Sunan Ampel, Surabaya

Riwayat Hidup Sunan Ampel

“Sunan Ampel atau raden Rahmatullah adalah puteraSyeh Ibrahim Samarqandi atau sering disebut Ibrahim Asmara. Menilik namanya tentulah Ibrahim Samarqandi itu berasal dari negeri Samarkand. Syeh Ibrahim Asmara ini mula-mula berdakwah di negeri Campa (Cempa) yaitu di sebuah daerah kerajaan yang sekarang termasuk wilayah di Muangthai. Hingga sekarang wilayah Muangthai Selatan penduduknya masih beragama Islam dan taat menjalankan agamanya.

Atas keberhasilan Ibrahim Asmara dalam menyebarkan agama Islam ke negeri Campa, maka raja Campa kemudian mengambilnya sebagai menantu, dijodohkan dengan putri Campa yang bernama Dewi Candrawulan. Dari perkawinannya itu beliau dikaruniai dua orang putra, yaitu:

  1. Raden Santri (Sayyid Ali Murtolo)
  2. Raden Rahmatullah (Sunan Ampel).

Cara dakwah Sunan Ampel

Adapun adik Dewi Candrawulan yang bernama Putri Dwarawati diperistri oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V. Dengan demikian Raden Rahmatullah adalah keponakan Ratu Dwarawati pemaisuri raja Majapahit. Pada masa itu suasana kerajaan Majapahit agak kacau balau. Banyak perampokan, pencurian, perjudian, pelacuran dan tindak kejahatan lainnya. Sang Prabu Brawijaya telah memerintahkan para pendeta Brahmana agar lebih banyak memberi penerangan kepada masyarakat agar tidak melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran susila, namun kebiasaan rakyat Majapahit itu seolah-olah telah mendarah daging. Bahkan beberapa orang pangeran kerajaan ikut-ikutan meramaikan perjudian dan perbuatan asusila.

Prabu Brawijaya menjadi masgul dan pusing memikirkan keadaan itu. Suatu hari Ratu Dwarawati mengajak suaminya bermusyawarah. ‘”Kangmas Prabu…”, kata Ratu Dwarawati dengan suara lembut. ‘Bila rakyat dan para pembesar dibiarkan berlarut-larut dalam perjudian dan tindak kejahatan lainnya lama-lama kerajaan Majapahit akan menjadi hancur, “lalu harus bagaimana lagi,” sahut Prabu Brawijaya. Mereka tidak lagi menghormati dan mentaati ajaran para Brahmana. Sepertinya sudah tidak ada lagi orang yang mereka segani, ‘Saya mempunyai keponakan yang pandai mendidik masyarakat’, kata Ratu Dwarawati. ‘Namanya Raden Ali Rahmatullah. Wajahnya tampan, budi pekertinya sangat baik dan mulia. Saya yakin, keponakan saya itu akan menjadi panutan bila Kakangmas Prabu berkenan mendatangkannya ke istana Majapahit ini’. Baik, tidak ada salahnya mendatangkan keponakanmu itu , kata Prabu Brawijaya.

Demikianlah Raden Rahmatullah kemudian didatangkan ke istana Majapahit. Kedatangan Pangeran dari negeri Campa itu disambut dengan meriah oleh seluruh pembesar kerajaan Majapahit.Para bupati dari seluruh wilayah Majapahit turut diundang untuk menyambut si tamu agung. Prabu Brawijaya sangat terpesona atas kehalusan dan kebaikan budi pekerti yang diperlihatkan Raden Ali Rahmatullah. Pangeran dari negeri Campa itu bersedia bergaul dengan siapa saja dengan sikap yang ramah. Di samping sikapnya yang lemah lembut, wajahnya pun tampan dan menyenangkan setiap orang yang melihatnya. Untuk mengikat Raden Ali Rahmatullah agar betah dan krasan tinggal di Majapahit, maka Prabu Brawijaya mengumpulkan seluruh putrid istana, bahkan para putri bupati pun didatangkan ke istana Majapahit untuk dipilih sebagai isteri Raden Ali Rahmatullah.

Al-Kisah di antara sekian banyak wanita cantik, Raden Ali Rahmatullah berkenan memilih Nyai Ageng Manila sebagai istrinya. Raden Rahmat kemudian diberi tanah beserta bangunannya di daerah Ampeldenta sebagai pusat Padepokan. Para bangsawan, para pangeran dan para bupati diperintahkan berguru ilmu budi pekerti di Padepokan Ampeldenta. Karena kedudukannya selaku Mahaguru di Padepokan Ampeldenta maka Raden Rahmatullah kemudian disebut Kanjeng Sunan Ampel. Sunan Ampel memperkenalkan budi pekerti mulia sebagai ajaran pendahuluan sebelum pada akhirnya beliau memperkenalkan pencipta ajaran budi pe­kerti yang mulia tersebut yaitu Allah, Tuhan Pencipta Alam. Beliau menanamkan disiplin, dan watak kejujuran kepada setiap murid-muridnya.

Para pejabat kerajaan dianjurkan setia kepada sumpahnya selaku pengabdi negara dan rakyat. Para pedagang dianjurkan berlaku jujur dan menghindari kecurangan. Di antara ajaran beliau yang sangat terkenal ialah Moh Limo. Moh limo artinya tidak mau terhadap lima hal, yaitu:

(1)   Moh Main                   (tidak mau berjudi)

(2)   Moh Ngombe             (tidak mau minum yang memabokkan)

(3)   Moh Maling                                (tidak mau mencuri atau korupsi)

(4)   Moh Madat                 (tidak mau merokok candu atau ganja)

(5)   Moh Madon                               (tidak mau berzinah atau melacur).

Mula-mula ada saja yang membantah ajaran beliau. Di antara mereka ada yang berkata, “Kanjeng Sunan…. mengapa kita dilarang berjudi? Bukankah dengan berjudi kita bisa mendapatkan uang secara cepat tanpa bersusah payah?’. Yang lain juga berkata, ‘Dengan minum . arak kita dapat menghangatkan badan. Terutama bila sedang musim dingin, orang kedinginan bisa menimbulkan kematian. Lagi pula dengan memabokkan diri atau menghisap candu kita dapat melupakan sejenak beban derita yang kita sandang’.

Sunan Ampel hanya tersenyum mendengar pertanyaan nakal itu. Dengan arif beliau berkata, ‘pada waktu berjudi apakah Andika rela berada di pihak yang kalah?’,  ‘Tentu saja tidak mau Kanjeng Sunan….”

Ya, tentu saja tidak ada orang yang mau dirugikan’, sambung Sunan Ampel. ‘Bahkan orang yang kalah dalam perjudian hatinya akan menjadi panas, penuh dendam. Sementara itu untuk -menebus kekalahannya dia tidak segan-segan mempergunakan harta di rumah untuk dipergunakan main judi lagi. Bila harta di rumah sudah habis maka dia tidak segan-segan mencuri harta tetangganya atau bahkan menggelapkan uang negara. Inilah sebabnya perjudian harus dilarang .

‘Demikian pula halnya dengan minum arak atau mabok’, lanjut Sunan Ampel. ‘Orang yang suka mabok akalnya menjadi lemah, tak dapat membedakan lagi mana yang baik dan yang buruk. Waktu mabok dia dapat saja mengeluarkan kata-kata kotor tidak senonoh, membocorkan rahasia teman atau bahkan membocorkan rahasia negara. Inilah bahayanya orang yang suka mabok’

Menurut Sunan Ampel orang yang suka mabok badannya menjadi rusak, lebih-lebih mereka yang suka madat atau menghisap candu. Hidupnya hanya dipergunakan untuk berkhayal dan menjadi pemalas sehingga hanya menjadi beban orang lain saja. Orang mencuri jelas merugikan dirinya sendiri dan lebih-lebih lagi merugikan orang lain. Merugikan diri sendiri karena orang tersebut menjadi terbiasa hidup bergelimang dosa, dimana hidupnya menjadi tidak tenang, selalu dipertanyakan oleh hati nuraninya yang tak mau berdusta. Belum lagi rasa cemas akibat perbuatannya itu bahwa setiap saat dia selalu merasa dicurigai orang.

Maling tidak selalu bernasib baik, bahkan banyak mereka yang tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh penduduk setempat. Baik maling kecil atau maling besar, baik maling secara terang-terangan atau maling gelap-gelapan sama-sama merugikan orang, lebih-lebih maling negara rakyatlah yang akan menjadi korbannya. Madon atau berzinah atau melacur itu sangat merugikan para pelaku dan masyarakat di sekitarnya. Para pezina kebanyakan dihinggapi penyakit kotor.

Ajaran budi pekerti mulia ini ternyata menarik banyak minat masyarakat Majapahit. Bukan hanya para bangsawan dan keluarga keraton saja yang datang berguru kepada Sunan Ampel, banyak pula rakyat jelata yang rela menjadi murid beliau. Sejak adanya Sunan Ampel di Surabaya Prabu Brawijaya merasa tenteram. Banyak para keluarga keratin dan pejabat kerajaan yang insyaf, tidak lagi mengerjakan pekerjaan tercela. Sang Prabu pun sering memberikan bantuan materi untuk kelangsungan pendidikan di Ampeldenta. Ketika pada akhirnya Sunan Ampel mengumumkan bahwa ajaran budi pekertinya ada­lah ajaran agama Islam, sang Prabu tidak menjadi marah. Beliau menganggap Islam adalah ajaran budi pekerti yang tiada salahnya dianut oleh rakyat Majapahit.

Demikianlah cara-cara Sunan Ampel mulai menyebarkan agama Islam, bukan dengan cara menyebarkan slogan-slogan, maupun pidato- pidato saja melainkan dengan tingkah laku dan perbuatan nyata yang menjadi teladan dan panutan masyarakat. Dan hal itu langsung beliau sendiri yang memulainya. Bila beliau melarang orang berjudi maka beliau pun tidak pernah melakukan atau datang ke tempat perjudian. Bila beliau menganjurkan untuk menolong fakir miskin, maka beliaulah yang paling dahulu memberikan pertolongan kepada fakir miskin.

Tidak lama kemudian perguruan Ampeldenta ramai dikunjungi orang. Murid-murid Padepokan atau Pesantren Ampeldenta berdatangan dari segala pelosok negeri. Bahkan ada yang datang dari negeri Iran yaitu Ali Saksar. Ketika beliau hendak mendirikan masjid, maka tidak ada kesukaran dalam mencari dana, baik dana yang berasal dari masyarakat maupun dari pemerintah Majapahit. Pemerintah Majapahit menganggap Sunan Ampel sebagai salah seorang yang sangat berjasa bagi pembangunan mental masyarakat dan penduduk Majapahit”.

Murid-Murid Sunan Ampel

“Di antara sekian banyak murid-murid Sunan Ampel yang ter­kenal ialah :

(1)               Sunan Giri atau Raden Paku Maulana Ainul Yakin. Beliau ternyata mengikuti jejak gurunya, beliau menjadi seorang wali di antara sekian banyak waliullah di Tanah Jawa. Bahkan dalam Walisanga beliau pernah menjadi mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, menggantikan kedudukan Sunan Ampel yang telah wafat. Di samping itu beliau adalah seorang Guru Besar dari Pesantren Giri, Gresik. Murid-muridnya tersebar di seluruh Nusantara.

(2)            Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim. Di samping murid Sunan Ampel beliau adalah putra Sunan Ampel sendiri yang terlahir dari Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang ini berdak­wah di daerah Tuban. Makamnya terletak di sebelah barat alun-alun dan Masjid Agung Tuban.

(3)            Raden Syarifuddin atau lebih dikenal dengan nama Sunan Drajad; beliau berdakwah di daerah Sedayu dan sekitarnya.

(4)            Raden Umar Said yang lebih dikenal dengan nama Sunan Muria.

(5)            Raden Syahid atau Sunan Kalijaga.

(6)            Jafar Sodiq atau Sunan Kudus.

(7)            Fatahillah dan Syarif Hidayatullah.

(8)            Raden Fattah atau Raden Patah pendiri kerajaan Demak.

(9)            Batara Katong.

(10)        Ali Saksardari Iran.

(11)        Mbah Shanhaji dan Mbah Sholeh.

Itulah murid-murid Sunan Ampel di antara sekian banyak muridnya.” (Rahimsyah  1994: 26-27).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Wali Sanga,  M.B.Rahimsyah, Karya Anda, Surabaya, 1994, hlm. 13-27.

Sunan Ampel

Melacak Sunan Ampel 
Umat Islam, khususnya yang tinggal di Jawa, pastilah mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Sunan Ampel. Makamnya di Masjid Ampel (Kelurahan Ampel, Surabaya), sebagaimana makam-makam Walisanga lainnya, menjadi tujuan para peziarah dari seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Pada malam-malam tertentu, terlebih malam likuran di bulan Ramadan, Masjid Ampel diserbu ribuan umat Islam.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel diyakini sebagai perintis penyebaran agama Islam di Jawa. Dia datang ke Jawa tatkala Majapahit masih berkuasa, kemudian mendirikan pesantren di Ampel (Ngampeldenta) di Surabaya. Dari sini Sunan Ampel memupuk kader yang di kemudian hari menyebarkan Islam, bukan saja di Jawa, tapi juga luar Jawa. Sunan Giri dan Sunan Muria adalah dua dari puluhan muridnya.

Bukan itu saja, Sunan Ampel juga mempunyai dua orang anak yang kelak juga menjadi Wali dan mendirikan pesantren untuk penyebaran agama Islam, yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Dibanding Wali-Wali yang lain, informasi otentik tentang Sunan Ampel dalam bentuk prasasti yang diguris di atas batu atau lempengan sama sekali tidak ada. Tidak juga didapati candrasengkala yang menunjukkan tahun pada bangunan masjid, gapura atau makam. Begitu juga naskah atau manuskrip yang ditulis pada masa hidupnya atau agak dekat sesudah wafatnya, sampai sekarang belum ditemukan apabila tidak dapat dikatakan sama sekali tidak pernah ada. Naskah babad baru ditulis pada zaman Mataram dan sesudahnya, seperti Babad Tanah Jawi edisi Olthof (BTJ-Olthof), Babad Demak, dan Babad Mataram. Serat babad yang bercerita tentang Sunan Ampel antara lain Babad Tanah Jawi (BTJ), Babad Tanah Jawi-Mees (BTJ-Mees), Babad Ngampeldenta (BN), Babad Tanah Jawi-Galuh Mataram (BTJ-GM), Babad Resakipun Majaprhit (BRM), Babad Cerbon (BC), Babad Majapahit dan Para Wali (BMPW), Wali Sana Babadipun Parawali (WSBP) dan Babad Tanah Jawi Naskah Bau Wanar/Naskah Drajat (BTJ-NBW IND).

Untuk memperoleh data yang jelas dan rinci tentang Sunan Ampel, paparan berbagai sumber tradisi tersebut perlu telaah interteks. Data itu nantinya akan memberi gambara sejarah Sunan Ampel, setidak-tidaknya menurut tradisi tulis. Tradisi tulis yang beragam, data dan informasinya selain terdapat perbedaan, parelelitasnya hampir dipastikan selalu ada. Kesamaan data atau informasi itu dapat ditangkap sebagai fakta yang mendekati sahih.

Nama dan Gelar
BTJ-Olthof, BN, BTJ-GM, BRM, BNPW, BTJ-NBW/ND, BTJ-Mees, dan BC menyebutkan bahwa nama kecil Sunan Ampel adalah Rahmat. Begitu pula dengan sumber Arab dan Barat. Sejak tahun 1977, Panitia Haul Agung Sunan Ampel menetapkan nama Sunan Ampel dengan Ahmad Rahrnatullah.

Dasar penetapan nama Ahmad Rahmatullah tersebut, pertama berdasarkan pertimbangan bahwa Sunan Ampel bukan orang Jawa, melainkan keturunan Arab. Nama Rahmat tidak dikenal di kalangan bangsa Arab terutama yang berdiam di Indonesia. Nama Rahmat tentu berasal dari bahasa Alquran Rahmatullah yang berarti kurnia dari Allah SWT.
Sedangkan gelar, umumnya tradisi tulis menyebutnya dengan gelar Raden atau Rahadyan. Hanya satu sumber, yakni BC, yang menyebut Pangeran. Dari mana sebutan Raden diperoleh, padahal Sunan Ampel bukan asli Jawa atau bangsawan Jawa? Jawabannya hanyalah sebagai hipotesis.

Kedua, gelar Raden agaknya tidak melekat pada waktu masih di Campa, melainkan baru diperoleh setelah menetap di Jawa. Setelah penduduk mengenal sosok, kepribadian dan kinerjanya sebagai ulama dan menjadi imam di Ampel, orang menghormatinya dengan gelar kehormatan, yaitu Raden.

Ketiga, BN pupuh Asmaradana menyebutkan bahwa Raja Majapahit menganugerahi Sunan Ampel tempat tinggal di Dusun Ampeldenta dan diberi penduduk 800 keluarga untuk menjadi pengikut. Ia juga memberi gelar susuhunan. Hampir seluruh penduduk Ampel telah diislamkan, pengikut pertama yang berada dalam kewenangan sebagai pemimpin komunitas (umat) inilah diduga yang pertama-tama menabalkan gelar Raden sebagai wujud penghormatan kepada Sunan Ampel yang menjadi pemimpin atau tuan mereka.

Keempat, kemungkinan lain boleh jadi masyarakat, lebih-lebih para santrinya, mengetahui bahwa Sunan Ampel bergelar al-Syarif atau Al-Sayyid. Lafaz ‘syarif’ berarti bangsawan, pengertian yang umum adalah untuk keturunan Rasulullah SAW. Gelar syarif atau sayyid dipahami sebagai sebutan untuk kelompok ningrat Arab, lalu dipandang sederajat kedudukannya dengan bangsawan Jawa, karena Raden berarti gelar bangsawan keturunan raja. Keempat, tidak mustahil gelar Raden ditabalkan karena Sunan Ampel mempersunting puteri adipati atau pejabat tinggi daerah di Tuban atas perkenan dan kehendak raja Majapahit.

Gelar Raden agaknya tidak lepas dari padanya, seakan tabu bila menyebut nama kecil Sunan Ampel hanya dengan Rahmat saja. Gelar itu senantiasa melekat pada Sunan Ampel dalam sebutan orang-orang Islam di sekitar makam dan para peziarah.

Sedangkan sebutan sunan, menurut WSBPW, berasal dari susuhunan. Kata susuhunan dalam pengucapan Jawa bisa berubah menjadi “suhun” dan “sunan”. Suhun dan suhunan berasal dari bahasa Kawi yang berarti sunggi, pundhi, mumundhi, pupundhen, berarti sunggi, junjung (di kepala). Pengertian disunggi atau dijunjung di kepala itu bermakna ditinggikan, sangat dihargai, sangat dihormati.  Selain sebutan Wali atau Sunan, masih ada sebutan atau gelar lain untuk Raden Rahmat, yaitu Pangeran Katib dan Wali Qudum atau Wali Maqdum. Gelar ini diberikan oleh Mawlana Ishak, karena Sunan Ampel itu Wali yang pertama-tama menyebarkan agarna Islam di Jawa atau Wali yang mendahului wali-wali yang lain.

Campa
Berbagai sumber tradisi menyebutkan bahwa Raden Rahmat lahir di Campa. Tetapi di manakah letak Campa? Sumber BC dan WSBP menyebutkan bahwa Campa yang dimaksud adalah negeri sekitar Semboja atau Kamboja, Kuci atau Koci (n) Cina. Sumber BTJ-NBWIND menyebut sekitar Kucing dan Kamboja. Kebanyakan sejarahwan juga berpendapat, bahwa Campa terletak di Indocina.

Tetapi ada juga sejarahwan yang berpendapat bahwa Campa terletak di pantai utara Aceh, yang terkenal sekarang dengan nama Jeumpa. Hamka juga berpendapat serupa, karena adanya persamaan bunyi Campa dengan “Jeumpa”. Namun penyebutan Campa menjadi Jeumpa tidak didapati dalam buku-buku yang ditulis oleh penulis Aceh.

Buku Aceh Sepanjang Sejarah yang ditulis oleh H. Mohammad Said juga tidak menyebutkan bahwa Campa sama dengan Jeumpa atau Campa terletak di pantai utara Aceh Utara, sebaliknya Campa terletak di Indocina. Sedangkan Hikayat Aceh memberi petunjuk bahwa Campa berada di sekitar Kamboja, Ciangmai, Lanea dan Cina.

Pendapat lain menyatakan bahwa Campa lebih jauh harus dicari di pantai India-Belakang bagian timur. Pendapat seperti ini diperkuat oleh sastra sejarah Melayu dan Jawa. Cerita Sejarah Melayu memuat riwayat singkat kerajaan Campa. Diceritakan bahwa penduduknya tidak makan atau menyembelih sapi (boleh jadi mereka beragama Hindu atau Budha).

Semula kerajaan itu termasuk wilayah taklukan kerajaan Majapahit. Raja Campa yang terakhir adalah Pau Kubah, yang meninggal dalam peperangan melawan raja Kuci. Dua orang putranya, Pau Liang dan Indra Berma, lolos. Masing-masing melindungkan diri ke Aceh dan Malaka. De Graaf dan Pigeaud menilai bahwa berita Sejarah Melayu lebih dapat dipercaya karena teksnya sudah disusun menjelang perempat abad kedua abad 16, tidak terlalu lama setelah dinasti Campa yang lama runtuh.

Dari sumber-sumber lain dapat diketahui bahwa Campa pada tahun 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tahun tersebut berada dalam rentang tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1458-1477) yang telah memberi perlindungan atau suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri. Salah satu alasan mengapa Raden Rahmat bersama adiknya melawat ke Jawa, menurut De Graaf dan Pigeaud, ialah ancaman Annam terhadap Campa tersebut.

Campa sebagai sebuah negara dengan sistem monarki diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-2 sampai abad ke-19. Campa memang pernah berjaya dengan memiliki wilayah lima propinsi dengan dua buah pelabuhan, tetapi nasibnya selalu di ujung tanduk dan jatuh bangun. Silih berganti diserang oleh kerajaan tetangganya, yaitu Vietnam dan Khmer atau Kamboja. Musuh Campa yang paling laten dan lama ialah Vietnam. Vietnam menyapu bersih wilayah kerajaan Campa yang tersisa, yaitu Pandurangga, pada tahun 1834 M.

Peta yang cukup tua yang mencantumkan nama Campa ialah peta Gerhard Mercator, yang dibuat pada akhir abad ke-16 (1512-1594). Nama Campa sebagai suatu wilayah ternyata sudah ada dalam peta Asia tersebut dan letaknya di Vietnam sekarang, dekat dengan Kamboja.

Dengan uraian di atas, negeri Campa sebagai tempat kelahiran Raden Rahmat terletak di India Belakang menjadi jelas. Keragu-raguan terhadap letak Campa, apakah di India Belakang ataukah Aceh, dengan demikian dapat dihilangkan.

Nasab dari Garis Ayah
Delapan dari sembilan sumber tradisi tulis menyebutkan bahwa ayahanda Raden Rahmat bernama Ibrahim. Enam sumber di antaranya menyebut dengan tambahan Asmara. Sumber BN, BMPW, WSBP dan BTJ-GM menyebut dengan gelaran Seh, dua sumber lagi, yakni BTJNEW IND, menyebut Maulana dan sumber BTJ-Olthof dan BRM menyebut Makdum. Tambahan kata Asmara di belakang nama Ibrahim agaknya memang khas Jawa, bukan Arab.

Sumber tradisi BRM, BC, dan BTJNEW IND menyebutkan bahwa Seh Ibrahim Asmara berasal dari negeri Tulen, begitu juga Hikayat Hasanuddin dari Banten. Sumber BTJ-GM dan BMPW menyebutkan berasal dari Arab, sedangkan sumber lainnya tidak menyebutkan negeri asalnya.

Kata “Tulen” tidak jelas apakah suatu kota atau sebuah negeri. Demikian pula tidak ada penjelasan lebih jauh tentang Arab. Di mana letak Tulen tidak diterangkan. Begitu pula dengan kata Arab, tidak jelas letak sebenarnya, apakah wilayah Arab Saudi sekarang, Yaman, atau Hadramaut. Sumber BTJ-GM menyebutkan ayah Raden Rahmat masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Dan alHaddad menyebutkan gelarnya dengan al-Syarif.

Mencermati silsilah Raden Rahmat dengan metode persandingan dan perbandingan yang didukung oleh sumber yang cukup dengan berbagai variable, nasab Raden Rahmat dari garis ayah masih keturunan Nabi Muhammad SAW lewat koridor Sayyida Husain bin Ali KW. Hanya saja dalam dirinya tidak lagi berdarah Arab murni, melainkan sudah bercampur dengan darah dari bangsa atau etnis lain.

Ibu Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, empat sumber yang menyebutkan nama ibunda Sunan Ampel. Sumber BN menyebutkan nama Retna Sujinah, ESBP menyebut Retna Dyah Siti Asmara, BC menyebut Darawati, sedangkan BTJ-NBW/ND menyebut nama Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan. Mana nama yang sebenarnya sulit untuk menetapkannya. Nama-nama itu semuanya versi Jawa, tetapi semua sumber tradisi itu meyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat adalah puteri raja Campa.

Apa benar ibu Raden Rahmat puteri seorang raja? Agaknya tidak diperoleh keterangan data yang memadai. Penuturan sumber tradisi tentang ibu Raden Rahmat sebagi puteri “raja” Campa, boleh jadi memang harus diartikan lain, yaitu bukan sebagai raja dalam arti kata yang sebenarnya raja, melainkan seorang pemuka yang terhormat dari suatu komunitas di wilayah Campa. Penulis babad agaknya ada kecenderungan untuk mengangkat posisi tokohnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi.

Denys Lombard menyebut ibunda Raden Rahmat dengan “anak gadis seorang orang terkemuka setempat”. De Graaf dan Pigeaud menyebutnya dengan “seorang wanita dari keluarga baik-baik, keluarga bangsawan”. Sumber tradisi yang menyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat sebagai puteri raja agaknya sulit dibuktikan dengan data sejarah Campa.

Istri dan Kerabat Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, hanya empat sumber yang menyebutkan namanya. Tiga sumber menyebut nama Manila dengan gelaran yang berbeda, yaitu Nyai Gede Manila, Retna Siti Manila, dan Nyai Ageng Manila. Sumber BTJ-NBWIND menyebutkan nama yang sama sekali berbeda, yaitu Candrawati.

Berbagai sumber tradisi menyatakan baha istri Sunan Ampel berasal dari Tuban. Pada umumnya sumber tradisi memberitakan bahwa istri Sunan Ampel puteri Arya Teja. Ada sumber yang menyatakan bukan puteri Afya Teja, melainkan puteri Tumenggung Wila Tikta.

Tentang istri Sunan Ampel yang lain yang bernama Mas Karimah puteri Ki Bangkuning diberitakan oleh sumber BTJ-NBWIND. Sumber BMPW juga menyebutkan adanya istri lain selan istri dari Tuban, tetapi tidak menyebutkan nama dan orang tuanya.

Sumber tradisi Serat Kanda dan Sedjarah Dalem memberitakan bahwa Raden Rahmat puteranya banyak sekali. Putera-puteri Sunan Ampel yang paling banyak disebutkan oleh sumber tradisi tulis yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sedangkan putera-puteri Sunan Ampel lainnya adalah (1) Nyai Ageng Maloka atau Nyi Ageng Sluke. atau Tulaki, (2) Nyai Ageng Manyura atau Panyuran, (3) Siti Hafshah, (6) Nyi Ageng Wilis, (7) Asyiqah, (8) Alawiyah, (9) Mas Murtasyiyah, dan (10) Mas Murtasimah. Sedangkan menantu Sunan Ampel di antaranya Raden Paku atau Sunan Giri dan Raden Patah.

Kader
Sunan Ampel mempunyai banyak keturunan dan murid (santri) yang berabad-abad lamanya berjasa mengembangkan agama Islam, bukan saja di Jawa tapi juga di luar Jawa. Sunan Ampel sebagai perintis penyebar agama Islam di Jawa, agaknya sulit dibayangkan bahwa dia dengan mobilitas tinggi berkeliling kampung-kampung di seantero Pulau Jawa. Dia lebih banyak berperan sebagai pendidik kader, berbeda dengan Sunan Kalijaga yang terkenal dengan mobilitasnya sebagai juru dakwah di tengah-tengah masyarakat pedesaan.

Kader-kader yang ditempatkan oleh Sunan Ampel di berbagai tempat di Pulau Jawa itu kelak berhasil menyebarkan agama Islam secara setapak demi setapak. Kader generasi pertama membentuk kader generasi kedua, kader generasi kedua mendidik kader generasi ketiga dan seterusnya. Sebagai contoh dapat disebutkan kader generasi ketiga ialah Sunan Prapen, cucu Sunan Giri. Sunan Prapen dalam dakwahnya menyebarkan agama Islam ke Pulau Lombok, Sumbawa sampai ke Bima. Pendidikan kader diteruskan oleh kader-kader berikutnya sambung menyambung seperti diberitakan oleh beberapa sumber tradisi.

Di tempat masing-masing kader itu mendirikan surau atau masjid untuk menyebarkan agama Islam, kemudian berkembang menjadi pondok-pondok pesantren. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah pondok pesantren yang diasuh oleh Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Raden Patah. Tempat tinggal mereka berkembang menjadi sentra penyebaran agama Islam.

Di antara mereka, yang paling berhasil dan menjadi pendidik kader terbesar pada abad ke-16 dan 17 adalah Sunan Giri dan penerusnya. Raja Hitu atau Ternate yang bernama Zainal Abidin belajar di pesantren di pesantren Giri. Dia belajar di situ bersama perdana menterinya yang bernama Jamilu Sekembalinya dari Giri, Zainal Abidin membawa mubaligh dari sana. Sejak itu agama Islam tersebar di Ambon dan daerah-daerah lain seperti Tidore, Gilolo, dan Pulau Halmahera.

Di Surabaya sendiri pondok pesantren tertua yang masih tetap eksis sampai sekarang adalah pondok pesantren Sidosermo (Sidoresmo) sebelah timur Wonokromo. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ngusman Jabet (mungkin Usman Zuber). Dalam pesantren ini mulanya berkumpul 400 orang, ditampung dalam pondokan sebanyak 40 rumah.

Sunan Ampel sebagai tokoh sejarah telah berjuang melalui tiga jalur sekaligus, yaitu dakwah, pendidikan dan pembentukan kader. Dia juga guru para Wali di Jawa. Sunan Ampel temyata tidak hanya figure Wali pertama dan utama, tapi juga menjadi perintis pembangunan kota Surabaya yang dimulai dari menata lingkungan yang teratur, bersih dan indah di Ampeldenta, Ampeldenta dan sekitarnya tumbuh. (bud)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 18, Juli – Agustus 2004, hlm. 40

Sunan Ampel

-1994-1995-
Riwayat Hidup Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah seorang Mubaligh yang muncul hampir bersamaan dengan Maulana Malik Ibrahim, jadi boleh dikatakan sebagai Wali yang seangkatan dengan Maulana Malik Ibrahim. Sunan Ampel ini membangun pondok pesantren di Ampel Denta, dekat kota Surabaya dan berdakwah di daerah sekitarnya. Nama mudanya ialah Raden Rakhmat, dan nama lengkapnya ialah Ali Rakhmatuliah. Riwayatnya yang pasti tidak diketahui tetapi konon beliau dilahirkan di negeri Campa pada sekitar tahun 1401 M kemudian mengembara untuk menemui saudara sepupunya bemama Aria Damar yang bermukim di Palembang. Aria Damar kemudian juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Aria Abdillah. Mengenai nama Campa, bisa berada di wilayah Kamboja (menurut pengertian Encyclopaedia van Nederlandsch Indie) dan menurut Raffles bisa pula sebagai nama tempat di Aceh yaitu Jeumpa. Konon Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Asmarakandi yang menjadi raja di Campa dan wafat tahun 1425 tetapi dimakamkan di Tuban, Jawa Timur.

Sunan Ampel kawin dengan wanita Tuban bernama Nyai Ageng Manila, perkawinannya menghasilkan 4 orang putera puteri yaitu :
1). (Puteri) Nyai Ageng Maloka
2). Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
3). Syarifuddin (Sunan Drajat)
4). (Puteri),  sebagai isteri Sunan Kalijogo

Di Jawa Sunan Ampel  bermukim di daerah Surabaya, beliau hidup sederhana dan berdakwah dengan nafas “Jawa” walaupun dakwahnya menggunakan bahasa Arab. Dakwah pokoknya ialah memberikan penjelasan mengenai makna dan tafsir dari istilah bismillah, alhamdulillah, astaghfirullah dan syahadatain. Murid-muridnya sangat banyak dan nantinya akan meneruskan perjuangan Sunan Ampel di sektor keagamaan. Di antara muridnya yang terkenal ialah Raden Paku yang kemudian digelari sebagai Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi sultan pertama di kerajaan Islam di Glagah Wangi (kemudian bemama Bintoro Demak) dan diberi gelar Sultan Alam Akbar Al Fatah, Raden Makdum Ibrahim (putera Sunan Ampel) yang kemudian digelari orang sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin (puteranya sendiri) yang kemudian diberi gelar Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke Blambangan untuk meng-Islamkan masyarakat disana.

Sunan Ampel  menjadi pejuang sejati yang meneruskan cita-cita Maulana Malik Ibrahim. Penobatan Raden Patah menjadi sultan di Demak adalah usaha Sunan Ampel dalam rangka peng-Islaman. Juga pendirian Masjid Agung Demak dibantu oleh Sunan Ampel pada sekitar tahun 1351 Saka atau 1429 M.

Ketika Sunan Ampel wafat, kematiannya sangat menyedihkan bagi umatnya dan ditangisi sepanjang upacara pemakaman. Pemakaman Sunan Ampel itu dihadiri oleh para wali lainnya seperti Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Beliau dimakamkan di sebelah kanan masjid Ampel Denta. Tanggal wafatnya kurang jelas. Menurut Serat Kanda, wafatnya dinyatakan dengan candrasangkala: “awak kalih guna iku” yang nilainya 1328 (dibaca dari belakang),  jadi pada tahun 1328 Saka atau 1406 M (lihat Brandes; Pararaton, dalam VBG XLVII, 1896:199). Menurut pendapat Sidi Gazalba, Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M (lihat Gazalba : Masjid, 1982 : 256, Jakarta : Pustaka Antara)

Bangunan Makam
Lokasi makam Sunan Ampel terletak di dalam kompleks Masjid Jami Ampel di Surabaya. Di depan kompleks makam ada pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Di arah kaki (bagian selatan) ada pintu yang dapat dibuka dan ditutup yang dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya dibuat bersusun 4 tingkat dan nisannya bagian atas berbentuk seperti daun teratai. Pada sisi jirat bagian selatan dituliskan keterangan tentang diri Sunan Ampel dalam aksara latin.

Makam ini dilindungi oleh tembok keliling tebalnya dan kuat tetapi tanpa atap, jadi selalu kepanasan di siang hari dan kehujanan bila musimnya tiba. Mungkin hal ini merupakan amanat dari Sunan Ampel kepada murid-muridnya untuk membuatkan makam tanpa atap pelindung. Seluruhnya ada tujuh kelompok makam yang semuanya berada di belakang masjid Ampel yang keterangannya demikian:
1). kelompok makam Sunan Ampel, punya pintu gerbang sendiri, terletak di barat-laut masjid,
2). kelompok makam mBah Sonhaji dan para syuhada 1974 (korban kecelakaan pesawat jamaah haji),
3). kelompok makam lama yang tak dikenal,
4). ruang juru kunci,
5). kelompok makam para Bupati dan Angkatan 45,
6). kelompok makam mBah Saleh,
7). kelompok makam mBah Abdurrahman.

Hiasan Makam
Makam Sunan Ampel tergolong sederhana. Bentuk nisannya seperti daun teratai, lainnya biasa saja. Hiasannya terpusat pada gapura dan masjidnya. Hiasan di atas gapura berupa motif bunga dan suluran. Pada dinding gapura sisi dalam ada hiasan medali dan bintang segi delapan. Pada masjid Sunan Ampel, mimbarnya dihiasi motif garuda; plengkung mimbar dihiasi medalion dan daun-daunan serta matahari Majapahit.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Makam-makam Wali Sanga di jawa,  Departemen pendidikan  Dan Kebudayaan, Oleh: Dr. Machi Suhadi/dra. Ny. Halina Hambali,  1994-1995, hlm.44-46,