Tari Jaran Goyang, Kabupaten Banyuwangi

Sejarah Tari Jaran Goyan

jaran-goyang-1Tari Jaran Goyang adalah tari yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi yang dalam bentuk penyajian serta iringannya memiliki ciri khas berbeda dengan tari yang berasal dari daerah lain. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 yang diciptakan oleh group LKN Pandan, Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1969 tari jaran goyang di revitalisasi oleh bapak Sumitro Hadi seorang seniman Banyuwangi yang memiliki banyak karya tari hingga pada masa sekarang. (Bpk. Sumitro Hadi, 2 Maret 2016). Tari ini merupakan tari yang diciptakan dari sumber ilham tari Seblang dan Gandrung sehingga gerakan-gerakannya hampir sama dengan tari Seblang dan Gandrung. Jaran goyang terdiri dari kata jaran ‘kuda’, dan goyang ‘goyang, bergerak’. Dalam hubungan ini, apabila tiba-tiba terjadi seorang gadis menjadi tidak sadar karena “guna-guna”seorang jejaka dari jarak jauh, dikatakan bahwa gadis itu terkena jaran goyang.

Tari jaran goyang merupakan tari pergaulan pemuda pemudi yang menceritakan tentang cinta kasih pemuda pemudi. Namun di dalam kisah cinta tersebut terdapat rasa sakit hati seorang pemuda karena cintanya tidak di balas dengan baik, akibat ditolak cintanya maka sang pemuda sakit  hati sehingga muncul niat buruk sang pemuda untuk menggunakan aji jaran goyang. Aji jaran goyang adalah semacam pelet yang biasanya digunakan untuk menghipnotis seseorang agar tergila-gila. Akibat pellet yang telah mengenai sang pemudi maka posisi yang tergila-gila terbalik sang pemudi merayu-rayu menjadi tergila-gila kepada pemuda tersebut.  Akhirnya sang pemuda menerima cinta si gadis, dan mereka menjadi saling suka. Oleh karena itu tari ini merupakan tari berpasangan pemuda pemudi.

Tari ini berdurasi 7 menit, yang struktur penyajiannya dibagi menjadi, bagian awal muncul penari perempuan, bagian kedua muncul penari laki-laki dengan adegan sang pemuda menggoda si gadis tetapi sang gadis menolak, kemudian masuk adegan penggunaan aji  Jaran Goyang sebagai pelet untuk mendapatkan cinta sang gadis, setelah itu sang gadis tergila-gila bergantian mengejar sang pemuda yang terakhir akhirnya keduanya saling cinta dan selesai. Tari ini dalam musiknya terdapat lirik lirik lagu dengan menggunakan bahasa osing yang menjadi ciri khas tari Banyuwangi. Rias dan kostum dalam tari ini yaitu menggunakan rias cantik untuk penari putri dan untuk penari putra menggunakan rias putra alus.

Dalam riasnya tari ini tidak mengalami perkembangan dengan selalu menggunakan rias cantik, tetapi untuk kostum penari putri banyak mengalami perkembangan, pada tahun 1969 penari menggunakan kostum sederhana tetapi dalam perkembangan zaman dan selera masyarakat setiap penampilan dikreasikan dengan tetap berpedoman pada kostum awal terciptanya tari Jaran Goyang. Tari ini ditampilkan dalam acara hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan kesenian janger, dalam kesenian janger tari ini tidak selalu ditampilkan tetapi biasanya ada sesuai dengan permintaan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Tempat pertunjukan Tari Jaran Goyang juga mengalami penyempurnaan yaitu sekarang sering ditampilkan dalam gedung pada saat penutupan acara acara resmi serta acara agung seperti penyambutan Bupati di Kabupaten Banyuwangi, di lapangan pada saat acara Hari Jadi Banyuwangi, serta di panggung tertutup.

Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang

Bentuk penyajian Tari Jaran Goyang menurut bapak Sumitro Hadi (wawancara 2 Maret 2016) sebagai sesepuh dan penari tari Jaran Goyang pada tahun 1966 serta pimpinan Sanggar Tari Jingga Putih di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Beliau menuturkan bahwa bentuk penyajian tari Jaran Goyang versi dulu memiliki durasi cukup panjang jika dibandingkan dengan tari lain di daerah Banyuwangi yaitu selama 12 menit sedangkan tari-tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi yang biasanya hanya memiliki durasi yang tidak lebih dari 10 menit. Tari Jaran Goyang diciptakan pada tahun 1966 oleh group LKN Pandan. Tari Jaran Goyang pada versi dulu sangat sederhana, untuk gerak pada Tari Jaran Goyang mengambil gerak-gerak dalam tari yang sudah ada sebagai dasarnya yaitu dalam tari Gandrung, tetapi kemudian dikembangkan dan dikreasikan kembali.

Bentuk penyajian tari Jaran Goyang sangat sederhana, dengan gerakan yang diulang-ulang. Pada mulanya tari ini dibawakan oleh lebih dari satu pasang penari yang terdiri dari penari perempuan dan penari laki laki tetapi terdapat beberapa pasang penari dan tidak dibatasi jumlah maksimal penarinya. Bentuk penyajian pada masa dahulu yaitu pada saat satu pasang penari pertama muncul pada bagian awal, kemudian disusul pasangan-pasangan yang lain menari pada bagian akhir waktu gending ugo-ugo dimainkan, sehingga menjadikan durasinya lebih lama yaitu selama 12 menit jika dibandingkan dengan tari lain khususnya di Kabupaten Banyuwangi. Bentuk penyajian tari Jaran Goyang pada masa itu terdiri dari: gerak, desain lantai, musik iringan, tata rias, dan busana, dan tempat pertunjukan. Elemen-elemen pendukung tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak terlalu banyak dan terkesan sangat sederhana. Berikut ini adalah elemen-elemen pendukung pada tari Jaran Goyang antara lain :

  1. Gerak

Gerak tari Jaran Goyang didasarkan pada gerak ngrayung dan ngeber untuk penari perempuan yang dilakukan berulang-ulang. Geraknya masih bersifat sederhana. Untuk gerakan tangan dan kaki berubah-ubah tidak terpaku pada satu pola gerakan. Sedangkan untuk penari laki-laki didasarkan pada gerak bapang yang juga dilakukan berulang-ulang. Adapun gerak tangan dan kaki yang harus menyesuaikan dengan suasana dalam tiap adegan, karena dalam bentuk penyajian tarian ini tidak hanya mengandalkan gerakan penarinya saja melainkan sangat tergantung dengan ekspresi penari dalam membawakan cerita dalam tari ini, sehingga ada beberapa gerakan yang merupakan bagian dari akting penari perempuan maupun penari laki.

  1. Berikut adalah gerakan dasar tari Jaran Goyang untuk penari perempuan tahun 1969 Gerakan Sagah yaitu dilakukan dengan posisi badan mendhak kaki membentuk huruf T menyudut, arah badan kesamping kiri untuk sagah kiri dan jika sagah kanan arah badan kekanan. Gerakan ini menggambarkan perasaan sedih yang menangis karena sang pemuda menolak cintanya. Dengan kedua tangan njimpit sampur yang menutup separuh wajah, dan duduk bersimpuh.
  2. Gambar gerakan untuk penari laki-laki sebagai berikut: Gerakan yang dilakukan dengan tangan posisi bapang dan dan kaki tanjak kanan yaitu kaki kanan telapaknya menyudut lebih kedepan dari kaki kiri. Gerakan Langkah Telu yaitu langkah tiga-tiga dengan telapak kaki dipantulkan sambil diangkat.
  1. Iringan

Iringan atau musik dalam tari Jaran Goyang sangat sederhana. Selain itu iringan yang digunakan adalah musik eksternal yaitu music atau bunyi yang dihasilkan dari alat-alat musik pengiring seperti saron, kendang, triangle (kluncing), kenong, dan biola. Untuk alat musik yang digunakan menggunakan gamelan khas Banyuwangi dengan nada slendro. Durasi iringan tari Jaran Goyang pada masa dahulu lebih lama

selama 12 menit karena diulang-ulang (wawancara dengan Bapak Sumitro Hadi, 4 Maret 2016).

  1. Desain Lantai

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Uniati, 14 Maret 2016). Beliau mengungkapkan untuk desain lantai tari Jaran Goyang pada masa dahulu tidak memiliki pola khusus., karena penari hanya menari di atas panggung yang membentuk garis sejajar dan diagonal. Tari Jaran Goyang ditarikan berpasangan dan jumlah pasangan penari tidak ditentukan sehingga tidak ada pola lantai yang baku dalam penyajiannya.

Gambar pola lantai di atas merupakan pola lantai baku dalam tari Jaran Goyang yang jika ditarikan oleh 3 pasang penari. Selanjutnya pola lantai dapat dikembangkan oleh penata tari sesuai dengan keinginan, kapasitas panggung, serta jumlah pasangan penarinya.

  1. Tata Rias dan Busana

Tari Jaran Goyang pada masa dahulu rias yang digunakan sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok. Mamakai rias, busana, serta perlengkapan yang seadanya. Rias yang digunakan adalah rias cantik untuk penari perempuan. Busana yang dipakai penari perempuan pada saat itu adalah kebaya model kutubaru, dengan bawahan menggunakan jarik dengan motif gajah oling atau kain polos, serta sampur. Untuk rias

kepala menggunakan sanggul bali. Sedangkan penari laki-laki rias yang digunakan adalah rias putra biasa dan tidak mencolok. Dalam tata rias di daerah Kabupaten Banyuwangi untuk setiap tarian tidak menggunakan rias karakter, tetapi menggunakan rias secara umum baik laki-laki maupun perempuan. Sedangkan busana untuk penari laki-laki adalah menggunakan udeng, baju lengan panjang, celana dengan

panjang selutut, sampur yang diselempangkan, serta jarik motif gajah oling.

  1. Tempat Pertunjukan

Tempat pertunjukan tari Jaran Goyang dahulunya di acara hajatan, dan acara tahunan yaitu dalam memperingati hari kemerdekaan RI di desa Gladag Kabupaten Banyuwangi. Tempat pertunjukannya tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup tetapi juga dilakukan di ruang terbuka seperti teras rumah, atau halaman rumah warga. Karena pada saat itu menyesuaikan dengan acara yang diselenggarakan dan dimana terlaksanannya sebuah acara tersebut.

Perkembangan Tari Jaran Goyang

Sebagai tari rakyat asli Kabupaten Banyuwangi, Tari Jaran Goyang hidup dan berkembang di Desa Gladag. Tari Jaran Goyang telah mengalami perkembangan dalam beberapa periode yaitu pada tahun 1969, tahun 1990, tahun 2010 sampai 2016. Tiga (3) periode tersebut telah mengalami perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari gerak, desain lantai, iringan, rias dan busana, dan tempat pertunjukan.

——————————————————————————————-Nungky Retno Palupi (Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa Dan Seni)Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Jaran Goyang Di Desa Gladag Kabupaten Banyuwangi Dari Tahun 1969-2016. Universitas Negeri Yogyakarta 2016

Kesenian Glipang 2

 Bentuk penyajian/pertunjukan  kesenian Glipang.

Oleh karena kesenian Glipang adalah merupakan suatu jenis kesenian pertunjukan, maka bentuk dan jenis pertunjukan kesenian Glipang disesuaikan dengan selera masyarakat penonton atau pihak yang monyelenggarakan pertunjukan (penanggap) Glipang ini, misalnya tentang thema lakon/isi lakon serta waktu yang dikehendaki, Pada umumnya masyarakat penonton menyukai penyelenggaraan dengan waktu yang lama atau semalam suntuk.

Penyajian dengan memakan waktu yang lama ini sempat disajikan berulang-ulang bagian-bagian tertentu dari seni glipang ini yang diinggap penting atau digemari masyarakat yang menganggapnya bahwa pengulangan-pengulangan bagian-bagian tertentu dari seni Glipang ini dirasa memantapkan penyajian kesenian glipang dan kenikmatan selera penonton.

Sebagai akibat adanya aspek kemantapan ini, maka usaha-usaha menata seni glipang antara lain dalam bentuk pemadatan penyajian dianggap menyalahi aturan yang sudah berlaku dalam hal penyajian seni glipang.

Dalam penyajian kesenian glipang semalam suntuk terbagi atas tahap-tahapan sebagai bejikut :

Tahap I : Tari Ngremo Glipang ( Tari Kiprah Glipang ).

Tari ini morupakan bentuk tari yang digunakan untuk mengawali pertunjukan seni glipang.

Tahap II : Tari Kiprah Glipang.

Tari ini dibawakan oleh para penari pria, biasanya disertai penampilan seorang pelawak pria.

Tahap III : Tari Pertemuan.

Tari ini dibawakan oleh penari pria dan wanita dalam kompo- sisi berpasangan disertai dua orang pelawak pria dan wanita. Peraga penari wanita dibawakan oleh penari laki-laki/pria dan dalam adegan ini kedua pelawak berdialog lucu (melawak),

Tahap IV : Sandiwara drama ).

Membawakan ceritera tertentu dengan thema tertentu pula yang bernafaskan agama Islam.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Dramatari Topeng Jabung

Topeng JabungIstilah Topeng Jabung berasal dari nama tempat di mana kesenian ini berkembang, yaitu di Desa Jabung, di sekitar Kecamatan Tumpang. Penemuan bahwa di daerah ini masih terpelihara suatu kesenian topeng adalah suatu hal yang amat menggembirakan. Sekalipun di daerah-daerah lain juga ditemukan adanya kegiatan pertunjukan dramatari topeng, namun tidak ditemukan sebagaimana di Desa Jabung.

Desa Jabung terletak di sebelah timur jalan raya Malang – Singasari, di kaki gunung Manggungan pada ketinggian antara 500-600 meter di atas permukaan laut. Desa ini terletak lebih kurang 12 km. dari Singasari dan sekitar 19 km. dari kota Malang.

Drama Tari Topeng Jabung0002Masih dipeliharanya dramatari topeng di Desa Jabung itu dimungkinkan oleh adanya kepercayaan dan kebiasaan masyarakat Tengger yang masih menganut sisa-sisa kebudayaan Indonesia-Hindu. Masyarakat Tengger yang hidup di lereng Gunung Bromo itu menganggap bahwa menanggap pertunjukan wayang kulit adalah tabu. Oleh sebab itu, mereka selalu menyelenggarakan pertunjukan dramatari topeng. Cerita Panji merupakan lakon yang paling digemari di samping lakon Mahabarata dan Ramayana.

Dengan adanya kepercayaan yang demikian, maka kesenian dramatari topeng di Desa Jabung dimungkin­kan dapat terus berlangsung sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm.3

Tari Sorong Kasereng, Kabupaten Sampang

Tari Sorong Kasereng, Ekspresi Syukur Anak Nelayan

Tari Sorong001Tari Sorong001MASYARAKAT Madura menyimpan banyak kesenian tradisional. Salah satunya adalah Tari Sorong Kasereng di Kabupaten Sampang. Tarian ini dimainkan anak nelayan saat air laut pasang ketika mereka membantu para orang tuanya menurunkan ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebuah ekspresi kegembiraan atas rezeki dari laut yang diberikan oleh Tuhan.

Kini, Tari Sorong Kasereng tak hanya dimainkan oleh anak-anak nelayan saja, tapi seringkah pula ditampilkan dalam even yang dihadiri oleh pejabat. Seperti tari-tarian lain yang ada di Madura, Tari Sorong Kasereng juga diiringi dengan alunan musik khas Madura yang disebut Saronen.

Konon, Tari Sorong Kasereng yang dikombinasi dengan pakaian baju adat Madura dan sarung bermotif batik khas Sampang itu, bermula ketika anak nelayan di daerah pesisir, bermain dengan teman sebayanya di pantai. Sam­bil bermain, bergembira ria, mereka membantu orang tua­nya yang berprofesi sebagai nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya. Ya, dengan menggunakan wadah bakul yang difungsikan sebagai alat untuk menurunkan ikan dari perahu ke daratan, mereka terus bergerak menurunkan hasil tangkapan. Gerakan-gerakan anak-anak ini sungguh menjadi pesona sendiri. Maka, dari tradisi inilah, kemudian muncul tarian Sorong Kasereng yang diartikan sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Kini untuk melengkapi keelokan daan kekhasan Madura, penari juga dihiasi aneka pernak-pernik pakaian seperti bunga yang dikenakan sanggul kepala, serta gelang di bagian kaki kiri, ditambah kombinasi pakaian khas bermotif batik Sampang. Banyak kalangan berharap batik-batik Sampang padu padan dengan tarian ini dengan menampilkan fragmentasi suasana anak-anak nelayan tersebut.

“Unsur dari sebuah kesenian itu banyak. Bila seni tari, unsurnya bu­kan hanya gerakan indah, tapi juga busana dan aksesoris lain. Karena itu, akan lebih hebat lagi bila kese­nian ini didukung seni batik untuk menyiapkan busananya, atau motif-motif lain untuk aksesorisnya,” kata Abdussomad, warga Sampang.

Dan tentu saja musik. Gerakan gemulai penari tak bisa lepas dari irama musik. Kedua tangan penari sesekali terlempar gemulai seiring alunan musik Saronen. Intan, salah seorang penari Sorong Kesereng, mengaku senang bisa “nguri-uri” budaya leluhur. Selain itu, kesenian bisa menghaluskan budi sebab ada olah rasa. Meski orang Madura dikenal memiliki karakter keras, tapi bisa diimbangi dengan berolah rasa. “Seneng saja mas selain saya bisa memahami budaya sendiri, Tari Sorong Kesereng ini pernah menjuarai kejuaraan tari tingkat regional Jawa Timur,” terang Intan (20), satu penari asal Kelurahan Gunung Sekar Kecamatan Kota Sampang, (sora)

Suara Desa, Edisi 05 15 Juni -15 Juli 2012, hlm.51

Tari Gandrung Banyuwangi

Kata gandrrung dapat diartikan ‘cinta’, ‘tertarik’, atau ‘terpesona’; dalam hal ini menggambarkan rasa tertarik atau terpesonanya kaum tani oleh anugerah dewata berupa hasil pa­nenan padi di sawahnya, dan diwujudkan dalam bentuk tari yang bersifat pemujaan. Biasanya tarian pemujaan kepada sang dewata itu ditarikan oleh seorang pria berwajah tampan di de­sanya.

Berdasarkan sejarahnya, tari ini berasal dari tari seblang yang bersifat pemujaan. Dari tari yang mempesona dan bersifat pe­mujaan itu, terbitlah rasa cinta dan gandrung kepadanya, dan rasa itulah yang melahirkan tari gandrung. Sekarang lebih umum dikenal sebagai tari gandrung Banyuwangi.

Tari gandrung mula-mula berupa tarian yang mengandung nilai magik religius, dan sifat itu melahirkan batas-batas kaidah kesopanan sesuai dengan pribadi dan watak khas Banyuwangi. Dewasa ini tari gandrung Banyuwangi bersifat hiburan, berupa tari dengan gending banyuwangen. Dalam tari gandrung masih tampak sifat aslinya sebagai tari pemujaan, dan hal itu tentu banyak mempengaruhi para seniman daerah Blambangan-Ba- nyuwangi dalam menciptakan jenis tari atau gending baru.

Sesuai dengan profesinya, sepintas lalu penari gandrung dapat dikatakan sebagai penari bayaran. Namun sepanjang per­kembangannya belum pernah terdapat penari yang benar-benar profesional. Mereka masih tetap mempertahankan sifat-sifat amatir karena keija tetap mereka adalah sebagai buruh tani. Mereka akan meninggalkan tugas sehari-hari sebagai buruh tani apabila ada yang menghendaki untuk menari sebagai penari gandrung dalam perhelatan atau pesta. Mereka menerima “tang­gapan”, menurut istilah dialek Using.

Seorang penari gandrung akan meninggalkan profesinya sebagai penari, apabila sudah berkeluarga. Dengan demikian dapat di­simpulkan bahwa semua penari gandrung yang masih aktif de­ngan profesinya, masih gadis atau sudah janda. Tari gandrung banyak mengandung unsur nasihat, sindiran, hiburan, dan sebagainya, baik pada jenis tariannya, maupun pada gendingnya. Gerak tari gandrung punya ci-ri khas Banyuwangi; tampak kasar tetapi indah. Irama ge-rakannya banyak ditentukan oleh corak gending yang me-ngiringinya, namun demikian, inti gerakannya tetap bersifat pemujaan terhadap dewata. Hampir semua gerak tari gan-drung yang meliputi gerak kepala, mata, leher, bahu, lengan, pinggul, dan sebagainya, ba-nyak disesuaikan dengan pu-kulan irama kendang yang khas Banyuwangi. Irama geraknya memperlihatkan persamaan dengan gerak lenong dari Jakarta,  antara lain gerakan pinggulnya, termasuk irama gending yang mengiringinya.

Kesenian gandrung banyuwangi biasanya dilaksanakan diatas pentas ketika pesta perkawinan atau khitanan, dan berlangsung sepanjang malam. Panari gandrung biasanya menari bersama-sama, diikuti para pemaju. Penampilannya selalu didahului atau dibuka oleh tari pembuka yang biasa disebut tari jejer. Pada tari pembuka ini penari menari dan menyanyi tanpa pemaju, sebagai tanda ucapan selamat datang kepada para penonton, dan secara tradisional diiringi gending Podho Nonton. Acara inti dimulai beberapa menit setelah acara tari pembuka atau jejer diakhiri.

Penari gandrung menari dan menyanyi di atas pentas melayani para pemaju yang telah agak lama menanti. Pemaju yang berasal dari kata maju ‘maju, bergerak’, biasanya tampil atau beringsut ke arah muka dari kalangan penonton yang ingin ber­sama-sama menari dengan penari gandrung di atas pentas, atau kadang-kadang karena mereka mendapat lemparan selendang atau sampur dari gandrung itu sendiri, kemudian bangkit dan naik ke pentas untuk menari memenuhi ajakan gandrung. Apabila ada pemaju yang berhasrat menari bersama gandrung, ia mendekati pentas, menyerahkan atau memberikan sejumlah uang kepada salah seorang pemukul gamelan pemegang keluncing, dan menyebutkan gending yang dimintanya.

Penari gandrung melayani hasrat itu dan mulai menari bersama di atas pentas. Begitulah proses terjadinya pemaju Banyuwangi yang berlangsung bergembira menari bersama gandrung sepanjang malam. Namun dalam perkembangannya dewasa ini, mengingat nilai seni dan sifat harga diri penari gandrung itu sendiri, proses pemaju seperti itu sudah tidak terlihat lagi. Pemaju gandrung dewasa ini ber­himpun dengan baik dalam wadah Persatuan Pemaju Gandrung. Umumnya setiap himpunan lebih memperhatikan nilai tari se­hingga dengan sengaja mereka mempelajari atau membakukan jenis tari tertentu agar penampilannya di atas pentas memper­lihatkan keindahan dan keserasian. Biasanya setiap jenis gending atau tarian ditarikan oleh empat orang pemaju sekaligus agar dapat dijelmakan kaidah tari pemaju gandrung dalam etika dan estetika tari, sebab adalah tidak terpuji dan melanggar kesopan­an jika teijadi singgungan di atas pentas antara penari gandrung dan pemajunya. Pelanggaran semacam itu akan mendapat um­patan langsung dari penonton, dan mungkin dapat terjadi per­kelahian antara penabuh gamelan dan pemaju.

Setelah acara menari dan menyanyi sepanjang malam, kira- kira menjelang fajar, acara ditutup dengan sebuah tari penutup yang biasa dikenal dengan nama tari seblangan. Pada tari pe­nutup ini, gandrung menari sambil melagukan gending khas Ba­nyuwangi seorang diri. Dia membawakan gending-gending yang bersifat romantis, erotik, religius, atau menyedihkan dan me­ngandung nasihat, seakan-akan mengingatkan penonton akan keagungan Tuhan setelah bergembira ria sepanjang malam. Se­akan-akan mengingatkan kita agar kembali kepada keluarga, tugas, dan kewajiban sehari-hari. Sering penonton menghayati­nya begitu dalam sehingga tanpa disadari air mata mengalir mem­basahi pipi.

Pakaian dan tata rias penari gandrung termasuk sederhana, se­suai fungsi asalnya sebagai penari sakral pemujaan dewata, me­ngingatkan kita kepada pakaian adat. Secara singkat, tata busana itu dapat diperikan sebagai berikut.

  1. Mahkota yang disebut kuluk, terbuat dari kulit bertatah ukiran dengan motif gambar kepala Gatutkaca, berbadan naga, dihiasi berbagai permata dan bunga tiruan yang mudah bergerak apabila kepala penari bergerak.
  2. Oto yang terpasang di bagian depan badan penari.
  3. Kain berbentuk lidah sebagai penutup dada, terbuat dari kain beledu hitam berhias permata dari manik-manik ber­aneka warna gemerlapan.
  4. Ikat pinggang terbuat dari logam berkilauan, disebut pending.
  5. Sembongan, yaitu hiasan beberapa helai kain aneka warna yang dipasang berkeliling pinggul.
  6. Kain panjang, dipakai agak tinggi di atas mata kaki, sebagai gambaran pakaian wanita sebagai petani di ladang.
  7. Kaos kaki berwarna putih, tanpa sepatu.
  8. Selendang, sampur, dan sebuah kipas.

Mahkota sebagai penutup kepala merupakan perkembangan tutup kepala penari sebiang yang biasanya terbuat dari daun pisang muda berhias aneka warna bunga. Secara tradisional tata riasnya amat sederhana, namun menunjukkan keaslian paras gandrung itu. Permukaan kulit seluruh tubuhnya dibedaki de­ngan atal, sejenis bedak berwarna kuning. Sekarang tidak lagi mempergunakan atal, tetapi bedak lain. Warna itu melambang­kan keaslian warna kulit gadis petani.

Kesederhanaan kesenian itu terdapat pula pada perangkat ga­melan yang mengiringinya. Penabuhnya hanya terdiri dari enam orang, yaitu:

  1. dua orang sebagai penggesek biola, dengan cara menggesek dan gendingnya khas Banyuwangi;
  2. seorang penabuh gendang; 22
  3. seorang pemukul ketuk kenong (kempul);
  4. seorang pemukul kluncing; dan
  5. seorang pemukul gong.

Biasanya mereka duduk bersila di atas tikar pandan yang telah disediakan. Penari gandrung bersama para pemaju menari di sekitar penabuh gamelan di atas pentas, yaitu pentas arena tanpa hiasan dekor atau ilustrasi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 3-5

Tari Padangulan, Kabupaten Banyuwangi

Tari padangulan adalah satu jenis tari daerah Blambangan Banyuwangi yang termasuk jenis tari kelompok berpasangan, dan sudah dikenal di seluruh daerah Jawa Timur. Namanya dise­suaikan dengan suasananya, yaitu ketika kelompok muda-mudi berpasangan bersukaria bersama di bawah sinar bulan purnama di tepi pantai Banyuwangi. Memang sudah menjadi kebiasaan, pada waktu bulan purna­ma, pantai Banyuwangi banyak dikunjungi para pemuda, terutama para remaja, apalagi jika kebetulan tepat pada malam Minggu. Pada saat itu mereka berkesempatan saling berpasangan menikmati hawa sejuk tepi pantai, memadu janji di bawah kilauan air laut. Tari padangulan adalah satu tarian tradisional yang bersifat hiburan semata-mata sehingga dapat dianggap sebagai tari per­gaulan muda-mudi. Tari ini termasuk tari rakyat, yaitu tarian yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat Using, Banyuwangi Tarian ini diiringi angklung Banyuwangi dengan gending banyu- wangen, Padangulan, yang syair lengkapnya dalam dialek Using adalah sebagai berikut: Padangulan nong pesisir Banyuwangi, padangulan nong pesisir Banyuwangi, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, kinclong-kinclong segarane kaya kaca, soren-soren lanang wadon padha teka. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, Terang bulan di tepi pantai Banyuwangi, berkilauan lautannya bagai cermin, berkilauan lautannya bagai cermin, sore hari, pria wanita berdatangan. Gending itu akan terasa lebih indah apabila diiringi angklung Banyuwangi yang erotik melankolik dan lincah, menarik siapa pun yang menikmatinya, apalagi dengan santapan visual kelompok penari cantik menarik. Seperti pada tarian tradisional Banyuwangi lainnya, tari ini juga dengan motif khas Banyuwangi, seperti gerak tari pada penari gandrung. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 31-32

Tari Seblang Olehsari, Kabupaten Banywangi

Tari seblang hidup dan berkembang di desa Olehsari dan Mojopanggung (kecamatan Glagah) yang terletak di kaki gunung Ijen. Tarian ini merupakan kesenian adat, dan sampai sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat Using, walaupun jarang dipentaskan. Tarian yang oleh masyarakatnya dianggap keramat ini hanya dipentaskan pada upacara adat tertentu saja, terutama pada upacara adat bersih desa ‘membersihkan desa. Menurut keterangan, tarian ini menjadi sumber lahirnya tari gandrung Banyuwangi yang sekarang sudah mulai dikenal secara meluas.

Walaupun tari seblang dikenal di dua desa. ternyata di antara keduanya terdapat sejumlah perbedaan. Perbedaan itu ialah antara lain yang berhubungan dengan:hal-hal berikut.

  1. Waktu pementasan. Tari seblang Olehsari dipentaskan pada bu­lan Syawal atau hari raya Idulfitri, selama satu minggu, sedangkan tari seblang Mojo­panggung dipentaskan pada bu­lan Zulhijah pada hari raya ldulkurban, selama satu hari saja.
  2. Penari seblang Oleh­sari terdiri dari para gadis muda, dan setiap tahun ber­ganti, sedangkan penari seb­lang Mojopanggung adalah wa­nita yang sudah berumur, dan tidak mengalami pergantian.
  3. Tata busana dan tata rias. Tata busana dan tata rias seblang Olehsari lebih asli dibandingkan dengan seblang Mojopanggung. Mahkota yang dikenakan penari seblang Olehsari terbuat dari daun-daunan dan bunga-bungaan setempat, sedangkan mahkota penari sebiang Mojopanggung bentuknya hampir sama dengan mahkota tari gandrung Banyuwangi.
  4. Bawaan. Tangan penari sebiang Olehsari hanya membawa sehelai selendang pelangi, sedangkan penari seblang Mojo-panggung membawa sebilah keris terhunus.
  5. Gamelan pengiring seblang Olehsari hanya terdiri dari dua buah saron, sebuah gong, dan kendang,, sedangkan gamelan pengiring tari seblang Mojopanggung merupakan perangkat gamelan yang lengkap.

Karena dianggap keramat, sudah wajar jika untuk mementaskan tari sebiang ini diperlukan persiapan cukup seksama. Pementa-san itu dipimpin oleh seorang laki-laki setengah baya yang berfungsi sebagai dukun atau pawang yang mendatangkan roh dengan mengucapkan mantra dan membakar dupa. Roh itu akan masuk ke dalam raga penari.

Sebagai pemimpin pementasan, dukun harus sudah mempersiapkan segala sesuatu lama sebelumnya. Menurut keterangan, persiapan itu dikeijakan berdasarkan impian sang dukun yang diterima dari roh yang diharapkan hadir Dalam impian itu roh yang bersangkutan biasanya yang dianggap cakal bekal desa menetapkan susunan panitia, penari, penabuh gamelan, pemaju,  pesinden gending banyuwangen, dan tempat pementasan. Semuanya itu tidak boleh diubah oleh siapa pun, dan sang dukun hanya menyampaikannya kepada masyarakat serta melaporkan kepada lurah.

Penari seblang yang ditunjuk dan ditugaskan, bisanya wanita muda yang belum bersuami atau janda yang masih turunan penari gandrung pertama. Jika hal ini tidak dilakukan, akibatnya akan sangat buruk, berupa pageblug, misalnya saja panen gagal atau sawah dan ladang diserang hama.

Penari seblang, setelah kemasukan roh, tanpa sadar menari-nari melengak-lenggok ke kiri dan ke kanan dengan gelengan kepala ke samping kiri dan kanan sambil mengelilingi gelanggang yang penuh sesak. Matanya terpejam, mulutnya terkatup, sedangkan gerakannya santai dan lemah gemulai mengikuti irama gending banyuwangen yang dibawakan para pesinden Using dengan iringan gamelan khas banyuwangen dengan larasnya yang khusus. Walaupun menari tanpa sadar dan mata terpejam, tetapi penari itu seakan-akan dapat melihat, dengan mudah ia menari di antara orang banyak. Dalam menari itu, ia diikuti/disertai oleh seorang pemaju.

Pementasan tari seblang tahun 1978 dilaksanakan dari hari ketiga sampai hari ketujuh Idulfitri, bertempat di salah satu dukuh (dusun) desa Olehsari. Setiap 14.00-17.00 WIB, atau kadang-kadang sampai menjelang magrib, sedangkan persiapannya dimulai kira-kira pukul 13.00 WIB. Menurut keterangan orang tua-tua, pementasan itu ditentukan oleh suara gaib melalui salah seorang penduduk yang tiba-tiba kemasukan roh dan memerintahkan agar segera diselenggarakan pementasan tari seblang, dan jika tidak diindahkan, segenap penduduk desa akan mengalami musibah besar yang mengerikan.

Pada tahun 1978 itu, Surati, seorang janda Olehsari yang baru berusia 25 tahun dan berdarah gandrung di desanya, me­nurut keterangan pak Enan (60 tahun) yang bertindak sebagai dukun, ditunjuk dan ditetapkan sebagai penari seblang berdasar­kan petunjuk Buyut Trasiun, cakal bakal desa. Petugas lain yang ditunjuk pada waktu itu ialah antara lain seorang laki-laki yang rata-rata berusia 40 tahun, sebagai penabuh gamelan pengiring. Sebagai juru rias ditunjuk seorang wanita bernama Suni, dan ditunjuk pula tujuh orang wanita sebagai pesinden gending banyuwangen tradisional seblang, semuanya berusia sekitar 40 tahun.

Gending-gending yang dibawakan oleh penari seblang tahun itu, seluruhnya tidak kurang dari 26 macam, dan sebagian besar juga dikenal pada kesenian gandrung, seperti gending Podho Nonton, Layar Kamendung, Kembang Menur, Kembang Waru, Sekar Jenang, Candra Dewi, Celeng Mogok, dan Erang-erang. Menurut keterangan, mula-mula tari sebiang biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki yang tampan di desanya, dan penari seblang wanita yang pertama bernama Semi, penduduk desa Cungking, kecamatan Giri, yang berbatasan dengan kecamatan Glagah. Embah Semi akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai penari seblang wanita, dan dalam perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai gandrung Banyuwangi. Dengan demikian disimpulkan bahwa semua penari gandrung Banyuwangi yang sekarang masih mempunyai hubungan darah dengan embah Semi.

Persiapan sajen, pembuatan mahkota dari daun dan bunga, pengaturan gamelan, dan lain-lain, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB di tempat yang telah ditetapkan. Tidak begitu jauh dari tempat itu, juru rias Suni melaksanakan tugasnya merias Surati sebagai penari seblang. Kira-kira pukul 13.45 WIB, penari seblang yang masih dalam keadaan sadar diikuti juru rias, pemaju, dan para pesinden dengan segala perlengkapannya masing-masing, menuju tempat pementasan, yaitu lapangan terbuka berukuran kira-kira 20 x 20 meter. Tepat di tengah lapangan, dipancangkan sebatang tonggak kayu atau bambu setinggi 4 meter, dari puncak­ nya direntangkan tali-temali ke segenap penjuru sehingga mirip sebuah payung besar. Menurut dukun, penari sebiang digambar­kan menari dan bergembira di bawah keteduhan payung agung.

Di tempat itu telah tersedia seperangkat kecil gamelan tradisional dan para pemukulnya. Di sisi barat tempat itu, di­siapkan semacam pondok kecil berukuran kira-kira 2×3 meter, menghadap ke timur, dilengkapi tikar pandan untuk para pesin­den duduk bersimpuh, dan sebuah kursi biasa sebagai singgasana penari sebiang, di bagian atas pondok kecil itu, di bawah atap, bergantungan berbagai hasil desa, berupa seuntai padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, berbagai buah-buahan, sayur-sayur, dan se- bagainya, menggambarkan hasil bumi daerahnya dengan mak­sud agar panen tahun itu melebihi harapan. Kedatangan rombongan penari seblang yang masih sadar itu di­sambut oleh para penonton yang sudah lama berjejal-jejal, ber­kerumun, dan berdesak-desakan menanti. Kerabat desa, dibantu hansip setempat, sibuk mengatur dan menjaga ketertiban dan keamanan acara.

Sementara sudah nampak siap dan tertib, pak Enan dengan tenang mulai membakar kemenyan. Ia dibantu seorang wanita setengah baya yang menutup rapat kedua mata dan telinga penari sebiang dari belakang dengan kedua tangannya sambil berdiri. Dukun duduk berjongkok berhadapan dengan penari sebiang, membakar kemenyan dan membaca mantra. Kedua belah tangan penari sebiang memegang sebuah niru kecil dengan sikap seakan- akan meletakkan punggung niru ke arah datangnya asap dari perapian dukun.

Jika tanpa sengaja niru terjatuh dari tangan penari sebiang, itu menandakan bahwa roh telah masuk ke dalam tubuhnya, dan pada saat itu tanpa sadar ia mulai menari berkeliling, seorang diri di antara orang banyak sambil mengikuti irama gamelan yang dikumandangkan dengan gending banyuwangen dan suara para pesinden dari arah pondok kecil, diikuti pemaju Sondok. Tarian itu merupakan tari pembukaan.

Setiap kali sebuah gending se-lesai ditarikan bersama pe-maju, dan apabila merasa puas, segera penari sebiang menuju ke pondok dan beristirahat, duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, bergema gending la-in, dan apabila penari sebiang menyetujui, dia segera bangkit dari kursinya dan menari lagi mengikuti irama gending itu sepuas hati. Apabila gending itu kurang berkenan di hati, dia tetap duduk tenang. Se-tiap gending yang berbeda, menyebabkan tarian penari sebiang itu berbeda pula jenisnya. Demikian acara itu berlangsung terus-menerus sampai seluruh 26 gending berakhir; menari tanpa bersuara, mata tertutup, tetapi tidak sampai terantuk benda atau penonton yang memenuhi gelanggang.

Puncak acara yang cukup mengesankan adalah pada acara hari terakhir sebagai acara penutup. Penari sebiang tidak hanya menari di dalam gelanggang itu saja, tetapi mengelilingi desa Olehsari, melalui jalan sempit berkelok-kelok, menyusuri lorong kecil di antara rumah penduduk. Pada kesempatan itu, penabuh dengan gamelannya, para pesinden, dan dukun (pak Enan) diikuti semua penonton turut berkeliling mengikuti langkah dan tarian penari sebiang, seakan-akan pawai mengelilingi desa.

Menurut keterangan, mengelilingi desa itu dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam bentuk yang mungkin merusak desa, dan mempunyai hikmah saling mengenal antar penduduk. Acara itu ditafsirkan membawa tanda penyebaran doa selamat sejahtera kepada segenap penduduk desa, termasuk keamanan kampung, peningkatan hasil sawah ladang, peningkatan hasil ternak, dan sebagainya, serta memberikan tanda tolak bala, agar dijauhkan dari segala macam bentuk malapetaka. Setelah kembali ke gelanggang, dukun mulai berperan lagi untuk yang terakhir kalinya, dan dengan kekuatan mantranya, menyadarkan penari sebiang kembali sebagai Surati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 

Tari Geleng Ro’om Asal Madura

Tari Geleng Ro’om Meriahkan Gala Diner

TUJUH penari perempuan muda nan cantik dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, tampil apik di acara Gala Dinner atau jamuan makan malam pembukaan Konferensi Tinggat Tinggi (KTT) ASEAN Summit ke-18 di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu malam (7/5/2011).

Tarian Geleng Ro’om yang mereka bawakan berhasil menghibur para kepala negara dan sejumlah menteri negara-negara anggota ASEAN yang hadir. Apa keistimewaan tarian ini sampai ditampilkan di perhelatan Intemasional?

Tari Geleng Ro’om menceritakan perempuan Madura yang gemar mengenakan gelang sejak zaman dulu. Semakin banyak gelang yang dikenakan, menunjukkan kelas sosial dari orang tersebut. “Gelang itu mempunyai filosofi sebagai pemacu semangat bekerja bagi orang Madura hingga merantau ke berbagai daerah lalu mengumpulkan jerih payahnya itu untuk membeli gelang emas sebagai tanda kesuksesannya,” jelas Arif Rofiq, Kasi Kesenian Disbudpar Jatim, didampingi Dimas Pramuka Admaji selaku penata tari (koreografer) ”

Geleng Ro’om yang berarti gelang yang harum, merupakan tarian yang diadaptasi dari Tari Topeng Getak dan Ronding asal Madura,” terangnya. Kemenbudpar mempersembahkan tarian ini bukan tanpa sebab. Tarian ini sarat prestasi. Salah satunya meraih juara umum pada Parade Tari Nusantara (PTN) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 2006.

“Ketika itu tarian ini menyabet koreografer terbaik, tata rias terbaik, kostum terbaik, tarian kreasi terbaik, aransemen musik terbaik, 13 penyaji terbaik, dan penyaji terbaik wilayah Jawa-Bali,” katanya. Prestasi lainnya, tarian ini sudah 6 kali tampil di Istana Negara untuk berbagai acara jamuan kenegaraan.

Selain kostum yang menarik, unik, para penarinya perempuannya muda dan cantik, berkulit putih-putih. Mereka mengenakan gelang berwarna keemasan di kaki dan tangannya. Secara fisik saja penampilam mereka sudah menarik perhatian. Dan yang menjadi kelebihan lain gerakan tarian ini amat varatif dan enerjik. Itulah yang membuat ratusan pasang mata malam itu terpikat.

Tak salah Kemenbudpar menyuguhkan tarian ini, biasanya untuk acara-acara berkelas internasional yang sering ditampilkan Tari Pendet dari Bali, Tari Saman (Aceh), Tari Jaipong (Jawa Barat), Tari Piring (Sumatera Barat) atau Tari Topeng Betawi dari Jakarta.

Padahal sebenarnya Indonesia memiliki tarian tradisional maupun kreasi tradisional yang melimpah dan tak kalah menarik. Dan Tari Geleng Ro’om salah satunya yang terbukti sukses memikat tamu undangan istimewa KTT ASEAN 2011 malam itu. (sem)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim Plus, Edisi 279, Minggu III-IV, Mei 2011.

 

Tari Reng Majang

Tari Reng Majang artinya tari nelayan, banyak jenis tari yang berasal dari Madura. Tari Reng Majang salah satu tari daerah yang sudah tersohor dan banyak disukai. Tari Reng Majeng atau Tari Nelayan ini lebih dikenal dengan sebutan Tari Ole Olang, karena tarian ini diiringi sebuah lagu berjudul Ole Olang. Tari ini menggambarkan kehidupan para nelayan yang bekerja di tengah laut mencari ikan.

Betapa gigihnya para nelayan di daerah Madura, tak peduli ombak besar menerjang, namun para nelayan  tetap menjalankan kewajibannya, ombak bagi mereka bagaikan bantal saja layaknya, dan angin sebagai selimutnya, Para nelayan tak gentar oleh ombak serta riuhnya angin yang sewaktu-waktu dapat menggulingkan perahu mereka.

Tarian ini enak dinikmati serta merupakan tarian yang sederhana sehingga tidak sulit untuk dipelajari. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau banyak yang menyukainya. Tarian ini menampilkan  gerakan yang lincah dan sangat menawan.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Adat tradisi JawaTimur. Departeman pendidikan Kebudayaan , Jakarta.1978. 

Asal Mula Ngremo

-1981/1982-
Mengenal dan mempelajari asal mula Ngremo kita didorong untuk menelusuri perkembangan kesenian-kesenian yang lain yang masih erat berhubungan dengan sejarah pertumbuhannya, antara lain : Tandakan/lerok/bandan/besut/topeng dalang.

Di antara kesenian-kesenian tersebut Ludruk Besutanlah dekat berhubungan dengan peristiwa kelahiran Ngremo.

Di daerah Dukuh Ngasem, Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Ludruk Besutan lahir ± pada tahun 1850 – an. Perkembangan selanjutnya dibawa oleh Pak Durrasyim ke Surabaya pada abad XIX berkisar pada tahun 1927, dengan perkembangan teaternya menjadi Sandiwara Ludruk. Dalam teater inilah tari Ngremo dilahirkan yang fungsinya untuk mengawali  pementasan sebelum ceritera Ludruk dimulai.

Adabeberapa pendapat tentang pertumbuhan tari Ngremo:
– tari Ngremo lahir sebagai ke ianjutan Ludruk Besutan.
– tari Ngremo lahir sebagai kelanjutan dari topeng dalang.

Beberapa pendapat tersebut di atas mengarahkan kita untuk mengamati lebih jauh tentang eksistensinya.

Salah satu unsur perkembangan adalah spontanitas, hal ini dapat dilihat dari adanya tari Seniti yang bermula dari tari-tarian keliling desa yang tidak banyak mempunyai perbendaharaan gerak sebagai vocabuler baku, tetapi dengan kreativitas para penari, gerak terus berkembang dengan waton-waton bentuk yang sekarang ini dianggap merupakan vocabuler tertentu dari pada Ngremo, misalnya: gedruk, singget, brajagan, nebak bumi, ayam alas, nglandak, kipatan dan sebagainya.

Dengan turun temurun keyakinan atas vocabuler tersebut tidak dapat diubah susunannya. Namun demikian masih dapat kita saksikan pada beberapa penari yang tergolong baik mempunyai bentuk-bentuk gerak khusus yang cukup kuat dan menonjol.

Kreativitas yang ada pada penari te rsebut antara lain mengancfung unsure – unsur : wiled (pengisian gerak pribadi), kecepatan, intensitas gerak, volume (bentuk dan isi), dinamik (tebal  tipisnya tegangan otot tubuh ) maupun kekavaan unsur-unsur jenis rasa (mantep gagah , mantep alus).

Hal ini bisa dinyatakan dari pernyataan beberapa Seniman Ngremo yang mengakui bahwa pada ta ri Ngremo ada yang mempu nyai kara kter gagah dan karakter alus (termasuk di dalam pengertian ini adalah penjiwaannya).

Sumber-sumber lain bisa ditelusuri sejak adanya topeng dalang di Jawa Timur ±.. pada abad I X – X III pada masa- masa Raja Kediri dengan tari Kelono yang sampai saat ini bisa kita amati pada teater topeng dalang di daerah Malang khususnya tari Beskalan.

Munali Fatah mengatakanbahwa pada mulanya tari Beskalan yang menggunakan sampur pada bahu ditarikan dengangayaputri. Kemudian berkembang dengan ditarikan dalamgayaputra, dan dalam perkembangan selanjutnya ditarikan pula Ngremogayaputri. Sampai saat  ini bentuk-bentuk tari tersebut dapat kita amati .di daerah Ma lang,Surabaya, Jombang, Mojokerto dan sekitarnya, yang bila diteliti mengenai keragaman dan kekayaan jenis solah masih banyak perbedaan. Sedakan Winoto seniman tayub dari Surabaya yang lama mengikuti perkembangan Ngremo adalah seorang Seniman sejaman Ludruk Besutan dan mengikuti Durrasyim ketika mendirikan Sandiwara Ludruk di Surabaya, mengatakan bahwa Ngremo merupakan perkembangan dari tari Somo gambar yang dalam peragaannya menggunakan property tombak.

Hal ini identik dengan pengalaman yang diperoleh Kuswo seniman Ludruk Besutan dari Jombang sejak jaman awal pertumbuhannya (tahun 1900-1930) yang mengatakan bahwa Ngremo merupakan peikembangan dari tad Go ndoboyo yang menggunakan property tombok.

Beberapa hal tersebut diatas merupakansalah satu sebab dari perkembangan kekayaan jenis-jenis keragaman dan jenis so lah maupun istilah -isdlah tari.

Suatu masalah yang perlu kita kaji bersama adalah sampai seberapa jauh perkembangan bentuk-bentuk tari Ngremo, Kelono dan Beskalan tersebut di masyarakat.

Perkembangan saat ini dari wujud garap ditandai dengan adanya bebe rapa tokoh penyusun tari Ngremo yaitu :
– Munali Fatah dari Su rabaya (R RI)
– Bolet dari Jombang.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tri Broto Wibisono, Ngremo, Proyek Pengembangan Kesenian Jawa Timur Th. 1981/1982, Hlm. 13