Sejarah Batik Jombang

Batik Jombang Baru Berkembang Pada Tahun 2000-An.

motif_batik_jmbg_1Tahun 1944, Sekolah Rakyat Perempuan pakaian sekolahnya masih memakai sarung dan kebaya batik (zaman penjajah Belanda). Pada masa itu di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan  bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun.  (Ibu Hajah Maniati, pemilik kedai batik “Sekar Jati Setar”) Namun pada masa penjajahan Jepang batik di Jombang menghilang, disebabkan oleh sulitnyanya mendapatkan bahan baku serta berkurangnya pengrajin batik.

motif_batik_jmbg_2Tahun 1993, Ibu Hj. Maniati bersama puterinya mempunyai pemikiran dan keinginan untuk membangkitkan dan melestarikan kembali tradisi membatik di kota Jombang (Surya, 2005). Untuk mewujudkan keinginan serta pemikiran tersebut Ibu Hj. Maniati bersilaturahmi ke kerabat yang lulus dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau maktab keguruan) bidang pengkhususan kraftangan. Ibu Hj. Maniati mengajukan permohonan izin ke Kepala Desa (Kepala Kampung) mengumpulkan ibu-ibu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan remaja guna membicarakan pelatihan (workshop) membatik, dan Kepala Desa menyambut baik atas gagasan. Maka Ibu Hj. Maniati, Ibu-ibu PKK dan para remaja mulai belajar membatik dengan jenis batik jumput (batik ikat) dan hasilnya tak sia-sia cukup memuaskan, sehingga semangat untuk membatik cukup tinggi.

motif_batik_jmbgTahun 2000 Ibu Hj. Maniati dipanggil oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membicarakan pelatihan/kursus/workshop, tepatnya tanggal  8-10 Februari 2000 Ibu Hj. Maniati beserta puterinya mengikuti kursus Batik Tulis Warna Alami di Surabaya yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Dari hasil kursus ini Ibu Hj. Maniati beserta puterinya dan ibu-ibu PKK semakin rajin membatik.

Tahun 2000 di bulan Desember Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “SEKAR JATI STAR” di desa Jatipelem. Pada waktu yang sama Bapak Bupati (ketua daerah/DO) memutuskan untuk mengadakan kursus membatik di desa Jatipelem dengan peserta dari perwakilan wilayah kecamatan se-kabupaten Jombang.

Pada tanggal 16 Desember 2004, Ibu Hj. Maniati mendapat izin usaha tetap dari pemerintah dengan nama “BATIK TULIS SEKAR JATI STAR” dengan nomor SIUP: 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Saat ini untuk memenuhi permintaan pasar, Ibu Hj. Maniati menjual batik dalam bentuk kemeja pria (baju lengan panjang untuk lelaki). Untuk kemeja batik berbahan standar dijual Rp. 150,000.00, sedangkan untuk bahan sutra Rp. 300,000.00 (Surya, 2005). Selain itu beliau juga melayani pesanan dan yang pesan boleh membawa contoh. Untuk melayani hal tersebut Ibu Hj. Maniati mempunyai 27 orang tenaga kerja.  Untuk mengembangkan batik Jombang, berbagai usaha dilakukan oleh Ibu Hj. Maniati. Mulai dari mendirikan kedai sampai ke koperasi.

Pada awalnya motif  batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Selanjutnya Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten  Jombang (isteri Bupati/DO), bersepakat bahawa Motif Batik Tulis Khas Jombang diambil dari salah satu Relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.

Tahun 2005, Bupati Jombang mengharuskan  semua para pegawai di kabupaten Jombang untuk memakai baju batik motif khas Jombang. Dimana baju tersebut bermotif batik warna merah, motifnya lakar simetris dan ada cecekan. Cecek adalah kata Jawa yang bererti titik. Titik adalah bahagian terpenting dari batik. Kata batik sendiri berasal dari kata “tik” yang bererti “titik”.

Batik Jombang menggunakan motif dengan khas paten relief Candi Rimbi, model candi yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Sedang motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan. Semua memiliki khas candi peninggalan Majapahit dan warnanya pun memakai dasar merah dan hijau yang merupakan warna khas Jombang, (Ibu Kusmiati Slamet).

Selain Ibu Hj. Maniati batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet. Dengan modal awal Rp 2 juta, tahun 2002 mulailah Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mengambil tenaga kerja dari para tetangganya sendiri (sekitar rumahnya) untuk membuat berbagai model dan motif batik dengan khas paten relief Candi Rimbi. Awalnya, prakarsa ini muncul atas dorongan tetangga yang ingin mencari kesibukan dengan belajar membuat batik dengan motif khas Kerajaan Majapahit. Alasannya, karena Jombang dulunya merupakan daerah pecahan Mojokerto, nenek moyangnya sama-sama berasal dari Majapahit.

Pekerjaan dilakukan dengan sistem borongan sesuai keperluan yang diinginkan. Jika pesanan ramai, dalam sehari bisa melibatkan 20 tenaga kerja dengan hasil batikan antara 35 sampai 40 lembar kain. Hari demi hari, pekerjaan membatik pun terus berkembang dan kian banyak pembeli dari daerah-daerah sekitar yang memakai produk Kusmiati. Lalu munculah inisiatif untuk memberi label/brand pada batiknya. Melalui kesepakatan dengan pihak keluarga, akhirnya batik Kusmiati diberi merk “LITABENA”. Litabena diambilkan dari sebahagian dari nama keempat anaknya yang sudah besar. Li dari nama Lilik, Ta dari nama Rita, Be dari nama Benny, dan Na dari nama Nanang. Ibu Kusmiati Slamet berharap dengan nama itu usaha batiknya dapat berkembang menjadi besar. Pada saat ini produk batik LITABENA telah beredar sampai ke Jakarta, Kalimantan, Palembang dan Lampung.

Untuk mengembangkan batik Jombang, Pemerintah Jombang mengadakan workshop batik di Jombang. Berkat bantuan dari pemerintah dan didorong dengan semangat besar, batik Ibu Kusmiati Slamet menjadi berkembang dan terkenal tidak hanya di kalangan pemerintahan namun telah berkembang ke luar negeri. Sekarang Ibu Kusmiati Slamet telah membuat batik pesanan dari Bank Jawa Timur, Dinas Sosial dan Dinas Perikanan berupa baju-baju pegawai. Di samping itu, setiap bulan mendapat pesanan 30 lembar sajadah ke negara Iraq dan mengirim bed cover ke Taiwan sebanyak 2,200 lembar setiap tiga bulan sekali. Kini produksinya mencapai 500-600 yard setiap bulan.

 MOTIF KHAS BATIK JOMBANG

Motif khas batik Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama BATIK JOMBANGAN. Batik Jombangan yang telah diproduksi sudah ada di Muzium Batik Pekalongan, Jawa Tengah.

PROSES BATIK

Proses batik Jombang secara umum masa dengan proses batik di daerah-daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis  batik skrin/printing, dan batik ikat. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima.

FUNGSI BATIK JOMBANG

Seperti guna kain batik pada umumnya, batik Jombang juga digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian rasmi. Kain batik di Jombang termasuk kain yang mempunyai nilai harga yang mahal, sehingga kain batik tidak digunakan sebagai pakaian untuk kerja kasar ataupun sebagai pakaian tidur. Secara khusus batik Jombang digunakan untuk uniform para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Mulai 2006/2007 digunakan juga untuk para Pelajar Tingkatan1 dan Tingkatan 4, pada hari Rabu dan Kamis.

KEDAI BATIK

Salah satu contoh kedai batik di Jombang yang aktif memasarkan kain batik khas Jombang atau BATIK JOMBANGAN. Kedai batik SEKAR JATI STAR adalah milik Ibu Hj. Maniati di desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

——————————————————————————————-Karsam. Batik Tulis Jombangan, Jawa Timur

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Berbagi Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik dengan berbagai coraknya, yaitu lurik anaman wareg (anyaman polos – Gb.98a,b), lurik klontongan (Gb.99a,b,c,d), batik lurik (Gb.101-106), lurik pakan tambah- an, disebut dengan istilah lurik kembangan (Gb.l08-117d) dan lurik talenan (Gb.ll8a,b,).

 Lurik anaman wareg
98a-corak-tuwuh-tuluh-watu-tuban98b-corak-sleret-blungkon99a-lurik-klontongan-corak-tumbar-pecahAnaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun bercorak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sakral misalnya corak tuwuh/tuluh watu (Gb. 98a). Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain- lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecoklatan, disebut dengan istilah kapas lawo (kelelawar) karena warnanya yang menye- rupai warna kelelawar, dahulu ditenun dengan anaman zvareg untuk berbagai keperluan antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai modifikasi, baik tata warna maupun corak seperti corak sleret blungko (Gb.98b), dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan
99b-lurik-klontongan-corak-galaran99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirKlontongan yang bermakna kekosonganji- wa dan badan. Lurik klontongan (Gb.99a,b, c,&) adalah lurik anyaman polos la tar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak- an berwarna hitam, 99c-lurik-klontongan-corak-jangan-menirmeskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik (Gb.101-106). Lurik klontongan diang- gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Empatjenis lurik klontongan gambar 99a,b, c,d.:

Gambar 99a – untuk batik lurik corak
krompol (Gb.101). Gambar 99b – untuk batik lurik corak
galaran kembang (Gb. 107). Gambar 99c – untuk batik lurik corak cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103).
Gambar 99d – untuk batik lurik corak ksatrian (Gb.105).

Batik lurik
101-batik-lurik-corak-krompol100-sketsa-pembuatan-teknik-lurik102Batik lurik adalah lurik klontongan yang di- batik. Diperoleh dengan menutupi bagian- bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me- nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus (lihat sketsa Gb.100). Sesu- dah dicelup dengan warna merah mengku- du atau biru indigo dan kemudian malam- nya dilorod (dibuang dengan jalan mere- bus dan/ atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol (Gb.101), cuken (Gb.102), kijing miring (Gb.103), surna (Gb.104), kesatrian (Gb.105), tutul bang (Gb.106) dan galaran kembang (Gb.107).

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan
Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata- kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker- jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan (Gb.108-117d). Di samping ini di- buat pula lurik dengan tehnik floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an- tara lain dengan corak ular giding (Gb.ll7a). Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih

dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkiriu teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela- tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da- gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurikkemitir (Gb.115) dibuat dengan teh- nik yang khas, dengan cara dan kiat ter- tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge- lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol (Gb.108), cuken (Gb.109), kembang pepe (Gb.110), kembang polo (Gb.Ill), laler menclok (Gb.112), bulu rambatpotong inten (Gb.113), corak kembang jati (Gb.114), kemintir/gemintir (Gb.115), bolongbuntu (Gb.116), ularguling ( (Gb. 117a), kembang manggar (Gb. 117b), ‘ intipyan (Gb.ll7c), batu rantai (Gb.ll7d).

Lurik talenan  
103104Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak ; di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be- ; nang-benang ikat yang sangat sederhana. I Benang-benang ikat ini 105106bercorak garis-garis I pendek yang terputus-putus, dengan war- | na putih dan biru indigo. Kain lurik yang mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan (Gb. 118a), di mana hanya 107108pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di- peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh 109benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol (Gb.ll8b) dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang menamakan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol.

Lurik usik
110111112-113-114Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, (Gb.42), yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan lurik-tuban0002lurik-tuban0003tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria. Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semarmendem (Gb.U9a). Semar (Gb.ll9b) adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah. Mendem yang arti harfiahnya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia. Salah satu penganan di Jawa Tengah ada yang dinama- kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan.

lurik-tuban0004lurik-tuban0005Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggiran kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di bagian pinggiran kain. Pemakaian benang plintir disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurikpalen (Gb.59).

 

 

 

 

 

 

—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 99-111

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Lurik Tuban

96Sesungguhnya Tuban pada masa lampau, antara abad ke-XII-XVI pernah i berjaya, diperintah para adipati yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit (Abad ke-XIII-XV). Sejarah  Tuban mencatat bahwa sejak permulaan abad ke-XII Tuban sudah merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh berbagai kapal asing, antara lain oleh kapal – kapal dari Persia, India dan Cina, untuk mengadakan perdagangan tukar menukar.

Permulaan abad ke-XV seorang jendral dari negeri Cina bernama Cheng Ho yang beragama Islam mendarat di Tuban, diutus dengan tujuan untuk menguasai per­dagangan di kota-kota pesisir Jawa, seperti Semarang, Jepara, Rembang, Lasem dan Tuban. Nama panggilan setempat untuk Cheng Ho adalah Dampo Awang yang kuburannya masih dapat dilihat di daerah ini.

Sejak abad ke-XV kerajaan Islam Demak (± tahun 1400-1568) memegang peranan di sepanjang pesisir, karena itu kedatangan seorang jendral Islam nampaknya ditolerir, terbukti dengan banyaknya rumah khas arsitektur Cina di sepanjang pantai utara pulau Jawa.

Para pendatang ini membawa serta bermacam-macam barang kerajinan mereka masing-masing: kain Gujarat (patola) dan kain Coromandel (chintz) dari India, barang-barang keramik dan sutera dari Cina. Barang-barang tersebut dipertukarkan terutama dengan rempah-rempah, seperti:

pala, cengkeh, kayu cendana dari Indone­sia Bagian Timur (Ambon, Banda, Timor, dan lain-lain) serta lada, kapur barus, ka­yu manis dan hasil bumi lainnya antara la­in dari Sumatra dan Kalimantan.

Pada tahun ± 1513 orang Portugis dan kemudian pada ± tahun 1599 orang Belanda datang pula untuk berdagang rempah- rempah dan hasil bumi. Maka semakin ra- mai dan sibuk jualah pelabuhan Tuban, yang sekaligus menjadikan daerah ini makmur dan dikenal.

9495-97a-97bSementara itu kerajaan Hindu Mojopahit mulai abad ke-XV mengalami kemunduran, sedangkan kerajaan Islam Mataram yang didirikan Penembahan Senopati pa­da tahun 1586, mencapai kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Agung (tahun 1613-1645). Setelah menaklukan Mojopahit dan menguasai daerah-daerah perdagangan di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Tuban, akhirnya diperintah oleh bupati kerajaan Mataram.

Belanda dengan VOC-nya setelah Tu­ban dikuasai oleh bupati kerajaan Islam Mataram, mengalihkan usaha perdagangannya ke Batavia (Jakarta sekarang).

Selanjutnya VOC berhubungan langsung dengan daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Bagian Ti­mur. Dengan berkurangnya kedatangan baik berbagai kapal asing maupun kapal- kapal daerah yang membawa berbagai rempah- rempah dan hasil bumi untuk dipertukarkan atau diperjual belikan, menja­dikan pelabuhan Tuban sepi dan tak berarti lagi. Dampak dari keadaan ini Tuban tidak lagi mengecap kemakmuran seperti sediakala dan akhirnya dilupakan orang.

Beberapa pendapat mengatakan, di Indo­nesia penanaman kapas/katun serta pekerjaan menenun sudah dikenal sejak awal abad Masehi dan kain lurik sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum abad ke-XIV.

Dalam salah satu prasasti disebutkan telah ada benang (tukel) yang dicelup warna biru tarum (indigo) dan merah mengkudu (morinda citri) yang diperdagangkan.

Daratan Tuban yang merupakan daerah kurang subur ternyata cocok untuk ditanami kapas, yang oleh masyarakatnya diolah menjadi kain dengan selera dan gaya setempat, serta mempunyai keunikan tersendiri. Karena kekhasan kain Tuban inilah, daerah Tuban buat sementara orang masih dikenal.

Pembuatan sehelai kain di daerah Tuban sampai saat ini masih dikerjakan secara swa-sembada, dimulai dengan bertanam kapas oleh kaum pria. Pekerjaan selanjutnya, yaitu memetik bunga kapas, memintal, menenun, membuat pewarna, mencelup benang atau kain dan pemasarannya dilakukan oleh para wanita. Warna asli serat kapas di daerah ini di samping yang berwarna putih ada pula yang berwar­na krem kecoklatan, yang setelah di tenun mempuyai keunikan tersendiri.

Membuat pewarna dan mencelup indi­go dianggap pekerjaan sakral, karena itu orang tertentu saja yang boleh mengerjakannya, yaitu orang yang berwibawa dan yang sudah mantap serta sudah berumur. Pada umumnya orang yang terpilih adalah para istri pemuka agama (istilah setempat modin). Pencelupan dikerjakan oleh kaum wanita, bahkan dianggap tabu bagi kaum pria, karena akan mendatangkan berbagai jenis bala bagi mereka. Umumnya tanaman tarum/indigo ditanam mereka di pekarangan rumah masing-masing, kadangkala terlihat pula tanaman kapas.

Jenis-jenis kain yang dibuat adalah kain batik dan kain lurik. Pada umumnya berba­gai jenis kain ini untuk pemakaian setem­pat, meskipun akhir-akhir ini telah mendapat pasaran di luar daerah Tuban. Ada yang dibuat untuk taplak meja, plate mats, tas, bahkan berbagai busana seperti rompi, kemeja, jas dan berbagai jenis cindera mata lainnya.

Sebagaimana telah diungkapkan terdahulu dalam tulisan ini, di masa lampau di berbagai daerah sepanjang pesisir Jawa, mulai dari daerah Pekalongan sampai dae­rah Gresik, di samping membuat lurik anyaman polos, di beberapa daerah dibuat pula lurik dengan pakan tambahan. Saat ini yang masih membuat lurik anyaman po­los maupun lurik pakan tambahan dapat dikatakan hanya di daerah Tuban. Di dae­rah pesisir lainnya bertenun lurik sudah dapat dikatakan punah, dikarenakan pada umumnya daerah-daerah tersebut menga- lihkan kegiatannya ke berbagai bidang lain, yang dewasa lebih menguntungkan.

Di daerah Tuban pekerjaan lurik pakan tambahan sudah mulai langka, karena dalih-dalih yang pada umumnya juga terdapat pada daerah-daerah lainnya, yaitu tidak adanya minat dari generasi penerus untuk yang mereka anggap sudah kuno serta harga jual yang tidak seimbang de­ngan pekerjaannya. Banyak pula dari ge­nerasi muda ini sekarang meneruskan sekolahnya ke sekolah lanjutan dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Di samping itu tradisi dan selera pemakainya telah bergeser; konsumsi yang tadinya bersifat setempat, semakin bertambah terbatas disebabkan harga yang buat rakyat setempat dinilai cukup tinggi, maka kain ini sekarang tidak merupakan pakaian sehari-hari lagi, terdesak oleh kain buatan pabrik yang lebih murah dan bervariasi.

Sampai di mana pembuatan lurik Tu­ban dan batik Tuban akan bertahan, mengingat berbagai kendala yang telah disebut di atas hanya sejarahlah yang akan membuktikan. Dalam hal ini terutama pelestarian seni budaya kain Tuban tradisional yang akan turut menentukan.

Bukit-bukit kapur yang banyak terdapat di daerah ini telah berakibat didirikannya oleh pemerintah pabrik semen, yang memang dibutuhkan untuk pembangunan negara. Tentunya sudah dapat diperkirakan proyek ini akan banyak menyerap tenaga muda setempat. Dengan terciptanya kesempatan yang baru ini, yang menurut mereka lebih menarik, sudah dapat diduga bahwa hal akan mempunyai dampak terhadap kerajinan rakyat tradisional pada umumnya, dan khususnya kain lurik dan batik Tuban. Oleh karena itu sebagai warisan budaya bangsa, pelestariannya harus dilaksanakan.

 
—————————————————————————————Lurik; Garis- garis bertuah Nian S. Djoemena,
Jakarrta: Djambatan, 2000
hlm.: 94-99

Tenun Ikat "Ud. Al-Arif" Desa Wedani Gresik

Gresik dikenal sebagai kota santri karena selain sebagai pusat penghasil songkok juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri. Kabupaten Gresik memiliki cukup banyak pondok pesantren yang kemudian menjadikan bisnis tersendiri bagi masyarakatnya, utamanya bisnis dalam bentuk kerajinan sarung. Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Salah satu usaha sarung tenun yang ada di Kecamatan Cerme adalah UD. Al-Arif milik Tasripin. UD. Al-Arif berdiri tahun 1989, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. UD. Al-Arif merupakan usaha kerajinan tenun terbesar di desa Wedani dan sampai sekarang masih tetap bertahan dengan mempekerjakan 162 orang. Produk yang dihasilkan berupa sarung dan proses penenunannya masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Motif yang diterapkan meliputi 3 motif utama, 10 motif tambahan, tumpal, motif timbul, dan motif pinggiran. Warna sarung yang diproduksi bervariasi yaitu hijau tua, hijau muda, hijau pandan, cokelat, kuning, orange, merah muda, dan ungu. Pembuatan sarung dilakukan dengan teknik tenun ikat pakan, ditunjukkan dengan dilakukannya proses pengolahan benang pakan yang dimotif terlebih dahulu sebelum ditenun sedangkan benang lungsi tidak dimotif.

  1. Al-Arif Gresik binaan PT. Telkom juga pernah menjadi pemenang ke 2 Semen Gresik UKM AWARD 2011 dalam kategori penyerapan tenaga kerja. Perkembangan kerajianan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di UD. Al-Arif ini pesat hingga sekarang dan berpengaruh besar terhadap masyarakat desa itu sendiri dan daerah sekitar Wedani. Hal tersebut membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa khususnya.

 Awal mula berdirinya UD. Al-Arif 

Awalnya Tasripin pemilik UD. Al-Arif berkeinginan untuk memiliki usaha tenun karena melihat belum banyak orang yang memiliki keahlian dan menggeluti usaha tenun. Berbekal tekad yang kuat tersebut, Tasripin belajar menenun dan memahami ciri khas sarung tenun yang ada di Gresik. Awalnya Tasripin membeli satu sarung tenun untuk melihat motif yang ada pada sarung khas Gresik. Setelah itu meminjam alat tenun dan satu benang boom dari temannya karena belum memiliki modal untuk membeli sendiri. Terdorong keinginan memiliki usaha sendiri, pada tahun 1978 Tasripin mulai merintis usaha kerajinan sarung tenun. Tahun 1989 usaha kerajinan tersebut diberinama UD. Al-Arif, terletak di desa Wedani RT 03/ RW 01 Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik.

 Proses Pembuatan Kerajinan Tenun Ikat di UD. Al-Arif 

Keseluruhan proses pembuatan sarung tenun di UD. Al-Arif menggunakan tenaga manusia, mulai dari proses penyiapan benang sampai proses penenunan sarung yang masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

  1. Al-Arif menerapkan teknik tenun ikat pakan untuk membuat sarung. Penerapan teknik ikat pakan terlihat pada proses penyiapan benang lungsi (boom) dan benang pakan (corak). Benang pakan diberi corak terlebih dahulu dengan membentuk motif tertentu kemudian diikat dengan tali rafia dan dicelup pewarna untuk memberi warna pada bagian yang tidak bermotif. Adapun benang lungsi (boom) langsung dicelup ke pewarna, tanpa dicorak terlebih dahulu. Benang pakan (corak) yang siap ditenun dililitkan dipalet kemudian diletakkan di dalam teropong, sedangkan benang lungsi (boom) berada pada boom.

 Motif dan Warna Sarung Tenun di UD. Al-Arif 

  1. Al-Arif memiliki 3 motif utama, 10 motif tambahan, dan 2 motif timbul. Tiga motif utama yaitu motif Gunungan, Kotak, dan Kembang Mustamin, sedangkan motif tambahan berupa Tumpal (kepala sarung), motif Pinggiran, motif Segitiga, motif Wajik, Kembang Mawar, Gunungan berukuran kecil, dan motif kembangan lainnya. Pada awal berdiri UD. Al-Arif hanya membuat sarung dengan warna hijau tua dan cokelat. Sarung dengan warna hijau tua adalah produk unggulan UD. Al-Arif karena tidak semua perajin bisa membuat sarung dengan warna tersebut. Seiring berkembangnya selera masyarakat maka UD. Al-Arif membuat sarung dengan beragam warna yaitu hijau muda, hijau pandan, orange, merah muda, kuning, dan ungu.

 Menyimak ulasan diatas diharapkan semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam hal apapun yaitu:

  1. a) Perajin, Meski hanya dengan tiga motif utama sebagai motif andalan, Tasripin selaku pemilik UD. Al-Arif perlu melakukan pendokumentasian produk sarung hasil produksi sejak awal hingga perkembangannya. Hal itu bertujuan untuk memudahkan jika ada pemesan atau pembeli yang ingin melihat atau memesan sarung yang dahulu pernah dibuat, serta untuk memudahkan pendataan.
  2. b) Pemerintah: Hendaknya selalu memberikan dukungan baik moral maupun material. Pembinaan dan kerjasama dalam hal pemasaran, pengembangan desain, dan lainlain, perlu terus diberikan agar usaha tenun bisa meningkat.
  3. c) Pendidikan: Hendaknya melakukan kegiatan pengabdian berupa pengembangan desain maupun pemasaran.

——————————————————————————————-
Dari:
Jurnal Pendidikan Seni Rupa,Volume 3 Nomor 2 Tahun 2015, 196-202
Fatmawati Trikusuma Wardhani, Fera Ratyaningrum, S.Pd., M.Pd.
Tinjauan Kerajinan Tenun Ikat Di Ud. Al-Arif Desa Wedani Gresik
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya

Batik Kediren

Kabupaten Kediri juga memiliki sentra batik berada wilayah Desa Sekoto Kecamatan Badas, Desa Besuk Kecamatan Gurah dan Desa Menang Kecamatan Pagu, Desa Semen Kecamatan Semen. Batik Kediri sebenarnya sudah mempunyai bentuk dan ciri khas tersendiri, namun batik tulis Kediri yang di kenal dengan sebutan “Batik Kediren” sampai saat ini tetap dikembangkan. Batik Kediren telah dirintis dan beredar di pasar perbatikan kurang lebih sekitar 30 tahun yang lalu.

Berkat kerjasama Pemerintah Kabupaten Kediri dengan para perajin batik, batik kediren bisa menampilkan identitasnya kembali, dan bisa memberikan manfaat pada semua pihak, khususnya dalam  pelestarian  sejarah,  budaya, maupun dalam usaha menciptakan lapangan kerja, sehingga kehadiran batik Kediren dalam kehidupan masyarakat menjadi penting, pada semua tatanan kehidupan masyarakat di Kediri.

Sejarah Batik Kediren

Tidak diketahui dengan pasti kapan munculnya batik di daerah Kediri, namun yang pasti sampai saat ini perkembangannya bisa terlihat dan dirasakan. Konon awalnya keberadaan batik di wilayah Kediri ini disekitar pinggiran sungai Brantas, hal tersebut bisa dimaklumi sebab sungai brantas merupakan sungai terbesar di Jawa Timur yang sejak zaman kuno mempunyai arti penting sebagai jalur perdagangan antar daerah di Jawa Timur. Karena adanya sungai Brantas sebagai sarana transportasi, sehingga Kabupaten Kediri pernah menjadi pusat perdagangan sekaligus menjadi lokasi bisnis perniagaan, termasuk perdagangan batik. Sehingga masyarakat sekitar aliran sungai brantas inilah yang mula-mula terpengaruh budaya dari luar Kediri. Sungai Brantas melewati beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur, diawali dari Desa Sumber Brantas kecamatan Bumiaji kota Batu, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya-Sidoarjo.

Dengan meluasnya budaya gemar batik, sehingga batik kediren mengalami perubahan dan perkembangan, semula fungsi batik kediren semata-mata untuk kepentingan busana tradisi keraton saja, kemudian berkembang pada masyarakat biasa namun hanya digunakan saat melaksakan upacara adat,  kini batik sudah menjadi pakaian masyarakat umum. Perbedaan kondisi lingkungan dan letak geografis serta seni tradisi yang khas menimbulkan keragaman budaya, kondisi ini terlihat pada bentuk, bahan yang digunakan serta motif batik. Di zaman modern ini motif batik kediren berkembang dan banyak diciptakan motif-motif baru untuk mengantisipasi permintaan pasar.

 Motif Batik Kediren

Motif utama pada struktur pola batik Kediri merupakan gambaran keadaan geografis yang terdapat di wilayah Kediri dan sekitarnya, di antaranya:

  1. Motif flora/tumbuh-tumbuhan: bambu, sakura, pelem (mangga) podang, anggrek bulan, buah naga, bunga dahlia, seruni, rosella, ron kates (daun pepaya), brambang, daun mangkuk, daun pisang, daun ketela, bunga tunjung, daun sirih (suruh), anggur, bunga sepatu, pisang, mawar, melati, blarak (daun kelapa), kambil (kelapa), bunga matahari, markisa, teratai, jeruk, kantil, palem, kopi, nanas, dan lain-lain.
  2. Motif fauna/hewan: peksi/manuk (burung); (garuda, merak, gelatik, bangau), ayam, kupukupu, tupai, kijang, kera, ikan, dan lain-lain.
  3. Motif figuratif: manusia
  4. Motif geometris: garis, bidang,
  5. Motif pariwisata dan budaya: Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul), Air Terjun Dolo, Pamuksan Sri Aji Jayabaya, relief Candi Tegowangi, relief Candi Surowono.

Sedangkan untuk motif isian, batik Kediri sebagian isiannya banyak menyerupai batik klasik, tetapi pada penerapannya serta istilah yang digunakan tidak semuanya sama, hal ini merupakan ide dan gagasan dari perajin batik.

batik-kediri-motif-kuda-kepang-11Berbagai bentuk dan gambaran yang mempengaruhi meliputi, kesejarahan, ragam seni dan budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri menjadi sumber inspirasi, ide, dan gagasan bagi pengrajin batik kediren untuk menciptakan batik kediren yang berbeda dengan daerah pembatikan yang lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa bentuk pola dan motif batik yang dibuat oleh masing–masing pengrajin batik kediren di wilayabatik-kediri-motif-kuda-kepangh Kediri diantaranya adalah:

  • motif batik sawung tunjung tejamaya dan motif batik padma loka moksa mendapat pengaruh dari aspek kesejarahan;
  • motif batik jaranan (kuda lumping) mengacu pada corak seni budaya daerah Kediri;
  • motif batik Gunung Kelud, Anak Gunung Kelud, Monumen SLG (Monumen Simpang Lima Gumul) dan pemandangan alam di wilayah Kediri menggambarkan tempat pariwisata di Kediri;
  • motif batik mangga podang dan nanas podang mengambil obyjek dari produk unggulan Kabupaten Kediri.

Sentra Batik Kediren

Sentra batik kedirbatik-kediri-motif-kuda-kepang-10en-pun kini juga sudah berkembang dan menyebar dibeberapa wilayah Kediri, pusat-pusat sentra batik tersebut meliputi, Desa Sekoto Kecamatan Badas, Besuk dan Dadapan Kecamatan Gurah, Menang Kecamatan Pagu, dan Mojo Kecamatan Mojo.

Pola Batik Kediren

Batik Kediren pola klasik masih diproduksi oleh perusahaan batik Citaka Dhomas meki hanya berdabatik-kediri-motif-kuda-kepang-11sarkan pesanan, dengan masih adanya konsumen yang tertarik terhadap pola batik kediren klasik ini, memicu perusahaan batik di Kediri menyediakan batik kediren pola klasik. Batik Kediren pola klasik biasanya dibuat dalam bentuk jarit (kain panjang), saat ini pola batik kediren klasik ini dipakai masyarakat pada acara-acara resmi, upacara adat, pernikahan, mitoni (masa hamibatik-kediri-motif-slg-1l usia tujuh bulan), dan upacara adat lainnya. Macam-macam batik kediren pola klasik kebanyakan pembuatannya ditentukan oleh pihak pemesan, beberapa pola tersebut di antaranya: pola wahyu tumurun, pola babon angrem, pola semen romo, pola sidoluhur, pola sidomukti, pola sidomulyo, dan lain-lain.

 

Batik Kediren pola kreasi merupakan inovasi baru hasil kreativitas batik-tulis-motif-slg-2individu pengrajin batik kediren, jadi sifatnya lebih pada karya pribadi, namun untuk menciptakan motif-motif batik kediren para pengrajin batik kediren masih mengacu pada bentuk kesejarahan, ragam seni budaya, kondisi wilayah, pariwisata dan produk unggulan Kabupaten Kediri.

Pola batik kreasi yang ada di Kediri menurut pembagian pola dibagi dalam tiga kelompok antara lain:

  • Batik pola sugesti alam, penggambaran wujud alam sekitar adalah bentuk sugesti/pengaruh dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari di sekitar sehingga batik kreasi kediren mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Pola atau motif batik sugesti alam yang dibuat oleh pengrajin dan pengusaha batik Kediri, antara lain: motif batik bunga sakura, rosella, bunga sepatu, rumpun bambu, sawung tunjung, angsa, lung merak, mawar seronce, mangga podang, semongko sesigar, dhong suruh, teratai, dan lain-lain.
  • Motif batik kediren pola abstrak mengetengahkan beberapa elemen unsur-unsur seni, diwujudkan dalam motif batik (motif bebas/kontemporer).
  • Pola batik kediren bermotif pariwisata dan budaya mengetengahkan berbagai pariwisata dan budaya yang ada di wilayah Kabupaten Kediri, di antaranya: Gunung Kelud yang berada di Kecamatan Ngancar, Air Terjun Dolo yang berada di wilayah Kecamatan Besuki, Gereja Puh Sarang yang berada di Kecamatan Semen, Monumen Simpang Lima Gumul yang berada di Kecamatan Ngasem, Pamuksan Si Aji Joyoboyo dan Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang Kecamatan Pagu.

Teknik produksi Batik Kediren
Batik tulis ;
Batik semi tulis;
Batik cap;
Batik printing.

Pewarnaan Batik Kediren

  • Warna alam: menggunakan bahan-bahan yang di dapat dari alam, zat warna alam di ambil dari kulit kayu mahoni, kulit pohon mangga, daun mangga, daun jambu biji, kulit buah jolawe, dan lain-lain.
  • Warna sintetis Produksi batik Kediri pada umumnya menggunakan warna sintetis, seperti, Garam napthol, Indighosol, Campuran napthol dan indighosol – Remasol

————————————————————————————-134N70nulisDW; GELAR Jurnal Seni Budaya Volume 13 Nomor 1, Juli 2015

Mujiono
KEBERADAAN BATIK KEDIRI JAWA TIMUR
UPTD SMP Negeri 3 Wates Jl. Kediri No. 449, Wonorejo, Kediri, Jawa Timur