Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Pengantin Bekasri

Di berbagai daerah di Indonesia mempunyai perbendaharaan tradisi tata rias dan tata busana mempelai. Begitu pula di Jawa Timur juga mempunyai tata rias dan busana mempelai gaya Madura, gaya Surabaya, gaya Mojoputri yang dikembangkan di daerah Mojokerto, dan di Lamongan juga mempunyai tata rias dan busana mempelai gaya Bekasri.

Tata rias dan busana Bekasri yang merupakan akronim dari bek dan asri (bek = penuh; asri = indah), jadi bekasri berarti penuh keindahan. Tatarias Bekasri ini merupakan aset budaya daerah Lamongan yang mempunyai keunikan dan keindahan tersendiri. Selain itu rangkaian upacara mempelai Bekasri juga sarat dengan muatan ajaran tidak tertulis yang diwujudkan dengan rangkaian upacara tradisi yang dilaksanakan dalam rangkaian upacara pernikahan.

Tata rias dan busana pengantin Bekasri sebanarnya sudah cukup lama digunakan oleh masyarakat Lamongan. Mula-mula berkembang di daerah Mantup yang ketika itu menjadi bagian dari wilayah kerajaan Singasari dan selanjutnya setelah Singasari runtuh dan timbul kerajaan Majapahit, daerah Mantup menjadi bagian dari wilayah kerajaan Majapahit. Tradisi yang digunakan dalam upacara tradisi pengantin Bekasri menunjukkan bahwa masyarakat Mantup dan sekitarnya yang merupakan daerah berkembangnya tata rias dan busana pengantin Bekasri adalah masyarakat agraris. Hal ini terbukti bahwa dalam rangkaian upacara menggunakan sarana hasil bumi seperti padi, makanan yang merupakan olahan dari hasil bumi, dan juga menganggap perlunya pelestarian sumber air dengan cara mengajak pengantin Bekari ke sendang atau sumber air. Sumber air merupakan sarana yang vital untuk pengolahan sawah, dan masyarakat agraris menganggap betapa pentingnya sumber air.

Bukti lain bahwa masyarakat pendukung upacara tradisi pengantin Bekasri adalah masyarakat agraris adalah bahwa orang yang mempunyai anak gadis sangat berkeinginan mengambil menantu jejaka yang rajin bekerja mengolah sawah. Hal ini diharapkan setelah menjadi menantunya akan dapat dijadikan tenaga mengolah sawahnya.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, tata rambut, model hiasan bunga, cara berkain, dan beberapa asoseris yang digunakan pada pengantin Bekasri sangat mirip dengan tata busana dan asoseris yang digunakan pada patung-patung peninggalan kerajaan Majapahit yang tersimpan di moseum Trowulan Mojokerto. Hal ini menunjukkan bahwa tata busana pengantin Bekasri mencontoh tata busana raja atau bangsawa kerajaan Majapahit atau kerajaan sebelumnya yaitu Singasari.

Upacara tradisi pengantin Bekasri mengajarkan bahwa suami harus bertanggung jawab terhadap isteri tidak hanya hams dapat memberikan nafkah batin saja, tetapi juga perlu memberikan nafkah lahir, hal ini terbuki dari rangkaian upacara pemberian bahan makanan dari pengantin pria kepada pengantin wanita yang berupa beras dan kebutuhan bahan makanan lainnya.

Selain itu upacara tradisi pengantin Bekasri juga mengajarkan bahwa kedua keluarga yang berbesanan tidak lepas dari tanggung jawab terhadap pengantin berdua. Hal ini tampak pada upacara Tali waris yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Keluarga mempelai pria dan mempelai wanita secara bergiliran memasukkan uang, perhiasan, dan atau sumbangan bentuk lain ke dalam bokor atau talam yang sudah disediakan. Seluruh sumbangan pada acara tali waris ini seluruhnya menjadi hak kedua mempelai. Bila mendatangkan gamelan, untuk mengawali upacara tali waris ini diiringi -gending Giro Srunen, dan pada pelaksanaan para kerabat memasukkan uang sumbangan ke dalam bokor diiringi gending Eling-Eling. Ini merupakan pelajaran tidak tertulis agar kedua keluraga yang berbesanan tetag eling (ingat) bahwa kedua pengantin adalah telah menjadi keluarga. mereka bersama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006. hlm. 23-25