Makam Mbah Kartowijoyo, Kabupaten Tuban

Secara administratif Situs Bandungrejo dan Makam Mbah Kartowijoyo terletak di Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang, dan secara astronomis berada pada 7°5’0″ LS dan 112°6’31” BT. Keberadaan makam yang terletak di dalam cungkup di Astana Krebut Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang ini sekarang dikenal dengan nama makam Mbah Kartowijoyo. Nama beliau seperti yang tertulis di papan kayu di Astana Krebut adalah Sayyid Abdurrahman Abu Bakar Husein.

Di Astana Krebut Desa Bandungrejo terdapat dua buah batu prasasti, disebut Prasasti Bandungrejo atau Prasasti Tuban, berangka tahun 1277 Saka atau 1355 Masehi. Prasasti Tuban ini terbuat dari batu sebanyak dua buah, yang angka tahun dan isinya bersamaan, ditemukan di Desa Bandungrejo dan merupakan satu-satunya prasasti yang menyebut nama Tuban secara langsung dan jelas. Transkripsi prasasti ini diterjemahkan oleh Drs. Soekarto Kartoatmojo pada tahun 1980. Prasasti ini menyebutkan bahwa pembe- rontakan di tepi sungai dapat dipadamkan oleh orang-orang Tuban (pati kadi dasa hakuti tuban), sehingga dapat aman dan sentosa.

Transkripsi Prasasti Tuban I, adalah sebagai berikut:

  1. isika, irika… dewasaning alaga,
  2. om, takala ni nadhitira,
  3. pati kadi dasa hakuti tuban,
  4. kaparitata sakani-keni dadi rasa jana tata.

Terjemahartnya:

  1. Tahun saka, ketika ada peperangan.
  2. Om, ketika ada peperangan di tepi sungai.
  3. Dapat dipadamkan orang-orang Kuti Tuban.
  4. Dapat tenteram, akhirnya menjadi masyarakat yang aman sejahtera.

Dalam buku Catatan Sejarah 700 Tahun Tuban menyebutkan bahwa menurut cerita rakyat dikatakan ada seorang Pangeran dari Mataram, yang dicintai oleh permaisuri raja Mataram. Kemudian mereka lari menggunakan gethek (perahu kecil) di Bengawan Solo, mengikuti aliran sungai dan menghilir, akhirnya sampai di daerah rawa di Desa Bandungrejo. Ia kemudian mengabdi kepada Kyai Jiwonolo, yang juga disebut Kyai Klebet.

Sedangkan menurut penuturan H. Sunoto, juru kunci makam, Mbah Kartowijoyo adalah seorang Senopati (panglima perang) yang berperang melawan kompeni Belanda pada masa Kerajaan Mataram

dipimpin oleh Amangkurat 11(1677-1703). Menurut silsilah yang berasal dari H. Sunoto, silsilah Mbah Kartowijoyo adalah seBagai berikut.

Para Pemimpin Kesultanan Banten :

  1. Sunan Gunungjati (1479-1568)
  2. Sultan Maulana Hasanuddin (1552 – 1570)
  3. Pangeran Yusuf (1570-1580).
  4. Maulana Muhammad (Banten, 1585-1590).
  5. Abdul MufakirMahmud Abdul Kadir (1605-1640).
  6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1640 -1650)
  7. Sultan Ageng Tirtoyoso (1651-1680).

Sultan Ageng Tirtoyoso menurunkan:

  1. Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) (1683-1687)
  2. Pangeran Purbaya.

Para Pemimpin Kesultanan Cirebon:

  1. Fatahillah (1568-1570)
  2. Pangeran Pasarean
  3. Pangeran Dipati (wafat 1565)
  4. Pangeran Emas/Panembahan Ratu I (1570-1649)
  5. Pangeran Dipati Sedo ing Gayam (Panembahan Adiningkusuma), wafat lebih dulu sehingga digantikan oleh putranya, Pangeran Girilaya. Ia memakai gelar ayahnya Panembahan Adiningkusuma.
  6. Pangeran Rasmi/Pangeran Karim/Pangeran Girilaya/ Panembahan Adiningkusuma/Panembahan Ratu II (1649-1677).

Beliau adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram. Makamnya ada di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja- raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Pangeran Girilaya mempunyai 3 anak, yaitu:

  1. Pangeran Martawijaya (1677-1703),
  2. Pangeran Kartawijaya (1677-1723),
  3. Pangeran Wangsakerta(1677-1713).

Dengan kematian Pangeran Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa.Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten.Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram.Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing- masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:

  1. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin.
  2. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin.
  3. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati.

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya irii dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten.Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing.Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan.

Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi   berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tuban Bumi Wali; The spirit of harmoni, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm. 223-224

Sejarah Gedung Kampus A, UNAIR

Ketika Gedung-gedung Bercerita

NIAS UNAIR004Lingkungan menjadi sangat penting untuk mendukung sebuah aktivitas. Sebuah lingkungan dan ruang yang kondusif, akan berperan besar dalam meningkatkan performa dan kesuksesan. Universitas Airlangga selalu berusaha untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan integral untuk melangkah.

Sejarah panjang perjalanan Universitas Airlanga, membuat universitas ini mewarisi bangunan-bangunan masa lalu. Bahkan beberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Mereka adalah saksi-saksi bisu yang menyimpan rangkaian cerita dan sejarah perkembangan universitas dan bangsa Indonesia.

Cagar budaya adalah merupakan kekayaan bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional.

Bagi sebagian orang, masa lalu adalah sesuatu yang usang dan ketinggalan zaman. Ada juga yang mengatakan jika masa lalu harus dibuang. Tetapi Jka dilihat lebih jernih, sebenarnya banyak kearifan yang bisa kita petik dari masa lalu. Kita bisa becermin dan belajar dari masa lalu untuk membuat kebijakan di masa mendatang. Masa lalu bisa kita jadikan pijakan untuk melangkah ke masa depan yang lebih cemerlang.

Sebagai bangsa yang bersentuhan dengan berbagai bangsa di masa lalu, bangsa Indonesia mempunyai ikatan erat dengan sejarah dan interaksi sosial berbagai bangsa di masa lalu. Begitu juga dengan Universitas Airlangga. Sebagai institusi pendidikan yang berdiri di zaman Belanda, banyak sekali perangkat dan gedung-gedung dalam lingkungan pergutuan tinggi ini yang merupakan peninggalan dari zaman kolonial.

Sebagai institusi yang menyimpan bangunan cagar budaya, Universitas Airlangga punya komitmen untuk merawat dan melindungi. Usaha perlindungan dan pelestarian benda dan bangunan cagar budaya, mengandung konsekuensi logis. Sebagai generasi bangsa yang hidup pada masa kini harus berani menghadapi tantangan kebutuhan masa kini dan mampu memahami sejarah masa lampau.

Pemahaman sejarah masa kini sangat erat kaitannya dengan perubahan. Oleh sebab itu, perlu suatu pengendalian agar perubahan itu menjadi pemicu ke arah lahirnya pemikiran yang akan mengubah

pemahaman sejarah masa lalu. Generasi sekarang merasa semakin jauh untuk dapat memahami sejarah dan masa lalu. Mereka menjadi awam terhadap lingkungan sekitarnya, dan hanya bisa menyimak masa lalu yang telah tercabik-cabik. Sepenggal sejarah yang terekam dalam potret tempo dulu, kini telah berubah menjadi mall dan plaza, gedung perkantoran, bank, atau kondominium. Lebih celaka lagi ketika nama jalan dan kawasan ikut diubah dengan nama baru, sehingga jejak masa lalu benar-benar habis terhapus. Gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda serta bangunan-bangunan bersejarah sudah banyak yang lenyap karena dipugar, diganti dengan bangunan baru yang lebih megah, tidak mungkin dapat direkonstruksi kembali. Dari waktu ke waktu, obyek cagar budaya dan obyek sejarah di Surabaya pun semakin langka.

  1. LATAR BELAKANG DAN CERITA GEDUNG NIAS

NIAS UNAIR003Salah satu unsur pengembangan potensi daerah adalah pembinaan terhadap peninggalan- peninggalan sejarah bangsa. Situs dan benda-benda peninggalan sejarah mempunyai makna kebanggaan terhadap generasi yang akan datang sebagai suatu bangsa yang pernah memiliki citra kebesaran dan perjuangan. Diharapkan rasa nasionalisme dapat tumbuh dan berkembang ke seluruh lapisan masyarakat Dalam arti bahwa peninggalan sejarah dapat menjadi media bagi masyarakat untuk mendidik dan merribina generasi bangsa dalam rangka pembentukan nation and character building di tengah arus global.

Untuk melindungi dan memelihara benda peninggalan dan situs sejarah, dibuat Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yang diperkuat oleh Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1993 tentang pelaksanaannya. Kebijaksanaan pemerintah lain yang mendukungnya adalah Keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang pendaftaran, pemeliharaan benda cagar budaya (Kep. Men. No. 0893.062-063/95). Dasar hukum yang dibuat dimaksudkan sebagai pedoman instansi terkait dan masyarakat dalam pembinaan dan pelestarian benda peninggalan sejarah bangsa. Kotamadya Surabaya sebagai ibu kota propinsi Jawa Timur berfungsi sebagai kota sentral aktivitas masyarakat Jawa Timur. Kota Surabaya sebagai salah satu kota tua di Indonesia sarat oleh peninggalan- peninggalan sejarah, mulai dari masa Majapahit sampai kolonial. Peristiwa besar bersejarah pernah terjadi yaitu pertempuran antara rakyat melawan kolonialis yang dikenal dengan “Peristiwa 10 Nopember” Peristiwa tersebut membawa makna tersendiri bagi perjuangan bangsa, bahwa bangsa Indonesia tidaks etuju dengan nilai-nilai penindasan bangsa satu terhadap bangsa yang lain atau anti-kolonialisme. Nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme generasi bangsa di masa yang akan datang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, apabila kebanggaan terhadap keberhasilan perjuangan dapat ditanamkan dalam sendi-sendi kehidupan mereka.

Di samping itu pembinaan budaya daerah ditujukan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, jati diri dan kepribadian, mempertebal rasa harga diri serta memperkokoh jiwa persamaan dan kesatuan. Salah satu caranya melalui penanaman nilai-nilai perjuangan bangsa dengan tetap memelihara dan melestarikan benda-benda peninggalan bersejarah.

Pembangunan akan membawa adampak pada perubahan-perubahan, baik bersifat fisik dan non­fisik. Perubahan yang cepat dan dapat dilihat adalah bentuk fisik atau bangunan. Konsekuensi dari proses pembangunan adalah penataan kembali sarana infrastruktur disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan kota.

Prinsip penggunaan dari bangunan-bangunan yang ada selayaknya tidak harus menghilangkan nilai- nilai historis bangunan-bangunan tersebut. Hal ini akan memberikan kesan dan pesan kepada generasi penerus untuk tetap melestarikan dan memeliharanya. Artinya, penanaman nilai-nilai kesejarahan dan perjuangan bangsa sangat diperlukan sebagai bekal mereka dalam kehidupan kota Surabaya yang semakin kosmopolitan. Kebutuhan komersial tidak harus menghilangkan nilai-nilai historis, bahkan mengintegrasikan antara nilai historis dan ekonomis di dalamnya menjadi potensi kepribadian bangsa.

Untuk mengantisipasi perubahan zaman dalam rangka proses pembangunan maka pemerintah daerah Kotamadya Surabaya mengusahakan bentuk-bentuk pelestarian benda-benda bersejarah dengan memasukkannya ke dalam Cagar Budaya. Benda Cagar Budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang mempunyai nilai penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran diri sebagai suatu bangsa dan kepentingan nasional. Salah satu bangunan peninggalan kolonial yang memiliki nilai sejarah adalah gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjadi salah satu bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan keberadaannya. Untuk itu pemerintah daerah berupaya mengadakan inventarisasi benda- benda peninggalan sejarah yang ada di Kotamadya Surabaya. Inventarisasi ini dilakukan dengan maksud agar bangunan-bangunan bersejarah selama periode kolonial dapat dimasukkan dalam perlindungan Undang- undang Benda Cagar Budaya di Kota Surabaya. Harapan yang ingin dicapai adalah setiap warga negara mempunyai kewajiban yang sama untuk memelihara dan melestarikan benda-benda peninggalan bersejarah.

Bangunan peninggalan kolonial di kota Surabaya terbagi dalam dua kategori, yaitu the Empaire Style dan Indisch. The Empaire Style (1870-1940) lebih menonjolkan seni neo-klasik Perancis dan seorang penguasa yang merancangnya adalah Herman Williem Daendels. Beberapa bangunan peninggalannya antara lain gedung Grahadi, Gedung BPN, dan Kantor BP7 Tangsi Jotangan (Polwitabes 101), Rumah Sakit Militer (Pabrik Biskuit Karya Samudra), Rumah Sakit Simpang sekarang menjadi Plasa urabaya. Bangunan kolonial bergaya Indsich menonjolkan unsur kebudayaan tradisional dalam bangunan. Contoh bangunan bergaya Indisch adalah gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dulunya dipakai untuk Nederland Indische Artsen School (NIAS). Bangunan lain adalah Hoogere Burgerschool Soerabaia yang sekarang SMA Wijaya Kusuma (kompleks), Middelbaar Technische School yang kini menjadi STM 1.

Proses pembangunan membawa dampak pada perubahan yang bersifat material dan non-material. Pada bangunan fisik terjadi perubahan pada bentuk dan fungsi untuk menyesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan. Hal ini juga berdampak pada bangunan-bangunan yang mengandung nilai-nilai sejarah, sehingga perlu adanya antisipasi secara dini untuk menyelamatkan dari kepunahan.

Dalam penelitian yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, para peneliti ingin melihat bagaimana deskripsi bangunan Fakultas Kedokteran sebagai bangunan yang memiliki nilai sejarah? Apakah nilai-nilai sejarah dari bangunan-bangunan peninggalan kolonial khususnya Fakultas Kedokteran Unair? Apakah arti penting nilai-nilai sejarah dari bangunan Fakultas Kedokteran Unair terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia?

Dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memberikan tambahan wacana masyarakat di bidang pendidikan tentang bangunan-bangunan peninggalan kolonial yang mengandung nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa, sehingga situs-situs sejarah di kota Surabaya menjadi salah satu laboratorium pendidikan sejarah bangsa Indonesia. Kedua, memberikan masukan kepada pemerintah daerah agar dalam menentukan kebijaksanaan pembangunan , khususnya tata ruang dan bangunan kota lebih mempertimbangkan aspek nilai-nilai sejarah dari bangunan -bangunan yang ada. Di samping meningkatkan jaminan perlindungan dan pelestarian benda-benda cagar budaya untuk masa depan bangsa. Ketiga, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengembangan ilmu pengetahuan tentang situs dan benda-benda peninggalan sejarah.

Metode Penelitian yang dipakai adalah:

  • Lokasi Penelitian
  • Lokasi penelitian ini terletak di kota Surabaya, khususnya di daerah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Jl. Dharmahusada, kelurahan Karangmenjangan, Kecamatan Gubeng.
  • Pengumpulan Data
  • Pengumpulan data dilakukan dengan observasi di lokasi penelitian yang meliputi seluruh gedung-gedung fakultas Kedokteran UNAIR. Hasil observasi adalah menemukan denah gedung, fungsi masing-masing gedung, sehingga membantu penelitian melakukan deskripsi bangunan.
  • Studi kepustakaan juga dilakukan untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah tertulis dari gedung tersebut yang merupakan peninggalan NIAS. Beberapa data yang diperoleh dari studi kepustakaan ini berasal dari laporan tahunan yang dibuat oleh Universitas Airlangga sejak tahun 1955-1975. Buku lain yang menunjang perolehan data didapatkan dari perpustakaan juga diperoleh dari kliping koran.
  • Teknik dokumentasi memberikan data penunjang tentang aristektur bangunan berupa foto, gambar gedung, sehingga diperoleh detail-detail bangunan Fakultas kedokteran UNAIR yang dahulu dipakai untuk NIAS.
  • Teknik Pengolahan Data
  • Pengolahan data dalam penilaian historis, yaitu dengan menguji data yang diperoleh untuk menjadi fakta. Fakta-fakta yang didapat dikatagorikan untuk selanjutnya dihubungkan antara fakta satu dengan lainnya. Interpretasi terhadap fakta dilakukan sebagai langkah terakhir sebelum menyusun histroriografi.
  • Analisis Data
  • Analisis data dalam penelitian sejarah difokuskan pada langkah interpretasi atas fakta-fakta dan menyusun historiografi. Pada penelitian ini historiografi yang disusun adalah bangunan bernilai sejarah yaitu gedung Fakultas Kedokteran Unair dan kehidupan manusia di lingkungan itu.

B. GAYA ARSITEKTUR GEDUNG NIAS

Universitas Airlangga menyimpan gedung dengan arsitektur tinggi. Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga terletak di Jl Dharmahusada (kini Jl Prof Moestopo), mempunyai luas 6.684 m2. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menempati Kampus A seluas 70.353 m2, yang terdiri dari:

  1. Luas lahan untuk bangunan 43.309 m2
  2. Luas lahan terbuka 27044 m2

Bangunan Cagar Budaya ini bekas gedung Nederland Indische Arsten Sechool (NIAS), dibangun pada tahun 1921-1922 oleh Wiemans seorang arsitek dari Burgerlijke Openhari Werken (BOW/ Dinas Pembangunan Umum Pemerintah Kolonial Belanda). BOW adalah lembaga pemerintah kolonial yang mengelola masalah pembangunan gedung-gedung negara. Kekuasaan lembaga ini membawa pengaruh yang sangat besar sekali terhadap bentuk dan arsitektur bangunan negara kolonial di Indonesia.

Seni bangunan negara yang dihasilkan setelah tahun 1900 mempunyai kualitas yang memenuhi standar praktis dan asitektonis. Hal ini dibuktikan melalui pujian Berlage, seorang arsitek senior Belanda terhadap arsitektur bangunan karya-karya BOW yang termuat dalam bukunya Mijn Indische Reis. Beberapa bangunan BOW yang mempunyai kualitas yang sama dengan bentuk dan arsitektur gedung NIAS antara lain gedung HABS (SMA kompleks J. Wijaya Kusuma), gedung STM I (Jl. Patua), Kantor Pos Besar (Jl. Kebon Rojo), Kantor Gubernur (Jl. Pahlawan).

Letak geografis bangunan ini berada di wilayah Surabaya Timur, yaitu di Kelurahan Karangmenajangan, Kecamatan Gubeng, Kotamadya Surabaya. Gedung ini menghadap ke Selatan. Di sebelah Utara berbatasan dengan kampung Kedungsroko, di sebelah Selatan berhadapan dengan Rumah Sakit Dr. Soetomo, di sebelah Timur berbatasan dengan gedung Basic Medical Centre (BMC) dan di sebelah Barat berbatasan dengan Fakultas Kedokteran Gigi.

Bangunan ini bergaya arsitektur Indish, dengan ciri bangunan simetri (kesan monumental). Pintu utama melengkung setengah lingkaran. Bentuk atapnya mengadopsi gaya Eropa, tetapi tetap berpijak sebagai bangunan tropis-basah dengan atap yang tinggi dan bukaan untuk sirkulasi yang lebar. Ventilasi terbuat dari jendela besar dan bentuk lubang-lubang kecil persegi empat di atas jendela. Ciri lain bangunan tropis-basah di zaman kolonial adalah adanya selasar teras yang panjang, yang berfungsi sebagai filter sinar matahari langsung dan tempias air hujan.

Bentuk bangunan menggambarkan bentuk semetri untuk menambah kesan monumental. Gaya arsitektur kolonial Indisch sangat melekat pada bangunan ini. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pintu utama setengah lingkaran atau lengkung pada bagian atas. Ciri lain adalah bentuk atap gedung moft sebagai ciri atap bangunan Eropa dengan langit-langit tinggi. Ventilasi yang dibuat dalam bentuk jendela- jendela besar dan bentuk lubang-lubang kecil persegi empat di atas jendela dimaksudkan untuk membuat rotasi udara yang baik. Orientasi terhadap sinar matahari dan tampias hujan menjadi perhatian utama dalam struktur bangunan Belanda.

Walaupun ciri bangunan ini tidak menunjukkan arsitektur Eropa modern, tetapi kualitasnya lebih baik. Para arsitek BOW mempergunakan teknologi modern dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal dan memperhitungkan iklim tropis. Kelebihan lain dari bangunan Belanda di Indonesia adalah cara peletakkan bangunan yaitu memperhatikan lingkungan dan tata ruang perkotaan secara menyeluruh. Konsep bangunan dengan “perletakkan mundur” terlihat pada jarak pandang seseorang untuk dapat menikmati keseluruhan bangunan. Artinya ada nilai seni bangunan lain yang diperhitungkan yaitu perbandingan antara tinggi bangunan dengan jarak orang yang melihat.

Luas bangunan ini adalah 6,684 m2, terbuat dari bahan bangunan yang ada di daerah setempat dengan menyesuaikan kondisi iklim tropis, misalnya terdiri dari; batu andesit sebagai bahan fondasi, batu bata sebagai bahan dinding/tembok, tegel hitam sebagai lantai dengan ukuran 20 x 20 cm, semen, kapur

dan pasir, besi serta kayu. Relief dinding tidak terdapat pada bangunan ini, hanya hiasan lampu besar yang terletak di ruang tengah yang dipergunakan sebagai tempat pertemuan. Pada ruang-ruang kecil tempat perkualiahan lantainya dibuat bertingkat (berundak) dengan posisi terendah ada di depan dan tertinggi pada barisan belakang

C. ARTI LAMBANG DAN FUNGSI BANGUNAN

Gedung ini pada masa NIAS belum mempergunakan lambang Cap Garuda Muka dengan maksud melukiskan Burung Garuda wahana Wisnu memegang sebuah guci berisi air “Amrtha” yang dapat menghidupkan kembali apa yang telah mati. Artinya ada kehidupan abadi jika mahasiswa mendapatkan ilmu pengetahuan dari sumber keabadian tersebut. Cap Garuda Muka ini dipergunakan sebagai cap resmi bersamaan dengan pendirian Universitas Airlangga dengan PP RI No. 57 tahun 1954. Patung Wisnu yang terdapat di halaman depan Fakultas Kedokteran adalah pemberian pemerintah sebagai hadiah. Patung ini dibuat di Jogjakarta.

Nama Airlangga diusulkan oleh Prof. Muhammad Yamin, S .H. dan diterima oleh PJM Presiden dan disetujui oleh Prof. A.G. Pringgodigdo. Secara garis besar digambarkan bahwa Raja Airlangga sangat dekat dengan masyarakat Jawa Timur dan Airlangga juga menjadi kebanggaan, tauladan rakyat. Tokoh yang banyak membantu dalam memaknakan nama Airlangga adalah Prof. De. Casparis.

Maksud pembangunan gedung ini adalah untuk memberikan sarana bagi pendidikan yang berupa gedung-gedung tempat belajar. Sebelum menempati gedung NIAS, pembelajaran dilakukan di dua tempat; di Rumah Sakit Simpang (sekarang Plaza Surabaya) dan di Rumah Sakit Karangmenjangan (Rumah Sakit Dr. Soetomo). Rumah Sakit Karangmenjangan selain menjadi tempat kuliah juga menjadi laboratorium kedokteran. Untuk mempermudah para mahasiswa mengikuti perkuliahan dan mendekatkan tempat kuliah dan laboratorium, maka dibangunlah gedung NIAS di wilayah Karangmenjangan ini.

Tujuan yang hendak dicapai dari pembangunan gedung NIAS adalah memberikan peluang kepada masyarakat bumiputra untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi. Penyelenggaraan pendidikan di NIAS bertujuan mencetak dokter-dokter inlander serta sebagai kelanjutan dari pendidikan Dokter Jawa. keinginan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi bagi penduduk bumiputra sering terhambat, karena stratifikasi yang dibuat oleh pemerintah kolonial.

Berdirinya NIAS memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan dokter. Pemerintah kolonial hanya mengizinkan dua tempat pendidikan dokter di Indonesia yaitu di Jakarta dan Surabaya. NIAS merupakan lembaga tambahan untuk penduduk bumiputra memperoleh pendidikan dokter selain di Jakarta.

Fungsi bangunan gedung NIAS secara umum sebagai tempat proses belajar mengajar bagi mahasiswa yang bercita-cita menjadi dokter. Setelah menjadi milik Unair, fungsi gedung tidak mengalami perubahan. Bagian gedung yang memiliki ruang yang luas difungsikan untuk aula pertemuan dan ruang kuliah. Fungsi ruang-ruang kecil lebih difokuskan untuk memberikan tempat pada masing-masing bagian, antara lain bagian mikrobiologi, histologi, patologi dan anatomi. Selain itu, gedung berfungsi sebagai kantor tata usaha fakultas dan perpustakaan, serta Student Centre.

Secara rinci fungsi gedung-gedung pada Fakultas Kedokteran adalah sebagai berikut:

–       Aula

–        Perpustakaan

–        Kantor Pembantu Dekan

–        Kantor Tata Usaha dan urusan pegawai

–        Kantor Dekan Fakultas

–        Bagian Ilmu khasiat obat

–        Bagian Farmasi

–        Bagian Ilmu Kesehatan masyarkaat

–        Bagian Ilmu Alam

–        Bagian Biologi

–        Bagian Ilmu Kimia

–        Bagian Mikrobiologi

–        Bagian Biokimia

–        Bagian Ilmu Faal

–        Bagian Anatomi

–        Bagian Hitologi

–        Bagian patologi

–        Bagian Teknik

–        Student Centre

–        Ruang kuliah besar

Pada perkembangan selanjutnya sebagian gedung dipergunakan untuk perkuliahan dan perkantoran Fakultas MPA dan Fakultas Farmasi. Setelah penambahan gedung-gedung baru di kawasan kampus Univer­sitas Airlangga Jl. Dharmawangsa, maka Fakultas MPA dan Fakultas Farmasi pindah dari gedung Fakultas Kedokteran. Sampai sekarang fungsi gedung kembali seperti sedia kala, disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan fakultas tersebut.

Pembangunan gedung-gedung baru merupakan perluasan untuk menunjang kebutuhan dan perkembangan ilmu kedokteran. Keadaan ekonomi keuangan menjadi faktor penentu untuk lebih mengembangkan pembangunan gedung-gedung Fakultas Kedokteran. Pada tahun 1965-1974 proyek pembangunan gedung dapat menyelesaikan gedung Science Building Fakultas Kedokteran seluas 2.025 M2.

D. PERISTIWA SEJARAH YANG MELINGKUPI

NIAS UNAIR007Keberadaan cagar budaya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya fakultas itu. Kedokteran resmi menjadi fakultas bersamaan dengan mulai diresmikannya pembukaan Unair, tepat hari pahlawan tanggal 10 November 1954 oleh pemerintah. Sebelum menjadi fakultas di lingkungan Unair, pendidikan kedokteran di Surabaya merupakan cabang dari fakultas kedokteran UI di Jakarta.

Unair sendiri didirikan melalui Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 1945. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno pada hari Rabu Pon tanggal 10 November 1954. Pada awal berdirinya Unair mempunyai empat fakultas yaitu : Fakultas Kedokteran serta Lembaga Kedokteran Gigi di Surabaya ; Fakultas Hukum, Sosial, dan Politik di Surabaya; Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Malang ; dan Fakultas Ekonomi di Surabaya.

Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Giri dahulunya merupakan cabang dari UI. Fakultas Hukum, Sosial, dan Politik dahulunya merupakan cabang dari Universitas Negeri Gadjah Mada.d engan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1954 tersebut keduanya dipisahkan dan berdiris endiri.

Namun sesungguhnya pendidikan kedokteran di Surabaya sudah dimulai sejak tahun 1913. Dalam tahun itu, yaitu tanggal 15 September, oleh pemerintah Belanda didirikan sekolah dokter yang dinamakan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Mula-mula NIAS menerima siswa-siswa lulusan Sekolah Rendah yang pendidikannya 7 tahun lamanya (ELS, HIS, HCS) yang sederajad dengan SD (sekolah dasar). Mula-mula lamanya pendidikan dokter di NIAS adalah 10 tahun, yaitu 3 tahun pendidikan persiapan (voorbereidende afdeling), dan 7 tahun pendidikan medik (geneeskundige afdeling).

NIAS UNAIR005Kemudian di NIAS hanya menerima lulusan MULO yaitu pendidikan yang dapat disamakan dengan SMP (Sekolah Menengah Pertama). Dengan menerima lulusan MULO, pendidikan di NIAS menjadi 7 tahun. Semula pendidikan dokter di NIAS dilaksanakan di Jl. Kedungdoro 38 dan baru pada tahun 1922 pendidikan dipindahkan ke Karangmenjangan di kompleks gedung-gedung yang sampai sekarang masih dipergunakan. Direktur pertama dari NIAS adalah Dr. A. E. Sitzen. Pada tahun 1923 NIAS untuk pertama kali menghasilkan dokter dengan gelar Indisch Arts, antara lain Prof. M. Soetopo.

Dengan pendudukan Jepang pada tahun 1942 waktu Perang Dunia II, NIAS ditutup. Karena pendidikan dihentikan, para siswa diperkenankan melanjutkan pelajarannya di Jakarta, yaitu setelah dibukannya Perguruan Tinggi Kedokteran pada tahun 1943 dengan nama Ika Dai Gakku. Berdasarkan laporan tahunan Unair tahun 1969, setelah Perang Dunia II selesai maka pendidikan kedokteran Surabaya dibuka kembali pada tanggal 5 September 1948. Pendidikan tersebut dimulai dengan tingkat I dan merupakan cabang dari Facultiet der Geneeskunde van der Geneeskunde Surabaya menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ketua pertama adalah Prof. Dr. Streef. Seperti diuraikan di atas pada tanggal 10 November 1954, fakultas kedokteran itu menjadi Fakultas Kedokteran Unair. Waktu pendidikan lamanya 7 tahun. Pada waktu itu Ketua Fakultas (sebutan dekan pada saat ini) adalah Prof. Dr. Moh. Sjaat.

Pada tahun 1959, Fakultas Kedokteran Unair mengadakan afiliasi dengan University of California, yang dimulai dengan tingkat pertama (Chief of Party Fieldstaff: Dr. Wiley D. Forbus). Dekan pada waktu itu adalah Prof. Moh. Zaman. Pada tahun 1968 fakultas kedokteran ditunjuk oleh pemerintah menjadi fakultas Kedokteran Pembina, dengan tugas antara lain membantu pembangunan fakultas-fakultas kedokteran lain yang baru didirikan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Melangkah di Tahun Emas I954—2004; 50 TAHUN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA: Airlangga University Press Surabaya. Surabaya, 2004, hlm. 189-195

Vihara Sejarah dan Kekhasan Avalokitesvara, Kabupaten Pamekasan

Sekitar abad ke-14, berdiri sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo sebelah barat Pamekasan, yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto. Sebagai kerajaan, Raja-raja Jamburingin berkeingin membangun candi sebagai tempat pemujaan atau beribadah. Bahan-bahan untuk; keperluan pembangunan candi seperti patung dan arca didatangkan dari Majapahit melalui Pantai Talangsari.

Namun, setelah tiba di Pantai Talangsari, kiriman patung dan arca tidak terangkat karena tidak tersedianya sarana angkutan yang memadai dan akhirnya terlantar di tepi pantai, Namun, akhirnya, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar pantai. Tempat candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Proppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin.

Burung dalam bahasa Madura berarti gagal (tidak jadi). Rencana pembangunan candi di Pantai Talangsari pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai pudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan baik dari penduduk di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung- patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan penduduk, serta lenyap terbenam dalam tanah.

Sekitar tahun 1800, seorang petani bernama Pak Burung tidak sengaja menemukan patung-patung peninggalan dari Majapahit di ladangnya. Kabar penemuan itu menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda dan meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkudiningrat I (1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena keterbatasan peralatan saat itu, proses pemindahan patung-patung tersebut gagal  juga. Patung-patung tersebut tetap berada di lokasi ketika ditemukan.

Kurang lebih 100 tahun kemudian, sebuah keluarga Tionghoa membeli ladang tempat penemuan patung-patung tersebut. Setelah dibersihkan, diketahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Patung-patung tersebut memiliki khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung itu ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah: 36 cm dan tebal bawah: 59 cm . Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah dibangun sebuah kelenteng untuk menampung patung Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa.

Kelenteng Kwan Im Kiong Vihara Avalokitesvara Madura Kelenteng Kwan Im Kiong Vihara Avalokitesvara Madura mempunyai sejarah dan kekhasan inilah sejak dulu menjadi tujuan warga Tionghoa. Tidak hanya pengunjung dari Jawa Timur, dari luar Pulau Jawa bahkan luar negeri pun kerap memanfaatkan kesempatan untuk datang bersembahyang di kelenteng Kwan Im Kiong.

Kini, setelah adanya Jembatan Suramadu, kunjungan wisatawan, khususnya warga Tionghoa, ke kelenteng Kwan Im Kiong meningkat pesat. Hampir setiap hari ada warga yang mampir ke Vihara Avalokitesvara di sekitar kawasan pantai wisata Talangsiring ini, baik sekedar melihat maupun khusus bersembahyang. Kwan Im Kiong memang termasuk salah satu kelenteng yang sangat dikenal umat Tridharma Indonesia.

Menyusuri Vihara
Begitu memasuki halaman Vihara Avalokitesvara suasana terasa khidmatan sunyi dan damai. Pekarangan vihara sangat besar yang didalamnya terdapat seperangkat gamelan untuk pagelaran wayang kulit. Gamelan dan pertunjukan watang kulit sering di tampilkan jika para peziarah melaksanakan hajat. Selain itu terdapat gedung untuk pertunjukan wayang orang dan ludruk yang dilengkapi dengan panggung pertunjukan. “Jika hari biasa, gedung digunakan untuk latihan bulutangkis bagi warga sekitar, tanpa dipungut biaya,” kata Kosala Mahinda, ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara (T.I.T.D Kwan Im Kiong), Candi Pamekasan, Madura.

Vihara Avalokitesvara kerap kali dilakukan perayaan seperti hari kelahiran Dewi Kwan Im pada tanggal 19 bulan dua tanggalan Imlek, hari Dewi Kwan Im Mencapai Kesempurnaan pada tanggal 19| bulan enam dan hari Dewi Kuan Im naik ke nirwana tanggal 19 bulan sembilan. “Perayaan Dewi Kwan Im naik ke nirwana dirayakan pada tanggal 1 November 2012. Saat inilah pengunjung datang secara berkelompok dari penjuru tanah air,.” tambah Kosala Mahinda, Sebagai sebuah kelenteng atau tempat ibadah Tridharma, tentu saja Kwan Im Kiong punya fasilitas peribadatan untuk agama Samkauw: Buddha, Khonghucu, Taoisme.

Namun, yang unik di Kwan Im Kiong adalah keberadaan pura dan musala. Bagi Kosala Mahinda, Bhinneka Tunggal Ika tak sekadar slogan atau basa-basi belaka. Penghormatan terhadap keberagaman, kemajemukan, masyarakat Indonesia tercermin di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Tak heran, tahun lalu Muri memberikan anugerah khusus kepada pengelola Kelenteng Kwan Im Kiong sebagai simbol kerukunan antarumat beragama.

Menurut Kosala Mahinda, sejak dulu para pengelola kelenteng ini memang punya wawasan Bhinneka Tunggal Ika. Semua agama atau aliran diberi tempat yang layak. “Kami hanya ingin perdamaian dan cinta kasih di antara umat manusia,” ujarnya. Karena itu, jangan heran ketika pengunjung melakukan kunjungan ke Kwan Im Kiong, dapat melihat kesib para peziarah dengan cara beribadahr? yang khas.

Umat Khonghucu langsung mengambil posisi di lithang yang luas, dekat pintu masuk. Ada lukisan jumbo menggambarkan Nabi Kongzi bersama pengikut-pengikutnya. Para konfusian pun berdoa dengan khusyuk di Lithang itu. Kesibukan serupa diperlihatkan peziarah yang Buddhis dan Taois. Mereka langsung menuju ke rumah ibadah mereka, lengkap dengan altar dan rupang-rupangnya.

Umat Hindu pun punya pura yang cukup asri. Hanya saja, pura ini biasanya lebih sepi ketimbang lithang, kelenteng, vihara, atau musala. “Tapi tetap saja ada orang Hindu yang datang beribadah di pura,” kata Kosala. Sampai sekarang, di Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) hanya ada satu tempat ibadah untuk umat Hindu.

Yakni, pura kecil yang dibangun di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Pihak Muri Semarang pun terkagum-kagum melihat kenyataan ini. Lokasi Pura paling dekat dengan Vihara. Ukuran Pura lebih kecil dari mushala, yakni hanya 3 >< 3 meter. Pembangunan Pura sendiri, sebenarnya atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu, yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu yang menyarankan membangun Pura.

Lantas, bagaimana dengan musholla? Nah, tempat ibadah untuk umat Islam ini juga sangat penting mengingat tak sedikit pengunjung yang beragama Islam. Selain pelajar, mahasiswa, atau rombongan wisatawan, banyak pula sopir maupun tim pendukung group seni budaya yang beragama Islam.

Mereka tentu membutuhkan musholla yang layak untuk menjalankan ibadah salat lima waktu. Dibandingkan dengan Vihara sendiri, mushola yang ada ada di lingkungan Vihara Avalokisvara Candi Pamekasan, memang tidak terlalu besar, hanya berukuran 4×4 meter dan pihak Vihara, menyediakan perlengkapan ibadah di musholla ini. Tempat berwudlu, sajadah, mukena dan tasbih.

Jarak musholla dengan Vihara hanya 10 meter yang dibatasi sebuah dinding. “Saat ini kami masih merencanakan pembangunan gereja, sehingga lebih lengkap lagi,” harapnya. Bagi para pengunjung yang kebanyakan dari luar kota bahkan luar pulau, pihak vihara menyediakanpenginapan kurang lebih 50 kamar.

Kami menyediakan penginapan bagi tamu dari luar kota, meski dengan model barak. Jadi satu penginapan bisa menampung satu kelompok Selain penginapan, terdapat kantin yang menyediakan aneka menu dan souvenir, Untuk menjaga kebersihan kawasan pihaknya dengan para pekerja yang jumlahnya 15 orang bahu membahu melakukannya.” katanya.

Kesenian rakyat yang paling digemari adalah wayang kulit. Yang paling mengesankan saat diselenggarkan festival wayang kulit semalam suntuk yang melibatkan 10 negara bahkan penyelenggaraannya dinilai sukses . “Idenya saat dia melihat di keraton Solo banyak pemainnya baik sinden, dalang dan penabuh gamelan orang luar negeri,” paparnya.

Harapan ke depan agar tetap eksis dan dapat berkembang. Pemerintah juga haru: memberikan dukungan pada kesenian agar tidak punah. Mengingat saat ini kaum muda banyak yang enggan untuk mempelajari kesenian utamanya wayang kulit. “Orang asing saja bisa dan senang untuk memainkan, masa kita kalah. Apalagi masyarakat kota,” keluhnya.

Disperindag dan Pariwisata akan bersinergi
Kabid Pemberdayaan Pariwisata, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten. Pamekasan, Halifaturrahman menambahkan setelah adanya Jembatan Suramadu, Pamekasan mendapatkan dampak yang positif, salah satunya adalah bidang pariwisata. Mengingat salah satu tujuan pariwisata yang banyak dikunjungi adalah Batu Ampar sebagai wisata religi yang berada di Propoh (kurang lebih 10 km dari kota).

“Biasanya peziarah setelah ke Batu Ampar mereka mampir ke wisata alam yaitu Api Tak Kunjung Padam,” kata Mamang panggilan akrabnya. Mengenai Vihara Avalokitesvar, Mamang mengatakan, sebagai vihara yang terbesar setelah vihara yang ada di Mojokerto.

Selain untuk beribadah, Vihara ini pernah digunakan untuk acara yang berskala nasional dan internasional. Seperti Pagelaran wayang internasional yang melibatkan kurang iebih 10 negara. Keberadaan Vihara adalah sebagai mitra dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Kami tidak bisa intervensi terlalu dalam, mengingat tempat wisata yang ada di Pamekasan mayoritas dimilik dan dikelola secara kekeluargaan. Dia menyontohkan, wisata Batu Ampar adalah milik keluarga Batu Ampar. B

egitu juga Vihara dikelola oleh yayasan. Namun pihaknya tetap bersinergi dengan pengelola jika ada kegiatan yang bersifat wisata dan budaya untuk membantu memberikan sarana dan prasarana. “Karena bagaimana pun mereka adalah tamu kami,” pungkasnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume IV, No. 46, Oktober 2012, hlm. 31-33

Supeni, Kabupaten Tuban

17 Agustus 1917, Supeni lahir di Tuban, Jawa Timur.

Supeni menuntut ilmu di HIK (sekolah Guru) Blitar,

Tahun 1931, diusianya sekitar 14 – 15 tahun, Supeni menjadi Ketua Keputrian Indonesia Muda (KIM) merangkap Wakil Ketua IM, karena kegiatannya tersebut ia dipecat dari sekolah. Selanjutnya Supeni meneruskan di HIK Muhammadiyah di Solo

Tahun 1945, Sekretaris Persatuan Wanita Madiun.

Tahun 1946, Ketua Kongres Wanita Indonesia” (Kowani) cabang Madiun.

Tahun 1947-1949, Ketua umum Kowani Pusat.

Tahun 1949, sebagai anggota Dewan Partai PNI.

Dunia jurnalistik juga sempat digelutinya, mulai dari Pemimpin Redaksi Majalah Pembimbing (1951-1954), Ampera Review (1964-1972), dan Dwiwarna (1968-1972).

Tahun 1955, sebagi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika I di Bandung

Tahun 1955-1959, Ia menjadi anggota DPR (Ketua Seksi Luar Negeri) sekaligus anggota Konstituante.

Tahun 1960, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Pemerintahan Amerika Serikat,

Tahun 1960-1966, menjadi anggota DPP PNI, dan anggota Badan Pekerja Kongres PNI.

Tahun 1961-1966, Duta Besar Keliling RI sekaligus Pembantu Menteri Luar Negeri dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri Urusan PBB.

Tahun, 1962, memimpin delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB. Menyiapkan KTT Non-Blok I

Tahun 1972, Anggota Majelis Permusyawaratan Partai PNI  sampai akhirnya PNI difusikan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

26 Oktober 1995, Supeni mendirikan kembali PNI.

20 Mei 1998. PNI yang dihidupkannya kembali itu dideklarasikannya Partainya dikenal dengan sebutan PNI Supeni karena pada Pemilu 1999, ada sejumlah partai dengan nama yang serupa, walaupun berbeda. Untuk penegasan, partainya mendapat embel-embel Supeni.

Tahun 1999, Supeni menulis sejumlah buku seperti, Politik Ketahanan Nasional Indonesia,

Tahun 2001, buku terakhirnya, Napak Tilas Bapak Bapak Pejuang Menuju Indonesia Merdeka Adil dan Makmur.

Supeni mempunyai 4 orang anak,  Rd. Sony Sumarsono, BA, Dr. Pudji Kusumaningtyas, Ardy Saputro dan Agus Supartono, S.Ak

Tahun 2004, pada Pemilu lalu, PNI Supeni berganti bendera menjadi PNI Marhaenisme dengan Ketua Umum Sukmawati Soekarnoputri.

25 Juni 2004 sekitar pukul 08.00, diusia 86 tahun,  Supeni meninggal di Jakarta.

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono, Surabaya

mas-tirtodarmo-haryono20 Januari 1924,  Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya.

Pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar), HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). serta Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.

Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, Haryono bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan dilanjutkannya masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berpangkat Mayor.

Tahun 1945 – 1950, mulai di tempatkan pada Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara, sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Saat Konferensi Meja Bundar (KMB) sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Tahun 1950 ia bertugas di Negeri Belanda sebagai Atase Militer RI. Kembali ke Indonesia, sebagai Direktur Intendans.

M.T. Haryono Seorang perwira yang fasih berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemampuannya itu membuat dirinya menjadi perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan, antara pemerintah RI dengan pemerintah Belanda maupun Inggris. Karena kemampuannya tersebut.

Tahun 1964 ia diangkat sebagai Deputy III Menteril Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Waktu itu ia sudah berpangkat mayor jenderal.

Ide partai komunis mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang disebut dengan Angkatan Kelima. Sebagian besar perwira AD tidak menyetujui termasuk M.T. Haryono .

30 September 1965, MT Haryono salah satu korban indsiden lubang buaya. Dan yang lainnya adalah Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Letjen. (Anumerta) Siswondo Parman, Letjen. (Anumerta) Suprapto, Mayjen. (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan, Mayjen. (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo, Brigjen. (Anumerta) Katamso Darmokusumo (wafat di Yogyakarta), Kolonel Inf. (Anumerta) Sugiono (wafat di Yogyakarta), Kapten CZI (Anumerta) Pierre Tendean, dan Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun. Jenazah MT Haryono dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.Selanjutnya para korban insiden G30S PKI tersebut dijuluki sebagai Pahlawan Revolusi.

4 Oktober 1965Hingga akhirnya jenazah para perwira itu ditemukan,  kemudian ke tujuh perwira itu dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata,

 1 Oktoberditetapkan sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional,  untuk menghormati jasa para Pahlawan Revolusi sekaligus untuk mengingatkan bangsa ini akan peristiwa penghianatan PKI tersebut, dengan demikian diharapkan peristiwa yang sama tidak akan terulang kembali. Dan di Lubang Buaya, Jakarta Timur di  sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangun Tugu Kesaktian Pancasila  yang berlatar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi. 

Harun alias Tohir bin Mandar Kopral Anumerta KKO, Bawean Gresik

harun-kkoTidak sedikit  masyarakat Indonesia yang belum mengenal Harun dan Usman. Pahlawan Dwikora dari Korps Komando Operasi (KKO) (kini Korps Marinir TNI-AL), dua nama yang sudah menjadi satu ini tenggelam. Bahkan dalam percaturan sejarah Nasional, nama keduanya jarang bahkan hampir tidak pernah disebutkan sama sekali, padahal jika kita melihat apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kisah heroik yang belum pernah dilakoni oleh pahlawan-pahlawan Nasional lainnya.

4 April 1947, Tohir bin Said, alias Harun Said lahir di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Harun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta. tanpa diketahui keluarganya, untuk biaya hidup dan sekolahnya Harun membiayai sendiri, dengan bekerja sebagai pelayan kapal dagang.

Juni 1964, Ia masuk Angkatan Laut dan memulai kariernya sebagai anggota KKO AL dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO – AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Tugas Basis II:

  1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
  2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
  3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
  4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
  5. Mengumpulkan informasi.
  6. Melakukan kontra inteljen.

Para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama disesuaikan dengan nama-nama daerah lawan yang dimasuki. Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali (Usman bin Haji Muhammad Ali). Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun (Harun bin Said).

USMAN HARUN8 Maret 1965 tengah malam buta, Janatin (Usman), Tohir (Harun) dan Gani bin Arup, ketiga Sukarelawan ini memasuki Singapura. Mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran hingga larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing dan kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu (Basis II).

8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki. Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road.  Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

10 Maret 1965 03.07 dini hari, Harun Said, Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, melakukan Pengeboman di wilayah pusat kota Singapura tepat pada  gedung MacDonald House.

11 Maret 1965, Sebelum berpisah mereka bertemu kembali, dan berjanji barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan.

12 Maret 1965,  dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani.mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura dan menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Keduanya menyamar sebagai pelayan dapur.

Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. mereka diacam akan dilaporkan kepada Polisi apabila tidak mau pergi dari kapal. Kapten Kapal tidak mau mengambil resiko kapalnya ditahan oleh pemerintah Singapura.

13 Maret 1965 Usman dan Harun meninggalkan kapal Begama dan mendapat rampasan sebuah motorboat, dalam perjalanan boat macet. Mereka tak dapat menghindar dari sergapan patroli. Pukul 09.00 pagi di hari itu, Usman dan Harun tertangkap dan di bawa ke Singapura sebagai tawanan. kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan.

1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. dengan tuduhan:

  1. Menurut ketentuan International Security Act Usman-Harun telah melanggar Control Area.
  2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
  3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu dan memberi pernyataan yang mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang/POW (Prisoner of War). Namun Hakim menolak permintaan mereka dengan alasan sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer.

20 Oktober 1965, dipersidangan yang berjalan kurang lebih dua minggu, Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. 

5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun.

17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London.

Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura.

4 Mei 1968, Menlu Adam Malik melalui Menlu Singapura membantu upaya KBRI memperoleh pengampunan atau setidak-tidaknya memperingan hukuman kedua sukarelawan. 

21 Mei 1968,  Usaha Privy Council  itu gagal. tetap ditolak.

1 Juni 1968, Usaha terakhir adalah mengajukan permohonan grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak.

9 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan. Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk.

Rabu, 16.00, 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, menemui Usman dan Harun.

Pertemuan yang mengharukan tetapi membanggakan. Usman dan Harun segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum serta seluruh Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya untuk membebaskan mereka dari hukuman mati. Saat pertemuan berakhir, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat  kepada para utusan. 

17 Oktober 1968 Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Lalu Usman dan Harun dibawa menuju ke tiang gantungan. 

Kamis 17 Oktober 1968 (Radjab 1388) pukul 06.00 pagi waktu Singapura. Harun meninggal di Singapura, pada umur 21 tahun. ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura.

Presiden Suharto langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Usman dan Harun dari KKO-AL diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

17 Oktober 1968 Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI

 17 Oktober 1968 pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa kedua jenazah tersebut ke Tanah Air.

 Setibanya di Indonesia,  jenazah kedua Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

17 Oktober 1968 Pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih

18 Oktober 1968 pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir  di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya. Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat.

Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber :

http://www.polarhome.com/pipermail/marinir/2005-November/000960.html
http://toparmour.blogspot.com/2011/03/usman-dan-harun-pahlawan-dwikora-yang.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/international-relations/2138748-sersan-usman-1943-1968-dan/

G. Cosman Citroen, Arsiteknya Kota Surabaya

Berikutnya kita akan disapa oleh G. Cosman Citroen yang merupakan arsitek kolonial Belanda generasi kedua setelah tahun 1900 di Surabaya.

Sesuai dengan situasi dunia arsitektur pada waktu itu maka Citroen juga memakai gaya arsitektur modern yang sedang melanda Eropa.

Karya utamanya yaitu Balaikota Surabaya menunjukkan bahwa Citroen mencoba menggabungkan gaya arsitektur modern dengan iklim serta bahan dan teknologi yang khas. Gaya awalnya seperti Rumah Sakit Darmo, rumah tinggal di Jl. Sumatra, masih menunjukkan pengaruh gaya arsitektur awal abad ke 20 di Eropa.

Dari karya-karyanya yang dominan itu kita bisa memakainya sebagai cermin untuk melihat perkembangan arsitektur kolonial di Surabaya pada tahun 1915-1940. Tidak berlebihan kalau ada yang menyebutkan bahwa kota Surabaya secara arsitektur adalah milik Citroen. Karya2 beliau antara lain:

1915-1917 Perancangan Balai Kota Surabaya (yang pertama kali).

1917-1918 Perbaikan gedung Societeit Concordia menjadi kantor BPM di Jl. Veteran, Surabaya.

1917-1919 Komplek pertokoan Fa. Begeer, van Kempen en Vos di Jl. Tunjungan, Surabaya.

1918 Rumah tingal di Jl. Sumatra, Surabaya.

1918 Villla di Lawang.

1919 Jembatan Kebondalem (dibongkar) diganti jembatan beton di Jl. Yos Sudarso Surabaya.

1919 Darmo Ziekenhuis (RS Darmo), Jl. Raya Darmo Surabaya.

1920 Perancangan Balai Kota Surabaya (yang kedua), dibangun th. 1925.

1923 Jembatan Gubeng.

1925 Perbaikan Gedung “Suikersyndicaat” (kantor sindikat gula), Jl. Rajawali Surabaya

1927 Rumah Dinas Walikota Surabaya.

1932 Jembatan Wonokromo.

1932 Rumah Tinggal di Jl. Kayoon, Surabaya.

1935 Kantor Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij) di Jl. Veteran Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dhahana Adi Pungkas, Menelusuri Mereka Yang Merebah di Kompleks Makam Kembang Kuning Surabaya. http://palingindonesia.com/menelusuri, 08 Agustus 2012.

Sebuah Rumah untuk Kenong

Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah kutipan dari esai Goenawan Mohamad yang dipublikasikan 10 Agustus 1985.

Sebuah pameran mempertontonkan diri ke khalayak…Orang banyak, orang ramai itu, harus dibujuk, dicolek, diseru.’

Itulah makna sebuah pameran, mengingatkan banyak orang tentang sesuatu, yang bahkan tak kita sadari. Dengan kata lain, pameran adalah sebuah rumah bagi sesuatu yang bisa terlupakan atau tak diperhatikan.

Dan, di Jember, pameran ‘Benda Cagar Budaya Jember dan Koleksi Museum Mpu Tantular’, 22-24 Juli 2011, di Kantor Pemerintah Kabupaten, menemukan konteksnya yang tepat.

Koleksi benda-benda cagar budaya yang terdata di Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Jember mencapai 466 buah.

Sebagian disimpan di salah satu ruangan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Sekitar 30 buah di antaranya dipamerkan Juli silam.

Belum ada survei memang soal ini. Namun di tengah ketidaktertarikan publik terh­adap sejarah, layaklah kita skeptis: akankah publik mengetahui apakah itu batu kenong, jika pameran tersebut tak digelar.

Kita layak ragu, bahwa publik akan tahu, batu kenong memiliki andil penting dalam menjejaki dalam sejarah kota ini, jika sep­erti kata Goenawan, tak dibujuk, dicolek, diseru, dengan sebuah tontonan.

Batu kenong merupakan salah satu jenis batu cagar budaya yang dipamerkan. Batu ini menjadi koleksi terbanyak yang dimiliki Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Kementerian Budaya dan Pariwisata di Jember. Ada 280 batu kenong yang berhasil diinventarisasi di Desa Kamal Kecamatan Arjasa. Batu kenong adalah batu persembahan untuk orang yang su­dah meninggal dan masuk dalam kategori batu prasejarah.

Sejak lama, sudah ada keinginan untuk memberikan rumah sesungguhnya bagi bebatuan dan benda bersejarah itu: muse­um. Ini sebuah rumah permanen, dan bu­kan hanya sekadar pameran. Kepala Kantor Pariwisata Arief Tjahjono membenarkan, jika Jember sudah layak memiliki museum. “Minimal galeri. Ini agar benda-benda ca­gar budaya ini bisa diakses sebagai bahan belajar bagi mahasiswa dan siswa, untuk lebih mengenal akar budayanya sendiri,” katanya.

Bupati Jember sejak tahun 2009 sudah meminta kepada Kantor Pariwisata untuk mencari lokasi museum. Namun, hingga saat ini pembangunan museum belum terealisasi.”Ini karena skala prioritas, masih banyak’yang belum ditangani. Kalau pri­oritas pembangunan lebih penting sudah tertangani, mudah-mudahan atensi Pak Bupati cukup besar Kami berharap semua pihak mendukung,” katanya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011, Purbakala 55

Pemberontakan Patih Nambi, Sejarah Kabupaten lumajang

Lumajang Tempo Dulu

(EPISODE PEMBERONTAKAN PATIH NAMBI) IBU KOTA MAJAPAHIT BAGIAN TIMUR

Pada masa berdirinya Kerajaan Majapahit dengan rajanya Nararyya Sanggramawijaya yang mengam­bil nama abhiseka Kertarajasa Jayawardana atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya, Lumajang merupakan ibu kota Majapahit bagian timur dengan penguasanya bernama Arya Wiraraja.

wilayah barat dan timur dip­icu oleh kekecewaan Arya Wiraraja atas kematian Ranggalawe, anak Arya Wiraraja, yang memberontak terhadap raja. Lagi pula pembagian wilayah tersebut sesuai dengan janji Raden Wijaya ketika Raden Wijaya mengung­si ke Sumenep. Pembagian wilayah Majapahit, menjadi Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit memang tidak bisa dipisah­kan dengan peranan Arya Wiraraja. Arya Wirarajalah yang secara tidak langsung membidani lahirnya Kerajaan Majapahit. Arya Wiraraja, disebut pula

Banyak Wide, adalah Adipati Sumenep,’ Madura. Semula ia termasuk rakyanri pakiran-pakiran makabehan (golongan pejabat tinggi yang berfungsi sebagai Badan Pelaksana Pemerintahan yang terdiri dari patih, demung, kanuruhan, tumenggung, dan rangga). Tugas po­koknya adalah mengatur rumah tangga kerajaan (kerajaan Singosari dengan ra­janya Sri Kertanegara).

Sebagai demung yang cakap, Arya Wiraraja sangat dekat dengan Sri Kertanegara. Kedekatan hubungannya dengan Raja Singosari Sri Kertanegara membuatnya dijuluki babatanganira, yang berarti kekuatan pokok pemerin­tahan. Namun, karena pertentangannya dengan Sri Kertanegara, seputar pengir­iman prajurit Singosari untuk menun­dukkan Swarnabumi (Sumatera dalam Ekspedisi Pamalayu), Arya Wiraraja diturunkan jabatannya menjadi Adipati Tumenggung dan ditempatkan di Sumenep, Madura Timur. Ditunjuk sebagai penggantinya adalah Mapanji Wipaksa (Piagam Penampihan).

Ketika Sanggramawijaya men­gungsi ke Sumenep guna menghindari kejaran pasukan pemberontak, yaitu prajurit-prajurit Jayakatwang yang me­nyerang Singosari. Sanggramawijaya disarankan untuk berpura-pura tunduk dan menyerah kepada Jayakatwang. Diperlukan sikap pura-pura untuk kembali merebut tahta, demikian sia­sat Arya Wiraraja. Sanggramawijaya menyetujuinya dan dalam kesempatan itu ia berjanji akan menyerahkan sep­aro wilayah kerajaannya kepada Arya Wiraraja apabila ia berhasil menjadi raja. Arya Wiraraja menanggapi janji itu hanya dengan tersenyum.

Apabila Arya Wiraraja berusaha sekuat tenaga mengembalikan tahta Singosari kepada Sanggramawijaya, hal itu ia lakukan semata-mata karena kecintaannya yang mendalam kepada Singosari. Arya Wiraraja tidak ber­ambisi meraih kekuasaan. Andaikata janji untuk menyerahkan separo wilayah kerajaan itu diingkari sekali­pun, Arya Wiraraja akan tinggal diam.

Akan tetapi, lain lagi ceritanya setelah Ranggalawe tewas. Ranggalawe adalah anak laki-laki Arya Wiraraja. Ia seorang pribadi yang jujur, tegas, setia, pemberani, dan nada suaranya keras menghentak. Nama Ranggalawe merupakan pemberian Sanggramawijaya. Lawe atau wenang artinya benang pengikat atau peng­hubung karena ia adalah pengikut kuat antara Sanggramawijaya dengan Arya Wiraraja.

Akan tetapi hubungan Arya Wiraraja dengan Sanggramawijaya menjadi kendor setelah tewasnya Ranggalawe karena Ranggalawe di­anggap memberontak terhadap raja.

Timbulnya pemberontakan Ranggalawe akibat pengangkatan Empu Nambi sebagai patih mangkubu- mi. Ranggalawe merasa iri terhadap Nambi. Ia mengharapkan pengang­katannya sebagai Patih Mangkubumi karena ia banyak berjasa dalam pem­bukaan hutan Tarik dan pengusiran tentara tar-tar. Lagipula ia putera Arya Wiraraja, tokoh yang berdiri di be­lakang layar dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Ia sangat kecewa dengan pengangkatannya sebagai adipati man­canegara di Dataran (Tuban).

Pemberontakan berhasil dipadam­kan dan Ranggalawe mati terbunuh secara kejam oleh Mahisa Anabrang. Ketika Lembu Sora mengetahui bah­wa Ranggalawe dianiaya oleh Mahisa Anabrang di tepi Sungai Tambakberas, Lembu Sora dengan serta merta menusuk Mahisa Anabrang dari be­lakang sehingga Kebo Anabrang tewas.

Setelah peristiwa itu Arya Wiraraja menetap di Lumajang. Bersama Pranaraja Empu Sina (ayahanda Patih Nambi), kedua pembesar Majapahit itu menjalankan roda pemerintahan di Lumajang dengan amanah. Keduanya menjalankan konsep mukti dalam pemerintahannya. Mukti yaitu kesedi­aan atasan untuk mengulurkan kasih­nya kepada yang lebih bawah. Sebagai imbangan mukti adalah bakti, yaitu berbakti kepada atasan karena hasrat untuk meluhurkan pemimpinnya. Hal ini terbukti dengan bagaimana rakyat Lumajang yang tanpa dikomando, bergerak mengangkat senjata untuk membela pemimpinnya yang dituduh memberontak kepada raja dalam peris­tiwa Pemberontakan Patih Nambi.

PEMICU PEMBERONTAKAN

Empu Nambi atau lebih populer disebut Patih Nambi adalah putera dari Empu Sina. Adalah Empu Sina, oleh karena jasa-jasanya yang be­sar dalam pendirian Majapahit, Sri Kertarajasa mengangkat Empu Sina selaku Pasangguhan. Jabatan ini dapat disamakan dengan Panglima Besar Angkatan Perang. Ada empat jabatan Pasangguhan dalam zaman awal Majapahit, yakni, Mapasangguhan Sang Pranaraja, dipercayakan kepada Empu Sina, Mapasangguhan Sang Nayapati, dipercayakan kepada Empu Lunggah, Rakyan Mantri Dwipantara, dipercayakan kepada Sang Adikara dan Pasangguhan Sang Arya Wiraraja.

Setelah peristiwa pemberontakan Ranggalawe, wilayah Majapahit dibagi dua bagian, yaitu wilayah Majapahit bagian barat dan wilayah Majapahit bagian timur dengan Lumajang sebagai ibu kotanya. Pranaraja Empu Sina pun tinggal di Paj arakan (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Probolinggo), men­emani Arya Wiraraja yang berkedudu­kan di Lumajang.

Sebagaimana yang telah dising­gung di bagian depan, terjadinya pem­berontakan Ranggalawe dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai Patih Mangkubumi. Dalam hirearki pemer­intahan Majapahit, jabatan yang diberi­kan kepada Nambi adalah kedudukan yang sangat tinggi. Ranggalawe men­ganggap bahwa Sri Kertarajasa telah mencederai keadilan, dan karenanya Ranggalawe memilih untuk beroposisi.

Sesungguhnya Ranggalawe bu­kanlah pribadi yang gila hormat dan jabatan. Ia bukan pula seorang penjilat, juga bukan sosok yang harus bersiasat untuk menyingkirkan pesaingnya demi mendapatkan jabatan. Sebaliknya ia sosok yang jujur, suka berterus terang, dan berani menggebrak tanpa ragu ter­hadap hal yang dianggap mencederai keadilan. Ia kukuh memegang janji, dan janji yang diterimanya dianggap sama dengan janji yang diucapkan. Dan, ia telah dijanjikan untuk men­duduki jabatan Patih Mangkubumi, langsung oleh Sanggramawiya, se­belum Sanggramawiya bertahta.Tak hanya sekali janji itu dilontarkan ke­padanya, dan bukan ia sendiri yang mendengarnya,melainkan banyak orang. Namun, penguasa Majapahit itu mengingkari janjinya, menjilat lu­dah sendiri.Ternyata jabatan yang dijanjikan justeru diberikan kepada orang lain, sedang ia diberi kedudu­kan sebagai Adipati Mancanegara di Dataran(Tuban).

Maka Ranggalawe pun melakukan protes. Akan tetapi protes Ranggalawe oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dimanfaatkan untuk ke­pentingan pribadi dan golongan. Protes Ranggalawe lalu dipolitisir sedemikian rupa sehingga muncul opini publik yang menyatakan bahwa Ranggalawe melakukan makar. Hingga abad-abad selanjutnya, sejarah memberikan catatan buruk atas diri Ranggalawe. Cap Ranggalawe sebagai pemberon­tak seakan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Si Wenang, yaitu benang pengikat kuat antara Sanggramawijaya dengan Arya Wiraraja.

Seperti halnya Ranggalawe, Nambi pun bukan pribadi yang gila hormat dan jabatan. Bahkan ia dikenal sebagai pribadi yang polos, jujur, seder­hana dan rendah hati. Sesungguhnya ia menyadari bahwa kedudukan Patih Mangkubumi tidak layak diterimanya. Akan lebih tepat diberikan kepada Ranggalawe mengingat akan jasa-jasa putera Arya Wiraraja itu dalam pem­bukaan hutan Tarik dan pengusiran tentara Ku Bhilai Khan. Alasan itu juga sudah disampaikan kepada Sang Prabu menjelang upacara serah terima jabatan. Akan tetapi Sang Kertarajasa bersikukuh mempercayakan jabatan itu kepada Nambi. Tentunya hal itu sudah melalui berbagai pertimbangan yang hanya Kertarajasa sendiri yang men­getahui. Mau tidak mau, Nambi ha­rus menjalankan titah raja. Bukankah titah seorang raja itu bersifat mutlak, sabda pandhita ratu tan kena wola- wali,artinya titah seorang raja itu han­ya sekali.

Namun demikian, Nambi selalu diliputi perasaan was-was. Firasatnya mengatakan bahwa keputusan itu akan menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan para pembantu Kertarajasa yang lain, dan kondisi itu kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki “kepentingan”. Ternyata kekhawatiran Nambi terbukti. Pada awal pemerintahan Sri Kertarajasa, Kerajaan Majapahit diguncang oleh kekisruhan politik yang ditandai den­gan timbulnya pemberontakan-pembe­rontakan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Suara PGRI edisi 29, April 2012, Lumajang, PGRI Kab. Lumajang, Th. 2010 45-46

Banker peninggalan Jepang di Lumajang

Bunker – Bunker, Proyek Pertahanan Jepang di Lumajang

Di penghujung tahun 1943, Jepang melakukan mobilisir besar-besaran di daerah yang dianggap stretegis untuk menghalau tentara Sekutu, utamanya dari wilayah Australia yang berdekatan dengan wilayah perairan Lumajang. Selain itu, Kabupaten Lumajang dinilai Jepang merupakan wilayah yang cukup penting karena memiliki potensi yang besar untuk eksplorasi sumber daya alam, sumber daya manusia sekaligus merupakan daerah yang cukup strategis untuk pertahanan. Sejumlah bukti yang hingga kini masih ada, mulai dari lapangan terbang dan puluhan bahkan ratusan Bunker yang sudah tertutup pasir mulai dari wilayah Tempeh, Kunir, Pasirian hingga Tempursari.

Meskipun hanya tinggal puing dan sedikit sisa bangunannya saja, hal ini merupakan fakta sejarah bahwa Lumajang merupakan daerah yang juga memiliki pengalaman pahit pada masa penjajahan Jepang. Dengan mengerahkan barisan pemuda semi militer yang tergabung dalam seinendan dan dibantu oleh romusha, proyek ini dikerjakan pada awal tahun 1943. Para pekerja bukan hanya berasal dari daerah Lumajang saja, tetapi dari sejumlah daerah, seperti Probolinggo, Malang, Pasuruan, Bondowoso hingga dari daerah Bojonegoro. Selama kurang lebih sebulan, seinendan dan murid sekolah menengah asal Malang, sebanyak 250 orang diwajibkan untuk mengikuti kinrohosi (kerja bakti), dan mereka ditempatkan di dua barak. Barak itu bertiang bambu, berdinding dan beratap alang-alang.

Pembangunan Lapangan terbang dan sejumlah bunker di daerah Pandawangi, menelan ratusan korban jiwa. Mereka tewas akibat minimnya sarana penunjang kerja, buruknya gizi, barak yang tidak memadahi, kerasnya tekanan tentara Jepang, serta kondisi psikologis yang lemah. Untuk makan saja, mereka harus menunggu berjam-jam, dengan menu makanan yang sangat sederhana, seperti nasi jagung dan ikan asin atau bahkan dengan gaplek (singkong yang dikeringkan). Sedangkan untuk kebutuhan air minum, mereka harus mengkonsumsi air mentah dari sungai setempat. Jika malam, mereka harus tidur tanpa alas atau bahkan selimut, meskipun angin cukup kencang karena berada di daerah pantai yang suhunya sangat dingin.

Mantan romusha, baik dari kalangan pemuda dan pelajar, tidak akan bertahan lama jika mereka selamat setelah pulang dari proyek Pandawangi. Rata-rata mereka stres berkepanjangan, atau gila. Tetapi sebagian besar lainnya, telah tewas.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011, 26 * wisata sejarah