BATIK JETIS SIDOARJO

sekar-jagad-sidoarjoSejarah Batik Sidoarjo

Batik Jetis Sidoarjo sudah dikenal sejak tahun 1675, dari tahun tersebut (1675) sampai sekarang keahlian batik yang diwariskan turun-temurun telah mencapai tujuh generasi. Batik Jetis Sidoarjo merupakan salah satu warisan budaya lokal (kearifan lokal) masyarakat Sidoarjo,  Batik Jetis Sidoarjo mempunyai sentra produksi kampung tua pengrajin batik yaitu kampung Jetis, di kampung jetis masih diproduksi batik tulis tradisional.

Sejarah Batik Jetis Sidoarjo, bermula dari seorang pendatang dari kerabat kerajaan yang bertempat tinggal di kampung Jetis, awalnya ia menyamar henjadi pedagang di pasar kaget yang berada di kampung jetis. Pria pendatang yang dikenal masyarakat jetis dengan panggilan Mbah Mulyadi, seorang yang sopan dan hormat pada semua orang dan taat beragama.

Beliau melakukan pendekatan dengan masyarakat kampung Jetis dengan mengajak sholat berjama’ah, mengajarkan Al-Qur’an. Mbah Mulyadi juga mendirikan masjid di daerah tersebut dan memberi nama masjid tersebut Masjid Jamik Al-Abror. Masjid ini didirikan pada tahun 1674, seiring perjalanan waktu penduduk sekitar masjid semua aktif menjalankan ibadah, maka daerah tersebut dinamakan desa  Pekauman, tempat bermukimnya para kaum (sebutan bagi pemeluk Agama Islam).

Selain tokoh masyarakat yang religious Mbah Mulyadi juga mengajarkan cara membatik, pada komunitas jama’ah masjid jamik, maka tidak salah bila Mbah Mulyadi ini merupakan pelopor pembuatan batik Jetis Sidoarjo. Komunitas jama’ah masjid jamik ini berkembang menjadi beberapa perkumpulan seperti perkumpulan pengajian, membuat hubungan persaudaraan antar para pengrajin batik semakin erat. Motif batik gadag merupakan wujud dari persatuan dan persaudaraan antar pengrajin batik Sidoarjo yang digambarkan dalam bentuk rangkaian bunga.

Seiring perjalanan waktu, perdagangan di pasar Jetis semakin ramai, banyak pedagang asal Madura yang menyukai batik tulis buatan warga Jetis, mereka sering memesan batik tulis dengan permintaan motif dan warna khusus khas Madura. Itulah sebabnya, batik tulis asal Jetis ini kemudian juga dikenal orang sebagai batik corak Madura.  Dengan semakin banyaknya yang membuka rumah produksi batik, maka pada tanggal 16 April 2008 Paguyuban Batik Sidoarjo (PBS) resmi berdiri, yang dipelopori kaum muda Kampung Jetis. Keadaan ini mendapat perhatian Bupati Sidoarjo waktu itu Drs. H. Win Hendrarso, M.Si. sebagai potensi daerah industri baru, karena Pasar Jetis dianggap sangat potensial untuk menjadi sebuah daerah industri baru. Akhirnya pada tanggal 3 Mei 2008 Bupati sidoarjo meresmikan Pasar Jetis sebagai daerah industri batik dan diberi nama “Kampoeng Batik Jetis”.

 Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo

Motif batik Jetis Sidoarjo mengalami perkembangan dari tahun 1980an motif-motif batik Jetis banyak bermunculan jenis dan warnanya sampai tahun 2010. Awalnya para pengrajin hanya mempunyai beberapa motif dasar saja tapi kini para pengrajin memiliki banyak motif yang beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1980an Dari segi warna, batik khas Sidoarjo tidak begitu mencolok dan cenderung berwarna gelap (cokelat) dan motifnya tidak ada yang memakai binatang.

Tahun 1675 batik Jetis Sidoarjo masih menggunakan warna dasar gelap yaitu coklat soga dan pola penggambarannya masih sederhana. Namun, karena konsumen kebanyakan masyarakat pesisir yang menyukai warna terang dan cerah, maka pengrajin batik Sidoarjo pun mengikuti permintaan tersebut. Maka muncul warna-warna mencolok seperti merah, biru, hitam dan sebagainya. Karena itulah, Sidoarjo juga terkenal dengan batik motif Madura. Motif yang ada pada tahun 1980an adalah Motif Beras Utah, Kembang Tebu, Kembang Bayem, dan Sekardangan.

Motif yang populer pada tahun 1980an adalah motif Beras Utah dan Kembang Tebu, motif ini merupakan visualisasi hasil bumi yang paling banyak di Sidoarjo, motif beras utah disajikan dengan serasi antara objek flora yang telah distilasi dengan isen-isen beras utah, tidak ada yang saling mendominasi. Ciri khas batik Jetis ditunjukkan dengan warna yang berani atau mencolok. Motif beras utah mempunyai banyak warna, lebih dari tiga warna yang digunakan. Biasanya pembatik menggunakan teknik colet (kuas) untuk membuat warna batik yang lebih bervariasi.  Motif beras utah adalah salah satu motif asli Sidoarjo, hal ini menunjukkan bahwa Sidoarjo adalah penghasil beras, dibuktikan dengan situs Candi Pari, dan tempat penggilingan padi dulu erada di jalan Gajah Mada (gedung Ramayana).

Motif-motif batik Jetis Sidoarjo pada tahun 1990an mulai berkembang, pengrajin dalam penciptaan batik motif batik lebih ditujukan kepada keindahan bentuk baku yang diarahkan pada pemenuhan selera pemakai (konsumen) yang berorientasi pada peningkatan produksi batik, sehingga motif batik lebih beragam. Motif-motif yang ada pada tahun 1990an adalah Motif Burung Cipret, Gedog, Tumpal, Kangkung, Mahkota, Sekarjagad, Sandang Pangan, Burung Nuri, Fajar Menyingsing, Merak, Merico Bolong, dan Rawan.  Motif yang paling populer pada tahun 1990an adalah motif Sekar Jagad (bunga dunia) yang mempunyai warna yang indah dan makna filosafis yang dalam. Motif Sekar Jagad mengandung makna kecantikan dan keindahan sehingga orang lain yang melihat akan terpesona. Motif “Sekar Jagad” [pola geometris berbentuk ceplok (hiasan bulat) berulang yang semuanya saling merapat] yang banyak berornamen bunga/tanaman, mencerminkan keragaman isi dunia (flora dan atau fauna) sebagai wujud ciptaan-Nya. Terdapat unsur pesan keragaman, keindahan, kedamaian, Jadi manusia mesti pandai bersyukur. Pola ceplok berulang-merapat yang isennya tak ada unsur bunga/tanaman (“Kar Jagad”), atau hanya berisen geometrik simbolik, mencerminkan keragaman pandangan di dunia. Jadi manusia mesti siap dan pandai menempatkan diri dalam berbagai pandangan/ perbedaan. Pola sekar jagad ini mengandung serangkaian ajaran yang diharapkan dapat membawa keselarasan dan keserasian di seluruh alam semesta.

Tahun 2000 hingga 2010 batik Jetis Sidoarjo memunculkan motif yang sudah sekian tahun menghilang dan kemudian menjadi trend lagi di pasaran. Tahun 2000an modifikasi-modifikasi motif-motif klasik bermunculan untuk dikenalkan lagi, tapi tidak semua perngrajin batik di Jetis memunculkan kembali motif-motif klasik yang dimodifikasi seperti motif sekarjagad yang dimodifikasi dengan latar belakang motif rawan engkok, dsb.   Ke-kreatifitasan pengrajin batik Jetis pada tahun 2000an diuji dengan banyaknya permintaan pasar yang menginginkan munculnya motif-motif baru. Namun pengrajin batik tidak mampu untuk memenuhinya, sehingga pengrajin hanya memodifikasi motif klasik hingga tampak seperti baru. Pangsa pasar batik sidoarjo pada tahun 2000an, banyak para pedagang dari Madura dan daerah sekitar Sidoarjo.  Batik Sidoarjo menjadi lebih dikenal karena pada tahun 2008 kampung Jetis diresmikan menjadi “kampoeng batik Jetis Sidoarjo”.

Pada tahun 2000an ini pengrajin batik jetis dituntut konsumen dengan karya-karya batik yang beraneka motif dan warna. Di tahun 2000an motifmotif yang bertemakan fauna seperti burung dan serangga menjadi popular. Beberapa motif-motif batik di  tahun 2000an hingga 2010 adalah Motif Kupu-kupu, Capung, Bola, Kipas, Bunga Rumput Laut, Manggis, Teratai, Bunga Tusuk Sate, Udang Bandeng, dan Burung Pelatuk.  Kini  motif batik Jetis mulai beragam, tidak hanya tentang flora dan fauna atau motif geometris, sudah mulai bermunculan motif yang benda-benda yang digunakan dalam keseharian sebagai sumber inspirasinya, seperti motif kipas. Motif kipas ini melambangkan keanggunan dan menjadi pilihan pada awal 2000an selain motif flora dan fauna, motif ini banyak disukai oleh konsumen yang berasal dari madura dan daerah-daerah pesisir lainnya.

Motif Batik Asli Batik Jetis Sidoarjo

Kini motif Asli batik jetis seperti motif beras utah, sekardangan, dan kembang tebu yang masih menggunakan warna gelap mulai tergeser. Namun tidak hilang begitu saja, hanya jika ada konsumen yang memesan motif tersebut maka pengrajin baru akan membuatnya. Sebagian pengrajin saja yang masih melestarikan motif-motif asli batik Jetis Sidoarjo.

Awal kemunculan batik Jetis Sidoarjo yang paling dikenal adalah batik motif sekardangan dan warnanya hanya berwarna coklat, biru tua, dan jingga tua. Awalnya tidak ada motif sekardangan menggunakan warna cerah tapi karena permintaan pasar/konsumen sehingga para pengrajin membuat warna yang cerah dan menyolok seperti merah, kuning, biru muda, merah muda, dan jingga.  Dengan memodifikasi beberapa motif dan warna batik maka akan lebih banyak mendatangkan konsumen. Untuk memenuhi permintaan pasar/konsumen para pengrajin batik Jetis Sidoarjo memilih untuk memodifikasi motif klasik dicampur dengan motif yang baru misalkan motif beras utah dihiasi dengan motif kipas.  Masih ada pengrajin batik yang melestarikan dan memperkenalkan motif asli Sidoarjo, dan banyak pihak yang menginginkan motif asli Jetis Sidoarjo dipertahankan, karena motif-motif itulah yang menjadi identitas dan sejarah dari kabupaten Sidoarjo tertuang.

SUMBER:

Sulistyowati Eka Wulandari, Imam As’ary , Yudi Prasetyo
Perkembangan motif batik jetis sidoarjo  dalam tinjauan sejarah
STKIP-PGRI Sidoarjo

Desty Qamariah1
PERKEMBANGAN MOTIF BATIK TULIS JETIS SIDOARJO
FIS UM; 2011

Sidoarjo di Masa Pancaroba Sejarah

Pancaroba masa peralihan abad ke-19 ke abad ke-20 ialah ucapan yang lumrah diketengahkan dalam sejarah Sidoarjo, bahwa suatu jiwa zaman (zeitgeist) membentuk kepribadian seseorang dan kelompok masyarakat yang hidup di masa itu. Abad ke-20 bercirikan nasionalisme serta produk perkembangan-nya, yaitu negara nasion. Maka berbicara tentang Kabupaten Sidoarjo tidak lepas dari nasionalisme, dan sebaliknya perkembangan nasionalisme tidak dapat lepas dari peran kepemimpinan yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo.

Beberapa dasawarsa menjelang tahun 1900, Sidoarjo mengalami perubahan ekonomi, sosial dan politik sebagai dampak modernisasi seperti pembangunan komunikasi. Antara lain kereta api, jalan raya, telepon, telegraf, industri pertanian dan pertambangan, edukasi dari sekolah rendah sampai pelbagai pengajaran profesi dalam kedokteran, teknologi pertanian dan lain sebagainya.

Tidak mengherankan apabila timbul peningkatan mobilitas, pendidikan profesi, ekonomi pasar serta ekonomi keuangan dan lain-lain. Kebingungan rakyat dalam menyikapi perubahan itu, menciptakan pada rakyat sejak kira-kira pertengahan abad

ke-19 pandangan dunia, seperti gambaran kuno ialah datangnya Kaliyuga atau datangnya kiamat (apocalyps).

Kedatangan akhiring zaman ditandai antara lain oleh “Pulau Jawa sudah berkalung besi” atau adanya rel kereta api, anak yang sudah tahu nilai uang akibat adanya monetisasi, anak tidak lagi mematuhi kata orangtua, dan sebagainya. Adanya kebingungan berubahnya nilai-nilai, karangan pujangga terakhir Ranggawarsita maka dalam serat Kalatida menyatakan “Jamane jaman edan sing ora edan ora keduman… Begja begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada.”

Di sini zaman penuh perubahan nilai-nilai menimbulkan kebingungan, karena orang kehilangan pegangan sehingga kelakuannya serba aneh (seperti orang gila). Orang tidak jujur (korup) menjadi kaya dan yang jujur tidak menjadi kaya akan tetapi yang paling bahagia adalah orang yang tetap ingat (jujur) serta waspada. Begitulah perubahan. Selalu menyisakan kegamangan, namun sekaligus menawarkan harapan akan lahirnya sesuatu yang baru. Nasionalisme, saat itu menjadi kata yang tiba-tiba menyedot perhatian publik. Sama dengan kata globalisasi di awal abad 21 saat ini.

Menurut H Kohn, nasionalisme adalah suatu state of mind and an act of consciousness. Jadi sejarah pergerakan nasional harus dianggap sebagai suatu history of idea. Dari pernyataan ini secara sosiologis, ide, fikiran, motif, kesadaran harus selalu dihubungkan dengan lingkungan yang konkrit dari situasi sosio-historis.

Pengertian lain dari nasionalisme dapat disebut sebagai social soul atau “mental masyarakat”, sejumlah perasaan dan ide-ide yang kabur”, dan sebagai a sense of belonging.

Dan beberapa lagi, pengertian nasionalisme yang lain, yaitu merupakan produk atau antitese dari kolonialisme. Dari berbagai pengertian di atas tidak terdapat perbedaan yang mendasar, justru menunjukkan persamaan, yaitu semuanya lebih bersifat sosio-psikologis. Ini berarti nasionalisme sebagai suatu bentuk respon yang bersifat sosiopsikologis tidak lahir dengan sendirinya. Akan tetapi lahir dari suatu respon secara psikologis, politis, dan ideologis terhadap peristiwa yang mendahului-nya, yaitu imperialisme atau kolonialisme.

Jika demikian halnya, maka awal terbentuknya nasionalisme lebih bersifat subjektif, karena lebih merupakan reaksi group consciousness, dan berbagai fakta mental lainnya. Dari sekian jumlah penggunaan istilah di atas, semuanya merupakan komponen-komponen keadaan jiwa dan pikiran yang tidak dijelaskan secara rinci perbedaannya. Dengan demikian, akan mengalami kesulitan dalam menggunakannya sebagai terminologi maupun konsep analitis untuk mencari struktur dan sifat-sifat nasionalisme itu sendiri.

Secara analitis, nasionalisme mempunyai tiga aspek yang dapat dibedakan, pertama aspek cognitif, yaitu menunjukkan adanya pengetahuan atau pengertian akan suatu situasi atau fenomena. Dalam hal ini adalah pengetahuan akan situasi kolonial pada segala porsinya aspek goal/value orientation, yaitu menunjukkan keadaan yang dianggap berharga oleh pelakunya. Nah, yang dianggap sebagai tujuan atau hal yang berharga adalah, memperoleh hidup yang bebas dari kolonialisme; aspek affective dari tindakan kelompok menunjukkan situasi dengan pengaruhnya yang menyenangkan atau menyusahkan bagi pelakunya. Misalnya berbagai macam diskriminasi pada masyarakat kolonial melahirkan aspek affective tersebut.

Apa yang terjadi di Sidoarjo saat itu? Tak lain kesadaran pribumi untuk merdeka, tidak berada di bawah tempurung kolonial, yang semakin menggelora. Para pelajar Sidoarjo mulai merumuskan impian baru tentang ruang hidup mereka. Para pedagang pribumi yang perannya semakin  termarginalisasikan, mulai merasakan kesumpekan.

Berdirinya Boedi Oetomo, 1908, Sarekat Islam, NU, Muhammadiyah, Indische Partij, ISDV, PKI dan masih banyak lagi organisasi lain menjadi gairah baru bagi warga Sidoarjo untuk memilihnya sebagai payung rasa nasionalisme yang mereka miliki .

Bahkan di negeri Belanda pun para pelajar Indonesia membentuk Perhimpoenan Indonesia. Belanda menanggapi secara positif, dengan mengeluarkan Bestuurshervormingswet pada 1922, yang membuka peluang bagi pembentukan  badan-badan pemerintahan baru dengan mengikut sertakan lebih banyak lagi keterlibatan bumiputera.

Memang, dari segi historis politik kolonial itu menghasilkan hominies novi atau manusia baru. Yaitu priyayi intelegensia yang akan berperan sebagai modernisator atau aktor intelektualis dalam profesionalisme teknologi bidang industri, pertanian, kedokteran, biroktasi, pendidikan, dan sebagainya. Dalam menyebut pendidikan sebagai unsur politik kolonial, perlu diketengahkan Politik Etis pada awal abad ke-20 dengan trilogi pendidikan wanita, biaya pendidikan, dan pendidikan pada umumnya. Ini langkah pelaksanaan pidato Ratu Wilhelmina pada tahun 1901 serta merupakan perwujudan ekspresi dari edukasi, irigasi, dan emigrasi. Pada akhir dekade pertama, saat itu dijumpai kultur baru di Sidoarjo, berupa life style tersendiri di tengah masyarakat.

Ini sebagai imbas eksisnya kaum priyayi inteligensia serta pimpinan bangsawan atau kaum aristokrasi yang saat diwakili oleh organisasi Boedi Oetomo. Maka, selaras dengan kondisi itu sifat organisasi, gerakannya tidak mungkin radikal. Sementara, kaum pedagang menengah dan penduduk kota sebagai anggota Muhammadiyah juga lebih bersifat moderat, sedang SI yang mencakup lapisan menengah sampai bawah terdiri atas aneka ragam golongan antara lain golongan petani, golongan pertukangan industrialis rumah tangga, serta pedagang kecil.

Ada pula penganut ideologi merupakan campuran antara gerakan tradisional dan setengah modern kota. Meskipun masih bercorak etnonasionalistis, namun saat itu ditengarai sudah ada komunikasi antara golongan bawah menengah dan atas. Komunikasi semacam ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di Sidoarjo. Kongres Jong Java pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta, adalah contohnya. Bagaimana semangat dan sikap kaum maju dalam akhir dekade pertama Indonesia saat itu, dapat diamati selama kongres tersebut. Sangat menonjol jenis nasionalisme pertemuan itu ialah etnosentrisme.

Berbagai golongan yang ada di Sidoarjo, antara lain golongan bangsawan, golongan aristokrasi, dokter, guru, siswa dari berbagai sekolah seakan menjadi satu dalam semangat yang sama. Ini semua memberikan makna, bahwa tidak lagi dipatuhi aturan feodal dan ada komunikasi lebih bebas. Di sini, kita melihat tanda-tanda permulaan dari demokrasi. Dari substansi pembicaraan terbukti perhatian mereka luas, mencakup kesejahteraan kehidupan rakyat dan bagaimana mereka menyikapi kebudayaan Barat. Dalam skala nasional,

peristiwa yang menarik adalah pidato Soetomo; dialog antara dokter Tjipto Mangunkoesoemo dan dokter Radjiman Wedyodiningrat. Dokter Soetomo mengutarakan keadaan negerinya yang serba terbelakang di berbagai bidang, antara lain bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, peternakan, perumahan, dan sebagainya.

Pidato itu mencakup berbagai segi kehidupan rakyat yang sangat komprehensif, tetapi tidak disinggung masalah politik, diskriminasi sosial dan serba tertinggal dalam tingkat pendidikan. Sesuai dengan tingkat kepri-yayiannya, dokter Soetomo tidak melancarkan kritik terhadap pihak kolonial, masih jauh dari retorik serta diskusi yang diungkapkan Bung Karno. Sementara Dokter Tjipto Mangunkoesoemo lebih progresif. Bahwa kemajuan dapat dicapai dengan menerima dan menyikapi positif proses westernisasi terutama dalam segi teknologinya.

Sebagai visi alternatif, Dokter Radjiman Wedyodiningrat mengutarakan bahwa mungkin lebih baik tetap bersifat konservatif dalam menghadapi westernisasi. Bangsa Indonesia telah memiliki kultur atau peradaban sendiri, lebih-lebih dengan perbendaharaan yang cukup kaya raya, khususnya dalam hal ini pembicara merujuk kepada kesenian dan Kesusastraan Jawa. Radjiman lebih condong mempertahankan

kebudayaannya sendiri serta berhati-hati dalam menerima kebudayaan Barat. Sedang dokter Tjipto Mangoenkoesoemo lebih cenderung menerima westernisasi terutama yang dimaksud bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.

Rupanya, pada zaman itu kolonialisme semakin kuat sistem dominasinya sehubungan dengan ancaman Perang Dunia II serta ancaman ekspansi Jepang. Pidato-pidato Soekarno semakin lebih tegas menyerang kolonialisme dan  imperialismenya negara Barat. Nyatanya, nasionalisme Indonesia pada fase-fase perkembangannya merupakan reaksi sesuai dengan zeitgeist. Dalam menghadapi modernisasi lewat westernisasi oleh para kaum maju, jelas disadari bahwa tidak ada jalan lain daripada mengutamakan edukasi menurut sistem Barat. Berlangsunglah sistem pendidikan semacam itu di Jawa, dan juga Sidoarjo. Mobilitas penduduk ini tidak bisa total ketika pemuda akhirnya mengetahui apa motif asli Jepang datang ke tanah air. 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu. Sehingga Kaigun, Tentara Laut Jepang, yang berada di sekitar Delta Brantas pusatnya di ujung Surabaya, dengan sembunyisembunyi menyerahkan senjatanya kepada pemuda-pemuda kita.

Proklamasi dikumandangkan dwitungal Soekarno-Hatta. Yang patut dicacat adalah bulan-bulan berat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu ketika Belanda yang membonceng kedatangan Sekutu kembali menduduki Sidoarjo. Sepenggal kisah yang tercatat, ketika Belanda sampai di kawasan Gedangan, Bupati memindahkan tempat pemerintahan kabupaten ke Porong. Hingga 24 Desember 1946, Belanda benar-benar menyerang kota dari jurusan Tulangan. Dalam hitungan jam, Sidoarjo jatuh ketangan Belanda. Segenap jajaran pemerintahan Kabupaten Sidoarjo terpaksa mengungsi ke sekitar Jombang.

Sejak saat itu, Sidoarjo dibawah pemerintahan Recomba. hingga tahun 1949. Di akhir tahun 1948, bukan saja karena Republik yang masih usia balita itu harus menghadapi musuh di depan (Belanda) tetapi juga ditusuk dari belakang oleh anakbangsa sendiri, yaitu kelompok komunis (PKI) pimpinan Muso yang mendalangi peristiwa (kudeta) Madiun pada pertengahan September 1948. Klimaksnya ialah terjadinya serangan (agresi) militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948. Akibatnya nyaris fatal. Ibu kota Republik, Yogyakarta, diduduki Belanda, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta sejumlah menteri yang berada di ibu kota ditangkap.

Sejak itu, Belanda menganggap Republik sudah tamat riwayat-nya.Akan tetapi, kemenangan militernya itu hanya bersifat sementara. Walaupun ibu kota Yogya jatuh ke tangan Belanda, serta berhasil menawan Soekarno-Hatta dengan sejumlah menteri, nyatanya Republik tidak pernah bubar. Suatu titik balik yang tak terduga oleh Belanda datang secara hampir serentak dari dua jurusan. Pertama, dari Yogya dan kedua dari Bukittinggi di Sumatera. Beberapa jam sebelum kejatuhan Yogya, sebuah sidang darurat kabinet berhasil mengambil keputusan historis yang amat penting: Presiden dan Wakil Presiden membe-rikan mandat Mr Sjafruddin Prawira-negara untuk membentuk Pemerintah-an Darurat RI di Sumatera.

Jika ikhtiar ini gagal, mandat diserahkan kepada Dr. Soedarsono, Mr Maramis dan Palar untuk membentuk exilegovernment di New Delhi, India. Surat mandat tersebut kabarnya tidak sempat “dikawatkan” karena hubungan telekomunikasi keburu jatuh ke tangan Belanda. Namun, naskah-nya dalam bentuk ketikan sempat beredar di kalangan orang Republieken.  Kedua, sewaktu mengetahui via radio bahwa Yogya diserang, Mr Sjafruddin Prawiranegara waktu itu Menteri Kemakmuran yang sedang bertugas di Sumatera, segera mengumumkan berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.

Tindakannya itu mulanya bukan berdasarkan pada mandat yang dikirimkan Yogya, melainkan atas inisiatif spontan, Sjafruddin dengan pemimpin setempat, PDRI pada gilirannya dapat berperan sebagai pemerintah alternatif bagi Republik yang tengah menghadapi koma. Sidoarjo pun menghadapi kondisi serupa. Namun, sebagaimana mereka yang jauh dari sentrum kekuasaan, di sini cuma bisa menunggu perkembangan. Perang tentu saja terjadi, yang mengubur darah segar para pribumi yang tibatiba jadi pejuang perbaik untuk bangsanya.

Pasca penyerahan kembali kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia, R. Soeriadi Kertosoeprojo menjabat sebagai Bupati. Entah mengapa, pada periode ini muncul ‘pemberontakan daerah’ yang dilakukan oleh bekas kepala desa Tromposari, Kecamatan Jabon, Imam Sidjono alias Malik.

Dia memobilisasi dukungan dengan mengajak lurah-lurah untuk menggulingkan bupati. Dengan senjata bekas kepunyaan KNIL, gerombolan ini berhasil menguasai Gempol, Bangil, hingga Pandaan. Mereka juga gigih mengadakan infiltrasi ke seluruh sudut kabupaten. Sekitar pertengahan Mei 1951, perlawanan Malik sedikit demi sedikit berhasil diredam setelah ia tertangkap di Bangil. Operasi kontinyu dari aparat, akhirnya berhasil menangkap para pengikut Malik hingga keamanan berangsur kondusif lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.

Etnis Madura, Mataraman Dan Tionghoa Di Sidoarjo

Sejak pertengahan abad ke 19 terdapat tidak kurang dari 833.000 orang Madura yang bertempat tinggal di Jawa Timur dan bagian terbesar penduduk yang tinggal di pantai utara Jawa Timur berasal dari Madura (Hageman Czn, 1858: 324-325). Karena pengembangan usaha perkebunan swasta di daerah pedalaman Jawa Timur pada pertengahan abad ke-19 butuh tenaga besar, maka migrasi penduduk dari Madura ke Jawa Timur meningkat pesat, dari Sumenep saja setiap tahun rata-rata 10.000 penduduk yang bermigrasi (Koloniaal Verslag 1892′ Bijlage C, No, 22:3). Para migran dari Sumenep dan Pamekesan, umumnya bermigrasi ke daerah Sidoarjo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi seperti yang tertulis dalam dokumen Belanda Werkschema Reboisatic Madoera, 1938: 9-10. 

Secara paradoks, Kabupaten Sumenep yang ditinggalkan oleh warga Madura justru didiami oleh orang-orang yang asal-usulnya dari negeri asing. Menurut Catalan Raffles dalam The Hilary of Java (1817, I: 63; II: 284-286). disebutkan bahwa orang-orang asing yang tinggal di Sumenep adalah Cina Singkek, Peranakan Cina, Melayu, dan Arab. Kehadiran orang Cina di Sumenep tidak menimbulkan masalah apapun, karena peraturan pemerintah kolonial tidak memberi peluang kepada etnis itu untuk memiliki tanah. Karena alasan peraturan itulah, maka orang-orang Cina di Sumenep umumnya menjadi rentenir, penyewa hak atas tanah, hak pajak tanah, pasar, dan pelabuhan. Sementara orang-orang Arab justru sangat dihormati karena latar belakang agama di mana sebagian di antara mereka diyakini sebagai keturunan nabi Muhammad SAW. Tidak jauh berbeda dengan keadaan di Sumenep, di Kabupaten Sidoarjo Juga terdapat orang-orang yang asal usulnya dari negeri asing. Namun demikian, karena alasan kesamaaan agama maka orang-orang Arab di Sidoarjo sangat dihormati. Sebaliknya hubungan warga Madura Sidoarjo dengan warga keturunan Cina, umumnya Iebih bersifat ekonomi di mana orang-orang Cina umumnya berstatus sebagai juragan sedang orang-orang Madura berstatus sebagai buruh atau kuli.

Hubungan tradisional antara warga Madura di Sumenep dan Pamekasan dengan warga Madura di Sidoarjo rupanya tetap terjalin sampai Memasuki akhir abad ke-20 ini. Para kiai besar di Sidoarjo, pada umumnya menjadi panutan bagi warga Madura di Sumenep dan Pamekasan. Dan peranan kiai sebagai figur sentral bagi warga Madura, sangat berperanan penting dalam setiap perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Madura baik yang di Sumenep, Pamekasan maupun Sidoarjo dan sekitarnya. Sementara itu, kelompok masyarakat di Sidoarjo yang tidak boleh diabaikan keberadaannya adalah para penduduk pendatang yang berasal dari kultur mataraman seperti Nganjuk, Madiun, Solo, dan lainnya yang diperkirakan sudah tinggal di kawasan ini sejak awal abad ke-17. Sekalipun Jumlah mereka itu relatif kecil dibanding penduduk Madura yang datang pada abad ke-19, namun mereka merupakan kelompok yang juga mencoba untuk dikenalnya pertunjukan wayang kulit di Sidoarjo.

Sampai sekarang, kelompok ini masih menunnjukkan identitasnya secara tegas. Sebagai etnis mataraman yang terpengaruh dalam budaya kraton, komunitas ini dikenal karena intelektualnya yang tinggi. Dan kelompok ini, memberikan citra tersendiri bagi kehidupan masyarakat di Sidoarjo. Komunitas lain yang tidak kalah unik di Sidoarjo adalah etnis Tionghoa. Kedatangan rtnis yang tergolong minoritas ini ke Sidoarjo tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan bangsa Tiongkok ke nusantara secara bergelombang. Menurut Prasasti Tain Fei Ling Ying Zhi Ji yang ada di Changle, Provinsi Fujian (Hokkian), ada seorang panglima bernama Cheng Ho berlayar sampai tujuh kali ke nusantara mulai tahun 1405-1431 Masehi. Dalam tujuh kali pelayaran tersebut, armada Cheng Ho berkunjung ke Sumatra dan Jawa, serta daerah lainnya.

Cheng Ho adalah seorang utusan Kaisar Zhu dari dinasti Ming Tiongkok, yang dalam pelayarannya dibantu oleh Wang Jinghong (Ong King Hong). Dalam pelayarannya ke Jawa, Cheng Ho sudah mendapati kantong-kantong komunitas etnis Tionghoa dan giat mengajarkan agama Islam. Persinggahannya ke Jawa membekas hingga saat ini yaitu masih berdirinya Kelenteng sam Po Kong di Semarang – sebagai penghormatan Wang Jing Hong (Kyai Jurumudi Dampo Awang) kepada Cheng Ho. Pelayaran pertama Cheng Ho (1405-1407) sangat fenomenal karena dia berkunjung ke Jawa Timur dan mendapati perang saudara di kerajaan Majapahit, yaitu antara Wirabumi dengan Wikramawardhana. Dalam kekacauan perang itu, 170 awak kapal Cheng Ho terbunuh oleh pasukan Wikramawardhana. Namun karena takut balasan Dinasti Ming, maka Wikramawardhana mengirim utusan ke Tiongkok untuk meminta ampun. Kaisar Zhu memaafkan dengan syarat Wikramawardhana mengganti kerugian dengan emas 60.000 tail. Menurut Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) volume 324, ganti rugi itu dibayar dengan cara mencicil setiap tahun sekali sampai akhirnya lunas.

Dalam karya Ma Huan, Ying Ya Shen Yang, terdapat bab tersendiri yang berjudul Kerajaan Jawa. Di dalam bab itu Ha Muang menulis bahwa bila ada kapal dari luar negeri, mereka akan berlabuh di empat pelabuhan yaitu Tuban, Gresik, Surabaya dan Majapahit (Sidoarjo dibawah kekuasaan Majapahit dan berbatasan dengan Surabaya).

Ma Huan menulis, bahwa Surabaya berbatasan dengan Mojokerto, pemandangannya indah dan udaranya panas sepanjang tahun. Dari kejauhan tampak gunung (Penanggungan) yang lerengnya penuh pohon Yanfu dan Nanmu. Adat istiadat masyarakat sekitar sungai (sekitar Sidoarjo) sederhana. Baik pria dan wanitanya berkonde dan memakai baju panjang dan pinggangnya dililit dengan kain berlipat. Orang yang tua diangkat sebagai kepala daerah.

Penduduk membuat garam dari air laut dan membuat arak dari sorghum. Di daerah ini terdapat kambing, burung beo, kapuk, kelapa, kain kapas, perak, dan sebagainya. Kedatangan etnis Tionghoa ke Surabaya dan Sidoarjo lambat laun semakin deras seiring dengan semakin menggeliatnya roda ekonomi kawasan ini. Di beberapa dokumen lain menyebutkan di Sidoarjo saat era kolonial Belanda, sudah tercatat berdirinya toko-toko, sekolahan dan tempat ibadat milik etnis Tionghoa. Yang paling kentara adalah eksistensi dari tempat ibadat Tri Dharma Tjong Hok Kiong di Sidoklumpuk, Sidoarjo yang sudah berdiri sejak tahun 1869.

Tempat ibadat ini adalah tempat dimana etnis Tionghoa yang beragama Budha, Kong Hu Cu dan Tao berkumpul.  Sementara etnis yang beragama Islam, membaur dengan warga etnis pribumi  yang kebanyakan beragama Islam untuk beribadah di Masjid Jamik. Salah satu ritual yang cukup terkenal di Tjong Hok Kiong adalah peringatan hari ulang tahun Thian Siang Seng Bo (Dewa Mahco). Ulang tahun Dewa yang jadi simbol kasih sayang sesama umat manusia ini diperingati setiap tanggal 1 dan 15 Imlek dengan cara mendatangi Tjong Hok Kiong untuk bersembahyang, memohon keselamatan dan perlindungan. Dua etnis pendatang, etnis Madura dan Tionghoa ke Sidoarjo ini memiliki tipologi yang hampir sama; yaitu sama-sama ulet untuk berdagang. Etnis Madura kebanyakan bergerak di sektor informal seperti di pasar-pasar tradisional sementara etnis Tionghoa kebanyakan menguasai perdagangan di sektor formal seperti di banyak pertokoan yang tersebar di Sidoarjo.***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: JEJAK SIDOARJO dari Jenggala ke Suriname, 
Ikatan Alumni Pamong Praja Sidoarjo, Maret 2006, hlm.

Jejak Kadipaten Terung di Krian – Sidoarjo, Jawa Timur

Batu Manggis Majapahit, Pembuka Misteri Lenyapnya Peradaban. 

Keberadaan Makam keluarga kerajaan, penemuan Sumur Windu dan Batu Manggis, seakan mempertegas bahwa di lokasi ini dulunya pernah berdiri pusat pemerintahan sebagai bagian dari kekuasaan Majapahit. Konon Kadipaten ini memiliki nilai strategis hingga adik Sultan Demak sendiri yang harus memimpinnya atas areal seluas 5X6 meter, Sahuri (60) terlihat me- ngerahkan seluruh tenaganya men- cangkul dan mengangkat tanah dari galian.

Dasar lubang itu memanjang dengan kedalaman sekitar 2 meter berisi sedikit air usai hujan semalam.”Sayang tadi malam habis hujan. Kemarin, ketika kering, sampeyan bisa lihat alur batu bata yang memben- tuk dasar tembok memanjang. Dari ujung galian hingga diu- jung lain panjangnya sekitar 5 meter. Dan saya yakin, alur pondasi candi atau apapun bentuknya nanti, masih men- jorok ke dalam tanah,” jnlas lelaki pemilik lahan ini pada LIBERTY.

Dari penggalian awal itu memang terlihat, alur-alur galian yang bentuknya tidak beraturan. Meski begitu, peng­galian ini memiliki rnisi besar untuk mengungkap keber­adaan jejak kuno Kadipaten Terung. Sebuah nama kadipa­ten yang sering disebut-sebut pada Babad Tanah Jawa ataupun kitab Negaraker- tagama. Menurut sejarah, kadi- paten ini berdiri pada zaman Majapahit mendekati masa senjanya. Diduga Kadipaten Terung berada di Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian, Sido- arjo.

Uniknya, ide penggalian dan pencarian situs bersejarah ini justru muncul dari pelukis kondang Jawa Timur, Jansen Jassien. Ketua Kelompok Pe- kerja Seni Pecinta Sejarah (KPSPS) ini memang sebelum- nya sangat aktif melestarikan berbagai cagar budaya di Jjwa Timur dan khusus Surabaya. “Semua ini berasal dari hati nurani dan niat tulus kami untuk melestarikan akar budaya masyarakat khususnya berkaitan dengan Majapahit. Soal dana kita tanggung bersama karena memang belum ada penelitian serius dari pihak purbakala,” ungkap Jansen Jassien.

Adik Sultan Demak

Dalam Buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu -Jawa dan Timbulnya Negara-negara Is­lam di Nusantara” Prof Dr Slamet Muljana menuliskan, bahwa Raden Hussen atau masyarakat menyebutnya Kusen, penguasa Kadipaten Terung di Krian ini masih memiliki pertalian darah de­ngan Sultan Demak, Raden Patah. Keduanya adalah anak dari Putri China yang pernah menjadi istri Brawijaya. Hanya saja ketika tengah mengan- dung Raden Patah atau Jin Bun, istri ketiganya itu diha- diahkan kepadaArya Damar, Adipati Palembang. Setelah kelahiran Raden Patah, Arya Damar menikahi putri terse- but. Dan dari perkawinan itu lahirlah Kin San atau Raden Husen yang kemudian me- mimpin Kadipaten Terung.

Konon penempatan adik tiri Raden Patah di Krian ini sebagai strategi untuk memata-matai Majapahit. Karena ambisi besar Raden Patah memang ingin meluaskan kera­jaan Islam hingga ke seluruh Jawa termasuk Majapahit yang dipimpin oleh ayahhandanya sendiri. Dan benar saja, stra­tegi ini sangat jitu, karena saat penyerangan ke Majapahit, laskar Demak tidak mengalami kendala karena dukungan in- formasi intelejen dan perbe- kalan cukup memadai yang telah disediakan oleh Kadipa­ten Terung.

Upaya penggalian yang digagas Jansen Jassien ini bukan tanpa hambatan. Sejak dimulai pada awal Januari 2012 lalu ada saja pihak-pihak yang menaruh curiga. Namun Jassien dan Sahuri sebagai pemilik lahan dan dibantu para relawan, tetap melanjutkan penggalian.”Memang banyak yang mencurigai kami mencari benda-benda pusaka atau berharga, tapi sejak awal saya dan teman sudahberniat hanya mencari keberadaan Kadipaten terung yang banyak ditulis ditulis dipelbagai buku sejarah. Kalau ada orang yang bilang disini banyak pusaka atau benda berharga, silahkan menggali dan kami akan meli- hatnya, apa benar yang mereka omongkan itu,” tegas lelaki gondrong yang lukisannya banyak dikoleksi para pejabat negeri ini.

Sumur Windu & Batu Manggis

Menurut Sahuri, penggalian situs Terung ini berawal dari wisik gaib. Ketika itu ia hendak mencari batu bata yang banyak berserak dipekarangan bela- kang rumahnya. Namun saat hendak mengambil bongkahan batu bata, lelaki yang telah memutih rambutnya ini tak mampu mengambil. “Waktu itu saya sudah curiga, kok batu bata ini tidak bisa diambil. Dan sayapun pasrah, dalam hati saya berkata kalau tidak boleh diambil maka tidak akan saya ambil. Malamnya saya bermim- pi didatangi oleh orang tua yang meminta dibuatkan se- buah sumur. Besoknya setelah saya membakar dupa dan hio, batu bata itu jadi mudah untuk dibongkar.Tapi anehnya sekelompok batu bata ini ternyata sebuah bibir sumur,” kata Sahuri.

Penggalian sumur yang belakang diberi nama Sumur Windu menjadi titik awal penggalian situs bersejarah tersebut. Sumur Windu ini memiliki nilai strategis dan magis bagi kelanjutan pene- muan situs Kadipaten Terung. “Strategis karena penemuan sumur memberikan arah bagi pengungkapan penemuan ba- nguan atau candi yang mung- kin berserak disekitar lokasi. Magis karena dari dalam sumur ini warga menemukan sebuah batu yang sangat mungkin berasal dari masa lalu,” terang Jassin. Oleh Sahuri, batu yang berasal dari dalam sumur di- namai batu manggis. Hal ini mengacu pada bentunya yang sepintas memang mirip buah manggis. Batu andesit yang berbentuk bundar sempurna itu memang mirip buah mang­gis. Adapun beratnya mencapai

40 kilogram dengan ukuran kelopak manggis di leher atas batu. Sementara pada pangkal- nya terdapat lubang seperti tempat menambatkan tali atau benda lain. “Banyak yang melihat, kelopak manggis pada batu itu mirip Pataka Surya majapahit dengan ukiran dela- pan simping,” rinci ayah dua , anak ini.

Mitos Kesucian

Penggalian situs Terung ini sebenarnya adalah lanjutan dari situs sejarah yang telah ada sebelumnya.Tak jauh dari lokasi ditemukaanya tum- bukan bata merah yang mirip pondasi bangun bersejarah terdapat Makam Raden Ayu Putri Terung. Menurut legen- da masyarakat, Raden Ayu adalah anak kesayangan Raden Hussen. Entah bagaimana kisahnya, secara mendadak Keluarga kerajaan mendapati anak kesayangannya itu tengah berbadan dua. Padahal Raden Ayu Putri mengaku tidak per- nah berhubungan badan de­ngan lelaki manapun.”Legenda tutur masyarakat menyebutkan, Raden Ayu bisa hamil karena secara tidak sengaja melanggar pantangan keraton. Ketika itu ia memangku pusakanya. Akibatnya Raden Ayu yang gadis hamil,” jelas jassin mengisahkan legenda masyarakat.

Tak urung aib ini membuat Adipati murka hingga memutuskan untuk menghukum mati putri kesayanganya itu. Tapi kisah lain menyebutkan, Putri memilih mengakhiri hidupnya sebagai bukti kesuciannya. Dan sebelum mengakhiri hidupnya, ia sempat bersumpah, jika dia memang bersalah maka darahnya akan mengikuti aliran sungai. Namun jika, ia tak bersalah, darahnya akan melawan arus sungai. Tentu saja ini adalah hal yang tak masuk akal. Tapi sumpah itu terbukti. Bahwa Raden Ayu yang masih suci memang dibuktikan dengan darahnya yang mengalir melawan arah arus sungai yang deras,” kata Sahuri dengan logat Jawanya yang kental.

Tak hanya darahnya, lanjut Sahuri, konon, jasad Raden Ayu Putri ini tidak di makam- kan di atas tanah melainkan di atas perahu. Kejadian aneh terjadi setelah karena hewan terung (semacam tiram besar) datang dan mengganjal perahu tersebut. “Waktu saya kecil, cangkang terung itu masih sering ditemu- kan. Ukurannyapun juga ter- bulang besar antara 30×30 cm, mirip bantal. Konon me­nurut cerita terung inilah yang membuat jasad Raden Putri tak hanyut menuju laut. Itulah sebabnya mengapa desa saya ini bernama Desa terung,” papar Sahuri.

Ada kemungkinan wilayah Desa Terung ini pada masa lampau berada dipinggir se­buah sungai yang besar atau kemungkinan juga daerah muara. Hal ini dibuktikan oleh banyak ditemukan fosil-fosil binatang laut.Termasuk ba- nyaknya cangkang remis dan terung yang ukurannya berpuluh-puluh kali lipat dengan terung zaman sekarang. “Meski saya bukan seorang arkeolog, tapi saat penggalian saya menemukan banyak hal- hal yang membuktikan jika Desa Terung ini kemungkinan adalah sebuah

Bandar atau pelabuhan yang besar dan maju. Wilayah pelabuhan atau pangkalan angkatan laut pada zaman Majapahit ini dapat dibuktikan dengan tingginya tembok batu bata yang melin- dunginya,” kata Jassien sambil menggambarkan sketsa kasar tentang wilayah dan bangunan yang dulu pernah ada. Situs Terung terbilang aman dari jarahan orang- orang yang mengerti sejarah karena terpendam di dalam tanah. “Dari kesaksian orang- orang tua, termasuk Mbah Sahuri, dulunya wilayah disekitar makam dan lokasi peng­galian ini memiliki pagar dari batu batu merah.

Namun pada 1974 ada gerakan besar- besaran menjarah dan men- jual batu bata dari zaman Majaphit terbut. Batu batu tersebut meliki ukuran 24, 22, hingga yang terkecil 16 cm dan masih dalam kondisi yang sangat bagus,” kenang Jansen Jassin.

Akibat serbuan ini, pagar tembok yang tersusun dari batu bata aneka ukuran lenyap dari hitungan bulan. “Kalau tidak salah pagar itu memanjang hingga sepanjang 2 km meter dengan ketinggin satu meter. Banyak bagaimana cepat penduduk menghilang- kan sejarah milik mereka sendiri,” ujar Jassin dengan nada marah. Namun lokasi pagar tersebut memang mel- ingkupi areal sumur windu, serta situs yang diduga seba­gai keraton kadipaten Terung. Batu yang tersisa lantas dipakai oleh masyarakat untuk memugar makam Raden Ayu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY , 11- 20 APRIL 2012

Puspa Agro Jalin Kerja Sama Bisnis dengan China

Perkuat Jaringan Bisnis, Jajaki Kerja Sama Perdagangan, Alih Teknologi dan Investasi

Pengembangan jaringan bisnis yang dilakukan manajemen Pasar Induk Modern Puspa Agro tidak hanya dalam skala perdagangan antar pulau dalam negeri. Manajemen pasar induk agrobis terbesar dan ter­lengkap di Indone­sia ini juga mengembangkan jaringan bisnis untuk skala in­ternasional atau ekspor.

Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya naskah kesepahaman (MoU) antara Puspa Agro dan Himalaya In­ternational Trade Co, Ltd, peru­sahaan multinasional asal Tian-jin, China, Kamis (23/2/2012) di Gedung Tani Puspa Agro. Pen­andatanganan MoU masing-masing dilakukan Ketua Badan Pelaksana (Bapel) Puspa Agro, Susono Hadinugroho; Managing Director Himalaya Interna­tional Trade Co. Ltd, Jasper Ho; dan Direktur PT Jatim Grha Uta­ma (JGU) Erlangga Satriagung.

Kerja sama yang disepakati di antaranya meliputi bidang perdagangan agrobis, alih teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan investasi untuk produk olahan agrobis. Himalaya menyatakan minat terhadap beberapa komoditas asal Jatim yang selama ini diperdagangkan di Puspa Agro, khususnya buah dan sayur. Diantaranya, buah pepino, sirsak, manggis, salak, juga sawi.

Dengan kerjasama tersebut, peluang bisnis sektor agro makin terbuka. Dengan demikian, komoditas andalan Puspa Agro nantinya tidak hanya terdistribusi ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga akan menembus pasar ekspor, khususnya ke Tianjin, China.

Menurut Jasper Ho, besarnya penduduk Tianjin yang mencapai sekitar 30 juta jiwa merupakan peluang pasar yang bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis di Jatim, khususnya Puspa Agro. Karena itu, saling tukar informasi untuk menghasilkan produk berkualitas akan dilaku­kan, di antaranya dengan men­girimkan tenaga ahli ke Jatim.

Tahun 2012 ini, manajemen pasar induk modern Puspa Agro memang fokus mengembang­kan jaringan bisnis, baik untuk skala perdagangan antarpulau maupun ekspor. Beberapa up­aya terus dilakukan, di antaran­ya terus mengembangkan jar­ingan bisnis di sejumlah provin­si di Indonesia.

Saat ini jaringan bisnis Puspa Agro telah terhubung dengan Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan (Sulsel), Gorontalo, Ma­nado, Ambon (Maluku), juga So­rong (Papua). Pengembangan jaringan bisnis terus dilakukan, di antaranya ke NTB, Kendari, juga Pontianak, dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Untuk informasi-layanan, hubun­gi kantor Puspa Agro, Jl. Sawung-galing 177-183 Klethek (Jemundo), Taman, Sidoarjo. Telepon (031) 7878700 (hunting).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BHIRAWA, SENIN-27 PEBRUARI 2012

Monumen H.R Mangoendiprojo

Monumen H.R Mangoendiprojo yang terfetak di sebelah utara fly over Buduran dengan taman yang tertata rapi menambah keindahan dan keasrian kota Sidoarjo yang sudah memperoleh piala Adipura dua kali berturut-turl;lt. Siapakah dia sebenarnya, sehingga dibuatkan ‘monumen di Kabupaten Sidoarjo. Berikut tulisan koresponden Gema Delta.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya, ungkapan ini telah ditunjukkan oleh masyarakat Sidoarjo dengan membangun monumen pejuangnya, H.R Mohamad Mangoendiprodjo. Penghargaan atas jasa beliau kiranya belum cukup jika hanya diwujudkan dengan membangun monumennya, namun yang paling mendasar dalam menghormati jasa beliau tiada lain adalah dengan mengaplikasikan cita-cita dalam wujud kehidupan di masa pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur.

Namun demikian, pembangunan manumen itu sendiri mempunyai nilai tambah bagi terciptanya kota Sidoarjo yang bersih, rapi, hijau, sehat, indah dan nyaman bagi lingkungan sekitar maupun bagi kota Sidoarjo itu sendiri. Monumen yang terletak di pintu gerbang sisi utara kota ini seakan mengucapan ‘Selamat Datang’ kepada siapa saja yang . akan memasuki kota yang sudah dua kali berturut-turut memperoleh penghargaan Adipura ini. Sedangkan di sisi barat kota sudah berdiri terlebih dahulu monument Pancasila yang menjulang tinggi dengan dikelilingi oleh taman dan kolam ikan. Dan tidak lama lagi tentunya akan didirikan bangunan yang sama di sisi selatan kota Sidoarjo. Hal ini diharapkan dapat menambah  optimistis masyarakat Sidoarjo untuk meraih Adipura yang ketiga kalinya  melalui gerakan-gerakan sadar bersih lingkungan.

Monumen H.R Mohamad Mangoendiprodjo yang dibangun dengan biaya Rp. 50 juta dari APBD II 1994/1995 ini diresmikan oleh Gubemur Jawa Timur H.M. Basofi Sudirman bertepatan dengan peringatan hari jadi Kabupaten Sidoarjo yang ke-136, ditandai dengan penanda-tanganan prasasti dan pembukaan selubung kain disaksikan para veteran RI dan para pejabat Tk. I Jawa Timur dan Tk. II Sidoarjo serta para undangan lainnya.

Gubernur Basofi Soedirman dalam sambutannya antara lain mengatakan monumen ini sebagai wujud dari rasa kepedulian terhadap jasa pahlawan.  (fik).

 

 

 

Gema Delta, Maret 1995, hlm. 31

Miniatur Kapal

Kasidi Saputro

Layarkan Miniatur Kapal ke Luar Negeri

Berbekal bakat dan modal seadanya. pada 1983 Kasidi Saputro memulai  usahanya membuat kerajinan kulit hingga pembuatan miniatur kapal. Namun siapa sangka usaha yang ia rintis puluhan tahun itu ternyata membuahkan hasil menggembira. Karyanya banyak digemari dan dipesan turis manca negara. 

SEJAK tinggal di Jakarta tahun 1979, Kasidi Saputro memulai bekerja sebagai pelukis kulit dalam bentuk gambar dan kaligrafi di tempat orang lain. Saat itu, ia sering mengikuti pameran di Pasar Seni Ancol.

Dengan sedikit pengalaman yang dimilikinya. pada 1982 ia hijrah ke Pandaan untuk mencoba mengadu nasib. Pria kelahiran Solo. 8 Agustus 1960 Ini. memberanikan diri membuka usaha lukisan kulit secara mandiri dalam jumlah terbatas.

Satu tahun kemudian, pindah ke Sidoarjo dan mulai memperbesar usahanya. Usaha yang dilekuninya saat itu masih kerajinan lukisan kulit berupa kaligrafi dan gambar.

Awal tahun 1995 teman dekatnya pernah menitipkan  miniature kapal. Ternyata miniatur kapal itu banyak peminatnya. Kemudian dia mencoba membuat miniatur. Ordernya bertambah hingga sekarang.

Untuk miniatur kapal dengan panjang 30 cm, ia mematok harga Rp 70 ribu. Sedangkan harga termahal mencapai Rp 5 juta untuk ukuran 160 cm. Lukisan kulit harganya Rp 250 ribu Rp 1 juta.

“Besarnya harga disesuaikan dengan tingkat kerumitan ungkapnya.  Bahan miniatur kapal menggunakan kayu bekas. Walaupun menggunakan bahan bekas, bentuk desain dan tampilan tetap ia utamakan, sehingga masih terkesan elegan. Untuk pembuatan layar kapal, bahan dasarnya kulit kambing yang dipesan dari Solo dan Magetan. karena kulit dari sana sudah kering sehingga langsung dapat di gunakan. Berbeda dengan daerah lain yang kondisinya masih basah sehingga masih harus dikeringkan.

Kini, dari ketekunan dan keuletannya ia mampu meraup omzet hingga Rp 250 juta per tahun. Namun keberhasilan ini tidak diperoleh dengan mudah, Sebab persaingan cukup banyak, dari Yogyakarta dan Mojokerto. Bedanya, buatan Mojokerto layarnya berbahan dasar kain.

Untuk promosi, Kasiadi banyak dibantu beberapa intansi seperti banyak dibantu beberapa instansi seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), PT Garuda Indonesia. Dan PT PLN Sejauh ini, ia sering diajak promosi melalui pameran produk unggulan yang diikuti banyak Negara, Australia, Tiongkok, Hongkong, dan Malaysia. Dari pameran itulah ia mendapatkan banyak relasi dan rumahnya di jalan Himalaya 15, Desa Keramaian, Kecamatan Candi, Sidoarjo, di antaranya dari Taiwan dan Kanada.

Regenerasi

Pada tahun 1990 merupakan masa kejayaan bagi usahanya hingga mempunyai 15 karyawan. Tapi suatu ketika pesanan menurun thingga 50 npersen hingga jumlahnya berpikir untuk mengembangkan usahanya dengan mendistribusikan ke Jakarta, Surabaya, dan Makasar Kini. usia Kasidi sudah tua, Ia berharap usahanya. Dapat diteruskan oleh salah satu dan ketiga anaknya yakni Happy, Ega. dan Rofiq. (M Afriul Akbar/pri)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWA TIMUR,

‘Laras Madya’, Macapat Sawotratap Sidoarjo

Alunan tembang-tembang tengahan dan macapat yang diiringi kesenian Jawa asli ‘Laras Madya’, berkumandang di rumah Mbah Triman, Jl. Gajahmada 67 Sawotratap, setiap Jumat malam. Terdengar paduan irama kendang, terbang (rebana) dara, terbang kecil dan jidhor, ditimpali petikan siter atau gender, serta bunyi ritmis kemanak (dua kenong kecil yang bentuknya seperti pisang). Bunyi kemanak, “thing thong thing thek, … thing thong thing thek “. Itulah yang menjadi ciri khas laras madya.

Paguyuban “Mardika Laras” secara rutin mengadakan gladi laras madya seminggu sekali di Sawotratap. Selain kru Laras Madya yang memainkan perangkat orkestranya masing-masing, ada beberapa penembang, yang disebut para penggerong.

Dalam laras madya dikenal yang namanya bawa (bacanya Bowo), atau buka celuk. Bawa ini dilantunkan oleh satu orang saja, misalnya bawa sekar Kenya Kediri, tanpa diiringi peralatan musik. Bawa sebagai pambuka sebelum masuk ke gerong (tembang yang dibawakan bersama-sama).

Orang yang membawakan bawa ini lazimnya yang sudah matang dalam membawakan tembang. Setelah bawa selesai, barn dilanjutkan tembang bersama dan iringan alat musik. Tembang tembang laras madya yang dilantunkan banyak mengambil tembang macapat dari Serat Wulangreh dan Wedhatama, atau tembang shalawat. Untuk lagu pambuka dan panutup selalu menggunakan tembangan shalawat yang Islami.

Menurut Darmono, Staf Pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, laras madya itu sebenarnya orkestrasi di luar keraton. “Keraton dulu selalu memakai gamelan ageng, perangkatnya besar, dan memerlukan gending-gending yang besar. Pihak seniman, para penembang dan pengrawit dulu, menghendaki ada orkestrasi altematif, di luar keraton untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujamya.

Karena masuk kerajaan tidak boleh, untuk menjawab kebutuhan masyarakat, muncul kesenian tradisional semacam cokekan, gadhon, laras madya, dan lainnya. Ini menjawab yang tidak rebyek, tanpa menggunakan banyak gamelan, dan praktis. Laras madya itu sebetulnya untuk mewadahi tembang-tembang yang bersifat ke-Islaman. Namun dikemas menjadi lokal jenius, kental dengan ke-Jawaan.

Sedang cokekan itu orkestrasi kecil, tetapi ada siter, gambang, gender, slenthem, dan gongnya gong bumbung. Kalau gadhon itu orkestrasi atau perangkat gamelan, tidak menggunakan bonang, dan kenong. Gong cuma satu, yang besar. Jadi peralatannya berkurang, hanya gender, gambang, siter, pukulan atau tepukan tangan dua.

Berbeda dengan laras madya, kalau swanti swara tidak memakai musik gamelan. Dia memakai rebana atau jidor, jumlahnya empat sampai dengan lima. Kendang, vokal, kemanak. Intinya kalau santi swara itu ada nafas ke-Islaman yang menyatu dengan kegunaan seni Jawa.

Laras Madya masih kental gamelannya, karena masih menggunakan gender, dithinthing (samakan nada). “Kalau swanti swara nggak ada thinthingan. Tinggi rendahnya bergantung pada kemampuan vokalnya. Tetap ada bawa, swara tunggal dan swara bersama atau koor, sarna-sarna ada,” kata Darmono.

Sejarah munculnya laras madya/swanti swara, lahir di Surakarta (Solo) pada zaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono IV. Sejak dulu sampai sekarang kesenian shalawatan laras madya ini hidup dan berkembang masih seperti aslinya. Nyanyian disampaikan dalam bahasa Jawa dan berisi nasehat ataupun petunju tentang kebajikan…

Dihubungi terpisah, Kwatiman, pelatih Paguyuba Mardika Laras, menjelaskan, laras madya itu gabungan antara seni Jawa dan seni Timur Tengah. Ada kendang, terbang kecil tiga, terbang dara, terbang besar serta kemanak… “Kemanak bentuknya seperti pisang, nadanya: enem (enam) dan pitu (tujuh). Nada enem mewakili laras pelog dan slendro,” ujarnya.

Karena munculnya laras madya dan swanti swara pada jaman Islam, cakepan-nya (syairnya) ada yang khusus wama Islam. Di daerah Mataram ada shalawat nabi atau shalawat muludan, ada shalawatan Jawa. Dalam perkembangannya laras madya campur dengan tembang-tembang macapat. Notasi gending dilakukan, yang dibukukan sekaligus diberi notasi, untuk para pelajar konservatori, yang sekarang menjadi SMKI.

Sementara itu Mardika Laras belum lama berdiri, yakni pada awal tahun 2010, yang bermula dari belajar macapat. Kebetulan bisa mewujudkan alat-alat laras madya, akhirnya juga mempelajari swanti swara. “Pelatihnya Pak Sono, yang dulu sekolahnya di SMKI, sudah membawa bukunya untuk tuntunan. Pak Sono menguasai betul tentang swanti swara dan laras madya, termasuk sepuluh pupuh macapat yang dilagukan menjadi gending laras madya,” kata Kwatiman.

Menurut Kwatiman, yang juga pelatih Mardika Laras, yang merintis laras madya di Surabaya pertama kalinya, Paguyuban Sutresno Macapat yang dipimpin Sunarto Timur(alm), berdiri sejak 1972. Pada akhirnya ada pemikiran Paguyuban Sutresno Macapat juga mempelajari Laras Madya. (eru)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 44 Juni 2011

Puspa Agro, Pasar Agrobisnis Terbesar di RI

SURABAYA – Penantian panjang petani Jawa Timur untuk memiliki pasar induk agrobis akhimya terwujud. Setelah delapan tahun menunggu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berhasil mewujudkan pembangunan pasar induk agrobis tarbesar se integrasi pertama di Indonesia, yakni di desa Jemundo. Taman, Sidoarjo.

Berdiri diatas lahan seluar 50 hektare Puspa Agro memiliki tujuh los bangunan dengan total stan mencapai 5.000. Pengelolanya PT Jatim Graha Utama (JGU) yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Jatim. Total investasi yang dikucurkan untuk membangun proyek tersebut mencapai Rp 636 miliar dan biaya pembebasan lahan sekitar Rp 200 miliar.

Ide Membangun Puspa Agro (dulu bernama pasar Induk Agrobisnis atau PIA muncul sekitar sepuluh tahun lalu. Waktu itu, dengan alasan untuk mengoptimalkan peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi Jatim, diperlukan perbaikan mata rantai pemasaran produk pertanian. Ini agar revitaliasl pertanian di lini on farm, yang gencar dilakukan waktu itu, tak sia-sia akibal tidak adanya perbaikan di lini off farm, terutama pasca panen dan pemasaran.

Hal Itu bisa menjadi persoalan serius karena komoditas pertanian Jalim yang selalu surplus setiap tahun temyata tidak diimbangi meningkatnya nilai buat petani. Salah satu penyebabnya, Jatim tidak memiliki sislem perdagangan agro yang meningkatkan nilai tambah tersebut Jatim punya banyak produk, tetapi tidak bisa mengendalikan perdagangan. Dengan adanya pasar yang berperan sebagai pasar induk, diharapkan bisa mengendalikan perdagangan komodilas tersebut.

Gubemur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo dalam sambutannya saat peresmian Puspa Agro, Sabtu (17/7), mengatakan para petani dan pedagang di Puspa Agro siap melayani pembeli eceran, grosir, hingga parlai besar, sehingga diharapkan mampu menjaga pasokan produk hasil bumi. Dengan begitu, harga sayur-mayur dan kamoditas pertanian lainnya bisa terus stabil.

Harga lombok keriting pada Juni hanya Rp 14 ribu per kilo, tapi sekarang sudah Rp 38 ribu. Harganya melambung karena kelangkaan produk akibat kondisi alam. Dengan adanya Puspa Agro ini nanti cabai bisa dibuat kering atau bubuk”, tambahnya.

Pemyataan Soekarwo, itu merujuk pada fakta dengan fasililas pergudangan dan daya tampung Puspa Agro yang bisa melayani pedagang grosir, produk pertanian, perikanan, maupun petemakan Jatim bisa disimpan serta diolah untuk jangka waktu relatif lama. Dengan demikian. harga komoditas di harapkan bisa lebih stabil.

Menurut Soekarwo, Puspa Agro nanti tidak hanya menjadi pusat perdagangan, hunian, serta logistik hasil bumi. Namun, pasar itu juga akan menjadi tempat pelatihan dan pendidikan bagi petani, generasi muda, maupun masyarakat umum.

Berdasar kajian awal, transaksi di Puspa Agro Jatim diprediksi menembus angka Rp 10 triliun per tahun dengan perputaran komoditas mencapai 1,095 juta ton. Atas potensi itu, ada keinginan untuk mengembangkan Puspa Agro tak lagi bertaraf nasional, tapi internasional.

Rencana itu makin kental ketika beberapa waktu lalu, duta besar Indonesia untuk Singapura datang ke Jatim dengan membawa sekitar 20 pengusaha berminat membeli sayuran Jatim.

Karena itu, Menko Perekonomian Halla Rajasa meminta agar Puspa Agro tidak hanya lahannya yang terluas di Indonesia. Tetapi juga harus menghasilkan kualilas yang unggul. Dengan begitu pasar ini tak hanya menjadi penyuplai regional, namun juga internasional. */fan

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURABAYA POST, Senin, 19 Juli 2010, hal. 3

H.R. Mohamad Mangoendiprojo

Siapakah H.R. Mohamad Mangoendiprojo

Gubernur Basofi Soedirman mengatakan monumen sebagai wujud dari rasa kepedulian terhadap jasa pahlawan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya, ungkapan ini telah ditunjukkan oleh masyarakat Sidoarjo dengan membangun monumen pejuangnya, H.R Mohamad Mangoendiprodjo. Penghargaan atas jasa beliau kiranya belum cukup jika hanya diwujudkan dengan membangun monumennya, namun yang paling mendasar dalam menghormati jasa beliau tiada lain adalah dengan mengaplikasikan cita-cita dalam wujud kehidupan di masa pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur.

Siapa sebenarnya H.R Mohammad Mangoendiprodjo. Pertanyaan ini sering muncul di sebagian masyarakat Sidoarjo saat pembangunan monument sedang berlangsung, hal ini wajar karena memang tokoh yang dimonumenkan ini bukan termasukdi jajar pahlawan yang sudah menasional atau tidak diajarkannya dalam kurikulum pendidikan sejarah sehingga tidak dikenal dalam kalangan pelajar. Namun demikian beliau adalah salah seorang pejuang kemerdekaan yang pergerakannya di wilayah Sidoarjo dan Surabaya dengan basis perjuangan di Buduran, sehingga tidak berlebihan kiranya jika beliau dimonumenkan di Buduran Sidoarjo guna mengenang jasa perjuangannya.

H.R Mohammad Mangoendiprojo dilahirkan pada tanggal 5 Januari 1905 di Sragen. Semasa hidupnya beliau mengalami perubahan dalam tiga zaman, dari seorang pangrehpraja yang umum.elikenal sebagai hamba aparat kolonial Belanda, kemudian di jaman pendudukan Jepang beliau masuk lembaga pendidikan Peta dan saat perang kemerdekaan beliau terbawa dalam arus kancah revolusi nasional di Surabaya yang menjaelikannya seorang republikan yang anti Belanda.

Mohamad, panggilan akrab H.R Mohamad Mangoendiprodjo, saat kecilnya sudah mengenyam pendidikan yakni pendidikan yang diwarnai adat sopan santun mengingat suasana lingkungan keluarga masih diwarnai tradisi jawa yang memegang adat sopan santun, dimana perilaku anak didik disesuaikan dengan adat istiadat yang mengutamakan otoritas orang tua serta mematuhi segala nasehat dan kata orang tua dengan bersendikan norma-norma agama.

Menyadari masa depan seorang anak banyak ditentukan oleh factor pendidikan dan faktor keturunan, maka padatahun 1913, Sastromardjono, ayah Mohammad, terdorong untuk menyekolahkan Mohamad yang saat itu berusia 8 tahun di Eurpese Lager School (ELS) di Solo, namun padatahun 1915 Mohamad dipindahkan ke ELS di daerah Sragen dengan pertimbangan pendidikan agamanya, karena di Sragen Mohamad bisa ditipkan di rumah kakak ayahnya, seorang ulama, untuk mendidik agama. Pada tlihun 1921 Mohamad lulus dari ELS kemudian  melanjutkan ke Sekolah Teknik di Yogyakarta namun tidak sampai lulus, karena Mohamad memang tidak berbakat di bidang teknik, ayahnya mendaftarkannya di Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Madiun hingga lulus tahun 1927.

Pada masa pendudukan Belanda hingga Jepang karirnya sebagai pegawai dimulai sebagai pelayan wedana Gorang Gareng di Madiun, Mantri Polisi Lapangan di Lamongan, Wakil Kepala Jaksa Kalisosok Surabaya, dan pada talmn 1934 Mohamad dipromosikan menjadi Asisten Wedana Kecamatan Diwek Jombang.
Pada pendudukan Jepang jiwa Mohamad terpanggil untuk mengikuti pendidikanPembela Tanah Air (PETA) dan diangkat menjadi daidanco (Komandan Batalyon) PETA di Daidan (Batalyon) III Sidoarjo, Surabaya.

Di Sidoarjo di bawah kepemimpinannya, jiwa keprajuritan jiwa persatuan dan kesatuan membela tanahair dibangkitkan kembali setelah lenyap terbuai semenjak abad 17 dan saat revolusi pecah, Mohamad bersama ex perwira PETA lainnya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Tugas dan jabatan lain yang dipegang dalam ketentaraan antara lain bendahara BKR di masa BKR Propinsi dipimpin oleh Moestopo dan menjadi Kepala Urusan Angakatan Darat saat Menteri Pertahanan RI ad Interirn dijabat oleh Moestopo.

Pada tahun 1950 hingga 1988 karirnya dilalui sebagai abdi Negara lagi yakni sebagai Pamong Praja, tahun 1950-1955 menjadi Bupati Ponorogo, tahun 1955 Mohamad memperoleh promosi diangkat menjadi Residen Lampung sampai pensiun di tahun 1962, sejak 1971 Mohamad terpilih menjadi Anggota Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai utusan daerah Lampung hingga 1992.

Pada usia senjanya, Mohamad memperoleh pengakuan dan penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia atas pengabdiannya dalam perjuangan Nasional di masa lampau, pada tanggal 14 Agustus 1986 di Istana Negara Jakarta bersama dengan 10 orang tokoh lain, Mohamad dianugerahi Bintang Mahaputra langsung dari Presiden Soeharto sebagai penghargaan tertinggi atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa Indonesia. (fik).

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Gema Delta, Maret 1995, hlm. 31