Masjid Jamik Sunan Giri

Masjid Jamik Sunan Giri ini berada di wilayah Gresik, 20 km dari kota Surabaya dan terletak di Kampung Sunan Giri, Kelurahan Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kotamadia Gresik, Provinsi Jawa Timur. Masjid Jamik Sunan Giri berbatasan dengan pabrik PT Semen Gresik sebelah utara, sebelah selatan dengan jalan raya, sebelah timur dengan pemukiman penduduk, dan sebelah barat berbatasan, dengan pemakaman. Masjid berdampingan dengan kompleks makam Sunan Giri di Bukit Giri. Untuk mencapainya harus menaiki tangga sebanyak 105 buah.

Masjid Jamik Sunan Giri merupakan kompleks paling besar diantara masjid-masjid di Gresik. Luas lahan tanah 3.000 m2 dengan luas bangunan 1.750 m2. Kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang terbuat dari beton. Pintu gerbang tersebut mempunyai ukuran panjang 95 cm, lebar 1,5 m dan tinggi 3,5 m. Kompleks masjid terdiri atas ruang utama, serambi, dan bangunan lainnya.

Ruang utama
Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding. Keempat buah dinding masjid tersebut terbuat dari tembok dan berdiri di atas pondasi setinggi 0,7 m. Tebal dinding 0,9 m, tinggi 6 m. Dinding utara dan selatan masing-masing tiga buah jendela. Pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Pada ruang utama lama terdapat juga tiang-tiang yang berjumlah empat buah dengan empat persegi.

Pada setiap dinding terdapat pintu-pintu dengan susunan sebagai berikut: satu buah ditengah sebagai pintu masuk dengan tiang empat persegi. Pintu utama diapit oleh dua buah tiang kiri-kanan. Pada bagian atas dibuat berlapis-lapis sehingga menyerupai pelipit. Jendela pada ruangan berada pada dinding barat dan utara saja. Jumlahnya ada enam buah dan masing-masing berukuran 1 x 3 m. Sedangkan daun jendela berupa kayu berukir. Jendela dilengkapi pula dengan teralis besi berjumlah enam buah berwama kuning berhias bulatan.

Ruangan ini terdapat tiang sokoguru atau tiang utama dan tiang penopang lainnya. Jumlah tiang secara keseluruhan adalah 16 buah. Sembilan buah merupakan tiang utama sedangkan sisinya merupakan penopang. Tiang utama berbentuk bulat. Bagian tiang penopang maupun tiang utama dilapisi porselin berukuran tinggi 30 cm.

Mihrab
Seperti masjid tua lainnya, Masjid Agung Sunan Giri memiliki mihrab yang merupakan sebuah ruangan yang menonjol keluar disisi barat, berukuran 1,5 x 1,2 x 3,5 m. Berbentuk ruangan kecil yang terbuat dari beton dengan dua buah tiang persegi empat berwama coklat tua tanpa hiasan. Dinding belakang pengimanan terutama pada bagian atas terdapat kuncup teratai. Atapnya terbuat dari semen dan berbentuk limas melengkung. Pada sudut-sudutnya terdapat tonjolan seperti mahkota. Tonjolan ini melengkung ke arah ujungnya seperti tanduk kerbau.

Mimbar
Mimbar mempunyai ukuran 1,3 m x 80 cm x 3,5 m. Menuju ke atas mimbar dijumpai pipi tangga yang yang juga berhias empat persegi panjang. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar atas terdapat tiang persegi empat yang menopang puncak mihrab. Pada tiang mimbar ini dilapisi emas.

Serambi dan teras
Serambi terletak di sisi utara dan selatan masjid yang menyatu bangunan ruang utama. Di dalam terdapat ruangan berukuran 25 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding barat. Kalau ingin menuju ke serambi dan teras tersebut terlebih dahulu menaiki anak tangga sebanyaklimabuah.

Bangunan lain
-Tempat wudhu dan WC
Tempat untuk mengambil air wudhu berjumlah dua buah yang berada di sebelah sisi timur menyatu dengan masjid berukuran 10x 2 x 6 m dan di sebelah utara tempat untuk mengambil air wudhu terpisah dengan masjid berukuran 5 x 2 x 4 m. Kedua tempat yang terpisah tersebut dapat dibedakan antara tempat pria dan wanita dan juga terdapat WC umum yang berada di sebelah utara.

-Bangunan pendopo
Bangunan ini berada di timur masjid. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m, mempunyai tiang penyangga sebanyak dua buah yang terbuat dari kayu. Pendopo tersebut berbentuk empat persegi panjang. Pendopo tersebut dihiasi oleh keramik berwama putih polos. Di samping kanan terdapat ruangan untuk menyimpan bedug.

-Makam
Di daerah Gresik juga masih terdapat suatu kompleks makam diantaranya yang terkenal ialah makam Sunan Giri. Makamnya terdapat dalam suatu cungkup yang diberi ukiran dengan warna cat-cat asli (sebagian cat baru). Bentuk kubur maupun nisan-nisannya juga masih menunjukkan corak seni pahat klasik. Kita ketahui bahwa makam terutama adalah makam Sunan Giri hanya berdasarkan tradisi. Meskipun, demikian segi ilmu purbakala bentuk nisan dan kubumya masih menunjukkan kekuasaan dari sekitar abad 16. Kecuali itu dimana terdapat masjid kuno yang telah mengalami perubahan-perubahan. Bentuk arsitektumya tetap menunjukkan corak asli. Pintu gerbang pintu gerbang yang dibuat dari batu bata menunjukkan bentuk candi-candi bentar seperti pernah didapatkan pada zaman Majapahit. Tempat ini terkenal terutama sejak Sunan Giri (kemudian Sunan Prapen), sebagai tempat pesatren yang pengaruhnya sampai ke Maluku. Di sebelah barat masjid terdapat makam Muhammad Ainul Yaqin, Raden Paku, Raden Samudra, dan Prabu Satmoko.

– Latar Sejarah
Masjid Jamik Sunan Giri dibangun pada hari Ahad, 14 Muharram 1277 H oleh H. Ya’kub, dan selesai pada hari Ahad Ramadhan 1277 H. Pendiri Masjid Giri ialah Kanjeng Sunan Giri pada tahun yang disebutkan dalam candrasengkala yang berbunyi Lawang Gapura Gunaning Ratu. Bangunan ini berdiri diatas sebuah bukit Kedaton Seda Sidomukti yaitu suatu tempat dimana Kanjeng Sunan Giri berdiam dan memimpin Pesantren. Baru pada tahun 1407 S (menurut Candrasengkala berberbunyi Pendito Nepi Akerti Ayu) secara resmi oleh beliau dijadikan masjid jamik.

Masjid Jamik Sunan Giri didirikan telah lima kali mengalami perombakan dan penambahan serta pengecetan ulang. Terakhir dipugar pada tahun 1950 M oleh Panitia Kesejateraan Makam dan Masjid Sunan Giri, pada tabun 1975 pemah dilakukan pengecetan dan perbaikan atap, tiang-tiang masjid Sunan Giri oleh  PT. Semen Gresik.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh Dian K dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.181-183, Deposit : CB-D13/1999-339.

Sunan Giri, Gresik

Al-Kisah Prabu Brawijaya V penguasa kerajaan Majapahit diserbu oleh Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Prabu Brawi­jaya gugur dalam pertempuran sengit mempertahankan ibukota Majapahit. Sementara itu Ratu Dwarawati mengungsi ke Ampel­denta.

Karena penguasa Majapahit yang sah telah tiada, sedang Prabu Girindrawardhana dari Kediri bukanlah dari keturunan Raden Wijaya pendiri Majapahit, maka Sunan Giri memproklamasikan daerah bukit Giri sebagai kerajaan yang berdaulat. Kabar itu terdengar pula oleh Prabu Girindrawardhana. Sang Prabu kemudian mengirimkan dua senopati Telik Sandi yang telah terlatih untuk datang ke bukit Giri untuk membunuh Sunan Giri.

Kedua Senopati itu ialah Lembusura dan Keboarja. Keduanya memiliki kesaktian tinggi dan berpengalaman dalam tugas-tugas rahasia menumpas musuh negara. Keduanya segera berangkat ke Giri Kedaton atau kerajaan Giri. Untuk memasuki keraton Giri keduanya membutuhkan waktu yang lama. Mereka harus memperoleh keterangan- keterangan lengkap mengenai kebiasaan Sunan Giri. Untuk itu keduanya menyamar sebagai penduduk biasa dan bertanya kepada para santri tentang kebiasaan Sunan Giri.

Pada suatu malam, setelah memperoleh cukup data, kedua Senopati pilihan itu telah berhasil menyusup ke wilayah Giri Kedaton. Keduanya bersembunyi di sebuah kolam yang biasa dipergunakan Sunan Giri untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat Tahajjud. Langkah beliau terhenti manakala melihat dua orang menghadangnya di tepi kolam. Senopati Lembusura dan Keboarja telah siap dengan keris terhunus. Tapi sungguh aneh, kedua Senopati itu mendadak tubuhnya menggigil ketakutan. Ada perbawa agung yang keluar dari pribadi Sunan Giri. Perbawa aneh yang melumpuhkan otot dan tulang- tulang mereka.

‘Kalian ini mau apa?’, tanya Sunan Giri.

Aneh, Keboarja sedianya hendak berbohong tapi justru lidahnya mengatakan hal yang sebenarnya, demikian pula Lembusura.

‘Kami adalah utusan Prabu Girindrawardana yang ditugaskan untuk membunuh Andika’, jawab keduanya dengan gemetar .

“Kalau begitu laksanakanlah’, ujar Sunan Giri dengan tenangnya.

“Am….ampun Kanjeng Sunan….tubuh kami gemetaran, kami merasa takut kepada Andika. Mohon ampun….kami mohon jangan dibunuh’.

‘Lho?. Kalian ini aneh. Bukankah kalian bermaksud membunuhku?. Mengapa justru kalian yang takut kepadaku’, tanya Sunan Giri

‘Kak….kami.. .mohon ampun….’, kata kedua Senopati itu tersendat- sendat.

‘Baiklah, kalian sebaiknya pulang ke Majapahit.Beritahukan hal ini kepada rajamu’, kata Sunan Giri.

Dengan hati lega kedua orang itu segera ambil langkah seribu, berlari menuju kota raja Majapahit. Prabu Girindrawardhana heran melihat kedua Senopati yang sangat diandalkan itu lari terbirit-birit bagai dikejar hantu. Lebih heran lagi manakala mendengar penuturan pengalaman keduanya saat berada di Giri Kedaton.

‘Gila !’, pekik Prabu Girindrawardhana. ‘Sudah di hadapan orangnya kalian ternyata tak mampu membunuhnya?’

‘Beb…benar, Gusti Prabu….tubuh kami gemetar. Kami merasa ketakutan teramat sangat’

‘Aneh ? Benar-benar aneh….’gumam Prabu Girindrawardhana.

Tapi usaha sang Prabu tidak berhenti sampai di situ saja. Segera sesudah mendengar laporan Lembusura dan Keboarja sang Prabu memerintahkan Mahapatih Majapahit untuk mengumpulkan bala tentara ke Giri Kedaton. Ribuan tentara Majapahit bergerak menuju Giri. Penduduk di sekitar Giri Kedaton ketakutan melihat jumlah tentara Majapahit yang besar itu. Mereka berlarian menuju puncak gunung. Sementara itu Sunan Giri juga sudah mengetahui datangnya pasukan Majapahit dalam jumlah yang besar. Namun beliau hanya bersikap tenang-tenang saja. “Bukan aku yang mencari perkara, tapi mereka sendiri yang menyerang lebih dahulu ke Giri Kedaton”, ujar Sunan Giri sambil memperhatikan pasukan Majapahit dari atas bukit.

Sementara itu laskar Majapahit sudah hampir mendekati kaki gunung, Sunan Giri bersabda: ‘Dimen kelede-leden segara disik, aja nganti bisa munggah ing arga….’. Mendadak sawah-sawah di depan dan di kanan-kiri serta di belakang lasykar Majapahit berubah menjadi lautan. Lasykar Majapahit yang berjumlah ribuan orang tak mampu bergerak. Mereka hanya berdiam diri di tempatnya.

Keadaan itu berlangsung hingga berhari-hari sehingga para prajurit Majapahit banyak yang menderita kelaparan. Sunan Giri tiada sampai hati melihat penderitaan para prajurit itu. Dari atas bukit tiba-tiba berjatuhan umbi- umbian semacam ketela, bentul, dan lain-lain. Lautan yang tadinya mengepung lasykar itu pun akhirnya lenyap, berubah kembali menjadi sawah. Para prajurit Majapahit yang tadinya patah semangat dan lumpuh karena kelaparan itu sekarang bersorak-sorai. Mereka melahap makanan yang seperti didatangkan dari atas bukit.

Setelah prajurit-prajurit itu segar kembali mereka bermaksud kelanjutkan perjalanan ke atas bukit. Rencana menyerang Giri Kedaton mereka lanjutkan.

Ayo, serbu…. hancurkan Giri Kedaton….!’, demikian pekik Mahapatih Majapahit memberi komando. Lasykar dalam jumlah besar itu pun mulai bergerak menaiki bukit.

‘Hem, benar-benar tidak tahu diri’, ujar Sunan Giri

dari atas bukit. ‘Diberi hati meminta rempela ….’

‘Sunan Giri kemudian melemparkan kalarnnya (sejenis pena tulis). Ajaib. Kalam itu berubah menjadi keris, namanya Kalamunyeng. Keris itu melayang-layang dan menusuk prajurit-prajurit Majapahit, sehingga satu per satu prajurit Majapahit berguguran.

Meski demikian Mahapatih Majapahit masih belum jera. Dia masih memerintahkan lasykarnya untuk mendaki bukit dan menghancurkan Giri Kedaton.

‘Hem, benar-benar keras kepala’, ujar Sunan Giri.

Lalu Sunan Giri mengambil segenggam pasir, dilemparkan ke bawah bukit. Pasir itu tiba-tiba berubah menjadi ribuan tawon ganas, menyengat para prajurit Majapahit, sehingga mereka cerai-berai, berlarian tunggang-langgang. Akhirnya lasykar Majapahit kembali ke ibukota dengan menderita kekalahan”.

M.B. Rahimsyah, hlm. 50-56. dalam Makam-makam wali songo

Makam Giri, Gresik

Ziarah Sunyi di Makam Giri

Tak bisa dipungkiri, wisata makam makin digemari. Karena banyak masyarakat sudah makin resah dengan Kehidupannya.

Gemeremang dzikir menyelimuti sudut-sudut makam Sunan Giri. Segenap peziarah berada dalam sikap takzim menghantarkan doa-doa. Tak ada suara berisik kecuali sayup-sayup terdengar lantunan kalam Illahi. Sejurus kemudian mereka masuk dalam suasana ekstase yang dahsyat di hadapan Yang Maha Agung. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kian gersang ziarah ke makam wali. Kerap menjadi pilihan. Begitulah. Suasana makam Sunan Giri yang terletak di Giri Kedaton di kawasan Kebomas Gresik, tak pernah benar-benar sepi. Peziarah datang silih berganti, sendirian, sekeluarga, serombongan dari berbagai daerah. Mereka datang jalan kaki, naik kendaraan pribadi, atau carter bus lewat travel agency. Siang itu, sehabis mengambil air wudlu, Ali Aziz, 36 tahun, langsung masuk ke dalam bangunan di mana Sunan Giri dimakamkan. Ia datang bersama isteri dan anaknya yang baru berusia 2,5 tahun. Ali Aziz mengenakan kemeja putih, bersarung, dan berkopyah. Isterinya, Radliyah, mengenakan jilbab putih sambil menggendong anaknya.

Mereka pun segera bersimpuh di sisi makam dengan khidmat. Setelah setengah jam kemudian mereka keluar untuk melanjutkan perjalanan. Kunjungan kali ini dianggapnya istimewa karena hanya selang tiga hari setelah haulnya Sunan Ciri yang ke-500. Acara haulnya sendiri biasanya diadakan setiap Jumat di bulan Maulid Akhir, yang kali ini bertepatan tanggal 28 April 2006. “Ini hari ketiga saya berkunjung ke sini sejak haul diadakan Jumat kemarin. Saya tidak bisa berlama-lama setelah punya anak kecil. Tidak seperti dulu. Kalau dulu saya bahkan bisa menginap sampai tiga hari suntuk saat haulnya Mbah Sunan. Sekarang saya lihat sudah jarang orang menginap di sini,” ungkap pria asal Manyar Gresik.

Meski demikian, sambungnya, ia selalu melazimkan diri untuk ziarah ke makam Sunan Giri hampir setiap minggunya. Diupayakan setiap kunjungan selalu bersama keluarganya, termasuk anaknya. “Saya ingin mengajari anak saya sejak dini untuk mengenal lebih dekat dengan para wali. Sebab, terhadap wali kan tidak cukup hanya mengetahui saja. Bagi saya, anak-anak perlu mengetahui tempat makamnya, mengirim doa di situ, dan mengharap berkah Allah. Ini perlu dibiasakan,” tandasnya. Ditambahkan, kebiasaan yang dilakukannya seperti itu sarna seperti yang dilakukan keluarganya dulu. “Bapak saya dulu sering mengajak saya berkeliling ke makam-makam para wali. Sehingga, saya pun terbiasa berziarah seperti ini,” ucapnya.

Tak heran, ziarah yang dilakukan Ali Aziz bukan hanya di satu tempat atau di makam Sunan Giri saja. Ia juga kerap menyempatkan diri ke makam-makam lainnya di Gresik maupun daerah lainnya. Baik orang yang dimakamkan itu ada hubungan dengan Sunan Giri atau tidak. Dalam perjalanan kali ini saja, katanya, ia akan melanjutkan ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim. Di waktu lain ia juga mendatangi makam-makam wali di Tuban, Surabaya, atau Pasuruan. Hari itu, selain Ali Aziz sekeluarga, banyak datang peziarah lain silih berganti. Ada sekitar tujuh anak-anak remaja putri, dua pasang keluarga bersama bayinya, dua pasang keluarga lainnya dengan dandanan modis, dan serombongan peziarah yang berjumlah sekitar dua puluh orang yang sebagian besar perempuan.

Suyanto, 52 tahun, ketua rombongan dari Mojokerto mengatakan, rombongan itu datang menggunakan bus yang dicarter khusus. Rombongan ini datang agak siang karena sebelumnya mampir dulu ke makam Troloyo, Mojokerto. Mereka, yang rata-rata sudah sepuh itu, tampak tak menggubris teriknya mentari. Rombongan ini langsung memilih tempat di sisi timur makam Sunan Giri. Mereka duduk di sela-sela makam lainnya yang juga dinaungi cungkup. Suyanto kemudian memimpin baca surat Yasin dan dilanjutkan tahlil, sebagaimana banyak peziarah membacanya. Sehabis itu, mereka tak segera beranjak. Mereka duduk-duduk dulu sambil selonjorkan kaki, melepas lelah. Ada yang tetap khusyuk, ada yang bercengkerama dengan temannya, dan ada yang langsung berdiri untuk melihat lingkungan sekeliling.

Meski diakui, kunjungan ke makam ini bukan kali pertama. Tapi bagi mereka, kunjungan dengan berombongan seperti itu berarti pula sebagai ajang rekreasi. “Apalagi kalau kunjungannya hanya ke satu atau dua tempat, maka kami bisa berlama-lama menikmati keadaan sekitar,” imbuhnya. Mereka juga rata-rata membawa bontotan makanan sendiri. Alasannya, kata Suyanto, dengan membawa makanan sendiri, mereka tak perlu repot mencari makan siang. Begitulah enaknya, tambahnya, kalau perjalanan ziarah ke lokasi yang dekatdekat saja. Kalau perjalanan ziarah ke makam wali songo yang mencapai beberapa hari. “Paling-paling kita hanya membawa jajan saja,” tukasnya.

WISATA ANDALAN
Jumlah kunjungan ziarah ke makam Sunan Giri, seperti hari itu, memang tak cukup banyak. Menurut M. Hasan Azhar, 55, Sekretaris Yayasan Sunan Giri, paling-paling antara lima puluh hingga seratus pengunjung. Mereka datang dari daerah yang dekat dengan wilayah Gresik. Berbeda dengan hari libur, Jumat Sabtu-Minggu, yang jauh lebih banyak Mereka yang datang bisa dari seluruh Indonesia. Apalagi saat haul, pengunjungnya bisa mencapai ribuan orang. “Kalau dihitung mungkin mencapai ratusan bus rombongan yang datang. Mulai dari sebelum hingga hari haul diadakan” ungkapnya. Karena, selama seminggu diadakan serangkaian acara dalam rangka memeringati Haul Sunan Giri yang ke-500 tahun.

Acara yang diadakan diantaranya, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) se Kecamatan Gresik yang diikuti 112 peserta pada 22 April. Kemudian, pada 26 April khataman Al-Quran dan pengajian untuk ibu-ibu. Disusul kemudian acara yang sama untuk bapak-bapak sehari berikutnya. Pada hari berikutnya, dilakukan tahlil akbar dan pengajian umum yang juga dihadiri para ulama, para pemangku makam, dan bupati. Kemudian acara haul itu ditutup dengan penampilan hadrah yang melibatkan anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah) se-Jawa Timur. Selama seminggu itu, Hasan  mengira, jumlah pengunjung bisa mencapai puluhan ribu orang.

“Mereka datang memang untuk mengikuti acara-acara itu, atau semata-mata ingin ziarah di hari baik tepat pada haulnya Sunan Giri. Macam-macamlah perilaku mereka,” tuturnya. Namun, harapnya, selain hari-hari tertentu seperti haul, hari-hari lain juga tetap banyak kunjungan. Sebab, demikianlah yang juga diharapkan pemerintah. Seperti diceritakan Hasan, beberapa waktu sebelumnya para pengelola wisata makam sempat dikumpulkan pemerintah di Semarang. Intinya, para pengelola makam se Indonesia diharapkan mampu mendongkrak pemasukan, entah bagaimana caranya. Peningkatan pemasukan ini ditekankan mengingat obyek-obyek wisata lain sedang lesu. Obyek wisata alam, misalnya, belakangan dihantam bencana bertubi-tubi. Imbasnya, pendapatan dari obyek wisata ini mengalami penurunan drastis.

Anehnya, katanya, mengapa wisata makam yang ketiban sampur untuk memenuhi target pendapatan daerah, ketika obyek wisata lain sedang minus. “Padahal, kita tidak jual produk. Orang datang ke sini kan untuk ziarah. Terserah masyarakat mau ziarah atau tidak. Tidak bisa ditarget-target sebenarnya,” tandasnya. Masih untung, ungkapnya, pihak yayasan mendapat bantuan dari Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur. Ceritanya, sebelum pemilihan gubernur, Imam Utomo sering ziarah ke makam Sunan Giri. Sebelum pulang ia sempat melihat bangunan kecil di sisi selatan makam yang dipakai pengelola sebagai kantor. Kontan ia memerintahkan anak buahnya untuk segera membantu, dan bangunan itu direhab menjadi kantor yang representatif.

Jauh setelah itu, Imam Utomo kembali memberi bantuan untuk membangun musholla wanita di sisi barat makam. Pembangunan musholla itu, ungkapnya, rnenghabiskan biaya senilai Rp 100 juta lebih. “Kami hampir tidak ikut mengeluarkan uang sepeser pun untuk membangun musholla tersebut,” ucapnya.  Sebagai tempat wisata alternatif, sambungnya, penambahan fasilitas seperti itu memang dibutuhkan. Agar masyarakat bertambah nyaman berkunjung ke makam Sunan Giri. “Tak bisa dipungkiri, wisata makam makin digemari. Karena banyak masyarakat sudah makin resah dengan kehidupannya. Orang yang kehidupannya pas-pasan memang yang banyak ke sini. Tapi, tak sedikit orang kaya atau pejabat yang juga dating berziarah,” kesannya.  husnul rn/foto: m ismuntoro

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, Juni 2006, hlm.25

 

 

Sunan Giri

-1994/1995-
Riwayat Hidup Sunan Giri
Nama kecilnya ialah Raden Paku tetapi juga dikenal dengan nama Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah putera dari Maulana Ishak dari Blambangan, Jawa Timur. Sebagaimana ayahnya maka Raden Paku ini juga berguru kepada Raden Rakhmat alias Sunan Ampel. Beliau belajar bersama Maulana Makdum Ibrahim, putera Sunan Ampel tetapi juga sekaligus sebagai murid Sunan Ampel. Jika Raden Paku nanti bergelar Sunan Giri maka Maulana Makdum Ibrahim nanti bergelar Sunan Bonang.

Baik Raden Paku maupun Maulana Makdum Ibrahim keduanya nenuntut ilmu ke Pasai kemudian ke Malaka. Di Pasai keduanya belajar tentang tasawuf dan tauhid. Di Malaka kedua murid dari Gresik ini diterima dengan baik oleh Maulana Ishak (Syeikh Awwalul Islam). Mereka berdua belajar sebentar karena keduanya termasuk kelompok kaum kasyaf yang sering mendapatkan ilmu landuni secara gaib sehingga guru-gurunya di Pasai memberikan nama kepada mereka sebagai “Ainul Yakin“.

 
Raden Paku alias Syeikh Ainul Yakin menikah dengan puteri Sunan Ampel yang bemama Dewi Murtasiah dan bermukim di Giri. Sebagai basis pendidikan dan pembentukan kader yang tangguh maka didirikanlah pondok-pondok pesantren. Dalam waktu singkat Giri menjadi pusat pendidikan Islam yang handal dan murid-muridnya datang dari segala penjuru tanah air, antara lain dari Madura, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Hitu, Temate, Tidore, dan Halmahera. Pengaruh ajaran Sunan Giri meluas ke wilayah Nusantara di luar Pulau Jawa. Dalam mengajarkan Islam beliau mengembangkan teknik khusus yang intinya: “dapat mengalahkan musuh tanpa membunuhnya”. Dalam ajaran kejawen, ada pedoman hidup yang sangat luhur yaitu “sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake” (artinya: kaya tanpa harta, menang tanpa menghina lawan). Ajaran ini pernah dianut oleh R.M. Sosrokartono (kakanda dari R.A. Kartini).

Ajaran Sunan Giri lainnya berupa permainan anak-anak serta tembang-tembang yang diisi nafas keislaman. Beliau dikenal pula sebagai pencipta tembang Asmaradana dan Pucung.

Raden Paku wafat di Giri dan dimakamkan di sana pula. Oleh masyarakat beliau dikenal sebagai Sunan Giri. Generasi sesudahnya yang meneruskan pekerjaan almarhum di Gresik ialah Sunan Dalem, Sunan Sedeng Margi, dan Sunan Prapen. Ketika Sunan Prapen wafat tahun 1597, beliau digantikan oleh Sunan Kawis Guwa, kemudian oleh Panembahan Ageng Giri yang wafat tahun 1638 M. Penggantinya ialah Panembahan Mas Witana Sideng Rana yang wafat tahun 1660 M. Pangeran Puspa Ira meneruskan kegiatan di Giri atas perintah Amangkurat I Kekuasaan, kebesaran dan kharisma Giri runtuh ketika Amangkurat II yang bersekongkol dengan kompeni menyerang Giri pada tanggal 27 April1680 M (Salam 1960:39-40).

Bangunan Makam
Giri adalah sebuah desa berbukit-bukit yang termasuk wilayah Keeamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Di perbukitan Giri ada beberapa desa yaitu Giri, Sidomukti, dan Klangonan.
Lokasi makam Sunan Giri ada di Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas. Kompleks makam ini luas dan berada di ketinggian sekitar 30 m dari halaman tempat parkir kendaraan.
Bangunan makamnya berbentuk joglo, pintu ke dalam bangunan ini kecil dan sempit tetapi daun pintunya penuh ukiran yang rumit. Di dalam bangunan ini ada bangunan lebih kecil yang di dalamnya disemayamkan jazat Sunan Giri. Cungkup kecil yang melindungi makam Sunan Giri ini penuh dengan ukiran ragam hias suluran, daun dan bunga. Di ambang pintunya ada pahatan kala makara dan naga.

Hiasan Makam
Sekitar 30 cm di luar jirat dipasang “pagar” keliling dari kayu yang bentuknya seperti pelindung tempat tidur kayu. Jiratnya polos tetapi nisannya dibentuk seperti bentuk nisan umumnya. Pahatan atau ukirannya tidak begitu jelas. Makam ini ada di dalam kamar berpintu dan kamar ini berada di dalam bangunan cungkup yang besar. Bagian yang diberi hiasan indah justru dinding kamar makam dan pintu kamar makam.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : MAKAM-MAKAM WALI SANGA, Dr. Machi Suhadi/Dra. Ny. Halina Hambali, Proyek Pengmbangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan , 1994/1995, Hlm. 53-56.