Kabupaten Trenggalek Awal

Yang dlmaksud dengan Trenggalek Awal   ialah timbul tenggelam pemerintahan  yang mengemudikan kabupaten Trenggalek Peristiwa sebelum 1830 yang menggoncangkan pulau Jawa adalah peristiva pembunuhan penduduk Cina di Batavia secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh VOC pada tanggal 10 Oktober 1940  yang dikenal dengan nama perang Pacino atau geger Pacinan.

Akibatnya Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk Cina dan mengadakan penberontakan menyerang Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat dari peberontakan ini Sunan Paku Bumana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo, Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo Sunan Paku Buvana II berhasil menumpas peaberontakan tadi yang mengakibatkan putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Treng­galek pertama inilah yang bernama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh saudaranya sendirl Bupati Jayanagara yang merangkap penguasa tunggal di Sawo Ponorogo.

Waktu perang Mangkubumen, penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri dan mengikuti jejak Sultan Hamengkubuwana I. Pada akhrir peperangan Mangkubumen yang mencetuakan perjanjian fiiyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek dibagi menjadi dua bagian, bagian Timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian Barat serta Selatan termasuk kabupaten Pacitan. Hal inl dapat dlbuktlkan dengan diketemukannya tugu perbatasan dari batu yang terdapat didesa Gayam kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda. Susunan tata pemerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat diperkirakan kalau tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah kerajaan Mataram yang lain.

Pada tahun 1842 Bupati Trenggalek Raden Tumenggung Mangunnagoro meninggal dan digantikan oleh Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto yang sejak awalnya menjabat sebagai bupati Besuki. Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto pada tahun 1843 dipindahkan ke Berbek daerah Nganjuk, sehingga jabatan bupati daerah Trenggalek masa ini lowong, Untuk mengisi kekosongan ini diangkatlah Raden Ngabei Joyopuspo yang pada awalnya menjabat Patih Trenggalek menjadi bupati Trenggalek dengan gelar Raden Tumenggung Pusponagoro. Tidak selang lana Raden Tumenggung Pusponagoro wafat, sebagai gantinya diangkatlah Wedono Tulungagung : Raden Gondokusumo menantu Bupati Tulungagung se­bagai bupati Trenggalek dengan gelar Tumenggung Sumoadiningrat pada tahun 1845 M.

Secara berurutan Bupatl-bupati Trenggalek awal adalah sebagai berlkut :

Sumotruno                                        1743    –           …..

Joyonagoro                `                       …..     –           …..

Mangundirono`                               …..      –           …..

MangunnagoroI                              1830    –          …..

MangunnagoroII                            …..       –           1842

Aryokusumo Adinoto                     1842             1843

 Pusponagoro                                   1843               1845

Sumo diningrat                                1845              1850

Mangundiredjo                                1850               1894

Widjojokusumo                               1894                1905

Purbonagoro                                     1905     –         1932

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. 13-15

Makam Mbah Sunan Kuning, Tulungagung

Ritual Pesugihan di Makam Mbah Sunan Kuning Tulungagung, Jatim Kabulkan Permintaan Orang yang Kecingkrangan

Keberadaan sejarah makam tidak diketahui, namun masyarakat mempercayai yang sumare di dalam pusara itu adalah tokoh sakti yang sanggup mengabulkan  semua permintaan. Karena itulah banyak pelaku ngalap berkah hingga pemburu pesugihan melakukan ritualdi pusara ini.

DALAM penelusuran tempat- tempat mistik di kawasan Tulungagung, posmo mendapati sebuah makam misterius yang dijadikan sarana ngalap berkah para peziarah termasuk orang-orang yang gandrung memburu pesugihan gaib. Konon, setiap hari Kamis malam mereka menggelar atur sesaji dan ubarampe di pelata ran makam dengan sejuta hara-pan muncul agar setelah hajatan apa yang menjadi kehendak hati bisa terkabul. Itu adalah gambaran sekilas yang tampak di Makam Mbah  Sunan Kuning yang berada di Dusun Gajah, Desa Macanbang,    Kec. Ngondang, Tulungagung, Masyarakat setempat tidak begitu paham sejak kapan makam itu ada di desanya. Menurut penduduk setempat makam itu dulunya ada juru kuncinya, namanya Mbah Kandar. Setelah beliau  meninggal diganti oleh Mbah Mohammad Syaidin. Ketika beliau meninggal yang menjadi juru kunci sudah tidak ada lagi.

Setiap orang yang datang ke makam mempunyai maksud dan tujuan bermacam-macam. Bisa jadi, mereka ingin menjadi kaya atau agar masalah yang se­dang dihadapi selekasnya men­emukan jalan keluarnya. “Ban­yak tujuan orang yang datang ke makam. Biasanya mereka langsung nyekar lalu berdoa di makam,” jelasnya. Bahkan tak jarang peziarah menggelar selamatan di pela­taran makam. Dipercaya mer­eka yang datang dan menggelar selamatan merupakan orang-orang yang telah terkabul permohonannya, termasuk nazar dimu­rahkan rezekinya yang banyak diartikan sebagai ritual pesugi­han. Peziarah setelah melaku­kan ritual nyekar acap kali kem­bali datang untuk selanjutnya menggelar selamatan.

Tokoh Mataram
Siapa sejatinya Mbah Sunan Kuning? Sejarah tutur setempat menyebut, beliau hidup sekitar tahun 1500-an. Asalnya diya­kini dari tlatah Mataram. Aji ke­saktian yang dimiliki membuat beliau dikenal sebagai sosok yang pemurah. Suka membantu antarsesama sekaligus berjiwa dermawan.

Selanjutnya tak ada data resmi, apa sebab beliau sampai keplayu (melarikan diri) ke Tulungagung. Tetapi penduduk setempat meyakini, beliaulah yang mbabat alas ka­wasan Desa Lemahbang hingga pada akhirnya makamnya dite­mukan di desa tersebut.

Hajatan untuk mengenang jasa-jasa almarhum dilak­sanakan warga setiap malam Kamis, dengan mengambil tem­pat di pelataran makam. Cukup banyak yang datang. Saat bersa­maan, lazim terjadi masyarakat bertafakur di makam, memohon kemurahannya terkait dengan masalah yang dihadapi. Terma­suk meminta kelancaran rezeki bahkan ada yang menyebut ber­buru pesugihan.

Namun, menurut warga, semua itu berpulang pada hati masing-masing yang datang un­tuk berziarah. “Ya, kita sama-sama tidak mengerti, apa yang diminta oleh mereka,” menurut beberapa warga. Sebab, makam Mbah Kuning memang tidak ada juru kuncinya. Jadi setiap orang bebas datang kapan pun, demikian juga dengan per­mintaan yang disampaikan.■EDY WIENARTO

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, edisi 606,  29 Desember 2010