PERAJIN ROTAN MALANG

IMAM BUDIONO, PERAJIN ROTAN MALANG
Mengikuti Selera Mode Pelanggan
Rotan0003PARA tukang tampak asyik bekerja. Jemari-jemari tangannya tampak begitu terampil dan cekatan merajut belahan rotan maupun yang berbentuk sintetis pada sebuah kerangka yang akan dibentuk kursi atau meja. Kegiatan rutin para tukang ini setiap hari selalu menghiasi rumah yang sekaligus dijadikan tempat pembuatan mebel rotan milik Imam Budiono di Jl. Pahlawan 249A, Balerejo, Blimbing, Malang. Selain untuk kegiatan pembuatan mebel, di ruang sebelah yang berlantai dua juga digunakan sebagai showroom hasil karyanya.
Selama ini rotan dikenal sebagai bahan baku industri mebel serta furniture seperti kursi, meja, dan beragam perangkat rumah tangga lainnya. Namun di tangan seorang Imam Budiono, 49 tahun, bahan baku rotan dan sintetisnya bisa ‘disulap’ menjadi beragam kreasi berkualitas ekspor. Tak hanya mebel dari bahan rotan, tapi juga asesoris lain juga dikerjakannya. Bermula dari usaha coba-coba di kota Probolinggo tahun 1986 akhirrnya membuahkan hasil sebagai pengusalia mebel rotan di Malang. Imam Budiono merintis usahanya di Probolinggo saat itu mengambil produk mebel milik orang lain lantas dijualnya. Cam ini diubahnya karena kurang menguntungkan, lantas dia membeli mebel sisa ekspor di pabrik mebel lalu dijual lagi dan laris manis. Di Probolinggo ia menyewa toko yang diberi nama Tiban Jaya dan dijadikan nama usahanya sampai sekarang. Nama Tiban Jaya diambil dari nama masjid yang berada di depan tokonya di Probolinggo saat itu. Orang-orang di sana menyebut masjid tiban, karena konon tempat ibadah itu tiba-tiba ada dan tak ada yang tahu siapa yang membangun.
Rotan0004Hijrah ke Malang, kini Imam Budiono bisa dibilang pengusaha mebel rotan sukses. Kesuksesannya diawali tahun 2007 ketika ia ingin mencoba membuat mebel rotan sendiri walau sebenarnya ia tidak pernah tahu bagaimana cara membuat mebel rotan. ‘Terus terang saya tidak punya keahlian membuat mebel rotan. Saya hanya bisa mendesain lantas para tukang saya yang mengerjakan. Untuk membuat sendiri saya tidak bisa, jadi saya hanya mengarahkan tukang saja,” ujar lulusan STM (sekarang SMK) jurusan mesin ini.
Walau Imam Budiono mengaku tidak bisa membuat sendiri mebel-mebel itu, tapi dia adalah pencetus ide atau pembuat desain. Kadang ide desain itu didapatnya dari browsing internet, dari tayangan televisi atau bahkan pemesan yang membawa desain sendiri, “Pokoknya prinsip saya mengikuti selera mode pelanggan. Desain itu tak melulu mebel tapi bisa juga asesoris seperti kursi besar untuk kolam renang pigora atau wadah buah dan lain-lain. Bahkan pintu dan jendela rumah saya beri anyaman rotan sintetis. Hasilnya luar biasa, punya nilai lebih dibanding hanya pintu polosan. Ini hasil kreasi lain, untuk memberi kesan beda saja,” tuturnya.
Rotan0001Sejak awal berdiri, Imam Budiono dibantu empat orang, dan sekarang berkembang menjadi 32 karyawan. Kini, pemasaran mebel rotan buatan Imam Budiono disamping sudah menjangkau seluruh Jawa Timur juga di luar Pulau Jawa, “Kebanyakan pelanggan yang beli pada kami dijual lagi, j bahkan mungkin ada juga yang diekspor. Alhamdulillah setiap hari kami produksi terns dan selalu habis karena pelanggan setiap tahun bertambah. Bahkan untuk memberi kepuasan bagi pelanggan yang membawa model sendiri kami pun siap membuatnya berdasar gambar dan ukurannya,” jelas ay all dua anak ini.
Sebagai pengusaha mebel rotan, Imam Budiono termasuk orang baik hati. Sebab, ia menerapkan marketing kepercayaan kepada semua pelanggan yang kulakan padanya, yaitu barang laku baru bayar. Artinya, para pelanggan yang membeli dan menjual kembali mebel dari Imam Budiono bisa
dibilang tidak mengeluarkan modal dan cara membayarnya pun suka-suka. “Kadang ada juga yang benar-benar tidak bisa membayar walau barang sudah laku. Jika dia memang tidak mampu membayar, saya akan ikhlas. Namun kalau ada unsur nakal dan tak mau bayar, seterusnya tidak boleh mengambil barang lagi,” kata dia.
Imam Budiono yakin dalam berbisnis prinsipnya bisa menyenangkan orang lain. Dengan prinsip ini maka rezeki akan terus mengalir. “Semua rezeki diatur oleh Allah SWT. Insya Allah dalam bekerja sebisa mungkin menyenangkan orang lain, sehingga hubungan kekeluargaan akan terjalin erat. Ikatan emosional ini sebetulnya mahal harganya, karena bisa menambah persaudaraan,” prinsip Imam Budiono.
Rotan0002Tentang rahasia keberhasilannya mengelola kerajinan rotan dan sintetis ini, Imam Budiono mengaku tak jauh dari prinsip disiplin kerja, jujur dan tepat janji. Soal janji Imam Budiono sangat hati-hati. Kalau tidak tepat waktu, dia berusaha telepon dan memberitahukannya tentang kesulitan yang dihadapi. Bila terjadi komunikasi timbal balik, praktis hubungan kerja lancar. Apalagi peluang mebel rotan yang digelutinya ke depan sangat menjanjikan. “Alhamdulillah hasil produksi saya sudah cukup dikenal di Malang. Sehingga mebel-mebel untuk keperluan hotel yang banyak bertebar di Malang ini juga banyak yang pesan ke saya pungkasnya.Byan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 34-35

Belimbing Kota Blitar

belimbing kota blitar0001KECERIAAN tampak menghiasi wajah H Imam Surani ketika memperlihatkan Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013, di rumahnya Karangsari, Kota Blitar. Penghargaan yarig diterimanya di Jakarta itu berkat kerja kerasnya yang gigih dan ulet sehingga mampu mempertahankan plasma nutfah belimbing karangsari. Keberhasilan belimbing karangsari memenangi kategori Produk Segar Berdaya Saing dalam Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing 2013, menurut Imam, karena ditunjuk pemerinbelimbing kota blitartah Provinsi Jawa Timur mengikuti ajang tersebut. Penunjukan ini terkait dengan penghargaan yang pernah diraih dari Gubernur Jawa Timur dalam lomba Inovasi Teknologi Produk Unggulan.
Bisa jadi makanan khas Blitar kini lebih lengkap, tak lagi didominasi bumbu pecel atau buah rambutan. Tapi, sekarang ada buah belimbing karangsari. Bila ingin menikmati belimbing berkualitas nomor wahid, datanglah ke Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Blitar. Di sana sudah menanti pohon-pohon belimbing matang terbungkus plastik bening yang banyak dijumpai di setiap halaman rumah warga. Belimbing-belimbing yang dibungkus plastik itu supaya terhindar serangan lalat buah. Keistimewaan dan keunikan buah belimbing karangsari selain rasanya manis, ukuran buah besar dan berada di lingkungan perkotaan.
belimbing kota blitar0003Usaha pembudidayaan belimbing ini dikerjakan secara kelompok. Imam Surani clipercaya sebagai ketua Kelompok Tani Margo Mulyo sejak tahun 1985. Kelompok ini beranggotakan 14 anggota yang merupakan pengepul belimbing. Belimbirtg karangsari merupakan belimbing varietas unggul dan berhasil mengisi pasar swalayan seluruh Pulau Jawa. Bahkan, belimbing karangsari ini sudah bersertifikat, dengan nama Belimbing Karangsari yang diambil dari nama Desa Karangsari, Kota Blitar. Populasi belimbing karangsari sekarang mencapai lebih dari 30 ribu tanaman. Dari sekian banyak belimbing-belimbing itu, tentu saja ada kelas-kelasnya. Pengiriman belimbing ke pasar-pasar atau supermarket berdasarkan klasnya.
Saat ini belimbing karangsari sudah dikenal luas, hampir setiap orang mengenalnya karena ciri khas yang tidak dimiliki belimbing lain. Di Blitar juga dikembangkan area lahan milik pemerintah daerah seluas lima hektare untuk dijadikan lokasi agrowisata belimbing. Setiap pohon belimbing rata-rata menghasilkan lebih dari 0,5 kuintal buah selama empat kali dalam setahun. H Imam Surani mewajibkan seluruh warga desanya menanam pohon belimbing di pekarangan rumah. Tujuannya agar tanaman pelindung yang ditanam di rumah memberi nilai tambah. “Warga wajib pemanfaatan Halaman, samping, belakang, depart rumah. Bahkan tanaman lain harus diganti dengan tanaman belimbing kata dia.
Belimbing karangsari merupakan salah satu varieteas belimbing unggul nasional dengan belimbing kota blitar0004SK Mentan pada tahun 2004. Beberapa keunggulan belimbing karangsari di antaranya:
■ Penampilan buahnya sangat menarik berwarna kuning oranye bila masak optimal.
■ Ukuran buah besar sekitar 350-600 gram per buah.
■ Rasa buah manis, kandungan air tinggi, daya simpan lebih dari tujuh hari.
■ Mampu berbunga dan berbuah sepanjang tahun dan panen daoat dilakukan 3-4 kali dalam setahun.
■ Produktivias 400-500 kg/phon/tahun (empat kali panen) dengan umur tanaman lebih ciari 10 tahun.
Belimbing hasil panen dari halaman warga yang disortir berdasarkan kelas super (bobot 500 g per buah), kelas B, dan C itu termasuk istimewa. Warna buah kuning-jingga terang mengkilap dengan lingir hijau serta beraroma harum saat matang pohon. Ukuran besar berbobot 350—600 g per buah, manis segar dengan tingkat kemanisan mencapai 9 —100 brix. Sudah begitu ia memiliki daya simpan lama, mencapai sepekan lebih. lebih dari 7 hari. Penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, mem- perlihatkan belimbing karangsari yang pernah menjadi juara kontes buah tropis BPTP Jawa Timur pada 2003 itu mengandung asam oksalat, asam sitrat, kaya potasium, vitamin A dan C. Sosok pohon belimbing karangsari juga tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan pemanenan.
Wajar bila warga yang sebelumnya menanam beragam varietas, kini hanya menanam belimbing karangsari yang telah menjadi varietas unggul nasional. Nah, belimbing karangsari kini sudah diperbanyak dengan cara okulasi. Penanamannya kini tak melulu di Kelu- rahana Karangsari, Blitar, tapi sudah menyebar hingga Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Malang, Bondowoso, Jember, dan beberapa daerah lain di luar Pulau Jawa.
Saat panen raya dan cenderung kelebihan produksi, Surani dan teman-teman dalam kelompok tani Margo Mulyo mengolah buah belimbing menjadi dodol, sari buah, manisan, sirup dan keripik belimbing. Sekarang tempat kediaman Imam Surani menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S), tiap bulan tidak sepi dari kunjungan warga, kelompok tani dari berbagai daerah. Pemerintah daerah dan pusat memberikan dukungan mo¬dal, fasilitasi alat dan ruang pertemuan pelatihan. ■ Pribadi/Marta Mukti Widodo

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 30-31

USAHA setir mobil

Sewtir Mobil0001USAHA setir mobil ini dijalankan anak muda benama Nicko Agung, 26 tahun, beralamat di J1 Panglima Sudirman Gang Kadipaten IV/17A, RT-3/RW-4 Kelurahan Kebon Agung, Pasuruan.
Bersama kakak Nicko, yaitu Arif memulai usaha ini sejak tahun 2010 dengan modal awal Rp 3 juta. Tak cuma setir mobil dari yang punya merek terkenal seperti Momo dan lain-lain, usaha keluarga ini juga membuat handle porsenling. Sebetulnya usaha bikin setir mobil ini meneruskan usaha ayah Nicko, yaitu Abdullah.
Menurut cerita Abdullah yang tidak tamat SD ini, sebelum terjun membuat setir mobil awalnya dia bekerja di bidang mebel/kursi. Bosan dengan usaha perabot rumahtangga, tahun 1993 ia coba banting setir menekuni jadi perajin setir mobil kayu dan berhasil. Bahan bakunya berasal dari limbah mebel pabrik.
Masih cerita Abdullah, pertamakali menawarkan hasil karyanya itu di Pasar Senen Jakarta. Sayang, krisis ekonomi yang pernah melanda Amerika berimbas ke Indonesia dan usahanya. Lama sempat berhenti, kemudian tahun 2010 usahanya diteruskan anak-anaknya, Nicko dan Arif.
Sekarang, Abdullah tinggal mengawasi kerja anak- anaknya yang dibantu para tetangganya sekaligus membuka lapangan kerja. Dulu punya 25 pekerja, sekarang tinggal 7 orang. “Bapak itu banyak akal, seperti tokoh cerita film Mc Giver tutur Nicko. Sekarang, Nicko bersama Arif, membuat setir mobil berdasarkan pesanan toko-toko komponen mobil di Surabaya, Jember, Malang, Banyuwangi dan kota-kota besar di Jawa Tengah. Kebanyakan pula setir mobil yang dipesan untuk mobil sport. “Kami hanya melayani pembelian kontan, ada uang ada barang,” tutur Nicko yang pernah menjadi sales sepeda motor Yamaha. Em djupri/alfan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah SAREKDA Jawa Timur/edisi 021/2014 halaman 33

PELABUHAN Muncar, Kabupaten Banyuwangi

Muncar Jangan Tercemar

PELABUHAN Muncar di Banyuwangi yang berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, merupakan tempat pertemuan arus Laut Jawa dari arah utara dan Samudra Hindia melalui arah selatan. Kondisi ini menguntungkan karena para nelayan di Muncar tidak terpengaruh gelombang besar yang disebabkan angin barat maupun angin timur. Mereka hanya berhenti melaut saat bulan purnama tiba selama 7 hari hingga 10 hari.
Kepala Bidang Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi, Untung Widiarto mengatakan, Tempat Pelelangan ikan (TPI) Muncar sebelumnya menjadi pemasok ikan terbesar di Indonesia. Namun terus menurun sejak terjadi anomali cuaca. Pada 2012 hasil tangkapan masih mencapai 28.313 ton. Namun pada 2013 tersisa 21.464 ton. “Jumlah terbanyak tetap jenis le¬muru,” ucapnya.
Muncar.Menurunnya jumlah hasil tangkapan ikan nelayan di Muncar juga disebabkan overfishing dan pencemaran limbah perusahaan pengolahan ikan. Kondisi perairan Muncar di Selat Bali dikatakan pulih bila hasil tangkapan nelayan bisa mencapai 36 ribu ton per tahun.
Dikatakannya, di Pelabuhan Perikanan Muncar, ikan lemuru menjadi komoditas utama tangkapan nelayan. Bahkan sentra lemuru yang telah memiliki industri ter¬besar di Indonesia berada di wilayah perairan selat Bali.
Sampai saat ini, di sekitar perairan pantai kabupaten Banyuwangi banyak dijumpai armada penangkapan tradisional dan modern yang beroperasi memanfaatkan ikan lemuru sebagai ikan tangkapan.
Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Kartono Umar mengatakan, produksi ikan lemu¬ru dapat dilihat dalam data lima tahun terakhir.
Pada tahun 2010 dari produksi ikan di pelabuhan Muncar sebesar 22.042.289 kg dengan nilai produksi Rp 98.394.406.500 produksi ikan lemuru sebesar 80%, tahun 2011 produksi ikan 16.526.715 kg dengan ni¬lai produksi Rp 84.956.896.500 produksi ikan lemuru sebesar 10% tahun 2012 produksi ikan 11.459.005 kg nilai produksi Rp 107.374.808.500 produksi ikan le¬muru 24,7%, 2013 produksi ikan 8.010.771 kg dengan nilai produksi Rp 87.546.170.500 produksi ikan lemuru 50,9% dan pada tahun 2014 hingga periode Juli produk¬si ikan 462.770 dengan nilai produksi Rp 4.278.230.000 produksi ikan lemuru sebesar 90,4%. Ditambahkan- nya, pada tahun 2009 produksi ikan lemuru sebesar 28,446,134 kg, 2010 sebesar 17,717,764 kg, 2011 sebe¬sar 1,651,381 kg, 2012 sebesar 2,839,271 kg dan 2013 sebesar 4,082,081 kg.
muncar 1Selain lemuru, komoditas lain yang cukup potensial di perairan Muncar yakni ikan layang. Pada lima tahun terakhir, produksi ikan layang cukup tinggi. Tahun 2009 sebesar 1,067,070 kg, 2010 sebesar 1,057,942 kg, 2011 sebesar 2,268,370 kg, 2012 sebesar 2,013,177 kg dan 2013 2,656,893 kg. Seperti diketahui, perairan selat Bali merupakan wilayah perairan yang pengelolaannya di atur oleh dua Pemerintahan Provinsi, yaitu Jawa Timur dan Bali. Armada perikanan lemuru yang beroperasi pada tahun 2010 di kabupaten Banyuwangi sebanyak 203 unit yang terdiri dari kapal purse seine berukuran antara 10 – 30 GT.
Dengan potensi perikanan yang cukup tinggi, sampai saat ini jumlah di Muncar sebanyak 13.203 orang. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun 2013 yang hanya 13.143 orang. Angin kencang disertai gelombang tinggi kerap menjadi kendala utama menurunnya produksi tangkapan ikan di Muncar. Ditambah lagi seringnya kelangkaan solar. Setelah waktu libur usai puasa dan le- baran, nelayan kembali berburu. Lemuru, tongkol, salem, dan layang sebagai bahan dasar pembuatan ikan kaleng menjadi hasil laut andalan di perairan Muncar. Pada saat paceklik tangkapan, seperti yang terjadi pada periode Januari-April, nelayan masih bisa memasok ikan-ikan itu ke puluhan cold storage (tempat pendinginan) di Muncar dan sekitarnya.

“Kalau pada saat musim panen Juni- Nopember, kami bisa mevigekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton) “

Siswanto, pekerja di tempat pendinginan Usaha Dagang Piala Indah, menyebutkan, masih bisa mendapatkan pasokan 8-10 ton ikan lemuru, tongkol, salem, dan layang
per hari selama masa paceklik. Pengusaha tempat pen¬dinginan tak berhenti mengekspor lemuru keias satu ke Jepang dan Thailand. “Kalau pada saat musim panen Juni-Nopember, kami bisa mengekspor ikan lemuru hingga tujuh kontainer (isi per kontainer 24 ton),” ungkap Sis¬wanto.
Hasan (43), mengaku sudah berhenti melaut sejak Desember 2013 hingga Januari 2014. Dalam sepekan pertama awal Pebruari 2014, dia terpaksa melaut di pe¬rairan Selat Bali meski cuaca belum normal. Sebab, Ha¬san membutukan biaya untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, dari tujuh hari melaut, Hasan baru mendapat satu kali tangkapan, itu pun hanya 1 kuintal. “Biasanya saya bisa dapat 1 ton,” katanya.
Satu kuintal lemuru berharga Rp 2.600 per kilogram. Padahal biaya solar Rp 200 ribu per hari. Penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang Hasan hanya Rp 60 ribu. Jumlah itu tidak bisa menutupi biaya operasional untuk enam hari berikutnya. Nelayan lainnya, Nur Ali, mengatakan baru melaut dua kali dalam sepekan ini. Hasil yang didapatkannya hanya 1 kuintal lemuru seharga Rp 4.500 per kilogram. Uang yang diperolehnya hanya Rp 450 ribu. Jumlah itu tak sebanding dengan biaya beli solar Rp 600 ribu. “Saya tekor Rp 150 ribu,” kata dia.

Terbesar
Meski Muncar dapat disebut sebagai pasar perikanan tertua di Jawa Timur, pola produksinya masih sama de¬ngan pelabuhan perikanan lainnya. Hampir tidak ada modernisasi cara tangkap. Jalur lintas selatan Jawa (JLS) yang sebentar lagi direalisasikan dan diyakini bakal memecahkan problem isolasi wilayah selatan Jawa, termasuk Muncar, mudah-mudahan bisa mendorong modernisasi produksi itu. Ikan yang ada di wilayah Muncar merupakan kualitas ekspor yang diminati beberapa negara. Ini membuat peluang ekspor produk maritim cukup terbuka dan menjadi ladang usaha yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan.
Setiap hari ikan yang dibongkar di Muncar minimal 500 ton dan sekitar 90 persen di antaranya dipasok ke industri pengolahan ikan setempat. Data Sekretariat Kabinet RI menunjukkan, Muncar merupakan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan produksi ikan tahun 2010 sebesar 27.748 ton. Produksi ikan olahan diekspor ke Eropa, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Kanada sebanyak 1.562.249,72 kg per bulan dengan nilai ekonomi sebesar hampir Rp 20 miliar. Juru bicara Asosiasi Pengusaha Cold Storage Muncar, Wahyu Widodo mengatakan, tempat pendinginan di Muncar rata-rata mempekerjakan 70 laki-laki dan perempuan. Ini membuat warga Muncar jarang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Pengusaha cold storage di Muncar siap untuk bersaing secara produk di luar negeri.
Pada Pebruari lalu, setelah mendapat sinyal positif pemerintah daerah untuk membantu kepenguru- san izin ekspor-impor pengusaha cold sotrage asal Muncar, banyak pengusaha lokal yang mengurus izin ekspor. Ini ditujukan agar peluang pengusaha mema- sarkan ikannya secara langsung ke luar negeri bisa terwujud. Ekspor juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Muncar. Menurut data, di Banyuwangi baru ada sembilan pengusaha yang mengantongi lisensi ekspor dan impor. Sedangkan di Muncar ada puluhan pengusaha cold storage, (jal)
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 11-13

Akik, Kabupaten Pacitan

Akik Sukodono Pernah Harumkan Pacitan

akik001Batu akik. Pacitan tempatnya. Desa Sukodono, Kec. Donorojo pusat pembuatannya. Pasar Kliwon yang buka se- tiap Kliwon, adalah bursa batu akik yang paling ramai dikunjungi para pecinta batu agate ini. Pengrajin batu akik Sukodono menikmati kejayaannya cukup panjang mulai tahun 1960-an sampai tahun 1990-an. Produk batunya terkenal indah, karena proses pembuatan dan bahan bakunya juga berkualitas tinggi.

Tanah Pacitan mengandung batu batuan yang bagus untuk diolah menjadi batu mulia. Batu jenis, jasper, fosil kayu, kalsedon, dan pasir kwarsa tersimpan melimpah di bumi Pacitan. Bahan material berupa bongkahan batu besar itu dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Setelah dipoles, batu akik itu digosok dengan amplas dan bubuk batu intan. Ada juga yang masih menggnaka potongan bambu untuk finishingnya.

Proses panjang itu akhirnya terbentuklah batu akik yang sangat menawan. Dan batu-batu itu pun diberi nama sesuai alur serat, ketajaman serta warnanya. Seperti, batu Sulaiman berserat garis-garis dan warnanya seperti madu. Batu yahman warnanya seperti batu sulaiman, namun uratnya menyerupai bentuk air.Sedangkan batu yahman bungur berwarna ungu-kecubung. Batu pan­cawarna, sesuai dengan namanya, mengandung lima macam warna. Adapun batu badar asem memiliki serat seperti ram­ but halus, dan sering juga dis­ebut rambut cendana.

Batu akik Sukodono telah menghar­umkan nama Pacitan. Berkat pegrajin batu akik desa ini, nama Pacitan dike­nal penggemar batu mulia dari dalam dan luar negri. “Pacitan sudah men­jadi produsen sekaligus bursa batu akik yang paling banyak didatangi pembeli dari Australia, Korea, Jepang dan banyak lagi,” kenang seorang pengrajin batu akik Sukodono.

akik002AKIK produksi Desa Sukodono mudah diperoleh lewat pedagang souvenir.

Namun, masa keemasan batu akik Pacitan saat ini sudah mulai surut. Penurunan jumlah pembeli terlihat menjelasng Indonesia dilanda kri­sis moneter pada 1998. Pedagang di Pasar Kliwon mulai sepi pembeli, se­hingga berpengaruh pada pengrajin. Produksi batu akiknya melorot tajam. Desa Sukodono mulai sepi kemba­li. Para pengrajin batu mulia ini su­dah banyak beralih profesi, tetapi di depan rumah maupun di dalamnya, masih tersimpan beberapa peralatan untuk memproduksi batu yang sudah tidak terawat lagi.

Di Kecamatan Donorojo, selain Desa Sukodono, para pengrajin batu akik juga tersebar di Desa Gendaran. Namun, akibat melorotnya jumlah permintaan batu akik yang terjun bebas, para pekerja dan pengrajin di Gendaran juga sudah banyak menin­ggalkan profesinya. “Sekarang ini pasar batu akik su­dah sepi. Jarang pengrajin yang mau memroduksi batu akik,” ungkap Par- to Wiyono, pemilik Gems Stones Art Shop di Desa Sukodono, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.

Dia mengkisahkan, pembeli batu akik saat ini berbeda jauh dengan 20 tahun yang lalu. Masa kejayaan pengra­jin batu akik berkisar tahun 1960-an sampai 1995-an. Setelah krismon ta­hun 1998, masa suram mulai melanda pengrajin batu akik, sehingga sampai saat ini belum ada usaha untuk men­gangkat kembali batu akik ini. “Pada masa kejayaan itu batu akik menjadi mata pencaharian utama warga desa, tetapi ketika masa suram telah tiba maka warga desa sudah banyak men­inggalkan profesinya sebagai pengra­jin batu akik,”uja Batu akik termasuk barang ke­senangan, bukan kebutuhan pokok. Batu akik banyak disimpan dan dipak­ai sebagai prestise, bahkan sebagian memakainya untuk kewibawaan, meningkatkan derajat dan lainnya. Masa depan batu akik Pacitan se­makin suram, setelah beberapa dae­rah juga ditemukan jenis batu-batuan yang mulai diburu penggemar batu. Batu bacan dari Maluku, misalnya, saat ini lagi ramai diperdagangkan karena banyak penggemarnya.(tni)

 

SUARA DESA Edisi 08 , Januari-Februari 2013, hlm. 39

 

 

Berbagai Jenis Lurik Tuban

Di daerah Tuban terdapat beberapa jenis lurik Berbeda dengan lurik dari daerah lain, lurik daerah Tuban punya berbagai corak, yaitu lurik anaman wareg), lurik klontongan), batik lurik, lurik pakan tambah­an, disebut dengan istilah lurik kembangan dan lurik talenan.

 Lurik anaman wareg

Anaman wareg, bahasa Jawa yang berarti anyaman polos. Lurik anyaman polos, baik bercorak lajuran (garis-garis) maupun ber­corak cacahan (kotak-kotak), di daerah ini dianggap kurang bergengsi, kecuali bebe­rapa corak yang mengandung makna sak­ral misalnya corak tuwuh/tuluh watu. Pada umumnya jenis lurik ini dipakai untuk bakal klambi, (bahan pakaian – baha­sa Jawa) yaitu untuk sruwal (celana), baju, selendang, lurik klontongan (bahan untuk batik lurik) dan untuk keperluan lainnya seperti kain kasur, kain bantal dan lain-lainnya.

Kapas yang warna aslinya krem kecok-latan, disebut dengan istilah kapas lowo (kelelawar) karena warnanya yang menye­rupai warna kelelawar, dahulu ditenun de­ngan anaman wareg untuk berbagai keperlu­an antara lain untuk kain kasur, bantal dan lain-lain. Namun kini dengan berbagai mo­difikasi, baik tata warna maupun corak se­perti corak sleret blungko, dipakai untuk busana yang cukup mendapat pasaran.

Lurik klontongan

Klontongan yang bermakna kekosongan ji­wa dan badan. Lurik klontongan adalah lurik anyaman polos latar putih dengan berbagai corak lajuran (garis-garis) atau cacahan (kotak-kotak) yang kebanyak­an berwarna hitam, meskipun adakalanya yang berwarna merah. Dipakai sebagai ber­bagai bahan dasar untuk pembuatan batik lurik. Lurik klontongan diang­gap masih kosong atau hampa, belum mempunyai makna dan identitas, karena belum mempunyai corak, nama dan makna. Corak lurik klontongan tertentu diperuntukan bagi bahan dasar corak lurik batik tertentu pula.

Batik lurik

Batik lurik adalah lurik klontongan yang di-batik. Diperoleh dengan menutupi bagian-bagian tertentu yang berwarna putih dari sehelai lurik klontongan dengan malam, me­nurut berbagai bentuk corak geometris ter­tentu, yang terdiri dari titik-titik halus atau garis-garis lurus. Sesu­dah dicelup dengan warna merah mengku­du atau biru indigo dan kemudian malam­nya dilorod (dibuang dengan jalan mere­bus dan/atau dikerok), maka akan didapat batik lurik dengan berbagai corak seperti co­rak: krompol, cuken, kijing miring, surna, kesatrian, tutul bang dan galaran kembang.

Lurik pakan tambahan/lurik kembangan Berlainan dengan di daerah Solo/Yogya, di mana lurik pakan tambahan dapat di kata­kan tidak lazim, di daerah Tuban kain de­ngan tehnik pakan tambahan masih di ker­jakan, disebut dengan istilah lurik kembang­an pakan. Di samping ini di­buat pula lurik dengan tehmk floating warp yang dinamakan lurik kembangan lungsi an­tara lain dengan corak ular guling. Di daerah Tuban lurik pakan tambahan masih dibuat karena masih diperlukan, dipakai untuk upacara setempat. Kemungkuiu. teknik pakan tambahan adalah pengaruh dari luar, seperti dari Bali, Sulawesi Sela­tan, Kalimantan Selatan dan daerah Su­matra. Daerah-daerah tersebut di atas ini memang terkenal dengan seni budaya tek­nik pakan tambahan (songket) yang cukup tinggi. Pada masa lampau hubungan da­gang antar daerah ini dengan Tuban cu­kup tinggi, di mana interaksi kebudayaan terjadi.

  • Lurik kemitir  dibuat dengan teh-nik yang khas, dengan cara dan kiat ter­tentu sewaktu menghani benang.
  • Sehelai lurik kembangan dapat dipakai baik oleh orang berumur maupun orang muda, sisi kain yang berpenampilan ge­lap dipakai oleh orang berumur dan sisi sebaliknya yang terang dipakai oleh orang muda.
  • Antara lain lurik corak kembang polo dan kembang pepe merupakan lurik dengan istilah kain simpenan yaitu disimpan sebagai kain pusaka.
  • Beberapa corak lurik kembangan yang masih dibuat antara lain: krompol, cuken, kembang pepe, kembang polo, laler menclok, bulu rambat potong inten, corak kembang jati, kemintir/gemintir, bolongbuntu, ular guling, kembang manggar, intipyan, batu rantai.

Lurik talenan

Lurik talenan dari perkataan ditali/ diikat, adalah lurik corak lajuran dan kotak-kotak di mana di antara benang-benang lungsi dan/ atau benang pakannya terdapat be­nang-benang ikat yang sangat sederhana. Benang-benang ikat ini bercorak garis-garis pendek yang terputus-putus, dengan war­na putih dan biru indigo. Kain lurik yang

mempunyai benang ikat ini disebut dengan istilah talenan. Antara lain terdapat lurik dengan corak sleret talenan, di mana hanya pada benang lungsinya saja terdapat benang ikat, yang umumnya di­peruntukkan bagi kaum pria. Lurik yang berpenampilan garis-garis terputus-putus baik ke arah vertikal (lungsi), maupun ke arah horisontal (pakan) yang disebabkan oleh benang ikat pada pakan maupun lungsinya, disebut dengan istilah lurik talenan/kentol dipakai oleh pria dan wanita. Kaum pria ada yang mena­makan lurik talenan dengan sebutan lurik kentol. 

Lurik usik

Kain lurik usik adalah lurik yang benang pakannya terdiri dari benang tamparan istilah Tuban untuk benang plintir, yang menjadikan lurik ini sangat kuat dan tebal. Karena itu umumnya kain usik dipa­kai untuk bekerja di ladang oleh kaum pria.

Antara lain terdapat kain usik dengan nama Semar mendem. Semar adalah seorang dewa yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, berjiwa pengasuh dan pelindung serta mendambakan agar manusia berada dalam keadaan suasana sejahtera, damai dan terhindar dari segala macam musibah.

Mendem yang arti harfiah- nya mabuk, namun di sini kiasannya ada­lah sedemikian hanyutnya, gandrungnya Semar akan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian manusia.

Salah satu pe­nganan di Jawa Tengah ada yang dinama­kan Semar mendem yang menurut mereka bercita rasa sangat lezat menghanyutkan. Di daerah Tuban benang tamparan tidak dipergunakan untuk memperkuat pinggir­an kain, untuk itu mereka memasukkan dua helai benang di satu lobang sisir di ba­gian pinggiran kain.

 Di daerah Solo/Yogya untuk memper­kuat pinggiran kain dipakai benang plin­tir. Di daerah ini terlihat antara lain pema­kaian benang plintir yang disisipkan di antara benang pakan, dengan effek yang menarik seperti pada lurik palen.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Lurik Garis-garis Bertuah,Nian S. Djoemena, Jakarta,  Djambatan, 2000, hlm. 99-105