.

Karena dorongan yang kuat untuk memperoleh anak sendiri, maka atas pertimbangan keluarga (Nyi Rambitan) dan terutama Kiai Patih Alus, pada 1768 Kiai Ronggo Besuki Suroadikusumo melamar putri Panembahan Somala, Bupati Sumenep, untuk dijadikan istrinya.

Perkawinannya dengan putri Panembahan Somala bukan hanya bertujuan memperoleh keturunan, tetapi juga untuk menaikkan kewibawaan dalam pemerintahan, sesuai dengan petunjuk Ki Patih Penarukan Ki Surodiwiryo, karena istri keduanya itu masih cucu seorang alim ulama besar yang tersohor di Sumenep yaitu Bindara Sa’od, ayah Penambahan Somala. Selain itu ia juga masih keturunan Pangeran Katandur, seorang alim ulama besar pada waktu itu.

Ternyata dalam perkawinannya yang kedua ini pun Kiai Ronggo- adikusumo tidak mendapatkan keturunan sebagaimana yang di- idamkan selama ini. Oleh karena itu Nyi Suroadikusumo lalu me- ngambil anak angkat dari keponakannya sendiri yang bernama Raden Ario Bambang Sutikno. Kedua anak angkat Kiai Suroadikusumo tersebut kelak menjadi tokoh sejarah. Bagus Assrah menjadi tokoh sejarah Bondowoso dan Raden Ario Bambang Sutikno yang kemu­dian bergelar Kanjeng Pangeran Prawirodiningrat menjadi tokoh sejarah di Besuki-Panarukan.

Pada 1795 Patih Puger Raden Tumenggung Prawirodiningrat wafat. Kemudian VOC mengangkat Kiai Ronggo Suroadikusumo menjadi Bupati Tumenggung di Puger dengan gelar Kiai Suryo- adikusumo. Namun karena Kiai Patih Alus menolak untuk dipindah- kan ke Puger mengikuti Tumenggung, maka untuk sementara waktu pusat pemerintahannya berada di Besuki. Pada waktu itu Kiai Patih Alus sudah amat tua.

Pada 1801 Kiai Patih Alus wafat. Jenazahnya dikebumikan di Desa Demung Besuki (Kampung Arab) sehingga pusat pemerintahan Tumenggung Puger pun dipindahkan ke tempat yang semestinya yaitu di Puger. Pengangkatannya ke Puger memakai gelar Maulana Kiai Suroadiwikromo.

Menurut rumusan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang naskahnya disusun pada 28 April 1976 No. HK. 031/474/ 1976, erat kaitannya dengan tahun Candrasengkala 1728 Komariyah Sura Dwi Wiku Grama  atau 1801 M. (Sura / 8 ; Dwi / 2; Wiku / 7; Grama / 1 = 1728 Hijriyah).

Tahun 1806, beliau dipindahkan lagi ke Besuki dengan jabatan Adipati. Sebagai penggantinya kemudian diangkatlah Babah Panderman, putra Tumenggung Leder, dengan gelar Kiai Tumenggung Suryoadiningrat. Pada 1813 Kiai Suroadiwikromo wafat dan dimakamkan di Bangil [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 55- 61

Sejarah Pendidikan Sekolah Dokter, di Jawa Timur

Masalah kesehatan di Indonesia mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Pemberantasan penyakit sangat perlu untuk kesehatan secara keseluruhan, termasuk orang-orang Eropa sendiri. Langkah menuju ke arah pendidikan kedokteran sudah dimulai sejak pemulaan abad ke 19. Pada waktu itu dimulai dengan mendidik anak-anak bumiputera untuk menjadi juru cacar yang dilakukan oleh para penilik vaksinasi. Pendidikan ini dilakukan secara kontinyu mengingat penyakit cacar merupakan penyakit yang banyak diderita oleh rakyat Indonesia. Menjelang perte­ngahan abad ke-19 pendidikan yang menghasilkan juru cacar ini diubah dan diadakan secara reguler.

Pada tanggal 2 Januari 1849 pemerintah telah mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah sekolah yang lulusannya akan diperbantukan kepada rumah sakit militer di Batavia. Sekolah yang didirikan itu ialah sekolah Ahli Kesehatan. yang. dibuka pada tahun 1851, dengan jumlah murid sebanyak 13 orang. Sedangkan sekolah pendidikan juru cacar yang semula lama belajarnya satu tahun kemudian diperpanjang menjadi dua tahun. Penambahan masa belajar dipakai oleh para pelajar untuk menekuni beberapa mata pelajaran yang ditambahkan selama masa pelajaran tam- bahan tersebut. Hal ini sangat menguntungkan bagi para pela­jar, karena mereka dapat memperoleh atau mengenal jenis- jenis penyakit yang banyak tersebar di Indonesia. Dengan demi­kian mereka dapat memberikan pengobatan secara medis, bahkan para lulusan itu akhirnya pun dapat melakukan pembedahan ringan dan merawat secara medis seperlunya. Setelah menempuh dua tahun lamanya, kemudian mereka diuji oleh suatu team panitia penguji yang terdiri dari dokter dan apoteker militer. Apabila mereka lulus, lalu mendapat gelar dokter Jawa.

Pada tahun 1875 pendidikan dokter diperpanjang lagi menjadi lima sampai enam tahun lamanya. Dengan penam- bahan waktu yang cukup itu diharapkan para lulusan nanti dapat memperoleh ilmu kesehatan lebih mendalam. Selama itu pela­jaran diberikan dengan menggunakan bahasa Melayu, dan sejak tahun 1875 diberikan dengan menggunakan bahasa Belanda. Hanya untuk murid-murid yang berasal dari sekolah yang tidak memakai bahasa pengantar bahasa Belanda, diadakan pendidikan pendahuluan selama dua sampai tiga tahun, khusus untuk memperdalam bahasa Belanda.

Semenjak tahun 1875 gelar dokter Jawa mulai diadakan perubahan menjadi Ahli Kesehatan Bumiputera (Inlandsch Genees- kundige). Dengan adanya perubahan ini diharapkan oleh Pemerintah bahwa mereka yang telah berhasil lulus itu akan lebih sesuai dengan perkembangan profesinya sebagai sorang ahli di bidang kesehatan. Sesuai dengan perkembangan ilmu kedok- teran di Indonesia pada masa itu dan semakin meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, maka pada tahun 1902 diadakan reorganisasi. Lama belajar diperpanjang lagi, dan gelar dokter Jawa diubah menjadi dokter bumiputera atau Inlandsch Arts. Sekolah tersebut diberi nama STOVIA, singkatan dari School Tot Opleiding van Inlandsche Art sen.*2) Siswa-siswa Sekolah Dokter Jawa yang masih ada pada tahun itu tidak lagi dicetak menjadi dokter Jawa, akan tetapi meneruskan pelajarannya ke STOVIA.

Di Surabaya didirikan sekolah semacam itu baru pada ta­hun 1913 dengan nama NIAS (Nederlands Indische Artsen School. Semenjak tahun 1914 sekolah ini menerima siswa baru dari mereka yang telah lulus MULO, dengan lama belajar 7 tahun.

Sampai saat itu di Indonesia telah ada 2 pendidikan kedok- teran, yang pertama di Jakarta dan yang kedua di Surabaya. Di Jakarta pada tahun 1927 STOVIA diubah namanya menjadi GHS (Geneeskundige Hoge School), dan yang dapat diterima adalah mereka yang telah lulus AMS atau HBS lima tahun. Sedangkan di kota Surabaya NIAS tetap tidak diubah. Semen­jak itu GHS di Jakarta menghasilkan Arsen dan NIAS di Suraba­ya menghasilkan Indische Artsen.

Pada masa Jepang berkuasa di Indonesia NIAS dihapuskan dan diganti dengan Ika Daigaku, yakni semacam Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta. Baru pada bulan Desember 1947, Sekolah Kedokteran di rintis kembali oleh Kepala pemerintahan Prae federal (Belanda).

Hasrat pendirian ini adalah sebagai kelan- jutan NIAS yang pernah ada, dan pemanfaatan gedung-gedung peninggalan NIAS. Kesulitan yang dihadapi pada masa itu ialah mengenai tenaga pengajar yang merupakan motor terlaksananya pendidikan. Baru kemudian setelah datang Prof. Droogleover Fortuyn dan Prof. Streef serta Prof R. M. A. Bergman dari Jakarta (Universitas Indonesia) ikut berusaha mendirikan Fakul- tas Kedokteran, kesulitan tersebut dapat teratasi. Setelah menga­lami perkembangan yang menyeluruh meliputi kurikulum, pera- latan medis, literatur, tenaga pengajar, gedung, dan lain-lainnya, berdirilah Fakultas Kedokteran yang dimaksud, hingga sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Siapa Airlangga?

Riwayat hidup Airlangga, dapat diketahui dari sebuah prasasti (batu bertulis) yang disebut “Batu Calcutta”. Disebut demikian, karena batu itu dibawa oleh Raffles dari Jawa dan kini disimpan di museum Calcutta.

AIRLANGGA0002Airlangga dilahirkan di Bali pada tahun 1000 Masehi. Ia dikenal sebagai putera dari Pangeran Udayana dan Ratit Mahendradatta yang memegang pemerintahan di pulau itu. Mahendradatta adalah ketu­runan ketiga dari Raja Sindok yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 929 sampai tahun 949.

Bagan, silsilah Airlangga sebagai berikut:

1.Sindok

I

2.Isanatunggawijaya x Lokapala

I

3.Makutawangsawardana

I

4.Mahendradatta x Udayana

I

5.Airlangga

Air­langga adalah keturunan Sindok melalui dua orang ratu. Sejak kecil ia mendapat pelbagai pendidikan. Sebagai anak ksatria ia diasuhan kaum Brahmana memperoleh pelajaran agama, dari kaum cerdik pandai dipelajarinya ilmu-ilmu pengetahuan. Menjelang dewasa, ia dikenal sebagai pemuda yang ta’at beragama, tangkas menggunakan senjata dan berbudi luhur, tubuhnya kokoh perkasa, ia disegani kawan- kawan sebaya atau seperguruannya.

Namun ia tetap rendah hati, tidak sombong atau angkuh, terhadap orang tuanya ia sangat hormat dan kepada guru-gurunya ia sangat patuh. Sifat-sifatnya terpuji pemuda Airlangga yang gagah berani, tetapi rendah hati dan berbudi bahasa baik. Hal itu terdengar pula oleh Raja Dharmawangsa, yang bertakhta di Jawa Timur.

Dharmawangsa berkenan mengambil Airlangga sebagai menantunya. Raja Dharmawangsa bahkan mengharapkan Airlangga kelak menjadi penggantinya menduduki takhta di Jawa Timur. Maksud Dharma­wangsa untuk mempertemukan puterinya dengan Airlangga disambut dengan gembira oleh Pangeran Udayana. Lebih-lebih setelah dijelas- kan, bahwa Airlangga akan diangkat sebagai putera mahkota di Jawa Timur. Hal itu berarti akan lanjutnya keturunan Sindok dari wangsa Isana sebagai penguasa kerajaan?Sebagaimana telah dikatakan, dari fihak ibunya, Airlangga adalah keturunan Sindok. Dengan demikian hubungan kekeluargaan antara raja Jawa dan Bali tetap akan terpelihara baik.

Saat pernikahan antara Airlangga dengan puteri Dharma­wangsa berlangsung, tiba-tiba datanglah beberapa pengawal istana dengan terengah-engah menghampiri raja. Mereka memberitahukan tentang adanya serbuan musuh. Dan sekonyong-konyong berloncatanlah sejumlah pasukan musuh melewati perbentengan istana mereka menyerbu lawan yang tiada bersenjata. Perlawanan dapat dikatakan tidak ada, kecuali dari sejumlah kecil pasukan pengawal raja, tetapi inipun semua menemui ajalnya. Mereka memang tak mampu meng- hadapi pasukan musuh yang demikian besarnya. Maka serangan musuh itu berakibat penghancuran keraton dan seluruh pusat kerajaan Jawa Timur. Di tengah-tengah kegaduhan itu Raja Dharmawangsa mati terbunuh bersama-sama dengan sejumlah besar pembesar keraton lainnya. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1017 dikenal de­ngan nama “pralaya” atau pemusnahan.

Tentara musuh yang telah mendatangkan kehancuran keraton Jawa Timur, adalah tentara yang dipimpin oleh Raja Wurawari. Raja Wurawari adalah sekutu dari Raja Sriwijaya, sedangkan Kerajaan Sriwijaya merupakan musuh bebuyutan Dhar­mawangsa, serangan terhadap pusat kerajaan Dharmawangsa merupakan pembalasan dendam oleh Sri­wijaya.

Dharmawangsa maupun Sriwijaya berusaha merebut kedudukan utama di Nusantara. Peperangan telah berlangsung beberapa tahun lamanya. Beberapa saat tentara Dharmawangsa telah berhasil menduduki wilayah kekuasaan Sriwijaya di sebelah selatan Sumatera. Bahkan kekuasaan lautpun selama beberapa tahun beralih pula ke pemerintahan kerajaan Jawa Timur. Oleh sebab itu perhubungan Sriwijaya dengan negeri luar terputus sama sekali.

Raja Sriwijaya cukup cerdik ia tidak tinggal diam, dalam keadaan yang serba lemah, berbagai siasat direncanakan untuk dapat mengadakan pembalasan. Karena pembalasan langsung tidak memungkinkan, maka ia mengambil jalan lain. Dengan menjalin persekutuan dengan kerajaan Wurawari dari Jawa. Maka pembalasan itu baru menjadi kenyataan.

Serangan pembalasan itu bahkan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan Jawa Timur. Keraton habis terbakar, ribuan orang meaemui ajalnya termasuk di antaranya Raja Dharmawangsa. Oleh karena itu kerajaan Jawa Timur runtuhlah seluruhnya. Dengan lenyapnya kekuasaan pusat, raja-raja hulu yang semula tunduk kepada Dharmawangsa sekarang memerdekakan diri. Mereka lebih senang berdiri sendiri dari pada terikat pada suatu kekuasaan lain. Maka muncullah kini sejumlah kerajaan kecil di wilayah bekas kerajaan Dharmawangsa dahulu. Itulah keadaan negara peninggalan Raja Dharmawangsa yang diwaris oleh Airlangga.

Tatkala terjadi penyerbuan, Airlangga bersama beberapa orang lainnya berhasil meloloskan diri. Pada waktu itu ia baru saja berusia 16 tahun. Dalam usia semuda itu belumlah ia berniat untuk melakukan Puputan (pertempuran habis-habisan). Airlangga bertekad untuk menyusun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan. Bukankah ia adalah putera mahkota yang harus menggantikan Dharmawangsa?

Sementara itu Airlangga menantikan saat yang baik untuk memulai menjalankan rangkaian peperangan, bercita-cita hendak mempersatukan kembali seluruh kerajaannya?

Dengan ditemani sahabatnya yang paling setia, Narottama namanya, Airlangga melanjutkan perjalanan jauh ke pedalaman. Apakah daya seorang pengungsi meskipun ia seorang putera mahkota? Bebe­rapa tahun lamanya ia harus mengembara di hutan Wonogiri. Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa dengan berpakaian, makan, minum sebagai pertapa pula. Dilatihnya pula berpuasa dan cara menahan hawa napsu. Dalam kesengsaraan yang serupa itulah, ia semakin meneguhkan hati dan menguatkan tekadnya “merebut kembali kerajaan Dharmawangsa”.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. Kosih Sastradinata.  Airlangga Hidup Dan Perjuangannya, Bandung, Pt.Sanggabuwana , 1976, hlm

Sejarah Sekolah Pertukangan, di Jawa Timur

Di negara jajahan seperti Indonesia tenaga terdidik untuk sekolah kejuruan sangat dibutuhkan sekali. Baik mereka itu berasal dari bangsa Belanda sendiri maupun dari bangsa Indonesia. Kenyataan itu memang benar-benar dirasakan sekali oleh pemerintah jajahan. Kecuali itu dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di Jawa sangat besar kebutuhan tenaga terdidik. De­mikian pula timbulnya pabrik-pabrik seperti pabrik gula dan lain sebagainya kebutuhan tenaga untuk melayani dan menjaga besar sekali. Untuk itulah maka pemerintah akhirnya juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan.

Pada mulanya sekolah kejuruan di Indonesia didirikan oleh fihak swasta, yaitu sekolah pertukangan yang dibuka pada ta­hun 1856 di Batutulis, Betawi. Sekolah tersebut didirikan oleh agama Kristen dan lebih bercorak sekolah dasar dengan ciri-ciri pertukangan. Sedangkan sekolah pertukangan pertama yang didi­rikan oleh fihak pemerintah dibuka pula pada tahun 1860 di kota Surabaya. Pada saat itu sekolah diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, tetapi belum dapat hidup lama. Hal ini agaknya di samping sedikitnya peminat yang datang, orang Belanda sendiri juga belum banyaknya anak-anak Belanda. Sedangkan pada masa itu industri gula belum berkembang luas di Jawa. Namun juga kebutuhan akan tenaga tukang yang terdidik besar dirasakan sewaktu industri gula mulai berkembang dengan pesat di Jawa Timur. Adanya permintaan yang seolah-olah sangat mendesak ini merangsang pemerintah mengadakan pendidikan pertukangan dengan segera. Karena itu pada tahun 1877 dibuka kursus malam yang dikaitkan dengan HBS di Surabaya. Agaknya pembukaan kursus ini untuk segera memenuhi permintaan, dan tidak mungkin untuk mendidik anak-anak dalam jangka waktu yang cukup singkat, sehingga hasilnya dapat segera dimanfaatkan. Lama kursus 2 tahun, dan dalam tahun 1885 diperpanjang menjadi tiga tahun. Tidak lama kemudian kursus pertukangan ini melepaskan diri dari HBS, sehingga menjadi sekolah yang berdiri sendiri. Setelah mengalamai pembenahan organisasi dalam tahun 1894, maka lama belajar diubah menjadi empat tahun. Mengingat lamanya belajar, maka bersama itu pula diadakan spesialisasi, sehingga me- mudahkan masing-masing pelajar menekuni apa yang menjadi bidangnya atau keahliannya. Deferensiasi sekolah pertukangan ini ialah jurusan pengairan, pekeijaan umum, kadaster (pengukuran tanah), dan mesin. Adanya deferensiasi itu sebenarnya untuk diarahkan pada ujian akhir, agar nantinya anak-anak yang telah selesai itu benar-benar mempunyai bidang keahlian khusus.

Sekolah pertukangan ini pada mulanya untuk anak-anak orang Eropa. Tetapi kemudian anak-anak bumiputera juga diperbolehkan masuk. Hal ini mengingat semakin meluasnya perkebunan di Jawa Timur sebagai akibat Politik Pintu Terbuka dari Pemerintah Hindia Belanda. Karena itu bukan hanya industri gula tetapi juga perkebunan lain seperti perkebunan temba- kau, kopi, teh, karet, dan lain-lainnya memerlukan tenaganya.

Selain itu kemajuan di bidang kerajinan rakyat pun menuntut perhatian. Sehingga pada tahun 1904 mulai ada percobaan untuk membuka Sekolah Kerajinan Rumah, yang memberikan pelajaran mengukir dan menganyam. Sekolah itu berada di bawah pimpinan RMT. Oetoyo, Bupati Ngawi. Ketika itu sudah ada beberapa sekolah pertukangan yang didirikan oleh Zending (yang pertama didirikan oleh Zending ialah di Mojowarno pada tahun 1893).

Didesak oleh makin majunya perindustrian bangsa Eropah, yang banyak membutuhkan tukang-tukang berpendidikan, maka pada tahun 1909 pemerintah membuka 3 sekolah pertukangan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pengajaran pertukangan terse­but mempunyai dua macam tujuan yaitu membentuk tukang-tukang yang biasa, dan membentuk tukang-tukang yang dapat mengisi jabatan-jabatan rendah seperti: masinis, montir, dan sebagainya.

Untuk golongan ke-1 diadakan pendidikan selama dua tahun. Yang diterima sebagai murid ialah mereka yang telah tamat dari Sekolah Kelas II. Pada sekolah itu ada dua bagian yaitu bagian kayu dan besi. Pendidikan selama 2 tahun itu diikuti oleh kursus sambungan selama setahun untuk vak-vak khusus, seperti montir mobil, tukang listrik, tukang kayu, dan tukang batu. Untuk go­longan ke-2 diadakan sekolah-sekolah pertukangan yang pendidikannya 3 tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi mereka yang telah mengikuti pelajaran rendah barat (Belanda) sampai ta­mat.

Karena semua murid tidak mendapat pendidikan untuk berdiri sendiri, maka tamatan sekolah itu tidak ada yang sanggup untuk mendirikan perusahaan sendiri atau memperbaiki keadaan pertukangan di desa-desa, melainkan mencari pekeijaan pada perusahaan-perusahaan orang Eropa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Sunan Giri, Gresik

Al-Kisah Prabu Brawijaya V penguasa kerajaan Majapahit diserbu oleh Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Prabu Brawi­jaya gugur dalam pertempuran sengit mempertahankan ibukota Majapahit. Sementara itu Ratu Dwarawati mengungsi ke Ampel­denta.

Karena penguasa Majapahit yang sah telah tiada, sedang Prabu Girindrawardhana dari Kediri bukanlah dari keturunan Raden Wijaya pendiri Majapahit, maka Sunan Giri memproklamasikan daerah bukit Giri sebagai kerajaan yang berdaulat. Kabar itu terdengar pula oleh Prabu Girindrawardhana. Sang Prabu kemudian mengirimkan dua senopati Telik Sandi yang telah terlatih untuk datang ke bukit Giri untuk membunuh Sunan Giri.

Kedua Senopati itu ialah Lembusura dan Keboarja. Keduanya memiliki kesaktian tinggi dan berpengalaman dalam tugas-tugas rahasia menumpas musuh negara. Keduanya segera berangkat ke Giri Kedaton atau kerajaan Giri. Untuk memasuki keraton Giri keduanya membutuhkan waktu yang lama. Mereka harus memperoleh keterangan- keterangan lengkap mengenai kebiasaan Sunan Giri. Untuk itu keduanya menyamar sebagai penduduk biasa dan bertanya kepada para santri tentang kebiasaan Sunan Giri.

Pada suatu malam, setelah memperoleh cukup data, kedua Senopati pilihan itu telah berhasil menyusup ke wilayah Giri Kedaton. Keduanya bersembunyi di sebuah kolam yang biasa dipergunakan Sunan Giri untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat Tahajjud. Langkah beliau terhenti manakala melihat dua orang menghadangnya di tepi kolam. Senopati Lembusura dan Keboarja telah siap dengan keris terhunus. Tapi sungguh aneh, kedua Senopati itu mendadak tubuhnya menggigil ketakutan. Ada perbawa agung yang keluar dari pribadi Sunan Giri. Perbawa aneh yang melumpuhkan otot dan tulang- tulang mereka.

‘Kalian ini mau apa?’, tanya Sunan Giri.

Aneh, Keboarja sedianya hendak berbohong tapi justru lidahnya mengatakan hal yang sebenarnya, demikian pula Lembusura.

‘Kami adalah utusan Prabu Girindrawardana yang ditugaskan untuk membunuh Andika’, jawab keduanya dengan gemetar .

“Kalau begitu laksanakanlah’, ujar Sunan Giri dengan tenangnya.

“Am….ampun Kanjeng Sunan….tubuh kami gemetaran, kami merasa takut kepada Andika. Mohon ampun….kami mohon jangan dibunuh’.

‘Lho?. Kalian ini aneh. Bukankah kalian bermaksud membunuhku?. Mengapa justru kalian yang takut kepadaku’, tanya Sunan Giri

‘Kak….kami.. .mohon ampun….’, kata kedua Senopati itu tersendat- sendat.

‘Baiklah, kalian sebaiknya pulang ke Majapahit.Beritahukan hal ini kepada rajamu’, kata Sunan Giri.

Dengan hati lega kedua orang itu segera ambil langkah seribu, berlari menuju kota raja Majapahit. Prabu Girindrawardhana heran melihat kedua Senopati yang sangat diandalkan itu lari terbirit-birit bagai dikejar hantu. Lebih heran lagi manakala mendengar penuturan pengalaman keduanya saat berada di Giri Kedaton.

‘Gila !’, pekik Prabu Girindrawardhana. ‘Sudah di hadapan orangnya kalian ternyata tak mampu membunuhnya?’

‘Beb…benar, Gusti Prabu….tubuh kami gemetar. Kami merasa ketakutan teramat sangat’

‘Aneh ? Benar-benar aneh….’gumam Prabu Girindrawardhana.

Tapi usaha sang Prabu tidak berhenti sampai di situ saja. Segera sesudah mendengar laporan Lembusura dan Keboarja sang Prabu memerintahkan Mahapatih Majapahit untuk mengumpulkan bala tentara ke Giri Kedaton. Ribuan tentara Majapahit bergerak menuju Giri. Penduduk di sekitar Giri Kedaton ketakutan melihat jumlah tentara Majapahit yang besar itu. Mereka berlarian menuju puncak gunung. Sementara itu Sunan Giri juga sudah mengetahui datangnya pasukan Majapahit dalam jumlah yang besar. Namun beliau hanya bersikap tenang-tenang saja. “Bukan aku yang mencari perkara, tapi mereka sendiri yang menyerang lebih dahulu ke Giri Kedaton”, ujar Sunan Giri sambil memperhatikan pasukan Majapahit dari atas bukit.

Sementara itu laskar Majapahit sudah hampir mendekati kaki gunung, Sunan Giri bersabda: ‘Dimen kelede-leden segara disik, aja nganti bisa munggah ing arga….’. Mendadak sawah-sawah di depan dan di kanan-kiri serta di belakang lasykar Majapahit berubah menjadi lautan. Lasykar Majapahit yang berjumlah ribuan orang tak mampu bergerak. Mereka hanya berdiam diri di tempatnya.

Keadaan itu berlangsung hingga berhari-hari sehingga para prajurit Majapahit banyak yang menderita kelaparan. Sunan Giri tiada sampai hati melihat penderitaan para prajurit itu. Dari atas bukit tiba-tiba berjatuhan umbi- umbian semacam ketela, bentul, dan lain-lain. Lautan yang tadinya mengepung lasykar itu pun akhirnya lenyap, berubah kembali menjadi sawah. Para prajurit Majapahit yang tadinya patah semangat dan lumpuh karena kelaparan itu sekarang bersorak-sorai. Mereka melahap makanan yang seperti didatangkan dari atas bukit.

Setelah prajurit-prajurit itu segar kembali mereka bermaksud kelanjutkan perjalanan ke atas bukit. Rencana menyerang Giri Kedaton mereka lanjutkan.

Ayo, serbu…. hancurkan Giri Kedaton….!’, demikian pekik Mahapatih Majapahit memberi komando. Lasykar dalam jumlah besar itu pun mulai bergerak menaiki bukit.

‘Hem, benar-benar tidak tahu diri’, ujar Sunan Giri

dari atas bukit. ‘Diberi hati meminta rempela ….’

‘Sunan Giri kemudian melemparkan kalarnnya (sejenis pena tulis). Ajaib. Kalam itu berubah menjadi keris, namanya Kalamunyeng. Keris itu melayang-layang dan menusuk prajurit-prajurit Majapahit, sehingga satu per satu prajurit Majapahit berguguran.

Meski demikian Mahapatih Majapahit masih belum jera. Dia masih memerintahkan lasykarnya untuk mendaki bukit dan menghancurkan Giri Kedaton.

‘Hem, benar-benar keras kepala’, ujar Sunan Giri.

Lalu Sunan Giri mengambil segenggam pasir, dilemparkan ke bawah bukit. Pasir itu tiba-tiba berubah menjadi ribuan tawon ganas, menyengat para prajurit Majapahit, sehingga mereka cerai-berai, berlarian tunggang-langgang. Akhirnya lasykar Majapahit kembali ke ibukota dengan menderita kekalahan”.

M.B. Rahimsyah, hlm. 50-56. dalam Makam-makam wali songo

Sunan Ampel, Surabaya

Riwayat Hidup Sunan Ampel

“Sunan Ampel atau raden Rahmatullah adalah puteraSyeh Ibrahim Samarqandi atau sering disebut Ibrahim Asmara. Menilik namanya tentulah Ibrahim Samarqandi itu berasal dari negeri Samarkand. Syeh Ibrahim Asmara ini mula-mula berdakwah di negeri Campa (Cempa) yaitu di sebuah daerah kerajaan yang sekarang termasuk wilayah di Muangthai. Hingga sekarang wilayah Muangthai Selatan penduduknya masih beragama Islam dan taat menjalankan agamanya.

Atas keberhasilan Ibrahim Asmara dalam menyebarkan agama Islam ke negeri Campa, maka raja Campa kemudian mengambilnya sebagai menantu, dijodohkan dengan putri Campa yang bernama Dewi Candrawulan. Dari perkawinannya itu beliau dikaruniai dua orang putra, yaitu:

  1. Raden Santri (Sayyid Ali Murtolo)
  2. Raden Rahmatullah (Sunan Ampel).

Cara dakwah Sunan Ampel

Adapun adik Dewi Candrawulan yang bernama Putri Dwarawati diperistri oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V. Dengan demikian Raden Rahmatullah adalah keponakan Ratu Dwarawati pemaisuri raja Majapahit. Pada masa itu suasana kerajaan Majapahit agak kacau balau. Banyak perampokan, pencurian, perjudian, pelacuran dan tindak kejahatan lainnya. Sang Prabu Brawijaya telah memerintahkan para pendeta Brahmana agar lebih banyak memberi penerangan kepada masyarakat agar tidak melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran susila, namun kebiasaan rakyat Majapahit itu seolah-olah telah mendarah daging. Bahkan beberapa orang pangeran kerajaan ikut-ikutan meramaikan perjudian dan perbuatan asusila.

Prabu Brawijaya menjadi masgul dan pusing memikirkan keadaan itu. Suatu hari Ratu Dwarawati mengajak suaminya bermusyawarah. ‘”Kangmas Prabu…”, kata Ratu Dwarawati dengan suara lembut. ‘Bila rakyat dan para pembesar dibiarkan berlarut-larut dalam perjudian dan tindak kejahatan lainnya lama-lama kerajaan Majapahit akan menjadi hancur, “lalu harus bagaimana lagi,” sahut Prabu Brawijaya. Mereka tidak lagi menghormati dan mentaati ajaran para Brahmana. Sepertinya sudah tidak ada lagi orang yang mereka segani, ‘Saya mempunyai keponakan yang pandai mendidik masyarakat’, kata Ratu Dwarawati. ‘Namanya Raden Ali Rahmatullah. Wajahnya tampan, budi pekertinya sangat baik dan mulia. Saya yakin, keponakan saya itu akan menjadi panutan bila Kakangmas Prabu berkenan mendatangkannya ke istana Majapahit ini’. Baik, tidak ada salahnya mendatangkan keponakanmu itu , kata Prabu Brawijaya.

Demikianlah Raden Rahmatullah kemudian didatangkan ke istana Majapahit. Kedatangan Pangeran dari negeri Campa itu disambut dengan meriah oleh seluruh pembesar kerajaan Majapahit.Para bupati dari seluruh wilayah Majapahit turut diundang untuk menyambut si tamu agung. Prabu Brawijaya sangat terpesona atas kehalusan dan kebaikan budi pekerti yang diperlihatkan Raden Ali Rahmatullah. Pangeran dari negeri Campa itu bersedia bergaul dengan siapa saja dengan sikap yang ramah. Di samping sikapnya yang lemah lembut, wajahnya pun tampan dan menyenangkan setiap orang yang melihatnya. Untuk mengikat Raden Ali Rahmatullah agar betah dan krasan tinggal di Majapahit, maka Prabu Brawijaya mengumpulkan seluruh putrid istana, bahkan para putri bupati pun didatangkan ke istana Majapahit untuk dipilih sebagai isteri Raden Ali Rahmatullah.

Al-Kisah di antara sekian banyak wanita cantik, Raden Ali Rahmatullah berkenan memilih Nyai Ageng Manila sebagai istrinya. Raden Rahmat kemudian diberi tanah beserta bangunannya di daerah Ampeldenta sebagai pusat Padepokan. Para bangsawan, para pangeran dan para bupati diperintahkan berguru ilmu budi pekerti di Padepokan Ampeldenta. Karena kedudukannya selaku Mahaguru di Padepokan Ampeldenta maka Raden Rahmatullah kemudian disebut Kanjeng Sunan Ampel. Sunan Ampel memperkenalkan budi pekerti mulia sebagai ajaran pendahuluan sebelum pada akhirnya beliau memperkenalkan pencipta ajaran budi pe­kerti yang mulia tersebut yaitu Allah, Tuhan Pencipta Alam. Beliau menanamkan disiplin, dan watak kejujuran kepada setiap murid-muridnya.

Para pejabat kerajaan dianjurkan setia kepada sumpahnya selaku pengabdi negara dan rakyat. Para pedagang dianjurkan berlaku jujur dan menghindari kecurangan. Di antara ajaran beliau yang sangat terkenal ialah Moh Limo. Moh limo artinya tidak mau terhadap lima hal, yaitu:

(1)   Moh Main                   (tidak mau berjudi)

(2)   Moh Ngombe             (tidak mau minum yang memabokkan)

(3)   Moh Maling                                (tidak mau mencuri atau korupsi)

(4)   Moh Madat                 (tidak mau merokok candu atau ganja)

(5)   Moh Madon                               (tidak mau berzinah atau melacur).

Mula-mula ada saja yang membantah ajaran beliau. Di antara mereka ada yang berkata, “Kanjeng Sunan…. mengapa kita dilarang berjudi? Bukankah dengan berjudi kita bisa mendapatkan uang secara cepat tanpa bersusah payah?’. Yang lain juga berkata, ‘Dengan minum . arak kita dapat menghangatkan badan. Terutama bila sedang musim dingin, orang kedinginan bisa menimbulkan kematian. Lagi pula dengan memabokkan diri atau menghisap candu kita dapat melupakan sejenak beban derita yang kita sandang’.

Sunan Ampel hanya tersenyum mendengar pertanyaan nakal itu. Dengan arif beliau berkata, ‘pada waktu berjudi apakah Andika rela berada di pihak yang kalah?’,  ‘Tentu saja tidak mau Kanjeng Sunan….”

Ya, tentu saja tidak ada orang yang mau dirugikan’, sambung Sunan Ampel. ‘Bahkan orang yang kalah dalam perjudian hatinya akan menjadi panas, penuh dendam. Sementara itu untuk -menebus kekalahannya dia tidak segan-segan mempergunakan harta di rumah untuk dipergunakan main judi lagi. Bila harta di rumah sudah habis maka dia tidak segan-segan mencuri harta tetangganya atau bahkan menggelapkan uang negara. Inilah sebabnya perjudian harus dilarang .

‘Demikian pula halnya dengan minum arak atau mabok’, lanjut Sunan Ampel. ‘Orang yang suka mabok akalnya menjadi lemah, tak dapat membedakan lagi mana yang baik dan yang buruk. Waktu mabok dia dapat saja mengeluarkan kata-kata kotor tidak senonoh, membocorkan rahasia teman atau bahkan membocorkan rahasia negara. Inilah bahayanya orang yang suka mabok’

Menurut Sunan Ampel orang yang suka mabok badannya menjadi rusak, lebih-lebih mereka yang suka madat atau menghisap candu. Hidupnya hanya dipergunakan untuk berkhayal dan menjadi pemalas sehingga hanya menjadi beban orang lain saja. Orang mencuri jelas merugikan dirinya sendiri dan lebih-lebih lagi merugikan orang lain. Merugikan diri sendiri karena orang tersebut menjadi terbiasa hidup bergelimang dosa, dimana hidupnya menjadi tidak tenang, selalu dipertanyakan oleh hati nuraninya yang tak mau berdusta. Belum lagi rasa cemas akibat perbuatannya itu bahwa setiap saat dia selalu merasa dicurigai orang.

Maling tidak selalu bernasib baik, bahkan banyak mereka yang tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh penduduk setempat. Baik maling kecil atau maling besar, baik maling secara terang-terangan atau maling gelap-gelapan sama-sama merugikan orang, lebih-lebih maling negara rakyatlah yang akan menjadi korbannya. Madon atau berzinah atau melacur itu sangat merugikan para pelaku dan masyarakat di sekitarnya. Para pezina kebanyakan dihinggapi penyakit kotor.

Ajaran budi pekerti mulia ini ternyata menarik banyak minat masyarakat Majapahit. Bukan hanya para bangsawan dan keluarga keraton saja yang datang berguru kepada Sunan Ampel, banyak pula rakyat jelata yang rela menjadi murid beliau. Sejak adanya Sunan Ampel di Surabaya Prabu Brawijaya merasa tenteram. Banyak para keluarga keratin dan pejabat kerajaan yang insyaf, tidak lagi mengerjakan pekerjaan tercela. Sang Prabu pun sering memberikan bantuan materi untuk kelangsungan pendidikan di Ampeldenta. Ketika pada akhirnya Sunan Ampel mengumumkan bahwa ajaran budi pekertinya ada­lah ajaran agama Islam, sang Prabu tidak menjadi marah. Beliau menganggap Islam adalah ajaran budi pekerti yang tiada salahnya dianut oleh rakyat Majapahit.

Demikianlah cara-cara Sunan Ampel mulai menyebarkan agama Islam, bukan dengan cara menyebarkan slogan-slogan, maupun pidato- pidato saja melainkan dengan tingkah laku dan perbuatan nyata yang menjadi teladan dan panutan masyarakat. Dan hal itu langsung beliau sendiri yang memulainya. Bila beliau melarang orang berjudi maka beliau pun tidak pernah melakukan atau datang ke tempat perjudian. Bila beliau menganjurkan untuk menolong fakir miskin, maka beliaulah yang paling dahulu memberikan pertolongan kepada fakir miskin.

Tidak lama kemudian perguruan Ampeldenta ramai dikunjungi orang. Murid-murid Padepokan atau Pesantren Ampeldenta berdatangan dari segala pelosok negeri. Bahkan ada yang datang dari negeri Iran yaitu Ali Saksar. Ketika beliau hendak mendirikan masjid, maka tidak ada kesukaran dalam mencari dana, baik dana yang berasal dari masyarakat maupun dari pemerintah Majapahit. Pemerintah Majapahit menganggap Sunan Ampel sebagai salah seorang yang sangat berjasa bagi pembangunan mental masyarakat dan penduduk Majapahit”.

Murid-Murid Sunan Ampel

“Di antara sekian banyak murid-murid Sunan Ampel yang ter­kenal ialah :

(1)               Sunan Giri atau Raden Paku Maulana Ainul Yakin. Beliau ternyata mengikuti jejak gurunya, beliau menjadi seorang wali di antara sekian banyak waliullah di Tanah Jawa. Bahkan dalam Walisanga beliau pernah menjadi mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, menggantikan kedudukan Sunan Ampel yang telah wafat. Di samping itu beliau adalah seorang Guru Besar dari Pesantren Giri, Gresik. Murid-muridnya tersebar di seluruh Nusantara.

(2)            Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim. Di samping murid Sunan Ampel beliau adalah putra Sunan Ampel sendiri yang terlahir dari Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang ini berdak­wah di daerah Tuban. Makamnya terletak di sebelah barat alun-alun dan Masjid Agung Tuban.

(3)            Raden Syarifuddin atau lebih dikenal dengan nama Sunan Drajad; beliau berdakwah di daerah Sedayu dan sekitarnya.

(4)            Raden Umar Said yang lebih dikenal dengan nama Sunan Muria.

(5)            Raden Syahid atau Sunan Kalijaga.

(6)            Jafar Sodiq atau Sunan Kudus.

(7)            Fatahillah dan Syarif Hidayatullah.

(8)            Raden Fattah atau Raden Patah pendiri kerajaan Demak.

(9)            Batara Katong.

(10)        Ali Saksardari Iran.

(11)        Mbah Shanhaji dan Mbah Sholeh.

Itulah murid-murid Sunan Ampel di antara sekian banyak muridnya.” (Rahimsyah  1994: 26-27).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Wali Sanga,  M.B.Rahimsyah, Karya Anda, Surabaya, 1994, hlm. 13-27.

Sejarah Bangkalan

Penetapan Hari Jadi Bangkalan melalui proses yang rumit dalam pembakuannya, karena masih me- merlukan penelitian lebih mendalam. Bahkan pengkajiannya juga dilakukan secarateliti melalui seminar dan diskusi- diskusi sehat yang positif untuk menentukan hasilnya. Akhirnya dari Tim 19 yang telah di- bentuk, melalui sidang DPRD Bang­kalan bulan Mei 1992 yang lalu, memutuskan secara aklamasi Hari Jadi Bangkalan ditetapkan pada tanggal 24 Oktober 1531.

Sebagai pertimbangan yang mendasar, bahwa pada tanggal itu dijadikan titik awal sejarah peme- rintahan baru di Bangkalan, karena bertepatan dengan dinobatkannya Pranatu menjadi Panembahan yang bergelar Lemah Duwur. Sosok Pranatu atau Panembahan Lemah Dhuwur adalah putra dari Raja Pragalba yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, 15 Km arah utara kota Bangkalan.

Adapun masyarakat Bangkalan sendiri menokohkan Pranatu ditinjau dari berbagai pertimbangan diantara- nya, dia dianggap sebagai penyebar Agama Islam yang pertama di Wilayah Madura. Bahkan putra Pragalba itu juga disebut sebagai pendiri Masjid pertama, ditambah dengan upayanya dalam mengawali hubungan ke luar daerah, seperti halnya dengan negeri Pajang di Pulau Jawa.

Walaupun jauh sebelumnya Agama Islam masuk ke Madura, sejarah tidak bisa ditinggalkan dengan munculnya kekuasaan sebuah kerajaan di Plakaran. Embrio berdirinya kerajaan Plakaran dimulai pada periode awal kedatangan Kiai Demung dari Sampang. Dia adalah anak Aria Pujuk dan Nyai Ageng Budha. Melihat nama Kiai Demung, mengingatkan salah satu jabatan dalam Pancaring Wilwatikta, yaitu Rakryan Demung.  Adanya hal ini dimungkinkan kata Demung adalah nama jabatan yang terdapat di pemerintahan Mojopahit.

Jadi kerajaan Plakaran merupakan bagian Wilayah Mojopahit yang dianggap potensiil pada waktu itu. Setelah menetap di Plakaran, Kiai Demung dikenal dengan sebutan Demung Plakaran. Pe- kembangan berikutnya Demung mendirikan sebuah tempat untuk kegiatan keramaian di sebelah barat kerajaan Plakaran atau tepatnya di kecamatan arosbaya. Sebagai kuasa pratama dari kerajaan plakaran, Demung menikah dengan Nyi Sumekar sehingga mempunyai keturunan lima putra termasuk R. Pragalba sebagai putra bungsunya, yang akhirnya diberi kekuasaan untuk bertahta.

Dikala Pragalba bertahta, kekuasaannya tidak hanya di Arosbaya saja melainkan beliau meluaskan kekuasaannya dihampirseluruh Madura terutama Wilayah Madura Bagian Barat, yang merupakan keramaian untuk melancarkan roda perekonomian. Di Madura bagian barat itu daerah kekuasaannya berangsur-angsur berkembangdanakhirnyamenjadi sebuah kota Bangkalan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, Nomor